Ruang Derita dan Kesedihan

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Siapa yang tidak pernah mengalami penderitaan dan kesedihan? Tentu tidak ada, lantaran keduanya itu sering melekat pada kehidupan seseorang. Penderitaan atau dalam arti luas sebagai rasa sakit, sering dikategorikan sebagai ketidaknyamanan secara fisik (lahir/ragawi). Sementara kesedihan lebih kepada pengalaman buruk secara batin (hati dan pikiran). Kedua rasa itu bisa datang dalam berbagai tingkat intensitasnya, dari yang sesekali sampai yang sering, dari yang ringan sampai yang tak tertahankan.

Karena itulah derita dan kesedihan sering dipandang sebagai lawan dari kebahagiaan dan kesenangan, yang harus dihindari. Padahal keduanya itu sebenarnya perlu dijadikan sahabat dekat untuk bisa menggapai kebahagiaan dan kesenangan yang sejati. Dan sadarilah bahwa semua bentuk kehidupan ini melibatkan penderitaan dan kesedihan yang bermacam-macam, berbeda pula tingkatannya. Dan pada tingkat yang tertinggi maka tidak ada lagi yang namanya “diri”, karena telah berserah diri kepada DIRI-NYA.

Ya. Rasa sedih dan penderitaan sebenarnya adalah anugerah dari-NYA untuk kita. Karena kedua rasa itu adalah pengingat untuk kita agar tetap sadar diri bahwa kita hanyalah seorang makhluk yang fana dan tak berdaya di hadapan-NYA. Juga sebagai pertanda bahwa ada sesuatu yang tidak baik atau berbahaya dalam hidup kita sekarang atau nanti. Inilah cara Tuhan menetapkan kejadian yang tidak menyenangkan bagi kita agar kita berkembang dan mampu menghindari hal-hal yang tidak baik atau bisa menjadi sosok yang bijaksana di masa depan.

Makanya, kesuksesan dan kegagalan itu bukanlah hal yang saling bertentangan, melainkan lebih seperti saudara yang saling melengkapi. Dan ada hubungan yang sangat dekat di antara keduanya, yang ketika disadari akan membangkitkan semangat dan upaya untuk bisa meraih kebahagiaan yang menjadi harapan. Terlebih memang takkan ada yang namanya kebahagiaan ataupun kesenangan yang sejati jika tanpa adanya penderitan dan kesedihan. Bahkan menjadi syarat yang mutlak, dimana setiap kesenangan dan kebahagiaan itu hanya bisa dirasakan dengan sebenar-benarnya setelah merasakan kesedihan dan penderitaan.

Wahai saudaraku ketahuilah! Jika orang awam berusaha mati-matian untuk menghindari kesedihan dan penderitaan, maka mereka yang dari kalangan khusus justru sebaliknya. Mereka justru menerimanya dengan lapang dada, lalu merasakan derita dan kesedihan itu semampunya – bahkan ada yang sampai dengan sengaja mencari-cari derita dan kesedihan. Tujuannya adalah untuk bisa merasakan titik nadir perasaannya demi menemukan apa yang sejati. Jelaslah disini mereka pun terus saja ber-muhasabah (introspeksi diri), gemar ber-tadabbur (terus menambah wawasan dan ilmu pengetahuan dengan banyak berpikir dan mencari tahu), dan sering ber-tafakur (merenungi segala sesuatu demi menemukan yang hakiki). Sementara bagi mereka yang sangat khusus, maka ia tidak pernah menghindari atau mencari-cari kesedihan dan penderitaan dalam hidupnya. Itu dikarenakan apapun yang mereka lakukan dan rasakan hanyalah atas setiap kehendak-NYA saja, bukan lantaran hasrat keinginannya sendiri. Mereka tidak lagi merasakan apa-apa, karena sudah bisa melepaskan semuanya kecuali petunjuk-NYA.

Sungguh istimewa bagi mereka yang sangat khusus ini. Adapun ciri khasnya adalah terus mengalami ujian yang sangat berat dan tidak dirasakan oleh orang lain. Meskipun kedudukan mereka disisi Tuhan begitu dekat, namun kesedihan dan penderitaan hidup tetap harus dirasakan melebihi orang kebanyakan. Mereka inilah para Nabi dan sosok pilihan lainnya.

