Jenis Elemen, Makhluk dan Dimensi Kehidupan

Wahai saudaraku. Kali ini saya akan sedikit menjelaskan secara umum tentang sesuatu yang tak umum dan semoga bisa menjawab apa yang terbilang khusus. Dan pengetahuan ini bersifat universal, berlaku bagi siapapun. Khususnya bagi mereka yang mau belajar dan ingin terus menambah wawasannya. Sebab ilmu itu sifatnya tak terbatas. Selalu ada yang baru atau yang lain disaat kita mau terus mencarinya.

Ya. Perlu dipahami dulu bahwa ada begitu banyak jenis ciptaan Tuhan di dunia ini, semuanya beragam dan unik. Yang diketahui secara umum kini hanyalah secuilnya saja. Sebab, alam semesta seperti tempat tinggal kita sekarang ini tidak hanya ada satu. Langit “tingkat pertama” itu sangatlah luas ukurannya dan secara umum baru diketahui sebagian kecilnya saja. Dibawah kolong langit itu ada banyak alam semesta, setidaknya ada 6 buah alam semesta lain yang setara dengan tempat tinggal kita, bahkan lebih. Di setiap alam semesta itu tentu ada banyak galaksi, planet dan makhluk lain yang hidup di dalamnya. Mereka juga harus menjalani takdir Tuhan seperti halnya kita. Tetap harus memilih antara patuh atau membangkang perintah Tuhan. Tapi semua pribadi juga telah diberikan hak pilih dan kebebasan untuk itu, samalah dengan kita manusia. Dan nanti pun tinggal menanggung konsekuensi dari setiap pilihan yang telah ia ambil, sama pula dengan kita.

Lanjutkan membaca “Jenis Elemen, Makhluk dan Dimensi Kehidupan”

Negeri di Balik Kabut

keindahan kabutWahai saudaraku. Di ujung timur bagian selatan negeri ini ada kota dibalik kabut misteri. Posisinya tidak ada di dalam peta dunia masa kini. Tapi disana ada hamparan rumput hijau yang berlanjut ke dalam hutan permai. Hutan rimba itu beratapkan dahan dan cabang-cabang pohon yang membentuk balairung. Batang-batang pohonnya berdiri tegak bagaikan pilar-pilar yang teramat kokoh.

Kalau engkau bisa kesana, kau akan melihat jalan yang berliku, datar dan juga mendaki. Dibalik cahaya yang temaram, siapapun akan melangkah dalam keheningan yang damai. Bahkan para peri bisa berjalan tanpa suara dan bunyi langkah kaki. Dan ketika kau melihat hutan di kedua sisi yang semakin rapat, jalan pun akan semakin menurun, menuju lembah yang indah. Untuk bisa sampai ke lembah itu, kau harus melewati lipatan bukit dan melalui semak perdu dan hamparan bunga warna-warni yang mewangi.

Lanjutkan membaca “Negeri di Balik Kabut”

Agenda Pendakian Gn. Merbabu (3142 Mdpl)

Setelah kurang lebih 5 tahun, akhirnya saya bisa kembali lagi ke puncak Merbabu melalui jalur Selo, Boyolali, Jateng. Perjalanan kali ini sudah pasti berbeda kesannya dari pendakian sebelumnya. Sungguh banyak kenangan dan keindahan yang di dapatkan selama pendakian ini. Tersasar karena cuaca yang berkabut tebal sebelum bisa tiba di basecamp (karena sudah sedikit lupa, di tambah cuaca yang berkabut tebal dengan jarak pandang cuma 3 meter, sehingga tidak ada patokan untuk lokasi arah basecamp, di tambah lagi memang basecampnya jauh sekali dari jalan raya), bertemu 5 teman kuliah dulu (Xploit), di hantam badai dan hujan deras sempat kami rasakan. Membuat pendakian kali ini sangat berkesan dan mengingatkan waktu pendakian di Gn. Sumbing, tahun 2007 lalu.

Lanjutkan membaca “Agenda Pendakian Gn. Merbabu (3142 Mdpl)”

Agenda Pendakian Puncak Merapi (2965 Mdpl) 08-09 Mei 2010

Siang itu sekitar jam 13.00 WIB dan ketika saya sedang bersantai, teman satu kosan  (Dika) mengajak saya untuk mendaki gunung Merapi. Saya pun langsung menanggapi dengan berkata “Ayo, berangkat…”. Tidak ada keraguan karena inilah waktu yang di tunggu-tunggu setelah terakhir kesana di tahun 2004. Dan sore itu juga kamipun langsung berangkat menuju gunung Merapi.

