Assefron : Negeri Impian Para Raja

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Ada banyak kisah epic (hebat sekali, mengagumkan, cerita kepahlawanan) dari masa lalu yang bisa diambil hikmahnya. Ada banyak peristiwa yang bisa menyadarkan kita bahwa kita sekarang bukanlah yang terhebat. Ada banyak kaum yang melebihi peradaban kini. Hanya saja tak sedikit dari kisahnya itu yang justru telah hilang dari catatan sejarah dunia. Baik dongeng, legenda ataupun mitos juga sudah tak ada. Semuanya karena rentan waktu yang terlalu jauh, juga oleh sebab memang belum waktunya untuk diketahui lagi.

Nah, dalam kesempatan kali ini kami diizinkan untuk menyampaikan kembali apa yang terlupakan itu. Dan jangan heran bila ada banyak nama-nama asing yang disebutkan, juga hal-hal yang tak masuk di akal (untuk ukuran orang sekarang), karena yang diceritakan disini memang sesuatu yang luar biasa namun hilang dalam ingatan. Meskipun ini adalah fakta, namun sudah tidak dicantumkan lagi dalam kitab-kitab kuno dan hikayat lama yang masih ada hingga sekarang.

Untuk mempersingkat waktu, berikut ini adalah uraiannya:

1. Awal kisah
Pada masa yang tak lagi dikenang dalam ingatan Manusia kini, atau dalam tutur cerita, tulisan di kitab-kitab, dan hikayat yang telah masyhur, pernah terjadi peristiwa yang teramat penting dalam sejarah. Apa yang ada didalamnya menjadi tonggak dalam kisah peradaban bangsa-bangsa di seluruh dunia. Dan kisah ini telah mengajarkan kepada generasi selanjutnya bahwa tak ada yang abadi di Bumi ini selain kehancuran dan kebangkitan. Tugas Manusia-lah untuk memilih dan atau memihak salah satu dari keduanya itu selama hidupnya.

Ya. Kisah ini terjadi pada masa awal periode zaman kelima (Dwipanta-Ra). Atas kasih sayang-NYA, kehidupan di Bumi telah dipenuhi dengan begitu banyaknya kemakmuran. Ada beragam jenis tumbuhan dan hewan, yang sesungguhnya lebih unik dan bermacam-macam dari sekarang. Ditambah lagi dengan kondisi geografi dan topografi wilayahnya yang juga sangat berbeda dari sekarang. Dimana seluruh kawasan Asia, Nusantara, dan Oseania (Polinesia, Melanesia, Mikronesia, dan Australia) masih dalam satu daratan yang luas. Sehingga tak mengherankan pula jika pusat-pusat peradaban dunia kala itu berada di negeri-negeri yang dulunya disebut dengan kawasan Asvarat ini. Mereka menjadi kiblat dan acuan bagi bangsa-bangsa di seluruh dunia. Apa yang tidak ada di Asvarat, maka takkan ada pula di tempat lain.

Namun lantaran sikap Manusia yang tak lagi mengindahkan hukum dan aturan Tuhan, perlahan-lahan keadaan dunia menjadi sebaliknya. Kondisi yang selalu damai berubah menjadi gaduh karena banyak kerajaan yang saling bertikai. Mereka berebut harta dan kekuasaan di Asvarat dengan tidak mempedulikan nasib rakyatnya sendiri. Sampailah pada akhirnya negeri mereka hancur atau tak mampu lagi memberikan kemakmuran seperti yang sebelumnya. Dan ini tidak hanya terjadi di Asvarat saja, tetapi juga di Amusvat (kawasan negeri-negeri di Barat). Hingga pada akhirnya berdirilah kekaisaran-kekaisaran besar yang mereka pun tak luput dari persaingan dan pertikaian. Mereka bahkan sering menindas kerajaan lain yang lebih kecil demi kepuasaan nafsunya.

2. Pemuda desa
Di sebuah desa yang permai hiduplah seorang pemuda bernama Simrat. Ia adalah sosok yang cerdas dan bersemangat. Bersama dengan teman-temannya, Simrat kerap melakukan petualangan ke alam bebas selama berhari-hari. Kegiatan itu mereka lakukan disela-sela kewajibannya dalam mengurus kebun dan ternak. Semua demi mendapatkan hikmah kehidupan dan merenungi hakekat yang telah diciptakan oleh Tuhan. Tidak lupa pula mereka melakukan olah raga dan batin dengan cara latihan berbagai jurus beladiri dan kemudian ber-semedhi selama beberapa waktu. Darinya maka terciptalah kebugaran tubuh dan pencerahan batin, lalu cakrawala berpikirnya pun ikut terbuka luas. Mereka lalu menjadi pemuda-pemuda yang berhati murni dan berjiwa kesatria.

Adapun ayah Simrat bernama Amerat putra Majat putra Silahat putra Nadeyat putra Hinamat putra Joruyat putra Wadimat putra Ahuwat putra Nehrat putra Samwat putra Jurat putra Hidimrat putra Buyat putra Almat putra Ghalat putra Hayat putra Uslamat putra Wisarat putra Dilmat putra Belhat putra Asmat putra Risalat putra Sujat putra Zamrat putra Asvarat putra Nabi Halrat AS. Sedangkan dari sisi ibunya, yaitu Hajra, ia masih keturunan dari anak bungsu Nabi Halrat AS yang bernama Nelat melalui garis silsilah Hajra (istri Amerat) putri Suma putra Kusad putra Lam putra Yamitra putra Rusin putra Qisba putra Sturat putra Aringgal putra Ismata putra Ulamatu putra Khatal putra Nejh putra Arta putra Lima putra Olman putra Ragil putra Honesa putra Yafta putra Vandima putra Ilya putra Damaruta putra Nusa putra Mesah putra Yasah (suami Nelat) putra Amrah (penguasa negeri Nihras).

Dan tidak sampai disitu saja, karena ternyata di dalam dirinya pun telah mengalir darah dari garis silsilah anak yang tertua, yaitu Amusvat, khususnya melalui pernikahan antara keturunan keenamnya yaitu Silmah putri Naku putra Sehlan putra Yime putra Luhat putra Asihat putra Amusvat putra Nabi Halrat AS dengan keturunan kelima dari Asvarat yang bernama Belhat putra Asmat putra Risalat putra Sujat putra Zamrat putra Asvarat putra Nabi Halrat AS. Dari pernikahan tersebut maka lahirlah Dilmat yang kemudian memiliki keturunan sampai kepada Amerat, ayah dari Simrat. Artinya, di dalam diri Simrat itu telah mengalir darah keturunan dari ketiga anak kesayangan dari Nabi Halrat AS. Hanya saja ini belum diketahui oleh Simrat, sampai akhirnya nanti setelah ia dewasa dan harus menjalankan tugas penting dari kelahirannya.

Adapun mereka itu (khususnya dari keturunan Asvarat), sebagian besarnya adalah para raja yang terhormat. Hanya saja atas petunjuk yang didapatkan oleh kakek buyut dari ayah Simrat yang bernama Hinamat, keluarga mereka itu justru harus “menghilang” ke pedesaan dengan cara menyembunyikan jati dirinya. Mereka pergi meninggalkan istana dan tidak pernah bersikap seperti para bangsawan pada umumnya. Meskipun mereka punya keahlian yang khusus, tapi kehidupan sehari-harinya sama dengan orang awam pada umumnya. Dan seiring berjalannya waktu, maka tak ada lagi yang mengetahui tentang siapakah diri mereka itu yang sebenarnya. Hanya mereka sendirilah yang tahu dan selalu merahasiakannya sebagai bentuk keteguhan dalam menjaga amanah. Sungguh ini bukanlah sebuah kebetulan.

Catatan: Pada masa itu umur Manusia masih sangat panjang karena minimal 250 tahun. Sementara ukuran tubuhnya rata-rata 5-6 meter. Artinya dari Simrat sampai pada ketiga leluhurnya itu (Amusvat, Asvarat dan Nelat) maka terentang jarak waktu sekitar ±6.250 tahun lamanya. Sungguh berbeda sekali model dan karakter kehidupan di periode zaman kelima itu (Dwipanta-Ra) dengan sekarang (Rupanta-Ra).

Kisah pun berlanjut. Sejak kecil kehidupan Simrat, kondisi dunia sedang tidak stabil alias penuh gejolak. Dimana-mana sering terjadi ketidakadilan dan keserakahan. Para penguasa yang seharusnya menciptakan kedamaian dan kemakmuran justru saling berebut harta dan kekuasaan. Siapapun yang menentang ego dan keinginannya akan ditindas, tak peduli siapapun orangnya. Yang penting setiap hasrat nafsunya itu bisa terpenuhi meskipun harus menyengsarakan banyak orang. Aturan Tuhan sudah tidak lagi dihargai, dan kalaupun ada maka itu tak lebih dari sekedar pencitraan atau seremonial belaka.

Dalam pada itu, Simrat yang masih kecil sudah mengerti tentang jalan kebenaran sejati. Kedua orangtuanya pun telah membekali prinsip yang sesuai dengan perintah dari Hyang Aruta (Tuhan YME). Karena itulah, ketika sudah remaja Simrat tidak lagi senang bermain-main. Ia lebih suka berlatih ilmu kanuragan dan kadigdayan di tempat yang sepi. Tak lupa pula ia mencari-cari pengetahuan tentang berbagai hal, baik yang ilmiah ataupun yang batiniah. Dan atas semangatnya itu, Tuhan pun memberikan jalan kepadanya secara otodidak. Simrat mendapatkan hal-hal yang luar biasa sejak remaja meskipun dengan cara yang tidak mudah.

Dan pada suatu ketika, disaat Simrat dan keempat temannya sedang berpetualang di sekitar lereng pegunungan Liel, ia bertemu dengan seorang pengembara. Penampilannya jelas menunjukkan seorang pendekar yang pilih tanding. Karena itulah, kelima pemuda yang sedang berlibur tersebut ingin mendapatkan ilmu yang baru darinya. Mereka lantas bertanya tentang berbagai hal dan mendapatkan jawaban yang memuaskan. Sebaliknya, apapun yang ditanyakan oleh sang pengembara tak satupun yang bisa mereka jawab. Ternyata apa yang mereka ketahui selama ini masih terlalu sedikit, masih sebatas kulit luarnya saja.

Karena itulah mereka berlima sepakat untuk berguru kepada pria yang ternyata bernama Yossena tersebut. Tapi kebersamaan mereka tak lama, cuma 40 hari saja, lantaran sang pengembara harus pergi ke sebuah negeri di wilayah Selatan. Sejak berpisah, Simrat dan sahabatnya itu terus berlatih dengan semangat. Mereka saling menguji kemampuan diri, dan tak jarang pula memberikan dukungan moril agar tetap semangat. Dengan begitu hanya dalam waktu beberapa bulan saja kemampuan mereka bertambah drastis. Memang apa yang diajarkan oleh si pengembara misterius itu dapat membuka “sumbatan-sumbatan” yang ada dalam diri mereka. Ini sangatlah berharga melebihi intan permata.

3. Yang terpilih
Waktupun berlalu dan Simrat yang dulunya remaja kini telah mulai dewasa. Selama masa mudanya itu, ia terus menempa dirinya agar lebih baik. Tak jarang pula ia pergi mengembara selama bertahun-tahun ke negeri-negeri yang jauh. Tidak hanya di Asvarat, tetapi sampai ke kawasan Utara dan Selatan yang penuh misteri. Ada banyak ilmu dan pengalaman hidup baru yang didapatkan. Terlebih ketika ia sempat dengan tidak sengaja bertemu bangsa Peri di negeri An-Adain. Sungguh beruntungnya Simrat pada waktu itu, karena tidak sembarang Manusia yang bisa sampai kesana. Dan meskipun bangsa Peri itu hidup di alam nyata dunia ini, mereka tak pernah berhubungan langsung dengan bangsa Manusia. Mereka sengaja menjaga jarak, sehingga kehidupannya pun terkesan semakin misterius.

