3 Prinsip Kesatria Utama

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Tiada sikap yang lebih baik dari seorang kesatria. Hanya saja kini justru sikap ini telah semakin pudar di telan perubahan zaman. Orang-orang kian disibukkan dengan hal-hal yang bersifat materi semata. Kenikmatan sesaat duniawi pun terus dijadikan acuan dalam kebahagiaan dan kemuliaan hidup. Tak banyak lagi yang mau menyadari akan pentingnya laku spiritual-kebatinan. Sehingga melahirkan ketidakseimbangan dan kekacauan dunia.

Oleh sebab itu, perlu adanya perhatian khusus dalam menemukan apa yang disebut dengan kesejatian hidup ini. Siapapun yang berakal dan masih memiliki hati nurani harus menegakkan kembali sifat dari kesatria utama. Karena hanya dengan itulah kehidupan dunia ini bisa mencapai kedamaian, penuh kebahagiaan, lengkap dengan kemakmuran dan kesejahteraannya.

Lalu bagaimanakah sifat kesatria utama itu, dan apa yang menjadi prinsipnya? Mari ikuti penjelasan berikut ini :

1. Sangkan Paraning Dumadi
Kalimat “Sangkan Paraning Dumadi” ini merupakan falsafah dalam kebudayaan Jawa tentang bagaimana cara Manusia saat menyikapi kehidupannya. Sebab dalam bahasa Jawa maka kata sangkan itu berarti asal muasal, lalu paran adalah tujuan (paraning = menuju ke), sedangkan dumadi artinya lahir (atau sebelum lahir, sebelum bernama, atau sebelum ada seperti sekarang ini) dan menjadi (yang menjadikan atau Pencipta). Dengan begitu bahwa yang dimaksudkan dengan Sangkan Paraning Dumadi itu adalah pengetahuan tentang “dari mana Manusia berasal dan kemanakah ia akan kembali.” Dan dalam hal ini tidak terlepas dari hubungan antara seorang hamba dengan Tuhannya.

Oleh sebab itu, keberadaan Manusia dan Alam Semesta merupakan ciptaan dari Hyang Aruta (Tuhan YME). Kelak pada akhirnya semua akan kembali kepada-NYA, tak ada yang kekal abadi selamanya kecuali DIRI-NYA saja. Makanya dalam falsafah Sangkan Paraning Dumadi ini tersirat makna bahwa kita sebagai makhluk pada hakikatnya akan berpulang ke “rumah sejati” kita.

Nah peristiwa berpulangnya manusia ke “rumah sejatinya” inilah yang harus menjadi fokus perhatian. Dimana falsafah dari Sangkan Paraning Dumadi itu sendiri bermaksud mengajarkan bahwa tujuan akhir dari kehidupan Manusia adalah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga dalam menjalani kehidupan ini ia pun harus memiliki nilai-nilai luhur ketuhanan. Dan di antara nilai-nilai luhur ketuhanan itu adalah bersikap jujur, adil, tanggungjawab, setia, tulus-ikhlas, tepo seliro (tenggang rasa), peduli, sederhana, rendah hati, ramah, penuh cinta, disiplin dan berkomitmen.

Sehingga jalan menuju pulang ke “rumah sejati” itu adalah jalan yang harus dilalui oleh seseorang dengan benar. Makanya sejak kecil dan hidup di dunia ini, kita sudah dianjurkan untuk merenungi tentang hakekat kematian dan mempersiapkan bekalnya. Hal itu bisa di lakukan dengan cara ber-semedhi dan tapa brata, atau dalam khazanah Islam adalah ber-zikir, khalwat, uzlah, dan tahannuts, yaitu memutuskan hubungan dengan hal-hal keduniawian – untuk sementara – agar dapat ber-muhasabah, tadabur, tafakur, dan tasyakur dengan lebih khusyuk. Dengannya maka timbullah kebijaksanaan dalam diri untuk bisa memilih antara mana yang benar dan salah, mana yang seharusnya dan perlu di lakukan dalam hidup ini.

