Kesadaran Hati

Posted on

Wahai saudaraku. Hati adalah cerminan diri pribadi, yang takkan salah bila niatnya tak salah, yang takkan buruk jika keinginannya tak buruk. Siapakah diri seseorang itu akan ditentukan oleh bagaimana kondisi hatinya. Mulia atau hinanya pun tergantung dengan hal ini.

Tapi orang munafik termasuk yang luar biasa. Sebab ia bisa melakukan hal yang berbeda antara hati, pikiran dan perbuatannya. Bahkan saling bertentangan hingga membuatnya menjadi plinplan. Padahal sifat ini menjadi yang sangat merugikan dan tidak disukai oleh Yang Maha Pencipta.

Dan tak banyak yang menyadari akan hal ini. Kini pun telah semakin ramai orang yang melakukan kemunafikan dengan tidak peduli lagi pada kebenaran dan kebatilan. Tak merasa takut bila melakukan sesuatu yang sebenarnya itu salah dan merugikan. Dan meskipun nuraninya telah mengingatkan, maka ia tetap saja tak peduli. Ia merasa bahwa apa yang di lakukan meskipun itu adalah kejahatan justru tak mengapa. Tanpa terasa kian hari kian menjauhlah ia dari cahaya kebaikan, dan yang tersisa hanyalah kegelapan walaupun tak terlihat gelap.

Untuk itulah, suatu keadaan yang diharapkan oleh diri sejati akan tergantung dengan usaha dalam menjaga hatimu. Ini tidaklah mudah, butuh ketekunan (istiqomah) dan kesadaran diri yang tinggi. Hanya orang yang sabar dan rendah hati (tawadhuk) sajalah yang bisa melakukannya. Sebab ada banyak ujian yang harus dilalui, ada banyak tantangan yang bisa membuat siapapun menyerah sebelum menang. Dan jika hanya bermodalkan pengetahuan tentang kitab suci (sekedar hafal), maka tanpa pengamalan yang benar takkan ada artinya. Semuanya akan jadi sia-sia belaka, lantaran apa yang di lakukan masih dipenuhi dengan kemunafikan.

Jika hatimu adil, kau akan terhindar dari kejahatan. Bila hatimu tulus, kau akan mendapatkan kebahagiaan. Dan seandainya hatimu baik, maka dirimu akan di anugerah kemuliaan. Sebaliknya ketika hatimu tidak cukup adil, tulus dan baik, maka fantasi liar hanya akan membuatmu terjebak di dalam kebodohan. Kau tak bisa melarikan diri, karena justru semakin terjerat oleh berbagai kepalsuan. Ini jelas sangat merugikan dan mendatangkan penyesalan.

Ya. Pemahaman akan sesuatu adalah yang terpenting untuk di lakukan. Makanya lebih baik tahu sedikit namun sampai pada tahap benar-benar memahami, ketimbang banyak tahu namun hanya sebatas hafalan saja. Dan seseorang itu tidak dinilai dari seberapa banyaknya ia tahu, melainkan seberapakah ia telah memahami dan mengamalkannya. Sehingga kemuliaan pun tergantung dengan kedua hal itu (memahami dan mengamalkan), bahkan harus dilengkapi juga dengan niat yang tulus ikhlas dan berserah diri kepada-NYA (tawakal). Apa yang di lakukan semata-mata hanya demi tegaknya kebenaran dan sikap yang penuh rasa syukur kepada-NYA (syakur) lantaran masih diberikan kesempatan untuk bisa terus memperbaiki diri.

Makanya sangat perlu untuk membersihkan hati dari kotorannya (iri, dengki, pamrih/riya’, cinta dunia, amarah, malas, licik, sombong, ambisius, dll) agar hidup menjadi lebih berwibawa dan terhindar dari sifat yang batil. Jauhkanlah hati dari sesuatu yang dapat membuatnya menjadi “hitam” dan tak bisa memantulkan cahaya Ilahi. Karena apapun itu, jika hati seseorang masih kotor, maka yang ada hanyalah kerusakan. Takkan ada kebaikan yang semestinya jika tak ada kesadaran diri untuk terus membersihkan hati. Tak mungkin pula ada keindahan yang sesungguhnya bila hati yang dimiliki masih tersaput debu dan karat kemunafikan.

