Sinura : Negeri Yang Tertinggi

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Dari zaman ke zaman, yang namanya pergantian kekuasaan itu adalah hal yang biasa. Raja yang satu akan digantikan dengan yang satunya, kerajaan yang satu juga bisa digantikan oleh yang lainnya. Semua ada waktunya masing-masing, dan akan disesuaikan dengan kondisi yang ada pada saat itu. Ada yang berganti dengan cara damai, tapi tidak sedikit yang justru dengan gaduh dan berdarah-darah. Demikianlah fakta yang mengisi perjalanan sejarah kehidupan umat manusia.

Nah, kali ini kita akan membahas tentang sebuah kisah yang telah lalu, tepatnya di pertengahan zaman kelima (Dwipanta-Ra) atau sekitar 130-an juta tahun silam. Dimana pada masa itu di kawasan yang kini dikenal sebagai Nusantara telah berdiri kerajaan-kerajaan besar yang gemilang. Setiap kerajaan memiliki corak yang khas dalam bahasa, tradisi, budaya, dan keyakinannya. Dalam satu waktu mereka hidup rukun, tapi dalam masa yang lainnya mereka justru saling bertempur. Begitulah kondisi yang mewarnai peradaban dunia saat itu, bahkan hingga sekarang.

Lalu untuk mempersingkat waktu, mari ikuti kisah berikut ini:

1. Awal kisah
Pada masa itu, kondisi Bumi sangat berbeda dari sekarang. Khususnya di Halsaniwa (penamaan Nusantara kala itu), maka seluruh kawasan tersebut masih berupa daratan yang sangat luas, yang membentang dari sungai Namires (sekitar India sekarang) sampai ke padang rumput Masoyah (sekitar Kepulauan Solomon sekarang), lalu dari pegunungan Ayasin (sekitar daratan China Tengah sekarang) sampai ke lembah Partila (sekitar Australia-New Zealand sekarang). Adapun tentang flora dan faunanya, maka jelas tidak sama pula dengan sekarang. Ada banyak perbedaannya, baik dalam hal bentuk, species-varietas, dan karakternya. Bahkan tidak sedikit yang sudah tidak ada lagi di masa sekarang, padahal mereka itu adalah makhluk-makhluk yang menakjubkan.

Begitu pula dengan keadaan geografi dan topografinya. Sangat berbeda dari sekarang, karena pada masa itu jumlah lautannya tak sebanyak sekarang – karena daratannya lebih luas. Namun begitu, justru danau dan sungai yang ada pada masa itu sangat banyak dan berukuran raksasa. Dan khusus untuk sungainya telah mengalir sangat panjang, yang jika dibandingkan dengan ukuran sungai Nil dan Amazon pada masa sekarang, maka kedua sungai besar itu tidak ada apa-apanya. Hanya saja kini semuanya telah sirna, hilang bersamaan dengan pergantian zaman.

Selain itu, ada banyak gunung raksasa yang menjulang tinggi hingga menembus awan. Saking tingginya, gunung-gunung itu pun sampai bersalju abadi. Membuat iklim yang ada terasa lebih sejuk dari sekarang. Dan setidaknya ada lima gunung yang tingginya lebih dari 10.000 mdpl, yang semuanya itu terdiri dari yang masih aktif (gunung berapi) dan tidak. Gunung-gunung itu seperti yang bernama Ajhal, Kahore, Nuyala, Tondras, dan Halatun. Semuanya itu sangat dikagumi dan dihormati oleh banyak orang, bahkan sampai dikeramatkan dan disembah-sembah. Sedangkan kini tak ada lagi satu pun, lantaran sudah meletus pada jutaan tahun silam.

Ya. Begitulah sekilas kondisi alam yang ada di kawasan Halsaniwa. Sangat jauh berbeda dari sekarang, dan yang jelas tentunya lebih indah dalam banyak hal. Dan pada masa itu, telah berdiri pula banyak kerajaan di sana. Dari sekitar 35 yang terbesar, ada tujuh yang paling tersohor, yaitu: (1) Dasiun, (2) Amargos, (3) Hadimbar, (4) Goshal, (5) Motesala, (6) Sattarka, dan (7) Yagaluna. Kerajaan-kerajaan itu tersebar di berbagai wilayah yang berbeda dan menjadi pemimpin bagi negeri-negeri yang ada di sana. Semuanya pun terkenal kuat dalam bidang ekonomi dan militer. Karena itulah jarang ada yang berani macam-macam dengan mereka.

Dan perlu diketahui pula bahwa peradaban dunia kala itu terbilang maju. Mereka sudah tidak asing lagi dengan berbagai teknologi canggih, hanya saja tidak pernah meninggalkan cara hidup ala kerajaannya. Mereka tetap mempertahankan sistem pemerintahan monarki, dan sangat percaya dengan kesaktian dan hal-hal yang supranatural. Makanya ada banyak orang yang berguru kepada para Begawan dan melakukan berbagai jenis tirakat dan tapa brata yang sulit. Semuanya demi memiliki kemampuan yang luar biasa, terlebih untuk kebanggaan diri (status sosial). Maklumlah pada masa itu siapapun yang berilmu tinggi dalam bidang kanuragan dan kadigdayan pasti dianggap sangat terhormat. Sebaliknya, bagi yang tidak menguasai minimal ilmu kanuragan, maka ia akan dipandang rendah atau bahkan sebagai pecundang.

2. Negeri Baldhan dan kota Hilius
Di bagian timur kawasan Halsaniwa, terdapatlah sebuah negeri yang aman dan makmur. Namanya Agaya, dan mereka yang tinggal di sana hidup dalam keharmonisan. Mereka pun tak pernah ingin menaklukkan negeri lain walaupun bisa, juga tak pernah ditaklukkan oleh negeri lain karena kekuatannya. Ribuan tahun seperti itu, sampai akhirnya mereka diperintahkan untuk berpindah ke alam lain, tepatnya ke Dimensi yang kelima (Nilbati).

Namun begitu, pada sekitar tahun ke 25 sebelum kepindahannya, ada beberapa orang yang diperintahkan untuk hijrah ke tempat lain. Mereka itu dipimpin oleh seorang pangeran muda yang bernama Nakoya. Sesuai dengan petunjuk yang telah didapatkan, sang pangeran lalu membawa pengikutnya kala itu menuju ke sebuah lembah yang tak berpenghuni di selatan. Nama lembah itu adalah Bald, yang didalamnya masih tersimpan kekayaan alam yang sangat berlimpah.

Selang beberapa waktu kemudian, mereka yang berada di lembah Bald itu mulai membangun peradabannya. Semuanya tidak begitu sulit, karena mereka telah dibekali dengan ilmu pengetahuan yang cukup selama masih hidup di negeri asalnya dulu (Agaya). Tinggal menerapkannya saja, maka secara perlahan akhirnya mampu mendirikan peradaban baru yang gemilang, dengan nama dan pemerintahan yang baru pula. Selama ratusan tahun mereka terus berkembang, dan nama kerajaan itu adalah Baldhan. Adapun nama ini di ambil dari kata “Bald” yang berarti tempat yang tenang (sekaligus berasal dari nama lembah tempat tinggalnya), dan “Han” yang dalam bahasa mereka berarti terbaik. Sehingga jika disimpulkan maka nama Bladhan itu berarti tempat (negeri) yang tenang dan terbaik.

Ya, demikianlah kisah asal mula adanya negeri Baldhan. Di sana, telah lama berdiri menara-menara putih yang disebut Elat untuk memantau perbatasannya. Dan dikisahkan pula bagaimana para pemimpin negeri itu berjuang dalam mempertahankan wilayah mereka dari serangan bangsa-bangsa dari Utara ataupun Barat. Untungnya ada pegunungan Eredrim yang membentang luas dan menjadi benteng, sehingga cukup sulit untuk bisa langsung ke dekat batas kota Baldhan. Hanya celah-celah lembah yang memungkinkan siapapun untuk datang bersama pasukannya, dan itu cukup sulit.

Di sebelah selatan, tepat di arah baratnya menara Elat dan di balik gunung Hema yang berada disisi timur hutan Fingos, terdapat sungai Angor yang mengalir panjang sampai ke muaranya di teluk Tartas. Tidak jauh dari muara itu, ada sebuah kota besar yang bernama Hilius. Kota tersebut masih bagian dari kerajaan Sagam tetapi berdiri sendiri, alias tidak dibangun oleh orang-orang dari negeri Sagam. Demi kepentingan bersama, sudah 7 generasi mereka membentuk perserikatan dalam bidang ekonomi, perdagangan, dan militer.

Tapi banyak yang beranggapan sebenarnya kota Hilius itu lebih cocok menjadi bagian dari kerajaan Baldhan, bukannya Sagam. Ini dikarenakan para penguasa dari Sagam itu awalnya memang baik, tapi akhirnya lebih terkesan otoriter dari pada mengayomi. Terlebih sejak raja ke 12 (Yasowa) mereka wafat, maka dibawah kepemimpinan Raja Sargowa, ketertiban di kota Hilius cenderung diabaikan. Begitu pula dengan keamanannya, karena belakangan justru sering mendapat gangguan dari kerajaan Motesala tanpa pembelaan dari pasukan kerajaan Sagam. Raja Sargowa tak bertindak apapun, padahal sebenarnya penguasa negeri yang ada diseberang sungai Angor itu punya kewajiban untuk melindungi kota Hilius. Terlebih sudah sejak lama para penguasa di kerajaan Motesala itu ingin merebut kota tersebut.

3. Kesatria pilihan
Jauh sebelum terjadinya penyerangan terhadap kota Hilius, di sebuah desa yang bernama Yattus, hiduplah seorang pemuda bernama Avanur. Ia tinggal bersama ayah, ibu dan ketiga adiknya dalam kesederhanaan. Selama puluhan tahun mereka hidup sebagai petani dan memelihara ternak. Kadang dikandangi, di lain waktu harus digembalakan ke padang rumput terdekat.

Adapun kegiatan Avanur sehari-hari tidak jauh berbeda dengan kebanyakan pemuda di desanya. Ia tetap bekerja keras dalam mengurus kebun dan ternaknya, terlebih semenjak ayahnya wafat karena sakit yang diderita. Hanya saja dalam urusan olah kanuragan dan kadigdayan, Avanur lebih giat dari orang-orang di sana. Tak jarang pula ia menyendiri ke hutan atau gunung hanya untuk melatih panca indera dan kepekaan dirinya. Sesekali tapa brata pun ia lakukan untuk menambah kekuatan dan pencerahan batin. Hal yang semacam ini tidak jarang ia lakukan, bahkan sejak masih diusia remaja.

