Pusaka Warisan dan Perang Antar Dimensi

Wahai saudaraku. Kisah ini terjadi pada masa yang sudah begitu lama. Saat itu, kehidupan di muka Bumi ini relatif aman dengan begitu banyaknya negeri yang dipimpin oleh orang-orang yang hebat dan sakti. Di setiap kerajaannya pasti memiliki benda pusaka yang menjadi andalan. Di dapatkan dengan cara yang tidak mudah, penuh perjuangan dan memang sudah menjadi hak dari setiap kerajaan yang bersangkutan.

Pada masa itu, selain peradaban manusia sudah tinggi, mereka juga sangat mengedepankan kemampuan olah batin. Ilmu kanuragan dan kadigdayan adalah kebanggaan utama bagi siapapun yang bisa menguasainya. Karena itulah, mulai dari yang muda sampai ke yang tua sering berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik. Siapapun yang sakti akan semakin dihormati dan martabatnya terus meningkat. Ini pula yang menjadi motivasi bagi semua orang. Tapi, seperti pisau yang bermata dua, maka hal itu bisa menjadi sumber masalah. Keadaan dunia pun menjadi panas dan kerap terjadi pertikaian.

Untuk lebih jelasnya tentang kisah ini, mari ikuti penelusuran berikut:

1. Awal kisah
Setelah Bumi mengalami pergantian zaman dan akhirnya memasuki periode zaman yang ke empat (Swarganta-Ra), peran penting dari sebuah benda pusaka kembali terjadi. Atas kehendak dan perintah dari Hyang Aruta (Tuhan YME), para Ainur lalu ditugaskan untuk “menempa” berbagai jenis senjata pusaka yang nantinya akan diturunkan ke Bumi. Semua senjata pusaka itu akan diberikan satu persatu kepada sosok yang terpilih dari manusia untuk bisa membantunya dalam menjalankan tugasnya di atas dunia. Dalam hal ini tentunya pada setiap orang yang shalih dan di masa yang berbeda pula.

Lalu, tibalah masanya dimana pusaka yang pertama harus diturunkan ke Bumi. Pada saat itu, setelah berlalu sekitar ±500.000 tahun di awal periode zaman ke empat (Swarganta-Ra), kepada seorang kesatria yang berbudi luhur senjata pusaka yang berjenis busur panah lalu diturunkan. Setelah ber-tapa brata selama ±3.500 tahun di puncak gunung Ramuli, pemuda yang bernama Ziyalana itu menerima sebuah busur panah sakti yang bernama Harsansya. Untuk kemampuannya tidak main-main, karena busur panah ini bisa membelah lautan, mengeringkan danau, menghancurkan sebuah gunung atau kota, mengeluarkan berbagai jenis senjata lainnya dan membuat siapapun yang memilikinya punya kemampuan yang luar biasa seperti bisa terbang, menghilang dan membagi dirinya. Selain itu, busur panah ini bisa menciptakan perisai pelindung dan membuat sebuah kerajaan tak terlihat oleh musuh, sehingga tidak bisa ditaklukkan. Pusaka ini lalu diwariskan dari generasi ke generasi di kerajaan Multaharan (kerajaan yang didirikan oleh Ziyalana) selama ±15 juta tahun. Sampai pada akhirnya diambil oleh seseorang untuk disimpan ke dalam sebuah peti khusus.

Berikutnya, pada kisaran waktu sekitar 15-16 juta tahun dalam kehidupan manusia di periode zaman ke empat (Swarganta-Ra), giliran kedua yang diturunkan adalah pedang yang bernama Kalimasya. Orang yang beruntung menerimanya adalah seorang kesatria yang bernama Madirus. Setelah ber-tapa brata selama ±3.500 tahun di puncak gunung Urhal, ia mendapatkan sebilah pedang sakti yang mampu membelah atau menghancurkan sebuah gunung, membelah lautan, memanggil berbagai kekuatan alam (termasuk petir) atau para raja terdahulu (yang sudah moksa), menaklukkan berbagai jenis senjata, dan membuat siapapun yang memilikinya menjadi sakti mandraguna, termasuk bisa menghilang, berpindah-pindah tempat dalam sekejap atau bergerak secepat kilat tanpa hambatan ruang dan waktu atau membagi dirinya menjadi 10-25 sosok. Selain itu, pedang pusaka ini juga bisa membuatkan perisai pelindung yang sangat kokoh untuk sebuah kota dan menyebabkan sebuah kerajaan tak terlihat oleh musuh. Atas petunjuk yang ia dapatkan, pedang pusaka ini lalu diwariskan kepada anak keturunannya di kerajaan Samruna yang ia dirikan. Selama lebih dari 10 juta tahun pusaka tersebut tetap diwariskan di kerajaan itu. Sampai pada akhirnya diambil oleh seseorang untuk disimpan ke dalam sebuah peti khusus.

Setelah itu, dalam waktu sekitar ±25 juta tahun dalam perhitungan periode zaman ke empat (Swarganta-Ra), pusaka yang diturunkan berikutnya adalah yang berjenis tombak. Kali ini yang beruntung mendapatkannya adalah seorang pemuda yang bernama Tislaen. Setelah ber-tapa brata selama ±3.000 tahun di puncak gunung Darhil, ia mendapatkan pusaka tombak sakti yang bernama Himadasya. Pusaka ini pun memiliki kemampuan yang luar biasa karena mampu menghancurkan sebuah gunung, membelah lautan, menciptakan badai topan dan tsunami,  mengeringkan danau, dan bisa menimbulkan gempa bumi yang bisa menghancurkan sebuah kota. Orang yang memakainya pun mendapatkan kesaktian seperti bisa terbang, menghilang dan membagi dirinya. Selain itu, tombak pusaka ini bisa membuatkan perisai yang sangat kokoh untuk melindungi sebuah kota dari berbagai serangan fisik atau bisa juga membuat sebuah kerajaan tak terlihat oleh musuh. Dan sebagaimana petunjuk yang didapatkan, pusaka tombak ini diwariskan selama ±10 juta tahun di kerajaan yang ia dirikan. Kerajaan itu bernama Rusandaen. Sampai pada akhirnya pusaka tombak Himadasya itu diambil oleh seseorang untuk disimpan ke dalam sebuah peti khusus.

Kemudian, setelah waktu sekitar ±35 juta tahun dalam perhitungan periode zaman ke empat (Swarganta-Ra), pusaka yang diturunkan selanjutnya adalah berjenis cakram. Orang yang beruntung mendapatkannya adalah pemuda yang bernama Wasruniyah. Setelah ber-tapa brata selama ±3.000 tahun di puncak gunung Hundala, pusaka cakram yang bernama Vintarasya itu baru bisa didapatkan. Tentang kemampuannya sungguh luar biasa, karena bisa memotong atau menghancurkan gunung, membelah lautan, mengeringkan danau, menimbulkan kebakaran hebat atau badai topan, menciptakan malam pada waktu siang hari, dan membuat orang yang memilikinya menjadi sakti mandraguna seperti bisa terbang, menghilang, membagi dirinya, dan mengubah-ubah wujudnya. Selain itu, pusaka ini juga mampu menyelubungi kerajaan dari serangan apapun (fisik atau goib) dan tak terlihat oleh musuh. Atas petunjuk yang didapatkan, pusaka ini lalu diwariskan kepada anak keturunannya di kerajaan Almuniyah selama ±10 juta tahun. Sampai pada akhirnya diambil oleh seseorang untuk disimpan ke dalam sebuah peti khusus.