Dan perlu untuk berjuang dalam memadamkan api keegoan diri, sebab bila ego terlalu dominan di dalam diri seseorang, maka hatinya akan sulit menemukan ketenangan, rasa damai, bahagia, dan juga keharmonisan. Tak ada keindahan di dalam ego, lantaran sikap empati yang sangat diperlukan dalam kehidupan ini telah hilang bersama ego yang terpelihara. Itulah mengapa siapapun yang memiliki ego di dalam dirinya akan terus fokus pada kepentingan dirinya sendiri dan mengabaikan realitas orang lain. Ia tak peduli dengan lingkungan sekitar, dan apa yang disebut dengan kesadaran hati takkan mungkin ada di dalam diri yang masih menyimpan ego. Sehingga ego ini menjadi sikap yang tak terpuji dalam kehidupan sosial, dimanapun tempatnya, bahkan sangat merugikan.

Untuk itu, ego harus disingkirkan sementara kesadaran diri adalah penting untuk dijaga. Sebab, walaupun seseorang cerdas menggunakan intelektualnya dalam berbagai interaksi dan keperluan di dalam kehidupan ini, namun bila semua itu berada di bawah kendali egonya, maka kecerdasan dan intelektualitas itu tidak akan ada artinya. Tidak pula dapat menyentuh hati dari kehidupan sosial. Akibatnya seseorang menjadi kehilangan rasa bahagia untuk hidup sesuai dengan realitas dan fakta yang benar. Batinnya menjadi buta dan jiwanya menjadi tumpul terhadap apa saja yang baik dan sesuai dengan prinsip keseimbangan. Sehingga kebijaksanaan yang menjadi puncak dari kehidupan orang beriman semakin jauh dari harapan.

Sungguh, kesadaran hati itu berangkat dari kapasitas yang dimiliki seseorang untuk rajin mengintrospeksi diri (muhasabah), terus menambah ilmu pengetahuan (tadabbur), dan merenungi tentang segala sesuatu (tafakur). Ketiganya harus tetap ada agar kesadaran diri yang semestinya dapat terwujud. Dan ketika hati yang telah sadar itu terjaga dalam hari-harinya, barulah seseorang bisa disebut sebagai sosok Manusia yang sesungguhnya. Sebuah pencapaian hidup yang terbaik dari seorang makhluk dan sangat menguntungkannya. Tidak hanya di dunia ini saja, karena sampai di akherat nanti.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Mugia Rahayu Sagung Dumadi.. 🙏

Niswan, 679 Masarin 33579
Harunata-Ra

Bonus instrumental:

4 respons untuk ‘Kesadaran Hati

    Kembali said:
    Desember 3, 2019 pukul 8:59 am

    Terima kasih bang oedi ..
    Dngn mbaca ini smakin mmbuat diri kuat dlam mnghadapi sgl tantangan yg datang dngn silih berganti

      Harunata-Ra responded:
      Desember 28, 2019 pukul 1:45 am

      Terima kasih juga mbak/mas Kembali utk kunjungannya.. 🙂
      Syukurlah kalo gitu, memang itu yg diinginkan, semoga bermanfaat.. 🙂

    Yoga setya said:
    Desember 20, 2019 pukul 1:33 am

    Terima kasih mas Oedy
    To henti2nya anda slalu mengingatkan tentang bagaimana seharusnya manusia bersikap. Semoga tulisan2 anda slalu menginspirasi orang lain

      Harunata-Ra responded:
      Desember 28, 2019 pukul 2:10 am

      Terima kasih juga mas Yoga karena masih mau berkunjung, semoga ttp bermanfaat.. 🙂
      Ya sudah menjadi tugas kita utk saling mengingatkan.. Aamiin, semoga benar adanya begitu, karena emang itu yg diinginkan.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s