Pemimpin Tertinggi (Supreme Leader) dan Ciri Khasnya

Posted on

Wahai saudaraku. Kata pemimpin itu bisa dimaknai sebagai orang yang mengajak, mengarahkan, memengaruhi, mengayomi, melindungi, dan membawa perubahan dalam kehidupan. Karena itulah tidak semua orang yang bisa disebut pemimpin, apalagi sebagai pemimpin tertinggi (supreme leader). Ada banyak hal yang harus dipenuhi, dan itu semua tanpa adanya sikap pamrih dan tedeng aling-aling.

Nah, agar kita tidak keliru dalam ketatanegaraan, maka ada beberapa hal mendasar yang harus dipenuhi oleh seorang pemimpin. Yaitu:

1. Kabecik’an
Kabecik’an berasal dari kata “becik“, yang berarti baik atau kebaikan. Karena itulah, kabecik’an disini maksudnya adalah seorang yang hidupnya selalu dalam kebaikan karena senantiasa mengikuti hukum dan aturan Tuhan dengan tulus murni, sehingga ia pun mendapatkan bimbingan-NYA.

2. Kawibawan
Kawibawan berasal dari kata “wibawa“, yang berarti telah memiliki kemampuan untuk memengaruhi dan dihormati orang lain. Disini tentunya karena sifat pribadinya yang berbudi, dan keahliannya yang istimewa. Karena itulah, ia pun dapat memancarkan kharisma (sinar/aura keistimewaan) yang membuat siapapun terkagum-kagum kepadanya.

Adapun kawibawan ini bisa terpenuhi jika seseorang telah melakukan ketiga hal berikut, yaitu:

1) Nata Jiwa –> mengenal diri sejati.
2) Nata Raga –> melatih jasad, tubuh fisik (olah kanuragan dan kadigdayan).
3) Nata Kaluwarga –> Nur Ilahi (sedulur papat kalimo pancer).

Ketiganya itu adalah syarat utama untuk bisa memunculkan aura kewibawaan pada diri seseorang. Jika tidak dipenuhi, maka takkan ada yang namanya kewibawaan dalam arti yang sesungguhnya.

3. Kahuripan
Kahuripan berasal dari kata “hurip“, yang berarti hidup. Nah jika dikaitkan dengan diri seseorang, artinya dia bisa memberikan penghidupan untuk orang lain. Disini tidak hanya secara lahiriah (materi) saja, tetapi juga yang bersifat batiniah (non materi, ruhani). Dan semuanya itu bisa terwujud hanya jika ia telah memiliki kedua sifat yang sebelumnya (kabecik’an dan kawibawan).

Ya. Ketiga hal di atas adalah apa yang seharusnya ada di dalam diri pribadi seorang pemimpin tertinggi (supreme leader). Sedangkan dalam kesehariannya, maka ada pula ciri khas yang bisa dilihat darinya. Semua itu merupakan syarat utama yang harus dimiliki dan terbukti nyata. Adapun di antaranya:

1. Sadahurip
Sadahurip berasal dari kata “sada” yang berarti bunyi, dan “hurip” yang berarti hidup. Sehingga bila disatukan artinya memiliki makna sebagai bunyi kehidupan, atau bisa juga ditafsirkan sebagai awal dari peradaban. Nah jika ini dikaitkan dengan diri seseorang, itu artinya dia sangat memahami tentang asal muasal kehidupan dan sampai kemanakah akhirnya nanti. Selain itu, segala bentuk tata kehidupan dunia yang sejati telah pula dia kuasai dan disebarluaskan kepada khalayak ramai. Tujuannya demi mewujudkan kehidupan yang seimbang dan harmonis. Caranya dengan membangun peradabannya sendiri, bahkan terbilang baru dan tak sama dengan yang sebelumnya.

