Mahudhala : Kuil Para Kesatria Pilihan Zaman

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Mari sekali lagi kita membahas tentang masa lalu umat Manusia. Dan kali ini fokusnya adalah pada masa akhir periode zaman ke empat (Swarganta-Ra) dan yang di awal periode zaman ke enam (Nusanta-Ra). Dimana pada saat itu kondisi dan model kehidupan di Bumi sudah banyak yang berubah, tak seperti pada masa-masa sebelumnya. Mengenai kemampuan diri Manusianya (kesaktian) juga tidak lagi sehebat generasi yang hidup di periode zaman sebelumnya. Bahkan yang terburuknya lagi adalah kondisi akhlak Manusia yang sangat buruk, terlebih para pemimpinnya.

Ya. Sejak memasuki periode akhir zaman ke empat (Swarganta-Ra), umat Manusia tetap memiliki kemampuan yang istimewa. Hanya saja bila dibandingkan dengan mereka yang hidup di zaman sebelumnya maka jauh berkurang. Mereka juga sangat membutuhkan alat bantu yang berupa benda-benda pusaka bertuah untuk bisa menambah kemampuan dirinya. Hal ini bahkan terus berlanjut sampai di periode zaman ke tujuh ini (Rupanta-Ra), khususnya pada masa awal dan pertengahan zamannya.

Nah, untuk lebih jelasnya mari ikuti uraian berikut ini:

1. Awal kisah
Seiring berjalannya waktu, kehidupan Manusia di muka Bumi ini terus berubah. Sesuai dengan kodrat-NYA, kemampuan yang dimiliki oleh anak keturunan Ayahanda Adam AS pun kian berkurang. Karena itulah, Hyang Aruta (Tuhan YME) sudah mempersiapkan skenario yang baru. Dimana perjalanan kehidupan di Bumi ini, khususnya umat Manusianya, harus ditunjang dengan benda pusaka yang linuwih. Dalam hal ini harus pula berasal dari Langit, karena apa yang akan diperjuangkan nantinya tidak mudah. Butuh sesuatu yang luar biasa dan istimewa.

Nah, pada masa akhir periode zaman ke empat (Swarganta-Ra) Nabi Khidir AS memiliki seorang murid yang juga menjadi Nabi dengan nama Hadawi AS. Suatu ketika Nabi Hadawi AS mendapatkan tugas dari Nabi Khidir AS untuk mencari lima orang kesatria terbaik. Kelimanya itu harus dari ras dan negeri yang berbeda. Jika mereka terbukti layak, maka setiap orangnya akan menerima satu dari kelima pusaka dari Langit. Perintah itu berasal dari wahyu yang telah diterima oleh Nabi Khidir AS, dan merupakan togak sejarah yang sangat penting hingga pada masa-masa berikutnya.

Adapun kelima benda pusaka itu berupa pedang Mulasya, busur panah Tarumsya, tombak Watunsya, kapak Batimsya, dan cicin mustika Agasya. Untuk bisa mendapatkannya, Nabi Khidir AS harus naik ke atas Langit dan menerimanya langsung dari para Malaikat. Ketika diserahkan, kelima benda pusaka tersebut diletakkan dalam sebuah peti khusus dan bisa muncul kapanpun sesuai dengan keinginan sang Nabi. Dan karena berasal dari Langit, maka kelimanya itu memiliki kekuatan yang sangat luar biasa. Begitu istimewa dan tak ada yang mampu menandinginya. Siapapun yang berusaha untuk melawannya maka dia akan tumbang hanya dalam waktu singkat, bahkan dengan satu kali serangannya saja. Selain itu, setiap pusaka juga memiliki kemampuan yang bermacam-macam dan unik. Semuanya luar biasa dan istimewa, sehingga teramat sulit untuk dihadapi oleh kesaktian ataupun kecanggihan teknologi.

Catatan: Selain kelima jenis pusaka, maka di dalam peti yang diterima oleh Nabi Khidir AS saat itu terdapat sebuah kitab ilmu pengetahuan. Nah, siapapun yang terpilih menggunakan kelima pusaka Langit tersebut bisa memegang dan membacanya. Tentulah hanya dengan tujuan untuk kebaikan dan kemuliaan semata.

Dan sesuai dengan haknya, maka setiap pusaka kemudian diserahkan kepada para kesatria terbaik dari lima ras yang berbeda. Kelima orang itu pun tinggal di sebuah negeri yang berbeda pula, sesuai dengan arah mata angin. Dan setelah waktunya tiba, dibangunlah sebuah kuil yang megah untuk menyimpan kelima benda pusaka itu. Kuil tersebut diberi nama Mahudhala, dan dengan mantra khusus bangunan megah tersebut akhirnya menghilang, tak dapat dilihat oleh siapapun yang tidak berhak.

2. Kemunculan lima pusaka Langit
Waktu pun terus berlalu dalam hitungan ribuan tahun. Kisah tentang kelima pusaka Langit itu akhirnya menjadi legenda dan bahkan dianggap sebagai mitos belaka. Tak ada lagi yang percaya dengan apapun cerita dari kelima benda pusaka sakti itu kecuali hanya sedikit orang saja. Dan mereka itu adalah sosok yang terpilih sebagai penyampai kisahnya agar tidak hilang dari ingatan Manusia. Pun bagi mereka yang gemar melakukan olah raga dan batin secara khusyuk biasanya mereka juga tahu tentang kisah tersebut.

Menurut keterangan yang didapatkan secara turun temurun, maka kelima pusaka Langit itu akan muncul kembali pada setiap ±700.000 tahun sekali. Pada saat itu terjadi, maka sebelumnya telah muncul banyak kekacauan di seluruh dunia. Dimana-mana sudah terjadi kemerosotan akhlak dan orang-orang tidak lagi mengindahkan hukum dan aturan Tuhan. Mereka sangat memuja materi dan tidak peduli lagi dengan bekal akheratnya. Hanya segelintir orang saja yang masih tetap berpegang teguh pada kebenaran sejati, dan mereka itu hidup dalam banyak tekanan dan cibiran.

Singkat cerita, kehidupan Manusia di muka Bumi terus berlanjut dari zaman ke zaman dan akhirnya sampai juga di awal periode zaman ke enam (Nusanta-Ra), tepatnya pada sekitar ±700.000 tahun silam. Saat itu di seluruh dunia sudah terjadi lagi kekacauan dan kerusakan yang memilukan. Banyak orang yang tidak lagi mengikuti ajaran Tuhan, dan negara-negara yang ada sering terlibat pertempuran demi menguasai harta dan tahta. Bahkan meskipun sudah diperingatkan dengan banyaknya terjadi bencana alam dan wabah penyakit, tapi mereka tak juga mau sadar diri. Hidupnya selalu dipenuhi dengan kesenangan duniawi dan berbagai hal yang sia-sia.

