Negeri Hur ‘Anura: Tersembunyi dan Terpilih

Posted on Updated on

Terdapatlah sebuah negeri yang didalamnya hidup beragam jenis makhluk. Mereka berasal dari berbagai zaman yang terlalui dalam kehidupan dunia ini. Disana semuanya menjalani hidup sesuai dengan hukum dari Hyang Aruta (Tuhan YME) secara murni. Mereka selalu patuh dan memiliki kesadaran diri yang tinggi kepada-Nya. Tak ada yang pernah lalai atau membangkang, karena mereka adalah sosok yang terbaik dari kaumnya.

Sungguh, beruntunglah bagi siapa saja yang mendapatkan kesempatan untuk berkunjung kesana dan menikmati suasana yang tidak biasa. Betapa tidak, karena apa yang ada disana sungguh jauh berbeda dengan yang umum kita lihat di muka Bumi ini sekarang (alam nyatanya). Ada begitu banyak hal yang bahkan tak ada disini, di seluruh belahan Bumi. Sehingga tak ada yang lebih baik di dunia ini selain bisa tinggal disana.

Untuk lebih jelasnya mari ikuti penelusuran berikut ini:

1. Awal kisah
Kisah ini dimulai pada saat kehidupan manusia masih berada di periode awal zaman ketiga (Dirganta-Ra). Ketika itu, bangsa-bangsa yang ada masih hidup berdampingan dengan damai. Tidak hanya di antara sesama manusia, melainkan dengan golongan Jin, Peri, Ruwan, Cinturia, Karudasya, Naga, Hewan dan Tumbuh-tumbuhan. Mereka hidup rukun dan saling menghormati. Bahkan di antara mereka ini saling membantu dan menjaga keseimbangan dunia.

Perlu diketahui bahwa pada masa itu kondisi Bumi sangat jauh berbeda dari sekarang. Wilayah daratan di Bumi masih sangat luas, sementara jumlah samudera hanya ada empat saja, yang disebut Suramadiya (Samudera Hindia), Armunakaya (Samudera Pasifik), Himtanaraya (Samudera Arktik) dan Mahtalisaya (Samudera Antartika). Lautannya juga tak sebanyak sekarang, bahkan ada banyak lautan yang ada kini pada waktu itu masih belum ada. Keberadaan laut-laut itu baru ada setelah ada daratan luas yang tenggelam atau berpisah – yang terjadi karena proses alamiah atau karena azab Tuhan pada suatu kaum. Di Nusantara banyak contohnya, seperti Laut China selatan, Laut Jawa, Laut Karimata, Laut Celebes/Sulawesi, Laut Banda, Laut Flores, Selat Malaka, Selat Alas, Selat Lombok, dll. Dulu semua laut atau selat itu adalah daratan, dan jika sekarang telah menjadi lautan, itu karena daratannya telah ditenggelamkan sebagai bentuk azab bagi kaum-kaum yang ingkar pada Tuhan.

Ya. Seluruh wilayah Nusantara sampai semua kepulauan yang ada di timur-Pasifik (Solomon, Fiji, Vanuatu, dll) masih dalam satu daratan, bahkan menyatu dengan benua Asia dan Australia. Wilayah ini hanya di apit oleh dua buah samudera yaitu Suramadiya (Samudera Hindia) dan Armunakaya (Samudera Pasifik). Begitu pula dengan Canada, Greenland, Icland, dan United Kingdom (Inggris) masih bersatu dan menjadi penghubung antara benua Amerika dan Eropa Barat. Wilayah Alaska dan Russia juga masih menyatu dan menjadi penghubung antara benua Amerika dan Eropa Timur. Gurun Gobi, Sahara dan Nevada masih belum ada, karena disana masih berupa hutan dan padang rumput yang sangat luas. Wilayah Timur Tengah dan Afrika bagian utara khususnya masih diliputi hutan dan padang rumput yang sangat luas. Laut Mediterania, Laut Merah, Laut Hitam, dan Laut Caspia masih belum ada, karena disana masih merupakan daratan yang sangat luas. Dan masih banyak lagi yang menunjukkan perbedaan sangat mencolok tentang kondisi geografi dan topografi Bumi pada saat itu dibanding dengan sekarang.

Di antara perbedaan yang paling mencolok misalnya saja gunung Himalaya bukanlah gunung tertinggi di dunia. Puncak tertinggi di dunia saat itu berada di kawasan Nusantara, salah satunya yang bernama gunung Hastula (±11.995 mdpl) yang ada di Sumatera, gunung Agniru (±12.350 mdpl) yang ada di Jawa dan gunung Surbata (±13.255 mdpl) yang berada di sebelah barat benua Australia sekarang. Ketiga gunung raksasa itu adalah gunung berapi aktif yang tertinggi di dunia – sedangkan semua gunung yang ada di Nusantara sekarang pada saat itu belum ada. Jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan puncak Himalaya (Everes) yang hanya memiliki ketinggian sekitar ±8.848 mdpl. Dengan keberadaan ketiga gunung itu, juga gunung-gunung raksasa lainnya di sepenjuru Bumi, maka secara otomatis iklim di Bumi saat itu lebih sejuk dari sekarang. Namun kemudian, iklim di Bumi berubah-ubah seiring dengan meletusnya ketiga gunung raksasa itu. Dampak dari letusan gunung-gunung itu telah mengubah semua yang ada di Bumi, baik alam maupun makhluk hidupnya. Dan sekarang ketiga gunung raksasa itu sudah tidak diketahui lagi, sudah meletus, meskipun dulu pernah ada dan menjulang sangat tinggi ke angkasa.

Jadi, selama zaman ketiga itu (Dirganta-Ra) berlangsung, kehidupan di atas Bumi sungguh sangat jauh berbeda dengan sekarang. Atas izin dan petunjuk dari Hyang Aruta (Tuhan YME), pada awal periode zaman ini Nabi Syis AS mendapatkan tugas untuk kembali mengajar. Selain kepada manusia, beliau juga harus mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan kepada beberapa hewan dan tumbuhan. Kedua golongan makhluk ini pun mendapat pelajaran khusus untuk membangun peradaban mereka masing-masing, dan sebagian dari mereka juga diajarkan tentang berbagai jenis ilmu pengetahuan termasuk bahasa, aksara, ilmu kanuragan dan kadigdayan. Semua itu di lakukan hanya atas izin dan perintah Tuhan. Terlebih memang untuk menghadapi keadaan dunia yang nantinya akan jauh berbeda dari sebelumnya. Hewan dan tumbuhan di zaman itu punya peran yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan dunia. Dan dari beberapa hewan dan tumbuhan yang terpilih itu, ilmu dari Nabi Syis AS lalu diteruskan dari generasi ke generasi mereka sampai periode zaman ketiga (Dirganta-Ra) berganti.

Waktu terus berlalu sejak Nabi Syis AS mulai mengajarkan berbagai keahlian kepada hewan dan tumbuhan. Setiap pribadinya – dari setiap golongan – dengan senang hati menjalani kehidupannya. Saat itu, setiap jenis makhluk telah di anugerahi umur yang panjang. Manusianya saja berumur minimal 700 tahun, bahkan ada yang bisa mencampai 2.000 tahun lebih – ini belum lagi jika ia rajin ber-tapa brata, karena akan lebih panjang lagi umurnya. Bangsa Jin dan Peri bahkan lebih lama lagi, karena minimal berumur sampai ±15.000 tahun atau bahkan ada yang bisa berumur jutaan tahun. Bangsa Ruwan juga berumur panjang, meski tak sepanjang bangsa Peri dan Jin. Mereka setidaknya bisa mencapai umur ±1.500 tahun atau bahkan lebih panjang lagi jika ia rajin ber-tapa. Bangsa Cinturia, Karudasya dan Naga juga diberikan umur yang sangat panjang. Masing-masing dari mereka itu minimal sampai berumur ±2.500 tahun, bahkan lebih jika rajin ber-tapa. Lalu bagaimana dengan hewan dan tumbuhan? maka keduanya juga berumur sangat panjang. Banyak dari hewan yang berumur minimal 500 tahun, sementara tumbuhan – khususnya pohon besar – bisa mencapai umur lebih dari 5.000 tahun.

