Sistem Pendidikan Kaum Mahultah

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Apa yang ada di masa kini sebenarnya sudah pernah ada di masa lalu, bahkan banyak hal yang ada dimasa lalu justru belum ada dimasa kini. Contohnya saja tentang alat teleportasi, maka di periode zaman ke tujuh ini (Rupanta-Ra) masih belum ada orang atau kelompok yang bisa menciptakannya. Jangankan untuk menciptakan alatnya, konsepnya saja masih sangat membingungkan para ilmuwan kelas dunia. Hingga pada akhirnya, sampai kini masih tetap dalam bentuk fiksi ilmiah.

Tapi, dulu pernah ada satu kaum yang berhasil menciptakan alat teleportasi itu. Mereka adalah kaum yang menjadi leluhurnya para Fir`aun/Pharaoh di Mesir kuno, yang bernama Mahultah. Dimana kehidupan dari kaum Mahultah ini sangatlah makmur, berperadaban tinggi, dan kesaktian mereka pun luar biasa. Dan terkait dengan alat teleportasi, kaum ini menamakannya dengan Madrokh. Bentuknya seperti pintu gerbang berbentuk bulat, yang diakifkan dengan menyalurkan energi petir atau listrik atau batu kristal ke mesin teleportasinya. Setelah aktif, maka dengan alat ini mereka bisa memindahkan objek (apapun itu, termasuk Manusia) sejauh 25-50 kilometer per-detik. Dan jika diperlukan, maka alat teleportasi ini juga bisa memindahkan seseorang sampai keluar negeri – sesuai dengan lokasi yang diinginkan dan waktunya bisa lebih dipercepat. Biasanya ini hanya di lakukan oleh raja dan para menterinya untuk tugas kenegaraan.

Dan jika mereka tidak menggunakan alat teleportasi Madrokh ini, mereka akan memilih alat transportasi lainnya, seperti:

1. Hirayakh
Alat ini berupa jet terbang tanpa suara yang dipasang di atas punggung penggunanya. Jet ini mampu melaju dengan kecepatan sekitar 500-1.500 kilometer per-jam. Sedangkan semua kontrol penerbangan (perintah untuk naik, turun, mendarat, dan melaju/melesat) berada pada alat khusus yang dipasangkan tepat pada bagian atas lengan kanan atau kiri penggunanya – seperti jam tangan. Atau bagi Hirayakh yang lebih canggih lagi, maka semua kontrol penerbangan cukup di lakukan dengan ucapan (kata perintah) saja.

2. Turazakh
Kendaraan ini semacam mobil tapi bisa terbang tanpa suara dengan kapasitas penumpang 4 orang. Tidak dirancang untuk pertempuran, tapi bisa melaju dengan kecepatan supersonic (3-5 kali kecepatan suara), bahkan bisa lebih cepat dari itu.

3. Masayapah
Kendaraan jenis ini tidak jauh berbeda dengan pesawat tempur di zaman sekarang, bahkan mampu terbang dengan kecepatan hypersonic (5-10 kali kecepatan suara).

Ketiga alat transportasi itu sudah menjadi bagian dari keseharian kaum Mahultah. Semuanya berbahan bakar sorekh (levelnya di atas avtur dan sangat minim polusi) untuk menggerakkan mesin jetnya. Ketiganya adalah contoh teknologi yang terwujud bukan karena tiba-tiba jatuh dari langit atau berasal dari alien. Semuanya mereka usahakan sendiri dengan banyak melakukan penelitian dan percobaan yang serius. Ada banyak kegagalan itu pasti, tapi mereka tidak pernah berhenti. Dan karena kecerdasan mereka yang menakjubkan, maka dalam waktu yang relatif singkat akhirnya berhasil menciptakan berbagai alat yang super canggih. Dan itu semua bisa terjadi karena adanya sistem pendidikan yang sangat baik di negerinya.

Jadi, di negeri kaum Mahultah ini setiap anaknya sudah mengikuti pendidikan yang sangat layak di masdah (sekolah). Masdah ini adalah komplek pendidikan yang sangat maju, yang bahan bangunannya saja terbuat dari batu marmer putih dan sebagian lainnya berwarna hitam atau kehijauan. Semua kebutuhan dalam pendidikan ada disana, yang semuanya telah disediakan secara gratis oleh pemerintah. Suasana di komplek pendidikan ini pun sangat nyaman, tertata rapi dan indah. Banyak taman bunga dan buah, kolam ikan, air mancur, dan pepohonan rindang yang membuat hati selalu tenang. Siapapun bahkan bisa merasa seperti tidak sedang berada di area pendidikan, lantaran saking nyamannya kondisi di tempat itu.

Di dalam masdah (komplek pendidikan) ini memiliki 4 tingkat pendidikannya, yaitu:

1. Masduyah (tingkat dasar, sejak umur 10-15 tahun) -> setara SD dan SMP.
2. Tisruyah (tingkat menengah, sejak umur 15-20 tahun) -> setara SMA dan S1. Di tingkat ini mereka sudah praktek di lapangan dan akhirnya membuat semacam skripsi.
3. Zarmuyah (tingkat tinggi, sejak umur 20-25 tahun) -> setara S2 dan S3. Di tingkat ini mereka sudah menciptakan sebuah karya ilmiah atau produk untuk industri.
4. Asturiyah (tingkat akhir, umur 25 tahun ke atas) -> setara Doktor dan Professor. Di tingkat ini seseorang hanya lebih mengembangkan penelitian dan karya cipta sebelumnya.

