Diposkan pada Puisi_ku

Cinta dan Kebahagiaan

Cinta akan terasa duka bagi mereka yang menjadikan sebuah cinta itu hanya sebagai kebutuhan semata, padahal cinta adalah sebuah perngabdian dan ketulusan.
Cinta akan menyesakkan dada seorang generasi muda bila ia berusaha menghirupnya dengan paksaan, karena dalam cinta hanya ada napas yang berhembus perlahan namun pasti dalam kebahagiaan.

Jgy, 17 Maret 2009
Oedi`

Iklan
Diposkan pada Puisi_ku

Luweh Becik

Wong urip ing alam ndunyo iki kudhu laku jujur lan tancah nandur kebencian
Luweh becik nelungkup tenimbang melumah
Luweh becik mesemi tenimbang diesemi

Jgy, 18 Maret 2009
Oedi`

Diposkan pada Adventure, Kabar_ku, Tulisan_ku

Agenda Perjalanan Gunung Lawu (07-09 Maret 2009)

lawu-7-9-mare-09-28 lawu-7-9-mare-09-13 lawu-7-9-mare-09-3

lawu-7-9-mare-09-5 lawu-7-9-mare-09-20 lawu-7-9-mare-09-16

lawu-7-9-mare-09-10 lawu-7-9-mare-09-21 lawu-7-9-mare-09-14 lawu-7-9-mare-09-27

Dalam mengisi waktu liburan dan sekaligus melepas kerinduan akan alam pegunungan, kuhabiskan waktu tiga hari di gunung Lawu. Perjalananku kali ini kalau tidak salah adalah yang kali kedelapannya. Sungguh penuh dengan makna keindahan yang agung.

 07 Maret 2009:
1. Berangkat dari Jogja, jam: 09.00
2. Tiba di basecamb depan masjid An-Nuur, jam: 12.30
3. Istirahat, makan siang, jam: 13.30
4. Shalat, packing, jam: 14.00
5. Mulai jalan jam: 14.30
6. Bayar (@ 5000×2), mengurus perizinan, jam: 14.33
7. Streaching, jam: 14.35
8. Mulai mendaki, jam: 15.00
9. Tiba di pos bayangan 1, jam: 15.20 (istirahat, buat minuman energi)
10. Tiba di pos 1, jam: 16.16 (istirahat, minum)
11. Tiba di pos 2, jam: 18.15
12. Istirahat, shalat magrib, jam: 18.15-18.30
13. Masak kopi dan mie, jam: 18.45-20.27
14. Ngobrol-ngobrol dengan pendaki dari Semarang, Madiun, Solo, Jakarta, Ponorogo, jam: 20-30
15. Packing ulang, jam: 20.35
16. Shalat Isya, jam: 21.07
17. Mulai jalan menuju pos 3, jam: 21.20
18. Tiba di pos 3, jam: 23.15

 08 Maret 2009:
1. Tiba di pos 5, jam: 01.05
2. Tiba di sendang drajat, jam: 01.35
3. Istirahat dan makan buah pir, jam: 01.35-03.55
4. Menuju puncak, jam: 04.00
5. Tiba di puncak, jam: 04.26
6. Foto-foto sunrise di puncak, jam: 05.00
7. Mulai turun, jam: 05.55
8. Singgah di sebuah pendopo, jam: 06.25
9. Tiba di sendang drajat lagi, jam: 06.40
10. Ambil air dan kenalan dengan pendaki wanita dari klaten, jam: 06.40-07.00
11. Tiba di pos 5, jam: 07.25
12. Mendirikan dome, jam: 07.30
13. Memasak nasi, sup, sarden, goren tempe krispi, jam 07.45
14. Makan siang, jam 09.55
15. Istirahat, jam: 10.15
16. Hujan sangat deras, jam 12.05
17. Kebanjiran (tenda sedikit bocor dan air menggenangi bagian bawah tenda dome), jam 12.22
18. Memperbaiki dome, jam: 15.00
19. Ngobrol, diskusi dan makan mie kriyuk, jam: 15.45
20. Menikmati penorama sore yang cerah dan foto-foto, jam: 16.40
21. Makan malam dan buah pir, jam: 19.00
22. Ngobrol dan diskusi, jam: 19.15-20.30
23. Istirahat, jam: 20.15
24. Tidur, jam:

