Manunggal Diri : Kemampuan Transcendence

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Sebelumnya kita telah membahas tentang apa itu transcendence, atau yang bisa diartikan sebagai hal-hal yang melampaui apa yang terdengar, terlihat, dan terasakan (langsung) di alam nyata semesta ini. Lalu atas pengertian tersebut, dan jika dikaitkan dengan diri Manusia, itu berarti ia telah sampai pada kemampuan yang luar biasa. Suatu hal yang istimewa namun tidak mudah untuk bisa dicapai.

Ya. Diri Manusia itu adalah yang sangat istimewa diciptakan. Kekuatan dan kemampuan khusus pun telah dibekali untuknya sejak dilahirkan. Hanya saja semua itu masih tersembunyi dan perlu untuk dibangkitkan lantaran masih tertidur pulas. Ibarat sebilah pedang, maka ia harus ditempa dengan teliti dan diasah hingga tajam sebelum bisa dipergunakan.

Adapun yang kita bahas disini adalah tentang kemampuan diri sejati Manusia ketika ia bisa mencapai kondisi yang transcendence. Dan jelas bahwa untuk bisa seperti itu tidak akan ada jalan yang mudah. Haruslah dengan pemahaman yang mendalam dan latihan yang khusus. Terlebih jangan berharap akan ada cara yang instan, karena apapun yang instan itu hanya akan menjadi awal dari kehancuran.

Nah, untuk bisa sampai dalam kemampuan yang transcendence, seseorang itu harus melakukan setidaknya beberapa hal berikut ini:

1. Tri Tunggal Rahsa
Kata rahsa bisa ditafsirkan sebagai sesuatu yang halus dan misterius, karena rahsa dihubungkan pula dengan asal muasal dari kata “rahasia”. Lalu karena sulit untuk dijelaskan, maka rahsa ini kemudian cukup diartikan sebagai perasaan yang teramat mendalam dan merepresentasikan pertimbangan hati (kalbu) yang murni, tempatnya di dalam sanubari. Dan ketika dihubungkan dengan kata tri tunggal, maka itu bermakna ada tiga rahsa yang menjadi satu kesatuan yang harus dipahami oleh seseorang.

Untuk itulah, sebelum memulai semuanya, seseorang harus memahami dulu apa yang menjadi derajat dari seorang Manusia sejati. Ada tiga jumlahnya, dan satu persatu harus juga dilakoni dengan tekun (istiqomah), demi mencapai kondisi yang transcendence. Adapun di antaranya yaitu:

1) Kasekten
Ini adalah derajat pertama yang bisa dicapai oleh setiap orang jika ia mau berusaha. Dan pada dasarnya secara bahasa kasekten itu sama artinya dengan kesaktian atau kekuatan atau kemampuan yang dimiliki. Artinya disini seseorang itu telah memiliki kemampuan lebih atau harta yang berlimpah atau kedudukan/jabatan yang tinggi dalam hidupnya. Ini bukanlah hal yang salah, hanya saja perlu sangat hati-hati disini. Karena sebenarnya kasekten itu bukanlah bukti dari kemuliaan diri seseorang. Meskipun ia sangat pintar, kaya raya, sakti mandraguna atau tinggi jabatannya, maka itu tak lebih dari sekedar alat untuk bisa membuktikan dirinya saja, atau cara untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain. Hanya sebatas itulah fungsinya.

Makanya, jika seseorang masih ingin membuktikan dirinya atau mendapat pengakuan dari makhluk, itu artinya ia masih terbelenggu dan derajatnya terhenti di level pertama ini. Seseorang belum bebas merdeka dan menuhankan Tuhan yang benar. Tuhannya adalah materi dan pengakuan dari orang lain itu. Sehingga ini bukanlah hal yang luar biasa dan patut dibanggakan. Siapapun tak lebih hanyalah sebagai budak dari dunia semata.

Tapi bila ia mampu menggunakan semua kasekten yang dimiliki itu hanya untuk tujuan kebaikan dan kemaslahatan bersama, maka perlahan-lahan ia akan mulai memahami hakekat dari materi duniawi ini dan akan belajar untuk bisa terlepas dari ikatannya (materi duniawi = hal yang menjadi belenggu hati dan jiwanya menuju kebebasan sejati). Jika terus bertahan dalam sikap ini, ia baru bisa dikatakan telah hijrah dan akan terlepas dari ikatan materi duniawi. Hasilnya ia akan sampai di tingkat berikutnya, yaitu kamukten. Tapi jika tidak, maka ia hanya akan terhenti di level terendah ini, dimana itu bukanlah hal yang baik untuk di lakukan.

Catatan: Banyak orang yang hanya berkutat di level terendah ini. Tak terkecuali para pembesar di negeri ini, juga di seluruh dunia. Mereka masih terlalu ingin diakui dan menunjukkan siapa dirinya dihadapan makhluk. Sifat riya’ dan bangga diri tak jauh dari kehidupan mereka, sehingga lupa bahwa ia (hati dan pikirannya) selalu diawasi dan nanti akan dimintai pertanggungjawaban oleh Tuhan.

2) Kamukten
Arti yang lebih tepat untuk kamukten itu adalah tujuan hidup yang di landaskan kepada nilai-nilai kejiwaan dan kebenaran yang hakiki. Sehingga untuk mencapai derajat ini, maka kepemilikan yang diraih atau kemampuan yang dimiliki seseorang itu haruslah sudah dimanfaatkan untuk kemaslahatan sesama. Tidak ada lagi keinginan untuk bisa mendapatkan pujian atau pengakuan dari orang lain. Sifat riya’ dan bangga diri pun sudah lama ia tinggalkan.