Catatan: Usia rata-rata mereka saat itu antara 300-500 tahun, bahkan tidak sedikit yang lebih tua dari itu. Sebelum masuk sekolah atau dibawah umur 10 tahun, setiap anak akan belajar pada kedua orang tuanya tentang berbagai ilmu pengetahuan, terutama tentang dasar-dasar materi yang akan diajarkan di sekolah. Karena memang setiap orang tua di kaum ini sudah terdidik dan merasa wajib untuk mendidik anaknya secara lansung saat ia masih kecil sebagai bekal saat memasuki dunia pendidikan formal di masdah. Hal ini terus berkelanjutan sampai akhir kehidupan kaum ini di muka Bumi.

Lalu, dalam dunia pendidikan mereka, maka seorang guru itu disebut dengan mustah, sedangkan muridnya disebut dengan simah. Selain itu, mereka juga mengenal apa yang kini disebut dengan kepala sekolah, yang dalam bahasa mereka disebut akhiyah. Akhiyah ini berkedudukan langsung dibawah Guratamah Pasal (menteri pendidikan). Mereka juga sudah mengenal apa itu perpustakaan yang dalam bahasa mereka disebut dengan buskariyah. Koleksi dari perpustakaan ini sebagian besarnya adalah hasil penelitian dan karya cipta dari para siswanya. Sementara itu, untuk bisa melakukan praktek dan penelitian sesuai dengan pelajaran, maka dibangunlah sebuah laboratorium khusus yang dalam bahasa mereka disebut dengan husturiyah. Di dalam laboratorium ini semua fasilitas untuk praktek dan penelitian sudah tersedia lengkap dan canggih.

Di sekolah sudah terdapat tempat bermain dan ada waktunya untuk sarapan dan makan siang, yang diberikan secara gratis oleh pihak sekolah. Proses belajar mengajar di lakukan sejak pukul 7 pagi untuk semua tingkatannya. Sedangkan waktu pulangnya adalah jam 13 untuk tingkat dasar, jam 15 untuk tingkat menengah, sementara menjadi bebas untuk tingkat tinggi dan akhir. Selama itu, yang diajarkan lebih kepada teori dari setiap mata pelajarannya – terutama bagi tingkat dasar (Masduyah), selebihnya akan ditambahkan dengan banyak praktek secara indoor maupun outdoor. Ada waktu istirahat dan makan siang selama satu jam, setelah itu pelajaran dilanjutkan lagi hingga waktu kepulangan di setiap tingkatannya, kecuali untuk di tingkat dasar yang langsung pulang setelah makan siang.

Catatan: Waktu dalam bahasa mereka disebut zamanu, sementara alat penghitung waktu disebut ramanu. Di dalam kehidupannya, kaum Mahultah ini tidak mengenal istilah minggu karena hanya mengenal perhitung bulan dan tahun. Dalam satu tahun akan dibagi ke dalam 15 bulan. Mereka juga mengenal hari yang dalam sistem kalender mereka berjumlah 30 pada setiap bulannya. Artinya terdapat 450 hari dalam setahun. Selain itu, kaum Mahultah ini tidak membagi waktu dalam sehari semalam menjadi 24 jam, melainkan menjadi 30 titik waktu. Ini tidak mengubah keadaan yang ada di alam, karena di zaman mereka itu waktu dalam sehari semalam sebenarnya tetaplah 24 jam, hanya saja kaum ini punya prinsip dan tradisinya sendiri untuk membagi dan membuat perhitungan waktunya. Jadi, ini hanya masalah kebiasaan dan seleranya saja.

Selanjutnya, para murid tidak dibebani dengan PR (pekerjaan rumah), tetapi lebih banyak melakukan praktek mandiri secara indoor dan outdoor. Di tingkat lainnya mereka didorong untuk lebih banyak melakukan penelitian hingga bisa menghasilkan sebuah karya cipta. Dan kunci kesuksesan bagi para murid di kaum ini adalah sikap mereka yang sangat menghormati para gurunya. Mereka juga sangat patuh dan tekun dalam mengikuti setiap petunjuk dari gurunya, terlebih memang semua guru yang ada bisa ditiru dan dijadikan teladan. Mereka adalah orang-orang yang berilmu tinggi serta penuh dengan kebijaksanaan.

Adapun sekolah berlangsung hanya dalam waktu lima hari saja (berturut-turut), setelah itu ada libur selama dua hari. Demikianlah itu terus berulang sampai pada waktunya tuskah (ujian). Ada beberapa tuskah (ujian) disini. Pertama, untuk ujian setiap pokok materi yang dilaksanakan pada setiap 90 hari belajar. Kemudian ada juga ujian pada setiap 300 hari sekali yang disebut dengan milsah (ujian tengah). Dan yang terakhir pada setiap 600 hari sekali, ini disebut dengan lutsah atau ujian akhir kelulusan. Ujian ini dilaksanakan pada setiap level pendidikan yang ada, kecuali yang di tingkat tinggi (Zarmuyah) dan akhir (Asturiyah). Karena di kedua tingkatan itu setiap murid hanya memberikan laporan atas penelitiannya pada guru pembimbingnya.