Nah, dalam kondisi yang pelik itulah muncul lima orang Begawan dari alam keabadian. Mereka telah mendapatkan tugas untuk membimbing lima pemuda agar menjadi pantas menggunakan kelima benda pusaka Langit. Dan sama dengan waktu sebelumnya, maka kelimanya itu berasal dari ras yang berbeda. Mereka pun hidup di negeri yang berbeda, dengan tradisi dan budaya yang juga berbeda. Namun demikian keyakinan mereka kepada Hyang Aruta (Tuhan YME) sama dan tak pernah berubah. Sungguh mereka itu adalah orang-orang yang shalih.

3. Keistimewaan dari kuil Mahudhala
Sesungguhnya bangunan kuil Mahudhala itu berhubungan dengan kelima buah kuil yang berada di tempat lain. Nah untuk bisa menemukan kuil Mahudhala, maka siapapun harus bisa menemukan satu dari kelima kuil lainnya terlebih dulu. Setiap kuil berada di tempat yang berbeda, yang posisinya sesuai dengan arah mata angin. Artinya, jika seseorang berada di kawasan timur Bumi misalnya, maka ia harus mencari kuil yang ada di kawasan Timur saja, tak perlu ke kawasan lain. Bila telah menemukannya, maka ia baru akan bisa menemukan kuil Mahudhala dalam waktu singkat. Sebab di dalam kelima kuil yang tersebar di ke empat penjuru mata angin itu terdapat portal teleportasi menuju ke kuil Mahudhala.

Sungguh, kuil Mahudhala dibangun dengan sangat megah. Terbuat dari batu marmer berwarna putih dengan bentuk bangunan limas (piramida) yang berundak-undak, yang memiliki ruangan khusus didalamnya. Ada banyak undakan disini, dan setiap undakannya (1 undakan tingginya kurang lebih 25 meter ukuran kita) bisa disebut level 1. Ada jeda datar pada setiap levelnya, dan di ke empat sudut bangunannya terdapat candi yang cukup tinggi dan menyerupai bentuk bangunan Candi Prambanan (dalam skala yang hampir sama). Dan untuk bisa naik di setiap levelnya, maka telah disediakan anak tangga pada ke empat sisi luar bangunannya.

Catatan: Ukuran dari kuil Mahudhala itu kira-kira 10 kali lebih besar dari candi Borobudur. Adapun karakter bangunannya sekilas agak mirip dengan pagoda Mingalar Zedi yang ada di Myanmar (lihat foto di atas). Hanya saja kondisinya jauh lebih indah dan megah karena berbahan dasar batu marmer putih yang dihaluskan (mengkilap). Selain itu, kuil tersebut dibuat dengan pola-pola arsitektur yang jauh lebih rumit, detail, dan sangat banyak ukiran relief serta mozaiknya. Ukuran pada setiap tingkatannya lebih tinggi serta ada pintu-pintu masuk dan ruangan khusus didalamnya. Lebih detailnya silahkan ikuti penjelasan selanjutnya.

Ya. Bentuk dari kuil Mahudhala ini sekilas agak mirip dengan pagoda Mingalar Zedi, hanya saja lebih megah dan rumit arsitekturnya. Ada 10 level (tingkatan) di kuil itu, dan di setiap levelnya ada 4 buah candi yang berada di ke empat sudutnya. Sementara di puncak tertinggi bangunan kuilnya (level/tingkat 10) terdapat sebuah candi yang berukuran lebih besar dan bentuknya tidak cuma polos seperti yang ada di puncak pagoda Mingalar Zedi, karena lebih seperti bentuk Candi Prambanan yang tampak rumit. Dan masih di bagian candi tersebut, maka di puncak tertingginya terdapat 5 bola kristal warna-warni yang berkilauan. Disusun limas (segitiga piramida), dengan satu buahnya yang berada di tengah-tengah.

Salah satu bangunan candi yang ada di komplek Candi Prambanan.

Jadi, bola kristal yang bening di posisi tengah-tengah (dalam posisi terbang/mengambang di udara), warna kuning di posisi kanan bawah, warna merah di posisi kiri bawah, warna hijau di posisi depan bawah, dan warna biru di posisi atas (dalam hal ini juga terbang/mengambang di udara). Semua bola kristal itu di letakkan pada sebuah tempat khusus dari emas yang berbentuk seperti kelopak bunga lotus, yang bagian dasarnya terbuat dari sesuatu yang mengkilap (semacam keramik) berwarna biru dongker. Lalu ketika malam tiba, maka bola kristal yang biru akan bercahaya. Pada saat dini hari giliran yang kuning bercahaya. Di waktu tengah hari yang hijau, sedangkan di waktu senja maka yang bercahaya adalah bola kristal merah. Nah gabungan dari cahaya ke empat bola kristal itu akan menghidupkan bola kristal yang berada di tengah-tengah (kristal bening). Dengan cara begitu maka terbukalah pintu/portal antar Dimensi.

Catatan: Ke lima bola kristal itu berasal dari Langit yang dibawa turun ke Bumi oleh seorang Malaikat. Diberikan kepada Raja Kanusada (sang pemimpin lima kesatria yang pertama) untuk kemudian diletakkan di puncak kuil Mahudhala. Hingga kini, tak ada seorang pun yang dapat mengambil bola-bola kristal itu. Jangankan mengambilnya, sekedar memindahkan satu buahnya saja takkan bisa. Dan jika ada yang berani melakukannya – padahal dia tak berhak, maka Malaikat penjaganya akan muncul dan memberikan hukuman yang setimpal.

Lalu di kuil ini juga, di dalam bangunan level 1, terdapat ruangan yang langit-langitnya berbentuk kubah setengah lingkaran. Ada banyak ukiran relief dan mozaiknya di sana, juga patung-patung batu dalam berbagai bentuk. Sementara itu, pada bagian dinding bangunannya juga terdapat 40 buah pintu yang berukir indah. Di level ke 2 sampai yang ke 8 pun sama dengan ukuran yang lebih kecil. Dan khusus untuk yang di level ke 9 dan 10 hanya berjumlah 8 dan 4 pintu saja. Adapun fungsi dari pintu-pintu tersebut adalah untuk berpindah ke Dimensi lain. Jadi setiap level itu mewakili kemampuan dari setiap orangnya (masyarakat) yang tinggal di sana. Dan khusus bagi sang pemimpin tentunya ia bisa menggunakan yang di level ke 10, atau dalam artian yang tertinggi dan terbaik.

