Dibalik Pintu Kehinaan Diri

Posted on

Wahai saudaraku. Jika engkau melihat popularitasmu dengan mata batin yang sejati, kau akan mengetahui bahwa cahaya-NYA telah memudar dari hatimu. Selama engkau masih memakai baju kebesaranmu atau belum memadamkan api kepintaranmu, maka sesungguhnya engkau masih tertipu. Yang demikian itu bukanlah kemuliaan sejati, karena masih terbelenggu dari sesuatu kecuali DIRI-NYA. Pun oleh ego dan kebanggaan diri sendiri.

Oleh sebab itulah Nabi Yunus AS lebih memilih pintu kehinaan dari pada pintu kebanggaan yang memperlihatkan amal baik dalam ber-tawassul dengan berkata: “Tidak ada Tuhan selain ENGKAU, Maha Sucilah ENGKAU, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim” (QS. Al-Anbiya’ [21] ayat 87). Sehingga beliau pun menjadi seorang hamba sejati yang telah menggapai rahmat dan keridhoan-NYA. Ia tidak ber-tawassul kepada Tuhan dengan amal baiknya, seperti yang di lakukan oleh tiga orang yang terkurung di dalam gua (pemuda Al-Kahfi) – inilah bukti bahwa kedudukan para Nabi itu memang lebih tinggi dari siapapun. Beliau tidak pernah mengatakan: “Inilah ketaatanku, kedekatanku, dan amal ibadahku“. Karena yang demikian itu adalah pintu kebanggaan yang kurang baik, tidak terbuka luas dalam menuju rahmat dan keridhoan-NYA.

Catatan: Tawassul adalah mengambil wasilah (sarana, perantara, penghubung) agar doa atau ibadah yang di lakukan dapat lebih diterima dan dikabulkan.

Contoh berikutnya adalah Nabi Musa AS. Beliau juga panutan dalam memperlihatkan pintu kehinaan ini di hadapan Tuhan dalam meraih rahmat dan keridhoan-NYA. Ini terlihat ketika pukulannya sampai menyebabkan kematian orang Mesir yang sedang bertikai dengan salah seorang dari kaumnya, Bani Israil. Ia sangat menyesal dengan perbuatan itu, karena tidak bermaksud membunuhnya, tetapi semata-mata ingin membela kaumnya. Di saat itulah beliau pun berdoa dengan penuh kehinaan diri kepada Sang Pencipta dengan berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri. Karena itu ampunilah aku” (QS. Al-Qashash [28]: ayat 16).

Ya. Di dalam kehinaan yang sejati terdapat kemuliaan yang sesungguhnya. Tapi kehinaan itu terbagi dua, yaitu kehinaan lantaran kebenaran sejati, dan kehinaan yang disebabkan oleh kesalahan pribadi. Siapapun harus memilih, sebab keduanya sangat berbeda, baik dalam hal makna ataupun saat melakukannya. Sehingga boleh jadi rasa hina diri yang sesungguhnya dapat menuntun kita menuju ke pintu kemuliaan dihadapan-NYA. Bukan dari ketaatan yang kadang malah justru membutakan mata hati kita dari keridhoan-NYA.

Namun sayang, kini tak banyak lagi yang memahami tentang makna dari tarbawi yang sesungguhnya. Sehingga mayoritas orang tertipu oleh identitas mereka sendiri. Dan lihatlah kini di antara umat banyak yang terfitnah oleh amal ibadahnya, para ulama-ruhaniawan-ilmuwan sering terjerumus oleh ilmunya, sebagian para tokoh ada yang terbuai oleh ribuan-jutaan orang yang mendengarkannya, dan tidak sedikit dari aktivis gerakan yang telah dikelabui oleh perjuangan mereka yang semu. Di samping itu ada para penguasa, penentu kebijakan, dan pengusaha yang dadanya terus membusung – lantaran merasa bangga dengan pencapaiannya – yang tetap dalam keangkuhan dan kejahatannya sendiri. Hanya sedikit yang dipelihara oleh-NYA dari sifat-sifat buruk seperti itu, sebab mereka adalah orang-orang yang telah sadar diri dengan usaha yang tidak mudah. Caci maki, hinaan, diabaikan, dan dianggap sesat telah mereka rasakan namun dihadapi dengan sikap yang sabar dan istiqomah (tekun, pantang menyerah).

Catatan: Tarbawi berasal dari kata tarbiyah, atau yang berarti pendidikan. Sedangkan maknanya adalah cara yang ideal dalam mengenal diri sejati baik secara langsung ataupun tidak, untuk bisa melakukan perubahan diri menuju ke arah yang lebih baik.

Sehingga agar tidak rusak oleh nafsu dan terbunuh oleh popularitas yang semu, maka seseorang harus mematahkan duri identitasnya sendiri. Engkau harus “meremehkan” dirimu sendiri jika ingin dimuliakan. Kau perlu takut dibuai oleh indahnya tangan-tangan kekuasaan dan banyaknya kepemilikan yang semu. Tuduhlah dirimu itu karena tidak benar dalam melakukan penghambaan yang sejati kepada-NYA. Dan jatuhkanlah kebanggaan dirimu, abaikan ego hati dan tempatkanlah itu semua di atas sajadah penghambaan yang tulus murni. Bersujudlah dengan sebenar-benarnya sujud dihadapan-NYA, bukannya justru dihadapan makhluk.

O.. Engkau bukanlah siapa-siapa kecuali makhluk yang hina dan fana. Semua yang terjadi padamu hanyalah atas izin dan kehendak-NYA saja. Lantas mengapa tidak sebaiknya engkau tetap berserah diri (tawakal), pandai bersyukur (tasyakur), dan selalu bersikap rendah hati (tawaduk)?

Jambi, 29 Mei 2020
Harunata-Ra

Bonus instrumental:

2 respons untuk ‘Dibalik Pintu Kehinaan Diri

    ARYa Ra said:
    Mei 31, 2020 pukul 12:41 am

    Berperang melawan diri sendiri

      Harunata-Ra responded:
      Mei 31, 2020 pukul 12:15 pm

      Perang yg paling besar itu mas.. Jarang yg bisa menang..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s