Catatan: Bangsa Peri yang hidup dalam kisah ini adalah kaum yang berumur sangat panjang, bahkan sampai jutaan tahun. Tak ada penyakit ataupun wabah yang menjadi penyebab kematian bagi mereka. Kebijaksanaan mereka pun terkenal dari zaman ke zaman, dan tak ada yang tidak beruntung jika bertemu dengan mereka. Namun begitu tubuh mereka terbuat dari tanah – ini karena mereka pun terikat dengan hukum kehidupan yang ada di muka Bumi – dan bisa dihancurkan oleh kekuatan besar; dan pada masa itu ciri fisik mereka pun lebih menyerupai Manusia tapi dari jenis ras yang paling rupawan. Artinya mereka itu bertubuh tinggi langsing, berwarna kulit putih bersinar dengan bentuk wajah yang lonjong, berhidung mancung, dan bertelinga agak runcing pada bagian ujung atasnya. Khusus untuk warna matanya ada yang berwarna biru, hijau, dan hitam. Sementara rambutnya ada yang berwarna hitam, merah, dan keemasan, dengan bentuk yang lurus atau bergelombang. Sungguh rupawannya mereka itu.

Ya. Pada masa itu masih terdapat kerajaan bangsa Peri yang tersebar di beberapa wilayah tapi sangat jauh dari peradaban Manusia. Mereka membangun kota-kota yang indah, yang jauh dari hiruk pikuk keramaian Manusia. Tidak ada kontak apapun kecuali hanya dalam urusan yang sangat penting saja. Dan hanya sedikit sekali dari Manusia yang berkesempatan untuk bisa masuk ke negeri mereka. Biasanya itu hanyalah bagi orang-orang yang terpilih dan pada masanya nanti ia akan melakukan sesuatu yang istimewa bagi dunia.

Demikianlah yang terjadi pada Simrat. Ia bisa masuk ke negeri bangsa Peri itu bukan oleh sebab kebetulan semata. Memang ia tak pernah sengaja mencarinya, tetapi jalan takdir telah mengantarkan dirinya untuk sampai di kota An-Adain, kotanya bangsa Peri Zalebron di Selatan. Kota yang begitu menakjubkan itu dipimpin oleh raja yang bernama Sir El-Amoren. Pemimpin yang arif bijaksana dan tentunya berilmu tinggi. Darinya Simrat mendapatkan banyak pelajaran tentang keutamaan hidup. Bahkan ketika sudah waktunya, sang raja berkenan mengajarkannya tentang berbagai ilmu rahasia tingkat tinggi kepada sang pemuda. Semua itu di lakukan hanya atas petunjuk dari Hyang Aruta (Tuhan YME) kepadanya, bahkan sebelum Simrat datang ke kota An-Adain.

Dan tak hanya sampai disitu saja, karena pelajaran selanjutnya masih harus diikuti oleh sang pemuda. Simrat masih harus menjalankan berbagai olah raga dan batin yang tidak biasa. Di sebuah tempat khusus, ia bahkan ditemui oleh para leluhurnya (yang telah moksa) dan berguru kepada mereka. Hal ini semakin meningkatkan kemampuan diri Simrat. Hingga pada akhirnya ia pun bertemu dengan kakek buyutnya yang bernama Nabi Halrat AS dan ketiga anaknya; Amusvat, Asvarat dan Nelat. Atas izin dari Yang Maha Kuasa, Simrat pun berpindah ke Dimensi lainnya. Di sana ia tidak hanya berguru kepada empat orang leluhurnya itu saja, tetapi dengan banyak kesatria dari masa lalu – yang sebenarnya juga para leluhurnya sendiri.

Lalu, dalam sebuah kesempatan Simrat pernah bertanya tentang bagaimana bisa ia menjadi yang terpilih? Mengapa bukan orang lain, dan apa alasannya? Dijawab oleh seorang leluhurnya yang bernama Begawan Adisiya dengan berkata: “Pada kurun waktu tertentu, maka akan bangkitlah kekuatan dari ikatan darah kuno. Semuanya pun menyatu ke dalam diri seorang yang terpilih. Tapi ini bersifat rahasia dan hanya bisa terjadi pada sosok yang istimewa. Dan meskipun dirimu itu hanyalah seorang pemuda desa, tapi engkau bukanlah orang biasa. Sebenarnya engkau selalu terhubung dengan para leluhurmu, pada mereka yang dulunya adalah kesatria utama dan para bijak bestari. Hanya saja kau belum menyadarinya, karena memang perlu waktu yang tepat – yang telah ditentukan-NYA – untuk bisa terungkap. Itulah sekarang. 

Dan ketahuilah bahwa di dalam dirimu itu sudah mengalir darah terbaik dari kalangan yang terbaik. Kau mungkin tak merasakannya, tapi dirimu adalah keturunan dari para Kesatria, Raja, Ratu, Begawan, dan Nabi-Nabi. Yang mereka itu adalah orang-orang yang terpilih dan mendapatkan bimbingan dari Yang Ilahi. Apa yang pernah mereka lakukan adalah yang luar biasa, yang patut untuk diikuti. Dan kini giliranmu untuk melakukan hal yang sama, bahkan melebihinya. Bersyukurlah untuk itu semua dengan sikap yang rendah hati dan berserah diri”

Demikianlah penjelasan singkat dari kakek buyutnya Simrat, dan ia pun langsung mengerti. Bahkan dalam beberapa kesempatan yang lain Nabi Syis AS dan Nabi Khidir AS pun datang untuk memberikan berbagai wejangan (pesan, nasehat, dan petunjuk). Semuanya itu adalah anugerah yang tak terkira bagi seorang pemuda desa seperti Simrat. Tak terhitung lagi berapa kali airmatanya mengalir. Dan jika bukan atas perintah Tuhannya, Simrat jelas tak ingin lagi berurusan dengan hiruk pikuk duniawi dimana ia tinggal. Ia sudah merasa puas dan bahagia untuk berada di tempat yang lain bersama dengan para leluhurnya itu.

Tapi, untuk menghindari hal-hal yang tidak pada waktunya, maka giliran Nabi Halrat AS yang berpesan kepada cucunya itu dengan berkata: “Wahai ananda. Selama kehidupan dunia masih berlanjut, maka akan selalu ada masa untuk menanam dan masa menuai, musim dingin dan musim panas, musim kemarau dan musim hujan, bahkan waktu siang dan waktu malam. Semuanya adalah bagian dari keseimbangan, yang harus terjadi sebagai hukum yang alsin (universal). Dan harus tetap ada orang (sosok) yang bertugas menjaga keharmonisannya. Demikianlah Yang Maha Kuasa telah mengaturnya sesuai dengan kebijaksanaan-NYA. 

Begitulah yang terjadi di muka Bumi, dimana akan selalu ada masa kebangkitan dan kemudian masa kehancurannya. Dan kini, dimana-mana telah berlangsung kehancuran yang parah, yang disebabkan oleh para pemimpinnya yang tak berbudi. Dengan menghalalkan segala cara, mereka bertikai untuk memenuhi setiap keinginan dari nafsunya. Membuat kehidupan terus menjauh dari kebahagiaan, dan orang-orang tak lagi mengindahkan kebenaran, karena telah terikat dengan kegelapan. Hati dan jiwanya pun telah memudar dan pada akhirnya mati sia-sia. 

Sehingga diperlukanlah perubahan besar. Dan terkadang pertempuran pun harus terjadi. Sebab pertempuran adalah harapan bagi mereka yang berada dibalik bayangan (tersembunyi). Perang bisa menciptakan peluang bagi sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin. Dengan perang, maka akan datanglah pergantian dan rezim yang berkuasa, yang menyimpang dari jalan kebenaran, akan jatuh. Dengan adanya perang, maka dunia lama yang rusak akan hancur lalu berganti dengan yang baru. Dan siapapun yang berperang, sebenarnya dia bisa menentukan apa yang akan bangkit dari debu kehancuran. Selangkah demi selangkah akan terjadi dengan cepat ataupun lambat. Tidak ada yang bisa menghentikan jika memang sudah waktunya.

Maka jalankanlah tugasmu sebagai kesatria. Jangan pernah mundur sebelum waktunya! Karena hakekat dari kehidupan ini salah satunya adalah menegakkan kebenaran dan keadilan di dunia. Pertempuran hanyalah di antara bagian-bagiannya

Setelah mengatakan itu, Nabi Halrat AS diam sejenak. Diperhatikannya raut wajah cucunya itu sambil tersenyum. Tak lama kemudian ia pun kembali berkata: “Wahai cucuku Simrat. Terimalah apa yang sudah menjadi takdirmu. Ikuti dengan penuh semangat dan berserah diri. Jangan bimbang dengan pilihan antara kebaikan atau kejahatan, kemuliaan atau kehinaan. Ikuti saja arahan-NYA. Semoga nanti engkau bisa menyulutkan kembali semangat kebangkitan dan jiwa kepahlawanan dari masa silam, di tengah dunia yang telah rusak dan dingin (tak ada lagi gairah kebajikan).

Mendengar kata-kata itu Simrat langsung tersadar dari kekeliruannya. Apa yang disampaikan oleh kakek buyutnya itu adalah kebenaran. Tidak hanya karena ia adalah seorang utusan Tuhan, tetapi memang sesuai dengan perasaan hati dan logika pikirannya. Inilah yang pada akhirnya membuat Simrat langsung memantapkan niat untuk berjuang menciptakan keindahan di dunia. Apalagi memang sejak kelahirannya dulu sudah terjadi kekacauan dan kehancuran dimana-mana. Semuanya disebabkan oleh keserakahan dan kebodohan diri Manusia sendiri, khususnya para pemimpinnya. Dan memang harus ada yang mengajak untuk melakukan perbaikan, itulah dirinya.

Singkat cerita, setelah Simrat menyadari akan tugas dan kewajibannya di Bumi, tak lama kemudian ia lalu ditasbihkan sebagai kesatria utama. Semua yang hadir (para Kesatria, Raja-Ratu, Begawan, Nabi, Dewa-Dewi, dan juga Malaikat) ikut memberikan doa restu kepadanya. Dan khusus untuk Nabi Syis AS dan Nabi Khidir AS, keduanya memberikan beberapa pusaka sebagai simbol kepemimpinan. Jika pedang, cakram, dan busur panah untuk membantunya berjuang di medan perang, maka cincin, tongkat, dan kitab ilmu pengetahuan adalah untuk membantunya dalam mengatur negara. Semuanya diberikan hanya atas petunjuk dari Hyang Aruta (Tuhan YME). Dan memang sudah waktunya dunia mengalami perubahan besar.

4. Menuju perang dunia
Dahulu kala, hiduplah seorang Nabi yang bernama Halrat AS di sebuah negeri yang bernama Nihras. Negeri tersebut sebenarnya bukanlah tanah tumpah darahnya, sebab beliau itu berasal dari Urayah. Sebuah negeri yang terletak di kawasan Sanurama, atau yang kini berada di sekitar antara negara Turki, Lebanon, Suriah, Iraq, Iran, dan Azerbaijan. Ayahnya bernama Yusuwa putra Desrah putra Asibal putra Hosali putra Medde putra Herasa putra Naje putra Oman putra Qusahi putra Nabi Zahram AS putra Arasa putra Jaliya putra Gama putra Alitas. Yang semuanya itu juga bukan berasal dari negeri Nihras, tetapi dari negeri-negeri yang berbeda. Maklumlah atas petunjuk Ilahi, mereka itu hidupnya berpindah-pindah karena diperintahkan untuk sering berhijrah menyebarkan kebenaran sejati.

Sampailah kemudian giliran Nabi Halrat AS yang harus berhijrah ke negeri Nihras meskipun ia sendirian (belum menikah). Awalnya sang Nabi dicurigai, tapi akhirnya bisa diterima dengan baik oleh raja yang berkuasa di sana. Bahkan ia lalu diangkat sebagai penasehat utama kerajaan sekaligus menjadi imam besarnya. Semua itu karena apapun yang ia sampaikan dapat diterima akal oleh semua orang. Dan ajaran yang dibawa pun bisa menyentuh hati raja dan rakyatnya. Mereka semua mengikuti agama yang dibawa oleh sang Nabi.

