Lagu Dolanan Anak-Anak: Pesan dan Prediksi Kehidupan Bangsa

Wahai saudaraku. Dalam kesempatan kali ini mari kita membahas tentang lagu dolanan anak-anak yang ada sejak ratusan tahun lalu. Meskipun hanya sebuah lagu permainan, ternyata di dalamnya menyimpan berbagai pesan dan nasihat yang adi luhung. Dan sebagai sebuah bangsa yang besar, kita patut untuk bisa meresapi dan mengambil hikmahnya. Tujuannya tentu untuk kebaikan dan kemuliaan bersama.

Ya. Dulu ada satu tembang yang berjudul “Dayoh (tamu)” yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga untuk anak-anak di tanah Jawa. Lagu tersebut biasanya di nyanyikan oleh mereka saat bulan suci Ramadhan tiba dan sering diiringi oleh sebuah permainan. Apa yang terkandung di dalamnya sekilas memang tampak sepele, namun sebenarnya merupakan pesan yang sangat mendalam dan prediksi yang akurat untuk perjalanan hidup sebuah negara. Karena itulah, dengan segala kebijaksanaannya, Kanjeng Sunan Kalijaga berniat untuk bisa mendidik anak manusia sejak di usia dini. Caranya ya tentu dengan mengikuti dunia mereka, yaitu dengan cara bermain sambil bernyanyi.

Untuk lebih jelasnya, berikut ini bait-bait lagunya:

Ee.. Dayohe teko (Ee.. tamunya datang)
Ee.. Gelaren kloso (Ee.. gelarkan tikar)
Ee.. Klosone bedah (Ee.. tikarnya robek)
Ee.. Tambalen jadah (Ee.. tambal pakai “jadah”: makanan dari ketan)
Ee.. Jadahe mambu (Ee.. jadahnya bau/basi)
Ee.. Pakakno asu (Ee.. Kasihkan ke anjing)
Ee.. Asune mati (Ee.. anjingnya mati)
Ee.. Buwangen kali (Ee.. buang ke sungai)
Ee.. Kaline banjir (Ee.. sungainya banjir)
Ee.. Buwangen pinggir (Ee.. buang ke pinggir)
Ee.. Pinggire lunyu (Ee.. pinggirnya licin)
Ee.. Centelno/sampirno pager (Ee.. Sangkutkan/Letakkan di pagar)
Ee.. Pagere ambruk (Ee.. Pagarnya roboh)
Ee.. Yo golek sangu (Ee.. Ayo mencari bekal)

Dari bait-bait di atas, maka jika dicermati dengan seksama jelas menggambarkan kondisi sebuah bangsa yang besar yang penuh masalah. Kisahnya tentang pemerintah yang berkuasa yang “ingin memberi solusi” bagi rakyatnya, tapi justru tidak pintar dan salah kaprah. Seperti di awal lirik di atas, mulanya tampak kelihatan bagus karena ada “dayoh (tamu)” yang datang (tamu disini bisa berarti amanah atau tugas dan tanggungjawab atau polemik, masalah, dll), maka di gelarlah kloso (tikar). Menggelar tikar disini berarti seolah-olah pemerintah sudah siap dengan segala sesuatunya, dengan berbagai teori yang dirasa paling jitu. Tapi teori sering tak sesuai dengan praktek di lapangan, apalagi kalau sejak awal memang cuma pura-pura agar dipilih oleh rakyat.

Dan masalah pun timbul saat tikar yang akan digelar itu robek. Harusnya tikar itu dijahit atau di anyam lagi atau digantikan dengan yang baru, tapi malah di tambal dengan menggunakan jadah (makanan/kue dari ketan). Ini jelas salah dan konyol, karena jadah tak sama dengan bahan dasar untuk pembuatan tikar. Akibatnya bukannya menyelesaikan masalah, karena justru menimbulkan masalah yang baru. Sebab, jadah itu akan tampak aneh, tidak lazim dan bisa menempel pada celana atau kain “si tamu”. Ini akan tampak kotor dan mengotori (disini artinya semakin memperkeruh masalah). Artinya, pemerintah yang ada telah melakukan hal yang keliru dan sangat tidak tepat. Akibatnya “si tamu” yang datang justru marah dan tersinggung dengan perlakuan tuan rumah. Lah wong tempat duduknya saja terbuat dari tikar robek yang ditambal dengan menggunakan jadah gitu. Sungguh tidak pantas.

