Asimbala : Negeri Perdamaian

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Sekali lagi kami akan menceritakan kisah tentang kaum terdahulu, yang pernah hidup di kawasan timur, tenggara, dan selatan Bumi. Perlu disampaikan untuk mengingatkan betapa perjalanan hidup Manusia itu sungguh luar biasa dan terhitung sangat lama. Jelas berbeda dengan pemahaman umum (mainstream) selama ini. Sehingga tak perlu heran jika apa yang disampaikan nanti terasa aneh dan diluar kebiasaan.

Nah, untuk mempersingkat waktu mari ikuti penelusuran berikut ini:

1. Awal kisah
Semua yang ada dalam kisah ini terjadi pada akhir periode zaman ke empat (Swarganta-Ra) atau sekitar ¬Ī275 juta tahun silam, di sebuah kawasan yang dulunya disebut Artadhaya. Adapun kawasan ini sekarang meliputi seluruh wilayah Nusantara (Asia Tenggara), Asia Selatan, Asia Tengah, Asia Timur, Kepulauan Pasifik, Australia, dan New Zealand. Pada masa itu, seluruh kawasan tersebut masih tergabung dalam sebuah daratan yang sangat luas (satu benua). Hanya ada beberapa teluk dan selat yang cukup panjang dan luas sebagai pemisah antar wilayah di beberapa titik lokasi. Selebihnya hanyalah daratan dan lautan yang begitu luas.

Sebagaimana yang telah disampaikan pada kisah-kisah sebelumnya, maka dalam kisah ini pun kehidupan flora dan fauna yang ada di kawasan Artadhaya sangat berbeda dari sekarang, lebih beragam. Bahkan pada masa itu masih ada hewan yang tulang belulangnya sekeras besi-baja sehingga bisa digunakan untuk senjata tajam yang mematikan. Begitu pula halnya dengan tumbuhan, selain ada yang berukuran raksasa – sampai berukuran tinggi melebihi 1.000 meter – juga memiliki kekerasan batang seperti besi dan punya daya tahan yang menakjubkan. Tidak sedikit yang membangun rumah di atas pohon-pohon raksasa itu, dan mereka dapat tinggal disana selama ratusan tahun. Karena pohon raksasa itu pun dapat hidup selama puluhan ribu tahun dalam kondisi yang subur.

Nah, yang menjadi fokus pembahasan kita disini adalah tentang kaum-kaum yang tinggal di sebuah wilayah yang kini disebut Laut Selatan Jawa. Dan pada masa itu, kondisi yang ada disana masih berupa daratan yang sangat luas, yang terdiri dari hutan, lembah, padang rumput, perbukitan dan gunung-gunung yang menjulang tinggi. Sungguh indah kondisi disana, dimana terdapat banyak panorama alam yang menakjubkan. Sangat berbeda dari sekarang yang hanya berupa air lautan (Samudera Hindia).

Dan suatu ketika, di sebuah kerajaan yang bernama Harksa terjadilah persaingan di antara dua klan yang ada. Keduanya sangat berpengaruh, karena sama-sama keturunan langsung dari sang pendiri kerajaan. Tidak ada yang mau mengalah, dan ini menimbulkan perang saudara yang berkepanjangan. Mereka bertempur habis-habisan, dan tak menghiraukan seberapapun korban jiwa yang berjatuhan. Sampai akhirnya datang penyelesaian melalui campur tangan dari pihak Langit. Sesuai petunjuk dari Hyang Aruta (Tuhan YME), dua orang Malaikat diperintahkan untuk turun mendamaikan dan membimbing kedua klan yang bertikai tersebut.

Singkat cerita, oleh kedua utusan Langit itu klan Akina dan Hagita dibekali dengan berbagai ilmu pengetahuan lahir dan batin, ilmiah dan spiritual. Hal itu membuat mereka dapat memahami tentang hakekat dari hidup di atas dunia ini. Dan atas petunjuk-NYA, kedua klan tersebut akhirnya membangun kota mereka sendiri di tempat yang berbeda, jauh dari pusat negara Harksa. Di sana keduanya dapat hidup secara damai dan sejahtera, tidak pernah lagi bertikai karena disibukkan dengan urusan mereka sendiri. Mereka sampai memisahkan diri dari kerajaan asalnya; Harksa, namun tidak berniat untuk mendirikan kerajaan saingan. Hanya sebatas negeri independen setingkat kota yang dipimpin oleh seorang pemuka yang bergelar Murda untuk klan Akina dan Tansa untuk klan Hagita. Keduanya menggunakan bahasa yang berbeda, karena para Malaikat yang membimbing mereka saat itu telah mengajarkan dua bahasa yang berbeda pula. Bahasa itulah yang akhirnya mereka pakai seterusnya.

