Faedah Shalat Berjamaah

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’-lah beserta orang-orang yang ruku’” (QS. Al-Baqarah [2]: 43)

Aktivitas kehidupan kita adalah cerminan dari apa yang terpikirkan di dalam otak. Artinya semua hal yang kita pikirkan dan hayati akan sangat berpengaruh pada kehidupan kita, baik ketika bahagia maupun di kala sengsara, ketika sendiri ataupun saat bersentuhan dengan orang lain. Dan itu tidak bisa terlepas karena akan terus bergerak sejalan dengan lamanya ruh kita di kandung badan.

Sebagai contoh dari salah satu aktivitas yang ada di kalangan umat Islam adalah ajaran dalam menjalankan shalat berjama`ah. Aktivitas ini telah ditanamkan oleh Baginda Rasulullah SAW sejak masa awal perkembangan agama Islam. Mengapa demikian? Alasannya adalah bahwa dengan berjama`ah itu maka setiap orang akan banyak mendapatkan manfaat yang positif seperti salah satunya adalah semakin meningkatnya rasa persaudaraan dan hubungan silaturahmi diantara sesama umat. Dengan menjalankan ibadah secara bersama-sama itulah maka rasa kebersamaan dan kecintaan, senasib sepenanggungan dikalangan umat akan terus meningkat. Bahkan pada dataran yang lebih luas lagi adalah rasa cinta kepada semua makhluk ciptaan Allah di dunia ini tanpa terkecuali.

Dampak positif lain yang bisa ditimbulkan oleh ikatan shalat berjama`ah ini adalah dengan semakin meningkatnya rasa perdamaian dan kebersamaan di kalangan umat, karena sewaktu prosesi shalat berjamaah setiap orang akan terlatih dengan sikap untuk tidak membedakan antara si kaya dan si miskin, antara pejabat dan karyawan biasa, antara yang cacat atau normal, karena pada dasarnya semua orang akan sama derajatnya sebagai makhluk di hadapan Allah. Sedangkan yang membedakannya adalah Iman dan taqwanya saja. Untuk itu Allah di dalam Al-Qur`an telah berfirman yang artinya “Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui“ (QS. Al-Anfaal [8]: 61).

Sebagai contoh lain yang akan memberikan manfaat positif dari shalat berjama`ah ini adalah seperti yang dulu pernah di lakukan oleh Baginda Rasulullah sebagai wujud saling tolong menolong dan mengasihi antara sesama. Peristiwa itu terjadi ketika setelah usai shalat Rasul melihat ada seseorang sahabat yang berkelakuan sedikit aneh dimana setelah usai shalat ia langsung pulang kerumah, kelakuan aneh sahabatnya itu telah Beliau perhatikan sejak lama, sehingga untuk terakhir kalinya Baginda Rasul langsung bertanya kepada sang sahabat tentang perihal kelakuannya itu. Baginda Rasul bertanya hal apakah yang menyebabkan ia berkelakuan sedemikian rupa, karena umumnya pada saat itu para sahabat setelah menunaikan shalat berjama`ah maka mereka masih akan bertafakur, tahlil, dzikir dan bertegur sapa terlebih dahulu sebelum kembali kerumah. Sehingga setelah kesekian kalinya memperhatikan kelakukan aneh dari sahabatnya itu maka Beliau merasa perlu bertanya. Dan ketika itu juga sang sahabat menjawab “Ya Rasulullah mengapa saya berkelakuan dengan langsung pulang secara tergesa-gesa kerumah setelah shalat berjama`ah usai, itu semua karena saya telah di tunggu oleh sang istri untuk secepatnya bergantian pakaian yang saya kenakan, karena pakaian yang saya kenakan ini adalah satu-satunya pakaian kami berdua untuk menunaikan shalat, ketahuilah kami memang keluarga yang sangat fakir lagi miskin sehingga hanya memiliki satu lembar pakaian ini saja untuk dikenakan sewaktu shalat”. Setelah mendengar penjelasan itu Baginda Nabi sangat terharu dan langsung berkata kepada sahabat yang lain tentang perihal sahabat yang satu ini, dan dengan itu maka banyak diantara para sahabat bersedia untuk mencari jalan keluar dan membantunya memecahkan masalah.

Dari peristiwa di atas maka ada pelajaran yang dapat kita ambil, salah satunya adalah dengan sering berkumpulnya kita dalam shalat berjama`ah maka secara tidak langsung kita akan sering pula memperhatikan orang lain, dan jika cermat maka kita juga akan bisa mengetahui permasalah yang ada pada diri orang lain seperti apa yang dilakukan Rasulullah diatas, sehingga akan menimbulkan rasa simpatik untuk kemudian segera membantu jika ada yang membutuhkan dengan jalan yang mungkin bermacam-macam pula. Karena selama hidup didunia ini maka kita tidak akan lepas dari tanggungjawab kepada orang lain meskipun itu bukan saudara ataupun sanak famili. Dan untuk itu pula Allah di dalam Al-Qur`an surat An-Nisaa`[4] ayat 36 telah berfirman yang artinya “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri”. Sehingga jika kita mau dan bisa menjalankan syariat diatas maka tidak akan ada lagi manusia yang harus sengsara dan menderita disekitar kita.

