Diposkan pada Puisi_ku

Saat bersama dulu…

Saat itu ketika kita masih bersama
Begitu cinta terasa samar di balik tirai tipis
Kau sapa diriku dalam tulus anggun pribadi
Dalam untaian hati penyejuk sukma kita berbicara
Ku puja dirimu lewat tangan tak terlihat
Dalam tingkah pesona indah kita satu tujuan
Oh cantikku…Maafkan aku atas masa lalu…

Jgy, 23 April 2009
Oedi`

Iklan
Diposkan pada Buku_ku, Tulisan_ku

Sebuah Pengakuan

“Ya Tuhan kami, Sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti” (QS. Ali-`Imran [3] ayat 193)

Ya Allah, dalam kehinaan hamba yang fana ini maka dengarkanlah. Dalam kefakiran diriku yang bersimpuh dibawahmu maka kabulkanlah doaku ini. Penuhi ruang yang ada di dalam rongga hatiku dengan cahaya yang hanya berasal dari cahaya-Mu, dengan cinta yang selalu tidak melebihi kecintaanku terhadap-Mu. Ya Rahman, janganlah kau palingkan wajah-Mu dariku yang penuh harap akan ridha-Mu. Hamba tidak peduli Syurga atau Neraka tempatku di hari kelak, namun satu harapanku yang tulus yaitu mendapatkan senyuman dari-Mu di hari waktu pertanggungjawaban.

Ya Rabb, sungguh tak pantas diri ini mengaku beriman kepada-Mu sedangkan hamba sungguh banyak berbuat salah dengan tidak mengetahui tentang hakekat syariat-Mu. Hamba selama ini memang menjalankan perintah-perintah itu namun dengan tanpa kesadaran diri, melainkan atas dorongan nafsu dan hanya ingin diketahui oleh orang lain (Riya`) saja. Hamba memang senantiasa menjalankan syariat agama-Mu itu namun tidak disadari bahwa selama itu pula sebenarnya yang dilakukan bukanlah apa yang sesuai dengan hakekat isyarat dari-Mu melainkan sebuah kemunafiqkan semata. Hamba hanya melakukannya atas dasar rutinitas dan apa yang diturunkan dari para orangtua kami dulu. Hamba kurang cerdas, kurang berhati-hati dan kurang pula dalam berpikir agar benar-benar berjalan di jalan yang lurus. Sehingga tak pelak diri ini seperti kerbau disawah yang hidungnya dilubangi untuk kemudian dipasangi tali dan selalu mengikuti kemana perintah tuannya jika ditarik tanpa memikirkan apakah itu baik atau buruk dan sesuai dengan hakekatnya. Ya Allah, sungguh hina diri ini dihadapan-Mu karena dengan apa yang hamba lakukan selama ini maka tak pantaslah bila mengaku telah Islam dan beriman kepada-Mu, karena apa yang dikerjakan itu belum banyak sesuai dengan hakekat perintah dan aturan-Mu.

Lanjutkan membaca “Sebuah Pengakuan”

Diposkan pada Puisi_ku

Puisi u/-Mu

Adakah tempat kembali?
Aku takut kau akan meninggalkanku seorang diri
Aku tak bisa jauh dariMu dalam kesunyian
Pernahkah Kau menjadikan pengabdianku berarti bagiMu
Adakah sudi merangkul jiwa yang hina ini
Mungkinkah ada tempat untuk kembali

Jgy, 13 April 2009
Oedi`

Cinta membara
Kuratap diri dalam keheningan
Kutatap jiwa bersama ketenangan hati
Membilas rasa yang pernah tersisa
Menggantikan dengan cinta yang membara
Pada kekasih yang tauhid