Ya, begitulah kehidupan yang tak biasa seperti yang telah dijelaskan. Dan itu semua terjadi di awal periode zaman ketiga umat manusia di Bumi, itulah zaman Dirganta-Ra. Sebuah zaman dimana hal-hal yang luar biasa masih terjadi. Apapun yang ada didalamnya mungkin tak akan pernah terulang lagi, bahkan sampai Hari Kiamat nanti. Karena itu, bagi yang membaca kisah ini harus membuka hati dan pikirannya seluas mungkin. Lepaskanlah doktrin atau pengetahuan yang mengekang diri selama ini. Dan sejak kini, gunakan juga imajinasi yang tinggi, yang sesungguhnya sudah ada di dalam benakmu. Itu terekam di dalam dirimu melalui DNA dan atau genetika dalam tubuhmu, yang merupakan bentuk/bagian dari ingatan para leluhurmu dulu, bahwa mereka pernah menyaksikan hal-hal yang luar biasa itu. Karena apapun yang disampaikan selanjutnya akan berada diluar pengetahuan umum. Akan susah untuk diterima kecuali oleh mereka yang telah siap. Tapi inilah fakta, inilah kenyataan sebenarnya tentang sejarah kehidupan di muka Bumi ini.

2. Pembangunan negeri Hur ‘Anura
Pada suatu ketika Nabi Syis AS bermimpi sebanyak tiga kali. Dalam mimpi tersebut, beliau memegang dua ekor burung yang berbeda. Di tangan kanannya terdapat burung Hinaril (sejenis cendrawasih), sementara di tangan kirinya terdapat burung Waur (sejenis gagak hitam). Dalam mimpi tersebut, beliau diperintahkan untuk memilih burung mana yang akan dipelihara. Keduanya merupakan simbol kehidupan manusia dimasa yang akan datang. Setelah sejenak berpikir, sang Nabi lalu memilih burung Hinaril (sejenis cendrawasih) karena melambangkan keindahan dan kesempurnaan. Sementara burung Waur (sejenis gagak hitam) itu adalah simbol kejahatan dan kegelapan.

Namun, meskipun sudah mendapatkan mimpi itu, Nabi Syis AS belum mengerti apa yang seharusnya ia lakukan. Beliau belum mendapatkan Wahyu Ilahi sebagaimana biasanya disampaikan oleh Malaikat Jibril sebelum dirinya menjalankan tugas. Beliau masih harus bersabar, dan setelah 3 minggu barulah Malaikat Jibril datang menemuinya untuk menyampaikan firman Tuhan. Peristiwa itu terjadi di sebuah lembah yang berada dipinggiran kota Syinmalata, tempat tinggal kaum Hastabiya. Ketika Nabi Syis AS sedang menyendiri dan ber-tafakur dibawah sebatang pohon Kismu yang rindang, saat itulah Malaikat Jibril turun dari langit menemuinya dalam wujud seorang pria separuh baya. Sang Malaikat mendapatkan tugas untuk menyampaikan Wahyu Ilahi kepada sang Nabi bahwa ia telah mendapatkan tugas yang baru.

Singkat cerita, Malaikat Jibril lalu menyampaikan firman Tuhan itu dengan berkata: “Wahai keturunan yang terbaik, wahai hamba yang shalih, wahai yang terhormat dari para utusan-Nya. Aku datang membawa kabar dan petunjuk Ilahi. Tuhanmu telah memberikan petunjuk melalui mimpi yang pernah kau dapatkan. Engkau ditunjuk karena telah memilih burung Hinaril sebagai peliharanmu. Itu adalah isyarat agar engkau membangun sebuah peradaban yang sejati, yang berdasarkan hukum Ilahi.

Wahai yang penyabar dan berwajah menarik, wahai utusan yang terkasih. Dengarkanlah ini, bahwa Tuhanmu meminta agar engkau mau menerima tugas yang mulia. Kumpulkanlah semua saudaramu, yaitu mereka yang menjalankan tugas kenabian diseluruh dunia. Kepada mereka, maka sampaikanlah petunjuk-Nya, bahwa kalian harus mempersiapkan generasi yang terbaik di zaman ini. Ambillah perwakilan dari semua ras manusia untuk menjalani hidup dengan benar. Lalu kumpulkanlah mereka itu di dalam sebuah negeri yang indah dan tersembunyi. Jangan biarkan siapapun datang kesana tanpa kebersihan hati. Tidak hanya manusia, tetapi juga makhluk yang lainnya (Jin, Peri, Ruwan, Cinturia, Karudasya, Naga, dll). Dan atas izin dari Tuhanmu, maka semua kebutuhan kalian akan terpenuhi. Baik ketika memulainya, hingga pada waktu yang ditentukan-Nya nanti”

Mendapatkan penjelasan itu, Nabi Syis AS segera mengerti akan tugasnya. Namun dengan linangan airmata, beliau pun berkata: “Wahai utusan yang mulia, diri ini sangatlah malu kepada-Nya. Mengapa Dia masih meminta, sementara Dia-lah tempat kami mengadu dan memohon? Dia mampu menggerakan seluruh semesta raya hanya dengan satu kehendak-Nya saja. Dia-lah Sang Maha Pemberi dan Pengasih. Sementara hamba ini hanyalah sosok yang hina dan masih berusaha untuk bisa mengikuti kehendak-Nya saja”. Yang dijawab oleh sang Malaikat dengan berkata: “Ketahuilah wahai yang terpilih dari yang terbaik, Dia adalah Yang Maha Segalanya. Tiada cela dalam Diri-Nya, dalam Sifat-Nya, juga dalam tindakan dan kehendak-Nya. Dia lebih mengetahui dari siapapun, bahkan tanpa perlu mengetahuinya. Dan engkau telah dipilih oleh-Nya karena Dia melihat isi hatimu, bukan bentuk dan penampilanmu. Malu yang kau rasakan telah Dia ketahui sebelum engkau merasa malu. Dan ketahuilah bahwa Dia pun memilihmu karena rasa malumu itu. Tidak ada kesalahan bagi-Nya. Sehingga berserah dirilah dan tetaplah engkau bersyukur hanya kepada-Nya”

Waktu pun berlalu, setelah menyampaikan tugasnya, Malaikat Jibril kembali ke tempatnya semula. Tinggallah Nabi Syis AS sendiri yang merenungi kembali apa yang barusan terjadi. Selang beberapa waktu kemudian, beliau kembali ke kota Syinmalata dan mengumpulkan kaum Hastabiya di alun-alun istana. Dihadapan kaumnya, sang Nabi lalu mengatakan bahwa ia telah mendapatkan petunjuk untuk pergi menjalankan tugas. Beliau harus meninggalkan kota Syinmalata untuk beberapa waktu. Selama kepergiannya, sang Nabi meminta agar kaum Hastabiya tetap berpegang teguh pada hukum dan aturan Hyang Aruta (Tuhan YME). Dan jika sudah waktunya nanti, yang terbaik di antara mereka akan terpilih untuk tinggal di sebuah negeri yang paling indah.

Setelah mengatakan itu, Nabi Syis AS lalu pergi meninggalkan kaum Hastabiya. Atas petunjuk yang didapatkan, perjalanannya saat itu harus menuju ke arah timur. Atas mukjizat yang diberikan Tuhan, hanya dalam waktu singkat sang Nabi sudah tiba di sebuah tempat yang jauh dari peradaban manusia, di sebuah lembah yang subur dan sangat indah. Di tempat itu, beliau lalu duduk tafakur (semedhi) selama beberapa waktu. Setelah merasa cukup, beliau lalu melakukan kontak batin (telepati) dengan semua utusan Tuhan yang bertugas di muka Bumi saat itu. Ada sekitar 27 orang Nabi dan Rosul yang ditugaskan di beberapa kaum yang berbeda. Semua dari mereka itu mendapatkan panggilan untuk segera berkumpul di tempat Nabi Syis AS berada. Atas panggilan itu, semuanya segera hadir dalam hitungan menit. Itu pun harus terjadi karena ada di antara mereka yang harus menyelesaikan tugasnya dulu. Jika tidak, tentulah hanya cukup dalam waktu hitungan detik saja.

