Kesucian Politik: Agama dan Politik Di Tengah Krisis Kemanusiaan

Posted on

Penulis: P. Mutiara Andalas, SJ; Penerbit: Libri

Bulan Mei merupakan bulan yang bersejarah bagi rakyat Indonesia. Sejarah yang “cerah” dan sejarah yang “kelam”. Sejarah yang cerah mengimplikasikan suatu momentum historis yang membawa rakyat Indonesia ke suatu paradigma kebangsaan yang baru – sebuah cara pandang bermartabat terhadap nasionnya sendiri. Itulah yang kemudian kita peringati sebagai momentum kebangkitan nasional setiap 20 Mei. Tahun 2008 momentum kebangkitan nasional diperingati dalam kurun 100 tahun (1908-2008).

Namun, bulan Mei juga mencatat sejarah yang kelam. Mei 1998 menjadi sebuah momentum berdarah yang selalu dikenang oleh setiap rakyat Indonesia – kecuali mereka yang ingin sengaja menutupinya atau melupakannya. Sebuah titik balik politik Indonesia yang sebelumnya dibisukan oleh rezim otoriter, yang pecah dalam perlawanan massal mengusung bendera reformasi. Kebisuan sosial berhasil dipecahkan, penguasa digulingkan, tetapi rezim otoriter itu sendiri tak mampu ditaklukkan. Titik balik atau reformasi 1998 pun menagih nyawa sebagai ongkos politiknya. Ribuan nyawa anak bangsa kehilangan raga dalam kesewenang-wenangan amuk massa, ribuan perempuan dirobek-robek batin dan tubuhnya oleh kebengisan syahwat massal, orangtua-orangtua melepas anak-anaknya dalam jasad tak berwujud – hangus dan hilang. Reformasi 1998 berutang nyawa dan darah anak-anak bangsa ini.

Sejarah kelam Mei 1998 sangat menyakitkan. Apalagi menggeliat selama sepuluh tahun [1998-2008] reformasi itu ternyata masih setengah hati. Rakyat boleh berteriak tetapi faktanya hanya untuk mereka dengar sendiri; rakyat boleh mengkritik tetapi untuk kesalahan mereka sendiri; rakyat boleh menuntut tetapi tidak boleh lebih tinggi harganya dari harga BBM dan kebutuhan pokok yang makin mencakar langit; rakyat boleh marah tetapi hanya kepada nasib mereka sendiri. Sementara kaum punggawa tetap bertahta dalam kenyamanan karena reformasi membuka celah-celah memutarbalik hukum untuk bersembunyi dan cuci tangan. Rakyat tetap adalah “kambing-hitam”; rakyat tetap harus menjadi tumbal dan korban dari perubahan; rakyat tetap keset bagi sepatu lars rezim yang masih otoriter – karena itu semua yang berkaitan dengan derita dan keluh rakyat sah-sah saja untuk dilupakan. Rezim otoriter memutuskan untuk berpolitik lupa (amnesia).

Buku ini merupakan suatu refleksi perlawanan korban Mei 1998 terhadap politik lupa yang sedang dan terus-menerus dirayakan oleh rezim dalam kemasan simbolik “reformasi” dan “peradaban bangsa”. Slogan “bersama kita bisa” mengambang dalam tujuan dan visi politik bangsa yang kabur dan berkabut kepentingan. Faktanya, pergantian penguasa negara makin menumpulkan harapan, dan kita gagal menjadi bangsa yang besar karena tidak menghargai rakyatnya sendiri.

Penulis buku ini mencoba menghimpun kembali energi yang masih tersisa dalam perjuangan melawan politik lupa oleh rezim otoriter negeri ini. Paguyuban korban yang setia pada panggilan nurani kemanusiaan bertekad menentang arus kenyamanan hidup agar tidak terseret dan terhempas untuk lupa bahwa orang-orang yang mereka cintai pernah menjadi tumbal sejarah perubahan bangsa ini. Tidak semua mampu bertahan, hanya segelintir yang memilih tetap mementaskan kelaliman; bukan untuk menggulingkan kekuasaan tetapi untuk selalu mengingatkan bahwa ada martabat kemanusiaan yang diperkosa di dalamnya. Dan itu tidak boleh dibiarkan. Sekali dibiarkan, maka akan menjadi sebuah kebiasaan.

Toh, kesewenang-wenangan kekuasaan bukan hanya sejarah kelam Indonesia. Itu adalah sejarah kelam bangsa-bangsa di dunia. Sejarah yang juga melahirkan paguyuban korban yang berjuang melawan pelupaan historis. Mutiara Andalas merajut cerita-cerita korban – yang nyaris tak tercatat dalam buku-buku sejarah resmi – dalam suatu dialog imajiner yang membawa kita – orang-orang yang menolak lupa – terhenyak dalam kesadaran yang bisa jadi makin meredup bahwa kita hampir lupa suara-suara korban itu.

