Akankah

Huh… ga tau nih kenapa dalam minggu ini setiap berjalannya hari aku sering didera perasaan gundah dan gelisah terutama pada saat malam tiba dan larut menjemput, aku jadi susah untuk tidur alias insomnia…

“Jiwaku kembali tersudut pada masa dimana hampir terjatuh dan tersoek-seok oleh waktu, himpitan yang mendera perasaan ini pun terus menekan hingga batas terendah kemampuanku untuk bertahan, aku terus bertanya kepada hati, akankah ini semacam permainan syahdu melodi gitar Pengambala Surga..?”

Adakah yang bisa membantu atau sekedar memberikan solusi…???

Semoga secepatnya bisa kembali pulih seperti sedia kala…Amiiin

Menggapai Ridha Allah, Meraih Kebahagiaan Sejati

Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Q.S. al-Qashaash [28]: 77).

Kebahagiaan adalah keadaan yang selalu didambakan oleh setiap manusia tak peduli zaman, status sosial, profesi, laki-laki-perempuan, tua-muda, ras, suku bangsa. Dalam perjalanan hidupnya, seseorang akan senantiasa berusaha mencapai kebahagiaan dengan cara yang bermacam-macam. Seorang yang bekerja membanting tulang siang dan malam tujuannya adalah hanya satu, yaitu untuk mencapai kebahagiaan, dan tentu saja harapannya adalah kebahagiaan di dunia dan akhirat. Tetapi ironis, terkadang banyak di antara kita, secara sadar atau tidak, masih saja memilih jalan yang tidak sesuai dengan tuntunan agama. Kita denghan mudah dan senang hati melakukan H3 (halal, haram, hantam).

Mereka adalah pengabdi dunia dan lebih menyukai kehidupan yang segera. Padahal yang demikian sifatnya tidak akan kekal dan hanya sementara, bahkan waktu hidupnya pun pendek sekali karena ia bersifat fana (tidak kekal). Mereka lupa mengingat Allah dan mengasingkan rumah-rumah-Nya, karena mereka lebih menyukai kehidupan dunia. Mereka memerangi kekasih-kekasih Allah dan melanggar hukum-hukum-Nya, mengerjakan hal yang diharamkan dan meninggalkan hal-hal yang diwajibkan. Mereka selalu mengedepankan hawa nafsunya dan mengejar keinginannya yang berupa kebahagiaan dunia semata hingga lalai mempersiapkan bekal yang akan dipergunakan untuk akhirat kelak. Allah berfirman tentang hal ini: “Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak berperang, dan hati mereka telah dikunci mati. Maka mereka tidak mengetahui (kebahagiaan beriman dan berjihad)” (Q.S. At-Taubah [9]: 87). Kebanyakan di antara kita dengan bodohnya melakukan hal di atas dan mengabaikan siksa Allah nanti yang sangatlah pedih. Padahal siksa-Nya itu tidak akan mampu ditolak oleh seorang pendosa.

Dalam buku Cambuk Hati, Dr. Aidh bin Abdullah Al-Qarni menjelaskan “Barang siapa yang menggunakan waktu-waktunya untuk menghimpun harta karena takut jatuh miskin maka dialah yang membuat kemiskinannya sendiri”. Jadi para pengabdi dinar dan dirham (uang) adalah antek-antek dunia, hina, lagi rendah. Mereka tidak punya tujuan dan kepentingan. Yang ada hanyalah tuntutan mereka dalam kehidupan yaitu sandang, pangan, papan dan kesenangan semata. Padahal kita tahu bahwasannya kehidupan di dunia ini hanya bersifat sementara tidak lebih. Selagi kita masih hidup, maka selama itu pula kesempatan diberikan Allah untuk mempersiapkan bekal sebanyak-banyaknya menuju kehidupan akherat yang abadi. Untuk itu Allah berfirman di dalam surat Al-Qashaash [28] ayat 88:

Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, Tuhan apapun yang lain, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. bagi-Nyalah segala penentuan, dan Hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” Jadi jelaslah sudah bahwa tidak ada yang sempurna dan kekal kecuali hanya Allah SWT, Tuhan semesta alam.