Perlu diketahui, pada saat itu Nabi Syis AS adalah seorang utusan Tuhan yang paling senior. Beliau dianugerahi umur yang sangat panjang dan telah melalui berbagai zaman yang pernah ada. Dan sebagian besar dari para Nabi dan Rosul yang bertugas saat itu adalah keturunannya. Karena itulah, disaat beliau meminta semuanya untuk berkumpul, maka dalam waktu singkat semuanya pun hadir. Selain sebagai seorang utusan Tuhan yang paling senior, Nabi Syis AS adalah sosok yang sangat dihormati karena beliau merupakan leluhur dari sebagian besar para Nabi dan Rosul yang bertugas saat itu.

Kembali ke kisah sebelumnya. Di antara para utusan yang hadir saat itu adalah Nabi Sahab AS, Nabi Khidir AS, Nabi Harkasyi AS, Nabi Salbi AS, Nabi Maliya AS, Nabi Luwiyas AS, Nabi Ratasyi AS, Nabi Nuhaila AS, Nabi Amal AS, Nabi Hasipala AS, Nabi Awila AS, Nabi Samuwi AS dan para Nabi yang lainnya. Lalu setelah semua Nabi dan Rosul itu berkumpul, Nabi Syis AS segera menyampaikan petunjuk yang ia dapatkan. Bahwasannya mereka mendapatkan tugas untuk membangun sebuah peradaban yang terbaik. Setiap Nabi dan Rosul lalu diperintahkan untuk memilih beberapa orang dari setiap ras atau kaum yang mereka dampingi untuk diajarkan tentang hidup yang sempurna. Setelah 25 tahun berlalu, orang-orang yang mereka pilih itu akan tinggal di sebuah negeri yang tersembunyi. Tak ada yang bisa memasuki negeri tersebut selain yang berhati bersih dan terpilih. Dan negeri yang dimaksudkan itu akan sama-sama mereka bangun tepat di wilayah tempat mereka berkumpul saat itu. Hal itu sesuai dengan petunjuk dari Hyang Aruta (Tuhan YME).

Singkat cerita, hanya dalam waktu singkat kota yang diberi nama Hur ‘Anura atau yang berarti keindahan yang bercahaya itu segera berdiri. Setelah mereka menghaturkan doa dan pujian kepada Hyang Aruta (Tuhan YME), tak lama kemudian muncul sebuah negeri yang sangat indah dan belum pernah dilihat sebelumnya, bahkan sesudahnya. Semua yang ada disana berada diluar imajinasi. Dan pada saat para Nabi dan Rosul itu berdoa, dari arah langit turunlah ribuan malaikat yang wujudnya berbeda-beda. Mereka lalu mengalunkan kalimat-kalimat pujian kepada Hyang Aruta (Tuhan YME) dengan suara yang sangat merdu dan hikmat. Suasana pun menjadi terasa begitu sakral dan magis. Semua makhluk yang ada di sekitar lokasi seperti hewan, tumbuhan, bukit, sungai, awan, jin, dan peri ikut merasakan energi yang begitu besar namun sangat membahagiakan. Semuanya bahkan terlarut dalam suasana yang indah yang dibangun atas doa-doa dari para utusan Tuhan itu.

Selanjutnya, tak lama kemudian tiba-tiba turunlah cahaya yang berwarna putih kebiruan bercampur keemasan dari arah langit dan jatuh tak seberapa jauh dari tempat para Nabi dan Rosul itu berkumpul. Hanya dalam hitungan detik, atas izin Tuhan tiba-tiba muncullah berbagai jenis bangunan yang sangat indah dan megah dilengkapi dengan taman, kolam dan air mancurnya. Selain itu, muncul pula beragam jenis tanaman yang unik dan tak ditemukan di tempat lain. Semua yang ada disana sebelumnya seketika berubah total. Tak lama kemudian beberapa telaga yang bening, mata air, sungai-sungai yang jernih dan bukit-bukit serta lembah yang menghijau muncul dengan sendirinya. Sementara itu tepat di arah utara dan selatan muncul pula gunung yang menjulang tinggi ke angkasa dan bersalju. Dan ini belum selesai, karena setelah itu entah dari mana saja datang pula beragam jenis hewan ke negeri itu. Mereka datang seperti telah diperintahkan untuk tinggal disana. Tidak ada yang bergaduh, karena semuanya berjalan tertib dan teratur.

Lalu, sebagian dari malaikat yang hadir saat itu mengubah wujudnya menjadi sangat besar dan menjulang tinggi ke angkasa. Mereka juga berdiri berjajar mengelilingi negeri baru itu. Dalam radius lebih dari 350 kilometer, para Malaikat itu seperti membentuk pagar yang melingkar. Dan tak lama kemudian, dari tubuh mereka muncul semacam perisai cahaya yang lama kelamaan menutupi semua area yang mereka kelilingi. Perisai itu lalu menjadi batas dari negeri Hur ‘Anura, yang tak bisa ditembus oleh siapapun kecuali mereka yang terpilih. Dan sejak saat itu negeri Hur ‘Anura tak bisa dilihat dengan kasat mata, bahkan oleh mereka yang memiliki indera keenam atau menguasai mata ketiga. Negeri tersebut benar-benar tersembunyi dan menghilang dari pandangan. Sedangkan kawasan dimana sebelumnya negeri Hur ‘Anura itu berada kembali seperti semula, seolah-olah tak pernah terjadi apapun disana.

Setelah perisainya terbentuk, para Malaikat itu kembali ke tempat asalnya di langit. Hanya ada 4 sosok saja yang tinggal dan tetap berdiri di ke empat arah angin sebagai penjaga – tanpa terlihat. Lalu sejak terbentuknya perisai goib itu, negeri tersebut berada di sebuah dimensi khusus dan disana terus tercipta hal-hal yang lain selama beberapa waktu. Artinya, semua yang sebelumnya muncul tiba-tiba itu berpindah ke dimensi lain. Dan ketika seseorang berhasil memasuki perisai itu, maka ia akan melihat sebuah negeri yang sangat luas dan begitu indah, yang ukurannya bahkan melebihi luasnya Bumi ini. Karena itulah, ada begitu banyak jenis kehidupan yang tinggal disana dan terpisah dari alam nyata Bumi ini. Semuanya unik dan menarik, yang sebagiannya tidak pernah ada di muka Bumi. Dan memang hingga sekarang tetap tak bisa diketahui oleh siapapun kecuali mereka yang beruntung.

3. Penduduk negeri Hur ‘Anura
Pada masa itu, kehidupan di muka Bumi ini sangatlah berbeda dengan yang ada sekarang. Jenis dan bentuk hewan serta tumbuhannya pun tidak sama. Saat itu, hewan dan tumbuhan yang ada di masa sekarang bahkan belum ada. Mereka masih dalam bentuk yang luar biasa besarnya dan jenisnya pun lebih beragam bila dibandingkan sekarang. Sebagai contoh, ada hewan yang biasa disebut dengan Garpa. Hewan ini bentuknya seperti kuda di zaman sekarang tetapi memiliki sayap seperti burung untuk terbang dan tanduk lurus warna keemasan di kepalanya (mirip gambaran pegasus dan unicorn yang disatukan). Kemudian ada juga hewan yang biasa disebut dengan Surpata. Hewan ini sejenis kelelawar tapi berparuh burung pelikan yang berigi tajam dan ukurannya sangat besar. Ada juga hewan yang biasa disebut dengan Mahina. Hewan ini bentuk fisiknya adalah campuran antara burung elang dan singa (berkepala burung elang lengkap dengan sayapnya untuk terbang namun berbadan singa). Mirip sekali dengan gambaran Griffin dalam mitologi Yunani. Lalu ada pula hewan yang biasa disebut hirambal (campuran sapi dan kerbau yang memiliki tiga buah tanduk di kepalanya), pitalum (campuran kuda dan sapi), gazar (sejenis mammoth tetapi bergading empat), trusai (sejenis rusa tetapi ada cula berwarna emas dikeningnya), japrai (sejenis unta tetapi tidak memiliki punuk dan berwarna kulit seperti jerapah), gunguyin (campuran antara kambing dan kangguru tetapi tidak memiliki kantung diperutnya), gaiyak (sejenis beruang tetapi bermoncong seperti moncong bebek, berekor seperti ekor berang-berang dan pemakan sayur), kamuya (sejenis kelinci tetapi bergigi seperti gigi kambing dan berekor enam yang panjang), ketupai (sejenis tikus namun bergigi tajam/runcing, berkuku panjang, berekor tiga dan berwarna doreng), barkra (sejenis kura-kura tetapi berekor seperti ekor berang-berang), partalum (campuran kura-kura dan kadal/biawak), kurtut (sejenis ayam kalkun dengan warna bulu ungu, hitam dan merah), taltal (campuran kera dan rubah yang berekor sembilan), gurkuika (bermuka gorila, bersisik naga, dan berekor ikan paus pemburu), turang (sejenis harimau yang bertaring panjang, telinga lancip, berekor tiga, dan warna kulit campuran kuning dan abu-abu), casalum (sejenis buaya tetapi berbulu halus seperti kucing), dan yang terakhir misalnya yang biasa disebut dengan Panila. Hewan jenis ini adalah yang selama ini hanya kita kenal di dalam legenda atau mitos – padahal benar adanya – sebagai burung pinix. Sebagian dari burung ini ada yang bisa menyemburkan api dari paruh/mulutnya. Nah, berkaitan dengan negeri Hur ‘Anura, maka sebagian dari hewan dalam penjelasan di atas ada yang terpilih untuk tinggal di negeri tersembunyi itu.

