Guru-Parampara

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Sangat disayangkan bila kini semakin banyak yang mengabaikan ajaran yang terdapat dalam kitab suci. Padahal setiap uraiannya bertujuan agar Manusia bisa menemukan jenjang kesadaran yang lebih tinggi. Sementara observasi berguna untuk menemukan fakta dan bukti yang signifikan tentang kebenaran sejati. Oleh karena itulah di satu sisi Manusia harus berpikiran logis, dan disisi yang lain hendaknya ia tetap berusaha untuk lebih dekat kepada Tuhan melalui hal-hal yang tak logis (pengetahuan supranatural). Sebab pengetahuan hasil observasi haruslah melengkapi pengetahuan dari kitab suci – yang karena keterbatasan Manusia sering dianggap tak logis.

Makanya, secara garis besar ada tiga pengetahuan di dunia ini. Yaitu:

1. Praktyaksa (pengetahuan yang didapatkan langsung melalui indriya).
2. Anumana (pengetahuan logika dengan cara melihat gejala-gejala atau tanda-tanda, berdasarkan perhitungan analisa yang logis dan sebagainya).
3. Sabda (pengetahuan yang diturunkan oleh Tuhan; wahyu, firman).

Ketiga hal di atas adalah cara yang tepat untuk bisa mengetahui kebenaran yang sejati. Sehingga harus saling mendukung dan dipergunakan oleh Manusia hingga kapanpun demi kebaikan hidupnya sendiri. Tentulah dengan sikap yang bijak untuk mendapatkan hasil yang sepadan. Pun demi mencapai tujuan sebenarnya dari pengetahuan yang sejati.

Makanya, ada yang disebut dengan Parampara (jalur yang telah ditentukan dalam pengetahuan suci) atau disebut juga sebagai garis perguruan ruhani. Inilah anugerah besar bagi umat Manusia sejak awal kehidupannya dulu. Hal ini akan selalu terjaga, dan apabila terputus, maka Tuhan akan mengutus seseorang untuk menyambungnya lagi – ke garis Parampara yang sama.

Lantas siapakah sosok yang menjadi utusan tersebut? Dialah sang Guru-Parampara, atau pribadi yang telah mampu memurnikan energi Ilahi untuk meningkatkan kekuatan jiwanya. Energi dalam tubuh harus lebih murni dan kuat dari sebelumnya. Ranah jiwanya pun harus meningkat dan bertambah luas dengan menyatukan diri pada alam dan tentunya Sang Pencipta alam itu sendiri. Sehingga penggabungan aura dan kekuatan jiwa dapat menghasilkan keseimbangan yang semestinya. Inilah yang diperlukan sebelum ia menyampaikan beragam ilmu pengetahuan suci kepada dunia dan segala isinya.

Ya. Sosok tersebut adalah pribadi yang sangat memahami apa yang disebut dengan Sampradaya. Sebuah istilah yang bisa diterjemahkan sebagai “tradisi” atau “sistem religius”. Sampradaya ini berhubungan erat dengan pelayanan yang disiplin (dharma bhakti) sebagai jalan spiritual dan mengandung jaringan hubungan yang rumit – secara lahir batin – yang membuat stabilitas identitas religius menjadi jelas saat jaringan tersebut menjadi tidak stabil. Sehingga pada setiap masa tertentu, akan ditunjuklah seorang master syifu (mahaguru) yang punya otoritas dan menjadi penuntun ilmu atau ajaran yang sejati. Dialah yang dapat mengembalikan kebenaran dan keadilan setelah dalam waktu yang relatif lama terus menyimpang.

Maka dari itu, tidak semua orang berhak menerima pengetahuan suci dan mengajarkannya – apalagi mengaku-ngaku. Sebab konsep Sampradaya terkait erat dengan realitas yang konkret dari sistem estafet Guru-Parampara (garis keturunan guru spiritual sebagai pembawa dan pemancar tradisi lampau). Ibarat buah, maka ia akan jatuh tak jauh dari pohonnya. Artinya, seorang yang terpilih itu adalah sosok yang berasal dari trah (garis keturunan) yang istimewa. Para leluhurnya dulu bukanlah orang awam yang tak berkeahlian khusus. Mereka adalah pribadi yang tercerahkan dari kalangan Kesatria, Raja-Ratu, Nabi, Wali, Resi, dan Begawan yang masyhur.

Dan tidak bisa pula setiap orang itu dapat menjadi anggota dari Sampradaya tanpa pelantikan (diksa) yang sah di alam ruhani oleh para Guru-Parampara sebelumnya. Itu adalah prosedur tetap yang harus di laksanakan pada setiap kurun waktu tertentu. Hanya sosok yang terbaiklah yang berhak menerimanya, karena tugas dan tanggungjawab yang harus ia emban tidaklah mudah. Dialah sosok yang linuwih dan terpilih dari sekian banyak pribadi yang istimewa.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Mugia Rahayu Sagung Dumadi.. 🙏

Jambi, 06 Juni 2020
Harunata-Ra

Bonus instrumental:

3 respons untuk ‘Guru-Parampara

    Abhiseka Ceraka Nusantara said:
    Juni 11, 2020 pukul 2:12 pm

    Reblogged this on ABHISEKA CARAKA NUSANTARA.

    Martha said:
    Juni 14, 2020 pukul 3:16 am

    Trimakasih Mas Oedi tulisannya penuh makna. Aku suka banget. Semangat berkarya teruss nggih. Salam Rahayu 😊🙏

      Harunata-Ra responded:
      Juni 14, 2020 pukul 10:17 am

      Iya mbak sama2lah ya.. Syukurlah kalo gitu.. Nuwun karena masih mau berkunjung, semoga ttp bermanfaat.. 🙏😊

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s