Sebagai referensi keseimbangan hidup di dunia dan akherat, adalah salah seorang sahabat Rasulullah, yaitu Salman Al Farisyi. Meskipun ia memiliki jabatan sebagai gubernur wilayah, naun sikap sedehana selalu tampak darinya. Semua gaji yang diterima ia sedekahkan untuk orang lain yang masih berkekurangan. Sedangkan untuk hidupnya beliau masih tetap mencari nafkah sendiri dengan membuat kerajinan anyaman. Dalam satu hari ia menghasilkan uang sebesar 3 dinar dan dengan uang tersebut satu dinar untuk nafkah, satu dinar untuk modal dan satu dinar sisanya masih ia sedekahkan kepada orang lain. Sungguh mulia hatinya. Meskipun gaji yang seharusnya ia terima berlimpah ruah bahkan bisa membangun istana yang megah, tetapi rumahnya sangatlah sederhana. Jika ia berdiri maka sampailah kepalanya menyentuh atapnya, perabotan rumahnya hanya ada dua piring, dua sendok, dua gelas, dan masing-masing satu alat yang digunakan untuk memasak oleh istrinya. Ia berbuat demikian karena takut kepada Allah dan bisa menjadikanya termasuk golongan orang-orang yang mengabdikan dirinya kepada duniawi, padahal sejatinya hanya Allah Tuhan yang wajib di sembah. Juga karena beliau takut nanti di yaumil akhir ketika dihisab menjadi terlalu lama dan banyak sekali tanggung jawab yang harus dipikul oleh sebab banyak memiliki harta benda. Sungguh manusia yang sangat sederhana dan cerdas.

Tentang sikapnya tidak perlu lagi diragukan. Pernah suatu ketika beliau sedang jalan-jalan melihat keadaan wilayahnya dengan berjalan kaki. Kebetulan saat itu ia sedang melintas di depan sebuah kebun kurma yang sedang dipanen. Melihat penampilannya yang sangat sederhana itu oleh sang pemilik kebun ia diminta mengangkat kurma tersebut untuk dibawa ke pasar. Tanpa protes dan dengan tulus serta niat membantu ia bawakan kurma tersebut, namun belum jauh berjalan mereka berpapasan dengan rombongan saudagar dan bangsawan. Melihat gubernur Salman Al-Farisyi maka serta merta para saudagar dan bangsawan tersebut langsung menyapa dan memberi hormat padanya. Melihat itu semua si pemilik kebun sontak terperanjat. Ia menjadi cemas dan ketakutan. Ia langsung bersimpuh dan meminta maaf atas tindakannya kepada sang gubernur. Tetapi apa yang dilakukan oleh Salman Al-Farisyi sungguh di luar dugaannya. Beliau berkata: ”Tenanglah wahai saudaraku, janganlah engkau menjadi takut kepadaku karena hanya kepada Allah lah kita harus takut. Dan sebelumnya aku memang telah berniat untuk membantu engkau mengangkat kurma ini, jadi biarlah aku menyelesaikan niatku ini. Bukankah kita sebagai sesama manusia memang harus saling membantu satu sama lainya.” Dan benar ia angkat kurma tersebut sampai ke pasar. Sungguh pribadi yang mulia.

Memang untuk melakukan hal yang baik dan seperti yang telah dilakukan dan dicontohkan oleh Salman Al Farisyi diatas adalah sangat berat. Untuk mencapai ridha Allah baik di dunia dan akhirat akan terasa sangat berat, terjal mendaki dan penuh onak duri. Namun sesudahnya, setelah kita bisa melalui tantangan dan mencapai puncaknya maka segala kesusahan dan kepayahan yang teralami sebelumnya akan hilang berganti berjuta kebahagiaan abadi sesuai janji Allah yang telah menanti kita dengan setia.