Catatan: Sebenarnya legenda dan mitos itu berdasarkan fakta yang ada. Waktu dan perubahan zamanlah yang menyebabkan orang-orang justru menganggap itu hanya sebatas dongeng dan khayalan belaka. Padahal dulu hampir semuanya itu pernah ada.

Selain hewan, tumbuh-tumbuhannya pun berbeda jauh dengan yang ada sekarang. Misalnya tumbuhan yang biasa disebut dengan zirana. Tumbuhan ini adalah sejenis tanaman buah yang bentuk buahnya adalah campuran antara buah pisang dan buah naga. Kemudian ada yang disebut dengan girana. Tumbuhan ini adalah sejenis tanaman buah yang bentuk buahnya adalah campuran antara pepaya dan mangga. Ada juga buah yang biasa disebut dengan mitalana. Tanaman buah yang satu ini bentuk buahnya adalah campuran antara buah melon dan timun. Kemudian ada buah natalu (sejenis buah pepaya namun di dalamnya ada buah seperti anggur), kasawu (campuran buah mangga dan jambu biji), lapala (pohon dan buahnya seperti kelapa namun pelepah dan daunya berduri seperti pohon salak), dan yang terakhir misalnya tanaman yang biasa disebut dengan tirahasa. Tumbuhan ini adalah sejenis tanaman bunga yang sangat harum yang bentuk kelopak bunganya kecil-kecil namun berwarna-warni. Sementara itu, untuk jenis pohon kayunya, maka ada pohon biraswa. Pohon besar yang satu ini tingginya bisa mencapai ±700-1000 meter, berwarna kayu/batang putih, berdaun kecil memisah/berjari-jari, bercabang banyak dan berdaun warna coklat dengan pucuk daun yang berwarna hijau muda. Sedangkan contoh lainnya adalah pohon tilaswa. Pohon jenis ini berukuran sangat besar dan bentuknya adalah campuran antara pohon kapuk dan beringin.

Sedangkan untuk manusianya, maka saat itu mereka memiliki postur tubuh yang sangat tinggi dan besar. Rata-rata tinggi mereka antara 15-18 meter. Rupa fisik mereka pun sempurna, lengkap dengan paras yang menawan. Ada beberapa ras yang hidup saa itu, bahkan memang demikianlah sejak di periode zaman sebelumnya (Purwa Duksina-Ra dan Purwa Naga-Ra). Dalam hal ini, khusus yang tinggal di negeri Hur ‘Anura ada sepuluh jenis rasnya. Yaitu:

1. Berwarna kulit kuning keputihan. Wajah lonjong. Rambut berwarna kemerah-merahan. Hidung mancung. Mata berwarna cokelat.
2. Berwarna kulit putih. Wajah oval. Rambut berwarna hitam. Hidung tidak terlalu mancung. Mata berwarna hitam.
3. Berwarna kulit putih kemerah-merahan. Wajah lonjong. Rambut berwarna kuning keemasan. Hidungnya mancung. Mata berwarna biru.
4. Berwarna kulit gelap. Wajah tidak lonjong. Rambut berwarna hitam kemerah-merahan. Hidung mancung. Mata berwarna hitam.
5. Berwarna kulit kuning keputih-putihan. Wajah oval. Rambut berwarna hitam. Hidung mancung. Mata berwarna kehijauan.
6. Berwarna kulit cokelat. Wajah bulat. Rambut berwarna kuning kecokelatan. Hidung sedang. Mata berwarna biru.
7. Berwarna kulit putih. Wajah antara lonjong dan oval. Rambut berwarna hitam. Hidung sedang. Mata berwarna hitam.
8. Berwarna kulit kuning kecokelatan. Wajah antara lonjong dan sedang. Rambut berwarna hitam kecokelatan. Hidung mancung. Mata berwarna hitam kecokelatan.
9. Berwarna kulit putih kecokelatan. Wajah lonjong. Rambut berwarna hitam kemerahan atau pirang. Hidung mancung. Mata berwarna kuning kehijauan.
10. Berwarna kulit hitam. Wajah antara lonjong dan sedang. Rambut berwarna hitam. Hidung mancung. Mata berwarna hitam kecokelatan.

Jadi, pada saat itu fisik manusia masih sangat menawan. Sebab memang pada awalnya bentuk fisik manusia itu sangatlah rupawan – maklumlah manusia sendiri adalah makhluk yang sempurna dalam penciptaannya. Tapi karena sikap dan perilaku manusia pula, akhirnya mereka barubah menjadi semakin kecil, lemah dan tidak rupawan. Bahkan berdasarkan petunjuk yang kami dapatkan, ke 10 ras di atas – yang murninya – sudah tidak ada lagi di zaman ini. Sekarang yang tertinggal hanyalah hasil dari percampuran ke 10 ras itu saja, alias sudah tidak asli lagi. Selain itu, faktor lingkungan, iklim, udara, sinar matahari, makanan dan minuman juga mempengaruhi perubahan bentuk itu. Semakin buruk kondisi semua unsur di atas, maka secara perlahan akan memperburuk kondisi fisik manusia.

Lain halnya dengan bangsa Peri. Mereka ini memiliki bentuk fisik yang selalu sempurna dan rupawan. Tidak ada yang jelek atau menyeramkan, karena bahkan setiap gerak-geriknya pun anggun lengkap dengan suara yang menggema. Dan sebagaimana manusia, maka ras dari bangsa Peri ini juga beragam. Secara umum ada tiga ras, di antaranya yang berwarna rambut hitam, merah, atau kuning keemasan. Matanya ada yang berwarna biru, hijau atau hitam. Sedangkan untuk warna kulitnya, hampir semuanya berwarna putih bersih dengan ukuran tubuh yang rata-rata lebih tinggi dari umumnya manusia (sekitar 20-21 meter). Bentuk tubuh mereka selalu ramping, sementara wajahnya lonjong dengan bentuk telinga yang lancip. Dan saat itu, mereka masih bisa tinggal di alam nyata, bahkan sesekali berinteraksi langsung dengan manusia. Baik hanya sekedar untuk silaturahim, ataupun untuk urusan perdagangan. Kelebihan bangsa ini adalah tidak pernah berubah bentuk menjadi jelek atau pun menua, karena meskipun sudah berumur sangat tua, mereka tetap seperti Peri yang berumur 40 tahun. Dan meskipun ras mereka bercampur dalam hubungan pernikahan, keturunan mereka tetaplah rupawan, tidak berubah menjadi jelek seperti halnya manusia, bahkan semakin sempurna. Nah, sebagian dari mereka ini juga terpilih untuk tinggal di negeri Hur ‘Anura.

Catatan: Pada dasarnya hampir semua mitos atau legenda itu berdasarkan fakta. Waktu dan perubahan zamanlah yang menyebabkan orang-orang justru menganggap itu hanya sebatas dongeng dan khayalan belaka. Padahal dulu hampir semuanya itu pernah ada.

