Tapa Brata Leluhurku

Wahai saudaraku. Sebagian dari kita tentu sudah tidak asing lagi dengan istilah tapa brata. Kegiatan ini dulu banyak di lakukan oleh para leluhur kita, di berbagai strata sosial. Tujuannya bisa saja bermacam-macam, sesuai dengan niat yang bersangkutan. Hanya saja kemudian hakekat dari tapa brata itu sendiri telah bergeser atau sering disalahartikan. Baik oleh mereka yang tak memahami atau bahkan anti terhadap kegiatan ini, juga oleh para pelaku tapa brata itu sendiri.

Mungkin banyak yang merasa hal ini tidak penting, terlebih kita sekarang hidup di masa kecanggihan teknologi. Tapi perlu diketahui, bahwa tapa brata itu tidak kuno dan tidak pula berarti memundurkan peradaban. Pada masa lalu justru tapa brata ini berhasil meningkatkan peradaban manusia ke jenjang yang tertinggi. Manusia yang rutin ber-tapa brata – secara benar – terbukti memiliki wawasan yang luas dan berilmu tinggi. Sebab makna tapa brata itu sendiri jauh lebih esensi dan mendalam bagi kehidupan manusia. Tidak memandang ras, bangsa dan keyakinan yang dianut. Karena tapa brata yang sejati itu bersifat universal dan berlaku bagi siapapun dengan tujuan kebaikan dan kemuliaan.

Untuk lebih jelasnya tentang tapa brata ini, mari ikuti uraian berikut:

1. Pengertian tapa brata
Secara bahasa, kata “tapa” berarti pengekangan diri, sementara kata “brata” dapat diartikan disiplin (tata cara) tertentu. Sehingga bila disimpulkan dari keduanya, maka arti dari istilah “tapa brata” itu sendiri adalah pengekangan diri dengan disiplin (tata cara) tertentu alias khusus. Inilah inti dan maksud sebenarnya dari kegiatan tapa brata itu.

Tapi dalam hal ini, tapa brata itu juga bisa berarti tindakan untuk “mematikan” keinginan ragawi untuk bisa menemukan titik ketenangan ruhani yang paling inti. Atau dengan kata lain, tapa brata itu adalah sesuatu yang di lakukan untuk bisa meningkatkan kualitas kemanusiaan seseorang ke tingkat yang tertinggi. Karena itulah, seorang yang melaksanakan tapa brata akan memperoleh penyucian diri dan pencerahan batin. Tapi sebelumnya harus dilandasi dengan niat yang tulus dan keimanan yang mantap. Dengan begitu, keberadaan Hyang Aruta (Tuhan YME) yang sejati baru akan bisa dirasakan dengan nyata. Dan inilah tujuan sebenarnya dari tapa brata, bukan untuk kesaktian dan bukan pula untuk kekuatan.

Jadi, tapa brata itu adalah suatu upaya untuk meningkatkan daya pemusatan batin ke arah Tuhan YME untuk tujuan kesempurnaan hidup manusia itu sendiri; jasmani dan rohaninya. Karena di dalam tapa brata, seseorang akan bisa melakukan penjernihan batin yang dimulai dengan mengasah pikiran positif, rasa empati dan emosi yang terkontrol untuk menciptakan ketenangan batin yang sesungguhnya. Sehingga keinginan daging atau hasrat jasmani menjadi berkurang, sementara spirit (roh) dalam diri seseorang menjadi lebih kuat. Apabila seseorang memiliki spirit (roh) yang kuat, maka banyak hal yang bisa di lakukan, bahkan yang diluar kebiasaan. Hidupnya juga akan lebih terarah dan bahagia.

2. Sejarah tapa brata
Pada mulanya tidak ada yang mengenal apa itu istilah tapa brata. Itu terjadi karena pada masa sebelum munculnya bahasa Sanskerta, orang-orang memang sudah mengenal kegiatan sejenis “tapa brata“, tapi dalam istilah yang lain. Setiap bangsa yang ada punya istilahnya sendiri-sendiri di setiap zamannya. Adapun di antara istilah-istilah tapa brata di masa lalu (sebelum adanya bahasa Sanskerta) adalah seperti Ham, Mohal, Gamor, Syalta, Joaz, Dangke, Brintamu, Erruda, Kossin, Neltata, dll. Hampir setiap bangsa punya penamaan sendiri, dan jika bahasanya berbeda, tentu mereka pun memiliki istilah yang berbeda tentang kegiatan ini.

Lalu, mengenai siapakah orang yang pertama kali mengajarkan tapa brata ini? maka jawabannya adalah Ayahanda Adam AS sendiri sebagai bapaknya umat manusia. Pada masa itu, kegiatan semacam tapa brata ini disebut dengan Samhu dan hanya bertujuan untuk ibadah sekaligus mengenal diri sendiri dan Tuhan YME. Tidak ada urusannya dengan mencari kekuatan dan kesaktian, sebab generasi pertama manusia saat itu sudah sakti dengan sendirinya. Jika mereka ingin meningkatkan kemampuannya, maka ada pelajaran lain yang khusus diberikan oleh Ayahanda Adam AS. Begitulah Tuhan memberikan kelebihan dan anugerah kepada mereka, yang tak diberikan lagi kepada generasi setelahnya. Bahkan pada masa itu, ritual ibadah yang diajarkan memang seperti sedang ber-tapa brata dengan sikap duduk bersila pada waktu subuh dan magrib. Dalam ibadah itu, seseorang dituntut untuk terus bersyukur, berserah diri kepada Tuhan, merenungi keagungan-Nya dan menggali lebih dalam tentang siapakah dirinya sendiri. Hal semacam itu terus di lakukan minimal dua kali sehari, sampai batas waktu seseorang harus meninggalkan dunia fana ini (wafat atau moksa).

Ritual ibadah seperti di atas terus berlangsung selama milyaran tahun. Selama itu, umat manusia tetap melaksanakan Samhu sesuai dengan pakem (aturan baku) yang diberikan oleh Ayahanda Adam AS. Dan barulah sejak pertengahan periode zaman pertama (Purwa Duksina-Ra) itu mulai berubah karena manusia mulai semakin banyak kehilangan kesaktian dan kemampuannya. Mereka baru bisa membangkitkan setiap kekuatan dan kesaktian mereka lagi setelah melakukan latihan khusus, tidak bisa dengan muncul sendiri. Pada saat itulah, tujuan dari Samhu atau tapa brata mulai bertambah. Tidak hanya untuk ibadah dan mengenal diri sendiri dan Tuhannya, tetapi sekaligus untuk membangkitkan kemampaun diri yang tersembunyi. Sosok yang mengajarkannya pun adalah keturunan utama (yang terbaik) dari Ayahanda Adam AS, yang kemudian dikenal dengan istilah para Nabi dan Rosul. Mereka mendapatkan wahyu dari Tuhan untuk mengajarkan kaumnya tentang beberapa hal yang terkait dengan usaha untuk meningkatkan kemampuan dirinya – kita sekarang menyebutnya kesaktian. Di masa berikutnya, tugas pengajaran itu dilanjutkan oleh para bijak bestari (Maharesi, Resi, dan Syekh). Begitulah model dan karakter kehidupan di masa itu. Tentu berbeda sekali dengan sekarang.

Hal di atas berlangsung selama milyaran tahun dan berlanjut dari kaum ke kaum yang ada di masanya. Sampai pada akhirnya dunia memasuki masa transisi zaman dengan diturunkannya azab berupa bencana banjir bah yang menenggelamkan hampir semua daratan di Bumi saat itu. Setelah bencana besar itu berakhir, maka sebagai utusan Tuhan dan setelah kehidupan manusia mulai tertata kembali, Nabi Nuh AS lalu mengajarkan tentang tapa brata yang pada saat itu disebut dengan Ham. Dan sebagaimana leluhurnya dulu, yaitu Ayahanda Adam AS, maka Ham disini tetap berdasarkan pada tujuan utama yaitu untuk terus bersyukur, berserah diri kepada Tuhan, merenungi keagungan-Nya dan menggali lebih dalam tentang siapakah dirinya sendiri. Hanya saja, berdasarkan perintah Tuhan pula, pada masa itu Ham ini pada akhirnya juga berguna untuk meningkatkan kekuatan, kemampuan dan kesaktian diri. Beliau lalu diperintahkan untuk menjabarkan dan mengajarkan ilmu khusus untuk meningkatkan kemampuan diri manusia dengan jalan ber-tapa brata. Jadi, bisa dikatakan sejak masa inilah tapa brata yang dikenali sampai sekarang bermula. Apapun bentuk dan jenis tapa brata yang ada di masa sekarang, semuanya berpangkal dari apa yang pernah diajarkan oleh Nabi Nuh AS dulu.

3. Memahami tapa brata
Untuk bisa memahami apa itu tapa brata yang sebenarnya, maka seseorang harus terlebih dulu memahami siapakah dirinya sendiri. Dan untuk lebih bisa memahami dirinya, maka ia juga harus terlebih dulu memahami siapakah Penciptanya. Karena itulah, para leluhur kita dulu, ketika mereka ingin menjalankan tapa brata, mereka sudah mendalami dulu apa itu kehidupan yang sejati, siapakah dirinya sendiri dan siapakah Tuhannya. Hal ini tidak bisa diabaikan agar tapa brata yang ia lakukan benar dan berhasil.

