Diposkan pada Buku_ku, Info Terbaru, Tulisan_ku

Tri Tunggal Ilmu (Dasendria, Milhayas, dan Sastra Jendra)

Wahai saudaraku. Sebenarnya ketiga ilmu ini sudah pernah kami bahas dalam artikel sebelumnya. Hanya saja dalam tulisan ini akan lebih fokus pada kaitan dari ketiganya, khususnya bagi siapapun yang hendak menguasainya. Karena itulah judul dari tulisan kali ini adalah Tri Tunggal Ilmu.

Ketahuilah, bahwa ilmu yang menjadi puncak dari keilmuan Jawa itu bernama Sastra Jendra Hayuningrat atau lebih lengkapnya dengan nama Serat Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Alasannya karena di dalamnya memuat wejangan berupa falsafah yang paripurna dan mantra sakti untuk keselamatan dari unsur-unsur kejahatan di dunia. Wejangan dan atau mantra tersebut dapat digunakan untuk membangkitkan gaib “Sedulur Papat” yang kemudian diikuti dengan bangkitnya saudara “Pancer” atau Suksma Sejati. Namun ilmu tertinggi ini tidak bisa serta merta di pelajari, karena sifatnya adalah pemberian dari Hyang Aruta (Tuhan YME).

Sehingga orang yang mendapatkan wejangan dari ilmu ini akan mendapat kesempurnaan, karena bisa menuntaskan ilmu Milhayas alias Sedulur Papat Kalimo Pancer tingkat akhir. Dengan berhasil menguasai level puncak dalam ilmu ini (Milhayas), seseorang akan mengerti semua bahasa manusia dan hewan di dunia (dan mengucapkannya), mampu menundukkan sehebat apapun ilmu kadigdayan yang dimiliki orang lain – termasuk ilmu Dasendria, ngerti sak durunge winarah (tahu sebelum terjadi), bisa membaca isi hati dan pikiran orang lain, bisa melihat dari jarak yang sangat jauh (kasar dan halus), bisa terbang, menghilang, mencipta, dll. Tapi hal ini akan sangat sangat jarang terjadi. Banyak yang tahu tentang ilmu Sedulur Papat Kalimo Pancer, bahkan mendalaminya, tapi hampir tak ada yang mampu menguasai sepenuhnya ilmu itu. Rata-rata hanya separuhnya saja (50%), bahkan cuma sampai di angka seperempatnya (25%). Dan itu pun sudah bisa membuat mereka sakti walau sebenarnya masih belum tuntas dalam menguasainya.

Makanya, secara harfiah arti dari Serat Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu itu berasal dari kata “Serat” yang berarti ajaran, “Sastra Jendra” yang berarti ilmu mengenai raja, “Hayuningrat” yang berarti kedamaian, “Pangruwating” yang berarti memuliakan atau merubah menjadi baik, dan “Diyu” yang berarti raksasa atau lambang keburukan. Raja disini bukan berarti harfiah raja, melainkan sifat yang harus dimiliki seorang manusia yaitu mampu menguasai hawa nafsu dan panca inderanya dari semua kejahatan. Seorang raja harus mampu menolak atau mengubah keburukan menjadi kebaikan. Artinya, bahwa Serat Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu disini adalah ajaran kebajikan dan kebijaksanaan yang harus dimiliki oleh manusia untuk mengubah keburukan menjadi kebaikan demi mencapai kemuliaan dunia akhirat. Ilmu Sastra Jendra ini adalah ilmu makrifat yang menekankan tentang sifat amar ma’ruf nahi munkar (menyuruh kepada yang baik dan mencegah kejahatan), berserah diri, pandai bersyukur, rendah hati, sifat memimpin dengan amanah dan mau berkorban demi kepentingan semua orang. Dan tentunya mengenai siapakah diri seseorang itu dan siapakah pula Tuhannya yang sejati?