Adapun yang terakhir diturunkan adalah senjata pusaka berupa gada yang bernama Bilarsya. Pusaka ini diturunkan pada masa sekitar ±45 juta tahun dalam perhitungan waktu di periode zaman ke empat (Swarganta-Ra). Kepada seorang pemuda yang bernama Ram Hiyam, pusaka itu diberikan setelah ia ber-tapa brata selama ±3.000 tahun di puncak gunung Sulta. Sebagaimana pusaka yang lainnya, gada Bilarsya ini juga punya kemampuan yang luar biasa seperti bisa menghancurkan gunung, membelah lautan, menimbulkan gempa bumi yang bisa menghancurkan sebuah kota dan menangkis berbagai serangan senjata pusaka sakti. Orang yang memilikinya pun menjadi sakti mandraguna seperti bisa menghilang, terbang, masuk ke dalam Bumi, dan membagi dirinya. Selain itu, gada pusaka ini juga bisa membuatkan perisai pelindung yang sangat kokoh dan menjadikan sebuah kerajaan tak terlihat oleh musuh. Atas petunjuk yang telah didapatkan, pusaka ini pun diwariskan kepada anak keturunannya di kerajaan Kasidam selama ±10 juta tahun. Sampai pada akhirnya diambil oleh seseorang untuk disimpan ke dalam sebuah peti khusus.

Catatan:
1. Para kesatria yang mendapatkan pusaka sakti itu pada dasarnya tidak tahu tentang pusaka-pusaka itu, sebab belum pernah ada yang memilikinya sebelum mereka. Bahkan ketika mereka ber-tapa brata pun semuanya tak pernah mengharapkan apapun kecuali bisa lebih dekat kepada Hyang Aruta (Tuhan YME) saja. Mereka adalah sosok yang terbaik karena hatinya sudah terbebas dari kebatilan dan pamrih. Pusaka yang mereka terima sifatnya hanya bonus.
2. Kelima pusaka itu tak perlu dibawa-bawa. Artinya, ketika dibutuhkan ia akan muncul dengan sendirinya ditangan seseorang. Itu bisa terjadi karena setiap pusaka itu telah menyatu dengan diri pemiliknya. Dan hanya kepada yang berhak sajalah pusaka-pusaka itu akan patuh dan siap membantu. Tidak bisa dipaksa, direbut atau pun dicuri oleh siapapun.

Demikianlah kisah tentang bagaimana kelima pusaka sakti buatan para Ainur itu bisa sampai kepada manusia dan dijadikan senjata andalan di beberapa kerajaan yang ada. Setelah waktunya cukup, semua pusaka itu satu persatu diambil oleh sosok yang mulia dan merupakan utusan dari Hyang Aruta (Tuhan YME) di Bumi. Dialah Nabi Muriya AS yang oleh Tuhan telah di anugerahi berbagai mukjizat dan hidup dalam masa yang sangat panjang. Kisah selanjutnya tentang hal ini akan dibahas pada poin selanjutnya.

2. Pusaka warisan leluhur dan perang antar dimensi
Pada kisaran waktu ±55 juta tahun dalam hitungan masa di periode zaman ke empat (Swarganta-Ra), hiduplah sebuah kaum yang bernama Sirkatirum. Mereka dianugerahi umur yang sangat panjang melebihi umumnya manusia pada masa itu. Rata-rata usia mereka saat itu adalah ±1.000 tahun dan jika mereka rajin ber-tapa brata, maka umurnya akan jauh lebih panjang lagi, bahkan sampai puluhan ribu tahun. Karena itulah, dengan umur yang sebegitu panjangnya kaum ini mampu melakukan banyak hal. Mereka berperadaban tinggi dan memiliki kemampuan ilmu yang mumpuni, khususnya kesaktian.

Namun demikian, meskipun mereka terbilang hebat dan sakti, maka itu bukanlah jaminan untuk keselamatannya. Terlebih akan datang masa dimana semuanya bisa hancur berantakan oleh sebuah pertempuran dahsyat. Ya, perang tersebut sungguh mengerikan karena melibatkan berbagai dimensi kehidupan, baik nyata maupun goib. Bukan hanya manusia, tetapi banyak makhluk lainnya juga. Tak ada yang bisa mencegahnya, karena itu adalah ketetapan yang mengikat dari Hyang Aruta (Tuhan YME). Tujuannya adalah untuk menguji hati dan perbuatan dari semua makhluk-Nya pada saat itu.

Tentang bagaimana informasi itu didapatkan, maka ada seorang utusan Tuhan yang bernama Nabi Muriya AS yang telah menyampaikannya. Dihadapan para pembesar kaum Sirkatirum, sang Nabi pun menjelaskan dengan berkata; “Bahwasannya akan datang perang yang sangat dahsyat, yang belum pernah terjadi sebelumnya. Memang dulu pernah terjadi pertempuran yang melibatkan tiga alam dan tiga dimensi kehidupan (pada masa kerajaan Amursyah di periode zaman ketiga (Dirganta-Ra)), tapi kali ini akan melibatkan 7 alam dan 7 dimensi kehidupan. Tidak hanya manusia yang akan terlibat, namun mereka yang hidup di alam dan dimensi lainnya. Pada saat itu, batas antara setiap dimensi akan terbuka dan siapapun bisa dengan mudahnya memasuki alam atau dimensi lainnya. Ketika itulah pertempuran yang sangat dahsyat terjadi dan menyebabkan kehancuran dimana-mana. Semua kemampuan harus dikerahkan. Tapi hanya kecerdasan, kekuatan, dan kesaktianlah yang bisa membantu. Tak ada keselamatan bagi siapapun, kecuali ia telah berserah diri sepenuhnya dan memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka persiapkanlah diri kalian semua dan jangan pernah lagi bersantai”

Mendengar penjelasan itu, semua orang yang hadir langsung tertegun. Tidak sedikit yang merasa cemas, sebab apa yang disampaikan oleh sang Nabi diluar kebiasaan. Betapa tidak, bahwa suatu saat nanti akan muncul pertempuran dahsyat yang melebihi perang dunia manusia. Yang terlibat dalam perang dahsyat itu tidak hanya manusia, melainkan juga makhluk-makluk lain yang berasal dari alam dan dimensi lainnya. Dengan kemampuan yang dimiliki, banyak dari para pembesar kaum Sirkatirum yang merasa takkan mampu menghadapi pertempuran itu, apalagi bisa menang. Semua dari mereka pun sudah tahu bahwa yang hidup di alam dan dimensi lainnya itu memiliki kemampuan yang luar biasa dan di atas rata-rata umat manusia di Bumi. Sungguh takkan mungkin bisa melawan mereka, kecuali ada sebuah keajaiban.

Melihat itu, dengan tersenyum Nabi Muriya AS pun kembali berkata; “Wahai semuanya. Tenangkanlah hatimu dan tetaplah percaya dengan keagungan Tuhan. Jika engkau tetap beriman dan patuh kepada-Nya, Dia pun akan memberikan bantuan dan perlindungan-Nya. Meskipun kalian harus tetap berjuang dengan gigih dan letih, tentu akan ada kemenangan bagimu”

“Lantas apa yang sebaiknya kami lakukan wahai utusan yang mulia?” Tanya Prabu Asmuda, sang pemimpin kaum Sirkatirum.