Tentang sejarahnya, kuil Mahudhala ini sebenarnya dibangun oleh para kesatria yang pertama kali memegang kelima pusaka Langit selama 7 hari 7 malam. Dimulai dari mengumpulkan batu marmer putih dari ke delapan penjuru Bumi sebanyak 10.999.777 buah, dengan ukuran dan bentuk yang beragam. Selanjutnya, pembangunan kuil dikerjakan oleh bangsa Jin sesuai dengan bentuk (desain arsitektur) yang telah ditentukan. Kuil itu dibangun tepat di ibukota kerajaan Timatsuda, pada tahun ke 90 masa kepemimpinan dari Raja Kanusada (sang pendiri kerajaan sekaligus pemimpin dari para kesatria yang memegang kelima pusaka Langit). Setelah kuilnya selesai didirikan, bangsa Jin yang membangunnya segera pamit untuk kembali ke alamnya. Mereka pun tak pernah berurusan lagi dengan kuil itu kecuali memang sangat diperlukan.

Dan pada masa itu, khususnya sejak kuil Mahudhala selesai dibangun, kehidupan penduduk di kerajaan Timatsuda (negeri dimana kuil Mahudhala berada) tidak bermewah-mewahan. Mereka cukup makan dari hasil jerih payah mereka sendiri dalam bercocok tanam, beternak, berdagang, dan berkarya cipta. Setiap harinya, selain bekerja mencari nafkah, mereka hanya fokus untuk bisa berpindah alam (Dimensi). Mereka hidup dan bekerja seperti biasa, bersosialisasi seperti biasa, tapi tidak pernah lupa pada tujuan yang harus dicapai, yaitu berpindah Dimensi kehidupan melalui pintu-pintu yang ada di kuil Mahudhala – ini pula cara khusus bagi mereka untuk bisa moksa. Dan tentunya mereka selalu mengukur diri, karena tidak sembarangan orang bisa berpindah Dimensi dengan cara melewati pintu-pintu di kuil Mahudhala itu. Butuh latihan yang tekun dan kesiapan diri yang paripurna.

Ya. Selain berfungsi sebagai tempat untuk berpindah Dimensi, kuil Mahudhala itu juga menjadi tempat untuk menyimpan kelima benda pusaka dari Langit. Hanya bagi yang terpilih saja yang bisa memakai kelima benda pusaka itu, dan mereka harus berasal dari lima ras yang berbeda. Dan karena akhirnya kuil Mahudhala itu menghilang dari pandangan, maka siapapun yang ingin tiba di kuil agung tersebut harus lebih dulu menemukan kelima kuil lainnya. Dengan menemukan kuil-kuil itu, maka terbukalah jalan untuk berteleportasi ke kuil agung yang tersembunyi itu. Adapun tentang bagaimana seseorang bisa sampai ke kuil-kuil tersebut, maka sebelumnya ia haruslah menjadi murid dari lima orang Begawan. Merekalah yang akan membimbing lahir dan batin seseorang agar ia siap dan pantas menerima salah satu dari kelima pusaka Langit.

Catatan: Mengenai detail lokasi dari kuil Mahudhala tak bisa kami jelaskan disini, ada protap yang harus dipatuhi. Hanya saja dapat kami terangkan sedikit bahwasanya negeri Timatsuda itu (negeri dimana kuil Mahudhala berada) terletak di tengah-tengah sebuah pulau yang termasuk ke dalam kawasan Anhariman. Pulau itu dulunya merupakan lautan yang kemudian terangkat. Artinya, selama jutaan tahun sebelumnya daratan pulau tersebut pernah menjadi dasar lautan – buktinya pun masih bisa dilihat sekarang, khususnya mengenai beragam jenis fosil biota lautnya. Hanya saja pada akhirnya naik kepermukaan dan menjadi sebuah daratan yang luas nan subur. Ribuan tahun setelah kemunculannya, pulau itu mulai dihuni oleh Manusia dari berbagai suku bangsa. Terus seperti itu sampai kisah ini dituliskan lagi.

4. Kesatria muda pilihan zaman
Sebagaimana yang telah dijelaskan, maka pada setiap ±700.000 tahun sekali kelima pusaka Langit itu akan “muncul” kembali dan memilih siapa saja yang berhak menggunakannya. Mereka yang terpilih selalu dari ras dan negeri yang berbeda. Mereka tinggal di ke empat arah mata angin, sementara yang satunya lagi dari tengah kawasan Bumi. Adapun “kemunculan” dari kelima pusaka Langit itu disebabkan oleh adanya kekacauan di seluruh dunia. Nah, pusaka-pusaka tersebut kelak menjadi alat bantu utama dalam menata kembali kehidupan di Bumi. Kelima orang yang terpilih adalah kesatria terbaik yang bertugas mewujudkannya. Merekalah yang berhasil dan pantas menggunakan kelima pusaka Langit warisan dari Nabi Khidir AS.

Catatan: Kemunculan lima pusaka disini artinya bisa digunakan kembali oleh para kesatria terpilih untuk menata kembali dunia. Hanya dalam rentang waktu ±700.000 tahun sekali baru akan terjadi. Hal ini sesuai dengan ketetapan dari Yang Maha Kuasa sejak pusaka-pusaka itu diturunkan ke Bumi melalui perantara Nabi Khidir AS dulu. Setelah tugas pertamanya usai, maka setelah ±7.000 tahun menjaga ketertiban dunia, akhirnya harus menghilang bersamaan dengan raibnya kuil agung Mahudhala. Begitu pun selanjutnya, terus berulang pada setiap ±700.000 tahun sekali dari masa akhir periode zaman ke empat (Swarganta-Ra), lalu di periode zaman kelima (Dwipanta-Ra), dan akhirnya sampai juga di masa awal periode zaman ke enam (Nusanta-Ra); masa dimana kisah yang dituliskan ini terjadi.

Adapun dalam blog ini akan diceritakan sebuah kisah pada sekitar ±700.000 tahun silam. Pada masa itu dimana-mana telah banyak terjadi kekacauan dan kerusakan yang memilukan. Penyebabnya adalah kemerosotan akhlak dari bangsa-bangsa di dunia, terutama para pemimpinnya. Mereka telah larut dalam kesenangan duniawi, sehingga materilah yang menjadi standar kemuliaan bagi setiap orang. Dan mengenai segala bentuk kecurangan, dusta, korupsi, fitnah, keserakahan, maksiat, takabbur, kesyirikan, durhaka, pembunuhan, dan berbagai jenis keburukan lainnya telah menjadi kebiasaan banyak orang. Bahkan mereka sampai merasa bahwa itu bukanlah dosa dan kesalahan yang harus disesali. Makanya dengan tanpa ragu lagi mereka semakin tenggelam dalam kehinaan.