Selanjutnya, masalah di atas bertambah kacau lagi sebab jadah-nya pun bau karena telah basi (jadah disini berarti hanya sebatas intrik dan tipu muslihat untuk sekedar meredam gejolak, bukannya untuk bisa menyelesaikan masalah sampai tuntas). Ini jelas menimbulkan bau yang tak sedap dan menjijikkan. Tapi anehnya lagi, jadah yang bau itu pun diberikan kepada asu (anjing) – padahal itu bukan makanannya, apalagi sudah bau (disini berarti tuan rumah/pemerintah telah bersikap sembarangan dan tanpa perhitungan). Akibatnya si anjing pun menderita dan mati keracunan. Artinya disini, pemerintah terus saja menambah masalah, karena ingin menyelesaikan masalahnya dengan tindakan yang salah alias bodoh dan konyol – atau disini memang si pemerintahnya yang sudah jahat, zolim dan tak peduli lagi kepada nasib rakyatnya. Tidak mau membenahi akar permasalahannya dulu, karena malah akhirnya terus berbuat salah tanpa berusaha introspeksi diri dan memecahkan masalah itu dengan solusi yang tepat, bahkan sebenarnya simpel. Dan mereka pun takkan berani melakukan kebaikan itu, lantaran sudah tersendera oleh banyak kepentingan lain.

Lucunya lagi, anjing yang mati itu bukannya dikubur tapi malah dibuang ke sungai. Jelas bahwa ini malah bikin masalah jadi tambah ruwet, karena bangkai anjing itu bisa menyebarkan bakteri dan akan membuat orang lain pun jadi marah. Menyikapi hal itu sekali lagi pemerintah hanya ingin tampak hebat dan bisa segera menyelesaikan masalah. Tapi apa yang di lakukan justru kian aneh dan runyam. Dan karena sungainya sedang banjir, maka di ambillah satu solusi yang lain namun tetap saja aneh dan makin salah. Sebenarnya sih masalahnya itu sepele, karena bangkai anjing cukup dikuburkan saja, maka selesai. Tapi si pemerintah tidak mau disalahkan dan seolah-olah ingin selalu tampil hebat dengan terus membangun pencitraan. Lalu karena ingin tetap dibilang pintar, mereka terus menciptakan solusi baru yang kelihatan jitu padahal hasilnya tetap saja aneh dan tak karuan. Bangkai anjing tak jadi dibuang ke sungai tapi malah di buang di pinggir sungai. Namun karena tanah di pinggirannya itu licin (disini artinya mereka tak berani ambil resiko dan takut dilengserkan. Akhirnya mencari jalan pintas dan melakukan taktik pecah belah dan adu domba di dalam negeri sendiri agar tak ada kekuatan rakyat yang bisa menjatuhkannya. Padahal itu hanya sikap yang paranoid saja –  karena memang mereka tidak berbuat baik untuk bangsanya. Sebab, asalkan mereka bisa bekerja bagus demi rakyatnya, maka rakyat pasti akan mendukungnya sampai mati), mereka pun harus menciptakan solusi yang lain. Tapi karena memang kurang kompeten, justru solusi itu makin tambah aneh dan konyol. Hasilnya, masalah justru akan terus dihadapi dengan masalah yang baru tanpa ada penyelesaiannya.

Akhirnya karena telah kebingungan dengan diri dan sikapnya sendiri, bangkai anjing itu justru di letakkan di atas pagar tanpa merasa bahwa itu pun tambah ngawur. Jelas ini salah, karena bangkai anjing itu akan menyebarkan bau yang sangat busuk, banyak bakteri dan rasa jijik kemana-mana. Ini pasti akan menimbulkan masalah lain dan membuat orang banyak jadi marah dan tersinggung, bahkan bisa menimbulkan kekacauan yang besar. Begitulah seterusnya, dimana solusi yang diharapkan oleh rakyat tak pernah kunjung tiba. Sebab justru masalah-lah yang semakin banyak muncul, sementara rakyat tetap saja tambah susah, bingung dan akhirnya menyebabkan kegaduhan di seluruh negeri. Negara besar akan terombang-ambing dan tak tahu kemana tujuan yang sebenarnya. Hingga akhirnya karam di tengah lautan dunia.

