Diposkan pada Buku_ku, Info Terbaru, Tulisan_ku

Kitab Negarakertagama: Naskah Asli dan Terjemahannya

Wahai saudaraku. Kita semua tentu sudah tidak asing lagi dengan kitab yang bernama Negarakertagama. Satu kitab yang mashur yang telah diakui oleh UNESCO sebagai memori dunia pada tahun 2008 silam. Mengapa begitu? Sebab kitab ini merupakan peninggalan yang sangat berharga dari kerajaan Majapahit dan telah terbukti kesahihannya.

Namun demikian, tentu tidak semua dari kita yang pernah membaca secara lengkap/detil isi dari kitab tersebut. Dan memang informasi lengkap tentang isi dari kitab ini tidak mudah untuk ditemukan, bahkan di perpustakaan umum sekalipun. Untuk itu, dalam kesempatan kali ini kami akan berbagi tentang sejarah dan isi dari kitab agung tersebut. Tujuannya tentu untuk kembali menyadarkan diri kita tentang arti dari sejarah dan hebatnya para leluhur kita dulu.

Sebelumnya, perlu diketahui bahwa kitab ini sebenarnya berjudul Desawarnana atau yang berarti sejarah desa-desa. Tapi sejak ditemukan kembali oleh para arkeolog, maka naskah ini lalu dinamakan dengan Negarakertagama atau yang berarti kisah pembangunan negara. Sesuai dengan keterangan yang ada, maka naskah ini selesai ditulis pada bulan Aswina tahun 1287 Saka (September-Oktober 1365 Masehi). Di dalamnya berisikan kakawin (puisi, syair) dalam bahasa Kawi (bahasa Jawa kuno) sebagai tanda penghormatan dan pengagungan terhadap Sri Rajasanagara alias Prabu Hayam Wuruk, sang penguasa Majapahit. Sebagai putra Majapahit, sang penulis merasa terdorong untuk ikut serta mengharumkan nama baik sang raja dan negaranya. Meskipun karyanya tidak dikenal di istana pada saat itu, karya ini tetap ia persembahkan kepada Duli Paduka Girinatha dengan harapan sang paduka berkenan menerimanya. Tiada harapannya kecuali semoga dunia sejahtera, dan terutama agar sang raja tetap kokoh dalam bertahta.

Selain itu, kitab Negarakertagama ini berisikan rekaman sejarah kejayaan Majapahit, perjalanan Prabu Hayam Wuruk, hubungan keluarga raja, para pembesar negara, jalannya pemerintahan, desa-desa perdikan, keadaan ibukota, keadaan desa-desa, serta kondisi sosial, politik, keagamaan, pemerintahan, kebudayaan, dan adat istiadat sepanjang perjalanan keliling Sang Prabu Hayam Wuruk pada tahun 1281 Saka (1359 Masehi). Semua itu dikumpulkan dan digubah oleh Mpu Prapanca dalam sebuah karya sastra.

Mengenai kisah penemuan kembali dari kitab ini cukup dramatis. Sebab pada masa lalu, awalnya kitab ini adalah benda koleksi dari kerajaan Karangasem yang tersimpan di Puri Cakranegara sebagai warisan dari kerajaan Majapahit. Sejarahnya dibawa oleh keluarga kerajaan dari Kadiri pada masa kekuasaan mereka di Karangasem, ujung timur pulau Bali, sekitar akhir abad ke-17-18 Masehi. Lombok sendiri merupakan wilayah kekuasaan raja Karangasem, dan sebelumnya ada beberapa kerajaan yang berada disana seperti Selaparang dan Pejanggik. Isi dari naskah Negarakeragama itu di terapkan di Lombok demi membangun sistem ketatanegaraan dan sekaligus sebagai sebuah pertahanan yang menyerupai Majapahit. Ini juga ditunjukkan demi menjadikan Lombok sebagai benteng dalam mempertahankan ajaran Hindu di Bali, menyusul masuk dan berkembangnya ajaran agama Islam di tanah Jawa.

Lalu pada sekitar tahun 1890-an, pihak VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) Belanda menggempur habis-habisan puri atau istana Cakranegara itu dan mengakibatkan kediaman raja Karangasem, sang penguasa wilayah Lombok luluh lantak. Sehari sebelum Puri Cakranegara jatuh ke tangan VOC-Belanda, pada sekitar tanggal 19 November 1894, dilaporkan ada sebuah temuan naskah sastra yang ditulis di atas lembaran daun lontar di antara puing-puing reruntuhan itu. Prof. Slamet Muljana pernah menyebutkan sedikitnya sudah ditemukan empat naskah lain yang serupa di beberapa Geriya (kediaman pendeta Hindu) di Bali. Namun naskah-naskah itu diduga merupakan turunan dari naskah Negarakertagama yang ditemukan di Puri Cakranegara, Lombok. Sewindu kemudian naskah Negarakertagama yang berbahasa Kawi itu diterbitkan dalam aksara Bali dan bahasa Belanda oleh Dr. JLA Brandes pada tahun 1902, namun hanya sebagiannya saja. Disusul kemudian oleh Dr. JHC Kern pada tahun 1905-1914 yang dilengkapi dengan komentar-komentarnya. Barulah pada tahun 1919, Dr. NJ Krom menerbitkan secara utuh isi dari lontar Negarakertagama ini. Krom juga melengkapinya dengan catatan historis. Sementara itu, naskah Negarakertagama ini akhirnya diterjemahkan secara lengkap ke dalam bahasa Indonesia oleh Prof. Slamet Muljana yang disertai dengan tafsir sejarahnya.

Ya. Manuskrip Negarakertagama ini pernah dibawa oleh VOC ke Belanda untuk disimpan di perpustakaan Universitas Leiden dengan nomor koleksi 5023. Beruntunglah pada masa pemerintahan Soeharto, di sekitar tahun 1974, maka setelah melalui lobi-lobi yang intensif manuskrip ini bisa dibawa kembali ke Indonesia. Sejak saat itu, Lontar Negarakertagama ini lalu disimpan di Perpustakaan Nasional yang berada di Jakarta sebagai barang pusaka yang sangat dilindungi.

Adapun sosok penulis dari kitab ini menggunakan nama samaran sebagai Mpu Prapanca. Lalu berdasarkan analisa kesejarahan, maka disimpulkanlah bahwa sosok penulis misterius itu adalah seorang Dang Acarya Nadendra (pendeta agama Buddha). Ia adalah pembesar di istana kerajaan Majapahit, khususnya untuk urusan agama Buddha, pada masa Prabu Hayam Wuruk (1350-1389 M) memimpin kerajaan Majapahit. Beliau adalah putra dari seorang pejabat istana Majapahit dengan pangkat Dharmadyaksa ring Kasogatan (pemimpin urusan agama Buddha). Artinya, kitab ini ditulis tepat pada masa kerajaan Majapahit dalam puncak kejayaannya.

Sungguh, kitab ini bisa dijadikan sebagai rujukan utama mengenai sejarah murni dari Majapahit. Sebab sang penulisnya sendiri, Mpu Prapanca, adalah saksi hidup yang langsung menyaksikan berbagai peristiwa di zaman kejayaan Majapahit. Terlebih pada saat menulis kitab ini, Mpu Prapanca sudah menjadi mantan dari seorang Darmadyaksa ring Kasogatan (pemimpin urusan agama Buddha) di kerajaan Majapahit yang memilih untuk menjadi seorang pertapa. Sehingga ia tidak lagi memiliki kepentingan pada kekuasaan atau politik tertentu. Bahkan selama menulis Mpu Prapanca sendiri telah menjauhkan diri dari kota dan menetap di lereng gunung di sebuah desa kecil yang bernama Kamalasana. Dengan begitu ia bisa menulis dengan bebas tanpa ada tekanan atau tanpa pamrih dan tedeng aling-aling.

Untuk lebih jelasnya tentang isi dari kitab ini, berikut kami berikan mulai dari kalimat naskah aslinya (dalam bahasa Kawi) sampai terjemahan dalam bahasa Indonesia versi Prof. Slamet Muljana. Yaitu:

Pupuh 1:

1. Om nathaya namostu te stutinin atpada ri pada bhatara nityaça, san suksmen tlen in samadi çiwa budda (92b) sira sakala niskalatmaka, san çri parwwatanatha nathanin anatha sira ta patiniɳ jagatpati, san hyan nin hyan inisty acintyanin acintya hana waya tmahnren jagat.
2. Byapi byapaka sarwwatatwagata niguna sira rin apaksa wesnawa, rin yogiçwara porusen kapila jambhala sakala siran / hyan in dana, çri wagindra siran hyan in sakalaçastra manasija siren smaragama, rin wighnotsarana prayoga yamaraja sira makapalaɳ jagaddita.
3. Nahan don umastuti padanirahyun umiketa kate nareçwara, san çri natha ri wilwatikta haji rajasanagara wiçesa bhupati, saksat / janma bhatara natha siran anhilanaken i kalankaniɳ praja, hentyan bhumi jawatibhakti manukula tumuluy i tken digantara.
4. Riɳ çaka rttu çarena rakwa ri wijil/ nrpati tlas inastwaken/ prabhu, an/ garbbheçwara natha rin kawuripan/ withaganiran manusadbhuta, lindun bhumi ktug hudan hawu gerh kilat awiltan in nabhastala, guntur ttan himawan/ ri kampud ananaɳ kujana kuhaka mati tanpagap.
5. Nahan/ hinaniran bhatara girinatha sakala matmah prabhuttama, na lwir sadegirekanaɳ sayawabhumi cawa tluk umungku(93a)l adara, wipra ksatriya waiçya çudra catur açrama sama nipunen samahita, hentyan durjjana maryyabuddi kala kewala matakut i wiryya san prabhu.

Artinya:
1. Om, Sembah pujiku orang hina ke bawah telapak kaki pelindung jagat Siwa-Buddha Janma-Batara sentiasa tenang tenggelam dalam Samadhi Sang Sri Prawatanata, pelindung para miskin, raja adiraja dunia Dewa-Batara, lebih khayal dari yang khayal, tapi tampak di atas tanah.
2. Merata serta meresapi segala makhluk, nirguna bagi kaum Wisnawa Iswara bagi Yogi, Purusa bagi Kapila, hartawan bagai Jambala Wagindra dalam segala ilmu, dewa Asmara di dalam cinta berahi, Dewa Yama di dalam menghilangkan penghalang dan menjamin damai dunia.
3. Begitulah pujian pujangga penggubah sejarah raja, kepada Sri Nata Rajasanagara, Sri Nata Wilwatikta yang sedang memegang tampuk negara bagai titisan Dewa-Batara beliau menyapu duka rakyat semua tunduk setia segenap bumi Jawa, bahkan malah seluruh Nusantara.
4. Tahun Saka masa memanah surya (1256) beliau lahir untuk jadi Narapati. Selama dalam kandungan di Kahuripan, telah tampak tanda kelahiran, gempa bumi, kepul asap, hujan abu, guruh halilintar menyambar-nyambar gunung Kampud gemuruh membunuh durjana, penjahat musnah dari negara.
5. Itulah tanda bahwa Batara Girinata menjelma bagai raja besar terbukti, selama bertakhta, seluruh tanah Jawa tunduk menadah perintah Wipra, satria, waisya, sudra, keempat kasta sempurna dalam pengabdian, Durjana berhenti berbuat jahat, takut akan keberanian Sri Nata.

Pupuh 2:

1. Ndan / san çri rajapatni prakaçita sira matamaha çri narendra, san lwir pawak / bhatari paramabhagawati catranin rat / wiçesa, utsahen yoga buddasmarana gineniran / ciwari wrddamundi, rin çaka drsti saptaruna kalahaniran / mokta munsir kkabuddan.
2. Ryyantuk / çri rajapatni jinapada kawkas / duhkitan rat byamoha, ryyadeg / çri natha mungwin majhapakit umuluy / tusta mangon kabhaktin, rena çri natha san çri tribhuwana jiwayottungal dewi gumanti, mungwin rajyerikan jiwanapura sira tamwaɳmwan i çri narendra.

Artinya:
1. Sang Sri Rajapatni yang ternama adalah nenekanda Sri Baginda seperti titisan Parama Bagawati memayungi jagat raya, selaku wikuni tua tekun berlatih yoga menyembah Buddha tahun Saka Dresti Saptaruna (1272) kembali beliau ke Buddhaloka.
2. Ketika Sri Rajapatni pulang ke Jinapada, dunia berkabung kembali gembira bersembah bakti semenjak Baginda mendaki takhta Girang ibunda Tribuwana Wijayatunggadewi mengemban takhta bagai rani di Jiwana resmi mewakili Sri Narendra-putera.

Pupuh 3:

1. Tekwan bhakti siran makebu ri sira çri ra japatniçwari, satyanut / brata paksa sogata masaɳskare dagan san pjah, tan sah çri krtawardaneçwara pita de çri narendradipa, sedampatyapageh sireɳ sugatamarggande sukhanin jagat.
2. Ndan/ çri bhupati san pita nrpati mungwin sinhasaryy apageh, saksat/ hyan wawa ratnasambhawa siran mangeh pararttan jagat(93b) dirotsaha sire kadrddyanikanan rat/ satya bhaktye haji, lagyangegwani karyya sahana kadyaksatidaksen naya.

Artinya:
1. Beliau bersembah bakti kepada ibunda Sri Rajapatni, Setia mengikuti ajaran Buddha, menyekar yang telah mangkat ayahanda baginda raja ialah Sri Kertawardana, raja keduanya teguh beriman Buddha demi perdamaian praja.
2. Ayahnya Sri Baginda raja bersemayam di Singhasari bagai Ratnasambawa menambah kesejahteraan bersama, teguh tawakal memajukan kemakmuran rakyat dan negara, mahir mengemudikan perdata, bijak dalam segala kerja.

Pupuh 4:

1. Muwah ibu haji saɳ narendranuja de hajiɳ jiwana, prakaçita haji rajadewi maharajasanindita, sira ta siniwi riɳ daha nopameɳ pariɳ sadguna, samasa kalawan hajiɳ jiwana Iwir sudewyapalih.
2. Priya haji san umungwin wenker banun hyan upendranurun, nrpati wijaya rajasanopamenɳ paramajnottama, samasama kalawan/ nrpati sinhasaryyakapaksapa…. sira wihikan iɳ thani yawat/ sabhumi jawa.

Artinya:
1. Puteri Rajadewi Maharajasa ternama rupawan bertakhta di Daha, cantik tak bertara, bersandar nam guna adalah bibi Baginda, adik maharani di Jiwana Rani Daha dan Rani Jiwana bagai bidadari kembar.
2. Laki sang rani Sri Wijayarajasa dari negeri Wengker rupawan bagai titisan Upendra, mashur bagai sarjana setara raja Singhasari, sama teguh di dalam agama, sangat mashurlah nama beliau di seluruh tanah Jawa.

Pupuh 5:

1. Wwanten tari haji ri wilwatikta rajni, san mungwiɳ lasem anuraga rin kahaywan, putri çri narapati rin daha prakaça, san çri rajasa duhitendu dewyanindya.
2. Ndan çri warddana duhiteçwari pamunsu, rajñi mungwin pajan anopameɳ raras rum, putri çri nrpati ri jiwana prakaça, an/ saksat anuja tkapniraɳ narendra.

Artinya:
1. Adinda Baginda raja di Wilwatikta: Puteri jelita, bersemayam di Lasem Puteri jelita Daha, cantik ternama Indudewi puteri Wijayarajasa.
2. Dan lagi puteri bungsu Kertawardhana bertakhta di Pajang, cantik tidak bertara, Puteri Sri Narapati Jiwana yang mashur, Terkenal sebagai adinda Sri Baginda.

Pupuh 6:

1. Penan / çri naranatha kapwa ta huwus/ labda bhiseka prabhu, saɳ nathen matahun / priya nrpati san rajyen lasem / suçrama san çri rajasa warddana prakaçjten rupa (94a) di wijñen naya, tan pendah smarapingala patemu saɳ nathenalm nin jagat.
2. Saɳ nathen paguhan / priya nrpati san raji pratiste pajan, kyati çri nrpa sinhawarddana surupanwam / suçilapageh, açry awarnna sanatkumara saha dewida papangihnira, bhakti jöɳ haji masih awwan anak ande tustani nagara.
3. Tekwan / wrddyawke narendra san umungwin wirabhumy andiri, san çri nagarawarddani pratita rajñi kanyakanopama, ndan / ranten/ haji raja ratwiɳ mataram / lwir hyaɳ kumaranurun, san çri wikramawarddaneçwara paninkah çri narendradipa.
4. Wunsu çri nrpati pajaɳ siniwi muɳgwi pawwanawwan / puri, rajñi çri surawarddani nwamira wala lwir hajen nin tulis, sakweh çri yaja(1) raja sapada madudwan nagaratungalan, ekhasthana ri wilwatikta manisapwi san narendradipa.

Artinya:
1. Telah dinobatkan sebagai raja tepat menurut rencana laki tangkas rani Lasem bagai raja daerah Matahun bergelar Rajasawardana, sangat bagus lagi putus dalam naya raja dan rani terpuji laksana Asmara dengan Pinggala.
2. Sri Singhawardana, rupawan, bagus, muda, sopan dan perwira bergelar raja Paguhan, beliaulah suami rani Pajang, Mulia perkawinannya laksana Sanatkumara dan Dewi Ida Bakti kepada raja, cinta sesama, membuat puas rakyat.
3. Bhre Lasem menurunkan puteri jelita Nagarawardani bersemayam sebagai permaisuri pangeran di Wirabumi, Rani Pajang menurunkan Bhre Mataram Sri Wikramawardana bagaikan titisan Hyang Kumara, wakil utama Sri Narendra.
4. Puteri bungsu rani Pajang memerintah daerah Pawanuhan, berjuluk Surawardani, masih muda indah laksana gambar para raja pulau Jawa, masing-masing mempunyai negara dan Wilwatikta tempat mereka bersama menghamba Sri Nata.

Pupuh 7:

1. Warnnan/ çri naranatha kastawaniran dinakharasama digjaya prabhu, bhrastan catru banun tamiçra sahane bhuwana rinawasan nareçwara, tusta sajjana panajamam ikanan kujana kumuda satya satwika, sthityan ghrama sabhumy aweh dana banun/ jala hinaturaken / ya sakrama.
2. Lwir saɳ hyan ça-(94b) tamanyu manhudani rat / haji tumulak i duhkhanin praja lwir hyaɳ pitrpati kadandanin anaryya baruna ri katmwaniɳ dana, lwir hyaɳ bayu siran tamen sakalaloka makaçarana duta nityaça, lwir prthwi ri karaksanin pura katonanira kadi bhatara candrama.
3. Riɳ warnnakrti kamadewa sakalanurun umulat i ramayaniɳ puri, sakweh san para putrikadika wadu haji kadi pawibhajyanin ratih, ndan san çri parameçwari swaduhita nrpati wijayarajasottama, mukyawarnna susumnadewy anupamen hayu tuhu sawawe nareçwara.
4. Tekwan / wriddi siran / pakanak i siran nrpati kusumawarddaniçwari, raji rajakumaryy anindya siniwi pura ri kabalan utamen raras, saɳ çri wikramawarddanendra saniruktyanira panucapiɳ sanagara, saksat / dewata dewati siran atmwa hlam anukani twasin jagat.

Artinya:
1. Melambung kidung merdu pujian sang prabu, beliau membunuh musuh-musuh, bagai matahari menghembus kabut, menghimpun negara di dalam kuasa Girang janma utama bagai bunga tunjung, musnah durjana bagai kumuda, Dari semua desa di wilayah negara pajak mengalir bagai air.
2. Raja menghapus duka si murba sebagai Satamanyu menghujani bumi menghukum penjahat bagai dewa Yana, menimbun harta bagaikan Waruna, Para telik masuk menembus segala tempat laksana Hyang Batara Bayu. Menjaga pura sebagai dewi Pretiwi, rupanya bagus seperti bulan.
3. Seolah-olah Sang Hyang Kama menjelma, tertarik oleh keindahan pura. Semua para puteri dan isteri sibiran dahi Sri Ratih, namun sang permaisuri, keturunan Wijayarajasa, tetap paling cantik paling jelita bagaikan Susumna, memang pantas jadi imbangan Baginda.
4. Berputeralah beliau puteri mahkota Kusumawardani, sangat cantik sangat rupawan jelita mata, lengkung lampai, bersemayam di Kabalan sang menantu Sri Wikramawardana memegang perdata seluruh negara sebagai dewa-dewi mereka bertemu tangan, menggirangkan pandang.

Pupuh 8:

1. Warnnan tinkah ikan puradbhuta kuthanya bata ban umider mmakandel aruhur, kulwan / di dwura waktra manharpakan lbuh agen i tnah way edran adalm, brahmasthana matungalan pathani buddi jajar inapi kapwa sök caracara, nka (95a) tongwan para tanda tan pgat aganti kumemit i karaksanin purasabha.
2. Lor ttan gopura cobhitabhinawça konten ika wsi rinupakaparimita, wetan / sandin ikarjja pangun aruhur / patigan ika binajralepa maputih, kannah lor kkidul i pken / raket ikaɳ yaça wkasin apanjan adbhuta dahat, anken / caitra pahomaniɳ bala samuha kidul ika catuspathahyan ahalp.
3. Slwagimbar ikan wanuntur an haturddiçi watanan ikawitana ri tnah, lor ttan weçma panankilan / para bhujanga khimuta para mantry alingih apupul, wetan / ngwan para çewa bodda mawiwada mucap aji sahopakara wki sök, prayaçcitta ri kalanin grahana phalguna makaphala haywanin sabhuwana.
4. Kannah wetan ikan pahoman ajajar ttiga tiga ri tnah kaçaiwan aruhur, ngwan san wipra kidul padottama susun / barat i natar ikabatur patawuran, ngwan san sogata lor susun tiga tikaɳ wanunan i pucak arjja mokirukiran, kapwanjrah racananya puspa pinaran / nrpati satata yan hanoma mapupul.
5. Nkaneɳ jro kidulin wanuntur ahlt / palawanan ika (95b) na paçewa atatha, wecmarjjajajar anhapit hawan anulwan i tnah ika tanjun anjran askar, ndah kulwan / mahlt muwah kidul i pangun ika balay aneka medran i tpi, arddalwa ri tnah natar nikana mandapa pasatan açankya lot mawurahan.
6. Ri jronyeki muwah paçewan akidul / dudug anusi wijil kapiɳrwa ri dalm, tinkahnyeki tinumpatumpa mahlt / palawanan ikanaɳ sapanta tininkah, kapwa wweçma subadda watwan ika len / saka balabag usuknya tanpacacadan, sök deni bala hajy anankil agilir / makmit an umapeksa wara matutur.

Artinya:
1. Tersebut keajaiban kota: tembok batu merah, tebal tinggi, mengitari pura. Pintu barat bernama Pura Waktra, menghadap ke lapangan luas, bersabuk parit. Pohon brahmastana berkaki bodi, berjajar panjang, rapi berbentuk aneka ragam. Di situlah tempat tunggu para tanda terus-menerus meronda, jaga paseban.
2. Di sebelah utara bertegak gapura permai dengan pintu besi penuh berukir Di sebelah timur: panggung luhur, lantainya berlapis batu, putih-putih mengkilat, Di bagian utara, di selatan pekan, rumah berjejal jauh memanjang, sangat indah, Di selatan jalan perempat: balai prajurit tempat pertemuan tiap Caitra.
3. Balai agung Manguntur dengan balai Witana di tengah, menghadap padang watangan Yang meluas ke empat arah; bagaian utara paseban pujangga dan menteri. Bagian timur paseban pendeta Siwa-Buddha, yang bertugas membahas upacara. Pada masa grehana bulan Palguna demi keselamatan seluruh dunia.
4. Di sebelah timur pahoman berkelompok tiga-tiga mengitari kuil Siwa. Di sebelah tempat tinggal wipra utama, tinggi bertingkat, menghadap panggung korban. Bertegak di halaman sebelah barat; di utara tempat Buddha bersusun tiga. Puncaknya penuh berukir; berhamburan bunga waktu raja turun berkorban.
5. Di dalam, sebelah selatan Manguntur tersekat pintu, itulah pasukan. Rumah bagus berjajar mengapit jalan ke barat, disela tanjung berbunga Lebat. Agak jauh di sebelah barat daya: panggung tempat berkeliaran para perwira. Tepat di tengah-tengah halaman bertegak mandapa penuh burung ramai berkicau.
6. Di dalam, di selatan ada lagi paseban memanjang ke pintu keluar pura yang kedua. Dibuat bertingkat-tangga, tersekat-sekat, masing-masing berpintu sendiri. Semua balai bertulang kuat bertiang kokoh, papan rusuknya tiada tercela, Para prajurit silih berganti, bergilir menjaga pintu, sambil bertukar Tutur.

Pupuh 9:

1. Nahan lwirnyan manankil panalasan inaran / kwehnya tanpa pramana, tanpalwir nyu gadin jangala kadiri sdah panlaran rajadewi, waiçanka wwan panewwan / krtapura sinlir mwaɳ jayeɳ praɳ jayagon, anreyok kaywapu wwan jaladi pasuruhan / samajadi prakirnna.
2. Nahan tadinya mungwiɳ watanan alunalun tan / pgat lot maganti, tanda mwan gusti wadwa haji muwah ikan amwan tuhan / rin yawabap, mukyan mungwin wijil / pi kalih adika bhayankaryyapintapu (96a) pul / sök, lor niɳ dware dalm / ngwanya kidul ika para ksatriya mwan bhujanga.
3. Nkanen bayabya ri paçcima mider umaren mrtyudeça yaçakweh, sar sök de san sumantryamawa pinituha rin wirabhrtyan panankil, anyat kannah kidul / pantaran ika lawanan / mandapa mwan grhakweh, sar sok de bhrtya sa çri nrpati ri paguhan nityakalan paçewa.
4. Nkane jronin wijil pin kalih arja natarnyaratalwatiçobha, sok / weçma mwan witanabhinawa papupulan / san manankil maren jro, wetan tekan grhanopama wanunan ikaçry aruhur sopacara, ngwan / çri nathan paweh çewa rin umarek umungwin witanaprameya.

Artinya:
1. Inilah para penghadap: pengalasan Ngaran, jumlahnya tak terbilang Nyu Gading Janggala-Kediri, Panglarang, Rajadewi, tanpa upama Waisangka kapanewon Sinelir, para perwira Jayengprang Jaya gung. Dan utusan Pareyok Kayu Apu, orang Gajahan, dan banyak lagi.
2. Begini keindahan lapang watangan luas bagaikan tak berbatas menteri, bangsawan, pembantu raja di Jawa, di deret paling muka Bhayangkari tingkat tinggi berjejal menyusul di deret yang kedua, Di sebelah utara pintu istana, di selatan satria dan pujangga.
3. Di bagian barat: beberapa balai memanjang sampai mercudesa, Penuh sesak pegawai dan pembantu serta para perwira penjaga, Di bagian selatan agak jauh: beberapa ruang, mandapa dan balai, Tempat tinggal abdi Sri narapati Paguhan, bertugas menghadap.
4. Masuk pintu kedua, terbentang halaman istana berseri-seri, rata dan luas, dengan rumah indah berisi kursi-kursi berhias, Di sebelah timur menjulang rumah tinggi berhias lambang kerajaan, Itulah balai tempat terima tatamu Sri nata di Wilwatikta.

Pupuh 10:

1. Warnnan / warnna ni saɳ manankil irikaɳ witana satata, mantri wrdda pararyya len para pasanguhan / sakapark, mwaɳ saɳ pança ri wilwatikta mapageh dmuɳ kanuruhan, tansah ranga tumengun uttama ni saɳ mark / wki pnuh.
2. Kweh nin wecapuri kamantryan in amatya riɳ sanagara,doniɳ bhasa parapatih para dmuɳ sakalan apupul, anhiɳ saɳ juruniɳ watek / panalasan / mahinan apagöh, pancakwehnira mantry anindi- (96b) ta rumaksa karyya ri dalm. 
3. Ndan / saɳ ksatriya len / bhujanga rsi wipra yapwan umark, nkane höbnin açokha mungwi hiriniɳ witana maaadeg, darmmadyaksa kalih lawan / san upapatti sapta dulur, saɳ tuhw aryya lkasniran / panaran aryya yukti satirun.

Artinya:
1. Inilah pembesar yang sering menghadap di balai witana, Wredamentri, tanda menteri pasangguhan dengan pengiring, Sang Panca Wilwatikta: mapatih, demung, kanuruhan, rangga, tumenggung, lima priyayi agung yang akrab dengan istana.
2. Semua patih, demung negara bawahan dan pengalasan, Semua pembesar daerah yang berhati tetap dan teguh, Jika datang, berkumpul di kepatihan seluruh negara, lima menteri utama, yang mengawal urusan negara.
3. Satria, pendeta, pujangga, para wipra, jika menghadap, berdiri di bawah lindungan asoka di sisi witana, Begitu juga dua dharmadhyaksa dan tujuh pembantunya, bergelar arya, tangkas tingkahnya, pantas menjadi teladan.

Pupuh 11:

1. Na lwir saɳ mark iɳ witana pinake dalm inapi rinanga çobhita, riɳ jro purwwa sake wijil / pisan adoh pininit ikan umanjine dalm, ndan saɳ çri nrpati sinhawarddana kidul / saha yugala saputraputrika, lor saɳ çri krtawarddaneçwara banun/ surapada tiga taɳ purapupul.
2. Sakweh niɳ grha nora tanpa çaka mokirukiran apned / winarnnana, mwaɳ tekaɳ batur acmawistaka mirah wintuwtu pinik / rinupaka, njrah tekaɳ wijiliɳ kulala pinakottamani hatep ikaɳ grhadika, tanjuɳ keçara campakadinikanaɳ kusuma caracaranjrah hiɳ natar.

