Jangan Bersedih

Posted on Updated on

“Janganlah sekali-kali kamu menunjukkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman” (QS. Al-Hijr: 88)

Baca entri selengkapnya »

Antara Jogja dan Tuban (versi Kawasaki Merzy)

Posted on Updated on

Hari kamis tgl 29/05/08 Jam 20.30 wib, aku dan temanku beranjak perlahan menaiki motor kawasaki merzy buatan th 1983 menuju kab. Tuban (Jatim). Keberangkatan ku kali ini dengan misi menemani temanku yang harus pulang kampung karena ada enyang putrinya yang sebelumnya tepat jam 21.30 WIB telah berpulang ke rahmatullah.

Selama perjalanan,ada hal yang membuat saya berpikir tentang kebijakan pemerintah terutama tentang pembangunan terutama fasilitas umum. Bagaimana tidak selama perjalanan terutama jalan antara kab. sragen, Ngawi hingga Bojonegoro jalannya banyak yang berlubang alias rusak. Bahkan menurut pandangan saya kondisi jalan yang ada telah sampai pada taraf yang memprihatinkan. Saya terus bertanya, apa yang dilakukan pemerintah selama ini dengan hasil pajak dari masyarakat dan kekayaan alam yang terus ditarik???

Setibanya di Tuban kulihat jam menunjukkan jam 04.08 wib, kami langsung menuju kediaman sang enyang putri, setelah melihat sang enyang dan istirahat sejenak kamipun langsung pulang menuju kediaman mas Misbah di daerah Jatisari. Setibanya di rumah kami mencium bau yang sangat menyengat dari motor dan setelah di cek ternyata berasal dari aki yang kekeringan airnya. wal hasil besok sebelum ke tempat nenek maka aki tersebut harus di cek ke bengkel (Mengisi airnya). Kami masih dengan kegiatan berkumpul dan menunggu waktu shalat subuh. dan setelah shalat kamipun beranjak untuk istirahat/tidur.

Jam 09.00 setelah memperbaiki aki motor dan sarapan, kami beranjak menuju kediaman enyang, rencananya sih untuk bantu-bantu disana. namun setibanya disana ternyata kami sedikit telat karena waktu itu keranda jenazah sudah siap untuk di berangkatkan ke makam. langsung saja saya dan teman saya bergegas mengikutinya. Setibanya di makam satu persatu prosesi di laksanakan dengan hikmat.

Setelah selesai semua prosesi, kamipun satu persatu meninggalkan pemakaman. Aku masih menatap tanah basah pekuburan, dalam hati lahirnya kata-kata dan pemahaman yang kemudian kuwejawantahkan dalm bentuk tulisan “Tuhan sudah sejak lama menentukan berapa lama kau hidup, silahkan saja bersembunyi jika itu maumu, kau takkan hidup lebih lama lagi, dan rasa takut tidak memberikan arti apa-apa bagimu, karena takdirmu sudah di tentukan..”

Sebuah kondisi yang dapat menawanku untuk selalu ingat kepada-Nya, karena Dialah yang Maha Agung. dan tidak ada kekuatan apapun yang bisa mencegah-Nya jika berkehendak dan memutuskan sesuatu hal.

Pada hari itu diperkirakan sekitar 800-an orang hadir disana sungguh suatu hal yang menarik. setelah selesai dengan aktivitas disana kamipun kembali ke kediaman Mas Misbah. tiba disana tak lama kemudian kami langusng dengan persiapan untuk menunaikan shalat Jum`at dengan mandi dsb. setelah shalat, kemudian kami disambut dengan akan siang yang menunya special dan kegemaranku yaitu sambal goreng cumi-cumi. huh..nikmat sekali rasanya. setelah itu kami masih dengan aktivitas masing-masing (SMS, telepon). Kemudian setelahnya kembali beristirahat. karena tubuh ini rasanya sangat butuh untuk istirahat akibat perjalanan dan aktivitas sebelumnya dan sebagai persiapan untuk perjalanan pulang ke jogja.

Bangun dari tidur aku di ajak oleh saudara (adik) mas Misbah untuk bermain Badminton. asyik banget karena cukup berhasil menguras energi dan keringatku namun sangat menyegarkan dan menyehatkan. setelah bermain aku langsung mandi karena sebelum magrib kami harus tiba kembali ke rumah sang almarhumah. Dan setibanya disana kamipun melakukan aktivitas shalat magrib berjamaah, makan malam, dan shalat isya berjamaah lagi. Agenda malam itu adalah tahlilan untuk mendoakan almarhumah. banyak sekali tetangga, kerabat yang datang hingga tidak semuanya tertampung di dalam rumah. Sungguh menarik.

