Diposkan pada Puisi_ku

Ketika…

Ketika diri diam dan mataku menyalang kepada keharibaan malam yang
sunyi
Jiwaku berkelebat ambil bagian pada gejolak rasa yang terbias
Pada keindahan melodi cinta yang agung
Oh… sungguh bermakna

Jgy, 04 Maret 09
(Oedi`)

Iklan
Diposkan pada Buku_ku, Puisi_ku, Tulisan_ku

Alam Kemuliaan Cinta

oedi-sundak-2-047

Oh betapa dunia ini begitu mempesona dengan tiada henti sejak diizinkan oleh Tuhan sebagai tempat tinggalnya para manusia. Keindahannya tidak saja hadir bersama panorama dan kebagusannya melainkan ketika setiap hari yang dilalui adalah dalam pasang surutnya kehidupan, dengan kebahagiaan dan kesedihan bersama kekasih yang paling dicintai. Dan ketika seperti sekarang dimana keduanya telah berjabat erat bersama kesedihan dalam hidup maka tentunya akan senantiasa membawa mereka pada hangatnya pelukan sang cinta sejati. Mereka dengan sabar menjalani apa yang telah menjadi takdir dan keinginan dari Yang Maha Kuasa untuk dilalui.

Setelah kedua anak manusia ini menyanyikan melodi kesedihan dan kerinduannya secara bersamaan, maka wajah hari semakin erat merangkul mereka dalam pesona cinta yang semakin agung. Keduanya telah pula meninggalkan hiruk pikuk kehidupan dunia menuju alam kemuliaan cinta. Di dalam alam itu keduanya tercekal dan dipaksa untuk menetap disana selama beberapa waktu. Karena sang cinta sebagai penguasanya telah merestui mereka menjadi pasangan yang tulus dan setia. Kondisi ini begitu menggodanya, sehingga akan membuat iri para manusia pendengki dan pengkhianat cinta suci.

Bujukan sanubari yang resah hanya ketika terdiam dan tidak bercerita terus memotivasi keduanya bersama dalam biduk kemesraan. Dan ini terus bertahan oleh karena keduanya benar-benar terlarut didalam kemuliaan sebuah cinta. Tidak dengan cinta yang sesaat saja, melainkan sebuah ruh kehidupan yang secara keseluruhan merenggut kendali seorang hamba dalam berprilaku. Sebuah cinta yang senantiasa mengawal dengan bijak perjalan kakinya untuk melangkahi lorong-lorong kehidupan. Cinta yang dengannya itu pula telah berhasil membawa keduanya bersama kasih dan sayang. Untuk kemudian berpadu bersama kesetiaan dan pengabdian yang tulus.

Jgy, 2007-2009
Oedi`

[Sebuah cuplikan dari novel terbaruku “Perpisahan Cinta”]

Diposkan pada Tulisan_ku

Indahnya Bershalawat kepada Rasulullah Saw

“Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari kiamat yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan. Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya” (QS. Al Mu’min [40]: 18)

Kepada engkau saudaraku terkasih, kutanyakan kepadamu tentang seberapa besar rasa cintamu kepada Baginda Nabi Muhammad Saw?? Sudah sejauh mana pula wujud kecintaanmu itu terlaksana? Karena jika segala tindakan tidak di dasari rasa cinta yang tulus maka akan mengaburkan segala makna dan faedah yang ada. Dan cintamu kepada Rasulullah adalah penyelawat akhir dirimu di hadapan Allah pada saat hari waktu pertanggungjawaban.

Cinta adalah sumber dari segala perbuatan. Karena cinta akan senantiasa membawa hati dan jiwamu pada puncak kebahagiaan. Cinta yang dibarengi dengan keihklasan, ketulusan dan tuntunan yang benar tidak akan surut oleh penderitaan hidup. Bahkan ketika kita senantiasa melakukan sesuatu atas dasar mencintai maka meskipun terbebani oleh penderitaan dan siksaan hidup yang keras, kelak itulah yang dengan sendirinya bisa menuntun kita untuk tetap terseyum dan tiba pada puncak kemuliaan dan keridhoan Allah Swt.