Pelekatan “politik” pada judulnya mengundang kita masuk dalam ruang gelap yang kerap membuat kita meraba-raba tak tentu arah. Tetapi jika kita terbiasa di dalam ruang gelap itu mata-nurani kita akan makin terbiasa untuk berjalan dalam gelap dengan senantiasa waspada terhadap lubang yang mungkin berada di jalan setapak yang kita langkahi. Politik bukan sekadar teori. Politik adalah praksis kekuasaan.

Dalam buku ini, Mutiara Andalas menyajikan politik sebagai praksis kekuasaan, yang dalam proses teorisasinya kerap tercecer cerita-cerita korban, cerita-cerita rakyat. Rakyat bukanlah objek politik, meski dalam teori politik rakyat sering dibendakan dalam alur perakitan sistem politik suatu negara. Rakyat adalah subjek politik. Rakyat berpolitik, tetapi dalam caranya sendiri. Rakyat berpolitik dalam kepolosan hidup, bukan dengan ketrampilan berdiplomasi. Rakyat berpolitik karena merekalah energi yang menggerakkan negara, bukan karena sekadar berafiliasi dalam partai politik.

Kalau bagi penguasa, politik adalah seni menguasai dan berkuasa; bagi rakyat, politik adalah hidup untuk bertahan dalam kerentanan. Kalau karena kesalahkaprahan politik telah membawa kita melihat politik sebagai “najis” dan “kotor”, maka sebenarnya buku ini membentangkan kepada kita bahwa politik rakyat – khususnya mereka yang dikorbankan oleh rezim otoriter – adalah suatu meditasi dan praksis kontemplatif untuk menyucikan politik agar tidak “berbohong” dan “melupakan” para korban.

Steve Gaspersz

Novel “Berakhir Sudah”

Posted on Updated on

Kekasihku…. jujur aku tak pernah menyangka dan tak pernah merencanakan bahwa aku mencintaimu hingga kini, dan saat ini aku tak mau lagi bertanya apakah sama halnya yang terjadi pada dirimu. Apakah engkau memiliki kadar kecintaan yang sebanding denganku? Karena ku tau dengan sendiri waktulah yang akan menjawabnya kelak. Aku juga tidak mau menanyakan dari keluarga yang bagaimana adanya dirimu, miskinkah atau kaya raya? Seperti kebanyakan seloroh para orang tua yang memandang kebahagiaan cinta itu bisa di nilai dengan kegemerlapan harta benda semata. Padahal jauh ada yang lebih berharga yaitu ketulusan dan kejujuran di dalam hati.

Kemudian entah bagaimana cinta itu bisa muncul secara tiba-tiba di dalam hati dan jiwaku, menyapaku, merangkulku, menyergapku, membimbingku, dan merasuki setiap sendi-sendi jiwa raga ini tanpa pernah kuasa untuk aku tolak. Cinta itu masuk entah dari mana di bagian tubuhku ini dan tiba-tiba saja telah diam bersemanyam dengan tenang di dalam ruangan hatiku. Ia kemudian menyatu menjadi jiwa, dan dengan cinta yang telah menjadi jiwa ini aku hidup serta dihidupkanya pula hingga kini.

Kekasihku…. aku sangat bersyukur oleh sebab cinta ini telah hadir dan hidup di dalam diriku, dijiwaku, dihatiku, dalam setiap tarikan nafasku, dalam setiap detak jantungku, dan dalam derasnya aliran darahku. Aku bahagia telah dapat mencintaimu, aku gembira bersanding denganmu dan dekat sekali disisimu, karena dari hidup denganmu itulah aku mengenal kehidupan, berpikir dan menulis, darimulah aku mengenal kelemah lembutan lebih, darimu aku mengenal keindahan lebih, denganmu aku terus merasa lebih bahagia, olehmu aku terus berusaha untuk jauh memperbaiki diri, olehmu aku menyadari sebuah anugerah dan mengingatkan selalu kepada Tuhan, dan karena dirimu pula aku bisa selalu menatap dunia dengan sikap optimis. Bahkan hanya dari dirimulah aku jauh lebih mengenal kesedihan, kerinduan, kecemburuan, kekalutan, kecemasan, tantangan, perasaan muak, kesombongan, jenuh dan tentunya sifat egois. Untuk kemudian mengubahnya kedalam cawan ketabahan dan kesabaran.

<Bagi mereka yang mengagungkan kebesaran sebuah Cinta>

[Cuplikan novel diatas adalah karyaku “Mashudi Antoro”, th 2007-2008]

Novel “Kembali”

Posted on Updated on

Kecantikannya……Tidaklah hanya terletak pada fisiknya saja, tetapi pada kemurnian dan kemuliaanya, bukan pada mata yang syahdu saja, tetapi pada cahaya yang memancar dari keduanya, tidak pada bibirnya yang merekah saja, tetapi pada setiap kata-kata, yang selalu membawa damai di hati, bukan pada putihnya wajah yang bersih saja, akan tetapi pada kesucian jiwanya yang luhur, menyala bagaikan nyala lilin di tengah gelap gulita, dan kecantikannya laksana barisan puisi keindahan, dari seorang penyair yang merindu.

