Rahasia Dibalik Lingkaran (Angka 360°)

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Segala yang ada di sekitar kita, termasuklah angka-angka, memiliki pesan tersembunyi. Ada banyak informasi yang bisa didapatkan, mulai dari yang umum sampai ke yang khusus (terahasia). Karena itulah angka-angka ini bisa pula dikatakan sebagai pesan Ilahiah kepada setiap makhluk-NYA, khususnya Manusia yang hidup di muka Bumi ini.

Nah, kali ini kita akan membahas tentang sebuah lingkaran atau yang dalam matematikanya adalah sebuah bangun datar dua dimensi. Lingkaran juga merupakan sekumpulan dari titik-titik yang membentuk suatu lengkungan yang memiliki panjang yang sama pada titik pusat lingkaran. Keliling lingkaran merupakan panjang garis lengkung dari suatu lingkaran, sedangkan luas lingkaran merupakan luas daerah yang dibatasi oleh busur lingkaran atau keliling lingkaran.

Dan ternyata sesuai dengan perhitungan maka sudut keliling dari sebuah lingkaran itu adalah 360°. Sementara angka rahasia dalam besaran angka 360 itu adalah 0. Lalu nilai sesungguhnya dari angka 0 itu apa dan bagaimana?

Jawabannya adalah 3+6 = 9.

Jadi, angka sebenarnya dari sebuah lingkaran itu adalah 369. Dan 369 itu sendiri berarti 3+6+9 = 18. Lalu angka 18 itu pun berarti 1+8 = 9. Nah angka 9 inilah yang menjadi nilai total dari semua angka yang membentuk sebuah lingkaran. Dimana angka 9 ini pula yang tertinggi nilainya dari semua angka, sehingga ia bermakna kesempurnaan. Lalu dengan alasan ini juga, maka bentuk dari sebuah lingkaran itu pun menjadi bulat sempurna. Adapun angka 3 yang terdapat dalam besaran angka 360 atau 369 itu bermakna alam kehidupan dari setiap makhluk (alam ruh, alam duniawi, dan alam akherat), sementara yang angka 6 nya berarti keimanan.

Lalu dari semua penjelasan di atas, maka bisa disimpulkan maknanya bahwa kehidupan seseorang itu haruslah dibekali dengan keimanan (yang murni, suci) untuk bisa mencapai kesempurnaan. Keimanan disini artinya teguh mengikuti setiap perintah dan larangan Tuhan, serta tetap mengharapkan petunjuk Dari-NYA (hidayah, ilham) dalam mengatasi berbagai seluk beluk kehidupan ini. Tujuannya agar tidak tersesat dan menyesatkan, sehingga dapat menciptakan peradaban yang seimbang dan harmonis.

Jika Anda tahu keindahan dari rahasia numerologi angka; 3, 6 dan 9, maka Anda akan memiliki kunci ke alam semesta”. (Nikola Tesla)

Dan jika dinaikkan lagi pemahamannya, maka untuk bisa sampai pada kesempurnaan yang sejati (dalam hal ini bisa berada dekat disisi-NYA), maka seseorang harus terlebih dulu bisa menerapkan konsep “nol” yang ada pada sudut keliling lingkaran itu (360°). Artinya, ia pun sudah bisa mengosongkan dirinya (menjadi fana) dengan berhasil menghilangkan apapun; seperti ego dan ke-aku-an diri, demi hanya untuk mengingat TUHAN. Karena itulah diperlukan tingkat penyerahan diri yang tinggi, alias sepenuhnya, juga kesadaran diri yang paripurna. Dan siapapun bisa mewujudkannya, asalkan ia tekun dalam mengasah dirinya – secara lahir batin.

Oleh sebab itu, angka 360 ataupun 369 adalah angka rahasia yang Tuhan berikan kepada setiap hamba-NYA. Keduanya sama-sama bernilai akhir 9, atau yang berarti kesempurnaan. Sedangkan kesempurnaan itu sendiri berarti mulia dan berada di posisi yang tertinggi, yang bisa saja dicapai oleh setiap hamba-NYA yang bersungguh-sungguh. Makanya ada banyak informasi rahasia yang tersimpan di dalamnya. Dan jika dipahami secara benar, maka dapat menyelaraskan diri seseorang (mikrokosmos) dengan sang alam (makrokosmos), sehingga terciptalah keseimbangan dan menjadi sosok yang lebih teristimewa. Pun bagi siapa saja yang bisa mengaksesnya dengan lebih mendetail, itu akan membuka rahasia dari alam semesta dan berbagai jenis kehidupan. Sesuatu yang teramat menakjubkan.