Ya. Pada masa itu cahaya telah hampir padam, sementara kegelapan semakin meluas. Keadaan yang buruk ini bukan karena hilangnya cahaya suci, melainkan hadirnya kegelapan yang seolah-olah memiliki jiwanya sendiri. Dan kegelapan itu sengaja diciptakan untuk maksud jahat agar dapat merasuki hati dan pikiran, serta demi menguasai perikehidupan di Bumi. Sulit untuk menghindar, karena dimana-mana kegelapan sudah menjerat mati hasrat dan kehendak Manusia. Bahkan sebenarnya tidak sedikit yang telah dikendalikan olehnya tanpa disadari. Sehingga hal ini begitu mirip dengan apa yang terjadi sekarang, di seluruh dunia. 

Namun demikian, meskipun keadaan dunia sudah terpuruk, masih ada beberapa anak muda yang tetap percaya dengan kisah dari lima buah pusaka Langit. Mereka pun yakin bahwa akan tiba masanya bagi siapapun yang terpilih untuk menggunakannya sebagai alat dalam menata kehidupan di Bumi. Dan tepatnya pada masa Raja Amayas sedang berkuasa di kerajaan Magaris (kerajaan yang sangat tersohor pada masa itu), kehidupan di seantero Bumi kian memprihatinkan. Bukan hanya karena masalah kesejahteraannya saja, tetapi lebih kepada moral dan tingkah laku umat Manusia.

Catatan: Kelima orang pemuda itu memang sangat percaya dengan kisah dari kelima pusaka Langit. Tapi mereka tidak pernah ngotot agar terpilih sebagai pemegangnya nanti. Justru mereka selalu merasa tidak pantas dan tak pernah sekalipun berusaha untuk mencarinya. Yang mereka lakukan hanyalah terus memperbaiki diri, meningkatkan kemampuan, dan mendekat kepada Hyang Aruta (Tuhan YME).

Kisah pun berlanjut. Suatu ketika lima orang Begawan muncul dari alam keabadian. Mereka bertugas untuk membimbing para kesatria yang berasal dari ras dan negeri yang berbeda. Kelima orang pemuda itu bernama Modha, Saturah, Dante, Astaf, dan Uramis. Mereka tidak saling kenal sebelumnya, karena Modha itu berasal dari negeri Anahita yang ada di kawasan utara, Saturah berasal dari negeri Martaya di kawasan timur, Astaf berasal dari negeri Urdhah di kawasan barat, Uramis berasal dari negeri Nafal di kawasan selatan, sedangkan Dante berasal dari negeri Andulai di kawasan tengah. Atas kehendak dari Hyang Aruta (Tuhan YME) mereka terpilih sebagai kesatria yang berhak menggunakan kelima pusaka Langit yang tersimpan di kuil Mahudhala. Tujuannya adalah untuk menegakkan kebenaran dan keadilan di muka Bumi.

Adapun kisah hidup dari kelima pemuda tersebut jauh dari kesan mewah dan terkenal. Mereka hanyalah orang biasa yang hidup di pedesaan. Apa yang mereka lakukan sehari-hari tak jauh berbeda dengan warga desa pada umumnya. Tak ada yang luar biasa dan menghebohkan. Hanya saja mereka tak pernah mau ikut-ikutan dengan kebiasan buruk dari kaumnya. Terus menghindar dan berusaha untuk dapat lebih dekat kepada Tuhannya. Sedangkan dalam urusan olah raga dan batin mereka jauh berbeda dari semua orang. Pemahaman mereka tentang spiritual dan hakekat kehidupan juga tak main-main, jauh di atas rata-rata Manusia. Dan lebih istimewanya lagi mereka itu tak pernah bersikap jumawa (angkuh, sombong, congkak) atau pamer, bahkan orang-orang sampai tak menyadari bahwa mereka itu berilmu tinggi dan punya kemampuan yang luar biasa. Sungguh pribadi yang sederhana dan rendah hati.

Dan tidak hanya sampai disitu saja, karena dalam kesehariannya, mereka pun sering diremehkan. Apa yang mereka sampaikan kerap dianggap sebagai angin lalu (dipandang sebelah mata) walaupun itu adalah kebenaran yang sejati. Banyak orang yang mengabaikan diri mereka lantaran bukan orang kaya, sosok yang terkenal, pejabat, rohaniawan, atau sebagai bangsawan tinggi kerajaan. Bahkan terkadang mereka sampai dianggap gila dan sesat lantaran pemahaman mereka tidak sama dengan kebanyakan orang – ini dikarenakan mereka sudah memahami hakekat yang sejati, makanya sering tidak nyambung dengan pengetahuan umum penduduk yang masih awam tetapi ngeyel.

Namun demikian mereka adalah orang-orang yang sabar dan pemaaf. Apapun yang telah di lakukan oleh penduduk terhadap diri mereka – hinaan, hujatan, dijauhi, dan diabaikan – selalu dianggap sebagai tantangan hidup yang harus dihadapi. Mereka tak pernah marah atau membalas kejahatan warga dengan hal yang serupa. Tetapi justru bersikap ramah dan tetap ikut serta dalam berbagai kegiatan di kampungnya. Walaupun mereka sering dicuekin, tapi semua itu diterima dengan lapang dada. Begitulah seharusnya sikap dari seorang kesatria yang sesungguhnya walaupun terasa berat dan menyakitkan.

Singkat cerita. Kelima orang Begawan yang bernama Gasurada, Masurama, Kaswira, Nagirata, dan Timaraya itu langsung menemui para pemuda yang terpilih. Caranya bermacam-macam, dan sebelum menjelaskan semuanya, kelima orang Begawan itu harus menguji setiap calon muridnya. Tidak hanya sekali, namun sampai berkali-kali dan mereka selalu mengubah penampilannya, bahkan wujudnya. Kadang sebagai orang tua atau anak kecil, namun di waktu yang lain sampai berubah menjadi hewan dan tumbuhan. Berbagai masalah atau urusan yang sengaja mereka buat. Semua itu di lakukan untuk memastikan lagi apakah para pemuda itu memang layak menjadi kesatria yang berhak menggunakan kelima pusaka Langit. Hanya pribadi yang sabar, tulus ikhlas, berbudi pekerti yang luhur, berhati suci, dan penuh rasa cinta sajalah yang bisa lulus dari ujian para Begawan. Dan memang itulah yang paling utama untuk dibuktikan tanpa adanya rekayasa, alias alami dan spontan.

Lalu, setelah kelima pemuda itu lulus ujian kepantasan, setiap dari mereka segera dibawa pergi oleh seorang Begawan untuk diajari tentang berbagai hal. Lahir dan batin mereka pun ditempa lagi agar bisa menjadi yang lebih baik. Banyak ilmu pengetahuan dan pengalaman yang diberikan, dan semuanya itu hanya atas petunjuk dari Yang Maha Mengetahui. Karena itulah mereka tidak hanya berlatih di satu tempat saja, namun dibanyak tempat, bahkan sampai juga ke Dimensi lainnya. Semuanya demi menyesuaikan dengan jenis latihan dan tingkat keilmuannya.

