Kaum Hilbatar: Perang Dunia dan Kejayaan Nusantara

Wahai saudaraku. Pada periode zaman ke enam manusia (Nusanta-Ra), maka sebelum masa kehidupan Nabi Musa AS, hiduplah kaum yang dulunya tinggal di sekitar Jambi-Palembang sekarang. Kaum tersebut bernama Hilbatar, yang didirikan oleh sekelompok orang yang berasal dari kaum sebelumnya yang bernama Artamia. Sebelum tinggal di Swarnula (penamaan tanah Sumatera waktu itu), dulunya mereka tinggal di sekitar Semarang sekarang, di kerajaan Druwakati. Akibat perang besar yang menghancurkan kerajaan Druwakati, mereka tersebar ke berbagai negeri. Salah satunya adalah mereka yang akhirnya tinggal di Swarnula, atau lebih tepatnya di sekitar wilayah Jambi-Palembang sekarang. Lambat laun di tempat baru itu mereka mendirikan kaum dan kerajaan yang baru yang bernama Hilbatar.

Lanjutkan membaca “Kaum Hilbatar: Perang Dunia dan Kejayaan Nusantara”

Kaum Artamia: Bangkit dan Hancurnya Leluhurku

Wahai saudaraku. Pada masa-masa awal periode zaman ke-6 (Nusanta-Ra), atau sekitar ±800.000 tahun silam, hiduplah sekelompok masyarakat yang tinggal di sekitar Jawa Timur sekarang. Mereka ini di antara manusia yang selamat dari bencana dahsyat pada saat transisi zaman sebelumnya. Atas bimbingan seorang Nabi yang bernama Awila AS, mereka pun kembali membangun peradaban yang maju.

Dalam sejarahnya, mereka ini berasal dari kaum yang sebelumnya tinggal di sekitar pulau Sulawesi bagian barat sekarang. Nama kaum tersebut adalah Karimala dan sudah hidup disana selama 1 juta tahun lebih. Namun menjelang masa transisi zaman ke-5 (Dwipanta-Ra) menuju ke zaman ke-6 (Nusanta-Ra), mereka lalu mendapatkan informasi bahwa zaman akan segera berganti baru. Yang memberi kabar saat itu adalah seorang Maharesi yang bernama Ranatasya. Melalui begawan itu pula kaum Karimala ini mendapatkan petunjuk tentang apa yang harus mereka lakukan sebagai persiapan untuk menghadapi bencana dahsyat itu. Karena mau dengan sadar diri mengikuti setiap petunjuk dari Maharesi Ranatasya, akhirnya mereka bisa selamat pada saat pemurnian total sedang terjadi di muka Bumi. Selanjutnya, di kemudian hari mereka mengganti nama kaumnya menjadi Artamia. Semua hanya atas petunjuk Tuhan melalui seorang utusan-Nya yang bernama Awila AS.

Lanjutkan membaca “Kaum Artamia: Bangkit dan Hancurnya Leluhurku”

Jalan Keikhlasan

Siapa dirimu wahai manusia ketika telah mengatakan sudah ikhlas dalam menjalani kehidupan ini? Apakah masih tetap sebagai manusia, atau justru sudah berubah menjadi syaitan? Jika masih merasa sebagai manusia, maka apakah dirimu telah berlaku sebagaimana manusia? Jika tidak, maka apa saja yang kau lakukan? Bukankah seharusnya kita selalu menjadi manusia dalam hidup ini?

Inilah sebenarnya ikhlas yang ku maksudkan. Karena bagaimana seseorang bisa dikatakan telah ikhlas jika saja ia tidak lagi berlaku sebagai manusia? Sebab, manusia itu adalah makhluk yang sempurna dalam penciptaannya, yang tentunya lengkap dengan sikap dan perbuatannya. Salah satunya adalah keikhlasan. Dimana ketika ia masih sebagai manusia, maka ia pun akan senang melakukannya – tanpa berubah dan terlepas dari sikap pamrih dan pamer – di setiap waktu. Jika tidak, berarti ia bukan lagi seorang manusia, tetapi syaitan.

Lanjutkan membaca “Jalan Keikhlasan”

Jenis Elemen, Makhluk dan Dimensi Kehidupan

Wahai saudaraku. Kali ini saya akan sedikit menjelaskan secara umum tentang sesuatu yang tak umum dan semoga bisa menjawab apa yang terbilang khusus. Dan pengetahuan ini bersifat universal, berlaku bagi siapapun. Khususnya bagi mereka yang mau belajar dan ingin terus menambah wawasannya. Sebab ilmu itu sifatnya tak terbatas. Selalu ada yang baru atau yang lain disaat kita mau terus mencarinya.

