Bangsa Amuria : Pusat Kemasyhuran Dunia

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Dalam sejarah kehidupan peradabannya, kebangkitan dan kehancuran sebuah bangsa sering kali terjadi. Di belahan Bumi manapun itu pernah berlaku, di periode zaman yang berbeda pula. Artinya, tak ada yang kekal di dunia ini, sekuat dan sehebat apapun itu. Semuanya akan ada batas waktunya. Tinggal bagaimana sebuah bangsa itu mengakhirinya.

Nah, sebagaimana tulisan sebelumnya, kali ini sengaja kami sampaikan lagi kisah mengenai peradaban kaum terdahulu. Tujuannya agar kita bisa tetap mengambil hikmah dan pelajaran. Untuk kehidupan kita selanjutnya, baik di akhir periode zaman ke tujuh ini (Rupanta-Ra), ataupun yang ke delapan nanti (Hasmurata-Ra).

Dan untuk mempersingkat waktu, mari ikuti uraian berikut ini:

1. Awal kisah
Pada masa awal periode zaman keenam (Nusanta-Ra), tepatnya sekitar 610.000-650.000 tahun silam, semua kisah ini terjadi. Pada mulanya bangsa Amuria tinggal di sebelah timur kawasan Hismudala (penamaan Nusantara kala itu), di sekitar Laut Arafura sekarang, dengan nama kaum Yagatu. Di sana mereka hidup sebagai masyarakat agraris, di dalam wilayah kerajaan milik kaum tersebut atau yang bernama Zagha. Karena terjadi paceklik yang berkepanjangan, kondisi di dalam negeri Zagha menjadi kacau balau. Sering terjadi penjarahan dan kerusuhan yang menyebabkan pertumpahan darah. Hal ini membuat sebagian orang dari kaum Yagatu memilih untuk bermigrasi ke arah barat dan akhirnya menempati sebuah kawasan lembah yang subur di dekat pegunungan Saugir. Lokasinya kini berada di bagian barat Nusantara, di antara pulau Sumatera, Jawa, dan Kalimantan.

Catatan: Pada masa itu, seluruh kawasan Nusantara masih dalam satu daratan yang luas dan bergabung dengan kawasan Asia, Australia, Oseania, dan Polinesia. Mereka yang tinggal di Hismudala saat itu jelas sangat berbeda dari sekarang, baik dalam hal ras, bahasa, kebudayaan, ataupun keyakinannya. Mereka lebih beragam dari sekarang. Begitu pula dengan flora dan faunanya yang juga sangat berbeda dengan sekarang, alias lebih banyak dan kompleks.

(Foto kawasan Hismudala yang saat ini terpisah-pisah oleh lautan. Padahal dulu semua lautan itu masih berupa daratan. Semuanya menyatu dalam satu kesatuan benua yang sangat luas)

Adapun tentang kisah berdirinya bangsa Amuria dimulai pada masa Raja Balsa masih memimpin di kerajaan Mitaka. Suatu ketika, ia sedang memimpin sidang kerajaannya dari atas singgasana yang berukir emas. Di tengah-tengah pembicaraan, seorang penjaga istana datang melaporkan bahwa ada seorang guru bijak yang ingin menghadap. Menurut keterangan yang didapatkan, guru tersebut ingin menyampaikan sebuah pesan yang sangat penting untuk sang raja dan seluruh punggawanya.

Setelah diizinkan berbicara, sang guru bijak yang bernama asli Nabi Hayan AS itu langsung bersabda:

Kehidupan dunia telah berada dalam bahaya. Muncul tenggelamnya peradaban ternyata datang lagi, dan dunia sudah diambang perang besar. Harapan kalian adalah memperkuat pertahanan, memberantas kebatilan, dan mencari sang pemimpin sejati yang dipilih Langit untuk menang. Jangan bersikap abai, karena akibatnya mengerikan.

Mendengar ucapan itu, Raja Balsa hanya diam sejenak untuk berpikir. Setelahnya ia pun berkata:

Aku yang memutuskan semua urusan di kerajaan ini. Akulah penguasa yang berhak menentukan apa yang seharusnya di lakukan. Tak ada yang boleh melawan atau mengajariku. Dan cara terbaik untuk melindungi rakyat Mitaka saat ini adalah dengan tetap mengikutiku saja. Sungguh takkan mau diriku untuk mematuhimu. Siapapun engkau wahai orang asing

Sungguh, tanpa rasa bersalah Raja Balsa membalas nasehat dari sang Nabi dengan sikap yang angkuh. Kata-katanya pun diucapkan dengan nada yang ketus, sehingga membuat orang-orang yang ada di balairung istana merasa tidak nyaman. Mereka lalu menasehati sang raja untuk tidak gegabah, namun tak diindahkan. Hingga akhirnya sang Nabi pun pergi meninggalkan mereka.

Nah sebelum pergi, utusan Tuhan itu sempat berkata:

Jika memang begitu keputusanmu wahai raja, aku hanya akan berlalu dari sini. Akan ku temukan kehendak lain yang lebih bijak. Dia akan mendatangi kalian dengan kekuatan yang besar. Dan ketahuilah bahwa kerajaan ini akan runtuh, tapi dari kehancurannya itu akan muncullah kejayaan baru yang bisa mengguncang dunia

Demikianlah kisah sebelum bangsa Amuria berdiri. Dan Nabi Hayan AS pun terus mencari seorang pemuda yang terpilih untuk menjadi pemimpin besar. Dialah yang kelak menaklukkan Raja Balsa dan pasukannya dengan kekuatan yang luar biasa. Setelah itu, atas perkenan Tuhan, sang pemuda akan mendirikan kerajaan baru yang lebih mengagumkan. Sesuai dengan petunjuk yang didapatkan, kerajaan itu lalu diberi nama Amuria atau yang berarti cahaya kemasyhuran. Dari sanalah nama dari bangsa Amuria berasal.

2. Mendirikan kerajaan Amuria dan mengguncang dunia
Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Nabi Hayan AS kepada Raja Balsa, maka sebenarnya telah berlangsung cukup lama perebutan kekuasaan di kawasan Hismudala. Kerajaan-kerajaan yang ada, besar dan kecil, sering bertikai untuk memperebutkan wilayah. Bagi yang kuat mereka akan bertahan, sementara yang lemah hanya bisa menjadi negeri jajahan. Dan ini terus berlanjut sampai menyebabkan perang besar.

Nah, di sebuah negeri yang bernama Khosare, hiduplah seorang pemuda biasa dan sederhana. Namanya Erezharos, atau biasa dipanggil Erez. Meskipun hanya sebagai orang kampung, sesungguhnya dia masih keturunan langsung dari para raja di negeri Khosare itu. Ayahnya yang bernama Muzharos adalah anak dari Yedhiros putra Kusaros putra Dunyatos putra Gasiros putra Hamaros putra Aladhos (raja ke 19 Khosare) putra Klapidos (raja ke 18 Khosare) putra Soramos (raja ke 17 Khosare). Hanya saja sejak kakek buyutnya dulu, yaitu Hamaros, keluarga mereka telah meninggalkan kehidupan istana dan mengasingkan diri di sebuah desa kecil yang bernama Dikur. Mereka pun hidup layaknya orang desa pada umumnya, yang jauh dari kemewahan. Bahkan dengan sengaja mereka terus menyembunyikan jati dirinya sebagai bangsawan.

Catatan: Kaum Yagatu yang bermigrasi dari kerajaan Zagha menyebar ke berbagai kawasan barat Hismudala, salah satu yang terbanyak berada di negeri Khosare. Mereka hidup di sana dengan baik selama beberapa generasi. Oleh kerajaan mereka pun sangat diperhitungkan, bahkan seorang tokoh yang bernama Soramos akhirnya menjadi raja ke-17 Khosare setelah mewarisi tahta dari mertuanya. Dialah yang kemudian menjadi leluhur dari Erezharos.

