Buku_ku

Sebuah Pengakuan

Posted on Updated on

“Ya Tuhan kami, Sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti” (QS. Ali-`Imran [3] ayat 193)

Ya Allah, dalam kehinaan hamba yang fana ini maka dengarkanlah. Dalam kefakiran diriku yang bersimpuh dibawahmu maka kabulkanlah doaku ini. Penuhi ruang yang ada di dalam rongga hatiku dengan cahaya yang hanya berasal dari cahaya-Mu, dengan cinta yang selalu tidak melebihi kecintaanku terhadap-Mu. Ya Rahman, janganlah kau palingkan wajah-Mu dariku yang penuh harap akan ridha-Mu. Hamba tidak peduli Syurga atau Neraka tempatku di hari kelak, namun satu harapanku yang tulus yaitu mendapatkan senyuman dari-Mu di hari waktu pertanggungjawaban.

Ya Rabb, sungguh tak pantas diri ini mengaku beriman kepada-Mu sedangkan hamba sungguh banyak berbuat salah dengan tidak mengetahui tentang hakekat syariat-Mu. Hamba selama ini memang menjalankan perintah-perintah itu namun dengan tanpa kesadaran diri, melainkan atas dorongan nafsu dan hanya ingin diketahui oleh orang lain (Riya`) saja. Hamba memang senantiasa menjalankan syariat agama-Mu itu namun tidak disadari bahwa selama itu pula sebenarnya yang dilakukan bukanlah apa yang sesuai dengan hakekat isyarat dari-Mu melainkan sebuah kemunafiqkan semata. Hamba hanya melakukannya atas dasar rutinitas dan apa yang diturunkan dari para orangtua kami dulu. Hamba kurang cerdas, kurang berhati-hati dan kurang pula dalam berpikir agar benar-benar berjalan di jalan yang lurus. Sehingga tak pelak diri ini seperti kerbau disawah yang hidungnya dilubangi untuk kemudian dipasangi tali dan selalu mengikuti kemana perintah tuannya jika ditarik tanpa memikirkan apakah itu baik atau buruk dan sesuai dengan hakekatnya. Ya Allah, sungguh hina diri ini dihadapan-Mu karena dengan apa yang hamba lakukan selama ini maka tak pantaslah bila mengaku telah Islam dan beriman kepada-Mu, karena apa yang dikerjakan itu belum banyak sesuai dengan hakekat perintah dan aturan-Mu.

Baca entri selengkapnya »

Novel: Tulus Hati Sepasang Kaizen

Posted on Updated on

cover-novel-tulus-hati-sepasang-kaizen-1

Ini adalah sebuah novel yang ditulis oleh seorang mahasiswi bernama Retno Puspa Dewi yang tiada lain adalah adikku tercinta. Dia kuliah di UMY dan mengambil jurusan Hubungan Internasional (HI). Berikut ini sedikit penggalan ceritanya:

“Suamiku, aku ingin, kau mencintaiku bagaikan seorang penyair mencintai pikiran-pikirannya dengan penuh kegembiraan, aku ingin, kau mengingat diriku sebagai seorang pengembara yang teringat akan tenangnya kolam, dimana pantulan cerianya dirimu terefleksikan saat meminum airnya.
Aku ingin, kau mengingat diriku sebagai seorang ibu yang teringat akan anaknya yang ada di surga, sebelum bayi itu melihat cahaya, aku ingin, kau mengingatku sebagai seorang raja murah hati yang teringat akan seorang tawanan yang mati setelah pengampunan menghampirinya, maukah kau berjanji padaku suamiku?”

Kudengarkan dengan senyum mengembang di kedua bibirku lantunan ayat-ayat suci itu, pada saat nyawaku sudah sampai di tenggorokan, malaikat jibril menebarkan sayap kanannya, dari sana kubisa melihar gambaran calon tempat tinggalku berupa surga, aku terus menerus memandangi keindahan gambaran surga itu dan timbullah keinginanku untuk segera menempatinya.

