Nirwana dan Kahyangan: Dalam Perspektif Kehidupan Sejati

Posted on Updated on

Dieng-Plateau-Negeri-KahyanganWahai saudaraku. Di dalam kehidupan sehari-hari, banyak di antara kita yang pernah mendengar tentang istilah Nirwana dan Kahyangan. Keduanya itu terdengar fantastik dan menggambarkan sesuatu yang diluar batas normal. Atau sebaliknya ada pula yang justru mengangggap keduanya hanya mitos, legenda dan khayalan saja. Karena itulah, di dalam kesempatan kali ini saya mencoba untuk berbagi info kepada Anda sekalian, tentang apakah sebenarnya Nirwana dan Kahyangan itu? Apakah ia ada atau justru hanya sekedar khayalan saja?

Untuk mempersingkat waktu, mari ikuti uraian berikut ini:

1. Nirwana
Nirvana atau Nirwana berasal dari bahasa Sanskerta yaitu Nirvanjir yang secara harafiah berarti “kepunahan” atau “pemadaman”. Sedangkan dalam berbagai pemahaman dan budaya, Nirwana ini lalu menjadi puncak dari pencarian seseorang dalam hidupnya. Karena Nirwana atau “kepunahan” atau “pemadaman” yang dimaksudkan disini adalah kebahagiaan tertinggi atau suatu keadaan kebahagiaan abadi yang luar biasa, yang bisa diraih saat seseorang mampu menghilangkan ke-aku-an dirinya dan selalu mengabdi tulus hanya kepada Tuhan.

Ya. Sesungguhnya tidak ada kata yang tepat untuk menjelaskan tentang Nirwana ini. Karena Nirwana bukanlah suatu tempat khusus, bukan pula suatu ketiadaan. Nirwana tidak sama dengan Surga, tapi merupakan suatu keadaan khusus yang istimewa dan bisa direalisasikan dengan cara melenyapkan loba (keserakahan), moha (kebodohan batin), kesombongan, angkara murka, sifat iri dan kebencian.

Jadi, dapat disimpulkan disini bahwa Nirwana bukanlah suatu tempat atau alam kehidupan tersendiri, melainkan keadaan yang terbebas dari semua kekotoran batin yang menjadi penyebab penderitaan dari setiap kelahiran, penyakit, kesedihan, ratapan, keputus-asaan, usia tua, dan kematian; yaitu loba (keserakahan), moha (kebodohan batin), kesombongan, angkara murka, sifat iri dan kebencian. Dan siapapun punya hak dan kesempatan yang sama untuk bisa meraihnya, tinggal sebatas mana ia mau berusaha dalam kesabaran.

Untuk itu, Nirwana bisa dicapai ketika seseorang masih hidup (Sa-upadisesa Nirvana) atau juga ketika ia meninggalkan dunia (An-upadisesa Nirvana) – melalui jalan Moksa (pelepasan jiwa) atau ketika ia harus wafat secara mulia. Karena sejatinya Nirwana itu adalah hasil baik yang diperoleh akibat dari perbuatan mulia yang di lakukan oleh seseorang selama hidupnya. Tanpa perbuatan yang mulia, bisa dipastikan siapapun tidak akan pernah meraih Nirwana.

Pemandangan Alam Terindah di Dunia Air Terjun Aliran Air Sungai Cantik

Nah, tentu ada cara untuk bisa mencapai Nirwana ini dan seseorang harus mempraktikkannya sendiri dengan sungguh-sungguh. Adapun cara-cara itu terdiri dari 8 Jalan Mulia, yaitu:

1. Samma Samadhi (Konsentrasi/Meditasi benar)
2. Samma Sati (Perhatian benar)
3. Samma Sankappa (Pikiran benar)
4. Samma Ditthi (Pengertian benar)
5. Samma Vaca (Ucapan benar)
6. Samma Kammanta (Perbuatan benar)
7. Samma Ajiva (Penghidupan/Mata Pencaharian benar)
8. Samma Vayama (Usaha/Daya Upaya benar)

