Lelaku Kehidupan Sejati

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Banyak dari kita yang sudah tidak asing lagi dengan istilah Meditasi, Semedhi, Tirakat, Mesu Brata, dan Tapa Brata. Hanya saja, berapa orang dari kita yang benar-benar mengetahui apa sesungguhnya definisi dari kelima laku tersebut? Ada berapa banyak yang sudah memahami tentang kesamaan dan perbedaannya, atau mengenai hakekat dan maknanya? Sebab, jika tidak tahu maka tidak akan bisa memahami. Dan ketika tidak bisa untuk memahami, maka takkan benar dalam menerapkannya di kehidupan sehari-hari. Semuanya akan berujung sia-sia belaka.

Untuk itu, perlu adanya wawasan yang cukup agar olah kebatinan (spiritual) yang dikerjakan dapat berjalan semestinya. Dan agar lebih jelas, mari ikuti uraian berikut ini:

Dalam kebudayaan kita di Nusantara, maka usaha dalam menempuh jalan spiritual itu bisa disetarakan dengan istilah olah kebatinan. Lalu dalam hal ini, apa yang di lakukan tidak lagi hanya sebatas ritual keagamaan sehari-hari, melainkan upaya khusus dalam menempa diri (lahir batin). Tidak ada yang instan disini, karena harus dilalui dengan sabar dan ketekunan. Selain itu, perlu dikerjakan secara sistematik agar bisa mencapai hasil yang maksimal.

Nah, jika seseorang berkeinginan untuk melakukan olah kebatinan (spiritual), maka ia pun harus terlebih dulu memahami apa saja istilah yang terdapat di dalamnya. Setidaknya mengenai beberapa hal yang dominan untuk di lakukan, yaitu:

1. Dhyana (Meditasi)
Dalam konteks Vedantism, atau dalam bahasa Sanskerta, maka Meditasi itu disebut Dhyana. Kata ini agak sulit diterjemahkan, tapi yang ditekankan disini adalah tentang konsentrasi dan ketenangan diri. Artinya, seseorang harus mempertajam budi pekertinya agar bisa ditunggalkan (manunggal) dengan budi semesta (universal). Juga perlu melatih panca indera agar bisa fokus dalam meraih ketenangan. Oleh sebab itu, Dhyana bisa dipahami sebagai jalan penerangan religius, menekankan konsentrasi dan kemampuan melupakan pengaruh dari luar diri. Tujuannya demi mendapatkan kebijaksanaan dengan menyelam lebih jauh ke dalam indahnya keheningan.

Karena itulah, Meditasi bisa dibilang sebagai praktik relaksasi yang melibatkan pelepasan pikiran dari semua hal yang menarik, membebani, ataupun mencemaskan dalam kehidupan sehari-hari. Dan secara harfiah, Meditasi itu sendiri adalah kegiatan “mengunyah-unyah” atau membolak-balik dalam pikiran, memikirkan, dan merenungkan. Sehingga di dalamnya terdapat pula kegiatan mental yang terstruktur, di lakukan selama jangka waktu tertentu untuk bisa menganalisa, menarik kesimpulan, dan mengambil langkah-langkah lebih lanjut untuk menyikapi, menentukan tindakan, atau penyelesaian masalah pribadi, hidup, dan perilaku. Dengan kata lain, Meditasi dapat melepaskan seseorang dari penderitaan pemikiran baik dan buruk yang sangat subjektif, yang secara proporsional berhubungan langsung dengan kelekatan kita terhadap pikiran dan penilaian tertentu. Inilah yang disebut dengan ketenangan.

Catatan: Dyana atau Meditasi ini bisa di lakukan dimana pun dan kapanpun juga. Bentuknya bisa bermacam-macam, dan sebenarnya tidak ada ketentuan khusus yang mengharuskan kecuali usaha yang tekun.

2. Semedhi
Kata Semedi atau Semedhi diserap dari bahasa Sanskerta yaitu Samadhi. Samadhi dalam bahasa Sanskerta itu berasal dari kata “sam” yang berarti besar, dan “adhi” yang berarti bagus atau indah. Jadi ketika digabungkan, maka istilah Samadhi itu bermakna sebuah tindakan besar (sangat penting) demi menuju pada kebagusan atau keindahan. Nah disini yang menjadi fokusnya adalah kerap melakukan introspeksi diri (muhasabah) dan masuk ke dalam diri sendiri lebih dalam secara khusus dan ditempat yang khusus pula agar mencapai kekosongan (hening cipta). Caranya bisa bermacam-macam, tapi yang utama adalah dengan sikap duduk merenung (tafakur) – dalam posisi bersila – pada waktu yang disesuaikan dengan kebutuhan. Karena itulah, dalam melakukan Semedhi ini maka sebaiknya sudah terbiasa dengan ber-Meditasi.