Lalu, sampailah pada saat dimana kian seringnya terjadi gangguan keamanan di sekitar kota Hilius. Hal ini jelas merusak kedamaian dan menganggu stabilitas perekonomian karena banyak pedagang dan pembeli yang sampai enggan untuk datang ke Hilius. Mereka khawatir dengan keselamatan dirinya. Oleh sebab itu, pemimpin kota Hilius yang bernama Kaides lalu membuka pendaftaran untuk menjadi pasukan khusus. Siapapun boleh ikut asalkan ia punya loyalitas dan kemampuan ilmu kanuragan yang cukup. Dan bagi yang memiliki ilmu kadigdayan yang tidak biasa, ia akan diberikan kedudukan yang spesial pula.

Mendengar kabar itu, sebagai seorang pemuda yang cuma tinggal di desa selama puluhan tahun, Avanur berniat untuk segera mendaftar. Sudah lama ia ingin mengabdikan dirinya dalam sebuah pasukan khusus. Terlebih itu demi melindungi sebuah kota dari serangan kerajaan lain yang terkenal arogan. Siapapun pasti ingin terlibat, karena pada saat yang sama ia pun bisa menguji batas kemampuan dirinya.

Singkat cerita, atas restu dari keluarganya Avanur lalu melangkahkan kakinya menuju kota Hilius. Tiga hari lebih ia berjalan melewati hutan dan lembah tapi belum sampai juga ke perbatasan kota tujuan. Bahkan tepat dihari yang keempat Avanur merasakan ada yang aneh dengan perjalanannya saat itu. Ia seperti berjalan memutar disitu-situ saja dan tak kunjung sampai meskipun sudah seharian. Ada kekuatan goib yang sengaja membuatnya tersesat di hutan Jasotar itu. Dan hingga di hari yang kelima, akhirnya Avanur memutuskan untuk berhenti. Tak lama berselang ia pun duduk bersila dan melakukan semedhi dengan khusyuk. Berharap mendapatkan petunjuk yang dapat membebaskan dirinya dari belenggu hutan angker tersebut.

Dan setelah cukup lama ber-semedhi, akhirnya datanglah jawaban atas permasalahan yang dihadapi. Dalam keheningannya, Avanur mendengar ada seorang yang memanggil namanya dan meminta agar ia segera membuka mata. Meskipun cuma sekali, kata-kata itu sangat jelas terdengar, dan entah mengapa tanpa berpikir lagi Avanur segera mengikutinya. Dan ia pun terkejut bukan kepalang lantaran sudah berada di sebuah tempat yang lain. Sepanjang hidupnya, belum pernahlah sang pemuda melihat tempat yang seindah dan senyaman itu.

Lalu ditengah kebingungannya itu, ia melihat seorang pria yang penuh wibawa dan kharismatik di hadapannya. Penampilannya khas dari seorang guru bijak, lengkap dengan pakaian serba putih tanpa mengenakan penutup kepala (topi) atau pun sorban. Rambutnya yang putih dibiarkan panjang terurai melewati bahu, begitu pula dengan kumis dan janggutnya yang juga berwarna putih semua. Sambil tersenyum ia pun berkata kepada sang pemuda bahwa saat itu bukanlah waktu yang tepat untuk pergi ke kota Hilius. Belum saatnya untuk menunjukkan diri, karena masih harus membekali diri lebih banyak lagi. Dan setelah mengatakan itu ia pun meminta Avanur untuk berdiri dan mengikutinya berjalan.

Dalam perjalanan itu, hal yang tak biasa pun terjadi lagi. Hanya dalam waktu sekejap, pria yang ternyata bernama Begawan Hadiyapala itu terus memindahkan Avanur dari satu tempat ke tempat yang lain, ke berbagai lokasi yang tak pernah ia kenali. Pada setiap tempat yang mereka singgahi, sang Begawan langsung memberikan penjelasan tentang nama dan sejarahnya. Terus seperti itu, hingga akhirnya mereka tiba di sebuah pulau yang terasing di tengah Samudera. Lokasinya tidak tercantum di dalam peta dunia saat itu meskipun sebenarnya tetap ada di muka Bumi, alias bukan di alam goib. Ada perisai khusus yang menutupi seluruh kawasan itu dan membuatnya tak bisa dilihat oleh orang awam atau yang tidak berhak. Hanya kalangan tertentu saja yang bisa memasukinya.

Ya. Pada saat itu ternyata memang sudah waktunya bagi Avanur untuk datang kesana, ke negeri yang disebut Dilhama itu. Apa maksud dan tujuannya adalah untuk memperkenalkan kepadanya tentang berbagai ilmu pengetahuan yang lebih luas dan juga membekali diri sang pemuda agar ia menjadi sosok yang lebih baik lagi. Nah Begawan Hadiyapala itu adalah orang yang mendapatkan tugas dari Langit untuk membimbing Avanur agar ia bisa sampai kesana dan akhirnya benar-benar siap untuk menjalankan peran utama dari hidupnya.

Waktu pun terus berlalu selama beberapa hari, sedangkan Avanur yang tinggal di negeri Dilhama sudah mendapatkan banyak informasi tentang negeri para leluhurnya itu. Ternyata sudah begitu lama, ribuan tahun, mereka tidak berurusan lagi dengan dunia luar (di muka Bumi). Mereka telah sengaja “memutuskan hubungannya” dengan siapapun kecuali ada urusan yang mendesak atau sangat penting untuk di lakukan. Dan perlu diketahui bahwasanya pada waktu itu mereka ini tidak dalam artian sudah berpindah Dimensi kehidupan, melainkan masih di atas Bumi ini namun tidak bisa dilihat atau diketahui secara langsung oleh manusia biasa (secara kasat mata). Negeri mereka itu tersembunyi dibalik perisai tak kasat mata yang menutupi keberadaannya. Tanpa menggunakan teknik khusus, siapapun takkan bisa masuk ke negeri tersebut. Jangankan untuk memasukinya, karena sekedar bisa melihatnya saja takkan mungkin walapun dengan menggunakan mata batin. Ada kunci rahasia yang harus digunakan sebagai password, dan hanya bagi mereka yang terpilih sajalah yang berhak mendapatkannya.

Kisah pun berlanjut. Dalam banyak kesempatan Avanur mendapatkan berbagai wejangan dari para leluhurnya itu. Salah satu yang paling berkesan adalah ketika ia diberi tahu tentang asal usul keluarganya oleh Nabi Zamudaya AS. Adapun garis silsilahnya itu masih terhubung langsung dengan para pemimpin besar di negeri Dilhama. Sebab, ayahnya yang bernama Sanurata itu adalah putra dari Uziyata putra Maruta putra Horata putra Bara putra Hotam putra Amase putra Mazika putra Roseyab putra Goramer putra Kusal putra Eftaran putra Dassoren putra Magwelu putra Kostrah putra Dalara putra Kasima putra Neja putra Nusala putra Hebroh putra Zatrah putra Urah putra Noyas putra Lawat putra Asvat putra Majaya putra Namigiya putra Uyidana putra Waliqi putra Sastana putra Siyanta putra Layasina putra Palwa putra Nagiraya putra Huwaya putra Nabi Zamudaya AS putra Bilsara putra Misi putra Hagaru putra Ataru putra Hassal putra Besah putra Iyaka putra Helmana putra Yosena putra Erhan putra Istafahan putra Suwala putra Madala putra Begawan Hadiyapala putra Yadala putra Huratala putra Ingmadala putra Amunggala.

Amunggala sendiri adalah putra tertua dari Raja Mulaya yang berkuasa di negeri Himdaruyan. Meskipun sebagai putra mahkota, pada akhirnya ia tidak mewarisi tahta dari ayahnya. Atas petunjuk yang telah didapatkan, Amunggala justru meninggalkan kerajaannya untuk bisa mendirikan kerajaan baru yang kemudian dikenal dengan nama Dilhama – atau biasa juga disebut Dilheim. Dan akhirnya itu memang terwujud, dan negeri Dilhama terus berkembang serta memainkan peranan yang sangat penting bagi dunia. Ada banyak kisah kepahlawanan dari para kesatria di negeri Dilhama tersebut. Hingga pada akhirnya mereka semua harus “menghilang” dan tak perlu lagi berurusan dengan berbagai kepentingan di Bumi.

Catatan: Avanur adalah keturunan ke 53 dari Amunggala, sang pendiri negeri Dilhama. Dan dalam garis silsilahnya itu ternyata ada seorang Nabi yang bernama Zamudaya AS. Beliau tidak lagi hidup di negeri Dilhama namun diizinkan untuk datang kembali ke negeri itu demi menyampaikan wejangan kepada cicit buyutnya; Avanur. Beliau dianugerahi umur yang sangat panjang dan bisa tinggal dimana-mana, baik di alam nyata dunia ini maupun di Dimensi lainnya. Dan tugas beliau di Bumi ini tidak hanya untuk satu kaumnya saja, tetapi beberapa kaum yang lain yang bahkan berbeda ras dan bahasanya.

Ya. Melihat dari garis asal usulnya, maka pantaslah bagi Avanur untuk berada di negeri yang misterius itu. Maklumlah di sana juga merupakan negeri para leluhurnya sendiri. Tapi sebenarnya bukan itu yang menjadi alasan utama kenapa ia bisa sampai ke negeri yang sangat tersembunyi itu. Bukan karena garis nasabnya, tetapi lebih kepada jiwa dan kepribadiannya. Meskipun selama hidupnya Avanur bukanlah seorang yang terpandang atau terkenal karena banyaknya pretasi, tapi ia mewarisi bakat kepemimpinan dari para leluhurnya. Kemurnian hati dan sifat yang harus dimiliki oleh seorang kesatria utama pun telah ia miliki. Sehingga memang pantaslah dirinya menjadi yang terpilih dari sekian banyak pemuda.

Lalu, di waktu yang lain Nabi Zamudaya AS kembali menyampaikan wejangan kepada anak keturunannya itu ketika ia bertanya mengenai keadaan dunia, khususnya pada masa itu. Dihadapan mereka yang berkumpul dipelataran istana, sang Nabi pun berkata:

Wahai ananda. Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini berada di bawah pengaturan-NYA. DIA-lah yang mengubah-ubah keadaan dan menyingkirkan raja-raja dengan menggantikannya dengan yang baru. DIA-lah yang berkuasa atas kerajaan-kerajaan semuanya, dan DIA-lah yang memberikannya kepada siapa saja yang dikehendaki-NYA; bahkan orang yang terhina (dilecehkan, tak dianggap) pun dapat diangkat-NYA menjadi raja yang terhormat. Dan sebaliknya ada orang yang sebenarnya tidak pantas lagi hina tapi bisa menjadi raja. Itu bisa terjadi entah karena garis nasabnya atau dengan cara-cara yang jahat (curang, licik, menipu, pencitraan, zalim/kejam, kudeta).