Ya. Perlu dipahami dulu bahwa ada begitu banyak jenis ciptaan Tuhan di dunia ini, semuanya beragam dan unik. Yang diketahui secara umum kini hanyalah secuilnya saja. Sebab, alam semesta seperti tempat tinggal kita sekarang ini tidak hanya ada satu. Langit “tingkat pertama” itu sangatlah luas ukurannya dan secara umum baru diketahui sebagian kecilnya saja. Dibawah kolong langit itu ada banyak alam semesta, setidaknya ada 6 buah alam semesta lain yang setara dengan tempat tinggal kita, bahkan lebih. Di setiap alam semesta itu tentu ada banyak galaksi, planet dan makhluk lain yang hidup di dalamnya. Mereka juga harus menjalani takdir Tuhan seperti halnya kita. Tetap harus memilih antara patuh atau membangkang perintah Tuhan. Tapi semua pribadi juga telah diberikan hak pilih dan kebebasan untuk itu, samalah dengan kita manusia. Dan nanti pun tinggal menanggung konsekuensi dari setiap pilihan yang telah ia ambil, sama pula dengan kita.

Lanjutkan membaca “Jenis Elemen, Makhluk dan Dimensi Kehidupan”

Armudaya: Kebangkitan dan Kehancuran Leluhurku

Wahai saudaraku. Ada banyak kehidupan yang telah dilalui oleh umat manusia. Sejak zaman pertama (Purwa Duksina-Ra), maka telah begitu banyak jenis peradaban manusia yang bangkit dan hancur secara bergantian. Semua hanya mengikuti hukum sebab akibat yang telah ditetapkan oleh Hyang Aruta (Tuhan YME) bagi kehidupan dunia fana ini. Tak ada yang bisa mengubah atau pun menundanya walau sesaat. Semuanya hanya akan mengikuti dengan mutlak disertai dengan hak pilih yang melekat pada setiap pribadi.

Di akhir periode zaman ke empat (Swarganta-Ra) atau sekitar 250 juta tahun silam, tersebutlah sebuah wilayah yang sangat istimewa di muka Bumi ini. Dulu ia diberi nama Mellayur atau yang berarti permata surga. Mellayur di zaman dahulu adalah nama untuk semua wilayah di antara Simadala (Samudera Hindia) dan Gwisadala (Samudera Pasifik). Orang sekarang menyebutnya dengan Nusantara, dan pada saat itu masih berupa satu daratan yang sangat luas. Di bagian selatan, kawasan ini dibatasi oleh lautan luas yang bernama Dailaka. Lautan ini sangat luas dan bertemu langsung dengan satu benua yang terasing bagi manusia. [Tentang periode zaman manusia, silahkan Anda baca: Revolusi dan perubahan dunia]

Lanjutkan membaca “Armudaya: Kebangkitan dan Kehancuran Leluhurku”

Nan’an si ului da Khalifah

Ya harsun. Anan vu ari anien dar lou dehi sal bigana. Ar meleth ga nida lea siba rif antu sifala. Peronen drul wisy mahiris ea nehat vra wirsa hulhule Bhumi yal eksan tinen. Awirel u sivu ne leja turiel vuru sush mehera. Vi unduna le admin to nel du ruha Jawi las Swarna hi Makiram din limas tur jaru. Gligan sinte res maqi siel mae ti ngiel tavaaru. Tel mear di suruu mendel se edur ifuin Nusanta-Ra sul hema usinda hime. Fu naenol mashe tun hunse vrudil san pesvin nurursil. Lanjutkan membaca “Nan’an si ului da Khalifah”

Diri Manusia Itu?

Wahai saudaraku. Mari kita membahas lebih dalam tentang diri manusia yang sebenarnya. Ini sangat penting, mengingat telah banyak yang melupakannya, bahkan tidak pernah tahu sama sekali. Dengan membahas tentang hal ini, setidaknya kita diingatkan kembali tentang siapakah diri kita sesungguhnya dan apa tujuan kita hidup di dunia ini. Harapannya tentu demi kebaikan dan kesempurnaan kita sendiri.

Manusia, sosok makhluk yang tinggal di alam raya ini yang harus membuktikan kemanusiaannya sendiri. Sebelum bisa, ia harus terlebih dulu memahami siapakah dirinya sendiri. Dengan pengetahuan itulah, ia baru akan hidup sebagai pribadi yang utuh dan menjadi manusia yang sejati. Tanpa hal itu, ia takkan jauh berbeda dengan sebongkah batu yang tak pernah bergerak. Mati sebelum waktunya.

Lanjutkan membaca “Diri Manusia Itu?”