Catatan: Di antara mereka tidak pernah ada kendala dalam komunikasi. Karena setiap orangnya bisa menguasai setidaknya tiga bahasa yang berbeda, yaitu bahasa dari klan Akina dan Hagita, ditambah satu lagi bahasa pemersatu yang berasal dari negeri leluhurnya dulu; kerajaan Harksa.

Adapun kehidupan mereka sehari-hari masih seperti Manusia pada umumnya. Dimana tetap mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara bercocok tanam, beternak, dan membuat berbagai kerajinan tangan untuk diperjual-belikan. Hanya saja kini telah berbeda niat dan tujuannya, karena jika dulu mereka terobsesi dengan kemegahan duniawi, selanjutnya tidak lagi. Mereka telah sadar bahwa kehidupan dunia ini cuma sementara, tak perlu dikejar-kejar secara berlebihan. Karena sesungguhnya tak pantas dan menjijikkan.

Sehingga tujuan utama hidup mereka saat itu pun hanya untuk menyempurnakan dirinya (lahir batin). Mereka juga terobsesi untuk bisa berpindah Dimensi kehidupan dengan cara moksa. Butuh persiapan yang tidak mudah dan memakan waktu yang juga tidak sebentar. Karena setiap orang harus menang dalam pertempuran melawan dirinya sendiri dengan setia mengikuti hukum dan aturan Tuhan secara murni. Hasrat keinginan perlu dikendalikan, begitu pula dengan akal dan pikirannya. Semuanya harus tetap dalam bingkai rasa syukur, sikap rendah hati dan berserah diri kepada Hyang Aruta (Tuhan YME).

2. Kehidupan klan
Selama ribuan tahun kehidupan dari klan Akina dan Hagita terus berlanjut dengan tenang dalam pola-pola yang relatif sama. Tradisi dan kebiasaan yang ada sejak awal membangun negerinya tetap dipertahankan. Bukan lantaran terpaksa atau sekedar taat ritual belaka, melainkan sudah disadari oleh setiap pribadi bahwa itulah yang terbaik bagi mereka semua. Mereka sangat membutuhkannya, dan tentunya untuk kebaikan dan kemuliaan dirinya sendiri.

Ya. Sejak kecil orang-orang di klan Akina dan Hagita sudah dibekali dengan olah kanuragan dan kebatinan (spiritual). Secara bertahap, oleh kedua orangtuanya setiap anak diajari tentang berbagai hal yang menurut standar kehidupan dunia pada masa itu bahkan terasa berat. Namun demikian, karena memang sudah “keturunannya” maka anak-anak dari klan Akina dan Hagita justru menyukainya, tidak merasa terbebani. Bahkan mereka terus meningkatkan keahlian – tanpa disuruh – dengan berguru kepada para bijak di klannya atau di tempat lain. Makanya tak heran saat di usia yang masih muda mereka sudah bisa menguasai ilmu kadigdayan tingkat tinggi. Kemampuan mereka di atas rata-rata Manusia pada zamannya.

Catatan: Klan Akina dan Hagita sangat terbiasa dalam mengolah chakra dan laku batin yang sulit. Karena itulah bukan hal yang aneh jika di dalam kehidupan mereka ada yang bisa terbang, menghilang, mengubah wujudnya, berteleportasi, bertelepati, dan berbicara dengan hewan. Bahkan di antara mereka ada yang bisa menggerakkan atau mengendalikan objek apapun hanya dengan pikirannya (telekinesis). Dan itu bisa terjadi karena sejak belia mereka sudah dibekali dengan berbagai olah diri. Ada banyak rahasia ilmu yang telah mereka ketahui dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dan semua keahlian istimewa yang dimiliki itu tidak lantas membuat hati mereka jadi angkuh. Semakin tinggi ilmu yang berhasil dikuasai justru membuat diri mereka bertambah rendah hati. Ibarat padi yang semakin berisi maka akan semakin merunduk, begitulah sifat dasar mereka sehari-hari. Sehingga ini pula yang menyebabkan warga dari klan Akina dan Hagita bisa mencapai moksa dengan lebih mudah dari kebanyakan orang. Lahir dan batin mereka senantiasa terjaga dalam kondisi yang baik.