Singkat cerita, setelah bertemu dengan Nabi Hayan AS dan berguru kepadanya, Erez lalu diperintahkan untuk mengembara ke empat negeri yang berbeda. Di sana ia pun harus mencari para Begawan yang kelak bisa mengajarinya tentang berbagai hal. Jelas mereka itu bukanlah orang sembarangan dan untuk bisa menemukannya tentu bukan dengan cara yang biasa. Dan semua petunjuk yang telah didapatkan dari sang Nabi telah ia tunaikan dengan baik. Erez pun berguru kepada para Begawan itu, dan berhasil menjadi sosok yang semakin istimewa.

Catatan: Sebelum beranjak pergi, beberapa hari sebelumnya Erezharos bertemu dengan Nabi Khidir AS. Pada saat itu pula ia mendapatkan tiga buah pusaka sakti berupa keris Narottama, tombak Sakular, dan cincin Milayat. Ketiganya untuk bekal perjuangan, sekaligus menjadi pusaka utama kerajaan yang nantinya ia dirikan. Tak lupa pula sang Nabi memberikan wejangan sebagai bekal batinnya.

Ya. Atas bekal ilmu dari kedua orang Nabi dan para Begawan, cukuplah sudah bagi Erez untuk bisa menjalankan tugas utamanya. Atas petunjuk yang telah didapatkan, ia pun harus segera mengumpulkan pasukan untuk merebut dominasi suku Asun dan Imer di wilayah selatan Mitaka. Kedua suku ini sangat berpengaruh di kerajaan Mitaka, bahkan pendiri kerajaannnya itu, yaitu Raja Kusasha, berasal dari keturunan suku ini. Jadi siapapun yang bisa mendapatkan dukungan dari kedua suku tersebut, maka ia akan diperhitungkan di seluruh wilayah kerajaan Mitaka.

Waktu pun berlalu dan Erez berhasil membentuk pasukan berjumlah 313 orang yang ia latih sendiri. Awalnya sang pemuda menawarkan kerjasama kepada para petinggi suku Asun dan Imer. Tetapi hal itu tak ditanggapi serius, bahkan ia sampai diremehkan. Karena itulah, dengan kemampuan yang dimiliki, Erez pun segera membuktikan bahwa dirinya memang layak untuk didengarkan. Semua kesatria terbaik dari kedua suku tersebut ia kalahkan dengan mudah. Dan ketika hendak menghukum para sesepuh yang telah meremehkannya, saat itu juga semuanya bersimpuh. Mereka meminta ampun dan berjanji untuk setia sampai mati kepada sang pemuda.

Catatan: Pasukan yang terdiri dari 313 orang itu berasal dari warga desa Dikur dan beberapa desa lainnya. Mereka adalah para kesatria dan kesatriawati terbaik. Semuanya masih dalam satu ikatan kebangsaan Yagatu, karena leluhur mereka dulu memang berasal dari kaum tersebut.

Ya. Setelah kejadian itu, Erez pun segera menyatukan kedua suku dalam satu kepemimpinan. Para petinggi dari kedua sukunya lalu ia jadikan penasehat dan orang kepercayaan. Begitulah seterusnya sampai mereka berhasil memperkuat pasukan dan modal perekonomiannya. Dan ketika dirasa cukup, maka yang di lakukan oleh Erez adalah bergerak ke arah timur, utara dan barat untuk menyatukan wilayah-wilayah yang menjadi negeri bawahan kerajaan Mitaka. Hal ini membuat pusat negaranya yang berada di tengah akhirnya terkepung dan kian melemah. Kemudian, setelah dirasa cukup waktu, Erez pun langsung menyerang pusat kerajaan Mitaka dan merebut kekuasaan dari tangan Raja Balsa yang angkuh.

Dan ternyata itu tidak begitu sulit di lakukan, karena pasukan dari kerajaan Mitaka sudah lemah akibat digerogoti oleh korupsi dan sikap pemimpinnya yang pengecut tapi jumawa (angkuh, congkak, sombong). Sebagian dari mereka bahkan telah memilih untuk bergabung dengan pasukan Erez dan ikut berperang. Alasannya karena mereka bisa melihat bahwa sang pemuda itu adalah sosok yang dijanjikan oleh Nabi Hayan AS dulu. Pemimpin besar yang akan membawa kemenangan dan bisa mengguncang dunia.

Dan benar, di masa-masa kegelapan yang sudah menyebar di seantero Hismudala (penamaan Nusantara kala itu), kerajaan Mitaka yang diubah namanya menjadi Amuria oleh Erezharos itu justru menjadi negara yang kuat dan stabil. Mereka bahkan menjatuhkan kekuasan dinasti keempat di kekaisaran Mosab (kekaisaran yang sangat kuat pada masa itu), dan menaklukkan kerajaan lain seperti Eramea, Dinma, Gultar, Ahartu, Yaprus, Maganti, Yetah, Idhama, dan Kasiir hanya dalam waktu 10 tahun saja.

Selanjutnya, Erez dan pasukannya itu berhasil melebarkan wilayah kerajaan Amuria sampai ke negeri-negeri lain yang ada di kawasan utara, barat, selatan, dan timur seperti Shatu, Herz, Phagian, Yile, Mogakame, Tabati, Kour, Hordha, Usam, Sunt, Upaki, Khatan, Arturuh, Yamarra, Esidom, Kuskush, Morset, Skadhia, Tatula, Ba’aulah, Mahtam, Khaldek, Minnea, Basar, Yogur, Asipu, Taluwah, Gel, Wensa, Ridatul, Urug, Darugay, Safal, Medde, Jokar, Hitanaya, Pasawi, Dapura, Zeboimar, Rasensa, Hajin, Mallu, Yokhata, Boshe, Ladiru, dan Erka. Semuanya adalah kerajaan besar dan memiliki negeri-negeri bawahan. Dan atas kegigihannya, semuanya itu bisa dipersatukan oleh Erezharos dalam satu panji kekuasaan bangsa Amuria. Bahkan selanjutnya, di masa anaknya yang bernama Balghataros, kerajaan yang didirikan oleh Erezharos ini terus melebarkan wilayahnya sampai jauh di luar batas kawasan barat, utara dan timur Hismudala, di wilayah-wilayah negeri yang sangat asing. Tak ada yang bisa membendung kekuatan dari pasukan besar kerajaan ini. Semuanya dikalahkan dalam tempo waktu yang relatif singkat.

Catatan: Seluruh wilayah kekuasaan dari kemaharajaan Amuria saat itu meliputi kawasan Asia Tenggara, Asia Tengah, Asia Selatan, Asia Kecil, sebagian besar Asia Timur, Asia Barat, Timur Tengah, dan Afrika Utara, hingga di kawasan Australia, sebagian New Zealand, bahkan sampai disisi timur dan selatan benua Afrika sekarang. Sangat luas, dan menjadi yang terbesar pada masanya.

Lantas mengapa berbagai penaklukkan harus di lakukan, kenapa juga harus ada perang? Dikarenakan pada masa itu sudah terjadi kekacauan dimana-mana akibat ulah dari para raja dan ratu yang tirani. Dalam hal ini tentulah rakyat yang menjadi korban, dan bangsa Amuria bertugas untuk bisa mengatasinya. Nah cara yang terbaik saat itu adalah merevolusi negeri-negeri yang kacau balau tersebut dengan menaklukkannya terlebih dulu. Itulah pilihan yang terbaik, karena biasanya para raja atau ratu yang memimpin tak pernah mau mendengarkan saran dan nasehat, sementara kehidupan di dalam negerinya semakin buruk dan penuh kekufuran.

