Lagu Dolanan Anak-Anak: Pesan dan Prediksi Kehidupan Bangsa

Wahai saudaraku. Dalam kesempatan kali ini mari kita membahas tentang lagu dolanan anak-anak yang ada sejak ratusan tahun lalu. Meskipun hanya sebuah lagu permainan, ternyata di dalamnya menyimpan berbagai pesan dan nasihat yang adi luhung. Dan sebagai sebuah bangsa yang besar, kita patut untuk bisa meresapi dan mengambil hikmahnya. Tujuannya tentu untuk kebaikan dan kemuliaan bersama.

Ya. Dulu ada satu tembang yang berjudul “Dayoh (tamu)” yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga untuk anak-anak di tanah Jawa. Lagu tersebut biasanya di nyanyikan oleh mereka saat bulan suci Ramadhan tiba dan sering diiringi oleh sebuah permainan. Apa yang terkandung di dalamnya sekilas memang tampak sepele, namun sebenarnya merupakan pesan yang sangat mendalam dan prediksi yang akurat untuk perjalanan hidup sebuah negara. Karena itulah, dengan segala kebijaksanaannya, Kanjeng Sunan Kalijaga berniat untuk bisa mendidik anak manusia sejak di usia dini. Caranya ya tentu dengan mengikuti dunia mereka, yaitu dengan cara bermain sambil bernyanyi.

Untuk lebih jelasnya, berikut ini bait-bait lagunya:

Ee.. Dayohe teko (Ee.. tamunya datang)
Ee.. Gelaren kloso (Ee.. gelarkan tikar)
Ee.. Klosone bedah (Ee.. tikarnya robek)
Ee.. Tambalen jadah (Ee.. tambal pakai “jadah”: makanan dari ketan)
Ee.. Jadahe mambu (Ee.. jadahnya bau/basi)
Ee.. Pakakno asu (Ee.. Kasihkan ke anjing)
Ee.. Asune mati (Ee.. anjingnya mati)
Ee.. Buwangen kali (Ee.. buang ke sungai)
Ee.. Kaline banjir (Ee.. sungainya banjir)
Ee.. Buwangen pinggir (Ee.. buang ke pinggir)
Ee.. Pinggire lunyu (Ee.. pinggirnya licin)
Ee.. Centelno/sampirno pager (Ee.. Sangkutkan/Letakkan di pagar)
Ee.. Pagere ambruk (Ee.. Pagarnya roboh)
Ee.. Yo golek sangu (Ee.. Ayo mencari bekal)

Dari bait-bait di atas, maka jika dicermati dengan seksama jelas menggambarkan kondisi sebuah bangsa yang besar yang penuh masalah. Kisahnya tentang pemerintah yang berkuasa yang “ingin memberi solusi” bagi rakyatnya, tapi justru tidak pintar dan salah kaprah. Seperti di awal lirik di atas, mulanya tampak kelihatan bagus karena ada “dayoh (tamu)” yang datang (tamu disini bisa berarti amanah atau tugas dan tanggungjawab atau polemik, masalah, dll), maka di gelarlah kloso (tikar). Menggelar tikar disini berarti seolah-olah pemerintah sudah siap dengan segala sesuatunya, dengan berbagai teori yang dirasa paling jitu. Tapi teori sering tak sesuai dengan praktek di lapangan, apalagi kalau sejak awal memang cuma pura-pura agar dipilih oleh rakyat.

Dan masalah pun timbul saat tikar yang akan digelar itu robek. Harusnya tikar itu dijahit atau di anyam lagi atau digantikan dengan yang baru, tapi malah di tambal dengan menggunakan jadah (makanan/kue dari ketan). Ini jelas salah dan konyol, karena jadah tak sama dengan bahan dasar untuk pembuatan tikar. Akibatnya bukannya menyelesaikan masalah, karena justru menimbulkan masalah yang baru. Sebab, jadah itu akan tampak aneh, tidak lazim dan bisa menempel pada celana atau kain “si tamu”. Ini akan tampak kotor dan mengotori (disini artinya semakin memperkeruh masalah). Artinya, pemerintah yang ada telah melakukan hal yang keliru dan sangat tidak tepat. Akibatnya “si tamu” yang datang justru marah dan tersinggung dengan perlakuan tuan rumah. Lah wong tempat duduknya saja terbuat dari tikar robek yang ditambal dengan menggunakan jadah gitu. Sungguh tidak pantas.

Selanjutnya, masalah di atas bertambah kacau lagi sebab jadah-nya pun bau karena telah basi (jadah disini berarti hanya sebatas intrik dan tipu muslihat untuk sekedar meredam gejolak, bukannya untuk bisa menyelesaikan masalah sampai tuntas). Ini jelas menimbulkan bau yang tak sedap dan menjijikkan. Tapi anehnya lagi, jadah yang bau itu pun diberikan kepada asu (anjing) – padahal itu bukan makanannya, apalagi sudah bau (disini berarti tuan rumah/pemerintah telah bersikap sembarangan dan tanpa perhitungan). Akibatnya si anjing pun menderita dan mati keracunan. Artinya disini, pemerintah terus saja menambah masalah, karena ingin menyelesaikan masalahnya dengan tindakan yang salah alias bodoh dan konyol – atau disini memang si pemerintahnya yang sudah jahat, zolim dan tak peduli lagi kepada nasib rakyatnya. Tidak mau membenahi akar permasalahannya dulu, karena malah akhirnya terus berbuat salah tanpa berusaha introspeksi diri dan memecahkan masalah itu dengan solusi yang tepat, bahkan sebenarnya simpel. Dan mereka pun takkan berani melakukan kebaikan itu, lantaran sudah tersendera oleh banyak kepentingan lain.

Lucunya lagi, anjing yang mati itu bukannya dikubur tapi malah dibuang ke sungai. Jelas bahwa ini malah bikin masalah jadi tambah ruwet, karena bangkai anjing itu bisa menyebarkan bakteri dan akan membuat orang lain pun jadi marah. Menyikapi hal itu sekali lagi pemerintah hanya ingin tampak hebat dan bisa segera menyelesaikan masalah. Tapi apa yang di lakukan justru kian aneh dan runyam. Dan karena sungainya sedang banjir, maka di ambillah satu solusi yang lain namun tetap saja aneh dan makin salah. Sebenarnya sih masalahnya itu sepele, karena bangkai anjing cukup dikuburkan saja, maka selesai. Tapi si pemerintah tidak mau disalahkan dan seolah-olah ingin selalu tampil hebat dengan terus membangun pencitraan. Lalu karena ingin tetap dibilang pintar, mereka terus menciptakan solusi baru yang kelihatan jitu padahal hasilnya tetap saja aneh dan tak karuan. Bangkai anjing tak jadi dibuang ke sungai tapi malah di buang di pinggir sungai. Namun karena tanah di pinggirannya itu licin (disini artinya mereka tak berani ambil resiko dan takut dilengserkan. Akhirnya mencari jalan pintas dan melakukan taktik pecah belah dan adu domba di dalam negeri sendiri agar tak ada kekuatan rakyat yang bisa menjatuhkannya. Padahal itu hanya sikap yang paranoid saja –  karena memang mereka tidak berbuat baik untuk bangsanya. Sebab, asalkan mereka bisa bekerja bagus demi rakyatnya, maka rakyat pasti akan mendukungnya sampai mati), mereka pun harus menciptakan solusi yang lain. Tapi karena memang kurang kompeten, justru solusi itu makin tambah aneh dan konyol. Hasilnya, masalah justru akan terus dihadapi dengan masalah yang baru tanpa ada penyelesaiannya.

Akhirnya karena telah kebingungan dengan diri dan sikapnya sendiri, bangkai anjing itu justru di letakkan di atas pagar tanpa merasa bahwa itu pun tambah ngawur. Jelas ini salah, karena bangkai anjing itu akan menyebarkan bau yang sangat busuk, banyak bakteri dan rasa jijik kemana-mana. Ini pasti akan menimbulkan masalah lain dan membuat orang banyak jadi marah dan tersinggung, bahkan bisa menimbulkan kekacauan yang besar. Begitulah seterusnya, dimana solusi yang diharapkan oleh rakyat tak pernah kunjung tiba. Sebab justru masalah-lah yang semakin banyak muncul, sementara rakyat tetap saja tambah susah, bingung dan akhirnya menyebabkan kegaduhan di seluruh negeri. Negara besar akan terombang-ambing dan tak tahu kemana tujuan yang sebenarnya. Hingga akhirnya karam di tengah lautan dunia.

Nah, begitulah kondisi negara yang dimaksudkan dalam lagu dolanan anak-anak di atas. Kita bisa berkaca dengan itu semua. Sebab di dalamnya terdapat kisah tentang penguasa (pemerintah) yang tampaknya pintar dan ingin membenahi negerinya, tapi justru tak mampu lantaran tidak kompeten dan sudah kebingungan sendiri. Sebenarnya masih banyak orang pintar dan jujur di negeri tersebut, hanya saja mereka tak terpakai. Mereka diabaikan atau bila perlu disingkirkan dengan berbagai cara dan taktik. Yang menjabat justru orang-orang yang bukan ahlinya (tidak kompeten di bidangnya) dan telah dikendalikan oleh nafsu dan angkara murka. Karena itulah uang rakyat dan kekayaan negara terus saja dicuri, di korupsi dan dijadikan bancak’an (rebutan, bagi-bagi) oleh segelintir orang bahkan bangsa asing. Mereka tak mampu mengelola kekayaan negara dengan baik dan bisa menyejahterahkan rakyat. Sehingga dalam fase ini kondisi negara pun semakin kacau dan akan timbul banyak konflik, baik yang bersifat horizontal maupun vertikal.