Singkat cerita, tibalah saatnya bagi Nabi Halrat AS untuk berumah tangga. Ia lalu menikahi seorang wanita yang bernama Yasani. Dari pernikahan tersebut maka lahirlah tiga orang anak yang rupawan dan diberi nama Amusvat, Asvarat, dan Nelat. Mereka hidup dalam kebahagiaan dan keimanan yang tulus kepada Tuhan. Begitu pula dengan pendidikannya, maka sang Nabi telah membekali ketiga anaknya itu dengan ilmu yang cukup. Hingga suatu ketika dua orang anak lelakinya, yaitu Amusvat dan Asvarat diperintahkan untuk mengembara ke arah Timur dan Barat. Dan sampai pada waktunya nanti, keduanya pun harus menikah dan menghasilkan keturunannya masing-masing. Sementara yang bungsu, yaitu Nelat, tetap tinggal di Nihras sampai ia menikah dan melahirkan keturunannya sendiri.

Adapun lokasi tempat tinggal dari Nabi Halrat AS pada saat itu berada di sekitar negara Sri Lanka sekarang. Dari sanalah ia memerintahkan kedua anak lelakinya itu untuk berhijrah. Amusvat pergi ke arah Barat sampai ke kawasan Timur Tengah sekarang (sekitar antara Mesir, Palestina dan Arab Saudi), sedangkan Asvarat menuju ke arah Timur hingga sampai di kawasan Nusantara bagian tengah sekarang. Dan perlu diketahui bahwa pada masa itu, baik dari kawasan Timur Tengah, India, Sri Langka hingga ke Nusantara belum dipisahkan oleh lautan, alias masih menyatu dalam satu daratan yang sangat luas. Siapapun bisa dengan berjalan kaki untuk melintasinya.

(Perhatikan garis merah pada gambar Bumi di atas.
Itu adalah perkiraan bentuk peta dunia pada masa kisah ini terjadi.
Semuanya masih dalam satu daratan yang sangat luas)

Catatan: Geografi dan topografi Bumi selalu berubah-ubah di sepanjang zamannya, cepat atau lambat. Karenanya peta dunia pada masa kisah ini terjadi sangat berbeda dengan apa yang ada sekarang. Jadi dengan perubahan-perubahan yang terjadi di Bumi, maka ada banyak lautan di masa sekarang yang pada waktu itu masih berupa daratan, begitu pula sebaliknya. Dan ada banyak pula gunung, lembah, hutan dan gurun yang dulunya ada tapi kini sudah menghilang, tak berbekas. Sebaliknya yang kini ada justru dulunya belum ada.

Kisah pun berlanjut. Kedua bersaudara itu (Amusvat dan Asvarat) menjalankan titah dari ayahnya dengan berpisah ke arah Timur dan Barat negerinya (Nihras). Pada masa itu, di setiap kawasan dunia (Timur, Barat, Utara, dan Selatan) sudah ada penduduknya. Mereka hidup dalam suku-suku yang besar dan memiliki peradaban yang cukup tinggi. Tidak sedikit pula yang sudah mendirikan kerajaan besar, dengan raja atau ratu sebagai pemimpinnya. Mereka hidup dengan beragam bahasa, budaya, dan keyakinannya masing-masing. Begitu pula dengan ras dan bentuk fisiknya, mereka pun beraneka ragam jenisnya.

Nah di tempat tinggal barunya tersebut, baik Amusvat dan Asvarat hidup dengan memanfaatkan bekal ilmu dari ayahnya. Dan karena itulah mereka bisa dengan cepat mendapatkan perhatian dari penduduk. Keduanya sangat dihormati dan mendapatkan kedudukan yang tinggi, bahkan akhirnya diizinkan untuk menikah dengan anak gadis dari kepala sukunya masing-masing. Ini merupakan kehormatan yang sangat besar pada masa itu. Dan menjelang mertuanya wafat, mereka bahkan dipercaya untuk mewarisi tampuk kekuasaan. Inilah langkah awal kemasyhuran dari kedua kakak beradik tersebut. Namanya bahkan terkenal dimana-mana sebagai pemimpin yang bijak dan berilmu tinggi. Ada banyak jasa dan prestasi yang telah mereka ukir dalam sejarah kaumnya.

Selanjutnya, dari kedua bersaudara itulah (Amusvat dan Asvarat) maka lahirlah generasi yang menjadi cikal bakal dari bangsa yang kuat dan sangat berpengaruh di seluruh dunia. Bahkan setelah ratusan tahun, maka untuk mengenang sosok keduanya, kawasan yang ada di Timur kemudian disebut dengan Asvarat, sementara yang di Barat disebut dengan Amusvat. Dan selama ribuan tahun berikutnya pula, kehidupan di kedua kawasan itu terus berkembang dan kian maju dalam berbagai hal. Tak ada yang berlebihan, sampai akhirnya ada seorang raja yang tinggal di kawasan Barat (Amusvat) justru berhasrat untuk menjadi penguasa tunggal dari raja-raja lainnya. Inilah permulaan dari terjadinya perang yang berkepanjangan di antara bangsa-bangsa Manusia pada masa itu. Dan setelah berlangsung selama lebih dari 700 tahun, muncullah beberapa negara kekaisaran yang menguasai berbagai wilayah baik di kawasan Barat maupun di Timur. Semuanya sama-sama memiliki kekuatan ekonomi dan militer yang mengagumkan.

Dan jauh sebelum ada raja-raja besar yang memerintah di kawasan Timur dan Barat, terdapat banyak kepala suku yang berkuasa disana. Adapun yang paling terkenal seperti Handab dari Goshal, Natra dari Lasa, Yusseral dari Dinha, Amudas dari Khobar, Qastam dari Aholibo, Pikar dari Mez, Horres dari Mate, Semla dari Janah, dan Pashu dari Baalas. Setiap nama suku-suku itu diambil dari nama daerah tempat mereka tinggal. Dan mereka ini bisa dibilang yang paling berpengaruh di setiap kawasannya, dan kelak di kemudian hari menjadi cikal bakal (leluhur) dari para raja besar di seluruh kawasan Timur dan Barat. Sedangkan sosok Amusvat dan Asvarat, maka dari mereka pula lahir bangsa-bangsa yang sangat berpengaruh. Itu disebabkan oleh pernikahan antara diri mereka sendiri dan juga anak keturunannya dengan anak-anak dari para kepala suku yang terkuat. Dari pernikahan tersebut, kelak dikemudian hari lahirlah para pemimpin yang perkasa dan berilmu tinggi. Mereka lalu mendirikan kerajaan-kerajaan yang terpandang.

Jadi, bisa dibilang bahwa Amusvat dan Asvarat itu adalah leluhur kedua dari para raja besar di kawasan Timur dan Barat. Ribuan tahun sejak kepergiannya, muncullah kerajaan-kerajaan besar yang dipimpin oleh anak keturunan mereka. Di antara kerajaan yang terbesar di kawasan Timur (Asvarat) yaitu Sirain, Talsan, Amdal, Ratyan, dan Dorla. Sedangkan untuk di kawasan Barat (Amusvat) adalah Lamoder, Asiokh, Fayyum, Sinebar, dan Babsah.

Semua kerajaan itu pada akhirnya menjadi kekaisaran yang termasyhur setelah berhasil menaklukkan kerajaan-kerajaan lain di sekitar wilayahnya. Ya, ada banyak pertempuran sengit untuk bisa mendirikan kekaisaran mereka. Inilah yang membuat kekacauan dan kerusakan kian berlarut-larut di dunia.

Catatan: Meskipun para raja dan sebagian penduduknya masih terhubung dalam satu pertalian darah, namun kemudian mereka telah memiliki bahasa dan kebudayaannya masing-masing. Mereka saling berbeda dalam kedua hal itu, dan seiring berjalannya waktu bahkan sampai merasa bukan siapa-siapa lagi, alias tidak lagi menganggap sebagai sesama saudara. Dan ini cukup beralasan, karena mereka memang sudah berbeda secara bahasa, tradisi, keyakinan, dan negaranya. Inilah yang kemudian menjadi celah untuk timbulnya berbagai persaingan dan pertikaian. Ditambah lagi memang ada pihak yang sengaja mengadu domba mereka.

Dan singkat cerita, lima kaisar di wilayah Barat (Amusvat), yaitu; Almem dari Lamoder, Eskora dari Asiokh, Yamelu dari Fayyum, Arminas dari Sinebar, dan Kosdam dari Babsah telah bersekutu dan mulai mengobarkan perang kepada lima raja besar lain yang ada di wilayah Timur (Asvarat), yaitu; Zelheb dari Sirain, Azlar dari Talsan, Bilsara dari Amdal, Mahtaya dari Ratyan, dan Syabirah dari Dorla. Semuanya telah sama-sama mengumpulkan pasukan terbesar dan bergerak menuju lembah Kruyan, dekat pegunungan Palma yang bersalju. Sepanjang perjalanan, orang-orang Zunim dari lembah Macla, orang Horis dari pegunungan Swaye, orang Elpran dari dataran Humal, dan orang Jibalsa dari padang rumput Aldon pun ikut bergabung ke dalam barisan kedua belah pasukan. Orang Zunim dan Horis ikut kepada para raja dari Amusvat, sementara orang-orang Elfran dan Jibalsa ikut dengan raja-raja dari Asvarat. Semua itu di lakukan karena rasa takut atau hanya ingin meraup keuntungan.

Sungguh, pada masa itu jumlah pasukan yang dikerahkan sangat banyak; jutaan orang. Dan sebenarnya tidak hanya melibatkan 10 kerajaan saja, tetapi puluhan. Sebab ke sepuluh kerajaan besar tersebut berkuasa atas banyak kerajaan lainnya – maklumlah karena mereka itu kekaisaran. Jika ditotal seluruhnya, maka tidak kurang dari 75 kerajaan yang terlibat dalam pertempuran besar kala itu. Bahkan masih ditambah lagi dengan suku-suku yang juga ikut bergabung dengan mereka.

Dan setiap pihak sudah mempersiapkan pasukan dengan sangat teliti. Mereka adalah gabungan dari banyak tentara kerajaan. Pasukan tersebut lalu dibagi ke dalam beberapa hatton (divisi). Setiap hatton (divisi) berjumlah ±150.000 prajurit, yang terdiri dari:

1. 5.000 pasukan berkendaraan kereta perang dan solus (semacam mobil terbang).
2. 10.000 pasukan penunggang mammot dan roya (sejenis badak).
3. 45.000 pasukan penunggang jafra (sejenis kuda).
4. 70.000 prajurit darat (infantri) pengguna tombak, pedang, kapak, gada, dan panah.
5. 20.000 pasukan cadangan, tenaga medis dan logistik.

Sementara perbandingan jumlah mereka saat itu cukup jauh. Pasukan Amusvat memiliki 15 divisi, dengan total pasukan sebanyak ±2.250.000 prajurit. Sementara pasukan Asvarat lebih sedikit, yakni 13 divisi, dengan total pasukan sebanyak ±1.950.000 prajurit. Jadi total seluruh pasukan yang terlibat dalam perang besar kala itu adalah ±4.200.000 orang, ditambah lagi dengan ±130.000 orang dari empat suku yang ikut bergabung. Membuat suasananya kian mencekam tapi sekaligus mengagumkan.

Catatan: Pada masa itu, meskipun sudah memiliki teknologi yang maju, tetap saja mereka berperang dengan cara kesatria. Artinya, mereka tidak menggunakan persenjataan semacam pistol, senapan, dan bom karena tak ingin dibilang pengecut. Mereka hanya mengandalkan senjata tradisional (pedang, tombak, gada, panah, dll) dan sebagiannya lagi adalah berbagai jenis senjata pusaka yang sakti mandraguna. Sedangkan untuk bagaimana pertarungannya, setiap prajurit sudah dibekali dengan ilmu beladiri yang cukup. Dan khusus untuk yang dilevel kesatrianya, maka pertarungan di antara mereka sampai menggunakan berbagai ajian kadigdayan yang menakjubkan, yang jika dikeluarkan maka dampaknya sangat mengerikan.