Artinya:
1. Itulah penghadap balai witana, tempat takhta, yang terhias serba bergas, Pantangan masuk ke dalam istana timur, agak jauh dari pintu pertama, ke Istana Selatan, tempat Singawardana, permaisuri, putra dan putrinya, Ke Istana Utara, tempat Kertawardana. Ketiganya bagai Kahyangan.
2. Semua rumah bertiang kuat, berukir indah, dibuat berwarna-warni, Kakinya dari batu merah pating berunjul, bergambar aneka lukisan, Genting atapnya bersemarak serba meresapkan pandang, menarik perhatian, Bunga tanjung, kesara, campaka dan lain- lainnya terpencar di halaman.

Pupuh 12:

1. Warnnan tinkah ikaɳ pikandel atathattut kantaniɳ nagara, wetan / saɳ dwija çaiwa mukya sira danhyaɳ brahmarajadika, nkaneɳ daksina bodda mukyan anawuɳ sanka karnkannadi, kulwan / ksatriya mantri pungawa sa gotra çri narendradipa.
2. Wetan dan mahlt / lbul pura narendreɳ wenker atyadbhuta, saksat indra lawan saci nrpati lawan saɳ narendreɳ daha, saɳ natheɳ matahun / narendra ri lasem / mungwiɳ dalm tan kasah, kannah daksina tan madoh kamgetan / saɳ natha çobhahalp.
3. Nkaneɳ uttara lor sakeɳ pken agoɳ kuww ahalp / çobhita, saɳ saksat ari de nareçwara ri wenker saɳ makuww apagoh, satyasih ri narendradira nipuneɳ nityapatih rin daha, kyatin rat / manaran / bhatara narapaty ande halp niɳ praja.
4. Wetan lor kuwu saɳ gajahmada patih riɳ tiktawilwadika, mantri wira wicaksaneɳ naya matangwan / satya bhaktyaprabhu, wagmi wak padu sarjjawopasama, dihotsaha tan lalana, raja dyaksa rumaksa ri sthiti narendran cakrawarttiɳ jagat.
5. Nda nkane kidul iɳ puri kuwu kadarmmadyaksan arddahalp, wetan rakwa kaçaiwan uttama kaboddakulwan naçryatatha, tan warnnan kuwu saɳ sumantry adika len / mwan saɳ para ksatriya, deniɳ kwehnira bheda ri sakuwukuww ande halp niɳ pura.
6. Lwir ccandraruna tekanaɳ pura ri tikta çri phalanopama, tejangeh nikanaɳ karaɳ sakuwukuww akweh madudwan halp,lwir ttaragraha tekanaɳ nagara çesannekha mukyaɳ daha,mwaɳ nusantara sarwwa mandalita rastra naçrayakweh mark.

Artinya:
1. Teratur rapi semua perumahan sepanjang tepi benteng timur tempat tinggal pemuka pendeta Siwa Hyang Brahmaraja, selatan Buddha-sangga dengan Rangkanadi sebagai pemuka barat tempat arya, menteri dan sanak-kadang adiraja.
2. Di timur, tersekat lapangan, menjulang istana ajaib, Raja Wengker dan rani Daha penaka Indra dan Dewi Saci, berdekatan dengan istana raja Matahun dan rani Lasem, tak jauh di sebelah selatan raja Wilwatikta.
3. Di sebelah utara pasar: rumah besar bagus lagi tinggi, Di situ menetap patih Daha, adinda Baginda di wengker, Batara Narapati, termashur sebagai tulang punggung praja, cinta taat kepada raja, perwira, sangat tangkas dan bijak.
4. Di timur laut rumah patih Wilwatikta, bernama Gajah Mada, Menteri wira, bijaksana, setia bakti kepada negara, fasih bicara, teguh tangkas, tenang tegas, cerdik lagi jujur, Tangan kanan maharaja sebagai penggerak roda negara.
5. Sebelah selatan puri, gedung kejaksaan tinggi bagus, Sebelah timur perumahan Siwa, sebelah barat Buddha, Terlangkahi rumah para menteri, para arya dan satria, Perbedaan ragam pelbagai rumah menambah indahnya pura.
6. Semua rumah memancarkan sinar warnanya gilang-cemerlang, menandingi bulan dan matahari, indah tanpa upama, Negara-negara di Nusantara, dengan Daha bagai pemuka, Tunduk menengadah, berlindung di bawah Wilwatika (Majapahit).

Pupuh 13:

1. Lwir niɳ nusa pranusa pramukha sakahawat / ksoni ri malayu, naɳ jambi mwaɳ palembaɳ karitan i teba len / darmmaçraya tumut, kandis kahwas manankabwa ri siyak i rkan / kampar mwan i pane, kampe harw athawe mandahilin i tumihaɳ parllak / mwan i barat.
2. Hi lwas lawan samudra mwan i lamuri batan lampuɳ mwaɳ i barus, yekadinyaɳ watek / bhumi malayu satanah kapwamateh anut. len tekaɳ nusa tañjuɳ nagara ri kapuhas lawan ri katinan, sampit / mwaɳ kutalinga mwan i kutawarinin / sambas mwan i lawai.

Artinya:
1. Terperinci demi pulau negara bawahan, paling dulu Melayu: Jambi, Palembang, Toba dan Darmasraya pun ikut juga disebut daerah Kandis, Kahwas, Minangkabau, Siak, Rokan, Kampar dan Pane Kampe, Haru serta Mandailing, Tamihang, negara Perlak dan Padang.
2. Lwas dengan Samudra serta Lamuri, Batan, Lampung dan juga Barus, Itulah terutama negara-negara Melayu yang telah tunduk, Negara-negara di pulau Tanjungnegara: Kapuas-Katingan Sampit, Kota Lingga, Kota Waringin, Sambas, Lawai ikut tersebut.

Pupuh 14:

1. Kadaɳdanan i landa len ri samdaɳ tirm tan kasah, ri sedu buruneɳ ri kalka saluduɳ ri solot / pasir, baritw i sawaku muwah ri tabaluɳ ri tuñjuɳ kute, lawan ri malano makapramukha ta ri tañjuɳpuri.
2. Ikaɳ sakahawan pahaɳ pramukha taɳ hujuɳ medini, ri lnkasukha len ri saimwan i kalanten i tringano, naçor pa-(98a)kamuwar dunun ri tumasikh / ri saɳhyaɳ hujuɳ, klaɳ keda jere ri kañjap i niran / sanusa pupul.
3. Sawetan ikanaɳ tanah jawa muwah ya warnnanen, ri balli makamukya taɳ badahulu mwan i lwagajah, gurun makamukha sukun / ri taliwaɳ ri dompo sapi, ri saɳhyan api bhima çeran i hutan kadaly apupul.
4. Muwah tan i gurun sanusa manaran ri lombok mirah, lawan tikan i saksak adinikalun / kahajyan kabeh, muwah tanah i banatayan pramukha banatayan len / luwuk, tken uda makatrayadini-kanaɳ sanusapupul.
5. Ikaɳ saka sanusanusa makhasar butun / bangawi, kunir ggaliyau mwan i salaya sumba solot / muar, muwah tikhan i wandan ambwan athawa maloko wwanin, ri seran i timur makadinin aneka nusatutur.

Artinya:
1. Kadandangan, Landa Samadang dan Tirem tak terlupakan Sedu, Barune (ng), Kalka, Saludung, Solot dan juga Pasir, Barito, Sawaku, Tabalung, ikut juga Tanjung Kutei, Malano tetap yang terpenting di pulau Tanjungpura.
2. Di Hujung Medini Pahang yang disebut paling dahulu, Berikut Langkasuka, Saimwang, Kelantan serta Trengganu, Johor, Paka, Muar, Dungun, Tumasik, Kelang serta Kedah, Jerai, Kanjapiniran, semua sudah lama terhimpun.
3. Di sebelah timur Jawa seperti yang berikut: Bali dengan negara yang penting Badahulu dan Lo Gajah, Gurun serta Sukun, Taliwang, pulau Sapi dan Dompo, Sang Hyang Api, Bima, Seran, Hutan Kendali sekaligus.
4. Pulau Gurun, yang juga biasa disebut Lombok Merah, Dengan daerah makmur Sasak diperintah seluruhnya, Bantayan di wilayah Bantayan beserta kota Luwuk, sampai Udamakatraya dan pulau lain-lainnya tunduk.
5. Tersebut pula pulau-pulau Makasar, Buton, Banggawi, Kunir, Galian serta Salayar, Sumba, Solot, Muar, Lagi pula Wanda (n), Ambon atau pulau Maluku, Wanin, Seran, Timor, dan beberapa lagi pulau-pulau lain.

Pupuh 15:

1. Nahan / lwir niɳ deçantara kacaya de çri narapati, tuhn / taɳ synakayodyapura kimutaɳ darmmanagari, marutma mwaɳ riɳ rajapura nuniweh sinhanagari, ri campa kambojanyat i yawana mitreka satata.
2. Kunaɳ tekaɳ nusa madura tatan ilwiɳ parapuri, ri denyan tungal / mwaɳ yawadarani rakwaikana danu, samudra(1) nanguɳ(2) bhumi(3) kta ça- (98b) ka kalanya karnö, teweknyan dadyapantara sasiki tatwanya tan adoh.
3. Kuwus rabdaɳ dwipantara sumiwi ri asri narapati, padasthity awwat / pahudama wijil anken / pratimasa, sake kotsahan / saɳ prabhu ri sakhahaywanyan iniwö, bhujanga mwaɳ mantrinutus umahalot / patti satata.

Artinya:
1. Inilah nama negara asing yang mempunyai hubungan, Siam dengan Ayudyapura, begitu pun Darmanagari, Marutma, Rajapura, begitu juga Singanagari, Campa, Kamboja dan Yawana ialah negara sahabat.
2. Tentang pulau Madura, tidak dipandang negara asing, karena sejak dahulu dengan Jawa menjadi satu, Konon tahun Saka lautan menantang bumi, itu saat, Jawa dan Madura terpisah meskipun tidak sangat jauh.
3. Semenjak Nusantara menadah perintah Sri Baginda, tiap musim tertentu mempersembahkan pajak upeti, Terdorong keinginan akan menambah kebahagiaan, pujangga dan pegawai diperintah menarik upeti.

Pupuh 16:

1. Krama nika saɳ bhujangan umareɳ digantara danu, hinilahilan / swakaryya jaga dona tan swan alaha, wnan ika yan / pakon / nrpati siɳ parana ta kunaɳ, magehakna çiwagama phalanya tan / panasara.
2. Kunan ika saɳ bhujanga sugatabrateki karnö, apituwin ajña hajya tan asiɳ(4) paranan tika, hinilahila sakulwan ikanaɳ tanah jawa kabeh, taya rin usana bodda mara rakwa sambhawa tinut.
3. Tuhun ikanaɳ digantara sawetaniɳ yawadara, i gurun i bali mukya kawnaɳ paranaktika, samayaniraɳ mahamuni bharada rakwa mapageh, lawan ikha saɳ munindra kuturan / prakaça karnö.
4. Karana ni saɳ bhujanga tinitah ri lakwa rasikha, ikan inutus manulwana nawetanakrama huwus, saji saji niɳ lumakwakn i sajña saɳ narapati, sawiku sada yan anujar aweh rse- (99a) pnin umulat.
5. Irika tan anyabhumi sakhahemban iɳ yawapuri, amateh i sajna saɳ nrpati khapwa satya rin ulah, pituwi sin ajñalanghyana dinon / wiçirnna sahana, tkap ikanaɳ watek / jeladi mantry aneka suyaça.

Artinya:
1. Pujangga-pujangga yang lama berkunjung di Nusantara, dilarang mengabaikan urusan negara, mengejar untung, Seyogyanya jika mengemban perintah ke mana juga, menegakkan agama Siwa, menolak ajaran sesat.
2. Konon kabarnya para pendeta penganut Sang Sugata, dalam perjalanan mengemban perintah Baginda Nata, dilarang menginjak tanah sebelah barat pulau Jawa, karena penghuninya bukan penganut ajaran Buddha.
3. Tanah sebelah timur Jawa terutama Gurun, Bali, boleh dijelajah tanpa ada yang dikecualikan, Bahkan menurut kabaran mahamuni Mpu Barada, serta raja pendeta Kuturan telah bersumpah teguh.
4. Para pendeta yang mendapat perintah untuk bekerja, dikirim ke timur ke barat, di mana mereka sempat, Melakukan persajian seperti perintah Sri Nata, resap terpandang mata jika mereka sedang mengajar.
5. Semua negara yang tunduk setia menganut perintah, dijaga dan dilindungi Sri Nata dari pulau Jawa, Tapi yang membangkang, melanggar perintah, dibinasakan, pimpinan angkatan laut, yang telah mashur lagi berjasa.

Pupuh 17:

1. Sampun / rabda pagehnyadeg / nrpati riɳ yawadarani jayeɳ digantara, nkane çriphalatiktanagara siran / siniwi mulahaken / jagaddita, kirnnaikaɳ yaça kirtti darmma ginaweniran anukhani buddiniɳ para, mantri wipra bhujanga saɳ sama wineh wibhawa tumut akirtti riɳ jagat.
2. Göɳ niɳ wiryya wibhuti kagraha tkap / nrpati tuhutuhuttama prabhu, lila nora kasançayaniran anamtami sukha sakaharsaniɳ manah, kanya siɳ rahajöɳ ri jangala lawan / ri khadiri pinilih sasambhawa, astam taɳ kahañaɳ sakeɳ parapura sin arja winawe dalm puri.
3. Salwaniɳ yawabhumi tulya nagari sasikhi ri panadeg / naradipa, mewwiwwaɳ janadeça tulya kuwuniɳ bala manider i khantaniɳ puri, saɳ lwir niɳ paranusa tulya nika thaniwisaya pinahasukainaris, lwir udyana tikaɳ wanadri sahananya jinajar hira tan panançaya.
4. Baryyan / masa ri sampuniɳ çiçirikala sira mahasahas macaɳkrama, wwanten thany a- (99b) naran / ri sima kidul jalagiri manawetan iɳ pura, ramyapan / papunnagyaniɳ jagat i kalaniɳ sawun ika mogha tan pgat, mwaɳ wewe pikatan / ri candi lima lot paraparanira tusta lalana.
5. Yan tan manka mareɳ phalah mark i jöɳ hyan acalapati bhakti sadara, pantes / yan panulus dateɳ ri balitar mwan i jimur i çilahrit alnöɳ, mukyaɳ polaman iɳ dahe kuwu ri lingamarabanun ika lanenusi, yan / riɳ jangala lot sabha nrpati riɳ surabhaya manulus mare buwun.
6. Rin çakaksatisuryya saɳ prabhu mahas / ri pajan inirin iɳ sanagara,  riɳ çakanganagaryyama sira mare lasem ahawan i tiraniɳ pasir, ri dwaradripanendu palnenireɳ jaladi kidul atut wanalaris, nkaneɳ lodaya len tetör i sideman / jinajahira lanönya yenituɳ.
7. Ndan / riɳ çaka çaçanka naga rawi bhadrapadamasa ri tambwaniɳ wulan, saɳ çri rajasanagaran mahasahas / ri lamajan anituɳ sakhendriyan, sakweh çri yawaraja sapriya muwah tumut i haji sabhrtyawahana, mantri tanda sawilwatikta nuniweh wiku haji kawirajya maɳdulur.
8. Nkan tekiɳ maparab / prapanca tumut aɳ- (100a) lnen anirin i jöɳ nareçwara, tan len / san kawi putra san kawi samenaka dinulur ananmateɳ manö, darmmadyaksa khasogatan / sira tkap / narapati sumilih ri saɳ yayah, sakweh saɳ wiku bodda maɳjuru pacdanatuturakhen ulahnireɳ danu.
9. Ndan tinkah rakhawin mark / ri haji dug / raray atutur açewa tan salah, pinrihnye hati rakwa milwa sapara narapatin amalar kasanmata, nhiɳ tapwan / wruh apet lanö pisaninun / tetesa maminta gita riɳ karas, na hetunya kamarnna deça sakamargga naranika riniñci tut hawan.
10. Tambeniɳ kahawan / winarnna ri japan / kuti kuti hana candi sak rbah, wetan taɳ tebu pandawan ri daluwaɳ babala muwah hi kanci tan madoh, len tekaɳ kuti ratnapankaja muwah kuti haji kuti pankajadulur, panjrak mandala len / ri pongin i jinan / kuwu hanar i samipanin hawan.
11. Prapteɳ darmma riɳ pañcaçara tumuluy / datn i kapulunan siramgil, ndan lampah rakawin / lumaryyamgil iɳ waru ri herin i tira tan madoh, angangehnya tkap / bhatara kuti riɳ suraya pageh mara cinarccaken, nhiɳ rakwan kaslaɳ (100b) turuɳ mulih amogha matutur atisambhrameɳ manö.

Artinya:
1. Telah tegak teguh kuasa Sri Nata di Jawa dan wilayah Nusantara, Di Sripalatikta tempat beliau bersemayam, menggerakkan roda dunia, tersebar luas nama beliau, semua penduduk puas, girang dan lega, Wipra, pujangga dan semua penguasa ikut menumpang menjadi mashur.
2. Sungguh besar kuasa dan jasa beliau, raja agung dan raja utama, Lepas dari segala duka, mengeyam hidup penuh segala kenikmatan, Terpilih semua gadis manis di seluruh wilayah Janggala Kediri, Berkumpul di istana bersama yang terampas dari negara tetangga.
3. Segenap tanah Jawa bagaikan satu kota di bawah kuasa Baginda, Ribuan orang berkunjung laksana bilangan tentara yang mengepung pura, Semua pulau laksana daerah pedusunan tempat menimbun bahan makanan, Gunung dan rimba hutan penaka taman hiburan terlintas tak berbahaya.
4. Tiap bulan sehabis musim hujan beliau biasa pesiar keliling, Desa Sima di sebelah selatan Jalagiri, di sebelah timur pura, Ramai tak ada hentinya selama pertemuan dan upacara prasetyan, Girang melancong mengunjungi Wewe Pikatan setempat dengan candi Lima.
5. Atau pergilah beliau bersembah bakti ke hadapan Hyang Acalapati, Biasanya terus menuju Blitar, Jimur mengunjungi gunung-gunung permai, Di Daha terutama ke Polaman, ke Kuwu dan Lingga hingga desa Bangin, Jika sampai di Jenggala, singgah di Surabaya, terus menuju Buwun.
6. Tahun Aksatisurya (1275) sang prabu menuju Pajang membawa banyak pengiring, Tahun Saka angga-naga-aryama (1276) ke Lasem, melintasi pantai samudra, Tahun Saka pintu-gunung-mendengar-indu (1279) ke laut selatan menembus hutan, Lega menikmati pemandangan alam indah Lodaya, Tetu dan Sideman.
7. Tahun Saka seekor-naga-menelan bulan (1281) di Badrapada bulan tambah, Sri Nata pesiar keliling seluruh negara menuju kota Lumajang, Naik kereta diiringi semua raja Jawa serta permaisuri dan abdi, menteri, tanda, pendeta, pujangga, semua para pembesar ikut serta.
8. Juga yang menyamar Prapanca girang turut mengiring paduka Maharaja, Tak tersangkal girang sang kawi, putera pujangga, juga pencinta kakawin, Dipilih Sri Baginda sebagai pembesar ke-buddha-an mengganti sang ayah, Semua pendeta Buddha umerak membicarakan tingkah lakunya dulu.
9. Tingkah sang kawi waktu muda menghadap raja, berkata, berdamping, tak lain, Maksudnya mengambil hati, agar disuruh ikut beliau ke mana juga, Namun belum mampu menikmati alam, membinanya, mengolah dan menggubah, Karya kakawin; begitu warna desa sepanjang marga terkarang berturut.
10. Mula-mula melalui Japan dengan asrama dan candi-candi ruk-rebah, Sebelah timur Tebu, hutan Pandawa, Daluwang, Bebala di dekat Kanci, Ratnapangkaja serta Kuti Haji Pangkaja memanjang bersambung-sambungan, Mandala Panjrak, Pongging serta Jingan, Kuwu Hanyar letaknya di tepi Jalan.
11. Habis berkunjung pada candi makam Pancasara, menginap di Kapulungan, Selanjutnya sang kawi bermalam di Waru, di Hering, tidak jauh dari pantai, Yang mengikuti ketetapan hukum jadi milik kepala asrama Saraya, Tetapi masih tetap dalam tangan lain, rindu termenung-menung menunggu.

Pupuh 18:

1. Yyankat / çri natha sakeɳ kapulunan ikanaɳ rajabhrtya niriɳ sök, salwaniɳ rajamarggäparimita hibkan / syandanomwat matambak, wwaɳ niɳ wwaɳ pekhaniɳ peka tka saha padati harp / mwaɳ ri wuntat, dudwaɳ wadwa darat / seh girimisen amedep / mwaɳ gajaçwadi kirnna.
2. Nistanyaçankya taɳ syandana mapawilanan deni cihnanya bheda, tekwan lampah nikapanta tulis ika dudu ri saɳ mantri samantri, rakryan saɳ mantri mukyapatih i majhapahit / saɳ pranalen kadatwan, pinten / mawan çata syandana pulupulutan teki cihnanya neka.
3. Saɳ çri natheɳ pajaɳ kwehni rathanira padacihnaniɳ diwaça çri, ndan / çri natheɳ lasem / sök / rathanira matulis / nandaka çweta çobha, saɳ çri natheɳ daha cihna sadahakusuma syandanabhratulis mas, mukyaɳ çri jiwanendrasakata samasama cihna lobheɳ lwih sök.
4. Ndan saɳ çri tiktawilwaprabhu sakataniraçankya cihnanya wilwa, gritisiɳ lobhe lwih laka pada tinulis iɳ mas kajaɳnyan rinenga, salwirniɳ pungawamwat / bini haji nuniweh .. çwari çri sudewi,(101a) sakwehniɳ pekabharyya sakata nika sinaɳ panharpniɳ sapanta. 
5. Mungwiɳ wuntat / ratha çri nrpati rinacanaɳ swarnna ratna pradipta, anyat / lwirnyatawiɳ jampana sagala mawalwahulap / söɳnya lumra, kirnneɳ wadwa niriɳ jangala kadiri sdah paɳaraɳ sök marampak, astam tekaɳ bhayaɳkaryyamawamawa duduɳ bhrtya mungwiɳ gajaçwa.
6. Ndah prapteɳ pañjuran / munkur atiki lariniɳ syandaneñjiɳ mararyyan, lampalfniɳ khawy animpan sumeper i sawunan / matilawad / wanduwargga, linsirniɳ suryya mankat marni ri haliwat / çri narendran lumampah, tut marggamurwwa çighran datn i watukiken / ri matañjuɳ mararyyan.
7. Deçasimpar kkaboddan kapark i tpiniɳ marggakaywanya poryyaɳ, pratyekanye galangaɳ muwah ikan i baduɳ tan madoh mwaɳ baruɳbuɳ, tan karyyaner mmanik / towi kawiçaya ri yanatrayangehnya menöt, saɳ darmmadyaksa çighran / sinegehan ika riɳ bhojanapana tusta.
8. Sampun / prapte kulur mwaɳ batan i ganan asem / teki lampah narendra, tistis / hyaɳ suryya pinten / ghatita pitu sirm kamukhan sanhub awra, skandaware tnah niɳ harahara dinunuɳ çri narendre kamantyan, praptan wyapara (101 b) sampun / panadahira madum / sthana tekiɳ wwan akweh.

Artinya:
1. Seberangkat Sri Nata dari Kapulungan, berdesak abdi berarak, Sepanjang jalan penuh kereta, penumpangnya duduk berimpit-impit, Pedati di muka dan di belakang, di tengah prajurit berjalan kaki, berdesak-desakan, berebut jalan dengan binatang gajah dan kuda.
2. Tak terhingga jumlah kereta, tapi berbeda-beda tanda cirinya, Meleret berkelompok-kelompok, karena tiap menteri lain lambangnya, Rakrian sang menteri Patih Amangkubumi penata kerajaan, Keretanya beberapa ratus berkelompok dengan aneka tanda.
3. Segala kereta Sri Nata Pajang semua bergambar matahari, Semua kereta Sri Nata Lasem bergambar cemerlang banteng putih, Kendaraan Sri Nata Daha bergambar Dahakusuma emas mengkilat, Kereta Sri Nata Jiwana berhias bergas menarik perhatian.
4. Kereta Sri Nata Wilwatikta tak ternilai, bergambar buah maja, Beratap kain geringsing, berhias lukisan emas, bersinar merah indah, Semua pegawai, parameswari raja dan juga rani Sri Sudewi, Ringkasnya para wanita berkereta merah, berjalan paling muka.
5. Kereta Sri Nata berhias emas dan ratna manikam paling belakang, Jempana-jempana lainnya bercadar beledu, meluap gemerlap, Rapat rampak prajurit pengiring Janggala Kediri, Panglarang, Sedah, Bhayangkari gemruduk berbondong-bondong naik gajah dan kuda.
6. Pagi-pagi telah tiba di Pancuran Mungkur; Sri Nata ingin rehat, Sang rakawi menyidat jalan, menuju Sawungan mengunjungi akrab, Larut matahari berangkat lagi tepat waktu Sri Baginda lalu, Ke arah timur menuju Watu Kiken, lalu berhenti di Matanjung.
7. Dukuh sepi ke-buddha-an dekat tepi jalan, pohonnya jarang-jarang, Berbeda-beda namanya Gelanggang, Badung, tidak jauh dari Barungbung, Tak terlupakan Ermanik, dukuh teguh-taat kepada Yanatraya, Puas sang Dharmadhyaksa mencicipi aneka jamuan makan dan minum.
8. Sampai di Kulur, Batang di Gangan Asem perjalanan Sri Baginda Nata, Hari mulai teduh, surya terbenam, telah gelap pukul tujuh malam, Baginda memberi perintah memasang tenda di tengah-tengah sawah, Sudah siap habis makan, cepat-cepat mulai membagi-bagi tempat.

Pupuh 19:

1. Eñjiɳ ryyankatiraɳ narendra datn anhinep i bhayalanö tigaɳ kulm, sah sankerika taɳ kedu dawa rame janapada kahalintanan huwus, riɳ lampes / ri times muwah kuti ri pogara kahnu lbuh nika gnet, mwaɳ riɳ mandala hambulu traya tke dadap adulur ikaɳ rawalaris.
2. Wwanten / darmma kasogatan / prakaçite madakaripura kastaweɳ lanö, simanugraha bhupati san apatih gajamada racalnanyan uttama, yekanuɳ dinunuɳ nareçwara pasangrahanira pinened rinupaka, andondok mahawan / rikaɳ trasunay andyus i capahan atirthaçewana.

Artinya:
1. Paginya berangkat lagi menuju Baya, rehat tiga hari tiga malam, Dari Baya melalui Katang, Kedung Dawa, Rame, menuju Lampes,Times, Serta biara pendeta di Pogara mengikut jalan pasir lemah-lembut, Menuju daerah Beringin Tiga di Dadap, kereta masih terus lari.
2. Tersebut dukuh kasogatan Madakaripura dengan pemandangan indah, Tanahnya anugerah Sri Baginda kepada Gajah Mada, teratur rapi, Di situlah Baginda menempati pasanggrahan yang terhias sangat bergas, Sementara mengunjungi mata air, dengan ramah melakukan mandi-bakti.

Pupuh 20:

1. Praptaɳ deça kasogatan / sahana mawwat bhakta pane haji, pratyekanya gapuk sadewi çisayen içanabajrapageh, ganten poh capahan kalampitan iɳ lumbaɳ len / kuran we ptaɳ, mwaɳ pañcar prasamança niɳ kuti munguh kapwa taçraɳ mamark.
2. Milwaɳ deça ri tungilis pabayeman / rowaɳnya nekapupul, rehnyançe kuti ratnapankaja hane caccan kabhuktyapateh, nahan ta pabalas / kasogatan an ançangehnya kuww apageh, bhukti- (102a) nyan pan akaryya kawwalu huwus tinkahnya nuni danu.

Artinya:
1. Sampai di desa kasogatan Baginda dijamu makan minum, Pelbagai penduduk Gapuk, Sada, Wisisaya, Isanabajra, Ganten, Poh, Capahan, Kalampitan, Lambang, Kuran, Pancar, We Petang, Yang letaknya di lingkungan biara, semua datang menghadap.
2. Begitu pula desa Tunggilis, Pabayeman ikut berkumpul, Termasuk Ratnapangkaja di Carcan, berupa desa perdikan, Itulah empat belas desa kasogatan yang berakuwu, Sejak dahulu delapan saja yang menghasilkan bahan makanan.

Pupuh 21:

1. Byatiteñjiɳ mankat / caritan ikanaɳ deça kawahan, riɳ lo pandak ranwakuniɳ i balerah barubare, dawöhan lawan kapayeman i telpak / ri barmi, sapan kapraptan / mwaɳ kasaduran anujwiɳ pawijunan.
2. Juraɳ bobo runtiɳ mwan i pasawahan teki kahnu, muwah prapteɳ jaladi patalap ika mwaɳ ri padali, rin arnnon lawan pangulan i payaman / len tepasana, tkeɳ rmbaɳ prapte kamirahan i pingir nin udadi.

Artinya:
1. Fajar menyingsing; berangkat lagi Baginda melalui, Lo Pandak, Ranu Kuning, Balerah, Bare-bare, Dawohan, Kapayeman, Telpak, Baremi, Sapang serta Kasaduran, Kereta berjalan cepat-cepat menuju Pawijungan.
2. Menuruni lurah, melintasi sawah, lari menuju, Jaladipa, Talapika, Padali, Arnon dan Panggulan, Langsung ke Payaman, Tepasana ke arah kota Rembang, Sampai di Kemirahan yang letaknya di pantai lautan.