Jgy, 13 April 2009
Oedi`

Diposkan pada Puisi_ku

Puisi u/ Kekasihku

Cantik kekasihku
Kutatap mata yang indah itu
Terlihat seberkas cerah memantul keindahan disana
Kurengguh manis senyuman itu
Beriring syahdu keikhlasan seorang bidadari
Wahai engkau penghuni nirwana
Bukan ku tak mengagumi keindahan dirimu
Tetapi sudah cukup bagiku dalam keanggunan kekasihku
Wahai engkau penghuni surga
Bukan ku tak memuji kecantikanmu disana
Namun sudah puas bagiku mendapat tempat khusus dihatinya
Bersama kami menjalani hidup
Berdua kami satu dalam cinta

Jgy, 11 April 2009
Oedi`

Aku dan kamu
Aku menatapmu dalam nuansa yang menggembirakan
Aku melihatmu dalam suasana yang membahagiakan
Suka citakan hari dalam senyumanmu
Ceriakan hati kita bersama cinta yang sejati

Jgy, 12 April 2009
Oedi`

Diposkan pada Puisi_ku, Tulisan_ku

Sebuah Pengakuan

Oh Tuhan, aku bukanlah ahli surga
Juga tak mampu menahan siksa neraka

Kabulkan taubat ampuni dosa-dosaku
Hanyalah Engkau pengampun dosa hamba-Mu

Dosa-dosaku tak terhitung bagai debu
Ya Illahi terimalah amal taubatku

Sisa umurku berkurang setiap hari
Dosa-dosaku makin bertambah Yaa Illahi

Hamba yang berdosa datang bersimpuh, menyembah-Mu
Mengaku menyeru dan memohon ampunan-Mu

(Song by: Haddad Alwi)

[Tak kuasa kutahankan airmataku dalam mendengarkan syahdu melodi lagu ini]

Diposkan pada Puisi_ku

Cermin Diri

Kutatap diri ini
Lewat cermin waktu yang telah terlewati
Disana tampak jelas semua amal kebaikan
Dan tidak menutup segelintir dosa keburukan
Kepada diri yang khilaf ini juga bagi mereka yang fana itu
Oh… wahai Engkau Yang Tauhid
Perkenankanlah tobatku ini…

Jgy, 06 April 2009
Oedi`

Diposkan pada Buku_ku

Novel: Tulus Hati Sepasang Kaizen

cover-novel-tulus-hati-sepasang-kaizen-1

Ini adalah sebuah novel yang ditulis oleh seorang mahasiswi bernama Retno Puspa Dewi yang tiada lain adalah adikku tercinta. Dia kuliah di UMY dan mengambil jurusan Hubungan Internasional (HI). Berikut ini sedikit penggalan ceritanya:

“Suamiku, aku ingin, kau mencintaiku bagaikan seorang penyair mencintai pikiran-pikirannya dengan penuh kegembiraan, aku ingin, kau mengingat diriku sebagai seorang pengembara yang teringat akan tenangnya kolam, dimana pantulan cerianya dirimu terefleksikan saat meminum airnya.
Aku ingin, kau mengingat diriku sebagai seorang ibu yang teringat akan anaknya yang ada di surga, sebelum bayi itu melihat cahaya, aku ingin, kau mengingatku sebagai seorang raja murah hati yang teringat akan seorang tawanan yang mati setelah pengampunan menghampirinya, maukah kau berjanji padaku suamiku?”

Kudengarkan dengan senyum mengembang di kedua bibirku lantunan ayat-ayat suci itu, pada saat nyawaku sudah sampai di tenggorokan, malaikat jibril menebarkan sayap kanannya, dari sana kubisa melihar gambaran calon tempat tinggalku berupa surga, aku terus menerus memandangi keindahan gambaran surga itu dan timbullah keinginanku untuk segera menempatinya.

Saat itu aku tak mau memperdulikan yang lain, sekalipun eyang, ayah maupun mas Bagas meratap melihat keadaanku dengan pandangan yang menerawang, karena begitu asyiknya aku memandangi gambaran surga itu, maka berbahagialah aku dengan kuburku yang menjadi pertamanan dari taman-taman surga, izrail-pun melaksanakan tugasnya tanpa belas kasih, dan secara perlahan kumulai memejamkan kedua mataku sambil mengucapkan syahadat.