Kaum Aryadinah dan Kekaisaran Nurasanggara

Wahai saudaraku. Dalam kesempatan ini, kami mengajak Anda sekalian untuk kembali mengulik sejarah masa lalu. Masa dimana manusia sudah hidup dalam keteraturan dan peradaban yang tinggi. Dan kaum yang akan kita bahas kali ini bernama Aryadinah. Atas prakarsa dari seorang pemuda, kaum ini lalu mendirikan sebuah kekaisaran yang bernama Nurasanggara. Kerajaan besar itu berpusat di Milanura, sebuah kota yang dulu pernah ada di sekitar antara Serang-Banten, Ujungkulon dan Sukabumi sekarang.

Ya. Kaum ini hidup pada masa akhir periode zaman ke enam (Nusanta-Ra), tepatnya di sekitar antara 150.000 – 160.000 tahun silam. Kaum yang terpandang ini pernah dipimpin oleh Syam Aire, pendiri kekaisaran dan seorang raja yang termahsyur. Sementara sosok yang menjadi cikal bakal berdirinya kekaisaran ini bernama Syam Hiyadala. Setelah berjuang cukup lama, akhirnya ia berhasil mendirikan sebuah kerajaan bernama Sanggara yang berlokasi di sebuah kawasan di antara Bengkulu dan Lampung sekarang. Di masa keturunannya, secara perlahan tapi pasti, peradaban yang dimiliki oleh kaum ini beranjak maju dan terpandang. Sampai pada akhirnya mereka bisa mendirikan kekaisaran Nurasanggara yang berpusat di antara Serang-Banten, Ujungkulon dan Sukabumi sekarang. Sejak saat itu, negeri mereka bahkan menjadi pusat peradaban dunia.

Continue reading “Kaum Aryadinah dan Kekaisaran Nurasanggara”

Kerajaan Aryawina: Kejayaan dan Kehancuran Leluhurku

Wahai saudaraku. Pada pertengahan periode zaman keenam (Nusanta-Ra), atau sekitar ±425.000 tahun silam berdirilah sebuah kerajaan yang bernama Aryawina. Kerajaan ini terbilang sangat besar dan memiliki wilayah yang sangat luas karena meliputi daerah mulai dari negara Bangladesh, Myanmar, Thailand, Kepulauan Andaman, Vietnam, Kambodia, Laos, Malaysia, Selat Malaka, Laut Karimata, Laut Jawa, sebagian dari Laut China Selatan, pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Jawa sekarang. Dan pada masa itu, bisa dikatakan bahwa kerajaan Aryawina ini adalah sebuah kekaisaran yang besar.

Kehidupan di kerajaan Aryawina ini penuh dengan kemakmuran dan keamanan. Siapapun yang hidup didalamnya akan merasakan kebahagiaan lantaran semua kebutuhan hidupnya bisa terpenuhi. Selain dengan bangsa-bangsa yang ada di Mallayara (penamaan Nusantara di masa itu), mereka juga telah berinteraksi dengan bangsa-bangsa dari belahan Bumi lainnya, seperti mereka yang hidup di daratan Syanin (China), Widrah (India), Hirab (Timur Tengah) dan Masri (Afrika bagian utara).

Continue reading “Kerajaan Aryawina: Kejayaan dan Kehancuran Leluhurku”

Alfaruq Hiyadi Alfatah

Ya nauli. Halbiyani asuktah nammaru dirhamna biswaril yahanikmatasya sullabinu, hargiyani tartarun sigalayakasyi. Mindayali arbiyanila surtanu nihmatiyahi lilbarus Swarnula-Jawi hijayari. Watuqa rihlatasya isbanturi namila Nusanta-Ra riksyalawi nabunirata zangkurtinahasyi. Wallinabuya rimadhani asma’unhiya swadurilaha ustafaruq alfaruq hiyadi alfatah Bhumiyasya. Isymakayun nurhayyun lilbasharisy wijayakurman silbahubana hanikasya. Continue reading “Alfaruq Hiyadi Alfatah”

Kaum Hilbatar: Perang Dunia dan Kejayaan Nusantara

Wahai saudaraku. Pada periode zaman ke enam manusia (Nusanta-Ra), maka sebelum masa kehidupan Nabi Musa AS, hiduplah kaum yang dulunya tinggal di sekitar Jambi-Palembang sekarang. Kaum tersebut bernama Hilbatar, yang didirikan oleh sekelompok orang yang berasal dari kaum sebelumnya yang bernama Artamia. Sebelum tinggal di Swarnula (penamaan tanah Sumatera waktu itu), dulunya mereka tinggal di sekitar Semarang sekarang, di kerajaan Druwakati. Akibat perang besar yang menghancurkan kerajaan Druwakati, mereka tersebar ke berbagai negeri. Salah satunya adalah mereka yang akhirnya tinggal di Swarnula, atau lebih tepatnya di sekitar wilayah Jambi-Palembang sekarang. Lambat laun di tempat baru itu mereka mendirikan kaum dan kerajaan yang baru yang bernama Hilbatar.