Ya. Ada banyak hal yang berhasil didapatkan oleh kelima pemuda (Modha, Saturah, Dante, Astaf, dan Uramis) selama mereka berguru kepada para Begawan. Semuanya bernilai istimewa dan tak bisa diperoleh oleh setiap orang. Dan karena telah dibimbing oleh sosok yang istimewa, mereka justru semakin rendah hati dan merasa tak memiliki kemampuan apa-apa. Dalam kesadaran diri, tak ada satupun dari mereka yang tidak meyakini bahwa hanya ada satu kekuatan adidaya di dunia ini. DIA-lah Sang Maha Esa, yang kepada-NYA sajalah mereka harus tunduk dan berserah diri. Dan mereka itu bukanlah apa-apa selain makhluk yang lemah dan tak berdaya.

5. Mewujudkan perdamaian dunia
Kisah pun berlanjut. Setelah dirasa cukup, kelima Begawan yang melatih para kesatria saat itu memerintahkan agar murid-muridnya segera mencari dimana keberadaan lima buah kuil yang tersebar di seantero Bumi. Ada petunjuk khusus yang diberikan untuk bisa menemukannya, dan setiap orangnya cukup mencari di kawasan manakah mereka berasal. Para Begawan pun mengatakan bahwa mereka akan menunggu para muridnya itu di sana (di kuil Mahudhala). Di tempat itu mereka akan dibimbing langsung oleh para Begawan untuk bisa mengambil pusaka Langit yang tersimpan. Satu orang hanya akan mendapatkan satu, dan kelak dari mereka itu ada yang terpilih menjadi pemimpin. Tandanya ia telah mendapatkan pusaka berupa cicin kepemimpinan yang bernama Agasya.

Catatan: Ketika para kesatria itu sampai di depan kuil Mahudhala, mereka bisa melihat ada banyak orang yang berada di sana. Semuanya itu adalah penduduk asli dari negeri Timatsuda dan sebagian lainnya dari bangsa yang lain. Dan sebenarnya tidak ada lagi yang tinggal di sana, karena setelah berpindah Dimensi kehidupan semua penduduk Timatsuda diperintahkan untuk tinggal di tempat yang lain. Kuil Mahudhala dan sekitarnya berada di sebuah tempat yang tersediri sejak menghilang. Di sana pun dibiarkan tak berpenghuni, hanya beberapa orang saja yang bertugas sebagai penjaga. Makanya setelah tahu bahwa akan ada lagi kesatria yang terpilih untuk menggunakan kelima pusaka Langit, mereka langsung berdatangan ke sekeliling kuil Mahudhala. Momen seperti itu tak pernah mereka lewatkan.

Nah, dalam hal ini setiap pemuda diizinkan mencoba, tapi yang terpilih untuk memakai pusaka cincin kepemimpinan itu adalah Modha. Dan meskipun ia hanyalah orang desa, tapi nyatanya masih keturunan dari para kesatria dan pahlawan besar. Khususnya dari garis silsilah ayahnya, Modha itu masih keturunan ke 27 dari pendiri kerajaan Amuyat. Jadi ayahnya yang bernama Hayadha itu putra dari Asadha putra Dasha putra Multa putra Welasa putra Arta putra Tirwa putra Soja putra Genawa putra Zamu putra Begawan Suta putra Nicala putra Kaldi putra Lamusi putra Damura putra Aspala putra Mosam putra Yatuli putra Tawali putra Raghu putra Usala putra Begawan Vasula putra Sodala putra Nodeya putra Malasu putra Najaya putra Husanata (sang pendiri kerajaan Amuyat). Husanata sendiri masih keturunan dari raja-raja di negeri Wiyanala. Bahkan ia masih terhubung langsung dengan seorang Nabi yang bernama Murata AS, karena beliau itu di antara para raja yang pernah memimpin di kerajaan Wiyanala.

Jadi Prabu Husanata itu putra dari Prabu Aghata putra Yosata putra Hanukata putra Alimata putra Nabi Murata AS putra Asmata putra Urata putra Dohata putra Nunyata putra Ahata putra Varuta putra Iryata putra Basuta putra Raghata putra Begawan Sumata putra Najiyata putra Hulata putra Gharuta putra Damarta putra Yudhata (sang pendiri kerajaan Wiyanala). Begitulah seterusnya garis silsilah keluarga ini sampai kepada raja-raja di negeri Alivan, Dhuril, dan Suga. Semuanya adalah orang-orang yang berwibawa dan penuh kebijaksanaan.

Catatan: Kerajaan-kerajaan yang menjadi asal-usul dari para leluhur Modha itu (Amuyat, Wiyanala, Alivan, Dhuril, dan Suga) tidak berada di kawasan Utara saja. Ada juga yang berada di kawasan Timur dan Selatan. Maklumlah, para leluhurnya itu adalah orang-orang yang suka berpetualang. Sehingga mereka pun tinggal di banyak negeri, bahkan mendirikan kerajaan di wilayah yang berbeda-beda.

Namun sejak di masa kakek buyutnya yang bernama Begawan Suta, mereka tidak lagi tinggal di istana dan menjadi penguasa. Sang Begawan dan keluarganya saat itu memilih untuk pergi meninggalkan istana yang megah demi menghilangkan jati dirinya sebagai bangsawan. Semuanya atas petunjuk yang telah ia terima setelah menjalani tapa brata di gunung Milas. Sejak saat itu jati diri mereka sebagai kalangan darah biru tak lagi dikenali. Hanya saja secara turun temurun mereka memegang tiga buah medali khusus sebagai bukti bahwa mereka itu adalah keturunan langsung dari Raja Husanata, sang pendiri kerajaan Amuyata.

Dan sebenarnya kakek buyut Modha yang bernama Begawan Suta itu telah mengetahui bahwa salah satu dari keturunannya akan menjadi pemimpin besar dunia. Dialah yang terpilih untuk menggunakan pusaka Langit warisan Nabi Khidir AS. Semua informasi itu didapatkan bersamaan dengan perintah untuk menanggalkan statusnya sebagai bangsawan. Ia dan keturunannya harus menjalani hidup yang sederhana di pedesaan, jauh dari hiruk pikuk kota dan urusan politik ketatanegaraan. Namun begitu, berbagai ilmu pengetahuan yang penting dari para leluhurnya harus tetap dijaga dan diajarkan dalam keluarganya sendiri, bahkan terus dicari lagi tambahannya. Mereka tidak boleh sama dengan orang kebanyakan tentang hal ini, karena mereka itu tetaplah sebagai keturunan dari orang-orang yang terbaik.