Jadi, kesenangan dunia ini tidak seharusnya terus dituruti karena itu tidak akan pernah ada habisnya, dan nantinya kita sendiri lupa untuk mempersiapkan bekal hidup di akhirat yang jauh lebih penting. Janganlah kita gadaikan kebahagiaan kekal di yaumil akhir dengan kebahagiaan dunia yang sesaat ini. Karena sesungguhnya bila dibandingkan dengan yang ada di akherat nanti maka kebahagiaan di dunia ini tidak akan ada apa-apanya.

Barang siapa yang kikir dengan raganya di jalan Allah, berarti dia kikir terhadap dirinya sendiri dan menurunkan harganya serta akan merugi selamanya di akherat. Karena sebenarnya kita tidak memiliki sesuatu pun dan tidak pula disertai dengan apa pun. Semuanya adalah pemberian, hibah dan anugerah dari Allah Tuhan pemilik alam semesta ini. Dia yang menciptakan, yang memberi rizki, yang memaafkan, yang memiliki sifat lembut dan yang memberi jaminan.

Hanya kepada Allah kita memohon semoga tidak menjadikan diri kita sebagai pengabdi dunia dan melindungi kita dengan pemeliharaan-Nya. Menjaga kita dengan perhatian-Nya dan menetapkan kita pada jalan-Nya yang lurus serta menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang sesungguhnya.

Wllahu a`lam

Penulis: Mashudi Antoro, telah diterbitkan di lembar Jum`at Al-Rasikh-UII tgl 23 Mei 2008 [Teruskan ke alamat…]

Model Keluarga Muslim

  1. Ketika akan menikah, janganlah mencari istri, tetapi carilah ibu bagi anak-anak kita. Janganlah mancari suami, tetapi carilah ayah bagi anak-anak kita.

  2. Ketika melamar, anda bukan sedang meminta kepada orangtua/wali si gadis, tetapi meminta kepada Allah melalui orangtuan/wali si gadis.

  3. Ketika akad nikah, anda berdua bukan menikah di hadapan penghulu, tetapi menikah di hadapan Allah.

  4. Ketika resepsi pernikahan, catat dan hitung semua tamu yang datang untuk mendo`akan anda, karena anda harus berpikir untuk mengundang mereka semua dan meminta maaf apabila anda berpikir untuk bercerai karena menyia-nyiakan do`a mereka.

  5. Sejak malam pertama, besyukur dan bersabarlah anda adalah sepasang anak manusia dan bukan sepasang malaikat.

  6. Selama menempuh hidup berkeluarga, sadarlah bahwa jalan yang akan dilalui tidak akan terus lancer bertabur bunga tetapi juga semak belukar yang penuh dengan onak dan duri.

  7. Ketika biduk rumah tangga oleng, jangan saling berlepas tangan, tetapi sebaliknya justru semakin mempererat berpegang tangan.

  8. Ketika belum memiliki anak, cintailah istri atau suami anda 100%

  9. Ketika telah memiliki anak, jangan bagi cita anda kepada suami/istri dan anak anda, tetapi cintailah istri atau suami anda 100% dan cintai anank-anank anda masing-masing 100% juga

  10. Ketika ekonomi keluarga belum membaik, yakinlah bahwa pintu rizki akan terbuka lebar berbanding lurus dengan tingkat ketaatan suami dan istri.

  11. Ketika ekonomi membaik, jangan lupa akan jasa pasangan hidup yang setia mendampingi kita semasa menderita.

  12. Ketika anda adalah suami, boleh bermanja-manja kepada istri tetapi jangan lupa untuk bangkit secara bertanggungjawab apabila istri membutuhkan pertolongan anda.