Selain itu, seseorang juga terus melatih dirinya dengan laku tapa brata yang benar. Yaitu mencukupkan perihal keduniawian hanya sebatas apa yang menjadi kebutuhannya saja. Karena itulah seseorang yang sudah berada di level ini tidak lagi tertarik dengan pangkat-jabatan, harta berlimpah, popularitas, atau pun ilmu ajian kesaktian dan yang sejenisnya. Ia sudah bisa melepaskan itu semua dan fokus hanya kepada pembersihan dirinya menuju Tuhan.

Dengan kata lain, bagi seorang yang berada di tingkat kamukten ini maka tak ada lagi yang terlalu menarik dari dunia ini. Karena hidup itu adalah sarana untuk bisa selalu mengabdi kepada Hyang Aruta (Tuhan YME). Dunia ini di pandang sementara, semu dan sebatas waktu untuk mempersiapkan bekal kehidupan selanjutnya. Karena itulah dunia ini pun bukanlah cita-cita akhir dari pengabdian hidupnya. Sebab setelah dunia ini berakhir (Kiamat) tentu masih ada alam akherat yang kekal dan abadi. Dan ia hanya ingin nanti bisa kembali kepada Tuhannya dalam keadaan telah diampuni dan diridhoi oleh-NYA saja. Caranya tentu dengan bisa melepaskan segala ikatan dari hasrat keinginan duniawi.

Inilah alasan kenapa pola hidup sederhana dan menikmati hidup dengan penuh kerendahan hati serta rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa menjadi ciri khas dari sedikit orang yang mengutamakan keadaan jiwanya. Mereka itulah yang sudah sampai di level kamukten ini. Tidak banyak yang mau dan bisa, sebab derajat kamukten ini adalah pilihan hidup yang sangat berat dan dipenuhi dengan kesadaran diri. Dan siapapun yang berada di tingkatan ini tetap tidak akan terlepas dari ujian yang lebih berat lagi. Segala daya, potensi diri, kelebihan dan hatinya akan terus diuji dengan ego dan kesombongan diri yang bahkan sering menemaninya. Jika ia mampu melaluinya dengan baik, maka ia akan sampai ke tingkat yang tertinggi, yaitu kamulyan. Jika tidak, maka derajatnya akan tetap di level kedua ini, bahkan bisa turun lagi ke level yang terendah (kasekten).

Artinya, meskipun seseorang telah berada di tingkat kamukten, maka tetap saja dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk bisa sampai ke derajat yang ketiga (kamulyan). Hal ini berkaitan dengan latihan kesetiaan atau untuk menjadi setia dalam keberpalingan pada bujuk rayu duniawi dan kesombongan diri (ke-aku-an). Karena semakin ia mendalami derajat kamukten ini, maka ujian akan ego, kesombongan dan rasa puas diri itu semakin kuat. Sehingga memang sangat dibutuhkan latihan menggunakan getaran kekuatan batin yang bersih dan senantiasa mengintrospeksi diri sendiri. Ia harus bisa terus menemukan ketenangan hati dan kedamaian jiwanya tanpa pernah merasa hebat, atau bahkan merasa mampu. Yang berarti ia pun selalu bersikap rendah hati.

3) Kamulyan
Dalam bahasa Jawa ada satu falsafah yang berbunyi: “Urip sing prasojo bakalan pinemu kamulyan” atau yang berarti jika kita mau hidup dengan sederhana tentunya akan menemukan kemuliaan. Kata kuncinya disini adalah kesederhanaan hidup. Sehingga jika seorang yang berada di level kedua (kamukten) sedang berusaha untuk tidak lagi memiliki ambisi terhadap apapun di dunia ini (terutama harta, tahta dan popularitas), maka mereka yang berada di level ketiga ini sudah bisa menghilangkan semua ambisinya. Ia telah bebas merdeka dengan berhasil menundukkan ego dan kesombangan dirinya, bahkan ia pun tak lagi memikirkan tentang derajat, kemuliaan atau apapun itu. Telah lama pikiran dan hatinya meninggalkan itu semua dan terus larut dalam percintaannya dengan Sang Maha Cinta.

Lalu jika ia bersentuhan dengan kehidupan makhluk, maka itu tak lebih dari sebatas untuk bisa menegakkan kebenaran dan keadilan serta memberikan manfaat yang luas bagi sesama. Tidak ada kepentingan lain kecuali dua hal itu saja. Karena pikiran, hati dan jiwanya sudah sangat terikat erat dengan Tuhannya saja. Tak ingin lagi ia berpaling atau selingkuh – terutama dengan materi duniawi. Ia hanya melakukan apapun yang sesuai dengan kehendak-NYA saja dengan menghilangkan semua hasrat keinginannya sendiri. Karena cinta sejatinya hanyalah kepada Kekasihnya; Tuhan YME.

Untuk itu, siapapun yang sampai di tingkatan ini adalah pribadi yang waskita dan memiliki kebijaksanaan yang tinggi. Ia bisa memahami apa yang tak dipahami oleh orang banyak, dan mampu melihat dengan jelas walaupun dalam kegelapan suasana. Derajatnya menjadi lebih tinggi namun tanpa merasa bahwa ia sudah mulia dan terhormat. Dirinya justru merasa sangat hina dan sadar bahwa tak memiliki daya upaya apapun kecuali hanya atas izin Tuhannya saja. Semuanya hanya dari dan untuk-NYA saja, sementara dirinya telah lama “sirna” dari hadapan makhluk. Sungguh beruntunglah siapapun yang bisa sampai di level ini, sebab akan mendapatkan kesempurnaan hidupnya.