Bagaimana tidak, karena setiap orangnya telah dibekali dengan pengetahuan tentang diri sejati. Dan untuk bisa membangkitkan kemampuan tersembunyi dalam dirinya, maka setidaknya ada 6 hal dasar yang perlu diketahui dan dipahami oleh seseorang. Semuanya itu adalah bagian yang tak terpisahkan dari dirinya sendiri – termasuklah kita sekarang. Adapun disini kami hanya bisa memberikan tiga buah contohnya saja, yaitu:

1. Maltan => Terjadi dari anasir Tanah. Wadagnya berada di dalam kulit dan daging. Wataknya serakah, tamak, egois, curang, malas, lamban, dan senang menjauhkan diri dari kebaikan. Jika bisa dikuasai atau dikendalikan, maka akan menjadi dasar kekuatan jasmani dan ketabahan.

2. Daltan => Terjadi dari anasir Air. Wadagnya berada di dalam tulang dan sumsum. Kekuatannya terasakan sebagai kehendak yang menyebabkan adanya hasrat keinginan-keinginan atau cita-cita. Bisa menjadi sarananya Tuhan yang efektif, namun akan menjadi negatif apabila tidak dikendalikan, alias diarahkan hanya pada kesenangan duniawi.

3. Agtan => Terjadi dari anasir Api. Wadagnya berada di dalam darah. Wataknya berangasan, amarah, tidak sabaran dan gelap mata. Kalau bisa dikendalikan menjadi kemauan, tekad, dan ketekunan yang positif, maka bisa menjadi jalan kemuliaan dan kekuatan ruhani yang istimewa.

Nah, pengetahuan yang seperti di atas itulah yang menjadi bekal utama bagi setiap orang di dalam klan Akina dan Hagita. Di tambah lagi dengan berbagai informasi lain yang menjadi pelengkap dari yang sudah ada – yang dijelaskan di atas. Dan mereka tidak hanya sekedar cukup mengetahuinya saja, karena memang harus benar-benar memahaminya jika ingin menguasai berbagai ilmu kanuragan dan kadigdayan tingkat tinggi. Lalu setelah keduanya berhasil dikuasai, maka terbukalah jalan untuk bisa mencapai kesempurnaan hidup. Mereka akan menemukan pencerahan batin yang lebih baik dari apapun yang didapatkan hanya lewat teori, informasi di kitab-kitab, atau menurut katanya orang saja. Harus langsung praktek sendiri, karena hasil akan selalu bersesuaian dengan usaha yang telah di lakukan sebelumnya.

Catatan: Mengenali diri sejati dengan memperbanyak laku tirakat dan semedhi adalah bagian dari upaya untuk bisa membangkitkan energi Ilahi yang tersembunyi dalam diri Manusia. Jika berhasil, maka tak perlu heran dengan kekuatan dan kemampuannya yang menakjubkan.

Hanya saja tidaklah mudah untuk bisa mewujudkannya, karena setiap orang harus menempuh jalan kesabaran dan ketekunan yang tinggi. Ada teknik-teknik khusus yang harus dikuasai untuk bisa meningkatkan daya kekuatan dan penyerapan energi. Semuanya butuh waktu dan kesungguhan yang tinggi agar hasil yang didapatkan memuaskan. Dan setiap apa yang ingin diraih harus melalui cara-cara yang bertingkat, tidak ada yang instan. Ada level-level yang harus dinaiki sebagai upaya untuk dapat benar-benar mempersiapkan diri sebelum memperoleh sesuatu – yang menjadi keinginan.