Aku lelah dengan perasaanku selama ini, perasaan yang selalu membuatku berada diantara taman bunga yang terus bersemi akan tetapi aku sendiri tidak menikmati wanginya bunga-bunga itu, aku letih dengan perasaanku yang terus berjalan diantara tirai-tirai kerinduan, dan aku berharap akan tiba saatnya untuk segera menikmati indahnya kasih sayang cinta. Karena telah kurasakan ada sebuah perasaan yang sangat asing menyerbu ruang hatiku lagi.

Cinta merupakan hak yang paling hakiki dan dimiliki oleh setiap manusia, karena cinta bisa mengangkat tinggi jiwa manusia meskipun sulit untuk menggapainya. Dan cinta itu sendiri teramat sulit untuk didefinisikan secara tulisan sebab hanya bisa dirasakan oleh jiwa dan hati yang tulus dan penuh harapan akan diawali dengan kemesraan serta akan diakhiri dengan ketenangan.

Serta biarkanlah nanti waktu yang akan membuktikan jika seandainya cinta itu memang benar adanya telah merasuki hati kita berdua.

[Cuplikan novel diatas adalah karyaku “Mashudi Antoro”, th 2007]

Ziryab, Ikon Mode Umat Muslim

Posted on Updated on

(Ziryab bukan hanya merombak musik namun juga memberikan pengaruh yang signifikan terhadap gaya hidup dan cara berpakaian manusia di abad pertengahan)

Namanya Abul-Hasan Ali ibn Nafi atau yang lebih dikenal dengan nama Ziryab. Sosok pria kelahiran Irak tahun 789 M ini menadapatkan namanya karena karakter suaranya yang melodius dan warna kulitnya yang gelap.

Baca entri selengkapnya »

Membenarkan dengan Sebuah Keteladanan

Posted on Updated on

(“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”)(QS.Al-Ahzab:21)

Ayat al-qur`an dan hadist di atas menunjukkan bahwa Islam adalah sebuah agama yang menyejukkan dan harmoni. Dan dalam hal keselamatan Imam Ali bahkan berkata, ”Begitu membayar Jizyah, harta mereka sama harus dijaganya dengan harta kita, darah mereka menjadi sama nilainya dengan darah kita.” Begitulah Islam mengajarkan kepada kita umatnya bagaimana memperlakukan kaum non muslim dan para tamu asing yang masuk secara resmi dan baik-baik di negara muslim, apalagi negara kita yang merupakan negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia.

Jadi bila mereka telah menunaikan kewajibannya ketika masuk ke wilayah negara kita maka secara otomatis telah menjadi tamu resmi dan tidak ilegal. Maka harta, kehormatan dan darah mereka wajib kita jaga bersama-sama. Jika tidak, jika sampai menyakiti mereka, maka berarti kita sama saja telah menyakiti Baginda Nabi, kita juga telah menyakiti Allah, kalau kita telah lancang berani menyakiti Allah dan Rasul-Nya, maka siapakah diri kita ini?. Masih pantaskah kita mengaku sebagai manusia dan pengikut ajaran Baginda Nabi Muhammad SAW.

Terlepas dari itu, cobalah sedikit kita lihat seperti sekarang ini, di negara-negara Islam terutama negara kita Indonesia sudahkah kita menunaikan ajaran yang telah di wariskan oleh Baginda Nabi tersebut?. Karena masih terdapat perilaku yang tidak sesuai dengan yang telah diajarkan Rasulullah, Seperti, pengeboman, pembunuhan, pelecehan dan penganiayaan yang dilakukan oleh kita umat yang mengaku diri sebagai muslim dan kerapkali sasarannya adalah para turis manca negara yang sebenarnya tidak melakukan kesalahan.

Memang kita semua pasti tidak bisa menerima tindakan zalim yang dilakukan oleh siapapun, termasuk yang telah dilakukan oleh Amerika dan sekutunya selama ini, tetapi sebagai orang yang beriman seharusnya kita berpikir untuk lebih dewasa dengan sebaliknya menunjukkan kepada dunia bahwa kita umat Islam adalah umat beradab yang penuh dengan kasih sayang, saling menghormati, toleransi dan memiliki sifat baik seperti yang diajarkan dalam Islam. Seharusnya yang kita salahkan adalah kebijakan pemerintah Amerika dan sekutunya bukan warga negaranya, dan itupun dengan cara-cara yang diplomatis dan jangan bertindak seenak nafsu kita, sehingga kita bisa terhindar dari perilaku yang sungguh jauh dari perbuatan yang terpuji dan dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya. Bukankah Allah telah memuliakan semua manusia seperti yang termaktub di dalam Al-Qur`an surat Al-Israa` ayat 27 ”Wa laqad Karramna banii Adam (Dan telah Kami muliakan anak keturunan Adam).” Jika Allah saja telah memuliakan manusia, kenapa masih ada manusia Islam yang mencaci dan melaknat sesamanya?. Apakah ia merasa lebih tinggi martabatnya daripada Tuhan.