Jadi, perlu dipahami dulu tentang ketiga hal di atas (kasekten, kamukten, dan kamulyan) sebelum berusaha untuk bisa mencapai kondisi yang transcendence. Ibarat merakit sebuah kendaraan, maka perlu membaca dan memahami dulu isi dari buku pedomannya lalu mulai dipraktekkan. Karena didalamnya telah diberikan penjelasan yang lengkap, terurut dan sesuai pula dengan apa saja yang harus di lakukan.

2. Dwijaya Mukti
Ketika sudah memahami ketiga derajat Manusia di atas, maka barulah akan tahu apa yang perlu ditingkatkan. Seseorang akan siap untuk mulai melakukan perjalanan menuju pada kondisi yang transcendence. Terlebih ia pun harus memiliki dua kemampuan dari seorang kesatria yang mumpuni, yang disebut dengan Dwijaya Mukti. Caranya dengan menguasai :

1) Ilmu kanuragan
Dalam hal ini seseorang perlu melatih dirinya dengan berbagai jurus beladiri yang dimiliki oleh kaum-kaum terdahulu (seperti Dagamsya, Taransya, Hatali, Karatara, Zartayakh, Kipan, Aspah, dan Ghaltan), atau yang ada sekarang (seperti Silat, Thifan, Kalaripayattu, Kung Fu, Tai Chi, Ninjitsu, Karate, Tae Kwon Do, Muay Thai, Systema, dll). Yang di dalamnya terdapat berbagai jenis olah raga untuk tujuan kesehatan, membentuk keluwesan tubuh, dan meningkatkan konsentrasi serta daya tahan fisik. Artinya ilmu kanuragan inilah yang menjadi dasar latihan untuk bisa terus meningkatkan kemampuan diri, sehingga perannya sangat penting dalam upaya mencapai kondisi yang transcendence.

Catatan: Karena begitu pentingnya, maka jurus beladiri ini telah ada sejak zaman pertama umat Manusia di Bumi (Purwa Duksina-Ra). Bahkan Ayahanda Adam AS sendirilah yang pertama kali mengajarkannya meskipun pada masa itu mereka belum memiliki musuh dan tidak ada pertempuran. Siapapun yang berhasil menguasainya, maka tidak hanya sehat, tetapi juga kuat, lincah, penuh konsentrasi, dan disiplin. Adapun tentang apa nama beladirinya dan bagaimana karakter serta bentuknya tidak bisa kami sampaikan disini, ada protap yang harus diikuti.

2) Ilmu kadigdayan
Dasar untuk bisa melatih ilmu kadigdayan adalah penguasaan diri terhadap ilmu kanuragan. Tidak perlu semuanya, cukup salah satunya saja dan “matang”. Karena dengan terbiasa dalam berbagai jurus beladiri, maka disaat hendak melatih ilmu kadigdayan yang jauh lebih sulit, seseorang tidak akan terkejut lagi. Artinya, ia telah siap untuk melakukan hal-hal yang tidak mudah – seperti tirakat khusus dan tapa brata – bahkan tak masuk akal, yang menjadi persyaratan utama dalam menguasai ilmu di tingkat kadigdayan.

Sedangkan ilmu kadigdayan yang dimaksudkan disini adalah kemampuan seseorang dalam mengeluarkan ajian (penguasaan terhadap mantra khusus – dengan olah kanuragan dan tapa brata tertentu – yang berfungsi untuk menambah kekuatan lahir batin orang yang menggunakannya) dan kekuatan-kekuatan lainnya. Ada banyak jenis kemampuan di dunia ini, dan semuanya masuk ke dalam level (tingkatan) berikut ini:

1. Datran
Pada level ini, seseorang bisa menguasai berbagai ajian tingkat tinggi seperti kebal terhadap berbagai senjata pusaka, punya kekuatan sangat luar biasa, bisa terbang dan menghilang, mampu bergerak secepat kilat dan berteleportasi, bisa mengubah wujud, mampu menghancurkan bongkahan batu atau bukit hanya dengan sekali pukulan jarak jauh, dan sebagainya yang sifatnya kekuatan.

Catatan: Ada banyak nama ajian yang tersohor milik kaum-kaum terdahulu, seperti Tipasa, Kastanu, Gamusal, Musafar, Gandarhika, Jahturah, Altari, Gurhiyata, Samarhita, Astrayana, Dirmantala, Lijara, Galhatar, Baltisa, Darhitam, Agniratas, Gunadahta, Bayugara, Agnira, Gamar Sapa, Hastasantra, Garhata, Margilas, Duljar, Gaptamar, Mudhara, Lisaru, Kantiga, Galtum, Maltara, Hastayandra, dan Gandardara. Semua ajian tersebut merupakan ilmu kesaktian tingkat tinggi dan telah dikuasai oleh para kesatria terbaik di masa lalu. Dengan menguasai ajian-ajian itu, mereka bisa mengendalikan berbagai elemen alam, atau untuk keperluan lainnya seperti terbang, menghilang, mengubah wujud, teleportasi, dll. Sungguh menakjubkan.