Kisah pun berlanjut. Tapi sebelum sampai di waktu pertempurannya, kita akan membahas terlebih dulu tentang posisi Simrat pada saat itu, khususnya menjelang hari-hari perang besar dimulai. Dimana setelah mendapatkan pelajaran dari para leluhurnya, pada mulanya ia pulang dulu ke kampung halamannya di Qusan untuk sekedar melepas rindu dengan keluarganya. Selama di rumah, sikap dari Simrat biasa-biasa saja, tak ada yang aneh atau berlebihan. Bahkan ketika berpamitan untuk kembali mengembara, sang pemuda tidak pernah menceritakan tentang tugasnya. Ia hanya meminta doa restu dengan berkata: “Wahai ibuku (lantaran sang ayah sudah tiada), wahai adik-adikku, doakanlah apa yang ku lakukan nanti tetap bermanfaat. Mohonkan kepada Tuhan agar diri ini tetap lurus dijalan-NYA dan senantiasa tunduk dan berserah diri hanya kepada-NYA. Izinkanlah aku pergi dengan membawa restu dan cinta dari kalian

Setelah mengatakan itu, Simrat pun beranjak meninggalkan keluarganya menuju ke negeri Bolvar yang ada di Selatan. Dan sesuai dengan petunjuk yang didapatkannya, disanalah ia akan mulai menunjukkan diri kepada dunia. Hanya saja, sebelum itu ia pun harus singgah dulu ke kota An-Adain untuk menyampaikan perintah dari Hyang Aruta (Tuhan YME). Kepada Raja Sir El-Ameron titah itu disampaikan, dimana ia dan pasukannya harus membantu Simrat dalam perjuangan. Dan perintah itu pun berlaku juga untuk bangsa Peri yang lainnya, baik di Utara dan Selatan. Semuanya harus bersatu dalam satu komando pasukan.

Singkat cerita, mengetahui para raja dari bangsa Peri sedang mengumpulkan pasukannya, terlebih dengan adanya sosok yang terpilih, banyak dari para kesatria yang selama ini mengasingkan diri ikut bergabung. Satu persatu mereka datang dari berbagai belahan Bumi, dari ras yang berbeda-beda. Begitu pula dengan suku-suku yang telah mengasingkan diri juga turut bergabung. Mereka tak mau ketinggalan, bahkan meskipun dirinya itu bukanlah dari golongan Manusia – karena dari bangsa Cinturia dan Karudasya. Apa yang terjadi saat itu adalah yang telah sekian lama mereka tunggu. Dan akhirnya dunia bisa kembali dimurnikan, karena telah sekian lama pula dipenuhi oleh energi negatif dan kerusakan.

Catatan: Pada waktu itu, Simrat akhirnya bertemu lagi dengan seorang kesatria pengembara yang pernah menjadi gurunya, yaitu Yossena. Dan pertemuan mereka cukup mengharukan. Bagaimana tidak, remaja yang pernah digembleng selama 40 hari itu kini telah dewasa dan menjadi pemimpin besar. Sang guru pun menaruh hormat kepadanya, meskipun sikap Simrat tetap tak berubah. Ia tetap rendah hati dan sangat menghormati gurunya itu.

Demikianlah akhirnya bersama dengan pasukan bangsa Peri dan para kesatria lainnya Simrat mulai bergerak. Setidaknya ada sekitar ±300.000 orang yang tergabung dalam barisan siap tempur itu. Tujuan yang pertama adalah negeri Bolvar. Dan setelah urusan di sana itu selesai, maka jalan menuju ke lembah Kruyan menjadi lebih mudah. Pergerakan pasukan akan relatif lancar, karena tak ada bukit atau pegunungan tinggi yang dilalui. Hanya ada hutan dan padang rumput yang membentang luas selama perjalanan.

Dan ketika mereka tiba di perbatasan negeri Bolvar, prajurit yang berjaga di perbatasan segera menyampaikan hal itu kepada pimpinannya di ibukota kerajaan. Bukan kepada rajanya, tetapi seorang pangeran yang dipercaya untuk mengatur negara selama sang raja pergi berperang di lembah Kruyan – rajanya harus ikut karena ia hanyalah penguasa bawahan dari Raja Syabirah (pemimpin tertinggi di kekaisaran Dorla). Mendapat informasi yang seperti itu, sikap yang diambil oleh pangeran yang bernama Yahur itu adalah tepat. Ia tidak melakukan perlawanan atau menghalangi Simrat dan bala pasukannya untuk terus bergerak. Justru dengan suka cita ia menerima kedatangan mereka dan mengundangnya ke istana. Tapi undangan itu ditolak secara halus oleh Simrat, dengan alasan bahwa tujuannya adalah ke lembah Kruyan. Ia dan pasukannya itu hanya ingin beristirahat sejenak di luar perbatasan kota sambil menunggu para kesatria lainnya yang ingin bergabung. Dan atas keramahan dari penduduk Bolvar, maka Simrat pun berjanji bahwa suatu saat nanti ia akan datang membantu mereka jika memang dibutuhkan.

Kembali ke medan pertempuran di lembah Kruyan. Sesuai dengan perkiraan, tepat di pertengahan bulan Urah (bulan ke tujuh dalam kalender Qusan), pasukan dari kedua belah pihak sudah memasuki wilayah pegunungan Palma. Dari sisi yang berlainan, mulailah berdatangan dalam jumlah yang sangat banyak mereka-mereka yang ingin bertarung habis-habisan. Tak berapa lama kemudian suasana pun bertambah riuh oleh bunyi langkah pasukan, kereta perang dan suara hewan-hewan tunggangan. Semuanya bersatu dalam irama yang tak beraturan. Membuat siapapun yang tak berkepentingan segera pergi menjauh karena takut.

5. Pertempuran mematikan
Kisah pun berlanjut. Dua hari berikutnya tibalah waktunya untuk saling berhadapan. Tapi sebelum itu, sesuai dengan tradisi yang ada maka pemimpin dari kedua belah pasukan harus bertemu di tengah medan pertempuran untuk berunding. Apapun yang diputuskan disitu akan mengikat selama pertempuran. Dan ternyata baik dari pihak Amusvat ataupun Asvarat tidak menginginkan perdamaian. Mereka hanya punya satu tujuan, yaitu bertarung merebut kemenangan.

Dan terjadilah pertempuran yang mengerikan di lembah Kruyan itu. Mereka yang terlibat langsung melancarkan serangan dalam berbagai bentuk formasi pasukan. Keduanya seimbang, baik dalam kekuatan maupun kecerdikannya. Dan itu jelas belum cukup, karena sampai matahari mendekati waktu tenggelamnya, suasana tidak berubah. Begitu pula di hari-hari berikutnya tetap sama. Bahkan yang lebih buruknya lagi adalah bahwa mereka sudah merasa keletihan, jenuh, dan mulai berputus asa.

Selanjutnya, dengan berjalannya waktu kondisi pasukan di kedua belah pihak sama-sama terpuruk dan lemah akibat perang yang tak kunjung usai setelah 15 hari. Mereka keletihan, dan tak ada lagi yang bisa di lakukan, karena semua strategi tempur sudah dikeluarkan. Dan ketika mereka harus bertempur lagi di hari yang ke 16, tiba-tiba muncullah pasukan dari Dimensi lain di sisi utara medan perang. Mereka adalah serdadu kegelapan yang telah menunggu waktu yang tepat untuk datang menyerang. Tapi anehnya tidak seperti perang yang pernah terjadi pada masa lalu, karena mereka ini tidak memihak salah satu dari kedua pihak yang bertempur. Mereka justru menyerang semuanya tanpa pilih kasih. Dengan kekuatan yang luar biasa, pasukan dibawah komando seorang panglima yang bernama Druhal itu menggempur tanpa ampun. Tak mudah untuk menahan serangan mematikan itu, dan dalam waktu yang relatif singkat mereka telah berhasil mengubah medan pertempuran menjadi ladang pembantaian.

Ya. Pasukan kegelapan yang tiba-tiba datang itu berjumlah sangat banyak, tidak kurang dari 2 juta serdadu. Mereka berpenampilan menyeramkan pada barisan yang pertama, tapi rupawan dalam barisan yang kedua dan ketiganya. Kemampuan mereka di atas rata-rata pasukan dari kubu Amusvat ataupun Asvarat. Karena itulah tidak begitu sulit bagi mereka ini untuk dapat menghancurkan pertahanan lawannya. Formasi dan barisan pasukan Manusia segera porak poranda, tak bisa menandingi kekuatan dari pasukan kegelapan itu.

Dan ternyata semua pertempuran yang sudah terjadi sebelumnya (antara pasukan Amusvat dan Asvarat) adalah atas siasat dari seorang raja kegelapan yang bernama asli Hirokhul. Dialah yang selama ini memperdayai para raja untuk mengikuti ego dan nafsunya. Dalam wujud dan nama yang berbeda-beda, ia sering datang ke dalam mimpi para raja itu dengan mengatakan bahwa ia adalah seorang Dewa, Malaikat atau sosok yang lainnya agar terkesan kharismatik. Dengan kata-kata yang bercabang ia terus mempedayai semuanya. Bahkan sesekali ia pun datang menemui secara langsung para raja tersebut – di dunia nyata – dengan menyamar sebagai orang bijak. Lewat kata-kata yang manis tetapi licik, Hirokhul berhasil menipu semua raja untuk berbuat yang diluar kebajikan. Jadilah mereka sebagai budaknya namun tanpa disadari.

Sedangkan apa yang menjadi tujuan dari si raja kegelapan itu adalah untuk bisa menguasai dunia sepenuhnya. Dengan cara mengadu domba para raja hingga terjadi perang besar, maka itulah cara untuk bisa lebih mudah menaklukkan seluruh bangsa Manusia yang menguasai Bumi. Secara militer, ketika ada kedua belah pihak yang saling beradu kekuatan dalam pertempuran, maka yang terjadi adalah kehancuran. Keduanya akan sama-sama lemah setelah bertarung selama berhari-hari tanpa hasil. Strategi ini sangat jitu untuk siapapun yang ingin menghancurkan kekuatan musuh tanpa perlu bersusah payah. Setelah keduanya benar-benar lemah dan putus asa, maka pada saat itulah waktu yang terbaik untuk segera menyerang. Penaklukkan akan terjadi tanpa perlawanan yang sengit – lantaran sudah terpuruk.

Singkat cerita. Baik pasukan Amusvat dan Asvarat sama-sama babak belur dihantam oleh pasukan yang hadir diluar perkiraan itu. Selain kewalahan dalam menghadapi serangannya, mereka juga kebingungan karena bagaimana bisa ada pasukan dari Dimensi lain, yang sangat kuat, ikut menyerang tanpa aba-aba peringatan. Semua orang pun bertanya-tanya dalam hati tentang siapakah yang mengundangnya? Apa maksud dan tujuannya? Bahkan tidak sedikit yang berpikir apakah mereka bisa keluar dari lembah Kruyan dalam keadaan masih bernyawa – mengingat musuh yang mereka hadapi saat itu tak bisa lagi dibendung. Kekuatan mereka begitu dahsyat dan tak ada belas kasihan sedikitpun.

Di tengah kebingungan dan putus asa itulah, dari arah selatan terdengar suara trompet yang membahana. Sangat nyaring bersamaan dengan munculnya portal teleportasi yang berbentuk setengah lingkaran di atas tanah. Ternyata dari situlah datang pasukan baru yang berjumlah sekitar ±300.000 orang. Mereka terlihat begitu sempurna, lengkap dengan penampilannya yang memukau. Ternyata mereka itu adalah gabungan dari kesatria bangsa Peri, Manusia, Cinturia dan Karudasya. Tidak hanya pria, tetapi dari golongan wanitanya juga. Dan setiap orangnya membawa senjata yang bermacam-macam jenisnya untuk digunakan dalam pertarungan mematikan.