Nah, begitulah kondisi negara yang dimaksudkan dalam lagu dolanan anak-anak di atas. Kita bisa berkaca dengan itu semua. Sebab di dalamnya terdapat kisah tentang penguasa (pemerintah) yang tampaknya pintar dan ingin membenahi negerinya, tapi justru tak mampu lantaran tidak kompeten dan sudah kebingungan sendiri. Sebenarnya masih banyak orang pintar dan jujur di negeri tersebut, hanya saja mereka tak terpakai. Mereka diabaikan atau bila perlu disingkirkan dengan berbagai cara dan taktik. Yang menjabat justru orang-orang yang bukan ahlinya (tidak kompeten di bidangnya) dan telah dikendalikan oleh nafsu dan angkara murka. Karena itulah uang rakyat dan kekayaan negara terus saja dicuri, di korupsi dan dijadikan bancak’an (rebutan, bagi-bagi) oleh segelintir orang bahkan bangsa asing. Mereka tak mampu mengelola kekayaan negara dengan baik dan bisa menyejahterahkan rakyat. Sehingga dalam fase ini kondisi negara pun semakin kacau dan akan timbul banyak konflik, baik yang bersifat horizontal maupun vertikal.

Belum lagi masalah hutang negara yang terus melambung karena pemerintah beranggapan bisa menyelesaikan masalah dalam negeri dengan cara yang singkat, yaitu dengan jalan terus berhutang kepada lembaga dunia atau negara lain yang sebenarnya rentenir. Untuk menjalankan setiap rencana (program) mereka, hutang itulah yang dijadikan sebagai andalan, sementara rakyat terus ditipu dengan berbagai angan-angan dan khayalan yang manis. Padahal itu bukan cara yang baik, sebab masalah lain akan timbul karena banyak terjadi kebocoran dan penyelewengan anggaran negara. Itu belum lagi ditambah dengan yang memang sengaja dihilangkan dengan cara korupsi dan manipulasi. Dan hutang itu sendiri jelas akan tetap bertambah karena selalu ada bunganya sebelum lunas. Ini jelas membebani serta menyusahkan kehidupan rakyat. Rakyatlah yang ujung-ujungnya nanti harus membayarnya. Dan itu akan dimulai dengan biaya hidup yang terus meningkat, sementara penghasilan kian seret – kecuali bagi mereka yang tega melakukan segala macam cara demi harta. Subsidi di beberapa bidang yang penting pun berkurang, bahkan hilang sama sekali. Aset-aset negara satu persatu dijual atau disewakan kepada para investor dan negara lain. Keadilan dan kemakmuran pun semakin jauh dari harapan. Akibatnya tidak ada lagi kebangkitan yang berarti, dan rakyat semakin tertindas dan terjajah di negerinya sendiri – kecuali bagi mereka yang bersekutu dengan para penguasa lalim dan penjajah itu. Sungguh ini sangat disayangkan.

Sehingga sesuai dengan bait terakhir tembang “Dayoh” yang berbunyi “E.. Pagere ambruk” (E.. Pagarnya roboh), E.. Yo golek sangu” (E.. Ayo mencari bekal), maka sudah saatnya kita yang sadar ini untuk mempersiapkan diri. Mengapa? Karena jika kondisi sebuah negara dan pemerintahan sudah kacau dan terus salah kaprah, maka tidak menutup kemungkinan sebuah bangsa pun akan hancur. Akan datang huru-hara dan goro-goro yang dahsyat, yang menyebabkan kekacauan dan kebinasaan dimana-mana. Bahkan azab Tuhan bisa saja datang untuk tegaknya keadilan dan ketertiban dunia – terlebih di akhir zaman ke tujuh ini (Rupanta-Ra). Hanya yang telah mempersiapkan dirilah yang akan selamat atau diselamatkan.

Akhirnya, sungguh ini baru satu tembang filsafat sebagai mahakarya leluhur kita. Dan sebenarnya banyak lagi tembang-tembang lainnya – dari masa lalu itu – yang juga menjadi pesan dan nasihat untuk kita sekarang. Hanya saja banyak dari pribadi bangsa ini yang sedang terlena dengan tipuan duniawi, lupa dengan para leluhur sendiri dan lupa pula dengan bekal kehidupan sebelum mati.

