Keistimewaan Nusantara (2)

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Rasanya malu untuk menyampaikan artikel ini, sebab ia terkait dengan warisan para leluhur kita. Tentang sikap yang adi luhung, yang menjadi ciri khas bangsa Nusantara yang sesungguhnya. Terlebih diri ini pun merasa belum mampu untuk mengikuti jejak mereka, padahal itulah yang akan mengantarkan setiap pribadi ke dalam mahligai kebahagiaan yang sejati. Siapapun yang mau mengikutinya bisa mencapai kesempurnaan hidup dan membangun peradaban yang gemilang.

Ya. Satu anggapan yang keliru bila tetap mengira bahwa kehidupan di Nusantara pada masa lalu adalah primitif. Karena disaat bangsa Eropa masih tinggal di gua-gua – lantaran sedang memasuki zaman kegelapan (dark ages), para leluhur kita justru sudah memiliki peradaban yang tinggi dan mengagumkan (tentang hal ini sudah kami bahas di artikel: Keistimewaan Nusantara (1)). Dan itu tidak hanya sebatas urusan bangunannya saja, melainkan juga sampai kepada urusan sastra dan falsafah hidupnya. Leluhur kita adalah sosok yang arif dan bijaksana. Mereka telah hidup dengan menembus batas-batas keduniawian.

Adapun yang menjadi buktinya adalah sebagai berikut:

1. Prinsip hidup
Sungguh, disaat orang Eropa masih hidup primitif dan tinggal di gua-gua, di kala bangsa Arab masih bermukim di tenda-tenda dan hidup nomaden, bangsa Nusantara sudah memiliki sistem pemerintahan yang tertib – mulai dari desa sampai ke pusat kerajaannya. Bangsa Nusantara juga telah mengekspor rempah-rempah, kayu jati, gading, dan kapur barusnya dengan maskapai sendiri ke Afrika, Jazirah Arabia, Eropa, China, India, dan tempat-tempat lainnya di berbagai belahan dunia. Ini jelas menunjukkan betapa bangsa Nusantara pada masa lalu hebat dan berkelas.

Lalu, menurut pandangan asli leluhur kita dulu maka Tuhan itu adanya hanya satu, yang lainnya adalah impian belaka. Tidak ada Tuhan lain kecuali Yang Tunggal semata, yang merupakan kebenaran mutlak. DIA bisa disebut dengan banyak nama dan istilah, namun hakekat-NYA tetaplah satu. Sedangkan dunia yang kita lihat ini bukanlah suatu kenyataan, tetapi sekedar impian-impian. Karenanya seorang yang sedang bermimpi tidak dapat merasakan apa yang terjadi dalam impiannya itu. Tetapi setelah ia terjaga dari tidur (sadar diri), barulah ia sadar bahwa apa yang dialami selama mimpi tadi adalah bukan suatu kenyataan yang benar. Lebih kepada ilusi yang menipu.

Oleh sebab itu, pandangan para leluhur kita dulu pun menganggap bahwa di dunia ini terdapat juga alam Maya. Maya itu merupakan penghalang utama bagi Jiwa dalam tujuannya untuk mencapai Moksa (pelepasan Jiwa, kebebasan Jiwa). Penghalang-penghalang itu selalu mengikat erat-erat terhadap Jiwa. Dan perbuatan yang tidak baik di alam Maya adalah yang menjadi sebab pengikat erat Jiwa itu sendiri. Adapun jalan atau cara untuk dapat memutuskan tali pengikat erat terhadap Jiwa itu adalah : Kemurahan dari Hyang Aruta (Tuhan Yang Maha Esa). Dan untuk mendapatkan kemurahan dari Tuhan Yang Maha Esa, maka harus dicapai dengan jalan ber-bhakti dan mengabdi kepada-NYA.

Catatan: Tentang ber-bhakti dan mengabdi kepada-NYA, silahkan baca tulisan di link ini: Bhakti Nyata Seorang Hamba.

Selanjutnya mengenai sikap dari para leluhur kita yang sangat mengedepankan rasa rendah hati. Hal ini jelas terlihat dalam kesusastraan kuno dimana banyaknya serat, kakawin, sloka, kitab, hikayat, atau naskah yang tidak dicantumkan nama pengarangnya. Kalau pun ada, nama itu bukanlah nama aslinya, tetapi hanya sebatas nama samaran. Sang penulis karya tersebut dengan sengaja melakukannya karena ia sadar bahwa sesungguhnya ilmu pengetahuan itu bukanlah miliknya seorang, melainkan hanya milik dan berasal dari Tuhan. Sebagai seorang makhluk, ia pun merasa tak pantas untuk “mengakui” bahwa apa yang ia tuliskan itu sebagai karya ciptanya. Hal itu sama dengan berbuat kesombongan, sebab yang bisa mencipta itu hanyalah Tuhan. Sebuah sikap dan pandangan hidup yang sangat bertentangan dengan apa yang di lakukan oleh mayoritas orang sekarang.

Catatan: Terkait nama samaran, maka contoh nyatanya adalah di kitab Nagarakretagama yang ditulis oleh seorang yang bernama Mpu Prapanca. Nama itu bukanlah nama sebenarnya sang penulis, melainkan hanya nama samaran saja. Dan barulah setelah di lakukan kajian dan penelitian, kini bisa diketahui siapa nama asli dari penulis kitab yang masyhur itu. Dia bernama Dang Acharya : Nadendra. Seorang yang terhormat di kerajaan Majapahit, tepatnya pada masa Prabu Hayam Wuruk (1350-1389 M), karena ia pernah menjabat sebagai Dharmadyaksa ring Kasogatan (pemimpin urusan agama Buddha). Beliau adalah putera dari seorang pejabat istana Majapahit dengan pangkat yang sama, yaitu Dharmadyaksa ring Kasogatan.