Saudaraku, ketahuilah justru dengan tindakan yang tidak dewasa seperti tersebut diatas nantinya akan terus menguatkan opini masyarakat dunia terutama Amerika dan sekutunya yang selama ini beranggapan bahwa orang Islam kasar dan tidak punya perikemanusiaan semakin terbukti. Karena dengan tindakan yang tidak terpuji dan seenak nafsu kita itu meskipun hanya segelintir orang, tentunya akan menggambarkan kebobrokan ajaran dan akhlak sebuah kaum padahal dalam ajaran agama manapun tidak ada yang mengajarkan kerusakan apalagi agama kita Islam. Apakah kita umatnya yang kelak sangat mengharapkan syafaat dari Baginda Nabi di akherat telah benar-benar mencintai beliau sedangkan kita tidak pernah mengikuti apa yang telah di cintai dan di tuntunkan Beliau?. Padahal Baginda Rasul mengajarkan kepada kita untuk menghormati tamu. janganlah kita lupa, Beliau pernah bersabda ”Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hormatilah tamunya.” Jadi para turis itu adalah tamu bagi kita sehingga harus dihormati sebaik-baiknya. Itu jika kita merasa beriman kepada Allah dan hari akhir. Jika tidak, ya terserah! Lakukan apa yang ingin anda lakukan, tetapi jangan sesekali anda menamakan diri anda bagian dari umat Islam. Sebab tindakan yang menyakiti, membunuh dan tidak menghormati tamu itu jauh dari ajaran Islam. Karena hanya dengan keteladanan yang baiklah kita bisa membuktikan kepada mereka akan kebenaran ajaran Islam.

Mengapa kita tidak belajar dari apa yang pernah dilakukan oleh Baginda Rasul ketika semasa hidupnya. Ketika itu Islam harus dihadapkan dengan persoalan untuk hidup secara berdampingan dengan kaum kafir quraisy dimana sebelumnya telah memusuhi dan memperlakukan umat Islam dengan tidak adil dan semena-mena, serta juga harus hidup berdampingan dengan orang-orang non-muslim lainnya. Rasul yang juga sebagai kepala pemerintahan kala itu membuat sebuah aturan, jika dia warga negara tak terkecuali non-muslim maka dia harus menunaikan kewajibannya sebagai warga negara yaitu membayar pajak dan setelah itu haknya sama dengan orang Islam dan wajib dilindungi. Jadi mengapa kita masih sering mengingkari contoh tauladan yang telah diberikan oleh Baginda Nabi? dimana seharusnya Beliaulah yang harus dijadikan suri tauladan yang baik bagi kita karena jelas sumbernya dan telah termaktup di dalam Al-Qur`an surat Al-Ahzab ayat 21. Kita tidak boleh ragu akan dirinya jika kita benar-benar cinta kepadanya. Karena bila seorang telah mengaku cinta kepada seseorang yang lain maka seharusnya ia juga akan mencintai apa yang telah dicintai oleh kekasihnya itu. Dan dalam hal ini adalah kecintaan kita kepada Baginda Rasul, jadi mengapa kita tidak turut mencintai apa yang telah Beliau cintai.

Dan ingatkah kita apa yang pernah dilakukan dan alami oleh Rasulullah ketika Beliau pernah diludahi, dilempari batu dan kotoran, Beliau tidak marah dan menaruh dendam, sebaliknya terus mendo`akan ke hadirat Allah SWT untuk orang/kaum yang menyakitinya. Beliau terus mengajak mereka kepada kebenaran dengan sebuah sikap teladan, karena Beliau tahu bahwa orang/kaum tersebut belum mengetahui Islam secara baik dan benar. Hingga dengan kecintaan dan keteladanan itulah orang/kaum yang telah menyakiti semakin tergugah hatinya dan pada akhirnya tertarik untuk masuk kedalam agama Islam tanpa dipaksa.

Kita juga bisa melihat bahwa sejarah telah membuktikan dimana sifat cinta kepada siapa saja tak terkecuali non-muslim yang telah di contohkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW, telah memberikan lebih banyak manfaatnya dari pada mudharotnya. Contohnya waktu itu di Makkah dan Madinah masyarakatnya memiliki agama dan keyakinan yang beraneka ragam tapi tetap bisa hidup berdampingan secara damai dan sejahtera. Sehingga sekali lagi, jika kita memang benar-benar mencintai Rasulullah agar kelak mendapatkan syafaatnya, hingga mengantarkan kita pada janji Allah yaitu surga yang tidak pernah terpikir dan dibayangkan oleh siapapun dan terbesit didalam hati setiap manusia karena begitu indahnya, maka mengapa kita tidak berusaha mengikuti apa yang telah di tuntunkan oleh Rasulullah?. Sebab cinta yang paling hakiki adalah kecintaan kita kepada Allah dan Rasulnya dengan jalan mengikuti apa yang telah di tuntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya hingga akhir hayat.
Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin dan selalu mengajarkan kepada sikap untuk saling mengasihi serta saling memaafkan satu sama lain. Sehingga sudah menjadi kewajiban bagi kita semua umat Islam di dunia untuk mulai dari sekarang beranggapan seperti yang telah Rasulullah contohnya dahulu bahwa mereka (orang, kaum, bangsa, agama) yang selalu mencela, menghina dan menyudutkan umat Islam seperti sekarang ini dikarenakan oleh ketidaktahuan mereka terhadap ajaran Islam yang sebenarnya. Dan mari luruskan kembali anggapan mereka yang keliru itu dengan sikap teladan yang kita berikan seperti yang Rasulullah contohkan karena dengan sikap teladan inilah tentunya akan membuktikan bahwa anggapan mereka terhadap Islam selama ini yang kasar dan tidak berperikemanusiaan adalah hal yang keliru. Mari kita buktikan bahwa Islam tidak seperti yang selama ini mereka ketahui dan bayangkan. Agar nantinya kita bisa hidup secara berdampingan dengan damai, sejahtera dan mencapai kemakmuran secara bersama pula.

