Menuju Keheningan

Posted on

Wahai saudaraku. Terkadang kita sulit untuk menentukan keinginan diri sendiri karena terpengaruh oleh anggapan dan pemahaman orang lain. Semuanya terjadi lantaran kita telah jarang berdiskusi dengan diri kita sendiri, bahkan mungkin tak pernah sama sekali. Dan itu bisa dibuktikan dengan tidak rajinnya kita dalam ber-muhasabah (introspeksi diri), tadabbur (menambah ilmu pengetahuan), dan tafakur (merenung, meditasi, semedhi). Sebab, orang yang rajin melakukan ketiganya itu akan terbimbing jalan hidupnya. Ia pun dapat berbuat yang sesuai dengan kebenaran sejati.

Ya. Apapun itu berawal dari keinginan yang mengendalikan tindakan. Tapi ini hanyalah satu tahapan, karena tahapan selanjutnya adalah justru meniadakan keinginan. Yaitu menyerahkan diri sepenuhnya pada setiap kehendak dari Hyang Aruta (Tuhan YME). Tanpa pamrih dan tedeng aling-aling, apapun yang di lakukan hanya dari dan untuk-NYA saja. Hingga pada akhirnya tak ada apa-apa lagi kecuali DIRI-NYA.

Namun kenyataannya ada banyak keinginan yang dimiliki oleh Manusia, sebagiannya bersifat baik dan sebagian lainnya lagi buruk. Semuanya telah mengambil peranan yang sangat penting dalam kehidupan, bahkan mengendalikan sepenuhnya. Padahal sebenarnya cuma ada satu yang terbaik, yaitu keinginan dalam mencapai keheningan yang suci.

Dan keheningan yang dimaksudkan di sini adalah bukan sesuatu yang tidak ada apa-apanya, karena justru sangat ADA dan begitu luar biasa. Begitu “ramainya”, hingga memenuhi segala Ruang dan Waktu, Alam dan Dimensi, Kenyataan dan Ilusi, Tampak dan Goib. Dan itulah tujuan yang harus dicapai untuk meraih kemerdekaan yang hakiki.

Dari keheningan lalu kembali kepada keheningan adalah tujuan pertama hidup kita.
Ada yang lain, tapi belum saatnya ku ceritakan sekarang.

Sungguh indah dan membahagiakannya apa yang ada di dalam keheningan itu. Sungguh istimewa dan menakjubkannya pula hal-hal yang terkandung di sana. Hanya bagi yang telah bebas-merdeka (pikiran dan hatinya) sajalah yang bisa mengapainya. Yaitu pribadi yang telah melepaskan dirinya dari segala bentuk ikatan duniawi. Pun yang bisa menghilangkan ke-aku-an dirinya karena telah menyadari tentang ke-Esaan-NYA.

Dan sangat beruntungnya ketika berhasil mencapai keheningan meskipun tak dikenali, atau tidak mendapatkan posisi apapun, atau tidak dianggap dan menjadi bahan cemoohan orang lain. Karena arti dari keheningan itu sendiri adalah meniadakan yang lain kecuali DIRI-NYA. Sehingga tak ada lagi rasa dan keinginan selain menuju kepada-NYA saja. DIA-lah segala pelipur hati dan kebahagiaan jiwa yang tak pernah mengecewakan. Yang begitu nikmatnya ketika bisa berdua-duaan saja dengan-NYA.

Untuk itulah diperlukan kesadaran diri yang mendalam. Caranya tentu dengan terlebih dulu mengenali siapakah diri sendiri. Caranya adalah dengan rajin ber-muhasabah (introspeksi diri), tadabbur (menambah ilmu pengetahuan), dan tafakur (merenung, meditasi, semedhi). Tanpa ketiganya itu, niscaya takkan ada yang namanya kesadaran diri. Sebab kesadaran diri itu berasal dari dalam diri sendiri, diperjuangkan sendiri, dan dirasakan sendiri tanpa ada hubungannya dengan anggapan atau pun katanya orang lain.

Pun, tak lagi memikirkan tentang kemuliaan, kehormatan, dan keagungan, lantaran sudah puas dengan kehinaan dan keterbatasan diri sendiri (tawakal : berserah diri). Tidak hanya senang dalam hal kebajikan, karena lebih menyukai ketika tidak memikirkan tentang kebajikan itu lagi. Hanya melakukannya saja, tanpa perlu lagi memikirkan apapun niat dan tujuannya, apapun hasil dan manfaatnya. Kebebasan dan kemerdekaan dirilah yang selalu dipertahankan dengan cara yang sungguh-sungguh. Karena hanya dengan begitulah keheningan yang suci bisa dirasakan demi mencapai kedamaian yang sejati.