Selanjutnya ada pula bangsa Jin yang masih tinggal di dunia nyata. Meskipun hampir semuanya di alam gaib, sebagian dari mereka memilih untuk menetap di muka Bumi. Mereka itu biasanya tinggal tidak terlalu jauh dari wilayah manusia, misalnya di daerah perbukitan dan gunung, hutan dan rawa-rawa yang dekat dengan wilayah kekuasaan manusia. Dan seperti kedua bangsa sebelumnya, maka sosok bangsa Jin ini juga beraneka ragam, lebih banyak dari bangsa lainnya. Mulai dari yang rupawan hingga yang menyeramkan. Jenis yang rupawan adalah bagi mereka yang tetap hidup dalam kebaikan dan kebenaran Tuhan; mereka inilah yang sering/umum tinggal di alam nyata dunia – sebagian dari mereka ini juga terpilih untuk tinggal di negeri Hur ‘Anura. Sementara yang buruk rupa dan menyeramkan adalah jenis Jin yang bersifat jahat dan bengis. Bahkan dari kalangan yang buruk rupa ini biasanya tidak mau di atur – oleh siapapun – dan berlaku sangat egois. Tidak jarang mereka mengganggu manusia dan sesekali sampai memakan tubuh manusia hidup-hidup. Perilaku seperti inilah yang di kemudian hari sering menimbulkan pertikaian besar dengan manusia. Sampai pada akhirnya memunculkan dongeng tentang raksasa pemakan manusia. Orang-orang yang hidup di zaman yang lain – seperti kita sekarang, lalu menganggap ada golongan raksasa, padahal sebenarnya itu adalah bangsa Jin yang jahat dan bengis, yang pada masa lalu masih tinggal di alam nyata dunia.

Selain ketiga bangsa di atas, ada satu lagi jenis makhluk yang tinggal di muka Bumi kala itu. Mereka ini biasa disebut dengan Ruwan atau orang kerdil yang sangat berbakat dalam urusan seni dan budi daya tanaman. Ruwan ini bentuk fisiknya tidak jauh berbeda dengan manusia. Bedanya mereka ini tidak terdiri dari berbagai ras, karena sejak awal keberadaannya memang hanya ada satu ras saja. Dan mereka ini sebenarnya juga masih keturunan Ayahanda Adam AS, yang atas kehendak Tuhan tercipta lebih mungil dari umumnya manusia. Bukan karena mereka cacat atau cebol, tetapi memang sudah menjadi kehendak Tuhan bila tubuh mereka seperti itu. Dan atas petunjuk yang diterima oleh Nabi Adam AS, cucunya ini diberi nama kaum Ruwan. Dan mereka lalu diperintahkan untuk memisahkan diri dari kelompok manusia untuk mendirikan peradaban dan budayanya sendiri. Sebagian dari mereka ini lalu terpilih untuk tinggal di negeri Hur ‘Anura, berdampingan dengan manusia dan golongan makhluk lainnya.

Ciri khas dari bangsa Ruwan ini bertubuh setinggi 7-10 meter (kerdil untuk ukuran manusia di zaman itu), dengan warna kulit putih kecoklatan dan rambut hitam kemerahan atau merah. Bentuk fisik mereka sama dengan manusia biasa. Wajah mereka sedikit bulat berisi, dengan warna mata cenderung kehijauan. Hidung mereka cukup mancung dan bentuk telinganya sedikit lancip (tapi tak selancip bangsa Peri). Selain itu, khusus untuk golongan prianya, mereka senang memelihara kumis dan janggutnya hingga terurai panjang. Rambutnya juga panjang tapi sering di kepang atau di gelung, jarang yang terusai. Tentang keberadaan bangsa Ruwan ini, entah karena ilham atau kesempatan melihat masa lalu atau ada yang memberikan informasi, di kemudian hari memunculkan kisah tentang adanya bangsa Dwarf (kurcaci) dalam beberapa mitos di Eropa, terutama di wilayah Skandinavia.

Ke enam bangsa itu (Hewan, Tumbuhan, Manusia, Peri, Jin, dan Ruwan) memang dominan di muka Bumi kala itu. Namun selain mereka ada tiga bangsa lainnya yang juga hidup berdampingan. Mereka adalah bangsa Cinturia, Karudasya dan Naga. Bangsa Cinturia memiliki wujud separuh manusia dan separuh hewan. Di antara mereka ada yang bentuk tubuhnya adalah campuran antara manusia dan burung, tapi ada pula yang bercampur antara manusia dan ikan. Gambaran mereka ini mirip dengan Alkanost dan Siren (putri duyung) dalam mitologi Yunani. Sedangkan untuk bangsa Karudasya, mereka ini berwujud campuran antara manusia dan kuda. Gambaran mereka ini persis dengan Centaurus dalam mitologi Yunani. Sementara bangsa Naga memiliki wujud bersisik seperti ular yang sangat besar dan terbagi dalam dua golongannya. Sebagian dari mereka ini berwujud seperti ular yang memiliki empat kaki dan sepasang tanduk (mirip naga versi China), sementara yang lainnya memiliki empat kaki, sepasang tanduk dan sayap (mirip naga versi Eropa). Kedua jenis Naga ini terdiri dari lima warna sisiknya, yaitu hijau, hitam, merah, emas dan putih. Dan sebagaimana bangsa-bangsa yang lainnya (Jin, Peri, Ruwan), ketiga bangsa ini (Cinturia, Karudasya, Naga) masih diizinkan untuk tinggal di muka Bumi. Mereka juga membangun peradabannya sendiri layaknya manusia, tapi dengan ciri khasnya sendiri. Setelah cukup waktu, mereka lalu diperintahkan untuk berpindah ke dimensi lain sampai hari ini.

 

Demikianlah beragam jenis makhluk yang hidup pada zaman ketiga (Dirganta-Ra) Semuanya hidup dengan berbagai urusan dan masalahnya sendiri. Sesekali mereka bekerjasama, tapi tak dapat dihindari mereka pun kadang harus saling bertikai demi prinsip dan kebutuhan mereka. Begitulah garis kehidupan yang telah Tuhan tetapkan. Dan melanjutkan keterangan di atas, maka semua jenis makhluk di atas (Hewan, Tumbuhan, Manusia, Peri, Jin, Ruwan, Cinturia, Karudasya, dan Naga) ada yang terpilih dan diizinkan untuk tinggal di negeri Hur ‘Anura. Hanya saja memang mereka semua harus lulus seleksi dulu, alias harus terpilih dan bersih hatinya.

4. Kehidupan di negeri Hur ‘Anura
Berbeda dengan para utusan lainnya, saat itu Nabi Syis AS juga diberi tugas lain untuk mengajarkan hewan dan tumbuhan agar mereka mampu berbicara, menulis dan menguasai ilmu khusus seperti layaknya manusia. Kepada kedua golongan itu, selama 25 tahun lebih beliau mengajarkan tentang berbagai ilmu pengetahuan, termasuk bahasa dan aksara. Kepada beberapa jenis hewan beliau mengajarkan bahasa Urwahanarasya dan aksara Gwindarumalisya. Sedangkan untuk golongan tumbuhan, beliau mengajarkan bahasa Yaminawurisya dan aksara Isminawayasya. Semua pengetahuan itu lalu diteruskan oleh kedua golongan itu secara turun temurun. Karena itulah, kehidupan kedua golongan itu sangat unik dan berbeda sekali dengan yang ada sekarang. Mereka hampir menyerupai perilaku manusia.

Di antara golongan hewan dan tumbuhan yang telah belajar kepada Nabi Syis AS, mereka lalu terpilih juga untuk tinggal di negeri Hur ‘Anura. Disana mereka hidup dengan sempurna bersama bangsa dan golongan makhluk lainnya hingga sekarang. Artinya, ketika golongan hewan dan tumbuhan juga ikut tinggal di negeri Hur ‘Anura, maka lengkap sudahlah perikehidupan disana. Bagaikan di Syurga, disana penuh dengan keindahan, kedamaian dan keseimbangan. Dan tak jarang para Malaikat atau makhluk suci lainnya yang berkunjung kesana, baik dalam wujud aslinya atau pun penyamaran. Sungguh beruntung bagi siapa saja yang bisa tinggal disana. Anugerah yang sangat besar dalam kehidupan dunia.