Catatan: Semedhi ini biasanya di lakukan pada tempat dan waktu yang khusus. Sulit atau bahkan tidak akan bisa di sembarangan tempat dan waktunya.

3. Tirakat
Pengertian dari Tirakat ini adalah menahan diri dari hal-hal yang tidak baik (nafsu, syahwat) atau justru yang sesuai dengan kebutuhan (niat, tujuan) tertentu diri seseorang. Sedangkan tujuan dari Tirakat dalam supranatural adalah untuk mengasah. Artinya, jika mantra, doa dan sebuah amalan khusus itu ibarat sebuah pisau, maka Tirakat itu sendiri adalah batu asah yang berguna untuk bisa menajamkan pisau tersebut. Semakin banyak Tirakat yang di kerjakan, maka itu ibarat mengasah pisau berulang kali hingga tajam. Artinya, semakin banyak melakukan Tirakat, maka akan semakin baik pula hasilnya untuk yang bersangkutan.

Catatan: Di dalam sebuah Tirakat biasanya ada hal-hal tertentu yang harus diikuti dan itu menjadi persyaratan yang mutlak dipenuhi. Jika tidak bisa dipenuhi, maka Tirakat-nya akan gagal alias tidak bisa mencapai tujuan.

4. Mesu Brata
Dalam bahasa Sanskerta maka kata “mesu” berarti mengendalikan, sementara “brata” itu berarti disiplin (tata cara) tertentu. Sehingga bila disatukan maka Mesu Brata itu bermakna disiplin (tata cara) tertentu dalam mengendalikan diri. Karena itulah, Mesu Brata lalu dibagi ke dalam dua hal yang saling berpasangan, yaitu Mesu Raga dan Mesu Jiwa, Mesu Lahir dan Mesu Batin, atau Mesu Jasmani dan Mesu Ruhani. Nah Mesu Brata disini bertujuan agar bisa mengendalikan kedua hal tersebut secara bersamaan dan kompak agar bisa mencapai tujuan yang diinginkan.

Oleh sebab itu, inti dalam ber-Mesu Brata itu adalah untuk melatih akal-pikiran dan hati, raga dan jiwa, serta jasmani dan ruhani seseorang untuk bisa merasakan hidup yang lebih baik dan sempurna. Makanya dalam hal ini sangat diperlukan laku Dhyana (Meditasi), Semedhi, dan Tirakat yang tidak hanya sekali. Melainkan sudah terbiasa dengan ketiganya itu agar dapat meraih hasil yang maksimal dalam kepribadian dan kebijaksanaan diri.

Catatan: Mesu Brata ini di lakukan dimanapun dan kapanpun juga. Dan akan benar setelah yang bersangkutan terbiasa dengan Dhyana (Meditasi), Semedhi dan Tirakat. Sebab hasilnya akan menyebabkan ia memiliki keseimbangan diri.

5. Tapa Brata
Sebagaimana yang pernah dijelaskan pada tulisan sebelumnya, maka kata “tapa” berarti pengekangan diri, sementara kata “brata” dapat diartikan sebagai disiplin (tata cara) tertentu. Sehingga bila disimpulkan dari keduanya, maka arti dari istilah Tapa Brata itu sendiri adalah pengekangan diri dengan disiplin (tata cara) tertentu alias khusus. Inilah inti dan maksud sebenarnya dari kegiatan Tapa Brata. Hanya saja Tapa Brata itu sendiri terbagi ke dalam dua jenis. Pertama yang sekedar lelaku semacam Dhyana (Meditasi), Semedhi, Tirakat dan Mesu Brata saja, sedangkan yang kedua adalah me-nyepi (menyendiri di suatu tempat khusus) dengan cara tidak makan, minum, dan tidur, bahkan tidak bergerak selama kurun waktu tertentu. Tujuannya bisa bermacam-macam, sesuai dengan apa yang menjadi niat dan tujuan seseorang.

