Nusanta-Ra: Konsep Agung Peradaban Sunda

Posted on Updated on

babad nusa jawaWahai saudaraku. Dalam kesempatan kali ini mari sekali lagi kita menggali tentang siapa diri kita sebenarnya sebagai sebuah bangsa? Siapakah kita dalam sejarah kehidupan dunia ini? Karena itu akan membuka cakrawala ilmu dan pikiran kita sendiri sehingga menjadi maju. Dan apa yang kami jelaskan dalam tulisan ini hanyalah sebagian kecil dari apa saja yang seharusnya diketahui oleh generasi masa kini. Karena memang masih banyak informasi yang selama ini menjadi misteri dan tetap terahasia. Tapi seiring waktu, maka satu persatu dari semuanya itu akan terungkap kembali, menjadi satu hal yang nyata dan terang benderang.

Untuk mempersingkat waktu, mari ikuti penelusuran berikut ini:

1. Ajaran SUNDAYANA
Peradaban di tanah Nusantara khususnya di Nusa Jawa sudah ada setidaknya sejak 100.000 tahun silam. Dan untuk bisa memahami sejarah kebesarannya, maka siapapun tidak bisa mengabaikan apa saja yang pernah terjadi di Nusa Jawa dimasa lalu, tepatnya di wilayah yang berada di bagian kulon (barat) pulau Jawa. Artinya kita harus mendalami apa itu peradaban SUNDA yang sesungguhnya.

Kata SUNDA itu sesungguhnya bukan berarti nama etnis (suku) Jawa di bagian barat, melainkan nama sebuah wilayah yang ditimbulkan oleh adanya ajaran “SUNDAYANA”. Ajaran agung ini disebarluaskan oleh Maharaja Resi Prabhu Sindhu-La-Hyang (ayah dari Da Hyang Su-Umbi/Dayang Sumbi, kakek dari Sa Kura-Hyang/Sangkuriang). Nama SUNDAYANA sendiri berasal dari dua suku kata yaitu Sunda yang berarti Insung Sabda (Saya Berucap = Perilaku utama + pencerahan + moksa/kesempurnaan/merdeka) dan Yana yang berarti ajaran. Sehingga bila digabungkan menjadi SUNDAYANA yang berarti ajaran untuk berperilaku utama agar bisa meraih pencerahan demi mencapai moksa (kesempurnaan/merdeka). Inti dari ajaran ini adalah budi pekerti dan ketatanegaraan paripurna yang disebut sebagai La-Hyang Salaka Domas dan La-Hyang Salaka Nagara. Sehingga siapapun yang mau mengikuti ajaran ini akan menjadi manusia yang paripurna dan sempurna.

Ajaran yang disebarluaskan ke sepenjuru dunia oleh Maharaja Resi Prabhu Sindhu-La-Hyang ini kemudian dikenal pula dengan istilah DWI TUNGGAL WANGSA. Itu terjadi karena kedua hal itu (Salaka Domas dan Salaka Nagara) selalu ada dan menyatu di dalam kehidupan sebuah bangsa. Dan untuk meneguhkan atau sebagai penghubung dari kedua konsep ini, maka diperlukanlah satu konsep utama yang disebut dengan ka-Resi-nan. Konsep ini berfungsi sebagai titik tengahnya/penyeimbang, karena peran dari Resi disini adalah sebagai orang yang membimbing atau menyampaikan ajaran itu secara benar. Sehingga dari ketiga konsep dasar ini, maka sejalanlah dengan apa yang pernah diajarkan oleh Maharesi Maglirata yaitu prinsip NATARADHA BHUMI GAYATRI. Ajaran ini di zaman Pajajaran dikenal dengan istilah TRI TANGGU/TANGTU SUNDA BUWANA, yang berisikan konsep tentang Rama + Resi + Ratu. Sementara bagi masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur lebih mengenalnya dengan istilah HAMEMAYU HAYUNING BUWONO (menata keindahan Bumi/dunia).