Saat itu aku tak mau memperdulikan yang lain, sekalipun eyang, ayah maupun mas Bagas meratap melihat keadaanku dengan pandangan yang menerawang, karena begitu asyiknya aku memandangi gambaran surga itu, maka berbahagialah aku dengan kuburku yang menjadi pertamanan dari taman-taman surga, izrail-pun melaksanakan tugasnya tanpa belas kasih, dan secara perlahan kumulai memejamkan kedua mataku sambil mengucapkan syahadat.

Novel “Pegorbanan Cinta”

Posted on Updated on

cover

Akhirnya setelah menulis dalam kurun waktu th.2007-2009 novel yang berjudul “Pengorbanan Cinta” telah kelar juga aku tuliskan, senang sekali rasanya.

Novel ini mengisahkan tentang perjuangan seorang pemuda (Bayu) yang dengan segala kemampuannya untuk mempertahankan keyakinan cinta yang sejak awal telah ia padukan dengan kekasih pujaan (Dyah). Meski ia pernah satu tahun terpisah antara Jogja dan Hokaido (Jepang), walau harus mendaki gunung Lawu, meski ada banyak cobaan yang dialamatkan untuk kesetiaan cinta keduanya, namun semuanya tetap berusaha untuk mereka jalani sebagai wujud kodrati sebagai makhluk bernama manusia. Sebuah cinta yang memang keduanya telah taruh tinggi diatas singgasana kemuliaan.

Sedikit cuplikan dari isi novel:

Ada semacam tangan kuat yang menarikku untuk ikut dengan apa yang ia kehendaki, dengan apa yang kelak ia berikan kepadaku. Dan dibalik pengharapan yang tidak disengaja ternyata itulah dirimu yang aku temukan bersama waktu saat ini.

Ya Tuhan aku bermohon pada-Mu restuilah apa yang sedang kami jalani saat ini, untuk kemudian memadukannya dalam gerak langkah hidup yang abadi. Tuangkan secuil kenikmatan lagi kepada kami agar terpadulah kedua belahan hati yang mungkin inilah yang terpisah. Dan jika Engkau sudi untuk menyatukan aku dengan dia menjadi satu hati maka berilah jalan yang mudah agar kami lancar menempuhnya.

Bujukan sanubari yang resah hanya ketika terdiam dan tidak bercerita terus memotivasi keduanya bersama dalam biduk kemesraan. Dan ini terus bertahan oleh karena keduanya benar-benar terlarut didalam kemuliaan sebuah cinta. Tidak dengan cinta yang sesaat saja, melainkan sebuah ruh kehidupan yang secara keseluruhan merenggut kendali seorang hamba dalam berprilaku. Sebuah cinta yang senantiasa mengawal dengan bijak perjalan kakinya untuk melangkahi lorong-lorong kehidupan. Cinta yang dengannya itu pula telah berhasil membawa keduanya bersama kasih dan sayang. Untuk kemudian berpadu bersama kesetiaan dan pengabdian yang tulus.

Jgy, 2007-2009
Oedi`

Alam Kemuliaan Cinta

Posted on Updated on

oedi-sundak-2-047

Oh betapa dunia ini begitu mempesona dengan tiada henti sejak diizinkan oleh Tuhan sebagai tempat tinggalnya para manusia. Keindahannya tidak saja hadir bersama panorama dan kebagusannya melainkan ketika setiap hari yang dilalui adalah dalam pasang surutnya kehidupan, dengan kebahagiaan dan kesedihan bersama kekasih yang paling dicintai. Dan ketika seperti sekarang dimana keduanya telah berjabat erat bersama kesedihan dalam hidup maka tentunya akan senantiasa membawa mereka pada hangatnya pelukan sang cinta sejati. Mereka dengan sabar menjalani apa yang telah menjadi takdir dan keinginan dari Yang Maha Kuasa untuk dilalui.

Setelah kedua anak manusia ini menyanyikan melodi kesedihan dan kerinduannya secara bersamaan, maka wajah hari semakin erat merangkul mereka dalam pesona cinta yang semakin agung. Keduanya telah pula meninggalkan hiruk pikuk kehidupan dunia menuju alam kemuliaan cinta. Di dalam alam itu keduanya tercekal dan dipaksa untuk menetap disana selama beberapa waktu. Karena sang cinta sebagai penguasanya telah merestui mereka menjadi pasangan yang tulus dan setia. Kondisi ini begitu menggodanya, sehingga akan membuat iri para manusia pendengki dan pengkhianat cinta suci.