Keheningan itu sangat erat kaitannya dengan kedamaian. Bahkan kedamaian pun menjadi dasar tapi sekaligus puncak dari yang bisa didapatkan dalam keheningan. Sehingga damaikanlah pula dirimu dulu sebelum ingin menemukan keheningan yang sesungguhnya

Sebab kedamaian itu sendiri lebih dari sekedar teori atau menurut katanya saja. Ia adalah pengalaman langsung yang diwujudkan dengan usaha yang tekun. Tingkatannya pun berbeda untuk setiap orang. Ibarat benih tanaman yang sedang bertumbuh dan akan berbuah suatu masa kelak, maka dengan melatih diri menuju pada kedamaian bisa membangkitkan potensi diri yang tersembunyi. Dan setiap orang itu memiliki potensi yang berbeda-beda sejak dilahirkan. Tinggal bagaimana ia bisa menemukan kedamaian yang hakiki untuk membangunkan dirinya dari tidur yang panjang. Karena hanya dengan terbangunlah seseorang bisa mencapai keheningan yang suci.

Jambi, 13 Februari 2020
Harunata-Ra

[Cuplikan dari buku “Diri Sejati, karya: Harunata-Ra]

Bonus instrumental:

8 respons untuk ‘Menuju Keheningan

    Generasi akhir Bpk ADAM said:
    Februari 14, 2020 pukul 5:28 pm

    Terima kasih untuk pelajarannya bang….
    Pas bngeet….. Sampe merinding baca nya

      Harunata-Ra responded:
      Februari 18, 2020 pukul 3:40 am

      Iya sama2lah.. terima kasih juga karena masih mau berkunjung.. 🙂
      Btw pas banget apa tuh?

        Genarasi terakhir BPK ADAM said:
        Februari 21, 2020 pukul 4:10 pm

        Dengan kehidupan pribadi sy bang OEDI

        Harunata-Ra responded:
        Februari 22, 2020 pukul 5:42 am

        Ow gitu ya.. semoga ttp bermanfaat yah.. 🙂

    poetra said:
    Februari 15, 2020 pukul 1:38 am

    🙏🙏🙏

      Harunata-Ra responded:
      Februari 18, 2020 pukul 3:40 am

      Seeplah.. terima kasih atas kunjungannya mas.. 🙂

    rakeyan said:
    Februari 15, 2020 pukul 9:43 am

    Salam Mas Oedi…..

    Seperti biasanya, Jenengan memposting Artikel yang “anti mainstream”….. luar biasa… dan acungan jempol….. kpd Jenengan, karena….. di Zaman Materialis, di Zaman Konsumerisme, di Zaman Hedonis dan bahkan HIPOKRITISASI ini Jenengan tetap bertahan & kokoh di jalan Cahaya, menuju-NYA…….

    Banyak Artikel-artikel Jenengan yang telah diposting, untuk berbagi & mengingatkan, diantara-nya :
    *Manunggal Diri : Kemampuan Transcendence;
    *Ruang Derita dan Kesedihan;
    *3 Prinsip Kesatria Utama;
    *Kesadaran Hati;
    *Menuju Keikhlasan (1);
    *Kebebasan Diri;
    *Transcendence;
    *Kematian Yang Dilupakan;
    *Kekuatan Spiritual Manusia (1);
    *Dharma Kesatria dan Hakekat Perang Besar;
    *Kesucian Diri (1);
    *Dan lain-lain, dan sebagainya.

    Sehingga Saya pun kesulitan untuk berbagi memberi komentar Artikel per Artikel, tetapi….. telah dibuatkan komentar (berbagi dan dari perspektif Saya) tentang kompilasi dari Artikel-artikel tsb.