Untuk itu, dalam upaya untuk bisa kembali ke “rumah sejati”, maka tidak ada pilihan lain bagi seseorang kecuali bisa terlebih dulu mengenal siapakah diri sejatinya sendiri. Inilah kunci yang dapat membuatnya sadar diri dan mengabdi dengan tulus murni hanya kepada Tuhan, Sang Tujuan. Sebab, barangsiapa yang bisa mengenali dirinya sendiri – dalam arti yang sesungguhnya – niscaya ia baru akan bisa mengenali siapakah Tuhannya. Dan setelah bisa mengenali Tuhannya dengan benar, barulah ia bisa memiliki iman dan taqwa yang sejati. Seperti kata pepatah lama yang berbunyi; “Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta“, demikianlah pula halnya antara seorang hamba dengan Tuhannya. Semuanya harus berawal dari mengenali terlebih dulu sehingga akan benar pula dalam mencintai-NYA. Lalu ketika sudah benar dalam mencintai-NYA, maka barulah benar dalam hal keimanan dan ketaqwaannya. Jadi tidak hanya sebatas ikut-ikutan atau sekedar menurut katanya saja, melainkan sesuai dengan apa yang telah ia sadari dan pahami sendiri. Butuh usaha dan perjuangan yang lebih untuk mewujudkannya.

Catatan: Konsep tentang kembali dalam prinsip di atas sejalan dengan apa yang disebutkan dalam tiga ajaran berikut: “Aung gangsa adirataksi awigina astahanu” (Sanskerta), “Hong wilaheng hawigeno hastu” (Kawi), dan “Innalillahi wa inna illaihi rojiuun” (Arab-Islam). Yang kesemuanya itu memiliki makna yang serupa, yaitu “Dari tiada menjadi ada dan kembali ke tiada, yang sesungguhnya ada“.

2. Manunggaling Kawulo lan Gusti
Makna dari kalimat ini tidak berarti bahwa seorang hamba itu telah bersatu dengan Tuhannya dalam bentuk fisik/wujud, tetapi lebih kepada rasanya. Rasa disini artinya ia telah meraih ketenangan dan mampu menyerahkan seluruh hidupnya untuk Tuhan (berserah diri/tawakal). Dan ini bisa terlaksana hanya ketika ia telah benar-benar memahami apa yang terkandung di dalam prinsip yang pertama di atas (Sangkan Paraning Dumadi). Artinya hati dan pikirannya sudah pasrah sepenuhnya, berhenti menggugat/protes/membangkang, dan setiap hasrat keinginan pribadinya sudah terkendali dengan penuh kesadaran diri. Sehingga jiwa, raga, dan seluruh energi hidupnya digunakan untuk bisa mengabdi kepada-NYA saja. Tak ada lagi keinginan pribadi, karena yang tertinggal hanyalah kehendak dari Tuhannya. Dan ia pun telah bahagia dengan sikap dan pilihannya itu tanpa adanya tedheng aling-aling (sesuatu yang disembunyikan).

Sungguh, hasrat keinginan tidak dapat dilawan dengan melampiaskannya. Ibarat memadamkan api dengan minyak, maka ia justru semakin berkobar. Dan tak satupun keinginan duniawi ini, seperti harta kekayaan, jabatan, kekuasaan, sex, dan popularitas yang dapat membuat seseorang merasa puas. Tak satu pun bisa membuat ia merasakan damai. Sebab Manusia hanya dapat meraih kedamaian dengan keseimbangan jiwa yang telah mengatasi segala kesenangan dan ketidaksenangan. Dan ketahuilah bahwa ketenangan jiwa dan perasaan damai yang sejati itu adalah karunia mulia dari Yang Maha Kuasa, yang bisa dirasakan hanya bagi mereka yang telah penuh kesadaran diri.