Belum lagi masalah hutang negara yang terus melambung karena pemerintah beranggapan bisa menyelesaikan masalah dalam negeri dengan cara yang singkat, yaitu dengan jalan terus berhutang kepada lembaga dunia atau negara lain yang sebenarnya rentenir. Untuk menjalankan setiap rencana (program) mereka, hutang itulah yang dijadikan sebagai andalan, sementara rakyat terus ditipu dengan berbagai angan-angan dan khayalan yang manis. Padahal itu bukan cara yang baik, sebab masalah lain akan timbul karena banyak terjadi kebocoran dan penyelewengan anggaran negara. Itu belum lagi ditambah dengan yang memang sengaja dihilangkan dengan cara korupsi dan manipulasi. Dan hutang itu sendiri jelas akan tetap bertambah karena selalu ada bunganya sebelum lunas. Ini jelas membebani serta menyusahkan kehidupan rakyat. Rakyatlah yang ujung-ujungnya nanti harus membayarnya. Dan itu akan dimulai dengan biaya hidup yang terus meningkat, sementara penghasilan kian seret – kecuali bagi mereka yang tega melakukan segala macam cara demi harta. Subsidi di beberapa bidang yang penting pun berkurang, bahkan hilang sama sekali. Aset-aset negara satu persatu dijual atau disewakan kepada para investor dan negara lain. Keadilan dan kemakmuran pun semakin jauh dari harapan. Akibatnya tidak ada lagi kebangkitan yang berarti, dan rakyat semakin tertindas dan terjajah di negerinya sendiri – kecuali bagi mereka yang bersekutu dengan para penguasa lalim dan penjajah itu. Sungguh ini sangat disayangkan.

Sehingga sesuai dengan bait terakhir tembang “Dayoh” yang berbunyi “E.. Pagere ambruk” (E.. Pagarnya roboh), E.. Yo golek sangu” (E.. Ayo mencari bekal), maka sudah saatnya kita yang sadar ini untuk mempersiapkan diri. Mengapa? Karena jika kondisi sebuah negara dan pemerintahan sudah kacau dan terus salah kaprah, maka tidak menutup kemungkinan sebuah bangsa pun akan hancur. Akan datang huru-hara dan goro-goro yang dahsyat, yang menyebabkan kekacauan dan kebinasaan dimana-mana. Bahkan azab Tuhan bisa saja datang untuk tegaknya keadilan dan ketertiban dunia – terlebih di akhir zaman ke tujuh ini (Rupanta-Ra). Hanya yang telah mempersiapkan dirilah yang akan selamat atau diselamatkan.

Akhirnya, sungguh ini baru satu tembang filsafat sebagai mahakarya leluhur kita. Dan sebenarnya banyak lagi tembang-tembang lainnya – dari masa lalu itu – yang juga menjadi pesan dan nasihat untuk kita sekarang. Hanya saja banyak dari pribadi bangsa ini yang sedang terlena dengan tipuan duniawi, lupa dengan para leluhur sendiri dan lupa pula dengan bekal kehidupan sebelum mati.

Semoga kita selamat atau yang diselamatkan. Rahayu _/|\_

Jambi, 10 Mei 2017
Harunata-Ra

Iklan

12 tanggapan untuk “Lagu Dolanan Anak-Anak: Pesan dan Prediksi Kehidupan Bangsa

  1. Padahal negeri itu sangat kaya raya dg sumber daya manusia apalagi alamnya, dengan memanfaatkan dan saling memenuhi kebutuhan dalam negeri itu sj niscaya negara itu akan melampaui peradaban yg ada disekitarnya………sayang akhir lagu itu berisikan pesan yg menyayat hati untuk mencari bekal…..hanya mencari bekal

    1. Iya mas Wowo, negeri itu sangat kaya baik dalam SDA ataupun SDM nya.. Sepenggal tanah dari surga konon katanya.. Tapi ya tapi… Ampe gak bisa ngomong apa2 lagi dah.. Cuma bisa ngelus dodo sekaligus sedih.. 😦
      Padahal saya yakin negeri itu bahkan gak perlu negeri lain, dia bisa hidup sendiri dg segala hal yg sudah di anugerahkan Tuhan kepadanya.. Justru negeri dan bangsa lain lah yg selalu butuh dia.. Tapi ya itu, itu tuh.. Saya gak bisa ngomong apa” lagi selain merasa miris dan pilu.. 😦
      Untuk itu ya kita ini skr emang harus ngumpulin bekal untuk menghadapi kemungkinan terburuk nanti dan tentunya utk kehidupan di akherat nanti.. 🙂

  2. Ya inilah kita sekarang ini mau gag mau berada dalam keadaan kemunafikan “penguasa” yang lalim,
    Ya Tuhanku, maka janganlah Engkau jadikan aku berada di antara orang-orang yang zalim”.QS. [23]:94.
    Orang yang zalim semakin senang akan kezalimannya, yang sadar diri semoga Hyang Aruta memberikan petunjuk untuk terus mempersiapkan akan datangnya bencana dahsyat. Semoga saya termasuk dalam golongan manusia yang beruntung pada hari H-nya nanti. Amiin..
    Salam Rahayu _/|\_

    1. Betul kang Tufail, bahwa kita skr hidup dalam masa yg penuh kerusakan dan kezaliman.. Butuh usaha yg keras dan sungguh2 utk tidak ikutan edan..
      Namun begitu, kita juga harus tetap semangat, berserah diri dan mempersiapkan segala bekal diri utk menghadapi hal yg terburuk nanti, ajak juga mrk yg bersedia sebanyak yg kita bisa, karena proses itu nanti sgt menyakitkan dan mengerikan..
      Semoga kita termasuk yg beruntung nanti.. 🙂

      1. Sampe kerasa atmosfernya bikin energi terkuras tapi ga ngapa ngapain,bawaannya mw marah ntr sedih.

      2. Ya betul itu mas Wowo, hawanya besar sekali sampai bisa menguras energi, atau minimal bikin gerah dan rasa panas di tubuh, khususnya pada waktu magrib tiba.. Tapi ya inilah masa-masa seleksi bagi penduduk Bumi. Berhati-hatilah bagi yang tak bisa merasa lagi, baik lahir maupun batinnya… Dan jika ingin selamat nanti, jangan mau ikutan edan di zaman yg edan ini.. Harus pandai menahan diri meskipun hidup tambah susah.. Karena nanti, buahnya akan terasa manis dan ranum… 🙂

  3. Bintang el rizhub sudah muncul , tanda bagi orang mukmin indonesia untuk bergerak menuju saudaranya palestina namun mengapa rakyat indonesia masih dungu? Karna sesungguhnya ia memang beragama sholat 5 waktu,mahir al quran .namun wawasan kemanusiaanya rendah .,sangat percuma. (Janji soekarno tak pernah luntur )
    …Dan ingatlah kepadamu “jewish” jika sudah melampaui batas perbuatan keji kemanusiaanmu terhadap palestina kakak tertuamu “Jawa” akan membantaimu tanpa berpikir panjang !ingatlah khurasan adalah awal kami berpijak
    Dan palestina.. Penderitaanmu akan terus berkepanjangan hanya akhiratlah kemerdekaanmu, kemakmuranmu.
    (Tertulis jelas di tembok pendopo majapahit yang megah.)
    (indonesialah yang akan menjadi awal perang dunia ke 3 jika sudah tiba waktunya)
    Israel lambang bintang 6
    Indonesia lambang bintang 8 oktagon.

    1. Terimakasih atas kunjungannya lagi, semoga tetap bermanfaat.. 🙂
      Hmmm.. tentang komentar di atas, saya gak ikut berkomentar deh.. takut salah, karena sepertinya akan banyak versi dan pembahasannya nanti.. Tapi terimakasih mas Dikydarma karena sudah mau berbagi infonya.. 🙂

  4. Iya mas oedi,terimakasih sarannya,alhamdulillah masih waras kok ga ikutan edan cuma bikin pusing di kepala tekanan hawanya walau ga sakit kepala.

  5. Salam Mas Oedi(ku)…..

    Nuwun sewu… & Izinkan saya berkomentar (dan berbagi) PERSPEKTIF SISI LAIN dari Artikel LAGU DOLANAN ANAK ANAK PESAN DAN PREDIKSI KEHIDUPAN BANGSA.

    PROLOG (dari saya kali ini), Materi Artikel yg Jenengan buat sungguh ruar biasa…., Acungan Jempol untuk Jenengan, krn… hanya orang2 yg sudah mencapai LEVEL TERTENTU (Kecerdasan Spiritualitas, Kecerdasan Intelektualitas& Writing Skills) & TAQDIRnya yg mampu menafsirkan & menterjemahkan (mewedar) arti, makna, maksud dan tujuan dari KIDUNG (Karya Sastra Plus, Ilmu PREKOGNISION, Ilmu WERUH SAKDURUNGE WINARAH) dari Eyang Kanjeng Sunan KALIJAGA, dimana salah satu “branded & master piece” Karya Sastra Beliau, Kidungnya Singkat & Bahasanya “Sederhana,” tetapi….. penjelasannya (uraiannya) begitu luas, mendalam, membumi & melangit serta universal, untuk kebaikan, kemanfaatan, kemajuan, kejajayaan & kemuliaan bersama sebagai & kepada Anak Cucu-nya/Anak Bangsa dalam BER-KOMUNITAS, BER-BANGSA & BER-NEGARA (yg dipilih oleh Rakyat) dari mulai Kepala Desa/Bupati/Walikota/Gubernur hingga Presiden.

    (EPISODE – 1) Kembali ke Wedaran Jenengan, dimana (relatif) berisikan satire & elegi dalam hal KEPEMIMPINAN, BER-BANGSA & BER-NEGARA, yg (relatif) morat-marit, porak-poranda & luluh lantak.