2. Satran
Di level yang kedua ini, seseorang bisa menyerap berbagai energi dan unsur alam lalu mengubahnya menjadi beragam jenis senjata yang berkekuatan dahsyat. Tapi di level ini setiap orang akan berbeda kekuatannya, tergantung dari bentuk latihan yang telah dijalani. Dan yang jelas level kedua ini tentu bisa mengalahkan level yang pertama dengan mudah, karena sebelumnya seseorang telah berhasil menguasai apa saja yang ada di level pertama. Artinya, untuk bisa menguasai level kedua ini (Satran), maka seseorang harus sudah menguasai level pertamanya (Datran) dulu.

Catatan: Pada level kedua ini seseorang tidak perlu lagi menggunakan ajian untuk mengeluarkan kemampuannya. Ia sudah menguasai yang lebih tinggi dari itu, dan tidak pula hanya bisa mengendalikan berbagai elemen alam, tetapi juga bisa mengubah wujud dan sifatnya menjadi yang sesuai dengan keinginannya. Makanya di level ini kekuatan dan kemampuan seseorang melebihi yang di level pertama (Datran).

3. Yatran
Pada level yang ketiga ini, maka bentuk kemampuan yang dimiliki oleh seseorang jauh lebih menakjubkan, susah untuk dijelaskan, karena ini sudah sampai di tahap menciptakan dan menghancurkan. Sehebat apapun kedua level sebelumnya (Datran dan Satran) takkan mampu menandinginya. Apalagi di level ketiga ini masih ada lagi lima buah tingkatannya. Semakin tinggi tingkatannya, maka semakin luar biasa pula jenis kemampuannya. Karena itulah level ini biasanya hanya mampu dikuasai oleh para Dewa-Dewi di Kahyangan. Sangat langka terjadi pada makhluk di Bumi, khususnya umat Manusia yang hidupnya singkat. [Terkait hal ini silahkan Anda baca juga tulisan yang berjudul: Mallagur: Kawah candradimuka para kesatria]

Adapun ke lima tingkatan yang ada di level ketiga ini yaitu; (1) Yuanda, (2) Yuansa, (3) Yuanma, (4) Yuanta, dan (5) Yuanra. Sehingga ketika baru sampai di level Yatran saja, maka itu tidaklah cukup. Itu baru permulaan untuk menjadi kesatria yang paripurna. Karena itulah setiap latihan dibagi menjadi dua hal, yaitu Harmon dan Mentral. Energi spiritual-ruhani dan daya hidup yang murni juga harus seimbang demi mendapatkan hasil yang diinginkan. Tak bisa sembarangan karena akan berakibat fatal.

Artinya, penguasaan terhadap ilmu kadigdayan ini adalah cara untuk bisa melampaui batas kemampuan yang umumnya dimiliki oleh Manusia. Mengapa ini harus di lakukan? Karena apa yang ada di level transcendence itu pun adalah hal-hal yang berada di luar batas umum pengetahuan umat Manusia. Sangat tidak mudah untuk dicapai, apalagi tanpa menguasai ilmu kadigdayan.

3. Trigaya Bhagawan
Perlu dijelaskan disini bahwa kata Trigaya berasal dari akar kata “Tri” dan “Gaya”. Kata “Tri” berarti tiga, sementara “Gaya” bisa diartikan sebagai kekuatan atau kesanggupan untuk berbuat. Sehingga jika disimpulkan, maka Trigaya itu bermakna tiga kekuatan atau kesanggupan (seseorang) untuk berbuat.

Selanjutnya, kata Bhagawan atau jika di Nusantara biasanya dilafalkan dalam kata ejaan Begawan itu berasal dari bahasa Sanskerta – namun ditulis Bhagavan. Lalu asal kata Bhagavan dalam bahasa Sanskerta itu sesungguhnya diserap dari kata “Bhaga” (senang, bahagia) dan “Wan” (sosok pribadi, seseorang) dalam bahasa yang lebih tua lagi, yaitu bahasa Astika. Karena itulah kata Bhagavan atau Bhagawan itu berarti orang yang sangat berbahagia. Bahagia yang dimaksudkan disini lantaran sudah bebas merdeka dalam arti yang sesungguhnya, sehingga ia pun memiliki keberuntungan, mulia, dan terberkati.

Dan secara lebih detail, maka istilah Bhagavan itu berasal dari kata “Bha” yang berarti kecemerlangan atau penerangan, “Ga” yang berarti pemancaran atau penyebarluasan penerangan, dan “Vanta” yang berarti ia yang memiliki kemampuan tersebut. Jadi istilah Bhagavan disini menunjukkan bahwa seseorang itu telah memiliki kemampuan untuk memancarkan dan menyebarluaskan yang terang (cahaya-NYA).

Sedangkan disisi yang lainnya, maka istilah Bhagavan itu berasal dari kata “Bha” yang berarti penciptaan, “Ga” yang berarti perlindungan, dan “Va” yang berarti perubahan. Sehingga Bhagavan itu adalah dia yang mampu melakukan penciptaan, perlindungan, dan perubahan. Karena itulah, ada 7 persyaratan yang harus dipenuhi dan menjadi ciri khasnya, yaitu:

1. Kiirthi atau kreta atau karta (kejayaan, kemasyhuran).
2. Asihvarya (kemuliaan).
3. Jnaana (kebijaksanaan).
4. Vairagya (ketidakterikatan).
5. Srishti (mencipta).
6. Sthithi (memelihara).
7. Laya (menghancurkan).

Untuk itu, setelah berhasil menguasai beragam jenis kemampuan dalam ilmu kanuragan dan kadigdayan, barulah seseorang punya kesempatan untuk bisa lebih baik lagi tingkatannya. Sebab kemampuan dari keduanya itu hanyalah proses untuk bisa mempersiapkan diri terhadap hal-hal yang menakjubkan dan tak masuk akal. Dan jika ia bisa menetap di dalamnya, maka akan pantaslah disebut sebagai sang Bhagawan (Begawan).