Bujukan sanubari yang resah hanya ketika terdiam dan tidak bercerita terus memotivasi keduanya bersama dalam biduk kemesraan. Dan ini terus bertahan oleh karena keduanya benar-benar terlarut didalam kemuliaan sebuah cinta. Tidak dengan cinta yang sesaat saja, melainkan sebuah ruh kehidupan yang secara keseluruhan merenggut kendali seorang hamba dalam berprilaku. Sebuah cinta yang senantiasa mengawal dengan bijak perjalan kakinya untuk melangkahi lorong-lorong kehidupan. Cinta yang dengannya itu pula telah berhasil membawa keduanya bersama kasih dan sayang. Untuk kemudian berpadu bersama kesetiaan dan pengabdian yang tulus.

Jgy, 2007-2009
Oedi`

[Sebuah cuplikan dari novel terbaruku “Perpisahan Cinta”]

Buku “Kajian Hati, Isyarat Tuhan”

Posted on Updated on

cover-buku-kajian-hati-isyarat-tuhan

Salam cinta dan kebahagiaan kepada engkau saudaraku yang hidup tenang bernaung dibawah sayap cinta Illahi Robbi. Salam penuh kemesraan selembut belaian kasih dan sayang baginda Rasulullah kepada kita sebagai umatnya. Doa dan penghaturan kepada Allah Swt teruntuk dirimu semoga kelak kita dipertemukan kembali di suatu tempat yang jauh dari ketidakbaikan dan penyesalan. Dan semoga Allah Swt senantiasa menyelimuti jiwa dan hatimu pada tebalnya iman dan taqwa yang sesungguhnya.

Saudaraku tercinta, setelah melihat apa yang tengah terjadi disekitar kita sekarang ini dan apa yang telah dihasilkan olehnya dimana banyaknya kemungkaran dan kemunafiqkan oleh umat manusia, maka tergerak hati ini untuk memberikan sesuatu yang akan membahagiakan hatimu sebagai percikan cahaya makna. Sudah menjadi kegembiraanku jika kelak engkau mau membaca dan menyelami apa yang terdapat didalam setiap rangkaian tulisan dibuku ini, karena setiap isinya adalah penjelasan atas sesuatu yang selama ini telah banyak dilupakan oleh para umat manusia. Padahal Allah Swt telah berfirman di dalam Al-Qur`an surat An Nahl [16] ayat 90:  “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”. Karena “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri,….”(QS. Al-Isra` [17] ayat 7).

Saudaraku yang terkasih, tidak ada niat dihatiku untuk mendapatkan kemuliaan oleh engkau wahai manusia karena sudah cukup hanya Allah Swt saja yang menghiburku dalam kenikmatanNya selama ini. Karena  “Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri,….” (QS. Al-Isra` [17] ayat 15). Dan jujur tidak akan pernah aku memperoleh puncak kebahagiaan batin yang penuh selain restu dan bimbingan dari Sang Maha Hidup Allah Swt dalam menuliskan isi buku ini karena aku begitu mencintaimu.

Wahai saudaraku yang budiman, ketahuilah ketika aku menuliskan bait-bait kata di dalam buku ini, maka sesungguhnya selama itu pula aku dibantu oleh Bapakku tercinta sebagai sumbernya. Dari Allah Swt dan melalui perantara beliaulah aku dapat memahami dan menjabarkan kesemua syariat Islam didalam buku ini. Buku ini ditulis seiring dengan keresahan hatiku akan hari depan umat manusia, akan bagaimana kelak jadinya kita hamba Allah Swt, karena telah banyak diantara para alim ulama yang keliru akan hakekat yang sesungguhnya.

Saudaraku, buku ini begitu sederhana sehingga diharapkan dengan selesainya ia dituliskan, maka kepada engkau kuberikan sebuah warisan yang indah ini sebagai pedoman dirimu menjalani hidup dan kehidupan. Kemudian akupun juga mengharapkan kepada dirimu untuk sudi menularkannya kepada diri manusia yang lain sebagai wujud cintamu atas sesama.