Begitu pula dengan ketiga bagian diri Manusia di atas (Maltan, Daltan, dan Agtan), yang bisa dikuasai hanya ketika seseorang telah mengikuti setiap tahapan yang ada. Pun harus tertib mengolah diri (lahir batin) dengan melakukan berbagai gerak tubuh, laku tirakat dan semedhi. Tanpa hal itu semuanya akan berakhir sia-sia, alias takkan membawa hasil yang maksimal, bahkan meskipun itu untuk mereka yang berasal dari klan Akina dan Hagita. Karena di antara tujuan sebenarnya dari mengolah diri itu adalah untuk bisa mematikan akal sehat (logika) demi meningkatkan kepasrahan diri kepada-NYA.

3. Hamorin, kompetisi para kesatria
Dalam kehidupannya selama ribuan tahun, ada satu tradisi yang terdapat dalam kehidupan dari klan Akina dan Hagita. Dimana pada setiap 25-50 tahun sekali akan diselenggarakan pertandingan khusus yang disebut Hamorin, atau yang berarti pilihan yang terbaik. Setiap pemuda dari kedua klan diperbolehkan ikut. Bahkan seandainya ada yang berasal dari luar klan mereka pun dipersilahkan saja. Yang penting ia sudah memenuhi syarat yang telah ditentukan.

Adapun tujuan dari pertandingan itu adalah untuk memilih sosok yang pantas mendapatkan kesempatan untuk pergi ke sebuah negeri yang tersembunyi, yang bernama Isimaya. Di sana, seseorang akan mendapatkan pelajaran tentang berbagai ilmu pengetahuan rahasia dan bisa meningkatkan kemampuan dengan memurnikan energi Ilahi yang tersembunyi dalam dirinya. Sungguh beruntungnya mereka yang bisa kesana, sebab ia akan menjadi sosok yang luar biasa dan istimewa. Tentunya lengkap dengan kewibawaan dan kebijaksanaan yang tinggi. Sehingga ia pun layak menjadi seorang pemimpin besar di kemudian hari.

Dan pertandingan itu di lakukan selama minimal 15 hari di bulan Guskal (bulan ke 7 menurut kalender bangsa Harksa). Selama itu, ada 3 jenis seleksi yang harus diikuti oleh setiap orang sebelum akhirnya sampai di babak final. Siapapun yang bisa lolos dari ketiga tahapan pertandingan itu, tentulah sosok yang terbaik. Jumlahnya pun tidak banyak, karena biasanya tak lebih dari 5 orang saja.

Singkat cerita, pada tahap yang pertama setiap peserta harus mengikuti kejuaraan tepat sasaran. Artinya siapapun harus mahir menggunakan berbagai senjata seperti panah dan lembing untuk di arahkan ke sebuah sasaran yang bergerak atau diam. Ada tim penilai yang akan menentukan siapakah yang berhak lulus dan tidak. Lalu di tahapan yang kedua harus berhasil keluar dari ilusi. Artinya peserta harus memasuki hutan angker yang didalamnya banyak terdapat ilusi yang membingungkan. Dan ilusi tersebut memang berasal dari dalam hutan itu sendiri, juga oleh para penghuni goib hutan tersebut, ditambah lagi dengan yang sengaja diciptakan oleh para sesepuh klan. Tujuannya jelas untuk menyeleksi semua peserta, hingga akhirnya terpilihlah beberapa orang yang terbaik dari mereka semua. Karena itulah beragam keahlian khusus sudah harus dimiliki oleh setiap peserta untuk dapat keluar dari hutan tersebut dengan selamat.

Setelah itu, di tahapan yang ketiga setiap peserta harus bisa mendapatkan sebuah benda pusaka yang telah disembunyikan di beberapa tempat rahasia. Nah dikarenakan setiap peserta lomba bisa mengendalikan minimal satu elemen alam, maka ia harus mencari benda pusaka tersebut dilokasi yang sesuai dengan elemen alam yang ia kuasai. Misalnya seseorang bisa mengendalikan elemen air, maka dari itu ia pun cukup mencari benda pusaka yang berada di sungai, danau, atau lautan. Disini artinya ia harus masuk ke dalam air selama waktu yang tidak ditentukan, alias sampai berhasil mendapatkan benda pusaka yang dimaksud. Dan ini jelas tidak mudah dan memakan waktu yang lama, karena setiap pesertanya harus mencari kemana-mana dan menghadapi ujian berat dengan bertarung melawan para penjaganya. Mereka bukanlah Manusia, karena sebenarnya makhluk-makhluk air yang punya kemampuan khusus.