Ya. Pada awalnya mereka itu hanya berjalan kaki untuk sampai di lembah Kruyan, tanpa menggunakan kesaktian ataupun portal teleportasi. Namun karena di tengah perjalanan Simrat telah mendapatkan petunjuk (tentang sudah munculnya serdadu kegelapan yang menyerang pasukan Manusia), ia pun segera membuatkan portal teleportasi. Dengan begitu mereka semua dapat berpindah tempat dalam waktu sekejap. Inilah salah satu kemampuan yang dimiliki oleh sang terpilih, yaitu bisa memindahkan sebegitu banyak orang dalam sekejap. Kemanapun di seluruh belahan dunia, maka ia bisa memindahkan siapapun dalam jumlah tak terbatas hanya dalam waktu singkat atau kurang dari satu detik saja. Sungguh luar biasa dan istimewa.

Kisah pun berlanjut. Ketika pasukan dari arah selatan itu datang, semua orang dalam pasukan Amusvat dan Asvarat bertambah bingung dan kian putus asa. Mereka merasa bahwa itulah waktu yang terakhir untuk hidup. Tak sedikit pula yang mengira bahwa pasukan itu adalah bala bantuan dari kegelapan yang sengaja ditugaskan untuk segera melakukan “pembersihan”. Namun ketika melihat bahwa ternyata pasukan itu justru memerangi para serdadu kegelapan, akhirnya mereka pun dapat mengerti. Semua raja dan prajuritnya bahkan bergembira dan merasa lega atas bala bantuan yang datang membantu mereka. Mereka jadi bersemangat lagi.

Sungguh, pertempuran kala itu terasa begitu mengagumkan. Betapa tidak, di lembah Kruyan itu telah berkumpul pasukan dari berbagai bangsa dan golongan. Semuanya mengeluarkan kemampuan yang bermacam-macam hingga menimbulkan suara yang mengerikan. Ledakan demi ledakan, guncangan demi guncanganpun kerap terjadi akibat dari senjata pusaka atau ajian kesaktian yang saling beradu. Para kesatria yang bertarung sering mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Dan semua keahlian tersebut sudah tidak ada lagi di masa kini. Semuanya telah hilang karena Manusia zaman sekarang tidak tertarik lagi, bahkan tak percaya sama sekali.

Catatan: Di medan pertempuran itu, bukanlah hal yang aneh jika ada orang yang bisa terbang, menghilang, dan mengubah wujudnya. Hal itu memang biasa terjadi bagi para kesatria yang telah menguasai ilmunya. Begitu pula saat ada yang bisa mengeluarkan ajian kesaktian untuk menghancurkan sesuatu dari jarak jauh, atau bergerak secepat kilat, maka semua itu pun lumrah terjadi. Sebab di zaman itu Manusia memang bisa membangkitkan kekuatan diri sejatinya dengan berbagai latihan khusus. Inilah kenapa di setiap pertempuran pada masa itu teknologi menjadi tidak berharga. Orang-orang jelas memilih pertarungan secara langsung dengan mengeluarkan kemampuan dirinya sendiri. Bisa dibilang itulah kebanggaan yang sebenarnya dari seorang kesatria. Jika tidak, maka ia akan dianggap sebagai pecundang.

Dan tidak sampai disitu saja, karena jika melihat bagaimana cara bertempurnya pasukan Peri, maka siapapun akan terpana. Mereka bergerak kompak, sangat cepat dan lincah serta tubuhnya terlihat begitu ringan, tanpa beban. Tidak ada pasukan dari bangsa Manusia yang bisa seperti itu, makanya mereka dapat mengimbangi sehebat apapun pasukan kegelapan. Bahkan sebaliknya, mereka dapat memukul mundur pasukan dibawah pimpinan Druhal itu dengan kemenangan. Waktunya pun tidak begitu lama, karena hanya dalam tempo beberapa puluh menit saja.

Ya. Pergerakan dari pasukan Simrat kala itu seperti air bah yang menerjang apa saja dihadapannya. Sekuat apapun pasukan kegelapan berusaha menahannya, tetap saja mereka tak dapat membendung kekuatan itu. Dan hanya dalam waktu setengah jam saja, sudah terlihat jelas siapakah yang unggul. Dan luar biasanya lagi adalah bahwa tak ada satupun dari pasukan Simrat yang gugur dalam pertempuran itu. Mereka adalah para kesatria terbaik dari bangsa Peri, Manusia, Cinturia, dan Karudasya. Semua bahu membahu dalam kekompakan yang sangat mengagumkan. Membuat siapapun yang melihatnya merasa kagum sekaligus segan.

Namun ternyata pertempuran belumlah usai. Karena sudah terpojok, panglima pasukan kegelapan yang bernama Druhal itu segera meminta bantuan. Kepada tuannya ia meminta, dan hanya dalam waktu singkat bantuan pun didatangkan. Hanya saja kali ini sangat berbeda. Tak ada pasukan besar yang terlihat oleh mata walaupun portal Dimensi masih terbuka lebar. Semua orang tak menyadari apapun, kecuali setelah tiba-tiba pasukan dari pihak raja-raja Amusvat dan Asvarat berteriak-teriak kesakitan. Satu persatu yang tidak mampu bertahan lantas meregang nyawa. Ternyata musuh yang dihadapi kali ini tak bisa dilihat. Mereka sengaja menyembunyikan bentuk fisiknya, dan hanya dapat terlihat oleh mereka yang punya indera keenam tapi minimal di level yang ketiga.

Dan tidak sampai disitu saja, ada lagi yang lebih berbahaya. Karena meskipun tanpa suara, pasukan tak terlihat itu pun bisa membisikan kata-kata yang mempengaruhi pikiran. Mereka pun membuat berbagai ilusi yang membuat bingung semua prajurit Manusia. Akibatnya di antara sesama pasukan sendiri justru saling bertengkar dan akhirnya sampai bunuh-bunuhan. Hal ini sangat dinikmati oleh serdadu kegelapan, bahkan dimanfaatkan untuk bisa menghabisi lebih banyak lagi pasukan Manusia. Sungguh mengerikan.

Waktu pun terus beranjak dan tidak mudah untuk bisa mengalahkan musuh yang kedua ini, bahkan melihatnya pun sulit. Selain goib, mereka selalu bergerak cepat tanpa suara dan berpindah-pindah arah. Tak ada formasi tertentu yang bisa membentengi diri dari setiap serangannya. Hanya dengan kesaktian yang tinggi sajalah bisa menghadapinya. Dan itu menjadi tugas utama dari Simrat dan pasukannya, dibantu oleh para kesatria terbaik dari pasukan Amusvat dan Asvarat. Mereka adalah orang-orang yang berilmu tinggi dan menguasai indera ke enam sampai di level yang kelima. Karena itulah bisa menandingi kelicikan dari pasukan kegelapan jenis kedua itu.

Tapi korban jiwa dipihak Manusia tetap berjatuhan. Hal ini jelas terasa begitu memilukan dan membuat suasana menjadi kian mencekam. Dan setelah cukup lama mengomandoi seluruh pasukannya di medan perang, akhirnya Simrat tak bisa lagi menahan dirinya. Meskipun serdadu musuh dapat ditandingi dengan mengandalkan kesaktian dan persatuan dari setiap anggota pasukannya, namun semua itu ada batasnya. Ada hal-hal yang tak bisa lagi sekedar mengandalkan kekuatan pasukan karena akan tetap menambah korban jiwa. Untuk itulah kini giliran Simrat yang mengambil kendali sepenuhnya. Terlebih memang sudah tiba waktunya ia mengeluarkan kemampuan lainnya, yaitu menarik semua pasukan musuh yang tak terlihat itu ke alam nyata dunia ini. Dan benar, hanya dalam waktu singkat tiba-tiba semua pasukan yang sebelumnya goib sudah muncul tepat di hadapan Simrat. Bahkan pemimpinnya pun ikut tertarik oleh kekuatan yang melebihi kesaktiannya.

Singkat cerita, tanpa menunggu waktu lagi sang pemuda pun mengeluarkan busur panah sakti dan melepaskannya ke arah musuh yang sudah terlihat nyata itu. Dalam sekejap tiba-tiba anak panah yang semulanya cuma satu menjadi sangat banyak, ribuan. Semuanya tepat mengenai sasaran dan menyebabkan target langsung tumbang. Tak ada yang mampu menahan kekuatan mematikan dari panah sakti tersebut. Begitu juga seterusnya sampai dua kali Simrat harus melepaskan anak panahnya lagi ke arah musuh dan mereka semuanya tumbang menghempas tanah. Bahkan untuk yang terakhir kalinya, sang pemuda bahkan mengeluarkan senjata cakram untuk menghabisi semua musuhnya. Tak ada yang bisa menghindari serangan mematikan dari pusaka sakti tersebut. Semua yang terkena langsung tewas dalam kondisi tubuh yang terpotong.

Sungguh mengagumkan apa yang di lakukan oleh Simrat, dan tak sedikit orang yang justru merasa ngeri karena belum pernah melihat kekuatan yang seperti itu sebelumnya. Hanya dengan tiga kali serangan saja, serdadu kegelapan yang sulit dilawan, yang jumlahnya ribuan itu langsung binasa. Sebagian hangus terbakar, terpotong-potong, dan sampai ada yang lenyap tak bersisa. Siapapun yang melihatnya cuma bisa terdiam dalam ketakutan.

Dan saat menyaksikan semua kekalahan itu, sosok panglima kegelapan yang sebelumnya tertawa kini menjadi ciut nyalinya. Ia sudah merasa kalah sebelum bertarung habis-habisan. Karena itulah sekali lagi Druhal meminta bantuan kepada tuannya yang berada di tempat lain. Dan permintaan itu segera dibalas dengan mengirimkan tiga sosok yang kesaktiannya melebihi semua pasukan sebelumnya. Lalu bersama-sama dengan Druhal, ketiga senopati kegelapan itu langsung menghadapi Simrat dengan cara mengeroyoknya.

Melihat itu, sang raja Peri Zalebron (Sir El-Ameron) tidak bisa tinggal diam. Ia langsung melesat untuk membantu Simrat yang sudah dikepung. Dan ternyata ketiga musuh itu telah waspada, sehingga mereka langsung membagi dirinya untuk menghadapi sang raja Peri. Hal ini pun terjadi berulang kali setelah para kesatria lainnya ikut membantu. Musuh yang jelas kesaktiannya itu terus membagi dirinya untuk bisa menghadapi siapapun yang mendekat. Untunglah Raja Sir El-Ameron dan para kesatria bisa mengimbanginya. Mereka adalah sosok pejuang yang luar biasa.

Sungguh, pertarungan saat itu begitu dahsyat hingga membuat suasana alam terus bergemuruh dan sering berubah-ubah. Mereka beradu kemampuan sampai di angkasa, dan dengan kesaktiannya itu pula mereka pun bisa mengendalikan berbagai elemen alam untuk menyerang lawannya. Siapapun yang menyaksikannya tidak hanya terkagum-kagum, tetapi juga ketakutan dan segera menjauh dari medan pertempuran. Hanya kalangan tertentu saja – termasuk para raja dan bangsawan dari pasukan Amusvat dan Asvarat – yang tetap ditempat untuk menyaksikan pertarungan itu. Dengan kesaktian yang dimilikinya mereka dapat bertahan dan tidak harus pergi jauh. Terlebih mereka pun ingin menyaksikan pertarungan istimewa tersebut dari jarak yang dekat. Sangat disayangkan untuk dilewatkan, karena takkan terulang lagi.