Untuk itu, apa yang terkandung dalam ajaran ilmu tertinggi ini sangat berkaitan dengan peran dari Suksma Sejati. Sebab Suksma Sejati itu ada pada diri manusia, tak dapat dipisahkan – meskipun pada hampir semua orang masih “terpisah”, belum bisa menyatu dengan dirinya. Suksma sendiri tak berbeda dengan saat kedatangannya waktu dahulu (dari alam kelanggengan/keabadian), menyatu dengan kesejahteraan dunia, dan mendapat anugerah yang benar, sehingga “persatuan” kawula (hamba) lan Gusti (Pencipta) bisa terjadi. Dan manusia itu bagaikan wayang, sedangkan Tuhan adalah Dalang yang memainkan segala gerak-gerik lakon cerita dan berkuasa atas segalanya – antara perpaduan kehendak.

Ya. Dunia ini merupakan panggungnya, layar yang digunakan untuk memainkan cerita kehidupan makhluk. Bila seseorang ingin mendapatkan ilmu yang biasanya disingkat dengan nama Sastra Jendra ini, berarti ia harus pula mengenal asal usul manusia dan dunia seisinya. Selain itu, ia juga harus dapat menguraikan tentang sejatining pribadi (sejatinya diri sendiri), sejatining urip (sejatinya hidup ini), sejatining Panembah (sejatinya pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa), dan sampurnaning pati (kesempurnaan dalam kematian), yang secara gamblang disebut juga dengan “Innalillahi wa inna illaihi rojiuun” yaitu kembali ke sisi Tuhan dengan tata cara hidup yang layak. Atau yang dalam padanan kata bahasa Kawi-nya (Jawa kuno) yaitu “Hong wilaheng hawigeno hastu” atau dalam bahasa Daiwi Wak (Sanskerta)-nya adalah “Aung gangsa adirataksi awigina astahanu” yang artinya kurang lebih “dari tiada menjadi ada dan kembali ke tiada, yang sesungguhnya ada“. Dan semua itu untuk mencapai budi pekerti yang suci dan bisa langsung mendapatkan tuntunan dari Sang Maha Guru Sejati, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

Nah, pertanyaannya kini adalah bagaimana caranya untuk bisa mewujudkan dan atau menguasai ilmu Milhayas dan Sastra Jendra itu?

Jawabannya adalah perlu untuk bisa menguasai terlebih dulu apa yang disebut dengan ilmu Dasendria. Sebuah ilmu tingkat tinggi warisan leluhur kita dan menjadi dasar tahapan untuk bisa menguasai ilmu selanjutnya, yaitu Milhayas dan Sastra Jendra.

Wahai saudaraku. Sebagaimana yang telah disampaikan dalam artikel sebelumnya, maka ilmu Dasendria itu adalah ilmu untuk bisa menguasai atau mengendalikan indera manusia yang berjumlah 10 (Dasa Indria). Oleh sebab itu, seseorang harus melakukan pembersihan diri dengan ber-Karana Sarira (Suksma Sarira yang sudah terurai bersih). Karana Sarira; Manomaya Kosha adalah lapisan diri kita yang tersusun dari pikiran, perasaan dan tindakan. Pikiran haruslah bersih, sikap mestilah penuh welas asih, dan kebaikan harus selalu dalam keadaan tanpa pamrih (tulus-ikhlas). Karena itu, untuk bisa mencapai puncak dari ilmu ini, siapapun harus terlebih dulu membersihkan diri, caranya dengan melakukan Suksma Sarira; yaitu membersihkan keinginan, hawa nafsu, dan emosi yang negatif.

Selain itu, seseorang juga harus melakukan Triantah Karana, yaitu mengendalikan Buddhi (hati, naluri), Manah (akal-pikiran), dan Ahamkara (rasa keakuan diri). Dengan bisa melakukan minimal ketiga hal di atas (Karana Sarira, Suksma Sarira, Triantah Karana), seseorang akan bisa menguasai ilmu yang sangat hebat ini, yaitu Dasendria.

Mengapa bisa begitu? Sebab dengan ber-Karana Sarira, Suksma Sarira dan Triantah Karana, seseorang baru akan bisa mengendalikan Panca Buddhindria dan Panca Karmendria-nya. Keduanya itu adalah syarat utama dalam meraih pencerahan, yang merupakan tolak ukur untuk bisa menguasai ilmu Dasendria.