  13. Ketika anda adalah istri, tetaplah berjalan dengan gemulai dan lemah lembut, tetapi selalu berhasil menyelesaikan semua pekerjaan

  14. Ketika mendidik anak, jangan pernah berpikir bahwa orangtua yang baik adalah orangtua yang tidak pernah marah kepada anak, karena orangtua yang baik adalah orangtua yang jujur kepada anak.

  15. Ketika anak bermasalah, yakinlah bahwa tidak ada seorang anakpun yang tidak mau bekerjasama dengan orantuanya, yang ada adalah anak yang merasa tidak didengarkan oleh orangtuanya.

  16. Ketika ada PIL (pria idaman lain) jangan diminum, cukuplah suami sebagai obatnya.

  17. Ketika ada WIL (wanita idaman lain) jangan dituruti, cukuplah istri sebagai pelabuhan hati

  18. Ketika memilih potret keluarga, pilihlah potret keluarga sekolah yang berada dalam proses pertumbuhan menuju potret keluarga masjid.

  19. Ketika ingin langgeng dan harmonis gunakanlah formula 5 K ini:

    1. Ketaqwaan

    2. Kesetiaan

    3. Komunikasi dialogis

    4. Keterbukaan

    5. Kejujuran

Dakwah yang Menyejukkan

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. An-Nahl [16]: 125).

Sebagai seorang muslim, sudah menjadi suatu kewajiban bagi kita untuk menyayangi setiap manusia. Lantas mengapa masih saja ada di antara kita yang tetap berada di masjid-masjid sedangkan orang lain membinasakan dirinya? Padahal makna dari cinta dan kasih sayang adalah tidak memilih siapa dan di mana tempatnya. Mengapa kita tinggal diam sedangkan kedurhakaan merajalela dan menyebar ke mana-mana seperti wabah. Tidakkah kita merasa takut bila pengaruhnya akan menimpa diri kita sendiri dan akan mengantarkan kita kepada azab Allah yang sungguh perih di neraka?

Sesungguhnya telah datang waktunya bagi kita untuk menggunakan metode dakwah yang dipakai oleh Rasulullah, yakni dakwah yang menyejukkan. Rasulullah bersabda: “Sampaikanlah dariku sekalipun hanya satu ayat.” (HR. Bukhari, Ahmad Tirmidzi dan lain-lainya). Jadi jelas, anjuran kepada sebuah kebaikan seperti halnya dakwah adalah wajib karena akan membawa kepada kebahagiaan bagi orang yang berdakwah dan keselamatan bagi orang yang mendengarkannya.

Memang benar, Rasulullah SAW telah meraih keberhasilan luar biasa yang belum pernah terjadi hal yang semisal dengannya dalam sejarah manusia, karena Beliau memiliki akhlak dan kesabaran yang agung dalam berdakwah. Bahkan musuh yang datang kepadanya, berbalik menjadi teman. Begitulah keutamaan dakwah yang menyejukkan dan telah dicontohkan oleh Baginda Rasulullah kepada kita. Jadi mengapa kita yang mengaku umatnya tidak menirukan hal yang serupa dengan Beliau?

Allah SWT mencela orang yang menyembunyikan ilmu dan orang yang mengingkari kebaikan yang telah diberikan oleh Allah kepadanya, padahal seharusnya ia serukan juga kepada orang lain. Untuk itu Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah [2] ayat 159-160 yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu di laknati Allah dan di laknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati, kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang.”

Dakwah adalah sebuah metode yang pas untuk menyampaikan wahyu Illahi. Pertanyaannya, bagaimana metode dakwah itu disampaikan? Pada kondisi dan tempat yang bagaimana sebaiknya untuk berdakwah?