Catatan: Lebih detil tentang kitab Nagarakretagama silahkan baca di link ini: Kitab Nagarakretagama : Naskah asli dan terjemahannya.

Dan terkait dengan sastra ini, maka di dalam setiap melakukan sesuatu para leluhur kita dulu selalu mengindahkan Tutur (Sastra naluri yang berupa uraian tentang hakekat agama dan kehidupan yang sejati)-nya. Tutur ini tak hanya sekedar kata-kata, tetapi lebih kepada makna dan penjiwaannya.

Sedangkan jenis Tutur yang terdapat pada waktu itu di Nusantara adalah sebagai berikut:

1. Tutur Sapta Bhawana
Ini adalah pemahaman dan sikap diri tentang tujuh bhawana (alam, dunia), dimana semuanya terus dinaungi oleh kekuatan dari Sang Maha Pencipta sebagai pemelihara. Dan ke tujuh alam itu diciptakan oleh Yang Maha Kuasa dari Diri-NYA Yang SATU.

Adapun ke tujuh alam/dunia yang dimaksud yaitu:

1. Alam Material.
2. Alam Baka (alam orang mati).
3. Alam Kehidupan Dunia.
4. Alam Maya (alam imajinasi, ilusi).
5. Alam Roh (Surga dan Neraka).
6. Alam Kahyangan, alam para Malaikat dan Dewa-Dewi.
7. Alam Kesadaran Murni.

2. Tutur Amerta Kundalini
Ini adalah pemahaman dan sikap akan pentingnya menjaga segala kegiatan atau Yadnya, baik yang terlihat ataupun tidak.

3. Tutur Muladara
Ini adalah pengetahuan tentang bagaimana cara-cara mengenal diri sejati, juga tentang cara memanggil saudara-saudara kita yang lahir bersama kita (sedulur papat kalimo pancer), lalu diminta untuk menjaga diri kita agar terhindar dari marabahaya. Disebutkan juga bahwa urat-urat tubuh kita adalah penghubung atau kabel penyambung untuk menyampaikan segala sesuatu kepadanya. Disinggung pula uraian tentang pencerminan bhuwana agung (makrokosmos) terhadap bhuwana alit (mikrokosmos), serta sebutan nama-nama kanda seperti: kanda lima, pat, telu, ro, dan kanda tungggal.

4. Tutur Sang Yogadharana
Jenis tutur ini diambil dari dua kata yaitu “Yoga” dan “Dharana“. Kata Yoga berasal dari bahasa Sanskerta dari akar kata “Yuj” yang berarti menghubungkan atau hubungan yang harmoni dengan objek yoga. Selain itu yoga juga bisa berarti mengendalikan gerak-gerik pikiran atau cara untuk mengendalikan tingkah polah pikiran yang cenderung liar, bias, dan terikat oleh aneka ragam objek yang memberi kenikmatan. Sedangkan kata “Dharana” berarti menahan. Artinya, seseorang itu perlu menahan segala yang tidak baik atau tidak sesuai dengan tuntunan kehidupan yang benar agar menjadi seorang pribadi yang paripurna dan sempurna. Untuk bisa mencapai hal itu, maka diperlukan pengetahuan tentang Tutur Sang Yogadharana secara tuntas. Inilah yang di lakukan oleh para leluhur kita dulu sebelum ia melakukan sesuatu.

2. Karya cipta
Dari berbagai catatan kuno (serat, kakawin, sloka, dll) maka dapat disimpulkan bahwa orang Nusantara pada masa lalu telah memiliki daya intelektual yang tinggi dan kedalaman ruhani. Dan lebih istimewanya lagi, mereka lebih suka menyembunyikan jati dirinya dalam bentuk sanepan atau perlambang. Tak jarang pula yang bahkan sampai tidak mencantumkan namanya (anonym). Sebab para leluhur kita telah sangat memahami bahwa kebenaran sejati itu tetaplah milik Sang Pencipta. Sebagai makhluk ia tak pantas untuk mengaku-aku atau bersikap bangga dengan apa yang sudah ia lakukan – dalam hal ini membuat karya tulis. Kebalikan dari sikap orang-orang di masa sekarang yang justru senang mengumbar kemampuannya di depan umum – kini di tambah lagi dengan di media sosial – agar diakui atau menjadi terkenal.

Salah satu contoh karya tulis yang adi luhung itu adalah yang berjudul Nirartha Prakretha. Kakawin (puja sastra) yang sarat dengan makna kearifan lokal ini ditulis oleh Mpu Prapanca setelah ia pensiun dari jabatannya di Majapahit, tepatnya setelah usai merampungkan kakawin Nagarakretagama. Kakawin yang ditulis di atas daun lontar ini berjumlah 13 pupuh dan berbahasa Kawi. Bersama dengan lontar Nagarakretagama, kakawin ini berhasil di selamatkan oleh J.L.A. Brandes dari puing-puing Puri Cakranegara, Lombok pada tahun 1894.

Catatan: Lebih detil tentang kakawin Nirartha Prakretha akan diuraikan dalam artikel berikutnya.

Dan khusus tentang kemegahan bangunan yang telah berhasil para leluhur kita dirikan, maka selain Candi Prambanan, Candi Borobudur, dan Candi Panataran, maka ada komplek istana yang sangat indah. Dalam hal ini sekali lagi kami ambil contoh di kerajaan Majapahit. Dimana terdapat catatan dari seorang penjelajah Eropa asal Italia bernama Odorico Mattiuzzi. Dalam bukunya yang berjudul “I viaggi di Frate Odorico” atau yang dalam bahasa Inggrisnya berjudul “The travels of Friar Odoric“, sang pastor menerangkan bahwa ia telah mengunjungi beberapa tempat di Nusantara yaitu Sumatera, Jawa, dan Banjarmasin di pulau Kalimantan. Ia dikirim oleh Paus Yohanes XXII untuk menjalankan misi Katolik di Asia Tengah.