“Euweuh Agama anu hanteu hade, anu hanteu hade mah lain Agama tapi metakeun Agama jeung laku lampah arinyana anu areumbung ngararti hartina “Ahad” teh Nunggal nu ngan Sahiji-hijina ngan Sahiji bae : Tidak ada Agama yang jelek, yang jelek itu bukan Agama tapi cara mengamalkan Agama dan kelakuan mereka yang tidak mau mengerti apa makna “Ahad” itu berarti Tunggal yang benar-benar hanya Satu hanya Satu-satunya”

Untuk itu, perlu diketahui juga bahwa hakekat dari ajaran SUNDAYANA adalah puncak dari laku utama dari setiap pribadi manusia. Siapapun bisa meraihnya, hanya saja untuk bisa menjadi orang “Sunda (Insung Sabda: Saya Berucap = Perilaku utama + pencerahan + moksa/merdeka)” itu, maka seseorang harus bisa menjadi orang “Jawa (baik, bagus, benar)” terlebih dulu. Karena orang “Jawa” disini pun tidak berarti etnis (suku), melaikan perilaku hidup yang selalu berpegang teguh pada kebenaran sejati. Tanpa hal itu, maka bisa dipastikan siapapun tidak akan bisa mencapai derajat manusia sempurna (Ti-Hyang Sunda).

2. Simbol kenegaraan
Sebenarnya wilayah tempat tinggal kita ini pernah memiliki beberapa nama. Namun pada umumnya banyak orang hanya mengenal nama “Nusantara” saja, padahal awalnya bernama: “Dirganta-Ra” kemudian menjadi “Swarganta-Ra” lalu menjadi “Dwipanta-Ra” setelah itu menjadi “Nusanta-Ra” dan kini disebut “Indonesia”. Dari semua nama itu, maka hanya Indonesia yang keluar dari tata aturan dan tradisi yang ada sejak dahulu kala. Dan karena nama yang “tidak jelas” ini, maka akibatnya telah menjadi bumerang bagi kehidupan bangsa kita. Artinya tidak akan membawa berkah dan karunia sampai nama itu diubah dan dikembalikan kepada nama yang sesuai dengan aturan kuno masa lalu.

Untuk lebih jelasnya, dan agar tidak menjadi tanda tanya besar bagi Anda sekalian, maka kata “Ra” di atas dapat diartikan bukan sebagai dewa atau yang lainnya, melainkan sebagai:

1) Ra, merupakan simbol titik orientasi penyembahan kepada Hyang Aruta (Tuhan Yang Maha Esa), yang diaplikasikan dalam bentuk ketatanegaraan.
2) Ra, merupakan konsep ketuhanan dalam penamaan Nusantara di masa lalu, yang artinya adalah “Bur” atau api atau Matahari atau Maha Cahaya atau Maha Kuasa (Tuhan). Bukan justru matahari itu sendiri.
3) Ra, merupakan identitas bangsa Nusantara di masa lalu yang disebut sebagai Bangsa Bur atau Bangsa Surya (Matahari) atau Negeri Syam (Negeri Matahari), atau bangsa yang selalu membawa cahaya kehidupan. Para peneliti Barat kini terbiasa menyebutnya dengan istilah Bangsa Arya – tentunya dengan pengertian dan tujuan yang berbeda.

Sedikit informasi, bahwa konsep tentang “Ra” ini juga terdapat di peradaban Mesir kuno. Disana Ra (Re atau Amun-Ra) merupakan sosok dewa matahari yang dianggap sebagai dewa tertinggi. Konsep ini mereka dapatkan dari Nusantara, sebagaimana penjelasan di atas. Tapi sayangnya saat itu telah terjadi banyak pergeseran makna, yang seharusnya merupakan simbol dari Tuhan Yang Maha Esa, yang menjadi titik orientasi penyembahan kepada-Nya dan di aplikasikan ke dalam bentuk ketatanegaraan, malah menjadi perilaku sesat (dengan menyembah matahari atau dewa matahari), bahkan rajanya sendiri (Faroh/Fir`aun) yang disembah layaknya Tuhan sendiri.