Untuk itu, dalam budaya dan keyakinan lain, Nirwana ini dijadikan sebagai sinonim untuk pemikiran mereka tentang Moksa (pelepasan jiwa), dan Nirwana dibicarakan dalam beberapa tulisan seperti dalam Tantra dan Sastra. Sehingga Nirwana disini dapat juga diartikan sebagai suatu kondisi lahir maupun batin seseorang yang telah mengalami pencerahan dan mengetahui. Umumnya keadaan ini lalu dipergunakan untuk menyatakan bahwa seseorang telah berhasil keluar dari kegelapan atau kebodohan sehingga mencapai hakikat hidup yang tertinggi. [Silahkan baca tulisan ini: Mitologi dan agama: tentang ajaran moksa]

“Wahai saudaraku. Kebahagiaan tertinggi atau suatu keadaan kebahagiaan abadi yang luar biasa tidak dapat dialami dengan memanjakan indera, melainkan dengan menenangkannya”

Sungguh, untuk bisa mengalami pencerahan batin, maka ada beberapa macam kondisi yang dapat menyebabkan seorang manusia bisa mencapai penerangan yang sempurna. Adapun di antaranya yaitu:

1. Berhasil mengenal hakekat terdalam dari dirinya sendiri dan juga Tuhannya.
2. Berhasil memahami tentang hakekat dan tujuan utama dari hidup yang sebenarnya.
3. Berhasil menyelaraskan diri jasadiah dan diri ruhaniahnya.
4. Berhasil mengharmoniskan antara daya energi mikrokosmos dan energi makrokosmos.
5. Berhasil menyatukan seluruh hukum alam universal dalam dirinya sehingga tidak ada kesimpang-siuran dengan kehendak Yang Maha Pencipta.
6. Berhasil menjadikan hati dan jiwanya bersih dari segala kotoran dunia yang mungkin dapat melingkupinya.
7. Berhasil melepaskan diri dari semua ikatan duniawi dan sesuatu yang lain selain Diri-Nya.

Jadi, untuk bisa meraih pencerahan yang sempurna, maka diperlukanlah atma-jnana (kesadaran akan “Sang Diri”), karena dengan menyadari bahwa Tuhan bersifat tak terbatas dan mampu hadir dalam berbagai wujud, baik bersifat personal maupun impersonal, seseorang akan tercelup masuk kedalam Diri-Nya dan selalu hidup dalam naungan keagungan-Nya. Dan untuk mencapai itu semua, maka diperlukan sikap yang berbakti demi Yang Maha Kuasa (Karma Yoga), memahami Yang Maha Kuasa (Jnana Yoga), bermeditasi kepada Yang Maha Kuasa (Raja Yoga), dan tentunya melayani Yang Maha Kuasa dengan sikap/bakti yang tulus (Bhakti Yoga). Tanpa ke empat hal itu, semua yang dilakukan untuk meraih pencerahan atau menuju ke Nirwana akan sia-sia belaka, bahkan bisa mendatangkan celaka dan musibah besar.

Catatan: Nirvana atau Nirwana ini sebenarnya bertingkat-tingkat baik dari segi bentuk, level dan maknanya. Yang dijelaskan di atas adalah yang di level pertama dan berhubungan langsung dengan kehidupan manusia di muka Bumi ini. Nirwana pada level berikutnya bisa kita sebut dengan kehidupan di Kahyangan, sebagaimana yang akan dijelaskan dibawah ini.

2. Kahyangan
Istilah Kahyangan berasal dari bahasa Sanskerta yang diambil dari kata Ka-Hyang-an. Jika kata-kata itu di rangkai, maka ia bermakna “tempat tinggal para Hyang atau leluhur”. Yang dimaksudkan dengan Hyang disini adalah suatu keberadaan spiritual tak kasat mata yang memiliki kekuatan supranatural (bersifat Ilahiah). Sehingga bisa disimpulkan bahwa yang tinggal di Kahyangan adalah makhluk bukan berbadan manusia sebagaimana kita yang masih hidup di muka Bumi ini. Dan sebagian dari mereka yang hidup disana memang berasal dari Bumi, hanya saja mereka adalah orang-orang pilihan yang sudah pernah meraih pencerahan dalam hidupnya, atau orang-orang bijak yang telah menjalani hidup dengan baik dan selalu mengedepankan kebenaran Ilahi.

