Perlunya Sikap Wawas Diri

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Kali ini kita akan membahas tentang hal yang sering kami sampaikan di blog ini. Dimana perlu dijelaskan lebih detail mengenai apa itu muhasabah alias introspeksi diri. Yang dalam bahasa Arab, istilah tersebut berasal dari kata hisab yang berarti perhitungan atau hasaba yang artinya menghitung. Atau lengkapnya adalah hasiba-yahsabu-hisaaban, dimana arti secara kata perkatanya adalah melakukan perhitungan, sedangkan makna secara syar’i adalah melakukan evaluasi atau introspeksi diri terhadap kebaikan dan keburukan yang telah di lakukan dalam segala hal, baik yang berhubungan dengan Tuhan ataupun dengan sesama makhluk.

Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata muhasabah diartikan sebagai introspeksi. Sedangkan kata introspeksi itu diartikan sebagai peninjauan atau koreksi terhadap (perbuatan, sikap, kelemahan, kesalahan, dsb) diri sendiri. Sehingga bila dimaknai secara lebih luas, maka istilah muhasabah itu adalah cara untuk mengetahui dan mengenal diri sendiri serta potensinya. Kemudian hasil dari ber-muhasabah inilah yang secara langsung akan berdampak pada prilaku, sikap dan ucapannya. Karena prilaku, sikap, dan ucapan seseorang itu diukur berdasarkan potensi dirinya sendiri.

Selain itu, muhasabah adalah pemeriksaan batin secara jujur dan seksama dengan tujuan untuk lebih mengenal diri sendiri baik mengenai kekuatan maupun kelemahan yang datang dari dalam diri sendiri dan yang datang dari luar. Makanya ber-muhasabah itu merupakan cara untuk bisa menguji kesadaran diri. Karena pada dasarnya ber-muhasabah itu sendiri tidak hanya mengingat dan menyesali semua kesalahan dan dosa yang telah diperbuat, tetapi juga mensyukuri segala nikmat dan kebaikan yang telah didapatkan, juga tentang kesempatan yang sudah diberikan berulang kali, atau mengenai apa yang telah kita pikirkan demi untuk terus meningkatkan kualitas diri dan keimanan.

Demikianlah tentang definisi dan makna dari muhasabah atau introspeksi diri. Namun sangat disayangkan hingga kini banyak orang yang salah kaprah lantaran akrab dengan istilah “mawas diri” terkait dengan “upaya mengoreksi atau mengintrospeksi diri” tersebut. Alasannya karena pengguna bahasa Indonesia memang lebih mengintimi kata tersebut sebagai hal yang umum tanpa mengenali lebih dalam. Padahal sesungguhnya kata “mawas diri” itu terhitung keliru dan orang-orang terlanjur menyangka istilah tersebut sudah tepat untuk disamakan dengan muhasabah alias introspeksi diri.

Ya. Ada dua istilah yang mirip dalam penulisan, yaitu “mawas diri” dan “wawas diri”. Dan boleh jadi kesangatmiripan itulah yang memicu kesalahkaprahan selama ini. Bahkan tidak heran apabila pengguna bahasa Indonesia – tak terkecuali para sastrawan, wartawan, seniman, akademisi,  dll – kemudian lebih banyak memakai kata “mawas diri” daripada “wawas diri”. Nah pada titik ini, karena terus memakai istilah yang keliru, secara tidak sadar para penggunanya lebih mendekati tidak tahu dan atau justru malah sok tahu.

Lantas mengapa “mawas diri” itu keliru? Sebab dalam KBBI V, kata “mawas” itu bersinonim dengan orang utan. Sehingga dengan demikian, “mawas” itu pun masih sekerabat dengan kera, monyet, simpanse, berug, atau wanara. Dan bisa jadi “mawas” itu pun sefamili dengan gorila dan babon. Lantas dari keterangan tersebut, apa makna dari “mawas diri” itu sebenarnya? Ya kata tersebut berarti dirinya orang utan atau lebih kerennya adalah orang utan yang tahu diri. Yang pastinya bukanlah mengoreksi diri atau introspeksi diri bagi golongan Manusia.