Sang Nabi pun menjawab: “Ketahuilah bahwa sesungguhnya apa yang terjadi nanti sudah dipersiapkan sebelumnya. Sejak dahulu kala (jutaan tahun silam) telah dikumpulkan lima buah senjata pusaka yang berasal dari langit. Kelimanya itu memiliki kemampuan yang luar biasa dan pernah dipegang oleh beberapa orang kesatria utama. Dan kini, sudah waktunya pusaka tersebut akan dipergunakan sekali lagi untuk menegakkan ketertiban dunia. Siapapun yang berkenan silahkan mencarinya. Jika engkau berjodoh, kelimanya akan dimiliki. Hanya saja ada satu syarat yang harus dipenuhi. Yaitu menemukan (seperangkat) baju zirah yang bernama Hamurasya. Tanpa itu, maka siapapun takkan bisa memiliki kelima senjata pusakanya. Baju zirah itulah kuncinya”

Mendengar penjelasan itu, semua yang hadir seperti mendapatkan hiburan dari kegundahan hati. Hanya saja Nabi Muriya AS tahu bahwa mereka masih bingung tentang detil apa yang harus mereka lakukan. Karena itulah, sang Nabi segera memberikan petunjuk tentang tahap demi tahap yang harus dikerjakan. Bagi yang berminat maka seleksinya ketat, karena memang tidak untuk semua orang dan khusus bagi yang sudah memiliki bekal keilmuan yang cukup. Dan kepada yang sudah lulus seleksi, maka dengan telaten sang Nabi pun membimbing mereka sampai pada tahap akhir persiapan diri. Selanjutnya tergantung mereka sendiri untuk meneruskannya. Sedangkan tentang hasilnya, itu semua akan tetap sesuai dengan kehendak dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Seseorang hanya bisa berusaha dan berserah diri.

Singkat cerita, setelah lebih dari 30 tahun mereka yang mencari pusaka langit itu mulai kembali. Meskipun mereka telah mendapatkan ilmu dan kesaktian baru karena ber-tapa brata, tapi tak ada satupun yang berhasil mendapatkan baju zirah Hamurasya. Tidak ada, kecuali Prabu Asmuda. Ia berhasil mendapatkannya setelah bertemu dengan seorang Malaikat yang berada di dalam lautan. Sang Malaikat yang bernama Hibral itu menjelaskan berbagai hal dan memberikan petunjuk kepada sang prabu agar ia bisa memiliki baju zirah Hamurasya itu. Atas bimbingan tersebut, akhirnya sang raja mendapatkan baju zirah sakti tersebut.

Lalu, setelah mendapatkan seperangkat baju zirah Hamurasya (helm, baju, celana, sepatu, tameng, dll), Prabu Asmuda diperintahkan oleh Malaikat Hibral untuk kembali ber-tapa brata selama 5 tahun di puncak gunung Mighala. Di tahun yang terakhir, tiba-tiba ia berpindah ke dimensi lain. Disana sang prabu bertemu dengan para leluhurnya, para Nabi, para Dewa-Dewi dan makhluk mulia lainnya. Atas kehendak Hyang Aruta (Tuhan YME), Prabu Asmuda akhirnya menerima amanah untuk menggunakan kelima pusaka sakti buatan para Ainur itu. Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, kelima senjata pusaka itu disimpan di sebuah peti khusus yang bernama Qurasya oleh Nabi Muriya AS. Peti itu pun memiliki kemampuan yang luar biasa, karena mampu menyimpan benda apa saja, sebanyak apapun itu, tanpa pernah kesempitan. Dan peti tersebut tak perlu dibawa-bawa atau ditempatkan di sebuah ruangan khusus, karena akan muncul atau menghilang sesuai dengan keinginan dari orang yang memilikinya.

Demikianlah semua benda pusaka buatan para Ainur itu akhirnya menjadi milik Prabu Asmuda. Dan jika kita menilik penjelasan sebelumnya, maka inilah maksud sebenarnya kenapa dahulu Nabi Muriya AS mengambil pusaka-pusaka itu lalu menyimpannya di sebuah peti yang bernama Qurasya. Semuanya itu tentu ada maksud dan tujuannya, yang ternyata untuk mempersiapkan manusia dalam menghadapi perang dahsyat antar alam dan dimensi kehidupan. Dan akhirnya dengan perjuangan yang gigih dan ditambah dengan bantuan dari berbagai pihak termasuk benda pusaka, manusia mampu memenangkan pertempuran yang sangat dahsyat itu. Sungguh luar biasa.

Tambahan info: Dalam pertempuran dahsyat itu banyak sekali jenis makhluk yang terlibat, termasuklah para Dewa-Dewi dan Bhatara-Bhatari. Karena itulah, Bulan dan beberapa planet yang ada di dalam sistem tata surya kita sampai hancur berkeping-keping. Semuanya bisa terjadi karena memang kekuatan dan kesaktian yang dikeluarkan oleh para pesertanya sangatlah luar biasa. Hanya atas izin Tuhan saja, maka Bulan dan planet lainnya itu bisa kembali seperti sedia kala. Seorang Malaikat ditugaskan untuk “menciptakan” ulang Bulan dan planet-planet yang hancur itu hanya dalam waktu singkat. Karena itulah hingga kini masih ada dan bisa kita saksikan sendiri.

Sedangkan mengenai kondisi Bumi, dikarenakan Bumi tidak cukup luas untuk dijadikan medan pertempuran, maka ia tidak sampai hancur walaupun sudah begitu banyak kerusakan yang terjadi. Oleh seorang Malaikat, maka kondisi alamnya dikembalikan seperti semula. Semuanya kembali normal kecuali mereka yang sudah tewas atau kota-kotanya yang hancur. Bahkan dibeberapa wilayah atau negeri telah “dimunculkan” beberapa varietas tanaman dan species hewan yang baru. Sungguh ini adalah hal yang luar biasa dan belum pernah terjadi sebelumnya. Dan tak ada yang aneh atau mustahil disini, karena semuanya sudah atas izin dan kehendak Tuhan. Sangat mudah bagi-Nya.

3. Kerajaan Armantiyah dan pertempuran antar dimensi
Pada menjelang akhir periode zaman ke enam (Nusanta-Ra) atau sekitar 30.000-35.000 tahun lalu terdapatlah sebuah negeri yang kini berada di sekitar kawasan Timur Tengah. Nama negeri itu adalah Armantiyah, dengan ibukotanya yang bernama Hassalam. Namun demikian, ada kisah tersendiri sebelum negeri tersebut bernama Armantiyah. Sejak ±200 tahun sebelumnya, negeri tersebut telah didirikan oleh seorang raja bernama Himaliyah. Ia berasal dari kaum Israiliyah yang sejatinya masih keturunan dari Nabi Musa AS. Silsilah keluarganya masih terhubung langsung dengan utusan Tuhan yang mulia itu, sang penerima kitab suci Taurat.

Ketika Himaliyah baru dilantik menjadi raja, maka sejak saat itu pula ia menetapkan nama kerajaannya sebagai Messantin atau yang berarti kekuatan yang baik. Dibawah pemerintahannya, kerajaan itu bisa hidup makmur dan terus menapaki tangga peradaban yang tinggi. Namun karena itu pula ada kerajaan lain yang merasa tidak suka dan iri kepadanya. Kerajaan besar itu bernama Urhan. Mereka tak mau tersaingi dan ingin menguasai kerajaan
Messantin sepenuhnya. Dengan begitu, mereka pun merasa bisa menjadi lebih hebat dan semakin kaya raya. Keserakahan telah membutakan hati mereka.

Singkat cerita, persaingan di antara kedua kerajaan itu (Messantin dan Urhan) terus terjadi selama beberapa generasi. Sampai akhirnya setelah lebih dari 200 tahun, keduanya harus memutuskan siapakah yang paling berkuasa di kawasan Iltasirin (penamaan kawasan Timur Tengah kala itu) dengan jalan berperang. Tidak bisa ada dua “matahari” dalam sebuah kawasan. Sehingga dalam pertempuran besar itu, setelah 5 hari berlalu akhirnya kerajaan Messantin bisa menang. Malang bagi kerajaan Urhan karena rajanya yang bernama Sunggar harus tewas saat bertarung dengan raja Messantin yang bernama Wisaniyah. Dalam hukum perang saat itu, ketika rajanya gugur maka semua pasukannya harus menyerah kalah.

