Armudaya: Kebangkitan dan Kehancuran Leluhurku

Wahai saudaraku. Ada banyak kehidupan yang telah dilalui oleh umat manusia. Sejak zaman pertama (Purwa Duksina-Ra), maka telah begitu banyak jenis peradaban manusia yang bangkit dan hancur secara bergantian. Semua hanya mengikuti hukum sebab akibat yang telah ditetapkan oleh Hyang Aruta (Tuhan YME) bagi kehidupan dunia fana ini. Tak ada yang bisa mengubah atau pun menundanya walau sesaat. Semuanya hanya akan mengikuti dengan mutlak disertai dengan hak pilih yang melekat pada setiap pribadi.

Di akhir periode zaman ketiga (Swarganta-Ra) atau sekitar 250 juta tahun silam, tersebutlah sebuah wilayah yang sangat istimewa di muka Bumi ini. Dulu ia diberi nama Mellayur atau yang berarti permata surga. Mellayur di zaman dahulu adalah nama untuk semua wilayah di antara Simadala (Samudera Hindia) dan Gwisadala (Samudera Pasifik). Orang sekarang menyebutnya dengan Nusantara, dan pada saat itu masih berupa satu daratan yang sangat luas. Di bagian selatan, kawasan ini dibatasi oleh lautan luas yang bernama Dailaka. Lautan ini sangat luas dan bertemu langsung dengan satu benua yang terasing bagi manusia. [Tentang periode zaman manusia, silahkan Anda baca: Revolusi dan perubahan dunia]

Lanjutkan membaca “Armudaya: Kebangkitan dan Kehancuran Leluhurku”

Nan’an si ului da Khalifah

Ya harsun. Anan vu ari anien dar lou dehi sal bigana. Ar meleth ga nida lea siba rif antu sifala. Peronen drul wisy mahiris ea nehat vra wirsa hulhule Bhumi yal eksan tinen. Awirel u sivu ne leja turiel vuru sush mehera. Vi unduna le admin to nel du ruha Jawi las Swarna hi Makiram din limas tur jaru. Gligan sinte res maqi siel mae ti ngiel tavaaru. Tel mear di suruu mendel se edur ifuin Nusanta-Ra sul hema usinda hime. Fu naenol mashe tun hunse vrudil san pesvin nurursil. Lanjutkan membaca “Nan’an si ului da Khalifah”

Diri Manusia Itu?

Wahai saudaraku. Mari kita membahas lebih dalam tentang diri manusia yang sebenarnya. Ini sangat penting, mengingat telah banyak yang melupakannya, bahkan tidak pernah tahu sama sekali. Dengan membahas tentang hal ini, setidaknya kita diingatkan kembali tentang siapakah diri kita sesungguhnya dan apa tujuan kita hidup di dunia ini. Harapannya tentu demi kebaikan dan kesempurnaan kita sendiri.

Manusia, sosok makhluk yang tinggal di alam raya ini yang harus membuktikan kemanusiaannya sendiri. Sebelum bisa, ia harus terlebih dulu memahami siapakah dirinya sendiri. Dengan pengetahuan itulah, ia baru akan hidup sebagai pribadi yang utuh dan menjadi manusia yang sejati. Tanpa hal itu, ia takkan jauh berbeda dengan sebongkah batu yang tak pernah bergerak. Mati sebelum waktunya.

Lanjutkan membaca “Diri Manusia Itu?”

Revolusi dan Perubahan Dunia

Wahai saudaraku. Manusia telah hidup dalam banyak periode zaman. Dari awalnya dulu, maka sudah terdapat enam zaman yang pernah dilaluinya. Dan kini, kita sedang hidup di periode zaman ke-7 atau yang disebut dengan zaman Rupanta-Ra. Setiap periode zaman itu memiliki batas waktunya sendiri. Ada yang berlangsung selama milyaran tahun, tapi ada pula yang hanya sebatas jutaan tahun bahkan selama ribuan tahun saja. Dan sesuai dengan informasi yang telah kami dapatkan, maka periode zaman Rupanta-Ra ini sudah berlangsung sekitar 7.000 tahun lebih. Mungkin tak lama lagi akan berakhir.