Buat apa mencintai sesuatu bila akhirnya kelak itu pula yang menjerumuskan kita pada lembah dusta dan kemunafiqkan semata. Untuk apa mencintai sesuatu yang olehnya kelak dirimu terkurung dalam api yang menyala-nyala di neraka jahanam. Perbaiki cintamu, luruskan arahnya dan berpegang teguhlah pada syariat yang dituntunkan agar kelak engkau tidak menyesal dibelakangnya. Tingkatkan rasa cintamu itu dengan mengikuti aturan dan seperti yang di firmankan Allah di dalam Al-Qur`an surat Al Ahzab [33] ayat 6: “Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri[24] dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmim dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah)” Sehingga berdasarkan ayat diatas sudah sangat jelas bahwasannya kita sebagai umat harus mencintai Rasulullah itu melebihi cinta kita kepada anak, istri, karib kerabat, saudara, harta benda, bahkan diri kita sendiri.

Saudaraku yang tercinta, di dalam tubuh kita terdapat sebuah benda (daging) yang dengannya akan mempengaruhi segela aktivitas di hidup kita. Sebagaimana yang dijelaskan baginda nabi Muhammad Saw dalam sabdanya: “Dalam tubuh ini terdapat segumpal daging yang memotori semua anggota tubuh lainnya. Jika ia baik, semuanya pun menjadi baik; dan jika ia rusak, semuanya pun macet dan malfungsi. Itulah yang disebut kalbu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Jadi kalbu/hati itu adalah sebagai patokan perilaku yang ada di dalam setiap diri seseorang. Baik ataukah buruk, semua itu akan terpengaruh oleh apa yang ada di dalam kalbunya. Karena sesuai keterangan hadist diatas, maka jelas ia akan mempengaruhi segala tindakan yang ada di dalam diri setiap manusia. Sehingga hati tersebut dalam fungsinya tidak akan bergerak dengan sendirinya, ia akan mengarah pula kepada apa yang didapatkannya dari perasaan dan pengertian kita juga. Ketika kebaikan dan rasa cinta yang terus diusung maka kebahagiaanlah yang akan senantiasa di dapatkan. Begitu juga sebaliknya jika hanya nafsu dan kemaksiatan yang dibangun maka akhir dari semua itu tentunya adalah sebuah penyesalan dan azab Allah yang sangat perih di neraka.

Saudaraku yang budiman, lantas jika demikian sekarang mari kita tanyakan lagi diri ini tentang sejauh mana rasa cinta kita kepada Baginda Rasulullah karena cinta Allah kelak kepada kita akan berdasarkan pula pada cinta kita terhadap kekasih-Nya yaitu Muhammad Saw. Jadi jangan sia-siakan hidupmu untuk mencintai sesuatu yang kelak akan mengalahkan kecintaanmu kepada Allah Swt dan Rasul-Nya. Allah menyindir kita tentang hal bershalawat didalam Al-Qur`an seperti: “Dan takutlah kamu kepada suatu hari di waktu seseorang tidak dapat menggantikan seseorang lain sedikitpun dan tidak akan diterima suatu tebusan daripadanya dan tidak akan memberi manfaat sesuatu syafa’at kepadanya dan tidak (pula) mereka akan ditolong”. (QS. Al Baqarah [2] :123). “Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim” (QS. Al Baqarah [2] :254). “Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari kiamat yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan. Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya” (QS. Al Mu’min [40] :18).

Saudaraku tercinta, di era modern dan globalisasi seperti sekarang ini, perkembangan informasi dan teknologi komunikasi begitu berkembang dengan sangat pesatnya sehingga akan berpengaruh pula pada kebudayaan, tradisi, peradaban, trend dan mode bahkan sampai dengan gaya hidup yang dimiliki oleh setiap bangsa dan agama. Pengaruh dan daya tariknya akan sangat berdampak pada sisi sosial dan spiritual setiap insan manusia. Ada yang positif dan tidak sedikit pula yang berakibat sangat buruk bagi kehidupan. Sehingga pada banyak kesempatan maka setiap diri yang sadar akan adanya kehidupan setelah mati maka kita harus memasang filter dengan harapan terutama diri sendiri dan keluarga terbentengi untuk tidak melakukan sesuatu yang dapat merugikan, baik selama menjalani hidup dan kehidupan di dunia maupun kelak di akherat.