Namun begitu, DIA-lah yang memberi hikmah kepada siapapun yang mau berpikir dan merenungi pertanda zaman. DIA-lah yang mengungkapkan rahasia paling mendalam di luar pengertian manusia. Yang juga membukakan tirai (hijab) rahasia ilmu yang tersembunyi. Dan semuanya itu tanpa harus menunggu, karena atas kehendak-NYA siapapun bisa terpilih menjadi yang beruntung menerimanya.

Demikianlah apa yang pernah disampaikan oleh Nabi Zamudaya AS kepada Avanur sebelum ia mendapatkan bimbingan tentang beragam kemampuan khusus dari para leluhurnya, terlebih oleh Begawan Hadiyapala. Dan ternyata sang Begawan adalah kakek buyutnya sendiri, bahkan beliau itu juga merupakan leluhur dari Nabi Zamudaya AS. Karena itulah, meskipun memiliki kedudukan yang sangat tinggi, Nabi Zamudaya AS sangat menghormati Begawan Hadiyapala dan begitu pula sebaliknya. Sungguh beruntungnya Avanur menjadi bagian dari keluarga besar nan terhormat itu. Dan karena itu pulalah ia bertekad untuk mengikuti semua bimbingan dari para leluhurnya. Apapun tantangan dan latihannya akan ia lalui dengan usaha yang maksimal. Semuanya demi menjaga nama baik dari trah keluarganya.

Catatan: Lebih jelasnya tentang apa arti dan makna sebenarnya dari gelar Begawan itu, maka silahkan baca artikel di link berikut: Manunggal diri : Kemampuan transcendence.

Singkat cerita. Selama beberapa waktu Avanur tetap berlatih dengan tekun dalam banyak hal. Tidak hanya di negeri Dilhama saja, karena oleh Begawan Hadiyapala ia diajak untuk ke tempat lain, bahkan ke Dimensi yang lain juga. Semuanya demi menyesuaikan dengan bentuk latihan dan ilmu yang harus dikuasai. Dan meskipun sebenarnya bisa saja sang Begawan menurunkan beragam ilmu kepada Anavur, hanya dalam waktu beberapa menit saja, namun itu tidak pernah dilakukannya. Avanur harus tetap menjalani latihan yang serius agar dirinya benar-benar siap secara lahir dan batin. Dan memang sebaiknya begitu, karena apapun yang didapatkan dengan cara yang instan tetaplah kurang baik. Bahkan tidak jarang sangat merugikan.

Catatan: Untuk standar ukuran waktu di Bumi, maka Avanur itu hanya berlatih selama beberapa bulan saja. Namun demikian tidak sepenuhnya begitu, karena ia juga berlatih sampai ke Dimensi yang lainnya. Perbedaan waktu antara di muka Bumi ini dengan Dimensi-dimensi itu sangatlah jauh. Ada yang 1 tahun, 10 tahun, bahkan 100 tahun jika dibandingkan dengan 1 hari di Bumi. Artinya, meskipun cuma berlangsung selama beberapa bulan saja untuk ukuran waktu di Bumi, maka sesungguhnya Avanur telah berlatih selama ribuan tahun. Karena itulah ia pun bisa menjadi sosok yang luar biasa dan pantas menjadi pemimpin besar di kemudian hari.

4. Pertempuran besar
Waktu pun berlalu dan sampailah masanya dimana Avanur harus meninggalkan negeri Dilhama. Semua ilmu pengetahuan yang dibutuhkan telah ia kuasai dengan baik. Dan meskipun sebenarnya tak mau pergi dari kota leluhurnya itu, namun sang pemuda tetap harus kembali. Ada tugas yang harus ia tunaikan, dan itu berkaitan dengan kebaikan untuk semua makhluk di Bumi.

Dan setelah berpamitan dengan mereka yang ada di negeri Dilhama, selang beberapa waktu kemudian Avanur mulai berjalan ke arah utara lalu berkelok ke barat. Tujuannya kala itu adalah kota Hilius. Tapi di tengah jalan ia harus menghadapi tantangan karena dicegat oleh sekelompok makhluk halus penghuni hutan Galion. Dan pertempuran pun tak bisa lagi dihindari. Avanur dikeroyok oleh bangsa Jin sakti yang berasal dari kerajaan Sowaggai. Merekalah yang berkuasa di hutan Galion itu, dengan sosok yang bernama Migossar sebagai rajanya. Hanya saja Avanur kini bukanlah pemuda biasa. Makanya hanya dalam waktu singkat ia berhasil mengalahkan semua Jin yang mengeroyoknya saat itu. Bahkan ketika Raja Migossar datang untuk membuat perhitungan, Avanur tetap bisa mengalahkannya. Dan sesuai dengan tradisi dari bangsa Jin setempat, maka siapapun yang bisa mengalahkan penguasa rimba Galion akan dijadikan tuannya.

Mendapati hal itu Avanur tidak ingin menjadi tuan dari bangsa Jin di kerajaan Sowaggai. Alasannya karena setiap makhluk itu bebas menentukan jalan hidupnya sendiri, tak ada yang boleh menghalangi atau bahkan memperbudaknya. Nah dengan pandangan yang seperti itu Avanur hanya ingin bersahabat dengan bangsa Jin dari kerajaan Sowaggai. Itu saja, dan jika mereka berkenan mungkin suatu saat nanti Avanur bisa meminta bantuan. Dan ternyata hal itu segera disetujui oleh Raja Migossar dengan sikap yang senang. Ia dan rakyatnya bersedia membantu sang pemuda jika memang dibutuhkan.

Singkat cerita, setelah urusannya dengan bangsa Jin di kerajaan Sowaggai itu selesai, Avanur kembali melanjutkan perjalanannya. Sesekali ia menggunakan kesaktiannya dengan cara terbang atau berteleportasi ke tempat-tempat tertentu. Dan pada saat berada di sebuah hutan yang ada di lereng gunung Ayotha, sang pemuda disergap oleh sekelompok bangsa Peri Zildan. Ternyata mereka itu adalah penjaga perbatasan negerinya. Meskipun Avanur sudah menjelaskan tentang maksud dan tujuannya, maka itu tetap tak berarti. Pasukan yang berjumlah 20 orang itu masih saja menyerang dirinya dengan menggunakan kesaktian yang tidak biasa. Karena itulah sebagai kesatria yang terzalimi Avanur tetap melawan balik namun tidak sampai membunuh. Dan setelah beberapa waktu, justru pasukan itu sendiri yang menghentikan serangannya. Mereka lalu bersimpuh dan meminta maaf atas tidakannya saat itu.

Salah seorang dari mereka lalu menjelaskan bahwa mereka hanya bertujuan untuk menguji. Mereka pun sudah tahu siapakah diri Avanur itu dari penjelasan rajanya. Karena itulah ia meminta kepada sang pemuda untuk singgah di ibukota kerajaan Peri Zildan lantaran Raja Sir el-Hamaril telah menunggunya. Dengan suka hati Avanur menyetujuinya, dan ketika berada di istana Peri Zildan ia tak bisa berkata-kata lagi karena begitu indahnya. Dan selama berada di sana, ia dan Raja Sir el-Hamaril kerap membicarakan tentang ilmu pengetahuan tingkat tinggi. Sang raja tahu bahwa Avanur adalah sosok yang terpilih dan telah mendapatkan bimbingan langsung dari para bijak yang berasal dari berbagai golongan makhluk (Manusia, Dewa, dan Malaikat). Karena itu pula ia berkenan untuk membantu sang pemuda ketika dibutuhkan. Apapun itu akan ia usahakan dengan maksimal.

Kisah pun berlanjut. Setelah urusannya selesai dengan bangsa Peri Zildan, tibalah saatnya bagi Avanur untuk meneruskan perjalanannya menuju kota Hilius. Setibanya di sana betapa ia merasa heran karena ada begitu banyak prajurit yang berseliweran. Salah seorang menjelaskan bahwa kota besar itu sudah ditaklukkan oleh kerajaan Motesala sejak tiga bulan lalu. Makanya ada banyak prajurit asing dan mereka itu sering bersikap arogan.

Catatan: Pada saat itu Avanur sempat lupa bahwa ia pernah berada di negeri Dilhama selama beberapa bulan sebelum akhirnya sampai di kota Hilius. Tentu saja ada banyak peristiwa yang terjadi selama itu. Di antaranya kota Hilius yang telah menjadi daerah jajahan dari kerajaan Motesala.

Mengetahui hal itu, di hatinya Avanur merasa bersalah karena terlambat. Tapi sesuai dengan wejangan dari Begawan Hadiyapala, maka ia harus membekali dirinya terlebih dulu. Karena tidak akan ada artinya jika ia berjuang dengan tanpa persiapan yang matang. Itu sama saja dengan bodoh dan hanya akan melakukan tindakan yang konyol. Sehingga Avanur tetap menahan diri untuk tidak bersedih, dan segera bertindak dengan mengajak orang-orang yang masih kuat untuk berjuang demi kemerdekaannya.

Ajakan itu tidak begitu disambut oleh warga sekitar karena mereka sudah patah semangat. Dan memang pasukan yang kini mengendalikan kota Hilius terkenal dengan kekuatan dan kebengisannya. Itulah yang menyebabkan penduduk lokal tidak lagi ingin berjuang sampai menumpahkan darah terakhir. Hanya sedikit orang saja yang masih punya semangat untuk berjuang sampai mati. Dan itu sudah cukup bagi Avanur, karena ia telah dibekali dengan kemampuan yang istimewa.

Akhirnya, selang tiga hari berikutnya ke 45 orang yang mau berjuang langsung dibekali kekuatan besar oleh sang pemuda. Meskipun cuma untuk sementara, tapi kekuatan itu sudah cukup untuk mengalahkan ribuan pasukan musuh. Dan memang benar adanya, meskipun cuma beranggotakan 45 orang pemuda dan pemudi, ribuan pasukan kerajaan Motesala yang menduduki kota Hilius bisa dikalahkan dalam waktu kurang dari 2 jam saja. Ada beberapa dari mereka yang berhasil melarikan diri dan segera kembali ke negerinya untuk melaporkan apa yang terjadi kepada pimpinannya.