Adapun di antaranya sebagai berikut:

1. Panca Bunddhindria
Dalam hal ini adalah mengendalikan kelima indera perasa, yaitu: Caksundria (rangsang penglihatan; indera pada mata), Srotendria (rangsang pendengar; indera pada telinga), Ghranendria (rangsang penciuman; indera pada hidung), Jihwandria (rangsang pengecap, indera pada lidah) dan Twakindra (rangsang peraba; indera pada kulit).

2. Panca Karmendria
Dalam hal ini adalah mengendalikan kelima indera penggerak, yaitu: Garbendria (pengerak pada mulut), Panindra (penggerak pada tangan), Padendria (penggerak pada kaki), Payundria (penggerak pada organ pelepasan), dan Upasthendria (penggerak pada alat kelamin).

Nah jika disatukan, kedua bagian itulah yang disebut dengan Dasa Indria atau Dasendria, atau 10 indera pada diri manusia. Yang ketika seseorang mampu mengendalikannya, maka itu berarti ia sudah menguasai ilmu tingkat tinggi yang bernama Dasendria. Dengan menguasai ilmu ini, artinya terbukalah jalan lurus menuju pencerahan hidup. Dampaknya adalah bahwa seseorang akan mampu membawa kebaikan dalam hidup pribadinya dan juga orang-orang di sekitarnya. Kedamaian akan tercipta, keadilan akan terpenuhi dan kesejahteraan akan menemani diri yang bersangkutan. Inilah hal yang terpenting dalam kehidupan dunia ini, juga terkait dengan syarat untuk menguasai ilmu Milhayas dan Sastra Jendra nantinya. Dan saat orang yang sudah menguasai ilmu Dasendria ini meninggalkan kehidupan duniawi ini dengan cara moksa, ia akan menempuh jalan menuju ke Swargaloka. Tempat tinggal bagi para hamba Tuhan yang terbaik dan penuh cinta.

Catatan: Khusus untuk kelebihan dari ajian ilmu Dasendria ini, maka jika berhasil dikuasai, seseorang akan mampu menirukan semua jurus dan kesaktian orang lain dalam waktu singkat. Dengan penguasaan diri pada 10 indera tersebut, ditambah dengan beberapa mantra dan latihan khusus, seseorang akan mampu menirukan setiap jurus dan kesaktian orang lain dengan sangat mudah, bahkan lebih hebat.

Hanya saja untuk bisa menguasainya tidaklah mudah. Sebab ilmu ajian Dasendria bukanlah ilmu sembarangan dan tidak bisa seenaknya disampaikan. Harus dari seseorang kepada seorang yang lainnya secara langsung (tatap muka) dan rahasia. Dan selain tingkatnya tinggi, ilmu ini juga sangat jarang bisa dikuasai. Semua itu terjadi karena sangat tidak mudah untuk bisa melakoni setiap syaratnya, dan hanya orang-orang yang terbaik dan berjiwa kesatria sajalah yang bisa memilikinya. Tidak sedikit latihan yang harus di jalani dan banyak pula tirakat hidup (mesu raga dan mesu jiwa) yang harus di lakukan. Tidak ada jalan yang mudah dalam hal ini, apalagi instan. Harus sabar dan tekun.

Selain itu, dimasa sekarang ini khususnya, ilmu ajian semacam itu hampir tidak mungkin dikuasai oleh seseorang karena beratnya latihan yang harus dilalui. Siapapun harus menyendiri di tempat sepi (hutan, gunung) selama waktu yang lama untuk berlatih keras dan bertahap serta rajin pula melakukan Samhu (tapa brata) dalam berbagai caranya. Satu hal yang hampir tidak mungkin di lakukan oleh orang yang hidup di zaman sekarang. Apa lagi bagi mereka yang masih terlalu mengagungkan harta, jabatan dan popularitas. Sehingga hanya orang yang selevel dengan Mahapatih Gajah Mada saja yang bisa menguasainya. Karena ingatlah betapa selama puluhan tahun beliau teguh memegang Sumpah Palapa-nya itu, yang berarti meninggalkan kesenangan duniawi walau pun ia hidup di tengah-tengah kemegahan Majapahit dan sanjung pujinya. Harta, jabatan dan popularitas tak pernah membuatnya lupa diri. Sang Kesatria Begawan telah mampu mengendalikan Dasa Indria-nya dengan sempurna.