Para leluhur kita percaya bahwa ada satu kekuatan Adikodrati Tunggal yang tidak hanya menjadi pusat dari segala kehidupan, tetapi juga yang menciptakan kehidupan itu sendiri. Dan sebelum semuanya terjadi, maka DIA-lah yang pertama kali ada, bahkan DIA itu adalah yang tanpa awal dan akhir, tak ada duanya dan tak ada pula yang sebanding dengan DIA. Inilah kenapa kemudian DIA itu lalu disebut sebagai Yang Maha Esa dan Berkuasa. Dan sebenarnya ada begitu banyak istilah yang pernah diberikan untuk DIA Yang Maha Agung itu, untuk menyebutkan hakekat DIRI-NYA, tapi disini kami hanya akan menggunakan salah satunya saja, yaitu Hyang Aruta (Tuhan YME).

Sebagai Sang Maha Pencipta, DIA juga bertindak sebagai pengatur, penjaga dan segala sesuatunya bisa terjadi hanya atas izin dan kehendak-NYA saja. Karena itu, menurut para leluhur kita dulu maka DIA pun menjadi pusat dari segala sesuatu, sebab DIA adalah sumber yang memberikan penghidupan, kekuatan, dan keseimbangan. Dan sudah menjadi keharusan bagi setiap manusia untuk berusaha terhubung dengan-NYA demi mencapai harmoni yang indah. Jika seseorang sudah mencapai tahapan ini, maka ia baru bisa dikatakan telah berserah diri sepenuhnya dalam hidup. Inilah hamba Tuhan yang sejati, karena telah menyadari betul tentang kedudukan/posisi dirinya sendiri.

Ya. Awalnya DIA yang tak terjangkau oleh pikiran dan imajinasi itu menciptakan Hu (hanya sebatas ini yang bisa kami sampaikan disini), dan dari “napas” Hu itu kemudian muncullah Waktu yang merupakan wadah yang maha besar. Sebelum Waktu memiliki isinya, maka tak ada apa-apa kecuali suwung (kekosongan). Hyang Aruta (Tuhan YME) memanglah DIRI yang sejatinya menciptakan Waktu, tapi pada kala itu – pada awalnya – belum ada apa-apa di dalam Waktu tersebut kecuali suwung (kekosongan). Atas kehendak-NYA, barulah sifat-sifat hidup dari Hyang Aruta (Tuhan YME) sendiri yaitu Hillah (tak berwujud), Nahillah (berwujud-tak berwujud), dan Manuhillah (berwujud) lalu mewujud dalam “getaran” yang terjadi terus menerus. Akibat dari “getaran” itu, maka muncullah lima “elemen” (hanya kata ini yang bisa kami berikan/padu padankan), yaitu:

1. Elemen biru -> muncul dari sifat Hillah (tak berwujud)
2. Elemen hitam -> muncul dari sifat Hillah (tak berwujud)
3. Elemen merah -> muncul dari sifat Nahillah (berwujud-tak berwujud)
4. Elemen kuning -> muncul dari sifat Nahillah (berwujud-tak berwujud)
5. Elemen hijau -> muncul dari sifat Manuhillah (berwujud)

Ke lima “elemen” tersebut juga ikut “bergetar” selama waktu yang ditentukan-NYA, sampai pada akhirnya melahirkan elemen ke enam yang berwarna putih. Elemen ini lalu diberi nama Nur (cahaya). Nur inilah inti atau cikal bakal atau bahan dasar dari semua penciptaan, juga segala isi yang berada di dalam Waktu. Dari percikannya, maka hadirlah Syurga, Neraka, Langit, Alam Semesta, Dimensi, Galaksi, planet-planet, bintang-bintang lama dan baru, dan makhluk hidup lainnya. Semuanya dengan kondisi yang beragam, punya ciri khas dan keunikannya sendiri. Dan tentu, semuanya itu tetap dalam pengaturan-NYA yang sempurna.

Demikianlah kehidupan makhluk itu bermula hingga sekarang. Dari waktu ke waktu, semuanya berjalan sesuai dengan kehendak Sang Maha Pencipta. Sadar atau tidak, menerima atau tidak, semuanya akan tetap seperti itu. Sebab DIA adalah Penguasa yang tak bisa dihindari atau dipengaruhi. Serendah atau setinggi apapun pemahaman seorang makhluk, maka tak ada yang bisa menyaingi ilmu dan kebijaksanaan-NYA. DIA-lah Penguasa meskipun tak lagi diakui secara sadar oleh seseorang.

Selanjutnya, setelah para leluhur dulu memahami tentang siapakah Tuhannya dan bagaimana diri mereka berasal (melalui Nur itu), mereka lalu mempelajari tentang siapakah dirinya sendiri. Dan sesuai dengan ilmu yang telah mereka dapatkan, maka manusia itu pastilah diciptakan oleh Hyang Aruta (Tuhan YME) melalui perantara Nur dan mempunyai tiga unsur, yaitu:

1. Wujud jasmani (badan kasar/jasad)
2. Wujud jiwa (badan halus/ruh)
3. Wujud cahaya (suksma atau nur)

Ketiga hal tersebut adalah satu kesatuan di dalam diri manusia dan berasal dari kehendak Hyang Aruta (Tuhan YME) melalui perantara Nur (elemen ke enam di atas) yang merupakan cikal bakal atau asal usulnya. Tidak mungkin muncul dengan sendirinya tanpa ada yang mengatur atau menciptakannya. Semua bisa terjadi hanya karena ada satu kekuatan Adikodrati Tunggal yang telah menghendaki dan mengaturnya dengan sempurna.

Lalu, untuk lebih memahami lagi tentang diri manusia, maka para leluhur kita dulu juga telah mendapatkan pengetahuan tentang sejatinya diri manusia itu. Salah satunya tentang apa yang sekarang masih dikenal dengan istilah Sedulur Papat Kalimo Pancer. Apakah ini sebenarnya? adalah sebagai berikut:

Pada mulanya tidak ada istilah Sedulur Papat Kalimo Pancer itu, karena istilah yang semacam ini baru muncul sejak masa akhir kerajaan Majapahit (sekitar abad 15-16 Masehi), mengikuti bahasa yang ada pada masa itu. Meskipun konotasinya sama, maka sebelum itu tentu punya nama atau sudah ada istilahnya sendiri. Di kesempatan ini saya akan menggunakan istilah Milhayas, sebagaimana yang pernah digunakan pada masa kehidupan kaum Nabi Nuh AS pasca peristiwa banjir bah. Dan beliau pula orang yang pertama kali memperkenalkan kembali pengetahuan ini kepada manusia disaat mereka harus memulai kehidupannya dari awal lagi.

Dalam ilmu Milhayas itu, dijelaskan bahwa eksistensi diri manusia itu bukan sebatas yang terlihat mata saja (kasat mata). Meskipun telah dipahami bahwa manusia itu terdiri dari unsur jasmani dan ruhani, maka itu pun belum cukup untuk bisa menjelaskan tentang diri manusia yang sebenarnya. Karena itu, di dalam ilmu Milhayas disebutkan ada empat saudara atau lebih tepatnya empat bagian diri manusia yang tersembunyi yang selalu menyertai dimana saja dan kapan saja ia berada, selama ia masih hidup di dunia ini. Ke empatnya memang tak kasat mata (berwujud halus), tapi mereka ditugaskan oleh kekuatan alam semesta untuk dengan setia membantu yang bersangkutan – dengan catatan jika yang bersangkutan sudah bisa berkoneksi. Mereka memang tidak memiliki bentuk fisik jasmani, tetapi sebenarnya punya kekuatan yang menakjubkan. Hanya saja, perlu pengetahuan dan usaha yang khusus untuk bisa memanfaatkannya. Dan terlebih dulu, seseorang itu harus sudah mengenali mereka dengan baik dan mempunyai hubungan yang serasi dengan mereka.

Ke empat sosok itu memiliki nama, warna, bentuk-wujud, dan tempat (lokasi, posisi) keberadaannya sendiri. Ada banyak istilah untuk itu, dan lantaran protap yang ada, maka mengenai ilmu Milhayas ini tidak bisa saya jelaskan lebih detil lagi disini. Tapi jika Anda penasaran, silahkan cari sendiri di Google, misalnya dengan menggunakan kata kunci “sedulur papat kalimo pancer“. Penjabaran tentang ilmu itu, di beberapa laman yang ada, memiliki beberapa kesamaan dengan ilmu Milhayas. Atau setidaknya bisa memberi gambaran kepada Anda tentang siapakah ke empat sosok tersebut.

Catatan: Sengaja tidak kami jabarkan tentang detil ke empat sosok itu karena kami masih sangat menghormati tradisi dalam menuntut ilmu yang diwariskan oleh para leluhur. Sebab untuk meraih ilmu yang mumpuni itu seseorang memang harus berusaha maksimal, tidak bisa dengan cara yang instan. Orang dulu, bahkan harus mencari guru sampai jauh ke dalam hutan atau ke lereng gunung. Disana mereka pun harus nyantrik selama beberapa tahun untuk bisa mendapatkan ilmu dari orang yang bijak. Karenanya, ilmu yang didapatkan pun luar biasa, karena telah belajar dengan sabar dan tekun langsung dengan orang yang waskita. Dan memang seharusnya beberapa ilmu itu tetap harus dirahasiakan, dan kalau ingin diberikan maka sebaiknya dengan cara yang terbatas pula. Tidak etis kalau disebarkan seenaknya atau tanpa batasan. Dan akan lebih baik lagi jika langsung belajar dan dibimbing oleh seorang guru yang mumpuni. Agar makna dan tujuan dari ilmu itu sendiri tetap terjaga, tidak disalahgunakan atau disalahartikan.