Singkat cerita, mengetahui kota Hilius telah berhasil direbut kembali, Raja Atarigal langsung marah. Sebagai penguasa dari kerajaan Matesala, ia pun segera mengirimkan pasukan dalam jumlah yang besar. Tujuannya adalah untuk bisa merebut kembali kota itu dengan apapun resikonya. Tapi malangnya pasukan yang dikirim tak mampu bertahan dan akhirnya kalah dalam waktu kurang dari satu hari di medan pertempuran. Dan informasi kekalahan pasukannya itu cepat diketahui oleh sang raja ketika ia sedang duduk di atas singgasananya. Dengan amarah yang menggelegak, sang raja langsung menitahkan kepada panglimanya untuk segera membentuk pasukan terbesar yang bisa mereka kumpulkan. Tujuannya hanya untuk merebut kembali kota Hilius dalam waktu singkat.

Mengetahui rencana penyerangan itu, Avanur pergi ke negeri Sagam dan Baldhan untuk bernegosiasi. Dengan kepiawaiannya, sang pemuda berhasil meyakinkan kedua penguasa yang ada, yaitu Raja Sargowa dan Raja Ajanaya untuk mau mengirimkan pasukannya. Bahkan akhirnya mereka sendiri bersedia memimpin dan siap berjuang bersama dengan Avanur di medan pertempuran. Semua itu tidak hanya karena terpesona dengan sosok Avanur, namun demi kestabilan di wilayah kerajaannya. Sebab jika kerajaan Motesala dibiarkan menguasai kota Hilius, maka itu akan mempengaruhi jalur perdagangan ke negeri mereka. Akan banyak aturan yang dapat mengganggu kepentingan di negeri Sagam dan Baldhan. Hal ini akan berdampak buruk pula terhadap perekonomian mereka. Terlebih tidak menutup kemungkinan bila suatu saat nanti, cepat atau lambat, kerajaan Motesala akan datang menjajah negeri mereka.

Untuk itu, dengan senang hati Raja Sargowa dari Sagam dan Raja Ajanaya dari Baldhan menyetujui permintaan dari Avanur. Setelah persiapannya cukup, kedua raja dan pasukannya langsung bergerak menuju ke perbatasan kota Hilius. Sesampainya di sana mereka langsung mengatur posisi untuk menghadapi pasukan kerajaan Motesala yang terkenal dengan kekuatan dan kehebatannya di medan tempur. Kerajaan itu pun sering menyerang kerajaan lain dengan niatan untuk menjajah, dan kini giliran kota Hilius yang harus mereka rebut kembali. Alasannya karena kota tersebut letaknya strategis, kaya raya, dan mereka pun ingin melebarkan wilayah kerajaannya ke arah barat dan selatan. Bahkan Raja Atarigal itu memiliki ambisi yang besar untuk menjadi penguasa tunggal di seluruh kawasan Halsaniwa.

Kisahpun berlanjut. Setelah lima hari berikutnya pasukan besar pimpinan Raja Atarigal akhirnya terlihat oleh prajurit pengintai yang sengaja ditugaskan untuk mengawasi perbatasan kota dari atas bukit. Pasukan itu mendekat dengan kekuatan penuh sekitar ±750.000 prajurit. Mereka datang lengkap dengan bermacam divisi pasukannya, yang semuanya terlatih dalam pertempuran. Dari kejauhan suara bergemuruh pun terdengar dari langkah kaki pasukan, kereta perang, dan hewan-hewan yang ditunggangi. Mereka benar-benar telah siap menghadapi perang terbuka yang mematikan.

Setelah mendapatkan informasi yang lengkap, Avanur segera berkoordinasi dengan para raja dan senopati pasukannya. Mereka lalu mengatur siasat tentang bagaimana menghadapi pasukan Motesala di hari pertama dan seterusnya. Formasi apa yang harus digunakan, dan siapa saja yang harus memimpin di setiap divisi pasukannya. Semuanya harus direncanakan dengan matang tanpa ada yang terlewatkan. Dan Avanur tidak lantas menjadi panglima tertinggi dari pasukan gabungan itu. Ia memilih untuk tetap memimpin pasukan yang telah ia bentuk sendiri sebelumnya, ketika merebut kota Hilius. Termasuk dirinya, maka jumlah dari pasukan khusus itu bertambah menjadi 150 orang pria dan wanitanya.

Catatan: Pada masa itu yang namanya pertempuran selalu terjadi di lokasi yang terbuka dan sangat luas. Biasanya di sebuah lembah atau pandang rumput. Modelnya pun saling berhadapan, alias pertarungan langsung sampai mati atau mengaku kalah. Dan meskipun mereka telah mengenal teknologi canggih, namun khusus untuk pertempuran selalu menggunakan cara yang konvensional. Artinya mereka hanya mengandalkan kemampuan dalam olah kanuragan dan kadigdayan. Jika pun ada senjata, maka itu hanyalah pedang, tombak, panah, kapak, dan yang sejenisnya. Tidak ada yang berteknologi canggih seperti pistol, senapan, bom, meriam, rudal, tank, dan pesawat tempur, karena lebih kepada yang bersifat metafisika atau kesaktian.

Singkat cerita. Sesuai dengan prediksi maka tiga hari berikutnya pertempuran besar pun terjadi. Kedua belah pasukan melancarkan serangan yang mematikan. Ada banyak formasi tempur yang dikeluarkan, membuat suasana di medan pertempuran saat itu terasa menakjubkan sekaligus mengerikan. Hanya dalam waktu singkat korban jiwa dari kedua belah pihak mulai berjatuhan. Medan perang yang semulanya tenang lantas dipenuhi dengan jerit kesakitan serta darah yang tertumpah dimana-mana. Dan tanpa diundang, maka burung-burung pemakan bangkai pun terus berdatangan. Mereka telah siap untuk berpesta pora.

Ya, pertempuran kala itu sangat menegangkan. Para kesatria level atas bahkan telah berulang kali mengeluarkan senjata pusaka yang memiliki kekuatan yang menakjubkan. Karena itulah terdengar suara ledakan demi ledakan yang sangat keras. Sesekali ada pula getaran yang cukup kencang di permukaan tanah lantaran para kesatria yang sedang bertarung itu sudah mengeluarkan ajian yang teramat sakti. Membuat tanah berguncang dan bergerak-gerak, atau bahkan menimbulkan angin kencang, pijaran api, dan petir yang menyambar-nyambar.

Sungguh peristiwa yang luar biasa, dan siapapun yang melihatnya saat itu sampai terkagum-kagum dibuatnya. Menyaksikan pertarungan di antara para kesatria unggulan saat itu adalah hal yang langka dan merupakan tontonan yang “sangat mahal”. Terlebih lagi ketika Raja Atarigal mulai menggunakan kemampuan sihirnya, maka keadaan di medan pertempuran semakin tak masuk akal. Dan itu masih ditambah lagi dengan kemunculan para serdadu kegelapan yang datang dari Dimensi lain. Ternyata mereka itu adalah pasukan sekutu dari Raja Atarigal setelah ia melakukan perjanjian dengan raja kegelapan.

Dan mengapa di hari pertama Raja Atarigal sudah mengeluarkan kekuatan utamanya? Itu lantaran ia sudah tahu bahwa yang sedang dihadapinya saat itu bukanlah pasukan biasa. Apalagi di pihak lawannya itu ada seorang pemuda yang istimewa. Dialah Avanur yang menurut sang raja masih menyimpan kekuatan yang sebenarnya. Makanya dengan mengeluarkan kekuatan sihir dan meminta bantuan dari pasukan kegelapan, Raja Atarigal yakin bisa memancing Avanur untuk segera mengeluarkan kesaktian andalannya.

Melihat kondisi yang semakin pelik di medan pertempuran, terlebih karena semakin banyak korban jiwa yang berjatuhan dipihaknya, mau tidak mau Avanur harus mengeluarkan kemampuan sebenarnya. Dengan menggunakan pedang pusaka, sang pemuda menghabisi siapapun musuh yang ada dihadapannya. Gerakannya secepat kilat, dan tak ada satupun yang bisa lolos jika sudah menjadi target. Ia pun sering membagi dirinya dan mengubah-ubah wujudnya. Hal ini membuat Raja Atarigal merasa senang pada awalnya. Tetapi setelah Avanur justru mengalahkan satu persatu kesatria dan para senopati terbaiknya, sang raja Motesala itu malah cemas. Belum pernah ia melihat ada sosok yang seperti Avanur dalam segala hal. Dan ia sadar bahwa sang pemuda itu jelas memiliki kesaktian yang melebihi dirinya.

Tapi, lantaran kesombongan sudah menguasai dirinya sejak awal, Raja Atarigal tetap menyerang Avanur dengan kekuatan penuh. Semua bentuk kesaktian yang ia miliki dikeluarkan. Hanya saja tak ada satupun yang mempan terhadap sang pemuda. Begitu pula dengan semua senjata pusaka miliknya telah dikeluarkan untuk menghabisi sang pemuda. Namun semuanya mēntal, bahkan berbalik kepada diri sang raja. Dan hanya karena Avanur tidak berniat untuk membunuh, maka Raja Atarigal bisa tetap hidup sampai berakhirnya pertempuran. Sang pemuda memiliki rencana yang lebih bijak demi kebaikan bersama.

Ya. Membunuh bukanlah satu-satunya cara untuk bisa memperbaiki keadaan. Ada cara yang lain, misalnya dengan mengampuni dan memberikan kesempatan untuk bertobat. Siapapun berhak untuk memperbaiki dirinya meskipun telah melakukan kesalahan besar. Terlebih jika itu terjadi pada diri seorang raja, maka ada manfaat yang besar. Karena dengan bertobatnya seorang raja, biasanya akan diikuti pula oleh semua bawahannya. Ini adalah dakwah yang seharusnya, dan merupakan hal yang sangat menguntungkan.

Catatan: Setelah dikalahkan oleh Avanur, Raja Atarigal akhirnya sadar akan kekeliruannya. Ia juga sangat menyesal karena sudah mengikuti bujuk rayu dari si raja kegelapan lantaran tergiur dengan iming-iming harta, kekuasaan, dan popularitas. Dengan bersimpuh ia pun meminta ampun kepada sang pemuda, dan berharap sosok tersebut mau membimbingnya kembali ke jalan yang lurus. Hal itu diterima langsung oleh Avanur dengan senang hati, begitu pula dengan pasukannya.