Dan setelah beberapa waktu tibalah kini giliran Simrat yang membalas serangan dari keempat senopati yang mengeroyoknya. Ia lalu mengeluarkan pedang sakti dan langsung menyerang siapapun yang ada didepannya. Seperti gajah liar yang mengamuk, sang pemuda tak mundur selangkahpun. Terus maju dengan kecepatan kilat dan berhasil mengalahkan satu persatu musuhnya. Hanya saja mereka itu tak mudah untuk mati, bahkan bisa hidup kembali meskipun tubuhnya hancur. Karena itulah, Simrat langsung menaikan level kesaktiannya. Dalam satu gerakan jurus ia lalu memusatkan kekuatan batinnya ke dalam pedang pusaka yang ia pegang. Dan hanya dengan sekali sabetan jarak jauh, satu persatu musuh yang teramat sakti itu langsung tumbang. Terkena serangan energi dari pedang tersebut, maka tak ada yang mampu menahannya. Semuanya mati dengan tubuh yang hancur lalu sirna.

Kisah pun berlanjut. Meskipun ke empat sosok paling sakti itu sudah berhasil dikalahkan, sebenarnya pertempuran belum usai. Dari arah Langit tiba-tiba terdengar suara bergemuruh yang diikuti petir yang menyambar-nyambar. Daratan pun bergetar kencang, membuat siapapun yang ada di lembah Kruyan merasa ketakutan. Ternyata itulah saat dimana sang raja kegelapan yang bernama Hirokhul datang untuk membuat perhitungan. Penampilannya tidak seperti bayangan orang-orang selama ini tentang sosok raja kegelapan yang menyeramkan, karena justru ia bertubuh rupawan dan tidak kalah dengan bangsa Peri. Jika tidak mengetahui jati dirinya, siapapun akan mengira bahwa dia itu adalah Dewa atau Malaikat. 

Tapi jangan tertipu, karena sejak terdengar suara yang bergemuruh dari arah Langit, sosok rupawan itu sudah menunjukkan kejahatannya. Semua orang-orang yang berada di lembah Kruyan bahkan langsung menerima tekanan energi yang sangat besar. Banyak yang segera tumbang, dan tidak sedikit yang sampai muntah darah karena tak kuasa menahan hentakan energi yang sengaja dilepaskan oleh Hirokhul. Prajurit atau kesatria, semuanya merasakan dampak buruk yang sangat menyiksa. Membuat suasana makin tak karuan, sebab tak ada yang bisa bergerak kecuali Simrat, Raja Sir El-Ameron, dan beberapa orang kesatria lainnya.

Sungguh, kesaktian dari Hirokhul memang luar biasa. Tak salah jika ia pantas menyandang gelar sebagai raja kegelapan. Baru datang saja ia sudah bisa menghentikan pergerakan dari semua pasukan di lembah Kruyan, apalagi jika ia sampai bertarung dengan mengerahkan semua kekuatannya? Sulit dibayangkan oleh siapapun yang berada di medan pertempuran. Tapi tidak dengan Raja Sir El-Ameron, karena ia sangat yakin bahwa Simrat akan bisa menandingi kesaktian dari raja kegelapan itu. Apalagi ia sudah terpilih dan mendapatkan banyak pelajaran dari para bijak nan mulia.

Dan apa yang diyakini oleh sang raja memang benar adanya. Dengan sikap yang tenang, Simrat langsung mendekat ke arah Hirokhul tanpa berbicara sepatah katapun. Tak ada waktu lagi untuk berbasa-basi, karena yang paling tepat saat itu adalah bahasa pertarungan. Maka terjadilah apa yang paling mengagumkan. Kedua sosok itu langsung mengeluarkan kesaktian yang belum pernah terlihat sebelumnya. Dan mereka bertarung tidak hanya di Bumi ini saja, tetapi sampai di luar angkasa agar dampaknya tidak sampai menghancurkan seisi planet. Dalam wujud biasa ataupun raksasa, keduanya terus mengadu kesaktian yang levelnya bukan lagi untuk penduduk Bumi.

Ya, betapa luar biasanya jenis pertarungan antara keduanya, sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata. Begitu banyaknya keanehan dan hal-hal yang tak masuk akal terus terjadi. Tak ada pula yang berani mendekat, sehingga hanya bisa disaksikan dari jauh. Dan tidak semua orang pula bisa melihatnya, karena pergerakan mereka itu sangat cepat dan terjadi sangat jauh di luar Bumi. Hanya para kesatria berilmu tinggi yang dapat menyaksikan jalannya pertarungan antara Simrat dan Hirokhul. Sampai pada akhirnya kebenaranlah yang tetap menang dari kebatilan. Raja kegelapan yang teramat sakti itu harus mengaku kalah pada seorang pemuda desa. Hanya karena ia tak bisa mati – lantaran umurnya ditangguhkan sampai Hari Kiamat – maka Hirokhul bisa kabur melarikan diri. Butuh waktu yang lama baginya untuk dapat menyembuhkan diri dan pada akhirnya kembali menciptakan masalah di Bumi.

Singkat cerita. Setelah berhasil mengalahkan Hirokhul, maka dalam waktu sekejap Simrat kembali ke medan perang. Ternyata semua orang sudah menunggu kedatangannya dengan perasaan yang bercampur aduk. Ada rasa kagum, bangga, sekaligus segan terhadap sosok pemuda yang sebelumnya tak dikenali. Tak ada yang lebih kharismatik darinya, terlebih penampilannya yang terbilang biasa namun tetap gagah rupawan. Ia pun sosok yang murah tersenyum dan sangat menarik jika dilihat. Siapapun akan merasa tenang dan senang didekatnya. Sungguh pribadi yang istimewa.

Dan tak lama kemudian, tibalah saatnya bagi Simrat untuk menutup portal Dimensi yang masih terbuka. Pasukan kegelapan yang masih hidup lalu diperintahkan untuk segera kembali ke alamnya dengan ancaman kematian jika berani datang lagi ke Bumi. Dan setelah portal itu ditutup, kini giliran raja-raja yang bertikai dari kedua belah pihak (Amusvat dan Asvarat) untuk langsung didamaikan. Sang pemuda lalu menawarkan perubahan yang dapat menyejahterakan semua pihak, yang diterima dengan senang hati oleh semuanya.

6. Membangun peradaban
Setelah berhasil menghentikan perang dunia di lembah Kruyan, tibalah saatnya bagi Simrat untuk menjalankan tugas berikutnya. Yaitu membangun peradaban yang semestinya agar menjadi contoh bagi kehidupan dunia. Dan atas petunjuk-NYA, ia pun harus mendirikan negaranya sendiri. Namanya adalah Assefron atau yang berarti gilang gemilang, dengan ibukota yang bernama Hasimlar atau yang berarti cahaya terang. Sebuah negeri yang makmur, yang tak ada duanya di seluruh dunia pada masa itu.

Adapun negeri itu terletak di jantung kawasan Asvarat, di sebuah lembah yang subur nan permai. Ia dibatasi secara alami oleh padang rumput Mimtalak dan hutan tropis yang menghijau, yang diberi nama Isyal. Kemudian dari batas itu naik ke lembah Yakkula, di sebelah selatan sepanjang lereng kaki gunung Asore. Dimana lembah itulah yang menjadi lokasi dari ibukota negara Assefron, yaitu Hasimlar. Sedangkan jika ke arah timur sejauh ±150 kilometer lalu terus sedikit ke arah utara, maka terdapatlah batas alami lainnya berupa pegunungan Balin yang puncak-puncaknya bersalju. Dari sanalah hulu sungai Nai, Sikal, dan Dhilsat berasal. Sungai-sungai itu berukuran besar dan mengalir sangat panjang ke arah selatan dan barat daya hingga bermuara di selat Yomir. Karena itulah bisa menjadi jalur utama transportasi dan perdagangan antar negara-negara yang ada di kawasan Asvarat khususnya. Sungguh kondisi alam yang indah dan sejuk dipandang mata.

Catatan: Tentang detil lokasi negeri Assefron tidak bisa kami sampaikan disini karena ada protap yang harus dipatuhi. Tapi yang jelas ada di sekitar kawasan Nusantara, karena sejak zaman pertama dulu (Purwa Duksina-Ra) kawasan ini memanglah istimewa.

Ya, kota Hasimlar itu dipenuhi dengan kemuliaan dan darinya terpancar energi yang positif serta “cahaya yang berkilauan”. Bentuknya persegi delapan, dengan tembok besar tinggi berwarna putih yang mengitarinya. Pintu gerbangnya berjumlah 8 buah dan terbuat dari perpaduan logam emas dan titanium yang diukir indah lengkap dengan taburan permata yang berwarna-warni. Di pusat kotanya, berdirilah istana dan bait suci yang semuanya terlihat begitu indah dan mengagumkan. Ukurannya sangat besar dan terbuat dari bahan-bahan yang terbaik. Ada banyak permata yang disematkan untuk lebih mempercantik penampilan. Bahkan lantainya saja terbuat dari batu pualam dan giok yang dibentuk mengikuti pola-pola yang begitu indah, sementara dinding dan pilar-pilarnya dari batu marmer dan granit yang warnanya dominan putih. Semuanya diukir dengan sangat detil dan membentuk mozaik-mozaik yang begitu indah. Tak ada yang seperti itu di tempat lain, bahkan atapnya pun terbuat dari emas dan perak yang berkilauan, yang bisa memantulkan sinar mentari dan bulan.

Selain itu, ada banyak kaca ditiap-tiap gedungnya, yang menjadi jendela dan lubang angin, dengan keteraturan yang sangat diperhitungkan. Trotoar dan jalan-jalan yang ada di seputaran area istana dan bait suci pun terbuat dari balok-balok emas dan perak, yang ditata dengan rapi membentuk pola-pola yang unik. Dan ada banyak patung-patung besar dari emas dan batu pilihan (marmer, granit, pualam), yang diukir menyerupai para kesatria yang mengenakan baju zirah kebesarannya. Ada pula kanal-kanal air yang begitu jernih, yang berfungsi sebagai pengatur debit air, jalur transportasi dan sarana berwisata. Dan tak perlu diceritakan lagi tentang bagaimana indahnya kondisi taman-taman yang ada di sana, karena jelas membuat siapapun merasa sejuk dan betah berlama-lama. Sementara khusus untuk penerangan di malam harinya, maka dibuatlah lampu-lampu dari kaca bening yang di dalamnya terdapat batu kristal. Bagaikan sihir, batu-batu kristal itu dapat bersinar sendiri tanpa listrik pada malam hari atau ketika cahaya tengah meredup. Sungguh mengagumkan, dan beruntunglah bagi siapapun yang bisa datang kesana.

Catatan: Kanal-kanal air yang ada di kota Hasimlar telah di atur sedemikian rupa sehingga bisa dilayari oleh kapal besar. Selain untuk jalur distribusi barang, kanal-kanal itu juga berfungsi untuk karya wisata bagi warganya. Dan penduduk kota atau dari luar kota Hasimlar memang suka akan hal ini. Karena dari atas kapal yang berlayar di dalam kanal-kanal air tersebut akan terlihat jelas keindahan kota Hasimlar dari sudut pandang yang berbeda. Sungguh menakjubkan.

Lalu tentang bagaimana membangun semuanya itu, maka ada banyak keajaiban yang bisa terjadi ketika semua pihak mau bergotong royong. Dan lewat sentuhan dari tangan para Jin dan bangsa Peri, maka semua proses pembangunan kota bisa selesai hanya dalam waktu 100 hari saja. Ada banyak hal-hal yang menakjubkan, yang terjadi diluar nalar selama pembangunan kota Hasimlar. Oleh sebab itu, semua hal yang dibutuhkan – dan itu semua menakjubkan – dapat tersedia dalam kesempurnaan. Bahkan dibeberapa lokasi yang ada di sudut-sudut kotanya sudah disediakan pula tempat khusus untuk menerima tamu negara, terutama bagi para pemimpin bangsanya. Di sana telah dibangun hal-hal yang menakjubkan dan tidak ada di tempat manapun di seluruh dunia. Ada banyak keindahan yang luar biasa, ada pula yang tak mengikuti hukum fisika pada umumnya. Berada di tempat itu serasa di dunia lain yang berbeda karena saking menakjubkannya. Banyak pula keunikannya, yang membuat siapapun pasti terkagum-kagum. Bahkan meskipun sudah pernah berkunjung kesana, maka untuk selanjutnya tetap akan merasa seperti yang pertama kalinya.