Salah satu contoh filter itu adalah senantiasa menumbuhkan rasa kecintaan kita kepada Baginda Rasulullah Saw dengan bershalawat kepadanya. Terserah yang mana, tapi yang penting kita kerap mengucapkan shalawat itu sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Bisa yang singkat atau yang panjang. Bisa sendirian atau dengan cara bersama-sama dengan orang lain. Yang penting kecintaan yang agung itu diwujudkan dalam sebuah tindakan yang nyata.

Kecintaan kita kepada kekasih-Nya Muhammad tanpa pamrih akan menyelamatkan diri ini. Di dunia, maka kita akan terus meningkatkan ibadah kepada Allah Swt karena biasanya orang yang sedang jatuh cinta akan senantiasa mengikuti perilaku orang yang dicintainya (Rasulullah Saw) sehingga ridha Allah pun akan menyertai. Sedangkan di yaumil akhir kelak tentunya kita mendapatkan syafaat dari baginda nabi Muhammad sehingga bisa terselamatkan pula dari siksa Allah Swt di neraka jahanam. Maka sungguh itu merupakan kebahagiaan dan keindahan yang tidak akan mungkin di dapatkan selama hidup di dunia ini. Engkaupun akan terus bercinta tanpa henti dengan kekasih Tuhan itu, sebagai imbalan rasa cinta yang kau usung dan wujudkan dalam aktivitas kehidupanmu. Karena jiwa dan ruhmu tidak akan merasakan mewangi dan keindahan itu jika tak seiring dengan mereka yang shalih dan cinta kepada Rasulullah Saw secara mendalam pula.

Marilah saudaraku sekalian, kita tingkatkan kembali rasa cinta kita itu dengan senantiasa bershalawat kepada Rasulullah Saw, minimal ketika usai melaksanakan ibadah shalat lima waktu. Minimal ketika dirimu memanjatkan doa kehadirat Allah dengan sebelumnya mengucapkan “Allahumma shalli ala saidina Muhammad wa `ala ali saidina Muhammad” dengan penuh cintanya. Tautkan terus hatimu lurus kepada Nur Muhammad demi mendapatkan syafa`at darinya. Karena mungkin dari yang sedikit itulah nantinya akan menjadi tolak ukur dirimu untuk terus meningkatkan wujud cintamu. Sehingga pada akhirnya kau akan terus berusaha untuk senantiasa bershalawat dan meningkatkan rasa cintamu kepada baginda Rasulullah Saw secara ikhlas di sepanjang hidupmu.

Wahai saudaraku, siapakah diri yang tidak mengharapkan pertemuan di yaumil akhir dengan kekasih-Nya itu dalam penerimaan senyuman termanisnya. Siapakah mereka yang telah memeluk Islam kemudian tidak ingin melihat wajah kekasih-Nya yang paling rupawan itu dalam kedekatan, sebab kebagusan dan ketampanannya membuat iri para malaikat dan seluruh penghuni surga. Sinar yang memancar dari dirinya adalah cahaya makna keindahan yang teramat indah dan akan senantiasa menawan ruhmu pada tempat yang tersusun dari dasar kemuliaan. Ya Muhammad, di hadapan Allah kelak di yaumil akhir, terimalah kami sebagai diri yang teguh pada kecintaan terhadapmu. Masukkan kami kedalam golongan mereka yang cinta dan kasihsayangnya tidak melebihi kecintaan terhadap Allah dan dirimu. Tularkan wangi-wangi cinta itu kedalam kalbu kami, sehingga kami dapat bercinta denganmu di sepanjang waktu hidup ini.

Semoga kita senantiasa menjadi umat yang mencintai Allah Swt dan baginda nabi Muhammad Saw melebihi kecintaan kita terhadap yang lain. Amin.

Wallahu a`lam bishshowwab.