Setelah selesai semua agenda di rumah almarhum malam itu, kamipun beranjak pulang untuk persiapan kembali menuju jogja.

Jam 23.10 kami beranjak dari kediaman Misbah, di awal perjalanan terasa lancar-lamcar saja, namun tak lama kemudian mulai ada masalah dengan lampu depan motor dimana hanya bisa hidup satu saja, dan itupun yang jarak jauh. Kondisi ini cukup berlanjut hingga pada akhirnya di sekitar bojonegoro kamipun berhenti untuk benar2 memperbaikim dan ternyata ada masalah dengan 2 kawat pijar bohlamp lampunya yang menyatu. sehingga kamipun menggantinya dengan bohlamp cadangan. setelah selesai kamipun kembali melanjutkan perjalanan. setiba di Ngawi ada masalah baru dengan sang motor yaitu baut penyanggah knalpot hilang sehingga memaksa kami untuk mengikatnya dengan kawat yang ada.

Setelah selesai kamipun melanjukan perjalanan kembali. dan sekitar jam 5-an kamipun tiba di jogja. Memang sebuah perjalanan/petualangan yang memengasyikkan.

Kompor Tenaga Surya dari Madiun

Posted on

Metrotvnews.com, Madiun: Jangan pernah menyerah menghadapi hidup. Kata-kata bijak itu kiranya dipegang Bambang Sujatmiko, warga Madiun, Jawa Timur. Di tengah sulitnya memperoleh minyak tanah akibat program konversi minyak tanah ke gas elpiji, Bambang berhasil menciptakan kompor bertenaga surya.

Kompor buatan Bambang ini sangat bermanfaat sebagai alternatif bagi warga untuk keperluan memasak. Yang pasti kompor Bambang tanpa harus menggunakan minyak tanah. Kompor ini terbuat dari potongan kaca serta rangkaian potongan besi yang dirancang khusus dan disesuaikan dengan ukuran diameter tertentu. Rangkaian itu lalu diarahkan ke pusat sinar matahari. Panas yang dihasilkan dari pantulan sinar matahari mampu menggantikan minyak tanah maupun gas sebagai bahan bakar sehari-hari.(DEN)

Robot Cerdas Buatan Mahasiswa Padang

Posted on

Metrotvnews.com, Jakarta: Seorang mahasiswa di Padang, Sumatra Barat berhasil membuat sebuah robot yang bisa melakukan banyak tugas. Robot ini juga bisa mendeteksi keberadaan bom yang kemungkinan dipasang teroris. Adalah Ferry Dwi Septiawan, mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Universitas Bung Hatta, Padang, yang menciptakan robot itu.

Sejak kecil, Ferry sudah tertarik dengan mainan robot. Ia bermimpi bisa membuat robot sendiri. Impiannya terwujud saat robot yang belum ia beri nama ini dipamerkan ke khalayak. Robot cerdas ini menggunakan bahan akrilik dan dilengkapi dengan motor penggerak bertenaga baterai.

Otak robot ini memakai program algoritma logika fuzzy. Dengan program ini, robot mampu melakukan berbagai hal, antara lain memadamkan api. Untuk melaksanakan tugasnya, robot ini dipasang sensor pengukur jarak sebagai alat indera robot dan sebuah kipas angin mini untuk memadamkan api.

Ferry sedang mengembangkan robotnya agar mampu melakukan lebih banyak lagi pekerjaan. Saat ini ia berniat memasang alat detektor posisi atau kompas dan kamera kecil agar lebih selektif dan fleksibel ketika mengenali objek. Robot ini diharapkan bakal mampu mendeteksi bom yang dipasang komplotan teroris tanpa membahayakan nyawa aparat penjinak bom. Rencananya, robot ini akan diikutsertakan dalam kontes robot cerdas Indonesia di Jakarta, Juni mendatang.(BEY)

Mouse dan Keyboard Nanti Berganti Suara dan Gerak

Posted on

Metrotvnews.com, Jakarta: Keyboard dan mouse boleh jadi menjadi barang usang di masa mendatang. Microsoft berencana mengembangkan software atau piranti lunak untuk second digital decade. Manusia nantinya tak hanya dapat berinteraksi dengan komputer menggunakan keyboard dan mouse seperti saat ini. Tapi juga dapat dengan suara dan gerakan tubuh. Hal itu diungkapkan Chairman Microsoft Coorporation, Bill Gates dalam acara Presidential Lecture di Jakarta, Jumat (9/5).