1. Catatan penting
Kita harus mengerti bahwa kita tidak membuat matematika, melainkan hanya menemukannya. Ini adalah bahasa dan hukum Universal. Tidak peduli dimana Anda berada di The Universe 1 + 2 akan selalu sama dengan 3! Dan segala sesuatu di Alam Semesta mematuhi hukum ini! Sehingga ada pola yang secara alami terjadi di semesta, pola yang terjadi dalam kehidupan, galaksi, formasi bintang, evolusi, dan hampir semua sistem Alam Semesta. Beberapa dari pola ini adalah Rasio Emas dan Geometri Suci.

Ya. Salah satu sistem yang sangat penting yang tampaknya dipatuhi oleh alam adalah “The Powers of 2 Binary System”. Di mana polanya dimulai dari satu dan berlanjut dengan menggandakan jumlahnya. Sel dan embrio berkembang mengikuti pola sakral ini: 1, 2, 4, 8, 16, 32, 64, 128, 256,…. Sehingga beberapa ilmuwan menyebut pola-pola ini sebagai The Blueprint of God. Dan matematika dengan analogi ini akan menjadi “Jejak Tangan Tuhan”.

Selain itu, dalam matematika Vortex (ilmu anatomi torus), ada pola yang berulang: 1, 2, 4, 8, 7, 5, dan seterusnya (1, 2, 4, 8, 7, 5, 1, 2, 4, 8, 7, 5, 1, 2, 4, 8, 7, 5,….). Tapi seperti yang Anda lihat; 3, 6, dan 9 tidak ada dalam pola ini. Karena itu ilmuwan Marko Rodin percaya bahwa angka-angka ini mewakili vektor dari dimensi ketiga menuju ke empat, yang ia sebut sebagai “medan fluks.” Bidang ini, seharusnya merupakan energi dimensi yang lebih tinggi, yang memengaruhi rangkaian energi dari enam titik lainnya.

Nah, pada dasarnya Vortex Math adalah bentuk geometri suci yang bersifat 3 dimensi. Randy Powell, seorang siswa dari Marko Rodin, mengatakan bahwa “ini adalah kunci rahasia energi bebas, sesuatu yang kita semua tahu, Tesla coba kuasai“.

Mari kita lihat lebih jauh! Kita mulai dari 1, maka dua kali lipatnya adalah 2; 2, dua kali lipatnya adalah 4; 4, dua kali lipatnya adalah 8; 8, berlipat ganda menjadi 16, yang berarti 1+6, dan itu sama dengan 7. 16, dua kali lipatnya adalah 32, yang menghasilkan 3+2 = 5 (Anda dapat melakukan 7 dua kali lipat, maka yang Anda dapatkan adalah 14 sehingga menghasilkan 1+4 = 5), sedangkan 5 pun jika berlipat ganda menjadi 10 yang berarti 1. Lalu kembali ke kelipatan dari 16 di atas yang hasilnya adalah 32, maka jika 32 berlipat ganda akan menjadi 64 sehingga menghasilkan 6+4 = 10 yang berarti 1+0 = 1. Jika kita melanjutkannya akan terus mengikuti pola yang sama yaitu: 1, 2, 4, 8, 7, 5, 1, 2, 4, 8, 7, 5, 1, dst….

Begitu pula jika kita mulai dari 1 secara terbalik, maka kita masih akan mendapatkan pola yang sama. Hanya saja secara terbalik: dimana setengah dari satu adalah 0,5 (0+5 = 5). Setengah dari 5 adalah 2,5 (2+5 = 7), setengah dari 7 adalah 3,5 (3+5 = 8), setengah dari 8 adalah 4, setengah dari 4 adalah 2, setengah dari dua adalah 1, dan seterusnya. Namun seperti yang Anda lihat, maka tidak disebutkan angka 3, 6, dan 9! Sepertinya mereka berada di luar pola ini, bebas dari itu.