Pupuh 22:

1. I dampar i patuñjunan / nrpati lalana mahawan i tiraniɳ pasir, amurwwa hnu tut / hni ratarata nika magnet timbah iɳ ratha, araryyan i samipaniɳ talaga seh çarasija tarate pada skar, jnek mihat i posikiɳ makara riɳ wway ahnin i dalmnya waspada.
2. Ndatan wicaritan kalanwan ikanan ranu masurawayan lawan tasik, riyankatira sah dataɳ ri wdi ri guntur asnet i samipaniɳ hawan, kasogatan i bajrakança ri taladwaja tlas apageh cinarccaken, dulurnya ri patuñjunan / kaslan i bala turun umulih mareɳ kuti.
3. Yatekha hinalintanan / muwah amurwwa matut alas i tiraniɳ pasir, (102b) araryyan irikaɳ palumbwan aburu ksana lumaris i linsiriɳ rawi, bhawisya hilintaniɳ lwah i rabut / lawan anuju surud nin ampuhan, lurah ri balater / linakwanira lalana mamegil i tiraniɳ pasir.
4. Rin eñjin ahawan kunir basini saksana datn i saden siramgil, piraɳ wni kuneɳ lawasnira jnek / mamnamn i sarampwan aɳlnöɳ, ri sahnira wawaɳ tke kura bacok / narapatin awilaça riɳ pasir, jnek lumihat iɳ karaɳ kinasut iɳ ryyak asirasirat anhirib / jawuh.
5. Tuhun rakhawi tan mare kuta bacok / dumadak anut i simpanin hawan, anuttara sake sadeɳ mahawan iɳ balun anuju ri tumbu len habet, muwah ri galagah ri tanpahin anantya mgil i rnes apty anankila, amogha kapapag / narendra mahawan / jayakrta ri wanagriyalaris.

Artinya:
1. Di Dampar dan Patunjungan Sri Baginda bercengkerma menyisir tepi lautan, Ke jurusan timur turut pasisir datar, lembut-limbur dilintas kereta, Berhenti beliau di tepi danau penuh teratai, tunjung sedang berbunga, Asyik memandang udang berenang dalam air tenang memperlihatkan dasarnya.
2. Terlangkahi keindahan air telaga yang lambai-melambai dengan lautan, Danau ditinggalkan, menuju Wedi dan Guntur tersembunyi di tepi jalan, Kasogatan Bajraka termasuk wilayah Taladwaja sejak dulu kala, Seperti juga Patunjungan, akibat perang, belum kembali ke asrama.
3. Terlintas tempat tersebut, ke timur mengikut hutan sepanjang tepi lautan, Berhenti di Palumbon berburu sebentar, berangkat setelah surya larut, Menyeberangi sungai Rabutlawang yang kebetulan airnya sedang surut, Menuruni lurah Balater menuju pantai lautan, lalu bermalam lagi.
4. Pada waktu fajar menyingsing, menuju Kunir Basini, di Sadeng bermalam, Malam berganti malam Baginda pesiar menikmati alam Sarampuan, Sepeninggalnya beliau menjelang kota Bacok bersenang-senang di pantai, Heran memandang karang tersiram riak gelombang berpancar seperti Hujan.
5. Tapi sang rakawi tidak ikut berkunjung di Bacok, pergi menyidat jalan, Dari Sadeng ke utara menjelang Balung, terus menuju Tumbu dan Habet, Galagah, Tampaling, beristirahat di Renes seraya menanti Baginda, Segera berjumpa lagi dalam perjalanan ke Jayakreta-Wanagriya.

Pupuh 23:

1. Ri doni bentoɳ puruhan lawan bacek, pakhis haji mwaɳ padanan / scaɳ, ri jati gumlar kkawahan çila bhano, anuttareɳ dewarame tke dukun.
2. Muwah lumampah datniɳ pakambanan, rika mgil / saɳ prabhu saksanan laku, dataɳ tansil / wwitaniɳ lurah daya, linakwan aglis / datniɳ juraɳ dalm.
3. Ikaɳ wahan dug manalor sakeɳ tasik, ri sanden ande nikha durgga- (103a) ma rupök, lumud jawuh sengkanikan padalyö, aneka taɳ syandana sak / silih pagut.

Artinya:
1. Melalui Doni Bontong, Puruhan, Bacek, Pakisaji, Padangan terus ke Secang, Terlintas Jati Gumelar, Silabango, Ke utara ke Dewa Rame dan Dukun.
2. Lalu berangkat lagi ke Pakembangan, Di situ bermalam; segera berangkat, Sampailah beliau ke ujung lurah daya, Yang segera dituruni sampai jurang.
3. Dari pantai ke utara sepanjang jalan, Sangat sempit, sukar amat dijalani, Lumutnya licin akibat kena hujan, Banyak kereta rusak sebab berlanggar.

Pupuh 24:

1. Tuhun maglis / dug / ri palayanan awarnnalayan adoh, ri baɳkoɳ konaɳ taɳ parana mamgil / çighra lumaris, padamrih prapta riɳ çarana tikanaɳ wwaɳ maçarana,waneh çighra prapteɳ surabhasarabadniɳ wwan aniriɳ.
2. Sirpniɳ nwai mandalanalan i tkanyen alanalaɳ, ri candyan degnyandel / sapi nika waneh puh besur anel, bhawisyaɳ yana nuttara turayan an deça kahawan, padacrwankatnyagyatakitaki tka ri patukanan.

Artinya:
1. Terlalu lancar lari kereta melintas Palayangan, dan Bangkong, dua desa tanpa cerita, terus menuju Sarana, mereka yang merasa lelah ingin berehat, Lainnya bergegas berebut jalan menuju Surabasa.
2. Terpalang matahari terbenam berhenti di padang lalang, Senja pun turun, sapi lelah dilepas dari pasangan, Perjalanan membelok ke utara melintas Turayan, Beramai-ramai lekas-lekas ingin mencapai Patukangan.

Pupuh 25:

1. Taneh yan caritan / pratinkah ikanaɳ swabhrtya mantry adulur, warnnan teki dataɳnire patukanan / saɳ çri narendrapuphul, nkaneɳ sagaratira kulwan ikanaɳ talakrp alwarata, lor parnnahnya sakeɳ pakuwwan irikangwan / çri narendramgil.
2. Sakweh saɳ para mantry amancanagaromungwiɳ pakuwwan kabeh, mwaɳ saɳ dyaksa pasanguhan / rasika saɳ wançadirajomark, tansah san hupapatty anindita dan açcaryyottaranopama, çaiwapanji mapanji santara widagden agama wruh kawi.

Artinya:
1. Panjang lamun dikisahkan kelakuan para menteri dan abdi, Beramai-ramai Baginda telah sampai di desa Patukangan, Di tepi laut lebar tenang rata terbentang di barat Talakrep, Sebelah utara pakuwuan pasanggrahan Baginda Nata.
2. Semua menteri, mancanagara hadir di pakuwuan, Juga jaksa Pasungguhan Sang Wangsadiraja ikut menghadap, Para Upapati yang tanpa cela, para pembesar agama, Panji Siwa dan Panji Buddha, paham hukum dan putus sastera.

Pupuh 26:

1. Ndan mukya dipatin pakuwwan apagöh san aryya çuradikara sakweh niɳ jajahan / sa (103b) ke patukanan / sampun dataɳ tan masowe, kapwasraɳ mahaturhatur pada sinunan wastra buddinya tusta, tustanyandani tusta ri nrpati santustan / jnekj riɳ pakuwwan.
2. Wwanten / rupaka laryyalaryyan annah sanke hujuɳnin samudra, waiçmaneka kikis tinap natar ikalwapinda nusan / sakeɳ doh, margganyeki linantaran / lyep awarnnanguɳ katon denikaɳ ryyak, kirtti san aryya towi pasnahe praptya saɳ çri narendra.

Artinya:
1. Sang adipati Suradikara memimpin upacara sambutan, Diikuti segenap penduduk daerah wilayah Patukangan, Menyampaikan persembahan, girang bergilir dianugerahi kain, Girang rakyat girang raja, pakuwuan berlimpah kegirangan.
2. Untuk pemandangan ada rumah dari ujung memanjang ke lautan, Aneka bentuknya, rakit halamannya, dari jauh bagai pulau, Jalannya jembatan goyah kelihatan bergoyang ditempuh ombak, Itulah buatan sang arya bagai persiapan menyambut raja.

Pupuh 27:

1. Nka çri natha maranlipur huyan i tiksaniɳ dinakara, saksat dewata dewatin saha khasihniratikatikan, wwaɳ ri jro sawan apsarin wahu sakeɳ wihaya madulur, moktaɳ klesa hidep nika mulat awarnna tibra kawnan.
2. Tan tungal / tikanaɳ wiläça ginawe narendrakasukhan, siɳ wastwasuna tustacitta rikanaɳ pradeça winanun, baryyan karaktan / çramaçrama maweh jner nin umulat, singih dewa manindarat / juga siran lumanlan i jagat.
Artinya:
1. Untuk mengurangi sumuk akibat teriknya matahari, Baginda mendekati permaisuri seperti dewa-dewi, Para puteri laksana apsari turun dari Kahyangan, Hilangnya keganjilan berganti pandang penuh heran-cengang.
2. Berbagai-bagai permainan diadakan demi kesukaan, Berbuat segala apa yang membuat gembira penduduk, Menari topeng, bergumul, bergulat, membuat orang kagum, Sungguh beliau dewa menjelma, sedang mengedari dunia.

Pupuh 28:

1. Pira teki lawasnira ri patukanan, para mantri ri bali ri madura dataɳ, ri balumbun andelan ika karuhun, sayawaksithi wetan umark apuphul.
2. Pada bhakty ahatur pada masirasi(104a)ran, bawi mesa kbo sapi hayam asu sek, saha wastra pinundut adulur / hasusun, manahiɳ mulat adbhuta kadi tan i rat.
3. Sakatembay in enjan atiki caritan, naranatha siradadar i bala kabeh,milu salwir ikaɳ para khawi sinunan, pada tusta ti para jana manalm.

Artinya:
1. Selama kunjungan di desa Patukangan, para menteri dari Bali dan Madura, dari Balumbung, kepercayaan Baginda, menteri seluruh Jawa Timur berkumpul.
2. Persembahan bulu bekti bertumpah-limpah, babi, gudel, kerbau, sapi, ayam dan anjing, Bahan kain yang diterima bertumpuk timbun, Para penonton tercengang-cengang memandang.
3. Tersebut keesokan hari pagi-pagi, Baginda keluar di tengah-tengah rakyat, Diiringi para kawi serta pujangga, Menabur harta, membuat gembira rakyat.

Pupuh 29:

1. Ndan saɳ kawy aparab / prapanca juga çokha tanari siwuhön, de saɳ kawy upapatti sogata mapañji krtayaça pjah, mitrangeh rasike kalanwan asih aɳdulur atakitaki, lagyamulyani kirtti pustaka tinumbas inapi tinnöt.
2. Cittankwi rasikan katmwawarasanateramahasahas, nyama wruh ri parananiɳ mahas akirttya tilara kakawin, nunin matya jmah muwah sisip ikiɳ lara pinahalalu, mati pwa datninhulun / lwes aweh skel analahasa.
3. Nahan karananiɳ wawaɳ sah umareɳ kta milu rumuhun, tal tungal halalaɳ dawa ri pacaron / kahawan i bunatan, prapteɳ toya runun / walandinanujwi tarapas amgil, enjiɳ laryy ahawan / lmah ban irikaɳ ksana datn i kta.

Artinya:
1. Hanya pujangga yang menyamar Prapanca sedih tanpa upama, Berkabung kehilangan kawan kawi-Buddha Panji Kertayasa, Teman bersuka-ria, teman karib dalam upacara agama, Beliau dipanggil pulang, sedang mulai menggubah karya megah.
2. Kusangka tetap sehat, sanggup mengantar aku kemana juga, Beliau tahu tempat-tempat mana yang layak pantas dilihat, Rupanya sang pujangga ingin mewariskan karya megah indah, Namun, mangkatlah beliau, ketika aku tiba, tak terduga.
3. Itulah lantarannya aku turut berangkat ke desa Keta, Melewati Tal Tunggal, Halalang-panjang, Pacaran dan Bungatan, Sampai Toya Rungun, Walanding, terus Terapas, lalu bermalam, Paginya berangkat ke Lemah Abang, segera tiba di Keta.

Pupuh 30:

1. Rintar saɳ çri narapati n anulwan / muwah teki warnnan, çighra prapteɳ kta pili- (104b) pilih pañca ratrin pananti, sweccamarnna jalanidi n amangih muwah laryyalaryyan, ndatan dady alupa rin anukhane parapan ginöɳ twas.
2. Kwehniɳ mantri kta pada mark nayya majña san aryya, wirapranadinikha milu saçewa boddopapatti, mwaɳ sakweh niɳ jajahan aniriɳ sök / dataɳ tan hinundaɳ, kapwawwat / bhojana sahana tustan / sinunan / suwastra.

Artinya:
1. Tersebut perjalanan Sri Narapati ke arah barat, Segera sampai Keta dan tinggal di sana lima hari, Girang beliau melihat lautan, memandang balai kambang, Tidak lupa menghirup kesenangan lain sehingga puas.
2. Atas perintah sang arya semua menteri menghadap, Wiraprana bagai kepala, upapati Siwa-Buddha, Mengalir rakyat yang datang sukarela tanpa diundang, Membawa bahan santapan, girang menerima balasan.

Pupuh 31:

1. Ri sahnira sakeɳ kta meweh ikaɳ swabhrtyaniriɳ, bañu hnin ikanaɳ hawan / wki dataɳ ri sampora sök, muwah ri dalman / tke wawaru riɳ binor hop / glisan, gban krp i glam / tke kalayu rajakaryyeniwö.
2. Ikaɳ kalayu darmma sima sugatapratistapagöh, mahottama sujanma wandu haji saɳ dinarmmeɳ danu, nimittan i pakaryya karyya haji darmmakaryyadika, prasidda mamgat sigika wkas i sudarmmenulah.
3. Ikaɳ widi widana sakrama tlas / gnep sankepan, makadyan upabhoga bhojana halp nikanopama, amatyagana samyasanghya çagiri dataɳ riɳ sabha, mrdanga padahatri megeliglan mahinan dina. 
4. Narendra ri huwusni karyyanira sestani twas ginöɳ, asiɳ sakapark / (105a) pradeça pinaran danondok dateɳ, piraɳ wni lawasnirerika pararttha mangöɳ sukha, surupa bini hajy ulihnira wiçesa kanyanulus.
5. Ri sahnira sakeɳ kalayw i kutugan kahenwalaris, ri khebwan agen aglis engal amgil / ri kambaɳ rawl, sudarmma sugatapratista racananya çobhah halp,anugraha nareçwara san apatih pu naladika.
6. Haturhatur i saɳ patih lwu halpnikanindita, byatita panadah narendra rikanaɳ prabhatocapen, umankat ahawan / ri halses i ba raɳ ri patuñjunan, anunten i patentenan tarub i lesan asrwalaris.

Artinya:
1. Keta telah ditinggalkan. Jumlah pengiring malah bertambah, Melintasi Banyu Hening, perjalanan sampai Sampora, Terus ke Daleman menuju Wawaru, Gebang, Krebilan, Sampai di Kalayu Baginda berhenti ingin menyekar.
2. Kalayu adalah nama desa perdikan kasogatan, Tempat candi makam sanak kadang Baginda raja, Penyekaran di makam dilakukan dengan sangat hormat, “Memegat sigi” nama upacara penyekaran itu.
3. Upacara berlangsung menepati segenap aturan, Mulai dengan jamuan makan meriah tanpa upama, Para patih mengarak Sri Baginda menuju paseban, Genderang dan kendang bergetar mengikuti gerak tandak.
4. Habis penyekaran raja menghirup segala kesukaan, Mengunjungi desa-desa di sekitarnya genap lengkap, Beberapa malam lamanya berlomba dalam kesukaan, Memeluk wanita cantik dan meriba gadis remaja.
5. Kalayu ditinggalkan, perjalanan menuju Kutugan, Melalui Kebon Agung, sampai Kambangrawi bermalam, Tanah anugerah Sri Nata kepada Tumenggung Nala, Candinya Buddha menjulang tinggi, sangat elok bentuknya.
6. Perjamuan Tumenggung Empu Nala jauh dari cela, Tidak diuraikan betapa rahap Baginda Nata bersantap, Paginya berangkat lagi ke Halses, B’rurang, Patunjungan, Terus langsung melintasi Patentanan, Tarub dan Lesan.

Pupuh 32:

1. Cighran / datn i pajarakan pataɳ dina lawas narapatin amgil, nkaneɳ harahara kidul iɳ sudarmma sugatasana makuwukuwu, mantri wiku haji karuhun san aryya sujanottama parn umark, kapwanaturaken upabhogha bhojana wineh dana padakasukhan.
2. Rintar narapatin alaris / wanaçrama ri sagara ktan usirn, senkan / hawanira manidul pakalyan i buluh kta kahaliwatan, mwaɳ mandala hikan i gde samantara ri sagara kta kadunuɳ, çobhabhinawa ri tnah i wa- (105b) naçri racananyan amulanunaken.
3. Ndatan pijer umark i jön narendra rakawin / jnek anapi lanö, lanlaɳ lalita lali laleda lulwi lala meneh akalis in ulah, tamtam / tan atutur i tutur nikan tut i tatani san atakitaki, jañjan / jumalajah i jajar ni bañjar ikanaɳ yaça cinaracara.
4. Prapteɳ pathani ri tpiniɳ tpas / tpus ika tpun atetel atöb, secca macamaca cacahanyan anracana bhasaracana kakawin, kwehniɳ yaça pada dinunam / wilapa dadakan / saha parab inamer, pancaksara ri wkasan iɳ pralapa sinamarsamar awtu lanö.
5. Bwat / ranten atulis atulis katha patiga watw inasaban aruhur, jrah nagakusuma kusumanya riɳ natar i tira nikha pinarigi, andwaɳ karawira kayumas mnur / ccaracaranya saha kayu puriɳ, mwaɳ nyu gadin akunin ahandap ahwah i padunyan amuhara lanö.
6. Tan neh yadi caritan ikaɳ wanaçrama lanönyan asmu siluman, tinkahnika ri dalm i heɳ mahogra tkap iɳ yaça pada hineduk, mwaɳ kweh parakaki nuniweh parendan atuhararay ahayu waged, oktaɳ mala kalusa mihat banun / wihikan iɳ çiwapada sakala.

Artinya:
1. Segera Sri Baginda sampai di Pajarakan, disana bermalam empat hari, Di tanah lapang sebelah selatan candi Buddha beliau memasang tenda, Dipimpin Arya Sujanottama para mantri dan pendeta datang menghadap, Menghaturkan pacitan dan santapan, girang menerima anugerah uang.
2. Berangkat dari situ Sri Baginda menuju asrama di rimba Sagara, Mendaki bukit-bukit ke arah selatan dan melintasi terusan Buluh, Melalui wilayah Gede, sebentar lagi sampai di asrama Sagara, Letaknya gaib ajaib di tengah-tengah hutan membangkitkan rasa kagum rindu.
3. Sang pujangga Prapanca yang memang senang bermenung tidak selalu menghadap, Girang melancong ke taman melepaskan lelah melupakan segala duka, Rela melalaikan paseban mengabaikan tata tertib para pendeta, Memburu nafsu menjelajah rumah berbanjar-banjar dalam deretan berjajar.
4. Tiba di taman bertingkat, di tepi pesanggrahan tempat bunga tumbuh lebat, Suka cita Prapanca membaca cacahan (pahatan) dengan slokanya di dalam cita, Di atas tiap atap terpahat ucapan seloka yang disertai nama, Pancaksara pada penghabisan tempat terpahat samara-samar, menggirangkan.
5. Pemandiannya penuh lukisan dongengan berpagar batu gosok tinggi, Berhamburan bunga nagakusuma di halaman yang dilingkungi selokan, Andung, karawira, kayu mas, menur serta kayu puring dan lain-lainnya, Kelapa gading kuning rendah menguntai di sudut mengharu-rindu pandangan.
6. Tiada sampailah kata meraih keindahan asrama yang gaib dan ajaib, Beratapkan hijuk, dari dalam dan luar berkesan kerasnya tata tertib, Semua para pertapa, wanita dan pria, tua-muda, nampaknya bijak, Luput dari cela dan klesa, seolah-olah Siwapada di atas dunia.

Pupuh 33:

1. (106a) nrpati mahas / rin açrama wawaɳ sinegeh sgehan, tkapira saɳ maharsi mapalingih açabda rsep, asun upabhoga salwir i bhinuktinire patapan, nrpati mals / yathakrama rin arttha lwes kasukhan.
2. Panucapucapniran / gumunita rasaniɳ kawikun, pada mawarah. ri sesini manahnira tan rinnöt, wkasan acankrama lnen asiɳ kalanön pinaran, uhara ri tusta saɳ tapatapin / lumihat kawrian.
3. Ri huwusiraɳlnön majar i saɳ sutapan muliha, vri wijiliralaris / hlahla lumihat kawkas, tapitapi siɳ raranwam ahajöɳ padakaryy anaraɳ, smara manurun mamañcana sireki hidepnyan aku.

Artinya:
1. Habis berkeliling asrama, Baginda lalu dijamu, Para pendeta pertapa yang ucapannya sedap-resap, Segala santapan yang tersedia dalam pertapaan, Baginda membalas harta, membuat mereka gembira.
2. Dalam pertukaran kata tentang arti kependetaan, Mereka mencurahkan isi hati, tiada tertahan, Akhirnya cengkerma ke taman penuh dengan kesukaan, Kegirang-girangan para pendeta tercengang memandang.
3. Habis kesukaan memberi isyarat akan berangkat, Pandang sayang yang ditingggal mengikuti langkah yang pergi, Bahkan yang masih remaja puteri sengaja merenung, Batinnya: dewa asmara turun untuk datang menggoda.

Pupuh 34:

1. Yyantuk narendra kari suksan açramoruk, priɳny kuçabeh abalut / ri matalupa ken, rigöɳ tanis / serh ikayam alas nikajrit, luh tusiɳ tal analh syu n ikan pasambat.
2. Asrt lari nrpatin aglis apan tumampa, wehniɳ yaçarja kamargga tlas kalalwan, çighran dataɳ sira rin aryya saratry ananti, ñjiɳ manuttara bhawisya dataɳ ri gendiɳ.
3. Saɳ mantry amañcanagari karuhun / san aryya, sinhadikara nuniweh para çaiwa bodda, apwa hatur ttadah anindita sopacara, 106b) mas / wastra nama pamals / nrpatin / suke twas.
4. Arddalawas / nrpati tansah ananti masa, olahnireɳ sakuwukuww atikaɳ linolyan, yyankatniran hawan i lohgaway iɳ sumandiɳ, boraɳ banör barmi tut / hnu nuny anulwan.

Artinya:
1. Baginda berangkat, asrama tinggal berkabung, Bambu menutup mata sedih melepas selubung, Sirih menangis merintih, ayam roga menjerit, Tiung mengeluh sedih, menitikkan air matanya.
2. Kereta lari cepat, karena jalan menurun, Melintasi rumah dan sawah di tepi jalan, Segera sampai Arya, menginap satu malam, Paginya ke utara menuju desa Ganding.
3. Para menteri mancanegara dikepalai, Singadikara, serta pendeta Siwa-Buddha, Membawa santapan sedap dengan upacara, Gembira dibalas Baginda dengan emas dan kain.
4. Agak lama berhenti seraya istirahat, Mengunjungi para penduduk segenap desa, Kemudian menuju Sungai Gawe, Sumanding, Borang, Banger, Baremi lalu lurus ke barat.

Pupuh 35:

1. Tuhun i datön nire pasuruhan manimpan anidul / ri kapañanan, nuluy atut damargga madulur tikaɳ ratha dateɳ rin andoh wawaɳ, uwah i kdu plukh / lawan i hambal antya nikaɳ pradeçenituɳ, jhathiti ri sinhasaripura rajadarmma dinunuɳ narendramgil.
2. Kunen ika saɳ prapañca kari kulwan iɳ pasuruhan pijer lalana, kuti manaran / rindarbaru ri bhuh pradeçanikanaɳ pradeça hujuɳ, yata pinaran / tinakwanaken ança punpunanika ri saɳ sthapaka, likita tinonaken / rasika supraçasti winacamanun / waspada. 
3. Ikan i hepit / yathaswa salbak / wukirnya wisayança saɳ hyaɳ kuti, atnah i markkaman / sawah i balunhura sawah muwah riɳ hujuɳ, asanikanaɳ praçasti magawe hyunin kawi madoha sankeɳ pura, ri taya nikaɳ purakrttha t-her ddaridra musiraɳ kutindarbaru.
4. Karananin açru mankat i huwusnira mpu masgeh bhawisyaɳ (107a) laris, maluy i kaçewakan / datn i sinhasari matutur manankil / mark, nrpati huwus mamuspa ri dalm / sudarmma sakatustaniɳ twas ginöɳ, hana ni kduɳ bhiru ri kacuranganan / mwan i burɳ lanonyenituɳ.

Artinya:
1. Sampai Pasuruan menyimpang jalan ke selatan menuju Kepanjangan, Menganut jalan raya kereta lari beriring-iring ke Andoh Wawang, ke Kedung Peluk dan ke Hambal, desa penghabisan dalam ingatan, Segera Baginda menuju kota Singhasari bermalam di balai kota.
2. Prapanca tinggal di sebelah barat Pasuruan ingin terus melancong, Menuju asrama Indarbaru yang letaknya di daerah desa Hujung, Berkunjung di rumah pengawasnya, menanyakan perkara tanah asrama, Lempengan piagam pengukuh diperlihatkan, jelas setelah dibaca.
3. Isi piagam: tanah datar serta lembah dan gunungnya milik wihara, Begitu pula sebagian Markaman, ladang Balunghura, sawah Hujung, Isi piagam membujuk sang pujangga untuk tinggal jauh dari pura, Bila telah habis kerja di pura, ingin ia menyingkir ke Indarbaru.
4. Sebabnya terburu-buru berangkat setelah dijamu bapa asrama, Karena ingat akan giliran menghadap di balai Singhasari, Habis menyekar di candi makam, Baginda mengumbar nafsu kesukaan, Menghirup sari pemandangan di Kedung Biru, Kasurangganan dan Bureng.

Pupuh 36:

1. Ri huwusiran panarccana mijil / ri heɳ pinupul iɳ balakrama mark, ara wiku çai sogata sari aryya naligih iniri. 
3. Krama çubhakala sahnira ri sinhasari manidul mare kagnenan, humaturaken kabhaktin i bhatara darmma sawatek / wateknira tumut, dana paribhoga bhojana dulurni puspanira sopacara mahalp, saha wasanawawan / watan apanruhun padaha garjjitaɳ nwan umulat.
3. Nirekhi tan adoh, awicaritan / sdeɳni panadah narendra tumkani sesta ri hati, bala haji siɳ sasambhawa wineh suwastra magawe rsepniɳ umulat.

Artinya:
1……. ?
2. Pada Subakala Baginda berangkat ke selatan menuju Kagenengan, Akan berbakti kepada makam batara bersama segala pengiringnya, Harta, perlengkapan, makanan, dan bunga mengikuti jalannya kendaraan, Didahului kibaran bendera, disambut sorak-sorai dari penonton.
3. Habis penyekaran, narapati keluar, dikerumuni segenap rakyat, Pendeta Siwa-Buddha dan para bangsawan berderet leret di sisi beliau, Tidak diceritakan betapa rahap Baginda bersantap sehingga puas, Segenap rakyat girang menerima anugerah bahan pakaian yang indah.

Pupuh 37:

1. Warnnan / pratinkah ikanaɳ sudarmma racananya tanpasirinan, waratiçobhiten saha mekale yawa ruhurnikaparimita, ri jro natar nika tinumpatumpa tinataɳ yaçar jja ri tpi, sök sarwwa puspa bakularjja nahi kusumadya warnna (107b) siluman.
2. Prasada mungwi tnah asmu kadbhuta halp nika hyan aruhur, lwir meru parwwata çiwapratista çiwawimbha mungu ri dalm, sotan / bhatara girinathaputra pinakesti dewa sakala, angehniran tuhatuha narendra khinabhaktyan i sabhuwana.
3. Wwanten / kteka kidul iɳ sudarmma ri dalm / pratista katilar, naɳ bhapra gopura padaruhur kkasugatan / bataɳ nika danu, ri jronya danka turunan baturnya kari purwwa kulwan anana, nhiɳ purnna sanghyarikha len pamujan atitah bataban aruhur.
4. Naɳ lor batur ni turunanya çesani lmahnya sampun arata, rah nagapuspa tanemanya len tan i natar mmasmy asalaga, heɳ niɳ gupunten ikanaɳ pabhaktan aruhur lmahnya katilar, alwa natarnya dukutenj hnunya sukten hibek lumulumut.
5. Lwir stry agrin anranehi ragi molm ikanaɳ cawinten awnes, morawra camara nika kusut / mapusek oli lot kapawanan, nyu danta lagi luluren / tapas nika pucanya tan kram asamun, moghalume sah i tapihnya taɳ çara gadiɳ tan aryyakusikan. 
6. Anrs twasiɳ mihat i reh nikan taya makosada- (108a) nya kawnana, nhin çri hayamwuruk inanti he twa ni tuwuhnya jiwana muwah, apan siramupus i kottaman / tama rin uttamanukani rat, masih rin atpada lanawlas i manemu duhkha dewa sakala.
7. Warnnan / muwah lari nareçwareñjin umareɳ sudarmma ri kidal, ampun manamya ri bhatara linsir anuluy / dataɳ ri jajaghu, sampun muwah mark i saɳhyan arcca jinawimbha sonten amgil, enjiɳ maluy / musir i sinhasari tan alh mararyyan i burɳ.