Jadi, dapat dipahami bahwa konsonan /W/ pada kata “wawas diri” itu akan menjadi /M/ jika dibalik. Sebaliknya juga begitu, dimana konsonan /M/ pada kata “mawas diri” akan menjadi /W/ jika dibalik. Makanya kesangatmiripan itulah yang pada akhirnya telah memicu kesalahkaprahan. Dan tidak heran apabila pengguna bahasa Indonesia lebih banyak memakai kata “mawas diri” daripada “wawas diri” karena terasa lebih enak dilafalkan.

Padahal yang tepat itu adalah kata “wawas diri”. Sebab kata “wawas” itu berarti tinjau, teliti, atau amati. Sehingga “mewawas diri” itu berarti meninjau, meneliti, atau mengamati diri sendiri. Singkatnya ya samalah dengan muhasabah alias introspeksi diri. Sebab kata “wawas” itu diambil dari bahasa Jawa yang sebenarnya tidak benar-benar asing dalam keseharian kita. Faktanya, kita sangat akrab dengan kata “wawasan” (cara pandang atau konsepsi). Bahkan kita juga mengenal istilah wawasan nasional, wawasan Nusantara, atau wawasan sosial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sekali lagi, ada unsur kesangatdekatan atau kesangatmiripan antara “wawas diri” dan “mawas diri” yang menyebabkannya bisa tertukar. Oleh karena itu, mari kita ubah kebiasaan atau paradigma kita selama ini mengenai introspeksi diri. Karena itu identik dengan “wawas diri”, bukannya “mawas diri”.

Dan mari kita kembali pada sikap untuk rutin mewawas diri (laku hening) yang belakangan mungkin jarang di lakukan. Apalagi jika kita kaitkan dengan suasana pandemi Corona (Covid-19) sekarang ini, maka wawas (mindful) itu perlu terus diasuh dan kewawasan (mindfulness) sebaiknya tetap diasah. Tujuannya adalah agar kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Karena hanya orang-orang yang baiklah yang akan terselamatkan nanti – saat transisi zaman ini terjadi. Atau yang bisa mengubah keadaan buruk di dunia saat ini demi masa depan yang cemerlang.

Catatan: Sebagaimana yang sering kami sampaikan kepada para sahabat, maka waktu yang terbaik untuk ber-muhasabah alias wawas diri alias introspeksi diri itu adalah minimal ketika waktu senja (magrib) dan fajar (subuh). Sebaiknya di lakukan setiap hari, atau kalau tidak ya 2-3 hari sekali, atau setidaknya seminggu sekali, khususnya di setiap malam Jumat. Praktekanlah itu dengan tertib, niscaya ketenangan batin dan kebaikan hidup bisa dirasakan.

Pun, sadarilah bahwa kondisi sekarang ini (lockdown, PSBB) adalah kesempatan yang sangat berharga untuk kita semua – atau justru kesempatan yang terakhir – agar bisa kembali ke diri sejati kita sendiri. Sebab jika engkau terbiasa merenungi, maka waktu yang bergulir saat ini terasa semakin cepat berlalu sebagai pertanda akhir zaman. Dan lihatlah, bahwa alam pun semakin tidak bersahabat dengan Manusia. Perhatikan juga dimana-mana sudah terjadi ketidakseimbangan dan ketidakharmonisan, sehingga musibah dan bencana pun datang silih berganti. Kekacauan yang sering terjadi semakin memprihatinkan, dan semua orang hanya berlomba-lomba untuk hal-hal material, sehingga lupa dengan yang immaterial. Sangat jarang yang berupaya untuk lepas dari belenggu duniawi tersebut, karena memang tidak mudah untuk mewujudkannya.

Untuk itu, hanya dengan sering ber-muhasabah atau mewawas diri atau mengintrospeksi dirilah, maka siapapun akan memiliki kesempatan untuk bisa sadar diri dan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Inilah yang sangat dibutuhkan oleh seorang Manusia ketika ia masih hidup di muka Bumi ini. Tujuannya adalah untuk keselamatan dirinya sendiri. Hasilnya adalah kebahagiaan yang sejati.

Demikianlah tulisan ini berakhir. Mugia Rahayu Sagung Dumadi.. 🙏

Jambi, 09 Mei 2020
Harunata-Ra

[Disarikan dari berbagai sumber dan diskusi]

Bonus instrumental:

Satu respons untuk “Perlunya Sikap Wawas Diri

    Abhiseka Ceraka Nusantara said:
    Juni 11, 2020 pukul 2:15 pm

    Reblogged this on ABHISEKA CARAKA NUSANTARA.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s