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dihindari dalam rangka mencapai dakwah yang menyejukkan:

Pertama, sebagian da`i ada yang menuding para pelaku kemaksiatan dengan menyebut nama-nama mereka secara terang-terangan atau mengecam mereka dan tak jarang dengan caci maki di hadapan orang banyak seraya membeberkan maksiat yang mereka lakukan. Ini jelas salah dan untuk itu Imam Syafi`i mengatakan: “Kemukakanlah nasihatmu kepadaku dengan empat mata, jangan mengemukakannya kepadaku di hadapan orang banyak, sesungguhnya nasihat di hadapan orang banyak sama dengan melecehkan harga diri. Aku tidak mau mendengarnya. Jika engkau menentangku dan tidak mau menuruti saranku maka janganlah terkejut bila nasihatmu tidak ditaati.” Dalam hal ini, kita harus sadar bahwa yang berhak mencaci dan melaknat manusia adalah Allah semata Yang Maha Sempurna. Tidak ada seorang pun manusia yang berhak mencaci dan melaknat manusia lain.

Kedua, banyak da`i menyampaikan dakwah hanya di masjid saja, sedangkan kita ketahui bahwa orang-orang yang datang ke masjid adalah orang-orang yang, meskipun dengan kadar kesadaran dan niatnya masing-masing, sebelumnya pasti sedikit banyak telah mengetahui kebenaran. Sedangkan saudara-saudara kita yang jauh dari ibadah dan tempat beribadah kepada Allah (di tempat-tempat maksiat), tidak tergubriskan oleh mereka (para da`i). Sedangkan mereka mungkin tidak tau apa-apa, atau paling tidak, sulit mendapatkan akses dakwah. Bahkan tidak sedikit pula para da’i yang tidak sudi untuk mendekati tempat-tempat itu dengan berbagai macam alasan. Padahal kita ketahui bahwa tempat-tempat semacam itu jelas bisa mendatangkan dosa bagi mereka. Dan kita berkewajiban untuk mengajak mereka kepada kebenaran, setelah itu barulah kita serahkan lagi kepada mereka untuk mengambil keputusan.

Ketiga, tidak adanya kesabaran kita dalam menyampaikan kebenaran kepada orang yang berhak menerimanya. Kita sering berharap ketika berdakwah maka orang yang mendengarkan langsung menerimanya. Jika tidak, maka setelahnya kita akan pergi meninggalkannya begitu saja serta tidak ada kegigihan dalam bersikap dan berusaha. Padahal Rasulullah saja tidak dengan serta merta bisa langsung diterima oleh bangsa Arab waktu itu. Beliau melakukan dakwah dengan cara bertahap.

Keempat, bahwa sebagian watak da`i ada yang tidak dapat menyampaikan kebajikan secara benar, sehingga kebajikan yang disampaikan terkesan kasar lagi keras sehingga tidak dapat diterima oleh orang lain. Allah berfirman: ”Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhi diri dari sekelilingmu….” (QS. Ali-Imran [3]:159).

”Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah…..” (QS. Fushshilat [41]: 33). Kelembutan dan kasih sayang sebagai senjata dan kesabaran sebagai kendaraannya adalah metode yang sangat ampouh dalam berdakwah, sebagaimana digunakan oleh Rasulullah SAW dan para Nabi terdahulu. Sikap lembut dalam menyampaikan kebenaran lagi diutarakan dengan kasih sayang, bukan dengan menuding orang-orang yang melakukan kedurhakaan, dan tanpa memilih dimana tempatnya, merupakan salah satu faktor meresapnya hidayah ke dalam hati. Hanya dengan cara inilah, manusia dapat dibawa ke jalan kebaikan. ”Sesungguhnya Allah Maha Lembut lagi menyukai kelembutan dalam semua urusan” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, dan lain-lainnya).