Kesimpulannya, maka antara ilmu Sastra Jendra, Milhayas dan Dasendria itu adalah satu kesatuan yang utuh. Tidak bisa dipisahkan, seperti napas dan kehidupan manusia. Jika Sastra Jendra adalah puncaknya, maka Milhayas adalah jalurnya, sementara Dasendria itu adalah bekal untuk pendakiannya. Seseorang takkan bisa tiba dipuncaknya jika ia tidak melalui jalur pendakian itu dan memiliki bekal yang cukup selama perjalanan. Dalam hal ini jelas tak berlaku cara-cara yang instan, atau seperti dengan terbang menggunakan pesawat lalu terjun bebas ke puncaknya. Tidak bisa, karena harus tetap mendaki pelan-pelan dan mengikuti tahapannya dengan tekun satu persatu. Harus selalu sabar dan senantiasa berserah diri.

Semoga uraian ini bermanfaat. Rahayu.. _/|\_

Jambi, 04 Maret 2018
Harunata-Ra

Catatan akhir:
1. Tulisan ini disarikan dari berbagai sumber dan diskusi.
2. Tidak ada niatan untuk menggurui atau merasa paling hebat sendiri. Tugasku hanya sebatas menyampaikan dan mengingatkan saja.

Iklan

Penulis:

Saya orangnya apa adanya... dan untuk lebih jelasnya silahkan baca di halaman "Tentang_ku" pada blog ini.

27 tanggapan untuk “Tri Tunggal Ilmu (Dasendria, Milhayas, dan Sastra Jendra)

    1. Rahayu juga mas/mbak Triwulan.. Nuwun atas kunjungan dan dukungannya, moga bermanfaat.. 🙂

      Aamiin.. Moga aja begitu mas/mbak.. Gak lama lagi bakal ada penghakiman bagi semua manusia di bumi.. Yg udah bersiaplah yg bakal selamat atau diselamatkan.. 🙂

      1. adakah tanda bahwa penghakiman sang Agung itu sudah datang mas oedi..selain bencana yang akhir akhir ini sering terjadi..

      2. Hmm.. menurutku penghakiman-Nya sih blm datang.. semua musibah dan bencana besar yg terjadi skr baru pemanasannya.. Cobalah bayangkan gimana dahsyatnya wkt azab Banjir Bah di zaman Nabi Nuh AS dulu, begitulah penghakiman yg bakal terjadi di zaman kita, bahkan lebih dari itu kengeriannya… Kalo dulu satu atau dua kaum aja yg rusak, dan mrk langsung di azab sampe musnah.. nah skr kan yg rusaknya semua kaum di seluruh dunia.. Itulah kenapa azab penghakiman yg akan datang itu sgt dahsyat dan mungkin blm pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah manusia di Bumi.. Cuma org yg bener2 baik dan beriman saja yg akan selamat atau diselamatkan nanti…

    1. Nuwun atas kunjungannya mas Suryo, moga bermanfaat.. 🙂
      Hmm.. Bisa jadi mas, apalagi orang yg sekelas beliau tentu sgt bisa menguasainya.. Levelnya udah tinggi banget..

  1. Menarik sekali untuk dipelajari apabila ada yang mau dan sudi mengajarkan ilmu tsb, buat saya kayaknya mimpi kali yee… 😀😂 bisa mempalajarinya sekitar 5% saja kayaknya saya bisa besar kepala kayaknya, ihh ngeri amit²… 😁😬.