Catatan: Setelah menempuh ujian tengah (milsah), setiap murid akan diliburkan selama 10 hari. Sementara ketika menyelesaikan ujian akhir (lutsah), mereka lalu mendapatkan liburan selama 30-40 hari, tergantung dari keputusan sekolah atau perintah dari sang raja. Pada rentang waktu tersebut, sebagian dari murid biasanya akan melakukan perjalanan wisata bersama keluarganya. Sebagian lainnya memilih untuk mondok di asrama (padepokan) demi mendapatkan pelajaran dari para Begawan yang bijak. Dan hal ini sangat dibutuhkan oleh para murid dalam kesadaran dirinya sendiri, alias bukan karena tradisi ataupun terpaksa.

Bentuk ujiannya tertulis dan praktek. Seorang murid akan dinyatakan lulus dengan nilai minimal 60 (ini standar mereka, setara dengan nilai 90 jika di zaman kita sekarang). Selanjutnya, ada pula murdayakh (ijazah) yang diberikan pada setiap murid di setiap mereka lulus ujian lutsah (ujian akhir kelulusan) pada setiap mata pelajarannya. Ijazah ini terbuat dari bahan kulit hewan atau kertas atau logam (emas, perak). Khusus untuk di tingkat tinggi (Zarmuyah), ijazah ini terbuat dari logam emas dan diberikan ketika seseorang mampu menyelesaikan dengan baik satu penemuan atau karya cipta. Saat itu ia akan dinyatakan lulus tingkat pendidikan tinggi (Zarmuyah). Sedangkan di tingkat Asturiyah (akhir), ijazah diberikan setiap ia berhasil menciptakan atau mengembangkan sebuah karya.

Catatan: Bagi kaum ini sebenarnya ujian kelulusan tidak begitu penting. Itu hanya sebatas formalitas-seremonial saja, karena mereka pasti lulus sebab cara belajar dan mengajarnya sangat bagus. Yang terpenting bagi mereka saat itu adalah hasil karya yang bisa diciptakan. Dibidang apa saja dan dalam bentuk apapun itu, yang jelas harus dari usaha dan kerja keras pribadi masing-masing. Dan mereka ini memang satu kaum yang memegang teguh kejujuran.

Adapun di antara mata pelajaran dalam sistem pendidikan di kaum ini yaitu:

1. Aljarakh (hitungan/matematika)
2. Bintarakh (astronomi)
3. Bariyah (agama)
4. Murazakh (tentang manusia/biologi)
5. Karizakh (tentang hewan)
6. Tuburakh (tentang tumbuhan)
7. Kaurazakh (olah raga)
8. Turyakhalya (bahasa, sastra, dan seni)

Sedangkan nama-nama mata pelajaran pada tingkat menengah yaitu:

1. Aljarakh Masa, Kasa (hitungan/matematika 1, 2)
2. Bintarakh Masa, Kasa (astronomi 1, 2)
3. Bariyah (agama)
4. Murazakh Masa, Kasa (tentang manusia 1, 2)
5. Karizakh Masa, Kasa (tentang hewan 1, 2)
6. Tuburakh Masa, Kasa (tentang tumbuhan 1, 2)
7. Kaurazakh (olah raga dan batin)

Dan untuk nama-nama mata pelajaran pada tingkat tingginya yaitu:

1. Aljarakh Pasa, Lasa, Jasa, Kusa, Kisa (hitungan/matematika 3, 4, 5, 6, 7)
2. Bintarakh Pasa, Lasa, Jasa, Kusa, Kisa (astronomi 3, 4, 5, 6, 7)
3. Bariyah (agama)
4. Murazakh Pasa, Lasa, Jasa, Kusa, Kisa (tentang manusia 3, 4, 5, 6, 7)
5. Karizakh Pasa, Lasa, Jasa, Kusa, Kisa (tentang hewan 3, 4, 5, 6, 7)
6. Tuburakh Pasa, Lasa, Jasa, Kusa, Kisa (tentang tumbuhan 3, 4, 5, 6, 7)
7. Kaurazakh (olah raga dan batin)

Jadi, semakin tinggi level pendidikannya maka semakin tinggi pula tingkat materi dari mata pelajarannya; semakin rumit dan sulit. Lalu khusus untuk pendidikan di tingkat akhir, maka setiap murid hanya melakukan penelitian dari apa yang telah mereka pelajari atau temukan (karya cipta) di tingkat sebelumnya. Disini terfokus pada apa yang menjadi minat dan bakat mereka masing-masing. Jika ia mampu menyelesaikan penelitiannya dengan baik, maka ia akan mendapat ijazah kelulusannya.

Adapun semua mata pelajaran di atas akan dipelajari oleh setiap siswanya, khususnya di tingkat dasar (Masduyah) sebagai pengenalan. Tapi semenjak di tingkat menengah (Tisruyah), setiap orang boleh memilih beberapa pelajaran yang paling ia sukai saja. Dari situ akan menjadi konsentrasi mereka, sampai pada penelitian dan menghasilkan sebuah karya. Sedangkan khusus untuk pendidikan di tingkat tinggi (Zarmuyah) dan akhir (Asturiyah), setiap orang hanya melakukan banyak penelitian dan pengembangan dari apa yang telah mereka pelajari atau ciptakan di tingkat sebelumnya.