Orang yang bijak adalah orang yang menyampaikan sebuah kebenaran dengan lemah-lembut dan penuh rasa kasih sayang. Sadarkah kita bahwa sesungguhnya kita kurang memiliki kebijakan. Sesungguhnya kita kurang memiliki belas kasih. Sesungguhnya kita kurang memiliki cara dan taktik. Kita hanya memusatkan perhatian kita pada masjid-masjid dan meningggalkan tempat-tempat lain. Kalau ahli masjid semuanya dalam keadaan siap, tentu mereka datang untuk menunaikan shalat. Mereka adalah orang-orang yang istiqamah, ahli ibadah, lagi benar melakukan ruku` dan sujud. Akan tetapi, saudara-saudara kita, kerabat kita, anak-anak kita, tetangga kita, dan teman-teman kita yang ada di luar masjid, terlebih tempat-tempat hiburan (maksiat), maka siapakah yang akan menunjuki mereka ke jalan Allah yang lurus? Mari kita berdoa jangan sampai seseorang diantara kita lalai terhadap ayat-ayat Alqur`an karena resikonya sangat besar bagi diri kita sendiri dan tentunya orang lain di akhirat nanti. Jadi mari dari sekarang kita mengevaluasi dan memperbaikinya.

Ya Allah sesungguhnya kami telah berserah diri, beriman dan membenarkannya. Maka dari itu ya Allah, bukalah untuk kami pintu perkenan-Mu. Tolonglah kami dengan hidayah dan inayah, berilah kami dengan karunia dan kenikmatan serta anugerah dalam pemberian-Mu, kembalikanlah yang hilang dari tangan kaum muslim selama ini. Ya Allah, berilah kami petunjuk ke jalan-Mu yang lurus dan teguhkanlah kami pada kebenaran sampai kami bersua dengan-Mu di yaumil akhir nanti.

Segala puji bagi Allah Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dan semoga shalawat beserta salam tercurahkan sebanyak-banyaknya kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, keluarga, para sahabat, para mujahid dan para alim ulama.

Wallahu a`lam bishshowwab.

Penulis: Mashudi Antoro, telah diterbitkan di lembar jum`at Al-Rasikh tgl. 29 Juni 2007. [Teruskan ke alamat…]

Sikap Islam Terhadap Kaum Perempuan

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (QS. Ar-Ruum [30]: 21)

Ada sebuah opini di barat yang mengatakan bahwa Islam membolehkan suami untuk memukul istrinya. Dan katanya suruhan itu terdapat di dalam Alqur`an. Ini jelas merupakan tindakan yang jauh dari beradab dan sangat menghina martabat kaum wanita. Begitulah opini mereka. Bagaimana sikap kita umat Islam dalam menghadapi opini tersebut? Bila kita tidak bisa memberikan penjelasan yang benar, maka akan merugikan Islam dan umat Islam.

Opini yang sangat mendiskreditkan itu memang seringkali dilontarkan oleh media Barat. Itu terjadi karena ketidaktahuan mereka terhadap Islam yang sesungguhnya, dan sayangnya banyak masyarakat awam di Barat sana yang menelan mentah-mentah opini itu. Padahal tidaklah benar anggapan yang mengatakan bahwa ajaran Islam menganjurkan kepada umatnya untuk melakukan tindakan tidak beradab seperti itu. Rasulullah bersabda ”la tadhribuu imaalah” yang artinya ”jangan kalian pukul kaum perempuan”. Dan dalam hadits lainnya beliau menjelaskan ”bahwa sebaik-baik lelaki atau suami adalah yang berbuat baik pada istrinya”.

Memang di dalam Alqur`an ada sebuah ayat yang membolehkan seorang suami memukul istrinya. Tetapi harus diperhatikan dengan seksama, alasan apa yang melatarbelakangi kapan seseorang boleh memukul istrinya? Istri yang bagaimana? Dalam situasi seperti apa? Tujuannya untuk apa? Dan cara memukulnya bagaimana?. Ayat tersebut terdapat dalam surat An-Nisa [4] ayat 34 yang artinya ”……. sebab itu, maka wanita yang sholeh ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu kuatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka dari tempat tidur dan pukulah mereka. Kemudian jika mereka menaati, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

Jadi seorang suami boleh memukul istrinya jika ada indikasi istrinya tersebut telah nusyuz. Nusyuz adalah tindakan atau perilaku seorang istri yang tidak bersahabat pada suami. Dalam Islam suami-istri ibarat satu jasad, jasadnya adalah rumah tangga. Keduanya harus saling menjaga, saling mengingatkan, saling menghormati, saling mencintai, saling menyayangi, saling mengasihi, saling memuliakan dan saling menjaga. Istri yang nusyuz adalah istri yang tidak lagi menghormati, mencintai, menjaga dan memuliakan suaminya. Istri yang sudah tidak lagi komitmen pada ikatan suci pernikahan. Misalnya, istri selingkuh dengan pria lain.