Dan suatu ketika sang pastor sempat berkunjung ke pulau Jawa pada sekitar tahun 1321-1322 Masehi. Saat itu telah berdiri sebuah kerajaan besar yang berhaluan maritim agraris, yang bernama Wilwatikta (Majapahit). Adapun di Jawa ia sebenarnya cuma ingin singgah, tapi akhirnya tinggal cukup lama. Dan saat berkunjung ke ibukota kerajaan Majapahit, sang pastor dipersilahkan untuk berkunjung dan bertamu di salah satu istananya. Dalam catatan kesaksiannya ia pun menulis:

….. ada sebuah pulau yang sangat besar, namanya Jawa,….. Maharaja di pulau ini mempunyai banyak istana yang sangat mengagumkan. Karena saking besarnya, anak tangga atau undak-undaknya pun besar, luas, dan tinggi. Bahkan, anak-anak tangganya diselang-seling dengan emas dan perak. Bahkan, jalanan atau trotoar di istana disusun menggunakan satu ubin emas dan satu ubin perak yang berselang seling. Demikian juga dengan dinding istananya berlapis emas. Di bagian luarnya banyak ukiran-ukiran kesatria-kesatria dari emas. Banyak dari kepala patung kesatria tersebut dikelilingi lingkaran-lingkaran emas, seperti orang-orang suci (santo).

Sangat menakjubkan, karena seluruh lingkaran-lingkaran tersebut ditaburi permata. Selain itu, langit-langit istana dibuat dari emas murni. Singkatnya tempat ini lebih kaya dan lebih mewah dari pada tempat manapun di dunia saat ini.

Lalu, selain catatan di atas, pastor Odorico Mattiuzzi juga telah menuliskan keterangan berikut ini:

“.…. Maharaja mempunyai bawahan tujuh raja bermahkota. Pulaunya berpenduduk banyak, merupakan pulau terbaik kedua yang pernah ada. Raja pulau ini memiliki istana yang luar biasa mengagumkan karena sangat besar (dan mewah). Di setiap tangga dan ruangannya berlapis emas dan perak. Bahkan langit-langit serta atapnya pun bersepuh emas. Kini Khan Yang Agung dari Mongol (kaisar China saat itu) beberapa kali berperang melawan kerajaan ini. Akan tetapi, ia selalu gagal dan Maharaja ini selalu berhasil mengalahkannya.”

Sungguh, kerajaan yang disebutkan disini tak lain adalah Majapahit yang dikunjungi oleh sang pastor dalam kurun waktu tahun 1321-1322 Masehi, pada masa pemerintahan Prabu Sri Jayanagara (raja ke-2 Majapahit). Disebutkan juga dalam bukunya tersebut bahwa di pulau Jawa saat itu terdapat banyak cengkeh, kemukus, pala, dan berbagai rempah-rempah lainnya. Ini jelas menunjukkan tentang kekayaan negeri tersebut, yang jelas sekali bisa menopang kejayaannya. Ini bukanlah isapan jempol belaka, melainkan fakta sejarah.

Catatan: Lebih detilnya tentang kejayaan Majapahit bisa dibaca pada link berikut: Kemegahan Majapahit: Dalam Kesaksian Penjelajah Dunia atau Seni Perhiasan Mengagumkan dari Majapahit atau Majapahit: Bukti Kejayaan Nusantara atau Kutara Manawa: Kitab Hukum Federasi Majapahit atau Sistem Kasta di Era Majapahit: Bukti Kehebatan Bangsa Nusantara.

3. Konsep berbangsa dan bernegara
Di masa lalu, konsep hidup para leluhur kita adalah Salaka Domas (budi pekerti) dan Salaka Nagara (ketatanegaraan sempurna). Salaka Domas disini dapat dimaknai sebagai “RA” atau sumber cahaya, karena itu ia disimbolkan dalam bentuk pusaka KUJANG dan akhirnya mengambil warna MERAH. Sementara Salaka Nagara dapat dimaknai sebagai “Tirta” atau air kehidupan, karena itu disimbolkan dalam bentuk pusaka KERIS dan akhirnya mengambil warna PUTIH. Kedua warna tersebut (merah dan putih), pada akhirnya menjadi inspirasi bagi kerajaan Majapahit dalam membuat warna dasar panji-panji dan bendera kerajaannya.

Kedua konsep ini juga berarti hubungan horizontal (hablumminannas/antar sesama makhluk) dan vertical (hablumminallah/antara makhluk dan Tuhan) yang melekat dihati, pikiran dan perilaku para leluhur kita. Inilah konsep Cahaya Kembar yang paripurna yang seharusnya tetap ada di Nusantara ini. Karena konsep inipun adalah warisan dari para Nabi yang pernah bertugas atau hidup di Nusantara pada masa lalu.

Dan ketika simbol KUJANG yang diartikan sebagai “RA (api/cahaya kehidupan)” dan KERIS sebagai “NAGA (Air/Ibu Pertiwi)”, maka terbentuklah konsep NAGA dan RA. Selanjutnya konsep ini lalu digabungkan dan disebut dengan istilah NAGARA atau NEGARA, yang berarti kehidupan di ibu pertiwi (Nusantara) yang terang/bersinar/beradab.

Ya. Konsep Nagara (NAGA = air/ibu pertiwi, RA = api/matahari/sinar/cahaya) yang sesungguhnya mengandung sebuah simbol kekuatan yang dahsyat bila mampu menguasainya. Dengan kemudian menggunakan kedua konsep itu (Salaka Domas dan Salaka Nagara), maka dimulailah era negara besar (kekaisaran) yang menganut sistem kemaritiman. Dimana contohnya adalah kerajaan Salakanagara yang ada di Pandeglang, Banten. Konsep ini pula yang kemudian diikuti oleh dua kerajaan besar seperti Sriwijaya dan Majapahit.