Continue reading “Kaum Hilbatar: Perang Dunia dan Kejayaan Nusantara”

Lagu Dolanan Anak-Anak: Pesan dan Prediksi Kehidupan Bangsa

Wahai saudaraku. Dalam kesempatan kali ini mari kita membahas tentang lagu dolanan anak-anak yang ada sejak ratusan tahun lalu. Meskipun hanya sebuah lagu permainan, ternyata di dalamnya menyimpan berbagai pesan dan nasihat yang adi luhung. Dan sebagai sebuah bangsa yang besar, kita patut untuk bisa meresapi dan mengambil hikmahnya. Tujuannya tentu untuk kebaikan dan kemuliaan bersama.

Ya. Dulu ada satu tembang yang berjudul “Dayoh (tamu)” yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga untuk anak-anak di tanah Jawa. Lagu tersebut biasanya di nyanyikan oleh mereka saat bulan suci Ramadhan tiba dan sering diiringi oleh sebuah permainan. Apa yang terkandung di dalamnya sekilas memang tampak sepele, namun sebenarnya merupakan pesan yang sangat mendalam dan prediksi yang akurat untuk perjalanan hidup sebuah negara. Karena itulah, dengan segala kebijaksanaannya, Kanjeng Sunan Kalijaga berniat untuk bisa mendidik anak manusia sejak di usia dini. Caranya ya tentu dengan mengikuti dunia mereka, yaitu dengan cara bermain sambil bernyanyi.

Continue reading “Lagu Dolanan Anak-Anak: Pesan dan Prediksi Kehidupan Bangsa”

Kaum Artamia: Bangkit dan Hancurnya Leluhurku

Wahai saudaraku. Pada masa-masa awal periode zaman ke-6 (Nusanta-Ra), atau sekitar ±800.000 tahun silam, hiduplah sekelompok masyarakat yang tinggal di sekitar Jawa Timur sekarang. Mereka ini di antara manusia yang selamat dari bencana dahsyat pada saat transisi zaman sebelumnya. Atas bimbingan seorang Nabi yang bernama Awila AS, mereka pun kembali membangun peradaban yang maju.

Dalam sejarahnya, mereka ini berasal dari kaum yang sebelumnya tinggal di sekitar pulau Sulawesi bagian barat sekarang. Nama kaum tersebut adalah Karimala dan sudah hidup disana selama 1 juta tahun lebih. Namun menjelang masa transisi zaman ke-5 (Dwipanta-Ra) menuju ke zaman ke-6 (Nusanta-Ra), mereka lalu mendapatkan informasi bahwa zaman akan segera berganti baru. Yang memberi kabar saat itu adalah seorang Maharesi yang bernama Ranatasya. Melalui begawan itu pula kaum Karimala ini mendapatkan petunjuk tentang apa yang harus mereka lakukan sebagai persiapan untuk menghadapi bencana dahsyat itu. Karena mau dengan sadar diri mengikuti setiap petunjuk dari Maharesi Ranatasya, akhirnya mereka bisa selamat pada saat pemurnian total sedang terjadi di muka Bumi. Selanjutnya, di kemudian hari mereka mengganti nama kaumnya menjadi Artamia. Semua hanya atas petunjuk Tuhan melalui seorang utusan-Nya yang bernama Awila AS.

Continue reading “Kaum Artamia: Bangkit dan Hancurnya Leluhurku”

Jalan Keikhlasan

Siapa dirimu wahai manusia ketika telah mengatakan sudah ikhlas dalam menjalani kehidupan ini? Apakah masih tetap sebagai manusia, atau justru sudah berubah menjadi syaitan? Jika masih merasa sebagai manusia, maka apakah dirimu telah berlaku sebagaimana manusia? Jika tidak, maka apa saja yang kau lakukan? Bukankah seharusnya kita selalu menjadi manusia dalam hidup ini?

Inilah sebenarnya ikhlas yang ku maksudkan. Karena bagaimana seseorang bisa dikatakan telah ikhlas jika saja ia tidak lagi berlaku sebagai manusia? Sebab, manusia itu adalah makhluk yang sempurna dalam penciptaannya, yang tentunya lengkap dengan sikap dan perbuatannya. Salah satunya adalah keikhlasan. Dimana ketika ia masih sebagai manusia, maka ia pun akan senang melakukannya – tanpa berubah dan terlepas dari sikap pamrih dan pamer – di setiap waktu. Jika tidak, berarti ia bukan lagi seorang manusia, tetapi syaitan.

Continue reading “Jalan Keikhlasan”