    Apa sama ilmu yang d amalkan ini oleh para Kesatria unggulan yg menjadi pemimpin besar dari leluhur kita kaum² terdahulu spt dari Zalya – Tiyasati yg termuda mungkin. Apa dari ilmu ini pula tingkatan prosentase dari para penghuni khayangan dari Rsi sampai Sang Hyang yang puncaknya sampai 100% atau ada ilmu yg lain lg yg lebih tinggi tingkatannya untuk para penghuni khayangan tsb.
    Ada cerita lain bahwasanya konon katanya sang pemuda unggulan dari keturunan utama yg akan memimpin pasukan akhir zaman ini ujiannya sejak seribu tahun yg lalu bahkan lebih mengingat perang yg akan dihadapi sangat sangat teramat berat atau mungkin gag terlalu lama karena semua ilmunya warisan dari para leluhurnya kaum² terdahulu ibaratnya tinggal isntal applikasi saja 😊😀

    Salam…
    Rahayu… 🙏

    1. Rahayu juga kang Tufail, nuwun karena masih rajin berkunjung.. moga ttp bermanfaat.. 🙂

      Iya kang, bukan hanya menarik tapi sgt beruntung sekali kalo bisa mempelajari ketiga ilmu itu.. Gak usah ketignya deh, yg Dasendria aja udah cukup banget kok.. Cuma ya itu, gak mudah.. termasuk mencari seorang guru yg mumpuni, yg bisa membimbing kita utk bisa jadi seorang kesatria yg sejati, yg bisa menguasai dirinya sendiri, gak sombong n besar kepala.. Ketiga ilmu ini udah langka dikuasai, bahkan emg udah dari dulu begitu kok..

      Ketiga ilmu ini merupakan acuan dasar yg harus dilalui oleh siapapun sblm ia menjadi kesatria atau pun sebagai pemimpin besar, khususnya di Nusantara.. Gak ada jalan lain, termasuk juga bagi mrk yg tinggal di Kahyangan. Hanya saja memang selalu ada tingkatan dari setiap ilmu itu… Artinya, ketiga ilmu itu akan berbeda levelnya antara yg utk manusia di Bumi dengan untuk mrk yg tinggal di Kahyangan, beda kelasnya lah, tapi intinya tetap sama.. Gitu juga di kalangan manusia, tingkat pemahaman dan pengamalan dari ketiga ilmu itu akan berbeda-beda. Ya tergantung dari seberapa byk tirakat, perenungan dan pemahaman yg bersangkutan pada ketiga ilmu itu. Selalu ada tingkatannya, dan kalo satu berhasil masih ada tingkat yg diatasnya lagi. Ini pula yg menjadi tolak ukur kesaktian yg di miliki oleh seseorang yg mempelajari ketiga ilmu itu.. Contoh mudahnya; dalam mengasah ketiga ilmu itu ada saatnya seseorang harus ber-tapa brata. Nah kalo manusia hanya bisa beberapa tahun ato puluhan tahun aja, para Dewa bisa ribuan bahkan jutaan tahun. Karena tapa brata para Dewa lebih lama dari manusia, tentu kesaktian yg didapatkan oleh para Dewa secara otomatis melebihi manusia kan? Itu penjelasan mudahnya kang.. makanya level ilmunya para Dewa selalu berbeda dg manusia..

      Dan kalo pertanyaannya apakah ada ilmu lain yang lebih tinggi dari ketiga ilmu itu, jawabannya tentu ada karena ilmu itu sifatnya tak terbatas. Selalu ada di atasnya lagi dan lagi dan lagi… hanya saja tentu tidak semua org bisa mencapainya.. Semakin tinggi kedudukan ilmu tersebut, maka semakin sedikit pula yg bisa mencapainya.. Hanya Tuhanlah yg tau batas tertinggi dari setiap ilmu itu..

      Tentang sosok pemuda pilihan itu, setau saya sih gak seperti itu kang. Beliau tetaplah sebagai sosok manusia yg normal, ya seperti umumnya kehidupan manusia di masa skr ini dan berasal dari keluarga yg sederhana. Lama wkt ujian hidupnya pun sama, tidak sampai ribuan bahkan ratusan tahun kok.. cuma puluhan tahun aja sejak ia di lahirkan.. Hanya saja bentuk dan level ujian yg beliau terima gak seperti orang2 pada umumnya, levelnya lebih sulit dan hanya beliau yg mampu menghadapi ujian sesulit itu.. Gak ada yg menerima ujian hidup seperti beliau. Itulah yg membedakan antara dirinya dg siapapun yg hidup di dunia ini skr.. makanya sifat utamanya adalah selalu bersikap Natiqoh selama hidupnya..