Adapun istilah Bhagawan (Begawan) disini tidak ada hubungannya dengan agama atau keyakinan tertentu, karena seperti gelar professor yang tidak memandang apapun selain ilmu pengetahuan. Artinya disini adalah lebih kepada pencapaian lahir batin seseorang yang tidak umum dimiliki oleh semua Manusia. Pun karena ia telah memasuki level kemampuan yang tidak semua orang dapat mencapainya. Hanya untuk kalangan tertentu saja, sebab ada syarat yang harus dipenuhi dan itu memang sulit. Di antaranya:

1) Kasepuhan
Ilmu pada tingkat ini tidak sembarangan dan harus dipelajari dengan sabar. Tidak seharusnya untuk anak muda atau yang belum dewasa, karena ia akan sulit menahan amarahnya, padahal di tingkat ini diperlukan kesabaran yang tinggi. Sebaliknya, ketika dewasa – dalam hal ini bukanlah umurnya, tetapi sikap dan pemahaman hidupnya – biasanya emosi seseorang akan lebih mudah untuk dikendalikan. Sudah banyak pengalaman hidup yang ia dapatkan, baik yang manis ataupun yang pahit untuk dilewati.

Untuk itu, pada tahap ini ilmu yang dipelajari dan dikuasai tidak lagi untuk sekedar menonjolkan diri (kanuragan dan kadigdayan), tetapi lebih bersifat sosial-kemanusiaan dan spiritual. Artinya seseorang sudah mulai meninggalkan keduniawian dan hanya berfokus pada kemanusiaan dan keTuhanan saja. Tapi dengan catatan, bahwa mereka yang bisa sampai di level kasepuhan ini adalah orang-orang yang telah melalui tahap ilmu kadigdayan terlebih dulu.

2) Kasunyatan
Pada tingkatan ini, artinya telah menguak kasunyatan atau realias dari kehidupan sejati. Dan orang yang sudah mencapai tahapan ini berarti ia telah menguasai ngelmu sejati atau bisa melihat kenyataan hidup yang sejati, dimana semuanya telah terbuka sehingga tidak ada lagi “rahasia” dalam kehidupan ini. Dan semua itu biasanya hanya mampu dicapai ketika seseorang sudah bisa melalui kesemua tahapan sebelumnya (kanuragan, kadigdayan, dan kasepuhan) dengan predikat sukses. Terkecuali oleh sosok yang memang telah dikehendaki Tuhan sebagai Wali atau pemimpin besar umat Manusia. Hal ini sifatnya khusus, dan yang bersangkutan pasti tetap senang dengan olah raga dan batin sejak kecil walau tanpa diajari.

Catatan: Penjelasan dan penyebaran (babaran lan wedaran) antara elmu (ilmu, science) dan ngelmu menjadi sangat berbeda. Jika elmu (ilmu, science) disampaikan dan disebarkan secara terbuka di sekolah-sekolah formal, maka ngelmu itu lebih bersifat tersembunyi, bahkan rahasia. Ngelmu dalam pemahaman orang Jawa boleh diketahui oleh peminatnya sesuai dengan tingkat kesadaran spiritual masing-masing individu – kecuali yang masih menjadi sengkeraning bhawono (rahasia jagat). Selain itu, ngelmu juga hanya atas kehendak dari Sang Gusti Pengeran (Tuhan), melalui orang-orang yang ditunjuk-NYA, karena mereka itu sudah mumpuni dalam pengetahuan dan kesadaran spiritualnya. Sehingga, semakin lama ngelmu itu pun akan semakin terbuka (soyo binuko lan ngeblak).

Jadi, elmu (ilmu, science) itu adalah hasil pikiran manusia, yang semakin lama semakin maju dan produknya semakin canggih sebagai hasil pemikiran/penemuan dari para ahli pikir. Sementara ngelmu itu adalah suatu pengetahuan yang berhubungan dengan Purbawasesa (Kuasa dari Tuhan), yang oleh kebanyakan orang disebut goib. Ngelmu itu dari dulu sudah ada secara utuh dan sepenuhnya dalam kuasa Tuhan. Dibukanya ngelmu pun sedikit demi sedikit, sesuai dengan kemajuan kesadaran dan kebutuhan Manusia pada suatu saat.

3) Kasampurnan
Ini adalah tahapan dimana seseorang telah mencoba dan mulai memahami dirinya sejujur-jujurnya. Dengan berhasil mencapai tahapan ini, artinya seseorang telah sampai di depan “pintu rumah” yang sangat ingin dia tuju (transcendence). Ia pun tinggal melangkah masuk melalui pintu tersebut untuk sampai pada level ke-transcendence-nan yang sejati. Sesuatu yang bahkan tak bisa lagi diungkapkan dengan kata-kata dan istilah. Dan ketika seseorang telah mampu hidup dengan menempuh jalan Trigaya Bhagawan (kasepuhan, kasunyatan, dan kasampurnan), maka barulah ia bisa memiliki ketenangan, kehormatan, dan kebahagiaan yang sesungguhnya.

Sehingga, jika disimpulkan maka Trigaya Bhagawan itu berarti tiga jenis kekuatan atau kesanggupan yang harus dipenuhi agar seseorang bisa menjadi sosok yang sangat berbahagia. Berbahagia disini maksudnya adalah pribadi yang telah sampai pada kesempurnaan hidup karena telah bebas merdeka dari berbagai ikatan duniawi lalu meraih ketenangan, kehormatan, dan kebahagiaan yang sesungguhnya. Inilah puncak kehidupan yang sejati, yang seharusnya tetap di usahakan oleh setiap pribadi.