Kisah pun berlanjut. Mengetahui sekutunya telah dikalahkan, bahkan menjadi orang baik lagi, raja kegelapan yang bernama asli Sorois tak bisa menerimanya. Ia merasa sangat dirugikan, karena tidak bisa lagi menyesatkan umat manusia melalui perantara Raja Atarigal. Karena itulah ia pun berniat untuk segera membunuh Avanur dengan mengeluarkan kesaktian yang tidak pernah dilihat oleh siapapun yang ada di medan pertempuran itu. Sang raja kegelapan akhirnya turun ke medan pertempuran.

Tapi sang pemuda bukanlah kesatria biasa yang mudah dikalahkan. Dengan kesaktian yang setara, ia justru lebih ganas saat menyerang Sorois. Bahkan semakin lama semakin tinggilah level kesaktiannya, dan membuat raja kegelapan itu kewalahan. Sampai akhirnya ia pun tak mampu lagi menahan serangan demi serangan dari sang pemuda dengan kondisi tubuh yang sudah babak belur. Mau tidak mau Sorois harus mengaku kalah dan kabur dari medan laga. Dan itu dibiarkan saja oleh Avanur, karena ia sudah tahu bahwa raja kegelapan itu tak bisa mati lantaran umurnya sudah ditangguhkan sampai Kiamat nanti.

Catatan: Dengan kesaktiannya, pertarungan antara Anavur dan Sorois terjadi di udara, bahkan sampai ke luar angkasa. Selain karena mereka punya kemampuan yang menakjubkan, alasannya juga demi menjauhkan dampak buruk yang bisa ditimbulkan, khususnya bagi semua pasukan yang terlibat dalam pertempuran. Maklumlah kesaktian yang mereka keluarkan saat itu sungguh luar biasa “mengerikan”. Dan jika itu sampai terjadi di muka Bumi, maka seluruh medan pertempuran yang ada di padang Mulapa itu, atau bahkan kota Hilius dan sekitarnya bisa hancur luluh. Kekuatan ledakan dari senjata pusaka dan ajiannya seperti bom atom, bahkan lebih.

Demikianlah yang terjadi kala itu. Selanjutnya pertempuran di padang Mulapa tersebut akhirnya dihentikan setelah raja kegelapan, Sorois, berhasil dikalahkan. Kedua belah pihak sepakat untuk tidak melanjutkan pertarungan karena mereka sadar bahwa itu hanyalah perbuatan yang sia-sia. Terlebih ketika melihat sosok Avanur yang gagah perkasa dan sangat kharismatik, maka timbul keyakinan di hati mereka untuk dapat mengikutinya. Mereka takjub kepada sang pemuda dan ingin menjadi pengikutnya. Pun, tersebar informasi bahwa Avanur itu adalah sosok yang terpilih untuk menata dunia. Siapapun yang sudi mengikutinya akan mendapatkan kebaikan dan kemuliaan.

Dan begitulah seterusnya. Ada beberapa kali pertempuran besar yang harus terjadi selama Avanur berusaha mengembalikan ketertiban dunia, khususnya di kawasan Halsaniwa. Sebenarnya Avanur tak pernah menginginkan perang, tetapi mau tidak mau ia harus berperang. Dan itu semua bisa terjadi karena memang selalu ada saja penguasa yang lupa diri dan semena-mena terhadap rakyatnya. Padahal itu hanyalah perbuatan yang merugikan.

5. Azab bagi kaum Pusila
Suatu ketika Avanur pergi keluar kota Hilius untuk menyendiri selama beberapa hari. Ia menuju ke sebuah tempat yang jauh dari keramaian manusia. Dan ketika sedang duduk merenung (tafakur) di tepian sungai Muris, sang pemuda mendapatkan petunjuk dalam bentuk suara tanpa rupa. Kata-katanya sangat jelas terdengar, hingga membuat sang pemuda membuka kedua matanya. Dicobanya melihat ke segala arah namun tak juga menemukan asalnya, siapakah yang berbicara itu? Makanya Avanur segera memejamkan mata dan lebih fokus untuk mencari tahu sumbernya. Dan akhirnya ia bisa mengetahui dari manakah asal suara tersebut. Ternyata dari seberang sungai.

Dengan cekatan sang pemuda berjalan kaki menyeberangi sungai yang ada dihadapannya dan segera menuju ke sebatang pohon rindang yang ada didekat bongkahan batu besar. Ternyata di sana ada seorang pria yang sedang duduk, dan tentunya bukanlah orang biasa. Awalnya sang pemuda tak begitu yakin tentang siapakah sosok tersebut, tapi akhirnya paham juga, bahwa sebenarnya beliau itu adalah eyang gurunya sendiri, Begawan Hadiyapala.

Mengetahui hal itu, segera saja Avanur bersimpuh dan menghormati. Kata salam yang ia ucapkan langsung dibalas oleh sang Begawan lengkap dengan senyuman yang ramah. Dan setelah cukup berbasa-basi, akhirnya sang utusan menyampaikan petunjuk Ilahi. Katanya:

Wahai ananda. Ada 7 syarat utama bagi sebuah negeri untuk dihancurkan (di azab). Yaitu: (1) Banyaknya maksiat (perzinahan, homo, lesbi, incest, dll), (2) Membolehkan riba’, (3) Adanya perbuatan zalim atau menindas (disini termasuklah fitnah, berita bohong/hoax, dan adu domba), (4) Banyaknya kecurangan dan tipu muslihat (disini termasuklah KKN), (5) Hilangnya rasa malu dan harga diri, (6) Durhaka kepada orang tua, (7) Tidak peduli dengan lingkungan (alam raya). Jika semuanya itu telah muncul dalam kehidupan penduduk, maka azab yang perih akan datang. Bahkan tidak harus semuanya ada, cukup beberapanya saja, karena itu sudah cukup untuk mengundang bencana yang mengerikan datang menghukum. Demikianlah hukum sebab akibat yang telah ditetapkan oleh-NYA sebelum kehidupan di Bumi ini ada.”

Mendengar penjelasan itu, Avanur hanya bisa mengiyakan dengan perasaan yang sedih. Sang Begawan justru tersenyum dan kembali berkata: “Jangan bersedih anakku. Setiap masalah itu pasti ada jalan keluarnya

Lantas apakah itu wahai eyang guru?” Tanya Avanur.

Jika engkau mendapati keadaan yang disebutkan tadi, maka segeralah bertobat. Baik engkau bersalah atau tidak, tetaplah bertobat hanya kepada-NYA. Bersikaplah rendah hati, pandai bersyukur, dan selalu berserah diri hanya kepada Yang Ilahi. Ikutilah setiap hukum dan aturan-NYA. Dan jika mampu, maka peringatkanlah mereka-mereka yang tersesat hidupnya itu dengan cara yang baik. Jangan pernah memaksa ataupun berkata kasar, karena hal itu akan merugikan dirimu sendiri. Tetaplah engkau bersabar, dan jika tidak ada lagi yang peduli dengan ajakanmu maka menyingkirlah. Pergilah dengan mengajak siapapun yang bersedia mengikutimu” Jawab sang Begawan.

Dan setelah mengatakan itu sang Begawan pun berhenti sejenak untuk memberikan waktu agar Avanur lebih memahaminya. Setelah dirasa cukup, beliau pun kembali menyampaikan nasehatnya:

Karena itulah anakku. Disaat engkau menemukan hal-hal yang buruk, maka seringlah berdoa kepada-NYA dengan mengucapkan: “Ya Tuhan, Sang Penguasa alam raya. ENGKAU-lah Yang Esa dan Maha Kuasa. Sudah sepatutnya kami merasa malu karena dosa-dosa kami selama ini. Sebagaimana yang ENGKAU lihat, kami tidak lagi mendengarkan hamba-hamba-MU, para Nabi yang telah ENGKAU utus berkali-kali untuk menyampaikan pesan dan nasihat-MU. Kami telah melupakan apa-apa yang disampaikan oleh para kekasih-MU kepada nenek moyang kami dari golongan raja-raja, bangsawan, pembesar-pembesar, dan seluruh rakyatnya. Kami pun sering memberontak terhadap-MU dan menghina hukum dan aturan-MU dengan sering berbuat kebodohan. Tapi ENGKAU terus mengasihi kami, meskipun kami telah meremehkan ketentuan yang ENGKAU berikan kepada kami melalui para utusan-MU itu.

Wahai DZAT yang tiada bandingannya. ENGKAU-lah Sang Maha Adil dalam segala kehendak-MU, tetapi kami sering lalai dalam menaatinya. Ampunilah kami atas semua itu dengan menjauhkan murka-MU. Dan sekiranya kemurahan-MU masih ada untuk kami, maka dengarkanlah permohonan ini. Biarlah cahaya-MU memancar di dalam hati kami dan negeri-negeri kami. Jadikan kami sebagai hamba yang bisa kembali lagi kehadirat-MU. Bukan karena kami benar atau layak mendapatkannya, melainkan karena ENGKAU begitu Pengasih sekalipun dosa kami sangatlah besar.

Mendengarkan apa yang disampaikan oleh leluhurnya itu, Avanur sampai menangis tersedu-sedu. “Semoga ada ampunan-NYA untukku. Semoga diri ini mendapatkan keridhoan-NYA“, begitulah kata-kata yang terucap berulang kali dari mulutnya.

Singkat cerita, ada sebuah negeri yang sangat makmur namun kehidupan kaumnya tengah berada dalam kekacauan. Namanya adalah Pusila. Dan di sana terjadi banyak kesesatan, karena raja dan para pembesarnya senang dengan hal-hal yang negatif meskipun tidak terang-terangan. Mereka berbuat dosa tetapi merasa tak berdosa, melakukan kejahilan pun dengan sikap yang bangga.

Ya, dimana-dimana telah terjadi penyimpangan yang di lakukan secara terbuka maupun tertutup. Tanpa merasa malu, penduduk negeri itu telah melakukan perbuatan yang seharusnya tidak di lakukan oleh makhluk yang bernama manusia, seperti berzina, curang, riba, dusta, zalim, durhaka, serakah, dll. Mereka sebenarnya tahu akan adanya akherat, surga dan neraka. Tapi mereka tetap saja tak peduli dengan apa yang mereka lakukan di atas dunia ini. Masalah halal dan haram tak ada urusan, karena yang penting bagi mereka hanyalah bisa menikmati dunia ini sepuasnya. Terus seperti itu, sehingga membuat negerinya semakin kacau balau meskipun terlihat nyaman.

