Jenis Elemen, Makhluk dan Dimensi Kehidupan

Wahai saudaraku. Kali ini saya akan sedikit menjelaskan secara umum tentang sesuatu yang tak umum dan semoga bisa menjawab apa yang terbilang khusus. Dan pengetahuan ini bersifat universal, berlaku bagi siapapun. Khususnya bagi mereka yang mau belajar dan ingin terus menambah wawasannya. Sebab ilmu itu sifatnya tak terbatas. Selalu ada yang baru atau yang lain disaat kita mau terus mencarinya.

Ya. Perlu dipahami dulu bahwa ada begitu banyak jenis ciptaan Tuhan di dunia ini, semuanya beragam dan unik. Yang diketahui secara umum kini hanyalah secuilnya saja. Sebab, alam semesta seperti tempat tinggal kita sekarang ini tidak hanya ada satu. Langit “tingkat pertama” itu sangatlah luas ukurannya dan secara umum baru diketahui sebagian kecilnya saja. Dibawah kolong langit itu ada banyak alam semesta, setidaknya ada 6 buah alam semesta lain yang setara dengan tempat tinggal kita, bahkan lebih. Di setiap alam semesta itu tentu ada banyak galaksi, planet dan makhluk lain yang hidup di dalamnya. Mereka juga harus menjalani takdir Tuhan seperti halnya kita. Tetap harus memilih antara patuh atau membangkang perintah Tuhan. Tapi semua pribadi juga telah diberikan hak pilih dan kebebasan untuk itu, samalah dengan kita manusia. Dan nanti pun tinggal menanggung konsekuensi dari setiap pilihan yang telah ia ambil, sama pula dengan kita.

Lanjutkan membaca “Jenis Elemen, Makhluk dan Dimensi Kehidupan”

Armudaya: Kebangkitan dan Kehancuran Leluhurku

Wahai saudaraku. Ada banyak kehidupan yang telah dilalui oleh umat manusia. Sejak zaman pertama (Purwa Duksina-Ra), maka telah begitu banyak jenis peradaban manusia yang bangkit dan hancur secara bergantian. Semua hanya mengikuti hukum sebab akibat yang telah ditetapkan oleh Hyang Aruta (Tuhan YME) bagi kehidupan dunia fana ini. Tak ada yang bisa mengubah atau pun menundanya walau sesaat. Semuanya hanya akan mengikuti dengan mutlak disertai dengan hak pilih yang melekat pada setiap pribadi.

Di akhir periode zaman ketiga (Swarganta-Ra) atau sekitar 250 juta tahun silam, tersebutlah sebuah wilayah yang sangat istimewa di muka Bumi ini. Dulu ia diberi nama Mellayur atau yang berarti permata surga. Mellayur di zaman dahulu adalah nama untuk semua wilayah di antara Simadala (Samudera Hindia) dan Gwisadala (Samudera Pasifik). Orang sekarang menyebutnya dengan Nusantara, dan pada saat itu masih berupa satu daratan yang sangat luas. Di bagian selatan, kawasan ini dibatasi oleh lautan luas yang bernama Dailaka. Lautan ini sangat luas dan bertemu langsung dengan satu benua yang terasing bagi manusia. [Tentang periode zaman manusia, silahkan Anda baca: Revolusi dan perubahan dunia]

Lanjutkan membaca “Armudaya: Kebangkitan dan Kehancuran Leluhurku”

Nan’an si ului da Khalifah

Ya harsun. Anan vu ari anien dar lou dehi sal bigana. Ar meleth ga nida lea siba rif antu sifala. Peronen drul wisy mahiris ea nehat vra wirsa hulhule Bhumi yal eksan tinen. Awirel u sivu ne leja turiel vuru sush mehera. Vi unduna le admin to nel du ruha Jawi las Swarna hi Makiram din limas tur jaru. Gligan sinte res maqi siel mae ti ngiel tavaaru. Tel mear di suruu mendel se edur ifuin Nusanta-Ra sul hema usinda hime. Fu naenol mashe tun hunse vrudil san pesvin nurursil. Lanjutkan membaca “Nan’an si ului da Khalifah”

Diri Manusia Itu?

Wahai saudaraku. Mari kita membahas lebih dalam tentang diri manusia yang sebenarnya. Ini sangat penting, mengingat telah banyak yang melupakannya, bahkan tidak pernah tahu sama sekali. Dengan membahas tentang hal ini, setidaknya kita diingatkan kembali tentang siapakah diri kita sesungguhnya dan apa tujuan kita hidup di dunia ini. Harapannya tentu demi kebaikan dan kesempurnaan kita sendiri.