Jgy, Februari 2009
Oedi`

[Kutulis dalam linangan airmata pada saat kerinduanku sungguh memucak kepada cahaya itu]

Diposkan pada Puisi_ku

Coretanku…

Bila hatimu berkata tidak pada kebathilan, maka ikuti terus kemana langkah itu akan berlalu. Namun jika iya, maka hindari, lawan, dan hujat dia dengan segera. Kemudian selalu bertawakal-lah kepada Allah Yang Maha Agung, hingga damai menyertaimu.
(Jgy, 22 Februari 2009, Oedi`)

Kuasailah apa yang belum kau kuasai, tetapi jangan menguasai sesuatu yang tidak sanggup untuk kau sendiri kuasai.
(Jgy, 22 Februari 2009, Oedi`)

Apalagi yang membuatmu lebih berbahagia bila bukan karena berjalan lurus pada hal-hal yang benar dan diridhai?
(Jgy, 22 Februari 2009, Oedi`)

Sejatinya setiap manusia senantiasa dengan sadar mengetahui bila melakukan sebuah kesalahan dan kemunafiqkan. Tetapi egois pribadilah yang membuatnya menjadi buta dan tuli pada rahmat Tuhan.
(Jgy, 22 Februari 2009, Oedi`)

Engkau boleh saja berbangga hati pada dirimu sendiri, namun apakah ada artinya bila kau sendiri tanpa orang lain ?
(Jgy, 22 Februari 2009, Oedi`)

Diposkan pada Puisi_ku

Puisiku…

Raih Hasrat dan citamu
Raih segala hasratmu
dengan tidak pernah memandang nafsu sebagai jalan satu-satunya.
Kejar segala citamu dalam hasrat yang membara
agar tidak dikatakan sebagai hamba yang kufur akan nikmat Tuhan.
(Jgy, 19 Februari 2009, Oedi`)

Apa itu
Apa yang membuatmu bahagia bila bukan karena hidup dalam nuansa cinta yang sejati ?
(Jgy, 19 Februari 2009, Oedi`)

Jalan Cintamu
Jalan cinta yang diinginkan oleh hatimu
adalah lintasan yang lurus kepada keharibaan Sang Maha Agung
di dalam setiap hirup napas hidupmu.
(Jgy, 19 Februari 2009, Oedi`)

Berapa banyak
Berapa banyak kebahagiaan yang kau dapatkan bila disekitarmu masih ada saudara kita yang kekurangan dan larut dalam kesedihan yang panjang??
(Jgy, 19 Februari 2009, Oedi`)

Jangan Pernah
Jangan pernah memendam rasa yang ada di dalam ruang hatimu karena itu akan senantiasan memelukmu hangat didalam penderitaan.
(Jgy, 19 Februari 2009, Oedi`)

Hidup tanpa cinta??
Hidup tanpa cinta bagai siang tanpa mentari,
bagai jasad tanpa ruh,
bagai hidup tanpa udara.
Semua akan terasa hampa dan tidak berarti apa-apa.
(Jgy, 19 Februari 2009, Oedi`)

Diposkan pada Buku_ku, Tulisan_ku

Buku “Kajian Hati, Isyarat Tuhan”

cover-buku-kajian-hati-isyarat-tuhan

Salam cinta dan kebahagiaan kepada engkau saudaraku yang hidup tenang bernaung dibawah sayap cinta Illahi Robbi. Salam penuh kemesraan selembut belaian kasih dan sayang baginda Rasulullah kepada kita sebagai umatnya. Doa dan penghaturan kepada Allah Swt teruntuk dirimu semoga kelak kita dipertemukan kembali di suatu tempat yang jauh dari ketidakbaikan dan penyesalan. Dan semoga Allah Swt senantiasa menyelimuti jiwa dan hatimu pada tebalnya iman dan taqwa yang sesungguhnya.

Saudaraku tercinta, setelah melihat apa yang tengah terjadi disekitar kita sekarang ini dan apa yang telah dihasilkan olehnya dimana banyaknya kemungkaran dan kemunafiqkan oleh umat manusia, maka tergerak hati ini untuk memberikan sesuatu yang akan membahagiakan hatimu sebagai percikan cahaya makna. Sudah menjadi kegembiraanku jika kelak engkau mau membaca dan menyelami apa yang terdapat didalam setiap rangkaian tulisan dibuku ini, karena setiap isinya adalah penjelasan atas sesuatu yang selama ini telah banyak dilupakan oleh para umat manusia. Padahal Allah Swt telah berfirman di dalam Al-Qur`an surat An Nahl [16] ayat 90:  “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”. Karena “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri,….”(QS. Al-Isra` [17] ayat 7).