Semoga kita termasuk golongan orang yang selalu meletakkan Islam sebagai agama yang Rahmatan lil Alamin dan terus memupuk kecintaan kepada Baginda Nabi dengan mengikuti apa yang telah Beliau tuntunkan, sehingga nantinya kita akan memelihara keimanan dengan rasa cinta dan kasih sayang serta dapat mengemban amanah Illahi Robbi yang menjadi tanggungjawab. Karena dakwah yang mujarab bukan hanya dari lisan saja akan tetapi lebih kepada keteladanan (perbuatan) yang kita berikan.

Wallahu a`lam bishshowwab.

Penulis: Mashudi Antoro, telah di terbitkan pada lembar Jum`at Al-Rasikh (2007)

Raihlah Kenikmatan Surga

Posted on Updated on

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya……” (QS. Al-Baqarah [1] :25).

Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni syurga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin”. (QS. Ar-Rahmaan [55]:56)

Berbagai kesenangan dan kebahagiaan dunia tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan nikmat dan kesenangan di akherat (surga) kelak. Di sanalah segala keindahan dan kesenangan akan dirasakan dalam bentuk yang murni. Karena di surga setiap orang akan mendapatkan segala kenikmatan yang tak pernah ia dapatkan selama hidup di dunia ini dan akan abadi selamanya.

Sungguh berada diluar kapasitas manusia di dunia ini untuk memahami kebahagiaan surga karena begitu indahnya. Dengan hanya mengimani keberadaannya sudah cukup karena sudah pasti ada. Dan seorang tidak perlu mengetahui secara detail tentang dimana atau bagaimana surga, karena tidak pernah bisa dirasakan dan tidak pernah terbesit didalam hati setiap manusia. Hal ini bisa disamakan dengan seorang janin di dalam rahim ibunya yang tidak mengetahui bagaimana dunia luar. Allah berfirman “Maka tiada jiwa tahu apa yang tersembunyi bagi mereka tentang sesuatu yang menyegarkan mata, ganjaran bagi apa yang mereka lakukan.” (QS. As-Sajdah [32] :17). Dan mengenai kenikmatan surga Allah mengatakan “Di sana mereka akan memperoleh apa yang mereka inginkan, dan Kami ada tambahan lagi.” (QS. Qaf [50] :35), “Dan mereka akan menetap di tempat yang menjadi keinginan jiwanya.” (QS. Al-Anbiya [21] :102).

Bagi kaum beriman, ada kerajaan yang sesungguhnya, dimana mereka akan berkuasa penuh atasnya dan setiap keinginannya akan terkabulkan. Tidak ada yang membangkang padanya ”Sesungguhnya jika engkau melihat ke sana, engkau melihat kenikmatan dan kerajaan yang besar.” (QS. Al-Insan [76] :20). Bahkan di ceritakan untuk orang yang tingkatan surganya paling rendah saja, akan diberikan untuknya surga yang panjangnya sama dengan suatu jangka waktu seribu tahun, dan para malaikatpun tidak diperbolehkan masuk kedalamnya tanpa seizin penghuninya.

Ketika seorang mukmin memasuki istananya di surga, sebuah mahkota kebesaran akan dikenakan di atas kepalanya, dan baginya disediakan tujuh puluh ribu jenis pakaian yang berhias mutiara dan permata. Jika salah satunya di perlihatkan kepada penghuni dunia ini, maka mereka tidak akan sanggup menahan keharumannya, ”Di sana mereka diberi perhiasan gelang emas dan mutiara, dan disana mereka akan diberi pakaian sutra.” (QS. Al-Hajj [22] :23).