    Di bawah ini Saya KOMPILASIKAN POINT2 SUBSTANSINYA ARTIKEL tsb di atas, antara lain :

    * …….hanya sebatas intrik dan tipu muslihat untuk sekedar meredam gejolak, bukannya untuk bisa MENYELESAIKAN MASALAH SAMPAI TUNTAS …….;

    * ……. TAK PEDULI LAGI KEPADA NASIB RAKYATNYA. Tidak mau MEMBENAHI AKAR PERMASALAHANNYA dulu, karena malah akhirnya terus berbuat salah tanpa berusaha introspeksi diri dan memecahkan masalah itu dengan solusi yang tepat, bahkan sebenarnya simpel. Dan mereka pun takkan berani melakukan kebaikan itu, lantaran sudah tersendera oleh BANYAK KEPENTINGAN LAIN …….;

    * ……. disini artinya mereka TAK BERANI AMBIL RESIKO dan takut dilengserkan. Akhirnya mencari jalan pintas dan melakukan taktik pecah belah dan adu domba di dalam negeri sendiri agar tak ada kekuatan rakyat yang bisa menjatuhkannya. Padahal itu hanya sikap yang PARANOID saja – karena memang mereka TIDAK BERBUAT BAIK UNTUK BANGSANYA …….;

    * ……. SOLUSI yang diharapkan oleh rakyat tak pernah kunjung tiba. Sebab justru masalah-lah yang semakin banyak muncul, sementara rakyat tetap saja tambah susah, bingung dan akhirnya menyebabkan kegaduhan di seluruh negeri. Negara besar akan terombang-ambing dan tak tahu kemana tujuan yang sebenarnya. Hingga akhirnya KARAM DI TENGAH LAUTAN DUNIA …….;

    * ……. tentang PENGUASA (pemerintah) yang tampaknya pintar dan ingin membenahi negerinya, tapi justru tak mampu lantaran TIDAK KOMPETEN dan sudah kebingungan sendiri. Sebenarnya masih banyak orang pintar dan jujur di negeri tersebut, hanya saja mereka tak terpakai. Mereka diabaikan atau bila perlu disingkirkan dengan berbagai cara dan taktik. Yang menjabat justru orang-orang yang bukan ahlinya (tidak kompeten di bidangnya) dan telah dikendalikan oleh NAFSU dan ANGKARA MURKA . Karena itulah UANG RAKYAT dan KEKAYAAN NEGARA terus saja dicuri, di korupsi dan dijadikan BANCAKAN (rebutan, bagi-bagi) oleh segelintir orang bahkan bangsa asing. Mereka TAK MAMPU MENGELOLA KEKAYAAN NEGARA DENGAN BAIK dan BISA MENSEJAHTRAKAN RAKYAT. Sehingga dalam fase ini kondisi negara pun semakin kacau dan akan timbul banyak KONFLIK , baik yang bersifat horizontal maupun vertikal…….;

    *……. Belum lagi masalah HUTANG NEGARA YANG TERUS MELAMBUNG melambung karena pemerintah beranggapan bisa menyelesaikan masalah dalam negeri dengan cara yang singkat, yaitu dengan jalan terus berhutang kepada lembaga dunia atau negara lain yang sebenarnya rentenir. Untuk menjalankan setiap rencana (program) mereka, hutang itulah yang dijadikan sebagai andalan, sementara rakyat terus ditipu dengan berbagai angan-angan dan khayalan yang manis…….;

    * ……. SUBSIDI di beberapa bidang yang penting pun BERKURANG, BAHKAN HILANG SAMA SEKALI. . ASET ASET NEGARA satu persatu DIJUAL atau DISEWAKAN KEPADA PARA INVESTOR dan NEGARA LAIN. Keadilan dan kemakmuran pun semakin jauh dari harapan. Akibatnya tidak ada lagi kebangkitan yang berarti, dan RAKYAT SEMAKIN TERTINDAS dan TERJAJAH di NEGERINYA SENDIRI sendiri – kecuali bagi mereka yang bersekutu dengan para penguasa lalim dan penjajah itu. Sungguh ini sangat disayangkan…….;

    * ……. Karena jika kondisi sebuah negara dan pemerintahan sudah kacau dan terus salah kaprah, maka tidak menutup kemungkinan SEBUAH BANGSA pun akan hancur. Akan datang huru-hara dan GORO GORO yang dahsyat, yang menyebabkan kekacauan dan kebinasaan dimana-mana. Bahkan AZAB TUHAN bisa saja datang untuk tegaknya keadilan dan ketertiban dunia – terlebih di akhir zaman ke tujuh ini (Rupanta-Ra). HANYA YANG TELAH MEMPERSIAPKAN DIRILAH YANG AKAN SELAMAT ATAU DISELAMATKAN.

    Saya TER-ENGAH-ENGAH, KEJANG-KEJANG & PILU seperti berada di negeri entah-berantah “membaca” point2 tsb di atas, yg menjadi pertanyaan (untuk intropeksi & evaluasi diri sbg Anak Bangsa) :
    # Apa ini UJIAN yg hrs dilalui oleh Bangsa & Negeri inikah ?
    # Atau KUTUKAN yg hrs dilalui oleh Bangsa & Negeri inikah ?
    # Dan/atau TAQDIR yg hrs dilalui oleh Bangsa & Negeri inikah ?

    Jika kita “membaca” nubuwat-nubuwat adi luhung Karya Para Leluhur Nusantara se-olah2 & sepertinya Para Pejabat, Pemimpin & Penguasa (pun rakyat-nya) sedang “menggenapinya-kah ….?”
    Apa CHAKRA MANGGILINGAN telah & sedang berlangsungkah ?

    (EPISODE – 2) Sifat & Karakter Seorang Pemimpin Komunitas, Pemimpin Umat, pun Pemimpin Rakyat, jika Dia sebagai Personafikasi, Manifestasi & Representatif dari Gusti Allah SWT, paling tidak memiliki 6 Sifat Utama & mengimplementasikan-nya, yakni :

    1. Sidiq (benar & jujur); Yang di implementasikan dgn rencana & perencanaan huebat & fenomenal, tata kelola & tata kerja yg efektif & efisien (profesionalitas), serta transparan.

    2. Amanah (dapat dipercaya) ; Di implementasikan dgn integritas, dedikasi segenap jiwa & raga-nya, independen & akuntabilitas, tidak melakukan tindakan khianat, artificial, retorika, hipokritisasi, transaksional pun busuk & pembusukan.

    3. Sabar (sikap mentalitas untuk menerima ujian baik Vertikal pun Horizontal); Mengerti & memahami Hukum Ilahi (Hukum Dualitas, Hukum Kausalitas, Hukum Atraktif, Hukum Impossible is nothing, dll), tidak alergi bahkan… paranoid terhadap kritikan, pun tidak takut (bernyali) terhadap proxy war & ancaman karena Dia Seorang Petarung (Ksatrya) Sejati.

    4. Shobiru (ulet, gigih, kokoh); Memilki Frame of References yg mempesona (talent, family, habit. life style, cultur, education, skill & experiences, etc.) bak pemimpin (dirigen) orchestra terhadap semua elemen anak bangsa sebagai stakeholder (harmonisasi dari bottom-up dan top-down).

    5. Robithu (waspada, mawas diri); Mengerti & memahami TOWS, SWOT & PLOTS, bak Grand Master Catur & Maestro Silat yg sudah teruji.

    6. Fathonah (cerdas & tidak pelupa); Memiliki Instrumen (Kecerdasan) Anugrah Ilahi yang di atas rata2,super, special & teruji (Kecerdasan Intelektualitas, Kecerdasan Kalbu, Kecerdasan Spiritualitas, Kecerdasan Religi, Kecerdasan Panca Indra, Kecerdasan Raga, Kecerdasan Lisan/Verbal/Eloquence Intelligence, Kecerdasan Tulisan/Writing Skills, Thinkers & Conceptor Intelligence, Kecerdasan Berorganisasi/Berkarya/Proficient of Management, Kecerdasan Kepemimpinan/Leadership Intelligence, dll.)

    Jika Sifat & Karakter serta Sikap & Tindakan Seorang Pemimpin Komunitas, Pemimpin Umat, pun Pemimpin Rakyat kebalikannya spt tsb di atas, maka… (relatif) Dia Personafikasi, Manifestasi & Representatif dari Kegelapan yakni Sang Iblis.
    Sebab MANUSIA apalagi seorang PEMIMPIN adalah MANUNGSA, MANUNGGAL ING RASA, jika manusia apalagi seorang pemimpin tidak bisa merasa, maka gagallah Dia sebagai manusia, pun sebagai seorang pemimpin.
    Manungsa adalah mahluk yang mau berpikir dan kontemplasi (intropeksi & evaluasi), memikirkan tentang diri, (dan segenap rakyanya sbg stakeholder jika Dia seorang Pemimpin), lingkungan hidup, sesama makhluk lain ciptaan Gusti Allah SWT dan alam semesta (Statement-nya Eyang Kanjeng Sunan KALIJAGA).

    Sejarah mencatat (diantaranya) Gusti Allah SWT melaknat dan Bumi mengutuk-nya terhadap Pemimpin Fir’aun di Mesir dan Kemal Attaruk di Turki, sehingga Jasad-nya tidak bisa dikubur (di dalam tanah).

    Mengapa begitu..?
    Karena :

    1. (Secara Vertikal) Gusti Allah SWT menyuruh agar terlebih dahulu mengenal, memahami & menguasai diri sendiri, sehingga kemudian mengerti dan memahami untuk tujuan apa Gusti Allah SWT menciptakan-nya & menghidupkan-nya serta peran-nya peran Penciptaan-NYA (man arofa nafsahu faqod arofa rabbahu).

    2. Personafikasi, Manifestasi dan Representatif Gusti Allah SWT untuk mengurusi dunia, sebagai Pemimpin/Penguasa, Dia berhubungan dengan kekuasaan & kekuatan, tetapi statusnya bukan memiliki, tetapi tertitipi & dititipi, hanya perpanjangan tangan saja, hanya dipinjami kekuasaan & kekuatan, dimana kekuasaan & kekuatan itu bukan untuk menguasai, tetapi menuntun segenap rakyat-nya dan lingkungan hidup (pun bisa jadi sesama makhluk lain ciptaan Gusti Allah SWTt) untuk mengerti dan memahami hakikat hidup dan kehidupan, karena Gusti Allah SWT telah menitipkannya di tanganmu. bukannya untuk menuruti egomu atas namamu dan demi kepentingan pribadimu, kaki tangan-mu & golongan-mu, tetapi untuk ditumbuh kembangkan, sebagaimana Gusti Allah SWT menumbuh kembangkan semua makhluk-makhluk Ciptaan-NYA.
    Jika kau melalaikan-nya, bahkan……. melakukan sebaliknya, maka……. tentu saja ada harga yang harus dibayar mahal (punishment) baik di dunia, apalagi di akhirat, tak ada makan siang yang gratis.