Mari kita lanjutkan. Sesuai dengan fungsinya – yang menjelaskan tentang empat bagian diri manusia, maka pada akhirnya kita harus tahu siapakah yang menjadi pusat atau intinya? Itulah diri kita sendiri, baik yang jasmani maupun ruhani. Diri kitalah yang menjadi komandan/pemimpin, dan sebenarnya bisa menyatukan empat bagian (disini berarti kekuatan yang tersembunyi) itu untuk menyempurnakan diri kita sendiri bahkan bisa untuk berbagai keperluan; seperti melihat jarak jauh, membaca isi hati orang, memahami semua bahasa manusia, dll. Dan ketika seseorang telah mengenali ke empat saudara atau ke empat bagian dirinya itu lalu disatukan dengan dirinya sendiri, itu artinya ia telah menjadi utuh. Ia telah mengenali dirinya sendiri. Karena itulah, dalam keilmuan Jawa lalu disebut dengan istilah “sedulur papat kalimo pancer“, atau yang berarti empat saudara (empat bagian diri) sedangkan yang menjadi pancernya (pusat, intinya) adalah diri seseorang itu sendiri. Ke empatnya itu ada karena diri seseorang pun ada. Tapi ke empat bagian itu baru akan terasa eksis setelah seseorang bisa mengenali dan berhubungan erat dengan mereka, ditambah lagi ia pun telah berhasil menyatukannya. Disinilah perlu pengetahuan dan latihan yang khusus. Salah satunya adalah dengan menguasai ilmu Milhayas, atau setidaknya dengan ilmu yang masih diketahui sekarang ini; seperti ilmu Sedulur papat kalimo pancer itu.

Jadi, sebelum melakukan tapa brata dengan benar, setidaknya seseorang itu sudah memahami dan mendalami apa saja yang telah dijelaskan di atas. Ini butuh waktu yang tidak sebentar dan ketekunan yang tidak mudah. Butuh proses pematangan diri dan kesabaran yang tinggi untuk bisa sampai pada tahap diri yang mengenal dirinya sendiri. Karena itulah, sempat ada orang bijak yang mengatakan bahwa sembah puja kepada Tuhan tidak akan berarti sebelum seseorang melalui tapa brata dengan benar. Tapa brata disini berarti keharusan untuk mengenal diri sejati dan Tuhan yang sebenarnya terlebih dulu. Karena pengertian dalam menyembah (sembahyang) kepada Tuhan Yang Maha Esa itu berarti juga menghormati dan memuja-NYA. Nah bagaimana seseorang bisa benar dalam menghormati atau memuja Tuhannya jika sebelumnya ia tak pernah mengenal DIA yang sejati, bahkan dirinya sendiri? Ini sesuatu yang sangat perlu diperhatikan oleh siapapun.

Namun, apakah dengan memahami yang dijelaskan di atas sudah benar-benar telah mengenali diri sendiri? Jawabannya belum. Karena seseorang juga harus memahami kekuatan tersembunyi lain yang ada di dalam dirinya. Salah satunya mengenai Chakra dan Kundalini. Tentang hal ini, mari ikuti uraian berikut ini:

Jika di atas kita sudah membahas tentang kekuatan yang berasal dari empat bagian diri manusia (dalam arti ini berasal dari luar tubuhnya), maka Chakra dan Kundalini disini adalah kekuatan yang tersembunyi di dalam tubuh seseorang. Lalu apa itu Kundalini? Kundalini berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti lingkaran atau gulungan. Kundalini adalah suatu kekuatan yang luar biasa yang dimiliki setiap orang yang letaknya di perineum; yaitu di antara anus dan kemaluan. Dalam keadaan tertidur, Kundalini berbentuk sebuah gulungan tiga setengah lingkaran dibawah tulang ekor. Saat bangkit, maka kundalini akan merambat ke atas melalui tulang ekor dan tulang punggung untuk mencapai puncak kepala (mahkota).

Saat merambat ke atas, kundalini akan melakukan pembersihan-pembersihan dari seluruh hambatan dan karma – yaitu akibat dari setiap interaksi dalam bentuk perbuatan ataupun pemikiran – termasuk yang berasal dari kehidupan di masa lalu. Apabila kundalini mencapai sebuah pusat energi eterik (chakra), chakra tersebut akan terbuka, dan kemampuan psikis dari Chakra tersebut mulai aktif. Proses kebangkitan kundalini ini bisa dikatakan sempurna setelah kundalini dapat membuka Chakra Mahkota. Sehingga jika ini bisa diteruskan, maka yang bersangkutan dapat mencapai pencerahan.

Perlu diketahui bahwa chakra berasal dari kata Sanskerta untuk “roda” atau “berpaling”. Dalam beberapa tradisi dan sistem kepercayaan lainnya, chakra ini merupakan pusat Prana atau akar kehidupan atau kekuatan hidup atau energi vital. Chakra akan sesuai dengan titik-titik penting dalam tubuh fisik yaitu pleksus utama arteri, vena, dan saraf. Karena itulah, membersihkan aliran chakra dan mengaktifkannya menjadi hal yang penting bagi kehidupan seseorang, khususnya demi kesehatan dan kekuatannya.

Jadi, pada saat seseorang membangkitkan kundalini-nya, itu artinya ia juga telah membuka satu persatu “pintu” chakra yang terdapat di dalam dirinya. Dengan bangkitnya kundalini, maka energi dari kundalini akan dapat dipergunakan untuk membersihkan jalur energi dan chakra-chakra secara menyeluruh. Dengan pembersihan yang maksimal pada jalur energi dan chakra-chakra, maka tubuh seseorang akan menjadi lebih bersih (sehat jasmani dan rohani), emosinya akan lebih terkontrol, kesadarannya akan terus meningkat dan hubungan kepada Tuhan akan jauh lebih baik (khusyuk). Bahkan di masa lalu, ketika seseorang telah berhasil membangkitkan kundalini dengan membersihkan semua aliran dan pintu-pintu chakra dalam dirinya, ditambah lagi dengan beberapa latihan dan mantra khusus, leluhur kita bisa mengendalikan elemen alam (tanah, api, air dan udara). Dan memang keutamaan dari chakra dan kundalini ini pada puncaknya bisa membuat seseorang bisa mengendalikan elemen alam.

Namun, pada saat inti kundalini mencapai chakra mahkota, energi inti yang naik masih kecil sekali sehingga energi kundalini yang dapat digunakan masih lemah. Meskipun energi kundalini yang dapat dipergunakan masih lemah, namun dapat membantu sedikit menyempurnakan kemampuan supranatural bagi orang-orang yang sudah mempunyai kemampuan tersebut. Bagi yang belum mempunyai kemampuan tersebut, ia harus melatihnya jika mempunyai keinginan untuk memilikinya. Dan kemampuan kewaskitaan (mata ketiga/mata batin) tidak tergantung dari kundalini, tetapi berasal dari latihan atau kekuatan batin sendiri.

Untuk itu, kemampuan dalam supranatural bermacam-macam dan harus dilatih satu persatu dengan objek meditasi yang berbeda sesuai dengan kemampuan supranatural yang di inginkan (terbang di udara, jalan di atas air, masuk ke bumi, hidup di dalam air, mengubah wujud, kemampuan mencipta, telepati, menghilang, dll). Hanya saja jika kundalini seseorang sudah pada tingkat sempurna, maka pelatihan untuk kemampuan supranatural apa saja akan menjadi sangat mudah.

Perlu diketahui juga bahwa pada saat energi kundalini sudah selebar tubuh seseorang, barulah seluruh bibit kemampuan supranatural akan bangkit dengan sempurna. Dan untuk melatih sampai ke tahap sempurnanya kundalini, memerlukan waktu yang lama dan amat tergantung dari bakat dan latihan seseorang. Pelatihan kundalini harus diarahkan ke spiritual atau pencarian Tuhan, tidak kepada tujuan untuk mengembangkan kekuatan supranatural, karena akan jadi berbahaya. Sekali seseorang yang mempunyai kekuatan supranatural berbuat jahat, maka ia sangat mudah untuk lebih banyak berbuat jahat lagi. Sehingga pada dasarnya pencapaian dalam kesempurnaan kundalini itu bukanlah pencerahan, tetapi baru pencapaian duniawi yang tertinggi dan harus dilanjutkan kepada pencapaian yang ada di luar duniawi atau sebuah pencerahan. Siapapun yang belum mencapai tingkat pencapaian luar duniawi (pencerahan), maka ia masih mempunyai ego. Jadi tidak benar bahwa jika inti kundalini seseorang sudah mencapai cakra mahkota maka ia pun telah mencapai pencerahan, karena itu bahkan masih awalnya saja. Disinilah arti pentingnya melakukan tapa brata sesuai dengan penjelasan di atas.