Begitu pula yang pernah terjadi di Nusantara, misalnya pada saat kehidupan ratu Bilqis atau ratu Boqo. Mereka pun telah salah mengartikan maksud dari konsep “Ra” ini. Mereka menerjemahkan makna dari konsep “Ra” sebagai Maha Cahaya dengan logika yang dangkal. Sehingga jadilah anggapan mereka bahwa yang dimaksud sebagai Maha Cahaya itu adalah apa yang jelas mereka lihat setiap harinya, yaitu matahari. Karena itulah mereka pun akhirnya menyembah matahari, sebagaimana yang sering digambarkan dalam kisah Ratu Bilqis dari negeri Saba` (Wonosobo). Namun, sejak perkenalannya dengan Nabi Sulaiman AS, maka itu semua diperbaiki dan dikembalikan kepada konsep awalnya (sejak di zaman pertama; Purwa Naga-Ra) dulu. Mereka pun kembali kepada konsep “Ra” yang sejati, yaitu menyembah kepada Hyang Aruta (Tuhan Yang Maha Esa).

Selain itu, ada hal lain yang perlu diketahui disini, yaitu tentang makna dari penggunaan senjata pusaka dan bendera. Karena kedua hal itu adalah seperangkat kebutuhan yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara leluhur kita dimasa lalu. Dan dibalik penggunaan perangkat itu, maka ada makna tersirat yang mendalam bagi kehidupan manusia. Yaitu:

1) Simbol senjata pusaka (KUJANG dan KERIS)
Senjata pusaka merupakan alat yang sangat penting dalam kehidupan ini. Tak terkecuali para leluhur kita, mereka pun sudah menggunakannya sejak awal peradaban manusia. Dan di antara senjata pusaka yang terpenting itu adalah KUJANG dan KERIS. Kata KUJANG ini sebenarnya bukan diambil dari bahasa Sunda – khususnya yang ada sekarang, karena sesungguhnya saat pusaka KUJANG pertama kali diciptakan, maka bahasa Sunda pun belum ada. Kata KUJANG sendiri diambil dari bahasa kuno yang pernah ada di Nusa Jawa yang berarti Cahaya Kemuliaan. Bahasa itu bernama Kamiyasa, satu bahasa yang pernah digunakan oleh masyarakat di kerajaan Maltarama (sekitar Garut-Tasikmalaya-Ciamis-Kuningan-Majalengka-Sumedang-Bandung sekarang). Orang yang memperkenalkan kata atau bahkan bahasa ini adalah seorang Maharesi yang bernama Maglirata.

kujang 1

Perlu diketahui pula, bahwa pada dasarnya makna istilah “KUJANG” itu sama dengan “Garuda Pancasila” di zaman sekarang. Artinya, KUJANG itu sama dengan lambang negara yang mengandung inti ajaran ketatanegaraan (ideologi bangsa) atau ageman (pegangan/keyakinan) bangsa Nusantara kuno. Bentuk dari KUJANG itu sendiri merupakan simbol dari “Api” (atau Ra = api/cahaya kehidupan) bagi masyarakat pegunungan (dataran tinggi). Inilah prinsip awal yang dipegang oleh orang-orang yang hidup di wilayah Nusa Jawa dulu.

Selanjutnya, disaat negara “Nusa Jawa” ini mulai mengembangkan diri menjadi Kerajaan Maritim, maka lahirlah bentuk pusaka KERIS sebagai simbol dari Air (Naga atau dunia wanita/Ibu atau Ibu Pertiwi). Kata KERIS pun juga tidak diambil dari bahasa Jawa, karena bahasa Jawa pun – khususnya yang ada sekarang – termasuk bahasa yang masih baru. Di zaman penciptaan awal KERIS dulu, maka bahasa Jawa bahkan belum ada. Jadi, kata KERIS ini sebenarnya diambil dari bahasa kuno yang bernama Hanastarala yang berarti Cahaya Kebenaran. Bahasa ini dulu pernah digunakan oleh masyarakat yang hidup di kerajaan Artimanggala (sekitar Jogjakarta-Purworejo-Magelang-Salatiga-Sragen-Karanganyar-Solo sekarang). Orang yang memperkenalkan kata atau bahkan bahasa ini adalah seorang Maharesi yang bernama Martapirula.