Selanjutnya, setelah pertempuran besar itu selesai, secara otomatis kerajaan Urhan menjadi bagian dari kerajaan Messantin. Berselang tiga bulan kemudian, raja Wisaniyah mendapatkan petunjuk dari seorang Nabi bernama Maliya AS agar ia mengganti nama kerajaannya menjadi Armantiyah atau yang berarti makmur dan sejahtera atas petunjuk Tuhan. Kerajaan ini lalu menjadi yang terbesar di zamannya, diakui sebagai pusat peradaban dunia, dan mampu berdiri selama lebih dari 2.500 tahun.

Catatan: Meskipun sama-sama dari kaum Israiliyah, kehidupan dari kerajaan Messantin atau Armantiyah ini terjadi jauh sebelum masa kehidupan Nabi Dawud AS dan Nabi Sulaiman AS. Mereka berasal dari generasi yang sangat berbeda dan bahasanya pun juga berbeda. Rentang waktunya adalah ribuan tahun. Namun demikian, Nabi Dawud AS itu berasal dari garis keturunan raja-raja di kerajaan Armantiyah ini. Salah satu leluhurnya ada yang pernah menjadi raja di kerajaan besar tersebut. Sehingga bukanlah hal yang aneh jika kemudian Nabi Dawud AS dan anaknya Nabi Sulaiman AS juga menjadi raja yang agung. Keduanya masih berdarah bangsawan yang terhormat.

Waktu pun berlalu selama beberapa tahun. Suatu malam Prabu Wisaniyah bermimpi melihat ada pertempuran yang sangat dahsyat yang belum pernah ia ketahui. Dalam mimpi itu, sang prabu menyaksikan ada begitu banyak jenis makhluk yang terlibat pertempuran. Batas antara alam dan dimensi kehidupan terbuka dan karena itulah ada banyak makhluk lain yang datang ke Bumi ini dan membuat kehancuran dimana-mana. Sungguh keadaan saat itu sangat kacau balau, penuh kehancuran dan banyak menelan korban jiwa. Begitulah sang prabu terus bermimpi hal yang sama selama tiga malam berturut-turut. Karena sangat penasaran, akhirnya ia memutuskan untuk ber-semedhi selama beberapa waktu di hutan agar mendapatkan petunjuk.

Setelah tiga hari ber-semedhi, akhirnya sang prabu mendapatkan petunjuk melalui seorang utusan Tuhan yang bernama Nabi Maliya AS. Melalui sosok yang sangat kharismatik itu, sang prabu mendapatkan penjelasan bahwa mimpinya itu adalah apa yang akan terjadi nanti. Karena itulah, ia harus berusaha untuk mendapatkan semua benda pusaka yang pernah dimiliki oleh Prabu Asmuda. Hanya dengan begitulah keadaan yang sangat pelik itu akan mampu dilalui. Meskipun nanti akan jatuh banyak korban jiwa dan kehancuran yang dahsyat, masih ada harapan untuk bisa menang. Terlebih ketika mereka tetap beriman dan berserah diri kepada Tuhan.

Singkat cerita, sang Nabi membimbing Prabu Wisaniyah untuk bisa mendapatkan pusaka sakti buatan para Ainur itu. Tahap demi tahap diikuti dengan tekun oleh sang prabu. Setelah lebih dari lima tahun, akhirnya sang prabu siap untuk menempuh ujian yang terakhir yaitu ber-tapa brata di atas lautan dan di puncak gunung. Pada saat ia sudah ber-tapa brata selama 2 tahun di atas lautan, sang prabu akhirnya bertemu juga dengan Malaikat yang bernama Hibral. Sang Malaikat lalu memberikan bekal ilmu dan bimbingan agar sang prabu bisa mendapatkan baju zirah Hamurasya. Selanjutnya, setelah berhasil mendapatkan baju zirah yang sakti itu, Prabu Wisaniyah harus ber-tapa brata lagi tapi dengan cara berdiri di atas satu kaki selama 3 tahun di puncak gunung Altar. Di tahun yang ketiga, tiba-tiba tubuh sang prabu berpindah ke dimensi lain. Seperti Prabu Asmuda sebelumnya, disana Prabu Wisaniyah juga bertemu dengan para leluhurnya, para Nabi, para Dewa dan makhluk suci lainnya. Atas izin dan kehendak Tuhan, akhirnya peti Qurasya beserta isinya lalu diserahkan kepada sang prabu untuk dipergunakan dalam menegakkan kebenaran dan ketertiban di dunia.

Lalu, selang lima tahun kemudian apa yang telah dijelaskan oleh Nabi Maliya AS pun terjadi. Sejak tiga hari sebelumnya, dimana-dimana alam terus bergejolak dan aura negatif terasa begitu pekat. Itu terjadi selama tiga hari tiga malam tanpa henti, sampai pada akhirnya, tepatnya ketika matahari baru setinggi busur di hari ke empat, tiba-tiba dari arah utara terbuka batas antar dimensi manusia (Aryasyi) dengan dimensi kedua (Martayasyi). Selanjutnya menyusul pula batas dimensi lainnya yang jumlahnya sampai 5 buah. Atas peristiwa itu, semua yang tinggal di atas Bumi langsung panik dan histeris. Dalam waktu singkat, dimana-mana sudah terjadi kehancuran dan pembantaian. Hanya bagi mereka yang sudah mempersiapkan diri atau memiliki kemampuan yang khusus saja yang mampu bertahan dari serangan makhluk-makhluk perkasa dari dimensi lain itu. Selain sakti mandraguna, makhluk-makhluk tersebut juga memiliki peralatan perang yang sangat canggih.

Catatan: Sebelum perang antar dimensi pada masa kerajaan Armantiyah ini, pernah terjadi hal yang sama di periode zaman kelima (Dwipanta-Ra). Sempat beberapa kali. Tapi disini sengaja tidak kami jelaskan satu persatu karena nanti akan terlalu banyak uraiannya dan ini tidaklah efisien. Cukuplah dibahas yang di masa kerajaan Armantiyah ini saja. Terlebih ini adalah perang antar dimensi yang terakhir dan berkaitan langsung dengan zaman kita sekarang.

Ya. Belum pernah terjadi di periode zaman ke enam (NusantaRa) itu peristiwa yang sangat menakutkan seperti yang sedang terjadi pada saat itu. Sebagian besar manusia tak bisa berbuat apa-apa selain menjadi korban pembantaian massal. Hanya segelintir orang saja yang tetap bertahan dan melakukan perlawanan. Dan jika tidak dibantu oleh mereka yang baik yang berasal dari dimensi lain, meskipun banyak orang yang sakti dari kalangan manusia Bumi, niscaya akan sangat kewalahan, bahkan dengan sangat mudahnya untuk dihancurkan. Suasana pada saat itu sangat gaduh, menegangkan dan teramat mengerikan.

Dan manusia Bumi tidak hanya harus menghadapi serangan yang mematikan dari dimensi kedua (Martayasyi) saja, tetapi juga dari tiga dimensi lainnya. Dan kekacauan itu pun masih ditambah lagi dengan keadaan dimana ke empat dimensi lainnya itu juga saling serang tanpa ampun. Mereka juga punya hasrat untuk bisa menaklukkan dimensi lain atau mempertahankan diri. Karenanya pada waktu itu kekuatan, kesaktian dan kecerdasanlah yang menjadi andalan. Siapapun yang lemah dalam ketiga hal itu akan binasa atau mudah ditaklukkan. Sebagiannya bahkan sampai ditawan lalu dijadikan budak.