***

Jadi, ketiga hal di atas (Tri Tunggal Rahsa, Dwijaya Mukti, dan Trigaya Bhagawan) adalah cara untuk bisa sampai pada kondisi yang transcendence. Tentunya sangat tidak mudah, karena itulah apa yang terjadi ketika seseorang bisa mencapai keadaan transcendence ini begitu menakjubkan. Selain memiliki pemahaman yang tinggi akan berbagai hakekat, ia juga memiliki kemampuan yang istimewa dalam hal kesaktian dan ke-waskita-an.

Adapun semua itu bisa terjadi lantaran ia telah bisa menyatu dengan Alam Semesta. Dan tak usah ditanyakan lagi tentang bagaimana kemampuan yang dimiliki jika seseorang telah bersatu dengan Alam Semesta ini. Karena tentunya hal-hal yang maha dahsyat bisa dipergunakan dengan mudah. Bahkan ia juga bisa mengubah wujudnya menjadi seperti alam, baik dalam bentuk dan sifatnya. Pun mendapatkan berbagai pengetahuan yang hakiki yang langsung berasal dari Yang Maha Mengetahui. Dan inilah yang terjadi pada diri seorang kesatria utama, karena sesungguhnya Alam Semesta dan Manusia itu adalah satu.

Kekuatan dan kelemahlembutan, ketegasan dan sikap yang santai (rileks) adalah kunci dalam setiap latihan transcendence. Pun harus ada konsentrasi dan instropeksi diri yang rutin demi melepaskan ambisi dan keegoan diri. Berbagai hal yang terlihat saling bertentangan juga harus dipersatukan dalam pandangan yang luas dan merupakan bagian dari keseimbangan dunia.

Selain itu, adapun kenapa seseorang akhirnya berhasil mencapai kemampuan yang transcendence itu adalah karena selama mengerjakan ketiga hal di atas (Tri Tunggal Rahsa, Dwijaya Mukti, dan Trigaya Bhagawan) ia telah memahami dengan sebenarnya tentang unsur-unsur yang ada di dalam transcendence, yaitu:

1. Ketundukan hati dan pikiran seseorang kepada hukum dan aturan universal.
2. Keterbiasaan dalam menjalani laku spiritual-batiniah yang hakiki.
3. Kerinduan seseorang kepada sesuatu yang supranatural, khususnya Sang Adidaya Tunggal (Tuhan).
4. Keterlupaan diri seseorang tentang dirinya sendiri – karena sudah penuh kesadaran diri – lantaran hanya tinggal mengingat-NYA.
5. Kebersatuan rasa diri seseorang dengan hakekat DIRI-NYA.

Karena hanya dengan memiliki kelima unsur itulah kondisi transcendence bisa dicapai oleh seseorang. Sedangkan untuk dapat memenuhinya, maka harus ditempuh dengan melakukan keenam cara berikut ini:

1. Roso rumongso (Muhasabah : introspeksi diri)
2. Nglanglang jagad (Tadabbur : berpetualang mencari ilmu dan wawasan)
3. Semedhi (Tafakur : merenungi segala sesuatu)
4. Tirakat (Khalwat : berdua-duaan dengan Sang Kekasih sejati)
5. Nyepi (Uzlah : mengasingkan diri)
6. Tapa brata (Tahannuts : menyendiri)

Sehingga ketika seseorang mau melakukan keenam hal di atas dengan tekun, sabar, dan konsisten (istiqomah), barulah ia bisa mengosongkan dirinya dan akan merasakan sesuatu yang menakjubkan. Dan jika tetap seperti itu, ia pun bisa merdeka dan menjadi sosok yang waskita. Inilah keadaan dimana seseorang dapat memasuki kondisi transcendence karena telah menemukan YANG SEJATI dalam hidupnya. Dan puncaknya ia bisa merasakan kebebasan yang sebenarnya, sebab telah melalui kelima tahapan berikut ini:

1. Merasa tidak memiliki apapun.
2. Merasa telah buta, tuli dan bisu terhadap apapun selain DIA.
3. Merasa tak menginginkan apapun kecuali DIA.
4. Merasa tidak merasakan apapun kecuali DIA.
5. Merasa telah sirna karena hanya DIA saja yang Ada dan Berkuasa.

Makanya, transcendence itu sesungguhnya adalah upaya dalam menembus batas, melewati ujung, dan melampaui apa yang diketahui selama ini. Caranya dengan melakukan perjalanan spiritual (hijrah) sampai keluar dari hal-hal yang normal. Dan ini adalah bagian yang sah dari fitrah Manusia dalam bentuk persentuhan langsung dengan keagungan Tuhan.

Catatan: Jika boleh disederhanakan, maka dalam kebudayaan Jawa dan Sunda keadaan yang transcendence itu dapat dimasukkan kedalam kondisi yang telah manunggal, atau lebih lengkapnya adalah: manunggaling kawula lan Gusti. Sebab memang ada sosok Manusia (jagat alit/microcosmos) yang berhasil menyatu dengan Alam Semesta (jagat ageng/macrocosmos), dimana keduanya pun tetap berada di dalam genggaman Tuhan yang menciptakan dan mengendalikannya. DIA-lah Hyang Aruta (Sang Maha Esa dan Kuasa), dimana semuanya berasal dari-NYA dan akan kembali lagi kepada-NYA. Lebih detilnya tentang hal ini silahkan baca tulisan yang berjudul: 3 Prinsip kesatria utama.