Ya. Di India dan China banyak orang yang meninggalkan kehidupan normalnya dan mengkhususkan diri dalam kehidupan spiritual. Mereka berusaha membangkitkan kundalini dengan melakukan berbagai latihan yang sungguh-sungguh. Orang-orang ini melakukan latihan-latihan teratur – salah satunya dengan meditasi – dalam waktu yang cukup panjang sampai puluhan tahun. Namun yang berhasil amatlah sedikit lantaran tujuan mereka hanya untuk kesaktian saja dan bukan mencapai Tuhan. Sehingga, orang-orang pada masa kini banyak yang menganggap bahwa kundalini pada masa silam itu hanyalah semacam legenda. Tetapi zaman pun telah berubah, dan nanti, di zaman yang baru (Hasmurata-Ra), maka kebangkitan kundalini ini akan dapat dicapai kembali, bahkan dengan cara yang lebih mudah. Mengapa bisa begitu? Karena nanti akan ada orang bijak dan maha guru yang bisa mengajarkannya dengan benar.

4. Tata cara tapa brata
Tapa brata juga bisa diartikan mengekang hawa nafsu atau upaya mengurangi kebiasaan kita sehari-hari. Biasanya yang dikurangi adalah volume makan, minum, tidur, syahwat serta kebiasaan kita sehari-hari seperti kebiasaan ngopi, merokok atau ngemil. Hal semacam ini dalam makna tapa brata maka harus di lakukan terus menerus dalam kurun waktu tertentu atau selamanya, tergantung niat awalnya. Sedangkan tujuan dari tapa brata itu sendiri adalah mengasah diri seseorang untuk menuju kesempurnaan. Semakin lama dan tekun ia ber-tapa brata, maka kesempurnaan itu kian tercapai.

Selain itu, manfaat yang dapat diperoleh dengan melakukan tapa brata di antaranya untuk mendapatkan ketenangan  dan keselamatan dalam hidup ini, memohon kepada Tuhan untuk diberikan kemudahan dalam melakukan tujuan tertentu dan mencapai tingkatan hidup yang lebih baik dari sebelumnya. Karena itu, kondisi tapa brata yang benar adalah dengan niat dan tujuan untuk menjadi hamba yang baik di mata Tuhan, bukan di mata makhluk. Dan memang begitulah semestinya. Dimana tujuan sebenarnya dari tapa brata itu adalah untuk mematikan keinginan ragawi – khususnya yang tidak baik – untuk bisa menemukan titik ketenangan ruhani yang bersumber dari-NYA. Dengan ketenangan itu, barulah seseorang bisa mencapai kualitas kemanusiaan yang tertinggi.

Ya. Tapa brata yang sebenarnya juga berarti; (1) Melihat ke dalam diri sendiri, (2) Mengamati dan merefleksi kesadaran diri sendiri, (3) Melepaskan diri dari kekangan duniawi, membebaskan diri dari pikiran atau perasaan yang berubah-ubah untuk bisa menemukan diri yang sejati atau murni atau yang asli. Dan ketiganya itu sebenarnya masih dalam tahap awal memasuki inti dari tapa brata, karena selanjutnya tidak lagi menggunakan indera tetapi rasa. Dan ketahuilah bahwa kehidupan manusia itu adalah wujud keserasian antara sesuatu yang tampak dan yang tidak tampak. Tanpa keserasian dari keduanya, maka sebenarnya seseorang itu belumlah hidup dalam arti yang sesungguhnya. Makanya sifat, tingkah laku dan amal ibadahlah yang membedakan antara satu manusia dengan yang lainnya. Bukan unsur/elemen dalam dirinya.

Nah, dasar dari itu semua adalah tiga sifat manusia yang disebut dengan Triguna. Terdiri dari Tamas, Rajas, dan Satvam. Lantas apakah yang dimaksud dari ketiganya itu?

Tamas adalah kebodohan. Menghabiskan waktu kehidupan tanpa memikirkan baik dan buruknya sesuatu. Seperti halnya kehidupan binatang yang semata-mata ingin memenuhi setiap keinginan tubuhnya saja, maka manusia pun akan sama dengan itu jika ia hanya larut dalam sifat Tamas ini. Satvam artinya adalah kebaikan itu sendiri. Ketika seseorang memikirkan tentang keadilan, kebenaran dan kasih sayang, itu adalah kebaikan – terlebih ketika ia tidak hanya sebatas memikirkannya saja, tapi juga mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan di tengah kedua hal itu (Tamas dan Satvam) adalah orang yang menguasai ilmu pengetahuan, tapi ia juga akan tertarik pada nafsu tubuh dan juga pikirannya sendiri. Dari hal itulah, akan lahirlah Rajas atau dalam arti sosok manusia yang hidup dalam keangkuhan dan dikuasai oleh nafsu angkara.

Untuk itu, hanya dengan menciptakan keseimbangan antara nafsu, kebodohan dan kebaikan, maka sifat manusia dapat ditentukan arahnya. Ketiga hal itu tak bisa jauh dari hidup manusia, bahkan sangat kuat pengaruhnya. Makanya dengan mengendalikan ketiganya saja, seseorang akan menempuh jalan kebenaran yang sejati. Inilah jalan tapa brata yang sebenarnya.

Pun, ketahuilah dulu apa yang dimaksud dengan diri manusia itu? Sebab, manusia tidaklah hanya gabungan dari kelima elemen dasar (tanah, air, api, udara dan ether) itu, tidak hanya kelima wujud materi itu saja. Kelima elemen, panca indera, panca penggerak dan ketiga sifat (Tamas, Rajas, Satvam) bahkan bukan segalanya tentang manusia. Dan agar manusia dapat menjalankan fungsinya, dia memerlukan energi. Dan energi itulah yang disebut dengan Kehendak.

Catatan tambahan:
1. Panca indera (Panca Buddhindria) terdiri dari: (1) Caksundria (penglihatan/mata), (2) Srotendria (pendengar/telinga), (3) Ghranendria (penciuman/hidung), (4) Jihwandria (pengecap rasa/lidah), dan (5) Twakindra (peraba/kulit).

2. Panca penggerak (Panca Karmendria) terdiri dari: (1) Garbendria (mulut), (2) Panindria (tangan), (3) Padendria (kaki), (4) Payundria (organ pelepasan), dan (5) Upasthendria (alat kelamin).

Selain itu, ada beberapa hal yang juga harus di lakukan apabila seseorang ingin mencapai tataran hidup yang lebih baik atau sebelum ia melakukan tapa brata yang sebenarnya. Semuanya harus dilakukan dengan kerendahan hati dan penuh kesadaran, alias tanpa ada paksaan atau karena ajakan seseorang. Adapun di antara yaitu:

1. Tapaning jasad
Sikap ini berarti mengendalikan/menghentikan daya gerak tubuh atau kegiatannya. Disini seseorang seharusnya tidak lagi merasa iri, dengki, sakit hati atau menaruh dendam kepada siapapun. Segala sesuatu itu, baik atau pun buruk, harus bisa diterima dengan kesungguhan hati dan sikap yang ikhlas.

2. Tapaning hawa nafsu
Sikap ini berarti mengendalikan hawa nafsu atau sifat angkara murka yang ada di dalam diri pribadi. Pada tahap ini seseorang itu hendaknya selalu bersikap sabar, ikhlas, murah hati, berperasaan mendalam (tenggang rasa, welas asih), suka memberi maaf kepada siapa pun, juga taat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, ia juga sudah bisa memperhatikan perasaan secara sungguh-sungguh, dan berusaha sekuat tenaga kearah ketenangan (heneng), yang berarti tidak dapat diombang-ambingkan oleh siapa atau apapun juga, serta berada dalam kewaspadaan (hening).

3. Tapaning budi
Sikap ini berarti selalu mengingkari perbuatan yang hina, tercela dan segala hal yang bersifat tidak jujur (munafik). Pada tahap ini, seseorang itu harusnya sudah berbudi pekerti yang luhur, memiliki sopan santun, sikap rendah hati dan tidak sombong, tidak pamer dan pamrih, serta selalu berusaha untuk bisa berbuat baik kepada siapapun.

4. Tapaning suksma
Sikap ini berarti memenangkan jiwanya. Jadi pada tahapan ini hendaknya kedermawanan seseorang itu diperluas. Pemberian sesuatu kepada siapapun juga harus berdasarkan keikhlasan hati, seakan-akan sebagai persembahan khusus, sehingga tidak mengakibatkan kerugian bagi siapapun. Singkat kata, ia tidak lagi pernah menyinggung perasaan orang lain.

5. Tapaning cahyo
Sikap ini berarti seseorang itu selalu eling lan waspodho (ingat dan waspada). Ia telah terlepas dari sifat yang tidak jelas dan saru (tidak baik, tidak sopan, tidak tepat, tercela). Lagi pula setiap kegiatannya selalu ditujukan untuk kebahagiaan dan keselamatan umum. Jauh dari urusan materi duniawi dan ego.

6. Tapaning gesang
Sikap ini berarti selalu berusaha sekuat tenaga dan hati-hati untuk bisa menuju pada kesempurnaan hidup. Hal ini bisa terjadi, ketika seseorang sudah melalui ke lima jenis laku sebelumnya. Dan ketaatan kepada Tuhan Yang Maha Esa disini adalah yang paling utama, mengingat hanya dari Tuhanlah kebenaran yang mutlak itu berasal.

Selanjutnya, setelah seseorang benar-benar memahami dan menjalankan setidaknya apa saja yang telah dijelaskan di atas, barulah ia bisa dikatakan telah siap dalam menjalankan tapa brata dalam arti yang sesungguhnya. Tapa brata yang ia lakukan nanti tentu akan berbuah keberhasilan, terutama bagi kesempurnaan dirinya sendiri. Inilah makna dari tapa brata yang sejati.