Ya, ada sesuatu yang aneh. Bahkan setelah Anda mulai menggandakannya, maka 3 itu dua kali lipatnya adalah 6; 6 berlipat dua menjadi 12, yang menghasilkan 3; sehingga dalam pola ini tidak disebutkan pula 9! Sepertinya 9 ini berada di luar, benar-benar bebas dari kedua pola. Tetapi jika Anda mulai menggandakan 9, itu akan selalu menghasilkan 9. Sebab dua kali lipatnya 9 adalah 18 (1+8 = 9), dua kali lipatnya 18 adalah 36 (3+6 = 9), dua kali lipatnya 36 adalah 72 (7+2 = 9), dua kali lipatnya 72 adalah 144 (1+4 = 5, 5+4 = 9), dua kali lipatnya 144 adalah 288 (2+8 = 10 => 1, 1+8 = 9), dua kali lipatnya 288 adalah 576 (5+7 = 12 => 3, 3+6 = 9), dst…

Untuk itu, angka 9 ini bisa disebut Simbol Pencerahan dan Kesempurnaan! Dan ada banyak bukti bahwa alam menggunakan simetri tiga kali lipat (3 x 3 = 9), enam kali lipat (6 x 6 = 36, 36 => 3+6 = 9), dan sembilan kali lipat (9 x 9 = 81, 81 => 8+1 = 9), termasuk bentuk ubin, heksagonal dari sarang lebah biasa. Bentuk-bentuk ini ada di alam, dan orang-orang kuno telah menirukan bentuk-bentuk tersebut dalam bangunan arsitektur suci mereka.

Sungguh ada sesuatu yang istimewa tentang si misterius nomor tiga itu (angka 9). Dan mungkin saja Nikola Tesla sudah mengungkap sebagian rahasia yang mendalam ini, dan menggunakan pengetahuan tersebut untuk mendorong batas-batas sains dan teknologi. Karena ada kisah terkenal yang terkait dengan angka 369. Dimana pada tahun 1898 silam, polisi dan layanan darurat Amerika lainnya bergegas ke laboratorium Tesla, untuk menyelidiki sumber gempa. Tesla mengatakan kepada polisi bahwa dia tidak ada hubungannya dengan itu. Tetapi, ia juga mengungkapkan beberapa waktu kemudian, bahwa dengan menggunakan perangkat kecil, dia berhasil memanfaatkan energi getaran. Dan itu menyebabkan terjadinya peningkatan secara eksponensial. Sampai menyebabkan gempa bumi. Perangkat ini dikenal sebagai “mesin gempa Tesla”, tetapi versi selanjutnya disebut sebagai osilator mekanik.

Lalu satu tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1899, Tesla diyakini telah menyebabkan tiga gempa bumi lainnya dengan mesinnya: pertama pada tanggal 3 September, kedua pada tanggal 6 September dan sekali lagi pada tanggal 9 September. Tahun itu sendiri dapat dianggap memiliki tiga angka 9, jika kita menggabungkan angka 1 dan 8 (1899 = 1+8 = 9, 9, dan 9). September pun adalah bulan yang ke sembilan di tahun itu. Dan tentu saja, bukan kebetulan bahwa tanggal gempanya saat itu adalah 3, 6, dan 9.

2. Keagungan angka 9
Katakanlah ada 2 yang berlawanan, sebut saja mereka terang dan gelap. Jika Anda mau, mereka seperti kutub utara dan selatan, medan magnet. Dimana satu sisinya adalah 1, 2, dan 4; sedangkan disisi lainnya ada 8, 7 dan 5. Sama seperti listrik, dimana segala sesuatu di semesta ini adalah aliran, di antara kedua sisi kutub ini, seperti pendulum yang berayun: 1, 2, 4, 8, 7, 5, 1, 2, 4, 8, 7, 5, 1…. (dan jika Anda membayangkan gerakan itu, seperti simbol untuk infinity atau yang tak terbatas).