Dan selain belajar di Masdah (sekolah formal), setiap murid akan mengisi waktu libur dua hari mereka dengan belajar lebih banyak tentang agama untuk keseimbangan hidupnya dan ilmu kebatinan untuk membela dirinya. Kebatinan disini artinya belajar tentang ilmu kanuragan dan kadigdayan kepada seorang yang bijak. Orang bijak ini biasa mereka sebut dengan istilah Guru atau Rsi Guru. Jika mereka benar-benar serius dalam belajar, maka akan banyak kemampuan supranatural yang bisa mereka kuasai. Seperti terbang, menghilang, dan mengendalikan elemen alam (tanah, air, api dan udara). Tapi semua kemampuan itu sangat dilarang untuk menyakiti siapapun, termasuk hewan dan tumbuhan. Hanya boleh digunakan untuk kebaikan dan kebenaran saja. Dan mereka memang selalu mematuhi aturan itu karena demi kebaikan mereka sendiri.

Catatan: Istilah Guru atau Rsi Guru pernah dipakai oleh banyak kaum di zaman yang berbeda-beda. Itu bukan asli dari kata dalam bahasa Sanskerta, melainkan kata serapan dari bahasa lain yang lebih tua. Nah apa yang dipergunakan oleh kaum Mahultah ini lebih dulu dari yang pernah dipakai oleh bangsa Arya.

Selanjutnya, mengenai semangat pendidikan dan ilmu pengetahuan, maka ada sebuah perpustakaan pusat di negeri mereka ini. Lokasinya tepat di samping istana raja dan biasa disebut dengan Husarabakh. Gedung ini merupakan simbol kecintaan mereka pada ilmu pengetahuan. Bentuknya sangat megah dengan ukuran sekitar ±1.780 x 2.200 meter. Lantai dan dindingnya terbuat dari semacam batu granit berwana kehitaman dan batu marmer warna putih. Di dalam perpustakaan ini terdapat banyak rak buku yang setiap raknya setinggi ±25 meter, dengan panjang ±50 meter. Di rak-rak tersebut lalu tersimpan berbagai jenis koleksi dalam berbagai disiplin ilmu, seperti tentang alam, tumbuhan, hewan, biota laut, astronomi, sains dan teknologi, seni, sastra, sejarah, agama, olah kebatinan (ilmu kanuragan dan kadigdayan), dll. Semuanya tertulis dalam bentuk gulungan atau buku. Dan mungkin suatu saat nanti, di masa kita ini, akan ada orang yang terpilih untuk bisa mengambil ilmu pengetahuan dari perpustakaan ini lalu menerapkannya. Semoga saja.

Semua koleksi yang terdapat dalam perpustakaan Husarabakh itu berjumlah sekitar ±2.560.000 buku dan jutaan lainnya dalam bentuk gulungan. Yang semuanya telah dikumpulkan sejak masa Nabi Jaksa AS masih tinggal bersama kaum ini (di masa awal peradaban mereka). Bahkan beliau pula yang telah mengajarkan kepada kaum ini untuk menuliskan/mendokumentasikan semua data dan informasi penting yang didapatkan ke dalam selembar kulit atau kertas. Di kemudian hari barulah dalam bentuk buku yang berjilid.

Ya. Pada masa awalnya, semua catatan masih dikumpulkan di salah satu rumah yang dijadikan gudang persenjataan. Gedung khusus perpustakaan baru dibangun pertama kali sejak masa akhir raja pertama, yaitu Magayarkah (ia memimpin kaum ini selama ±215 tahun). Bangunan ini lalu dikembangkan terus menerus dengan tujuan agar anak keturunan mereka bisa mengetahui dan mempelajari semua ilmu pengetahuan nenek moyang mereka. Dan selain sebagai tempat dari berbagai catatan (gulungan dan buku) ilmu pengetahuan, di gedung ini juga terdapat ruangan khusus untuk museum. Di dalamnya menyimpan berbagai benda antik dan pusaka negara. Semuanya dikelola dengan sangat baik dan teratur.

Demikianlah sekilas tentang dunia pendidikan dan taraf keilmuan dari kaum Mahultah ini. Meskipun mereka hidup di akhir periode zaman ke empat (Swarganta-Ra), mereka bisa mencapai puncak peradaban manusia. Dan dari penjelasan di atas, kita bisa melihat bahwa mereka ini memanglah bangsa yang cerdas dengan peradaban yang sangat tinggi. Tidak kalah dengan kita sekarang, bahkan lebih baik karena mereka telah mampu menyeimbangkan antara urusan dunia dan akheratnya. Kebutuhan akan hal yang ilmiah dan batiniah pun telah dimiliki oleh setiap pribadi secara harmonis. Artinya, mereka telah memikirkan tentang bagaimana bisa hidup dengan nyaman di atas dunia ini namun tidak lantas melupakan setiap kebutuhan (bekal) untuk kehidupan di akheratnya nanti. Oleh sebab itulah mereka terus mengerjakan setiap perintah dan aturan Tuhan dengan tulus-ikhlas. Hasilnya mereka lalu mendapatkan bonus yang luar biasa, yaitu berpindah ke Dimensi lainnya (tepatnya ke Dimensi yang kelima; Nilbati). Di sana mereka terus melanjutkan kehidupan dalam kondisi yang jauh lebih baik lagi. Sungguh menyenangkan.