Catatan: Mungkin kami akan dibilang kolot oleh sebagian pembaca. Untuk itu ya silahkan saja sih, no problemooo. Tapi kami tetap akan berpegang teguh pada tradisi menuntut ilmu ala para leluhur dulu. Karena itulah disini kami sengaja tidak menjelaskan dengan detil tentang teknis dari tapa brata yang ada. Alasannya adalah bahwa kami memang lebih mengutamakan tentang makna dan tujuan sebenarnya dari tapa brata itu sendiri. Dalam hal ini tentu yang sesuai pula dengan ajaran dari para leluhur kita.

Dan menurut pemahaman kami, jika teknis tapa brata itu disampaikan secara terbuka disini akan terasa kurang etis. Sebab pengetahuan seperti itu harusnya memiliki tempat yang khusus dan sakral agar kesannya menjadi berharga. Siapapun sebaiknya berguru dan meminta pengetahuan itu kepada sang guru secara langsung (tatap muka). Tidak dengan melalui internet atau sekedar membaca artikel dan buku. Hanya saja disini kami bisa sedikit memberikan contoh tentang beberapa jenis tapa brata yang umum di lakukan di Nusantara, seperti Tapa Ngalong (dengan menggantungkan diri terbalik di atas pohon), Tapa Ngidang (dengan menyendiri di hutan dan berperilaku seperti kijang), Tapa Kumkum (dengan berendam di sungai), Tapa Ngeli (dengan duduk semedhi di atas sebuah rakit yang dihanyutkan di sungai), Tapa Pendem (dengan dikubur hidup-hidup di dalam tanah), dll. Lalu jenis yang lain silahkan Anda baca beberapa artikel lain di blog ini, khususnya tentang para kesatria yang di masa lalu pernah ber-tapa brata selama bertahun-tahun – bahkan ribuan tahun.

5. Kesimpulan
Wahai saudaraku. Manusia itu adalah makhluk yang sangat unik. Di dalam dirinya terdapat beberapa sisi kehidupan. Ada yang bersifat kasar (terlihat mata), ada pula yang halus (tak terlihat mata). Keduanya merupakan satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Sehingga menjadi selayaknya jika kedua hal ini bisa dipahami dan disatukan dalam kesadaran diri seorang manusia. Dan akan berakibat buruk jika diabaikan.

Tapa brata atau lebih dikenal juga dengan istilah Semedhi adalah cara untuk menutup keinginan jasmani atau hasrat duniawi sehingga spirit (roh) dalam jiwa seseorang menjadi kuat. Dalam tapa brata yang benar, maka diperlukan pemahaman untuk terus bersyukur, berserah diri kepada Tuhan, merenungi keagungan-Nya dan menggali lebih dalam tentang siapakah dirinya sendiri. Jika tanpa hal itu, maka tapa brata yang di lakukan bukan lagi tapa brata yang sejati. Itu hanya sebatas laku hidup yang lain yang sesuai dengan hasrat keinginan diri sendiri.

Ya. Tentang pertanyaan kenapa orang yang ber-tapa brata itu bisa bertahan hidup meskipun tidak makan dan minum dalam waktu yang sangat lama? Maka jawabannya adalah bahwa di dalam diri manusia itu terdapat beberapa unsur yang serupa dengan alam. Di antaranya yaitu tanah, air, api, udara dan ether. Karena itu, dengan ber-tapa brata, artinya seseorang sedang menyelaraskan semua unsur di dalam dirinya itu dengan alam sekitar, alias menyatukan diri dengan alam. Sehingga dengan ber-tapa brata sesuai ketentuan yang digariskan, diri seseorang (tubuh) mampu menyerap energi yang terdapat di alam – bisa secara otomatis atau jika dibutuhkan saja olehnya. Bahkan karena tubuh seseorang telah menyerap sari pati alam dengan cara khusus selama ber-tapa brata, maka kondisi tubuhnya pun kian gilang gemilang, bahkan memancarkan aura yang semakin besar kemana-mana. Inilah kenapa orang yang sedang ber-tapa brata itu akan tahan untuk tidak makan dan minum, bahkan tak bergerak dalam waktu yang sangat lama. Sebab, semua kebutuhan energi bagi tubuhnya telah terpenuhi dengan sendirinya dengan cara menyerap energi alam, tanpa perlu proses makan, minum dan metabolisme. Tentunya disini baru akan terjadi setelah seseorang melakukan hal-hal yang khusus dan terlatih. Tanpa hal itu, seseorang hanya akan kelaparan atau dehidrasi sampai mengakibatkan kematian.

Seorang yang mengambil posisi tapa brata sejatinya adalah sosok yang sedang berusaha meraih kebaikan budi, ketenangan jiwa, dan penyatuan dengan Tuhannya. Keadaan ini sangat bagus dan indah. Karena di antara dasar dalam tapa brata itu adalah meyakini akan keberadaan dunia lain yang tak dapat dijangkau dengan panca indera biasa. Dan baik dunia kita atau pun dunia lain itu, maka keduanya merupakan satu kesatuan hidup. Dan yang membuat kesatuan itu eksis adalah yang menciptakannya, yaitu Hyang Aruta (Tuhan YME). Dan bukan hanya sebatas menciptakannya, karena DIA pun sekaligus menjadi sumber dan pusatnya. Sehingga pada akhirnya, seseorang itu tetap harus menuju dan kembali kepada-Nya saja.

Sungguh, kehidupan makhluk khususnya manusia itu selalu terkait erat dengan kosmos alam raya. Sehingga pada dasarnya kehidupan manusia itu sendiri akan selalu dipenuhi dengan pengalaman-pengalaman religius. Untuk itu, dalam alam pikiran leluhur kita, maka kehidupan manusia itu berada di dalam dua kosmos yaitu Jagat Ageng (makrokosmos) dan Jagat Alit (mikrokosmos). Jagat Ageng (makrokosmos) adalah sikap dan pandangan hidup yang tertuju pada alam semesta atau yang mengandung kekuatan supranatural dan tentunya Tuhan. Sementara Jagat Alit (mikrokosmos) adalah kehidupan pribadi seseorang dengan dirinya sendiri dan juga lingkungannya. Sehingga dalam hal ini, tugas dari seseorang itu adalah berusaha menciptakan keselarasan, keseimbangan dan keharmonisan bagi kedua jagat (kosmos) itu. Tanpa hal itu, maka kehidupannya akan kacau dan berakhir pada penderitaan.

Nah, jalan yang sesuai untuk mewujudkannya adalah dengan meningkatkan kekuatan batin dan jiwa manusia. Caranya yaitu dengan rajin ber-tapa brata sesuai dengan makna dan penjelasan di atas. Karena dengan tapa brata, seseorang akan lebih memahami tentang siapakah dirinya, bagaimana seluk beluk alam semesta dan siapa pula Tuhannya yang sejati. Tanpa hal itu, maka hidup seseorang hanya akan sia-sia, tak berarti, kacau balau dan jauh dari kebahagiaan. Sehingga hal yang semacam ini (tapa brata/semedhi/tafakur) sangat dibutuhkan oleh makhluk yang bernama manusia. Jika diabaikan, maka akan berakhir penyesalan dan penderitaan.

6. Penutup
Wahai saudaraku. Bagi leluhur kita dahulu, pusat dunia ini ada pada pimpinan atau raja dan keraton. Tuhan adalah pusat makro dan mikrokosmos, sedangkan raja dianggap perwujudan wakil Tuhan di dunia, sehingga dalam dirinya terdapat keseimbangan berbagai kekuatan dari dua alam (mikro dan makro). Jadi, raja itu dipandang sebagai pusat komunitas di dunia seperti halnya raja menjadi pusat mikrokosmos dan wakil Tuhan (dalam konteks tertentu) dengan keraton sebagai tempat kediamannya. Dan keraton merupakan pusat keramat dari kerajaan/negara dan tempat bersemayamnya raja, karena raja pun dianggap merupakan sumber kekuatan-kekuatan kosmis yang mengalir ke daerah kedaulatannya dan membawa ketentraman, keadilan dan kesuburan wilayah.

Namun, raja atau ratu yang dimaksudkan disini adalah sosok yang sesuai dengan konsep dan penjelasan dari tapa brata di atas. Itulah kenapa dimasa lalu seorang raja atau ratu itu sangat berkharisma, berwibawa, bijaksana dan disegani oleh semua kalangan. Mereka punya daya tarik yang khas dan kekuatan yang luar biasa. Dan sebelum bisa memangku jabatannya, seorang raja atau ratu itu seharusnya sudah menerima hak kepemimpinan dari Tuhan melalui apa yang disebut dengan Wahyu Keprabon. Tidak bisa sembarangan dalam hal ini, karena siapapun yang tidak mendapatkan Wahyu Keprabon artinya ia tidak berhak memangku jabatan tertinggi di sebuah negara. Jika dipaksakan, maka hanya akan menyebabkan negara itu menjadi tidak berwibawa, rakyat menjadi bingung dan menderita, ekonomi merosot, musibah dan bencana alam terus berdatangan, kejahatan dan kemunafikan merajalela, fitnah makin subur, dan peradaban bangsa kian terpuruk karena akhlak manusianya yang sudah terjun bebas. Dan ini juga tetap berlaku hingga di masa sekarang, bahkan sampai ke akhir zaman nanti.