Sungguh hebat, dan bangsa Amuria ini memiliki cara tersendiri untuk bisa mempermudah pengelolaan pemerintahan dalam wilayah yang sangat luas. Caranya dengan membentuk negara bagian atau wilayah persekutuan yang dipimpin oleh para Asires (raja daerah). Pemimpin wilayah tersebut diangkat langsung oleh raja yang berkedudukan di pusat pemerintahan, dan biasanya hanya untuk kerabat dekat atau orang kepercayaan dari sang raja. Tugasnya adalah memimpin beberapa orang raja dan ratu yang berada di kawasannya, yang sebelumnya telah ditaklukkan atau memilih untuk ikut bergabung. Setiap negara bagian tersebut dihubungkan oleh jalan raya yang dibangun dengan baik untuk mempermudah akses memasuki setiap wilayah tersebut. Jika pun harus melewati sungai atau lautan, maka dibangunlah armada kapal sebagai alat transportasinya.

Catatan: Lihatlah seorang pemuda kampung yang bernama Erezharos itu. Atas kehendak Tuhan, apapun bisa terjadi dalam waktu singkat dan tak masuk akal. Karena pada mulanya ia hanyalah orang biasa yang tinggal di desa dan tak diperhitungkan. Tapi kemudian hal yang luar biasa pun terjadi atas dirinya lantaran ia hidup dengan kemuliaan dan sikap kesatria. Sepak terjangnya menjadi sorotan dunia, dan semua orang sangat menghormatinya. Baik kawan maupun lawan sama-sama merasa segan. Tak ada yang berani macam-macam, bahkan sekedar untuk membantahnya. Begitu kharismatiknya dia, dan sangat pantaslah dijadikan sebagai pemimpin besar dunia.

4. Peradaban Amuria
Sebagai kaum yang besar, bangsa Amuria ini tentu sudah memiliki peradaban yang tinggi. Bahkan mereka telah menjadi acuan dalam berbangsa dan bernegara pada masanya, di seluruh dunia. Ada banyak hal yang menjadi kebanggaan mereka, dan tidak sedikit pula negara lain yang kemudian mengadopsinya. Berikut ini penjelasannya:

1) Penduduk
Mayoritas warga negara Amuria bermata pencarian sebagai petani, peternak, dan nelayan (sungai, danau, laut). Sebagian lainnya hidup dari hasil kerajinan tangan dan perdagangan. Karena itulah rata-rata harapan hidup mereka sangat tinggi, dan memang secara umum telah mencapai standar kehidupan yang sangat baik alias makmur.

Tentang kesehariannya, bangsa ini mengenakan pakaian yang bisa dibilang mirip dengan kebudayaan Persia dan Yunani kuno. Tergantung dalam rangka apa mereka harus berpakaian. Jelas mereka ini sudah memakai sandal dan sepatu yang beraneka macam bentuknya, yang terbuat dari bahan kayu, rotan, kulit hewan, dan getah pohon (semacam karet). Mereka pun sudah terbiasa dengan topi yang bermacam modelnya, juga sorban untuk kalangan pria dan selendang bagi kalangan wanitanya.

Catatan: Tentang ciri fisik (ras asli) dari bangsa Amuria ini tidak bisa kami jelaskan, ada protapnya. Namun yang pasti di negeri mereka itu juga hidup orang-orang dari ras yang lainnya, bahkan dari seluruh ras manusia kala itu. Maklumlah, negeri mereka telah menjadi pusat peradaban dunia.

Selain itu, baik pria dan wanitanya sengaja memanjangkan rambut. Ada yang diikat atau dijalin atau dikepang, ada pula yang dibiarkan terurai. Lalu bagi kalangan prianya ada pula yang memelihara kumis, jenggot, dan berewok secara bersamaan, ada pula yang cuma sebagiannya saja. Dan khusus untuk yang laki-lakinya, maka setelah berusia 15 tahun mereka harus mengenakan ikat kepala yang berwarna coklat atau hitam, yang pada bagian tengahnya terdapat pin ukiran nama berbentuk pentagon (segi lima) dari perak atau emas. Ikat kepala ini selalu digunakan kemanapun mereka pergi. Hanya pada saat mandi, tidur, beribadah, dan ketika menggunakan topi atau sorban baru dilepaskan. Karena bagi kaum Amuria, maka ikat kepala yang terbuat dari bahan kain sutra atau kulit hewan itu adalah kebanggaan diri mereka. Bahkan jika ada yang berani menyentuhnya dengan niat melecehkan, atau sampai merebutnya secara paksa, hal itu bisa menyebabkan perkelahian.

Dalam kehidupan spiritualnya, di seluruh wilayah negeri bangsa Amuria terdapat banyak keyakinan tapi hanya ada satu yang menjadi agama resmi negara. Itulah apa yang diajarkan oleh Nabi Hayan AS kepada Raja Erezharos dan para pengikutnya. Tak ada paksaan untuk mengikuti ajaran tersebut, karena siapapun berhak untuk memilih keyakinannya. Selain itu, bangsa ini sangat menyukai hal-hal yang berbau supranatural, makanya olah kanuragan dan kadigdayan menjadi hal yang wajib bagi mereka. Sejak usia remaja, bangsa Amuria sudah digembleng oleh para guru bijak, atau yang biasa disebut Urasyi. Tujuannya agar mereka bisa menjadi sosok yang tangguh dan berjiwa kesatria.

Mereka juga senang dengan berbagai jenis seni dan pertunjukan. Karena itulah sering diadakan pagelaran musik, tarian dan drama musikal di setiap tahunnya. Bahkan pada setiap 3-5 tahun sekali diadakanlah semacam festival di pusat negara (ibukota Yasipura) selama 10 hari di bulan ke tujuh (Abatus). Pada saat itu, negara-negara bagian turut di undang untuk bisa memeriahkan suasana. Jika mau, mereka pun diizinkan untuk tampil ditempat yang telah disediakan (semacam gedung opera atau stadion). Sungguh ini menunjukkan tingginya peradaban mereka.

2) Arsitektur bangunan
Setiap bangunan yang ada di pusat kota Amuria adalah perpaduan dari banyak kebudayaan. Apapun yang terbaik dari bangsa lain juga ada di sana, dengan bentuk arsitektur yang lebih megah dan indah. Semuanya dikerjakan dengan sangat detail, rapi dan penuh cita rasa seni yang tinggi. Bahkan beberapanya ada yang menentang hukum alam, alias dibangun dengan kecanggihan teknologi atau pun secara metafisika dan supranatural.

Catatan: Pada awalnya pusat negara masih di ibukota kerajaan Mitaka. Namun sejak tahun ke 10 masa kepemimpinan Raja Erezharos, maka secara bertahap bangsa Amuria telah membangun ibukota baru yang sangat megah. Terletak di lembah Tashila yang subur dan permai, di dekat sungai Imasen. Suasana di kota tersebut begitu indah dan damai, karena itulah diberi nama Yasipura.

Lalu tentang keindahan dari komplek istananya tak perlu lagi dipertanyakan, sungguh indah dan tak kalah dengan Kahyangan milik para Dewa-Dewi. Berbahan dasar batu marmer, pualam, dan granit yang berwarna-warni, sehingga terlihat begitu megah. Di tambah lagi dengan berbagai jenis batu mulia (intan berlian) warna-warni yang sangat banyak di sana, juga batu permata (zamrut, safir, giok, ruby, delima, kalimaya, yakut, krisopras, sardis, krisolite, dll) yang tak terhitung lagi jumlahnya. Sementara emas, perak dan titanium sudah seperti barang biasa. Semuanya bertaburan dimana-mana sebagai atap, dinding, pilar-pilar, lantai bangunan, bahkan jalan-jalannya. Sungguh membuat keindahannya menjadi tiada taranya di dunia.

