Diposkan pada Buku_ku, Info Terbaru, Tulisan_ku

Derajat Orang Jawa

Wahai saudaraku. Untuk kesekian kalinya mari kita mengulik sejarah warisan leluhur yang paripurna. Adalah kebanggaan tersendiri untuk bisa mengetahuinya, apalagi bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebab apa yang akan dicapai nanti merupakan puncak dari peradaban Manusia yang sebenarnya. Kejayaan tentu akan diraih, asalkan bangsa ini mau kembali sadar akan jati dirinya sendiri.

Nah untuk mempersingkat waktu, mari ikuti uraian berikut ini:

Dalam pemahaman leluhur orang Jawa, maka derajat Manusia itu terdiri dari tiga tingkatan. Kesemuanya harus di laksanakan dan di lalui satu persatu untuk bisa meraih kesempurnaan hidup. Tidak ada jalan yang mudah disini, karena harus disertai dengan ketekunan dan kesabaran hati yang tinggi. Hasilnya tentu akan sebanding dengan perjuangannya.

Adapun ketiga maqom (derajat) Manusia itu adalah sebagai berikut:

1. Kasekten
Ini adalah derajat pertama yang bisa dicapai oleh setiap orang. Dan pada dasarnya secara bahasa Kasekten itu sama artinya dengan kesaktian atau kekuatan/kemampuan yang dimiliki. Artinya disini seseorang itu telah memiliki kemampuan lebih atau harta yang berlimpah atau kedudukan/jabatan yang tinggi dalam hidupnya. Ini bukanlah hal yang salah, hanya saja perlu sangat hati-hati disini. Karena sebenarnya Kasekten itu bukanlah bukti dari kemuliaan seseorang. Meskipun seseorang sangat pintar, kaya raya, sakti mandraguna atau tinggi jabatannya, maka itu tak lebih dari sekedar alat untuk bisa membuktikan dirinya saja, atau cara untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain. Hanya sebatas itulah fungsinya.

Oleh sebab itu, jika seseorang masih ingin membuktikan dirinya atau mendapat pengakuan dari makhluk, itu artinya ia masih terbelenggu dan derajatnya terhenti di level pertama ini. Seseorang belum bebas merdeka dan menuhankan Tuhan yang benar. Tuhannya adalah materi dan pengakuan dari orang lain itu. Sehingga ini bukanlah hal yang luar biasa dan patut dibanggakan. Siapapun tak lebih hanyalah sebagai budak dari duniawi semata.

Tapi bila ia mampu menggunakan semua Kasekten yang dimiliki itu hanya untuk tujuan kebaikan dan kemaslahatan bersama, maka perlahan-lahan ia akan mulai memahami hakekat dari materi duniawi ini dan akan belajar untuk bisa terlepas dari ikatannya (materi duniawi = hal yang menjadi belenggu hati dan jiwanya menuju kebebasan sejati). Jika terus bertahan dalam sikap ini, ia baru bisa dikatakan telah hijrah dan akan terlepas dari ikatan materi duniawi. Hasilnya ia akan sampai di tingkat berikutnya, yaitu Kamukten. Tapi jika tidak, maka ia hanya akan terhenti di level terendah ini, dimana itu bukanlah hal yang baik untuk di lakukan.

Catatan: Banyak orang yang hanya berkutat di level terendah ini. Tak terkecuali para pemimpin di negeri ini, juga di seluruh dunia. Mereka masih terlalu ingin diakui dan menunjukkan siapa dirinya dihadapan makhluk. Sifat riya’  dan bangga diri tak jauh dari kehidupan mereka, sehingga lupa bahwa ia (hati dan pikirannya) selalu diawasi dan nanti akan dimintai pertanggungjawaban oleh Tuhan.

2. Kamukten
Arti yang lebih tepat untuk Kamukten itu adalah tujuan hidup yang di landaskan kepada nilai-nilai kejiwaan dan kebenaran yang hakiki. Sehingga untuk mencapai derajat ini, maka kepemilikan yang diraih atau kemampuan yang dimiliki seseorang itu haruslah sudah dimanfaatkan untuk kemaslahatan sesama. Tidak ada lagi keinginan untuk bisa mendapatkan pujian atau pengakuan dari orang lain. Sifat riya’ dan bangga diri itu sudah lama ia tinggalkan.

Selain itu, seseorang juga terus melatih dirinya dengan laku tapa brata yang benar. Yaitu mencukupkan perihal keduniawian hanya sebatas apa yang menjadi kebutuhannya saja. Karena itulah seseorang yang sudah berada di level ini tidak lagi tertarik dengan pangkat-jabatan, harta berlimpah, popularitas, atau pun ilmu ajian kesaktian dan yang sejenisnya. Ia sudah bisa melepaskan itu semua dan fokus hanya kepada pembersihan dirinya menuju Tuhan.

Dengan kata lain, bagi seorang yang berada di tingkat Kamukten ini maka tak ada lagi yang terlalu menarik dari dunia ini. Karena hidup itu adalah sarana untuk bisa selalu mengabdi kepada Hyang Aruta (Tuhan YME). Dunia ini di pandang sementara, semu dan sebatas waktu untuk mempersiapkan bekal kehidupan selanjutnya. Karena itulah dunia ini pun bukanlah cita-cita akhir dari pengabdian hidupnya. Sebab setelah dunia ini berakhir (Kiamat) tentu masih ada alam akherat yang kekal dan abadi. Dan ia hanya ingin nanti bisa kembali kepada Tuhannya dalam keadaan telah di ampuni dan diridhoi oleh-Nya saja. Caranya tentu dengan bisa melepaskan segala ikatan dari hasrat keinginan duniawi ini.