Ya. Saat ini terjemahan bebas dari Kahyangan adalah tempat para dewa-dewi yang disamakan dengan Surga. Padahal sebelum masuknya agama Hindu dan Buddha, masyarakat Nusantara di pulau Sumatera, Jawa dan Bali, seperti masyarakat Melayu kuno, Sunda, Jawa, dan Bali sudah menganut agama pribumi – di antaranya Kapitayan – berupa “pemujaan” terhadap arwah leluhur. Mereka menyebut leluhur mereka dengan istilah Hyang dan tempat tinggal mereka di alam gaib sana disebut Kahyangan. Lalu dengan masuknya agama Hindu dan Buddha, maka istilah Swarga pun dipakai berdampingan dengan istilah Kahyangan, karena Swarga juga bermakna tempat tinggal para roh yang selama hidupnya berbuat kebaikan. Selanjutnya dalam tradisi Jawa baru, istilah Kahyangan dipakai untuk menyebut tempat tinggal para dewa dan bidadari. Sementara istilah Swarga atau Surga tetap dipakai untuk menyebut tempat tinggal dari para roh yang semasa hidupnya bertindak penuh kebajikan sesuai dengan aturan Tuhannya. Dan yang jelas antara Kahyangan dan Swarga ini maka keduanya merupakan suatu tempat yang tidak ada di alam nyata dunia ini alias ada di alam goib sana.

Sedangkan menurut saya sendiri, maka Kahyangan itu jelas bukan Surga tapi suatu tempat khusus yang berada di dimensi khusus pula di alam goib, dimana disana terdapat tempat tinggalnya para Dewa-Dewi, Resi, orang suci, dan kesatria utama dari berbagai zaman kehidupan. Keadaan disana tidak bisa disamakan dengan di Bumi, karena semuanya diluar batas normal dan pemahaman umum manusia. Kalau pun ada materi, itu pun tidak bisa disamakan dengan yang ada di alam nyata dunia ini (Bumi) karena saking uniknya. Kahyangan pun bertingkat-tingkat baik dari segi keadaan atau pun fasilitasnya. Siapapun yang tinggal di dalamnya akan disesuaikan dengan tahap pencerahan batin dan pencapaian hidup sejatinya. Tidak mudah untuk bisa menetap di Kahyangan ini. Bahkan bagi mereka yang sudah mencapai Moksa (pelepasan jiwa) saja tidak berhak seenaknya untuk tinggal di Kahyangan. Siapapun harus sebagai yang terpilih dulu baru bisa ke Kahyangan, itupun hanya sebatas mampir. Dan untuk bisa menetap disana, maka ia harus melalui beberapa tahapan yang sangat sulit dan syarat khusus. Sehingga amat beruntunglah bagi pribadi yang bisa menetap disana. Sedangkan Swarga atau Surga adalah sebuah tempat yang sangat khusus (spesial) yang tidak hanya berada di alam goib tetapi bahkan berada di akherat nanti. Dari segala sisi, Surga pun berada di atas level Kahyangan – bahkan diluar imajinasi siapapun, dan jelas disini Surga juga hanya diperuntukkan bagi mereka yang selalu beriman, taat, patuh dan tunduk hanya pada ajaran Tuhan. Saat ini, belum ada manusia – termasuk yang tinggal di Kahyangan – yang pernah tinggal disana, karena memang belum waktunya.

z

Sungguh, Kahyangan itu adalah suatu tempat yang berada pada level dimensi yang jauh lebih tinggi dari level dimensi dunia nyata ini (dimensi tiga). Sehingga yang bisa tinggal disana tentunya orang-orang yang sudah mampu mengubah dirinya dari dimensi level tiga (dunia nyata kita) ke dimensi level ke 4, 5, 6, dst. Ini perlu latihan khusus, dan tentunya cara yang diuraikan dalam 8 Jalan Mulia untuk bisa mencapai Nirwana di atas adalah keharusan.

Nah, agar lebih jelasnya, maka disini dapat kami terangkan sedikit tentang beberapa level dimensi kehidupan ini – yang dimaksudkan dimensi disini bukanlah ruang dan waktu, tetapi suatu frekwensi getaran (kepadatan). Yaitu:

1. Dimensi 1
Ini adalah level kesadaran sebagai sebuah titik dan materi fisik. Tingkat frekwensi (energi yang bergetar) ini adalah yang paling dasar. Bisa dibilang di level ini hanya menyediakan materi dan energi untuk penciptaan atom dan molekul. Atau sebentuk kehidupan dasar dari mineral dan air, sebagai contoh, adalah semua yang beroperasi di kepadatan ke-1. Manusia juga memiliki frekwensi ini dalam diri mereka, dan itu pula yang membentuk kode genetik dasarnya.