Begitu pula dengan kaca dan kristal yang banyak digunakan disana, membuat semuanya tampak lebih berkilauan indah dan tak ada bandingannya. Dan tak ada pula yang bisa menyangsikan jika istana milik bangsa Amuria itu adalah yang terbaik pada masanya. Segalanya tampak megah dan indah, lengkap dengan gaya arsitektur yang mengagumkan dan penuh dengan makna simbolis. Mewakili ciri khas dari berbagai kebudayaan yang ada, sehingga membuatnya terlihat semakin menakjubkan.

Dan sebagaimana kaum-kaum terdahulu yang gemilang, maka bangsa Amuria ini pun telah membuat banyak taman dan bangunan yang monumental. Di dalamnya terdapat kolam ikan, taman bunga dan buah-buahan, air mancur, candi, piramida, dan gedung observatorium. Ditujukan untuk umum agar mereka bisa bersuka ria dengan keluarga atau para koleganya.

3) Tempat tinggal khusus
Sebagai bangsa yang besar tentunya di negeri Amuria telah dibangun kota-kota yang indah dan tertata rapi. Di sanalah mereka menjalani kehidupan dari siang hari hingga malamnya. Begitulah seterusnya sampai mereka wafat. Hanya saja ada satu pilihan lain yang ada di negeri Amuria. Dimana ada sebuah tempat khusus yang dibangun oleh Raja Erezharos pada masa akhir jabatannya. Diberi nama Sah-Annur, dengan tujuan untuk mereka yang ingin menemukan kedamaian hakiki sebelum akhirnya bisa mencapai moksa.

Ya. Tempat itu semacam perkampungan yang dibangun dengan teliti, misterius, dan penuh makna simbolik. Khusus ditinggali oleh mereka yang tidak lagi terikat dengan keduniawian. Karena itulah disana hidup orang-orang bijak dan luhur budi pekertinya. Kawasan itu lalu menjadi yang terkenal di seluruh dunia. Keadaan disana selalu aman sentosa, penuh kedamaian, dan tak ada yang berduka karena urusan dunia. Banyak yang ingin tinggal di sana, hanya saja ada syarat tertentu yang harus dipenuhi.

4) Sistem pendidikan
Sejak awal mendirikan kerajaannya, bangsa Amuria sudah memperhatikan pendidikan bagi anak-anaknya. Karena itulah mereka langsung membangun komplek pendidikan di sebuah tempat khusus, atau yang biasa disebut Uselmah. Siapapun berhak mendapatkan pendidikan yang layak ditempat itu secara gratis.

Di Uselmah, setiap muridnya akan menerima pelajaran dari para guru sesuai dengan minat dan bakatnya masing-masing. Setiap mata pelajaran diberikan di dalam kelas (indoor) dan diluar kelas (outdoor). Selain materi, maka ada banyak praktek yang harus dikerjakan oleh setiap muridnya, baik di dalam kelas, Noyat (laboratorium), Lusah (perpustakaan), maupun di tempat-tempat tertentu lainnya. Hasil dari itu semua harus mereka laporkan kepada guru pembimbing untuk diberikan penilaian atau arahan.

Tidak ada pekerjaan rumah (PR) dan ujian kenaikan tingkat atau kelulusan bagi para murid, karena selama di sekolah para gurulah yang menentukan layak atau tidaknya seorang murid. Dan guru yang dimaksudkan disini ada dua jenis. Pertama adalah orang bijak yang biasa disebut Usin, sedangkan yang kedua disebut dengan Urasyi. Para Usin adalah guru yang mengajarkan ilmu-ilmu yang bersifat ilmiah (matematika, fisika, biologi, kedokteran, dll), sementara para Urasyi adalah guru yang mengajarkan tentang kesusastraan, spiritual-agama, ilmu kanuragan dan kadigdayan.

4) Teknologi
Secara umum kehidupan bangsa Amuria tidak jauh berbeda dengan bangsa-bangsa yang hidup pada masa kisah pewayangan (Ramayana dan Mahabharata). Sangat identik dengan pola-pola klasik model kerajaannya. Dan karena suka melakukan banyak penelitian ilmiah, mereka pun hidup dengan beragam teknologi yang canggih. Meskipun tidak sampai menjelajahi luar angkasa, mereka tetap bisa menciptakan berbagai hal yang menakjubkan. Di antaranya:

1. Zathel (semacam motor besar (moge) di zaman sekarang).
2. Gatem (semacam sepeda motor tanpa roda, alias bisa mengambang di udara dengan penumpang sebanyak 2 orang).
3. Kwarus (semacam mobil terbang dengan penumpang sebanyak 4-6 orang).
4. Kwasarus (sama dengan kwarus tetapi dengan teknologi yang lebih canggih untuk keperluan militer dan sudah dilengkapi dengan persenjataan).
5. Apukasa (kapal pesiar yang sangat besar dan megah).
6. Mebitah (semacam kapal selam yang berbentuk ikan pari).
7. Dures (alat komunikasi jarak jauh, mirip handphone di zaman sekarang namun tanpa satelit).
8. Ladam (semacam PC : personal computer), dan Lassor (semacam laptop di zaman sekarang).
9. Agawai (jet terbang tanpa suara yang diletakkan di atas punggung penggunanya).
10. Glosarum (teleskop raksasa super canggih) -> dengan alat ini mereka bisa mengamati benda-benda angkasa (planet, bintang, galaksi) dengan sangat jelas sampai sejauh puluhan miliar tahun cahaya (jauh melebihi kemampuan teleskop Hubble dan James Webb pada masa kini).

Selain itu masih ada lagi yang lain, dan semuanya sudah menggunakan teknologi yang super canggih dengan batu kristal sebagai sumber energinya. Memang tidak semua orang bisa memilikinya, tapi beberapa jenis peralatan di atas sudah banyak terlihat di kota-kota besar negeri Amuria. Sebagian penduduk telah memilikinya untuk keperluan pribadi sehari-hari.

Catatan: Mereka sudah menerapkan teknologi Iyestar (anti gravitasi) dan sangat ramah lingkungan. Meskipun begitu, atas keputusan bersama justru tidak pernah melanjutkan penelitiannya sampai bisa menjelajahi luar angkasa. Bagi mereka luar angkasa itu harus tetap menjadi tempat yang sakral, dan jika “ingin kesana”, maka pilihannya adalah moksa. Terlebih mereka sudah memiliki Glosarum, sehingga tak perlu lagi harus pergi ke luar angkasa dengan pesawat terbang.

6) Sistem kalender
Bangsa Amuria sudah mengenal perhitungan hari, bulan dan tahun. Dimana satu bulannya itu terdiri dari 30 hari, sedangkan untuk satu tahunnya dibagi menjadi 12 bulan – jadi 1 tahunnya itu terdiri dari 360 hari. Mereka tidak mengenal istilah minggu seperti kita sekarang, karena nama hari-hari mereka saat itu terdiri dari 30 hari. Dan bangsa ini telah membagi waktu mereka dalam hitungan deltar (jam). Dimana satu jamnya sama dengan 60 delli (menit), 1 menitnya sama dengan 60 dell (detik).

Berikut ini nama-nama harinya:

1. Nasu
2. Nakhu
3. Nadu
4. Namu
5. Nalu
6. Nayu
7. Naru
8. Natu
9. Nawu
10. Nabu
11. Fada
12. Kada
13. Tada
14. Lada
15. Yada
16. Ruda
17. Fuda
18. Suda
19. Quda
20. Zada
21. Sami
22. Domi
23. Lemi
24. Jimi
25. Numi
26. Gan
27. Ran
28. ‘An
29. Tan
30. Khan

Selanjutnya adalah nama-nama bulan:

1. Asaru
2. Nirusah
3. Damazuk
4. Masinus
5. Usluh
6. Tsiman
7. Abatus
8. Sabtum
9. Tibatum
10. Yadak
11. Kusaka
12. Addirul

Demikianlah sistem kalender ini terus digunakan sampai akhir masa kerajaan bangsa Amuria. Bahkan setelahnya masih tetap digunakan oleh bangsa-bangsa yang lain selama ribuan tahun.