    3. (Secara Horizontal) Rakyat telah menitipkan Kekuasaan & Kekuatan (Mewakili Rakyat yang memilih-nya & menitipkan amanah-nya), oleh karena itu kekuasaan & kekuatan (sbg Pemimpin/Penguasa) bukan untuk memperkaya, mendustai, mengintimidasi, menguasai, pun sewenang-wenang, mengikuti mau-mu, atas nama-mu, demi kepentingan pribadi-mu, kaki tangan-mu & golongan-mu, tetapi……. bersikap arif/bijak, , menjalankan kebersamaan (berat sama di pikul, ringan sama di jinjing) & mengutamakan kepentingan segenap rakyat-nya, menegakkan kebenaran & keadilan, mewujudkan kesejahteraan & kemakmuran, membangun & memelihara ketentraman & keamanan, mampu menjadikan negara yang dipimpin-nya selain menjadi GEMAH RIPAH LOH JINAWI, TATA TENTREM KERTA RAHARJA, pun HAMEMAYU HAYUNING BHAWONO (Menata keindahan dunia), dan/atau (dlm bahasa religi) negara yang “BALDATUN THAYYIBATUN WA RABBUN GHAFUR (“Negara yang aman-tentram, sejahtra, penuh persaudaraan & kemanusiaan, dilaksanakan dengan baik & mendapat Anugrah ILAHI”).

    Menjadi “PEMIMPIN,” adalah ANUGRAH yang teristimewa & terindah dari YANG MAHA PENCIPTA , namun….. harus di ingat, bahwa….. jangan sampai MATERI dan PENGHORMATAN yang menjadi TUJUAN…., karena kelak di akhirat tidak akan mendapatkan apa-apa……. (bahkan mendapatkan hukuman & siksa).

    (EPISODE – 3) Kondisi Berbangsa & Bernegara periode kini, dihubungkan dgn Nubuwat/Jangka/Wangsit/Karya Sastra Plus (Serat, Kidung, dll) Karya Adi Luhung Para Leluhur Nusantara se-olah2 & sepertinya Para Pejabat, Pemimpin & Penguasa (pun rakyat-nya) sedang “menggenapinya-kah ….?”
    Apa CHAKRA MANGGILINGAN telah & sedang berlangsungkah ?

    Adapun hasil karya Leluhur Nusantara diantara-nya, yakni :
    Versi Serat Kalatidha Rangga Warsita;
    Versi Jangka Prabu Brawijaya V;
    Versi Serat Musarar Jayabaya;
    Versi Nubuwat Prabu Siliwangi,
    Versi Karya Sastra Plus dari Para Wali Songo (Eyang Kanjeng Sunan Kalijaga).

    Saya pribadi lebih cenderung menamakan Hasil Karya Leluhur Nusantara bukan dengan Judul RAMALAN, tetapi NUBUWAT/JANGKA/WANGSIT/KARYA SASTRA PLUS (Serat, Kidung. dll)

    Kenapa seperti itu ?
    Karena NUBUWAT /JANGKA/WANGSIT/KARYA SASTRA PLUS (Serat, Kidung, dll) adalah KARYA ADI LUHUNG Para Leluhur Nusantara, dimana tidak setiap orang memiliki kemampuan & mahir menuliskannya serta TAQDIR-nya.
    Karya Adi Luhung Para Leluhur Nusantara tsb merupakan HASIL DARI OLAH INSTRUMEN ANUGRAH ILAHI (Kecerdasan Spiritualitas, Kecerdasan Kalbu, Kecerdasan Intelektualitas, Kecerdasan Panca Indra, Kecerdasan Tulisan/Writing skills, dll.), berupa ILMU WERUH SAKDURUNGE WINARAH (Ilmu Retrokognision & Ilmu Prekognision), diantara-nya melalui (Petunjuk ILAHI) Ilham, Sasmita Gaib, Wisik , Menangkap Vibrasi2 yg ada di Ssemesta, Menangkap Lambang2 yg ada di Semesta, dll), sehingga mampu menggambarkan (menuliskan-nya) secara (relatif) SPESIFIK kejadian2 yang akan datang, yang akan di alami oleh “anak cucu-nya dan/atau putra-putri-nya” di Nusantara (Ibu Pertiwi), termasuk OBAT-nya (FINISHER-nya) “pra, proses & pasca” kemunculan Beliau, SANG TERPILIH – SANG PROTAGONIS – KING OF SUPER ALPHA – KSATRYA PININGIT.

    Para Leluhur Nusantara telah MENGINGATKAN (Pepeling) kepada anak cucu-nya agar ELING LAN WASPODO, CAGEUR, BAGEUR, BENER, SINGER & PINTER, dalam Ber-BANGSA & Ber-NEGARA dengan MEWARISKAN NUBUWAT /JANGKA/WANGSIT/KARYA SASTRA PLUS (Serat, Kidung, dll) ADI LUHUNGNYA, dari HASIL OLAH INSTRUMEN ANUGRAH ILAHI (Kecerdasan Spiritualitas, Kecerdasan Kalbu, Kecerdasan Intelektualitas, Kecerdasan Panca Indra, Kecerdasan Tulisan/Writing skills, dll.).

    CUPLIKAN dari ARTIKEL : Ramalan Jayabaya (Jongko Joyoboyo) Tentang Nusantara (Desember 24, 2013 by oedi)

    b). Sinom
    23.Pajak rakyat banyak sekali macamnya. Semakin naik. Panen tidak membuat kenyang. Hasilnya berkurang. Orang jahat makin menjadi-jadi. Orang besar hatinya jail. Makin hari makin bertambah kesengsaraan negara.
    24.Hukum dan pengadilan negara tidak berguna. Perintah berganti-ganti. Keadilan tidak ada. Yang benar dianggap salah. Yang jahat dianggap benar. Setan menyamar sebagai wahyu. Banyak orang melupakan Tuhan dan orang tua.
    25.Wanita hilang kehormatannya. Sebab saya diberi hidangan Endang seorang oleh ki Ajar. Mulai perang tidak berakhir. Kemudian ada tanda negara pecah.
    26.Banyak hal-hal yang luar biasa. Hujan salah waktu. Banyak gempa dan gerhana. Nyawa tidak berharga. Tanah Jawa berantakan. Kemudian raja Kara Murka Kutila musnah.
    27.Kemudian kelak akan datang tunjung putih semune Pudak kasungsang (Raja berhati putih namun masih tersembunyi). Lahir di bumi Mekah (Orang Islam yang sangat bertauhid). Menjadi raja di dunia, bergelar Ratu Amisan, redalah kesengsaraan di bumi, nakhoda ikut ke dalam persidangan.
    28.Raja keturunan waliyullah. Berkedaton dua di Mekah dan Tanah Jawa (Orang Islam yang sangat menghormati leluhurnya dan menyatu dengan ajaran tradisi Jawa (kawruh Jawa)). Letaknya dekat dengan gunung Perahu, sebelah barat tempuran. Dicintai pasukannya. Memang raja yang terkenal sedunia.
    29.Waktu itulah ada keadilan. Rakyat pajaknya dinar, sebab saya diberi hidangan bunga seruni oleh ki Ajar. Waktu itu pemerintahan raja baik sekali. Orangnya tampan, senyumnya manis sekali.
    23.Pajak rakyat banyak sekali macamnya. Semakin naik. Panen tidak membuat kenyang. Hasilnya berkurang. Orang jahat makin menjadi-jadi. Orang besar hatinya jail. Makin hari makin bertambah kesengsaraan negara.
    24.Hukum dan pengadilan negara tidak berguna. Perintah berganti-ganti. Keadilan tidak ada. Yang benar dianggap salah. Yang jahat dianggap benar. Setan menyamar sebagai wahyu. Banyak orang melupakan Tuhan dan orang tua.
    25.Wanita hilang kehormatannya. Sebab saya diberi hidangan Endang seorang oleh ki Ajar. Mulai perang tidak berakhir. Kemudian ada tanda negara pecah.
    26.Banyak hal-hal yang luar biasa. Hujan salah waktu. Banyak gempa dan gerhana. Nyawa tidak berharga. Tanah Jawa berantakan. Kemudian raja Kara Murka Kutila musnah.
    27.Kemudian kelak akan datang tunjung putih semune Pudak kasungsang (Raja berhati putih namun masih tersembunyi). Lahir di bumi Mekah (Orang Islam yang sangat bertauhid). Menjadi raja di dunia, bergelar Ratu Amisan, redalah kesengsaraan di bumi, nakhoda ikut ke dalam persidangan.
    28.Raja keturunan waliyullah. Berkedaton dua di Mekah dan Tanah Jawa (Orang Islam yang sangat menghormati leluhurnya dan menyatu dengan ajaran tradisi Jawa (kawruh Jawa)). Letaknya dekat dengan gunung Perahu, sebelah barat tempuran. Dicintai pasukannya. Memang raja yang terkenal sedunia.
    29.Waktu itulah ada keadilan. Rakyat pajaknya dinar, sebab saya diberi hidangan bunga seruni oleh ki Ajar. Waktu itu pemerintahan raja baik sekali. Orangnya tampan, senyumnya manis sekali.

    c). Bait-bait lain dari Jongko Joyoboyo
    1.Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran — Kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda (mobil).
    2.Tanah Jawa kalungan wesi — Pulau Jawa berkalung besi (rel kereta api).
    3.Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang — Perahu berjalan di angkasa (pesawat terbang).
    4.Kali ilang kedhunge — Sungai kehilangan mata air.
    5.Pasar ilang kumandhang — Pasar kehilangan suara (mall, plaza).
    6.Iku tandha yen tekane zaman Jayabaya wis cedhak — Itulah pertanda zaman Jayabaya telah mendekat.
    7.Bumi saya suwe saya mengkeret — Bumi semakin lama semakin mengerut/ mengecil (karena majunya teknologi).
    8.Sekilan bumi dipajeki — Sejengkal tanah dikenai pajak.
    9.Jaran doyan mangan sambel — Kuda suka makan sambal.
    10.Wong wadon nganggo pakeyan lanang — Orang perempuan berpakaian lelaki.
    11.Iku tandhane yen wong bakal nemoni wolak-waliking zaman— Itu pertanda orang akan mengalami zaman berbolak-balik (zaman edan).