 09 Maret 2009:
1. Menikmati panorama dan foto-foto, jam: 05.00-07.30
2. Sarapan pagi (mie+sosis, sarden), jam: 07.40
3. Packing, jam: 08.50
4. Streaching, jam: 09.30
5. Mulai beranjak turun, jam: 09.45
6. Tiba di pos 3, jam: 10.30
7. Tiba di pos 2, jam: 11.57 (istirahat+ nelpon)
8. Mulai jalan menuju pos 1, jam: 12.05
9. Berhenti karena harus memperbaiki tali carrier yang hampir putus dengan cara menjahitnya menggunakan jarum dan benang yang telah dipersiapkan, jam: 12.50-12.58
10. Tiba di basecamb, jam: 13.00
11. Istirahat dan beli syal, jam 13.15
12. Mulai beranjak pulang, jam: 13.30
13. Berhenti untuk memakai jas hujan, jam: 14.06
14. Berhenti untuk mengambil uang di ATM, jam: 14.52
15. Berhenti untuk memperbaiki motor di bengkel, jam: 15.00
16. Beranjak pulang, jam: 15.15
17. Berhenti di SPBU untuk mengisi bensin, jam: 16.22
18. Tiba di Jogja (minum di burjo), jam: 17.20

Sebuah perjalanan mendaki gunung yang dilakukan berdua saja dan dalam kondisi sangat santai dan bersahaja. Ini adalah perjalanan yang sangat berbeda dari sebelumya karena disini kami banyak berbagi dan berdiskusi tentang banyak hal. Tidak ada batasan dan tentunya banyak pula hikmah dan pelajaran yang dapat diambil.

Pelaku: Oedi`, Dika

Diposkan pada Puisi_ku

Ketika…

Ketika diri diam dan mataku menyalang kepada keharibaan malam yang
sunyi
Jiwaku berkelebat ambil bagian pada gejolak rasa yang terbias
Pada keindahan melodi cinta yang agung
Oh… sungguh bermakna

Jgy, 04 Maret 09
(Oedi`)

Diposkan pada Buku_ku, Puisi_ku, Tulisan_ku

Alam Kemuliaan Cinta

oedi-sundak-2-047

Oh betapa dunia ini begitu mempesona dengan tiada henti sejak diizinkan oleh Tuhan sebagai tempat tinggalnya para manusia. Keindahannya tidak saja hadir bersama panorama dan kebagusannya melainkan ketika setiap hari yang dilalui adalah dalam pasang surutnya kehidupan, dengan kebahagiaan dan kesedihan bersama kekasih yang paling dicintai. Dan ketika seperti sekarang dimana keduanya telah berjabat erat bersama kesedihan dalam hidup maka tentunya akan senantiasa membawa mereka pada hangatnya pelukan sang cinta sejati. Mereka dengan sabar menjalani apa yang telah menjadi takdir dan keinginan dari Yang Maha Kuasa untuk dilalui.

Setelah kedua anak manusia ini menyanyikan melodi kesedihan dan kerinduannya secara bersamaan, maka wajah hari semakin erat merangkul mereka dalam pesona cinta yang semakin agung. Keduanya telah pula meninggalkan hiruk pikuk kehidupan dunia menuju alam kemuliaan cinta. Di dalam alam itu keduanya tercekal dan dipaksa untuk menetap disana selama beberapa waktu. Karena sang cinta sebagai penguasanya telah merestui mereka menjadi pasangan yang tulus dan setia. Kondisi ini begitu menggodanya, sehingga akan membuat iri para manusia pendengki dan pengkhianat cinta suci.