Ya ulni. Bagh na tah ur sam ula kin dairu makal. Uz Ra ul su`um nah riya ballu wagni tar dukul jam fira. At gim tera vadi tes kamu sahi la caya re te nis. Sye para haldu kom sara uls bar Jawi manakh, gu ul ura jas kati. Um manna wa jaya Nusanta-Ra heq nuhi ultame rake. Iste maku usa we vaye zayi nal ballu ne Bhumi hayyu nak sahi. Zak naki mush he renu ten tena his retu waki alis. Neh lektu sare 10.555.01 luh yak bari gif ur urukh

Sehingga tidak salah lagi, jika ingin maju dan berjaya maka setiap bangsa itu harus memiliki sistem pendidikan yang bagus dan sesuai dengan karakter bangsanya sendiri. Ciptakan sebuah sistem pendidikan yang berkualitas sekaligus menyenangkan, barulah akan maju dan berjaya. Dan harus seimbang antara yang bersifat ilmiah dan batiniahnya. Karena hanya dengan itulah setiap orang akan seimbang kehidupannya. Jika sudah seimbang hidupnya, maka ia akan bisa menghasilkan karya cipta yang mengagumkan.

Semoga bangsa ini bisa bangkit dan mengikuti secara tulus jejak para leluhurnya dulu. Jika itu terjadi, maka bangsa ini pun akan bangkit memimpin dunia sekali lagi. Tidak dengan mengekor pada bangsa lain, tapi mengukir prestasinya sendiri dan dengan caranya sendiri.

Mugia Rahayu Sagung Dumadi… 🙏

Jambi, 22 Januari 2020
Harunata-Ra

Catatan akhir:
1. Seperti pada tulisan sebelumnya, maka silahkan Anda percaya atau tidak percaya dengan keterangan ini. Tugas kami hanya sebatas menyampaikan dan mengingatkan saja.
2. Banyak hal yang tidak dijelaskan tentang kaum Mahultah ini. Itu semua karena memang di dalam tulisan ini kami hanya fokus tentang sistem pendidikannya saja. Selebihnya masih harus dirahasiakan dulu, belum diizinkan untuk disebarkan. Maaf.

Bonus instrumental:

15 respons untuk ‘Sistem Pendidikan Kaum Mahultah

    Generasi terakhir said:
    Januari 26, 2020 pukul 5:08 pm

    Waoo keren betul bang …
    Bisa pulang kendeeesssoo hny dngn berkedip mata Ya bang….
    ..syng dinegeri bebek ini para pendidik/ guru sdh hilang jati diri sebagai seorang guru ya bang…..

    Aaaaaamiiiiin kulo doanya smg beliau Yg terpilih Segera mndapat tugas mengambil gulungan2 kitap yg ada dalam perpustakan Husarabhak

      Harunata-Ra responded:
      Januari 27, 2020 pukul 2:24 am

      Iya, kaum ini emg keren banget.. mrk telah berhasil menyeimbangan antara kebutuhan duniawi dan ukhrawi, lahir dan batinnya.. 🙂

      Hehe iya, kemana2 gampang dan wktnya sekejap aja..

      Emang betul sih kalo skr byk yg ngaku guru tapi dianya gak pantas, karena istilah guru itu pun sebenarnya berasal dari singkatan “digugu lan ditiru”.. sgt terhormat dan mulia peran dari seorang guru itu, tapi guru yg beneran loh.. makanya skr ini yg ada itu hanyalah pengajar, bukan guru.. beda dg di zaman kaum Mahultah ini, karena disana yg ada itu justru cuma para Guru, karena Guru itu pastilah pengajar juga..

      Aamiin.. semoga aja mbak.. ato mungkin sebenarnya udah tp blm wktunya aja “dikeluarkan/ditunjukkan” kpd dunia… kita tunggu aja tanggal mainnya.. 🙂

        Generasi terakhir BPK ADAM said:
        Januari 30, 2020 pukul 7:39 am

        Enggih bang …mereka mengajar cuma demi isi kantong …pr murid mau bodoh mau pintar masa bodo yg pnting tgl 25 gajian dn dpat bonus ini itu ….

        Syukur alhamdulillah kalo bgt bang..
        Sy doakn smg beliau segera dikeluarkan di panggung semesta …aaaamiin

    awandoku said:
    Januari 27, 2020 pukul 7:26 am

    Weleh weleh, terima kasih mas

    Mungkin kalau dipikir pikir dan dirasa untuk saat ini kayaknya mulai banyak orang kaget, kayak saya ini

    Lha wong biasanya dapat ilmu dari sekolah, mau ga mau ya pemikiran terbentuk seperti itu. Apalagi ada banyak bumbu bumbu pengkultusan dan isu isu menakuti, jadinya tambah ciut nyali cuma bisa nurut. Ketemu blognya mas Oedi lgsg seperti ada tamparan ada yang kurang pada diri

    Akhirnya mau ga mau ada guncangan jiwa karena adanya ketidakseimbangan dalam diri, jadi nya lebih ngejar ke sisi yang lama kosong sampai saat ini.