Namun, kedua sisi ini diatur oleh 3 dan 6; dimana 3 mengatur 1, 2, dan 4, sementara 6 mengatur 8, 7, dan 5. Nah jika Anda perhatikan polanya dengan cermat, maka hasilnya akan lebih mengejutkan, karena 1 dan 2, sama dengan 3 (1+2 = 3); 2 dan 4, sama dengan 6 (2+4 = 6); 4 dan 8, sama dengan 3 (4+8 = 12, 12 => 1+2 = 3); 8 dan 7, sama dengan 6 (8+7 = 15, 15 => 1+5 = 6); 7 dan 5, sama dengan 3 (7+5 = 12, 12 => 1+2 = 3); 5 dan 1, sama dengan 6 (5+1 = 6); 1 dan 2, sama dengan 3 (1+2 = 3), dst… Sehingga pola yang sama pada skala yang lebih tinggi sebenarnya adalah 3, 6, 3, 6, 3, 6,… Bahkan kedua belah pihak itu (3 dan 6), telah diatur oleh 9 (3+6 = 9), yang menunjukkan ini adalah sesuatu yang spektakuler.

Ya. Melihat dengan cermat pada pola 3 dan 6, Anda bisa menyadari bahwa 3 dan 6 sama dengan 9 (3+6 = 9), 6 dan 3 pun sama dengan 9 (6+3 = 9). Bahkan ketika semua angka digabungkan, maka akhirnya juga sama dengan 9 (3+6 = 9, 6+3 = 9, 9+9 = 18, 18 => 1+8 = 9)! Sehingga 9 itu berarti persatuan dari kedua belah pihak, yang menciptakan sebuah keseimbangan yang absolut (mutlak). 9 itu adalah The Universe sendiri. Dan tentunya 9 itu adalah simbol nyata tentang adanya The ONE (HYANG ARUTA : Tuhan Yang Maha Esa dan Sempurna)!

Sehingga, bilangan (angka-angka) itu Nyata dan Hidup, bukan hanya simbol untuk hal-hal lain. Dan kita akan menemukan bahwa hubungan antara angka-angka itu sebenarnya tidaklah acak, atau bukanlah buatan dari manusia. Tetapi angka-angka itu sebenarnya adalah partikel elementer yang darinya semua tersusun dalam keteraturan.

Dan pengetahuan yang hilang ini, sudah dikenal oleh orang-orang zaman dahulu. Sekarang mulai ditemukan kembali secara bertahap. Karena siapapun yang mau berpikir, maka ia akan melihat angka-angka dalam pola kotak matriks, tiga dimensi. Yang sederhana, namun sangat sempurna dan membentuk torus (tori dalam bentuk jamak, yang dalam ilmu geometri adalah suatu permukaan yang tercipta akibat gerakan rotasi atau revolusi dari suatu lingkaran yang berputar dalam ruang tiga dimensi (dengan sumbu putar yang berada secara koplanar/sebidang dengan lingkaran itu sendiri)). “Kotak angka” yang bisa mengungkapkan kalibrasi dan waktu, untuk mesin yang dapat membawa kita ke seluruh alam semesta. Dan menyelesaikan kebutuhan energi bagi umat manusia.

Sungguh, matematika ini benar-benar menjelaskan segala sesuatu yang pernah ada, sedang, dan akan terjadi di alam semesta dengan sempurna, alias tanpa kesalahan.

***

Angka nol merupakan angka yang kita kenal sebagai angka netral, yang letaknya berada di antara bilangan positif dan bilangan negatif. Namun bagaimana angka nol bisa ditemukan?

Ratusan tahun yang lalu, manusia hanya mengenal 9 buah bilangan saja, yaitu 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9. Pada awalnya, bangsa Babilonia dan Yunani kuno mempergunakan konsep nol sebagai ruang pembatas antara bilangan-bilangan, dan mereka tidak memiliki simbol untuk konsep tersebut dikarenakan cukup sebagai pembatas. Namun konsep nol tersebut sering disalahtafsirkan sehingga mereka akhirnya membuat simbol nol yang menyerupai nol yang kita kenal sekarang.

