Mulsyar : Dunia Para Naye, Sinu dan Vali

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Sudah lama sekali rasanya ingin menyampaikan hal-hal yang tidak biasa. Mengapa begitu? Karena apa yang kami ceritakan disini tidak lagi berlangsung di Bumi ini, bahkan tidak juga di Alam Semesta kita. Dan tak bisa dipungkiri bahwasannya ada banyak Dimensi dan Alam Semesta lainnya selain tempat keberadaan kita ini. Semuanya merupakan satu ketetapan dari setiap kehendak-Nya. Tak ada yang bisa menolaknya, meskipun ada saja yang tetap berusaha menafikannya.

Karena itu, sebelum engkau membaca lebih jauh isi dari tulisan ini, bukalah dulu cakrawala hati dan pikiranmu seluas mungkin. Lepaskan ikatan yang membelenggu selama ini (doktrin, dogma) agar mampu menerima apa saja yang disampaikan kali ini. Persiapkan dirimu dengan banyak wawasan yang tidak biasa (anti mainstream). Jika tidak, maka sebaiknya jangan dilanjutkan membacanya. Itu tidak baik untukmu, karena engkau nanti hanya akan mencela dan menolaknya.

Nah, bagi yang telah siap dan berkenan untuk menambah wawasannya, mari ikuti kisah berikut ini:

1. Awal kisah
Pada awalnya, jauh sebelum Manusia diciptakan, Hyang Aruta (Tuhan YME) telah memerintahkan ke tujuh Ainur untuk berkumpul. Mereka berkumpul di sebuah Dimensi khusus yang bernama Alhuwariyah. Disana mereka lalu mendapatkan/melihat visi tentang kehidupan baru di sebuah Alam Semesta yang bernama Masytari. Di dalamnya terdapat sebuah dunia yang tercipta dengan sangat harmonis. Masing-masing dari Ainur itu lalu punya andil dalam “penciptaannya”. Mereka akan terlibat langsung dalam pembangunan dunia baru tersebut.

Selain itu, para Ainur juga melihat tentang adanya penghuni dunia baru itu yang diberi nama Naye, Sinu, dan Vali. Semua hal itu membuat para Ainur sampai terpesona dan ingin segera ambil bagian dalam penataan dunia baru itu. Dan memang Hyang Aruta (Tuhan YME) sudah menetapkan bahwa para Ainur memang punya andil penting dalam membangun seisi Alam Semesta yang ada disana. Mereka harus mengerahkan kemampuannya sesuai dengan petunjuk dan rancangan (blueprint) Dari-NYA. Tentu semuanya itu hanya atas izin dan kehendak-NYA saja.

Catatan: Pada suatu ketika di masa yang sangat purba, Hyang Aruta (Tuhan YME) menciptakan makhluk supranatural abadi yang diberi nama Ainur. Mereka terdiri dari tujuh sosok (Mahsyira, Hasyira, Kasybira, Nawsyira, Talsyira, Arhasyira, dan Sur’asyira) dengan kemampuan dan tugasnya masing-masing. Golongan Ainur ini tidak sama dengan para Malaikat, karena mereka memiliki kedudukannya sendiri. Bahkan para Malaikat saja tidak banyak yang tahu tentang dimanakah keberadaan mereka ini. Sebab para Ainur tersebut selalu berada di satu tempat yang khusus dan tidak ada seorang pun yang bisa kesana kecuali atas perintah Tuhan. Hanya sesekali saja mereka ini keluar dari kediamannya, dan itu hanya atas perintah atau petunjuk dari-NYA.

Sebagai makhluk supranatural yang istimewa, ke tujuh Ainur itu sangat patuh dengan segala perintah-NYA. Khusus mengenai dunia baru itu, mereka mendapatkan tugasnya masing-masing. Dengan kemampuan yang luar biasa dan dibantu oleh para Malaikat terpilih, mereka lalu menciptakan berbagai hal (materi, elemen, unsur, benda-benda, planet, galaksi, makhluk, dll) di dalam Dimensi kehidupan yang sudah disediakan itu. Apa yang diciptakan oleh seorang Ainur takkan sama dengan ciptaan dari Ainur yang lainnya. Hanya saja meskipun begitu, semua yang diciptakan oleh para Ainur itu, meskipun berbeda, saling terkait dan menjadi perpaduan yang sangat indah dan harmonis. Itulah kenapa dunia yang mereka ciptakan saat itu begitu indah dan sempurna. Tentu semuanya itu hanya atas izin dan petunjuk dari Hyang Aruta (Tuhan YME). Para Ainur dan Malaikat itu tak lebih dari sekedar kontraktornya saja.