Ya. Negeri Hur ‘Anura adalah sebuah tempat tinggal yang luar biasa. Saking uniknya, maka tak sembarang orang bisa datang kesana. Bahkan mereka yang telah moksa atau setingkat para Dewa-Dewi pun tak bisa serta merta berkunjung kesana. Mereka juga haruslah sosok yang terpilih karena kebersihan hati dan kemurnian tauhid kepada Hyang Aruta (Tuhan YME). Dan ini tetap akan berlaku sampai Hari Kiamat nanti. Dimana siapapun sebenarnya memiliki kesempatan untuk bisa tinggal disana, tapi dengan catatan ia mampu hidup secara benar sesuai dengan hukum dan aturan Hyang Aruta (Tuhan YME). Pemahaman tentang hakekat diri sendiri dan siapa Tuhan yang sejati adalah yang utama. Ini tidaklah mudah, karena itulah tak semua orang bisa terpilih untuk tinggal di negeri tersembunyi itu. Jangankan bisa menetap disana, bahkan tak ada lagi yang tahu tentang kisah keberadaan negeri yang mahsur itu.

Jadi, sejak dimasa awal periode zaman ketiga (Dirganta-Ra), mereka yang hidup di negeri Hur ‘Anura terus menjalani kehidupan yang luar biasa. Selain penuh dengan keindahan dan kebahagiaan, disana memiliki hukum alam, periode waktu, tata cara hidup (peradaban) dan bahasanya sendiri. Tidak sama dengan yang ada di alam nyata dunia ini (di atas Bumi). Mereka yang hidup disana juga bisa mengubah-ubah bentuk dan ukuran tubuhnya serta tidak mengalami ketuaan atau kematian. Mereka hidup abadi sampai Hari Kiamat nanti atau sampai batas waktu yang telah ditentukan oleh Hyang Aruta (Tuhan YME).

Selain itu, dari masa ke masa penduduk di negeri Hur ‘Anura kian bertambah. Mereka yang telah mencapai keharmonisan hidup atau keseimbangan dirinya, yang tercerahkan, satu persatu terpilih untuk tinggal disana. Ini berlangsung dari zaman ke zaman, bahkan sampai ke periode zaman ke tujuh ini (Rupanta-Ra). Disana mereka mendapatkan berbagai anugerah kehidupan yang luar biasa, yang bahkan tak pernah disaksikan oleh umumnya manusia. Hanya saja berdasarkan informasi yang kami dapatkan, maka sudah sekitar 1.250-an tahun belakangan tak ada lagi manusia yang terpilih untuk bisa tinggal di negeri itu. Alasannya pun bermacam-macam, dan tentunya itu sesuai dengan ketetapan-Nya pula.

Dan berdasarkan petunjuk yang didapatkan, maka sebenarnya di masa sekarang ini siapapun tetap memiliki kesempatan untuk bisa tinggal disana, atau setidaknya melihat dan singgah di negeri itu. Hanya saja syaratnya tidak mudah, seseorang minimal harus sudah mengenal dirinya sendiri dan Tuhannya dalam arti yang sesungguhnya. Selain itu, ia juga harus sudah tidak lagi memiliki hasrat keinginan pada duniawi ini atau bahkan untuk bisa sampai kesana (ke negeri Hur ‘Anura itu). Hal ini bisa dibuktikan sendiri, dengan fakta apakah seseorang pernah melihat atau berkunjung kesana, ke negeri yang terahasia itu? Karena siapapun yang layak dan terpilih, tentu setidaknya ia pernah melihat dan singgah di negeri itu.

5. Guru kebangkitan peradaban
Dalam hal ini tentu akan timbul pertanyaan tentang apa tujuan mereka terpilih dan tinggal di negeri Hur ‘Anura itu? Salah satu jawabannya adalah untuk menyelamatkan diri mereka saat terjadi pemurnian total di muka Bumi. Jadi, pada saat periode zaman berganti, dimana bencana dahsyat berlangsung di seluruh Bumi secara serentak, mereka yang hidup di negeri Hur ‘Anura takkan terkena dampaknya. Mereka bisa tahu apa yang terjadi pada saat Bumi mengalami pemurnian total, namun tak terjadi apa-apa dengan diri mereka. Semua yang tinggal di negeri Hur ‘Anura akan tetap aman dari azab itu, karena mereka berada di dalam sebuah perisai yang sangat kokoh, bahkan di ruang dimensi yang khusus pula.

Selain itu, mereka yang tinggal disana juga diberikan tugas untuk membimbing umat manusia atau makhluk lainnya dalam membangun peradabannya. Ini terjadi sesuai dengan petunjuk dari Hyang Aruta (Tuhan YME), dan biasanya melalui perantara seorang Nabi atau Malaikat. Secara bergantian, dari zaman ke zaman mereka yang tinggal disana akan muncul ke Bumi untuk memberikan pelajaran dan membimbing manusia agar mereka bisa membangkitkan kejayaannya. Ada beberapa kaum yang pernah mendapat kesempatan itu, seperti halnya kaum Hilmataru, Sahral, Gorangti, Elbrus, Jilayat, dan Qurodan. Ke enam kaum itu pernah menjadi pusat peradaban dunia di setiap zamannya. Mereka hidup dengan kelimpahan dan kesejahteraan. Peradaban yang mereka bangun telah sampai pada puncak teknologi dan kebatinan. Lebih baik dari kita sekarang.

Dan tidak menutup kemungkinan bila mereka itu (penduduk negeri Hur ‘Anura) akan muncul kembali untuk menemui kita, atau setidaknya di antara kita, demi membantu manusia Bumi sekarang untuk membangkitkan kejayaan baru. Hanya saja dalam hal ini rasanya baru akan terwujud di zaman yang baru nanti, zaman setelah masa transisi nanti berakhir. Artinya, setelah transisi zaman ke tujuh ini (Rupanta-Ra) berakhir, maka akan hadir periode zaman yang baru. Itulah zaman ke delapan, yaitu zaman yang terbaik yang disebut dengan Hasmurata-Ra. Namun tentang pembekalannya, kemungkinan besar telah dimulai sejak di akhir periode zaman ke tujuh ini (Rupanta-Ra). Dan mungkin sudah ada di antara kita yang pernah bertemu dengan mereka atau bahkan dibimbing langsung olehnya dalam berbagai pengetahuan, oleh penduduk negeri Hur ‘Anura. Semoga memang begitu.

6. Penutup
Wahai saudaraku. Ada begitu banyak hal yang telah hilang dari ingatan, bahkan dari catatan sejarah manusia. Namun demikian, segala sesuatunya itu akan tetap berjalan sesuai dengan kehendak-Nya. Jika manusia sekarang telah lupa atau tidak pernah tahu tentang negeri Hur ‘Anura, maka itu pun adalah bagian dari rencana-Nya. Sesuatu yang terbaik itu terkadang memang harus tersembunyi sampai batas waktu yang tepat untuk bisa muncul kembali. Ini merupakan bagian dari ujian untuk sekalian makhluk agar mereka tetap bersikap tulus dan ikhlas dalam hidupnya. Pencapaian yang terbaik itu akan sesuai dengan usaha yang terbaik pula, tanpa pamrih tanpa tedeng aling-aling.

Dan terkait dengan negeri Hur ‘Anura itu, mungkin saja akan menjadi salah satu solusi untuk menyelamatkan makhluk hidup yang memang pantas untuk diselamatkan. Artinya, ketika transisi zaman ke tujuh ini (Rupanta-Ra) terjadi nanti, di antara mereka yang terpilih akan diizinkan untuk masuk dan tinggal di negeri yang tersembunyi itu. Dan sebagaimana yang pernah terjadi di masa lalu, maka ketika pemurnian total sedang berlangsung di atas Bumi ini, mereka yang sudah berpindah ke negeri Hur ‘Anura itu akan selamat. Mereka tidak akan terkena dampak buruk dari transisi zaman nanti, karena mereka sudah terpilih dari sekian banyak manusia atau makhluk lainnya di atas Bumi ini. Dan mungkin saja di antara mereka itu adalah kita! Semoga saja.