Sungguh, sangat susah untuk menjelaskan dengan kata-kata tentang apa yang terjadi pada saat itu. Imajinasi dalam berbagai film Sci-Fi atau fantasy besutan Hollywood masih kurang hebat. Keseimbangan alam pada saat itu benar-benar kacau. Kekuatan, kesaktian, senjata pusaka dan peralatan perang super canggih berulang kali dikeluarkan oleh semua pihak. Planet Bumi pun tak cukup luas untuk dijadikan sebagai medan pertempuran. Karena itu banyak dari mereka yang bertempur atau bertarung di luar Bumi; di luar angkasa sana. Siapapun yang berada di permukaan Bumi terus-terusan akan mendengar banyak suara yang menggelagar, dentuman demi dentuman yang sangat keras, getaran dahsyat yang mengguncang, dan melihat pijaran api atau sinar yang menyilaukan dari arah luar angkasa.

“Dan berapa banyaknya umat-umat yang telah KAMI binasakan sebelum mereka yang mereka itu lebih besar kekuatannya (lebih sakti dan lebih canggih teknologinya) dari pada mereka ini,…….” (QS. Qaaf [50] ayat 36)

Catatan: Dalam pertempuran dahsyat itu banyak sekali jenis makhluk yang terlibat, termasuklah para Dewa-Dewi dan Bhatara-Bhatari. Karena itulah, pertempuran tersebut sangat luar biasa, sementara dampaknya sungguh mengerikan.

Sebagai contoh, salah satu kedahsyatan yang terjadi pada waktu itu adalah dengan munculnya sosok-sosok yang lebih tinggi dari gunung. Sekilas mereka ini mirip dengan manusia, hanya saja ia bermata tiga, bertangan empat, berambut gimbal yang berpijar (dari api), dan mengenakan pakaian yang berbentuk sisik ular yang berwarna serba hitam. Sangat mengerikan sosok tersebut. Karena saat ia berjalan, daratan segera berguncang dan membuat siapapun akan lari terbirit-birik karena saking takutnya. Para raksasa itu sering mencabuti bukit dan melemparkannya ke arah tempat tinggal penduduk atau siapapun yang berani menantangnya. Suara teriakannya juga memekakkan telinga, bahkan bisa menghancurkan bangunan. Sosok raksasa ini sangat kejam, karena ia tak memberikan ampunan kepada siapapun. Mereka sakti mandraguna dan punya kekuatan yang dahsyat, sehingga terkadang tak peduli apakah itu kawan atau pun lawan. Kerjaannya hanya menghancurkan apa saja yang berada tepat dihadapannya, atau yang bisa mereka lihat dengan jelas. Sejak kedatangannya di Bumi, dimana-mana terjadi kehancuran besar sementara korban jiwanya tak terhitung lagi. Mereka terus mengamuk, memporak-porandakan apapun yang ada, dan sangat menikmati pembantaian yang telah mereka lakukan. Dan tidak mudah untuk menjatuhkan sosok raksasa seperti ini, sebab mereka kebal terhadap berbagai jenis senjata. Hanya dengan kesaktian setingkat Dewa saja yang bisa mengalahkannya.

Sungguh, ada banyak hal yang diluar logika pernah terjadi pada waktu itu. Selain para raksasa, ada banyak lagi jenis makhluk besar yang bersayap dan mereka juga sangat menyeramkan. Ada pula yang berukuran kecil (seukuran manusia) dan berpenampilan tampan atau cantik tapi justru mereka ini yang paling sakti dan licik. Oleh sebab itu, kondisi di Bumi sampai benar-benar gaduh dan kacau balau. Dimana-mana yang terlihat hanyalah kehancuran yang dahsyat dan sangat banyak mayat yang bergelimpangan. Namun, apa yang dikatakan oleh Nabi Maliya AS bukanlah sebuah kebohongan. Meskipun sudah berada di titik nadir kehidupan, akhirnya perlahan-lahan para kesatria yang beriman mampu membalikkan keadaan. Kesaktian dan semua senjata pusaka yang mereka pergunakan saat itu tiba-tiba bertambah kekuatannya. Perlahan tapi pasti, pihak yang baik yang dipimpin oleh Prabu Wisaniyah menjadi lebih unggul.

Kembali ke Prabu Wisaniyah. Ia dan para kesatria yang berjuang bersamanya terus bertempur tanpa kenal takut. Bersama siapapun yang baik dari bangsa Manusia, Jin, Peri, Cinturia, Karudasya, Naga dan mereka yang telah moksa pun sang prabu terus berjuang untuk menegakkan kebenaran sejati dan menciptakan ketertiban dunia. Pertempuran saat itu berlangsung selama 7 hari 7 malam tanpa henti. Perlahan tapi pasti, pihak yang baik yang dipimpin oleh Prabu Wisaniyah menjadi lebih unggul. Dan atas izin Tuhan, setelah bertempur selama 3 hari 3 malam berikutnya, mereka pun dapat menguasai keadaan. Perang dahsyat itu kian mendekati akhirnya.

Selanjutnya, setelah pertempuran dahsyat dan semua kegaduhan tersebut mereda, tiba-tiba turunlah dari arah langit 7 sosok Malaikat. Mereka ini ditugaskan untuk menutup kembali batas antar dimensi dan “mengusir” siapapun yang berasal dari dimensi lain untuk pergi dari muka Bumi atau alam nyata kita (Aryasyi) ini, kembali ke alam atau dimensinya sendiri. Tak ada yang bisa menolaknya, karena tak ada pula yang mampu menandingi kemampuan dari ke tujuh Malaikat tersebut. Dan dengan mudahnya mereka (para Malaikat) segera menutup batas dimensi yang ada dan memerintahkan siapapun untuk kembali ke alam atau dimensinya masing-masing. Disana mereka akan menerima balasan atau hukuman yang setimpal karena siapapun harus tetap mempertanggungjawabkan setiap perbuatannya.

Singkat cerita, keadaan menjadi tenang kembali meskipun dimana-mana sudah terjadi kehancuran yang sangat parah. Bahkan Bulan pun sampai hancur berkeping-keping oleh sebab pertempuran dahsyat kala itu. Hanya atas izin dari Tuhan saja, seorang Malaikat bisa mengembalikan kondisi Bulan yang hancur itu seperti sebelumnya. Begitu pun sebagian kerusakan di muka Bumi juga bisa diperbaiki dalam waktu singkat, bahkan ada yang kembali seperti sedia kala kecuali mereka yang tewas dan gedung-gedung yang telah hancur. Peristiwa seperti itu hanya bisa terjadi pada masa itu saja, tidak pernah terulang lagi sampai hari ini. Zaman dan keadaannya memang berbeda.