Ya. Dimana pun kehidupan berada, oleh bangsa dan ras apapun itu, konsep tapa brata dalam pengertian luas – termasuk urusan ketatanegaraan – akan berlaku di semua lini kehidupan. Jika ini diabaikan, maka tak usah heran saat tatanan dan kehidupan dunia menjadi kacau balau. Seperti kondisi pada masa sekarang ini yang terbukti semakin dangkal dan hilang nilainya.

Semoga makna dan tujuan dari tapa brata yang sejati kembali lagi ke negeri ini, ke bangsa ini, ke Bumi ini. Dengan begitu kehidupan dunia akan mencapai kesejahteraan. Rahayu _/|\_

Jambi, 21 Juli 2017
Harunata-Ra

Catatan akhir:
1. Apa yang dijelaskan di atas hanyalah sebagian dari pengetahuan tentang sejatinya diri manusia dan hakekat Tuhan YME. Tentu ada yang lebih detil atau lebih mendalam atau lebih tinggi dari apa yang kami uraikan ini. Tapi disini, setidaknya para pembaca sekalian bisa memiliki gambaran tentang betapa makna sebenarnya dari diri manusia dan hakekat Tuhan itu begitu luas. Sebagai makhluk, kita pun harus terus menggali dan mencari tahu. Jangan berhenti atau merasa sudah paling tahu sendiri, karena sikap itu menunjukkan kebodohan dan kesombongan diri sendiri.
2. Sebagian penjelasan di tulisan ini di ambil dari berbagai sumber.

Iklan

16 thoughts on “Tapa Brata Leluhurku

  1. Salam Mas Oedi(ku)…..

    Wedaran tentang Tapa Brata yg menarik & keren, namun… nuwun sewu, berdasarkan empiris-nya Tapabrata apa saja yg pernah Jenengan laksanakan (paling tdk dimohon di wedar 1 macam yg pernah Jenengan laksanakan), pun (empiris-nya) Kerabat ataukah Sahabat yg pernah melakukan Tapabrata, jika tlah berhasil, dimana substansi keberhasilan-nya, jika mengalami kegagalan, dimana substansi kegagalan-nya ?

    Karena UJIAN-nya ada 2 Periode, yakni pada SAAT MELAKSANAKAN Tapa Brata dan pada SAAT PASCA Tapa Brata.
    Empiris-nya justru, (relatif) sebagian besar kegagalan pada saat Pasca Tapa Brata (implementasi-nya), lazim-nya (kena Dam) karena 3 TA (HarTA, TahTA & WaniTA).

    Pun (PERSPEKTIF Jenengan) apakah ada Perbedaan (mendasar), antara Tapa Brata di Tingkat Syariat, Tapa Brata di Tingkat Tarekat & Tapa Brata di Tingkat Hakekat/Marifat ?
    Bagaimana PERSPEKTIF Jenengan tentang Tapa Brata; yang pada UMUM-nya, dgn Tapa Brata yang memang sudah GARIS HIDUP-nya (TAQDIR-nya) ?
    Empiris-nya pernahkah Jenengan, atau Kerabat dan/atau Sahabat melakukan Tapa Brata yg di KONVERSI (krn berbeda Zaman dgn Leluhur, sesuai Sabda-nya) ?

    Monggo Mas di wedar (sesuai Hukum Terbatas & Dibatasi / PROTAP), Saya nyimak sambil dlosoran…..
    Suro diro joyodiningrat lebur dening pangastuti
    Matur nuwun & Selamat berakhir pekan.

    Rahayu Sagung Dumadi,
    Majulahdanjayalahnusantaraibupertiwimerahputihnkri

    1. Salam juga mas Rakeyan.. Nuwun sanget karena masih mau berkunjung, semoga ttp bermanfaat… 🙂

      Hmm.. Adapun ttg pertanyaan sampeyan itu sepertinya ada yg bisa terjawab dengan sendirinya saat masnya mau membaca ulang dg detil artikel ini.. Tolong pahami lagi konteks, esensi dan inti dari tapa brata yg saya wedarkan disini.. Saya hanya ingin mengajak untuk memahami dulu tapa brata itu ke dasarnya lagi, ke hakekatnya lagi.. Setelah itu barulah layak ke jenjang atau tahap lainnya.. Kalo ttg teknis, jenis, level, perbedaan atau perbandingannya, menurut saya itu hrs dalam pembahasan yg lain lagi, jadi butuh artikel baru.. Atau silahkan sampeyan tanyakan langsung pada guru yg mumpuni biar cetho (jelas, terang benderang), dan sikap yg seperti inilah yg saya dukung bagi siapapun yg ingin mendalami laku tapa brata.. Kalo nanya ke saya, saya mah cuma orang bodoh yg miskin ilmu mas.. Ntar bisa salah kaprah..

      Ingat! byk dari kita yg hanya berfokus pada teknis atau tata cara laku dan praktek dari sebuah tapa brata tapi mengabaikan esensi dr tapa brata itu sendiri. Artinya banyak yg sudah ber-tapa brata sblm ia paham betul apa itu tapa brata dan mengapa hrs ber-tapa? Inilah kenapa akhirnya byk orang yg gagal, atau kalau pun berhasil itu tidak akan sempurna atau bertahan lama setelah ia selesai melewati semua tahap teknis sebuah laku tapa saja. Tak jarang pula ada yg justru berpaling dr kebenaran alias berbuat jahat dg ilmunya. Semua bersumber pada pemahaman yg kurang ttg esensi dr tapa brata yg sejati. Sementara itu di lain sisi, kebanyakan orang jika mendengar ttg tapa brata maka konotasinya langsung kpd kesaktian, padahal sebenarnya kesaktian disini, dalam tapa brata yg sejati itu hanyalah bonus saja, bukan esensi dan tujuan utamanya. Cara pandang yg seperti ini harus diubah, harus dikembalikan pada makna sebenarnya dari tapa brata jika ingin mencapai kesempurnaan.

      Ttg laku pribadi, wah saya ini cuma orang awam yg gak tahu apa-apa mas.. Baru mencoba utk belajar mengerti kok… 🙂

      Maaf kalo jawaban ini tak memuaskan, dan Rahayu bagio.. _/|\_

  2. Terima kasih bang wedarannya, ditunggu penggunaan kata baru (kuno) yang lainnya seperti milhayas.
    Semoga juga bisa lebih ane resapi ilmu dari tulisan ini

    Cerita sedikit bang, belakangan (2/3minggu lalu) dari referensi seberang juga sempat membahas yang semacam ilmu milhayas ini, tetapi dengan metode pandangan perspektif dan dimensi waktu. Mungkin bang harunata tau yg ane maksud.

    Ok bang, semoga diberi energi atau kehendak untuk tulisan2 berikutnya.

    Tambahan saat nulis komentar ini (setengah 3 malam) tiba2 datang kupu kupu kecil berwarna kuning didalam rumah hinggap di tangan kanan ane. Pertanda apakah ini bang? Wkwk

    1. Iya mas Asaja, terima kasih juga utk kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. 🙂

      Oke, silahkan di tunggu aja mas, mudah”an nanti ada kata lainnya.. 🙂

      Tentang pertanyaannya, tentang metode yg seperti itu saya kurang paham mas..

      Tentang pertanda kupu-kupu itu saya pun kurang tau mas.. Maaf

  3. Apakah tapa brata yg dimaksud sama dgn berkhalwat seperti yg dilakukan nabi Muhammad di gua Hiro, dlm rangka mendekatkan diri kepada ALLAH

    1. Terima kasih mas Setyo Pranoto untuk kunjungannya, semoga bermanfaat.. 🙂

      Hmm.. Benar, salah satu tujuan dari tapa brata itu adalah mendekatkan diri kepada Tuhan, bahkan inilah esensinya.. Tapi setahu saya yg di lakukan oleh Nabi Muhammad di gua Hiro itu bukan ber-khalwat, tapi lebih tepatnya ber-tahannuts mas..

      Nah tapa brata yg dimaksudkan dlm artikel ini bahkan dapat dikatakan termasuk kedua hal itu (khalwat dan tahannuts)… Ttg kedua hal itu, jika mau silahkan baca artikel ini agar jelas perbedaannya: https://oediku.wordpress.com/2016/04/16/menjaga-keseimbangan-hidup-demi-keselamatan-diri/

  4. Mas Oedi…memang benar apa yang anda tulis diatas, menyinggung perihal Makro dan Mikro tentang diri pribadi manusia…Tentang wedarkan diatas semuanya sudah jelas…Tujuan akhirnya memang di tingka 7, ini menunjukkan betapa uniknya mahkluk yang bernama manusia INI. Karena mahkluk yang lain, seperti malaikat(sebutannya)pun HANYA mampu sampai di tingkat 6. Untuk bisa di tingkat itu memang perlu focus yang luar biasa tidak ringan. Bahkan harus bisa melewati BIAS 3 TA (tulisan Mas Rakeyan)….Maaf mas saya orangnya kurang bisa menyusun kata-kata yang baik, kwatir salah arti jadinya..karena salah susun kata jadi beda artinya. Ojo sumelang nulis wedaran, amergo tetep ana faedahe, tetaplah berkarya sebagai siar kebenaran.
    Silahkan dilanjut untuk wedaran yang lain saya siap maos…..