keris naga sasra

Singkatnya, kedua simbol ini melekat pada kehidupan berbangsa dan bernegara di wilayah Nusa Jawa dahulu. Dan ketika simbol KUJANG yang diartikan sebagai “Ra (api/cahaya kehidupan)” dan KERIS sebagai “Naga (Air/Ibu Pertiwi)”, maka terbentuklah konsep NAGA dan RA. Selanjutnya konsep ini lalu digabungkan dan disebut dengan istilah NAGARA atau NEGARA, yang berarti kehidupan di ibu pertiwi (Nusantara) yang terang/bersinar/beradab.

Ya. Konsep Nagara (Naga = air/ibu pertiwi, Ra = api/matahari/sinar/cahaya) yang sesungguhnya mengandung sebuah simbol kekuatan yang dahsyat bila mampu menguasainya. Dengan kemudian menggunakan kedua konsep itu (Salaka Domas dan Salaka Nagara), maka dimulailah era negara besar (kekaisaran) yang menganut sistem kemaritiman. Dimana contoh kerajaannya adalah kerajaan Salakanagara yang ada di Pandeglang, Banten. Konsep ini pula yang kemudian diikuti pula oleh dua kerajaan besar seperti Sriwijaya dan Majapahit.

2) Simbol Dwi Warna (bendera merah putih)
Dimasa lalu, konsep hidup leluhur kita adalah Salaka Domas (budi pekerti) dan Salaka Nagara (ketatanegaraan sempurna). Salaka Domas disini dapat dimaknai sebagai “Ra” atau sumber cahaya, karena itu ia disimbolkan dalam bentuk pusaka KUJANG dan akhirnya mengambil warna MERAH. Sementara Salaka Nagara dapat dimaknai sebagai “Tirta” atau air kehidupan, karena itu disimbolkan dalam bentuk pusaka KERIS dan akhirnya mengambil warna PUTIH. Kedua konsep ini juga berarti hubungan horizontal (hablumminannas/antar sesama makhluk) dan vertical (hablumminallah/antara makhluk dan Tuhan) yang melekat dihati, pikiran dan perilaku para leluhur kita. Inilah konsep Cahaya Kembar yang paripurna yang seharusnya tetap ada di Nusantara ini. Karena konsep inipun adalah warisan dari para Nabi yang pernah bertugas atau hidup di Nusantara pada masa lalu.

merah putih

Dengan demikian, maka makna sebenarnya “BENDE-RA” sama sekali jauh berbeda dengan “flag” dalam bahasa Inggris. Sebab kata “Bende” itu berarti panji atau simbol, dan “Ra” sendiri berarti api/cahaya kehidupan. Sedangkan warna MERAH-PUTIH adalah lambang dari kehidupan keyakinan dan ketatanegaraan bangsa yang telah mampu menciptakan simbol (sistem tanda) yang agung. Karena keunggulan dan keagungan suatu bangsa ditandai oleh kemampuan mereka dalam menciptakan “Bende” atau simbol (sistem tanda) untuk berkomunikasi dan “Ra” atau sebagai tuntunan hidup yang berasal dari Tuhan untuk diikuti. Dan bangsa kita dulu sudah melakukannya sejak ribuan bahkan jutaan tahun silam. Karena itulah mereka termasuk generasi yang hebat dan berjaya.

3. Penutup
Wahai saudaraku. Banyak kepentingan elit dunia yang sengaja menghapus ingatan bangsa ini tentang sejarah masa lalunya. Mereka begitu getolnya untuk mengubah jati diri bangsa hebat ini (kita) dengan berbagai cara; halus atau pun kasar. Dan sungguh sangat disayangkan bahwa peradaban SUNDAYANA pun berakhir dengan ditetapkannya wilayah di sekitar gunung Tambora (Tambo–Ra) di Pulau Sumbawa (Su–Ma–Bawa/Su–Bawa = tua/terakhir) sebagai ke-Ratu-an terakhir yang dipimpin oleh Maha Resi Prabhu Tarus Bawa. Lalu dengan berakhirnya sistem ke-Ratu-an ini – akibat meletusnya gunung Tambora, maka berakhirlah pula era Nusanta-Ra yang jaya. Negeri ini lalu beralih pada sebuah konsep hidup yang jauh dari nilai luhur budi pekerti dan ketatanegaraan yang paripuna. Akibatnya, bangsa ini tak mampu untuk memakmurkan dirinya sendiri. Apalagi untuk menjadi pemimpin dunia, karena justru masih tetap terjajah bahkan sebagai jongos/budak dari bangsa lain.

