Eksistensi dan Esensi Diri

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Pernahkah dirimu membayangkan seorang penambang yang dapat menemukan intan. Tentu dengan suatu usaha yang tidak mudah, karena benda itu berada di kedalaman yang memang susah untuk ditemukan. Bahkan setelah ditemukan tidak bisa langsung dikenakan. Karena harus melalui sebuah proses yang rumit agar kemilaunya dapat keluar. Saat itulah intan disebut berlian dan layak dikenakan sebagai perhiasan yang memukau.

Nah begitu pula dengan hakikat diri seorang Manusia. Dimana harus ada usaha yang tekun untuk bisa menemukan kesejatiannya. Terlebih ia juga perlu memahami tentang apa itu eksistensi dan esensi yang sesungguhnya. Dimana eksistensi itu adalah hal yang ada atau keberadaan, sementara esensi adalah hal yang pokok, inti, atau hakikat dari sesuatu. Jadi bisa dibilang bahwa eksistensi itu adalah tentang keberadaan, sedangkan esensi merupakan dasar dari mengada. Sehingga esensi itu pun adalah dasar atau sumber dari eksistensi. Dan jika dilihat dari sifatnya, maka eksistensi itu bersifat fana, sedangkan esensi justru bersifat kekal.

Selain itu, esensi juga “mutlak” dan sudah ada sejak awalnya, sedangkan eksistensi itu hanyalah “kesepakatan yang telah diakui” oleh lingkungan hidup kita, atau lewat tradisi dan kebudayaan yang ada. Itu pun hanya sebatas yang berskala umum saja, tidak untuk semua orang – karena setiap orang bisa saja punya persepsi yang berbeda. Sehingga pada dasarnya lebih utama esensi ketimbang eksistensi bagi diri seseorang. Karena esensi itu melahirkan pengetahuan yang mendalam dan mencerahkan, sementara eksistensi justru bisa menimbulkan ego dan kebodohan.

Jadi, berdasarkan penjelasan di atas maka eksistensi itu bersifat fisik, kasat-nyata, dan material. Sementara esensi lebih kepada substansi immaterial yang berdiri sendiri, tidak bertempat, tidak terbagi-bagi, bersifat kekal dan mutlak. Pun ketika eksistensi bergantung pada faktor biologis, fisika, dan kimia, maka esensi justru terlepas dari itu semua. Ia tidak terikat dan tidak menunjukkan keterikatan secara historis dengan apa yang menjadi faktor utama dalam eksistensi, karena memang telah berdiri sendiri dan merdeka.

Untuk itu, yang esensi akan berbanding lurus dengan yang hakiki (benar, sebenarnya, sesungguhnya). Hanya saja yang dimaksudkan dengan hakiki disini adalah sesuatu yang sebenarnya berlapis-lapis. Tidak hanya satu wajah, karena memiliki banyak dimensi mulai dari yang sebatas kulit luar (permukaan), sampai kepada inti yang ada di dalam. Ibarat buah kelapa, maka ada sabut, tempurung, daging buah, dan airnya. Itu semua bahkan hanyalah sebatas bahan dasar walaupun posisinya berlapis-lapis.

Dan masih ada satu lagi yang menjadi hasil yang dicari dari sebutir kelapa, yaitu santannya. Dimana untuk bisa mendapatkan santan ini maka haruslah melalui sebuah proses yang rumit. Yaitu perlu mengupas sabut dan tempurungnya terlebih dulu agar bisa mendapatkan daging buahnya. Setelah itu harus memarut daging buahnya, yang kemudian dicampurkan dengan air kelapanya, sampai akhirnya diperas untuk mendapatkan santan. Nah santan ini sudah bisa dipergunakan untuk berbagai keperluan seperti memasak dan membuat kue. Bahkan tidak sampai disitu saja, karena masih ada satu lagi proses yang bisa menghasilkan minyak kelapa. Yaitu dengan memasak santan kelapanya selama beberapa waktu hingga akhirnya mengeluarkan minyak yang juga bisa dipakai untuk berbagai keperluan. Inilah esensi yang sesungguhnya dari sebuah kelapa.

Foto: Dari kiri atas ke kanan bawah adalah proses membuat minyak kelapa secara tradisional.
Yang tampak bening itu adalah minyaknya, sedangkan yang dibagian tengah itu adalah ampasnya.

Catatan: Sisa/ampas dari pembuatan minyak kelapanya, yang berwarna kecoklatan itu, tidak harus dibuang karena tetap bisa di makan dan rasanya pun manis gurih. Bahkan sabut dan tempurung kelapanya jangan hanya dijadikan limbah, karena tetap bermanfaat untuk berbagai hal yang lain. Misalnya sabut yang bisa dibuat tali untuk dijadikan berbagai kerajinan tangan, sedangkan tempurungnya bisa digunakan untuk memanggang sate atau juga sebagai bahan dasar kerajinan tangan. Dan jika mau, tempurung ini pun dapat diubah menjadi briket (bahan bakar semacam batu bara) jika sudah melalui sebuah proses tertentu. Inilah perlambang akan esensi dari sesuatu yang telah berhasil diketahui dan dipahami.