Nah begitu pula yang terjadi di tempat lain bagi setiap peserta – sesuai dengan elemen yang ia kuasai. Setelah berhasil mendapatkan benda pusaka yang sengaja disembunyikan itu, barulah seseorang berhak untuk mengikuti ujian final pertandingan. Pada saat itu, setiap orang bebas memilih siapakah lawan tandingnya. Mereka pun boleh mengeluarkan semua kemampuannya untuk bertarung. Tak ada batasannya kecuali membunuh.

Ya. Pertandingan final tersebut biasanya dilaksanakan di lembah Kalazi tanpa batasan waktu. Setiap peserta harus mengeluarkan berbagai keahlian yang menakjubkan untuk bisa bertahan. Apa yang disaksikan pada saat itu sungguh luar biasa, jarang sekali terjadi. Semua orang ingin melihatnya langsung dari dekat meskipun terkadang dihinggapi rasa cemas lantaran berbahaya. Maklumlah kesaktian yang dikeluarkan oleh para peserta sungguh mengagumkan sekaligus mengerikan.

Dan pertandingan final itu berlangsung sengit dan mendebarkan, sampai akhirnya menyisakan satu orang sebagai pemenang. Dialah yang kemudian berhak untuk mendapatkan hadiah utama. Yaitu berkesempatan untuk pergi ke negeri yang tersembunyi (Isimaya) demi mendapatkan ilmu pengetahuan yang lebih tinggi lagi. Sungguh hadiah yang menggiurkan.

Nah untuk bisa sampai ke negeri tersembunyi itu, maka ke tiga sesepuh klan harus menyatukan kekuatan mereka dengan membaca mantra khusus. Melalui ke tiga benda pusaka yang mereka pegang – yang diwariskan dari para pendahulunya – energi khusus lalu disalurkan ke satu titik. Darinya akan membuka portal Dimensi yang menjadi tujuan. Setelah itu barulah sang pemenang lomba bisa berpindah tempat dan mendapatkan anugerah yang istimewa di sana. Ia pun bebas menentukan seberapa lama akan tinggal di sana, tergantung dari apa yang harus dipelajari dan seberapa lamakah waktunya nanti. Dan untuk bisa kembali ke alam nyata dunia ini ia tak perlu lagi mendapatkan bantuan dari ke tiga sesepuh klan. Ia bisa pulang sendiri, karena sudah diberikan kunci rahasianya ketika masih berada di sana.

4. Mendirikan negeri perdamaian
Pada suatu ketika diselenggarakanlah pertandingan untuk mendapatkan kesempatan belajar di negeri Isimaya. Pesertanya tidak hanya berasal dari klan Akina dan Hagita saja, melainkan dari negeri-negeri lainnya. Siapa sih yang tidak ingin mendapatkan anugerah untuk bisa menempuh pendidikan di sebuah negeri yang damai sejahtera dan teristimewa itu? Terlebih pada masa itu sedang terjadi gejolak dimana-mana. Negeri-negeri besar yang berada di kawasan Artadhaya saat itu seperti Mordalah, Gwasal, Usdhaka, Sattru, Mayormi, Ahambe, Yallas, dan lainnya saling bertikai memperebutkan wilayah, harta dan kekuasaan. Kian hari semakin memprihatinkan saja.

Nah dalam pertandingan di lembah Kayazi saat itu, ada seorang pemuda yang mencuri perhatian semua orang. Namanya Masori dan ia berasal dari garis keturunan kedua klan lantaran sang ayah berasal dari klan Akina, sementara ibunya berasal dari klan Hagita. Karena itu pula Masori juga mewarisi bakat dan kemampuan yang unik dari kedua orangtuanya, yang notabene juga mewarisi keahlian khusus dari klannya masing-masing.