Ya. Di kawasan yang disebut Alabar itu ada tempat yang dinamakan Urn-Haf karena dipenuhi dengan kolam ikan, air mancur, taman bunga dan beragam jenis pohon buah-buahan. Ada pula Urn-Sef yang di dalamnya terdapat bermacam gedung dan bangunan yang sangat megah dan indah, yang beragam fungsinya, yang ukurannya raksasa dan tidak ada yang seperti itu dimana pun di seluruh dunia. Dan yang terakhir ada tempat yang dinamakan Urn-Val karena terdapat beragam jenis koleksi penting seperti kitab-kitab suci, buku-buku ilmu pengetahuan, gulungan, benda antik dan bersejarah, benda pusaka, dan hasil penelitian ilmiah. Semuanya disimpan di dalam gedung-gedung khusus, yang kita sekarang menyebutnya sebagai perpustakaan dan museum. Tidak hanya itu, karena di lokasi ketiga ini juga terdapat pusat ilmu pengetahuan dan penelitian dari kaum Assefron. Ada banyak pula guru dan siswa yang tinggal di sana untuk melakukan kegiatan belajar-mengajar, serta berbagai penelitian.

Sungguh Assefron adalah negeri impiannya para raja. Betapa menakjubkannya peradaban yang ada di sana, dan apa yang telah mereka capai saat itu melebihi apa yang kita miliki sekarang. Hidup mereka telah seimbang antara kebutuhan lahiriah dan batiniahnya, antara teknologi dan spiritualnya. Dan jika harus dibandingkan dengan anggapan orang-orang sekarang tentang kemajuan dari peradaban bangsa Lemuria dan Atlantis, maka yang ada di Assefron jauh melebihinya. Mereka telah sampai pada puncak peradaban Manusia dan hidup dalam kebahagiaan yang hakiki. Karena itulah mereka tidak dimusnahkan seperti halnya bangsa Lemuria dan Atlantis.

Catatan: Pada masa itu, khususnya sejak pemimpinnya yang ketiga (Sir El-Aheron), kemampuan dalam bidang antariksa di negeri Assefron sangat menakjubkan. Perjalanan antar planet dan galaksi bukan lagi hal yang aneh. Mereka sudah biasa melakukannya lantaran telah berhasil membangun armada pesawat yang dapat melaju dengan kecepatan melebihi cahaya. Berjumlah tiga buah dengan bentuk dan ukuran yang berbeda-beda. Dan pesawat ini biasa disebut Uzhar, atau yang berarti sangat cepat. Adapun ukurannya sangat besar dan telah dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang mengagumkan. Bahkan di dalamnya tersedia pula hutan kecil, taman bunga, perkebunan buah, dan kolam ikan. Semuanya untuk keperluan mereka yang menjelajahi angkasa selama bertahun-tahun.

Ya. Kehidupan di negeri Assefron sungguh menakjubkan lantaran di sana tidak ada lagi kemunafikan dan hal-hal yang negatif. Setiap orangnya terlatih sejak kecil dalam urusan spiritual yang tidak biasa. Mereka juga terbiasa dalam melatih pikiran dan batinnya sampai ke level yang tidak umum. Karena itulah banyak dari mereka yang mampu berteleportasi, telepati, dan telekinesis. Lalu dengan metode latihan yang sedikit berbeda, di antara mereka pun ada yang mampu berbicara dengan hewan dan tumbuhan. Oleh karena itulah suasana yang ada di negeri tersebut dipenuhi dengan rasa cinta, kasih sayang, dan kedamaian. Tidak ada lagi kejahatan atau kebodohan, dan semua yang ada di sana pun bisa saling memahami karena mereka telah memiliki kebijaksanaan.

Dan penduduk yang hidup di negeri Assefron terdiri dari banyak ras dan asal usul bangsanya. Mereka datang dari berbagai penjuru dunia setelah mengetahui bahwa Simrat telah selesai membangun negerinya sendiri dan membina kaum yang baru di sana. Siapapun boleh tinggal di negeri baru tersebut, tanpa memandang latar belakangnya. Hanya saja bagi siapapun yang ingin tinggal dan menetap di ibukota negaranya (Hasimlar), maka ia harus terlebih dulu lulus seleksi. Ada syarat tertentu yang harus dipenuhi, dan ini bersifat mutlak. Dan bagi yang tidak lulus, maka jangan harap ia bisa tinggal di Hasimlar dengan tenang, karena dia sendiri pun akan merasa sangat terasing dan takkan sanggup menjalani segala bentuk aturan dan kebiasaan di sana.

Selain itu, atas petunjuk dari Tuhan, maka dibuatlah sebuah perjanjian di antara para penguasa di dunia (khususnya yang terlibat dalam perang di lembah Kruyan). Dalam surat perjanjian itu dijelaskan bahwa semua raja dan ratu telah bersepakat untuk menghentikan pertikaian dan menjalin hubungan diplomasi yang saling menguntungkan. Tidak ada batasan waktu untuk perjanjian ini, dan semua pemimpin yang hadir telah membubuhkan stempel kerajaannya sebagai tanda setuju. Simrat yang menjadi saksi, bahkan atas kesepakatan bersama ia lalu diangkat sebagai penjaganya – bukan sebagai kaisar lantaran setiap negara tetap merdeka dan bisa mengatur dirinya sendiri. Sebuah jabatan yang sangat terhormat dan sebenarnya melebihi kedudukan dari semua penguasa negara-negara di dunia. Dan semua itu wajar terjadi, mengingat kiprahnya yang luar biasa dalam perang dunia sebelumnya. Semua orang menaruh hormat dan sangat kagum kepada sang pemuda. Selain berilmu tinggi, ia juga sangat rendah hati dan berbudi pekerti yang luhur.

7. Daftar raja-raja
Dalam sejarahnya, terdapat 70 orang yang pernah memimpin di Assefron. Semuanya adalah orang-orang yang terbaik dan bijaksana. Mereka senantiasa bugar dan sehat, sementara umurnya pun lebih panjang dari kebanyakan Manusia pada masanya. Dan setiap dari mereka itu lalu berkuasa lebih dari 200 tahun, sehingga bisa dikatakan bahwa kerajaan Assefron berumur sangat panjang, atau selama ±15.000 tahun. Sedangkan di akhir kisahnya, Assefron tidak hancur oleh perang atau hilang dalam bencana, melainkan karena dipindahkan ke Dimensi lainnya. Semua itu adalah bonus untuk penduduknya karena mereka telah hidup sesuai dengan hukum dan aturan Tuhan.

Adapun nama-nama dari para pemimpi Assefron adalah sebagai berikut:

1. Simrat atau yang bergelar Asyilgar (sang pemimpin agung) -> Pendiri negara Assefron.
2. Sir El-Amwre
3. Sir El-Ellesar
4. Sir El-Arion
5. Atsner
6. Yalkise
7. Ketmal
8. Asymur
9. Suhazo
10. Morsan
11. Zowar
12. Attanarin
13. Gosrim
14. Annahel
15. Hatbah
16. Ustaram
17. Nihayor
18. Yafhal
19. Hebaldan
20. Pismoru
21. Kemyan
22. Megazin
23. Nakwel
24. Yondra
25. Atema
26. Hafis
27. Dumasa
28. Hebayot
29. Belre
30. Negma
31. Abimel
32. Dehbar
33. Ospen
34. Ghelrar
35. Masyelba
36. Azuhat
37. Wasram
38. Hiranta
39. Nafkela
40. Jaserah
41. Hazawar
42. Essedon
43. Salhop
44. Hoilkot
45. Odelham
46. Bishmar
47. Hamuser
48. Zelbator
49. Irhaban
50. Nismi
51. Enmus
52. Talishar
53. Medatan
54. Helbaron
55. Siirma
56. Hisindra
57. Yalmos
58. Mihzah
59. Sematar
60. Edarat
61. Yelama
62. Azher
63. Bildham
64. Hasamek
65. Erasau
66. Zelarah
67. Koyares
68. Sortan
69. Hatkoru
70. Gaserah -> Pemimpin terakhir Assefron di Bumi. Karena pada masanya negeri itu dipindahkan ke Dimensi lain.

Sebenarnya dalam urusan tahta di Assefron tak ada yang namanya warisan, karena setiap orang berhak asalkan ia memang pantas. Terlebih ada syarat mutlak yang harus dipenuhi untuk menjadi pemimpin tertinggi di sana, yaitu bisa memegang dan menggunakan tongkat pusaka yang pernah dipakai oleh Simrat. Tongkat sakti tersebut adalah simbol bagi seseorang ketika ia memang terpilih sebagai pemimpin di Assefron. Siapapun yang tidak mampu memegang dan menggunakannya dengan sempurna, maka jangan harap ia bisa menduduki tahta kepemimpinan. Ia akan jatuh tersungkur dan menerima balasan yang setimpal. Sebab, untuk bisa memegangnya saja seseorang harus sudah berilmu tinggi dan baik budi pekertinya. Terlebih lagi ia pun memang terpilih di antara orang-orang yang terbaik dari klannya. Tidak bisa direkayasa atau berpura-pura.

Adapun pemimpin tertinggi di Assefron disebut dengan Zatran. Dialah yang memimpin jalannya pemerintahan dan negara, sekaligus sebagai pemimpin dalam urusan keagamaan. Siapapun berhak untuk menduduki jabatan tertinggi ini, tanpa melihat latar belakang atau jenis kelaminnya. Namun faktanya adalah bahwa yang menjadi Zatran di Assefron selalu dari anak keturunan Simrat, dan seluruhnya itu laki-laki. Ini bukan disebabkan oleh kekerabatan, nepotisme, atau yang sejenisnya, tetapi karena mereka itu memang yang paling layak. Terlebih di dalam dirinya tidak hanya mengalir darah keturunan Nabi Halrat AS, tetapi juga dari raja Peri Zalebron yang bernama Sir El-Ameron. Ini jelas bisa menjadi alasan utamanya, seperti kata pepatah lama bahwa “Buah itu jatuh tak jauh dari pohonnya”. Artinya sifat pemimpin, berbagai keahlian khusus, dan ilmu yang tidak biasa telah mengalir di dalam DNA-nya.

Ya, Simrat itu adalah menantu dari raja Peri Zalebron (Sir El-Ameron) karena menikahi putrinya yang bernama Ila-Hanain. Dari mereka berdua itu maka lahirlah tiga orang anak yang bernama El-Amwre, El-Mirah, dan Ila-Nurin. El-Amwre lalu menjadi penerus tahta di Assefron setelah ia terpilih secara aklamasi oleh para Aldim (dewan kerajaan). Dan sebelum menjadi Zatran, El-Amwre telah menikah dengan Selda putri Begawan Asirkah, yang melahirkan sepasang anak bernama El-Ellesar dan Ila-Dilasain. El-Ellesar kemudian menjadi pengganti ayahnya, El-Amwre, untuk memimpin di Assefron. Lalu atas pernikahannya dengan Amila putri Begawan Salya, maka lahirlah El-Arion. Ia kemudian menjadi pemimpin Assefron berikutnya, dan meneruskan garis keturunan Simrat sampai kepada raja yang ke 70 (Gaserah). Hanya saja setelah dirinya maka setiap pemimpin di Assefron tidak lagi memakai gelar Sir El, karena sebenarnya itu adalah gelar kehormatan milik bangsa Peri – asal usul nenek buyutnya (Ila-Hanain). Tidak seharusnya dipakai oleh bangsa Manusia yang berbeda jenisnya, terlebih saat mereka sudah memiliki negaranya sendiri. Dan sesuai dengan wasiat dari sang pendiri Assefron (Simrat), maka gelar itu hanya boleh dipakai sampai di keturunannya yang ketiga saja dalam rangka penghormatan dan agar tidak lupa kepada asal usulnya.

