Sastra Dalam Perspektif Kuno

Posted on Updated on

sastraWahai saudaraku. Pada kesempatan kali ini mari kita membahas lebih dalam tentang apa itu sastra? Satu istilah yang tidak asing, yang hampir semua orang mengenalinya. Disini kami tidak sedang meninggikan atau mempromosikan satu ajaran (keyakinan, agama) tertentu, tidak pula merendahkan yang lainnya. Tetapi sedang mengajak Anda sekalian untuk lebih membuka hati dan cakrawala berpikir, agar tidak “kerdil” dalam memandang hidup ini. Agar kehidupan di dunia ini menjadi lebih baik dan penuh dengan cinta kasih.

Ya. Apakah yang dipahami tentang sastra selama ini sudah benar? Apakah memang demikian pengertian dan tujuan dari sastra yang sesungguhnya? Yang sejak dahulu kala sudah menemani kehidupan manusia. Karena jika sejak awal saja kita sudah salah paham tentang makna dan tujuan dari sesuatu, maka bisa dipastikan akan salah pula hasilnya. Kita hanya akan terjebak pada pengertian yang sempit, yang membuat diri semakin terkungkung dalam kerdilnya ilmu pengetahuan. Bagai katak dalam tempurung, akibatnya kita sendiri akan hidup dalam kebodohan dan kerugian yang besar.

Untuk mempersingkat waktu, mari ikuti uraian berikut ini:

Kata sastra berasal dari kata “Shastra” dalam bahasa Sanskerta yang berarti ilmu pengetahuan secara umum yang tidak lekang oleh waktu. Shastra juga bisa diartikan sebagai suatu kebenaran yang universal dan berlaku bagi siapapun. Untuk itu, salah besar bila kita mengartikan sastra itu hanya sebagai kumpulan bait dan kalimat yang bersayap, atau syair dan puisi yang romantis saja. Karena sastra pada masa lalu adalah ajaran yang memuat kebenaran dan diturunkan secara turun temurun dari orang tua ke anaknya, dari guru ke muridnya, atau dari pengalaman hidup yang telah disarikan oleh seseorang kepada orang lain dengan cara tradisional oral (lisan).

Lalu budaya menurunkan ilmu pengetahuan secara lisan ini tetap berlangsung dalam waktu yang sangat lama, sebelum akhirnya dikodifikasi dan dikompilasi dalam bentuk kumpulan tulisan yang kini disebut dengan kitab atau buku. Dengan begitu, ilmu pengetahuan yang sangat berharga dimasa lalu tetap terjaga dan bisa dipelajari oleh generasi yang akan datang. Tentunya ilmu-ilmu itu harus mencakupi berbagai disiplin keilmuan dan disampaikan dalam bahasa yang indah dan santun.

kitab sastra

Untuk itu, dalam tradisi dan keyakinan tertentu shastra bahkan di pandang suci dan dibagi ke dalam dua hal, yaitu Sruti (yang di dengar/wahyu) dan Smrti (yang diingat/tradisi, bukan wahyu). Di antara contoh shastra yang masuk ke dalam Sruti (wahyu) adalah Catur Veda; Rgveda (hymne suci ketuhanan-ilmu pengetahuan), Samaveda (nyayian suci-mantra), Yajurveda (ritual-korban suci), Atharvaveda (doa-mantra). Ini didasarkan pada proses penerimaannya yang tidak sembarangan dan merupakan wahyu dari Tuhan kepada seorang Maharesi agung. Sedangkan yang termasuk dalam contoh kategori Smrti adalah Dharmasastra (kitab hukum), Purana (kisah kuno), Itihasa (sejarah), Tantra (agama-olah batin), Darshana (filsafat), Sutra (kumpulan pepatah bijak), Vedanga (mantra-ilmu ksaktian). Dalam hal ini epos Mahabharata dan Ramayana termasuk dalam bagian dari Smrti, dikarenakan kedua kisah tersebut masuk dalam kategori Itihasa (sejarah).

Wahai saudaraku. Mengapa semua hal di atas kami angkat pada tulisan ini? Itu karena jangan sampai kita terjebak dalam makna dan pengertian yang sempit. Karena sastra tidak hanya berurusan tentang cinta dua orang kekasih, sekedar keindahan tutur kata yang bersayap, atau sebatas kumpulan syair dan puisi saja, tetapi lebih kepada makna universal yang terkandung didalamnya. Itu pun tidak hanya sebatas lingkup jasadiah-materi semata, namun sampai pada tataran universal yang melintasi ruang dan waktu. Dan sebenarnya tidak ada urusannya dengan keyakinan yang dianut oleh seseorang. Tidak pula boleh secara eksklusif dimiliki oleh agama tertentu. Karena sastra sendiri berlaku bagi siapapun dan dimanapun.