Artinya:
1. Tersebut keindahan candi makam, bentuknya tiada bertara, Pintu masuk terlalu lebar lagi tinggi, bersabuk dari luar, Di dalam terbentang halaman dengan rumah berderet di tepinya, Ditanami aneka ragam bunga, tanjung, nagasari ajaib.
2. Menara lampai menjulang tinggi di tengah-tengah, terlalu indah, Seperti gunung Meru, dengan arca batara Siwa di dalamnya, Karena Girinata putera disembah bagai dewa batara, Datu-leluhur Sri Naranata yang disembah di seluruh dunia.
3. Sebelah selatan candi makam ada candi sunyi terbengkalai, Tembok serta pintunya yang masih berdiri, berciri kasogatan, Lantai di dalam, hilang kakinya bagian barat, tingggal yang timur, Sanggar dan pemujaan yang utuh, bertembok tinggi dari batu merah.
4. Di sebelah utara, tanah bekas kaki rumah sudahlah rata, Terpencar tanamannya nagapuspa serta salaga di halaman, Di luar gapura pabaktan luhur, tapi telah longsor tanahnya, Halamannya luas tertutup rumput, jalannya penuh dengan lumut.
5. Laksana perempuan sakit merana lukisannya lesu-pucat, Berhamburan daun cemara yang ditempuh angin, kusut bergelung, Kelapa gading melulur tapasnya, pinang letih lusuh merayu, Buluh gading melepas kainnya, layu merana tak ada hentinya.
6. Sedih mata yang memandang, tak berdaya untuk menyembuhkan, Kecuali Hayam Wuruk sumber hidup segala makhluk, Beliau mashur bagai raja utama, bijak memperbaiki jagad, Pengasih bagi yang menderita sedih, sungguh titisan batara.
7. Tersebut lagi, paginya Baginda berkunjung ke candi Kidal, Sesudah menyembah batara, larut hari berangkat ke Jajago, Habis menghadap arca Jina, beliau berangkat ke penginapan, Paginya menuju Singhasari, belum lelah telah sampai Bureng.

Pupuh 38:

1. Ramya nika bur talaga mumbul ahnin abhiru,candi çila minekala ri madya nika rinacana,sök / yaça mungwi pingir ikha len / kuçuma caracara,lot paraniɳ macankrama lanaɳjneki rin umara.
2. Tan wuwusen lanö nika tuhun narapati caritan, tistisin arkka mankat ahawanj tgatgal aruhur,ramya dukut nikatetel atandes akiris hahijo, lwanya sasagaranak analun juran ikha dinelö.
3. Cri naranatha lalana yaya rathanira malaris, prapta ri sinhasari tumame wgilanira huwus,. ndan rakawi ywa mampir i siraɳ sugata muniwara, sthapaka ri sudarmma tuwi go- (108b) tra sawala dununen.
4. Wrdda halintan i çaçi sahaçra tuwuhira huwus, satya suçila satkula kadaɳ haji suyaça, purnna tameɳ kriya mara tan ankadara panagara, kyati ri mpunku huttama kasadpadanira satirun.
5. Cighra kahançama ywa si wulatnira wawan asgeh, du lakhi bhagya san kawi san amrih amark i haji, saɳ wnan açrayan masiha ri kadan amlas arp, masku kadiɳ panipyan aparanta pasgeha temun.
6. Ddon/ rakawin parahyun ataña krama ni tuhatuha, çri naranatha saɳ pada dinarmma satata pinark, mukya bhatara riɳ kagnenan/ karuhuna wuwusen, purwwakathanniran giripatiçwarasuta caritan.

Artinya:
1. Keindahan Bureng: telaga tergumpal airnya jernih, Kebiru-biruan, di tengah: candi karang bermekala, Tepinya rumah berderet, penuh pelbagai ragam bunga, Tujuan para pelancong penyerap sari kesenangan.
2. Terlewati keindahannya; berganti cerita narpati, Setelah reda terik matahari, melintas tegal tinggi, Rumputnya tebal rata, hijau mengkilat, indah terpandang, Luas terlihat laksana lautan kecil berombak jurang.
3. Seraya berkeliling kereta lari tergesa-gesa, Menuju Singhasari, segera masuk ke pesanggrahan, Sang pujangga singgah di rumah pendeta Buddha, sarjana, Pengawas candi dan silsilah raja, pantas dikunjungi.
4. Telah lanjut umurnya, jauh melintasi seribu bulan, Setia, sopan, darah luhur, keluarga raja dan mashur, Meski sempurna dalam karya, jauh dari tingkah takabur, Terpuji pekerjaannya, pantas ditiru keinsafannya.
5. Tamu mendadak diterima dengan girang dan ditegur: “Wahai orang bahagia, pujangga besar pengiring raja, Pelindung dan pengasih keluarga yang mengharap kasih, Jamuan apa yang layak bagi paduka dan tersedia?”
6. Maksud kedatangannya: ingin tahu sejarah leluhur, Para raja yang dicandikan, masih selalu dihadap, Ceriterakanlah mulai dengan Batara Kagenengan, Ceriterakan sejarahnya jadi putera Girinata.

Pupuh 39:

1. Tuhun/ padukha mpunkwi munguh sirojar, udu diwya takwan/ rakawyanne twas, mahotsaha singih khawi wrdda buddi, purih nin kaçastrajan ande stutin rat.
2. Nda saɳ tabya teki nhulun/ majarosen, maçucyawway iɳ saptatirtthe çwacitta, namas te girindraya sambah ri saɳhyaɳ, ndatan dadya kotpata teki mpaçabda.
3. Ksama tah manah san kawindran/ rumenwa, ikaɳ wwan rnö sughyan akweha mitya, ndan angegwa- (109a) ne jana saɳ wrdda teka, pilih nyunaɳ sughyadika tañ calana.

Artinya:
1. Paduka Empuku menjawab: “Rakawi, Maksud paduka sungguh merayu hati, Sungguh paduka pujangga lepas budi, Tak putus menambah ilmu, mahkota hidup.
2. Izinkan saya akan segera mulai: Cita disucikan dengan air sendang tujuh, Terpuji Siwa! Terpuji Girinata! Semoga terhindar aral, waktu bertutur.
3. Semoga rakawi bersifat pengampun, Di antara kata mungkin terselib salah, Harap percaya kepada orang tua, Kurang atau lebih janganlah dicela.

Pupuh 40:

1. Nuni çakabdi deçendu hana sira mahanatha yuddekawira, saksat/ dewatmakayonijatanaya tkap/ çri girindraprakaça, kapwars/ bhakti sakweh parajana sumiwi jöɳ nirattwaɳ tumunkul, çri rangah rajasa kyati naranira jayeɳ çatru çuratidaksa.
2. Deçagöɳ wetaniɳ parbwata khawi pnuh iɳ sarwwabhogatiramya, kuww angehnyan kamantyran/ manaran i kutha rajenadeh wwaɳ nika bap, yeki ngwan/ çri girindratmajan umulahaken darmma mangön kaçuran, tustaniɳ sadu nastanin ahita ya sthityanin rat/ subhakti.
3. Ri çakabdi krta çankara sira tumke çri narendraɳ kadinten, saɳ wiranindita çri krtajaya nipuneɳ çastra tatwopadeça, çighralah göɳ bhayamrih malajen anusup ajaran/ parçwaçunya, sakwehniɳ bhrtya mukyaɳ para pajurit asiɳ kari riɳ rajya çirnna.
4. Ryyalah saɳ çri narendreɳ kadiri girigirin taɳ sabhumi jawars, praptanembah pada wwat/ sahanahana wijil niɳ swadeçan pasewa, tungal taɳ jangala mwaɳ khadiri samasamanekana (109b) thatiçanta, nkan tembenin dapur mwaɳ kuwu juru tumameɳ samya mande sukhen rat. 
5. Mankin/ wrddyameweh taɳ prabhawa wibhawa riɳ çri girindratmasunu, enak/ tandel nikaɳ yawadarani sumiwi jöɳ niran catranin rat, ri çakasyabdi rudra krama kalahaniran mantuk iɳ swarggaloka, kyanin rat/ saɳ dinarmma dwaya ri kagnanan/ ç çewabodden usana.

Artinya:
1. Pada tahun Saka lautan dasa bulan (1104) ada raja perwira yuda, Putera Girinata, konon kabarnya, lahir di dunia tanpa ibu, Semua orang tunduk, sujud menyembah kaki bagai tanda bakti, Ranggah Rajasa nama beliau, penggempur musuh pahlawan bijak.
2. Daerah luas sebelah timur gunung Kawi terkenal subur makmur, Di situlah tempat putera sang Girinata menunaikan dharmanya, Menggirangkan budiman, menyirnakan penjahat, meneguhkan negara, Ibu negara bernama Kutaraja, penduduknya sangat terganggu.
3. Tahun Saka lautan dadu Siwa (1144) beliau melawan raja Kediri, Sang adiperwira Kretajaya, putus sastra serta tatwopadesa, Kalah, ketakutan, melarikan diri ke dalam biara terpencil, Semua pengawal dan perwira tentara yang tinggal, mati terbunuh.
4. Setelah kalah narapati Kediri, Jawa di dalam ketakutan, Semua raja datang menyembah membawa tanda bakti hasil tanah, Bersatu Janggala Kediri di bawah kuasa satu raja sakti, Cikal bakal para raja agung yang akan memerintah pulau Jawa.
5. Makin bertambah besar kuasa dan megah putera sang Girinata, Terjamin keselamatan pulau Jawa selama menyembah kakinya, Tahun Saka muka lautan Rudra (1149) beliau kembali ke Siwapada, Dicandikan di Kagenengan bagai Siwa, di Usana bagai Buddha.

Pupuh 41:

1. Bhatara san anusanatha wka de bhatara sumilih wiçesa siniwi, lawasniran amukti rin rat apageh tikaɳ sayawabhumi bhakti matutur, çakabdi tilakadri çambhu kalahan/ bhatara mulih iɳ girindrabhawana, sireki winanun/ pradipa çimbha rikaɳ sudarmma ri kidal.
2. Bhatara wisnuwarddana kteka putranira saɳ gumanti siniwi, bhatara narasinha rowanira tulya madawa sahagrajamageh i rat, siranilanaken/ duratmaka manama lingapati mahi çirnna sahana, ars sahananiɳ paraɳmukha ri jöɳ nireki tuhu dewamurtti sakala.
3. I çaka rasa parwwatenduma bhatara wisnwanabhiseka saɳ suta siwin, samasta para samya riɳ kadiri jangalomarkh amuspa riɳ urasabha, na- (110a) renda krtanagarekan abhisekanama ri siran huwus/ rakaçita, pradeça kutaraja mankin atiçobhitanaran i sinhasari nagara.
4. Cakabda kanawawaniksithi bhatara wisnu mulih iɳ çuralaya pjah, dinarmma ta sire waleri çiwawimbha len/ sugatawimbha mungwiɳ jajaghu, samantara muwah bhatara narasinhamurtti sira mantuk iɳ surapada, hanar sira dinarmma de haji ri wenker uttama çiwarcca mungwi kumitir.
5. Khathakna muwah narendra krtanagaranilanaken/ katunka kujan, manama cayaraja çirnna rikanaɳ çakabda bhujagoçaçaksaya pjah, nagasyabhawa çaka saɳ prabhu kumon dumona rikanaɳ tanah ri malayu, lwes mara bhayanya sanka ri khadewamurttinira nuni kalahan ika.

Artinya:
1. Batara Anusapati, putera Baginda, berganti dalam kekuasaan, Selama pemerintahannya, tanah Jawa kokoh sentosa, bersembah bakti, Tahun Saka perhiasan gunung Sambu (1170) beliau pulang ke Siwaloka, Cahaya beliau diwujudkan arca Siwa gemilang di candi makam Kidal.
2. Batara Wisnuwardana, putera Baginda, berganti dalam kekuasaan, Beserta Narasingha bagai Madawa dengan Indra memerintah negara, Beliau memusnahkan perusuh Linggapati serta segenap pengikutnya, Takut semua musuh kepada beliau, sungguh titisan Siwa di bumi.
3. Tahun Saka rasa gunung bulan (1176) Batara Wisnu menobatkan puteranya, Segenap rakyat Kadiri Janggala berduyun-duyun ke pura mangastubagia, Raja Kertanagara nama gelarannya, tetap demikian seterusnya, Daerah Kutaraja bertambah makmur, berganti nama praja Singhasari.
4. Tahun Saka awan sembilan mengebumikan tanah (1192) raja Wisnu berpulang, Dicandikan di Waleri berlambang arca Siwa, di Jajago arca Buddha, Sementara itu Batara Narasingamurti pun pulang ke Surapada, Dicandikan di Wengker, di Kumeper diarcakan bagai Siwa Mahadewa.
5. Tersebut Sri Baginda Kertanagara membinasakan perusuh, penjahat, Bersama Cayaraja, musnah pada tahun Saka naga mengalahkan bulan (1192), Tahun Saka muda bermuka rupa (1197) Baginda menyuruh tundukkan Melayu, Berharap Melayu takut kedewaan beliau, tunduk begitu saja.

Pupuh 42:

1. Cakabda yama çunya suryya diwaça nrpati muwah amati durjjana, ikaɳ mahisa rankah atyaya katunkanika pinalh iɳ sanagara, rin angawiyanarkka çaka sira motusan kana ri bali curnnitan, ndatan dwa kawnaɳ ratunya kahanaɳ tka i narendra sakrama.
2. Samankana nikaɳ digantara padanabhaya mark i jöɳ nareçwara, ikaɳ sa- (110b) kahawat/ pahaɳ sakahawat malayu pada manunkul adara, muwah sakahawat gurun sakahawat/ bakulapura manaçrayomark, ndatan linen i sunda len/ madura pan satanah i yawa bhakti tan salah.
3. Tuhun/ nrpati tan/ pramada luput iɳ mada makin atiyatna riɳ naya, apan tetes iɳ kewehiɳ bhuwanaraksana gawayen i kalaniɳ kali, nimittaniran aɳ rgep/ samaya len/ brata mapageh apaksa sogata, tumirwa san atitaraja rin usana magehakna wrddiniɳ jagat.

Artinya:
1. Tahun Saka janma sunyi surya (1202) Baginda raja memberantas penjahat, Mahisa Rangga, karena jahat tingkahnya dibenci seluruh negara, Tahun Saka badan langit surya (1206) mengirim utusan menghancurkan Bali, Setelah kalah rajanya menghadap Baginda sebagai orang tawanan.
2. Begitulah dari empat jurusan orang lari berlindung di bawah Baginda, Seluruh Pahang, segenap Melayu tunduk menekur di hadapan beliau, Seluruh Gurun, segenap Bakulapura lari mencari perlindungan, Sunda Madura tak perlu dikatakan, sebab sudah terang setanah Jawa.
3. Jauh dari tingkah alpa dan congkak, Baginda waspada tawakal dan bijak, Paham akan segala seluk beluk pemerintahan sejak zaman Kali, Karenanya tawakal dalam agama dan tapa untuk teguhnya ajaran Buddha, Menganut jejak para leluhur demi keselamatan seluruh praja.

Pupuh 43:

1. Liɳ niɳ çastra narendra pandawa rika dwapara nuni prabhu, gogendu tri lawan/ çakabdi diwaçanyantuknireɳ swahpada, ndah santuknira tembayiɳ kali tkaɳ rat/ murkka harohara, nhiɳ saɳ hyaɳ padabhijna daraka rumaksaɳ loka dewaprabhu.
2. Nahan hetu narendra bhakti ri pada çri çakyasinhasthiti, yatnagegwan i pancaçila krtasaskarabhisekakrama, lumra nama jinabhisekanira saɳ çri jñanabajreçwara, tarkka wyakaranadiçastran inaji çri natha wijñanulus.
3. Ndan/ ri wrddanireki matra rumgep/ sarwwakriyadyatmika, mukyaɳ tantra su- (111a) bhuti rakwa tinnöt kempen/ rasanye hati, puja yoga samadi pinrihiran amrih sthityanin rat kabeh, astam/ taɳ ganacakra nitya madulu ddann eniwöhiɳ praja.
4. Tan/ wwanten karnö khadi nrpati sakweh sa(1) natita prabhu, purnnen sadguna çastrawit/ nipuna riɳ tatwopadeçagama, darmmestapageh iɳ jinabrata mahotsaheɳ prayogakriya, nahan hetuni tusni tusnira padaikaccatra dewaprabhu.
5. Riɳ çakabdi jakaryyama nrpati mantuk/ riɳ jinaindralaya, sankai wruhnira riɳ kriyantara lawan/ sarwwopadeçadika, saɳ mokteɳ çiwabuddaloka talahan/ çri natha liɳ siɳ sarat, rinke sthananiran dinarmma çiwabuddarcca halp/ nottama.
6. Lawan/ riɳ sakgala pratista jinawimbhatyanta riɳ çobhita, tkwan narddanareçwari mwan ika saɳ çri bajradewy apupul, saɳ rowaɳ nira wrddi riɳ bhuwana tungal/ riɳ kriya mwaɳ brata, hyaɳ werocana locana lwiriran ekarcca prakaçeɳ praja.

Artinya:
1. Menurut kabaran sastra raja Pandawa memerintah sejak zaman Dwapara, Tahun Saka lembu gunung indu tiga (3179) beliau pulang ke Buddhaloka, Sepeninggalnya datang zaman Kali, dunia murka, timbul huru hara, Hanya batara raja yang paham dalam nan guna, dapat menjaga Jagad.
2. Itulah sebabnya Baginda teguh bakti menyembah kaki Sakyamuni, Teguh tawakal memegang Pancasila, laku utama, upacara suci, Gelaran Jina beliau yang sangat mashur ialah Sri Jnyanabadreswara, Putus dalam filsafat, ilmu bahasa dan lain pengetahuan agama.
3. Berlumba-lumba beliau menghirup sari segala ilmu kebatinan, Pertama-tama Tantra Subuti diselami, intinya masuk ke hati, Melakukan puja, yoga, samadhi demi keselamatan seluruh praja, Menghindarkan tenung, mengindahkan anugerah kepada rakyat murba.
4. Di antara para raja yang lampau tidak ada yang setara beliau, Paham akan nan guna, sastra, tatwopadesa, pengetahuan agama, adil, teguh dalam Jinabrata dan tawakal kepada laku utama, Itulah sebabnya beliau turun-temurun menjadi raja pelindung.
5. Tahun Saka laut janma bangsawan yama (1214) Baginda pulang ke Jinalaya, Berkat pengetahuan beliau tentang upacara, ajaran agama, beliau diberi gelaran: Yang Mulia bersemayam di alam Siwa-Buddha, Di makam beliau bertegak arca Siwa-Buddha terlampau indah permai.
6. Di Sagala ditegakkan pula arca Jina sangat bagus dan berkesan, Serta arca Ardanareswari bertunggal dengan arca Sri Bajradewi, Teman kerja dan tapa demi keselamatan dan kesuburan negara, Hyang Wairocana-Locana bagai lambangnya pada arca tunggal, terkenal.

Pupuh 44:

1. Tatkala çri narendra krtanagara mulih riɳ budda bhawana, trasaɳ rat/ duhkha harohara khadi maluya rehnyan kaliyuga, wwanten/ sama- (111b)ntaraja prakaçita jayakatwan nama kuhaka, nkaneɳ bhumi khadiryyapti sumiliha wiçesamrih khirakhira.
2. Nuni lunhanira çri krtajaya rikanaɳ çakabdi manusa, ajña çri parwwatadindrasuta jayasabhan angantyana siwin, riɳ çakastekana çastrajaya muwah umungwiɳ bhumi kadiri, riɳ çaka trinisan/ çankara haji jayakatwaɳ natha wksan.
3. Sakweh niɳ natha bhakti wkani wka bhataradrindratanaya, astam/ ri çri narendra krtanagara tkeɳ nusantara manut, manke pwe line saɳ bhupati haji jayakatwan murkka wipatha, keweh nin rat/ rinaksen kali niyata hayunya tan dadi lana.
4. Pandani wruhnireɳ çastra panawaçani kotsahan haji danu, mogha wwanten/ wka çri nrpati malahakhen/ çatrwamahayu rat, ndan mantwangehnira dyah wijaya panlah in rat/ mastawa sira, ardda mwaɳ twaɳ tatar mmamrpi haji jayakatwaɳ bhrasta sahana.

Artinya:
1. Tatkala Sri Baginda Kertanagara pulang ke Buddhabuwana, Merata takut, duka, huru hara, laksana zaman Kali kembali, Raja bawahan bernama Jayakatwang, berwatak terlalu jahat, Berkhianat, karena ingin berkuasa di wilayah Kediri.
2. Tahun Saka laut manusia (1144) itulah sirnanya raja Kertajaya, Atas perintah Siwaputera Jayasaba berganti jadi raja, Tahun Saka delapan satu satu (1180) Sastrajaya raja Kediri, Tahun tiga sembilan Siwa raja (1193) Jayakatwang raja terakhir.
3. Semua raja berbakti kepada cucu putera Girinata, Segenap pulau tunduk kepada kuasa raja Kertanagara, Tetapi raja Kediri Jayakatwang membuta dan mendurhaka, Ternyata damai tak baka akibat bahaya anak piara Kali.
4. Berkat keulungan sastra dan keuletannya jadi raja sebentar, Lalu ditundukkan putera Baginda; ketenteraman kembali, Sang menantu Dyah Wijaya, itu gelarnya yang terkenal di dunia, Bersekutu dengan bangsa Tatar, menyerang melebur Jayakatwang.

Pupuh 45:

1. Ri pjah nrpa jayakatwan awa tikaɳ jagat alilaɳ, masa rupa rawi çakabda rika nararyya sira ratu, siniwiɳ pura ri majhapahit/ tanuraga jayaripu, tinlah nrpa krtarajasa jayawarddana nrpati.
2. Satewek nrpa krtara-(112a)jasa jayawarddana siniwi, sayawaksithi maluy atutur atisadaran umark, pada harsajan umulat/ ri payugala nrpati catur, duhita nrpa krtanagara pada tulya surawadu.

Artinya:
1. Sepeninggal Jayakatwang jagad gilang-cemerlang kembali, Tahun Saka masa rupa surya (1216) beliau menjadi raja, Disembah di Majapahit, kesayangan rakyat, pelebur musuh, Bergelar Sri Narapati Kretarajasa Jayawardana.
2. Selama Kretarajasa Jayawardana duduk di takhta, Seluruh tanah Jawa bersatu padu, tunduk menengadah, Girang memandang pasangan Baginda empat jumlahnya, Puteri Kertanagara cantik-cantik bagai bidadari.

Pupuh 46:

1. Ndan saɳ çri parameçwari tribhuwana namagrajanindita, tansah dyah duhita prakaçita mahadewyanulus/ riɳ hajöɳ, prajña paramitakya saɳ makajayendra dewyanindyeɳ raras, dyah gayatry anuraga wunsu pinakadin/ rajapatniɳ puri.
2. Ndan rakwekin atmwamintiga siran/ wwaɳ sanak arddapar, apan rakwa bhatara wisnu mamisan/ parnnahniran tan madoh, lawan/ çri narasinhamurtti wka ri dyah lmbu tal/ suçrama, saɳ wireɳ laga saɳ dinarmma ri mirn boddapratistapagöh.

Artinya:
1. Sang Parameswari Tribuwana yang sulung, luput dari cela, Lalu Parameswari Mahadewi, rupawan tidak bertara, Prajnyaparamita Jayendradewi, cantik manis menawan hati, Gayatri, yang bungsu, paling terkasih, digelarai Rajapatni.
2. Perkawinan beliau dalam kekeluargaan tingkat tiga, Karena Batara Wisnu dengan Batara Narasingamurti, Akrab tingkat pertama; Narasinga menurunkan Dyah Lembu Tal, Sang perwira yuda, dicandikan di Mireng dengan arca Buddha.

Pupuh 47:

1. Dyah lmbu tal/ sira maputra ri saɳ narendra, na donniran rsep amiɳtiga len suputri, na lwir pawornni pakurn haji saikacitta, sajñanirajña kinabehan aweh suken rat.
2. Riɳ çaka sapta jana suryya narendra warnnan, mastwaken atmajaniran siniwiɳ kadinten, çrindreçwaribunira wira widagda wijna, rajabhiseka jayanagara tan hanoli. 
3. Riɳ ça-(112b)ka matryaruna linaniraɳ narendra, drak pinratista(1)jinawimbha sireɳ puri jro, antahpura ywa panlah rikanaɳ sudarmma, çaiwapratista sira teki muwah ri simpiɳ.

Artinya:
1. Dyah Lembu Tal itulah bapak Baginda Nata, Dalam hidup atut runtun sepakat sehati, Setitah raja diturut, menggirangkan pandang, Tingkah laku mereka semua meresapkan,
2. Tersebut tahun Saka tujuh orang dan surya (1217), Baginda menobatkan puteranya di Kediri, Perwira, bijak, pandai, putera Indreswari, Bergelar Sang raja putera Jayanagara.
3. Tahun Saka surya mengitari tiga bulan (1231), Sang prabu mangkat, ditanam di dalam pura, Antahpura, begitu nama makam beliau, Dan di makam Simping ditegakkan arca Siwa.

Pupuh 48:

1. Ndah kawkas darendra jayanagara prabhu ri tiktawilwanagari, mwaɳ nrpaputrikantenira maibu saɳ prawara rajapatny anupama, saɳ rwa padotameɳ hayu banun/ rwaniɳ ratin anoraken/ surawadu, natha ri jiwanagrajanira nrpe daha sira pamunsu siniwi.
2. Riɳ çakakalla mukti guna paksa rupa madumasa tapwa caritan, çri jayanagara prabhun umankat anhilanaken musuh ri lamajaɳ, bhrasta pu namti sak sakulagotra ri pajarakan/ kutanya kapugut, wrinwrin ars tikaɳ jagat i kaprawiranira saɳ narendra siniwi.
3. Riɳ çakakala windu çara suryya saɳ nrpati mantuk iɳ haripada, çighra siran dinarmma ri dalm purarccanira wisnuwimbha parama, len ri çila ptak/ mwan i bubat pada pratima wisnumurtty anupama, riɳ sukhalila taɳ sugatawimbha çobhitan amoghasiddi sakala.

Artinya:
1. Beliau meninggalkan Jayanagara sebagai raja Wilwatikta, Dan dua orang puteri keturunan Rajapatni, terlalu cantik, Bagai dewi Ratih kembar, mengalahkan rupa semua bidadari, Yang sulung jadi rani di Jiwana, yang bungsu jadi rani Daha.
2. Tersebut pada tahun Saka mukti guna memaksa rupa (1238) bulan Madu, Baginda Jayanagara berangkat ke Lumajang menyirnakan musuh, Kotanya Pajarakan dirusak, Nambi sekeluarga dibinasakan, Giris miris segenap jagad melihat keperwiraan Sri Baginda.
3. Tahun Saka bulatan memanah surya (1250) beliau berpulang, Segera dimakamkan di dalam pura berlambang arca Wisnuparama, Di Sila Petak dan Bubat ditegakkan arca Wisnu terlalu indah, Di Sukalila terpahat arca Buddha sebagai jelmaan Amogasidi.

Pupuh 49:

1. Tuhun/ riɳ çakabdendu bana dwi rupa, nrpe jiwana kyati mata narendra, gumanti rikaɳ tiktamalura rajni, pita çri narendra rikaɳ sinhasari.
2. Pa-(113a)ninkahnira çri maharajapatni, sira teki mangalya rin rat wiçesa, suta mantu len potrakan/ raja rajni, siraɳratwaken/ mwaɳ rumakseɳ sakaryya.
3. Rin agnipwari çaka taɳ çatru irnna, sadeɳ mwaɳ ktalah dinon iɳ swabhrtya, twekniɳ jagadraksana bwatnya sumrah, ri saɳ mantryanamaɳ madatyanta wijña.
4. Muwah riɳ çakabdesu masaksi nabhbhi, ikaɳ bali nathanya duç çila niccha, dinon iɳ bala bhrasta sakweh naça, ars salwir i dusta mandoh wiçathta.
5. Dan acaryya ratnança na liɳnirojar, tuhujar niɳ saɳ wrdda pojarniranras, katon kottaman/ çri narendrerikan rat, apan dewawançathawa dewamurtti.
6. Ikaɳ wwa rumenwi katha çri narendra, nda yan trpti cittanya membuh kabhaktin, awas papakarmmanya maryyanaweça, ikaɳ duhkha rogadi mawas winaça.
7. Muwah padukha mpunku mopaksamojar, ikiɳ panreno masku inanya manka, tumemwaɳ hita wrddyani panditatwa, phalaniɳ mucap/ kasthawan saɳ wiçesa.
8. Huwusniɳ sgeh sakraman arjjawanliɳ, rakawyamwitanolihekiɳ swakaryya, tkaɳ ratri sonten/ mgil/ ri pakuwwan, ksaneñjiɳ manankil ri jöɳ narendra.

Artinya:
1. Tahun Saka Uma memanah dwi rupa (1256), Rani Jiwana Wijayatunggadewi, Bergilir mendaki takhta Wilwatikta, Didampingi raja putera Singhasari.
2. Atas perintah ibunda Rajapatni, Sumber bahagia dan pangkal kuasa, Beliau jadi pengemban dan pengawas, Raja muda, Sri Baginda Wilwatikta.
3. Tahun Saka api memanah hari (1253), Sirna musuh di Sadeng, Keta diserang, Selama bertakhta, semua terserah, Kepada menteri bijak, Mada namanya.
4. Tahun Saka panah musim mata pusat (1265), Raja Bali yang alpa dan rendah budi, Diperangi, gugur bersama balanya, Menjauh segala yang jahat, tenteram.
5. Begitu ujar Dang Acarya Ratnamsah, Sungguh dan mengharukan ujar Sang Kaki, Jelas keunggulan Baginda di dunia, Dewa asalnya, titisan Girinata.
6. Barangsiapa mendengar kisah raja, Tak puas hatinya, bertambah baktinya, Pasti takut melakukan tidak jahat, Menjauhkan diri dari tindak durhaka.
7. Paduka Empu minta maaf berkata: “Hingga sekian kataku, sang rakawi semoga bertambah pengetahuanmu, Bagai buahnya, gubahlah puja sastra”.
8. Habis jamuan rakawi dengan sopan, Minta diri kembali ke Singhasari, Hari surut sampai pesanggrahan lagi, Paginya berangkat menghadap Baginda.