      Trus mengenai kemampuannya, beliau itu sosok pilihan yg menerima anugerah langsung dari Tuhan dan Tuhan pun bisa memberikan apapun kepada yg Dia kehendaki tanpa harus mengikuti hukum alam.. Jadi beliau gak butuh wkt ribuan tahun utk berlatih ilmu dan kesaktian, bahkan ratusan tahun aja gak kok. Tapi hal ini bukan berarti Sang Pemuda tidak pernah latihan loh, karena Tirakatnya kuat bgt dan beliau selalu membaca, menulis, memperhatikan, merenung, menghayati dan ber-tapa Ngrame sepanjang hidupnya.. Terlebih semua yg dibutuhkannya nanti udah dipersiapkan oleh para leluhurnya dulu, semua jenis pusaka dan teknologi pun udah dipersiapkan untuknya berjuang nanti.. Bahkan skr semua pusaka itu sudah tunduk kepadanya dan menanti waktu untuk dipergunakan oleh Sang Pemuda pilihan Langit itu. Jadi tinggal di pake aja kok, tapi harus sesuai dg petunjuk Hyang Aruta. Sang Pemuda akan selalu bertindak sesuai dg petunjuk-Nya, gakkan pernah melakukan sesuatu yg sesuai dg hasrat keinginannya sendiri.. Selalu menunggu perintah-Nya. Inilah keistimewaan diri beliau itu, yg gak ada duanya lagi skr.. Makanya semua Nabi pun telah menyampaikan ttg sosok ini.

      Gitu aja kang menurut saya, maaf kalo kurang memuaskan.. 🙂

      1. Sedulur Papat Kalimo Pancer, Saya pernah mendengar istilah dari tatar Parahyangan ini “Opat Papat Kalima Pancer” dan sampai skr belum mendapat penjelasan yang tepat akan hal ini ternyata bagian dari ilmu diatas. Penjelasan yg saya dapat selalu dihubungkan dgn cerita pewayangan pandawa lima cepot, gareng dst.. lagi² Sang Hyang Ismaya yg menjadi pancernya, lain kisah yg opat itu unsur elemen pembentuk tubuh ini air, tanah, api, udara dan ether. Kira² apa dari istilah ini yang masing² dari mereka mempunyai argumen yang kekeuh akan hal ini…
        Nah pada awalnya siapa pula yg mengajarkan ilmu² diatas ini dan dimulai pada masa periode peradaban zaman keberapa?
        Untuk saya yg masih awam dan tak kunjung pintar ini bisa gag saya melihat bahwa ciri ciri seseorang itu dari kalangan yang Waskita, oh ini ni kayaknya Resi ataupun Begawan karena zaman now ini banyak yg akuan ngaku ngaku aja dan maunya harus dipanggil dg gelar tertentu, sok sebeul keuzeul… 😁😂
        Salam…
        Rahayu… 🙏

      2. Rahayu juga kang Tufail…

        Hmm.. hemat saya, tentang ilmu Sedulur Papat Kalimo Pancer atau yg di tatar Sunda disebut “Opat Papat Kalima Pancer” itu bisa ditafsirkan menjadi byk hal dalam kehidupan ini.. Para leluhur kita sudah sangat bijak utk menyampaikan kandungannya dg berbagai cara dan media, termasuklah kisah pewayangan. Hal ini utk komsumsi publik, dan akan berbeda kalo utk yg kalangan tertentu saja. Terlebih buyut-buyut kita itu senang bgt menggunakan berbagai simbol dalam menyampaikan suatu gagasan, ide atau ajaran hidup ini.. Maklumlah, biasanya org itu kalo sudah tinggi ilmunya senang pake bahasa isyarat yg disesuaikan dg pemahaman atau istilah-istilah yg sudah ada di masyarakat. Tujuannya agar lebih mudah dipahami oleh orang banyak, atau setidaknya mrk itu pernah mendengar tentang pokok ajaran yg disampaikan itu, meskipun pada akhirnya gak byk juga yg mau mendalaminya.. Ya ibarat sekolah, apa yg disampaikan oleh leluhur kita dalam cerita pewayangan itu baru tingkat SD saja, masih harus naik tingkat SMP, SMA, bahkan Universitas.. Barulah ilmu Opat Papat Kalima Pancer itu sempurna di pelajari dan dipahami..