Lanjutkan membaca “Agenda Pendakian Puncak Merapi (2965 Mdpl) 08-09 Mei 2010”

Agenda Perjalanan Gunung Lawu (07-09 Maret 2009)

lawu-7-9-mare-09-28 lawu-7-9-mare-09-13 lawu-7-9-mare-09-3

lawu-7-9-mare-09-5 lawu-7-9-mare-09-20 lawu-7-9-mare-09-16

lawu-7-9-mare-09-10 lawu-7-9-mare-09-21 lawu-7-9-mare-09-14 lawu-7-9-mare-09-27

Dalam mengisi waktu liburan dan sekaligus melepas kerinduan akan alam pegunungan, kuhabiskan waktu tiga hari di gunung Lawu. Perjalananku kali ini kalau tidak salah adalah yang kali kedelapannya. Sungguh penuh dengan makna keindahan yang agung.

 07 Maret 2009:
1. Berangkat dari Jogja, jam: 09.00
2. Tiba di basecamb depan masjid An-Nuur, jam: 12.30
3. Istirahat, makan siang, jam: 13.30
4. Shalat, packing, jam: 14.00
5. Mulai jalan jam: 14.30
6. Bayar (@ 5000×2), mengurus perizinan, jam: 14.33
7. Streaching, jam: 14.35
8. Mulai mendaki, jam: 15.00
9. Tiba di pos bayangan 1, jam: 15.20 (istirahat, buat minuman energi)
10. Tiba di pos 1, jam: 16.16 (istirahat, minum)
11. Tiba di pos 2, jam: 18.15
12. Istirahat, shalat magrib, jam: 18.15-18.30
13. Masak kopi dan mie, jam: 18.45-20.27
14. Ngobrol-ngobrol dengan pendaki dari Semarang, Madiun, Solo, Jakarta, Ponorogo, jam: 20-30
15. Packing ulang, jam: 20.35
16. Shalat Isya, jam: 21.07
17. Mulai jalan menuju pos 3, jam: 21.20
18. Tiba di pos 3, jam: 23.15

 08 Maret 2009:
1. Tiba di pos 5, jam: 01.05
2. Tiba di sendang drajat, jam: 01.35
3. Istirahat dan makan buah pir, jam: 01.35-03.55
4. Menuju puncak, jam: 04.00
5. Tiba di puncak, jam: 04.26
6. Foto-foto sunrise di puncak, jam: 05.00
7. Mulai turun, jam: 05.55
8. Singgah di sebuah pendopo, jam: 06.25
9. Tiba di sendang drajat lagi, jam: 06.40
10. Ambil air dan kenalan dengan pendaki wanita dari klaten, jam: 06.40-07.00
11. Tiba di pos 5, jam: 07.25
12. Mendirikan dome, jam: 07.30
13. Memasak nasi, sup, sarden, goren tempe krispi, jam 07.45
14. Makan siang, jam 09.55
15. Istirahat, jam: 10.15
16. Hujan sangat deras, jam 12.05
17. Kebanjiran (tenda sedikit bocor dan air menggenangi bagian bawah tenda dome), jam 12.22
18. Memperbaiki dome, jam: 15.00
19. Ngobrol, diskusi dan makan mie kriyuk, jam: 15.45
20. Menikmati penorama sore yang cerah dan foto-foto, jam: 16.40
21. Makan malam dan buah pir, jam: 19.00
22. Ngobrol dan diskusi, jam: 19.15-20.30
23. Istirahat, jam: 20.15
24. Tidur, jam:

 09 Maret 2009:
1. Menikmati panorama dan foto-foto, jam: 05.00-07.30
2. Sarapan pagi (mie+sosis, sarden), jam: 07.40
3. Packing, jam: 08.50
4. Streaching, jam: 09.30
5. Mulai beranjak turun, jam: 09.45
6. Tiba di pos 3, jam: 10.30
7. Tiba di pos 2, jam: 11.57 (istirahat+ nelpon)
8. Mulai jalan menuju pos 1, jam: 12.05
9. Berhenti karena harus memperbaiki tali carrier yang hampir putus dengan cara menjahitnya menggunakan jarum dan benang yang telah dipersiapkan, jam: 12.50-12.58
10. Tiba di basecamb, jam: 13.00
11. Istirahat dan beli syal, jam 13.15
12. Mulai beranjak pulang, jam: 13.30
13. Berhenti untuk memakai jas hujan, jam: 14.06
14. Berhenti untuk mengambil uang di ATM, jam: 14.52
15. Berhenti untuk memperbaiki motor di bengkel, jam: 15.00
16. Beranjak pulang, jam: 15.15
17. Berhenti di SPBU untuk mengisi bensin, jam: 16.22
18. Tiba di Jogja (minum di burjo), jam: 17.20

Sebuah perjalanan mendaki gunung yang dilakukan berdua saja dan dalam kondisi sangat santai dan bersahaja. Ini adalah perjalanan yang sangat berbeda dari sebelumya karena disini kami banyak berbagi dan berdiskusi tentang banyak hal. Tidak ada batasan dan tentunya banyak pula hikmah dan pelajaran yang dapat diambil.