Untuk itu, mari kita sama-sama tetap memperbaiki diri dan terus berusaha untuk selalu patuh hanya pada hukum dan aturan dari Hyang Aruta (Tuhan YME). Jangan abaikan hal ini dan tak perlulah kita ikut-ikutan larut dalam pergaulan dunia yang semakin buruk. Menjauhlah dari kebatilan yang disengaja ataupun tidak disengaja (karena sudah kebiasaan). Tetaplah bersemangat dengan sikap yang selalu menjujung tinggi kebenaran dan cinta. Hidup di dunia ini hanyalah sementara, sedangkan nanti akan ada yang abadi yang kita semua harus menanggung akibat dari setiap perbuatan kita sekarang. Yang baik akan dibalas dengan kebaikan, sementara yang buruk/jahat akan dibalas pula dengan yang setimpal. Hanya keimanan dan kepatuhan kepada Hyang Aruta (Tuhan YME) sajalah yang bisa menyelamatkan diri kita, baik di dunia maupun di akherat nanti.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Rahayu _/|\_

Jambi, 22 Agustus 2017
Harunata-Ra

Catatan:
1. Seperti tulisan sebelumnya, disini kami hanya sebatas menyampaikan dan mengingatkan saja. Tidak ada tendensi apapun disini. Percaya syukur, tapi kalau tidak ya silahkan, itu hak Anda sekalian. Kami tidak akan memaksa.
2. Hampir semua yang diuraikan di dalam tulisan ini berada di luar pengetahuan umum. Karena itu, para pembaca sekalian harus membuka cakrawala pikiran dan hatinya terlebih dulu agar bisa menangkap isi dan pesan dari tulisan ini. Agar tidak bingung dan menolaknya. Karena ada banyak hal yang luar biasa dan bahkan tak masuk akal di dunia ini. Tapi semuanya itu memang ada dan akan tetap ada meskipun tanpa disadari atau bahkan ditolak oleh manusia sekarang. Sesuatu yang tak terlihat itu bukan berarti tidak ada. Kitanya saja yang mungkin belum tahu.
3. Gambar dan foto yang ditampilkan pada tulisan ini tidak menunjukkan fakta yang sebenarnya. Itu hanya sebatas ilustrasi agar para pembaca lebih mudah memahami tentang apa yang dijelaskan.

Iklan

21 respons untuk ‘Negeri Hur ‘Anura: Tersembunyi dan Terpilih

    Washita said:
    Agustus 22, 2017 pukul 7:16 am

    Wow,,, keren mas,,, sptnya indah sekali tpt tsb,,, semoga sj diantara kita ada yg lulus seleksi kesana

      oedi responded:
      Agustus 22, 2017 pukul 12:02 pm

      Terima kasih mas Washita karena masih mau berkunjung, semoga ttp bermanfaat.. 🙂
      Hmm.. Tentunya mas, saking indahnya sampai susah dijelaskan dg kata-kata.. Gak ada perbandingannya di Bumi ini sih.. Maklumlah wong itu negeri khusus utk mrk yg terbaik..
      Aamiin.. Semoga kita termasuk yg terpilih nanti.. 🙂

    penegakdarma said:
    Agustus 22, 2017 pukul 12:25 pm

    sangat berkesan mas
    jika dipikir pikir sangat indah tenang damai di negeri itu

      oedi responded:
      Agustus 22, 2017 pukul 1:32 pm

      Tentunya mas.. Sungguh beruntung yg terpilih utk tinggal disana.. Sangat seimbang dan harmonis semua unsur dan elemen kehidupan disana.. Syurga dunia jelas terwujud di negeri itu..
      Oke mas Penegakdarma, sekali lagi terima kasih karena masih mau berkunjung, semoga ttp bermanfaat.. 🙂

    Tufail Ridha said:
    Agustus 23, 2017 pukul 3:40 am

    Menarik sekali tentang sejarah gunung² d Nusanta-Ra pd awalnya apa nama gunung yg skrg jd danau toba krn lebar kawahnya yg ada +/- 100km d ketinggian brp pula puncaknya tsb? Apa sama Panila” yg dimaksud dg ajudannya Nabi Sulaiman AS? Sungguh beruntung saudara Harunata-Ra ini bisa singgah dan mau berkisah tentang pengalamannya tentang sebuah negeri yang indah dan bercahaya… 😊 Mudah²an kita masih d beri keberuntungan dan kesempatan untuk singgah apalagi berdiam d negeri Hur ‘Anura dan menjadi Kehendak-Nya pula semua itu terjadi. Nah apa sih rasanya punya keluasan wawasan dan pengetahuan spt Kang Harun ini… 😀 ditambah dg lika-liku protapnya… 😁 jd kepingin saya hijrah ke bangko Jambi… Hehehe. Semoga kita selalu dlm lindungan-Nya dan juga selalu mendapat Petunjuk dari-Nya. Salam. Rahayu 🙏

      oedi responded:
      September 25, 2017 pukul 1:27 am

      Salam Rahayu juga kang Tufail, nuhun karena masih mau berkunjung, semoga ttp bermanfaat.. 🙂

      Betul sekali kang, sejarah gunung” itu sangat menarik, dan seperti halnya manusia, mereka juga lahir, tumbuh, tua dan akhirnya mati (hancur/meletus). Pada setiap periode zamannya, khususnya sejak manusia hidup di atas Bumi ini, gunung-gunung tersebut seperti kata pepatah lama yang berbunyi: “patah tumbuh hilang berganti”. Artinya, apa yg dulu ada kini sudah tidak ada lagi, maklumlah waktu yg terlalui sudah melewati masa milyaran tahun.. 🙂

      Tentang danau Toba, benar sekali bahwa itu adalah sebuah Kawah raksasa sebuah gunung yg sudah meletus secara eksplosif (meledak). Perkiraan meletus nya terjadi sekitar 60.000-75.000 tahun silam. Untuk namanya, beberapa kali pernah berganti nama sih kang, sesuai dg zaman dan bangsa yang tinggal di sekitar gunung tersebut. Merekalah yg memberikan nama pada gunung itu, tentunya akan sering berubah seiring zaman berganti. Kalau saya tidak salah, di antara nama-nama yg pernah diberikan pada gunung itu seperti Gumaslia, Histir, Ermulata, dan Ornalum. Nama” itu disematkan kepada sang gunung dalam rentan wkt yg berbeda, dan biasanya berjarak antara ribuan atau puluhan ribu tahun. Lalu tentang ketinggiannya, kalau saya tidak salah gunung itu dulu memiliki ketinggian sekitar 9.015 mdpl. Lebih tinggi dari puncak Everes di Himalaya.

      Ttg hewan Panila, itu tidak sama dg burung di zaman Nabi Sulaiman AS. Keduanya memang species burung, tapi jenis dan karakternya berbeda. Ukuran, bentuk fisik dan kemampuannya pun berbeda sekali. Burung Panila itu lebih unggul dalam byk hal, dan sudah tidak ada lagi yg hidup di muka bumi – selama jutaan tahun – sebelum masa kehidupan Nabi Sulaiman AS. Mereka sudah berpindah dimensi, dan sebagian lainnya punah.

      Waaah.. Jangan berlebihan gitu kang, saya ini cuma orang awam yg baru belajar.. Wawasan saya pun cuma secuilnya, dan saya gak punya apa-apa selain berusaha utk mengikuti kehendak-Nya saja. Semua sudah ditentukan oleh-Nya. Saya ini hanya berusaha utk manut saja.