Singkat cerita, setelah keluar sebagai pemenang, Masori lalu berkesempatan untuk pergi ke negeri Isimaya. Di sana ia mendapatkan bimbingan untuk bisa lebih mengenal diri sejati dan tentulah juga meningkatkan kesaktiannya. Namun tidak seperti biasanya, saat itu Masori juga terpilih untuk menjalan tugas yang berat. Ia harus berjuang menciptakan kedamaian di seluruh kawasan Artadhaya, baik dengan cara diplomasi ataupun berperang. Para kesatria dari kedua klan, ditambah dengan beberapa orang dari bangsa lainnya akan membantu. Dan setelah itu, ia dan pengikutnya harus membangun sebuah negeri yang penuh kedamaian. Atas petunjuk Ilahi, negeri tersebut lalu diberi nama Asimbala atau yang berarti damai sejahtera.

Catatan: Pada masa itu, kegaduhan yang terjadi di kawasan Artadhaya tidak hanya kebetulan atau sekedar oleh ambisi dari para raja dan ratunya. Tetapi memang ada yang sengaja melakukannya. Siapa lagi kalau bukan sang kegelapan dan para anteknya. Mereka ingin menguasai dunia ini dengan terlebih dulu menghancurkan peradaban Manusia dari dalam. Adu domba adalah cara yang paling mereka sukai, mudah dikerjakan, dan hasilnya terbukti memuaskan. Karena itulah, Masori dan pasukannya harus menghadapi musuh yang tak main-main. Selain dengan para kesatria dari berbagai negara, ia pun harus melawan raja kegelapan dan bala pasukannya. Bukanlah hal yang mudah, karena selain tangguh mereka juga sangat licik.

Ya. Setelah berjuang selama bertahun-tahun akhirnya seluruh kawasan Artadhaya kembali tenang dan damai. Negeri-negeri yang sebelumnya bertikai bisa hidup rukun kembali dibawah pengawasan dari negeri Asimbala – bukan sebagai jajahan. Para pemimpin di sana adalah keturunan langsung dari Masori. Mereka itu adalah sosok pribadi yang berwibawa dan penuh kebijaksanaan. Sehingga setiap perkataan dan titahnya akan diikuti oleh semua orang dengan senang hati. Tidak hanya bagi bangsanya sendiri, tetapi juga bangsa-bangsa yang lainnya.

Catatan: Para pemimpin yang berkuasa di Asimbala telah di anugerahi umur yang panjang. Karena itulah mereka bisa menjabat selama lebih dari 100 tahun. Sehingga negeri perdamaian itu pun mampu berdiri selama lebih dari 13.000 tahun. Dan selama itu pula kondisi di seluruh kawasan Arthadaya khususnya relatif aman dan damai.

Dan benar adanya bahwa apapun yang ada di negeri Asimbala terus menjadi acuan bagi negeri-negeri lainnya. Semuanya teratur dan sesuai pada tempatnya. Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan secara damai di negeri yang menjadi kiblat peradaban dunia kala itu. Bangsa-bangsa yang ada disekitarnya pun sering meminta saran dan nasehat ketika menghadapi persoalan yang pelik. Dan tidak sedikit pula anak mudanya yang menempuh pendidikan di sana, karena memang di negeri Asimbala itu sistem pendidikannya sangat bagus dan maju. Mereka tidak hanya diajari tentang pengetahuan batiniah saja, melainkan yang ilmiahnya juga. Setelah lulus, para siswa dari berbagai bangsa itu akan kembali ke negeri mereka untuk bisa menerapkan ilmu pengetahuan yang ia dapatkan dari negeri Asimbala. Sehingga terus menyebarlah kebaikan, kemuliaan, dan kedamaian di seluruh kawasan Arthadaya. Bahkan di berbagai kawasan lain di seluruh dunia.

Catatan: Negeri Asimbala itu dulunya berada di sebuah wilayah yang kini disebut pulau Jawa. Tapi maaf kami tak bisa menjelaskan detailnya dimana, karena ada protap yang harus diikuti. Dan perlu diketahui bahwa mayoritas penduduk yang tinggal di pulau Jawa saat itu tidak sama dengan orang Jawa-Sunda pada zaman ke tujuh sekarang ini (Rupanta-Ra). Ada banyak perbedaannya, baik dalam hal ukuran tubuh, bentuk wajah, warna kulit dan rambut, serta bentuk dan warna matanya.