Jika seorang suami telah melihat gejala nusyuz dari istrinya maka Al-Qur`an memberikan tuntunan bagaimana mengambil sikap sehingga dapat mengembalikan istrinya ke jalan yang benar. Tuntunan itu terdapat dalam surat An-Nisa ayat 34 seperti yang telah disebutkan diatas. Disitu Al-Qur`an memberikan tuntunan melalui tiga tahapan:

Pertama, menasehati istri dengan baik-baik, dengan kata-kata yang bijaksana, kata-kata yang menyentuh hati. Dan tidak diperkenankan untuk mencela dengan kata-kata kasar. Baginda Rasul sendiri melarang hal itu karena kata-kata yang kasar lebih menyakitkan daripada tusukan pedang.

Kedua, jika cara pertama tidak mempan kemudian coba dengan cara pisah tempat tidur. Sikap ini bertujuan agar sang istri bisa merasa dan instropeksi diri. Dengan teguran seperti ini diharapkan istri bisa kembali sholeh. Karena istri yang benar-benar mencintai suaminya maka ia akan sangat terasa jika sang suami tidak mau tidur dengannya.

Ketiga, namun jika ternyata si istri memang bebal, naruninya telah tertutupi oleh hawa nafsunya dan tidak mau juga berubah setelah kedua peringatan sebelumnya, maka barulah cara ketiga digunakan, yaitu memukul. Nah, yang sering tidak dipahami oleh orang banyak adalah bagaimana ’prosedur’ pemukulan yang dikehendaki oleh Alqur`an itu. Suami boleh memukul dengan syarat: 1) Telah menggunakan kedua cara sebelumnya; 2) tidak boleh memukul muka; 3) tidak boleh menyakitkan (tidak sampai membekaskan luka).

Jadi dalam Islam seorang suami tidak diperkenankan memukul dengan sesuka hatinya. Sang suami harus mengikuti ketentuan yang telah dituntunkan di dalam ajaran Islam, karena jika tidak bukan penyelesaian yang didapatkan tetapi semakin banyaknya masalah yang akan mendera kehidupan rumah tangganya.

Rasulullah SAW sendiri juga pernah memberikan teladan kepada kita dalam menjaga keharmonisan rumah tangga. Diceritakan suatu ketika Beliau pulang larut malam dan ketika itu Siti Aisyah sudah tertidur pulas, Rasul dengan kecintaannya kepada sang istri dan tidak ingin mengganggu, Beliau tidak membangunkannya agar membukakan pintu karena tahu sang istri sedang beristirahat. Kemudian Beliau dengan sabar serta penuh pengertian tidur di luar rumah (bangku) saja. Dan ketika Siti Aisyah terbangun untuk melaksanakan shalat tahajjud tentu saja ia terkejut ketika mendapatkan Rasulullah tidur di luar rumah. Dan ketika Nabi terbangun apa yang dilakukannya? terlebih dahulu Beliau meminta maaf kepada Siti Aisyah karena telah pulang larut malam. Begitulah sikap Rasul yang sangat memuliakan wanita dan ini sesuai dengan ajaran Islam. Dari contoh tersebut kita bisa menyimpulkan bahwa jika seorang istri diperlakukan seperti yang dilakukan Rasulullah maka tentunya kecintaan dan sikap hormat terhadap sang suami akan semakin bertambah.