Bujukan sanubari yang resah hanya ketika terdiam dan tidak bercerita terus memotivasi keduanya bersama dalam biduk kemesraan. Dan ini terus bertahan oleh karena keduanya benar-benar terlarut didalam kemuliaan sebuah cinta. Tidak dengan cinta yang sesaat saja, melainkan sebuah ruh kehidupan yang secara keseluruhan merenggut kendali seorang hamba dalam berprilaku. Sebuah cinta yang senantiasa mengawal dengan bijak perjalan kakinya untuk melangkahi lorong-lorong kehidupan. Cinta yang dengannya itu pula telah berhasil membawa keduanya bersama kasih dan sayang. Untuk kemudian berpadu bersama kesetiaan dan pengabdian yang tulus.

Jgy, 2007-2009
Oedi`

[Sebuah cuplikan dari novel terbaruku “Perpisahan Cinta”]

Diposkan pada Tulisan_ku

Indahnya Bershalawat kepada Rasulullah Saw

“Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari kiamat yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan. Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya” (QS. Al Mu’min [40]: 18)

Kepada engkau saudaraku terkasih, kutanyakan kepadamu tentang seberapa besar rasa cintamu kepada Baginda Nabi Muhammad Saw?? Sudah sejauh mana pula wujud kecintaanmu itu terlaksana? Karena jika segala tindakan tidak di dasari rasa cinta yang tulus maka akan mengaburkan segala makna dan faedah yang ada. Dan cintamu kepada Rasulullah adalah penyelawat akhir dirimu di hadapan Allah pada saat hari waktu pertanggungjawaban.

Cinta adalah sumber dari segala perbuatan. Karena cinta akan senantiasa membawa hati dan jiwamu pada puncak kebahagiaan. Cinta yang dibarengi dengan keihklasan, ketulusan dan tuntunan yang benar tidak akan surut oleh penderitaan hidup. Bahkan ketika kita senantiasa melakukan sesuatu atas dasar mencintai maka meskipun terbebani oleh penderitaan dan siksaan hidup yang keras, kelak itulah yang dengan sendirinya bisa menuntun kita untuk tetap terseyum dan tiba pada puncak kemuliaan dan keridhoan Allah Swt.

Buat apa mencintai sesuatu bila akhirnya kelak itu pula yang menjerumuskan kita pada lembah dusta dan kemunafiqkan semata. Untuk apa mencintai sesuatu yang olehnya kelak dirimu terkurung dalam api yang menyala-nyala di neraka jahanam. Perbaiki cintamu, luruskan arahnya dan berpegang teguhlah pada syariat yang dituntunkan agar kelak engkau tidak menyesal dibelakangnya. Tingkatkan rasa cintamu itu dengan mengikuti aturan dan seperti yang di firmankan Allah di dalam Al-Qur`an surat Al Ahzab [33] ayat 6: “Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri[24] dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmim dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah)” Sehingga berdasarkan ayat diatas sudah sangat jelas bahwasannya kita sebagai umat harus mencintai Rasulullah itu melebihi cinta kita kepada anak, istri, karib kerabat, saudara, harta benda, bahkan diri kita sendiri.

Saudaraku yang tercinta, di dalam tubuh kita terdapat sebuah benda (daging) yang dengannya akan mempengaruhi segela aktivitas di hidup kita. Sebagaimana yang dijelaskan baginda nabi Muhammad Saw dalam sabdanya: “Dalam tubuh ini terdapat segumpal daging yang memotori semua anggota tubuh lainnya. Jika ia baik, semuanya pun menjadi baik; dan jika ia rusak, semuanya pun macet dan malfungsi. Itulah yang disebut kalbu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Jadi kalbu/hati itu adalah sebagai patokan perilaku yang ada di dalam setiap diri seseorang. Baik ataukah buruk, semua itu akan terpengaruh oleh apa yang ada di dalam kalbunya. Karena sesuai keterangan hadist diatas, maka jelas ia akan mempengaruhi segala tindakan yang ada di dalam diri setiap manusia. Sehingga hati tersebut dalam fungsinya tidak akan bergerak dengan sendirinya, ia akan mengarah pula kepada apa yang didapatkannya dari perasaan dan pengertian kita juga. Ketika kebaikan dan rasa cinta yang terus diusung maka kebahagiaanlah yang akan senantiasa di dapatkan. Begitu juga sebaliknya jika hanya nafsu dan kemaksiatan yang dibangun maka akhir dari semua itu tentunya adalah sebuah penyesalan dan azab Allah yang sangat perih di neraka.