Sungguh mulia ajaran Islam yang diturunkan Allah SWT melalui malaikat-Nya Jibril kepada kekasih-Nya Muhammad SAW. Dan beruntungnya kita sebagai umat muslim yang secara sadar dan ikhlas mau menjalankannya hingga akhir hayat di kandung badan. Namun sejalan dengan itu semua, di satu sisi banyak diantara kita yang telah keliru dalam memaknai shalat berjama`ah itu. Kita hanya memaknai shalat berjama`ah itu dengan hanya sekedar shalat secara berbarengan di masjid dan mengharapkan pahala  akan diberikan secara berlipat ganda oleh Allah tanpa memperhatikan yang lain.  Padahal tidak demikian saja makna dari shalat berjama`ah itu, sebab ada konsep dan prinsip lain yang ditanamkan oleh Baginda Nabi kepada kita yang akan menghantarkan kita pada ridhanya Allah.

Sebagai contoh, dimana biasanya meskipun setelah kita berdampingan dan sangat berdekatan antara satu sama lain selama shalat berjama`ah di masjid maka itu tidak serta merta menjadikannya sebuah pemupuk kebersamaan dan silaturahmi diantara kita, bahkan meskipun kita selalu bertemu dalam shalat berjama`ah lima waktu di masjid tidak sedikit diantara kita yang tidak mengenal atau bahkan tidak mau mengenal satu sama lain. Coba kita tanyakan lagi pada diri kita apakah ini yang namanya Ukhuwah Islamiyah sebagaimana yang di ajarkan Baginda Rasul dahulu?. Padahal jika kita berbicara sejarah perkembangan di awal adanya Islam maka shalat berjama`ah yang kemudian dilanjutkan dengan tegur sapa dan saling berbagi inilah sebagai tonggak awal kekuatan untuk  mempersatukan umat ke dalam satu panji Islam, kemudian ini juga yang berguna dalam menghadapi gempuran kafir Quraisy serta untuk membangun masyarakat yang madani.

Namun coba kita lihat yang terjadi sekarang dikalangan umat Islam, sesuatu yang akan kita rasakan bagaimana tampak dengan jelas bahwa telah terjadi pergeseran atau  kemunduran sikap dan prinsip shalat berjama`ah dan silaturahminya sebagaimana yang ditanamkan oleh Baginda Rasul dahulu dalam menyatukan dan memakmurkan sesama umat. Melalui perhatian dan kasih sayang terhadap sesama yang diwujudkan dengan silaturahmi dan bertegur sapa. Kita mulai lupa dengan prinsip-prinsip itu padahal jika kebiasaan dan pemahaman yang kurang baik ini terus berlanjut dan tidak secepatnya kita rubah maka jangan heran bila kelak umat Islam dalam waktu singkat akan mudah sekali dipecah belah oleh pihak-pihak yang menaruh kepentingannya disana. Padahal Allah telah memperingatkan kita melalui firman-Nya di dalam Al-Qur`an yang artinya “Oleh karena itu, hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus (Islam) sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak (kedatangannya): pada hari itu mereka terpisah-pisah” (QS. Ar-Ruum [30]: 43). Sehingga jangan berharap bila agama Islam yang Rahmatan lil Alamin akan terus terwujud dan menerpa seluruh alam dan isinya ini bila kita terus bersikap keliru seperti ini.

Belajarlah dari pengalaman yang telah ada, bahwa peradaban Islam selalu bisa dihancurkan itu tidak karena orang lain (pihak diluar Islam) saja, melainkan lebih kepada sikap dari kaum Islam itu sendiri yang masih sering berkelakuan secara individual dan tidak mau tau dengan kesusahaan yang terjadi pada saudaranya sesama muslim. Padahal Allah telah memperingatkan kita dalam firman-Nya surat Ali-Imraan [3] ayat 140 yang artinya “…..Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir)…..”.

Maka dari itu saudaraku mulai dari sekarang setelah mengetahui tentang firman-firman Allah dan contoh yang telah diberikan oleh Baginda Rasul diatas mari kita perbaiki kekurangan yang ada pada diri kita masing-masing sebagai umat Islam. Bisa dengan kembali memperbaiki bentuk silaturahmi setelah shalat berjama`ah atau dengan bentuk sikap lain yang mengarah pada bentuk peningkatan Ukhuwah Islamiyah diantara sesama. Sehingga Islam yang Rahmatan lil Alamin akan selalu terwujud.