Inilah alasan kenapa pola hidup sederhana dan menikmati hidup dengan penuh kerendahan hati serta rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa menjadi ciri khas dari sedikit orang Jawa yang mengutamakan keadaan jiwanya. Mereka itulah yang sudah sampai di level Kamukten ini. Tidak banyak yang mau dan bisa, sebab derajat Kamukten ini adalah pilihan hidup yang sangat berat dan dipenuhi dengan kesadaran diri. Dan siapapun yang berada di tingkatan ini tetap tidak akan terlepas dari ujian yang lebih berat lagi. Segala daya, potensi diri, kelebihan dan hatinya akan terus diuji dengan ego dan kesombongan diri yang bahkan sering menemaninya. Jika ia mampu melaluinya dengan baik, maka ia akan sampai ke tingkat yang tertinggi, yaitu Kamulyan. Jika tidak, maka derajatnya akan tetap di level kedua ini, bahkan bisa turun lagi ke level terendah (Kasekten).

Artinya, meskipun seseorang telah berada di tingkat Kamukten, maka tetap saja dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk bisa sampai ke derajat yang ketiga (Kamulyan). Hal ini berkaitan dengan latihan kesetiaan atau untuk menjadi setia dalam keberpalingan pada bujuk rayu duniawi dan kesombongan diri (ke-aku-an). Karena semakin ia mendalami derajat Kamukten ini, maka ujian akan ego, kesombongan dan rasa puas diri itu semakin kuat. Sehingga memang sangat dibutuhkan latihan menggunakan getaran kekuatan batin yang bersih dan senantiasa mengintropeksi diri sendiri. Ia harus bisa terus menemukan ketenangan hati dan kedamaian jiwanya tanpa pernah merasa hebat, atau bahkan merasa mampu. Yang berarti ia pun selalu bersikap rendah hati.

3. Kamulyan (kemuliaan)
Dalam bahasa Jawa ada satu falsafah yang berbunyi: “Urip Sing Prasojo Bakalan Pinemu Kamulyan” atau yang berarti jika kita mau hidup dengan sederhana tentunya akan menemukan kemuliaan. Kata kuncinya disini adalah kesederhanaan hidup. Sehingga jika seorang yang berada di level kedua (Kamukten) sedang berusaha untuk tidak lagi memiliki ambisi terhadap apapun di dunia ini (terutama harta, tahta dan popularitas), maka mereka yang berada di level ketiga ini sudah bisa menghilangkan semua ambisinya. Ia telah bebas merdeka dengan berhasil menundukkan ego dan kesombangan dirinya, bahkan ia pun tak lagi memikirkan tentang derajat, kemuliaan atau apapun itu. Telah lama pikiran dan hatinya meninggalkan itu semua dan terus larut dalam percintaannya dengan Sang Maha Cinta.

Lalu jika ia bersentuhan dengan kehidupan makhluk, maka itu tak lebih dari sebatas untuk bisa menegakkan kebenaran dan keadilan serta memberikan manfaat yang luas bagi sesama. Tidak ada kepentingan lain kecuali dua hal itu saja. Karena pikiran, hati dan jiwanya sudah sangat terikat erat dengan Tuhannya saja. Tak ingin lagi ia berpaling atau selingkuh – terutama dengan materi duniawi. Ia hanya melakukan apapun yang sesuai dengan kehendak-Nya saja dengan menghilangkan semua hasrat keinginannya sendiri. Karena cinta sejatinya hanyalah kepada Kekasihnya; Tuhan YME.

Untuk itu, siapapun yang sampai di tingkatan ini adalah pribadi yang waskita dan memiliki kebijaksanaan yang tinggi. Ia bisa memahami apa yang tak dipahami oleh orang banyak, dan mampu melihat dengan jelas walaupun dalam kegelapan suasana. Derajatnya menjadi lebih tinggi namun tanpa merasa bahwa ia sudah mulia dan terhormat. Dirinya justru merasa sangat hina dan sadar bahwa tak memiliki daya upaya apapun kecuali hanya atas izin Tuhannya saja. Semuanya hanya dari dan untuk-Nya saja, sementara dirinya telah lama “sirna” dari hadapan makhluk. Sungguh beruntunglah siapapun yang bisa sampai di level ini, sebab akan mendapatkan kesempurnaan hidupnya.

Wahai saudaraku. Ketiga hal di atas itulah yang merupakan derajat sebenarnya dari orang Jawa, bahkan setiap diri Manusia. Sehingga alangkah baiknya jika ketiganya bisa dipahami lagi oleh bangsa ini, bahkan dunia. Alangkah indahnya jika semua dari kita mau tekun melakoni ketiga prinsip hidup leluhur kita ini. Karena dengannya akan membangkitkan sebuah tatanan masyarakat yang terhormat. Disini artinya juga akan mewujudkan kehidupan dunia yang sesuai dengan hukum dan aturan Tuhan yang sejati. Hasilnya akan bisa menciptakan suasana yang indah, damai dan penuh kebahagiaan.

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita semua. Rahayu… 🙏

Jambi, 04 April 2018
Harunata-Ra

Iklan

Penulis:

Saya orangnya apa adanya... dan untuk lebih jelasnya silahkan baca di halaman "Tentang_ku" pada blog ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s