Ya. Ada begitu banyak hal yang luar biasa pernah terjadi di masa lalu, khususnya di masa kehidupan Prabu Wisaniyah. Hal-hal yang aneh atau mustahil menurut standar orang sekarang ternyata dulu adalah fakta. Dan perlu disadari bahwa lain dulu maka lain pula sekarang. Setiap zamannya itu punya ciri khas dan model kehidupannya sendiri. Kita tak bisa memakai standar kehidupan sekarang untuk menilai masa lalu. Hasilnya akan sangat berbeda, terlebih perlu diakui bahwa kemampuan manusia sekarang jauh lebih rendah ketimbang manusia di masa lalu. Kemampuan kita sekarang ini tak sampai sepersepuluhnya dari orang-orang terdahulu. Dalam hal ini Al-Qur`an sendiri telah menjelaskannya sebagai berikut:

“Dan orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para Rosul) sedang orang-orang itu belum sampai menerima sepersepuluh[1] dari apa yang telah KAMI berikan kepada orang-orang terdahulu itu namun mereka mendustakan para Rosul-KU. Maka lihatlah bagaimana dahsyatnya akibat dari kemurkaann-KU” (QS. Saba’ [34] ayat 45)
[1] Kita sekarang bukanlah generasi yang terkuat dan paling cerdas. Kemampuan manusia saat ini ternyata belum sampai di angka sepersepuluh dari kaum terdahulu. Mereka dulu (leluhur kita) jauh lebih hebat dari pada kita sekarang. Teknologi, peradaban dan kesaktian mereka jauh lebih unggul dari pada yang sudah kita capai kini.

Untuk itu, ingat dan pelajarilah masa lalu untuk bisa menghadapi masa yang akan datang. Karena tidak menutup kemungkinan apa yang pernah terjadi di masa lalu – khususnya perang antar dimensi – akan terulang lagi di masa kita sekarang. Bersiaplah selalu! Karena dalam sebuah Hadits telah dijelaskan bahwa:

Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Apabila peperangan besar (al-Malhamah al-Kubra) akan berlaku, maka Allah akan menghantar tentara daripada orang bukan Arab, yang akan menjadi sebaik-baik penunggang kuda dan memiliki senjata perang yang lebih hebat daripada orang Arab, dan Allah mengokohkan agama ini dengan mereka” (Sunan Ibnu Majah no. 4090)

4. Daftar raja-raja
Selama berdiri, kemaharajaan Armantiyah ini hidup dalam kemakmuran dan ketertiban. Kota-kota yang mereka bangun terbilang megah dan terbuat dari bahan-bahan pilihan. Penggunaan batu marmer, pualam, granit, giok dan logam mulia (emas, perak, perunggu) adalah hal yang biasa dan bertebaran dimana-mana. Begitu pula dengan berbagai jenis batu permata, kristal dan berlian juga banyak di tempelkan pada beberapa sisi bangunan monumental. Membuat suasana terasa begitu indah dan mengagumkan.

Ya. Taraf kehidupan mereka pun sudah tinggi, sementara ilmu pengetahuan dan teknologinya juga mengagumkan. Tidak kalah dengan kita sekarang, bahkan di beberapa halnya justru lebih hebat. Dengan peradaban yang seperti itu, mereka dapat hidup dalam kedamaian dan terus mengabdi kepada Hyang Aruta (Tuhan YME) dengan baik. Karena itulah, sampai di masa raja ke 45 kerajaan ini menjadi pusat peradaban dunia. Mereka menjadi sesepuh dan kiblat dalam membangunan peradaban manusia. Dalam hal ini tentunya sesuai pula dengan aturan dan hukum Tuhan.

Demikianlah sekilas tentang kondisi di kemaharajaan Armantiyah pada masanya. Dan sebagai pelengkap informasi, disini kami berikan daftar nama para Samu (raja) dan Sidha (ratu) yang pernah memimpin kemaharajaan Armantiyah. Di antaranya yaitu:

1. Wisaniyah bin Mansilayah bin Abtusiyah – > Samu (raja) terakhir kerajaan Messantin sekaligus pendiri kemaharajaan Armantiyah.
2. Ilsunayah
3. Warubayah
4. Hamaninggah
5. Taksiyah
6. Samudalah
7. Albaniyah
8. Murakinah
9. Qashbiyah
10. Haltakiyah
11. Umranah
12. Sinsaniyah
13. Jamidayah
14. Tanhaniyah
15. Latunkayah
16. Yamunala -> seorang Sidha (ratu)
17. Mantriyanah
18. Omhatah
19. Bajamantah
20. Sigartanah
21. Erunamah
22. Danuratah
23. Hayantitah
24. Nahilayah
25. Zaranila -> seorang Sidha (ratu)
26. Furinamah
27. Vaswanah
28. Elbrusinah
29. Keltahiyah
30. Aswandiyah
31. Usbalah
32. Ismindayah
33. Sam’urdah
34. Talmunah
35. Baljinayah
36. Dranuwah
37. Afturah
38. Killanayah
39. Naliwah
40. Lunibalah
41. Jalkutirah
42. Minahila -> seorang Sidha (ratu)
43. Zurtah
44. Arbilah
45. Ultaniyah -> Samu (raja) terakhir kemaharajaan Armantiyah. Di masanya wilayah kerajaan dibagi dua menjadi timur dan barat.

Demikianlah selama lebih dari 2.500 tahun kemaharajaan Armantiyah pernah dipimpin oleh 45 orang Samu (raja) dan Sidha (ratu). Mereka hidup dengan umur yang panjang, dan semuanya telah memimpin kerajaan selama lebih dari 50 tahun. Selama itu, tak pernah terjadi kudeta atau perebutan tahta. Semuanya berjalan lancar sebagaimana mestinya. Hanya saja dimasa raja yang terakhir, Ultaniyah, kerajaan ini harus dibagi dua. Pembagian itu sesuai dengan petunjuk yang telah didapatkan oleh sang raja. Terlebih memang untuk keadilan bagi kedua puteranya pula. Dimana yang tertua bernama Sanggalah mendapatkan wilayah timur, sementara yang bungsu bernama Sunayah mendapatkan wilayah barat. Keduanya lalu memerintah di kerajaannya masing-masing, dan keturunannya bisa berkuasa disana selama lebih dari 300 tahun. Mereka semua memimpin kerajaannya dengan bijaksana, hanya saja tidak lagi memegang pusaka warisan dari Prabu Wisaniyah. Pusaka itu sudah raib sejak raja ke 45 kemaharajaan Armantiyah (Ultaniyah) turun tahta dan mencapai moksa.

Setelah lebih dari 300 tahun terpisah, kedua wilayah itu kembali dipersatukan oleh seorang raja yang bernama Maningtalah. Ia berasal dari kerajaan yang berada di wilayah timur, yang pada waktu itu sudah bernama Simantiyah. Selama berdiri, kemaharajaan yang juga diberi nama Simantiyah ini hidup dalam kemakmuran. Hanya saja itu tak bertahan lama. Setelah lebih dari 700 tahun, kemaharajaan Simantiyah ini ditaklukkan oleh kerajaan yang berasal dari kawasan Asia Tengah sekarang. Kerajaan besar itu bernama Agmura. Dibawah komando Prabu Mulyatara, semua pasukan kerajaan Agmura itu menyerang habis-habisan langsung ke jantung kerajaan Simantiyah. Akibatnya para kerabat istana, pembesar kerajaan dan sebagian besar penduduk kaum Israiliyah yang tinggal di negeri itu harus menyebar ke segala penjuru untuk bisa menyelamatkan diri dan memulai hidup yang baru. Mereka tak ingin dijajah, karena itulah banyak dari mereka yang ingin tetap merdeka dan akhirnya menjadi suku-suku pengembara.

Catatan: Maaf. Dalam hal ini, sesuai dengan protap yang ada maka hanya daftar raja/ratu di kerajaan Armantiyah saja yang bisa diberikan. Untuk kaum Sirkatirum tidak diizinkan untuk di upload dalam blog ini, karena masih harus tetap dirahasiakan. Disini tentulah ada maksud dan tujuannya. Semoga Anda mengerti.