    12.Akeh janji ora ditetepi — Banyak janji tidak ditepati.
    13.Akeh wong wani nglanggar sumpahe dhewe— Banyak orang berani melanggar sumpah sendiri.
    14.Manungsa padha seneng nyalah— Orang-orang saling lempar kesalahan/senang berbuat salah.
    15.Ora ngendahake hukum Hyang Widhi— Tak peduli akan hukum Hyang Widhi (Tuhan).
    16.Barang jahat diangkat-angkat— Yang jahat dijunjung-junjung (diagungkan).
    17.Barang suci dibenci— Sesuatu yang suci (justru) dibenci.
    18.Akeh manungsa mung ngutamakke dhuwit— Banyak orang hanya mementingkan uang.
    19.Lali kamanungsan— Lupa jati kemanusiaan.
    20.Lali kabecikan— Lupa hikmah kebaikan.
    21.Lali sanak lali kadang— Lupa sanak lupa saudara.
    22.Akeh bapa lali anak— Banyak ayah lupa anak.
    23.Akeh anak wani nglawan ibu— Banyak anak berani melawan ibu.
    24.Nantang bapa— Menantang ayah.
    25.Sedulur padha cidra— Saudara dan saudara saling khianat.
    26.Kulawarga padha curiga— Keluarga saling curiga.
    27.Kanca dadi mungsuh — Kawan menjadi lawan.
    28.Akeh manungsa lali asale — Banyak orang lupa asal-usul.

    29.Ukuman Ratu ora adil — Hukuman raja/pemimpin tidak adil.
    30.Akeh pangkat sing jahat lan ganjil-— Banyak pejabat jahat dan ganjil.
    31.Akeh kelakuan sing ganjil — Banyak ulah-tabiat yang ganjil.
    32.Wong apik-apik padha kapencil — Orang yang baik justru tersisih.
    33.Akeh wong nyambut gawe apik-apik padha krasa isin — Banyak orang kerja yang halal justru merasa malu.
    34.Luwih utama ngapusi — Lebih mengutamakan menipu.
    35.Wegah nyambut gawe — Malas untuk bekerja.
    36.Kepingin urip mewah — Inginnya hidup mewah.
    37.Ngumbar nafsu angkara murka, nggedhekake duraka — Melepas nafsu angkara murka, memupuk durhaka.
    38.Wong bener thenger-thenger — Orang (yang) benar termangu-mangu (dan kesulitan).
    39.Wong salah bungah — Orang (yang) salah gembira ria.
    40.Wong apik ditampik-tampik-— Orang (yang) baik ditolak ditampik (diping-pong).
    41.Wong jahat munggah pangkat— Orang (yang) jahat naik pangkat.
    42.Wong agung kasinggung— Orang (yang) mulia dilecehkan.
    43.Wong ala kapuja— Orang (yang) jahat dipuji-puji.

    44.Wong wadon ilang kawirangane— perempuan hilang malunya.
    45.Wong lanang ilang kaprawirane— Laki-laki hilang perwira/kejantanannya (sifat kesatria).
    46.Akeh wong lanang ora duwe bojo— Banyak laki-laki tak mau beristri.
    47.Akeh wong wadon ora setya marang bojone— Banyak perempuan ingkar pada suami.
    48.Akeh ibu padha ngedol anake— Banyak ibu menjual anak.
    49.Akeh wong wadon ngedol awake— Banyak perempuan menjual diri.
    50.Akeh wong ijol bebojo— Banyak orang tukar istri/suami.
    51.Wong wadon nunggang jaran— Perempuan menunggang kuda (melanggar kodratnya karena menjadi kepala keluarga).
    52.Wong lanang linggih plangki— Laki-laki naik tandu (pemalas).
    53.Randha seuang loro— Dua janda seharga seuang (Red: seuang = 8,5 sen).
    54.Prawan seaga lima— Lima perawan seharga lima picis (murah).
    55.Dhudha pincang laku sembilan uang— Duda pincang laku sembilan uang (asal kaya walaupun jelek tetap laku).

    56.Akeh wong ngedol ngelmu— Banyak orang berdagang ilmu (ustad, ulama gadungan).
    57.Akeh wong ngaku-aku— Banyak orang mengaku diri (kampanye).
    58.Njabane putih njerone dhadhu— Di luar putih di dalam jingga.
    59.Ngakune suci, nanging sucine palsu— Mengaku suci, tapi palsu belaka.
    60.Akeh bujuk akeh lojo— Banyak tipu banyak muslihat.
    61.Akeh udan salah mangsa— Banyak hujan salah musim.
    62.Akeh prawan tuwa— Banyak perawan tua.
    63.Akeh randha nglairake anak— Banyak janda melahirkan bayi (tanpa nikah).
    64.Akeh jabang bayi lahir nggoleki bapakne — Banyak anak lahir mencari bapaknya.
    65.Agomo akeh sing nantang— Agama banyak ditentang.
    66.Prikamanungsan saya ilang— Perikemanusiaan semakin hilang.
    67.Omah suci dibenci— Rumah suci (tempat ibadah) dijauhi.
    68.Omah ala saya dipuja— Rumah maksiat makin dipuja.
    69.Wong wadon lacur ing ngendi-endi— Perempuan menjual diri dimana-mana.

    70.Akeh laknat— Banyak kutukan
    71.Akeh pengkianat— Banyak pengkhianat.
    72.Anak mangan bapak—Anak makan (menindas) bapak.
    73.Sedulur mangan sedulur—Saudara makan (menindas) saudara.
    74.Kanca dadi mungsuh—Kawan menjadi lawan.
    75.Guru disatru—Guru dimusuhi.
    76.Tangga padha curiga—Tetangga saling curiga.
    77.Kana-kene saya angkara murka — Angkara murka semakin menjadi-jadi.
    78.Sing weruh kebubuhan—Barangsiapa tahu terkena beban.
    79.Sing ora weruh ketutuh—Sedang yang tak tahu disalahkan.

    80.Besuk yen ana peperangan—Kelak jika terjadi perang.
    81.Teka saka wetan, kulon, kidul lan lor—Datang dari timur, barat, selatan, dan utara (perang dunia).
    82.Akeh wong becik saya sengsara— Banyak orang baik makin sengsara.
    83.Wong jahat saya seneng— Sedang yang jahat makin bahagia.
    84.Wektu iku akeh dhandhang diunekake kuntul— Ketika itu burung gagak dibilang bangau.
    85.Wong salah dianggep bener-–Orang salah dipandang benar.
    86.Pengkhianat nikmat—Pengkhianat nikmat.
    87.Durjana saya sempurna— Durjana semakin sempurna.
    88.Wong jahat munggah pangkat— Orang jahat naik pangkat.
    89.Wong lugu kebelenggu— Orang yang lugu dibelenggu.
    90.Wong mulya dikunjara— Orang yang mulia dipenjara.
    91.Sing curang garang— Yang curang berkuasa.
    92.Sing jujur kojur— Yang jujur sengsara.

    93.Pedagang akeh sing keplarang— Pedagang banyak yang tenggelam.
    94.Wong main akeh sing ndadi—Penjudi banyak merajalela.
    95.Akeh barang haram—Banyak barang haram.
    96.Akeh anak haram—Banyak anak haram.
    97.Wong wadon nglamar wong lanang—Perempuan melamar laki-laki.
    98.Wong lanang ngasorake drajate dhewe—Laki-laki memperhina derajat sendiri.
    99.Akeh barang-barang mlebu luang—Banyak barang terbuang-buang.
    100.Akeh wong kaliren lan wuda—Banyak orang lapar dan telanjang.
    101.Wong tuku ngglenik sing dodol—Pembeli membujuk penjual.
    102.Sing dodol akal okol—Si penjual bermain siasat.

    103.Wong golek pangan kaya gabah diinteri—Mencari rezki ibarat gabah ditampi.
    104.Sing kebat kliwat—Yang tangkas lepas.
    105.Sing telah sambat—Yang terlanjur menggerutu.
    106.Sing gedhe kesasar—Yang besar tersasar.
    107.Sing cilik kepleset—Yang kecil terpeleset.
    108.Sing anggak ketunggak—Yang congkak terbentur.
    109.Sing wedi mati—Yang takut mati.
    110.Sing nekat mbrekat—Yang nekat mendapat berkat.
    111.Sing jerih ketindhih—Yang hati kecil tertindih.
    112.Sing ngawur makmur—Yang ngawur makmur.
    113.Sing ngati-ati ngrintih—Yang berhati-hati merintih.
    114.Sing ngedan keduman—Yang main gila menerima bagian.
    115.Sing waras nggagas—Yang sehat pikiran berpikir.
    116.Wong tani ditaleni—Orang (yang) bertani diikat.
    117.Wong dora ura-ura—Orang (yang) bohong berdendang.

    118.Ratu ora netepi janji, musna panguwasane—Raja/pemimpin ingkar janji, hilang wibawanya.
    119.Bupati dadi rakyat—Pegawai tinggi menjadi rakyat.
    120.Wong cilik dadi priyayi—Rakyat kecil jadi priyayi.
    121.Sing mendele dadi gedhe—Yang curang jadi besar.
    122.Sing jujur kojur—Yang jujur celaka.
    123.Akeh omah ing ndhuwur jaran—Banyak rumah di punggung kuda.
    124.Wong mangan wong—Orang makan sesamanya.
    125.Anak lali bapak—Anak lupa bapa.
    126.Wong tuwa lali tuwane—Orang tua lupa ketuaan mereka.
    127.Pedagang adol barang saya laris—Jualan pedagang semakin laris.
    128.Bandhane saya ludhes—Namun harta mereka makin habis.
    129.Akeh wong mati kaliren ing sisihe pangan—Banyak orang mati kelaparan di samping makanan.
    130.Akeh wong nyekel bandha nanging uripe sangsara—Banyak orang berlimpah harta tapi hidup sengsara.