Saudaraku yang budiman, lantas jika demikian sekarang mari kita tanyakan lagi diri ini tentang sejauh mana rasa cinta kita kepada Baginda Rasulullah karena cinta Allah kelak kepada kita akan berdasarkan pula pada cinta kita terhadap kekasih-Nya yaitu Muhammad Saw. Jadi jangan sia-siakan hidupmu untuk mencintai sesuatu yang kelak akan mengalahkan kecintaanmu kepada Allah Swt dan Rasul-Nya. Allah menyindir kita tentang hal bershalawat didalam Al-Qur`an seperti: “Dan takutlah kamu kepada suatu hari di waktu seseorang tidak dapat menggantikan seseorang lain sedikitpun dan tidak akan diterima suatu tebusan daripadanya dan tidak akan memberi manfaat sesuatu syafa’at kepadanya dan tidak (pula) mereka akan ditolong”. (QS. Al Baqarah [2] :123). “Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim” (QS. Al Baqarah [2] :254). “Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari kiamat yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan. Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya” (QS. Al Mu’min [40] :18).

Saudaraku tercinta, di era modern dan globalisasi seperti sekarang ini, perkembangan informasi dan teknologi komunikasi begitu berkembang dengan sangat pesatnya sehingga akan berpengaruh pula pada kebudayaan, tradisi, peradaban, trend dan mode bahkan sampai dengan gaya hidup yang dimiliki oleh setiap bangsa dan agama. Pengaruh dan daya tariknya akan sangat berdampak pada sisi sosial dan spiritual setiap insan manusia. Ada yang positif dan tidak sedikit pula yang berakibat sangat buruk bagi kehidupan. Sehingga pada banyak kesempatan maka setiap diri yang sadar akan adanya kehidupan setelah mati maka kita harus memasang filter dengan harapan terutama diri sendiri dan keluarga terbentengi untuk tidak melakukan sesuatu yang dapat merugikan, baik selama menjalani hidup dan kehidupan di dunia maupun kelak di akherat.

Salah satu contoh filter itu adalah senantiasa menumbuhkan rasa kecintaan kita kepada Baginda Rasulullah Saw dengan bershalawat kepadanya. Terserah yang mana, tapi yang penting kita kerap mengucapkan shalawat itu sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Bisa yang singkat atau yang panjang. Bisa sendirian atau dengan cara bersama-sama dengan orang lain. Yang penting kecintaan yang agung itu diwujudkan dalam sebuah tindakan yang nyata.

Kecintaan kita kepada kekasih-Nya Muhammad tanpa pamrih akan menyelamatkan diri ini. Di dunia, maka kita akan terus meningkatkan ibadah kepada Allah Swt karena biasanya orang yang sedang jatuh cinta akan senantiasa mengikuti perilaku orang yang dicintainya (Rasulullah Saw) sehingga ridha Allah pun akan menyertai. Sedangkan di yaumil akhir kelak tentunya kita mendapatkan syafaat dari baginda nabi Muhammad sehingga bisa terselamatkan pula dari siksa Allah Swt di neraka jahanam. Maka sungguh itu merupakan kebahagiaan dan keindahan yang tidak akan mungkin di dapatkan selama hidup di dunia ini. Engkaupun akan terus bercinta tanpa henti dengan kekasih Tuhan itu, sebagai imbalan rasa cinta yang kau usung dan wujudkan dalam aktivitas kehidupanmu. Karena jiwa dan ruhmu tidak akan merasakan mewangi dan keindahan itu jika tak seiring dengan mereka yang shalih dan cinta kepada Rasulullah Saw secara mendalam pula.