7) Hukum
Atas bimbingan dari Nabi Hayan AS dan para Begawan yang bijak, pendiri kerajaan Amuria yang bernama Erezharos telah menetapkan hukum yang berlaku bagi siapapun didalam wilayah kerajaannya. Hukum itu lalu disalin ke berbagai tempat dalam bentuk lembaran (kertas, emas, perak) dan batu prasasti. Dari sejak masa pemerintahannya, hukum itu sudah dipakai dengan tertib di seluruh wilayah kerajaan. Bahkan bangsa Thalus, Najeer, dan Habula sampai mengadopsinya untuk dijadikan sebagai hukum yang berlaku selama masa pemerintahan mereka.

Ada sebanyak 310 pasal undang-undang yang terdapat di dalam hukum bangsa Amuria, atau yang kemudian dikenal dengan nama Vuree-Tah. Semuanya membahas tentang berbagai aturan pidana, perdata, ketatanegaraan, sosial, hak waris, dan ritual keagamaan. Satu persatu dituliskan dengan tegas dan tanpa pandang bulu. Berikut ini contohnya:

1. Jika seseorang melakukan pencurian di atas 10 kirat, orang itu harus dipotong tangannya. Tapi jika dibawah 10 kirat, ia harus membayar denda sebanyak dua kali lipatnya (dari barang yang dicuri) dan kerja bakti di pertambangan selama 3 bulan.
2. Jika seseorang terbukti melakukan korupsi di atas 20 kirat, orang itu harus dipotong tangan dan kakinya secara silang dan semua harta kekayaannya di ambil oleh negara. Tapi jika nilainya dibawah 20 kirat, ia akan dikenai hukuman potong tangan dan harus mengganti rugi sebanyak dua kali lipatnya.
3. Jika seseorang melakukan penipuan, orang itu harus membayar ganti rugi sebanyak 3 kali lipat dan kerja bakti selama 7 sampai 10 bulan sesuai keputusan hakim.
4. Jika seseorang melakukan fitnah, orang itu akan dihukum sebanyak 30 cambukan lalu diasingkan selama 2 tahun. Jika mengulanginya lagi, maka harus dihukum mati.
5. Jika seseorang melakukan pembunuhan, orang itu akan dibunuh.
6. Jika seseorang terpaksa membunuh karena harus menyelamatkan diri (karena mau dibunuh oleh si korban), orang itu akan dibebaskan setelah di penjara selama 7 bulan.
7. Jika seseorang membunuh karena tidak disengaja (kecelakaan), maka ia akan dikenai denda sebanyak 10 kirat lalu dipenjara selama 1 tahun. Aturan ini tidak berlaku jika keluarga si korban mau memaafkan.
8. Jika seseorang menyakiti orang lain dengan pukulan, orang itu akan dipukuli tiga kali lipatnya dan dikenai denda 1 kirat. Ia juga harus kerja bakti selama 3 bulan. Jika sampai menyebabkan luka, maka harus membayar 5 kirat dan merawat si korban hingga sembuh.
9. Jika seseorang terbukti melakukan sihir, orang itu akan dibunuh dengan cara dibakar.
10. Jika seseorang mengganggu ketertiban umum, orang itu akan dipukuli oleh petugas dan harus kerja bakti selama 1 sampai 3 bulan sesuai keputusan hakim.
11. Jika seseorang merebut tanah milik orang lain, ia akan dipotong tangannya dan dikenai denda 10 sampai 15 kirat sesuai keputusan hakim.
12. Jika seseorang tanpa izin menanami ladang orang lain dan yang punya tanah menyampaikan keluhan, maka hasil panennya harus dibagi dua.
13. Jika seseorang membanjiri ladang orang lain dengan air dan yang punya tanah menyampaikan keluhan, orang itu harus membayar denda dengan mengukur 1 grut untuk setiap jengkal tanahnya. Aturan ini tidak berlaku jika mereka berdamai.
14. Jika seseorang tidak menggarap ladangnya, tidak menanaminya dengan apapun tanpa alasan yang benar sehingga tanah itu terbengkalai, ia harus membayar denda 1 grut untuk setiap jengkal ladang itu.
15. Jika dua orang bersengketa lahan kepemilikan, maka keduanya harus bisa membuktikan bahwa dirinyalah yang berhak di hadapan hakim. Siapapun yang terbukti ingin merebut tanah orang lain harus membayar denda 10 kirat dan dipenjara selama 1 tahun.
16. Jika seseorang melakukan penculikan, orang itu akan di penjara selama 3 tahun dan harus membayar denda 15 kirat. Jika dalam penculikan itu ia sampai menyebabkan luka pada tubuh si korban, maka ia juga akan dikenai hukuman pemukulan.
17. Jika seseorang melakukan pemerkosaan, orang itu akan dihukum sebanyak 60 cambukan lalu dipenjara selama 10 tahun. Ia juga harus membayar 10 mat kepada si korban. Setelah itu ia harus dihukum mati.
18. Jika seseorang melakukan perzinahan, orang itu akan diarak keliling kampung dan harus menerima cambukan sebanyak 40 kali lalu diasingkan selama 3 tahun. Jika mengulanginya lagi, ia akan dihukum mati.
19. Jika seseorang melakukan perselingkuhan, orang itu akan diarak keliling kampung dan harus menerima cambukan sebanyak 50 kali lalu dipenjara selama 1 tahun. Setelah itu ia akan dihukum mati.
20. Jika seseorang terbukti merusak lingkungan (hutan, sungai, danau, dll), orang itu harus membayar denda 5 sampai 10 kirat dan dipenjara selama 1 sampai 3 tahun sesuai keputusan hakim.
21. Jika seseorang terbukti durhaka kepada orang tuanya, orang itu akan dipukuli oleh petugas dan harus kerja bakti selama 1 sampai 3 tahun di pertambangan sesuai keputusan hakim.
22. Jika seseorang terbukti menyakiti pasangannya (KDRT), orang itu akan dipukuli oleh petugas sesuai dengan keputusan hakim. Jika mengulanginya lagi, ia harus dipukuli dua kali lipatnya dan kerja bakti di pertambangan selama 3 bulan. Jika melakukannya lagi, orang itu akan dibuang ke pengasingan.
23. Jika ada yang kedapatan menyakiti fisik atau perasaan anak yatim, janda, orang cacat, dan orang tua (jompo), dia harus menerima pukulan dari petugas dan kerja bakti di pertambangan selama 1 sampai 2 tahun sesuai keputusan hakim.
24. Jika ada yang terbukti menggoda anak perawan atau wanita lainnya sampai menyentuh (secara paksa) anggota tubuhnya, orang itu harus dipenjara selama 10 sampai 30 hari sesuai keputusan hakim.
25. Jika ada yang mabuk-mabukkan, ia akan ditenggelamkan di sungai. -> disini maksudnya pelaku dimasukkan ke dalam kurungan dari kayu lalu ditenggelamkan sebatas lehernya selama waktu tertentu. Hukuman ini tidak berlaku sampai mati.
26. Jika ada yang terbukti menyiksa binatang, ia akan dipukuli oleh petugas sesuai dengan keputusan hakim.
27. Jika seseorang tidak mengikuti perjamuan agung (ritual ibadah 10 hari sekali) sebanyak tiga kali berturut-turut, orang itu harus ikut kerja bakti selama 10 hari di Sage (rumah ibadah). Hukuman ini tidak berlaku bagi yang tidak mengikuti agama sang raja.
28. Jika seseorang melecahkan ajaran agama yang ia ikuti atau yang bukan agamanya, orang itu akan diikat pada tiang (yang ada di alun-alun kota) selama 3 hari. Setelah itu harus kerja bakti di perkebunan selama 35 hari. Jika mengulanginya, ia harus kerja bakti di pertambangan selama 1 tahun. Jika masih mengulanginya, ia akan dibuang ke pengasingan selamanya.
29. Jika seseorang memiliki budak, orang itu harus tetap menghormatinya sebagai Manusia. Tidak boleh semena-mena. Dan jika ia mau melepaskannya (budaknya itu), negara akan berterima kasih dengan memberikan mahar (uang tebusan), sedangkan Tuhan akan meridhoinya.
30. Jika seseorang kedapatan menyiksa budak-budaknya atau para pekerjanya dengan cara keji, orang itu akan dipenjara selama 1 sampai 2 tahun sesuai keputusan hakim.
31. Jika seseorang terbukti lalai dalam kewajibannya memberikan upah, orang itu harus dikenai denda 1 grut di setiap harinya.
32. Jika seseorang melepas liarkan hewan peliharaannya dan hewan tersebut menyebabkan kerusakan, orang itu harus membayar ganti rugi sebanyak dua kali lipatnya dan kerja bakti di perkebunan selama 10 hari.
33. Jika seseorang melakukan pengkhiatan kepada negara, orang itu akan dihukum mati atau dibuang ke pengasingan selamanya.
34….. dst