      Hmm.. Kenapa harus ke Bangko-Jambi kang? Di tanah Jawa sudah bagus bgt kok. Apalagi disana kan byk orang hebat dan waskita. Terlebih skr ini sudah waktunya bagi kita semua utk semakin mempersiapkan diri sebaik mungkin di tempat masing-masing. Sebab perang besar sudah semakin sering terjadi di dimensi lain dan suatu saat nanti akan melebar (sampai) juga ke dimensi kita ini. Sebagian para spiritualis di pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali dan Lombok sudah tau dan merasakannya, bahkan ada yg sempat terkena dampak perang atau serangan goib nya juga. Dalam setiap perangnya, berbagai jenis makhluk sudah terlibat, termasuklah para Dewa-Dewi, Peri dan Jin (untung perang itu terjadi di dimensi lain, kalau di dimensi kita maka bisa hancur berantakan seisi bumi ini). Kekuatan kegelapan sgt kuat, bahkan sepengetahuan kami mrk lebih sering unggul dari yg golongan putih (yg baik). Siapapun yg kalah akan mrk tawan, disiksa dan bahkan dibunuh dg cara yg sadis oleh pasukan kegelapan itu. Tujuan mrk itu tiada lain kecuali untuk menguasai bumi dan alam semesta seluruhnya. Yg mencegah atau yg menolaknya akan di perangi habis-habisan, bahkan bila perlu semuanya dibunuh atau dijadikan budak mrk. Sehingga tak ada alasan lagi bagi kita utk bersantai dan tak peduli. Kita harus terus melatih diri dan meningkatkan kemampuan diri sendiri. Musuh yg akan dihadapi nanti sangat luar biasa hebat, sakti dan sekaligus licik banget.. Untuk itu, nanti kalo sampeyan hijrah kesini (Bangko – jambi), ntar malah berabeh loh.. Apalagi hidup saya yg susah dan memprihatinkan gini. Dan sebenarnya saya pun ada rencana utk berhijrah lagi, entah kemana saya pun belum tau, nunggu petunjuk dulu.. 🙂

      Aamiin.. Semoga kita bisa terpilih untuk tinggal di negeri Hur ‘Anura sebelum transisi zaman ini terjadi, terlebih semoga kita pun diberikan keselamatan dan ampunan-Nya.. 🙂

        Tufail said:
        September 27, 2017 pukul 12:40 pm

        Mmmh… Saya sempat husnudzon sama kang harun lama tidak berbalas kayaknya sudah hijrah atau menetap d Hur’anura iri saya…. 😀 ibarat sudah d evakuasi untuk hidup lebih paripurna 😀

        Selama ini informasi yg saya ketahui tentang gunung toba dinamakan gunung Bhatara Guru orang zaman skrg ini gampang sekali menamakan sesuatu sekenanya sj.

        Miris jg dg kejadian yg sudah dan akan terus terjadi apalagi dampaknya -ditambah sudah ada yg merasakan tentang peperangan di dimensi lain oleh pasukan kegelapan bahkan terus berlangsung. Ngeri mendengarnya.

        Kurang lebih kalau memang atas izin dan kehendak-Nya tentang hijrah kayaknya kang harun sdh berada d zona nyaman besar sekali kenginan ini untuk bisa bergabung.. 😀

        Mudah²han masih d beri kesempatan untuk ngepost tulisan dan artikel tentang misteri dan rahasia tersembunyi tentang alam semesta ini. Apalagi mengartikan bahasa dari kaum² terdahulu.

        Semoga Hyang Aruta berkenan memberikan kita petunjuk untuk mengarahkan ditempat yang tepat untuk selamat dan di selamatkan.

        Salam. Rahayu 🙏

        oedi responded:
        September 28, 2017 pukul 5:32 am

        Iya kang, maaf kalo lama membalas komentarnya.. Kemaren ada tugas dan urusan yg harus dituntaskan.. Ada byk pelajaran dan wawasan yg harus saya cari.. Semoga memberi manfaat utk kita semua..

        Owalah kang, siapa juga saya ini yg bisa tinggal di negeri Hur ‘Anura itu.. Masih belum patas kok dan harus lebih banyak belajar dan memperbaiki diri lagi.. Gak sembarangan loh yg bisa tinggal disana.. 🙂

        Waaah zona aman apaan kang.. Wong selama kita hidup di atas Bumi ini, sebenarnya kita semua berada di zona yg tidak aman sih.. Karena itu gak ada alasan utk tidak terus mempersiapkan diri.. Saya pribadi masih teramat cemas ttg apakah saya sendiri bisa selamat nanti, karena jika tidak saya pun akan termasuk golongan yg terkutuk.. Makanya gak layak banget utk diikuti kang, masih parah saya ini.. 😦

        Tentang gunung, ya begitulah kang faktanya bahwa orang skr banyak yg sekenanya aja memberi nama tanpa menggali sejarahnya dulu.. Makanya, gimana gak rusak generasi kita skr, apalagi anak cucu kita nanti.. Ini harus segera diperbaiki, pelan” tentunya..

        Tentang perang di dimensi lain, saya ampe gak bisa berkata-kata lagi kang, sebab kondisinya skr semakin luar biasa.. Untung itu gak terjadi di dimensi kita ini, kalo iya maka sudah hancur berantakan bumi ini.. Entah apa jadinya manusia disini kalo terdampak perang yg seperti itu? Belum pernah terjadi perang yg sedahsyat itu selama sejarah manusia hidup di bumi ini..

        Tentang tulisan, insya Allah masih tetap lanjut kang. Sudah ada bbrp artikel kok yg udah dipersiapkan, cuma blm bisa di upload aja skr, blm sempat waktunya. Mohon di tunggu dulu.. 🙂

        Aamiin ya Robb, semoga kita selalu diberi petunjuk yg benar dan diarahkan ke jalan yang tepat dan menyelamatkan.. 🙂

        Rahayu Bagio.. _/|\_

    Umam said:
    September 5, 2017 pukul 1:29 pm

    Kekuasaan Tuhan tak terbatas
    Saya yakin masih banyak hal hal yg tersembunyi selain negri Nur Annuro
    Bahkan mungkin itu jarakanya sangat dekat dengan dunia kita..

      oedi responded:
      September 25, 2017 pukul 1:46 am

      Terima kasih mas Umum utk kunjungannya, semoga bermanfaat.. 🙂

      Setuju mas Umam, ada byk hal yg tersembunyi dan terlalu byk pula yg belum kita ketahui.. Tugas kita adalah untuk berusaha mencari tau dan jg pernah bersikap sombong, sok tau dan merasa paling pinter sendiri.. Ilmu dan kekuasaan-nya tak terbatas sifatnya..

    Widya said:
    Oktober 6, 2017 pukul 1:09 pm

    Menanti2 tulisan mas oedi…semoga dilancarkan hajatnya

      oedi responded:
      Oktober 6, 2017 pukul 3:22 pm

      Nuwun mbak Widya utk doanya dan karena masih berkenan baca.. Sebenarnya sudah saya persiapkan kok bbrp artikel, cuma blm bisa di upload skr.. Mohon di tunggu yah.. Semoga aja bisa dalam minggu ini.. 🙂

    Washita said:
    Oktober 15, 2017 pukul 5:27 am

    Saya sedang menunggu artikel selanjutnya,,,

      oedi responded:
      Oktober 15, 2017 pukul 7:31 am

      Nuwun mas Washita karena masih berkenan.. Silahkan di tunggu dulu ya.. Maaf karena tulisan yg baru blm bisa saya upload skr, masih blm sempat.. Tapi sudah dipersiapkan bbrp kok.. Semoga nanti ttp bermanfaat.. 🙂

    […] senang karena bisa tinggal di negeri yang sangat misterius itu. Meskipun sebenarnya lokasi negeri Hur’Anura itu jauh dari tempat ia ber-tapa, maka karena yang mengajaknya adalah seorang Bhatari semua itu […]

    Valhadir : Negeri Lima Bangsa – Perjalanan Cinta said:
    Maret 23, 2018 pukul 2:36 am

    […] indah dan para Dewa-Dewi juga sering berkunjung kesana, tetapi levelnya masih berada dibawah negeri Hur’Anura. Dalam segala hal, negeri Hur’Anura tentu lebih unggul karena dibangun oleh para Nabi dan […]

    […] Pribadi yang seperti warga kota Syinastra inilah yang layak untuk tinggal di negeri Hur ‘Anura atau Valhadir. Dan memang banyak dari mereka itu yang sering berkunjung ke negeri Hur ‘Anura. […]

    asyifa said:
    April 30, 2019 pukul 4:18 pm

    Subhanallah….

      Harunata-Ra responded:
      Mei 1, 2019 pukul 10:08 am

      Nuwun yang mbak Asyifa karena masih mau berkunjung… 🙏

      Tapi, btw baru baca artikel ini ya mbak?

    Abhiseka Ceraka Nusantara said:
    Juni 24, 2019 pukul 9:47 am

    Reblogged this on ABHISEKA CARAKA NUSANTARA.

    Membangun Peradaban Baru « Perjalanan Cinta said:
    September 25, 2019 pukul 7:24 am

    […] muncul di Bumi ini lagi, atau Astana, atau Niwata, atau jika memang diizinkan-NYA maka yang seperti Hur ‘Anura pun dapat hadir pula di muka Bumi ini lagi. Karena semuanya itu adalah pencapaian tertinggi dari […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s