Catatan: Ada maksud khusus mengapa para leluhur kita dulu memberikan nama Sadahurip pada sebuah bukit yang ada di Tatar Sunda, tepatnya di kabupaten Garut. Salah satu alasannya adalah apa yang telah dijelaskan di atas.

2. Sastra Nagara –> sifat utama.
Setidaknya ada 15 sifat utama dari kesatria yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin tertinggi (supreme leader), dan ini bisa langsung dilihat pada kesehariannya. Yaitu:

1) Teguh pendirian dan rela berkorban.
2) Cerdas dan lancar berbicara.
3) Berilmu tinggi (sakti mandraguna) dan berwawasan luas.
4) Tekun dalam kebajikan dan disiplin untuk kemuliaan.
5) Ramah dan berbudi pekerti luhur.
6) Adil dan bijaksana.
7) Rendah hati dan bersahaja.
8) Tulus ikhlas dan penyabar.
9) Penuh cinta dan kasih sayang.
10) Mengutamakan kepentingan bersama.
11) Bersemangat dan pekerja keras.
12) Sholeh dalam menjalankan ajaran Tuhan (setingkat Bhagawan).
13) Pemaaf dan dermawan.
14) Setia dan ber-bhakti.
15) Zuhud (tidak cinta duniawi).

Catatan: Ke 15 sifat utama di atas harus lengkap dimiliki oleh seseorang jika ia merasa sebagai kesatria. Tanpanya maka siapapun itu tidak akan layak menjadi pemimpin tertinggi (supreme leader) yang bisa membawa perubahan besar.

3. Nata Nagara –> kunci peradaban.
Siapapun yang telah menguasai Sastra Nagara (ke 15 sifat utama di atas), maka barulah ia bisa me-Nata Nagara alias telah “memegang kunci” untuk membangun peradaban yang gemilang. Dialah yang pantas untuk siap melakukan perubahan besar. Sebab dengan memiliki kesemuanya itu, jelaslah ia pun memiliki kemampuan yang luar biasa, yang melebihi semua pemimpin yang ada. Dialah sosok yang istimewa, karena telah mendapatkan bimbingan dari Yang Maha Kuasa.

4. Asana Nagara –> tahta (memimpin, mengatur, dan melindungi).
Ketika seseorang telah memegang kunci peradaban (Nata Nagara), maka pantaslah baginya untuk bisa memimpin, mengatur, dan melindungi siapapun dengan baik, khususnya penduduk yang ada di dalam bangsa dan negaranya, bahkan di seluruh dunia pada umumnya. Ia telah memiliki modal yang cukup untuk bisa mewujudkannya. Dan alam pun mendukungnya dengan memunculkan kekayaan yang berlimpah, serta tidak pula ada bencana besar yang mematikan.

5. Salaka Nagara –> adaptasi (terus berkembang).
Dengan kepantasannya – lantaran sudah memiliki ke empat hal di atas (Sadahurip, Sastra Nagara, Nata Nagara, dan Asana Nagara), maka seseorang baru akan bisa membawa kehidupan rakyat dan negaranya untuk terus berkembang. Tidak berhenti (stagnan) atau malah mundur, karena apapun yang terjadi ia mampu beradaptasi dengan kondisi yang ada, baik di dalam negerinya sendiri ataupun di seluruh dunia. Hal ini bisa terus menguntungkan bagi kehidupan bangsanya.