Begitulah asal usul dari seorang pemuda kampung yang bernama Modha. Dimana meskipun tinggal di pelosok desa, hanya sebagai rakyat biasa dan hidup dalam kesederhanaan, tapi ia bukanlah orang sembarangan dan masih keturunan dari para kesatria, raja, Begawan, bahkan Nabi yang mulia. Terlebih didalam dirinya sendiri terdapat bakat dan kemampuan yang sangat dibutuhkan oleh seorang yang terpilih. Termasuklah ke empat sahabatnya itu (Saturah, Dante, Astaf, dan Uramis). Mereka pun berasal dari garis keturunan yang istimewa. Hanya saja tak bisa kami terangkan semuanya disini, terlalu banyak.

Singkat cerita, setelah Modha terpilih sebagai pemimpin dari para kesatria pemegang pusaka Langit, tak lama kemudian ia dan ke empat sahabatnya itu mulai mengatur agenda tugas. Apa yang harus di lakukan, dan negeri-negeri manakah yang terlebih dulu diperbaiki? Dalam hal ini meskipun para guru Begawan masih berada di kuil Mahudhala, tetapi mereka tidak memberikan petunjuk apapun. Sambil tersenyum mereka semua hanya melihat para muridnya itu dalam mengatur strategi. Dan sejak saat itu, apapun yang terjadi di seluruh Bumi menjadi tanggungjawab dari kelima orang kesatria itu. Dan setelah dirasa cukup, kelima Begawan segera menghilang dari pandangan untuk kembali ke tempatnya lagi di alam keabadian.

Maka tibalah waktunya bagi Modha dan para sahabatnya untuk mulai bergerak. Awalnya mereka akan menyampaikan ajakan dan anjuran yang baik-baik kepada penduduk negeri yang bersangkutan. Jika tidak diindahkan, perang terbuka adalah pilihan yang tak bisa ditolak. Mereka akan memerangi siapapun yang berbuat zalim atau senang dengan keburukan. Dan karena mereka telah dipilih sebagai pemilik dari kelima pusakan Langit, maka hanya dalam waktu yang relatif singkat negeri-negeri yang mereka perangi berhasil ditaklukkan. Setelah itu barulah mereka tata ulang kembali negeri tersebut, baik dalam urusan ketatanegaraan maupun kehidupan sosialnya. Tak ada yang bisa mencegahnya, karena apapun yang mereka lakukan saat itu telah direstui oleh Tuhan.

Catatan: Pada masa itu peradaban Manusia sudah tinggi. Makanya dalam setiap pertempuran yang di lakukan, kelima orang kesatria dan pasukannya harus menghadapi musuh yang memiliki teknologi canggih. Jadi, selain menggunakan kemampuan ilmu kanuragan dan kadigdayan, saat itu mereka yang terlibat pertempuran juga mengandalkan beragam jenis peralatan dan senjata. Misalnya meriam, tank baja, dan pesawat tempur. Semuanya berteknologi canggih, bahkan melebihi yang ada sekarang.

Ya. Tidak butuh waktu yang terlalu lama bagi para kesatria pilihan itu untuk bisa mewujudkan ketertiban dunia. Meskipun tidak mudah, namun di setiap pertempuran mereka selalu menang. Dan selama berjuang, maka seiring berjalannya waktu mereka dibantu oleh para kesatria lain yang sudah menantikan kemunculan lima sosok kesatria utama tersebut. Dari berbagai negeri mereka datang dan segera ikut bergabung dalam pasukan terbaik di dunia kala itu. Makanya tak ada negeri yang dapat menandingi kekuatan dari pasukan lima kesatria, atau yang diberi nama Umastra. Dan ketika mereka sudah berniat untuk menumbangkan sebuah rezim, maka tak lama kemudian hal itu bisa terwujud. Bahkan walaupun seorang raja memiliki pasukan yang besar, persenjataan yang lengkap, dan ia dibantu oleh serdadu kegelapan yang mengerikan, semuanya akan dihajar habis-habisan sampai akhirnya menyerah.

Sungguh, mereka takkan ragu-ragu atau bersikap lembek kepada siapapun yang telah mengabaikan hukum dan aturan Tuhan. Terlebih pada masa itu sudah waktunya Bumi dibersihkan dari hal-hal yang buruk dan penuh kemunafikan. Nah lima orang kesatria dan pasukannya itu adalah alat untuk bisa mewujudkan kedamaian di seluruh dunia. Siapapun yang menentangnya akan dihabisi tanpa ampun. Dan mereka terus berjuang sampai tak ada lagi negeri yang hidup dalam kerusakan dan kekufuran.

Catatan: Azab Tuhan itu terdiri dari berbagai jenis. Salah satunya adalah apa yang di lakukan oleh kelima sosok kesatria dan pasukannya. Artinya, pertempuran yang menyebabkan banyak kematian itu adalah bagian dari hukuman Tuhan kepada makhluk-NYA yang bersalah. Karena mereka telah larut dalam kekufuran, maka tibalah saatnya untuk menerima akibatnya. Hal ini pun bertujuan demi menjaga keseimbangan dan keharmonisan di Bumi. Tak mungkin terus dibiarkan rusak, karena akan menyebabkan kehancuran yang lebih buruk lagi.

6. Akhir kisah
Setelah tugas menata kembali dunia usai dilaksanakan, maka tibalah saatnya bagi kelima orang kesatria dan pasukannya untuk membangun sebuah negeri tersendiri yang permai. Dengan cara-cara yang menakjubkan, semua bangunan dan tata kotanya bisa terwujud hanya dalam waktu yang relatif singkat. Negeri tersebut lalu diberi nama Agharuta atau yang berarti kejayaan yang gemilang.

Adapun mengenai kehidupan yang ada di sana, maka tak jauh berbeda dengan pola kehidupan di negeri Timatsuda dulu (negeri dimana kuil Mahudhala berada). Dimana penduduk negeri Agharuta itu juga tidak senang bermewah-mewahan. Mereka cukup makan dari hasil jerih payah mereka sendiri dalam bercocok tanam, beternak, berdagang, dan berkarya cipta. Setiap harinya, selain bekerja mencari nafkah, mereka hanya fokus untuk bisa mendalami hal-hal yang bersifat spiritual dan supranatural. Mereka pun hidup dan bekerja seperti biasa, bersosialisasi seperti biasa, tapi tidak pernah lupa pada tujuan yang harus dicapai, yaitu berpindah Dimensi kehidupan (moksa).