Hingga kemudian pada abad ke 7 Masehi, matematikawan India yang bernama Brahmagupta memperkenalkan sifat angka nol seperti yang kita kenal sekarang. Namun Brahmagupta memiliki kesulitan dan kekeliruan ketika sebuah angka dibagi dengan nol. Dia menyatakan bahwa “sebuah bilangan bila dibagi nol adalah tetap”. Namun kekurangan tersebut bisa diperbaiki oleh Bhaskara yang kemudian menyatakan bahwa “pembagian sebuah angka oleh nol adalah jumlah yang tak hingga”. Dan puncaknya ide-ide brilian dari matematikawan asal India itu dipelajari oleh seorang matematikawan Muslim Arab yang bernama Al-Khawarizmi (penemu Algoritma, yang hidup pada tahun 780-850 M). Hal ini terjadi pada saat ia meneliti sistem perhitungan Hindu yang menggambarkan sistem nilai tempat dari bilangan yang melibatkan angka 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9. Al-Khawarizmi adalah yang pertama kali (di zaman kita ini) memperkenalkan penggunaan bilangan nol sebagai nilai tempat dalam basis sepuluh. Sistem ini disebut sebagai sistem bilangan desimal.

***

3. Informasi tambahan 
Besaran angka 360 derajat untuk sebuah lingkaran, khususnya di zaman kita sekarang ini (Rupanta-Ra), ternyata berasal dari bangsa Sumeria yang tinggal di wilayah Mesopotamia (sekarang di Iraq selatan). Bangsa yang telah menemukan tulisan pada sekitar tahun 3000 SM ini sudah membuat kalender di sekitar tahun 2400 SM. Adapun tahun dalam kalender tersebut sudah terdiri dari 12 bulan, yang masing-masingnya terdiri dari 30 hari. Sehingga dalam satu tahun kalender Sumeria itu terdapat 360 hari. Ini sama halnya dengan sistem kalender Hijriyah yang digunakan oleh umat Islam.

Catatan: Wilayah Mesopotamia atau yang berarti “tanah dari sungai-sungai” itu terletak di antara dua sungai besar, yaitu Eufrat dan Tigris. Daerah yang kini menjadi Republik Iraq itu pada zaman dahulu disebut Mesopotamia, yang dalam bahasa Yunani berarti “(daerah) di antara sungai-sungai”.

Adapun bangsa Sumeria pantas disebut sebagai penduduk asli dari Mesopotamia karena mereka yang pertama kali membangun kawasan itu – di periode zaman kita sekarang ini, karena sebenarnya kawasan itu sudah ditinggali secara permanen dari sekitar tahun 5500 hingga 4000 SM oleh orang-orang non Semit (istilah “Semit” diberikan kepada anggota dari berbagai suku bangsa yang menggunakan bahasa-bahasa dalam rumpun bahasa Semit kuno maupun modern, yang umumnya berdiam di Timur Dekat (istilah yang sering digunakan oleh arkeolog dan sejarawan untuk merujuk kepada kawasan Levant atau Syam (sekarang Palestina, Jalur Gaza, Lebanon, Suriah, Tepi Barat, dan Yordania), Suriah Timur, Anatolia (sekarang Turki), Iraq, dan Plato Iran (dataran tinggi Iran)), termasuklah; Akkadia (Asyur dan Babel), Ebla, Ugarit, Kanaan, Fenisia (termasuk Kartago), Ibrani (Israel, Yehuda dan Samaria), Ahlamu, Aram, Kasdim, Amori, Moab, Edom, Hyksos, Ismael, Nabatean, Maganites, Sheba, Sutu, Ubarit (Iram of the Pillars), Dilmunites, Bahrani, Malta, Manda, Sabian, Siriak, Mhallami, Amalek, Palmyra, dan Etiopia).

Bangsa Sumeria ini datang dari wilayah Asia Kecil (sebagian besarnya terletak di negara Turki sekarang) sekitar tahun 3.500 SM. Pada awalnya, bangsa ini hanya mengolah lahan pertanian yang subur sebagai mata pencahariannya. Namun lama kelamaan, mereka dapat membangun sistem pengairan untuk menanggulangi banjir dan menyalurkan air ke lahan-lahan pertanian, seperti sistem irigasi dan kanal. Dengan hasil pertanian yang melimpah, maka pada sekitar tahun 3.000 SM bangsa Sumeria telah membangun 12 kota besar, di antaranya kota Ur, Uruk, Lagash, dan Nippur.