5. Akhir kisah
Setelah perang dahsyat antar dimensi usai, peti Qurasya dan semua pusaka sakti yang berada didalamnya – yang diwariskan oleh Prabu Wisaniyah – tetap berada di kerajaan Armantiyah. Kecuali baju zirah Hamurasya, kesemua pusaka langit itu terus diwariskan di antara keturunan sang prabu yang terpilih. Sampai akhirnya setelah lebih dari 2.500 tahun, peti Qurasya dan semua senjata sakti itu menghilang dengan sendirinya. Tak ada yang tahu dimana keberadaannya. Dan menurut petunjuk yang didapatkan, pusaka-pusaka sakti itu telah kembali ke tempatnya semula dan akan muncul lagi jika sudah waktunya nanti.

Ya. Ini sesuai dengan apa yang pernah dijelaskan oleh Nabi Maliya AS di hadapan kaum Israiliyah yang tinggal di kerajaan Armantiyah. Kata beliau; “Wahai semuanya. Sesuai dengan kodrat yang telah Hyang Aruta (Tuhan YME) tentukan, benda pusaka itu merupakan satu kesatuan dalam kehidupan manusia. Dalam hukum universal yang telah Dia tetapkan, benda-benda pusaka itu adalah (salah satu) syarat keseimbangan bagi tatanan kehidupan makhluk. Oleh sebab itu, jika benda-benda pusaka telah sirna atau tidak lagi dianggap oleh manusia (terutama pemimpinnya), maka akan terjadi ketimpangan dan keributan. Karena (di satu sisi) benda pusaka itu bisa mendamaikan sebuah negeri dan membangkitkan kemakmurannya. Ada kekuatan besar dan energi positif yang dititipkan oleh Tuhan di dalam benda pusaka itu, dan ini akan direspon dengan sangat baik oleh alam. Sehingga seorang pemimpin atau kerajaan/negeri itu haruslah memiliki benda pusaka utama. Dalam hal ini pusaka yang benar-benar bertuah dan punya kemampuan luar biasa. Tanpa hal itu, maka tahta atau legitimasi kekuasaan akan komplang (timpang, kacau, sering gaduh, dan banyak musibah) sementara kondisi alamnya akan berguncang (banyak bencana). Sebuah pemerintahan akan berjalan aneh dan menjauh dari kebenaran. Kalian bisa melihat dan atau merasakannya sendiri.

Untuk itu, carilah pemimpin yang telah memiliki benda pusaka yang direstui oleh Hyang Aruta (Tuhan YME). Adapun ciri-cirinya ia sudah mendapatkan kemampuan yang terdiri dari lima jenis keilmuan. Di antaranya adalah Hillayah, Samiyah, Kuraniyah, Isminayah, dan Astanaliyah. Siapapun yang telah memiliki kelimanya itu, maka dialah sosok yang terpilih. Bukan oleh makhluk, tetapi oleh Tuhan Yang Maha Bijaksana.

Lalu mengenai peti pusaka Qurasya dan semua isinya itu suatu saat nanti akan muncul kembali. Ketika itu seorang pemuda akan menerimanya demi menegakkan ketertiban dunia. Betapa tidak, dizamannya nanti kondisi dunia ini tidak lagi seimbang dan banyak sekali terjadi kerusakan yang disebabkan oleh manusia. Mereka tidak lagi peduli, karena hanya mengikuti hasrat keinginan pribadi. Nafsu dan angkara murka terus diikuti tanpa rasa bersalah. Sehingga banyak dari mereka itu yang lupa diri dan lupa pula dengan Tuhannya sendiri. Hanya segelintir orang saja yang hidup dengan benar-benar mengikuti hukum Tuhan dengan tulus. Selebihnya justru semakin larut dalam kesenangan duniawi yang menipu. Mereka selalu berpura-pura, tamak dan tak lagi mempersiapkan bekal akheratnya. Semua itu terjadi lantaran tiada lagi keikhlasan dan keimanan yang sejati pada hatinya. Segala sesuatu diukur hanya dengan materi dan mereka terus berlomba-lomba untuk menunjukkan siapakah yang paling kaya dan terkenal. Kesederhanaan pun tinggal sebatas ucapan dan slogan. Dimana-mana telah terjadi krisis kemanusiaan karena banyak konflik dan perang yang tak jelas kepentingannya. Tak ada lagi rasa syukur dan cinta yang sejati. Orang shalih dibenci, orang bijak dimusuhi, orang zuhud dicela, sementara mereka yang munafik, suka bermaksiat, serakah dan jahat terus dipuja. Yang bodoh lalu diangkat menjadi penguasa, sedangkan yang pintar harus disingkirkan. Sungguh benar-benar terbalik kondisi kehidupan pada masa itu. Peradaban dunia pun jadi membingungkan. Karena yang salah menjadi benar, sedangkan yang benar justru menjadi salah.

Oleh sebab itu, sesuai dengan hukum keseimbangan dunia, maka kondisi yang sudah rusak parah tersebut harus diperbaiki. Salah satunya dengan mengutus seorang pemuda untuk memimpin perubahan dunia (revolusi). Tanda-tanda kedatangannya adalah alam akan terus bergejolak, sering terjadi gempa dan gerhana (bulan dan matahari) dalam setahun, hujan menjadi salah musim dan gunung-gunung ikut meletus. Sang pemuda berasal dari keturunan yang terbaik namun tersembunyi. Ia adalah sosok yang telah diberkati dan dibekali dengan beragam ilmu pengetahuan dan kemampuan khusus. Mengikuti jejak para leluhurnya dulu, sang pemuda akan berjuang dalam pertempuran dahsyat, lebih dahsyat dari yang pernah terjadi sebelumnya. Tujuannya hanya untuk menunjukkan tentang hakekat kebenaran yang sejati dan menata kembali keindahan dunia. Ia akan bisa menegakkan keadilan dan ketertiban dunia sekali lagi. Dan karena keutamaan dirinya itu, kehadirannya telah dinantikan dari zaman ke zaman. Dia telah dirindukan oleh siapapun yang beriman dan berjiwa bersih”

Demikianlah apa yang pernah disampaikan oleh Nabi Maliya AS tentang arti pentingnya benda pusaka dan kabar masa depan kepada penduduk negeri Armantiyah. Semua orang paham dengan uraian itu. Karenanya secara turun temurun selalu disampaikan dari mulut ke mulut. Ada pula yang sengaja dituliskan di dalam naskah-naskah dan kitab-kitab ilmu pengetahuan. Sempat bertahan selama ribuan tahun. Hanya saja semakin lama informasi ini kian langka dan akhirnya menghilang. Bahkan kini arti pentingnya benda pusaka itu sudah tidak dipedulikan lagi. Hanya segelintir orang saja yang masih mau dan serius memperhatikan benda-benda pusaka. Yang lainnya justru menganggap kuno dan tak berarti. Sungguh amat disayangkan.