Pupuh 50:

1. (113b) warnnan / çri nrpati mahas mareɳ paburwan, mankat sayuda saha bhrtya len / rathaçwa, nkanen nandakawana kananatidurgga, kaywanyadbhutatara kaça munja kirnna.
2. Medran taɳ bala balabar huwus manenko, lawan / syandana madan anrapet / rankot, kedran taɳ wana wanaranya kagyat awri, awrg / paksinika mapaksa mura khegu.
3. Huɳ niɳ bhrtya mawurahan matunwatunwan, ghurnnaɳwarnna paçurakiɳ tasik / gumenter, untabnyagni nika dudug rin antarala, saksat kandawawana de hyan agni nuni.
4. Tonton taɳ mrga malayu ndatan wri ratnya, kewran / wibhrama marbut harp marampak, apan mingata balabar kkarsnikengi, etunyakukud umusi tnah matimbun.
5. Kwehnya lwir ggawaya ri gobrajaprameya, lwir goh riɳ wrsabhapuranbek / prakirnna, wok sengah gawaya lulaya çalya cihna, godeya plawaga widala gandakadi.
6. Satwasiɳ sahana riken alas / pralabda, kapwatut manah ika tan hana wiroda, kadyahem / pinakajurunya taɳ mrgendra, nkane sandin ika çiwa mark tan engi.

Artinya:
1. Tersebut Baginda Raja berangkat berburu, Berlengkap dengan senjata, kuda dan kereta, Dengan bala ke hutan Nandawa, rimba belantara, Rungkut rimbun penuh gelagah rumput rampak.
2. Bala bulat beredar membuat lingkaran, Segera siap kereta berderet rapat, Hutan terkepung, terperanjat kera menjerit, Burung ribut beterbangan berebut dulu.
3. Bergabung sorak orang berseru dan membakar, Gemuruh bagaikan deru lautan mendebur, Api tinggi menyala menjilat udara, Seperti waktu hutan Kandawa terbakar.
4. Lihat rusa-rusa lari lupa darat, Bingung berebut dahulu dalam rombongan, Takut miris menyebar, ingin lekas lari, Malah menengah berkumpul tumpuk timbun.
5. Banyaknya bagai banteng di dalam Gobajra, Penuh sesak, bagai lembu di Wresabapura, Celeng, banteng, rusa, kerbau, kelinci, Biawak, kucing, kera, badak dan lainnya.
6. Tertangkap segala binatang dalam hutan, Tak ada yang menentang, semua bersatu, Srigala gagah, yang bersikap tegak-teguh, Berunding dengan singa sebagai ketua.

Pupuh 51:

1. Ksamakna patakwanin hulun i saɳ mrgendradipa, gati nrpatin anrarah gahana toh (114a) naya ndyaɳ gegen, anantya juga matya riɳ panadgan/ malaywa kuneɳ, mwan alagana denya tulya hayuyun / dinoh tan murud.
2. Awarnna kadi mankanojar ikanaɳ çrgalomark, ikaɳ harina krsnasara ruru cihna mojar wwawa, yan i bwat i patikta tan hana muwah nayagegon, khalena saka riɳ malaywamalarolihan unsirn.
3. Ikaɳ gawaya serabha wrsabha len taraksamuwus, ada wipatha koɳ knas tuhutuhun / mrgalpadama, ndatar lkasaniɳ susiran alayu manantya kunaɳ, si manlawana darmma gegwana malar tumemwanayu.
4. Mrgendra sumawur kalih pada wuwusta yuktiyagegon, nda yan wruha mabhedakhen sujana durjjanannuɳ dlen, yan iɳ kujana wahya solaha malaywa manswa kunaɳ, apan wipalan anga patyana tkapnya tanpadon.
5. Tuhun pwa yan i saɳ tripaksa rsi çaiwa bodda tuwi, malaywa jugan enakanirinane siran / pandita, kunan pwa kita yat kapangiha tkan narendraburu, anantya pati khewalawwata huripta haywagigu.
6. Apan / nrpati yogya panhanutane huripwiɳ dadi, bhatara giripatyamurtti ri sira (114b) n / wiçesa prabhu, awas hilana papaniɳ pjahha deniramatyana, lwih saka ri kottamanin alabuh ri saɳ hyaɳ ranu.
7. Syapeka musuhakwa ri bhuwana yan pade medani, tathapi ri sira tripaksa mariris / nwan andoh wawaɳ, pitowi haji yan ta katmwa niyataku kawwat / hurip, ndatan muwaha satwajati phalaniɳ pjah denira.

Artinya:
1. Izinkanlah saya bertanya kepada sang raja satwa, Sekarang raja merayah hutan, apa yang diperbuat? Menanti mati sambil berdiri ataukah kita lari, Atau tak gentar serentak melawan, jikalau diserang?
2. Seolah-olah demikian kata srigala dalam rapat, Kijang, kaswari, rusa dan kelinci serempak menjawab: “Hemat patik tidak ada jalan lain kecuali lari, Lari mencari keselamatan diri sedapat mungkin”.
3. Banteng, kerbau, lembu serta harimau serentak berkata: “Amboi! Celaka bang kijang, sungguh binatang hina lemah, Bukanlah sifat perwira lari, atau menanti mati, Melawan dengan harapan menang, itulah kewajiban.”
4. Jawab singa: Usulmu berdua memang pantas diturut, Tapi harap dibedakan, yang dihadapi baik atau buruk, Jika penjahat, terang kita lari atau kita lawan, Karena sia-sia belaka, jika mati terbunuh olehnya.
5. Jika kita menghadapi tripaksa, resi Siwa-Buddha, Seyogyanya kita ikuti saja jejak sang pendeta, Jika menghadapi raja berburu, tunggu mati saja, Tak usah engkau merasa enggan menyerahkan hidupmu.
6. Karena raja berkuasa mengakhiri hidup makhluk, Sebagai titisan Batara Siwa berupa narpati, Hilang segala dosanya makhluk yang dibunuh beliau, Lebih utama daripada terjun ke dalam telaga.
7. Siapa di antara sesama akan jadi musuhku? Kepada tripaksa aku takut, lebih utama menjauh, Niatku, jika berjumpa raja, akan menyerahkan hidup, Mati olehnya, tak akan lahir lagi bagai binatang.

Pupuh 52:

1. Kadi mojara kumwa kitan papupul, wkasan parn anhada yan / humark, bala peka sahastra kaduk maburu, pinagut nin açrnga maluy malayu.
2. Tucapa mamawaçwa parɳ maburu, tinujunya waraha sdeɳ mapupul, kasihan karawaɳnyan aneka pjah, rinbut saha putra tatan / pabisa.
3. Manalandani teki karuɳnya maso, saka pat lima bhinna magoɳ maruhur, ampah ta tutuknya mabaɳ ri mata, pada rodra sihuɳ nika tulya curik.
4. Ikanaɳ çwana mamuk kinaratnya pjah, hana rantas iganyaɳ gulunya pgat, rinbut muwah alwani malwan arok, papagutnya banun laga rodra jmur.

Artinya:
1. Bagaikan katanya: “Marilah berkumpul!”, Kemudian serentak maju berdesak, Prajurit darat yang terlanjur langkahnya, Tertahan tanduk satwa, lari kembali.
2. Tersebut adalah prajurit berkuda, Bertemu celeng sedang berdesuk kumpul, Kasihan! Beberapa mati terbunuh, Dengan anaknya dirayah tak berdaya.
3. Lihatlah celeng jalang maju menerjang, Berempat, berlima, gemuk, tinggi, marah, Buas membekos-bekos, matanya merah, Liar dahsyat, saingnya seruncing golok.
4. ……….?

Pupuh 53:

1. Tucapan aburwanut harina manjanan silih uhuh, sasikhi winanswan / ginayur aɳgayor geyuh alon, laku nika pan / ke- (115a) noru rudira drawadrs anbek, dudun asakit / kne pada pinada mawyat aniba.
2. Apulih ikaɳ balatri saha tumbak akral anusi, atunah ikaɳ knas timuta manjanan / lwan ika bap, apuliha hikaɳ wisana gawayadi satwa magalak, bubar alayu bala nrpati kagyat alwan iniwud.
3. Hana manusir juraɳ suket alindunan / tahen agoɳ, dudun umanek mareɳ pan arbut / ruhur kaburayut, kasihan ikaɳ musir kkayu rumankarankal umaluy, kaparpekan / wtisnya winisana kagyat akidat.
4. Sana para mantry aneka saha wahanaçran apulih, amatan anula maɳduk anuligy amandem anujah, karananikaɳ wisabi malayu grbegnya gumrh, tinut inusinuyalwan ika kirnna çirnna rinbut.
5. Wiku haji çaiwa bodda hana milw anumbak aburu, ginluran iɳ taraksa malajon tinut manudidiɳ, lali rin upakriya nga nika tan suçila ta kuneɳ, tumut aniwo kawahyan alupan huwus / krtawara.

Artinya:
1. Tersebut pemburu kijang rusa riuh seru menyeru, Ada satu yang tertusuk tanduk, lelah lambat jalannya, Karena luka kakinya, darah deras meluap-luap, Lainnya mati terinjak-injak, menggelimpang kesakitan.
2. Bala kembali berburu, berlengkap tombak serta lembing, Berserak kijang rusa di samping bangkai bertumpuk timbun, Banteng serta binatang galak lainnya bergerak menyerang, Terperanjat bala raja bercicir lari tunggang langgang.
3. Ada yang lari berlindung di jurang, semak, kayu rimbun, Ada yang memanjat pohon, ramai mereka berebut puncak, Kasihanlah yang memanjat pohon tergelincir ke bawah, Betisnya segera diseruduk dengan tanduk, pingsanlah!.
4. Segera kawan-kawan datang menolong dengan kereta, Menombak, melembing, menikam, melanting, menjejak-jejak, Karenanya badak mundur, meluncur berdebak gemuruh, Lari terburu, terkejar; yang terbunuh bertumpuk timbun.
5. Ada pendeta Siwa dan Buddha yang turut menombak, mengejar, Disengau harimau, lari diburu binatang mengancam, Lupa akan segala darma, lupa akan tata sila, Turut melakukan kejahatan, melupakan dharmanya.

Pupuh 54:

1. Warnnan / çri naranatha sampun umanek / riɳ syandananindita, çobhatyanta ruhurnya patya tikanaɳ sapyamatek nirbhaya, (115b) munsi madyanikaɳ wanantara manut / burwan sin ande takut, etunyalaradan / mgat bala parandoh taɳ çawanyalayu.
2. Karyyaɳ sukara krsnaçara ruru cihnadinya mangoɳ bhaya, tandaɳ çri nrpatin / mawahana turanga nut / riyatryalayu, mantri tanda bhujanga kapwa san umungwin açwa milw aburu, bhrastaɳ satwa dinuk / tinumbak iniras kinris pjah tanpagap.
3. Arddalwa marata lmah tuwin alas / rnkod ri sornyapadaɳ, etunyan harinatidurbbala tinut / saglisnya deniɳ kuda, tustambek / nrpatin pararyyan anadah mantri bhujangomark, majar solahiran / pakolih irikaɳ solihnirande guyu.

Artinya:
1. Tersebut Baginda telah mengendarai kereta kencana, Tinggi lagi indah ditarik lembu yang tidak takut bahaya, Menuju hutan belantara, mengejar buruan ketakutan, Yang menjauhkan diri lari bercerai-berai meninggalkan bangkai.
2. Celeng, kaswari, rusa dan kelinci tinggal dalam ketakutan, Baginda berkuda mengejar yang riuh lari bercerai-berai, menteri, tanda dan pujangga di punggung kuda turut memburu, Binatang jatuh terbunuh, tertombak, terpotong, tertusuk, tertikam.
3. Tanahnya luas lagi rata, hutannya rungkut, di bawah terang, Itulah sebabnya kijang dengan mudah dapat diburu kuda, Puaslah hati Baginda, sambil bersantap dihadap pendeta, Bercerita tentang caranya berburu, menimbulkan gelak tawa.

Pupuh 55:

1. Awicaritan gati nrpati yan/ maburu jnök i ramyaniɳ giriwana, hanan umulih mareɳ kuwukuwu maluy amawa ri saɳ para nrpawadu, kadi lariniɳ macaɳ krama hanan kadi tumkani rajyaniɳ ripukula, wruhira ri dosaniɳ mrga tatar/ wyasana siran ahinsadarmma gin- gö.
2. Caritan ulahniran madan umantuka manen i kalanwaniɳ swanagara, krama çubhakala mankat ahawan/ bañu hanet i banir/ muwah talijunan, amgil i wdwawdwan irikaɳdina (116a) mahawan i kuwaraha ri cloɳ, mwan i dadamar ggarantan i pagör talaga pahañanan/ tkekha dinunuɳ.
3. Rahina muwah ri tambak i rabut wyuha ri balanak linakwan alaris, anuju ri pandakan/ ri bhanaragin amgil i dateɳ nire padamayan, maluy anidul/ manulwan n umare jajawa ri suku saɳ hyan adri kumukus, mark i bhatara darmma saha puspa pada padaha garjjita wwan umulat.

Artinya:
1. Terlangkahi betapa narpati sambil berburu menyerap sari keindahan, Gunung dan hutan, kadang-kadang kepayahan kembali ke rumah perkemahan, Membawa wanita seperti cengkerma; di hutan bagai menggempur negara, Tahu kejahatan satwa, beliau tak berdosa terhadap dharma ahimsa.
2. Tersebut beliau bersiap akan pulang, rindu kepada keindahan pura, Tatkala subakala berangkat menuju Banyu Hanget, Banir dan Talijungan, Bermalam di Wedwawedan, siangnya menuju Kuwarahan, Celong dan Dadamar, Garuntang, Pagar Telaga, Pahanjangan, sampai di situ perjalanan beliau.
3. Siangnya perjalanan melalui Tambak, Rabut, Wayuha terus ke Balanak, Menuju Pandakan, Banaragi, sampai Pandamayan beliau lalu bermalam, Kembali ke selatan, ke barat, menuju Jejawar di kaki gunung berapi, Disambut penonton bersorak gembira, menyekar sebentar di candi Makam.

Pupuh 56:

1. Ndan tinkah nikanaɳ sudarmma rin usana rakwa karnö, kirtti çri krtanagara prabhu yuyut nareçwara sira, tekwan rakwa siranadistita çarira tan hana waneh, etunyaɳ dwaya çaiwa bodda saɳ amuja nuni satata.
2. Cihnaɳ candi ri sor kaçaiwan apucak kaboddan i ruhur, mwaɳ ri jro çiwawimbha çobhita halpniraparimita, aksobhyapratime ruhur mmakuta tan hanolyantika, sanke siddiniran/ winaça tuhu çunyatatwaparama.

Artinya:
1. Adanya candi makam tersebut sudah sejak zaman dahulu, Didirikan oleh Sri Kertanagara, moyang Baginda raja, Disitu hanya jenazah beliau saja yang dimakamkan, Karena beliau dulu memeluk dua agama Siwa-Buddha.
2. Bentuk candi berkaki Siwa, berpuncak Buddha, sangat tinggi, Di dalamnya terdapat arca Siwa, indah tak dapat dinilai, Dan arca Maha Aksobya bermahkota tinggi tidak bertara, Namun telah hilang; memang sudah layak, tempatnya: di Nirwana.

Pupuh 57:

1. Hana mata karnö tepek/ saɳ hyan aksobhyawimbhan/ hilaɳ, prakaçita pada padukha çri mahagurwi rajadika, sutapa çuci çuçila boddabrata çrawananindita, anupama bahuçisya sampun maciryyan mahapandita.
2. Sira (116b) ta mahas atirtha seccamgil/ riɳ sudarmma dalm, pranata mark i saɳ hyan arccatibhaktyandaranastuti, yatan amuhara çalyani twasniraɳ sthapakanançaya, ri wnananira bhaktya ri hyaɳ çiwarccatana naksama.
3. Muniwara mawarah sire tatwa saɳ hyaɳ sudarmmeɳ danu, mwan i hananira saɳ hyan aksobhyawimbhatisuksme ruhur, ryyulihiran umaluy/ muwah manhinep/ riɳ sudarmmomark, salahaça kawnan siran ton/ ri muksa hyaɳ narccalilaɳ.
4. Pilih anala çararkka rakwa çakabde hyan arccan hilaɳ, ri hilanira sinamber iɳ bajraghosa sucandi dalm, pawarawarahiraɳ mahaçrawakawas/ ndatan ançaya, pisaninu waluya darmma tkwan kadohan huwus.
5. Aparimita halpni tinkah nika swarggatulyanurum, gupura ri yawa mekala mwaɳ balenyaçaka pwadika, ri dalm inupacara sek nagapuspandeɳ, prasama wijah arumpukan/ çarasnaɳ stri dalm nagari.
6. Pira kharika lawas narendran/ sukhacankramapet lanö, ri wulu dada tataka mendah pakisnyaɳjrah i jro banu, pinaraniran amurwwa sanke sudarmmanken arkkapanasan, mwan umara ri pakalwanan/ tut juraɳ (117a) seccaniɳ twas ginöɳ.

Artinya:
1. Konon kabarnya tepat ketika arca Hyang Aksobya hilang, Ada pada Baginda guru besar, mashur, Pada Paduka, putus tapa, sopan suci penganut pendeta Sakyamuni, Telah terbukti bagai mahapendeta, terpundi sasantri.
2. Senang berziarah ke tempat suci, bermalam dalam candi, Hormat mendekati Hyang arca suci, khidmat berbakti sembah, Menimbulkan iri di dalam hati pengawas candi suci, Ditanya, mengapa berbakti kepada arca dewa Siwa.
3. Pada Paduka menjelaskan sejarah candi makam suci, Tentang adanya arca Aksobya indah, dahulu di atas, Sepulangnya kembali lagi ke candi menyampaikan bakti, Kecewa! Tercengang memandang arca Maha Aksobya hilang.
4. Tahun Saka api memanah hari (1253) itu hilangnya arca, Waktu hilangnya halilintar menyambar candi ke dalam, Benarlah kabaran pendeta besar bebas dari prasangka, Bagaimana membangun kembali candi tua terbengkalai?.
5. Tiada ternilai indahnya, sungguh seperti surga turun, Gapura luar, mekala serta bangunannya serba permai, Hiasan di dalamnya naga puspa yang sedang berbunga, Di sisinya lukisan puteri istana berseri-seri.
6. Sementara Baginda girang cengkerma menyerap pemandangan, Pakis berserak sebar di tengah tebat bagai bulu dada, Ke timur arahnya di bawah terik matahari Baginda, Meninggalkan candi Pekalongan girang ikut jurang curam.

Pupuh 58:

1. Warnnan i sahnira riɳ jajawa riɳ padameyan ikaɳ dinunuɳ, mande cungran apet kalanön/ numahas iɳ wanadeçalnöɳ, darmma karsyan i parçwanin acala pawitra tikaɳ pinaran, ramya nikan panunaɳ luralurah inikhötnira bhasa khiduɳ. 
2. Sampuniraɳlnen eñjin atihan ikanaɳ ratha sampun adan, mankat anulwan i jöɳnin acala mahawan sakhamargga danu, prapty amgil/ ri japan nrpati pinapag iɳ balasanghya dataɳ, sin kari ri pura monen i parkhan ikan pada harsa mark.
3. Kala dawuh tiga taɳ diwaça ri panadah nrpatin mapupul, mukya nareçwara rama haji khalih umungwatitah pinark, saɳ nrpati matahun ri paguhan i hiriɳ nrpatin tan adoh, kapwa sadampati soway i panadahirekana tan/ wuwusen.

Artinya:
1. Tersebut dari Jajawa Baginda berangkat ke desa Padameyan, Berhenti di Cunggrang, mencari pemandangan, masuk hutan rindang, Ke arah asrama para pertapa di lereng kaki gunung menghadap jurang, Luang jurang ternganga-nganga ingin menelan orang yang memandang.
2. Habis menyerap pemandangan, masih pagi kereta telah siap, Ke barat arahnya menuju gunung melalui jalannya dahulu, Tiba di penginapan Japan, barisan tentara datang menjemput, Yang tinggal di pura iri kepada yang gembira pergi menghadap.
3. Pukul tiga itulah waktu Baginda bersantap bersama-sama, Paling muka duduk Baginda, lalu dua paman berturut tingkat, Raja Matahun dan Paguhan bersama permaisuri agak jauhan, Di sisi Sri Baginda; terlangkahi berapa lamanya bersantap.

Pupuh 59:

1. Narapati mankat eñjin awan sakathan lumaris, rakhawi lumaryyanimpan i rabut tugu lan/ paniriɳ, sumeper iɳ pahyanan/ katemu taɳ kulawandwapupul, pada masgeh mupaksamaknalpanikan dununön.
2. Nrpati halintan i banasara mwan i sankan adoh, datn i pamingir iɳ pura pilih ghatita rwa huwus, sakahnu sök lebuh nika gajaçwa padatyasusun, ki- (117b) mutaɳ maraɳ kbo gaway apandarat ardda pnuh.
3. Khadi tinitah lari sakrama yan padulur, nrpati pajaɳ saha priya sabhrtya siran rumuhun, nrpati ri lasem ri wuntatira manka ta muwah tan adoh, rathanira khapwa çobhita maweh sukhaniɳ lumihat.
4. Narapati ri daha nrpati ri wenker umungwi wugat, nrpati ri jiwane wuri sabharttr sabhrtya tumut, makapamkas/ ratha nrpati kirnna sapanta pnuh, piran iwu khapwa sayuda tikaɳ bhata mantry aniriɳ.
5. Tucapa tikaɳ wwan iɳ lbuh atambak i tembin atip, atetel ayöm ananti ri halintana saɳ nrpati, daradara taɳ wadu mtu maren lawan atry arbut, hana kahuwan salampur i ghanasnikha yar palayu.
6. Ikanan ado grhanya marbut/ khayukaywaruhur, makaburayut ri paɳ nika raratuha manwam atöb, hana tirisan liraɳ ywa pinaneknika tan panaha, sahaja lalin katon/ pijer anona jugaɳ kinire.
7. Ri datniraɳ narendra kalaçanka humuɳ mabaruɳ, sahana nikaɳ wwan iɳ lbuh umendek ars mararm, ri kahaliwatniratrik/ tikanaɳ maniriɳ rin unta- (118a) t, gaja kuda garddabhostra gulunan/ gumuluɳ tan arn.

Artinya:
1. Paginya pasukan kereta Baginda berangkat lagi, Sang pujangga menyidat jalan ke Rabut, Tugu, Pengiring, Singgah di Pahyangan, menemui kelompok sanak kadang, Dijamu sekadarnya karena kunjungannya mendadak.
2. Banasara dan Sangkan Adoh telah lama dilalui, Pukul dua Baginda telah sampai di perbatasan kota, Sepanjang jalan berdesuk-desuk, gajah, kuda, pedati, kerbau, banteng dan prajurit darat sibuk berebut jalan.
3. Teratur rapi mereka berarak di dalam deretan, Narpati Pajang, permaisuri dan pengiring paling muka, Di belakangnya, tidak jauh, berikut Narpati Lasem, Terlampau indah keretanya, menyilaukan yang memandang.
4. Rani Daha, rani Wengker semuanya urut belakang, Disusul rani Jiwana bersama laki dan pengiring, Bagai penutup kereta Baginda serombongan besar, Diiringi beberapa ribu perwira dan para menteri.
5. Tersebut orang yang rapat rampak menambak tepi jalan, Berjejal ribut menanti kereta Baginda berlintas, Tergopoh-gopoh perempuan ke pintu berebut tempat, Malahan ada yang lari telanjang lepas sabuk kainnya.
6. Yang jauh tempatnya, memanjat ke kayu berebut tinggi, Duduk berdesak-desak di dahan, tak pandang tua muda, Bahkan ada juga yang memanjat batang kelapa kuning, Lupa malu dilihat orang, karena tepekur memandang.
7. Gemuruh dengung gong menampung Sri Baginda raja datang, Terdiam duduk merunduk segenap orang di jalanan, Setelah raja lalu, berarak pengiring di belakang, Gajah, kuda, keledai, kerbau berduyun beruntun-runtun.

Pupuh 60:

1. Ikan adarat/ bala peka marampak, pipikupikul nika kirnna ri wuntat, mirica kasumba kapas kalapa wwah, kalar asem pinikul saha wijyan. 
2. I wuri tikaɳ mamikul abwat, khapasah arepwan arimbit anuntun, kirikirik iɳ tnen i kiwa beñcit, pitik itik iɳ kisa mewed arankik.
3. Sasiki pikulpikulanya maghantah, khacu kacubuɳ bun upih khamal anwam, tapi kukusan harudaɳ dulan uswan, lwir amurutuk/ çaranya ginuywan.
4. Nrpati parɳ datn i pura warnnan, tlas umulih ri dalmira sowaɳ, atutur i solah-hulahnira nunten, asin anukana para swa ginöɳ twas.

Artinya:
1. Yang berjalan rampak berarak-arak, Barisan pikulan berjalan belakang, Lada, kesumba, kapas, buah kelapa, Buah pinang, asam dan wijen terpikul.
2. Di belakangnya pemikul barang berat, Sengkeyegan lambat berbimbingan tangan, Kanan menuntun kirik dan kiri genjik, Dengan ayam itik di keranjang merunduk.
3. Jenis barang terkumpul dalam pikulan, Buah kecubung, rebung, seludang, cempaluk, nyiru, kerucut, tempayan, dulang, periuk, Gelaknya seperti hujan panah jatuh.
4. Tersebut Baginda telah masuk pura, Semua bubar masuk ke rumah masing-masing, Ramai bercerita tentang hal yang lalu, Membuat gembira semua sanak kadang.

Pupuh 61:

1. Lunhaɳ kala nrpati tan alawas riɳ rajya, praptaɳ çakha dwi gaja rawi bhadraɳ masa, nka ta cri natha mara ri tirib / mwaɳ sompur, burwan sasok / hyalas ika dinwan lwaɳnyakwe.
2. Ndan ri çakha tri tanu rawi riɳ weçaka, çri natha muja mara ri palah sabhrtya, jambat siɳ ramya pinaraniran / lanlitya, ri lwaɳ wentar mmanuri balitar mwaɳ jimbe.
3. Janjan sanke (118b) balitar anidul tut / margga, senkan / poryyaɳ gatarasa tahenyadoh wwe, ndah prapteɳ lodaya sira piraɳ ratryanher, çakte rumnin jalaqi jinajah tut pingir.
4. Sah sanke lodaya sira mananti ri simpiɳ, swecchanambyamahajona ri saɳ hyaɳ darmma, sakniɳ prasanda tuwi hana dohnya nulwan, na hetunyan / banunen anawetan matra.

Artinya:
1. Waktu lalu; Baginda tak lama di istana, Tahun Saka dua gajah bulan (1282) Badra pada, Beliau berangkat menuju Tirib dan Sempur, Nampak sangat banyak binatang di dalam hutan.
2. Tahun Saka tiga badan dan bulan (1283) Waisaka, Baginda raja berangkat menyekar ke Palah, Dan mengunjungi Jimbe untuk menghibur hati, Di Lawang Wentar, Blitar menenteramkan cita.
3. Dari Blitar ke selatan jalannya mendaki, Pohonnya jarang, layu lesu kekurangan air, Sampai Lodaya bermalam beberapa hari, Tertarik keindahan lautan, menyisir pantai.
4. Meninggalkan Lodaya menuju desa Simping, Ingin memperbaiki candi makam leluhur, Menaranya rusak, dilihat miring ke barat, Perlu ditegakkan kembali agak ke timur.

Pupuh 62:

1. Mwaɳ tekaɳ parimana tapwa pinatut wyaktinya lawan praçasti, hetunyan tinapan / samapa dinepan / purwwadi sampun tinugwan, ndan saɳ hyaɳ kuti riɳ guruɳgurun inambil / bhumya saɳ hyaɳ suqarmma, gontoɳ wisnu rare kabajradaraneka paɳhli çri narendra.
2. Yyantuk / çri narapaty amargga ri jukuɳ jo yanabajran / pamurwwa, prapta raryyan i bajralaksmin amgil / ri çurabhane sudarmma, enjiɳ yyankatiran / pararyyan i bkel / sonten dateɳ riɳ swarajya, sakweh saɳ maniriɳ muwah tlas umantuk / riɳ swaweçmanya sowaɳ.

Artinya:
1. Perbaikan disesuaikan dengan bunyi prasati, yang dibaca lagi, Diukur panjang lebarnya; di sebelah timur sudah ada tugu, Asrama Gurung-gurung diambil sebagai denah candi makam, Untuk gantinya diberikan Ginting, Wisnurare di Bajradara.
2. Waktu pulang mengambil jalan Jukung, Jnyanabadran terus ke timur, Berhenti di Bajralaksmi dan bermalam di candi Surabawana, Paginya berangkat lagi, berhenti di Bekel, sore sampai pura, Semua pengiring bersowang-sowang pulang ke rumah masing-masing.