Catatan: Lebih detilnya tentang konsep di atas silahkan baca tulisan di link berikut: Nusanta-Ra: Konsep Agung Peradaban Sunda.

4. Tata pemerintahan
Meskipun para leluhur kita adalah orang-orang yang rendah hati, namun itu bukan berarti mereka lantas tak bisa apa-apa. Atau hanya biasa-biasa saja dalam kehidupannya sehari-hari. Justru karena sikap itulah akhirnya mereka berhasil meresapi berbagai makna kehidupan yang terbaik dan menerapkannya dalam berbagai hal. Salah satunya di tataran pemerintahan dan negara. Dan sejarah telah membuktikan bahwa para leluhur kita dulu sudah mencapai tingkat peradaban yang tinggi.

Dalam hal ini kita ambil lagi contoh kehidupan di masa Majapahit. Kerajaan besar ini telah memiliki struktur pemerintahan dan susunan birokrasi yang teratur sejak pada masa pemerintahan Raden Wijaya, dan tampaknya struktur dan birokrasi tersebut tidak banyak berubah selama perkembangan sejarahnya.

Lalu dalam menjalankan roda pemerintahannya, sebagai kepala negara maka seorang Prabu (Raja/Ratu) lalu dibantu oleh beberapa aparat birokrasi. Perintah raja/ratu biasanya langsung diturunkan kepada para pejabat dibawahnya, antara lain yaitu:

1. Yuwaraja atau Kumaraja (raja muda/putra mahkota)

2. Rakryan Mahamantri Katrini (biasanya dijabat putra-putri raja)

3. Mahamantri i Hino (dijabat oleh anak atau kerabat dekat raja/ratu)
a) Mahamantri i Sirikan
b) Mahamantri i Halu

4. Rakryan Mantri Pakira-kiran (dewan menteri yang melaksanakan pemerintahan)

5. Rakryan Mahapatih atau Patih Amangkubhumi atau Mahapatih (Perdana Menteri)

6. Rakryan Demung (pengaturan rumah tangga kerajaan)

7. Rakryan Kanuruhan (penghubung dan tugas-tugas protokoler)

8. Rakryan Tumenggung (Panglima Kerajaan)

9. Rakryan Rangga (Pembantu Panglima)

10. Arya (pejabat di bawah Rakryan)
a) Sang Arya Patipati : Pu Kapat
b) Sang Arya Wangsaprana : Pu Menur
c) Sang Arya Jayapati : Pu Pamor
d) Sang Arya Rajaparakrama : Mapanji Elam
e) Sang Arya Suradhiraja : Pu Kapasa
f) Sang Arya Rajadhikara : Pu Tanga
g) Sang Arya Dewaraja : Pu Aditya
h) Sang Arya Dhiraraja : Pu Narayana

11. Nararya Dharmadhyaksa (para pejabat hukum keagamaan)
a) Dharmadhyaksa ring Kasaiwan (urusan agama Hindu-Siwa)
b) Dharmadhyaksa ring Kasogatan (urusan agama Buddha)

12. Dang Acharya (para pendeta Hindu-Siwa dan Buddha) -> khusus di masa Prabu Hayam Wuruk.
a) Dharmadhyaksa Kasaiwan : Dang Acharya Dharmaraja.
b) Dharmadhyakasa Kasogatan : Dang Acharya Nadendra alias Mpu Prapanca.
1. Pamegat Tirwan : Dang Acharya Siwanata
2. Pamegat Manghuri : Dang Acharya Agreswara
3. Pamegat Kandamuni : Dang Acharya Jayasmana
4. Pamegat Pamwatan : Dang Acharya Widyanata
5. Pamegat Jambi : Dang Acharya Siwadipa
6. Pamegat Kandangan Tuha : Dang Acharya Srigna
7. Pamegat Kandangan Rare : Dang Acharya Matajnyana

13. Pasangguhan, sama dengan hulubalang
Pada zaman Majapahit hanya ada dua jabatan pasangguhan, yakni: Pranaraja dan Nayapati. Tapi pada masa awal-awal Majapahit, ada empat orang pasangguhan, yakni dua orang yang disebutkan di atas ditambah dengan Rakryan Mantri Dwipantara : Sang Arya Adikara dan Pasangguhan : Sang Arya Wiraraja.

14. Sang Panca Wilwatika
Yakni lima orang pembesar yang diserahi urusan pemerintah Majapahit. Mereka itu Rangga dan Tumenggung. Piagam Penanggungan menyebut: (1) Rakryan Apatih : Pu Tambi; (2) Rakryan Demung : Pu Rentang; (3) Rakryan Kanuhunan : Pu Elam; (4) Rakryan Rangga : Pu Sasi; (5) Rakryan Tumenggung : Pu Wahana.

15. Juru Pangalasan, yakni pembesar daerah
Piagam Penanggungan telah menyebutkan raja Majapahit sebagai Rakryan Juru Kertarajasa Jayawardana atau Rakryan Mantri Sang Rama Wijaya Kertarajasa Jayawardhana. Piagam Bendasari menyebut Rake Juru Pangalasan Pu Petul.

16. Paduka Bhatara (raja daerah atau para Patih negara-negara bawahan)
Pada Piagam Sidateka yang bertarikh 1323 Masehi disebutkan: Rakryan Patih Kapulungan: Pu dedes; Rakryan Patih Matahun: Pu Tanu. Piagam Penanggungan, tarikh 1296, menyebut Sang Panca ri Daha dengan gelar Rakryan, karena Daha dianggap sejajar dengan Majapahit.