Dan tidak akan ada jalan yang mudah apalagi instan untuk bisa memasuki level ke-transcendence-nan, apalagi menemukan YANG ILAHI. Semuanya butuh waktu, ketekunan, dan kesadaran diri yang tinggi. Setiap orang harus melakukan perjalanan spiritual-batiniah (hijrah) sesering mungkin tanpa meninggalkan laku yang lahiriahnya. Pun harus sudah mengalami kondisi yang transcendence, bahkan pada saat kapanpun juga. Artinya sudah bisa melampaui batas dan sekat-sekat yang ada di dunia ini, juga sudah tidak lagi memihak atau cuma ikut-ikutan orang lain. Dengan begitulah ia pun akan menemukan tujuan sebenarnya dari kehidupan ini. Lalu ketika ia sudah menemukan tujuan itu, barulah ia akan benar dalam hidupnya dan benar pula saat menuhankan-NYA.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Mugia Rahayu Sagung Dumadi.. 🙏

Jambi, 31 Januari 2020
Harunata-Ra

[Cuplikan dari buku “Diri Sejati”, karya: Harunata-Ra]

Catatan akhir:
1. Tulisan ini hanya sebagai pengantar saja. Semua yang dijelaskan adalah rangkuman dari pengetahuan para leluhur kita, yang tidak berasal dari satu bangsa/kaumnya saja. Dulu telah mereka buktikan sendiri keistimewaannya, sedangkan kini terserah kepada Anda sekalian. Tugas kami hanya sebatas menyampaikan dan mengingatkan saja.
2. Bacalah tulisan ini semuanya dan terurut dari awal sampai akhir. Bacalah dengan tenang dan seksama. Hanya dengan begitulah akan dapat memahami apa yang terkandung di dalamnya, dan apa pula maksud serta tujuannya.
3. Tetaplah bersikap eling lan waspodo, karena kedepannya nanti hidup akan lebih sulit dari biasanya. Keadaan dunia pun akan lebih kacau dan memilukan dari sebelumnya.

Bonus instrumental:

21 respons untuk ‘Manunggal Diri : Kemampuan Transcendence

    Hend Goenz said:
    Januari 31, 2020 pukul 1:51 pm

    Hatur Nuhun Matur Nuwun Terimakasih Kang 🙏

      Harunata-Ra responded:
      Februari 1, 2020 pukul 2:07 am

      Nggih sami2lah kang.. Nuwun juga utk kunjungannya, semoga bermanfaat.. 😊🙏

    free41278 said:
    Februari 1, 2020 pukul 4:38 pm

    Terimakasih bang oedi atas pencerahannya sungguh ilmu yg dalam dan luar biasa.. Baru berkunjung bbrp minggu di blog ini sudah langsung ketagihan pingin baca terus. Oya bang pingin tanya benarkah dgn laku tahanuts atau meditasi bisa membangkitkan energi kundalini? Menurut bang oedi apa itu kundalini?

      Harunata-Ra responded:
      Februari 2, 2020 pukul 1:23 am

      Terima kasih juga mas/mbak Free41278 karna udah mau berkunjung, semoga bermanfaat.. 😊🙏

      Hmm sblmnya perlu diperjelas dulu bahwa antara tahannuts dan meditasi itu berbeda walaupun bentuknya mirip, khususnya ttg cara dan lokasinya.. Jika tahannuts hrs di lakukan di tempat khusus (di luar ruangan seperti goa, hutan dan gunung) dan dlm wkt yg lama, maka meditasi itu bisa dimanapun, seperti di dalam kamar dan waktunya pun tidak lama..

      Nah kalo ttg membangkitkan kundalini, maka tak sesederhana itu.. Memang hrs melakukan meditasi, tetapi meditasi disini bukanlah satu2nya cara yg hrs di lakukan.. Ada bbrp tahapan lain yg juga hrs dikerjakan, dan waktunya pun tidak sebentar.. Makanya sgt jarang atau bahkan gak ada lagi yg bisa membangkitkan kundalini di zaman skr..

      Oh ya, ttg kundalini saya telah membahasnya di artikel lain, silahkan baca di link berikut : https://oediku.wordpress.com/2015/08/05/mitologi-dan-agama-tentang-ajaran-moksa/

      Semoga aja bisa sedikit menjelaskan apa yg mas/mbak tanyakan itu.. 😊

        Riyan said:
        Februari 4, 2020 pukul 2:02 pm

        Super sekali bang oedi, hatur nuwun sdh menjawab tentang meditasi dan kundalini..

        Harunata-Ra responded:
        Februari 5, 2020 pukul 4:04 am

        Iya sama2lah as Riyan, nuwun juga udah berkunjung.. semoga bermanfaat.. 🙂

      Generasi akhir Bpk ADAM said:
      Februari 2, 2020 pukul 3:31 am

      Subhanallah… Langsung menusuk palung hati yg paling dalam
      Terima kasih untuk ilmunya yg super ini bang
      Passsssss bnget dngn …..?

        Harunata-Ra responded:
        Februari 4, 2020 pukul 2:13 am

        Iya sama2lah.. terima kasih juga karena masih mau berkunjung, semoga ttp bermanfaat.. 🙂
        Hmm pas bgt dg apa tuuuh??