2. Dimensi 2
Ini adalah level dimana kesadaran sebagai sebuah garis, materi biologis, dan pengembangan identitas spesies. Kesadaran yang diekspresikan oleh vibrasi kepadatan (tingkat frekwensi getaran dan bukan sebuah tempat) ke-2 ini tak memiliki ego. Dan sebagian besar spesies hewan dan tumbuhan berada disini, karena biar bagaimanapun juga penempatan mereka dalam kepadatan bergantung pada banyak faktor tambahan, termasuk keberadaan ego dan kesadaran diri.

3. Dimensi 3
Dalam level dimensi ini maka terdapat kesadaran volumetrik, ego, identitas grup yang merupakan pengembangan dari identitas individu, kemampuan untuk mengingat masa lalu dan memperhatikan masa depan sembari menjaga kesadaran saat ini. Ini adalah kepadatan dimana umat manusia dan beragam kecerdasannya pun muncul (ini level dimensi umumnya manusia). Ini adalah frekwensi yang mengekspresikan paling terpisah dari Keseluruhan. Dari sinilah banyak pelajaran soal integrasi dan kemungkinannya menjadi ada.

4. Dimensi 4
Level dimensi ini adalah kesadaran lebih tinggi dari volumetrik, kesadaran super, dan integrasi kembali dari identitas grup tanpa kehilangan identitas ego. Sebagaimana vibrasi meningkat, persepsi dari masa lalu, kini dan masa depan menjadi tak tetap sejalan dengan kemampuan untuk terhubung dengan realitas multidimensi dan multi-kepadatan. Dalam kasus umat manusia, ini bisa dibuktikan dalam kenaikan hasrat untuk bersatu, kedamaian dan cinta tak bersyarat akan bertolak belakang dengan ilusi keterpisahan yang mencirikan kepadatan level ke-3. Tingkat getaran seseorang meningkat dan oleh karena itu di level ini seseorang bisa menaikkan kemampuan panca inderanya atau mulai bisa mengubah dirinya menjadi zat yang tidak padat (berwujud halus).

5. Dimensi 5
Di level ini seseorang akan mengalami kesadaran “aku” sebagai identitas grup dan tak terikat oleh waktu linier. Di level dimensi ini kesadaran berperasa mulai untuk bangkit menuju puncaknya. Ini adalah tingkat dari level kebijaksanaan. Banyak dari mereka yang sudah di level ini memilih untuk menjadi pembimbing bagi yang lainnya. Sebab makhluk level ke-5 ini tergabung dengan “diri lebih tinggi” dan telah mengingat Yang Sejati. Ini adalah tahapan dimana seseorang telah mengalami orientasi non fisik. Lalu pada level inilah ia baru bisa mencapai Moksa (pelepasan jiwa). Sebab, sejak di level inilah seseorang bisa meraih Nirwana dalam hidupnya, yang merupakan syarat utama untuk bisa Moksa.

6. Dimensi 6
Level ini adalah kesadaran sebagai dimensi itu sendiri. Ini sering disebut dengan “Kesadaran Ilahi” yang di dalamnya menunjukan sebuah tingkat frekwensi yang setara dengan para bijak bestari (orang suci). Dari frekwensi ini, maka ingatan total muncul dan seseorang mulai mengambil tanggung jawab sebagai Keseluruhan dari Sang Diri. Bahkan proses memajukan Sang Diri dan Keseluruhan itu lalu menjadi satu dan sama. Sehingga di level ini seseorang baru akan bisa tinggal dan menetap di Kahyangan.

7. Dimensi 7
Pada level ini maka kesadaran menjadi sebagai pengalaman multi-dimensi dan multi-kesadaran. Ini adalah frekwensi dari Kesatuan atau Integrasi Total. Dan vibrasi di frekwensi ini tergabung dalam identitas personal dan menjadi sebuah kesadaran pada masa keseluruhan. Mereka yang bisa sampai di level ini memiliki frekwensi yang setara dengan para Dewa. Dan saat makhluk level dimensi ke-7 ini mencapai tahapan tertentu, mereka akan maju lewat “pintu khusus” untuk bisa mencapai tingkat dimana petualangan lain menunggu, yaitu level dimensi berikutnya (dimensi ke-8, 9, 10, dst). Di level itu, maka para Dewa pun tidak lagi disebut sebagai Dewa, melainkan Bhatara atau Sang Hyang.

other-dimension-parallel-world

Demikianlah sekilas tentang level dimensi kehidupan yang bisa dicapai oleh seseorang, khususnya umat manusia. Memang tidak mudah, tetapi sesuai dengan hasil yang akan didapatkan oleh siapapun yang mau mengusahakannya.