    1. Nuwun mas Suto atas kunjungannya lagi, semoga ttp bermanfaat.. 🙂
      Wah sampeyan hebat sampe bisa tau tingkat pencapaian makhluk: Malaikat cuma bisa sampe tingkat 6 tapi manusia bisa ke 7.. Artinya jenengan sudah paham betul dong ttg seluk beluk kehidupan mrk dan sosok sebenarnya malaikat itu? Salut.. Bisa lah saya sinau dg jenengan.. 🙂
      Waaah saya pun gak pinter merangkai kata mas, masih baru belajar kok.. Dan nuwun atas dukungannya mas, semoga aja saya masih diizinkan utk nulis di blog ini, dan moga aja masih ada yg mau membacanya.. Rahayu 🙂

  5. Salam Rahayu juga mas Oedi,kayaknya ada yang kurang pas apa yang saya tulis diatas. Malaikat bukanlah mahkluk, melainkan PIRANTI dari lingkup azas kehidupan mahkluk. Waduuuh susah sekali penjabarannya. Ewuh pakewuh nggathukno ukoro mas..kadang2 sampai tidak bisa diucapkan, hanya Hyang Aruta yang punya ini semua…Rahayu

  6. Ya Yakin bukan…….
    Piranti bukan termasuk….
    wkwkwkwkwkwkwkwkwkw semar mas ………mesem nok kamar.
    Guyonan thithik mas bek gak tegang, sampeyan terlalu serius sih…..
    Katon ngadek, ning koyo lunggoh…….
    Katon lanang, ning paesan praupane……
    Katon dewasa, ning kuncungan……
    Katon guyonan, ning tegese pitutur….
    Salam Rahayu…..

    1. Ow gitu.. Ya itu pendapat sampeyan, monggo aja.. 🙂
      Hmm.. Siapa yg tegang mas?? Wong saya nyante aja kok, ngapain juga hrs tegang.. Mungkin justru malah sampeyan yg tegang neh.. Hehe 😀
      Ya ada waktu dan tempatnya kita hrs serius atau guyonan.. Kalo dicampur aduk bisa kacau balau, bikin bingung dan salah kaprah, salah persepsi.. Kasihan dong orang yg bodoh kayak saya ini, ntar gak nyambung mas..

  7. Salam Mas Oedi(ku)…..
    Matur nuwun atas Wedaran (Reply) nya, dan… saya sangat excited di Padepokan (Blog) Jenengan ini, selain POSITIF, INSPIRATIF & BERMANFAAT, pun dgn Pribadi Jenengan yg HUMBLE & WISEMAN. (bukan lip service lho…..heheheee…)

    PROLOG dari saya, saya tidak bermaksud sok tau dan/atau menggurui, pun mengajarkan terbang kpd burung, & mengajarkan berenang kpd itik, hanya dlm rangka ber-SILATURAHIM, BRAINSTORMING, pun berbagi pengalaman (empiris & a posteriori, sebagai Amal yg mengalir, bukan sebagai Dosa yg mengalir), sebagai Sesama Anak Bangsa Putra Putri Ibu Pertiwi (Nusantara/NKRI/Merah Putih), pun sbg Sesama Makhluk Ciptaan-NYA (Horizontal), yang tetap mengedepankan; SALING ASAH, SALING ASUH & SALING ASIH (bahasa Leluhur), dan/atau (dlm bahasa Religi) ; WATAWA SAUBIL HAQ, WATAWA SAUBIS SABR & WATAWA SAUBIL MARHAMAH (Saling mengingatkan tentang Kebenaran, saling mengingatkan dalam Kesabaran dan saling mengingatkan dengan Kasih sayang), dan/atau (dlm bahasa Ibu Pertiwi/Nusantara/NKRI/Merah Putih); “PERBEDAANLAH YANG MEMPERSATUKAN & MEMBANGUN, SEDANGKAN PERSAMAANLAH YANG MEMELIHARA & MENJAGANYA.”

    Dimana kesemuanya itu tdk terlepas dari Hukum ILLAHI (DUALITAS); “Kelebihan-mu adalah kekurangan-ku, dan kelebihan-ku adalah kekurangan-mu,” disamping PAKEM2 (tak tertulis) lainnya, diantara-nya: Tidak ada Ilmu Penutup; Di atasnya Langit, masih ada Langit; Lain Koki, lain Masakan, dan (setiap individu) berbeda tentang Peran-nya, Peran Penciptaan-NYA, serta (setiap Individu) berbeda DI-PERJALANKAN & DI-PENGALAMANKAN oleh Gusti Allah SWT (sesuai dengan Peran-nya, Peran Penciptaan-NYA), kalau pun IDENTIK di perjalankan & di pengalamankan, maka akan berbeda PERSPEKTIF, INTERPRETASI & PEMAHAMAN-nya (“membaca-nya”) sesuai dgn FRAME OF REFERENCES / Latar Belakang (Talent, Family, Habit. Life style, Cultur, Education, Skill & Experiences, etc.) serta INSTRUMEN (KECERDASAN) ANUGRAH ILLAHI (Kecerdasan Intelektualitas, Kecerdasan Kalbu, Kecerdasan Spiritualitas, Kecerdasan Religi, Kecerdasan Panca Indra, Kecerdasan Raga, Kecerdasan Lisan/Eloquence Intelligence, Kecerdasan Tulisan/Writing Skills, Thinkers & Conceptor Intelligence, Kecerdasan Berorganisasi/Berkarya/Proficient of Management, Kecerdasan Kepemimpinan/Leadership Intelligence, dll.)
    L
    Yang tidak bisa di rubah adalah MENYEMBAH KEPADA GUSTI ALLAH SWT (to be or not to be), sedangkan yang lainnya (bersifat) situasional & kondisional yang sesuai Pakem yg benar, lurus, baik, cerdas, cermat, taktis, piawai, bijak, bermanfaat & realitas-nya pada saat itu, serta Peran-nya, Peran Penciptaan-NYA (“terikat erat” JANJI SUCI pada saat RUH ditiupkan, dan TAQDIR ILLAHI yang “mengunci-nya”).

    Kembali ke JUDUL ARTIKEL & MATERI-nya, menurut hemat saya, baik perspektif, interpretasi & pemahaman hakekat, filosofi, makna, fungsi & substansi-nya, pun teknis & implementasi-nya TAPABRATA merupakan SATU KESATUAN (INTEGRAL) & LINIER sepanjang hidup & kehidupan, slama hayat di kandung badan (learning by doing), kesemua-nya itu harus-lah “on the track” (benar, lurus, baik, cerdas, cermat, taktis, piawai, bijak & bermanfaat).
    Bermanfaat dalam arti & makna, yakni bagi diri pribadi, Keluarga, Tetangga, Saudara, Komunitas, Bangsa, Negara, Sesama Makhluk Hidup, Sesama Makhluk Lain/Astral Ciptaan-NYA, Lingkungan Hidup (Flora, Fauna, Tanah/Bumi, Mineral, Air, Angin, Api, dll) & Semesta, jika dalam bhs Religi disebut “Rahmatan lil ‘alamiin.”

    Namun janganlah lupa & melupakan akan Pakem (Hukum Tak Tertulis, yakni): ada yg UMUM; KHUSUS, dan SANGAT2 KHUSUS (sesuai Janji Suci & Taqdir-nya), dan….. UJIAN-nya pun akan berbanding lurus, tidak ada (makan siang) yg GRATIS, kesemua-nya itu tidak terberi begitu saja, ada MAHAR yg harus “dibeli” (proses “panjang” yang harus dilalui-nya).

    DI AWAL Tapa Brata; ada & terdapat NIAT, ITIKAD, MAKSUD & TUJUAN, serta PEMAHAMAN SYARI’AT (dan man arofa nafsahu, faqod arofa robbahu”), tanpa bermanja, tanpa kemudahan, pun tanpa fasilitas.

    DI TENGAH Tapa Brata (learning by doing); on the schedule & on the track, UJIAN, tantangan, halangan, kendala & hambatan, serta kesukaran & kesempitan datang silih berganti, seperti tiada habis-habisnya.
    Jika Tahap tsb bisa dilalui-nya, maka….. hijab MULAI tersingkap, segala tanya tentang “man arofa nafsahu, faqod arofa robbahu (secara Vertikal),” pun tentang hidup & kehidupan (secara Horizontal) MULAI terungkap & terjawab, (lengkap) dgn TOWS & SWOT-nya (Strenght, Weakness, Opportunity & Thickness).

    DI “AKHIR” Tapa Brata (pun learning by doing); on the track & “on time,” Gusti Allah SWT meng-ANUGRAH-kan Ilham & Ilmu-NYA, serta (diberdayakan-nya) INSTRUMEN/KECERDASAN ANUGRAH ILLAHI, segala yg samar & tersamar, serta yg gelap akhirnya menjadi terbuka & terang benderang, sehingga akhirnya segala tanya tentang “man arofa nafsahu, faqod arofa robbahu,” pun tentang hidup & kehidupan (tentang Peran-nya, Peran Penciptaan-NYA) terjawab semua-nya, timbullah PEMAHAMAN & KESADARAN (sesuai Peran-nya, Peran Penciptaan-NYA & Frame of References), dan menjadi Pribadi yang “tangguh, tercerahkan, mempesona, bermanfaat & bermartabat/mulia,” (secara Vertikal) dan mengabdi (tunduk, patuh & taat) kepada Gusti Allah SWT (secara Horizontal).