17. Tanda (gelar kehormatan).
Ini diberikan kepada siapa saja yang berjasa kepada negara.

Demikianlah tentang struktur ketatanegaraan di dalam kerajaan Majapahit. Semuanya sudah sangat tertata dan sesuai dengan kebutuhan pada waktu itu. Dan sebenarnya akan terus sesuai pula dengan kebutuhan zaman, tinggal disesuaikan saja dengan keadaan yang ada, karena strutur ini terbilang bagus.

Sedangkan untuk hal pembagian wilayahnya, maka selama masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk (1240-1284 Saka/1316-1360 Masehi), maka ada 12 wilayah di kerajaan Majapahit yang dikelola oleh kerabat dekat raja atau mereka yang kompeten. Hierarki dalam pengklasifikasian wilayah di kerajaan Majapahit itu dikenal sebagai berikut:

1. Bhumi : seluruh kerajaan, diperintah langsung oleh Prabu/Ratu.
2. Nagara : diperintah oleh Rajya (gubernur), atau Natha (tuan), atau Bhre (pangeran atau bangsawan).
3. Kadipaten : di kelola oleh Adipati (setingkat bupati).
4. Watek : dikelola oleh Wiyasa (setingkat camat).
5. Kuwu : dikelola oleh Lurah. Wanua: dikelola oleh Thani.
6. Kabuyutan : dusun kecil atau tempat sakral.

Lalu pada masa kerajaan Majapahit telah memasuki era kemaharajaan Thalasokrasi pada masa pemerintahan Mahapatih Gajah Mada, beberapa negara bagian di luar negeri juga termasuk ke dalam lingkaran pengaruh Majapahit. Sebagai hasilnya, konsep teritorial yang lebih besar pun bisa terbentuk, yaitu:

1. Nagara Agung, atau Nagara Utama, inti kerajaan.
Area awal Majapahit atau Majapahit lama selama masa pembentukannya sebelum memasuki era kemaharajaan. Adapun yang termasuk dalam area ini adalah ibukota kerajaan dan wilayah sekitarnya dimana raja secara efektif menjalankan pemerintahannya. Area ini meliputi setengah bagian timur pulau Jawa, dengan semua propinsinya yang dikelola oleh para Bhre (bangsawan), yang merupakan kerabat dekat sang raja.

2. Mancanagara, area yang melingkupi Nagara Agung.
Area ini secara langsung dipengaruhi oleh kebudayaan Jawa, dan wajib membayar pajak rutin tahunan. Akan tetapi, area-area tersebut biasanya memiliki penguasa atau raja pribumi, yang kemungkinan membentuk persekutuan atau menikah dengan keluarga dekat raja. Kerajaan Majapahit menempatkan birokrat dan pegawainya di tempat-tempat ini untuk bisa mengatur kegiatan perdagangan luar negeri mereka dan mengumpulkan pajak rutin, namun mereka juga menikmati otonomi internal yang cukup besar. Wilayah Mancanegara termasuk didalamnya seluruh daerah Pulau Jawa lainnya, Madura, Bali, dan juga Dharmasraya, Pagaruyung, Lampung dan Palembang di Sumatera.

3. Nuswantara
Area yang tidak mencerminkan kebudayaan Jawa tetapi termasuk ke dalam koloni dan mereka harus membayar pajak tahunan. Mereka menikmati otonomi yang cukup luas dan kebebasan internal, dan Majapahit tidak merasa penting untuk menempatkan birokratnya atau tentara militernya disana; akan tetapi, tantangan apa pun yang terlihat mengancam “ketuanan” Majapahit atas wilayah itu akan menuai reaksi keras. Termasuk dalam area ini adalah kerajaan kecil dan koloni di Maluku, Papua bagian barat, Kepulauan Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya.

Ketiga kategori di atas masuk ke dalam lingkaran pengaruh dari kerajaan Majapahit. Akan tetapi kerajaan besar ini juga mengenal lingkup ke empat yang didefinisikan sebagai hubungan diplomatik luar negeri:

4. Mitreka Satata, yang secara harafiah berarti “mitra dengan tatanan (aturan) yang sama”.
Hal itu jelas menunjukkan bahwa ada negara independen di luar negeri yang dianggap setara oleh Majapahit, bukan sebagai koloni (bawahan) dalam kekuatan Majapahit. Menurut keterangan dari kitab Nagarakertagama, pupuh ke-15, maka bangsa asing itu adalah Syangkayodhyapura (Ayutthaya di Thailand), Dharmanagari (kerajaan Nakhon Si Thammarat di selatan Thailand), Marutma, Rajapura dan Sinhanagari (kerajaan di Burma/Myanmar), kerajaan Champa (di Kamboja), dan Yawana (Annam; di wilayah India Barat). Mitreka Satata dapat dianggap sebagai aliansi Majapahit, karena kerajaan asing di luar negeri seperti China dan India tidak termasuk di dalam kategori ini meskipun Majapahit telah melakukan hubungan luar negeri dengan kedua bangsa ini.

Ya. Pola kesatuan politik khas sejarah Asia Tenggara seperti ini kemudian diidentifikasi oleh sejarawan modern sebagai “Mandala”, yaitu kesatuan yang politiknya ditentukan oleh pusat atau inti kekuasaannya daripada perbatasannya, dan itu dapat tersusun atas beberapa unit politik bawahan tanpa integrasi administratif (penyatuan ketatanegaraan) lebih lanjut. Daerah-daerah bawahan yang termasuk dalam lingkup Mandala Majapahit, yaitu wilayah Mancanegara dan Nuswantara, umumnya memiliki pemimpin asli penguasa daerah tersebut yang juga menikmati kebebasan internal cukup luas (otonomi khusus daerah).