Pupuh 63:

1. Enjiɳ çri natha warnnan/ mijil apupul aweh sewa riɳ bhrtya mantri, aryyadinyaɳ markh/ mwaɳ para patih atatha riɳ witanan palingih, nka saɳ ma-(119a) ntryapatih wira gajamada mark sapranamyadarojar, an wanten/ rajakaryyalihulihn ikanaɳ daryya haywa pramada.
2. Ajña çri natha saɳ çri tribhuwana wijayottungadewi…. çradda çri rajapatni wkasana gawayen/ çri narendreɳ kadatwan, siddaniɳ karyya riɳ çaka diwaça maçirah warnna riɳ bhadramasa, sakweh çri natha rakwawwata tadah irinen de para wrddamantri.
3. Nahan liɳ saɳ sumantri tka subhaya maweh tusta ri çri narendra, sonten praptomark taɳ para dapur aputih sujyanadinya wijña, mwaɳ mantry asiɳ wineh thanya suruhana makadyaryya ramadiraja, tan len göɳ niɳ byayanu sinadasada ginosti harp/ çri narendra.
4. Byatitan meh tkaɳ bhadrapada ri tilmniɳ çrawano teki warnnan, sakwehnyaɳ citrakara nikanikel amanun/ sthana sinheɳ wanuntur, dudwaɳ malad/ wawan bhojana bukubukuran/ mwaɳ tapel saprakara, milwaɳ pande dadap/ kañcana rajata padewer mmatambeh swakaryya.

Artinya:
1. Tersebut paginya Sri Naranata dihadap para menteri semua, Di muka para arya, lalu pepatih, duduk teratur di manguntur, Patih Amangkubumi Gajah Mada tampil ke muka sambil berkata: “Baginda akan melakukan kewajiban yang tak boleh diabaikan.
2. Atas perintah sang rani Sri Tribuwana Wijayatunggadewi, Supaya pesta serada Sri Rajapatni dilangsungkan Sri Baginda, Di istana pada tahun Saka bersirah empat (1284) bulan Badrapada, Semua pembesar dan Wreda menteri diharap memberi sumbangan”.
3. Begitu kata sang patih dengan ramah, membuat gembira Baginda, Sorenya datang para pendeta, para budiman, sarjana dan menteri, Yang dapat pinjaman tanah dengan Ranadiraja sebagai kepala, Bersama-sama membicarakan biaya di hadapan Sri Baginda.
4. Tersebut sebelum bulan Badrapada menjelang surutnya Srawana, Semua pelukis berlipat giat menghias “tempat singa” di setinggil, Ada yang mengetam baki makanan, bokor-bokoran, membuat arca, Pandai emas dan perak turut sibuk bekerja membuat persiapan,

Pupuh 64:

1. Ndah praptaɳ çubhakhala sampun atitah tekaɳ sabhanindita, nkane madya witana çobhita rinenga lwir prisadyaruhur, tungal taɳ mabatur çi- (119b) lasaka rinaktarjja wuwuɳ hinyasan, saçryapan/ pada mungwi sanmukha nikaɳ sinhasanatyadbhuta.
2. Kulwan mandapa sapralamba winanun/ sthana narendrapupul, lor tekaɳ taratag/ pinik mider amurwwatumpatumpa wugat, striniɳ mantri bhujanga wipran inaha talphanya sampun pepek, nkane daksina bhrtyasanghya taratagnya sankya kirnnasusun.
3. Ndan tinkah ni gawe narendra wkasiɳ sarwwajñapujadika, sakweh saɳ wiku bodda tantragata saksiɳ mandala lekana, mukya sthapaka saɳ purohita masadpade sudarmme nadi, labdawega çuçila satwika tetes/ riɳ çastratantratraya.
4. Sanke wrddaniran/ sahaçramasa riɳ swotpatti mangöɳ tutur, wwanten hinanireɳ swakaya khimutaɳ satçisya makweh mark, nka mpunkwiɳ paruha prasidda patanan lampahnireɳ mandala, mudra mantra japanut udara minustyande tepetniɳ hidep.
5. Tangal piɳ rwawlas maninjem irika swah sutrapateniwö, mwaɳ homarccana len pariçrama samapte praptaniɳ swah muwah, saɳ hyaɳ puspa yinoga ri wni linakwan/ supratistakriya, pöh niɳ dyana samadi siddi kinnaken de (120a) mahasthapaka.

Artinya:
1. Ketika saatnya tiba, tempat telah teratur sangat rapi, Balai Witana terhias indah, di hadapan rumah-rumahan, Satu di antaranya berkaki batu karang, bertiang merah, Indah dipandang, semua menghadap ke arah takhta Baginda.
2. Barat, mandapa dihias janur rumbai, tempat duduk para raja, Utara, serambi dihias berlapis ke timur, tempat duduk, Para isteri, pembesar, menteri, pujangga serta pendeta, Selatan, beberapa serambi berhias bergas untuk abdi.
3. Demikian persiapan Sri Baginda memuja Buddha Sakti, Semua pendeta Buddha berdiri dalam lingkaran bagai saksi, Melakukan upacara, dipimpin oleh pendeta Stapaka, Tenang, sopan, budiman paham tentang sastra tiga tantra.
4. Umurnya melintasi seribu bulan, masih belajar tutur, Tubuhnya sudah rapuh, selama upacara harus dibantu, Empu dari Paruh selaku pembantu berjalan di lingkaran, Mudra, mantra, dan japa dilakukan tepat menurut aturan.
5. Tanggal dua belas nyawa dipanggil dari surga dengan doa, Disuruh kembali atas doa dan upacara yang sempurna, Malamnya memuja arca bunga bagai penampung jiwa mulia, Dipimpin Dang Acarya, mengheningkan cipta, mengucap puja.

Pupuh 65:

1. Eñjiɳ purnnamakala kalani wijilnira pinark i madyaniɳ sabha, ghurnnaɳ kahala çanka len padaha ganjaran i harp açankya maɳdulur, riɳ sinhasana çobhitaruhur/ manusa kahananiran/ winursita, sakweh saɳ para sogatanwam atuha tlas apuphul/ hamuja sakrama.
2. Nka ta çri nrpatin/ parɳ mark amuspa saha tathanaya dara sada, milwaɳ mantry apatih gajamada makadinika pada masomahan mark, mwaɳ mantryakuwu riɳ pamingir atawa para ratu sahaneɳ digantara, sampunyan/ pada bhakty amursita palingihan ika tinitah yathakrama.
3. Cri natheɳ paguhan sirekhi rumuhun/ humaturaken anindya bhojana, saɳ çri handiwa handiwa lwir i tapel niran amawa dukula len/ serh, çri natheɳ matawun tapelnira sitawrsabha hanam aminda nandini, yekametwaken artha bhojana mijil/ saka ri tutuk apurwwa tan/ pgat…
4. Saɳ çri natha ri wenker apned awawan/ yaça pathani tadahniradika, sarwwendah racananya mulya madulur danawitarana wartta riɳ sabha, çri nathen tumapel tapelnira kan endah araras açarira kami-(120b)ni, kapwa teki matungalan/ dina siran pawijil i kawicitraniɳ manah.
5. Mukya çri narapatyapurwwa giri mandara wawanira bhojanadbhuta, kalanyan/ pinuter tapel/ wiwuda daityagana mider ars twasiɳ mihat, lmboratyaya göɳnya kahinawa polaman anbek aliwran aɳdulur, kadyagrah mawer tkapni bañuniɳ tasik amewehi ramyaniɳ sabha.
6. Ndan nanken dina salwiriɳ tapel asing lwih adika niwedya donika, striniɳ mantry upapatti wipra dinuman/ sakari nikha duweg matungalan, mwaɳ saɳ ksatriya wandawa nrpati mukya sira rinawehan sasambhawa, len sankeɳ wara bhojanederider edran i sabala narendra riɳ sabha.

Artinya:
1. Pagi purnamakala arca bunga dikeluarkan untuk upacara, Gemuruh disambut dengan dengung salung, tambur, terompet serta genderang, Didudukkan di atas singgasana, besarnya setinggi orang berdiri, Berderet beruntun-runtun semua pendeta tua muda memuja.
2. Berikut para raja, parameswari dan putera mendekati arca, Lalu para patih dipimpin Gajah Mada maju ke muka berdatang sembah, Para bupati pesisir dan pembesar daerah dari empat penjuru, Habis berbakti sembah, kembali mereka semua duduk rapi teratur.
3. Sri Nata Paguhan paling dahulu menghaturkan sajian makanan sedap, Bersusun timbun seperti pohon, dan sirih bertutup kain sutera, Persembahan raja Matahun arca banteng putih seperti lembu Nandini, Terus-menerus memuntahkan harta dan makanan dari nganga mulutnya.
4. Raja Wengker mempersembahkan sajian berupa rumah dengan taman bertingkat, Disertai penyebaran harta di lantai balai besar berhambur-hamburan, Elok persembahan raja Tumapel berupa perempuan cantik manis, Dipertunjukkan selama upacara untuk mengharu-rindukan hati.
5. Paling hebat persembahan Sri Baginda berupa gunung besar Mandara, Digerakkan oleh sejumlah dewa dan danawa dahsyat menggusarkan pandang, Ikan lambora besar berlembak-lembak mengebaki kolam bujur lebar, Bagaikan sedang mabuk diayun gelombang, ditengah-tengah lautan besar.
6. Tiap hari persajian makanan yang dipersembahkan dibagi-bagi, Agar para wanita, menteri, dan pendeta dapat makanan sekenyangnya, Tidak terlangkahi para kesatria, arya dan para abdi di pura, Tak putusnya makanan sedap nyaman diedarkan kepada bala tentara.

Pupuh 66:

1. Eñjiɳ rakwa khapiɳ nem iɳ dina bhatara narapati sabhojanakrama mark, mwaɳ saɳ ksatriya saɳ padadika pnuh yaça bukubukuran rinembat asusun, darmmadyaksa kalih sirekhin awawan/ banawa pada winarnna bhawakha khiduɳ, göɳnya lwir tuhu phalwa goɳ bubar agenturan anirin aweh rsepnin umulat.
2. Rakryan/ saɳ mapatih gajamada rikaɳ dina muwah ahatur niwedyan umark, (121a) stryangöɳ çokha tapelnirarjja ri hebiɳ bhujagakusuma rajaçaçranawilt, mantryaryyasuruhan/ pradeça milu len/ para dapur ahatur niwedyan aniriɳ, akweh lwirni wawanya bhojana hanan/ plawa giri yaça matsya tanpa pgatan.
3. Atyadbhuta halpni karyya naranatha wkas i wkasiɳ mahottama dahat, apan riɳ dina sapta tan pgat tikaɳ dana waçana sabhojanaparimita, lumre saɳ catur açrama pramukha saɳ dwija milu para mantry asankya kasukhan, kahyunhyun/ jurusamyamalwan tkap i larih ika lwir ambut umili.
4. Sar sök tekhan aninhaninhali sakeɳ daçadikh atetel atri tanpa ligaran, tinkah niɳ pasabhan/ lawan san ahatur ttadah atiki tinonyan açran arbut, çri rajya rikanaɳ witana manigel bini bini juga taɳ maninhali mark, kapwa lingih atindih aglar anbek hana lali rin ulah kawönan umulat.
5. Sasiɳ karyya maweha tusta rikanaɳ para jana winanun nareçwara huwus, naɳ widwamacanah raket raket ananti sahana para gitada pratidina, anyat/ (121b) bhata mapatra yudda sahajaɳ maglaglapan anghyat aɳdani paceh, mukyan dana ri salwiriɳ manasi tan pgat amuhara harsaniɳ sabhuwana.

Artinya:
1. Pada hari keenam pagi Sri Baginda bersiap mempersembahkan persajian, Pun para kesatria dan pembesar mempersembahkan rumah-rumahan yang terpikul, Dua orang pembesar mempersembahkan perahu yang melukiskan kutipan kidung, Seperahu sungguh besarnya, diiringi gong dan bubar mengguntur menggembirakan.
2. Esoknya Patih Amangkubumi Gajah Mada sore-sore menghadap sambil menghaturkan, Sajian perempuan sedih merintih di bawah nagasari dibelit rajasa, Menteri, arya, bupati, pembesar desa pun turut menghaturkan persajian, Berbagai ragamnya, berduyun-duyun, ada yang berupa perahu, gunung, rumah, ikan….
3. Sungguh-sungguh mengagumkan persembahan Baginda raja pada hari yang ketujuh, Beliau menabur harta, membagi-bagi bahan pakaian dan hidangan makanan, Luas merata kepada empat kasta, dan terutama kepada para pendeta, Hidangan jamuan kepada pembesar, abdi dan niaga mengalir bagai air.
4. Gemeruduk dan gemuruh para penonton dari segenap arah, berdesak-desak, Ribut berebut tempat melihat peristiwa di balai agung serta para luhur, Sri Nata menari di balai witana khusus untuk para puteri dan para istri, Yang duduk rapat rapi berimpit, ada yang melamun karena tercengang memandang.
5. Segala macam kesenangan yang menggembirakan hati rakyat diselenggarakan, Nyanyian, wayang, topeng silih berganti setiap hari dengan paduan suara, Tari perang prajurit, yang dahsyat berpukul-pukulan, menimbulkan gelak-mengakak, Terutama derma kepada orang yang menderita membangkitkan gembira rakyat.

Pupuh 67:

1. Yawat/ mankah lkas narendra magawe çraddaniwö saɳ paratra, tawat tan/ pakawandya kandaniɳ sukhe çri rajapatnin kinaryya, astwandadyakna ryyanugrahanire swasthanyadeg/ çri narendra, saɳ çri rajasanagarastu jayaçatrwahinanaɳ candra suryya.
2. Eñjiɳ kala dataɳ mamuja para boddanuraken saɳ pinuja, prajñaparimita tmahniran umantuk/ ri mahabuddaloka, saɳhyaɳ puspa çarira çighra linarut/ sampun mulih sopakara, sakweh caru gañjaran tuwi dinum/ lumrerikaɳ bhrtyasanghya.
3. Lila çudda manah narendra ri huwusni karyya noraɳ wikhalpa, anhiɳ darmmanireki pinrih i kamal pandak/ ri dadyanya purnna, tkwan/ sampun abhumiçudda rikanaɳ çakagni spatarkka nunten, saɳ çri jñanawidin lumakwani t-her/ mabrahmayajñan pamuja.

Artinya:
1. Pesta serada yang diselenggarakan serba meriah dan khidmat, Pasti membuat gembira jiwa Sri Rajapatni yang sudah mangkat, Semoga beliau melimpahkan berkat kepada Baginda raja, Sehingga jaya terhadap musuh selama ada bulan dan surya.
2. Paginya pendeta Buddha datang menghormati, memuja dengan sloka, Arwah Prajnyaparamita yang sudah berpulang ke Buddhaloka, Segera arca bunga diturunkan kembali dengan upacara, Segala macam makanan dibagikan kepada segenap abdi.
3. Lodang lega rasa Baginda melihat perayaan langsung lancar, Karya yang masih menunggu, menyempurnakan candi di Kamal Pandak, Tanahnya telah disucikan tahun dahana tujuh surya (1274), Dengan persajian dan puja kepada Brahma oleh Jnyanawidi.

Pupuh 68:

1. Nahan tatwanikaɳ kamal/ widita deniɳ sampradaya sthiti, mwaɳ çri pañjalunatha riɳ daha te- (122a) wekniɳ yawabhumy/ apalih, çri airlanghya sirandani ryyasihiran/ panak/ ri saɳ rwa prabhu.
2. Wwanten bodda mahayanabrata pgat/ riɳ tantra yogiçwara, saɳ mungwiɳ tnah i çmaçana ri lmah citrenusir niɳ jagat, saɳ prapteɳ bali toyamargga manapak/ wwainiɳ tasik nirbhaya, kyatiɳ hyaɳ mpu bharada woda ri hatitadi trikalapageh.
3. Rahyaɳ tekhi pinintakasihan amarwaɳ bhumi tan langhyana, inanyeki tlas/ cinihnanira toyeɳ kundi sankeɳ lanit, kulwan/ purwwa dudug rin arnnawa maparwaɳ lor kidul tan madoh, kadyadoh mahlet/ samudra tewekiɳ bhumi jawa rwa prabhu.
4. Nkai riɳ tik/ tiki wrksa rakwa sutapararyyan/ sankeɳ ambara, naɳ deçeɳ palunan tikaɳ pasalahan/ kundi praçasteɳ jagat, kandeg/ deni ruhur nikaɳ kamal i puñcaknyanawit/ ciwara, na hetunya sinapa dadyalita tekwan/ mungwiri pantara.
5. Tugwangöh nika tambayiɳ jana padars mintareɳ swasana, etunyan/ winanun sudarmma waluyaɳ bhumi jawatungala, sthityaraja sabhumi kawruhananin rat (122b) dlaha tan lingara, cihna çri nrapatin jayeɳ sakhalabhumin/ cakrawartti prabhu.

Artinya:
1. Demikian sejarah Kamal menurut tutur yang dipercaya, Dan Sri Nata Panjalu di Daha, waktu bumi Jawa dibelah, Karena cinta raja Erlangga kepada dua puteranya.
2. Ada pendeta Budamajana putus dalam tantra dan yoga, Diam di tengah kuburan Lemah Citra, jadi pelindung rakyat, Waktu ke Bali berjalan kaki, tenang menapak di air lautan, Hyang Mpu Barada nama beliau, paham tentang tiga zaman.
3. Girang beliau menyambut permintaan Erlangga membelah negara, Tapal batas negara ditandai air kendi, mancur dari langit, Dari barat ke timur sampai laut; sebelah utara, selatan, Yang tidak jauh, bagaikan dipisahkan oleh samudera besar.
4. Turun dari angkasa sang pendeta berhenti di pohon asam, Selesai tugas kendi suci ditaruhkan di dusun Palungan, Marah terhambat pohon asam tinggi yang puncaknya mengait jubah, Mpu Barada terbang lagi, mengutuk asam agar jadi kerdil.
5. Itulah tugu batas gaib, yang tidak akan mereka lalui, Itu pula sebabnya dibangun candi, memadu Jawa lagi, Semoga Baginda serta rakyat tetap tegak, teguh, waspada, Berjaya dalam memimpin negara, yang sudah bersatu padu.

Pupuh 69:

1. Prajñaparimitapuri ywa panlahnin rat/ ri saɳhyaɳ sudarmma, prajñaparamitakriyenulahaken/ çri jñanawidyapratista, sotan/ pandita wrdda tantragata labdaweça sarwwagamajña, saksat/ hyaɳ mpu bharada mawak i sirande trpti ki twas narendra.
2. Mwaɳ taiki ri bhayalanö ngwanira saɳ çri rajapatnin dinarmma, rahyaɳ jñanawidinutus/ muwah amuja bhumi çudda pratista, etunyan manaran/ wiçesapura kharambhanya pinrih ginöɳ twas, mantryagöɳ winkas/ wruherikha dmuɳ bhoja nwam utsaha wijna.
3. Lumra sthananiran pinuja winanun/ caityadi riɳ sarwwadeça, yawat/ waiçapuri pakuwwana kabhaktyan/ çri maharajaptni, anken bhadra siran pinujaniɳ amatya brahma sakwehnya bhakti, mukti swargganiran/ mapotraka wiçesaɳ yawabhumyekhanatha.

Artinya:
1. Prajnyaparamitapuri itulah nama candi makam yang dibangun, Arca Sri Rajapatni diberkahi oleh Sang pendeta Jnyanawidi, Telah lanjut usia, paham akan tantra, menghimpun ilmu agama, Laksana titisan Mpu Barada, menggembirakan hati Baginda
2. Di Bayalangu akan dibangun pula candi makam Sri Rajapatni, Pendeta Jnyanawidi lagi yang ditugaskan memberkahi tanahnya, Rencananya telah disetujui oleh sang menteri demung Boja, Wisesapura namanya, jika candi sudah sempurna dibangun.
3. Candi makam Sri Rajapatni tersohor sebagai tempat keramat, Tiap bulan Badrapada disekar oleh para menteri dan pendeta, Di tiap daerah rakyat serentak membuat peringatan dan memuja, Itulah suarganya, berkat berputera, bercucu Narendra utama.

Pupuh 70:

1. Irikan anilastanah çaka nrpeçwara warnnanen, mahasahas i simpin saɳhyaɳ darmma rakwa siralihen, saha widiwidanasiɳ lwir / niɳ, (123a) saji krama tan kuraɳ, prakhaçita san adyaksamujaryya rajaparakrama.
2. Rasika nipuneɳ widya tatwopadeça çiwagami, sira ta manadistane saɳ çri nrpa krtarajasa, duweg inulahaken taɳ prasada gopura mekala, prakaçita san aryyanama kruɳ prayatna wineh wruha.
3. Nrpatin umulih sanke simpiɳ wawaɳ daten iɳ pura, prihati tkap iɳ griɳ saɳ mantryadimantra gajamada, rasika sahakari wrddyaniɳ yawawani riɳ danu, ri bali ri sadeɳ wyaktinyantuknikanayaken / musuh.

Artinya:
1. Tersebut pada tahun Saka angin delapan utama (1285), Baginda menuju Simping demi pemindahan candi makam, Siap lengkap segala persajian tepat menurut adat, Pengawasnya Rajaparakrama memimpin upacara.
2. Paham tentang tatwopadesa dan kepercayaan Siwa, Memangku jabatannya semenjak mangkat Kertarajasa, Ketika menegakkan menara dan mekala gapura, Bangsawan agung Arya Krung, yang diserahi menjaganya.
3. Sekembalinya dari Simping, segera masuk ke pura, Terpaku mendengar Adimenteri Gajah Mada gering, Pernah mencurahkan tenaga untuk keluhuran Jawa, Di pulau Bali serta kota Sadeng memusnahkan musuh.

Pupuh 71:

1. Try anin ina çaka purwwa rasikan/ pamankwakn i sabwatiɳ sabhuwana, pjah irika çakabda rasa tanwinaça naranatha mar salahaça, tuhun i kadiwyacittanira tan/ satrsnam asih i samasta bhuwana, hatutur i tatwaniɳ dadin anitya punya juga taɳ ginöɳ pratidina.
2. Kunaɳ i pahem narendra haji rama saɳ prabhu kalih sireki pinupul, hibu haji saɳ rwa tansah awawanuja nrpati karwa saɳ priya tumut, gumunita saɳ wruheɳ gumunadosaniɳ bala gumantyane san apatih, linawelawön datan hana katrptiniɳ twas amanun/ wiyoga sumusuk.
3. Nr- (123b) pati sumimpen iɳ naya tatan kagantyana kta sumantri mapatih, ri taya nikaɳ gumantya yadi kewehanya tikanaɳ jagat pahalalun, nhin ikan amatya sadwajara sarwwa karyya satate narendra pilihen, pituhanen iɳ mucap kirakira wruheɳ parawiwoda tanpa nusara.

Artinya:
1. Tahun Saka tiga angin utama (1253) beliau mulai memikul tanggung jawab, Tahun rasa (1286) beliau mangkat; Baginda gundah, terharu, bahkan putus asa, Sang Dibyacita Gajah Mada cinta kepada sesama tanpa pandang bulu, Insaf bahwa hidup ini tidak baka, karenanya beramal tiap hari.
2. Baginda segera bermusyawarah dengan kedua rama serta ibunda, Kedua adik dan kedua ipar tentang calon pengganti Ki Patih Mada, Yang layak akan diangkat hanya calon yang sungguh mengenal tabiat rakyat, Lama timbang-menimbang, tetapi seribu sayang tidak ada yang memuaskan.
3. Baginda berpegang teguh, Adimenteri Gajah Mada tak akan diganti, Bila karenanya timbul keberatan, beliau sendiri bertanggung jawab, Memilih enam menteri yang menyampaikan urusan negara ke istana, Mengetahui segala perkara, sanggup tunduk kepada pimpinan Baginda.

Pupuh 72:

1. Manka hinaniɳ pahömnira gupta, pöhnyalap/ knaniran pawiweka, wrddamantri pinilih ta san aryya, atmaraja makanama pu tandi.
2. Tansah indika narendra san aryya, wira mandalika nama pu nala, sadwasadu hitanigraha wijña, mañcanagara manama tumenguɳ.
3. Tusnin adiguna wira susatya, nityasadipatinin bala mandon, naɳ digantara manama riɳ dompo, bhrasta denira sek anaɳlwan i çatru.
4. Rwa ta wastuniɳ wangadisumantri, astapadda hajo donika tan len, mawwate sarusitiɳ wyawahara, ndan makerina sumantry upapati.
5. Saɳ pati dami tikaɳ yuwamantri, saɳ hinatyan i dalm/ pura tansah, mwaɳ patih tikan anama pu singha, saksya riɳ sabha wkas naranatha.
6. An mankana titah naranatha, trpti langeɳ hapagöh tikanaɳ ra- (124a) t, satya bhakti nika mankin atambeh, keçwaran haji dumeh nika manka.

Artinya:
1. Itulah putusan rapat tertutup, Hasilnya yang diperoleh perundingan, Terpilih sebagai wredamenteri, Karib Baginda bernama Mpu Tandi.
2. Penganut karib Sri Baginda Nata, Pahlawan perang bernama Mpu Nala, Mengetahui budi pekerti rakyat, Mancanegara bergelar Tumenggung.
3. Keturunan orang cerdik dan setia, Selalu memangku pangkat pahlawan, Pernah menundukkan negara Dompo, Serba ulet menaggulangi musuh.
4. Jumlahnya bertambah dua menteri, Bagai pembantu utama Baginda, Bertugas mengurus soal perdata, Dibantu oleh para upapati.
5. Mpu Dami menjadi menteri muda, Selalu ditaati di istana, Mpu Singa diangkat sebagai saksi, Dalam segala perintah Baginda.
6. Demikian titah Sri Baginda Nata, Puas, taat teguh segenap rakyat, Tumbuh tambah hari setya baktinya, Karena Baginda yang memerintah.

Pupuh 73:

1. Ndan / nrpa tiktawilwapuraraja mankin atiyatna niti rin ulah, riɳ wyawahara tan hana khasinhin in hati sapöhnin agama tinut, tan dadi paksapata yat aweh wibhuti saniruktya riɳ jana kabeh, kirtti giɳönniran wruh in anagatadi tuhu dewamurtti sakala.
2. Nka tikanaɳ sudarmma haji suk ni saɳ tuhatuha nareçwara danu, salwirika turuɳ pinahuwusnirenapi rinaksa pinrih iniwö, siɳ katayan / praçasti winkas / praçastyana ri saɳ widagda rin aji, sthitya phalanya tanpa tmaha wiwada tumuse satusnira hlem.
3. Kwehnikanaɳ sudarmma haji kaprakaçita makhadi riɳ kagnenan, lwir nikanaɳ manadi tumapel / kidal / jajagu wedwawedwan i tudan, mwaɳ pikatan bukul jawajawantan antaraçaçi kalaɳ brat i jaga, len balitar / çilahrit i waleri babeg i kukap ri lumban i pagör.

Artinya:
1. Baginda makin keras berusaha untuk dapat bertindak lebih bijak, Dalam pengadilan tidak serampangan, tapi tepat mengikut undang-undang, Adil segala keputusan yang diambil, semua pihak merasa puas, Mashur nama beliau, mampu menembus zaman, sungguhlah titisan batara.
2. Candi makam serta bangunan para leluhur sejak zaman dahulu kala, Yang belum siap diselesaikan, dijaga dan dibina dengan saksama, Yang belum punya prasasti, disuruh buatkan piagam pada ahli sastra, Agar kelak jangan sampai timbul perselisihan, jikalau sudah temurun.
3. Jumlah candi makam raja seperti berikut, mulai dengan Kagenengan, Disebut pertama karena tertua: Tumapel, Kidal, Jajagu, Wedwawedan, Di Tuban, Pikatan, Bakul, Jawa-jawa, Antang Trawulan, Kalang Brat dan Jago, Lalu Balitar, Sila Petak, Ahrit, Waleri, Bebeg, Kukap, Lumbang dan Puger.

Pupuh 74:

1. Mukyantahpura sagalathawa ri simpiɳ, mwaɳ cri rangapura muwah riɳ buddi kuncir, prajnaparamita puri hanar panambeh, mwaɳ tekaɳ ri bhayalano duweg kinaryya.
2. (124b) na taɳ darmma haji wilaɳ saptawinça, riɳ sapta dwija rawi caka bhadramasa, kapwamatya nipuna taɳ wineh matungwa, lawan / sthapaka wiku rajya çastrawijna.

Artinya:
1. Makam rani : Kamal Pandak, Segala, Simping, Sri Ranggapura serta candi Budi Kuncir, Bangunan baru Prajnyaparamitapuri, Di Bayalangu yang baru saja dibangun.
2. Itulah dua puluh tujuh candi raja, Pada Saka tujuh guru candra (1287) bulan Badra, Dijaga petugas atas perintah raja, Diawasi oleh pendeta ahli sastra.

Pupuh 75:

1. Ndan saɳ mantri wineh wruha rika kabeh san aryya wiradikara, darmmadyaksa rumaksa salwir ikanaɳ darmme dalm tan pramada, dirotsaha nitya kuminkin i swastha pararttha saɳ çri narendra, tan / mukti phalaniɳ swakaryya ri genany utpatti saɳ hyaɳ sudarmma.
2. Len taɳ darmma lpas padekana rinaksadegnya de çri narendra, çaiwadyaksa sira wineh wruha rumaksa parhyanan / mwaɳ kalagyan, boddadyaksa sireki raksaka ri sakwehniɳ kuti mwaɳ wihara, mantri her haji taɳ karsyan iniwonyan / rakseka saɳ tapaswi.

Artinya:
1. Pembesar yang bertugas mengawasi seluruhnya sang Wiradikara, Orang utama, yang saksama dan tawakal membina semua candi, Setia kepada Baginda, hanya memikirkan kepentingan bersama, Segan mengambil keuntungan berapa pun penghasilan candi makam.
2. Desa-desa perdikan ditempatkan di bawah perlindungan Baginda, Darmadyaksa Kasewan bertugas membina tempat ziarah dan pemujaan, Darmadyaksa Kasogatan disuruh menjaga biara ke-buddha-an, Menteri her-haji bertugas memelihara semua pertapaan.