Saudaraku yang terkasih, tidak ada niat dihatiku untuk mendapatkan kemuliaan oleh engkau wahai manusia karena sudah cukup hanya Allah Swt saja yang menghiburku dalam kenikmatanNya selama ini. Karena  “Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri,….” (QS. Al-Isra` [17] ayat 15). Dan jujur tidak akan pernah aku memperoleh puncak kebahagiaan batin yang penuh selain restu dan bimbingan dari Sang Maha Hidup Allah Swt dalam menuliskan isi buku ini karena aku begitu mencintaimu.

Wahai saudaraku yang budiman, ketahuilah ketika aku menuliskan bait-bait kata di dalam buku ini, maka sesungguhnya selama itu pula aku dibantu oleh Bapakku tercinta sebagai sumbernya. Dari Allah Swt dan melalui perantara beliaulah aku dapat memahami dan menjabarkan kesemua syariat Islam didalam buku ini. Buku ini ditulis seiring dengan keresahan hatiku akan hari depan umat manusia, akan bagaimana kelak jadinya kita hamba Allah Swt, karena telah banyak diantara para alim ulama yang keliru akan hakekat yang sesungguhnya.

Saudaraku, buku ini begitu sederhana sehingga diharapkan dengan selesainya ia dituliskan, maka kepada engkau kuberikan sebuah warisan yang indah ini sebagai pedoman dirimu menjalani hidup dan kehidupan. Kemudian akupun juga mengharapkan kepada dirimu untuk sudi menularkannya kepada diri manusia yang lain sebagai wujud cintamu atas sesama.

Wahai saudaraku, hanya doa dan pengharapan besar kepada Allah Swt terus terhaturkan dihatiku untukmu, sebagai ungkapan rasa kasih sayang dan cintaku yang sungguh mendalam padamu. Tidak ada harta benda atau kedudukan tinggi yang dapat aku tinggalkan karena hanya inilah yang dapat aku berikan sebagai bekal untuk dirimu setelah matiku nanti. Semoga Allah Swt membalasnya dengan kebaikan yang hakiki.

Dan yang terakhir adalah ucapan terima kasihku kepada engkau karena telah membaca, memahami dan melaksanakannya dalam kehidupanmu sehari-hari. Teruslah menjadi sinar dikegelapan suasana, meskipun kecil tetapi sinarmu itu akan membahagiakan banyak manusia. Dan tebarkan selalu benih cinta serta kasih sayang yang ada dihatimu kepada umat manusia, karena dengan itu kita akan selalu bersama tersenyum untuk duduk diatas singgasana kemuliaan nan sejati. AllahuAkbar.

Yogyakarta, 2007-2009
Mashudi Antoro, (Oedi`)

[Sebuah buku yang kutulis bagi mereka yang ingin mencapai hak demi kebenaran]

Diposkan pada Tulisan_ku

Kiyai vs Tukang es Cendol (Kisah bergurunya seorang guru)

Saudaraku sekalian, salam sejahtera untuk kita semua. Salam cinta dan kasih sayang kepada engkau yang melabuhkan hati pada puncak ketenangan hidup. Salam kebahagiaan sebahagia hati yang merindukan cahaya penuh makna keabadiaan hakiki. Salam kedamian, sedamai hatiku yang menyapamu dalam rangkaian tulisan ini.

Pada suatu masa, satu waktu yang telah berlalu dalam gerakan perlahan para detik. Maka kisah ini pernah terjadi diantara dua cucu Adam di dunia. Perjalanannya diawali dengan kisah seorang kiyai pimpinan sebuah pondok pesantren yang akhirnya belajar banyak dari seorang tukang es cendol.