Setiap periode zaman memiliki karakter dan model kehidupan yang berbeda. Segala yang hidup didalamnya pun saling berlainan di antara periode zaman yang berlangsung. Apa yang terjadi di satu periode zaman, tak bisa pula dijadikan patokan (standar) utama bagi kehidupan yang berlangsung di periode zaman lainnya. Setiap periode zamannya itu punya ciri khas, kelebihan dan kekurangannya sendiri. Dan semuanya itu sudah diatur dengan sangat teratur oleh Sang Maha Pencipta, sesuai pula dengan kebutuhan dan kondisi dari hamba-Nya pada masa itu.

Lanjutkan membaca “Revolusi dan Perubahan Dunia”

Candi Prambanan: Kisah Cinta Yang Terlupakan

Wahai saudaraku. Tanpa mengurangi rasa hormatku kepada para ahli sejarah dan arkeolog, sudah waktunya ku sampaikan kisah tentang berdirinya Candi Prambanan. Memang bangunan candi yang megah ini sudah tidak asing lagi bagi rakyat Nusantara, khususnya orang Jawa. Karena siapa yang tidak tahu tentang kisah pembangunan seribu candi hanya dalam semalam itu? Dan meskipun telah terkubur selama berabad-abad, akhirnya bisa ditemukan kembali pada sekitar tahun 1733 oleh CA. Lons, seorang yang berkebangsaan Belanda.

Lanjutkan membaca “Candi Prambanan: Kisah Cinta Yang Terlupakan”

Rumah Dengan 5 Pintu Keindahan

home-2Pada suatu ketika, ada seorang pemuda yang sedang ber-tahanuts (nyepi) di tengah hutan. Namanya adalah Ruhilas, dan bukan yang pertama kalinya ia menyendiri dari keramaian manusia. Selain ber-tahanuts, ia juga sering ber-uzlah (mengasingkan diri). Tujuannya saat itu adalah untuk menemukan pencerahan batin. Karena hanya dengan begitu, ia pun bisa merasakan arti hidup yang sebenarnya. Dan untuk yang kali ini, maka sudah terhitung 3 tahun lebih Ruhilas menyendiri. Kebiasaan itu ia lakukan di sela-sela urusan duniawinya. Pada setiap selang satu tahun sekali, Ruhilas akan kembali menyendiri, menjauh dari kesibukan duniawi.

Suatu ketika, Ruhilas pun sedang berjalan-jalan di hutan yang ada di lereng gunung Arhima. Setelah cukup lama berjalan, ia pun beristirahat dibawah sebuah pohon yang rindang yang ada di sebidang tanah yang cukup datar. Saat asyik beristirahat, secara tak sengaja Ruhilas melihat ada semacam pintu besar tepat di arah depannya. Makin lama pintu itu terlihat jelas, bahkan lengkap dengan bangunan rumah sederhana yang tak berpenghuni. Karena rasa penasaran, Ruhilas pun mendekati bangunan itu. Saat mendekat, tiba-tiba pintu kayu rumah itu pun terbuka. Tanpa menunggu lagi, sang pemuda pun memasukinya dengan terlebih dulu mengucapkan salam.

Lanjutkan membaca “Rumah Dengan 5 Pintu Keindahan”

Dinasti Arhilatara: Kebangkitan Kaum Mahusta

animasiWahai Saudaraku. Pada masa pertengahan periode zaman ke-5 (Dwipanta-Ra) atau sekitar ±95.000.000 tahun yang lalu, hiduplah sebuah kaum yang bernama Mahusta. Dulu mereka tinggal di sebelah barat daya pulau Sumatera (kini berada di Samudera Hindia), tepat di sekitar pesisir lautan saat itu. Dulu wilayah itu masih berupa daratan yang sangat luas dan menyatu dengan pulau Jawa dan Sumatera sekarang. Bahkan semua wilayah Nusantara saat itu masih menyatu dengan daratan Asia, dan apa yang kita sebut sekarang dengan Laut China selatan masih belum ada, sebab disana masih terhampar luas hutan dan lembah. Di seputaran wilayah itu, hidup pula beberapa kaum atau kerajaan dengan saling berdampingan. Tetapi karena mendapat azab dari Tuhan, sebagian wilayah tersebut akhirnya tenggelam dan sekarang menjadi lautan yang luas.

Lanjutkan membaca “Dinasti Arhilatara: Kebangkitan Kaum Mahusta”