Catatan: 1 kirat = 10 grut, sedangkan 1 grut = 1 buah koin perak. Selain itu ada lagi yang namanya 1 mat yang nilainya = 10 kirat. Mat itu adalah mata uang koin yang terbuat dari emas.

Demikianlah sedikit contoh dari undang-undang yang berlaku di kerajaan Amuria. Mereka pun telah menetapkan pajak pendapatan bagi setiap negara bagian sesuai dengan kemampuan negeri-negeri yang bersangkutan. Di setorkan secara rutin pada setiap 3 tahun sekali kepada pusat negara. Selain itu, dikenakan pula biaya untuk setiap pedagang asing yang datang dari luar negeri (bea cukai) sebesar 0,5 persen dari nilai barang yang diperjualbelikan. Semuanya dikumpulkan oleh negara untuk dipergunakan dalam merawat fasilitas umum; seperti pasar dan pelabuhan.

8) Contoh bahasa
Sebagai bangsa yang besar, tentulah mereka sudah menggunakan bahasa dan aksara yang kompleks. Ada beberapa bahasa yang umum dipakai, tetapi hanya satu yang menjadi bahasa resmi negaranya. Diberi nama Nayem atas prakarsa dari Raja Erezharos, sang pendiri kerajaan Amuria. Berikut ini contoh kalimatnya:

Enme-nakh toral hakuwe sabakh mejaya hakinam dalfado eata. Sam’anu yako nataje rathak ashalu an-gharutah kwarsen. Amenekh nahis ag-ghadir nativo ad-megir hakkad samrosha. Angkilu manus gemekur ash-shadan mule sad’akisu babwan takhe. Dinggar mu’akam sud kabakh mughal suzhusu zan halase baqa. Gu-khul imudin suhal badriba andiir kallatah hiksha nasebran. Ideg-ghi imras yon ezka ingpudha luma hakeli natam sesuna. Siyer zegi ugah amanu natuzala ikhmu ad-beruh tan rapure hoga. Doyyen toth operme sunkha bazur kadimba tabakur hutta badgir hug-kul. Masuldim ares-degir zahirgam sayid nag-munu lugah umran tuski baraduh. Sar-dub aluga kuddim barkimu sag-ahal kamenu dumusa ne-kalake. Usma’ sigi dimkuc arigu bindha erig-dur hasugent.

Catatan: Maaf, kami tidak bisa memberikan terjemahannya disini, ada protap yang harus diikuti. Termasuklah dengan bentuk aksaranya, karena hanya bisa kami sebutkan namanya saja disini, yaitu Hedam.

5. Ketatanegaraan
Bangsa Amuria dipimpin oleh seorang maharaja atau yang dalam bahasa mereka disebut Rahes. Ia dilantik dengan cara aklamasi ataupun seleksi. Tidak bisa sembarang orang, karena setiap calonnya harus berasal dari keturunan Raja Erezharos. Dan bagi siapapun yang ingin menjadi raja di negeri Amuria, maka ia harus bisa memenuhi syarat yang telah ditentukan. Di antaranya lulus ujian khusus yang diberikan oleh para Diwasan (dewan tertinggi kerajaan). Setelah itu, ia juga harus bisa memegang dan menggunakan benda pusaka warisan dari Raja Erezharos. Ketiganya itu adalah keris Narottama, tombak Sakular, dan cincin Maliyat. Hanya yang terbaiklah yang bisa menggunakannya.

Adapun jabatan Rahes (sang maharaja) dipegang oleh seseorang seumur hidupnya atau sampai ia mengundurkan diri, atau karena wafat. Yang penting selama berkuasa seseorang masih bisa memegang ketiga pusaka warisan Raja Erezharos sebagai bukti bahwa dirinya memang pantas menjadi pemimpin tertinggi di kerajaan Amuria. Hal itu harus dibuktikan di hadapan umum pada setiap 10 tahun sekali. Jika seseorang tidak bisa membuktikannya, maka ia harus turun tahta dan akan segera dicarikan pengganti yang memenuhi syarat.

Kemudian, dalam mengelola negaranya, bangsa Amuria tidak menuruti ego mereka (otoriter, diktator) saat memimpin wilayah yang begitu luas. Mereka lebih memilih bekerjasama dengan negeri-negeri yang tergabung di dalam kemaharajaannya. Hanya saja memang ada standarisasi ekonomi, militer, dan tata kelola pemerintahan dari pusat sampai ke daerah. Semuanya menginduk kepada pusat negara yang berada di ibukota Yasipura.

Ya, sejak masa Raja Erezharos memimpin, kemaharajaan Amuria sudah dibagi ke dalam beberapa negara bagian yang dipimpin oleh para Asires (raja daerah). Pejabat ini diangkat langsung oleh Rahes (sang maharaja) dan hanya untuk kerabat atau orang kepercayaannya saja. Tugasnya adalah memimpin para raja dan ratu di wilayahnya masing-masing – dalam sebuah dewan tinggi kerajaan, atau yang disebut dengan Diwasanta.

Berikut ini struktur pemerintahan dari bangsa Amuria :

1. Rahes (pemimpin tertinggi kerajaan).
2. Diwasan (dewan tertinggi kerajaan sekaligus penasehat raja).
3. Agatih (pelaksana tugas raja, setingkat perdana menteri).
4. Asires (penguasa negara bagian, pemimpin dari para Diwasanta; dewan tinggi kerajaan di daerah).
5. Patre Tinam (menteri pendidikan dan penelitian).
6. Patre Hulama (menteri ekonomi dan perdagangan).
7. Patre Kubasye (menteri pertanian dan perkebunan).
8. Patre Isnag (menteri peternakan dan perikanan).
9. Patre Sumah (menteri kesejahteraan, kesehatan, dan sosial).
10. Patre Hayyat (menteri urusan agama).
11. Patre Sarosh (menteri dalam negeri).
12. Patre Marosh (menteri luar negeri).
13. Agaras (panglima militer).
14. Hamuntar (imam dan hakim).
15. Dagari (duta besar).

Dibawah setiap kementerian ada dua atau tiga buah Kisim (semacam direktorat) yang membantunya. Merekalah yang menjalankan semua tugas kementerian di lapangan, dan melaporkannya langsung kepada pejabat menteri yang bersangkutan. Lalu setiap Patre (menteri) dan Agaras (panglima militer) harus melaporkan semua tugas dan pekerjaannya kepada Rahes (maharaja) pada setiap 7 bulan sekali. Sementara untuk para Asires (penguasa negara bagian) dan Dagari (duta besar) harus melaporkan setiap tugas dan pekerjaannya pada kisaran waktu 1-3 tahun sekali. Sedangkan untuk para Hamuntar, mereka tidak diwajibkan untuk melaporkan setiap tugas dan pekerjaannya kepada Rahes (maharaja) kecuali ada hal yang sangat penting.