    Mohon doanya mas Oedi semoga lekas dipertemukan batas batasnya sehingga bisa kembali menyeimbangkan diri dengan kesatuan diri yang utuh didunia ini, ataupun di dunia pararel

    Kayaknya mas Oedi mengikuti soul land ini

    Terima kasih
    Semoga niat baik mas mendapat balasan yang baik juga buat mas

    Rahayu mas Oedi

      Harunata-Ra responded:
      Januari 27, 2020 pukul 7:56 am

      Terima kasih juga mas Awandoku karena masih ttp mau berkunjung dan mendoakan saya, semoga yg terbaik utk sampeyan juga.. Rahayu.. 🙂

      Hmm.. saya pun dulu awalnya sama dg sampeyan yg kaget karena sblmnya terdoktrin dg info yg didapat dari sekolah dan buku2 yg ada.. Tapi dg berjalannya waktu justru terbiasa dan sgt antusias dg hal-hal yg anti mainstream.. yg mainstream malah gak menarik lagi skr.. pengen terus mencari yg gak umum atau yg terahasia dan hilang dari catatan sejarah formal..

      Waah kita saling mendoakan ajalah mas, agar sama2 berhasil menyeimbangan diri, karena itulah yg terpenting dlm hidup ini.. terlebih kita pun sedang menuju ke masa transisi zaman ini.. 🙂

      Ttg soul land (douluo dalu)? hehe.. iya mas saya emg mengikutinya dr season 1.. seneng aja, karena ada byk gambaran yg sesuai dg fakta dan realita masa lalu.. cukup mewakili apa yg dulu pernah terjadi..

    Guntur Satria Putra said:
    Januari 27, 2020 pukul 7:30 am

    minta tolong dijabarkan pembagian dimensinya dong mas oedi berikut karakternya ? terima kasih

      Harunata-Ra responded:
      Januari 27, 2020 pukul 7:59 am

      Terima kasih mas Guntur karena masih mau berkunjung, semoga ttp bermanfaat.. 🙂

      Hmm.. ttg dimensi, maaf ya mas karena gak bisa saya jelaskan detilnya skr.. itu pengetahuan yg tidak biasa (tinggi) dan perlu dirahasiakan dulu.. blm waktunya utk di share, apalagi di internet..

        Guntur Satria Putra said:
        Januari 27, 2020 pukul 8:22 am

        PENJELASAN DIMENSI DAN KEPADATAN

        DIMENSI DAN KEPADATAN
        ALIH BAHASA : DEVITA

        Ada di dimensi manakah kita sekarang? Seberapa “Padat”kah kita?

        Kepadatan yang dimaksud adalah mencakup tubuh dan kesadaran. Secara umum, tubuh kita terdiri dari tiga tubuh (fisik, astral, causal) dan banyak lapisan. Pada pembahasan ini aku akan menuliskan tentang TUBUH secara umum, dan KESADARAN. Tubuh ini adalah device, alat atau gadget yang digunakan di Bumi oleh tubuh yang lebih halus yang meliputi astral dan causal (keduanya menjadi bentuk Kesadaran). Sering ada yang bertanya tentang Dimensi 3 dan bagaimana caranya menuju 5D. Berikut aku jabarkan seperti apa di setiap dimensinya.

        Dimensi 1:

        Di Bumi, dimensi 1 adalah materi biologi yang solid, yang “ADA” dan baru menjadi sistem penciptaan awal. Misalnya mineral, batu, air, dan hewan bersel satu. Mahluk-mahluk ini belum mempunyai sistem berpikir dan baru bereaksi sesuai program pembentuknya.

        Dimensi 2:

        Mahluk di Bumi yang berdimensi 2 sudah mempunyai rasa, dan bereaksi dengan insting dan dorongan dari kebutuhannya, namun belum memiliki kesadaran. Contohnya adalah hewan-hewan dan (bisa jadi) sedikit bagian manusia. Coba perhatikan hewan di sekitar kita, cara mereka memenuhi kebutuhannya; makan, tidur, berkembang biak, melindungi diri, dan lainnya. Mungkin kita pernah temui hewan peliharaan maupun hewan liar yang seolah memiliki ekspresi, berpikir, empati, bahkan melakukan hal-hal yang mendekati perilaku manusia. Mungkin saja mereka sudah dekat evolusinya menjadi mahluk yang lebih tinggi.

        Dimensi 3:

        Sebagian besar manusia ada pada dimensi 3 ini. Seperti yang kita ketahui bahwa perbedaan antara manusia dan hewan adalah akal dan buddhi. Manusia berakal, berpikir, dan mempunyai rasa. Pikiran ini membuat manusia untuk pertama kalinya dalam evolusinya, mampu mengetahui BENAR dan SALAH, membedakan hitam dan putih, hingga terbitlah Norma, aturan, tata laku, agama. Kemampuan berpikir ini juga untuk pertama kalinya membuat manusia memahami bahwa dirinya eksis, ada. Cogito Ergo Sum, I think therefore I am (I exist)-Descartes. Ini adalah bentuk kelahiran manusia sebagai mahluk berpikir untuk pertama kalinya. Karena EGO mulai muncul, tak heran sebagian manusia sebagai mahluk 3D merasa harus selalu ada, eksis, melindungi ego, harus menjadi yang benar, kuat, menjadi yang “paling”. Perebutan kekuasaan, wilayah, sumber daya, anak buah, jajahan, pengikut, energi, menjadi sebuah kompetisi yang harus dimenangkan agar tetap eksis, tetap ada, sebagai kebutuhan khas dimensi 3nya.
        Kemampuan berpikirnya di tahap awal ini membuat manusia masih senang menggunakan otak sebagai barang baru, dan tidak terlalu banyak mengeksplorasi rasa. Dalam pemahaman Ketuhanan, memang pada dimensi ini masih jauh manusia mengetahui Tuhan. Itu sebabnya disampaikan juga dalam agama bahwa Tuhan adalah rahasia dan tidak sepantasnya manusia menduga-duga, membayangkan seperti apa wujudNya, karena pemahaman dimensi 3 baru di ranah otak dan tubuh fisik saja. Pengetahuan tentang Tuhan baru diberikan secukupnya lewat agama, yang juga baru menggunakan pemikiran (otak). Manusia pada tahap ini belum mampu mencerna Penyatuan, the Oneness, dengan Penciptanya. Ini wajar, karena mereka baru bisa melihat segala sesuatunya sebagai entitas yang terpisah-pisah, sebagai produk dari Ego yang kusebut di atas tadi.