    Saya sependapat dgn Jenengan, bahwa ILMU itu alah BONUS (tanpa niat, terpikirkan & mengalir…..), yang hanya TERTITIPI & DITITPI oleh Gusti Allah SWT, sesuai peran-nya, peran penciptaan-NYA, dan berbanding lurus dgn Ujian-nya & Pertanggungan Jawab-nya.
    {empiris & a posteriori-nya saya terkaget-kaget pun kejang-kejang mendapat Bonus sbg Anugrah ILLAHI dan sebagai (bekal) instrumen untuk pre-emtif, preventif & represif, kejang-kejang-nya adalah implementasi-nya tidak semudah membalikan telapak tangan, dan terlebih Pertanggungan jawab-nya kelak di Yaumil akhir}.

    UNIVERSAL-nya (Jalan Spiritualitas sesuai Religi yg berbeda-beda), bahwa Tapa Brata (Leluhur-ku), terdapat CIRI & TANDA yg “sama,” yakni CAHAYA TERANG yg melingkupi raga-nya, yg berasal dari KEBERSIHAN raga, jiwa & ruh-nya, serta MENYEJUK-kan saat berada di dekat-nya & sekitar-nya, bahkan….. menjadi MAGNET bagi “para pejalan” yg sedang diperjalankan & dipengalamankan oleh Gusti Allah SWT, pun bagi para pejalan yg kebingungan mencari jalan, bahkan… tersesat mencari jalan.
    RUH-nya lah yg menjadi KOMANDAN/memenej/mengatur RAGA-nya, karena kesemua-nya itu (harTA, tahTA & waniTA plus Anak) setiap Individu (Manusia) hanya TERTITIPI & DITITIPI oleh Gusti Allah SWT, dan yang (pasti) akan diminta PERTANGGUNGAN JAWAB kelak di YAUMIL AKHIR.

    Saya sependapat dgn Statement (nya) Eyang SUNAN KALI JAGA, yakni bahwa :
    Anugrah ILLAHI (Takdir yang tak biasa) itu, tak boleh membuat diri berbangga hingga melangitkan ego, justru harus membuat diri semakin membumi, semakin sadar, dan semakin mengabdi (tunduk, patuh & taat) kepada Gusti Allah SWT, waktu hidup itu singkat.
    PUNCAK-nya adalah sebagai MANUSIA SEMPURNA (INSAL KAMIL), dimana manusia yang telah mencapai Puncak KESADARAN (Arthadaya), dan/atau lebih tepat-nya PUNCAK-nya adalah Dia lahir bersih & suci, dan kembali (kontrak-nya habis di dunia) pun dengan bersih & suci, itulah Manusia SEMPURNA, serta Paripurna-lah hidup & kehidupan-nya (tugas, peran & kewajiban-nya) di dunia.
    Pada dasarnya, INTI AJARAN dari semua agama adalah sama, mengajarkan untuk MENYEMBAH GUSTI ALLAH YANG MAHA ESA, menjadi berbeda karena ajaran agamanya sudah tercemar oleh tangan-tangan manusia yang tak bertanggung jawab, dan Gusti Allah bukan hanya dimiliki oleh satu agama saja.

    EPILOG dari saya,
    Pada dasar-nya (sejati-nya), tidak ada manusia yang sesungguh-nya sempurna (sempurna manusia, berbeda dengan sempurna Gusti Allah SWT), karena……. kesempurnaan itu adalah HANYA dan MILIK Gusti Allah SWT.

    Penting-nya snantiasa memelihara & menjaga INSTRUMEN (KECERDASAN) ANUGRAH ILLAHI (secara HORIZONTAL), diantara-nya : Kecerdasan Intelektualitas, Kecerdasan Kalbu, Kecerdasan Spiritualitas, Kecerdasan Religi, Kecerdasan Panca Indra, Kecerdasan Raga, Kecerdasan Lisan/Eloquence Intelligence, Kecerdasan Tulisan/Writing Skills, Thinkers & Conceptor Intelligence, Kecerdasan Berorganisasi/Berkarya/Proficient of Management, Kecerdasan Kepemimpinan/Leadership Intelligence, dll.

    SERTA (secara VERTIKAL) snantiasa memelihara & menjaga GODSPOT, agar Kita dalam “hidup & kehidupan” (berkeluarga, bertetangga, bersaudara, berkomunitas, berbangsa & bernegara) ini, tidak saja “eling lan waspodo,” pun benar, lurus, baik, cerdas, cermat, taktis, piawai, bijak & bermanfaaat, serta tetap & snantiasa dalam Ridho-NYA, dalam Rakhmat-NYA, dalam Anugrah-NYA dan dalam Perlindungan-NYA….. Aamiin Yaa Robbal ‘Alamiin.

    Monggo (mohon dikoreksi jika ada keliru & salah) dikritisi komentar berbagi empiris & a posteriori saya, (sesuai) dgn empiris & a posteriori Jenengan.
    Smoga GUSTI Ingkang Akaryo Jagad memberikan yang terbaik, yang terindah & Khusnul khotimah kepada Jenengan……. Aamiin Yaa Robbal ‘Alamiin.
    Suro diro joyodiningrat lebur dening pangastuti
    Matur nuwun & Selamat berakhir pekan.

    NOTE:
    Pada saat meng-edit komentar ini, udara yg cerah tiba2 menjadi mendung, turunlah gerimis yg halus, menyejukan & menyegarka, itu ada 2 PERTANDA, di satu sisi pertanda buruk, di sisi lain pertanda baik, puji syukur Alhamdulillah PERTANDA BAIK bagi mereka yg sedang (dan telah) di perjalankan & di pengalamankan oleh Gusti Allah….. Aamiin Yaa Robbal ‘Alamiin, dan di sisi lain PERTANDA BURUK bagi bla bla bla …….

    Rahayu Sagung Dumadi,
    Majulahdanjayalahnusantaraibupertiwimerahputihnkri

    1. Salam juga mas Rakeyan, terima kasih karena masih mau berkunjung, semoga ttp bermanfaat.. 🙂

      Waaah.. komentar dan penjabaran yg bagus mas, saya yg awam ini ikut nyimak aja deh.. 🙂

      Semoga kita ttp rendah hati dan mendapatkan petunjuk-Nya. Rahayu Bagio.. _/|\_

  8. Salam Mas Oedi(ku)…….
    Matur nuwun atas Reply (nya).

    Mengenai Komentar (& berbagi) saya (tentang Tapa Brata plus), pada PRINSIP-nya IDENTIK (SAMA) dgn apa yg TELAH di wedar oleh Jenengan di Artikel “CARA MENJADI PEMENANG, DIBALIK BUNYI NANG, NING, NUNG, NENG, GUNG (4 April 2017), pun “ILMU SASTRA JENDRA HAYUNINGRAT: PUNCAK ILMU JAWA (15 Maret 2016).

    Yang berbeda adalah; CARA PENYAMPAIAN-NYA (Metodologi-nya, pun HASIL-nya/Anugrah ILLAHI), jika saya……, berdasarkan empiris & a posteriori {diperjalankan & dipengalamankan oleh Gusti Allah SWT, sesuai Peran-nya, Peran Penciptaan-NYA (terikat erat “janji suci” dan terkunci oleh “taqdir”), serta frame of references}, dimana TEKNIS-nya adalah : “Berusahalah (belajar, bekerja & berkarya yg positf, konstruktif, inspiratif & bermanfaat serta berbudi luhur & melaksanakan dharma kesuma) dengan sungguh-sungguh tentang DUNIA (mu), seolah-olah Engkau AKAN HIDUP 1.000 tahun (secara HORIZONTAL), dan Berusahalah (beribadah tunduk, patuh & taat kepada Gusti Allah SWT) dengan sungguh-sungguh tentang AKHIRAT (mu), seolah-olah Engkau akan MATI ESOK (secara VERTIKAL).”

    Di sinilah KITA SEPAKAT :
    Ada & terdapat KESADARAN, KESEIMBANGAN (yang Kualitatif) & KESERASIAN/HARMONISASI antara (hidup) di DUNIA, dan untuk (kelak) AKHIRAT, sesuai PERAN-nya, PERAN PENCIPTAAN-NYA, sehingga PARIPURNA-lah PERAN, TUGAS & KEWAJIBAN-nya di Dunia, dimana TERLAHIR BERSIH & SUCI, dan MENINGGALKAN DUNIA (kontrak hidup di dunia selesai) pula dalam KONDISI BERSIH & SUCI, yang orang menyebut-nya MANUSIA ARTHADAYA (INSAN KAMIL), telah HIDUP SEMPURNA.

    Dan mengenai ILMU (KESAKTIAN) merupakan BONUS dari Gusti Allah SWT, sebagai INSTRUMEN kelengkapan dalam melaksanakan Peran, Tugas & Kewajiban di Dunia (yang Ujian & Pertanggungan jawab-nya pun berbanding lurus).

    Matur nuwun & smoga bermanfaat,
    Suro diro joyodiningrat lebur dening pangastuti

    Rahayu Sagung Dumadi,
    Majulahdanjayalahnusantaraibupertiwimerahputihnkri

    1. Iya mas Rakeyan, sama”lah.. Saya juga byk berterima kasih karena sampeyan udah mau berkomentar.. Semoga ttp bermanfaat.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s