Acara Presidential Lecture oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dihadiri ribuan peserta. Mereka antara lain terdiri dari para CEO berbagai industri, pejabat pemerintah, perwakilan asosiasi bisnis, lembaga swadaya masyarakat, para rektor dan mahasiswa dari 45 perguruan tinggi serta mitra dan pelanggan microsoft.(BEY)

Kesucian Politik: Agama dan Politik Di Tengah Krisis Kemanusiaan

Posted on

Penulis: P. Mutiara Andalas, SJ; Penerbit: Libri

Bulan Mei merupakan bulan yang bersejarah bagi rakyat Indonesia. Sejarah yang “cerah” dan sejarah yang “kelam”. Sejarah yang cerah mengimplikasikan suatu momentum historis yang membawa rakyat Indonesia ke suatu paradigma kebangsaan yang baru – sebuah cara pandang bermartabat terhadap nasionnya sendiri. Itulah yang kemudian kita peringati sebagai momentum kebangkitan nasional setiap 20 Mei. Tahun 2008 momentum kebangkitan nasional diperingati dalam kurun 100 tahun (1908-2008).

Namun, bulan Mei juga mencatat sejarah yang kelam. Mei 1998 menjadi sebuah momentum berdarah yang selalu dikenang oleh setiap rakyat Indonesia – kecuali mereka yang ingin sengaja menutupinya atau melupakannya. Sebuah titik balik politik Indonesia yang sebelumnya dibisukan oleh rezim otoriter, yang pecah dalam perlawanan massal mengusung bendera reformasi. Kebisuan sosial berhasil dipecahkan, penguasa digulingkan, tetapi rezim otoriter itu sendiri tak mampu ditaklukkan. Titik balik atau reformasi 1998 pun menagih nyawa sebagai ongkos politiknya. Ribuan nyawa anak bangsa kehilangan raga dalam kesewenang-wenangan amuk massa, ribuan perempuan dirobek-robek batin dan tubuhnya oleh kebengisan syahwat massal, orangtua-orangtua melepas anak-anaknya dalam jasad tak berwujud – hangus dan hilang. Reformasi 1998 berutang nyawa dan darah anak-anak bangsa ini.

Sejarah kelam Mei 1998 sangat menyakitkan. Apalagi menggeliat selama sepuluh tahun [1998-2008] reformasi itu ternyata masih setengah hati. Rakyat boleh berteriak tetapi faktanya hanya untuk mereka dengar sendiri; rakyat boleh mengkritik tetapi untuk kesalahan mereka sendiri; rakyat boleh menuntut tetapi tidak boleh lebih tinggi harganya dari harga BBM dan kebutuhan pokok yang makin mencakar langit; rakyat boleh marah tetapi hanya kepada nasib mereka sendiri. Sementara kaum punggawa tetap bertahta dalam kenyamanan karena reformasi membuka celah-celah memutarbalik hukum untuk bersembunyi dan cuci tangan. Rakyat tetap adalah “kambing-hitam”; rakyat tetap harus menjadi tumbal dan korban dari perubahan; rakyat tetap keset bagi sepatu lars rezim yang masih otoriter – karena itu semua yang berkaitan dengan derita dan keluh rakyat sah-sah saja untuk dilupakan. Rezim otoriter memutuskan untuk berpolitik lupa (amnesia).

Buku ini merupakan suatu refleksi perlawanan korban Mei 1998 terhadap politik lupa yang sedang dan terus-menerus dirayakan oleh rezim dalam kemasan simbolik “reformasi” dan “peradaban bangsa”. Slogan “bersama kita bisa” mengambang dalam tujuan dan visi politik bangsa yang kabur dan berkabut kepentingan. Faktanya, pergantian penguasa negara makin menumpulkan harapan, dan kita gagal menjadi bangsa yang besar karena tidak menghargai rakyatnya sendiri.

Penulis buku ini mencoba menghimpun kembali energi yang masih tersisa dalam perjuangan melawan politik lupa oleh rezim otoriter negeri ini. Paguyuban korban yang setia pada panggilan nurani kemanusiaan bertekad menentang arus kenyamanan hidup agar tidak terseret dan terhempas untuk lupa bahwa orang-orang yang mereka cintai pernah menjadi tumbal sejarah perubahan bangsa ini. Tidak semua mampu bertahan, hanya segelintir yang memilih tetap mementaskan kelaliman; bukan untuk menggulingkan kekuasaan tetapi untuk selalu mengingatkan bahwa ada martabat kemanusiaan yang diperkosa di dalamnya. Dan itu tidak boleh dibiarkan. Sekali dibiarkan, maka akan menjadi sebuah kebiasaan.

Toh, kesewenang-wenangan kekuasaan bukan hanya sejarah kelam Indonesia. Itu adalah sejarah kelam bangsa-bangsa di dunia. Sejarah yang juga melahirkan paguyuban korban yang berjuang melawan pelupaan historis. Mutiara Andalas merajut cerita-cerita korban – yang nyaris tak tercatat dalam buku-buku sejarah resmi – dalam suatu dialog imajiner yang membawa kita – orang-orang yang menolak lupa – terhenyak dalam kesadaran yang bisa jadi makin meredup bahwa kita hampir lupa suara-suara korban itu.