        Dimensi 4:

        Sedikit naik dari dimensi 3, kesadaran manusia dimensi 4 mulai meluas. Dimensi 4 mulai dapat melihat di luar dirinya, melakukan banyak sekali hal untuk orang lain, masyarakat, empati yang jauh lebih berkembang dari dimensi 3, mulai terbuka dengan konsep dan pemahaman orang lain dan kadang terlalu berlebihan. Banyak manusia 4D yang ‘kebablasan’ atau terlalu berlebihan dalam memberikan segalanya bagi luar dirinya, bahkan kadang terlalu lelah baik fisik, mental, emosional, karena apa yang disebut dengan ‘pelayanan’. Mereka biasanya merasa kelelahan ini karena masih menggunakan sumber dari dirinya sendiri, energinya sendiri, sehingga sering disebut sebagai “pengorbanan”. Contoh mudah manusia 4D adalah sukarelawan pelayanan masyarakat, pemerhati dan aktivis lingkungan, dan sebagainya. Kadang 3D dan 4D ini sangat berdekatan sehingga kesadaran manusia bisa naik turun pada rentang tersebut.

        Dimensi 5:

        Manusia dimensi 5 masih tinggal di Bumi. Perbedaan paling menyenangkan pada dimensi ini adalah manusia sudah memahami bahwa “All is One”, semua adalah satu, aku adalah kau, kau adalah aku, dan Tuhan adalah ESA bukan lagi SATU. Dengan memahami kemanunggalan ini, manusia 5D mulai memahami relativitas, ketidak-mutlakan, bebas dari dualitas dan wadah. Dengan pemahaman ini, empati dan pelayanan menjadi seimbang, semua aspek kesadaran dan pengetahuan menjadi imbang, terlebih karena mulai dapat mengendalikan tubuh halusnya dan mengakses energi dari alam semesta, sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya, untuk dibagikan kepada manusia lain dan planetnya. Manusia 5D tahap awal akan mulai terbuka pada kemanunggalan, dan menyediakan dirinya untuk membantu memberikan kesadaran dan bantuan kepada masyarakat secara seimbang.

        Dimensi 6:

        Manusia dimensi 6 adalah manusia Bumi yang paling bahagia. Aku rasa aku sudah bertemu dengan cukup banyak orang dimensi 6 di sini. Konsep kemanunggalan semua mahluk dan Tuhan sudah sangat nyata bagi manusia 6D, sudah nyaris tidak ada ke”aku”an lagi, hanya sekedar secukupnya agar masih menapak di Bumi. Manusia 6D telah mampu mewujudkan kenyataan dengan pikirannya, menciptakan realita dengan ‘mind power’ dalam level Bumi. Itu berarti dirinya sudah hampir tidak memiliki ketakutan dan kekuatiran pada apapun karena benar-salah dan baik-buruk sudah tidak ada. Hidup manusia 6D sangat positif dan telah mampu melihat segalanya sebagai ilusi yang layak dinikmati, seperti menonton film, membiarkan maya-ilusi-drama-film termainkan sebagai hiburan. Kenikmatan dunia tidak akan berdampak apapun lagi pada mereka, tidak lebih dari selingan yang menyenangkan. Manusia 6D adalah akhir dari evolusi manusia, tidak ada manusia 7D yang masih dalam bentuk fisik. Maka kisah moksha orang-orang suci ada pada tahap ini, dimensi 6.

        Dimensi 7:

        Setelah berevolusi dan tidak di Bumi lagi, manusia memiliki bentuk yang berbeda yang jelas bukan tubuh manusia. Namun perlu diingat, sejak dimensi 1 sampai dengan 6, entah berapa puluh, ratus kehidupan yang kita lewati dan ulangi, dan berapa ribu atau juta tahun telah kita habiskan di sini. Dimensi 7 adalah dimensi Magic. Mahluk dimensi 7 dapat menjadikan apapun dari kehendak, dari kemampuan berkreasi pikiran. Meskipun BELUM menjadi Tuhan, mahluk 7D sudah sangat dekat dengan kemanunggalan sejati, sudah nyaris menyatu dengan Pencipta. Perbandingannya adalah, jika kita melihat sebuah jeruk, kita harus melihat, memegang, mencicipi, dan melakukan apapun dengan indera. Sedangkan mahluk 7D tidak mengalami tahapan proses yang demikian, semua hanya dengan satu tahap, mengetahui, bahkan membuat jeruk. Mahluk dimensi 7 sudah dapat mencipta mahluk yang lebih rendah, berkreasi, eksperimen, semua dengan pikiran dan terjadilah dalam realita. Peran mahluk 7D ini kurang lebih seperti pemimpin daerah, mereka menguasai dan bergabung dalam area galaksi dan antar galaksi, dengan tugas sebagai observer, membantu keberlangsungan kehidupan planet-planet, memberi pengetahuan bagi mahluk-mahluk di planet tersebut, mengatur managemen antar planet, dan seterusnya.