Kiyai tersebut terus bercerita tentang pengalaman dan pelajaran hidup yang telah ia dapatkan bahkan dari seorang tukang penjual es cendol. Pelajaran itu baginya adalah sangat bermakna dan merupakan tamparan perubahan sikap dan akhlak yang kini terus ia terapkan di dalam hidupnya. Ia mengatakan bahwa pada suatu hari ia akan kedatangan beberapa tamu besar di rumahnya. Para tamu itu tidak lain adalah rekan sejawatnya (kiyai) dari pondok pesantren di beberapa kota di sekitar kota kediamannya. Kemudian demi menjamu para tamunya dan berhubung siang itu cuacanya cukup panas maka sang kiyai berinisiatif untuk menyuguhkan minuman segar yang tiada lain adalah es cendol. Kebetulan tidak jauh dari kediaman dan komplek pondok pesantrennya ada seorang penjual es cendol yang tersohor karena kelezatan rasanya. Meskipun tempat mangkalnya hanya di pinggir pematang sawah dan tepat dibawah sebuah pohon mangga. Tempat dagangannya juga hanya berupa gendongan (terdiri dari dua buah gentong yang terbuat dari tanah beserta isinya dan segala peralatannya yang di pikul menggunakan tali dan diikatkan pada sebilah bambu), cara menyajikan juga masih sangat sederhana dan bagi para pengunjung biasanya hanya duduk lesehan diatas tikar pandan yang disediakan. Namun meskipun demikian, pelangggan yang datang kesana bahkan tidak hanya penduduk sekitar pesantren melainkan mereka yang berdomisili jauh di beberapa kota tetangga.

Waktu terus beranjak dan suhu panas siang itu semakin memaksa sang kiyai untuk segera mencari segarnya es cendol. Dengan berjalan kaki dia perlahan menuju tempat si penjual es cendol dalam menjajakan dagangannya. Setiba disana, terang saja seperti kebiasaan masyarakat jawa bila menerima tamu/pelanggan seorang kiyai maka sikap yang ditunjukkan adalah penghormatan yang begitu besar pada kiyai tersebut. Ini dilakukan bukan untuk meng-kultuskannya tetapi sebagai wujud penghormatan kepada orang yang dianggap sudah tinggi tingkat pemahaman ilmu agamanya. Setelah sedikit berbasa basi maka sang kiyai terus mengutarakan maksudnya datang kesana yang tiada lain adalah membeli es cendol. Karena tamu yang datang nanti cukup banyak maka sang kiyai pun berniat untuk memborong semua dagangan si tukang es cendol hari itu. Namun apa yang terjadi? Jawaban dan sikap yang di tunjukkan oleh si tukang es cendol sungguh di luar dugaan sang kiyai, sikap yang diberikan oleh si tukang es cendol pada waktu itu sebenarnya simpel tetapi jika dikaji lebih dalam maka makna yang didapatkan adalah sebuah pelajaran fiqih, aqidah yang sangat luar biasa. Dan dari situlah sang kiyai mendapatkan banyak pelajarannya.

Dengan sikap tenang untuk menolak permintaan sang kiyai yang hendak memborong dagangannya, si tukang es cendol perlahan menjawab “Maaf kyai, sungguh berkah bagi saya bila kyai hendak memborong semua dagangan saya hari ini dan tentunya itu akan sangat menguntungkan bagi saya, karena olehnya saya tidak perlu lagi berlama-lama dalam menjajakan dagangan, sehingga bisa cepat pula mendapatkan keuntungan dan beristirahat pulang kerumah. Namun ada satu hal yang mungkin kiyai lupa atau bahkan belum tahu, bahwasannya saya berdagang itu karena hendak pula saling menolong dan membahagiakan sebagian orang-orang. Tidakkah kiyai ketahui bahwa orang yang berkepentingan dengan es cendol saya ini tidak hanya satu atau dua orang saja melainkan mereka yang juga adalah seorang petani, pegawai, santri, anak-anak, orang tua, dan mereka adalah pelanggan tetap di setiap harinya. Bahkan terkadang mereka juga sangat membutuhkan es cendol ini untuk sekedar melepaskan dahaga. Lantas bagaimana jika hari ini saya menerima permintaan kiyai agar semua dagangan saya di borong? Berarti kalau begitu saya sama saja tidak dapat memenuhi kebutuhan mereka nantinya? Dan saya juga turut membuat mereka kecewa serta tidak dapat memenuhi kebutuhannya. Terus terang saya tidak mau peristiwa itu terjadi karena tentunya akan banyak mudharotnya kelak baik bagi saya sendiri juga bagi para pelanggan saya. Dan saya sangat takut jika kelak Allah Swt murka kepada kita semua di yaumil akhir karena melakukan tindakan keliru ini”