Hingga akhirnya, setelah ±3.000 tahun berdiri, negeri Agharuta dan penduduknya diizinkan untuk berpindah Dimensi kehidupan. Sejak waktu itu mereka hanya menjadi sejarah dunia yang tetap diingat selama ribuan tahun. Sedangkan kelima pusaka Langit yang pernah dipegang oleh Modha dan kawan-kawannya itu segera kembali ke tempat sebelumnya, di kuil Mahudhala. Dan itu terjadi seiring dengan moksa-nya kelima orang kesatria pemegangnya. Hingga kini masih tetap berada di kuil itu dan menunggu para kesatria yang lain untuk menggunakannya. Dan tidak menutup kemungkinan bila hal itu akan terjadi di masa kita sekarang, karena tanda-tandanya kian jelas terlihat dan memang sudah ±700.000 tahun lamanya tak pernah muncul lagi sementara kondisi dunia saat ini begitu memprihatinkan.

Dan sebelum akhirnya berpindah Dimensi kehidupan (moksa), sang pemimpin tertinggi yang bernama Modha itu sempat berpesan kepada rakyatnya di negeri Agharuta. Pesan tersebut tidak hanya untuk mereka yang hidup pada saat itu saja, tetapi juga untuk generasi yang akan datang. Katanya:

Ya sinala. Wabinayula takastarala abarutama gamasunala tapelusuta raghutala tapastaya. Kutalamana gasaya purakamtala tapurwadasa ganuyalaka latukatuma. Salakasula ampuramasa nimayatata hawasinabana takupalata karinuyala 101-256-793-010 an 10-436-852-01 haratmata umpahakala. Takurapila najarima Ilahiyadala wahasimaya takapula hasimpa muratayana kasimatula swadayula.

Hanasibana ganaluta bhumiyanala rasudhafata yaharutala asmahiya Sri Maharaja Ghasaruta nilahayasama tarukayala. Yasibanala ganutarata ayodakala diyata Manuya, Hiwan, Tambuta, Jin, Feri, Cinturi, Karudasya, Naga, Deva, Bhatara, Dihyang, Malaikah, Birmanu, Maltasi, Walluha, Rihasa, Nura, Himasya, Sihara, Ainur, Mighal, Nurrataya, Syilha, Arnu, Kalsun, Zenara, Hismal, Tsin, an Rastu.

Enggalatala maningata yunabaluta takasturala ratamunasa hatusila wilunakaya guratamala. Haganutala baringgana astakutala purwanataya Surmanulata Jawinatala muradapala simkanata. Nabulatama dwipayatala hanakunata rasutakata nimajabarum wadiyakala paslamatala

Demikianlah apa yang pernah disampaikan oleh sang pemimpin besar menjelang kepergiannya. Wasiat dari sosok yang kemudian menjadi seorang Begawan itu lalu dijadikan sebagai ageman (pegangan hidup) bagi penduduk negeri Agharuta. Dari generasi ke generasi terus disampaikan, hingga pada akhirnya tak banyak lagi yang tahu, terutama sejak kepindahan negeri Agharuta dan penduduknya itu ke Dimensi lain. Hanya kalangan tertentu saja yang masih mengetahui tentang wasiat tersebut, selebihnya cuma tercatat dalam beberapa kitab yang pernah ditulis oleh para pujangga. Tapi kemudian kitab-kitab itu pun menjadi sangat langka, dan tidak sembarang orang yang bisa memilikinya, bahkan sekedar untuk bisa melihat atau membacanya.

Semoga kisah ini bermanfaat. Mugia Rahayu Sagung Dumadi.. 🙏

Jambi, 13 Maret 2020
Harunata-Ra

Catatan akhir :
1. Seperti tulisan sebelumnya, silahkan Anda percaya atau tidak percaya dengan kisah ini. Kami tidak akan memaksa atau merasa kecewa. Tugas kami hanya sebatas menyampaikan dan mengingatkan saja.
2. Bacalah dengan tenang dan terurut kisah ini. Bukalah cakrawala hati dan pikiran seluas mungkin untuk bisa memahaminya. Dan jangan menyamakan standar kehidupan di masa lalu dengan sekarang, karena sangat banyak perbedaannya.
3. Ada banyak hal yang tak bisa disampaikan disini karena memang harus dirahasiakan dulu, belum waktunya untuk disampaikan sekarang. Maaf.
4. Teruslah bersiap dengan sungguh-sungguh, karena apa yang pernah terjadi dalam kisah ini bisa terulang lagi di masa kita sekarang. Tetaplah bersikap eling lan waspodo, sebab apa yang terjadi nanti akan semakin sulit dan memprihatinkan.

Bonus instrumental:

20 respons untuk ‘Mahudhala : Kuil Para Kesatria Pilihan Zaman

    guntur satria putra support rt said:
    Maret 18, 2020 pukul 3:35 am

    Mas udi tau cerita ini brarti mas udi salah satu muridnya ?

      Harunata-Ra responded:
      Maret 18, 2020 pukul 7:15 am

      Bisa tau ya bukan berarti harus sebagai pelaku utamanya loh.. Kalo mas Guntur teliti, kan dalam tulisan udah saya singgung loh, ttg orang2 yg bertugas untuk menceritakan kembali kisah dari kelima pusaka Langit itu.. Nah mrk itu tidak harus sebagai murid dari lima Begawan.. 🙂

    guntur satria putra support rt said:
    Maret 18, 2020 pukul 4:28 am

    “Ya sinala. Wabinayula takastarala abarutama gamasunala tapelusuta raghutala tapastaya. Kutalamana gasaya purakamtala tapurwadasa ganuyalaka latukatuma. Salakasula ampuramasa nimayatata hawasinabana takupalata karinuyala 101-256-793-010 an 10-436-852-01 haratmata umpahakala. Takurapila najarima Ilahiyadala wahasimaya takapula hasimpa muratayana kasimatula swadayula.

    Hanasibana ganaluta bhumiyanala rasudhafata yaharutala asmahiya Sri Maharaja Ghasaruta nilahayasama tarukayala. Yasibanala ganutarata ayodakala diyata Manuya, Hiwan, Tambuta, Jin, Feri, Cinturi, Karudasya, Naga, Deva, Bhatara, Dihyang, Malaikah, Birmanu, Maltasi, Walluha, Rihasa, Nura, Himasya, Sihara, Ainur, Mighal, Nurrataya, Syilha, Arnu, Kalsun, Zenara, Hismal, Tsin, an Rastu.

    Enggalatala maningata yunabaluta takasturala ratamunasa hatusila wilunakaya guratamala. Haganutala baringgana astakutala purwanataya Surmanulata Jawinatala muradapala simkanata. Nabulatama dwipayatala hanakunata rasutakata nimajabarum wadiyakala paslamatala”

    Ini Bahasa Lemuria atau Sansekerta mas ?

      Harunata-Ra responded:
      Maret 18, 2020 pukul 7:18 am

      Tidak keduanya mas.. Itu bahasa lain yg berbeda asal usulnya, juga ttg siapakah kaum pertama kali yg menggunakannya..

        guntur satria putra support rt said:
        Maret 18, 2020 pukul 9:37 am

        Lantas bahasa apa mas udi ? dan terjemahanya apa..?