    131.Sing edan bisa dandan—Yang gila bisa bersolek.
    132.Sing bengkong bisa nggalang gedhong—Si bengkok (orang jahat) membangun rumah mewah dan mahligai.
    133.Wong waras lan adil uripe nggrantes lan kepencil—Yang waras dan adil hidup merana dan tersisih.
    134.Ana peperangan ing njero—Terjadi perang di dalam.
    135.Timbul amarga para pangkat akeh sing padha salah paham—Terjadi karena para pembesar banyak salah faham.
    136.Durjana saya ngambra-ambra—Kejahatan makin merajalela.
    137.Penjahat saya tambah—Penjahat makin banyak.
    138.Wong apik saya sengsara—Yang baik makin sengsara.
    139.Akeh wong mati jalaran saka peperangan—Banyak orang mati karena perang.
    140.Kebingungan lan kobongan—Karena bingung dan kebakaran.

    141.Wong bener saya thenger-thenger-–Si benar makin tertegun.
    142.Wong salah saya bungah-bungah—Si salah makin sorak sorai.
    143.Akeh bandha musna ora karuan lungane—Banyak harta hilang entah ke mana.
    144.Akeh pangkat lan drajat pada minggat ora karuan sababe—Banyak pangkat dan derajat lenyap entah mengapa.
    145.Akeh barang-barang haram, akeh bocah haram—Banyak barang haram, banyak anak haram.
    146.Bejane sing lali, bejane sing eling—Beruntunglah si lupa, beruntunglah si sadar.
    147.Nanging sauntung-untunge sing lali—Tapi betapapun beruntung si lupa.
    148.Isih untung sing waspada—Masih lebih beruntung si waspada.
    149.Angkara murka saya ndadi—Angkara murka semakin menjadi.
    150.Kana-kene saya bingung-–Di sana-sini makin bingung.

    151.Pedagang akeh alangane—Pedagang banyak rintangan.
    152.Akeh buruh nantang juragan—Banyak buruh melawan majikan.
    153.Juragan dadi umpan—Majikan menjadi umpan.
    154.Sing suwarane seru oleh pengaruh—Yang bersuara tinggi (politikus) mendapat pengaruh.
    155.Wong pinter diingar-ingar—Si pandai direcoki.
    156.Wong ala diuja—Si jahat dimanjakan.
    157.Wong ngerti mangan ati—Orang yang mengerti makan hati.
    158.Bandha dadi memala—Harta benda menjadi penyakit
    159.Pangkat dadi pemikat—Pangkat/jabatan menjadi pemukau.
    160.Sing sawenang-wenang rumangsa menang — Yang sewenang-wenang merasa menang.
    161.Sing ngalah rumangsa kabeh salah—Yang mengalah merasa serba salah.
    162.Ana Bupati saka wong sing asor imane—Ada bupati berasal orang beriman rendah.
    163.Patihe kepala judhi—Maha menterinya bandar judi.
    164.Wong sing atine suci dibenci—Yang berhati suci dibenci.
    165.Wong sing jahat lan pinter jilat saya derajat—Yang jahat dan pandai menjilat makin kuasa.
    166.Pemerasan saya ndadra—Pemerasan merajalela.
    167.Maling lungguh wetenge mblenduk — Pencuri (koruptor) duduk berperut gendut.

    168.Pitik angrem saduwure pikulan—Ayam mengeram di atas pikulan.
    169.Maling wani nantang sing duwe omah—Pencuri menantang si empunya rumah.
    170.Begal pada ndhugal—Penyamun semakin kurang ajar.
    171.Rampok padha keplok-keplok—Perampok semua bersorak-sorai.
    172.Wong momong mitenah sing diemong—Si pengasuh memfitnah yang diasuh.
    173.Wong jaga nyolong sing dijaga—Si penjaga mencuri yang dijaga.
    174.Wong njamin njaluk dijamin—Si penjamin minta dijamin.
    175.Akeh wong mendem donga—Banyak orang mabuk doa.
    176.Kana-kene rebutan unggul—Di mana-mana berebut menang (pilkada dan pemilu).
    177.Angkara murka ngombro-ombro—Angkara murka menjadi-jadi.
    178.Agama ditantang—Agama ditantang.
    179.Akeh wong angkara murka—Banyak orang angkara murka.
    180.Nggedhekake duraka—Membesar-besarkan durhaka.
    181.Ukum agama dilanggar—Hukum agama dilanggar.
    182.Prikamanungsan di-iles-iles—Perikemanusiaan diinjak-injak.
    183.Kasusilan ditinggal—Tata susila diabaikan.

    184.Akeh wong edan, jahat lan kelangan akal budi—Banyak orang gila, jahat dan hilang akal budi.
    185.Wong cilik akeh sing kepencil—Rakyat kecil banyak tersingkir.
    186.Amarga dadi korbane si jahat sing jajil—Karena menjadi kurban si jahat si laknat.
    187.Banjur ana Ratu duwe pengaruh lan duwe prajurit—Lalu datang Raja /pemimpin berpengaruh dan punya berprajurit.
    188.Negarane ambane saprawolon—Lebar negeri seperdelapan dunia.
    189.Tukang mangan suap saya ndadra—Pemakan suap semakin merajalela.
    190.Wong jahat ditampa—Orang jahat diterima.
    191.Wong suci dibenci—Orang suci dibenci.
    192.Timah dianggep perak—Timah dianggap perak.
    193.Emas diarani tembaga—Emas dibilang tembaga.
    194.Dandang dikandakake kuntul—Gagak disebut bangau.

    195.Wong dosa sentosa—Orang berdosa sentosa.
    196.Wong cilik disalahake—Rakyat jelata dipersalahkan.
    197.Wong nganggur kesungkur—Si penganggur tersungkur.
    198.Wong sregep krungkep—Si tekun terjerembab.
    199.Wong nyengit kesengit—Orang busuk hati dibenci.
    200.Buruh mangluh—Buruh menangis.
    201.Wong sugih krasa wedi—Orang kaya ketakutan.
    202.Wong wedi dadi priyayi—Orang takut jadi priyayi.
    203.Senenge wong jahat-–Berbahagialah si jahat.
    204.Susahe wong cilik—Bersusahlah rakyat kecil.
    205.Akeh wong dakwa dinakwa—Banyak orang saling tuduh.
    206.Tindake manungsa saya kuciwa—Ulah manusia semakin tercela.
    207.Ratu karo Ratu pada rembugan negara endi sing dipilih lan disenengi—Para raja/pemimpin berunding negeri mana yang dipilih dan disukai.

    208.Wong Jawa kari separo—Orang Jawa tinggal setengah.
    209.Landa-Cina kari sejodho — Belanda-Cina tinggal sepasang.
    210.Akeh wong ijir, akeh wong cethil—Banyak orang kikir, banyak orang bakhil.
    211.Sing eman ora keduman—Si hemat tidak mendapat bagian.
    212.Sing keduman ora eman—Yang mendapat bagian tidak berhemat.
    213.Akeh wong mbambung—Banyak orang berulah dungu.
    214.Akeh wong limbung—Banyak orang limbung (kosong pikiran).
    215.Selot-selote mbesuk wolak-waliking zaman teko—Lambat laun nanti terbolak-baliknya zaman pun datang.

    CLOSING STATEMENT dari ARTIKEL Ramalan Jayabaya (Jongko Joyoboyo) Tentang Nusantara (Desember 24, 2013 by oedi) :
    Sebagai generasi penerus, kita sepatutnya bangga dengan kearifan yang telah dimiliki oleh bangsa ini, bahkan sejak ribuan tahun silam. Lihatlah! Dengan kemampuan yang lebih dan kewaskitaannya, leluhur kita bisa mengetahui masa depan – jauh setelah kehidupan mereka – dan mau membagikannya kepada kita dalam betuk wasiat. Ini bertujuan agar kita, anak cucuk mereka, tidak masuk ke dalam pola hidup yang semrawut (kacau balau) dan jauh dari aturan agama. Yang pada akhirnya menyengsarakan kehidupan kita sendiri.

    Tetapi, sungguh sangat disayangkan, banyak dari kita, khususnya para pemimpin dan generasi muda sekarang, yang tidak lagi memperhatikan hal ini. Banyak dari kita yang justru tidak tahu atau menganggap apa yang pernah diwariskan oleh para leluhur kita itu hanya sebagai dongeng dan tidak memiliki arti apa-apa dalam kehidupan ini. Padahal lihatlah, hampir semua yang telah mereka wasiatkan itu terbukti benar dan sangat mempengaruhi perjalanan sejarah bangsa ini.

    Untuk itu, marilah kita semua, khususnya para pemimpin dan generasi muda bangsa ini untuk kembali pada jati diri kita sendiri sebagai bangsa Nusantara. Mari kita menilai apa yang sudah diwasiatkan oleh para leluhur di atas sebagai bahan refleksi untuk menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara kedepannya. Banggalah menjadi bagian dari bangsa yang dulunya sangat besar – bahkan pernah memimpin dunia – ini, dengan terus membangkitkan rasa percaya diri dan tidak terlalu gandrung dengan budaya bangsa lain. Paculah kemajuan bangsa dengan banyak berkarya dan tidak hanya menjadi masyarakat konsumtif, yang ujung-ujungnya jadi “sapi perahnya” bangsa lain. Karena kita ini hebat dan punya kebudayaan yang tinggi, yang dulunya pernah disegani di seluruh dunia.