Marilah saudaraku sekalian, kita tingkatkan kembali rasa cinta kita itu dengan senantiasa bershalawat kepada Rasulullah Saw, minimal ketika usai melaksanakan ibadah shalat lima waktu. Minimal ketika dirimu memanjatkan doa kehadirat Allah dengan sebelumnya mengucapkan “Allahumma shalli ala saidina Muhammad wa `ala ali saidina Muhammad” dengan penuh cintanya. Tautkan terus hatimu lurus kepada Nur Muhammad demi mendapatkan syafa`at darinya. Karena mungkin dari yang sedikit itulah nantinya akan menjadi tolak ukur dirimu untuk terus meningkatkan wujud cintamu. Sehingga pada akhirnya kau akan terus berusaha untuk senantiasa bershalawat dan meningkatkan rasa cintamu kepada baginda Rasulullah Saw secara ikhlas di sepanjang hidupmu.

Wahai saudaraku, siapakah diri yang tidak mengharapkan pertemuan di yaumil akhir dengan kekasih-Nya itu dalam penerimaan senyuman termanisnya. Siapakah mereka yang telah memeluk Islam kemudian tidak ingin melihat wajah kekasih-Nya yang paling rupawan itu dalam kedekatan, sebab kebagusan dan ketampanannya membuat iri para malaikat dan seluruh penghuni surga. Sinar yang memancar dari dirinya adalah cahaya makna keindahan yang teramat indah dan akan senantiasa menawan ruhmu pada tempat yang tersusun dari dasar kemuliaan. Ya Muhammad, di hadapan Allah kelak di yaumil akhir, terimalah kami sebagai diri yang teguh pada kecintaan terhadapmu. Masukkan kami kedalam golongan mereka yang cinta dan kasihsayangnya tidak melebihi kecintaan terhadap Allah dan dirimu. Tularkan wangi-wangi cinta itu kedalam kalbu kami, sehingga kami dapat bercinta denganmu di sepanjang waktu hidup ini.

Semoga kita senantiasa menjadi umat yang mencintai Allah Swt dan baginda nabi Muhammad Saw melebihi kecintaan kita terhadap yang lain. Amin.

Wallahu a`lam bishshowwab.

Jgy, Februari 2009
Oedi`

[Kutulis dalam linangan airmata pada saat kerinduanku sungguh memucak kepada cahaya itu]

Diposkan pada Puisi_ku

Coretanku…

Bila hatimu berkata tidak pada kebathilan, maka ikuti terus kemana langkah itu akan berlalu. Namun jika iya, maka hindari, lawan, dan hujat dia dengan segera. Kemudian selalu bertawakal-lah kepada Allah Yang Maha Agung, hingga damai menyertaimu.
(Jgy, 22 Februari 2009, Oedi`)

Kuasailah apa yang belum kau kuasai, tetapi jangan menguasai sesuatu yang tidak sanggup untuk kau sendiri kuasai.
(Jgy, 22 Februari 2009, Oedi`)

Apalagi yang membuatmu lebih berbahagia bila bukan karena berjalan lurus pada hal-hal yang benar dan diridhai?
(Jgy, 22 Februari 2009, Oedi`)

Sejatinya setiap manusia senantiasa dengan sadar mengetahui bila melakukan sebuah kesalahan dan kemunafiqkan. Tetapi egois pribadilah yang membuatnya menjadi buta dan tuli pada rahmat Tuhan.
(Jgy, 22 Februari 2009, Oedi`)

Engkau boleh saja berbangga hati pada dirimu sendiri, namun apakah ada artinya bila kau sendiri tanpa orang lain ?
(Jgy, 22 Februari 2009, Oedi`)