Artinya, seseorang itu perlu memandang sesuatu dengan menggunakan kaca mata esensial-hakiki. Karena dengan begitu ia baru akan memahami tentang berbagai makna, hikmah dan pelajaran dari sesuatu itu. Pun dapat memberikan manfaat tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi bagi mereka yang lain. Seperti buah kelapa yang bahkan sabut, tempurung, dan ampasnya saja masih tetap bermanfaat. Demikianlah pula sejatinya diri Manusia.

Lihatlah juga pada esensi, bukan hanya sebatas eksistensi. Karena kau tak akan mendapatkan yang sejati tanpa memahami keduanya

Untuk itu sadarilah bahwa sesuatu yang berada di permukaan (eksistensi) hanyalah sebatas kebenaran yang bisa ditangkap langsung dan dirumuskan lewat kekuatan panca indera. Sedangkan yang berada di dalam (esensi-hakiki), adalah bentuk kebenaran mutlak yang berada pada dimensi yang tidak lagi bisa dicapai dengan kekuatan indera, bahkan logika akal pikiran semata. Perlu usaha yang khusus untuk bisa menggapainya. Karena jika tidak hanya akan berujung sia-sia.

Dan memang harus ada upaya tertentu untuk dapat mengetahui kebenaran yang sejati. Caranya dengan menggunakan penangkap kebenaran yang ada pada diri seseorang. Itulah akal pikiran (ilmiah) dan hati nurani (batiniah) yang bersih. Dimana keduanya harus saling melengkapi agar terciptanya kesadaran diri yang tinggi.

Selain itu, hal yang bersifat esensial-hakiki bukanlah sesuatu yang bisa secara langsung dilihat, didengar, atau pun dirasakan sepintas melalui panca indera. Tetapi hanya dapat dipahami dengan olah pikir yang melibatkan mata batin. Sebab fungsi dari mata batin memanglah untuk bisa menangkap hal-hal yang bersifat esensial-hakiki. Sehingga betapa pun seorang materialis berbicara tentang kebenaran sampai mulutnya berbusa, maka apa yang ia sampaikan itu takkan melebihi permukaan (kulit luar) saja. Karena seorang materialis telah menjadikan dunia panca indera dan kebenaran empiris (bentuk kebenaran yang mampu dipahami oleh panca indera) sebagai parameter kebenaran yang tertinggi.

Makanya bisa dipastikan bahwa hanya pribadi yang bukan dari kalangan materialistik sajalah yang mampu menemukan dan memahami apa itu kebenaran yang sejati. Dengan mengetahui yang esensial, mereka pun telah memiliki kesadaran diri yang tinggi. Karena sesungguhnya mereka itu tidak hanya percaya dan berpegang teguh pada apa-apa yang bisa ditangkap oleh panca inderanya saja, melainkan sudah membuka mata batinnya untuk bisa menangkap hal-hal yang “lebih tinggi” dan bersifat goib dibalik yang nyata. Mereka telah bisa menemukan yang esensial-hakiki – dalam takaran yang sesuai dengan kesiapan diri mereka. Sehingga hidupnya pun dalam ketenangan dan kebahagiaan.

Dengan kata lain dalam kaca mata kebatinan (spiritual-ruhani), maka semua yang terlihat (kebenaran empiris) adalah jalan untuk bisa menemukan kebenaran yang hakiki. Artinya bukanlah suatu kebenaran yang mutlak, melainkan awal dalam menelusuri kebenaran yang tertinggi. Hingga pada akhirnya dapat menemukan kebenaran yang sejati. Dan itulah yang sebenarnya telah dituntunkan dalam ajaran Yang Ilahi. Melalui agama suci-NYA, maka semua yang tertangkap oleh panca indera harus dimuarakan pada yang non inderawi-material (immaterial, tak kasat mata, goib). Tujuannya agar seseorang dapat memahami yang hakiki dan mendapatkan hikmah yang sejati.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Mugia Rahayu Sagung Dumadi.. 🙏

Jambi, 30 April 2020 M/07 Ramadhan 1441 H
Harunata-Ra

Bonus instrumental:

4 respons untuk ‘Eksistensi dan Esensi Diri

    poetra said:
    Mei 5, 2020 pukul 3:26 am

    Trimksi ilmunya kang…🙏

      Harunata-Ra responded:
      Mei 5, 2020 pukul 8:16 am

      Iya sama2lah mas Poetra, terimakasih juga atas kunjungannya.. semoga bermanfaat.. 🙂

    paitungundul said:
    Mei 13, 2020 pukul 2:16 pm

    Sopo siro sopo ingsun
    Ingsun kang mung daging kang kebalut daging
    Opo sing iso gawe jumowo
    Opo sing iso gawe gumedhe
    Ora ono
    Ora bakalan ono
    Mbesuk yen wayahe
    Urip ning jero bumi

    Hehehehe..

    Salam kang

    […] diri sejati Manusia itu memiliki esensi dan eksistensi yang menakjubkan dan merupakan bukti atas kesempurnaan dalam penciptaannya. Tapi pada awalnya […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s