Wilayah-wilayah bawahan ini meskipun sedikit-banyak dipengaruhi oleh Majapahit, tetap menjalankan sistem pemerintahannya sendiri tanpa terintegrasi lebih lanjut oleh kekuasaan pusat di ibukota negara Majapahit. Pola kekuasaan Mandala ini juga ditemukan dalam kerajaan-kerajaan sebelumnya, seperti Sriwijaya di Sumatera, serta mandala-mandala tetangga dari Majapahit yang sezaman; kerajaan Ayutthaya di Thailand dan Champa di Kamboja.

Jadi, bila disimpulkan bahwasannya Kemaharajaan Wilwatikta (Majapahit) itu meliputi beberapa wilayah teritorial yang sangat luas. Setiap wilayah mendapatkan otonomi daerah bahkan otonomi khusus, sehingga mereka bisa mengelola sendiri daerahnya, hanya saja tetap harus mengadopsi tata aturan dari Majapahit dan membayar upeti (pajak) kepada negara pusat (Majapahit) di tanah Jawa. Serupa dengan negara Indonesia sekarang yang terdiri dari puluhan propinsinya, dan setiap propinsi harus menyetorkan pajak setiap tahunnya.

Adapun wilayah teritorial kemaharajaan Majapahit itu adalah sebagai berikut:

Teritorial I : Seluruh Jawa yang meliputi pulau Jawa, Madura, Galiyao (Kangean-Bawean).

Teritorial II : Seluruh Swarnabhumi (pulau Sumatera) yang meliputi Lampung, Palembang, Jambi, Muara Tebo (Jambi), Dharmasraya (Sijunjung), Minangkabau, Karitang (Indragiri), Kandis, Kahwas, Siak, Rekan, Kampar, Pane, Kampe, Haru, Mandailing (Sumatera Utara), Barus (Sumatera Utara), Tamiang, Perlak, Barat (Aceh), Lawas (Padang Lawas), Samudra (Aceh), Lamuri, Bantam.

Teritorial III : Seluruh pulau Tanjungpura (Kalimantan) yang meliputi Kapuas, Katingin, Sampit, Kutalingga (Serawak), Landak, Kota Waringin, Sambas, Lawai (Muara Labai), Kedangdanan (Kedangwangan), Samedang (Simpang), Tirem (Panireman), Sedu (Serawak), Berune (Brunei), Kalka Saludung, Solot (Solok, Sulu), Pasir, Barito, Sebuku, Tabalong (Amuntai), Tanjung Kutai, Malanau, dan Tanjungpuri.

Teritorial IV : Seluruh Semenanjung Melayu atau Malaka yang meliputi Pahang, Hujung Medini (Johor), Lengkasuka (Kedah), Saimwang (Semang), Kelantan, Trengganu, Nagor (Ligor), Pakamuar (Pekan Muar), Dungun (Trengganu), Tumasik (Singapura), Sang Hyang Hujung, Kelang (Negeri Sembilan), Kedah, Jere (Jere, Patani), Kanjap (Singkep) dan Niran (Karimun).

Teritorial V : Seluruh Sunda Kecil yang meliputi Bali, Bedulu, Lwagajah (Negara), Gurun (Nusa Penidai), Taliwang (Sumbawa), Sapi (Sumbawa), Sang Hyang Api (Gunung Api Sangeang), Bima, Seram, Hutan (Sumbawa), Kedali (Buru), Gorong, Lombok Mirah (Lombok Barat), Sasak (Lombok Timur), Sumba dan Timor.

Teritorial VI : Seluruh Sulawesi yang meliputi Bantanyan (Bontain), Luwu, Udamakaraja (Talaud), Makasar, Buton, Banggai, Kunir (Pulau Kunyit), Salaya, dan Solor.

Teritorial VII : Seluruh Maluku meliputi Muara (Kei), Wandan (Banda), Ambon, dan Ternate.

Teritorial VIII : Seluruh Papua Barat yang meliputi Onin (Utara) dan Seran (Selatan).

Demikianlah, kekuasaan Nusantara yang “bulat” itu ditempatkan oleh Mahapatih Gajah Mada di dalam lingkungan Asia, yang terbagi atas tiga bulatan/cincin yang melingkari pusat Negara Majapahit. Nusantara dikelilingi oleh negara tetangga yang mengisi daerah antara aliran sungai belakang (Indocina) di dapati beberapa negara yang menjadi perantara dengan Tiongkok (China) dan Hindustan.

Ya. Pengaruh Majapahit sebenarnya lebih luas lagi. Pelabuhan-pelabuhan dagang negeri Tiongkok, Kepulauan Formosa dan Taiwan sangat memperhatikan armada-armada dagang dari selatan yang membawa berbagai jenih hasil bumi terutama rempah-rempah, emas dan perak serta kain. Bahkan untuk wilayah Kalimantan dan Talaud saja bisa mempengaruhi banyak kebudayaan di seluruh kepulauan Nusantara bagian utara, dan Sulawesi terus menyebarkan pengaruhnya sampai ke wilayah Sulu, Lanao, Caraga, Mindanao, Manila, Luzon, Kota Batu, Sungai Agusan. Sementara pulau Bohol, Sebu, Negros, Panai dan Mastabe di kendalikan dari selatan langsung.

Peta wilayah Kemaharajaan Majapahit.

Sungguh luar biasa negara kesatuan yang bernama Wilwatikta ini atau lebih dikenal sekarang dengan sebutan Majapahit. Lalu Mahapatih Gajah Mada sendiri sangat lihai dalam memainkan kekuasaan politik. Prabu Hayam Wuruk pun bisa mengimbangi ketangkasan dan kelihaian politik dari Mahapatih-nya itu. Sehingga kedua orang ini dikatakan sebagai Dwi Tunggal Majapahit. Begitulah hebatnya para leluhur kita dulu dalam mengelola negara dan bangsanya.