    Generasi akhir Bpk ADAM said:
    Februari 2, 2020 pukul 3:34 am

    Bang Terima kasih bonus instrumental yg luar biasa

      Harunata-Ra responded:
      Februari 4, 2020 pukul 2:14 am

      Iya sama2lah.. syukurlah kalo suka… emang enak tuh di dengerin sambil baca artikelnya.. lebih berasa.. hehe 🙂

    Guntur Satria Putra said:
    Februari 3, 2020 pukul 3:01 am

    terima kasih

      Harunata-Ra responded:
      Februari 4, 2020 pukul 2:15 am

      Iya sama2lah mas Guntur.. terima kasih juga karena masih mau berkunjung, semoga bermanfaat.. 🙂

    […] Nata Jiwa –> mengenal diri sejati. 2) Nata Raga –> melatih jasad, tubuh fisik (olah kanuragan dan kadigdayan). 3) Nata Kaluwarga –> Nur Ilahi (sedulur papat kalimo […]

    saryana said:
    Februari 19, 2020 pukul 8:59 am

    ternyata menjadi manusia susah banget. ngapunten saya sedikit tanya, mas oedi ini sama kazungalam’s blog, apa bedanya njih

      Harunata-Ra responded:
      Februari 22, 2020 pukul 5:53 am

      Hehe.. iya mas Saryana, emg gak mudah karena manusia itu kan diberi amanah sebagai Kholifah di Bumi.. Tugas dan tanggung jawab yang gak main-main, alias berat banget tuh..
      Hmm.. kazungalam’s atau kanzunqalam’s mas? yg jelas itu bukan punya saya kok.. kalo ttg bedanya apa, ya tentu bedalah.. kan orangnya pun beda.. 🙂

    sayyid said:
    Februari 22, 2020 pukul 8:36 am

    Assalamualaikum wr.wb,
    Transcendence yg bermakna apabila di ajak bicara oleh Tuhan.

    wassalamualaikum wr.wb,
    ustadz sayyid habib yahya

      Harunata-Ra responded:
      Februari 22, 2020 pukul 9:20 am

      Ow gitu.. Tuhan yg mana? Bicara yg seperti apa?

    sayyid said:
    Februari 23, 2020 pukul 10:01 am

    Assalamualaikum wr.wb,
    mas Oedi,
    Rasulallah s.a.w telah bersabda : pada suatu saat umatku akan diajak bicara oleh Allah.
    mengapa? umat Muhammad s.a.w adalah umat yg mulia bagi mereka yg mulia tentunya.

    Semua yg ada di dunia ini hidup dan dpt bicara mas jika tidak bagaimana Allah memberikan perintahNYA dan juga laranganNYA?
    Sesuatu yg ada pada diri kita,apa yg kita lihat dan kita dengar adalah bersifat fana,kecuali hati nurani lah yg bersifat ghaib, begitu juga dengan Allah S.W.T yg ghaib.

    wassalamualaikum wr.wb,
    ustadz sayyid habib yahya

      Harunata-Ra responded:
      Februari 24, 2020 pukul 5:03 am

      Ow gitu..

    Sinura : Negeri Yang Tertinggi « Perjalanan Cinta said:
    Maret 2, 2020 pukul 6:22 am

    […] Catatan: Lebih jelasnya tentang apa arti dan makna sebenarnya dari gelar Begawan itu, maka silahkan baca artikel di link berikut: Manunggal diri : Kemampuan transcendence. […]

    sayyid said:
    Maret 14, 2020 pukul 10:17 am

    pada th 2014 yg lalu saat beristirahat setelah bekerja kira2 jam 2 siang.
    saya duduk bertiga dengan teman2 kerja,tiba2 saya mendengar suara yg lemah lembut memanggil saya,saya tanyakan teman2 saya apakah mereka yg berbisik,kejadian ini terjadi 3 kli,tidak ada yg mengaku.

    lantas saya bertanya,” Anda siapa?”
    kepada KU lah yg kamu sujud dan harap selama ini , jawabNYA.
    -ingat selalu padaKU
    -sebut selalu namaKU
    -Bacalah KitabKU yg telah KU turunkan
    -shalatlah untuk mengingati Aku
    -DOA dan mohonlah kepadaKU
    -Sayang kepada keluarga dan orang tua
    -sayang kepada hamba-hambaKU
    -jagalah kesehatanmu,jangan abaikan
    -jgn mengadili orang lain

    Keluarlah dan pandanglah langit,lalu lihatlah, apa yg musti ku lihat? ,jawab ku’.
    yg ku tahu bahwa semua ini ciptaan MU, benar jawabNYA.
    semua ini akan berakhir ,hambaKU,sudah KU kabarkan kepada para utusanKU dahulu bahwa semua ini akan berakhir.

    Mereka telah menzhalami diri mereka dan mereka sekarang telah menzhalimi kota suciKU dimana tanahnya subur dan dimana lahirnya para nabi/rasul.
    Mereka dalam waktu ini sedang berunding dan berusaha untuk menumpahkan darah orang-orang yg tidak bersalah dan merusakkan milikKU.

    Seekor burung dan suaranya mirip merak dari surga yg belum pernah Ku ciptakan dari bumi akan KU turunkan kepada kalian sebagai tanda bencana akan datang seperti zaman para nabi dahulu.

    Sudah KUkabarkan pada kitabKU yg mulia bahwa dunia ini akan berakhir,
    “Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami.” [An-Naml: 82]

    Jenis burung ini sudah ku lihat beberapa minggu yg lalu menjengukku jam 2 pagi diperkarangan rumahku dan suaranya mirip merak.

    wassalamualaikum wr.wb,

    ustadz sayyid habib yahya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s