Catatan: Negeri Pusila itu berada di seputar kawasan Nusantara sekarang. Tentang detail lokasinya tidak bisa kami sampaikan disini. Maaf.

Nah, informasi tentang kekacauan di negeri Pusila akhirnya sampai juga ke telinga Avanur yang tinggal di kota Hilius. Itu terjadi selang tujuh hari setelah ia bertemu dengan Begawan Hadiyapala di tepian sungai Muris. Dan sang pemuda langsung paham bahwa inilah maksud sebenarnya dari sang Begawan, bahwa ia harus berdakwah kepada kaum Pusila agar mereka kembali ke jalan yang benar. Hanya saja itu tidak berhasil, karena mereka tidak peduli lagi dengan ajakan kebajikan. Hati mereka telah beku oleh kegelapan. Meskipun tidak terang-terangan, penolakan terhadap ajaran kebenaran yang dibawa oleh Avanur terus terjadi. Mereka benar-benar tak peduli lagi. Hanya segelintir orang saja yang percaya dan bersedia mengikuti sang pemuda ketika ia hendak pergi menjauh dari kota Pusila.

Dan tujuan kepergian Avanur dari kota Pusila saat itu adalah karena akan datang waktunya bagi negeri tersebut harus menerima azab Tuhan. Diawali dengan bencana kekeringan selama 3 tahun yang menyebabkan banyak orang mati kelaparan. Setelah itu, turun hujan badai yang sangat deras selama 7 hari 7 malam tanpa henti. Ini menyebabkan banyak tempat yang dilanda banjir dan terus memakan banyak korban jiwa. Selanjutnya ada waktu jeda dimana kondisi alam sangat bersahabat alias tidak ada lagi bencana apapun selama 2 tahun. Karena itulah mereka bisa bercocok tanam lagi dan hasilnya berlimpah. Kehidupan di negeri kaum Pusila menjadi normal kembali dan makmur.

Tapi ini tidak lantas membuat kaum Pusila, terutama para pembesar negerinya bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Mereka tetap saja melakukan perbuatan yang tercela dan sangat menjijikkan. Karena itu maka datanglah musim dingin yang belum pernah terjadi selama 100 hari. Hal ini jelas menimbulkan banyak penderitaan dan kematian. Namun sekali lagi tak mengubah keadaan penduduk negeri Pusila. Terlebih ada masa jeda lagi selama 30 hari, dimana keadaan negerinya kembali normal tanpa adanya bencana apapun. Semuanya terasa tenang dan orang-orang sangat berbahagia. Tak ada lagi penderitaan seperti yang terjadi sebelumnya.

Sampai pada akhirnya, dikarenakan penduduk negeri Pusila tidak juga sadar diri dan mau kembali ke jalan yang benar, maka datanglah azab yang sangat mengerikan. Hanya dalam waktu beberapa detik saja kota besar itu hancur berantakan oleh gempa yang dahsyat. Setelah itu, daratan tempat mereka tinggal langsung bergulung-gulung, terbelah-belah, terbolak-balik, dan akhirnya tenggelam dalam waktu singkat. Cekungan yang ada di bekas kota tersebut lalu mengeluarkan air yang begitu deras dan akhirnya menjadi danau yang sangat luas. Tidak ada yang selamat dalam azab itu. Dan semua peristiwanya berlangsung hanya dalam waktu tidak lebih dari tiga jam saja. Sungguh mengerikan.

Adapun Avanur dan para pengikutnya berhasil lolos dari azab itu bahkan sebelum rentetan bencana besarnya mulai terjadi. Mereka mengikuti sang pemuda untuk pergi ke kota Hilius dan akhirnya tinggal disana bersama dengan orang-orang yang beriman lainnya. Dan baru tahu bahwa Avanur yang mereka kenal itu adalah pemimpin tertinggi di kota tersebut. Sungguh pribadi yang rendah hati dan tak butuh pencitraan.

6. Membangun negeri Sinura
Setelah lama berjuang dan kondisi di seputar kawasan Halsaniwa sudah kembali tenang dan damai. Maka sesuai dengan petunjuk yang telah didapatkan akhirnya Avanur memutuskan untuk pergi meninggalkan kota Hilius. Tujuannya adalah untuk bisa membangun negerinya sendiri yang dinamakan Sinura. Nama ini berasal dari kata “Sinu” yang diambil dari nama lembah tempat keberadaanya, dan “Nura” yang berarti cahaya terang. Adapun kata “Sinu” dalam bahasa mereka berarti tempat (negeri) yang indah. Sehingga jika digabungkan dengan kata “Nura” akan bermakna tempat (negeri) yang indah dan bercahaya terang.

Ya. Sinura adalah negeri yang indah permai. Meskipun ibukotanya berada pada bidang yang datar dan sedikit berbukit, namun di sebelah utaranya terdapat dataran tinggi yang dinamakan Wulmah. Dataran itu membentang sejauh 670-an kilometer dari timur ke barat. Wilayahnya terdiri dari padang rumput dan hutan Cura (semacam pohon pinus) raksasa. Lereng-lerengnya melandai, tapi sedikit menukik dibeberapa bagiannya dan kemudian menanjak ke bentangan tanah bebatuan yang lebih tinggi. Pada bagian bawahnya, terdapat lembah yang dipenuhi oleh rerumputan hijau dan semak perdu yang menghasilkan banyak buah-buahan semacam berry dan murbei. Selain itu, ada banyak pula mata air dan telaga yang menjadi tempat hewan-hewan berkumpul untuk minum. Sungguh menambah keindahannya.

Adapun ibukota dari negeri Sinura yang bernama Anefrat itu berada di kedua sisi sungai Muris yang melegenda dan banyak disebutkan dalam nyanyian. Sungai itu berhulu di pegunungan Edom lalu menyusuri lereng disisi timur dan menukik masuk melewati celah sempit Aradun. Dari sana terus mengalir sejauh 2.300-an kilometer melintasi beberapa negeri yang ada dengan ukuran yang semakin besar. Setelah melewati negeri Oyaka, sungai Muris itu lalu mengalir ke lembah Ultang dan mengumpulkan air dari sungai-sungai yang lebih kecil. Terus mengalir dan kian membesar sampai akhirnya melewati lembah dan padang rumput Sinu, tempat dimana ibukota kerajaan Sinura berada.

Dari sana, sungai Muris tetap mengalir sejauh 8.600-an kilometer ke arah barat daya dan akhirnya bermuara di teluk Dalarus di sebelah barat Halsaniwa. Namun demikian, beberapa ratus kilometer sebelum bermuara di teluk Dalarus, sungai Muris ini bercabang dua. Satu cabang langsung menuju ke teluk Dalarus, sementara yang lainnya mengalir ke selatan lalu berkelok ke arah timur sejauh 3.000-an kilometer sebelum akhirnya bertemu dengan sungai-sungai lain yang berukuran lebih kecil di dataran Krosan. Gabungan dari sungai-sungai itu lalu disebut dengan Muriyan, yang ukurannya jauh lebih besar dari sungai Muris. Sungai raksasa itu mengalir terus ke arah timur sejauh 5.700-an kilometer dan berkelok ke selatan sampai akhirnya bermuara di Samudera Haragtin.

Tentang kondisi ibukota Anefrat-nya sungguh menakjubkan. Semuanya dibangun oleh tangan-tangan manusia terampil dan sebagian lainnya dibantu oleh makhluk lain dari golongan bangsa Jin dan Peri. Bahan baku untuk setiap gedung utamanya pun adalah yang terbaik dan sangat tahan lama. Ada banyak batu granit, marmer, giok, dan pualam yang dijadikan sebagai lantai, dinding atau pilar-pilar gedungnya. Tak ketinggalan pula logam mulia seperti emas, perak dan ossal (berwarna seperti tembaga tetapi bukan tembaga) juga banyak digunakan sebagai hiasan, bahkan untuk atap bangunan. Dan tentunya ada banyak pula batu permata yang berwarna-warni (safir, merah delima, ruby, zamrud, kalimaya, intan, yakut, krisopras, sardis, krisolite, dll) yang dijadikan sebagai pemanis bentuk ornamen dan relief-relief yang ada. Maklumlah ada banyak ukiran pada setiap dinding bangunan di sana, terutama istananya, yang menggunakan batu-batu permata itu sebagai pelengkap dalam pembuatan detail mozaiknya. Sungguh indah dan luar biasa.

Tak ketinggalan pula taman-taman bunga dan buah-buahan juga ada di sana, di beberapa sudut kota. Semuanya diperuntukkan bagi penduduk negeri untuk bisa menghilangkan penat atau sekedar menikmati kebersamaan dengan keluarganya. Di taman-taman itu, di dalamnya terdapat pula kolam ikan hias dan air mancur yang dirancang dengan sangat indah. Begitu pula dengan bangunan besar mirip piramida yang berwarna putih ada di sana. Bentuknya beragam, dan lebih seperti candi-candi yang ada di Jawa pada masa sekarang – khususnya Candi Borobudur dan Prambanan. Bangunan itu tidak untuk sarana ibadah, melainkan hanya sebagai monumen dan pemanis tamannya saja. Siapapun boleh memasuki atau menaikinya, karena memang itulah di antara tujuannya.

Selain itu, ada banyak pula patung berukuran besar yang terbuat dari emas, perak, ossal, dan batu pilihan (marmer, pualam, giok) di kota tersebut. Semuanya dibentuk dengan sangat detail dan menyerupai wujud aslinya. Adapun tujuannya hanya sebatas karya seni yang menghiasi kota. Ada banyak pula tugu batu warna putih yang pada bagian bawahnya selalu dipahatkan ke 10 pasal hukum dasar negara Sinura. Tujuannya sebagai pengingat bagi semua warganya tentang hak dan kewajibannya. Sedangkan untuk pengingat waktunya atau yang dalam bahasa mereka disebut mukta, maka telah dibangun menara jam yang menjulang tinggi di beberapa sudut kota. Jika bahan bangunannya terbuat dari batu marmer putih, maka khusus untuk jamnya sendiri terbuat dari emas dan perak. Jam raksasa ini pun selalu berbunyi pada setiap waktunya. Hanya saja tidak seperti kita sekarang yang terdiri dari 12 jam saja dalam satu putarannya, alias jumlahnya benar-benar terdiri dari 24 jam.