Dengan menghayati benar-benar kandungan ayat suci Al-Qur`an dan sikap dari Rasulullah tersebut maka akan jelas sekali seperti apa sebenarnya ajaran Islam. Dan begitulah ajaran Islam dalam menyikapi seorang istri yang berperilaku tidak terpuji. Tetapi coba kita lihat ratusan data tentang perlakuan tidak manusiawi yang telah dilakukan oleh orang-orang Eropa pada istri mereka. Di Inggris beberapa abad yang lalu istri tidak hanya boleh dipukul tapi juga boleh dijual dengan harga beberapa poundsterling saja. Di Roma dengan imperium Romawinya yang sering disebut telah memiliki sebuah peradaban yang tinggi, apakah telah memposisikan kaum wanita sebagaimana seharusnya, apakah mereka telah memanusiakan manusia ketika mereka memperlakukan wanita dengan menperjualbelikannya layaknya hewan peliharaan?

Maka dari itu, apakah seperti yang telah dituduhkan dan diopinikan oleh Barat selama ini yang menyebutkan bahwa Islam telah menganggap rendah martabat kaum wanita itu benar? Apakah tuntunan yang bertujuan untuk menyelamatkan bahtera rumah tangga karena ada gejala istri yang hendak nusyuz kepada suami dan hendak menodai ikatan suci pernikahan dianggap sebuah perbuatan tiada beradab? Apakah mencegah dengan berusaha agar istri tetap sadar dan kembali taat serta tidak berbuat seenak nafsunya dan menghancurkan rumah tangga dianggap sebagai sikap menghinakan martabat kaum wanita? Dan apakah ajaran yang indah dan humanis seperti ini masih juga dianggap tidak adil dan beradab? Coba kita bandingkan dan pikirkan.

Islam sangat memuliakan wanita dan hanya seorang lelaki mulia yang memuliakan wanita. Dan surga itu berada dibawah telapak ibu (kaum wanita). Ini sungguh sangat bertolak belakang dengan apa yang telah diopinikan oleh bangsa Barat. Jika kita kaji lebih jauh sepertinya ada kepentingan-kepentingan tertentu yang telah memboncenginya dengan tujuan merusak opini tentang Islam dan pada akhirnya menghancurkan umat Islam. Dan kita umat Islam yang beriman jangan sampai ikut larut pengaruh yang tidak baik dari orang-orang, kelompok, dan bangsa yang tidak menginginkan Islam menjadi sebuah kekuatan besar seperti dahulu beberapa abad yang lampau, ketika Islam mencapai masa keemasannya.

Untuk mencegah itu semua maka kita umat Islam tidak boleh hanya tinggal diam, mari kita tunjukkan kepada dunia dengan mengabarkan bahwa opini mereka tentang Islam yang tidak menghargai martabat kaum wanita selama ini merupakan suatu hal yang keliru dan perlu dilakukan pembenaran dengan pernyataan dan argumentasi. Kemudian lanjutkan dengan cara memberikan teladan yang baik seperti yang telah di tuntunkan di dalam kitab suci kita Alqur`an dan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW.

Semoga kita menjadi orang-orang yang selalu memuliakan wanita serta menjunjung tinggi Al-Qur`an dan As- Sunnah sebagai pedoman untuk hidup bahagia di dunia dan akhirat.

Wallahu a`lam bish-showwab.

Penulis: Mashudi Antoro, telah diterbitkan di lembar jum`at Al-Rasikh tgl. 15 Juni 2007. [Teruskan ke alamat…]

Cinta Adalah Sumber dari Segala Perbuatan

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Ali-Imran [3]: 31)

“Ada tiga hal, barang siapa yang mendapatkannya maka ia akan merasakan manisnya iman, Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai daripada selainnya, ia mencintai karena Allah, ia benci untuk kembali kekafiran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana ia benci dilemparkan ke neraka”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Lanjutkan membaca “Cinta Adalah Sumber dari Segala Perbuatan”