Catatan: Salaka Nagara disini akan berbeda maksudnya jika dipahami secara bahasa. Dimana kata “Salaka” itu berarti perak, sedangkan “Nagara” berarti negeri atau negara. Sehingga bila digabungkan artinya maka akan bermakna negeri (penghasil) perak. Ini sesuai dengan pengertian dari nama kerajaan kuno yang pernah ada di Jawa bagian barat dulu, yang bernama Salakanagara. Tapi sesungguhnya leluhur kita dulu berwawasan luas dan senang menyembunyikan makna yang lebih mendalam pada saat memberikan nama kerajaannya. Karena itulah, arti yang lebih mendalam dari Salakanagara itu adalah apa yang sesuai dengan penjelasan di atas. Dan inilah alasannya kenapa kerajaan Salakanagara menjadi cikal bakal dari kerajaan-kerajaan besar lainnya di Nusantara (Bakulapura-Kutai Martadipura, Tarumanagara, Indraprahasta, Kendan-Galuh, Sunda, Kalingga, Sriwijaya, Medang, Kahuripan, Kadiri, Singhasari, Majapahit, dan Pajajaran). Lantaran nama Salakanagara itu pun berarti adaptasi alias terus berkembang.

6. Taruma Nagara –> terbiasa (puncak kemajuan).
Setelah mampu ber-Salaka Nagara dengan benar, maka hasilnya adalah kemajuan yang diharapkan bisa terwujud. Puncak peradaban pun bisa diraih dengan hasil yang memuaskan. Inilah yang sangat diinginkan oleh semua orang terhadap pemimpinnya, khususnya bagi kehidupan penduduk negeri yang bersangkutan. Artinya, hanya dengan memiliki kelima ciri khas di atas (Sadahurip, Sastra Nagara, Nata Nagara, Asana Nagara, dan Salaka Nagara) seseorang itu bisa membawa negerinya untuk sampai pada puncak kemajuan peradaban. Inilah syarat yang harus dipenuhi oleh seorang pemimpin tertinggi (supreme leader) untuk mencapai tujuan keberadaannya.

Catatan: Dalam sejarah kerajaan Tarumanagara, maka kata “Taruma” itu berasal dari nama desa yang dibangun oleh Maharesi Jayasinghawarman, yaitu Tarumadesya. Sedangkan nama desa tersebut diambil dari nama sungai Tarum yang ada di sana. Karena itulah, ketika menjadi sebuah kerajaan, maka oleh sang pendirinya desa tersebut diubah namanya menjadi Tarumanagara, atau yang berarti negara yang berpusat di sekitar aliran sungai Tarum (sekarang disebut Citarum). Begitulah arti dari nama Tarumanagara. Dan seperti di kerajaan Salakanagara, maka ada makna lain dibalik nama Tarumanagara ini. Itulah yang telah dijelaskan di atas. Semuanya demi memberikan pelajaran bagi anak cucu dalam menjalankan roda kehidupan berbangsa dan bernegaranya.

7. Karta Nagara –> kemakmuran dan kejayaan.
Inilah yang menjadi tujuan utama sebenarnya, yaitu mencapai kemakmuran dan kejayaan dunia. Syaratnya adalah dengan bisa menerapkan semua tahapan sebelumnya (Kabecik’an, Kawibawan, dan Kahuripan). Dan tentunya harus ada seorang pemimpin yang memiliki ciri khas yang sesuai dengan ke enam tahapan di atas (Sadahurip, Sastra Nagara, Nata Nagara, Asana Nagara, Salaka Nagara, dan Taruma Nagara). Jika ada satu saja yang tidak di penuhi, maka ia bukanlah pemimpin yang tertinggi.

Pun kemakmuran dan kejayaan yang ada disini tidak hanya sebatas materi, karena juga yang non materinya. Keadaan lahir dan batin setiap penduduk negeri haruslah seimbang dan mampu menciptakan keharmonisan. Inilah kebahagiaan yang semestinya, sebagai bekal kehidupan di akherat nanti.

***

Wahai saudaraku. Apa yang telah diuraikan hendaknya menjadi fokus perhatian kita bersama. Bahwa tidaklah mudah untuk menjadi seorang pemimpin, apalagi pemimpin tertinggi (supreme leader) yang bisa menata dunia. Jangan seenaknya mengaku-ngaku atau mudah percaya dengan orang yang mengaku-ngaku. Sebab ada syarat khusus yang harus dipenuhi, dan apa yang disampaikan di atas sesungguhnya hanyalah sebagiannya saja. Karena seorang pemimpin itu juga harus menerima Wahyu Keprabon – yang diiringi oleh wahyu-wahyu yang lainnya seperti: Wahyu Purba, Wahyu Sejati, Wahyu Cakra Ningrat, dan Wahyu Makutha Rama, dan menguasai hal-hal yang lain lagi. Tanpa hal itu, maka tidak pantaslah siapapun itu disebut sebagai pemimpin tertinggi (supreme leader).