Pada awalnya, kota-kota tersebut berdiri sendiri, sehingga disebut negara kota. Kemudian terjadilah peperangan di antara kota-kota tersebut dan yang kalah akan menjadi bawahan dari kota yang menang, yang lama kelamaan memunculkan sistem pemerintahan kerajaan. Bangsa Sumeria kemudian mencapai masa kejayaannya saat dipimpin oleh Raja Ur-Nammu. Namun, di sekitar tahun 2.300 SM bangsa ini ditaklukkan oleh bangsa Akkadia di bawah pimpinan Raja Sargon.

Nah, kembali ke pembahasan utama kita, maka temuan angka 360 itu didasari atas pengamatan mereka (bangsa Sumeria) terhadap Matahari, Bulan, dan lima planet yang dapat terlihat mata (Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, dan Saturnus). Mereka memperhatikan jalur melingkar tahunan Matahari saat melintas di Langit (di atas Bumi) dan menemukan bahwa perlu waktu selama 360 hari untuk Matahari bisa menyelesaikan “tugasnya mengitari Bumi”. Nah, karena gerakan Matahari “memutari Bumi” itu dianggap berbentuk lingkaran, mereka pun sampai memutuskan bahwa satu lingkaran itu terdiri atas 360 derajat. Itulah untuk jawaban yang sederhananya.

Catatan: Bangsa Sumeria telah mengembangkan ilmu aritmatika dengan merepresentasikannya sebagai angka pada tablet tanah liat. Aritmatika ini kemudian berkontribusi pada penemuan kalender dan jam dengan terlebih dulu menciptakan beberapa sistem bilangan, diantaranya sistem seksagesimal (basis 60-an), yang menjadi sistem bilangan standar peradaban Sumeria. Dengan menggunakan sistem bilangan ini, bangsa Sumeria akhirnya bisa menciptakan jam, dengan perhitungan 60 detik, 60 menit, dan 12 jam; serta kalender, dengan 12 bulan. Manfaat penemuan ini sangat terasa bahkan hingga hari ini.

Sedangkan jawaban lebih rumit mengenai alasan munculnya angka 360 pada lingkaran itu didasari oleh “persekutuan” ahli astronomi Babilonia dengan beberapa orang dari Yunani. Mereka memiliki ilmu trigonometri yang konon dianggap sebagai yang paling pertama di peradaban Manusia – disini dalam arti untuk di peradaban kita sekarang. Karena di periode zaman sebelumnya ada banyak kaum yang sudah lebih dulu menemukannya.

Catatan: Babilonia atau Babel dinamai sesuai dengan ibu kotanya, Babilon, adalah sebuah negara kuno yang terletak di selatan Mesopotamia (sekarang Iraq), di wilayah Sumeria dan Akkadia. Babel pertama disebut dalam sebuah tablet dari masa pemerintahan Raja Sargon dari Akkadia, dari abad ke-23 SM. Peradaban ini lebih muda dari bangsa Sumeria.

Selain itu, Babilonia merupakan sebuah kerajaan besar yang didirikan oleh bangsa Amorit (bangsa penutur bahasa Semit kuno dari Suriah yang juga mendiami wilayah-wilayah luas di Mesopotamia selatan sejak abad ke-23 SM sampai pada akhir abad ke-17 SM), yang dalam perjalanan sejarahnya lebih dikenal dengan bangsa Babilonia. Babilonia sendiri berasal dari kata “babilu”, yang berarti gerbang menuju Tuhan. Posisi kerajaan Babilonia ini terletak tepat di tepian sungai Eufrat, kurang lebih 97 kilometer dari kota Baghdad-Iraq saat ini.

Jadi, melalui trigonometri ini mereka lalu membagi lingkaran dengan menggunakan satu segitiga sama sisi yang panjangnya sama dengan jari-jari lingkaran tersebut. Segitiga tersebut dikenal dengan istilah “chord”. Hasilnya menunjukkan bahwa satu lingkaran itu terdiri dari 6 chord.

Nah, dikarenakan peradaban mereka tersebut menggunakan bilangan berbasis 60 atau seksagesimal, bukan 10 atau desimal seperti saat ini, mereka pun menghitung 1 chord itu terdiri dari 60 derajat. Nah, berhubung satu lingkaran terdiri dari 6 chord, maka ditentukanlah bahwa satu lingkaran itu terdiri atas 360 derajat (6 x 60).