Ya. Seharusnya era Nusanta-Ra ini tetap ada di tumpah darah kita. Karena perlu diketahui bahwa kata Nusanta-Ra itu sendiri memiliki makna yang mendalam. Nusanta-Ra itu berarti wilayah kehidupan manusia yang bercahaya/berke-Tuhan-an). Mengapa begitu? Itu karena manusia yang dimaksudkan disini adalah pribadi yang bisa mengibarkan Bende/simbol-simbol dari “Ra” (api/sinar terang/cahaya Tuhan). Panji-panji “Ra” atau Api (Bende-Ra) ini lalu dijadikan sebagai lambang negara yang disimbolkan dengan Dwi Warna (Merah-Putih). Bende = Panji, Ra = Api/Cahaya, Merah = Simbol Api, Putih = Simbol Air adalah dua kekuatan dahsyat yang bisa dimiliki jika dikembalikan pada konsep awalnya. Bukan justru tetap bersikukuh dengan konsep ala Barat/Asing yang tentunya tidak akan sesuai dengan karakter dan kultur bangsa ini. Sebaliknya, saat kita mau kembali kepada konsep atau nilai luhur warisan nenek moyang (SUNDAYANA, NATARADHA BHUMI GAYATRI), maka saat itulah kehidupan di tanah khatulistiwa ini akan makmur dan sejahtera.

Untuk itu, tidak ada nama yang lebih baik dari nama Nusanta-Ra/Nusantara bagi negeri kita ini. Karena nama itu sendiri akan sangat berpengaruh pada kehidupan yang ada didalamnya. Salah memberi nama akan menyebabkan banyak musibah dan bencana. Sebagaimana yang terjadi di negeri tercinta ini dari dulu hingga sekarang. Pun, tiada konsep lain yang lebih baik dari apa yang ada di dalam ajaran SUNDAYANA atau konsep NATARADHA BHUMI GAYATRI atau TRI TANGGU/TANGTU SUNDA BUWANA atau HAMEMAYU HAYUNING BUWONO. Karena hanya dengan itulah, bangsa dan tanah tumpah darah kita akan bangkit kembali dan memimpin dunia.

Akhirnya, berbagai konsep, ajaran dan simbol merupakan suatu hal yang tidak mudah untuk diciptakan dalam waktu singkat. Manusia harus melalui berbagai tahapan pengalaman dan proses penghayatan, sehingga intisari tersebut dapat tertuang secara sistematis dalam bentuk simbol dan tulisan. Dan hal itu tidak mungkin bisa dilakukan saat bangsa tersebut masih primitif. Sehingga inilah fakta yang tak terbantahkan lagi, bahwa nenek moyang kita adalah orang-orang yang berilmu tinggi, bahkan mereka pernah menjadi pusat peradaban dunia. Dan apa yang dijelaskan dalam tulisan ini sekedar memberikan perspektif lain kepada Anda tentang sejarah Nusantara, tentang suatu konsep ketatanegaraan yang paripurna, yang mungkin bisa mengangkat derajat bangsa yang kini sangat terpuruk di setiap lini kehidupannya.

Jambi, 10 Juni 2016
Mashudi Antoro (Oedi`)

2 thoughts on “Nusanta-Ra: Konsep Agung Peradaban Sunda

    RYO said:
    November 13, 2016 pukul 8:08 am

    Putra pertama saya beri nama aria aksa ra

      oedi responded:
      November 14, 2016 pukul 2:08 am

      Oh ya? wah bagus tuh mas Ryo, semoga jadi anak yang shaleh dan cerdas..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s