Pelaku: Oedi`, Dika

Tuban versi Yamaha Jupiter

tuban-3 tuban-1 tuban-4

Pada waktu itu tgl 31 Desember 2008 jam 14.30 aku bersama seorang saudara beranjak menuju Kab. Tuban (Jatim) dengan mengendarai sepeda motor Yamaha Jupiter. Perjalanan mengendarai motor kali ini adalah perjalanan keduaku setelah sebelumnya dengan mengendarai sepeda moto Merzy (Kawasaki Binter) adalahJarak yang akan kami tempuh sekitar lebih kurang 300 Km, kira-kira 7 jam perjalanan. Cukup sekali untuk membuat badan jadi pegel-pegel. Bagiku perjalanan kali ini sangat menarik karena ada banyak kejadian dan peristiwa serta pengalama baru yang didapatkan. Dan tentunya berbeda dengan ketika mengendarai sepeda motor Marzy (Kawasaki Binter).
Perlahan kami mulai meninggalkan kota Jogja, berawal dari tempat kos temanku itu yang berada di kaliurang Km 9, kemudian melewati arah stadion sepakbola Sleman terus ke arah Klaten. Setiba di Kab. Klaten ternyata hujan rintik-rintik telah menyambut kami dan lama-kelamaan menjadi agak sedikit deras, hingga setibanya di Kab. Sukoharjo hujan yang menemani kami dari sebelumnya menjadi semakin deras. Kamipun memutuskan untuk berhenti dan menggunakan ponco (jas hujan). Namun satu hal yang membuat kebingungan karena ternyata si sahabat tidak membawa jas miliknya padahal sebelumnya aku sudah memperingatkan untuk membawanya karena cemas akan hujan.
Dalam perjalanan kali ini kami banyak berhentinya karena cuaca yang tidak bersahabat karena hujan dan kami sendiri cuma membawa satu jas hujan. Satu tempat yang lama sekali kami berhenti disana, kami berhenti lebih kurang satu jam karena hujan yang sangat deras sekali disertai angin kencang sehingga memaksa kami untuk berhenti.
Setelah hujan mereda kamipun kembali melanjutkan perjalanan. Sekali lagi kami harus berhenti lama karena ban motor bagian belakang bocor yang disebabkan bagian sambungan ban dalamnya robek kecil sehingga terpaksa harus di tambal padahal kondisi nhari sudah gelap alias malam, untu. Untung saja tidak jauh dari dari kami berhenti di awal terdapat tempat tambal ban. Setelah kurang lebih 1 jam kami menunggu akhirnya ban siap untuk di perjalankan lagi dan kamipun sigap berangkat terus menuju Tuban.
Setiba di Tuban jam menunjukkan pukul 11-an, Setelah sebentar berbasa basi (ngobrol) akupun menuju tempat tidur untuk mengistirahatkan tubuh yang letih karena perjalanan yang panjang itu.
Esok paginya tanggal 01 Januari 2009 aku dan bersama temanku dan keluarganya (Bapak, Adik dan Sepupu) berangkat ke satu daerah yang sangat menarik untuk diceritak dan sepertinya ini yang menjadi kesan mendalam selama liburan ke Tuban kali ini. Pagi itu setelah memanaskan motor kamipun beranjak menuju tempat tujuan. Tempat yang kami tuju kali ini adalah sebuah desa di Kab. Bojonegoro. Perjalanannya sekitar 30 menit dari rumah sahabatku. dan untuk bisa tiba ditujuan maka sebelumnya tak lupa kamipun harus menyeberangi sungai Bengawan Solo yang terkenal itu dengan menaiki Getek (perahu penyebrangan). Motor yang dikendarai harus naik ke Getek ini karena ini adalah sarana transportasi yang ada disana. Tidak ada jembatan yang menghubungi daerah itu dari dunia luar.
Tujuan kami kesana adalah untuk urut (pijat) dan yang berkeinginan untuk itu adalah sahabatku itu. Selain itu hajat lain adalah untuk soan kepada seorang ulama yang ada disana untuk meminta bimbingan dan nasehat yang berguna untuk hari depan temanku itu.
Setelah semua akhitvitas di Tuban dirasa cukup kamipun beranjak untuk kembali ke Jogjakarta. Sebenarnya ingin sekali diri ini berlama-lama disana tetapi ada beberapa hal dan pekerjaan yang harus juga menjadi prioritas dan tanggungjawan untuk diselesaikan. Sehingga dengan cukup terpaksa kamipun harus pulang ke jogjakarta pada tanggal 02 Januari 2009.
“Sebuah perjalanan yang sungguh membuatku cinta akan negeri ini”

[Mengingat sebuah kenangan indah perjalanan maka kutuliskan kisah ini]