Oleh sebab itu, dalam kebudayaan Jawa terdapat satu falsafah lain yang menyebutkan tentang “Mati sakjeroning urip : mati di dalam hidup“. Artinya seseorang itu sudah merasa tiada, atau telah menghilangkan ke-aku-an dirinya dan merasa bahwa hanya Tuhanlah yang ada dan berkuasa. Dirinya telah sirna, karena hanya DIA-lah pula yang Wujud dan Azali (ada dan tak berawal mula). Makanya dalam hari-harinya seorang yang bisa merasakan mati di dalam hidupnya akan selalu bersikap andap asor (rendah hati), sabar, tidak ambisius, dan tetap berusaha untuk memperbaiki diri agar dapat terus bermesraan dengan-NYA. Upaya ini kelak bisa mengantarkan dirinya untuk berhasil “menyatu” dengan Sang Kekasih sejatinya dalam kebahagiaan yang hakiki. Sehingga apapun yang ia lakukan akan sesuai pula dengan perintah dan larangan Tuhan. Disini tentunya selalu dalam prinsip kebenaran dan keadilan yang semestinya, tanpa adanya pamrih sedikitpun.

Ya. Orang yang seperti inilah yang bisa menjadi pemimpin sejati, sebab hidupnya telah bersama dengan kemuliaan. Sebagaimana yang telah disampaikan dalam wasiat leluhur kita, yaitu: “Ratu luwih kasusra ing Bhumi. Awit saking kasujananiro anrus ing kasudarmane lir bagawan linuhung. Sumageng rat mastika manik. Kathang kang poro rojo kang simiwi anut. Anggepe sami ambopo. Datan kongsi pinukul saking ajurit. Soring iyas kabagawanan ratu.” Yang artinya: “Sang pemimpin sangat terkenal di Bumi. Karena ia memiliki kecakapan dan kebijaksanaan seperti Begawan linuwih. Yang mampu menangani segala hal di jagad raya ini. Banyak dari para raja (penguasa) yang tunduk kepadanya. Yang menganggap (sang pemimpin) sebagai ayah sendiri. Banyak raja (penguasa) yang tanpa dipukul dengan prajurit (perang) sudah takluk. Tunduk karena sikap kebegawanan dari sang pemimpin.”

Dan seorang yang telah menunaikan prinsip kedua ini tentunya akan menerapkan sifat-sifat ketuhanan dalam hidupnya. Dengannya bisa memberikan pengaruh yang baik tidak hanya untuk dirinya sendiri, melainkan seisi alam semesta. Bahkan Hyang Aruta (Tuhan YME) pun dengan suka cita menganugerahinya dengan berbagai keistimewaan demi mewujudkan keharmonisan dunia. Sungguh beruntunglah bagi yang sudi mengikutinya, dan celakalah bagi siapapun yang menolak atau bahkan memusuhinya. Karena hal itu akan menjadi tulah (kutukan) yang mengerikan, cepat atau lambat pasti terjadi.

3. Hamemayu Hayuning Bhawono
Ketika seseorang telah berhasil melakukan kedua hal di atas dengan benar dan sungguh-sungguh, ia baru akan bisa menunaikan prinsip utama yang ketiga dari seorang kesatria. Inilah puncak dari perjuangan dan laku kehidupan dunia. Karena bila diterjemahkan secara bebas, maka kalimat “Hamemayu Hayuning Bhawono” itu berarti menata keindahan dunia. Maknanya, bahwa dalam kehidupan ini seorang kesatria itu telah mampu menebarkan cinta kasih, kebenaran, keadilan, kemakmuran, kedamaian, dan kemuliaan. Tidak hanya bagi sesama Manusia, tetapi juga lingkungan dan Alam Semestanya.

Catatan: Kata Bhuwono berbeda maknanya dengan Bhawono. Jika Bhuwono itu berarti Bumi saja, maka Bhawono adalah jagat raya, atau dalam artian seisi dunia ini.

Adapun tujuannya adalah untuk bisa terus menciptakan keharmonisan dunia sesuai dengan keinginan dari siapapun yang berakal dan memiliki hati nurani. Disini tentunya jangan lantas dibandingkan antara kemampuan diri seorang Manusia dengan hak yang dimiliki oleh Sang Pencipta. Ada level dan kedudukannya sendiri yang sesuai dengan kehendak-NYA. Dan Manusia itu tentunya takkan bisa menyamai hakekat dari Tuhannya, mendekati-NYA pun takkan mampu, karena tetaplah sebatas makhluk yang hina dan lemah dihadapan-NYA. Yang hanya bisa tunduk dan berserah diri hanya kepada ketetapan dan pengaturan-NYA saja.