        Artinya, ilmu Sedulur Papat Kalimo Pancer atau Opat Papat Kalima Pancer itu ibarat sumber mata air yg airnya bisa digunakan utk berbagai kebutuhan. Bisa langsung di minum, tapi bisa juga diolah dulu sedemikian rupa seperti di kasih sirup, di kasih ramuan jamu, di kasih cendol, dsb.. dan air itu juga menjadi bagian yg sgt penting utk memasak menu makanan, kue dan bahan olahan lainnya. Tanpa air maka tak ada makanan yg lezat, karena akan sgt susah membuatnya.. Jadi, intinya ilmu Milhayas itu bisa diterjemahkan ke dalam berbagai bentuk dan sub pokok pengetahuan lainnya, dan media untuk menyampaikannya juga bisa bermacam2, tergantung kebutuhan, situasi yg ada, dan kreatifitas seseorang.. Itulah kenapa ilmu ini berada di level yg sangat tinggi, setingkat dibawah ilmu Sastra Jendra yg merupakan ilmu tertinggi di Jawa-Sunda. Perlu wawasan yg luas untuk bisa memahaminya, apalagi untuk bisa menguasainya..

        Tentang siapa yg pertama kali mengajarkannya, maka sosok tersebut adalah Ayahanda Adam AS sendiri di zaman pertama (Purwa Duksina-Ra), lalu di ajarkan kembali oleh Nabi Syis AS, Nabi Nuh AS, dan Nabi-Nabi yg lain di zaman yg lainnya. Selanjutnya ilmu ini berkembang dg jalannya sendiri sampai skr.. Para Resi, Begawan dan Wali termasuk orang-orang yg terlibat di dalamnya sbg guru atau yg mengajarkannya kembali..

        Tentang ciri sosok yg waskita, waaaah ttg itu saya juga kurang paham kang.. maklumlah saya masih awam banget gini.. Tapi mungkin di antara tandanya dia gakkan menonjolkan dirinya atau menunjukkan kemampuannya, kecuali kalo emg harus atau sudah terpaksa… Dia sgt anti mengaku-ngaku diri ttg berbagai hal.. Gak juga bilang-bilang kalo dia itu Resi lah, Begawan lah, ato Wali lah, apalagi sampai mengharuskan orang memanggilnya dg sebutan khusus. Ia lebih senang dianggap orang biasa aja kok, tanpa gelar atau embel-embel lainnya.. Gak pernah marah walau di hina ato gak di anggap.. Dan biasanya gakkan terlibat dalam urusan politik dan kekuasaan, karena justru menjauhinya.. Mrk bebas dan merdeka, tak ada yg bisa mengatur hidupnya kecuali hanya kpd Hyang Aruta saja ia tunduk dan berserah diri.. Dan hidupnya hanya utk mengabdi kepada kebenaran dan kemanusiaan.. Karena itulah, senyumannya jadi tulus dan enak dilihat.. sikapnya pun ramah pada siapapun dan sgt rendah hati, suka menolong tanpa pamrih.. Dan dia akan lebih menghormati orang miskin ato yg tak berpendidikan (rakyat jelata) dari pada seorang pejabat ato orang kaya..

        Gitu aja kang yg bisa saya jelaskan, maaf kalo kurang memuaskan.. 🙂

      3. Dari penjelasan mas oedi cuma 2 kesimpulan nya, diri pemuda itu mas oedi sendiri dn kdua klau diri pemuda itu bukan mas oedi brrti ia org yg sangat dekat, klau tidak bagaimana mas oedi bisa dengan detail menjelaskan perjalanan hidup sang pemuda😂😂

      4. Saya bukan keduanya loh mas Delphi.. Lalu tentang bagaimana saya bisa tau, ya itu ibarat kita tidak perlu datang ke suatu tempat untuk bisa mendapatkan info yg ada.. kan bisa baca keterangan di artikel yg ada di blog dan website atau buku2 perjalanan atau lihat video dokumenter, tentu sudah bisa mendapatkan infonya. Atau jika memungkinkan kita bisa juga melihatnya langsung dari jauh lewat teleskop atau satelit..