3. Penutup
Wahai saudaraku. Ada yang menarik dari kedua hal di atas, bahwa sesungguhnya antara Nirwana dan Kahyangan itu ada keterkaitan yang sangat erat. Tidak ada satu, maka tidak akan ada keduanya pula. Dan seseorang itu telah diberikan kesempatan untuk bisa meraih hidup yang sangat baik disertai kebahagiaan sejati. Ia pun bisa tinggal di Kahyangan hanya dengan syarat sudah pernah mencapai/meraih Nirwana selama masa hidupnya di muka Bumi ini. Itu terjadi karena Kahyangan sendiri adalah suatu tempat khusus yang bersih dari semua kejahatan diri (baik akal, pikiran, dan hati) dan kekotoran duniawi. Tempat suci itu pun berada di suatu tempat khusus di alam gaib sana (dimensi lain) yang hanya diperuntukkan bagi mereka yang sudah bisa mencapai Nirwana atau meraih pencerahan hidup dan menaikkan level dimensi kehidupannya.

Selain itu, salah satu tahap yang terpenting untuk bisa sampai disana (Kahyangan) adalah dengan melalui jalan Moksa (pelepasan jiwa). Dalam kasus yang khusus, maka jika seseorang memiliki kemampuan istimewa yang merupakan anugerah dari Tuhan, ia bisa saja mencapai Kahyangan. Ini memang pernah terjadi di masa lalu, yang dilakukan oleh orang-orang sakti mandraguna atau oleh mereka yang setingkat dengan para Maha Resi. Tapi disini sifatnya hanya sementara. Karena siapapun baru bisa menetap di Kahyangan ketika ia telah Moksa sepenuhnya dan melalui beberapa tahapan atau syarat khusus yang sesuai dengan aturan di Kahyangan.

Akhirnya, sekarang menjadi pilihan bagi Anda sekalian, apakah ingin mendapatkan Nirwana dalam hidup ini agar bisa tinggal di Kahyangan – dan seterusnya punya harapan besar untuk bisa terpilih masuk ke dalam Surga-Nya, atau tidak. Karena kata Svarga atau Swarga atau Surga itu sendiri berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti suatu tempat di alam akherat (setelah Kiamat) yang menjadi tempat berkumpulnya para roh dan jiwa manusia suci (pribadi yang semasa hidupnya selalu berbuat sesuai dengan tuntunan kebajikan dan kebenaran Tuhan). Sehingga apa saja yang diuraikan di atas, khususnya tentang bagaimana caranya untuk bisa mencapai Nirwana dan pencerahan hidup, adalah jalan yang terbaik untuk di lakukan. Dimana cara-cara itu juga bersifat universal, yang bisa dilakukan oleh siapapun dan tidak terbatas bagi satu atau dua golongan dan keyakinan saja.

Semoga kita bisa meraih Nirwana dan Pencerahan dalam hidup ini, sehingga bisa sampai ke Kahyangan – untuk berkumpul dengan mereka yang suci – lalu menuju Surga-Nya di akherat nanti.

Catatan akhir: Mungkin tulisan ini akan sulit dicerna atau dipahami oleh sebagian orang. Karena itu, sebelum Anda menilai atau menghakimi, mari sinau (belajar) lebih banyak tentang hakekat dari kehidupan dan ilmu yang sejati. Rahayu.

Jambi, 13 Mei 2016
Mashudi Antoro (Oedi`)

2 thoughts on “Nirwana dan Kahyangan: Dalam Perspektif Kehidupan Sejati

    joko kendil said:
    Mei 16, 2016 pukul 9:40 am

    Alhamdulillah masih di tunggu trs tulisan tulisannya…. sangat membantu…..

      oedi responded:
      Mei 17, 2016 pukul 12:14 am

      Syukurlah kalau begitu mas Joko, terimakasih atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat..🙂
      Wokey.. silahkan di tunggu deh.. moga aja ada tulisan baru dalam waktu dekat..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s