8. Akhir kisah
Selama hidupnya, Simrat tetap menggunakan hati nuraninya dalam setiap melakukan sesuatu. Begitu pula ketika ia sudah menjadi pemimpin tertinggi di Assefron, tak ada satupun kebijakannya yang bertentangan dengan hukum dan aturan Ilahi. Hal ini terus diikuti oleh penerusnya. Karena itulah apa yang ada di negeri tersebut sungguh menakjubkan dan dipenuhi oleh kebahagiaan. Apapun yang ada di sana telah menjadi tolak ukuran dalam kehidupan di seluruh dunia. Mereka selalu menjadi idola dan tetap dipercaya sebagai penjaga perdamaiannya. Dan ketika mereka telah memutuskan suatu perkara, maka itu akan segera diikuti dengan senang hati, lantaran bisa membawa kebaikan bagi semuanya.

Dan apapun yang baik itu terus berlangsung selama ribuan tahun, tepatnya sampai pemimpin mereka yang ke 70 (Gaserah). Apapun yang di lakukan oleh setiap penguasa tetap mengikuti apa yang telah di lakukan oleh para leluhurnya, terutama dari sang pendiri kerajaan (Simrat). Terlebih sosok yang sangat kharismatik itu pun telah berpesan dengan berkata: “Mukh ansoru heyate nasel yatirti karosen purs ambasah. Hertah namiyutu nagwe yorgu daghal hannuri yakhtar nosinte. Mejjay masu yatudu nauman ilahiyati nogala herisel norbeh sar yosaris. Neyi metalge noretor selsa nageyat hutasin anba valsayeh. Zatran anawi nahasti yakul ayas, ayas anawi linma hastiya nas zatran. 

Anirat imsal harak naboi syil’ayute masare naghol hayuntas emlu alahibat. Hanapiye rinesi yamodah akhtu Sri Maharaja Almurayasya balnagiya erasun walue 01-553589-2467-10 dsalin ustun vasulawah. Aftidey sorakhtum anmonaphus yifnah anoi, dinketi ratukhan sahordes. Namha yirate nagwah tul anbiruh falswa rumonsen.

Wasiat tersebut disampaikan oleh Simrat menjelang kepergiannya dari alam dunia ini (moksa). Di halaman depan istananya, ia mengatakan itu dengan harapan tetap diikuti oleh semuanya. Karena itu memang yang terbaik untuk mereka, bahkan sampai ke anak keturunannya nanti. Sedangkan tentang bagaimana nasib Assefron nantinya, maka sesuai dengan petunjuk yang telah didapatkan, Simrat pun berpesan: “Setiap yang terjadi di dunia ini berada di bawah pengawasan-NYA. Tak ada yang bisa kecuali DIA. Karena DIA-lah yang mengubah waktu dan masa. DIA-lah yang menetapkan siapa yang hidup dan mati, siapa yang berjaya dan terpuruk. DIA-lah yang menggantikan peradaban dan menghancurkannya jika telah waktunya. Dan DIA-lah pula yang memberikan hikmah kepada orang-orang bijak dan senang berpikir untuk kebaikan dunia. 

Karena itulah, jika kalian bisa hidup dengan mengindahkan hukum dan aturan dari Yang Maha Kuasa, maka nasibmu akan beruntung. Assefron tidak akan hancur oleh perang atau bencana, tetapi berpindah ke tempat lain (Dimensi lain) sebagai anugerah dari-NYA. Tetaplah dalam kepatuhan hanya kepada-NYA. Teruslah kalian bersikap bijaksana dengan tetap berserah diri, rendah hati, dan pandai-pandailah bersyukur sebagai wujud cinta kalian kepada-NYA

Ya. Begitulah akhir kisah dari seorang yang terpilih, yang bergelar Asyilgar (sang pemimpin agung) itu. Adapun semua yang disampaikan ini terjadi jauh sebelum masa kehidupan Nabi Musa AS, bahkan jauh sebelum peradaban kuno Mesopotamia (Sumeria, Asyur, Babilonia). Dan semua bentuk peristiwanya terjadi sangat jauh berbeda dari pemahaman umum sejarah dunia selama ini, khususnya tentang kisah-kisah peradaban Manusia dan setiap keturunannya. Perlahan-lahan kebenaran yang sejati, yang telah terkubur selama ini akan terungkap – terutama mengenai waktu kehidupannya. Jika tidak oleh kami, maka oleh mereka yang lain. Semuanya akan tetap sesuai dengan kehendak dan pengaturan-NYA, tanpa bisa dicegah atau pun dihalang-halangi.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Mugia Rahayu Sagung Dumadi.. 🙏

Urn-Val, 223 Seinlar 13457
Harunata-Ra

Catatan akhir:
1. Seperti pada tulisan sebelumnya, silahkan Anda percaya atau tidak percaya dengan kisah ini. Kami tidak akan memaksa atau merasa kecewa. Tugas kami disini hanya sebatas menyampaikan dan mengingatkan saja.
2. Bacalah dengan tenang dan terurut kisah ini. Bukalah cakrawala hati dan pikiran seluas mungkin untuk bisa memahaminya. Dan jangan menyamakan standar kehidupan di masa lalu dengan sekarang, karena sangat berbeda.
3. Ada banyak hal yang tak bisa kami sampaikan disini karena memang harus dirahasiakan dulu, belum waktunya untuk disampaikan sekarang. Maaf.
4. Apa yang terjadi pada masa sebelum berdirinya negara Assefron (perang dahsyat) bisa saja terulang lagi di masa kita ini – karena ciri-cirinya sudah ada. Bentuk dan keadaannya pun sama. Sehingga persiapkanlah dirimu sebaiknya dari sekarang, agar tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang celaka tanpa bisa melawan.

Bonus instrumental :

15 respons untuk ‘Assefron : Negeri Impian Para Raja

    Generasi terakhir said:
    Desember 24, 2019 pukul 2:41 am

    Terima kasih untuk sejarah yg luar biasa bang ….

    Jika melihat kondisi saat ini memang sdh sangat pas untuk dirubah total ….ngeri

      Harunata-Ra responded:
      Desember 28, 2019 pukul 2:13 am

      Iya mas/mbak Generasi terakhir.. terima kasih karena masih mau berkunjung, semoga ttp bermanfaat.. 🙂
      Betul, apa yg ada skr jelas menunjukkan tanda2 akan datangnya perubahan total di dunia.. akan ada masa pemurnian yg blm pernah terjadi sebelumnya..

        Generasi terakhir said:
        Desember 31, 2019 pukul 1:47 pm

        Aamiin ya rabbal alamiin ..
        Mudah2an mlm ini ya bang

    RanduBurwi said:
    Desember 24, 2019 pukul 8:41 am

    Sedari awal mengikuti webblog ini, sekalipun blum lama namun pos2 yg ditampilkan akhirnya memunculkan satu pertanyaan. Darimanakah sumber epic pos2 ini berasal? Bgitu detail dan terperinci bahkan seperti hidup. Ditambah nuansa webblog ini yang digelayuti kabut misteri protap ini dan itu. Btw secara kseluruhan sangat rekomended.

      Harunata-Ra responded:
      Desember 28, 2019 pukul 2:21 am

      Terima kasih mas/mbak RanduBurwi atas kunjungan dan dukungannya, semoga bermanfaat.. 🙂

      Ttg sumber ceritanya, maka ada yg bersifat ilmiah dan yg batiniah, dari yg tersurat sampai yg tersirat, dan dari yg masih ada/terlihat skr hingga yg harus falshback ke masa lalu.. Semua itu dijadikan sebagai bahan dasar dalam penulisan sebuah artikel yg lebih ringan utk dibaca, seperti yg ada di atas..

        RanduBurwi said:
        Desember 28, 2019 pukul 9:01 am

        Flashback ke masa lalu…hmmm…menarik, kapan2 kita diajak ya mas harun ata, kita mau banget tuh…semoga berkenan

        Harunata-Ra responded:
        Januari 3, 2020 pukul 9:19 am

        Hmm.. yg jelas saya gak bisa janji ya mas, apalagi itu bukan seperti membalikkan telapak tangan.. terutama yg diajak hrs siap dulu lahir batinnya, butuh latihan khusus.. dan juga bukan main2, karena hrs ada keperluan yg penting dulu baru di lakukan.. Apalagi ini bukan plesiran loh hehe.. 😀

        RanduBurwi said:
        Januari 8, 2020 pukul 2:15 am

        Keperluan penting, kepentingan atau tujuan seperti apa y mas harun ata? Mhon penjelasannya.

    Yoga Setya said:
    Desember 28, 2019 pukul 1:00 am

    Terima kasih atas tulisnya mas Oedi. Seperti biasa sungguh sangat memgagumkan kisah2 terdahulu yang sudah terlupakan dari sejarah ini. Dan sayabaru Tau klo Indra ke enam memiliki tingkatan. Apakah mungkin suatu saat akan diuraikan mas ?

      Harunata-Ra responded:
      Desember 28, 2019 pukul 2:29 am

      Terima kasih juga mas Yoga karena masih setia berkunjung, semoga ttp bermanfaat.. 🙂

      Iya mas, kisah2 masa lalu emang sgt luar biasa tapi skr udah hilang atau terlupakan.. Itulah kenapa disini kami perlu menyampaikannya kembali meskipun ada byk yg tidak setuju bahkan menganggapnya keliru, sesat, kafir, dll..

      Betul mas, indera keenam itu ada tingkatannya, bahkan sebenarnya sampai 7 tingkatan.. Nah disaat seseorang bisa mencapai tingkat yg ke 7 itu, barulah ia akan bisa naik ke tingkatan indera yg lebih tinggi lagi, yaitu indera ke tujuh.

      Ttg uraiannya, kemungkinan gakkan saya jelaskan di blog ini mas.. Sebab ini adalah informasi yg rahasia, gak bisa disampaikan dg mudah apalagi di internet.. maaf

        Yoga Setya said:
        Desember 28, 2019 pukul 3:50 am

        Yah gimana lagi mas..wong dari kecil sudah didoktrin tentang bagaimana sejarah manusia disekolah maupun dari cerita turun temurun jadi klo Ada yang menyampaikan sesuatu yg bertentangan ya otomatis akan dicap sesat
        Owh Ada 7 tingkatan ya mas baru bisa Naik kelas. Gak papa mas sy memaklumi kok, emang banyak Hal yang bukan untuk konsumsi publik,harus disampaikan langsung sperti guru Dan murid contohny

        Harunata-Ra responded:
        Januari 3, 2020 pukul 9:15 am

        Iya mas, makanya perlu ada perubahan cara berpikir.. karena pada dasarnya ilmu dan informasi itu berkembang.. kebenaran yg dianggap benar sekarang bisa jadi dipatahkan oleh kebenaran yg sejati dimasa depan.. apapun yg keliru akan direvisi pada waktunya..
        Betul mas, ada 7 levelnya.. jarang ada yg mampu semuanya, apalagi yg indera ke tujuh..
        Oke.. Nuwun ya mas atas pengertiannya.. sekali lagi maaf 🙂

        rpponan said:
        Januari 2, 2020 pukul 5:28 pm

        Jika suatu kebenaran kenapa harus dirahasiakan mas? Pasti byk pengikut blog ini yg penasaran, bukan byk sih tapi semua kayaknya

        Harunata-Ra responded:
        Januari 3, 2020 pukul 9:27 am

        Ya tidak semua kebenaran itu bisa disampaikan, apalagi secara terbuka.. ada waktu, tempat, dan tata caranya sendiri.. Dan maaf banget utk mas/mbak rpponan atau sedulur yg lain kalo saya gak bisa menjelaskannya, ada protap yg hrs diikuti.. 🙂

    setyo p said:
    Desember 28, 2019 pukul 2:10 am

    MasyaALLAH begitu luar biasa peradaban dan kemajuan manusia di jaman dahulu tapi mereka taat dan tunduk dalam aturan ILAHI, kalo melihat tulisan terakhir mas Oedi menulisna saat berada disana ya di Urn Val 😊😊😊

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s