Wallahu `alam

[Penulis: Mashudi Antoro, Nopember 2008]

Syahdu Malam…

Meskipun dingin terasa,

Namun nuansa syahdu malam-malam di jogja menggugah rasa pada kesejatian hidup.

Meniti lembaran suka cita pada kebahagiaan.

Kemudian terus meletakkannya diatas singgasana kemuliaan…

 

Jgy, 04/10/08

Kemuliaan Cinta…

Bujukan sanubari yang resah hanya ketika terdiam dan tidak bercerita terus memotovasi keduanya bersama dalam biduk kemesraan. Dan ini terus bertahan oleh karena keduanya benar-benar terlarut didalam kemuliaan sebuah cinta. Tidak dengan cinta yang sesaat saja, melainkan sebuah ruh kehidupan yang secara keseluruhan merenggut kendali seorang hamba dalam berprilaku. Sebuah cinta yang senantiasa mengawal dengan bijak perjalan kakinya untuk melangkahi lorong-lorong kehidupan. Cinta yang dengannya itu pula telah berhasil membawa keduanya bersama kasih dan sayang. Untuk kemudian berpadu bersama kesetiaan dan pengabdian yang tulus.

 ” Ya Tuhan, Engkau adalah segala Maha, maka dari itu aku bermohon kepadamu sebagai hamba yang hina ini untuk dapat merengguh secuil kenikmatan darimu, aku juga senantiasa berharap Engkau sudi menerima permohonanku untuk senantiasa menempuh sebuah kebahagiaan seperti yang telah kami alami pada saat ini, dimana aku dan dia duduk bersama dalam keindahan pertemuan. Taburi pula rasa yang tersirat seperti pada saat ini dengan keinginan untuk dapat terus mengulur silaturahmi dan kepercayaan. Karena sejatinya telah sangat aku rasakan kebahagiaan dan keindahan yang luar biasa ketika aku bisa bertemu dan memandang dirinya yang tidak mudah terkikis oleh kesombongan duniawi.”

[Tulisan diatas adalah penggalan dari novel terbaruku]

Berbagi Makanan dalam Islam

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (QS. Al-Baqarah [2]: 172)

Bulan suci Ramadhan telah hadir di tengah-tengah kita lagi. Sebuah bulan yang penuh dengan kenikmatan baik kenikmatan atas beribadah kepada Allah juga kenikmatan yang terlahir atas dasar pemenuhan kebutuhan  jasmani (lahir). Untuk jenis kedua yaitu kenikmatan lahir dapat kita rasakan seperti yang kita lihat dipasar-pasar dadakan, kios makanan, warung, rumah makan, bahkan disetiap rumah kita bahwasannya ketika akan menjelang berbuka puasa maka akan banyak aneka macam hidangan dan ragam makanan yang enak dan baik telah tersedia. Dan tentunya ini adalah sebagian dari kenikmatan-kenikmatan yang Allah berikan untuk kita rasakan. Maka dari itu makanlah apapun yang kamu kehendaki, hingga kamu merasa kenyang dan lantunkanlah puja syukur/tahmid kepada Allah atas segala limpahan rizki-rizki itu.

Lanjutkan membaca “Berbagi Makanan dalam Islam”

Jauh lebih…

Sebuah cinta terkadang akan jauh indah dan nikmat terasa ketika bisa dan mau dinikmati dalam beberapa kegagalannya. Karena setiap perjalannya akan senantiasa memupuk kesejatian dan cinta suci untuk kemudian sepenuhnya diserahkan kepada satu belahan hati, tulang rusuk yang lama terpisah oleh jarak dan waktu….

Oh memory…

Dalam diam kurasa jiwaku terus terbentur dan berbenturan
Diantara kebahagiaan dengan perpisahan cintaku dulu bersamanya
Pikiranpun terhuyun dan terseyok di ujung kenangan dan awal kehidupan barunya
oh.. memory tegarkan aku….

Puasa Lahir dan Batin

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah [2]: 183)

Bagi umat Islam, puasa bukanlah suatu hal yang aneh karena ajaran ini telah ada di dalam rukun Islam itu sendiri dan pada kenyataannya telah dilaksanakan oleh banyak umat Islam di dunia hingga saat ini. Namun dalam setiap pelaksanaan kewajiban yang menjadi rukun bagi setiap diri pribadi umat Islam ini banyak diantara kita tidak menjalaninya dengan baik dan sesuai dengan konsep dasar yang ditanamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Bahkan Rasulullah SAW bersabda “Banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga.”

Lanjutkan membaca “Puasa Lahir dan Batin”