***

4. Kesimpulan dan penutup
Wahai saudaraku. Begitulah sekelumit penjelasan (makna tersembunyi) dan sejarah tentang adanya angka 360° pada sebuah lingkaran. Darinya kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran, bahwa apapun yang ada di dunia ini adalah tanda-tanda dari kebesaran-NYA. Jika kita mau memikirkan dan merenungkannya dengan lebih seksama, maka itu bisa membantu kita untuk lebih memahami tentang arti dari kehidupan. Tujuannya adalah agar tidak tersesat arah dan masuk ke dalam lembah kenistaan.

 وَكَأَيِّنْ مِنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ  عَنْهَا مُعْرِضُونَ

Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan-NYA) di Langit dan di Bumi yang mereka lalui, sedang mereka berpaling dari padanya.” (QS. Yusuf [12] ayat 105)

Pun, tidak sedikit yang ada dari padanya itu (angka-angka) bisa mengantarkan kita pada sesuatu yang menakjubkan. Ada banyak hal yang bisa dipahami hanya dengan menelisik angka-angka dalam bentuk satuan maupun kelompok, yang terurut ataupun di acak. Dan tidak sedikit pula rahasia dari energi, elemen semesta, unsur alam, dan lain-lainnya yang bisa diketahui hanya setelah berhasil memecahkan kode-kode rahasia dari angka-angka tertentu. Sehingga tak ada alasan bagi siapapun untuk mengabaikan hakekat dari setiap bilangan dalam hidup ini.

Dan perhatikanlah bentuk lingkaran yang bulat sempurna itu. Dimana ia bermakna keseimbangan lantaran tidak ada bentuk dari sisinya yang cacat atau berbeda. Lingkaran itu mulus, tidak memiliki pangkal dan ujungnya, sehingga bermakna kekal-abadi. Dan jika ingin membangun peradaban yang kokoh dan juga terbaik, maka haruslah mengikuti hakekat makna dari lingkaran tersebut (sesuai dengan penjabaran tentang angka 360 dan 369 di atas). Hukum dan aturan Tuhan harus tetap ditegakkan, ikutilah setiap arahan dari syariat-NYA dengan tulus, dan memohonlah petunjuk kepada-NYA dalam menata kehidupan di dunia ini.

Dengan begitu, siapapun bisa mengikuti jejak dari kaum-kaum terdahulu yang penuh dengan kejayaannya. Sebut saja kaum Assefron, Mahultah, Avaldar, Sanurasya-Azalon, Antalusa, Syahala, dan Armastana-Matterama. Dimana semuanya telah memiliki peradaban yang tinggi dan penuh dengan keseimbangan. Jauh lebih baik dari pada kita sekarang. Karena selain memiliki tingkat ilmu pengetahuan yang tinggi, maka umur peradaban mereka pun sangat panjang sampai ribuan tahun, bahkan ada yang sampai jutaan tahun lamanya. Dan sebagai bonus atas keteguhan mereka dalam mengikuti hukum dan aturan Tuhan, mereka pun diperintahkan untuk berpindah ke Dimensi lain. Di sana mereka terus melanjutkan kehidupannya dalam suasana yang lebih menyenangkan.

Lantas mengapa hal itu bisa terjadi? Jawabannya karena mereka telah mengikuti prinsip dari sebuah lingkaran yang memang sangat kokoh dan kekal sifatnya. Mereka pun telah mampu memecahkan kode rahasia dari angka-angka yang ada dibalik sebuah lingkaran. Dan sesuatu yang melingkar itu akan lebih kuat daya tahannya ketimbang yang berbentuk lain (bujur sangkar, ketupat, segitiga, trapesium, dll). Lihatlah roda kendaraan, meskipun kecil maka tetap bisa menopang beratnya beban sebuah kendaraan. Dan hanya dengan bentuk lingkaranlah perjalanan bagi sebuah kendaraan itu bisa mulus dan lancar sampai tujuan.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Mugia Rahayu Sagung Dumadi.. 🙏

Jambi, 27 Maret 2020
Harunata-Ra

Catatan akhir: Apa yang telah dijelaskan dalam tulisan ini hanyalah sebagian dari rahasia lingkaran dan bilangan, khususnya angka 360 atau 369. Masih ada banyak lagi yang lain namun tak bisa kami sampaikan disini. Ada protap yang harus diikuti.