        Dimensi 8:

        Mahluk dalam dimensi 8 sudah jauh lagi, mereka sudah menjadi kesempurnaan, kebahagiaan sejati, mencapai bagian terluar dari keabadian dan menyatu dengan Pencipta. Mereka berada di dalam Cinta yang sebenarnya, tidak lagi menjadi sebuah entitas, namun menjadi kesadaran alam raya.

        Dalam script-script kuno dan peta alam semesta, disebutkan bahwa dimensi kesadaran ini masih tinggi lagi, hingga dimensi 11. Suatu saat nanti aku akan bahas lagi jika diperkenankan. Semoga tulisan ini cukup membuka mata bahwa kita masih sangat-sangat jauh dari tujuan yang hendak kita capai.

        Teruslah berevolusi, WAKE UP!

        Diolah dari artikel Jeff Street, https://wakeup-world.com/…/ascending-the-densities-of-cons…/

        Keterangan Tambahan :

        Kepadatan 1 : Kerajaan Mineral
        Kepadatan 2 : Kerajaan Tanaman dan Kerajaan Hewan yang lebih rendah
        Kepadatan 3 : Hewan yang lebih tinggi dan Manusia yang lebih rendah
        Kepadatan 4 : Rendah : Alam Astral dan Alam Emosi yang Lebih Rendah
        Kepadatan 4 : Tinggi : Eterik dan Alam Mental yang lebih Tinggi
        Kepadatan 5 : Rendah : Kausal dan Alam Kreatif
        Kepadatan 5 : Tinggi : Jiwa (tingkat akhir individual)
        Kepadatan 6 : Oversoul (social memory complex)
        Kepadatan 7 : Master Oversoul, Atma
        Kepadatan 8 : Avatar, Makhluk Selestial/Makhluk Langit
        Kepadatan 9 : Kesadaran Kristus, Kesadaran Budha, Dunia Tuhan yang lebih rendah
        Kepadatan10: Alam Tuhan yang lebih tinggi
        Kepadatan11: Alam Universal
        Kepadatan12: Sumber, Misteri, Tao
        Kepadatan13 dan seterusnya : Kosong – Ruang tak bermanifestasi

        Densitas atau Kepadatan serupa dengan tingkat kesadaran dan aspek diri, namun mengacu pada keadaan bentuk kehidupan yang berbeda dari alam semesta. Densitas adalah sebagai berikut :

        1 Kerajaan mineral
        2 Kerajaan tanaman
        3 Kerajaan binatang
        4 Manusia
        5 Badan cahaya eterik
        6 Tubuh jiwa
        7 Oversoul
        8 Malaikat
        9 Archangels
        10 Dewa Pencipta
        11 Dewa Universal
        12 Ketuhanan

        Harunata-Ra responded:
        Januari 27, 2020 pukul 8:42 am

        Nah itu sudah ada mas, jadi gak perlu lagi kan saya jelaskan… 🙂

        Guntur Satria Putra said:
        Januari 27, 2020 pukul 8:44 am

        oalah sama seperti ini mas versi mas udi ? baik mas makasih ilmunya

        Harunata-Ra responded:
        Januari 27, 2020 pukul 9:07 am

        Hmm kalo versi saya sih agak berbeda.. Apalagi sebenarnya dimensi itu sendiri dibagi menjadi tiga jenis.. Satu ttg kepadatan ato vibrasinya, yg kedua adalah ruang dan waktunya, sedangkan yg ketiga ttg esensinya.. Ketiganya itu punya penjelasan dan bagian (level)-nya masing2.. Yg dijelaskan dlm komentar masnya itu masuk ke dlm yg jenis pertama (ttg kepadatan ato vibrasinya) aja..

        Guntur Satria Putra said:
        Januari 27, 2020 pukul 8:54 am

        mas itu cara hapus komenku gimana masalah dimensi haduh…

        Harunata-Ra responded:
        Januari 27, 2020 pukul 9:08 am

        Yg bisa hapus komentar cuma admin nya mas, yaitu saya..

    Guntur Satria Putra said:
    Januari 27, 2020 pukul 7:33 am

    begitu banyak kisah peradaban dimasa lalu tetapi bekas peradabanya bisa hilang tak bersisa ya mas oedi

      Harunata-Ra responded:
      Januari 27, 2020 pukul 8:03 am

      Betul mas, tapi perlu lebih dipahami bahwa sebagiannya itu bukan berarti tidak ada lagi atau hilang tak bersisa (musnah).. masih ttp ada kok hingga skr, tapi sudah dipindahkan ke tempat lain yg bukan di muka Bumi ini lagi, alias ke Dimensi lainnya.. Itulah kelebihan mrk dulu, yg tidak ada lagi di masa skr..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s