    Izinkan saya berkomentar (dan berbagi) PERSPEKTIF SISI LAIN dari Kompilasi Artikel-artikel Jenengan (yang “anti mainstream”)

    Hanya personal-personal tertentu saja yang bisa mencapai (dan atau telah mencapai) JALAN tsb.
    Realitas dan empirlsitasnya, personal-personal tsb. yang mewarisi NUTUS, NETES & NITIS serta TAQDIR-nya, minimal paling tidak….. NUTUS & NETES serta TAQDIR-nya.
    Tidak ada “makan siang yang gratis,” ANUGRAH ILAHI itu tidak terberi begitu saja, ada MAHAR yg harus “dibeli” (proses panjang yang harus dan atau telah dilalui-nya dan ujian-ujian yang seperti tak pernah henti-hentinya sedang & telah dijalani-nya), dan selalu “belajar” dan “belajar” selama hayat dikandung badan.

    Proses (Tingkatan) dalam Beribadah pun telah dilalui-nya; dari mulai Murjiah (Mengharapkan pahala & berpengharapan), menuju KHAWARIJ (Rasa takut dan Pengagungan), bahkan……. hingga ZINDIQ (Rasa Cinta & Pengagungan).
    Mereka-mereka telah memahami Outline (Konstruksi), Pedoman Pokok (Pedoman Wajib) serta TOR (Term of References) “hidup” dan “berkehidupan” (Mengapa ada & berada di Alam Dunia ini..?).

    Mereka-mereka telah ” terbuka Hijab” (VERTIKAL) tentang Siapa Diri-nya, Bapak Moyang-nya Raga (Nabi Adam as), dan Bapak Moyang-nya Ruh (Rasullullah), serta (Siapalah SANG MAHA PENCIPTA….?)..
    Mereka-mereka telah memahami “kunci” (“key”), mungkin “master key” dan……. bahkan mungkin “grandmaster key.”

    Empirisitas-nya mereka-mereka telah mengimplementasikan (HORIZONTAL) dengan tulus, dengan baik, dengan benar dan maksimal (terbaik) “rahmatan lil ’alamiin,” dan atau paling tidak (minimal)……. “bermanfaat” bagi “sesama makhluk ciptaan ILAHI,” “bermanfaat (Suri tauladan) bagi Keluarga-nya, Tetangga-nya, “Saudara-saudara-nya,” dan Kerabat-kerabat-nya, Komunitas-nya,“Lingkungan Hidup,” “Leluhur-leluhur-nya,” bahkan……. Bangsa & Negara-nya, serta “Sesama Makhluk Niskala (Sesama Makhluk Dimensi lain) Ciptaan ILAHI

    “Bersyukurlah & Berbahagialah Mereka yang telah mencapai LEVEL tsb (karena hanyalah Personal-personal tertentu & terpilih saja serta Taqdir-nya), dan sungguh….. dan sungguh……. Aroma-nya MEWANGI di Alam Niskala (Alam Dimensi lain), serta ENERGI-nya (Cahaya-nya), mengundang Sesama Makhluk Niskkala (Alam Dimensi lain) untuk berbaris tertib di belakang, berjamaah dalam “keheningan” bersimpuh dan bersujud menghadap dan dihadapan SANG MAHA SUCI, SANG PEMILIK HIDUP, GUSTI INGKANG AKARYO JAGAD.
    Tetapi….. di Alam Realitas (Alam Dunia) bisa jadi……. dicibir.., dilecehkan.., terhina….. dan bahkan……. dianggap “gila….?”

    Matur nuwun, smoga bermanfaat
    Suro diro joyodiningrat lebur dening pangastuti
    Mugia Rahayu Sagung Dumadi

      Harunata-Ra responded:
      Februari 18, 2020 pukul 3:54 am

      Salam rahayu juga mas Rakeyan.. Nuwun juga loh karena masih mau berkunjung.. 🙏 🙂

      Waah artikel2 itu sudah sampeyan baca semua ya mas? luar biasa dan terima kasih banyak sudah mau membacanya.. Semoga ttp bermanfaat tidak hanya utk diri masnya, tetapi yg ada di sekitarnya juga.. 🙂

      Ya gak harus dikomentari semuanya loh mas, sebisanya aja dan kalo ada waktunya sih.. Karena yg terpenting itu dipahami trus dipraktekkan.. Dan terima kasih lagi ya atas komentarnya di atas, itu lebih dari cukup kok.. Bahkan saya tak perlu lagi menanggapinya (koreksi, revisi).. Terlebih komentar yg seperti itulah yg diharapkan dan berkesan, karena anti mainstream juga.. 🙂

      Semoga kita diberikan kejernihan hati, kesadaran diri, dan kewaspadaan jiwa.. 🙏

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s