Dengan begitu, secara otomatis ia pun akan sesuai dengan apa yang disampaikan dalam ajaran Islam tentang konsep rahmatan lil `alamin – disini tentunya tak bisa dibandingkan dengan pribadi Nabi Muhammad SAW. Artinya seseorang itu telah bisa menjadi manfaat bagi seluruh alam sebab ia hidup dengan terus melakukan kebaikan, kebagusan, dan keindahan saja. Dan mengapa itu bisa terwujud? Ya karena ia telah bisa menunaikan kedua prinsip sebelumnya (Sangkan Paraning Dumadi dan Manunggaling Kawulo lan Gusti) dengan penuh kesadaran diri.

Dan semuanya itu bermula dari dalam dirinya sendiri. Ia sudah tunduk dan berserah diri kepada setiap hukum dan aturan dari Tuhannya. Hidupnya telah dipenuhi dengan kesadaran diri yang tinggi. Sehingga ia pun dapat memimpin orang-orang dengan membawa cahaya di kedua tangannya. Cahaya yang bisa menerangi jalan kehidupan yang memang sering ditemani oleh kegelapan.

Inilah yang dimaksudkan dalam falsafah Jawa yang menegaskan bahwa “Urip iku urup : hidup itu menyala.” Maksudnya adalah bahwa seseorang itu haruslah bisa menjadi penerang dalam kehidupan dunia, bagaikan lentera. Dan memberikan tiap-tiap kebijaksanaan yang tinggi sebagai dharma yang menyenangkan. Sehingga dalam hari-harinya ia pun dapat menunjukkan jalan kebenaran dan memberikan manfaat bagi orang lain, juga alam sekitarnya. Semakin besar manfaat yang bisa diberikan tentunya akan lebih baik. Begitulah sikap yang seharusnya ditunaikan oleh siapapun yang merasa sebagai Manusia. Sebab inilah sikap dari seorang kesatria utama.

Kawruhana sejatining urip. Urip ono jroning alam donya, bebasane mampir ngombe. Umpama manuk mabur, lungo soko kurungan neki. Pundi pencokan benjang, ojo kongsi kaleru. Umpama lungo sesanja, njan-sinanjan ora wurung bakal mulih. Mulih mula mulanya.

Artinya: Ketahuilah sejatinya hidup. Hidup di dalam alam dunia, ibarat perumpamaan (sedang) mampir minum. Ibarat burung terbang, pergi dari kurungannya. Dimana hinggapnya besok, jangan sampai keliru. Umpamanya pergi bertandang, saling bertandang yang pasti bakal pulang. Pulang ke asal mulanya.

4. Penutup
Wahai saudaraku. Dari semua penjelasan di atas, maka tidaklah berlebihan jika suatu saat nanti Surga di Bumi akan terwujud – khususnya di Nusantara ini. Syaratnya harus ada para kesatria yang bisa menerapkan ketiga prinsip utama di atas dalam ketatanegaraannya. Meskipun tidak mudah, namun hal ini bersifat mutlak dan telah menjadi wasiat dari para leluhur kita yang mulia. Kita harus terus berusaha untuk kembali pada jati diri kita yang sebenarnya sebagai bangsa yang pernah dipuja-puja oleh dunia.

Pun tak bisa ditawar-tawar lagi, apalagi sampai dibandingkan dengan pandangan umum dunia kini (materialis, hedonis, apatis). Sangat berbeda, karena bentuk kehidupan yang ada sekarang ini – pada umumnya – sudah terjebak dalam perbudakan duniawi dan lupa dengan kesejatian hidup. Dimana-mana, sadar atau tidak sadar, orang-orang telah semakin tertipu oleh kegelapan yang menyaru dalam bentuk kesenangan sesaat duniawi. Tak banyak lagi yang sadar diri, karena mereka semakin mencintai sesuatu yang seharusnya dibenci. Sehingga hari-harinya terus dilalui dengan berbagai kesia-siaan.