Lalu dari begitu banyak contohnya, maka salah satu sastra yang sesungguhnya adalah apa yang telah disampaikan dalam kitab Canakya Nitisastra. Sebuah kitab shastra dalam kelompok Smrti, yang berisikan ajaran tentang moralitas yang tinggi, yang bisa dipakai sebagai pedoman dalam pergaulan sehari-hari. Adapun di antaranya yaitu:

BAB I Sloka 16:
Visadapyamrtam grahyam
Amedhyadapi kancanam
Nicadapyuttaman vidyam
Stri-ratnam duskuladapi

Artinya: Saringlah amerta (air) meskipun ada dalam racun, ambilah emas meskipun ada di dalam kotoran. Pelajari ilmu pengetahuan keinsyafan diri walaupun dari seorang yang masih anak-anak atau orang kelahiran rendah. Dan juga meskipun seorang wanita lahir di keluarga yang jahat dan hina, tetapi kalau ia berkelakuan mulia-bijaksana ia patut diambil sebagai istri.

BAB II Sloka 19:
Duracari duradrstih
Duravasi ca durjanah
Yan maitri kriyate pumsa
Sa tu sighram vinasyati

Artinya: Kalau seseorang berteman dengan orang yang tingkah lakunya tidak baik, dengan orang yang penglihatannya jahat, dengan orang yang tinggal di tempat-tempat kotor dan tidak suci, bergaul dengan penjahat, segera menemui kebinasaan.

BAB III Sloka 8:
Rupa yauvana sampanna
Visala kula sambhavah
Vidyahina na sobhante
Nirghandha iva kimsukah

Artinya: Ada orang yang tampan dalam keadaan yang masih muda, serta lahir di keluarga bangsawan terhormat. Tapi kalau ia miskin dengan pengetahuan keinsyafan diri, sebenarnya orang begini sama sekali tidak berarti apa-apa, bagaikan bunga kimsuka kemerahan menarik tapi tidak berbau wangi.

BAB IV Sloka 4:
Yavat svastho hyayam dehe
Yavan mrtyus ca duratah
Tavad atma-hitam kuryat
Pranante kim karisyam

Artinya: Selama badan masih kuat dan sehat dan selama kematian masih jauh, lakukanlah sesuatu yang menyebabkan kebaikan bagi roh anda, yaitu keinsyafan diri. Pada saat kematian menjelang apa yang bisa dilakukan?.

BAB V Sloka 11:
Daridraya-nasanam danam
Silam durgati-nasanam
Ajnana-nasim prajnya
Bhavana bhaya-nasini

Artinya: Kedermawanan menghapuskan kemiskinan. Perbuatan yang baik menghilangkan kemalangan. Kecerdasan rohani menghapuskan kegelapan/kebodohan. Dan bhaya (rasa takut) bisa dihilangkan dengan merenungkannya baik-baik.

BAB VII Sloka 4:
Santosa trisu kartavyah
Svadare bhojane dhane
Trisucaiva na kartavyo
Dhyayane japa danayoh

Artinya: Hendaknya orang merasa puas terhadap tiga hal ini, yaitu: terhadap istri sendiri, terhadap makanan dan terhadap kekayaan yang didapat dengan cara yang halal. Tetapi terhadap tiga hal, yaitu: mempelajari ilmu pengetahuan suci, ber-japa/memuji nama-nama suci Tuhan dan berdana-punya (berbuat kebaikan), haruslah orang tidak merasa puas.

Bab X Sloka 9:
Yasya nasti svayam prajnya
Sastram tasya karoti kim
Lokanabhyam vihinasya
Darpanah kim karisyati

Artinya: Bagi mereka yang tidak mempunyai budi pekerti yang baik dalam dirinya, apa yang akan dilakukan dengan kitab suci? Bagaikan orang yang buta, apa gunanya cermin bagi orang buta ini.

BAB XI Sloka 8:
Na veti yo yasya guna-prakarsam
sa tam sada nindati natra citram
Yatha kirati kari-kumbha-labdaham
muktam prityajya vibharti gunjam

Artinya: Hal ini tidak usah membuat heran, bahwa orang yang belum mengetahui sesuatu dengan sebenarnya selalu menjelek-jelekan hal yang belum diketahui secara jelas. Seperti halnya permaisuri para kirata (golongan pemburu pada zaman purba) menolak permata dari kepala gajah, sebaliknya memakai perhiasan biji gunja (biji-bijian yang terdapat di semak belukar).

BAB XIII Sloka 2:
Gate soko na kartavyo
Bhavisyam naiva cintayet
Vartamanena kalena
Pravartante vicaksanah

Artinya: Jangan bersedih terhadap apa yang sudah berlalu, jangan pula risau terhadap apa yang akan datang, orang-orang bijaksana hanya melihat masa sekarang dan berusaha sebaik-baiknya.

BAB XIII Sloka 9:
Jivantam mrtavan-manye
Dehinam dharma-varjitam
Yato dharmena samyukto
Dirgha-jivi na samsayah

Artinya: Orang yang perbuatannya tidak sesuai dengan dharma (jalan kebenaran), sebenarnya ia sudah mati walaupun masih hidup. Seorang dharmatma yaitu orang yang perbuatannya sepenuhnya sesuai dengan dharma, sebenarnya ia masih hidup, walaupun sudah mati.