Kemudian, di waktu yang lain Nabi Maliya AS pun sempat menyampaikan sebuah pesan dan petunjuk kepada para pembesar kerajaan Armantiyah. Ada beberapa informasi rahasia di dalamnya, dan ini sangat penting bagi masa depan anak keturunan mereka – termasuk kita sekarang. Berikut ini kalimatnya:

“Has namayah naliola kinki rabijah mantruwah. Arban tir sabrus warinau kalta hing tatisa baijih lam art maucah. Ziz almuwa ri harista gharah alamuc waidilah swadin alhimhim. Ellahi narhu arbaya Arkh, Sun, Hils, Magh, Rib, Tar, an Qits yati malbayah hisam. Dihtatu lamudih hagi lainta dran kirdu almuh Sri Maharaja Armutanayasya Dantina Lilbasyara mah aluni jahit. Wijal fatrah sirsali yamuwatah sebala dis Jawih an Swarna erakh nuyan Bhumi swarga hayatih. Ennah sabanti Anduya wijhani sifa laju Ksatriya, Rsi, Dev, Bhat, Nahyang, Syekh, Pri, Jinu, Cintur, Karudasy, Hwan, Witha, Ainur, Nura, Nurrataya, Arnu, Hiir, Wiltra, Riltan, Walluha, Birmanu, Maltasi, Rihasa, Sihara, Himasya, Syilha, Kalsun, Mighal, Zenara, Rastu, Hismal, an Malaik. Sejan aruktah halamun diya ksibat rugani Hyang Aruta elba hadir tasmus albinnura. Man alisha res 1012034657089 miyah kalim aurt massihi yakul tranda baisun asmur. Ahtamaliyah sahayagni karuh himang tarsa nibalah syilhun”

Ya. Kalimat dalam bahasa Namiyah itulah yang terakhir kali disampaikan oleh Nabi Maliya AS kepada pembesar kaum Israiliyah yang tinggal di kerajaan Armantiyah. Setelah itu beliau tidak pernah lagi muncul di muka Bumi ini secara terang-terangan. Hanya kepada sosok yang terpilih saja beliau akan menjumpai, dan biasanya itu terkait dengan tugas yang sangat penting. Beberapa kali secara khusus beliau pernah membimbing para kesatria yang kemudian menjadi pemimpin besar dunia. Sungguh ini suatu keberuntungan.

6. Penutup
Wahai saudaraku. Perlu dipahami bahwa sejarah kehidupan manusia itu bersifat circle, bukan linear. Artinya, apa yang pernah terjadi di masa lalu akan terulang kembali pada kurun waktu tertentu. Terus berulang, sampai semuanya baru akan berhenti ketika Hari Kiamat datang. Lalu tentang perang antar dimensi seperti yang telah diuraikan sebelumnya, maka tidak menutup kemungkinan akan terulang lagi di masa kita sekarang. Bahkan bisa lebih dahsyat dari yang pernah terjadi dulu. Tanda-tanda yang pernah disampaikan oleh Nabi Maliya AS pun telah muncul dan bisa kita lihat atau rasakan sendiri sekarang.

Tapi kini semakin banyak yang tak lagi waspada. Kesenangan duniawi sudah mengangkangi hati dan pikirannya. Yang dulu kesatria kini jadi pecundang. Yang dulu waskita kini telah buta. Padahal dalam sebuah perang besar itu, melumpuhkan pengetahuan lawan adalah yang utama. Dan itu telah terjadi kini. Sehingga banyak yang tidak tahu tentang adanya pergerakan musuh yang begitu besar dan sangat mengerikan. Mereka telah semakin dekat – dengan dimensi kita – meskipun belum terlihat. Tinggal menunggu hari penentuannya saja. Semakin dekatlah waktu yang paling menggemparkan itu. Dan ketika batas dimensi kembali terbuka, sejak saat itu pula kehancuran yang sangat dahsyat akan terjadi lagi. Bahkan lebih buruk dari yang pernah terjadi sebelumnya.

Untuk itu, disini saya, aku dan kami kembali mengingatkan semuanya untuk tetap mempersiapkan diri. Asah terus kemampuan tersembunyi dalam dirimu sendiri dengan mengikuti jejak para leluhur kita yang bijak. Jangan terlena dengan tipu daya setan yang berpura-pura dalam kebaikan dan kemuliaan. Mereka telah banyak menyaru dalam hal apapun tanpa disadari oleh sebagian besar manusia. Karena sudah lama mereka ingin menaklukkan dan memperbudak umat manusia di Bumi ini secara fisik. Dan di akhir zaman inilah penentuan dari semuanya itu akan terjadi. Siapapun yang lemah akan tersingkir dan kalah, bahkan diperbudak atau musnah.

Akhirnya, semoga kita termasuk ke dalam golongan orang yang tidak pernah mengabaikan arti penting dari benda pusaka dan hal-hal yang kadang diluar logika umum. Karena suatu saat nanti, di akhir periode zaman ini, benda-benda pusaka itu (yang bersifat positif) dan sikap yang peduli dengan sesuatu yang diluar logika umum akan sangat berarti. Beruntunglah bagi siapapun yang masih tetap peduli dan mempersiapkan dirinya. Rahayu… _/|\_

Jambi, 31 Oktober 2017
Harunata-Ra

Catatan akhir:
1. Sebagaimana tulisan lainnya, disini pun tidak ada paksaan untuk percaya atau tidak percaya dengan tulisan ini. Itu adalah hak Anda sepenuhnya. Kami hanya bertugas menyampaikan dan mengingatkan saja. Percaya syukur, tapi kalau tidak ya monggo.
2. Ada banyak hal yang tak bisa kami jelaskan disini, ada protap yang harus tetap dipatuhi. Apa yang disampaikan disini hanya sebatas yang diizinkan saja.
3. Bukanlah lebar-lebar cakrawala hati dan pikiranmu. Jangan mau terkekang oleh doktrin yang ada selama ini, yang masih kurang dan belum tentu benar. Karena tulisan ini takkan bisa dipahami oleh mereka yang masih terbelenggu dan atau tidak mau lagi membuka wawasannya.
4. Persiapkanlah dirimu, karena apa yang pernah terjadi di masa kaum Sirkatirum atau kerajaan Armantiyah itu bisa saja kembali terjadi di masa kita sekarang. Tidak ada yang tidak mungkin, terlebih memang kondisi dunia saat ini sudah begitu rusaknya dan telah menunjukkan tanda-tandanya.

Iklan

3 tanggapan untuk “Pusaka Warisan dan Perang Antar Dimensi

  1. Assalamualaikum, Alhamdulillah Puji Syukur KehadiratNya. Pusaka sebagai Tanda-tanda KekuasaanNya banyak bermunculan akhir2 ini. Semua itu sebagai peringatan Bahwa Tujuan hidup manusia adalah menjadi Khalifah yang beriman sesuai kodrat manusia saat DiciptakanNya. Saya sedikit cerita saja bahwa ada seorang kawan yang menemukan artefak baik pusaka, gegabah yang wujud fisiknya sangat berbeda dengan wujud fisik periode kerajaan yang banyak kita ketahui. Penemuan tersebut banyak ditemukan dikedalaman tanah yang lebih dari 5m atau dikedalaman laut pulau Jawa. Setidaknya bisa dibuat referensi Peradaban Masa Lalu bumi Nusantara.

    1. Wa’alaikumsalam.. Terima kasih mas Ari karena masih mau berkunjung, moga ttp bermanfaat.. 🙂
      Hmm.. Coba aja data dan info dari benda” pusaka yg temen mas Ari dapatkan itu di tulis lalu di share.. Lebih bagus tuh utk referensi yg lain..

  2. Assalamualaikum, Alhamdulillah Puji Syukur KehadiratNya. Pusaka sebagai Tanda-tanda KekuasaanNya banyak bermunculan akhir2 ini. Semua itu sebagai peringatan Bahwa Tujuan hidup manusia adalah menjadi Khalifah yang beriman sesuai kodrat manusia saat DiciptakanNya. Saya sedikit cerita saja bahwa ada seorang kawan yang menemukan artefak baik pusaka, gerabah atau benda lain yang wujud fisiknya sangat berbeda dengan wujud fisik periode kerajaan yang banyak kita ketahui. Penemuan tersebut banyak ditemukan dikedalaman tanah yang lebih dari 5m atau dikedalaman laut pulau Jawa. Setidaknya bisa dibuat referensi Peradaban Masa Lalu bumi Nusantara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s