Dan seandainya ketiga prinsip di atas bisa diwujudkan dalam kehidupan setiap pribadi, maka takkan ada lagi kesengsaraan hidup. Di sepenjuru Bumi ini akan dipenuhi dengan kebahagiaan lantaran negeri-negeri yang ada telah digenapi oleh kemuliaan. Sungguh kehidupan yang paripurna dan sempurna.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Mugia Rahayu Sagung Dumadi.. 🙏

Arghatala, 153 Yalmat 91055
Harunata-Ra

Bonus instrumental:

8 respons untuk ‘3 Prinsip Kesatria Utama

    Generasi terakhir BPK ADAM said:
    Desember 8, 2019 pukul 6:53 am

    Pelajaran yg super mantap bang OEDI….

      Harunata-Ra responded:
      Desember 28, 2019 pukul 1:58 am

      Terima kasih atas kunjungan dan dukungannya mas/mbak Generasi terakhir BPk ADAM.. semoga bermanfaat.. 🙂

    rakeyan said:
    Desember 12, 2019 pukul 2:55 pm

    Salam Mas Oedi…..
    Senang rasanya Jenengan sudah aktif lagi menulis (dan atau berkarya).

    Izin berkomentar (dan berbagi dlm Perspektik saya) tentang Artikel ……….
    Wedaran tentang Artikel Ksatrya Utama ……., yg keren, sistimatis, perfect dan bermanfaat, serta dituangkan dlm bentuk tulisan tidak saja berdasarkan teorisitas, pun realitas, tetapi keynote-nya adalah di empirisitas.
    Materi Artikel tersebut berada di Level (paling tidak) Hakekat dan atau Mari’fat, seribu, satu orang yang bisa dan atau telah mencapai level tsb, dan tdk ujug-ujug seseorang mencapai level tsb, lazimnya melalui Tahapan, yakni : Syariat, Tarekat, Hakekat dan Mari’fat (tetapi ada yg khusus dan atau sangat khusus, “meloncat” paralel-integral), serta tidak ada makan siang yg gratis, Anugrah-NYA itu tidak terberi begitu saja, ada MAHAR yg harus “dibeli” (proses panjang yang TELAH DILALUI-nya dan ujian yang seperti tak pernah henti-hentinya SEDANG & TELAH DIJALANI-nya).

    Pun LAZIMNYA Kaum AGAMAWAN yg melaksanakan perjalanan tsb, tetapi……. di Akhir Zaman ini, ada yg khusus (dan atau sangat khusus), yakni Para KSATRYA TERPILIH (Kstaria Utama) yg melaksanakan perjalanan tsb.
    Kenapa & mengapa dibedakan & berbeda antara Kaum Agamawan dgn Para Ksatrya..?

    Kaum Agamawan dlm melaksanakan perjalalan tsb, lazimnya menghindar dari “keramaian dunia,” pun pasca perjalanan tsb menepi dari “keramaian dunia,” sedangkan Para Ksatrya Terpilih (Ksatrya Utama) justru berada di dalam “keramaian dunia” (sembunyi di tempat yg terang, berada di tengah keramaian, dan dalam berkarya, menunaikan dharma kesuma serta mengaktualisasikan keluhuran budi pekerti tanpa atribut, tanpa tendensi dan tanpa pamrih), pun pasca perjalanan tsb tetap berada di dalam “keramaian dunia,” bahkan……. kelak mengelola “keramaian dunia.”

    Pahamilah….. Wahai Ksatrya-Ksatryawati Ibu Pertiwi, Trah Leluhur Nusantara, bahwa Gusti Ingkang Akaryo Jagat telah “MEMANGGIL,” untuk sadar, menyadari & memahami akan kehambaan diri, bahwa diri ini hanyalah hamba-NYA yang harus tunduk dan patuh kepada Gust Allah SWT, harus nrimo ing pandum, sesuai Peran-nya, Peran Penciptaan-NYA (“terikat erat” JANJI SUCI pada saat RUH ditiupkan, dan TAQDIR ILAHI yang “mengunci-nya”).
    Memanggil….. untuk mengelola Dunia (Nusantara), Perjalanan Peradaban Umat Manusia, khususnya Nusantara, karena Ksatrya Terpilih (Ksatrya Utama), adalah Personafikasi, Manifestasi dan Representatif-NYA, slalu bersiap-siaga dan terjaga dalam barisan-NYA, yg solid , tangguh, mumpuni, snantiasa dalam Petunjuk ILAHI dan diberkati-NYA.