Semoga kita selamat atau yang diselamatkan. Rahayu _/|\_

Jambi, 10 Mei 2017
Harunata-Ra

Iklan

10 thoughts on “Lagu Dolanan Anak-Anak: Pesan dan Prediksi Kehidupan Bangsa

  1. Padahal negeri itu sangat kaya raya dg sumber daya manusia apalagi alamnya, dengan memanfaatkan dan saling memenuhi kebutuhan dalam negeri itu sj niscaya negara itu akan melampaui peradaban yg ada disekitarnya………sayang akhir lagu itu berisikan pesan yg menyayat hati untuk mencari bekal…..hanya mencari bekal

    1. Iya mas Wowo, negeri itu sangat kaya baik dalam SDA ataupun SDM nya.. Sepenggal tanah dari surga konon katanya.. Tapi ya tapi… Ampe gak bisa ngomong apa2 lagi dah.. Cuma bisa ngelus dodo sekaligus sedih.. 😦
      Padahal saya yakin negeri itu bahkan gak perlu negeri lain, dia bisa hidup sendiri dg segala hal yg sudah di anugerahkan Tuhan kepadanya.. Justru negeri dan bangsa lain lah yg selalu butuh dia.. Tapi ya itu, itu tuh.. Saya gak bisa ngomong apa” lagi selain merasa miris dan pilu.. 😦
      Untuk itu ya kita ini skr emang harus ngumpulin bekal untuk menghadapi kemungkinan terburuk nanti dan tentunya utk kehidupan di akherat nanti.. 🙂

  2. Ya inilah kita sekarang ini mau gag mau berada dalam keadaan kemunafikan “penguasa” yang lalim,
    Ya Tuhanku, maka janganlah Engkau jadikan aku berada di antara orang-orang yang zalim”.QS. [23]:94.
    Orang yang zalim semakin senang akan kezalimannya, yang sadar diri semoga Hyang Aruta memberikan petunjuk untuk terus mempersiapkan akan datangnya bencana dahsyat. Semoga saya termasuk dalam golongan manusia yang beruntung pada hari H-nya nanti. Amiin..
    Salam Rahayu _/|\_

    1. Betul kang Tufail, bahwa kita skr hidup dalam masa yg penuh kerusakan dan kezaliman.. Butuh usaha yg keras dan sungguh2 utk tidak ikutan edan..
      Namun begitu, kita juga harus tetap semangat, berserah diri dan mempersiapkan segala bekal diri utk menghadapi hal yg terburuk nanti, ajak juga mrk yg bersedia sebanyak yg kita bisa, karena proses itu nanti sgt menyakitkan dan mengerikan..
      Semoga kita termasuk yg beruntung nanti.. 🙂

      1. Sampe kerasa atmosfernya bikin energi terkuras tapi ga ngapa ngapain,bawaannya mw marah ntr sedih.

      2. Ya betul itu mas Wowo, hawanya besar sekali sampai bisa menguras energi, atau minimal bikin gerah dan rasa panas di tubuh, khususnya pada waktu magrib tiba.. Tapi ya inilah masa-masa seleksi bagi penduduk Bumi. Berhati-hatilah bagi yang tak bisa merasa lagi, baik lahir maupun batinnya… Dan jika ingin selamat nanti, jangan mau ikutan edan di zaman yg edan ini.. Harus pandai menahan diri meskipun hidup tambah susah.. Karena nanti, buahnya akan terasa manis dan ranum… 🙂

  3. Bintang el rizhub sudah muncul , tanda bagi orang mukmin indonesia untuk bergerak menuju saudaranya palestina namun mengapa rakyat indonesia masih dungu? Karna sesungguhnya ia memang beragama sholat 5 waktu,mahir al quran .namun wawasan kemanusiaanya rendah .,sangat percuma. (Janji soekarno tak pernah luntur )
    …Dan ingatlah kepadamu “jewish” jika sudah melampaui batas perbuatan keji kemanusiaanmu terhadap palestina kakak tertuamu “Jawa” akan membantaimu tanpa berpikir panjang !ingatlah khurasan adalah awal kami berpijak
    Dan palestina.. Penderitaanmu akan terus berkepanjangan hanya akhiratlah kemerdekaanmu, kemakmuranmu.
    (Tertulis jelas di tembok pendopo majapahit yang megah.)
    (indonesialah yang akan menjadi awal perang dunia ke 3 jika sudah tiba waktunya)
    Israel lambang bintang 6
    Indonesia lambang bintang 8 oktagon.

    1. Terimakasih atas kunjungannya lagi, semoga tetap bermanfaat.. 🙂
      Hmmm.. tentang komentar di atas, saya gak ikut berkomentar deh.. takut salah, karena sepertinya akan banyak versi dan pembahasannya nanti.. Tapi terimakasih mas Dikydarma karena sudah mau berbagi infonya.. 🙂

  4. Iya mas oedi,terimakasih sarannya,alhamdulillah masih waras kok ga ikutan edan cuma bikin pusing di kepala tekanan hawanya walau ga sakit kepala.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s