Pupuh 76:

1. Lwir ni darmma lpas / pratista ciwa mukya kuti balay i kanci len kapulunan, roma mwaɳ wwatan içwaragrha phalabdi tajuɳ i kuti lamba len / ri taruna, parhyanan kuti jati candi lima nilakusuma harinandanottama suka, mwaɳ prasada haji sadaɳ muwah i pangumulan i kuti sangrahe jayadika.
2. Tan karyya sphatikeyan i jaya manalwi haribhawana candi (125a) wunkal i pigit, nyu dante katude sranan / kapuyuran jayamuka kulanandane kanigara, rmbut lan wuluhen muwah ri khinawoh mwan i sukhawijayathawa ri kajaha, campen / mwaɳ ratimanmathaçrama kula kalin i batu putih tekha pameweh.
3. Lwirniɳ darmma kasogatan kawinayanu lpas i wipularama len kuti haji, mwaɳ yanatraya rajadanya kuwunatha surayaça jarak / lagundi wadari, wewe mwaɳ packan / pasarwwan i lmah surat i pamanikan / sranan / paniktan, panhapwan / damalaɳ tpas / jita wannaçrama jnar i samudrawela pamuluɳ.
4. Baryyaɳ namrtawarddani wtiwtih kawinayan i patemwan iɳ kanuruhan, wental / wenker i hanten iɳ banu jiken / batabata pagagan / sibok / padurunan, mwaɳ pindatuha len / tlaɳ surabha mukyanika ri sukalila tapwa pameweh, tan warnnan tikanaɳ mananwaya ri pogara ri kulur i tankil adi nika sön.

Artinya:
1. Desa perdikan Siwa yang bebas dari pajak: biara relung Kunci, Kapulungan, Roma, Wwatan, Iswaragreha, Palabdi, Tanjung, Kutalamba, begitu pula Taruna, Parhyangan, Kuti Jati, Candi Lima, Nilakusuma, Harimandana, Uttamasuka, Prasada-haji, Sadang, Panggumpulan, Katisanggraha, begitu pula Jayasika.
2. Tak ketinggalan: Spatika, Yang Jayamanalu, Haribawana, Candi Pangkal, Pigit, Nyudonta, Katuda, Srangan, Kapukuran, Dayamuka, Kalinandana, Kanigara, Rambut, Wuluhan, Kinawung, Sukawijaya, dan lagi Kajaha, demikian pula, Campen, Ratimanatasrama, Kula, Kaling, ditambah sebuah lagi Batu Putih,
3. Desa perdikan kasogatan yang bebas dari pajak: Wipulahara, Kutahaji, Janatraya, Rajadanya, Kuwanata, Surayasa, Jarak, Lagundi, serta Wadari, Wewe Pacekan, Pasaruan, Lemah Surat, Pamanikan, Srangan serta Pangiketan, Panghawan, Damalang, Tepasjita, Wanasrama, Jenar, Samudrawela dan Pamulang.
4. Baryang, Amretawardani, Wetiwetih, Kawinayan, Patemon, serta Kanuruhan, Engtal, Wengker, Banyu Jiken, Batabata, Pagagan, Sibok dan Padurungan, Pindatuha, Telang, Suraba, itulah yang terpenting, sebuah lagi Sukalila, Tak disebut perdikan tambahan seperti Pogara, Kulur, Tangkil dan sebagainya.

Pupuh 77:

1. Nahan muwah kasugatan / kabajradaran akrameka wuwusen, i çakabajra ri nadi tada mwan i mukuh ri samban i tajuɳ, lawan tan amrtasabha ri baɳbaniri boddi (125b) mula waharu, tampak / duri paruha tandare kumudaratna nandinagara.
2. Len taɳ wunanjaya palandit ankil asah iɳ samicyapitahen, nairanjane wijayawaktra magnen i poyahan / bala masin, ri krat lemah tulis i ratnapankaja panumbanan kahuripan, mwaɳ ketaki talaga jambale junul i wisnuwala pameweh.
3. Len tekaɳ budur wwirun i wunkulur mwan i manangun i watu kura, bajrasana mwan i pajambayan / ri samalanten iɳ simapura, tambak laleyan i pilangu poh aji ri wankali mwan i beru, lmbah dalinan i panadwan adi nika riɳ pacaccan apagöh.

Artinya:
1. Selanjutnya disebut berturut desa kebudaan Bajradara: Isanabajra, Naditata, Mukuh, Sambang, Tanjung, Amretasaba, Bangbang, Bodimula, Waharu Tampak, serta Puruhan dan Tadara, Tidak juga terlangkahi Kumuda, Ratna serta Nadinagara,
2. Wungajaya, Palandi, Tangkil, Asahing, Samici serta Acitahen, Nairanjana, Wijayawaktra, Mageneng, Pojahan dan Balamasin, Krat, Lemah Tulis, Ratnapangkaya, Panumbangan, serta Kahuripan, Ketaki, Telaga Jambala, Jungul ditambah lagi Wisnuwala.
3. Badur, Wirun, Wungkilur, Mananggung, Watukura serta Bajrasana, Pajambayan, Salanten, Simapura, Tambak Laleyan, Pilanggu, Pohaji, Wangkali, Biru, Lembah, Dalinan, Pangadwan yang terakhir, Itulah desa kebudaan Bajradara yang sudah berprasasti.

Pupuh 78:

1. Lwir niɳ darmma lpas karsyan i sumpud / rupit / mwaɳ pilan, len tekaɳ pucanan / jagaddita pawitra mwaɳ butun tan kasah, kapwa teka hana pratista çabha len linga pranalalapupul, mpunku sthapaka saɳ mahaguru panenguh ni sarat / kotama.
2. Yekiɳ darmma lpas / rinaksa mapagöh riɳ swakramanyeɳ danu, milwaɳ sima ta pratista pinakadinyan / swatantra sthiti, banwan tunkal i siddayatra jaya len siddahajöɳ lwah (126a) kali, twas / waçista palah padar sirinan adinyaɳ kacewankuran.
3. Wanjaɳ bajrapure wanora makduk hanten / guha mwaɳ jiwa, jumput / çobha pamuntaran / baru kaboddançan / prakaçottama, kajar ddana hana turas / jalagiri centiɳ wkas / wandira, wandayan gatawaɳ kulampayan i taladinya kasyankura.
4. Darmmarsi sawunan / blah juru siddaɳ sranan waduryyaglan, gandatrp haraçala nampu kakadaɳ hajyan gahan riɳ jagat, sima nadyabhaye tiyaɳ pakuwukan / sima kiyal/ mwaɳ çuci, tan karyyaɳ kawiri barat / kacapanan / ywangehnya simapagöh.
5. Len sankerika wança wisnu kalatiɳ batwan kamansyan batu, tangulyan / dakulut galuh makalaran / mukya swatantrapagöh, len taɳ deça mdaɳ hulun / hyan i paruɳ lunge pasajyan kelut, andel mad paradah gɳön panawan adinyan luput riɳ danu.
6. Tan warnnan tikanaɳ kalagyan anlat / riɳ sarwwa deçeɳ jawa, lawan taɳ kuti sapratista milu taɳ tanpa pratistapagöh, ndan / bhedanya kasanghikan / sthiti kabhuktyanyan sake nagara, (126b) mwaɳ kasthapakan ungwaniɳ lumagi lagy amrih kriya mwaɳ brata.
7. Len taɳ mandala mula sagara kukub / purwwasthitinyeniwö, tan karyyaɳ sukayajna kasturi caturbhasmeka liɳ saɳ rsi, katyagan / caturaçrame pacira bulwan / mwaɳ luwan / nwe kupaɳ, akweh lranya manaçrayeɳ thani lawan / jangan / prasiddeɳ jagat.

Artinya:
1. Desa keresian seperti berikut: Sampud, Rupit dan Pilan, Pucangan, Jagadita, Pawitra, masih sebuah lagi Butun, Di situ terbentang taman, didirikan lingga dan saluran air, Yang Mulia Mahaguru – demikian sebutan beliau.
2. Yang diserahi tugas menjaga sejak dulu menurut piagam, Selanjutnya desa perdikan tanpa candi, di antaranya yang penting: Bangawan, Tunggal, Sidayatra, Jaya Sidahajeng, Lwah Kali dan Twas, Wasista, Palah, Padar, Siringan, itulah desa perdikan Siwa.
3. Wangjang, Bajrapura, Wanara, Makiduk, Hanten, Guha dan Jiwa, Jumpud, Soba, Pamuntaran, dan Baru, perdikan Buda utama, Kajar, Dana Hanyar, Turas, Jalagiri, Centing, Wekas, Wandira, Wandayan, Gatawang, Kulampayan dan Talu, pertapaan Resi.
4. ……….?
5. Desa perdikan Wisnu berserak di Batwan serta Kamangsian, Batu, Tanggulian, Dakulut, Galuh, Makalaran, itu yang penting, Sedang, Medang, Hulun Hyan, Parung, Langge, Pasajan, Kelut, Andelmat, Paradah, Geneng, Panggawan, sudah sejak lama bebas pajak.
6. Terlewati segala dukuh yang terpencar di seluruh Jawa, Begitu pula asrama tetap yang bercandi serta yang tidak, Yang bercandi menerima bantuan tetap dari Baginda raja, Begitu juga dukuh pengawas, tempat belajar upacara.
7. ………?

Pupuh 79:

1. Sampun taɳ sarwwadeçeɳ jawa tinapak adegnyeki nunin linakwan, darmma mwaɳ sima len/ wança hilahila hulun hyaɳ kuti mwaɳ kalagyan, sakwehniɳ sapramana pinagehaknasiɳ nispramana gin-gwan, mantuk/ riɳ deça bhrtyan sinalahakn i saɳ naryya ramadiraja.
2. Cri natheɳ wenker otus manapaka rikanaɳ deça sakwehnya warnnan,çri natheɳ sinhasaryy otus anapaka ri göɳniɳ dapur saprakara, kapwagögwan/ patik/ gundala siran umiwö karyya tan lambalamba, hetunyaɳ yawabhumy atutur in ulah anut/ çaçana çri narendra.
3. Nka taɳ nusantare baly amatehati sacaraniɳ yawabhumi, darmma mwaɳ çrama lawwan/ kuwu tinapak adeg/ nyeki sampun tininkah, saɳ boddadyaksa mungwi badahu- (127a) lu badahalwaɳ gajah tan pramada, wruh ri kwehniɳ sudarmme kasugatan inutus/ çri narendran/ rumaksa.

Artinya:
1. Telah diteliti sejarah berdirinya segala desa di Jawa, Perdikan, candi, tanah pusaka, daerah dewa, biara dan dukuh, Yang berpiagam dipertahankan; yang tidak segera diperintahkan, Pulang kepada dewan desa di hadapan Sang Arya Ranadiraja.
2. Segenap desa sudah diteliti menurut perintah Raja Wengker, Raja Singhasari bertitah mendaftar jiwa serta seluk-salurannya, Petugas giat menepati perintah, berpegang kepada aturan, Segenap penduduk Jawa patuh mengindahkan perintah Baginda raja.
3. Semua tata aturan patuh diturut oleh pulau Bali, Candi, asrama, pesanggrahan telah diteliti sejarah tegaknya, Pembesar kebudaan Badahulu, Badaha Lo Gajah ditugaskan, Membina segenap candi, bekerja rajin dan mencatat semuanya.

Pupuh 80:

1. Lwir nikanaɳ kasogatan i bali kadikaranan/ muwah kuti hañar, lawan i purwwanagara muwah wihara bahun adirajya kuturan, nöm tikanaɳ kabajradaran uttama nhin i wihara taɳ kawinayan, kirnna makadin aryya dadi rajasanmata kutinya tan wicaritan.
2. Milwa tikaɳ sudarmma ri bukhit/ sulaɳ lmah i lampun anyawasuda, kyatyanaran tathagatapura grhaswadara supraçastin amatöh, bhyoma rasakka çaka diwaçanya suk/ nrpati jiwaneçwara danu, wrdda sumantry upasakan abhumiçudda t-her apratistan inutus.
3. Salwir ikaɳ swatantra tuhu sapramana pagöh tkap narapati, kirtti san adi sajjana çakawakhanya ya rinaksa mogha tinnöt, manka junga swabhawa san inuttama prabhu wiçesa digjaya wibhuh, nyama muwah rinaksa sahanani kirttinira deni saɳ prabhu hlem.
4. Mwaɳ makadon/ katona taya ni duratmaka rikaɳ sabhumi kacaya, hetu nikaɳ pradeça tinapak/ tinutlas awalr samudra jinajah, (127b) sthityaniraɳ tapaswi sahaneɳ pasir wukir alas/ pradeça kasnet, trptyamiwö tapa brata samadyanambyakn i haywaniɳ sabhuwana.

Artinya:
1. Perdikan kebudayaan Bali sebagai berikut; biara Baharu (hanyar), Kadikaranan, Purwanagara, Wiharabahu, Adiraja, Kuturan, Itulah enam kebudayaan Bajradara, biara kependetaan, Terlangkahi biara dengan bantuan negara seperti Arya-dadi.
2. Berikut candi makam di Bukit Sulang, Lemah Lampung, dan Anyawasuda, Tatagatapura, Grehastadara, sangat mashur, dibangun atas piagam, Pada tahun Saka angkasa rasa surya (1260) oleh Sri Baginda Jiwana, Yang memberkahi tanahnya, membangun candinya: upasaka wreda mentri.
3. Semua perdikan dengan bukti prasasti dibiarkan tetap berdiri, Terjaga dan terlindungi segala bangunan setiap orang budiman, Begitulah tabiat raja utama, berjaya, berkuasa, perkasa, Semoga kelak para raja sudi membina semua bangunan suci.
4. Maksudnya agar musnah semua durjana dari muka bumi laladan, Itulah tujuan melintas, menelusur dusun-dusun sampai ke tepi laut, Menenteramkan hati pertapa yang rela tinggal di pantai, gunung dan hutan, Lega ber-tapa brata dan ber-samadhi demi kesejahteraan negara.

Pupuh 81:

1. Göɳnyarambha nareçware pageha saɳ tripakse jawa, purwwacaranireɳ praçastyalama taɳ rinaksan iwö, kotsahan haji yatna donira wineh patik gundala, tan wismrtyanireɳ caradigama çiksa len/ çaçana.
2. Nahan karana saɳ caturdwija padanusir kottaman, wipra mwaɳ rsi çaiwa bodda tgepiɳ swawidyatutur, sakweh saɳ catur açrama pramukha saɳ catu bhasma sök, kapwa teka tumunkul iɳ brata widagda riɳ swakriya.
3. Nka sakwehnira saɳ caturjjana padasthitiɳ çaçana, mantri mukya san aryya karwa nipuneɳ kabhuphalakan, kryan/ kryan/ ksatriya wança len wali suçila yatneɳ naya, milwaɳ weçya sabhumi çudra jnek swakaryyapagöh.
4. Yekaɳ janmi catur sujanman umijil/ sakeɳ hyaɳ widi, liɳniɳ çastra wnaɳ sagatyanika de narendreɳ pura, kapwekapageh iɳ swaçila kimutaɳ kujanma traya, naɳ candala meleca tucca pada yatna riɳ swakrama.

Artinya:
1. Besarlah minat Baginda untuk tegaknya tripaksa, Tentang piagam beliau bersikap agar tetap diindahkan, Begitu pula tentang pengeluaran undang-undang, supaya laku utama, tata sila dan adat-tutur diperhatikan.
2. Itulah sebabnya sang caturdwija mengejar laku utama, Resi, Wipra, pendeta Siwa Buddha teguh mengindahkan tutur, Catur asrama terutama catur basma tunduk rungkup tekun, Melakukan tapa brata, rajin mempelajari upacara.
3. Semua anggota empat kasta teguh mengindahkan ajaran, Para menteri dan arya pandai membina urusan negara, Para puteri dan satria berlaku sopan, berhati teguh, Waisya dan sudra dengan gembira menepati tugas darmanya.
4. Empat kasta yang lahir sesuai keinginan Hyang Maha Tinggi, Konon tunduk rungkup kepada kuasa dan perintah Baginda, Teguh tingkah tabiatnya, juga ketiga golongan terbawah, Candala, Mleca dan Tuccha mencoba mencabut cacad-cacadnya.

Pupuh 82:

1. An ma- (128a) nka lwir nikaɳ bhumi jawa ri panadeg/ çri natha siniwi, nora sandeha ri twasniran umulahaken/ kirttyanukani rat, tkwan/ çri natha karwamwan i hajin agawe saddarmma kuçala, mwaɳ penan/ çri narendra pranuha tumut i buddi çri narapati.
2. Cri nathe sinhasaryyanaruka ri sagada darmma parimita, çri natheɳ wenker iɳ çurabhana pasuruhan/ lawan tan i pajaɳ, buddadistana tekaɳ rawa ri kapulunan/ mwaɳ locanapura, çri nathe watsarikaɳ tigawani magawe tusteɳ para jana.
3. Sakwehniɳ mantri sampun/ krtawara sinunan simasirasiran, caitya prasada tapwaɳ ginaway ika lawan lingadi satata, bhaktiɳ hyaɳ bhakti ri pitrgana samasamatwaɳ riɳ muniwara, dana mwaɳ kirtti punyenulahakn ika solah saɳ prabhu tinut.

Artinya:
1. Begitulah tanah Jawa pada zaman pemerintahan Sri Nata, Penegakan bangunan-bangunan suci membuat gembira rakyat, Baginda menjadi teladan di dalam menjalankan enam dharma, Para ibu kagum memandang, setuju dengan tingkah laku sang prabu.
2. Sri Nata Singhasari membuka ladang luas di daerah Sagala, Sri Nata Wengker membuka hutan Surabana, Pasuruan, Pajang, Mendirikan perdikan Buddha di Rawi, Locanapura, Kapulungan, Baginda sendiri membuka ladang Watsari di Tigawangi.
3. Semua menteri mengenyam tanah pelenggahan yang cukup luas, Candi, biara dan lingga utama dibangun tak ada putusnya, Sebagai tanda bakti kepada dewa, leluhur, para pendeta, Memang benar budi luhur tertabur mengikuti jejak Sri Nata.

Pupuh 83:

1. An manka kottaman / çri narapati siniwiɳ tiktawilwaikanatha, saksat / candreɳ sarat / kastawaniran agawe tustaniɳ sarwwaloka, lwir padmaɳ durjjana lwir kumuda sahana saɳ sajanasih tke twas, bhrtya mwaɳ koça len / wahana ga- (128b) ja turagadinya himper samudra.
2. Mankin / rabdekana yawadarani kapawitranya riɳ rat / prakaça, nhiɳ jambudwipa lawan / yawa ktan inucap / kottamanyan / sudeça, deniɳ kweh saɳ widagden aji makamukha saɳ dyaksa saptopapatti, mwaɳ panjyaɳ jiwa lekan tanar asin umunup karyya kapwatidaksa.
3. Mukyaɳ çri brahmaraja dwijawara mamahakawy anindyaɳ gamajna, hentyaɳ tarkkadi kawruhniraɳ nipuna mahakawya naiyeyikadi, mwaɳ danhyaɳ bhamanatibrata kuçala tameɳ weda sad karmma çudda, astam / çri wisnu cakte samajapa makhadon / wrddyaniɳ rat / subhiksa.
4. Hetunyanantara sarwwajana tka saken anyadeça prakirnna, naɳ jambudwipa khamboja cina yawana len / cempa kharnnatakadi, goda mwaɳ syanka taɳ sankanika makahawan / potra milwiɳ wanikh sök, bhiksu mwaɳ wipra mukyan hana tka sinunan / bhoga tustan pananti.
5. Ndan anken phalguna cri nrpati pinaripujeniwö riɳ swarajya, praptaɳ mantri sabhumi jawa juru kuwu len dyaksa sarwwopapatti, milwaɳ balyadi nusantara sahana saha prabhrtin tan pgat sökh, bya- (129a) pari mwaɳ wanin / ri pken anebek atip / sarwwa bandanya kirnna.
6. Tinkahnin pujan idran / bhrisadi saha mrdangenarak niɳ wan akweh, piɳ pitwanken dinaimbuh sasikhi saha niwaidyan dunuɳ riɳ wanuntur, homa mwaɳ brahmayajnenulahaknira saɳ çewa boddan pamuja, amwit in astami krsna makaphala rikaɳ swasthana çri narendra.

Artinya:
1. Begitulah keluhuran Sri Baginda Ekananta di Wilwatika, Terpuji bagaikan bulan di musim gugur, terlalu indah terpandang, Durjana laksana tunjung merah, sujana seperti teratai putih, Abdi, harta, kereta, gajah, kuda berlimpah-limpah bagai samudera.
2. Bertambah mashur keluhuran pulau Jawa di seluruh jagad raya, Hanya Jambudwipa (India) dan pulau Jawa yang disebut negara utama, Banyak pujangga dan dyaksa serta para upapati, tujuh jumlahnya, Panji Jiwalekan dan Tengara yang menonjol bijak di dalam kerja.
3. Mashurlah nama pendeta Brahmaraja bagai pujangga, ahli tutur, Putus dalam tarka, sempurna dalam seni kata serta ilmu naya, Hyang Brahmana, sopan, suci, ahli Weda, menjalankan enam laku utama, Batara Wisnu dengan cipta dan mantra membuat sejahtera negara.
4. Itulah sebabnya berduyun-duyun tamu asing datang berkunjung, Dari Jambudwipa, Kamboja, Cina, Yamana, Campa dan Karnataka, Goda serta Siam mengarungi lautan bersama para pedagang, Resi dan pendeta, semua merasa puas, menetap dengan senang.
5. Tiap bulan Palguna Sri Nata dihormat di seluruh negara, Berdesak-desak para pembesar, empat penjuru, para prabot desa, Hakim dan pembantunya, bahkan pun dari Bali mengaturkan upeti, Pekan penuh sesak pembeli penjual, barang terhampar di dasaran.
6. Berputar keliling gamelan dalam tanduan diarak rakyat ramai, Tiap bertabuh tujuh kali, pembawa sajian menghadap ke pura, Korban api, ucapan mantra di lakukan para pendeta Siwa-Buddha, Mulai tanggal delapan bulan petang demi keselamatan Baginda.

Pupuh 84:

1. Praptaɳ diwaça khapiɳ padblas i wijil / çri narapati warnnan, tinkahnira midereɳ nagara marasuk / bhusana kanakadi, cobhabhra pinikul iɳ jampana mahawan lantaran atuntun, mantri saciwa bhujarigadinika manango dadar iniri sök.
2. Ghurnaɳ padata mrdanga trutika duduɳ çanka tarayan atri, sinraɳ ni paselur iɳ bhattagana manuccaranan abhiwada, çlokhastutinira sankeɳ parapura de saɳ nipuna kawindra, cihna nrpati gahan / lwi raghusuta krsnanjaya subhagen rat.
3. Sampun / nrpati manek / riɳ manimaya sinhasana suminabhra, çoddodani sakala lwirnira wahu sailke jinapada cobha, byakta trisura surendran umark i himbaɳniran arja hyaɳ, apan / pada linewih bhusananika sotan waɳ adika mu- (129b) lya.
4. Tihkah ni lakunira çri nrpati pajaɳ sapriya pinakagra, sinhasananira sampun / lpas inarak niɳ balagana kirnna, mantri pajaɳ atawa mantri ri paguhan / rowan ika sapanta, laksarwuda marasuk / bhusana saha bhrtya dwaja patahadi.
5. Manka nrpa ri lasem / sapriya ri wugat / lampahira sabhrtya, vmwaɳ çri nrpa ri kadinten / sayugala samatya bala ri wuntat saçri, çri jiwanapurarajni ri wuri saha bhrtyagana sabhartta, çri bhupati pamkas mantry adika sayawawanni maniri sök,
6. Ton taɳ para jana sar sök / pnuh ariweg tanpa sla manonton, pingir nikanaɳ lbuh ajajar taɳ sakatha pinanguɳ, dwaranapi sawawa lwir dwaja nuniweh pangun ika rinenga, sök / stry anwam atuha dudwaɳ manebek umungwiɳ bacinah atimbun.
7. Buddinya daradaran kapwa suka banun / wahuwahu manonton, tan warnnan ulah ikenjiɳ nrpati kinastryan mijil i wanuntur, wipradi sira maweh amrta warakundyadi wawan ikapned, mantri para pamget kapwa mark amuspanjali parn asraɳ.

Artinya:
1. Tersebut pada tanggal empat belas bulan petang Baginda berkirap, Selama kirap keliling kota busana Baginda serba kencana, Ditata jempana kencana, panjang berarak beranut runtun, Menteri, sarjana, pendeta beriring dalam pakaian seragam.
2. Mengguntur gaung gong dan salung, disambut terompet meriah sahut-menyahut, Bergerak barisan pujangga menampung beliau dengan puja sloka, Gubahan kawi raja dari pelbagai kota dari seluruh Jawa, Tanda bukti Baginda perwira bagai Rama, mulia bagai Sri Kresna.
3. Telah naik Baginda di takhta mutu-manikam, bergebar pancar sinar, Seolah-olah Hyang Trimurti datang mengucapkan puji astuti, Yang nampak, semua serba mulia, sebab Baginda memang raja agung, Serupa jelmaan Sang Sudodanaputera dari Jina bawana.
4. Sri Nata Pajang dengan sang permaisuri berjalan paling muka, Lepas dari singgasana yang diarak pengiring terlalu banyak, Menteri Pajang dan Paguhan serta pengiring jadi satu kelompok, Ribuan jumlahnya, berpakaian seragam membawa panji dan tunggul.
5. Raja Lasem dengan permaisuri serta pengiring di belakangnya, Lalu raja Kediri dengan permaisuri serta menteri dan tentara, Berikut maharani Jiwana dengan suami dan para pengiring, Sebagai penutup Baginda dan para pembesar seluruh Jawa.
6. Penuh berdesak sesak para penonton ribut berebut tempat, Di tepi jalan kereta dan pedati berjajar rapat memanjang, Tiap rumah mengibarkan bendera, dan panggung membujur sangat panjang, Penuh sesak perempuan tua muda, berjejal berimpit-impitan.
7. Rindu sendu hatinya seperti baru pertama kali menonton, Terlangkahi peristiwa pagi, waktu Baginda mendaki setinggil, Pendeta menghaturkan kendi berisi air suci di dulang berukir, Menteri serta pembesar tampil ke muka menyembah bersama-sama.

Pupuh 85:

1. Tangal niɳ cetra tekaɳ balagana mapuluɳ rahya (130a) hem apupul, mantri mwaɳ tanda len / gusti sahana nuniweh wadwa haji tumut, milwaɳ mantryakuwu mwaɳ juru buyut athawa wwaɳ riɳ parapuri, astam / saɳ ksatriya mwaɳ wiku haji karuhun / sakweh dwijawara.
2. Doniɳ höman ri tan lamlama ni sabala saɳ çri natha rin ulah, kapwanuttajariɳ raja kapakapa sadanken / cetra winaca, haywanambah ri tan lakwan ika maneketeɳ wastradyarana, dewaswadinya tatan purugen ika maran / swasthaɳ pura sada.

Artinya:
1. Tanggal satu bulan Caitra bala tentara berkumpul bertemu muka, Menteri, perwira, para arya dan pembantu raja semua hadir, Kepala daerah, ketua desa, para tamu dari luar kota, Begitu pula para kesatria, pendeta dan brahmana utama.
2. Maksud pertemuan agar para warga mengelakkan watak jahat, Tetapi menganut ajaran Rajakapakapa, dibaca tiap Caitra, Menghindari tabiat jahat, seperti suka mengambil milik orang, Memiliki harta benda dewa, demi keselamatan masyarakat.

Pupuh 86:

1. Akara rwaɳ dina muwah ikaɳ karyya kewwan / narendra, wawwan / lor niɳ pura tgal anamaɳ bubat kaprakaça, çri nathanken mara makahawan / sthana sinhapadudwan, sabhrtyanorakn ideran atyadbhutaɳ wwaɳ manonton.
2. Ndan tinkahniɳ bubat arahararddarata tandes alwa, madya kroçakaranikan amurwwanutug / rajamargga, maddyardda kroca kta panalornyanutug pingiriɳ lwah, kedran deniɳ bhawana kuwuniɳ mantri sasök mapanta.
3. Bwatbwat / mungwiɳ tnah aruhur atyadbhutadegnya çobha, stambhanyakweh hinukir anatha parwwa tinkahni- (130b) kapned, skandaware nikata nika kulwan / raket lwir pure jro, ngwan / çri nathan dunun i tkaniɳ cetramasan pamanguɳ.

Artinya:
1. Dua hari kemudian berlangsung perayaan besar, Di utara kota terbentang lapangan bernama Bubat, Sering dikunjungi Baginda, naik tandu bersudut singa, Diarak abdi berjalan, membuat kagum tiap orang.
2. Bubat adalah lapangan luas lebar dan rata, Membentang ke timur setengah krosa sampai jalan raya, Dan setengah krosa ke utara bertemu tebing sungai, Dikelilingi bangunan menteri di dalam kelompok.
3. Menjulang sangat tinggi bangunan besar di tengah padang, Tiangnya penuh berukir dengan isi dongengan parwa, Dekat di sebelah baratnya bangunan serupa istana, Tempat menampung Baginda di panggung pada bulan Caitra.