    Ketahuilah….. Duhai Ksatria-Ksatryawati Ibu Pertiwi, Trah Leluhur Nusantara, bahwa Leluhur kita, diantara-nya; Eyang Sunan Kalijaga, jauh-jauh hari sudah mewariskan PEPELING (Hasil dari olah Instrumen Anugrah ILAHI, Ilmu Weruh Sakdurunge Winarah), dgn NUBUWAT-nya “LIR ILIR,” yg berisikan EPIGRAM & HYMNE; Penantian, Pengharapan & Pujian kepada PARA CUCU-NYA, yang terpilih-ILAHI
    (Bersungguh-sungguhlah dalam melaksanakan & mengaktualisasikan BERIBADAH Vertikal dan Horizontal, snantiasa terjaga dan menjaga Kebersihan Raga, dan Kesucian Jiwa, Sukma & Ruh).

    Matur nuwun, smoga bermanfaat
    Suro diro joyodiningrat lebur dening pangastuti
    Mugia Rahayu Sagung Dumadi

      Harunata-Ra responded:
      Desember 28, 2019 pukul 2:06 am

      Salam juga mas Rakeyan, nuhun karena masih mau berkunjung dan kasih komentar, maaf kalo baru skr bisa saya balas.. 🙂

      Iya mas, saya udah balik lagi.. sebenarnya gak mau sih, tapi karena masih ada tugas yg harus dituntaskan, makanya aktif lagi di blog ini.. Semoga ttp bisa memberikan yg bermanfaat utk poro sedulur sekalian.. 🙂

      Waah silahkan aja mas, saya justru senang kok sampeyan mau berkomentar disini.. dan apa yg sampeyan sampaikan ini ya seperti biasa yg berkelas dan mendalam, sgt berkompeten.. makanya saya pun sampai gak bisa berkomentar apa2 lagi.. Sekali lagi nuhun, Mugia Rahayu Sagung Dumadi.. 🙂

    rakeyan said:
    Desember 20, 2019 pukul 10:38 am

    Salam Mas Oedi…..

    Nuwun sewu… & Izinkan saya berkomentar (dan berbagi) PERSPEKTIF SISI LAIN dari Artikel tsb di atas.

    Pondasi utama (karakteristik struktur kontruksi yg tertanam) seorang KSATRYA UTAMA adalah “KEJUJURAN” dan “DISIPLINITAS” (from Zero to Hero).

    “KEJUJURAN” adalah Repsentatif (Induk) dari yang namanya Moralitas. sedangkan “DISIPLINITAS” adalah Representatif (Induk) dari yg namanya Mentalitas

    Baik Kejujuran, maupun Disiplinitas, adalah 2 hal yang saling berhubungan erat, integral dan tidak terpisahkan, bagai 2 sisi mata uang, serta berkaitan erat dgn KEPATUHAN & KETAATAN kepada Norma Norma, INTELEKTUALITAS (Pendidikan & Kecerdasan), ETOS KERJA, MINAT (Budaya) MEMBACA, MENGHARGAI WAKTU, BERTANGGUNG JAWAB, PROFESIONAL, dan lain-lain sebagainya, secara Horizontal, serta KEIMANAN/KETAQWAAN secara Vertikal.

    Output & Outcome-nya, seorang KSATRYA UTAMA (Kualifikasi Ksatrya Utama Horizontal & Vertikal). yakni: merupakan Seorang yg Jujur; Disiplin; memiliki Leadership; Cool; Cermat; Cerdas; Thinkers (Pemikir) & Conceptor (Konseptor, Perencana, Perancang); Proficient of Management (Mahir Manajemen); Strategists (Piawai Strategi); Tactical (Taktis); Inspector (Pengawas); Kokoh & Tangguh; Berani & Bernyali; Warlord and Unmatched (Jago Perang & Tak Tertandingi); Bijak, Agamis, memiliki Sense of art dan Power from GOD (Legitimasi, Petunjuk ILAHI dan diberkati-NYA).