Referensi:
* https://teguuuh.wordpress.com/sejarah-ipa/sejarah-angka-nol/
* https://arcbali.com/3-6-9-simbolisme-numerologi-tesla-code/
* https://intisari.grid.id
* https://id.wikipedia.org/wiki/Mesopotamia
* https://id.wikipedia.org/wiki/Sumeria
* https://id.wikipedia.org/wiki/Babilonia

Bonus instrumental :

8 respons untuk ‘Rahasia Dibalik Lingkaran (Angka 360°)

    Wiangga said:
    Maret 30, 2020 pukul 10:55 pm

    Blog walking
    . Salam kenal.

    Btw.. matematika sy selalu buruk hehe

      Harunata-Ra responded:
      Maret 31, 2020 pukul 2:33 am

      Salam kenal juga mbak Wiangga, terima kasih sudah mau berkunjung, semoga bermanfaat.. 🙂
      Hehe.. saya pun sama kok, bukan anak eksakta sih dulunya.. 😀

    Genarasi terakhir BPK ADAM said:
    Maret 31, 2020 pukul 1:24 am

    Alhamdulillah…
    matur suwun kagem ilmu yg super luar biasa Niki mas
    Kulo yg bodo dan awam ini musti baca bbrp kali untuk bisa memahami …
    Smg berkah kagem semuanya …
    syng enggih kita yg ada diseluruh bumi ini khususnya Indonesia trkotak2 dngn berbagai bentuk …
    Smg disisa akhir waktu ini kita semua bisa mnajdi sebuah lingkaran yg utuh demi masa depan yg gemilang dn bahagai … aaamiiin ya rabbal alamiinn

      Harunata-Ra responded:
      Maret 31, 2020 pukul 2:36 am

      Nggih sami2lah.. nuwun juga karena masih mau berkunjung, semoga ttp bermanfaat.. 🙂
      Waah sama kok, saya juga masih awam dan bodoh.. apalagi kali ini artikelnya sedikit teknik, jadi kita sama2 belajar aja ya.. 🙂
      Aamiin.. semoga begitu..
      Betul, kita terlupa dg konsep lingkaran dalam berbangsa dan bernegara.. makanya gak bangkit2 kejayaannya..

    Asyifa Wahida said:
    Maret 31, 2020 pukul 6:19 am

    Ya mas …
    Insyaallah selagi Panjenengan masih setia menyebar ilmu2 kebanaran dn nasehat sy pasti akan berkunjung untuk membaca dn mempelajari nya mas ..
    Kalo panjenengan mah sdh sang master …

    Ya mas ,tapi yg belajar sy dn mas yg mengajarinya yaaaa

    Ya mas ,dn dngn adanya mas corona ini segala bangsa khususnya bangsa Indonesia sadar akan semua kesalahannya dn segera memohon ampun kpd – NYA dn memohon ampunan kpd para leluhur nya ,karena bangsa ini sdh sangat durkaha kpd Tuhan nya dn leluhurnya, mudah2an dngn begitu akan dimudahkan jln apappun yg kita semua tempuh … aaaaamiinn ya rabbal alamiinn

      Harunata-Ra responded:
      April 4, 2020 pukul 7:00 am

      Syukurlah kalo gitu mbak.. sekali lagi nuwun utk kesediannya.. 🙂

      Aaah.. kita sama2 belajar ajalah.. saya masih di level murid, blm patas untuk mengajari..

      Skr ini mungkin aja peringatan terakhir, jika tidak berubah juga, apa yang DIA janjikan sejak zaman dulu akan datang..

        Asyifa Wahida said:
        April 4, 2020 pukul 10:21 am

        Enggih mas …
        Tapi syng masih pada bnyak yg pada ngeyel mas ….

        Harunata-Ra responded:
        April 6, 2020 pukul 3:47 am

        Ya namanya juga di akhir zaman mbak.. harap maklum aja..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s