        Harunata-Ra responded:
        Maret 18, 2020 pukul 1:35 pm

        Gak semuanya bisa di share mas, ada protap yg harus diikuti.. Biarlah yg rahasia ttp menjadi rahasia..

    Genarasi terakhir BPK ADAM said:
    Maret 18, 2020 pukul 9:01 am

    Subhanallah …..
    Merinding bacanya mas …
    Berarti mmng sdh waktunya yaa mas
    Matur suwun kagem pengetahuan yg luar biasa ini mas

      Harunata-Ra responded:
      Maret 18, 2020 pukul 1:39 pm

      Oh ya? syukurlah kalo gitu.. 🙂
      Kalo melihat tanda2nya sih iya.. tapi saya gak tau pasti, terlebih ttg kapan waktunya.. Biarlah DIA yg mengaturnya, kita cukup bersiap utk menyambutnya.. Sebab nanti cuma ada dua pilihan, yaitu diperangi ato ikut berperang bersama pasukan mrk..
      Nggih sami2, semoga ttp bermanfaat.. 🙂

      setyo p said:
      Maret 30, 2020 pukul 2:10 am

      Menurut keterangan yg Mas Hoedi jelaskan apakah candi Mahudala berada di nusantara/ indonesia sekarang? Karna menurut penelitian ada daerah di pulau jawa yg merupakan dasar dari samudra

        Harunata-Ra responded:
        Maret 30, 2020 pukul 10:00 am

        Karangsambung maksudnya?
        Hmm.. saya gak bisa jelaskan detailnya, ada protap yang hrs ttp diikuti… maaf ya mas Setyo P 🙂

    Genarasi terakhir BPK ADAM said:
    Maret 19, 2020 pukul 12:18 pm

    Enggih mas…..
    Mudah2an dalam waktu dekat ini .. aaaaamiinn
    Enggih mas…. terima kasih sdh diberi tahu hal yg diluar nalar kbnyakn dr hamba2NYA

    Alhamdulillah sangaat bermanfaat mas ..
    Dn smg berkah untuk kita semua .. aaaaamiinn

      Harunata-Ra responded:
      Maret 20, 2020 pukul 3:06 am

      Aamiin.. semoga aja gitu.. 🙂

      Nggih sami2lah.. iya, ini emang diluar nalar kebanyakan orang.. tak heran bila ada yg merasa bahwa ini cuma dongeng belaka.. silahkan aja, tapi kebenaran tetaplah kebenaran walau tak ada lagi yg percaya..

      Syukurlah kalo gitu.. aamiin, itu yg menjadi harapan kami.. 🙂

        Asyifa Wahida said:
        Maret 20, 2020 pukul 4:39 pm

        Pasti itu mas

        Tetap semangat dlm menyebar kebenaran yg benar ya mas .,.. Mugi2 panjenengan selalu diberikan kesehatan kelimpahan dn kemudahan didalam mengemban beban berat ini … aaaaamiinn ya rabbal alamiinn

        Harunata-Ra responded:
        Maret 21, 2020 pukul 3:04 am

        Aamiin.. Nuwun utk doa dan motivasinya.. 😊🙏

    fajar said:
    Maret 20, 2020 pukul 12:52 pm

    bleh nanya mas.klo mnurut penelitian mas..dijaman 100-70 ribu tahun lalu .apkh benar ada lemurian/atlantis dan tokoh2 sperti arkhytirema dan bhallamin…?

      Harunata-Ra responded:
      Maret 20, 2020 pukul 1:32 pm

      Oh silahkan aja mas Fajar, tapi maaf kalo jawaban saya gak memuaskan.. 😊

      Setau ku, bangsa yg skr disebut Lemuria dan Atlantis itu memang pernah ada, tapi mrk gak hidup dlm rentang wkt 70-100 ribu th lalu.. Keduanya itu dari ras, bangsa, dan wilayah bumi yg berbeda.. Mrk juga tidak pernah saling berperang seperti info yg byk beredar.. Karena jangankan perang, wong hidup dalam satu masa/zaman aja gak kok.. Kedua bangsa itu gak pernah ketemu walau peradaban keduanya sampai berumur ribuan tahun lamanya.. Ttg detailnya maaf gak bisa saya share disini skr, ada protap.. 🙏

      Arkhytirema dan bhallamin? Ini tokoh dlm novel ya mas? Hmmm.. setauku dari hasil penelusuran dan juga udah saya tuliskan di buku, maka keduanya gak ada dlm kisah dari kedua bangsa itu.. Gak ada juga karakter nama2 orang Atlantis ato Lemuria yg seperti keduanya itu.. Bahasa mrk gak seperti itu, beda banget loh.. Apalagi Bhallamin yg kalo dlm novel disebutkan sbg raja Atlantis itu, maka di dalam daftar nama2 raja bangsa Atlantis yg berhasil kami runut/urutkan dari awal hingga akhir (sampai musnahnya bangsa Atlantis), tidak ditemukan nama itu.. Bahkan yg mirip2 dg itu atau mungkin beda dialek pun gak ada..

      Jawaban ini sesuai dg apa yg telah kami gali dan telusuri.. Silahkan masnya utk percaya atau gak..

        fajar said:
        Maret 20, 2020 pukul 2:41 pm

        iya mas ..itu di novel… trnyata masnya udh tau..hehe. … sya kira mas nya ada hubungan dgn si pengarang… soalnya cerita tentang peradaban masalalu agak mirip2 dgn yg diblog mas… yaitu berteknologi canggih dan sakti org2nya…..

        Harunata-Ra responded:
        Maret 20, 2020 pukul 3:27 pm

        Cuma tau aja mas, gak ada hubungan dan gak kenal juga kok dg si novelisnya..

    jalmo hino said:
    April 2, 2020 pukul 10:31 am

    kebenaran sejati pasti akan datang
    asal kita yakin dan percaya
    sangat menyentuh kisahnya
    terimakasih pencerahanya mas
    jadi sdikit tahu kisahnya
    trnyata sampean berpengetahuan luar biasa
    sepertinya mas oedi memang sangat paham sekali
    tulisan sprti ini sudah sangat saya tunggu2 mas
    karena di luar sana
    mereka sebetulnya sudah menanti walaupun sembunyi
    tetep eling lan waspodo mas
    salam memayu hayuning bawono

      Harunata-Ra responded:
      April 4, 2020 pukul 7:03 am

      Sama2lah mas Jalmo Hino, terima kasih juga atas kunjungannya, semoga bermanfaat.. 🙂
      Waah jg berlebihan gitu mas, saya ini masih sgt awam dan baru belajar kok.. Sampeyan yg mungkin justru lebih paham dari saya..

Tinggalkan Balasan ke Harunata-Ra Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s