Mengenai cara membangun seisi kotanya, maka apapun yang ada di sana telah dibangun dengan cara yang ilmiah alias menggunakan berbagai peralatan tukang standar manusia seperti gergaji, palu, pahat, ketam/sugu, katrol, dan lainnya. Sebagian alat-alat itu digerakkan dengan cara manual dan sebagian lainnya lagi justru sudah menggunakan teknologi yang canggih (bermesin). Sedangkan beberapa gedung yang lain, seperti halnya istana raja, justru dibangun dengan cara metafisika oleh bangsa Jin dan Peri. Disini tentulah hasilnya sangat indah, lebih detail dan begitu rumit. Hal yang tak bisa di lakukan oleh para arsitek dan tukang bangunan dari kalangan manusia biasa.

Catatan: Semua kejadian yang tidak biasa, bahkan tak masuk akal mengenai pembangunan gedung-gedung di kota Anefrat – dalam hal ini yang dikerjakan oleh bangsa Jin dan Peri – itu bisa terjadi lantaran kewibawaaan dan kemampuan yang dimiliki oleh sang pemimpin negeri Sinura, yaitu Avanur. Atas izin dari Tuhan dan dengan bekal ilmu yang mumpuni, beliau dapat meminta bangsa Jin dan Peri untuk membangunkan gedung-gedung yang sangat indah dan megah. Dan semuanya itu tentulah hanya atas petunjuk yang telah didapatkan sebelumnya, bukan cuma karena hasrat keinginan diri sendiri.

7. Kehidupan penduduk
Secara fisik, mereka yang tinggal di negeri Sinura memiliki ukuran tubuh yang standar pada masanya. Rata-rata tinggi mereka saat itu adalah 7-8 meter, dengan umur yang berkisar antara 350-600 tahun, bahkan ada yang bisa mencapai seribu tahun lebih karena rajin ber-tapa brata. Lalu tentang bagaimana ciri fisik atau ras mereka tidak bisa kami jelaskan disini, karena ada protap yang harus diikuti. Maaf.

Lalu tentang model busananya, maka penduduk Sinura telah mengenakan baju serba panjang mirip gambaran pakaian orang Yunani atau Romawi kuno. Hanya saja tidak ada yang berbahan dasar kain transparan ataupun yang terbuka-buka, alias menutupi aurat, terutama bagi yang wanitanya. Mereka juga mengenakan berbagai perhiasan dari bahan logam mulia dan batu permata yang indah. Semuanya dibentuk dengan sangat rapi dan halus, penuh cita rasa seni yang tinggi. Dan tentunya mereka sudah mengenakan sepatu, sandal, dan bermacam bentuk penutup kepala. Semuanya terbuat dari bahan kain, kulit hewan, kayu, dan anyaman tumbuhan (semacam rotan, bambu, atau resam).

Mengenai kondisi peradabannya, maka siapapun yang tinggal di negeri Sinura telah hidup dalam keseimbangan dan keharmonisan. Semua kebutuhan hidup sudah terpenuhi dengan baik, dan mereka juga suka berbagi. Bahkan ada kebiasaan yang rutin di lakukan pada setiap 15 hari sekali. Dimana mereka akan meletakkan apapun yang bermanfaat (makanan, minuman, hasil kebun, perkakas, perabotan kecil, karya seni, dll) di halaman depan rumahnya – di sebuah bangunan atau pondok kecil – untuk diberikan secara gratis kepada siapapun yang mau. Disini tidak berarti masih ada orang yang tidak mampu (fakir, miskin) di negerinya, tetapi lebih kepada sifat mereka yang memang senang berbagi sejak kecil.

Sedangkan pada setiap 45 hari sekali biasanya akan ada acara makan bersama yang diselenggarakan di balai pertemuan atau alun-alun desa. Jadi setiap keluarga yang ada akan membawa makanan dan minuman untuk di santap bersama-sama dengan warga yang lainnya. Mereka saling berbagi dan bertukar makanan dan minuman – terkadang sampai oleh-olehnya juga. Disini akan terjadi obrolan yang hangat di antara sesama warganya, ada pula tawa candanya, yang bertujuan untuk tetap mengikat hubungan silaturahmi di antara mereka. Sungguh indah dan membahagiakan.

Adapun mengenai sistem pemerintahannya adalah kerajaan (monarki) namun tidak dalam bentuk yang absolut. Artinya, jabatan raja tidak diwariskan langsung dari orang tua kepada anaknya. Karena siapapun berhak menjadi raja asalkan ia memenuhi syarat yang telah ditetapkan – tentunya ini tidak mudah dan hanya orang terbaik saja yang bisa. Terlebih lagi ia pun harus mampu memegang dan menggunakan setiap pusaka kerajaan dengan sempurna. Benda pusaka tersebut adalah pedang, tongkat kepemimpinan, dan kitab ilmu pengetahuan. Ketiganya berasal dari Langit dan diterima oleh sang pendiri kerajaan, yaitu Avanur, ketika ia masih berada di negeri Dilheim. Nabi Syis AS adalah sosok yang memberikannya sebagai bekal perjuangan dan pada akhirnya menjadi pusaka utama dalam kerajaan Sinura. Siapapun yang tidak mampu memegang dan menggunakannya dengan sempurna, maka ia takkan layak menjadi pemimpin tertinggi di negara tersebut. Ia tidak akan bisa, bahkan hanya sekedar untuk memerintah selama tiga hari.

Lalu, tentang bagaimana sistem pendidikan yang ada di sana tidak perlu lagi diragukan. Karena mereka sangat perhatian (fokus) dalam hal ini, sehingga dari sejak awal berdirinya negara Sinura sudah ada dan berkelas. Makanya terdapat komplek sekolah yang sangat mewah, yang dalam bahasa mereka disebut amudras. Komplek pendidikan ini dikelola langsung oleh pemerintah melalui pihak Sula Qurana (kementerian pendidikan dan penelitian) dan diberikan secara gratis kepada semua warganya.

Jadi, setiap murid yang menempuh pendidikan di sana (amudras) akan mendapatkan dua jenis pelajaran sekaligus; yang bersifat ilmiah dan batiniah. Proses belajar dan mengajarnya pun ada dua macam, yaitu didalam kelas (indoor) dan diluar kelas (outdoor). Pun ada teori dan prakteknya langsung, yang diatur sedemikian rupa oleh setiap pihak sekolah. Mengapa di setiap pihak sekolah saja, tidak merata di semua sekolah (skala nasional)? Lantaran di setiap tempat atau daerahnya akan memiliki perbedaan karakter dan tidak bisa disamaratakan dengan yang ada di tempat lain. Seperti kata pepatah lama bahwa “Lain padang maka lain pula ilalangnya. Lain lubuk akan lain juga ikannya“. Sehingga yang menentukan lulus atau tidaknya seorang murid itu adalah guru dan pihak sekolahnya sendiri. Pemerintah hanya sebatas memberikan fasilitas dan pendukung kebijakannya saja. Karena itulah mereka bisa menjadi sosok pribadi yang cerdas dan tetap seimbang dalam hidupnya.

Catatan: Pada waktu-waktu tertentu, para siswa wajib mengikuti pendidikan khusus yang diselenggarakan oleh pihak sekolah tapi tidak lagi di seputaran amudras. Ada semacam padepokan yang dipimpin oleh seorang guru bijak (Begawan) yang tersohor. Di sanalah setiap muridnya akan mendapatkan pelajaran tentang ilmu yang non ilmiah (kanuragan, kadigdayan, spiritual, dll). Siapapun harus lulus dari padepokan itu sebagai syarat untuk bisa lulus pula di amudras.

Selain itu, ada semacam kompetisi tiga tahun sekali yang rutin dilaksanakan bagi semua amudras di seluruh wilayah negara Sinura. Jadi setiap murid terbaik dari sekolahnya harus mengikuti kejuaraan resmi diberbagai bidang keilmuan, yang ilmiah dan batiniah. Negara yang memfasilitasinya, dan siapapun murid atau tim yang menang akan mengangkat tinggi kedudukan dari almamaternya. Adapun tujuan dari kompetisi yang disebut Winlar ini adalah agar para siswa dan sekolahnya termotivasi untuk terus maju dan berkarya cipta. Dalam hal ini kejuaraan Winlar bisa pula menjadi standar untuk mengetahui perkembangan dunia pendidikan di negara Sinura, sekaligus untuk bisa menentukan mana yang terbaik di antara mereka semua.

8. Akhir kisah
Seratus lima puluh tahun lebih waktu berlalu sejak berdirinya negera Sinura. Selama itu, keadaan dunia tetap aman dan selalu dikontrol dari pusat kota Anefrat. Siapapun yang berbuat zalim dan keonaran segera mendapatkan hukuman yang setimpal. Pasukan khusus yang dibentuk oleh Avanur tetap bersiaga jika seandainya pertempuran harus terjadi. Dan selama kiprahnya di medan perang tak pernah bisa dikalahkan. Selalu menang dan menjadi ancaman yang mengerikan bagi siapapun musuhnya.

Namun dalam hal ini negara Sinura bukanlah penakluk, penguasa, ataupun sebagai kekaisaran dunia. Semua kerajaan yang pernah dikalahkannya tidak lantas dikuasai sepenuhnya. Mereka tetap merdeka dan berhak untuk menentukan nasibnya sendiri atau dipersilahkan untuk mengikuti sistem ketatanegaraan yang ada di negera Sinura jika memang dirasa cocok. Hanya rezim yang berkuasa dengan keliru saja (tirani, zalim, biadap, korup, ngawur) yang ditumbangkan. Karena itulah keberadaan negera Sinura lebih seperti hakim dan sekaligus sesepuh yang bisa dimintai saran dan bantuannya. Negara ini tidak memiliki wilayah yang sangat luas, namun demikian kedudukannya sangatlah tinggi dimata kerajaan-kerajaan yang ada, khususnya di seluruh kawasan Halsaniwa.

Adapun tentang para pemimpin di negeri Sinura terus berlanjut setelah Avanur mengundurkan diri – lantaran beliau harus menjauhi keduniawian dengan menjadi seorang Begawan. Ada sebanyak 47 orang yang pernah menjadi penggantinya, dan mereka itu adalah sosok yang bijaksana dan sangat berwibawa. Serah terima jabatan pun selalu dalam kondisi yang aman dan terkendali. Tak pernah ada masalah, apalagi sampai terjadi kudeta dan pertumpahan darah. Sedangkan masa jabatan mereka itu rata-rata selama 150-170-an tahun. Karena itulah negara Sinura mampu berdiri selama 7.000 tahun lebih. Setelah itu, sebenarnya kerajaan ini tidak runtuh oleh perang ataupun bencana. Melainkan telah berpindah ke Dimensi yang lain atas izin Tuhan.