Mendapatkan jawaban sedemikian dari si tukang es cendol, sang kiyai langsung tersadar dan tidak disengaja airmatanya telah mengalir karena tahu bahwa ia telah keliru, pemahaman ilmu agama dan sikap yang dimilikinya selama ini dirasa masih jauh rendah bila dilihat dengan gelarnya sebagai seorang kiyai pimpinan sebuah pondok pesantren. Pemahaman yang ia miliki dirasakan masih kalah jauh rendah dibandingkan dengan seorang tukang es cendol. Sehingga ia pun berkata pada si tukang es cendol “Subhanallah, pada hari ini Allah Swt telah menunjukkan kembali akan kebesaran-Nya dan memberiku sebuah pelajaran yang sangat berharga dalam hidup ini. Allah kembali menegurku dengan peristiwa saat ini. Itu semua adalah melalui dirimu pak, dimana semua yang barusan kau katakan adalah sangat benar adanya dan aku sangat keliru dalam hal ini. Aku tidak menyadari konsep mendasar dari aqidah dan syariat Islam bahkan Hablumminannas (hubungan antar sesama manusia), padahal seharusnya itu terus di jalankan di dalam kehidupan ini. Sungguh aku berterimakasih untuk sebuah pelajaran yang sangat berharga ini dan untuk itu berarti aku hanya akan membeli daganganmu sesuai dengan kebutuhann yang sebenarnya cukup dengan 10 gelas es cendol saja”

Saudaraku terkasih, begitulah pengalaman bergurunya seorang guru agama kepada seorang tukang es cendol. Dan dari kisah diatas baiklah kita mengambil sebuah pelajaran yang sangat berharga seperti sikap sang kiyai yang akhirnya mengakui kekhilafannya karena ketinggian pemahaman ilmu agamanya dikalahkan oleh seorang yang hanya sebagai penjual es cendol. Meskipun si tukang es cendol bukan seorang kiyai tetapi sikap dan pemahaman yang diberikannya sungguh sangat luar biasa, bahkan meskipun seorang kiyai maka tidak banyak yang menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Karena kita terkadang lebih egois terhadap kepentingan diri sendiri tanpa menghiraukan orang lain. Kita terkadang memikirkan diri sendiri dan lupa akan hak serta kebutuhan orang lain. Kita terkadang merasa sudah memahami ajaran dan dalil agama sedalam samudra padahal sebenarnya dalam praktek kehidupan sehari-hari sejengkalpun belum tentu dimiliki.
”Ya Allah… Hamba terkadang tergesa-gesa dan penuh keluh kesah karena dangkalnya ilmu dan pendeknya jangkauan akal terhadap rahmat-Mu.” (Jgy, 02 Maret 2004, Oedi`)

Maka dari itu wahai saudaraku tercinta, mari mulai dari sekarang kita kembali menginstropeksi diri ini bahwa sebenarnya sudah sejauh mana kita memahami ajaran agama yang kita yakini ini. Karena Tuhan tidak menilai kita itu jika diri ini seorang kiyai atau orang biasa, tetapi Dia melihat kita atas dasar kadar iman dan taqwa yang dimiliki. Jangan sampai kita termasuk kedalam golongan orang-orang yang kelak merugi di yaumil akhir, karena hanya memahami sebuah ajaran agama secara kulit luarnya saja dan tidak mengambil apa yang menjadi isi didalamnya.

Semoga kita terus dijauhkan dari sifat tidak terpuji agar kelak di yaumil akhir kita mendapat ridho dan cinta kasih dari Allah Swt. Amin.

Jgy, 18 Februari 2009
Oedi`