Manusia, sosok makhluk yang tinggal di alam raya ini yang harus membuktikan kemanusiaannya sendiri. Sebelum bisa, ia harus terlebih dulu memahami siapakah dirinya sendiri. Dengan pengetahuan itulah, ia baru akan hidup sebagai pribadi yang utuh dan menjadi manusia yang sejati. Tanpa hal itu, ia takkan jauh berbeda dengan sebongkah batu yang tak pernah bergerak. Mati sebelum waktunya.

Lanjutkan membaca “Diri Manusia Itu?”

Revolusi dan Perubahan Dunia

Wahai saudaraku. Manusia telah hidup dalam banyak periode zaman. Dari awalnya dulu, maka sudah terdapat enam zaman yang pernah dilaluinya. Dan kini, kita sedang hidup di periode zaman ke-7 atau yang disebut dengan zaman Rupanta-Ra. Setiap periode zaman itu memiliki batas waktunya sendiri. Ada yang berlangsung selama milyaran tahun, tapi ada pula yang hanya sebatas jutaan tahun bahkan selama ribuan tahun saja. Dan sesuai dengan informasi yang telah kami dapatkan, maka periode zaman Rupanta-Ra ini sudah berlangsung sekitar 7.000 tahun lebih. Mungkin tak lama lagi akan berakhir.

Setiap periode zaman memiliki karakter dan model kehidupan yang berbeda. Segala yang hidup didalamnya pun saling berlainan di antara periode zaman yang berlangsung. Apa yang terjadi di satu periode zaman, tak bisa pula dijadikan patokan (standar) utama bagi kehidupan yang berlangsung di periode zaman lainnya. Setiap periode zamannya itu punya ciri khas, kelebihan dan kekurangannya sendiri. Dan semuanya itu sudah diatur dengan sangat teratur oleh Sang Maha Pencipta, sesuai pula dengan kebutuhan dan kondisi dari hamba-Nya pada masa itu.

Lanjutkan membaca “Revolusi dan Perubahan Dunia”

Candi Prambanan: Kisah Cinta Yang Terlupakan

Wahai saudaraku. Tanpa mengurangi rasa hormatku kepada para ahli sejarah dan arkeolog, sudah waktunya ku sampaikan kisah tentang berdirinya Candi Prambanan. Memang bangunan candi yang megah ini sudah tidak asing lagi bagi rakyat Nusantara, khususnya orang Jawa. Karena siapa yang tidak tahu tentang kisah pembangunan seribu candi hanya dalam semalam itu? Dan meskipun telah terkubur selama berabad-abad, akhirnya bisa ditemukan kembali pada sekitar tahun 1733 oleh CA. Lons, seorang yang berkebangsaan Belanda.

Lanjutkan membaca “Candi Prambanan: Kisah Cinta Yang Terlupakan”

Bangkit dari Penjajahan

Wahai saudaraku. Mari sejenak kita renungkan tentang apa yang sudah kita lihat, dengar dan rasakan di sekitar kita sekarang, di negeri ini? Jujur dari hatimu, sebenarnya saat ini kau sedang tersenyum manis atau justru miris? Dan apakah salah jika aku mengatakan bahwa saat ini, di negeri kita ini, yang kalah itu bukan lagi sekelompok orang atau sebuah keyakinan, tetapi bangsa Nusantara itu sendiri?

Lihatlah, bahwa kekuatan jahat telah merusak dan merampok kekayaan alam Nusantara. Kegelapan itu pun sudah menjajah pola pikir dan tingkah laku dari generasi bangsa ini (tua-muda, pria-wanita, kaya-miskin, pejabat-bawahan, agamawan-awam, pintar-bodoh, dll). Dan tidak sampai disitu saja, karena sebagian dari warga bangsa kita sendiri menjadi antek (abdi, pesuruh, budak) dari kepentingan asing dan agen-agen konspirasi dunia yang melibatkan kekuatan transnasional. Akibatnya, sudah puluhan tahun ini kekejaman – bahkan pembantaian – telah di lakukan oleh sekelompok orang di negeri ini terhadap WNI lainnya, yang tak kalah kejamnya bila dibandingkan dengan kekejaman kolonialisme yang pernah di lakukan oleh bangsa asing (Portugis, Inggris, Belanda, dan Jepang) dulu.

Lanjutkan membaca “Bangkit dari Penjajahan”