Catatan: Untuk tambahan wacana dan wawasan Anda tentang keunggulan bangsa Nusantara dulu (para leluhur kita), silahkan baca artikel di link ini: Bukti Nusantara Pusat Peradaban Dunia.

5. Akhir perjalanan hidup di dunia
Di antara kelebihan dari para leluhur kita dulu adalah tentang pemahaman hidup mereka yang sangat tertata rapi. Ada masanya untuk memulai dan ada pula waktunya untuk berhenti. Mereka sangat menyadari akan batasan waktu dalam hidup ini. Oleh sebab itu, dalam kehidupannya mereka telah melakoni hidup dengan mengikuti 4 tahapannya, yaitu:

1. Brahmacharya (tahap seseorang yang sedang mencari ilmu)
Tahap ini merupakan satu tingkatan masa hidup untuk mendapatkan berbagai ilmu pengetahuan dengan cara berguru. Disini tentu berkaitan erat pula dengan mendidik diri untuk bisa mencapai kesempurnaan pribadi. Jadi pada tahapan ini artinya setiap orang itu harus menuntut ilmu demi kehidupan yang lebih baik, mulai dari ilmu yang bersifat jasmani (ilmiah, sastra, bela diri, dll) hingga yang terkait dengan urusan ruhaninya.

2. Grahastha (tahap seseorang yang membangun rumah tangga)
Tahap ini adalah tingkat hidup pada masa berumah tangga. Grahastha berasal dari kata “graha” yang berarti rumah tangga dan “stha” yang berarti berdiri atau membina. Jadi Grahastha dapat diartikan sebagai masa membina rumah tangga. Pada masa Grahastha ini, maka yang menjadi prioritas tujuan hidup adalah mencari harta benda dan memenuhi kebutuhan hidup – termasuk menghasilkan keturunan, yang tentunya berdasarkan kebenaran. Sementara kewajiban yang harus ditunaikan pada masa ini adalah dengan bekerja mencari nafkah secara halal, menjadi pemimpin keluarga dan anggota keluarga yang bertanggungjawab, serta menjadi anggota masyarakat yang baik dan penuh kebersamaan.

Untuk itulah, disini berarti setiap orang itu – khususnya laki-laki – haruslah punya pekerjaan yang mapan dan penghasilan yang cukup sebelum ia membina rumah tangga. Karena hal itu menjadi salah satu yang utama demi keharmonisan hidupnya nanti. Dan semuanya itu bisa terwujud hanya jika sebelumnya ia sudah membekali dirinya dengan banyak ilmu pengetahuan melalui belajar kepada seorang guru atau di sekolah.

3. Wanaprastha (tahap seseorang yang menjadi pertapa atau telah meninggalkan kesibukan duniawi)
Tahap ini adalah tingkatan hidup manusia pada masa persiapan untuk melepaskan diri dari ikatan keduniawian. Wanaprastha berarti mengasingkan diri ke suatu tempat (hutan, gunung, lembah) yang jauh dari keramaian kota. Jadi, disini berarti seseorang tidak lagi berurusan dengan pangkat, jabatan dan harta benda duniawi. Jika sebelumnya ia punya jabatan, kedudukan atau harta benda yang berlimpah, maka di tingkatan ini semuanya itu sudah ia tinggalkan. Ia hanya fokus pada hal-hal yang bersifat kemanusiaan dan keTuhanan saja. Dan pada masa ini seseorang juga mulai secara bertahap melepaskan diri dari belenggu duniawi dan lebih mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Karena tujuan hidup pada masa ini adalah persiapan mental dan fisik untuk bisa moksa. Untuk itulah, di tingkatan ini biasanya seseorang akan disebut dengan Rsi/Resi.

4. Sanyasin atau Biksuka (tahap seseorang yang telah mencapai kesempurnaan hidup hingga pada akhirnya moksa)
Tahap terakhir ini berada di atas tahap Wanaprastha, karena seseorang sudah tidak lagi berurusan dengan keduniawian. Ia hanya berfokus pada urusan yang berkaitan dengan alam tinggi (keTuhanan) saja. Namun jika ada urusan duniawi yang ia kerjakan, itu karena ia memang harus sedikit terlibat demi kemaslahatan orang banyak. Pada masa ini seseorang merasa sudah tidak memiliki apa-apa dan tidak terikat sama sekali dengan materi. Ia juga selalu berusaha untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Karena itulah, di tingkatan ini biasanya seseorang akan disebut dengan Siddharesi, Maharesi atau Brahmaresi. 

Artinya, apa yang di lakukan oleh para leluhur kita dulu memang sangat jauh berbeda dengan mayoritas bangsa ini sekarang. Jika nenek moyang kita sadar diri akan waktu dan usianya, kita sekarang justru semakin tak tahu diri dan lupa umur. Disaat harusnya masih menimba ilmu kita justru malas-malasan dan ingin berhenti, disaat harusnya sudah membina rumah tangga dengan baik kita justru masih bermain-main atau bersikap jahat dengan menghalalkan segala cara demi memenuhi setiap keinginan, dan disaat harusnya sudah meninggalkan hiruk pikuk duniawi ternyata malah semakin giat untuk menggapainya. Karena itulah keadaan bangsa ini sering terombang-ambing dan tak tentu arah. Jarang ada atau bahkan tak ada lagi – khususnya dari kalangan pembesar negeri – sosok teladan yang mumpuni dan waskita, yang hidupnya penuh dengan kebijaksanaan. Sehingga mau jadi bangsa yang bagaimana sebenarnya negeri ini semakin tidak jelas?