Pupuh 87:

1. Pratinkahniɳ panguɳ majajar analor paçcima muka, ri sandiɳ lor mwaɳ daksina haji para ksatriya pinikh, sumantri darmmadyaksa ktan umarp / wetan atatha, harpnyarddalwa lwir nika sadawataniɳ lbuh agöɳ.
2. Rrika ngwan / cri nathan parahita maweh netrawisaya, hanan / praɳ tandiɳ praɳ pupuh ikan atembok kanin adu, akanjar len prp / mwaɳ matalitali moghandani ni suka, hanan pat / mwaɳ tri kaɳ dina lawasira çighran umulih.
3. Yyulih çri nathekaɳ bubat aspi panguɳnya dinawut, samanka taɳ praɳ tandin an inura mankin / sukhakara, ri panlwaɳniɳ cetra nrpatin umiwö çrama sahana, wineh wastra mwaɳ bhojana pada sukhan mamwit umulih.

Artinya:
1. Panggung berjajar membujur ke utara menghadap barat, Bagian utara dan selatan untuk raja dan arya, Para menteri dan dyaksa duduk teratur menghadap timur, Dengan pemandangan bebas luas sepanjang jalan raya.
2. Di situlah Baginda memberi rakyat santapan mata, Pertunjukan perang tanding, perang pukul, desuk-mendesuk, Perang keris, adu tinju, tarik tambang, menggembirakan, Sampai tiga empat hari lamanya baru selesai.
3. Seberangkat Baginda, sepi lagi, panggungnya dibongkar, Segala perlombaan bubar: rakyat pulang bergembira, Pada Caitra bulan petang Baginda menjamu para pemenang, Yang pulang menggondol pelbagai hadiah bukan pakaian.

Pupuh 88:

1. Salwir ikaɳ buyut / wadana teki tan wawan umantuk amwit i dalm, aryya ranadikara dinuluniɳ kadipati rin enjin umark, aryya mahadikara juru panca tanda pinakadi riɳ padlegan, rowan ikan padamwit i sdaɳ na- (131a) reçwara siran tinankil apupul.
2. Nkan pawuwus narecwara ri wenker ojar i parandyanadi wadana, e khita haywa tan tuhu susatya bhaktyasih aniwyanatha ri haji, sthitya khiteɳ kaweçyan i sinandane hajenaniɳ pradeça ya gnen, setu damargga wandira grhadi salwir ikanaɳ sukirtti pahayun.
3. Mukya nikaɳ gaga sawah asiɳ tinandur iɳ kawrddya raksan amern, yawat ikaɳ lmah pinakaramaken / pageha tanpa dadya waluha, hetu nikaɳ kulina tan atundunen amaradeça yan pataruka, naɳ pratigundalanya ya tuten / ri gonanikanaɳ pradeçan usirn.
4. Cri krtawarddaneçwara hamaywani kagenan iɳ pradeça gawayen, ndan wilanen mahanasar ikan pramadanika riɳ pjah çaçi sada, milwa ta yomapeksa hananiɳ duratmaka makadyanidra lawana, wrddyani drwya sang prabhu phalanya sadananiran / rumaksa bhuwana.
5. Cri nrpa tiktawilwanagareçwaranupasaman suminten amuwus, samya naranya rakwa kadadinya teki katkanya haywa wisamma, yan hana rajakaryya palawaɳ makadi nika tan hanan / nlwata, yan pa- (131b) sgeh muwah wruhanaha swadehanika samyalaksana gegen.

Artinya:
1. Segenap ketua desa dan wadana tetap tinggal, paginya mereka, Dipimpin Arya Ranadikara menghadap Baginda minta diri di pura, Bersama Arya Mahadikara, kepala pancatanda dan padelegan, Sri Baginda duduk di atas takhta, dihadap para abdi dan pembesar.
2. Berkatalah Sri Nata Wengker di hadapan para pembesar dan wadana: “Wahai, tunjukkan cinta serta setia baktimu kepada Baginda raja, Cintailah rakyat bawahanmu dan berusahalah memajukan dusunmu, Jembatan, jalan raya, beringin, bangunan dan candi supaya dibina.
3. Terutama dataran tinggi dan sawah, agar tetap subur, peliharalah, Perhatikan tanah rakyat, jangan sampai jatuh di tangan petani besar, Agar penduduk jangan sampai terusir dan mengungsi ke desa tetangga, Tepati segala peraturan untuk membuat desa bertambah besar”.
4. Sri Nata Kertawardhana setuju dengan anjuran memperbesar desa, “Harap dicatat nama penjahat dan pelanggaran setiap akhir bulan, Bantu pemeriksaan tempat durjana, terutama pelanggar susila, Agar bertambah kekayaan Baginda demi kesejahteraan negara”.
5. Kemudian bersabda Baginda Nata Wilwatikta memberi anjuran: “Para budiman yang berkunjung kemari, tidak boleh dihalang-halangi, Rajakarya, terutama bea-cukai, pelawang, supaya dilunasi, Jamuan kepada para tetamu budiman supaya diatur pantas”.

Pupuh 89:

1. Mwaɳ rasaniɳ pratigundala panadegirebu hajika tuten, enjina yan padananratnana sabhinuktinikan pasgeh, yan hana murkka tikaɳ sin-gehan agawe lara sahasika, tut sasinambat ika sinawakanika tajaraken / ri kami.
2. Apan ikaɳ pura len / swawisaya sinha lawan gahana, yan / rusakaɳ thani milwan akuran upajiwa tikaɳ nagara, yan taya bhrtya katon wayanika para nusa tkanrweka, etunikan / pada raksan apageha kalih phalaniɳ mawuwus.
3. Nahan ujarnira riɳ para wadana sahur nika sapranata, eka hatur nika tan / salah anuta saliɳ naranatha kabeh, mantry upapattyananankal athaca para handyan ateki mark, thog tumiban ghatita traya panadahireky apupul caritan.
4. Uttarapurwwa witanna kahananira çobha rinanga huwus, riɳ tri witana matut / padu mara wadanadyapupul / tinata, prapta tika tadah uttama wawan ika sarwwa suwarrnnamaya, çighra tika humarp / harpakn atitah ri harp / nrpati.
5. Lwirni (132a) tadahnira mesa mahisa wihaga mrga wök / madupa, mina lawan tikan andah ajarin aji lokapurana tinut, cwana kara krimi musika hilahila len / wiyuɳ nalpa dahat, çatrw awamana hurip / ksaya cala nika rakwa yadi purugen.

Artinya:
1. Undang-undang sejak pemerintahan ibunda harus ditaati, Hidangan makanan sepanjang hari harus dimasak pagi-pagi, Jika ada tamu loba tamak mengambil makanan, merugikan, Biar mengambilnya, tetapi laporkan namanya kepada saya.
2. Negara dan desa berhubungan rapat seperti singa dan hutan, Jika desa rusak, negara akan kekurangan bahan makanan, Kalau tidak ada tentara, negara lain mudah menyerang kita, Karenanya peliharalah keduanya, itu perintah saya!”
3. Begitu perintah Baginda kepada wadana, yang tunduk mengangguk, Sebagai tanda mereka sanggup mengindahkan perintah beliau, Menteri, upapati serta para pembesar menghadap bersama, Tepat pukul tiga mereka berkumpul untuk bersantap bersama.
4. Bangunan sebelah timur laut telah dihiaisi gilang cemerlang, Di tiga ruang para wadana duduk teratur menganut sudut, Santapan sedap mulai dihidangkan di atas dulang serba emas, Segera deretan depan berhadap-hadapan di muka Baginda.
5. Santapan terdiri dari daging kambing, kerbau, burung, rusa, madu, ikan, telur, domba, menurut adat agama dari zaman purba, Makanan pantangan: daging anjing, cacing, tikus, keledai dan katak, Jika dilanggar, mengakibatkan hinaan musuh, mati dan noda.

Pupuh 90:

1. Praptaɳ bhojana makadon rikaɳ wwan akweh, sankep sarwwarajatha bhojananya çobha, matsyasankya sahana rin (Bogen) darat / mwan i wwai, raprp / drak / rumawuh anut kramanuwartta.
2. Manduka krimi kara musika çrgala, kweh çakterika winahan tamahnya tusta, deni wwaɳ nika dudu riɳ sadeçadeça, sambeknyeki tinuwukhan / dumeh ya tusta.
3. Lwir niɳ pana surasa tan / pgat mawantu, twak nyu twak / çiwalan / harak hano kilaɳ brm, mwaɳ tampo sin adika taɳ hane harp / sök, sarwwa mas/ wawan ika dudw anekawarnna.
4. Rombeh mwaɳ guci tikanaɳ prakirrnna lumra, arddakweh sajen ika datwanekawarnna, tanpantyaɳ larih aliwer banun way adrs, sambeknyangapan umutah waneh byamoha.
5. Prahprah nrpatin aweh khasukan / pamukti, yan waɳ çakta pa- (132b) da pinaran / larihnya limpad, tan dadyamidi rin alah tlas kasenkwan, riɳ wwaɳ mana lagi werwer ginuywan.
6. Ramyaɳ gitada paniduɳ nikan maganti, kirtti çri nrpati linanwakenyan anras, mankin tusta san aninum / samenake twas, sowenyalaha wkasan maguywaguywan.

Artinya:
1. Dihidangkan santapan untuk orang banyak, Makanan serba banyak serta serba sedap, Berbagai-bagai ikan laut dan ikan tambak, Berderap cepat datang menurut acara.
2. Daging katak, cacing, keledai, tikus, anjing, Hanya dihidangkan kepada para penggemar, Karena asalnya dari pelbagai desa, Mereka diberi kegemaran, biar puas.
3. Mengalir pelbagai minuman keras segar, tuak nyiur, tal, arak kilang, brem, tuak rumbya, Itulah hidangan minuman yang utama, Wadahnya emas berbentuk aneka ragam.
4. Porong dan guci berdiri terpencar-pencar, Berisi minuman keras dari aneka bahan, Beredar putar seperti air yang mengalir, Yang gemar, minum sampai muntah serta mabuk.
5. Meluap jamuan Baginda dalam pesta, Hidangan mengalir menghampiri tetamu, Dengan sabar segala sikap diizinkan, Penyombong, pemabuk jadi buah gelak tawa.
6. Merdu merayu nyanyian para biduan, Melagukan puji-pujian Sri Baginda, Makin deras peminum melepaskan nafsu, Habis lalu waktu, berhenti gelak-gurau.

Pupuh 91:

1. Jurwiyanin / cucud saha buyut nikan amaceh maceh, prapta manrtta riɳ çwaran umambil i sadulur ika, solahulah nikamuhara guyw anukani lumihat, etunikhan wineh waçana taɳ para wadana kabeh.
2. Ri wkasan kinon / marka milwalariha ri harp, mantry upapatti kapwa dinulurnyan alarih aniduɳ, manhuri khandamohi paniduɳnira titir inalm, çri nrpatin widagda manulangapi rsp alanö.
3. Gita narendra maɳhlahlandani jner anani, mrak manawuwwan i padapa tulyanika rin alanö, lwir mmadu len / guladrawa rinok / rin amanis anener, wança maghasa tulyanika rin rs anuner i hati.
4. Haryya ranadikara lali yan hatur i narapati, haryya mahadikara ta dulur nika parn amuwus, an / para handyan apti miha- (133a) te siran arakherakhet, a juga linnira t-her umantuk / hadadadakan.
5. Cri krtawarddaneçwara mamanjaki si ra rumuhun, nkana rika witana ri tnah rinacana dinadak, çorinireki gitada lawan / tkesira rahajöɳ, sotan ulah karamyan ikanaɳ guyu juga winanun.
6. Ndaluwaran sireki ri dataɳ narapatin anadeg, gitaniranyat andani girahyasen in umulat, çoranireki suçrama nirukti lituhayu waged, gi ta nikanhiribhirib aweh rsepanin umulat.
7. Cri naranatha tan sipi wagusnira tlas arasuk, asta tkesnirekin upabharyya rahayu sawala, tusnin amatya wança wicaksana tetes in ulah, etuniran pabanwal anibaken ucapan anne.
8. Naɳ nawanatya kapwa tinapaknira tinewekaken, asya makadi tan pat ikaɳ guyu parn aslur, mwaɳ karunamanun tanis aweh skel apuhara luh, etu nikaɳ tumon / pada kamanusan anenanen.
9. Sinhitin arkka linsir irika nrpatin atlasan, nka para handyan amwit umusap / ri padatala haji, liɳ nika muktapapa sinunan sukha kadi tan i rat, tan / wuwusen / stuti- (133b) nya haji sampun umulih hi dalm.

Artinya:
1. Pembesar daerah angin membadut dengan para lurah, Diikuti lagu, sambil bertandak memilih pasangan, Solah tingkahnya menarik gelak, menggelikan pandangan, Itulah sebabnya mereka memperoleh hadiah kain.
2. Disuruh menghadap Baginda, diajak minum bersama, Menteri upapati berurut minum bergilir menyanyi, Nyanyian Manghuri Kandamuhi dapat sorak pujian, Baginda berdiri, mengimbangi ikut melaras lagu.
3. Tercengang dan terharu hadirin mendengar swara merdu, Semerbak meriah bagai gelak merak di dahan kayu, Seperti madu bercampur dengan gula terlalu sedap manis, Resap mengharu kalbu bagai desiran buluh perindu.
4. Arya Ranadikara lupa bahwa Baginda berlagu, Bersama Arya Mahadikara mendadak berteriak, Bahwa para pembesar ingin beliau menari topeng, “Ya!” jawab beliau; segera masuk untuk persiapan.
5. Sri Kertawardana tampil ke depan menari panjak, Bergegas lekas panggung disiapkan di tengah mandapa, Sang permaisuri berhias jamang laras menyanyiakan lagu, Luk suaranya mengharu rindu, tingkahnya memikat hati.
6. Bubar mereka itu, ketika Sri Baginda keluar, Lagu rayuan Baginda bergetar menghanyutkan rasa, Diiringkan rayuan sang permaisuri rapi rupendah, Resap meremuk rasa merasuk tulang sungsum pendengar,
7. Sri Baginda warnawan telah mengenakan tampuk topeng, Delapan pengiringnya di belakang, bagus, bergas pantas, Keturunan arya, bijak, cerdas, sopan tingkah lakunya, Itulah sebabnya banyolannya selalu tepat kena.
8. Tari sembilan orang telah dimulai dengan banyolan, Gelak tawa terus-menerus, sampai perut kaku beku, Babak yang sedih meraih tangis, mengaduk haru dan rindu, Tepat mengenai sasaran, menghanyutkan hati penonton.
9. Silam matahari waktu lingsir, perayaan berakhir, Para pembesar minta diri mencium duli paduka, Katanya: “Lenyap duka oleh suka, hilang dari bumi!”, Terlangkahi pujian Baginda waktu masuk istana.

Pupuh 92:

1. Manka tinkahiran/ pamukti sukha riɳ pura tumkani sestiniɳ manah, tatahhan lara dahat/ ndatan malupa riɳ kaparahitan i haywaniɳ praja, anwam/ tapwana kabwatan sira tathapi sugata sakalan/ maharddika, deniɳ jñana wiçesa çudda pamademnira ri kuhakaniɳ duratmaka.
2. Ndatan mahuwusan kawiryyanira len/ wibhawanira dudug/ rin ambara, singih çri girinathamurtti makhajanma ri siran agawe jagaddita, byakta manguh upadrawawihan i sajñanira manasar iɳ samahita, moktan kleça keta katona nuniweh wuwusana tika saɳ sada mark.
3. Nahan hetuni kottaman/ nrpat kaprakaçitaɳ pinujiɳ jagattraya, sakwehniɳ jana madyamottama kanista pada mujaraken/ çwarastuti, anhiɳ sotnika mogha langen atuwuh wukira sira panöbaniɳ sarat, astwanirwa lawas/ bhatara rawicandrama sumelh i bhumimandala.

Artinya:
1. Begitulah suka mulia Baginda raja di pura, tercapai segala cita, Terang Baginda sangat memperhatikan kesejahteraan rakyat dan negara, Meskipun masih muda, dengan suka rela berlaku bagai titisan Buddha, Dengan laku utama beliau memadamkan api kejahatan durjana.
2. Terus membumbung ke angkasa kemashuran dan keperwiraan Sri Baginda, Sungguh beliau titisan Batara Girinata untuk menjaga buwana (bumi), Hilang dosanya orang yang dipandang, dan musnah letanya abdi yang disapa.
3. Itulah sebabnya keluhuran beliau mashur terpuji di tiga jagad, Semua orang tinggi, sedang, dan rendah menuturkan kata-kata pujian, Serta berdoa agar Baginda tetap subur bagai gunung tempat berlindung, Berusia panjang sebagai bulan dan matahari cemerlang menerangi bumi.

Pupuh 93:

1. Sakweh saɳ panditan anyadarani maniket kastawan/ çri narendra, çri buddaditya saɳ bhikswagaway i sira bhogawwali (134a) çloka kirnna, riɳ jambudwipa tongwanira manaran i kañcipuri sadwihara, mwaɳ saɳ wipranaran/ çri mutali sahrdayawat/ stuti çloka çudda.
2. Astam/ saɳ panditeɳ bhumi jawa saha saɳ çastradaksatiwijña, kapwagostyaniket/ çloka hana wacawacan/ ngwanirekin pamarnna, mukya mungwiɳ praçasti stutni nrpati tkap/ saɳ sudarmmopapatti, saɳ wruh rin gita giteniketiran aniket/ stotra lumreɳ puri jro.

Artinya:
1. Semua pendeta dari tanah asing menggubah pujian Baginda, Sang pendeta Buddhaditya menggubah rangkaian seloka Bogawali, Tempat tumpah darahnya Kancipuri di Sadwihara di Jambudwipa (India), Brahmana Sri Mutali Saherdaya menggubah pujian seloka indah.
2. Begitu pula para pendeta di Jawa, pujangga, sarjana sastra, Bersama-sama merumpaka seloka puja sastra untuk nyanyian, Yang terpenting puja sastra di prasasti, gubahan upapati Sudarma, Berupa kakawin, hanya boleh diperdengarkan di dalam istana.

Pupuh 94:

1. Ambek saɳ maparab/ prapañca kapitut/ mihat i parakawiçwareɳ pura, milwamarnna ri kastawanrpati dura panikt ika lumra riɳ sabha, anhiɳ stutya i jöɳ bhatara girinatha patnanika mogha sanmatan, tan len/ prartthana haywaniɳ bhuwana mukya ri pageha narendra riɳ praja.
2. Riɳ çakadri gajaryyamaçwayujamasa çubhadiwaça purnnacandrama, nka hingan/ rakawin/ pamarnnana khadigwijayanira narendra riɳ praja, kwehnin deça riniñci donika minustaka manarana deçawarnnana, pangil/ panhwata sanmata nrpati mengeta rin alawas atpadeɳ lanö.
3. Nirwya teki lawasnira çrin aniket/ kakawin awtu bhasa riɳ karas, tembeyanya ça- (134b) kabda pinrwanika lamban i tlas ika parwwa sagara, nahan teki caturtthi bhismaçaranantya nika sugataparwwa warnnana, lambaɳ mwaɳ çakakala taɳ winaluyan gatinikan ameweh turuɳ pgat.
4. Donyan mankana wrddya yan panikete haji kathamapi tan tame lanö, göɳ bhaktyasih anatha hetunikapaksa tumuta san umastawe haji, çloka mwan kakawin kiduɳ stuti nike haji makamuka deçawarnnana, nhiɳ tohnyeki wilajja niçcaya yadin guyuguyun apa deya lampunen.

Artinya:
1. Mendengar pujian para pujanggga pura bergetar mencakar udara, Prapanca bangkit turut memuji Baginda, meski tak akan sampai pura, Maksud pujiannya, agar Baginda gembira jika mendengar gubahannya, Berdoa demi kesejahteraan negara, terutama Baginda dan rakyat.
2. Tahun Saka gunung gajah budi dan janma (1287) bulan Aswina hari purnama, Siaplah kakawin pujaan tentang perjalanan jaya keliling negara, Segenap desa tersusun dalam rangkaian, pantas disebut Desawarnana, Dengan maksud, agar Baginda ingat jika membaca hikmat kalimat.
3. Sia-sia lama bertekun menggubah kakawin menyurat di atas daun lontar, Yang pertama “Tahun Saka”, yang kedua “Lambang” kemudian “Parwasagara”, Berikut yang keempat “Bismacarana”, akhirnya cerita“Sugataparwa”, Lambang dan Tahun Saka masih akan diteruskan, sebab memang belum siap.
4. Meskipun tidak semahir para pujangga di dalam menggubah kakawin (puisi, syair), Terdorong cinta bakti kepada Baginda, ikut membuat puja sastra, Berupa karya kakawin, sederhana tentang rangkaian sejarah desa, Apa boleh buat harus berkorban rasa, pasti akan ditertawakan.

Pupuh 95:

1. Purih in awan/ lanenalh in adyah akikuk i dusun, artu kuraɳ prahasana kumul kuna rin ujar arum, dugaduga satya sadu juga sih lalis ika matilar, mapa karikapa don wruh ika riɳ smarawidi wiphala.
2. Karananikanapih wisaya tan/ karaktan in ulah, wuta tuli tan/ wru lagrininalh nin alara katilar, pawarawarah mahamuni duduga rin-gep i hati, pijer aniwö kriyadwaya matanya tan umur atilar.
3. Ikas ika tan/ pahi mwan atapen giriwana manusup, agaway umah pahoman asnöt/ jnek amati tutur, kamala na-(135a) tarnya len asana tanduran ika maruhur, kamalasana ywa nama ni sampun alawas amatek.

Artinya:
1. Nasib badan dihina oleh para bangsawan, canggung tingggal di dusun, Hati gundah kurang senang, sedih, rugi tidak mendengar ujar…. manis, Teman karib dan orang budiman meningggalkan tanpa belas kasihan, Apa gunanya mengenal ajaran kasih, jika tidak diamalkan?.
2. Karena kemewahan berlimpah, tidak ada minat untuk beramal, Buta, tuli, tak nampak sinar memancar dalam kesedihan, kesepian, Seyogyanya ajaran sang Mahamuni diserapkan bagai pegangan, Mengharapkan kasih yang tak kunjung datang, akan membawa mati muda.
3. Segera ber-tapa brata di lereng gunung, masuk ke dalam hutan, Membuat rumah dan tempat persajian di tempat sepi dan ber-tapa, Halaman rumah ditanami pohon kamala, asana, tinggi-tinggi, Memang Kamalasana nama dukuhnya sudah sejak lama dikenal.

Pupuh 96:

1. Prapañca pracacah pañca, pracacad/ pocapan/ ceced, prapöɳpöɳ pipi pucce prm, pracoɳcoɳ cet pacehpaceh.
2. Tan/ tata tita tuten, tan tetes/ tan tut iɳ tutur, titik/ tantri tateɳ tatwa, tutun/ tamtam/ titir ttitih.

Artinya:
1. Prapanca itu pra lima buah, Cirinya: cakapnya lucu, Pipinya sembab, matanya ngeliyap, gelaknya terbahak-bahak.
2. Terlalu kurang ajar, tidak pantas ditiru, Bodoh, tak menurut ajaran tutur, Carilah pimpinan yang baik dalam tatwa, Pantasnya ia dipukul berulang kali.

Pupuh 97:

1. Samalan/ pu winadaprih, prih dana wipulan/ masa, tama san/ çara riɳ gatya, tyaga riɳ rasa sanmata.
2. Yaça saɳ winadanunsi, sinuɳ dana wisançaya, yan aweh magawe tibra, brati wega maweh naya.
3. Mataruɳ tuhu wanyapraɳ, praɳnya wahhu turuɳ tama, masa lingara çunya prih, prihnya çura galiɳ sama.

Artinya:
1. Ingin menyamai Mpu Winada, Mengumpulkan harta benda, Akhirnya hidup sengsara, Tapi tetap tinggal tenang.
2. Winada mengejar jasa, Tanpa ragu uang dibagi, Terus ber-tapa brata, Mendapat pimpinan hidup.
3. Sungguh handal dalam yuda, Yudanya belum selesai, Ingin mencapai Nirwana, Jadi pahlawan pertapa.

Pupuh 98:

Yan bwat para kawi maparab/ winadan atapa brata krta juga rin-gep, maitryasih in alulut upeksa riɳ huwus awarsih ariris in ulah, tyage sukha wibhawa yatan katemwa sakahananika nukhani saphala, tatan hunina mihat i solahiɳ para winada cinala ri ni dalm.

Artinya:
Beratlah bagi para pujangga menyamai Winada, bertekun dalam tapa, membalas dengan cinta kasih perbuatan mereka yang senang, menghina orang-orang yang puas dalam ketenangan dan menjauhkan diri dari segala tingkah, menjauhkan diri dari kesukaan dan kewibawaan dengan harapan akan memperoleh faedah, segan meniru perbuatan mereka yang dicacat dan dicela di dalam pura.

*****

Demikianlah sekilas tentang kitab Negarakertagama yang ditulis oleh seorang Dang Acarya Nadendra yang bernama samaran Mpu Prapanca. Sebuah mahakarya dari leluhur kita sebagai dharma bhakti-nya kepada nusa dan bangsanya. Sehingga sebagai generasi penerus, kita harus bangga dengan karya cipta leluhur ini. Dan sekarang perlu untuk turut menghayati serta mengambil pelajaran yang berharga. Tujuannya tentu untuk kebaikan dan kemajuan bangsa kita; Nusantara dimasa yang akan datang. Jangan pernah melupakan sejarah dan akar diri bangsa kita sendiri, sebab itu hanya akan merugikan dan bahkan menghancurkan.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Rahayu bagio.. _/|\_

Jambi, 17 Agustus 2017
Harunata-Ra

[Disarikan dari berbagai sumber dengan beberapa pengembangannya]

 

Iklan

Penulis:

Saya orangnya apa adanya... dan untuk lebih jelasnya silahkan baca di halaman "Tentang_ku" pada blog ini.

16 tanggapan untuk “Kitab Negarakertagama: Naskah Asli dan Terjemahannya

    1. Ya begitulah faktanya mbak, istilah Pancasila itu sebenarnya sudah dikenal dimasa Majapahit dulu, bangsa kita khususnya bung Karno tentu sgt terinspirasi oleh kitab Negarakertagama itu..

      Hanya saja Pancasila yg dimaksudkan oleh Mpu Prapanca akan sedikit berbeda dg Pancasila versi kita skr. Karena ia beragama Buddha, Mpu Prapanca lalu menggunakan ajaran kitab Tri Pitaka sebagai dasar pemahaman ttg Pancasila yg ia tuliskan di kitab Negarakertagama itu. Adapun yang beliau maksudkan dari Pancasila di kitab itu yaitu:

      1. Panatipada veramani sikhapadam samadiyani, artinya jangan mencabut nyawa makhluk hidup atau dilarang membunuh.
      2. Dinna dana veramani shikapadam samadiyani, artinya jangan mengambil barang yang tidak diberikan. Maksudnya dilarang mencuri.
      3. Kameshu micchacara veramani shikapadam samadiyani, artinya jangan berbuat zina.
      4. Musawada veramani shikapadam samadiyani, artinya jangan berkata bohong atau dilarang berdusta.
      5. Sura merayu masjja pamada tikana veramani, artinya janganlah minum-minuman yang memabukkan.

      Oke mbak Widya, sekali lagi terima kasih karena masih mau berkunjung, semoga ttp bermanfaat.. 🙂

  1. pancasila negara RI bukan lain hanyalah untuk menutupi kejelekan negara lain untuk sukses menghancurkan memecahbelah kedaulatan negeri ini, seiring ditinggalkanya orang orang hebat negeri ini tak bisa disebut negeri lagi
    ada satu negeri dalang dari kerusakan semua ini

  2. Mas Oedi………..
    Sang Empu yang menulis buku NegaraKertagama saya anggap orang yang sudah mumpuni di bidang sastra, sudah nyata karyanya, dengan piranti apa adanya mampu menuangkan gagasan/ide brilian pada jaman itu. Sudah sepatutnya kita yang keturunannya menjaga karya jerih payahnya ini tanpa keraguan lagi. Terjawab sudah bahwa nenek moyang kita bukan orang bodoh, tapi orang GENIUS. Suatu saat lambat atau cepat orang akan mencari jatidirinya masing-masing karena sudah bosan dengan kebohongan.
    Salam…….. Rahayu, Rahayu, Rahayu…..

    1. Salam Rahayu juga mas Suto, terima kasih utk kunjungannya, semoga bermanfaat.. 🙂

      Tentunya mas Suto, maklumlah beliau kan seorang tokoh besar agama Buddha di zaman Majapahit, pastinya sgt menguasai sastra dan ilmunya mumpuni banget.. Tak perlu di ragukan lagi deh, bisa konyol namanya..

      Betul tuh mas, kita skr emang harus berbangga dan melestarikan apa yg pernah mrk gagas dulu, ambillah sisi baiknya utk kebaikan hidup di masa skr. Jadilah bangsa Nusantara yg sebenarnya dg kembali meresapi warisan leluhur yg Waskita..

  3. Mas oedi kira kira bisa gak atau ada gak referensi perjalanan patih gajah mada ke Kalimantan Barat di kerajaan mempawah bertemu Patih Gumantar, dan memberikan Hadiah Keris di ceritakan mereka berdua pernah bersama sama ke negeri gajah putih untuk menagkis serangan khu bilai khan

  4. malam mas.. saya mau tanya ini sumber dari mana, karena untuk tugas blog speerti ini tidak bisa digunakan sebagai referensi.. mesti situs resmi :”) arti dari karya ini adalah yang saya cari, namun saya tidak menemukannya di tempat lain. terima kasih. sukses terus..

    1. Terima kasih udah berkunjung, semoga bermanfaat.. ☺🙏

      Hmm.. ya kalo menurut mbak Alvi gak bisa jadi referensi, silahkan aja ke blog ato website lain.. Dan kalo perlu langsung aja ke Perpustakaan Pusat di Jakarta, karena disana tersimpan naskah aslinya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s