Sebab, seorang pemimpin tertinggi (supreme leader) itu merujuk pada diri seseorang di antara para pemimpin yang ada. Dialah yang terbaik dalam segala hal dan memegang kendali penuh atas ketatanegaraan dunia dalam kebijaksanaannya. Dialah yang sangat berpengaruh, sehingga membuat orang tunduk kepadanya dengan cara suka rela ataupun terpaksa. Dialah utusan Tuhan yang membawa cahaya dan kebahagiaan hakiki. Dialah pula yang sangat dicintai karena bisa membawa kebangkitan dan perubahan yang besar menuju pada kesejahteraan.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Mugia Rahayu Sagung Dumadi.. 🙏

Jambi, 05 Februari 2020
Harunata-Ra

[Cuplikan dari buku “Diri Sejati”, karya: Harunata-Ra]

Catatan akhir:
1. Bacalah semua tulisan ini dengan tenang, seksama, dan terurut. Dengan begitulah akan mengerti tentang apa yang menjadi maksud dan tujuannya.
2. Tulisan ini di upload sebagai tanggapan atas kemunculan para raja dan kerajaan baru di waktu belakangan ini. Tujuannya adalah untuk membantu poro sedulur agar lebih cermat dan tidak mudah terpedaya.
3. Tetaplah bersikap eling lan waspodo, karena nanti kehidupan dunia ini akan lebih sulit dari biasanya. Akan banyak ujian, bencana, dan peperangan yang memilukan.

Bonus instrumental:

4 respons untuk ‘Pemimpin Tertinggi (Supreme Leader) dan Ciri Khasnya

    Generasi terakhir Ayah ADAM said:
    Februari 5, 2020 pukul 6:34 pm

    Alhamdulillahi rabbil alamiiin….
    Terima kasih untuk pelajaran dn sgl nasehat2 nya bang …..

      Harunata-Ra responded:
      Februari 7, 2020 pukul 3:10 am

      Iya sama2lah.. Terima kasih juga karena masih mau berkunjung.. Semoga ttp bermanfaat.. 😊🙏

    Setyo p said:
    Februari 8, 2020 pukul 1:05 am

    Alhamdulillah,semakin mawas kita dgn bermunculan kerajaan baru yg tujuannya hanya mencari keuntungan semata
    Oh ya apakah nanti peradaban baru akan muncul disana mas di bukit sidahurip garut

      Harunata-Ra responded:
      Februari 8, 2020 pukul 1:33 am

      Terima kasih mas Setyo P atas kunjungannya, semoga bermanfaat.. 🙏😊

      Betul mas, kita hrs semakin mawas diri.. Dan terlepas dr apapun sebab dan alasannya, maka kemunculan raja2 dan kerajaan2 baru itu sebenarnya pertanda bahwa udah semakin dekatnya wkt kemunculan peradaban yg baru, yg jauh lebih indah dr skr.. Dan ini semakin diperkuat dg pertanda alam yg lain, yaitu semakin byk ditemukannya situs bersejarah peninggalan kerajaan, khususnya tembok keraton, petirtaan, patung, dan candi akhir2 ini..

      Ttg kemunculannya, saya rasa tidak di Bukit Sadahurip ataupun di sekitarnya.. Ada satu tempat yg dulu pernah menjadi pusat peradaban dunia tapi gak bisa saya jelaskan disini.. Biarlah wkt yg menunjukkannya nanti..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s