    Selain itu, cukupkanlah perilaku yang tidak lagi sesuai dengan norma agama dan norma susila yang berlaku. Karena itu adalah sumber utama kehancuran bangsa ini nanti. Azab Tuhan akan menghampiri kita, semua dari kita, jika hal ini tidak segera diperbaiki. Terlebih saat banyak dari kita yang tidak lagi peduli bahwa ada kehidupan setelah mati. Maka bangsa dan negeri tercinta ini akan benar-benar hilang ditelan bencana dan azab Tuhan dalam waktu dekat. Sebagaimana dulu, nenek moyang kita yang harus meninggalkan tanah air tercinta ini – ribuan tahun – demi menyelamatkan diri dari bencana dahsyat (azab Tuhan) yang terjadi.

    (EPISODE – 4) PENDIDIKAN SEJAK DINI & SEBAGAI PENJAGA NILAI-NILAI.
    Kidung yg dibuat Oleh Eyang Kanjeng Sunan KALIJAGA, antara lain : Kidung DAYOH (Tamu) & Kidung LIR ILIR (Bangun dari ketidak sadaran menjadikan “sadar”), merupakan Pesan & Wasiat (diantara makna, maksud & tujuan-nya) adalah berupa betapa pentingnya pendidikan anak manusia sejak dini, menjadikan berbudi pekerti luhur.(dan sebagai Penjaga Nilai Nilai).

    Yang menjadi pertanyaan, sudahkah Kita mengimpkementasikan di Rumah sebagai Kepala Keluarga (mendidik & suri tauladan) kepada Anak Anak & Istri Kita ?
    Mendidik Anak Anak Kita BERBUDI PEKERTI LUHUR,BERJIWA KSATRYA & menjalankan DHARMA KESUMA, diantara-nya :

    1. Mendidik & Suri tauladan dalam Ke-Imanan & Ber-Agama dengan baik, benar & lurus, secara Vertikal & Horizontal;
    2. Mendidik & Suri tauladan bersifat BERSAHABAT & RAMAH, dgn mengucapkan SALAM jika bertemu dan/atau berpisah;
    3. Mendidik & Suri tauladan bersifat RENDAH HATI, dgn Mengucapkan PERMISI untuk mohon izin;
    4. Mendidik & Suri tauladan bersifat KSATRYA & BERTANGGUNG JAWAB, dgn Mengucapkan MAAF & Berjanji untuk tidak mengulangi perbuatan salah, jika berbuat salah, karena….. kelak jika menjadi Pegawai/Penguasa/Pemimpin tidak diam saja, masa bodoh, lempar batu sembunyi tangan, justifikasi, lempar tanggung jawab, dsb, jika berbuat salah;
    5. Mendidik & Suri tauladan bersifat JUJUR & AMANAH tentang KEPEMILIKAN, contoh-nya ini barang-mu. Ini barang adik, ini barang kakak, ini barang ayah dan ini barang bunda, jika mau memakai barang bukan milik-nya, harus minta izin dulu kpd empu-nya, karena….. kelak jika Dia sudah besar dan menjadi Pegawai/Penguasa/Pemimpin tidak mengambil barang yang bukan HAK-nya (tidak koruptif, manipulatif, dsb), dan AKUNTABILITAS;
    6. Mendidik & Suri tauladan membiasakan diri BERDIALOG & MULTILOG, antara dia, adik, kakak, ayah & bunda (lazim-nya DI Keluarga setiap hari setelah makan malam dan/atau di saat hidangan sore hari, karena….. kelak jika Dia sudah Dewasa dan menjadi Pegawai/Penguasa/Pemimpin memilki jiwa TOLERANSITAS, KEARIFAN & TRANSPARANSI, tidak EGOIS, tidak OTORITER, tidak ALERGI terhadap KRITIKAN & KECAMAN, bahkan….. PARANOID..?
    7. Mendidik & Suri tauladan arti & makna PERSATUAN & KESATUAN (KOMPAK) & BERINTEGRITAS, saling menolong & saling membantu antara dia, adik, kakak, ayah & bunda, karena….. kelak jika Dia sudah dewasa dan menjadi Pegawai/Penguasa/Pemimpin memiliki sifat EMPATI , WELAS ASIH, BERDEDIKAS & BERGOTONG-ROYONG;
    8. Dan lain-lain, dan sebagai-nya.

    Coba perhatikan & amati, jika di Keluarga yg menjalankan tsb di atas, lazimnya akan cool, humble, inner beauty, just the way they are, kontuinitas, berdisiplin, memiliki leadership & berprestasi, serta……. menjadikan-nya sebagai salah satu Penjaga Nilai Nilai dalam Hidup & Kehidupan (Peradaban Umat Manusia).
    Dan jangan sampai, kelak di Akhirat Kita terhalang masuk Surga, karena Anak complain kepada Gusti Allah SWT, kenapa Saya tidak di didik & suri tauladan seperti 7 item tsb di atas.

    Setiap Zaman memiliki tantangan & persoalan tersendiri, esensinya DEKADENSI MORAL & KEINGKARAN MANUSIA KEPADA GUSTI INGKANG MURBENG DUMADI (melanggar Norma Agama, Norma Susila & Norma Hukum) yg berdampak kepada rusak-nya tatanan hidup, lahirnya ketidak-adilan sosial & hukum, runtuh-nya spirituaiisme & peradaban umat manusia serta sederetan persoalan-persoalan lain-nya, oleh karena GUSTI Ingkang Akaryo Jagad….. mengutus PARA PENJAGA NILAI NILAI (King of Super Alpha, Super Alpha & Alpha) yang TERBEKATI dalam PETUNJUK ILAHI untuk membimbing, mengawal & menjaga perjalanan Peradaban Umat Manusia, khusus-nya di Nusantara.

    DI NUSANTARA /IBU PERTIWI.NKRI AKAN BANGKIT SEMANGAT KESADARAN SPIRITUALISME & SEMANGAT KESADARAN BERKEBANGSAAN (NASIONALISME) NUSANTARA, KEMBALI KEPADA JATI DIRI SEBAGAI BANGSA NUSANTARA (SEJARAH MENCATAT SEBAGAI BANGSA BESAR YG PERNAH BERJAYA), YANG NANTINYA KELAK AKAN MAMPU MEMBAWA KITA KEPADA KEMAKMURAN, KEJAYAAN & KEEMASAN YANG LEBIH BESAR JIKA DIBANDINGKAN DENGAN MAJAPAHIT DI MASA LALU.

    (EPISODE – 5) KIDUNG DAYOH (TAMU) dan KIDUNG LIR-ILIR karya sastra plus dari Eyang Kanjeng Sunan KALIJAGA.
    Sekilas tentang Eyang Kanjeng Sunan KALIJAGA, yg merupakan salah satu dari Wali Songo, Waliyulloh pituin (pribumi) Nusantara dimana Guru terakhirnya adalah Nabi Khidir as, sedangkan Waliyulloh pituin (pribumi) Nusantara yag lainnya, diantaranya adalah Eyang Kanjeng Prabu Sanghyang Borosngora, yg Gurunya adalah Sayidina Ali ra.

    Yang patut di contoh dari sepak terjang Eyang Kanjeng Sunan KALIJAGA antara lain adalah seorang murid yg bisa nengalahkan Guru-nya yakni Sunan Bonang, oleh karena itu Sunan Bonang menyuruh Beliau untuk berguru kepada Nabi Khidir as, serta dalam penyebaran Agama Islam, Beliau memakai sarana Budaya Nusantara (dibuat versi Islam), dan Beliau-lah yg paling banyak pengikut-nya (meng-Islam-kan), dan Beliau pula yg merasa prihatin atas perkembangan & kondisi Islam di Nusantara dewasa ini, dimana
    Agama hanya untuk status, ibadahnya hanyalah ritual raga, yang tak melibatkan hati dan jiwa, kedzaliman di mana-mana, bahkan….. sampai menjual agama demi kepentingan pribadi, Agama tak lagi dijadikan sebagai ageman urip (pegangan hidup), hingga hidupnya limbung dan akhirnya terjatuh dalam pesona ilusi duniawi yang melenakan, karena beragama tanpa Ma’rifat, sedangkan MA’RIFAT ADALAH DASAR DALAM BERAGAMA (banyak yg berpendapat bahwa Ma’rifat adalah Puncak ajaran tertinggi dalam bergama), beragama dengan kesungguhan, tegak lurus, linier & integral, orang yang beragama dgn Ma’rifat, maka dalam menjalani hidup & kehidupan-nya menggunakan PRINSIP LILA TRIMO LAN LEGOWO, TUNDUK DAN PATUH KEPADA GUSTI ALLAH SWT, NRIMO ING PANGDUM , BAHWA TAQDIR MENGIKAT ERAT DALAM HIDUP & KEHIDUPAN,

    Kembali kepada Kidung TAYOH yg berisikan (relatif) ELEGI & SATIRE, pesan & wasiat dari Eyang Kanjeng Sunan KALIJAGA kepada Anak Cucu-nya (Putra Putri) Leluhur Nusantara agar Eling lan waspodo dalam hidup & kehidupan dan ber-Bangsa & ber-Negara jika di Taqdirkan mengalami hidup di Zaman yang dimaksud Beliau, yakni (menurut Jangka Jayabaya & Pujangga Ronngowarsito) Zaman Kalabendu – Wolak Walik Zaman (Zaman hancur dan rusaknya kehidupan karena tata nilai dan tata kebenaran dijungkir-balikkan secara merata).
    Pun Wedaran Jenengan yg (relatif) berisikan SATIRE & ELEGI tentang kondisi faktual-nya dalam berbangsa & bernegara.