Dan ketika mengalami kesedihan atau penderitaan itu, orang yang bijaksana ini akan melakukan beberapa hal agar yang dirasakan tidak membuatnya putus asa. Adapun di antaranya yaitu:

1. Menguasai perasaan dengan rutin ber-muhasabah (introspeksi diri).
2. Menyelesaikan persoalan yang ada dengan banyak ber-tadabbur (terus menambah wawasan dan ilmu pengetahuan dengan banyak berpikir dan mencari tahu).
3. Mengambil hikmah atas setiap peristiwa dengan kerap ber-tafakur (merenungi segala sesuatu demi menemukan yang hakiki).
4. Mendapatkan ketenangan dengan terus berserah diri (tawakal).
5. Menjaga diri (wara’) dengan tetap bersyukur (tasyakur) dan selalu rendah hati (tawadhuk).
6. Mempertahankan ketekunan dan konsistensi diri tanpa henti (istiqomah).
7. Merasa selalu cukup dengan apa yang diterima dari Tuhan (qona`ah).

Ya. Setidaknya ke tujuh hal di atas yang menjadi sahabat bagi setiap Nabi atau mereka yang terpilih untuk bisa mengatasi perasaan sedih dan penderitaannya. Dan semuanya itu bisa pula di lakukan oleh siapapun, tidak ada bedanya, kecuali tekad dan kemauan diri.

Tidak ada seorang pun dari kalangan terpandang yang tidak pernah mengalami penderitaan dan kesedihan. Mereka justru sering mengalaminya, bahkan melebihi apa yang pernah dirasakan oleh kebanyakan orang. Dan bagi mereka, keduanya itu adalah kewajiban yang harus dirasakan dengan pikiran yang tenang dan hati yang tercerahkan.”

Untuk itu ketahuilah bahwa tidak semua kesedihan dan penderitaan diakibatkan oleh dosa atau kesalahan yang pernah di lakukan sebelumnya. Karena ada yang merupakan ujian atas kesungguhan dan ketetapan hati dalam sesuatu hal; misalnya iman dan cinta. Kesedihan dan penderitaan itu pun adalah jalan pembelajaran agar diri menjadi lebih baik dari sebelumnya, agar naik kedudukannya ke level yang lebih tinggi lagi. Tetaplah bersemangat!

Jambi, 17 Januari 2020
Harunata-Ra

[Cuplikan dari buku “Diri Sejati”, karya: Harunata-Ra]

6 respons untuk ‘Ruang Derita dan Kesedihan

    Generasi terakhir BPK ADAM said:
    Januari 17, 2020 pukul 4:44 am

    Alhamdulillahi rabbil alamiinn…
    Jujur nangis saat mmbacanya dr atas sampe bawah bang oedi …..
    Passsssss bnget dngn ????

      Harunata-Ra responded:
      Januari 17, 2020 pukul 8:12 am

      Nuwu ya mbak/mas Generasi terakhir karena masih mau berkunjung.. 🙂
      Oh ya? waaah ada pengalaman tersendiri ya? Btw pas bgt dg apaan tuh? 🙂

    poetra said:
    Januari 17, 2020 pukul 1:31 pm

    Makasi kang atas tulisnnya…🙏🙏

      Harunata-Ra responded:
      Januari 17, 2020 pukul 5:19 pm

      Iya mas Poetra, sama2lah.. Nuwun juga karena udah berkunjung.. Moga bermanfaat.. 😊🙏

        Generasi terakhir BPK ADAM said:
        Januari 23, 2020 pukul 1:56 am

        Ya bang sm2…
        Kita yg terima kasih atas pelajarannya yg super manfaat…..

        Ya bang …
        Betul bang dngn dri sy dr kecil sampe dngn saat ini ….

        Pas dngn perjlnn kehidupan diri sy pribadi bang …..terima kasih bang

        Harunata-Ra responded:
        Januari 27, 2020 pukul 2:11 am

        Nyante ajalah, syukur kalo bermanfaat.. 🙂

        Ow gitu yah.. ttp sabar dan ikhlas aja.. semoga diberikan kemudahan dan ridho-NYA.. aamiin 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s