6. Daftar raja-raja
Selama berdiri, ada sebanyak 63 orang raja yang pernah berkuasa di kerajaan Amuria. Mereka adalah orang-orang yang terpilih baik secara aklamasi ataupun seleksi. Setiap orangnya memimpin dalam waktu yang cukup lama, antara 70-180an tahun. Karena itulah, kerajaan Amuria ini mampu berdiri selama ±10.522 tahun. Selama itu, ada banyak kejadian yang harus dilalui. Dan nama Amuria selalu dikenang sebagai bangsa yang terpandang.

Berikut ini adalah nama-nama dari para rajanya:

1. Erezharos (pendiri kerajaan Amuria. Bergelar Haku-Zhar atau yang berarti pemimpin agung)
2. Balghataros
3. Kasherandar
4. Magtiyaghar
5. Ameraghad
6. Sivata Enu-Gallah (keturunan Erezharos yang mendirikan wangsa Enu)
7. Dsuta Enu-Sahir
8. Aruli Enu-Mallah
9. Ubarun Enu-Zamba
10. Azinda Enu-Hasuti
11. Eridug Enu-Badatir
12. Helim Enu-Tizqaru
13. Nubara Enu-Hukasha
14. Kishma Enu-Nabalih
15. Zaruqib Enu-Nuladha
16. Altab Meni-Ubaqir (pendiri wangsa Meni)
17. Zarug Meni-Akulam
18. Puansa Meni-Halakush
19. Musdhah Meni-Tashad
20. Ikku Mein-Sidata
21. Rawas Meni-Asiyur
22. Tasal Meni-Garud
23. Aghura Meni-Syatar
24. Batrah Meni-Afare
25. Etara Meni-Ittar
26. Anmerkah Usha-Uwwan (pendiri wangsa Usha)
27. Ligatun Usha-Kibash
28. Sungal Usha-Eluran
29. Padate Usha-Urima
30. Kina Usha-Balasu
31. Unaga Usha-Ba’sum
31. Nurral Usha-Elula
33. Angasir Usha-Kalema
34. Hamuzhi Elt-Sutta (pendiri wangsa Elt)
35. Dasudha Elt-Ksatu
36. Asani Elt-Nusan
37. Darasig Elt-Shaka
38. Urenan Elt-Kansisa
39. Amundu Elt-Baghala
40. Ittera Elt-Saharum
41. Nanmu Sur-Amari (pendiri wangsa Sur)
42. Sinsya Sur-Ibata
43. Estare Sur-Lagam
44. Ishbula Sur-Dagama
45. Yasanu Sur-Erah
46. Shulba Sur-Acaya
47. Isnin Sur-Habur
48. Niwatan Sur-Pasha
48. Magira Sur-Damik
50. Ilsin Sur-Wal
51. Enmal Attu-Hala’in (pendiri wangsa Attu)
52. Husmal Attu-Yats
53. Estera Attu-Banu
54. Darugan Attu-Isil
55. Ilura Attu-Mashir
56. Urinas Attu-Syabal
57. Samed Attu-Bursa
58. Ishkar Attu-Hanim
59. Terazim Attu-Namut
60. Kargath Attu-Nayer
61. Ubasur Attu-Minurta
62. Balhan Attu-Dakulti
63. Enlah Attu-Amiti (penguasa terakhir kerajaan Amuria)
64. Sanemapadha (raja bawahan kerajaan Thalus dan dia bukan dari wangsa Attu)
65. Zaraghanos (saat ini jabatan raja bawahan sampai diturunkan menjadi setingkat walikota)
66. Nanmelugesi
67. Gudheron
68. Aramasindha
69. Uttehaghali (jabatan raja bawahan dikembalikan oleh penguasa dari kerajaan Najeer setelah berhasil mengalahkan kerajaan Thalus).
70. Ladighasa
71. Utunanmu
72. Narasimlah (penguasa terakhir dari bangsa Amuria yang menjadi raja. Karena setelahnya dipimpin langsung oleh para pangeran dari kerajaan Najeer ataupun Habula).

Mengapa Enlah Attu-Amitti yang menjadi penguasa terakhir di kerajaan Amuria? Itu karena berikutnya yang berkuasa di kerajaan tersebut adalah orang-orang dari bangsa yang berbeda, yaitu bangsa Thalus, Najeer, dan Habula. Memang ada sosok dari mereka sendiri (keturunan Raja Erezharos) yang tetap memimpin bangsa Amuria di wilayahnya, tapi ia hanyalah sebagai raja bawahan yang harus tunduk kepada penguasa dari kerajaan Thalus. Setiap tahunnya pun harus memberikan upeti dalam bentuk hasil pertanian, perkebunan, dan barang tambang (emas, perak, dan batu permata). Disamping itu, ia juga terikat perjanjian dalam urusan militer dan harus bersedia jika penguasa kerajaan Thalus memintanya untuk ikut berperang.

Catatan: Meredupnya kejayaan Amuria disebabkan oleh dua faktor utama. Pertama, karena munculnya kekuatan baru dari kerajaan besar lainnya sehingga mereka semakin terjepit, kedua oleh sebab ketiga pusaka warisan dari Raja Erezharos telah menghilang. Ini terjadi pada masa raja ke 62 (Balhan Attu-Dakulti). Sehingga itulah pertanda bahwa Wahyu Keprabon sudah tidak ada lagi di kerajaan Amuria. Artinya, cepat atau lambat kerajaan Amuria harus runtuh.

3. Kehancuran bangsa Amuria
Ketika dipimpin oleh Raja Balhan Attu-Dakulti (raja ke-62), kondisi di kerajaan Amuria terus mengalami kemunduran. Mereka tak mampu lagi bersaing dengan kerajaan besar lain yang terus berkembang dan melakukan invasi. Bahkan ketika Raja Enlah Attu-Amiti (raja ke-63) naik tahta, ia sudah tidak mampu lagi berbuat apa-apa. Wilayah kekuasaannya yang dahulu sangat luas terus mengecil oleh sebab direbut oleh kerajaan lain atau justru memisahkan diri. Dan meskipun sempat bertahan untuk beberapa saat, namun akhirnya kerajaan peninggalan Raja Erezharos itu berhasil juga ditaklukan oleh bangsa Thalus.

Dalam perang besar tersebut, ibukota kerajaan Amuria (Yasipura) jatuh ke tangan bangsa penjajah itu, sehingga berakhirlah kekuasaan bangsa Amuria di seluruh wilayah barat Lahodia (penamaan kawasan barat Hismudala). Walaupun beberapa wilayah kekuasaan bangsa Amuria yang berada di luar masih sempat berjalan, tetapi pada akhirnya ikut runtuh seiring hancurnya pusat pemerintahan mereka.

Ya, bangsa Amuria mengalami pasang surut kekuasaan pada periode akhir peradabannya: tepatnya di masa akhir wangsa/dinasti Attu). Mereka terus mengalami persaingan ketat dengan kerajaan besar lainnya seperti Thalus, Najeer, Kusan, Darsisha, Jasuwari, dan Habula. Hingga akhirnya ditaklukkan oleh Raja Namizus dari kerajaan Thalus. Sejak saat itu, pemimpin dari bangsa Amuria hanya menjadi raja bawahan yang harus memberikan upeti kepada para penguasa dari kerajaan Thalus.