5. Akhir kisah
Sungguh indahnya kehidupan pada masa itu. Dan semuanya berlangsung selama ribuan tahun, atau setidaknya sampai pada masa pemimpin ke 127 Asimbala berkuasa. Tapi dimasa itu pula sosok yang bernama Simfari tersebut akhirnya mendapatkan petunjuk untuk memindahkan negerinya. Dengan tata cara khusus, ia dan rakyatnya lalu diharuskan untuk mempersiapkan diri.

Kemudian setelah semuanya terpenuhi, maka dalam hitungan detik negeri Asimbala dan semua penduduknya menghilang, berpindah ke Dimensi lain. Sejak saat itulah mereka terus melanjutkan kehidupannya di sana hingga sekarang. Hanya beberapa orang saja dari mereka yang pernah kembali ke alam nyata dunia ini untuk memberikan petunjuk atau bimbingan. Biasanya hanya untuk para kesatria yang terpilih.

Dan jauh sebelum itu, Masori pernah berpesan kepada yang tinggal di negeri Asimbala. Pesan tersebut ia sampaikan menjelang kepergiannya ke Dimensi lain (moksa). Nasehat itu sangat penting untuk diri mereka sendiri, khususnya mengenai olah kebatinan, agar tujuan yang diinginkan bisa tercapai. Berikut ini kata-katanya:

Ya sauri. Barinaka tuwada hutsakasa imanudaya swarutana. Anamungkata riyamala dukha mankali runakata batajayi tapanikah. Giramada barsah wajhata juram bulkhi RA-NA-TA-KA-YA. RA = Rasuragaya Parasambara, NA = Narasimha Munakatha, TA = Tapakuya Jarapadha, KA = Kasinamanta Hanurrikajaya, an YA = Yanabita Mahasakhila. Darutan minarsaka hayahki asunama lasahiku yamudala. Siji amurata narasiya hiyana parimisla tanu Ilahiyah sagidatya

Begitulah pesan singkat namun padat dari sang pendiri negara Asimbala. Sangat berguna bagi kaumnya dulu, dan tentunya untuk kita sekarang jika ingin lebih mengenal tentang diri sejati. Hasilnya akan meningkatkan kesadaran pribadi, yang pada akhirnya bisa membangkitkan kekuatan diri.

Lantas bagaimana dengan klan Akina dan Hagita? Mereka justru telah lebih dulu berpindah ke Dimensi lain. Tak lama setelah keturunan ketiga dari Masori berkuasa di negeri Asimbala, satu persatu dari klan Akina dan Hagita diperintahkan untuk berpindah tempat kehidupan. Semuanya ikut berpindah, kecuali bagi mereka yang sebelumnya ditugaskan untuk menurunkan generasi berikutnya. Mereka itu tinggal menyebar di berbagai tempat, dan sebagian besarnya berada di wilayah negeri Asimbala. Setelah tugasnya selesai, mereka segera menyusul klannya untuk hidup bersama di Dimensi lain.

Catatan: Sepeninggalan klan Akina dan Hagita, pertandingan Hamorin tetap di laksanakan. Negeri Asimbala yang menjadi tuan rumahnya, sementara pesertanya dari mana saja. Yang penting seseorang itu bisa memenuhi syaratnya. Namun begitu pertandingan yang telah diselenggarakan selama ribuan tahun itu pun akhirnya harus berhenti, tak lagi dilaksanakan sejak negeri Asimbala dan penduduknya berpindah kehidupan.

Demikianlah kisah ini berakhir, semoga bermanfaat. Mugia Rahayu Sagung Dumadi.. ūüôŹ

Jambi, 27 Mei 2020
Harunata-Ra

Catatan:
1. Seperti tulisan sebelumnya, silahkan Anda percaya atau tidak percaya dengan kisah ini. Kami tidak akan memaksa atau merasa kecewa. Tugas kami disini hanya sebatas menyampaikan dan mengingatkan saja.
2. Bacalah dengan tenang dan terurut kisah ini. Bukalah cakrawala hati dan pikiran seluas mungkin untuk bisa memahaminya. Dan jangan menyamakan standar kehidupan di masa lalu dengan sekarang, karena sangat banyak perbedaannya.
3. Ada banyak hal yang tak bisa disampaikan disini karena memang harus dirahasiakan dulu, belum waktunya untuk disampaikan sekarang. Maaf.

Bonus instrumental:

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s