Wahai saudaraku, hanya doa dan pengharapan besar kepada Allah Swt terus terhaturkan dihatiku untukmu, sebagai ungkapan rasa kasih sayang dan cintaku yang sungguh mendalam padamu. Tidak ada harta benda atau kedudukan tinggi yang dapat aku tinggalkan karena hanya inilah yang dapat aku berikan sebagai bekal untuk dirimu setelah matiku nanti. Semoga Allah Swt membalasnya dengan kebaikan yang hakiki.

Dan yang terakhir adalah ucapan terima kasihku kepada engkau karena telah membaca, memahami dan melaksanakannya dalam kehidupanmu sehari-hari. Teruslah menjadi sinar dikegelapan suasana, meskipun kecil tetapi sinarmu itu akan membahagiakan banyak manusia. Dan tebarkan selalu benih cinta serta kasih sayang yang ada dihatimu kepada umat manusia, karena dengan itu kita akan selalu bersama tersenyum untuk duduk diatas singgasana kemuliaan nan sejati. AllahuAkbar.

Yogyakarta, 2007-2009
Mashudi Antoro, (Oedi`)

[Sebuah buku yang kutulis bagi mereka yang ingin mencapai hak demi kebenaran]

Nafas Hidup dan Kehidupan

Posted on Updated on

jalan-sempit01-copy

Wahai engkau yang berhati jernih…. Ketahuilah bahwa dalam setiap tarikan nafas hidup, maka disanalah ada kesempatan besar harapan kepada diri kita untuk dapat dengan leluasa mendapatkan kebahagiaan. Meskipun dengan berjuta kesedihan dan penderitaan yang dilalui, namun jika kita cermat dalam mengambil kesimpulan dan makna yang terkandung di dalamnya maka seiring itu pula akan hadir kebahagiaan dan keindahan didalam hidup ini. Meskipun secara logika itu tidak akan menunjukkan sebuah keadaan yang baik karena banyak kepedihan yang beriring bersamanya namun sadarilah bahwa terkadang keindahan itu akan jauh lebih indah dan berkesan ketika ia hadir dengan wajah kesedihan. Tinggal saja kita yang harus lebih cermat dan pandai dalam menentukan sikap dan perilaku untuk kemudian mengambil sebuah kesimpulan.

Baca entri selengkapnya »

Kemuliaan Cinta…

Posted on Updated on

Bujukan sanubari yang resah hanya ketika terdiam dan tidak bercerita terus memotovasi keduanya bersama dalam biduk kemesraan. Dan ini terus bertahan oleh karena keduanya benar-benar terlarut didalam kemuliaan sebuah cinta. Tidak dengan cinta yang sesaat saja, melainkan sebuah ruh kehidupan yang secara keseluruhan merenggut kendali seorang hamba dalam berprilaku. Sebuah cinta yang senantiasa mengawal dengan bijak perjalan kakinya untuk melangkahi lorong-lorong kehidupan. Cinta yang dengannya itu pula telah berhasil membawa keduanya bersama kasih dan sayang. Untuk kemudian berpadu bersama kesetiaan dan pengabdian yang tulus.

 ” Ya Tuhan, Engkau adalah segala Maha, maka dari itu aku bermohon kepadamu sebagai hamba yang hina ini untuk dapat merengguh secuil kenikmatan darimu, aku juga senantiasa berharap Engkau sudi menerima permohonanku untuk senantiasa menempuh sebuah kebahagiaan seperti yang telah kami alami pada saat ini, dimana aku dan dia duduk bersama dalam keindahan pertemuan. Taburi pula rasa yang tersirat seperti pada saat ini dengan keinginan untuk dapat terus mengulur silaturahmi dan kepercayaan. Karena sejatinya telah sangat aku rasakan kebahagiaan dan keindahan yang luar biasa ketika aku bisa bertemu dan memandang dirinya yang tidak mudah terkikis oleh kesombongan duniawi.”

[Tulisan diatas adalah penggalan dari novel terbaruku]