Catatan: Syarat untuk bisa ber-Tapa Brata adalah dengan telah mampu ber-Mesu Brata dengan baik. Sebab jika Mesu Brata masih berusaha untuk bisa mengendalikan, maka Tapa Brata itu sudah benar-benar mengendalikan, bahkan telah mampu meninggalkan (melepaskan hal-hal yang bukan dirinya). Karena itulah, orang yang ber-Tapa Brata jenis kedua akan mengasingkan diri ke tempat yang terpencil (ke hutan, lembah, gunung, gua, dll). Di tempat itu ia pun sampai tidak makan, minum dan bergerak (dalam posisi duduk atau berdiri atau tidur mematung) dalam kurun waktu tertentu sampai tujuannya bisa tercapai atau ia gagal dalam Tapa Brata-nya.

Jadi, secara definisi maka kelima laku di atas memang berbeda. Tapi secara hakiki semuanya tetaplah sama, dengan sedikit perbedaan dalam hal bentuk dan tingkat kesulitannya saja. Sedangkan tujuan utama sebenarnya – dari kelima laku utama tersebut –  adalah untuk bisa lebih mengenal diri sejati agar dapat mengenali DIRI-NYA.

Sebab dari semua uraian di atas, maka tampak jelas bahwa diri Manusia itu memiliki dua kutub yang sebenarnya tidak saling bertentangan, melainkan saling melengkapi dan menyeimbangkan. Di satu sisi, kutub badan kasar atau jasad adalah tempat mewujudnya diri seorang Manusia – di atas dunia ini – lengkap dengan nafsu, hasrat keinginan, angkara murka, dll. “Perangkat” jasad inilah yang akan mengantarkan dirinya untuk bisa melakukan apapun dan menerima konsekuasinya secara langsung ataupun nanti. Sedangkan disisi lain ada kutub badan halus yaitu akal-pikiran, perasaan-hati, jiwa, sukma dan ruh. Sehingga Manusia itu diumpamakan telah berdiri di persimpangan jalan, sementara tugasnya adalah memilih jalan mana yang akan dilalui.

Dan Tuhan sudah menciptakan semua rumus (di antaranya kelima lelaku di atas) sebagai rambu-rambu bagi Manusia dalam menata hidup sejatinya. Dimana masing-masing rumus itu memiliki hukum sebab-akibat. Artinya, setiap menjalankan rumusan Tuhan akan mendapatkan “akibat” yang baik seperti kemuliaan hidup. Sebaliknya pengingkaran terhadap rumusan tersebut akan mendapatkan “akibat” yang buruk sebagai konsekuensinya.

Untuk itu, dalam prinsip utama lelaku kehidupan Manusia, maka setiap pribadinya perlu untuk bisa mencapai posisi yang telah “manembahing kawulo Gusti“. Artinya, ia tidak cukup sekedar mengikuti berbagai aturan dalam ajaran agama secara rutin saja, melainkan telah benar-benar memahami hakekatnya dan bisa menerapkannya dengan hati yang tulus-bersih. Karena hanya dengan begitulah ia baru akan bisa “manembah: menghamba” kepada Hyang Aruta (Tuhan YME) dalam arti yang sesungguhnya. Inilah makna dari keimanan yang sejati.

Pun, sudah menjadi tugas Manusia untuk bisa menyelaraskan sifat-sifat ke-diri-annya ke dalam “gelombang-frekuensi” Dzat Sifat Tuhannya. Di antara caranya dengan menerapkan lelaku kehidupan di atas (Dhyana/Meditasi, Semedhi, Tirakat, Mesu Brata, dan Tapa Brata) secara tekun dan bertahap. Karena hanya dengan begitu pula ia akan bisa “manembah: menghamba” kepada Yang Ilahi dalam arti yang sesungguhnya. Dan ia pun bisa membuktikan bahwa dirinya itu sudah benar-benar mengabdi secara tulus murni kepada-NYA dengan telah berhasil melepaskan segala ikatan kecuali DIA. Ini adalah syarat penting untuk bisa mendapatkan keridhoan-NYA.

Demikianlah tulisan ini berakhir. Mugia Rahayu Sagung Dumadi.. 🙏

Jambi, 06 Mei 2020
Harunata-Ra

Catatan akhir: Tulisan ini hadir sebagai pengembangan atas jawaban kami sebelumnya kepada sahabat pembaca yang bernama Yoga Pratama. Sengaja di upload, karena merasa bahwa informasi ini sangat penting dan mungkin akan berguna bagi yang membacanya.

Bonus instrumental:

Satu respons untuk “Lelaku Kehidupan Sejati

    […] Tirakat, Mesu Brata, dan Tapa Brata. Untuk lebih jelasnya silahkan klik judul tulisan ini: Lelaku Kehidupan Sejati, karena telah dibahas secara lengkap di […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s