***

Sungguh, betapa leluhur kita adalah orang-orang yang luar biasa dan istimewa. Sebab pemahaman akan kehidupannya yang sangat mendalam, maka tak heran bila mereka dulu bisa membangun peradaban yang gemilang, yang bahkan lebih baik dari kita sekarang. Mereka pun hidup dengan penuh kedamaian – terutama batinnya – karena tetap mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal yang adi luhung. Inilah keistimewaan Nusantara yang kami maksudkan, yaitu bisa menjadi dirinya sendiri dengan ciri khas dan kearifannya sendiri. Karena demikianlah sesungguhnya Tuhan Sang Pemilik kehidupan telah menciptakan setiap bangsa itu lengkap dengan kelebihannya masing-masing. Jika mereka mampu mengenali jati dirinya sendiri dan bisa membangkitkannya, niscaya kejayaan hidup akan didapatkan. Sebaliknya jika tidak, maka bangsa tersebut hanya akan jadi pengekor atau jongos dari bangsa lain.

Namun sayang apa yang telah mereka (para leluhur kita dulu) torehkan itu, yang juga menjadi warisan terbesarnya untuk kita, kini justru tidak lagi diikuti. Sebagai generasi penerus, banyak dari kita yang bahkan tak mengetahuinya lagi. Dan kehidupan di negeri ini semakin menjauh dari jati dirinya sendiri, karena terbuai dengan apa yang datangnya dari luar dan menganggap itulah yang terbaik. Hanya segelintir orang saja yang tetap bertahan dengan menjalani hidup yang sesuai dengan contoh teladan dari para leluhurnya.

Semoga kelak ada banyak yang kembali sadar diri, tentang siapakah dia yang sesungguhnya sebagai bangsa Nusantara. Dan semoga tulisan ini bermanfaat. Rahayu.. 🙏

Jambi, 01 Juni 2019
Harunata-Ra

13 respons untuk ‘Keistimewaan Nusantara (2)

    ARYA said:
    Juni 2, 2019 pukul 9:58 am

    NAGA-RA itu segera bangkit kembali. Cahaya kemuliaan serta gema ripah loh jinawinya bakal menerangi segenap semesta alam. Itulah janji Allah Ta’ala bagi orang-orang yang beriman.

      Harunata-Ra responded:
      Juni 2, 2019 pukul 9:41 pm

      Aamiin.. Semoga cpt terlaksana dan kita termasuk orang yg beruntung merasakannya…

      Terima kasih mas Arya atas kunjungannya.. Semoga bermanfaat.. 😊🙏

    Asyifa Wahida said:
    Juni 3, 2019 pukul 12:55 pm

    mugi2 gusti allah segera mmbangunkan generasi akhir bangsa ini dr tidur panjangnya dn segera mmbuka hijab penutup mata dr silau keindahan dunia yg semu saat ini ..aamiin ya rabbal alamiin..

    Matur suwun kagem ilmu trbarunya enggih mas …

      Harunata-Ra responded:
      Juni 3, 2019 pukul 9:24 pm

      Sami2lah mbak, moga ttp bermanfaat.. Dan nuwun juga karena masih mau berkunjung.. 😊🙏

      Aamiin.. Semoga begitu mbak, meskipun saya malah pesimis itu bisa terjadi, sebab akan datang masa pembersihan total kehidupan di Bumi ini.. Jadi hanya sedikit saja yg selamat utk bisa hidup di zaman yg baru nanti..

        Maulana said:
        Juni 6, 2019 pukul 2:54 am

        Mas oedi kok firasatnya sama dengan sy….ga berapa lama lagi akan ada pemurnian bumi…untuk menuju kepada kehancuran alam semesta…karena kita akan kembali ke asal kita….maafkan kalo sy salah

        Harunata-Ra responded:
        Juni 9, 2019 pukul 7:46 am

        Waktulah yg akan membuktikannya nanti… Yg jelas tidak ada yg namanya kebetulan mas.. semua yg terjadi telah diatur oleh-NYA.. 🙂

    ajar wedhatama said:
    Juni 10, 2019 pukul 1:58 am

    saya bayangkan, nantinya tatanan hidup masyarakat akan kembali seperti dulu, adem ayem di dusun kabuyutan. hidup lebih banyak kontemplasi. semoga kita termasuk yang beruntung ya mas. 🙏

      Harunata-Ra responded:
      Juni 13, 2019 pukul 3:29 am

      Iya mas Ajar, membayangkannya aja udah seneng, apalagi bisa mengalami dan merasakannya langsung nanti.. Aamiin semoga kita termasuk yg terpilih.. 🙂

      Harunata-Ra responded:
      Juni 13, 2019 pukul 3:29 am

      Iya mas Ajar, membayangkannya aja udah seneng, apalagi bisa mengalami dan merasakannya langsung nanti.. Aamiin semoga kita termasuk yg terpilih.. 🙂

      Harunata-Ra responded:
      Juni 13, 2019 pukul 3:29 am

      Iya mas Ajar, membayangkannya aja udah seneng, apalagi bisa mengalami dan merasakannya langsung nanti.. Aamiin semoga kita termasuk yg terpilih.. 🙂

    Delphi said:
    Juni 19, 2019 pukul 3:52 am

    Zaman itu seperti sebuah pohon bunga, ada masa putik, kuncup dan mekar serta layu nya,
    Maka setelah semua bunga layu, pohon akan merontokan semua daun nya untuk menumbuhkan bunga baru kembali dan dimulai dari awal lagi masa demi masa…

      Harunata-Ra responded:
      Juni 19, 2019 pukul 6:23 am

      Setuju mas Delphi.. Pelajaran yg tepat dari pohon utk kita semua.. 🙂
      Nuwun utk tambahan ilmunya.. 🙂

    Abhiseka Ceraka Nusantara said:
    Juni 21, 2019 pukul 11:50 am

    Reblogged this on ABHISEKA CARAKA NUSANTARA.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s