Jadi, awalnya kerajaan Amuria tak mampu lagi bersaing dengan kerajaan besar lainnya. Dengan wilayah yang semakin kecil dan kekuatan pasukan yang kian melemah, mereka pun terjepit tak berdaya. Dan setelah berjuang mati-matian, akhirnya ditaklukkan oleh bangsa Thalus yang berkoalisi dengan kerajaan Darsisha. Kerajaan Amuria pun dilebur menjadi satu dengan wilayah kerajaan besar tersebut. Berikutlah seterusnya, dimana bangsa Thalus pun akhirnya ditaklukkan oleh bangsa Najeer, sedangkan bangsa Najeer pun ditaklukkan pula oleh bangsa Habula. Selama itu wilayah kerajaan Amuria telah berulang kali dilebur oleh ketiga bangsa tersebut. Dan sebagaimana yang biasa terjadi, maka setiap adanya pergantian kekuasaan, tentulah diikuti pula dengan pergantian tradisi dan kebudayaannya – meskipun tradisi dan kebudayaan setempat (bangsa Amuria) masih tetap ada. Bahkan berakulturasi dengan apa saja yang datang dari luar negerinya. Hal ini lalu memunculkan corak kebudayaan yang baru.

Adapun nasib dari negeri Amuria, atau lebih tepatnya ibukota Yasipura, sungguh memilukan. Dimana pada akhirnya harus mengalami kehancuran total. Pertama disebabkan oleh serangan bangsa utara yang bernama Sograstena. Bangsa ini terkenal sangat beringas dan suka menjarah. Karena itulah ketika mereka berhasil merebut negeri Amuria dari tangan bangsa Habula, mereka langsung mengambil barang-barang peninggalan bangsa Amuria yang ada di kota Yasipura dengan cara paksa. Logam mulia, batu permata, dan apapun yang berharga lainnya dijarah habis-habisan, sementara sisanya dirusak atau dibakar. Hal inilah yang pertama kali menyebabkan kehancuran besar bagi kota Yasipura. Lalu yang kedua oleh karena bencana alam gempa bumi dahsyat yang meluluhlantakkan seisi kota. Semua bangunan yang ada hancur berantakan. Bahkan puncaknya, gempa tersebut membangunkan gunung berapi yang sudah lama tertidur. Letusannya begitu besar hingga akhirnya menimbun seluruh kota Yasipura. Sejak saat itu pula kota yang menjadi kebanggaan dari bangsa Amuria hilang dari pandangan. Terkubur abu vulkanik gunung Duggaril.

Sungguh, semua itu terjadi sesuai dengan wasiat dari Nabi Hayan AS pula. Dimana nasib dari kerajaan-kerajaan itu, termasuk Amuria, harus digantikan oleh kerajaan lainnya. Patah tumbuh hilang berganti adalah hal yang biasa dalam sejarah peradaban Manusia. Tidak hanya di zaman dulu, tapi hingga di masa kita sekarang.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Mugia Rahayu Sagung Dumadi.. 🙏

Jambi, 30 Maret 2020
Harunata-Ra

Catatan akhir:
1. Sebagaimana tulisan sebelumnya, maka disini pun tidak ada paksaan untuk percaya atau tidak percaya dengan kisah ini. Adalah hak Anda sekalian untuk memutuskan. Kami di sini hanya bertugas menyampaikan dan mengingatkan saja. Percaya syukur, tapi kalau tidak ya silahkan.
2. Bukalah lebar-lebar cakrawala hati dan pikiranmu. Jangan samakan standar kehidupan masa lalu dengan sekarang, karena ada banyak perbedaannya.
3. Ada banyak hal yang tak bisa kami jelaskan disini, ada protap yang harus tetap dipatuhi. Jadi apa yang disampaikan disini hanya sebatas yang diizinkan saja.
4. Persiapkanlah diri terus menerus dalam urusan ilmiah dan batiniah, karena apa yang pernah terjadi di masa kehidupan Raja Erezharos itu bisa saja terulang lagi di masa kita sekarang. Tidak ada yang tidak mungkin, terlebih sudah terlihat banyak kekacauan dan musibah dimana-mana.

Bonus instrumental :

13 respons untuk ‘Bangsa Amuria : Pusat Kemasyhuran Dunia

    Asyifa Wahida said:
    April 10, 2020 pukul 10:33 am

    Subhanallah …luar biasa
    Matur suwun kagem cerita kebenaran dr sejarah masa dahulu enggih mas
    Smg Kulo dn saudara2 kita bisa mengambil pelajaran 2 yg terdapat dalam alur cerita nya .. aaaaamiinn

      Harunata-Ra responded:
      April 11, 2020 pukul 6:17 am

      Nggih mbak, nuwun juga karena masih mau berkunjung.. 🙂
      Aamiin.. semoga ttp bermanfaat untuk semua.. 🙂

        Genarasi terakhir BPK ADAM Ibu HAWA said:
        April 12, 2020 pukul 4:44 am

        Kulo yg matur suwun sdh diparingi kebenaran yg benar mas …
        Aaammmmiin ya rabbal alamiinn

        Harunata-Ra responded:
        April 13, 2020 pukul 4:43 am

        Okelah kalo gitu.. 🙂

      Ragil Momon said:
      April 12, 2020 pukul 1:45 pm

      ketemukan aku sama anak ku

        Andi said:
        April 14, 2020 pukul 3:04 pm

        asyifa wahida, knp gk jwab, yg selalu mengagungkan kebenaran

        Andi said:
        April 14, 2020 pukul 3:16 pm

        hapus smua yg dari aku, tapi tuhan gk tidur,,

        maaf mas bukan maksud bikin ribut

    mysikat al marhum said:
    April 11, 2020 pukul 4:38 am

    Ijinkan saya bertanya, cerita dan kisah2 yang anda bagikan di situs ini terjadi pada manusia keturunan adam yang ke 10.000, atau keturunan adam2 sebelumnya ?terima kasih

      Harunata-Ra responded:
      April 11, 2020 pukul 6:23 am

      Terima kasih juga atas kunjungannya, semoga bermanfaat.. 🙂
      Hmm.. dari informasi yg telah didapatkan dan juga saya yakini, maka seluruh umat manusia itu berasal dari sepasang makhluk saja, dialah Ayahanda Adam AS dan Ibunda Hawa.. Cuma mrk berdua saja, tidak ada yg lain.. Karena itu, semua kisah yang ada di blog ini otomatis terjadi dalam kehidupan anak keturunan mrk berdua saja, tapi di periode zaman yg berbeda-beda..

    Mailan bintha Elen said:
    April 13, 2020 pukul 8:57 am

    Terima kasih atas sudi berbagi kisah2 yg tak kan di dapat di media2 lainnya🙏🏻🙏🏻🙏🏻

      Harunata-Ra responded:
      April 22, 2020 pukul 3:58 pm

      Iya sama2lah mbak Mailan, terima kasih juga sudah mau berkujung, semoga bermanfaat.. 🙂
      Oh gitu.. ya wajar sih gak ada di media lain, karena yg disampaikan disini anti mainstream sih.. hehe.. 🙂

    Hacko said:
    Mei 2, 2020 pukul 12:56 pm

    Sayangnya enggak jelas periode masa dan tempatnya, jadi sulit mengatakan kalau ini kebenaran…

      Harunata-Ra responded:
      Mei 3, 2020 pukul 12:20 pm

      Ttg periode masa sudah dijelaskan kok.. Malahan di bagian awal tulisan.. Kalo ttg lokasi sebenarnya juga udah, tapi emg gak detail karena ada protap..

      Ya seperti yg dijelaskan pada catatan akhir di tulisan ini, maka silahkan aja Anda percaya atau gak dg kisah ini, ato merasa benar apa gak kisah ini.. Itu hak Anda kok.. Tugas kami cuma menyampaikan aja.. Terima kasih udah mau berkunjung.. 🙏

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s