    Mengapa & kenapa demikian..?
    Itulah Misteri-nya Para Super Alpha (Para Ksatrya Utama) Putra Ibu Pertiwi, Trah Leluhur Nusantara, karena di akhir zaman ini negara seperti tanpa batas, kompleksitas, rumit & pelik, berseliweran para Sengkuni dan para Brutus, para Durjana, cengkraman dari para Oportunis busuk, dan para Cenayang sesat,yg licin, licik dan lihai, yg menghamba kpd kegelapan, pun eksploitasi (dan intervensi) Bangsa dan Negara lain, khususnya Sumber Daya Alam, bidang Ekonomi, Budaya & Militer

    Oleh karena itu Gusti Ingkang Akaryo Jagad mengutus Para Super Alpha (Para Ksatrya Utama) yg telah memahami Nilai Nilai Luhur Kearifan Nusantara (dan Nilai Nilai Luhur Ketuhanan) sebagai Jati diri, serta dgn dilengkapi ANUGRAH ILAHI, berbagai KECERDASAN, dimana IQ (Intelligence Quotient), EI (Emotional Intelligence), dan SI (Spiritual & Supranatural Intelligence) yang di atas rata2 (Personafikasi, Manifestasi dan Representatif-NYA) untuk dan sebagai PENJAGA NILAI NILAI (Para Super Alpha / Para Ksatrya Utama) yang TERBEKATI dalam PETUNJUK ILAHI untuk membimbing, mengawal & menjaga perjalanan Peradaban Umat Manusia, khusus-nya di Nusantara.

    Yang akan membawa Nusantara/Ibu Pertiwi/NKRI kepada Kemakmuran, Kejayaan & Keemasan, GEMAH RIPAH LOH JINAWI, TATA TENTREM KERTA RAHARJA, pun HAMEMAYU HAYUNING BHAWONO (Menata keindahan dunia), dan atau (dlm bahasa religi) negara yang “BALDATUN THAYYIBATUN WA RABBUN GHAFUR (“Negara yang aman-tentram, sejahtra, penuh persaudaraan & kemanusiaan, dilaksanakan dengan baik & mendapat Anugrah ILAHI”).

    Matur nuwun, smoga bermanfaat
    Suro diro joyodiningrat lebur dening pangastuti
    Mugia Rahayu Sagung Dumadi

      Harunata-Ra responded:
      Desember 28, 2019 pukul 2:11 am

      Salam juga mas, oh silahkan aja.. saya justru senang karena bisa menambah khazanah keilmuan.. Nuhun karena sudah berkenan.. 🙂

    Kemampuan Transcendence « Perjalanan Cinta said:
    Januari 31, 2020 pukul 8:37 am

    […] Catatan: Jika boleh disederhanakan, maka dalam kebudayaan Jawa dan Sunda keadaan yang transcendence itu dapat dimasukkan kedalam kondisi yang telah manunggal, atau lebih lengkapnya adalah: manunggaling kawula lan Gusti. Sebab memang ada sosok Manusia (jagat alit/microcosmos) yang berhasil menyatu dengan Alam Semesta (jagat ageng/macrocosmos), dimana keduanya pun tetap berada di dalam genggaman Tuhan yang menciptakan dan mengendalikannya. DIA-lah Hyang Aruta (Sang Maha Esa dan Kuasa), dimana semuanya berasal dari-NYA dan akan kembali lagi kepada-NYA. Lebih detilnya tentang hal ini silahkan baca tulisan yang berjudul: 3 Prinsip kesatria utama. […]

    […] Catatan: Jika boleh disederhanakan, maka dalam kebudayaan Jawa dan Sunda keadaan yang transcendence itu dapat dimasukkan kedalam kondisi yang telah manunggal, atau lebih lengkapnya adalah: manunggaling kawula lan Gusti. Sebab memang ada sosok Manusia (jagat alit/microcosmos) yang berhasil menyatu dengan Alam Semesta (jagat ageng/macrocosmos), dimana keduanya pun tetap berada di dalam genggaman Tuhan yang menciptakan dan mengendalikannya. DIA-lah Hyang Aruta (Sang Maha Esa dan Kuasa), dimana semuanya berasal dari-NYA dan akan kembali lagi kepada-NYA. Lebih detilnya tentang hal ini silahkan baca tulisan yang berjudul: 3 Prinsip kesatria utama. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s