Di ceritakan bahwa satu hari Jibril memutuskan untuk mengukur luasnya surga. Ia terbang yang jauhnya setara dengan tiga puluh ribu tahun sampai merasa letih, lalu ia meminta kekuatan kepada Allah. Kemudian sekali lagi ia terbang sebanyak tiga puluh kali lipat dan setiap kali terbang setara dengan tiga puluh ribu tahun, sampai pada akhirnya kehabisan tenaga. Kemudian Ia bertanya kepada Allah apakah ia sudah menerbangi banyak atau masih banyak yang belum diterbangi?. Mendengar itu seorang bidadari segera keluar dari tendanya dan berkata “ Wahai Ruh Allah! Mengapa engkau menyusahkan diri, karena engkau telah terbang sedemikian rupa padahal sekedar melintasi halamanku pun belum”. Subhanallah, betapa luasnya surga yang Engkau janjikan kepada setiap manusia yang beriman dan meng-Esakan Engkau ya Allah.

Kepada umatnya, Allah juga telah menjanjikan bahwa setiap orangnya kelak akan mendapatkan pasangan masing-masing sebagai imbalannya ketika hidup di dunia. Dan untuk mendapatkan kesenangan jasmaniah di surga, Allah telah menciptakan hur al-`ain bagi kaum yang beriman. Mereka diberi nama itu karena hur artinya warna yang terang, dan `ain artinya kehitaman, karena hitamnya mata mereka akan benar-benar hitam. Dan kulit mereka putih jernih. “Seakan-akan mereka itu merah delima dan mutiara”. (QS. Ar-rahmaan [55] :58).

Diceritakan pula bahwa seorang hur (bidadari) akan mengenakan tujuh puluh pakaian, sekalipun begitu batis mereka dapat dilihat. Tubuh mereka berkilauan laksana gemerlap merah delima. Abdullah bin Mas`ud berkata bahwa ia mendengar Nabi SAW berkata bahwa cahaya akan bersinar di surga dan orang-orang akan bertanya-tanya apakah gerangan itu?. Akan dikatakan kepada mereka bahwa cahaya itu memancar dari gigi seorang bidadari yang sedang tertawa sambil duduk di hadapan suaminya. Bayangkan bagaimana kecantikannya?.

Semua Huri (bidadari) ini usianya adalah enam belas tahun, sementara usia kaum beriman di surga adalah tiga puluh tiga tahun. Rambut para bidadari itu berombak, tubuh mereka terang dan bersih dari segala rambut yang tidak disukai. Para bidadari itu tidak akan sombong dan tidak akan saling iri hati.

Dari beberapa kenikmatan surga diatas, itu baru segelintirnya saja karena masih banyak kenikmatan yang tidak bisa dipahami oleh nalar kita. Allah berfirman ”Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, maka kamu tak akan dapat menghitungnya.” (QS. An-Nahl [16] :18). Ketika orang beriman memasuki surga maka akan dikirim kepada mereka seribu malaikat yang akan mengucapkan selamat kepada mereka. Sedangkan kenikmatan paling besar bagi mereka adalah bahwa Allah akan langsung berbicara dengan mereka. Banyak riwayat tentang hal ini tetapi saya hanya mengutip salah satunya dari Al-Qur`an yaitu ”Damai, Ucapan dari Tuhan Yang Maha Pangasih.” (QS. Yasin [36]:58). Itu sama halnya dengan kehormatan yang didapatkan dengan para Nabi untuk berbicara dengan Allah.

Singkatnya, surga adalah suatu tempat yang bebas dari kehampaan dan kesedihan. Cacat, sakit dan penuaan tidak pernah terjadi disana. Tidak ada tempat bagi kebosanan dan kegelisahan. Yang ada adalah kedamaian dan kesenangan mutlak. Karena itu juga surga disebut Dar as-Salam (tempat kedamaian). Dan tentunya akan dirasakan bagi mereka yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.

Oleh sebab itu wahai saudaraku seiman. Mengapa kita masih saja mencintai kehidupan dunia yang sesaat ini melebihi kecintaan dan pengharapan kebahagiaan di akherat nanti?. Mengapa masih saja kita menggadaikan kehidupan kita di dunia yang sesaat ini, yang hanya sebagai transit sebelum ajal datang menjemput dengan kenikmatan yang tiada sebanding dengan kenikmatan di surga?. Kita sering berusaha meraih kenikmatan dunia dengan usaha yang maksimal sedangkan untuk meraih kebahagiaan dan kenikmatan di surga yang telah dijajikan oleh Allah begitu indahnya sehingga tidak pernah terbesit di dalam hati manusia itu tidak pernah kita perjuangkan dan terkadang hanya sekedarnya saja. Padahal seharusnya selama hidup di dunia yang fana ini, kita persiapkan bekal sebanyak mungkin untuk jaminan selama di akherat kelak, karena hidup di dunia kesempatannya hanya satu kali saja. Bersyukurlah kepada seorang hamba yang telah menyadari dan menunaikan kewajibannya.

Mari mulai dari sekarang saudaraku, kita bersama menginstropeksi diri kita masing-masing, sudah sejauh manakah pengabdian dan penghambaan kita kepada Allah dengan menata hati dan pikiran untuk terus membenahi ikhtiar dan berdo`a yang tulus kehadirat-Nya, selagi masih muda, selagi masih sehat, selagi masih diberi kesempatan untuk memperbaiki segala kesalahan oleh Allah sebelum tiba saat penyesalan sudah tiada artinya lagi.

Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beriman dan beramal shaleh sehingga nantinya akan menjadi orang yang beruntung di yaumil akhir.

Wallahu `alam bishshowab

Penulis: Mashudi Antoro (Oedi`)

Jangan Bersedih

Posted on Updated on

“Janganlah sekali-kali kamu menunjukkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman” (QS. Al-Hijr:88)

K

esedihan adalah peluang yang sangat luas bagi kecemasan untuk datang menghampiri. Bahkan bisa dikatakan bahwa kesedihan merupakan awal dari kecemasan itu sendiri. Karena kesedihan akan menuntun kita kepada sikap untuk tidak mau melakukan kegiatan yang baru serta selalu pesimis dengan kehidupan yang sedang atau akan dijalani. Oleh sebab itu dalam Al-Qur`an Allah memerintahkan kepada setiap hambanya agar tidak bersedih ”Janganlah kamu bersikap lemah dan jangan (pula) bersedih hati, kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman ” (QS. Ali-Imran [3]:139).

Jadi kesedihan itu sendiri adalah suatu sikap yang dapat membuat hidup menjadi keruh. Menjadikan hidup kita tidak jernih dan bermakna. Ia akan menyebabkan kita lemah semangat, tak bergairah dalam menjalani kehidupan. Sehingga jika terus berkelanjutan maka sikap sedih ini akan menghantarkan kita pada fase sikap untuk acuh kepada kebaikan, tidak peduli kepada kebajikan, tidak mau menjegah kepada yang mungkar bahkan turut memupuknya, tidak peduli atau tidak memiliki semangat untuk mencapai kebahagiaan serta terus larut di dalam kebinasaan. Ini merupakan suatu perbuatan yang sangat merugikan dan berdampak tidak baik, baik bagi diri sendiri, bahkan bagi orang lain dan lingkungan sekitar.

Jika selama ini kita menderita dan selalu dilanda oleh bermacam cobaan yang tak kunjung reda sehingga menghantarkan kita kepada jurang kesedihan, maka ingatkan selalu diri kita bahwa jika kita terus ikhlas dan berusaha sabar dalam menghadapinya maka kenikmatan surga yang abadi akan setia menanti. Dan apabila kita telah benar-benar menyakini dan menjalankannya sepanjang kehidupan di dunia ini maka dengan demikian kita telah mengubah setiap kesedihan menjadi kebahagiaan, kefakiran menjadi keuntungan, dan bencana menjadi kenikmatan. Karena orang yang beruntung salah satunya adalah menyakini bahwa semua yang telah diujikan oleh Allah akan ada ujungnya dan pasti tidak akan melebihi batas kemampuannya, seperti yang termaktub di dalam Al-Qur`an surat Al-Mu`minuun [23] ayat 62 ”Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang membicarakan kebenaran dan mereka tidak dianiaya”.

Jadi kesedihan hanya akan memadamkan api semangat dan gairah. Meredakan tekad serta akan membekukan akal pikiran dan hati kita. Kesedihan itu seperti layaknya penyakit yang menggerogoti seluruh tubuh dan membuatnya lemas serta tidak berdaya. Karena kesedihan itu hanya akan membawa energi negatif, ia akan membawa daya yang menghentikan semangat dan bukan membangkitkan semangat. Dan tentunya hal yang sedemikian bukanlah suatu yang berfaedah bagi diri terutama bagi hati.

Letakkan hati kita sesuai pada tempatnya, InsyaAllah hal-hal yang dikhawatirkan tidak akan pernah terjadi. Namun sebagai antisipasi sebelum hal-hal yang dicemaskan itu bakal terjadi, maka sebaiknya perkirakan dulu hal-hal terburuk yang akan terjadi, kemudian persiapkan diri untuk menghadapinya dengan tenang. Jika demikian maka kita telah menerapkan sebuah perilaku yang sesuai dengan kata pepatah lama ”Sedia payung sebelum hujan”. Dengan begitu, kita dapat menghindari semua bayang-bayang kesulitan dan ketakutan yang terkadang acap kali sudah berhasil mengobrak-abrik tatanan hati dan perasaan sebelum benar-benar terjadi.
Selain itu sadarlah bahwa ada kesedihan yang baik, seperti halnya seorang hamba yang bersedih dikarenakan merasa bahwa kedekatan dan penghambaannya kepada Allah sangatlah sedikit, ini menandakan bahwa hatinya masih tetap hidup dan terbuka lebar untuk menerima tamu agung yaitu hidayah-Nya. Kesedihan yang demikian sangat baik karena kedepannya akan membawa seseorang untuk segera bertobat dan tidak ingin kembali berkubang dalam kesalahan yang pernah dibuatnya serta akan selalu berusaha untuk memperbaiki dan mengerjakan apa yang menjadi perintah-Nya sebelum saat ajal datang menjemput. Sehingga pada akhirnya nanti akan kembali lahir orang-orang yang memiliki kekuatan iman dan Islam. Dengan kata lain, jika kita dapat membedakan dan memenej sebuah kesedihan dengan benar maka ia akan menjadi tambahan kebajikan dan sarana untuk mensucikan diri.