Pelekatan “politik” pada judulnya mengundang kita masuk dalam ruang gelap yang kerap membuat kita meraba-raba tak tentu arah. Tetapi jika kita terbiasa di dalam ruang gelap itu mata-nurani kita akan makin terbiasa untuk berjalan dalam gelap dengan senantiasa waspada terhadap lubang yang mungkin berada di jalan setapak yang kita langkahi. Politik bukan sekadar teori. Politik adalah praksis kekuasaan.

Dalam buku ini, Mutiara Andalas menyajikan politik sebagai praksis kekuasaan, yang dalam proses teorisasinya kerap tercecer cerita-cerita korban, cerita-cerita rakyat. Rakyat bukanlah objek politik, meski dalam teori politik rakyat sering dibendakan dalam alur perakitan sistem politik suatu negara. Rakyat adalah subjek politik. Rakyat berpolitik, tetapi dalam caranya sendiri. Rakyat berpolitik dalam kepolosan hidup, bukan dengan ketrampilan berdiplomasi. Rakyat berpolitik karena merekalah energi yang menggerakkan negara, bukan karena sekadar berafiliasi dalam partai politik.

Kalau bagi penguasa, politik adalah seni menguasai dan berkuasa; bagi rakyat, politik adalah hidup untuk bertahan dalam kerentanan. Kalau karena kesalahkaprahan politik telah membawa kita melihat politik sebagai “najis” dan “kotor”, maka sebenarnya buku ini membentangkan kepada kita bahwa politik rakyat – khususnya mereka yang dikorbankan oleh rezim otoriter – adalah suatu meditasi dan praksis kontemplatif untuk menyucikan politik agar tidak “berbohong” dan “melupakan” para korban.

Steve Gaspersz

Novel “Berakhir Sudah”

Posted on Updated on

Kekasihku…. jujur aku tak pernah menyangka dan tak pernah merencanakan bahwa aku mencintaimu hingga kini, dan saat ini aku tak mau lagi bertanya apakah sama halnya yang terjadi pada dirimu. Apakah engkau memiliki kadar kecintaan yang sebanding denganku? Karena ku tau dengan sendiri waktulah yang akan menjawabnya kelak. Aku juga tidak mau menanyakan dari keluarga yang bagaimana adanya dirimu, miskinkah atau kaya raya? Seperti kebanyakan seloroh para orang tua yang memandang kebahagiaan cinta itu bisa di nilai dengan kegemerlapan harta benda semata. Padahal jauh ada yang lebih berharga yaitu ketulusan dan kejujuran di dalam hati.

Kemudian entah bagaimana cinta itu bisa muncul secara tiba-tiba di dalam hati dan jiwaku, menyapaku, merangkulku, menyergapku, membimbingku, dan merasuki setiap sendi-sendi jiwa raga ini tanpa pernah kuasa untuk aku tolak. Cinta itu masuk entah dari mana di bagian tubuhku ini dan tiba-tiba saja telah diam bersemanyam dengan tenang di dalam ruangan hatiku. Ia kemudian menyatu menjadi jiwa, dan dengan cinta yang telah menjadi jiwa ini aku hidup serta dihidupkanya pula hingga kini.

Kekasihku…. aku sangat bersyukur oleh sebab cinta ini telah hadir dan hidup di dalam diriku, dijiwaku, dihatiku, dalam setiap tarikan nafasku, dalam setiap detak jantungku, dan dalam derasnya aliran darahku. Aku bahagia telah dapat mencintaimu, aku gembira bersanding denganmu dan dekat sekali disisimu, karena dari hidup denganmu itulah aku mengenal kehidupan, berpikir dan menulis, darimulah aku mengenal kelemah lembutan lebih, darimu aku mengenal keindahan lebih, denganmu aku terus merasa lebih bahagia, olehmu aku terus berusaha untuk jauh memperbaiki diri, olehmu aku menyadari sebuah anugerah dan mengingatkan selalu kepada Tuhan, dan karena dirimu pula aku bisa selalu menatap dunia dengan sikap optimis. Bahkan hanya dari dirimulah aku jauh lebih mengenal kesedihan, kerinduan, kecemburuan, kekalutan, kecemasan, tantangan, perasaan muak, kesombongan, jenuh dan tentunya sifat egois. Untuk kemudian mengubahnya kedalam cawan ketabahan dan kesabaran.

<Bagi mereka yang mengagungkan kebesaran sebuah Cinta>

[Cuplikan novel diatas adalah karyaku “Mashudi Antoro”, th 2007-2008]