Catatan: Tentang pasangannya, maka sang pendiri negara Sinura itu akhirnya menikahi seorang wanita yang merupakan anak dari Raja Ajanaya (penguasa kerajaan Baldhan). Sosok tersebut sangat cantik, elegan, dan istimewa. Pertemuan mereka bahkan terjadi di medan perang, ketika harus menghadapi pasukan dari kerajaan Motesala yang ingin merebut kembali kota Hilius. Ternyata, sang putri yang bernama Nasiya itu adalah seorang komandan divisi yang ikut dalam rombongan pasukan Raja Ajayana. Benih cinta itu muncul dengan sendirinya. Dan semakin kuat setelah berulang kali berada di dalam pertempuran yang sama.

Suatu hari, dihadapan mereka yang berkumpul di halaman istana, sang pendiri negara Sinura, yaitu Begawan Avanur, tiba-tiba muncul dari alam keabadian – karena pada saat itu beliau sudah lama moksa. Ia sengaja datang untuk menyampaikan wasiat kepada mereka yang akan pergi menjalankan tugas. Dengan tatapan yang sejuk dan berwibawa, sang Begawan pun berkata:

Wa asiya. Sukamarun hanartete kaluhi yau deratmu hantra bhumiyasa. Damhana anarikayah sahur yajanami jayahidana ungtala falwa hasratin. Mayonal sesarutma dafurwa gasulas dims Aryasyi, Martayasyi, Galatasyi, Malkatasyi, Nilbati, Wujudasyi, Ramatasyi, Gulatasyi, Samsyi, Palatasyi, Guriyasyi, Yumayasyi, Lukanasyi, Sujudani as alanye massan ahsijum. Mosarah armanut diyahi lasami naha Sri Maharaja Arupadanila Hyang Srigaya Aslahiyamusya diratubaya nihasari makiratarun yajah lamudrate urtaha.

Akari yana hatena lajakis Manusyi balha namuhiya tahla Hyang Aruta namijas asahi. Mora danhata kasibaya nekal atarin bachala hadiram taturaga na 101-325-7587-489-110 amuwal jabaruh. Hasa irtana basarin kersana yuwan maliyata 1367892450 nan hatrawina. Maktesila Ardhiya an Syamsuwit nakazena gari yasata lamudayah. Lakena saikena yahanul Manusyi, Jine, Pri, Cinture, Kridasye, Mahres, Devan, Bhati, Dihyang, Walluha, Birmanu, Maltasi, Rihasa, Sihara, Nura, Himasya, Ainur, Arnu, Nurrataya, Syilha, Kalsun, Mighal, Zenara, Rastu, Hismal, Malaik, Tsin, Nagi, Hwan, Tamta, as alanye. Eljayo besatur naketan sayamede likam amilat talur falwa. Dalman tabura najimaya kenala jihasta nenakali sabruras ednati yasuwale

Demikianlah apa yang disampaikan oleh sang Begawan kepada semua yang ada, khususnya bagi mereka yang bertugas untuk melanjutkan kisah kehidupan kaumnya di tempat lain. Sedangkan untuk mereka yang tetap tinggal di kota Anefrat, diberikan petunjuk bahwa sudah waktunya bagi penduduk negeri tersebut untuk berpindah ke Dimensi lain. Maka dari itu, siapapun yang berkenan diharuskan berpuasa selama 40 hari dan memperbanyak semedhi. Di hari yang ke 41 atau 42 atau 43, itulah waktunya kepindahan bagi mereka.

Dan benar adanya, pada hari yang ke 43 negeri Sinura dan mereka yang tinggal di dalamnya – dengan catatan sudah berpuasa selama 40 hari – kemudian menghilang, alias berpindah ke Dimensi lain. Sejak saat itu mereka hidup di sana dalam suasana yang lebih berbahagia lagi. Sesekali ada dari mereka itu yang muncul ke alam nyata dunia ini, dan itu sekedar untuk menasehati atau memberikan bimbingan. Biasanya untuk para kesatria yang terpilih.

Sementara itu, trah dari para pemimpin di negeri Sinura, khususnya dari garis silsilah Begawan Avanur tetaplah berlanjut. Mereka itu berasal dari orang-orang yang ditugaskan untuk mendirikan peradaban yang baru di tempat lain. Dan setelah 50 tahun sejak meninggalkan kota Anefrat, maka itu semua bisa terwujud dengan berdirinya kerajaan Alharima. Demikianlah seterusnya dari zaman ke zaman. Dan siapapun yang menjadi pewaris dari sang pendiri kerajaan Sinura akan mempunyai ciri khasnya, baik dalam fisik maupun keilmuannya. Jika ia terpilih, maka cepat atau lambat akan menjadi pemimpin besar.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Mugia Rahayu Sagung Dumadi.. 🙏

Jambi, 13 Februari 2020
Harunata-Ra

Catatan akhir:
1. Seperti pada tulisan sebelumnya, maka silahkan Anda percaya atau tidak percaya dengan keterangan ini. Tugas kami hanya sebatas menyampaikan dan mengingatkan saja.
2. Banyak hal yang tidak dijelaskan tentang kisah di atas, ini lantaran ada protap yang harus diikuti. Dan jangan menyamakan standar kehidupan di masa lalu dengan sekarang, karena sangat jauh berbeda.
3. Teruslah mempersiapkan diri, karena apa yang terjadi pada masa muda kehidupan Begawan Avanur itu bisa saja akan terulang lagi di masa kini. Tidak ada yang tidak mungkin, terlebih sekarang kita sudah memasuki akhir zaman ke tujuh (Rupanta-Ra). Tanda-tanda alam pun sudah semakin jelas. Tetap eling lan waspodo.

Bonus Instrumental:

20 respons untuk ‘Sinura : Negeri Yang Tertinggi

    Genarasi terakhir BPK ADAM said:
    Maret 2, 2020 pukul 8:02 pm

    Terima kasih untuk kisah yg sangat luar biasa ini bang ….
    Ngeri dn merinding sampe ulasan tentang negeri PUSILA …mirip dn pas dngn Jakarta dn mayoritas petinggi dn yg lainnya

      Harunata-Ra responded:
      Maret 3, 2020 pukul 8:17 am

      Iya sama2lah.. Terima kasih juga masih mau berkunjung.. Semoga ttp bermanfaat.. 😊🙏

      Ya begitulah kaum Pusila yg akhirnya musnah kena azab.. Tidak menutup kemungkinan di zaman skr akan terulang kembali.. Mengingat kerusakan akhlak semakin parah..

        Genarasi terakhir BPK ADAM said:
        Maret 3, 2020 pukul 4:30 pm

        Iya bang sama2 dn akan sllu bermanfaat buat sy …

        Smg kita semua diselamatkan olehnya .. aaaaamiinn

        Harunata-Ra responded:
        Maret 4, 2020 pukul 3:18 am

        Okelah kalo gitu.. Aamiin ya Robb, semoga kita selamat dan atau diselamatkan nanti.. 🙂

    Genarasi terakhir BPK ADAM said:
    Maret 3, 2020 pukul 1:28 am

    Mnyebut nm AVANUR serasa sdh sering bertemu dn berkomunikasi dngn beliau …
    Dn kehidupan nya sangat mirip dengan seseorang ……….???????

      Harunata-Ra responded:
      Maret 3, 2020 pukul 8:18 am

      Oh ya? Siapa tuh?

    guntur satria putra support rt said:
    Maret 3, 2020 pukul 8:01 am

    Mas tanya dong kalo Lemuria Atlantis itu semasa zaman apa ya ? Nusanta Ra atau Rupanta Ra gitu ? terima kasih

      Harunata-Ra responded:
      Maret 3, 2020 pukul 8:21 am

      Hmm karena ada protap, jadi pertanyaan masnya gak bisa saya jawab.. Maaf

      Tapi sedikit saya jelaskan bahwa kedua bangsa itu hidup dlm satu periode zaman tetapi mrk tidak sezaman, alias beda waktunya..

        guntur satria putra support rt said:
        Maret 3, 2020 pukul 9:43 am

        kalo benar lemuria 75.000 thn silam dan atlantis 13.000 tahun silam harusnya diakhir periode waktu Nusanta-Ra mungkin

        Harunata-Ra responded:
        Maret 3, 2020 pukul 10:20 am

        Ya kalo menurut pendapat yg umum sih begitu.. Tapi sekali lagi maaf karena saya gak bisa komentar lebih detail lagi..

        guntur satria putra support rt said:
        Maret 3, 2020 pukul 9:47 am

        kalo gitu mau tanya lagi mas udi..apa benar leluhur orang atlantis itu masih serumpun dengan Kaum Ad Umat Nabi Hud AS

        Harunata-Ra responded:
        Maret 3, 2020 pukul 10:23 am

        Kalo dari hasil penelusuran dan penelitian kami, maka tak ada hubungannya malah.. Kaum Ad itu hidup di periode zaman yg berbeda dg Atlantis.. Jadi gak mungkin serumpun..

    guntur satria putra support rt said:
    Maret 3, 2020 pukul 8:19 am

    aku selalu penasaran cara mas udi dapat kisah ini bagaimana

      guntur satria putra support rt said:
      Maret 4, 2020 pukul 2:56 am

      makasih mas udi

        Harunata-Ra responded:
        Maret 4, 2020 pukul 3:18 am

        Iya sama2lah mas.. 🙂

    Pelang said:
    Maret 11, 2020 pukul 2:29 am

    Alhamdulillah terima kasih .. energi nya terasa banget

      Harunata-Ra responded:
      Maret 11, 2020 pukul 5:55 am

      Iya sama2lah… terima kasih juga udah baca.. semoga bermanfaat.. 🙂
      Hmm btw energi apa tuh?

    nesya said:
    Maret 12, 2020 pukul 2:41 am

    maaf ini dongeng/fiksi atau bagaimana ya ? karena tdk ada referensinya

      Harunata-Ra responded:
      Maret 12, 2020 pukul 4:35 am

      Hmm.. coba baca semua tulisan ini dg tenang, teliti, dan terurut, jg dilompat-lompat… Dan silahkan baca juga di bagian paling bawah tulisan ini, di bagian catatan akhir-nya, karena ada keterangan pentingnya… Trus silahkan baca juga kisah2 yg lain sblm tulisan ini biar lebih paham… Kalo masih kurang puas, maka abaikan saja deh tulisan ini, gak perlu ambil pusing.. ok 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s