Namun meskipun demikian memang tidak dapat dipungkiri bahwasannya kesediahan itu pada tahap tertentu tidak dapat dihindari dan seseorang terpaksa harus bersedih karena suatu kenyataan. Berkenan dengan ini, disebutkan bahwa para ahli surga ketika memasuki surga akan berkata, ”Segala puji bagi Allah yan telah menghilangkan duka cita kami” (QS. Fathir [35]: 34). Ini menandakan bahwa ketika di dunia mereka pernah bersedih sebagaimana mereka tentu saja pernah ditimpa musibah yang terjadi di luar ikhtiar mereka. Hanya, ketika kesedihan itu harus terjadi dan jiwa tidak lagi memiliki cara untuk menghindarinya, maka kesedihan itu justru akan mendatangkan pahala. Itu terjadi karena kesedihan yang demikian merupakan bagian dari musibah atau cobaan. Maka dari itu, ketika seorang hamba ditimpa kesedihan hendaknya ia senantiasa melawannya dengan do`a-do`a dan sarana lain yang memungkinkan untuk mengusirnya. (di sadur dari DR. `Aidh al-Qarni, dalam bukunya La Tahzan). Jadi bila sebuah kesedihan datang menghampiri maka sebagai hamba yang beriman dan bersyukur sebaiknya itu dijadikan seperti ladang amal ibadah yang baru pula, dengan melakukan hal-hal yang dapat mengembalikan semangat seperti, memperbanyak shalat, ikhtiar, do`a, instropeksi diri. Sehingga dengan sendirinya kesedihan yang sempat singgah itu lambat laun akan turut memudar seiring berjalannya waktu.

Janganlah bersedih dengan beberapa kekurangan yang dimiliki. Karena ingatlah wahai saudaraku, bahkan para nabi-nabi mulia terdahulu meskipun manusia pilihan semuanya bahkan pernah menjadi pengembala ternak. Dan meskipun mereka termasuk manusia pilihan dan sebaik-baik manusia tetapi pekerjaan mereka tetap saja seperti manusia biasa. Nabi Daud adalah seorang tukang besi, Nabi Zakaria seorang tukang kayu, Nabi Idris seorang tukang jahit. Belum lagi para Nabi terdahulu juga selalu diberi cobaan dan ujian yang bermacam-macam, ini sama dengan kita sebagai manusia biasa, bahkan terkadang jauh lebih dahsyat. Para sahabat, tabi`it, tabi`it tabi`it dan para alim ulama juga mendapatkan perjalan kehidupan yang penuh cobaan dan ujian yang juga begitu dahsyatnya bahkan hingga nyawa sebagai taruhannya seperti halnya saidina Umar bin khatab yang dilumuri oleh darahnya sendiri, saidina Ustman yang di bunuh secara diam-diam dan saidina Ali yang ditikam dari belakang, serta masih banyak lagi kisah para alim ulama yang harus menerima hinaan, cacian, siksaan dan cobaan yang silih berganti. Ini semua mengisyaratkan bahwa harga diri dan kebahagiaan tidak diukur oleh status dan kepemilikan tetapi lebih kepada kemampuan, keikhlasan, amal salih, akhlak dan mamfaat yang kita hasilkan. Maka dari itu, janganlah pernah bersedih dengan kondisi fisik yang kurang ideal dan cantik, harta yang sedikit dan rumah yang tidak megah, karena pada hakikatnya semua itu adalah titipan Allah semata kepada kita yang kelak di yaumil akhir akan di pinta pertanggungjawabannya satu persatu. Untuk itu kepada hambanya yang dapat menjalankan amanah secara benar Allah berjanji dalam Al-Qur`an surat Ar-ra`ad [13] ayat 29 ”Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik”. Atas dasar itulah mari saudaraku seiman, janganlah bersedih karena kita masih memiliki agama yang kita yakini dan tuntunan yang benar yaitu Al-Qur`an dan Al-Hadist. Marilah kita senantiasa gembira dan berlapang dada. Tersenyumlah dan jangan lupa memohon serta mengadulah hanya kepada Allah SWT semata agar selama hidup di dunia ini selalu diberikan kebaikan, sifat terpuji dan diridhoi.

Kepada-Nya kita memohon diberikan kejernihan hati dan kelapangan pikiran. Kepada Allah lah satu-satunya dzat yang patut kita mohon pertolongan agar senantiasa melapangkan hati kita dengan cahaya iman, menuntunkan hati kita kepada jalan-Nya yang lurus dan berfaedah. Menyelamatkan hidup kita selama di dunia dari yang susah dan menjauhkan kita dari siksa api neraka yang teramat perih.

Wallahu a`lam bishshowwat.

Penulis: Mashudi Antoro (2007)