Yosemite-shutterstock_56441893-copy

Wahai saudaraku. Uraian dalam kitab Canakya Nitisastra di atas adalah pemikiran-pemikiran tinggi tentang moralitas, pergaulan sehari-hari dan juga bakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Inilah di antara makna sebenarnya dari sastra yang kita bahas kali ini. Bukan hanya sebatas syair dan puisi cinta bersayap, atau rangkaian indah kata-kata dalam sebuah novel seorang pujangga. Tetapi sebuah pesan dan nasehat yang berskala universal, tak terbatas jenis dan golongan, bahkan ruang dan waktu. Sehingga apapun yang didalamnya terkandung pesan dan nasehat mengenai kebaikan, kebagusan dan kebenaran adalah sastra yang sesungguhnya.

Untuk itu, bisa disimpulkan pula disini bahwa sastra itu pada dasarnya adalah sebuah prinsip dan ajaran yang disampaikan dalam bentuk kalimat yang santun tentang bagaimana hendaknya seseorang itu berpikir, berkata dan bertingkah laku. Artinya, saat berpikir maka sastra akan mengajarkan bagaimana seseorang itu harus berpikir dan apa yang dipikirkan. Sebab pikiran dapat mempengaruhi apa yang akan di lakukan. Lalu ketika ia berkata, maka sastra akan mengajarkan kepadanya untuk memperhatikan apa yang akan dikatakan. Sebelum berkata, maka pikirkan dulu dampak atau hasil dari perkataan tersebut. Dan yang terakhir adalah saat seseorang berbuat/bertindak, maka sastra akan mengajarkan bahwa perbuatan yang baik itu adalah yang tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Justru seharusnya setiap perbuatan itu bisa menimbulkan keuntungan, kebahagiaan, kedamaian, kesejahteraan dan keselamatan bagi siapapun. Itulah sastra yang sebenarnya, yang seharusnya bisa dipahami dan dilaksanakan oleh setiap orang.

Semoga kita bisa memahami, menjalani dan menyampaikan sastra dalam arti yang sebenarnya. Rahayu.

Jambi, 28 Juli 2016
Mashudi Antoro (Oedi`)

(Disarikan dari berbagai sumber dan diskusi)

One thought on “Sastra Dalam Perspektif Kuno

    wordwidewrite said:
    Juli 28, 2016 pukul 6:09 pm

    Dari awal mengenal blog ini, banyak hal yang menarik untuk disimak, dan yang bisa dicerna dari sumber yang ada, dengan pendapat dan wawasan saudara, mencoba mengurai dan menyampaikannya agar tidak ada misteri dibaliknya, dan misteri iru saudara ungkapkan dalam pandangan yang diketahuinya.

    Mengurai masa lalu adalah bagian sejarah, ilmu sejarah terkadang ada manipulasi dan spekulasi waktu, bahkan tempat kejadiannya.

    Suatu Ilmu / sastra terkadang bisa diterima dengan popularitas yang tinggi, sekalipun ilmu itu salah jika terlanjur populer akan nampak seperti kebenaran. Jika ilmu itu benar, maka seharusnya tak tak akan menjadi keraguan, tapi daya nalar manusia berbeda, ada yang terbuka dan tertutup.

    Menurut yang saya pahami, Ilmu (petunjuk) itu buat diri pribadi, menyampaikan adalah wajib sebagai kebajikan dan masalah manusia lain manu menerima atau tidak bukan urusan lagi. Tapi jika manusia itu hidupnya berkelompok dan berada dalam kelompok dan golongan lain, disitulah letak ujian, apakah ilmu itu bisa diterapkan untuk pribadi dan yang lainnya.
    Manusia menjalani tingkatan demi tingkatan perjalanan hidup, ada yang semakin tinggi dan ada yang semakin rendah, dan ada pula golongan yang tidak berada dari keduanya.

    Andai saja Sastra yang diterjemahkan itu jika melihat dari bahasa dan ajaran lain, adalah hal yang serupa, bahkan jika dicermati, para motifator pun mengolah kata dari ilmu-ilmu kitab, caranya ada yang menyebutkan sumber kitabnya, adapula kebenaran itu seolah datang dari pemikirannya, atau memang petunjuk itu datang dari sang pembinbing yang Ghaib.

    Terimakasih wahai saudara yang mau menerima kritik dan inspirasi saya, terus terang blog saya tidak bisa ditulis lagi, atau sekedar press it pun tak bisa, sampai jumpa di akun yang baru!

    Nick name ini adalah simbol saya untuk membuka diri, mencermati ilmu waktu demi waktu! Semoga saudara bisa terus memberi penjelasan dan menulis di situs ini.

    Ada 2 hal yang ilmu yang belum bisa saya dapatkan, satu persatu saya nantikan dari tulisan anda. Sekian dan terimakasih !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s