  2. siip mas oediku lanjutkan aku sangat mendukung..
    tri tunggal ilmu yg di bawa sang pemuda..
    masa itu segera tiba
    dan pemuda itu sudah datang.. salam rahayu mas

    1. Rahayu juga mas Maliki.. Nuwun karena masih mau berkunjung, semoga ttp bermanfaat.. 🙂
      Syukurlah kalu suka, nuwun juga atas dukungannya.. 🙂
      Iya mas, beliau sudah ada di tengah2 kita cuma masih selalu tersembunyi.. Tapi marilah kita bersiap-siap menantikan wejangan ttg ketiga ilmu itu dari Sang Pemuda.. sungguh beruntung kalo bisa jadi muridnya nanti.. Ttp semangat! 🙂

    1. Hmmm… iya mas.. bahkan semua yg nanti mengikutinya akan disebut muridnya kok.. sebab beliau adalah sang mahaguru yg mengembalikan ajaran kebenaran yg sejati.. 🙂

  3. Siapa kah pemuda itu dia yg sangat dirahasiakan bahkan tidak ada yg mengetahui keberadaanya?dikarenakan sang pemuda itu memang rahasia itu sendiri semoga mas oedi diberi kesehatan kebahagiaan dan kesemlatan oleh hyang aruta

    1. Aamiin.. Terima kasih mas/mbak Christian untuk doanya, semoga gitu juga untukmu.. 🙂
      Hmm.. Ttg sosok itu kita baru akan tau kalo beliau sudah muncul dan bikin perhitungan… Tapi rasanya udah gak lama lagi kok, sebab beliau pun sudah ada dan hidup di antara kita… Mungkin di antara kita sudah pernah ada yg ketemu tapi gak nyadar kalau dialah orangnya.. 🙂

  4. Saktinya manusia atau disebut menguasai Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah disaat manusia disebut manusia beriman dan menerima laporan amalnya menggunakan tangan kanannya. Segala Malaikat senantiasa memuji hamba-hambaNya yang mencapai maqam manusia beriman. Segala Puji Bagi Allah SWT, Tuhan Seru Sekalian Alam

    1. Hmmm.. Pencerahan apa dan yg bagaimana mbak Liliana? Dan jg panggil guru dong, belum pantes.. karena saya ini masih baru belajar kok, di tingkat dasar malah..

    1. Waaah maaf mas/mbak aku.. saya ini bukanlah seorang guru dan memang tak pantas untuk itu.. kita sama2 belajar aja deh, atau justru saya yg harus belajar dengan Anda.. Silahkan cari yg lain yang mumpuni, karena saya jelas tidak layak.. 🙂

  5. Subhanallah…..Allahu akbar …sgl puji allah sbagai pencipta dn pemilik sgl ilmu dn terima kasiih kpd panjenengan yg telah sudi untuk berbagi/mngajari kita semua lewat tulisan …

    Kulo mau bilng ingin mempelajaridn memiliki ke 3 ilmu trsebut .alhamdulillah gakk berani dn merasa mboten mampu mas

    1. Sekali lagi terima kasih juga ya mbak Asyifa karena masih mau berkunjung, semoga ttp bermanfaat.. 🙂

      Kita sama2 belajar deh mbak.. saya juga seorang murid yg baru belajar kok.. 🙂

      Hehe.. ketiga ilmu itu sangat tinggi dan jelas teramat susah untuk dikuasai mbak.. orang2 dulu aja kesusahan, apalagi kita skr ini yg gak rajin tirakat.. Dan sebaiknya jangan kalo blm siap dan memiliki dasar yg kokoh, bisa keblinger, sesat dan bahkan gila nanti..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s