    Akan tetapi dgn piawai-nya Eyang Kanjeng Sunan KALIJAGA membuat Kidung LIR-ILIR (sbg pasangan dari Kidung TAYOH), berisikan EPIGRAM & HYMNE, memberikan pesan & wasiat SOLUSI-nya sebagai harapan, berisikan tuntunan & ajaran hidup (secara umum-nya), yakni bangun dari ketidaksadaran sehingga menjadi sadar, sadar yang seperti apa ? Yaitu sadar akan kehambaan diri, bBahwa diri ini hanya hamba yang harus tunduk & patuh pada Gust Allah SWT, harus nrimo ing pandum, bahwa takdir itu mengikat erat kehidupan, sedangkan secara khusus-nya, berisikan penantian, pengharapan & pujian kepada Cucu-nya, SANG TERPILIH – SANG PROTAGONIS – KING OF SUPER ALPHA .– KSATRYA PININGIT, yang akan membawa Nusantara/Ibu Pertiwi/NKRI kepada Kemakmuran, Kejayaan & Keemasan, GEMAH RIPAH LOH JINAWI, TATA TENTREM KERTA RAHARJA, pun HAMEMAYU HAYUNING BHAWONO (Menata keindahan dunia), dan/atau (dlm bahasa religi) negara yang “BALDATUN THAYYIBATUN WA RABBUN GHAFUR (“Negara yang aman-tentram, sejahtra, penuh persaudaraan & kemanusiaan, dilaksanakan dengan baik & mendapat Anugrah ILAHI”).

    Di Zaman KALABENDU ini, kita harus berani prihatin, sabar, tawakal dan selalu berada di jalan Gusti Allah SWT, sebagaimana tercantum di dalam kitab Suci-NYA.
    Adapun lirik Kidung LIR-ILIR, sbg berikut di bawah ini :

    LIR ILIR

    Lir-ilir,lir-ilir
    Tandure wus sumilir.
    Tak ijo royo-royo.
    Taksengguh penganten anyar.

    Cah angon, cah angon.
    Penekno blimbing kuwi.
    Lunyu-lunyu yo penekno,
    kanggo mbasuh dodotiro.

    Dodotiro,dodotiro.
    Kumitir bedah ing pinggir.
    Dondomono jlumatono.
    Konggosebo mengko sore.

    Mumpung jembar kalangane.
    Mumpung padang rembulane.
    Yosurako…surak hiyo.

    CLOSING STATEMENT (Eyang Kanjeng Sunan KALIJAGA) ATAS KIDUNG LIR-ILIR :
    Lama waktu berselang, Dia belum juga datang, sampai akhirnya, setelah saya tak lagi diberi hak untuk menghirup udara lagi, Dia baru datang, SANG TERPILIH – SANG PROTAGONIS – KING OF SUPER ALPHA – KSATRYA PININGIT, Eyang Kanjeng Sunan KALIJAGA tampak sumringah, menandakan kegembiraan & kebanggaan, sepertinya cucu-nya menempati posisi istimewa di hatinya, karena KIDUNG yg dibuatnya tidak untuk UMUM saja , pun KHUSUS-nya untuk CUCU-nya yg dinantikan-nya & disayangi-nya ?
    Cucu dengan jiwa pemberontak yang tak mudah menerima, mesti mengerti.., memahami dulu.., analitis dan segudang keteraturan lainnya, hingga kadang membuat Saya menilainya sebagai pribadi yang ribet, tetapi……. walaupun begitu, Saya sangat menyayanginya dan menantikan kehadirannya.

    (EPILOG)
    CLOSING STATEMENT
    • Bagi yang tidak percaya dan/atau tidak sepaham (berbanding lurus dgn konsekuensinya), tidak usah dipaksakan…., anggap saja ini cerita fiksi ilmiah penghantar tidur (nina bobok) bagi anda.

    • Kita sudah ditakdirkan untuk melewati masa lalu yang penuh haru-biru, penuh kenangan pun penuh hitam-putih sejarah perjuangan, janganlah terus-menerus terpesona kepada masa lalu, dan masih menempatkan diri di masa lalu, merupakan hal yang sia-sia (westing time), yang akan (relatif) menghambat, bahkan….. meruntuhkan semangat untuk menjalani masa kini, serta bukankah masa lalu telah berlalu dan tidak-kah akan kembali ?

    Mungkin(kah) Kita ditakdirkan hidup di masa depan, namun….. terus-menerus memikirkan masa depan dan telah menempatkan diri di masa depan, tidak-kah menyiksa diri dan membuat abai akan masa kini yg sedang dijalani, serta bukan-kah masa depan akan dicapai setelah melewati masa kini ?

    Maka berkesadaranlah….. hadapi dgn seksama & cerdas serta nikmatilah masa kini dgn mengacu pada sejarah & perjuangan masa lalu, untuk kebaikan serta keberhasilaN hidup & kehidupan di masa depan.

    • The last but not least…. Every cloud has silverlining, Our dream will come true (Ada kabar dari Langit yang menggembirakan, bahwa… Gusti Allah SWT ora sare, impossible is nothing akan terjadi, dan kelak pada akhir-nya…..) akan ada MOMENT TRUTH: peristiwa ANOMALI & peristiwa FENOMENAL di Nusantara/Ibu Pertiwi /NKRI untuk KEBANGKITAN, KEJAYAAN & MASA KEEMASAN, mari Kita menjadi Saksi & Persaksikan…..

    Majulah dan jayalah nusantara-ibu pertiwi-merahputih-nkri
    Matur nuwun & smoga bermanfaat.

    Suro diro joyodiningrat lebur dening pangastuti
    Rahayu Sagung Dumadi,

    1. Salam juga mas Rakeyan, gak perlu sungkan.. monggo.. 🙂
      Waw.. komentar ini seharusnya jadi sebuah artikel tersendiri mas, banyak hal yg di kupas disini..

      Saya tertarik dengan statement sampeyan ini: Saya TER-ENGAH-ENGAH, KEJANG-KEJANG & PILU seperti berada di negeri entah-berantah “membaca” point2 tsb di atas, yg menjadi pertanyaan (untuk intropeksi & evaluasi diri sbg Anak Bangsa) :
      # Apa ini UJIAN yg hrs dilalui oleh Bangsa & Negeri inikah ?
      # Atau KUTUKAN yg hrs dilalui oleh Bangsa & Negeri inikah ?
      # Dan/atau TAQDIR yg hrs dilalui oleh Bangsa & Negeri inikah ?

      Kalo menurut saya yg bodoh ini, rasanya ketiga hal di atas sekaligus sudah, sedang dan akan terjadi di masa sekarang. Ketiga tak bisa dipisahkan lagi. Generasi kita yg merasakannya, baik itu kecelakaan atau pun keselamatan…

      Setuju mas, bahwa saya pribadi pun menganggap bahwa apa yg disampaikan oleh para leluhur kita itu adalah bukan sekedar ramalan, tapi lebih kepada Nubuwat (kabar masa depan) yang akan terjadi. Dan buktinya memang sudah dan sedang terjadi satu persatu. Kita patut bersyukur menjadi anak cucu mereka yg bijak dan waskita itu… 🙂

      Setujua mas, bahwa semua kebaikan hidup itu akan dimulai dari kebaikan hidup dalam rumah tangga sendiri. Jadi, pendidikan moral spiritual di dalam keluarga hukumnya wajib jika ingin peradaban bangsa bangkit dan gemilang.. Itulah pula syarat agar Tuhan menurunkan rahmat dan ridho-Nya kepada sebuah bangsa..

      Tentang (EPISODE – 5), ada sedikit tambahan info neh mas, mungkin sampeyan blm tau. Sesungguhnya Eyang Sunan Kalijogo dan Syekh Siti Jenar sama-sama berguru kepada Nabi Khidir AS. Karena itu, ilmu mereka relatif sama dan se-level. Dan sebenarnya tak ada peristiwa hukuman mati kepada Syekh Siti Jenar oleh para Dewan Wali pada masa itu. Yg tersebar luas selama ini hanyalah kisah karangan pihak-pihak yg sengaja mengadu domba umat Islam. Penjajah pun ikut menyebarkannya sebagai propaganda kolonialisme. Jadi apa yg disampaikan oleh Syekh Siti Jenar itu (khususnya tentang Manunggaling Kawula lan Gusti) adalah benar, hanya saja pada masa itu blm selayaknya disampaikan kpd masyarakat umum. Mrk blm siap, maklum pemahaman tauhid umat waktu itu masih baru, masih awam. Karena itu oleh Dewan Wali, beliau diminta utk memilih sesuai dengan tingkat pemahaman dari setiap orang sebelum memberikan pelajaran ttg hakekat dan makrifat. Kalau blm siap, nanti sang murid malah bisa sesat dan keblinger.. Oleh sebab itu, kemudian Syekh Siti Jenar lebih memilih utk mengasingkan diri, jauh dari hiruk pikuk kota kerajaan dan urusan Dewan Wali. Lama kelamaan beliau dan pengikutnya pun “menghilang”. Tapi kemudian muncul orang2 yg mengaku sebagai murid beliau, dan mrk ini yg menyebarkan fitnah ttg ajaran ajaran Manunggaling Kawula lan Gusti yg sebelumnya sudah di otak atik gatuk atau di ubah jadi sesat dan menyesatkan.. Tidak murni seperti yg pernah disampaikan oleh Syekh. Ini pula yg lebih banyak dipahami oleh umat Islam skr, sehingga mrk pun ikut-ikutan menfitnah bahwa Syekh Siti Jenar telah sesat bahkan mengaku sebagai Tuhan. Ya seperti yg ada di film tahun 80-an itu… sangat disayangkan..

      Yg terakhir, saya setuju dg closing statement sampeyan. Dan semuanya itu akan kembali ke diri kita pribadi, apakah mau percaya atau tidak dg wasiat para leluhur kita itu, atau apakah menganggapnya sebagai pedoman hidup atau justru hanya sebatas dongeng pengantar tidur belaka. Toh hanya waktulah yg bisa membuktikannya nanti. Tapi yg jelas jg pernah melupakan masa lalu demi kehidupan di masa sekarang dan yg akan datang. Masa lalu akan selalu jadi guru yg baik utk kita merenda kehidupan duni ini. Kebijaksanaan akan muncul setelah memahami hikmah dari masa lalu…

      Semoga kita termasuk orang yg berkesadaran diri, terhadap apa yg kita lihat, dengar dan rasakan dalam hidup ini. Semoga negeri ini kembali bangkit dan berjaya kembali sesuai dengan zamannya.. 🙂

      Rahayu bagio.. _/|\_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s