Lalu, ada satu tempat di Alam Semesta Masytari itu yang menjadi pusat dari dunia yang dibangun oleh para Ainur. Tempat itu lalu diberi nama Mulsyar. Bentuknya tidak bundar seperti triliunan Planet yang ada, tetapi terhampar luas dalam bentuk yang mendatar. Ukurannya sangat luas, yaitu 100.000 miliar kali dari ukuran/diameter planet Bumi kita. Secara umum kondisi geografi dan topografinya menyerupai Bumi, tapi dengan lima iklim yang berbeda. Sedangkan disana ada dua buah “matahari” (yang berwarna putih dan putih kekuningan) dan empat “bulan”-nya (yang berwarna putih, kekuningan, keemasan, dan putih kebiruan). Semuanya bergerak sesuai dengan garis edar dan waktunya masing-masing. Dan saling bersesuaian, tanpa ada yang pernah bertabrakan.

Catatan: Setiap Dimensi kehidupan (Alam Semesta) yang diciptakan oleh Tuhan itu ada namanya. Tak terkecuali Dimensi Alam Semesta tempat kita tinggal ini. Hanya saja kami tidak diizinkan untuk menyampaikannya disini. Maaf.

Kemudian seorang Ainur yang bernama Hasyira menanam bibit segala tumbuhan untuk disemai di Mulsyar, baik di permukaan daratan atau pun di dalam airnya. Tak lama kemudian dengan cepat bibit itu menjadi tunas dan berkembang biak. Darinya kemudian muncullah beragam jenis tumbuhan besar dan kecil, lalu pohon buah-buahan, bunga-bungaan, lumut, rumput, pakis, jamur, ganggang, dan terumbu karang serta pepohonan yang pucuknya bermahkota kemilau, atau yang pada batangnya keluar tandan mayang/manggar yang di dalamnya terdapat semacam mutiara dan atau serat kain bak sutera yang terbaik.

Setelah itu, Ainur yang bernama Kasybira meletakkan benih hewan (berbentuk bola air kristal) di dekat sumber mata air. Tak berselang waktu, berbagai jenis hewan muncul dan mereka segera bergerak dan hidup di padang-padang rumput atau di sungai-sungai, danau-danau, di lautan atau berjalan di dalam hutan-hutan. Sebagian dari mereka itu ada yang bisa terbang di udara, berenang di dalam air, atau masuk ke dalam tanah. Sangat beragam karakternya, bahkan banyak pula yang mampu berbicara seperti halnya Manusia. Lalu jika suatu saat nanti mereka mati, maka tubuhnya akan segera menyatu dengan daratan atau dasar lautan, sungai dan danau yang ada di Mulsyar. Tak pernah ada bangkai yang membusuk.

Sungguh, begitu indahnya kehidupan yang telah diciptakan oleh para Ainur itu – tentunya hanya atas izin dan perintah Tuhan. Kelak, di Mulsyar itulah para Naye, Sinu, dan Vali akan hidup sangat lama. Mereka akan berbagi tempat tinggal dengan semua makhluk yang terlebih dulu tinggal disana. Setiap dari mereka pun akan terus mengarungi kehidupan sampai di Hari Kiamat nanti. Tak jauh berbeda dengan kondisi Manusia di muka Bumi ini. Sedangkan di sana ada banyak daratan atau pulau yang mengambang di udara, dimana terdapat pula beragam jenis kehidupan makhluk di atasnya.

Lalu di Mulsyar itu, kelak berdirilah gedung-gedung, menara-menara, dan kota-kota yang sangat megah milik para Naye, Sinu, dan Vali, yang takkan bisa disaingi oleh bangsa Manusia ataupun Jin. Meskipun ada banyak kota besar yang dibangun, tapi keharmonisannya selalu terjaga. Semuanya tetap dalam keseimbangan alam. Karena itulah di sana pun terkumpul juga hal-hal yang sangat indah yang dapat memanjakan mata dan mendamaikan hati siapapun. Negeri itu telah diberkati karena tak ada yang memudar atau meranggas, juga tak ada noda di atas bunga-bunga ataupun dedaunan disana, atau kebusukan atau penyakit atas semua yang hidup; karena semua batu, tanah dan airnya pun disucikan.

2. Benih kehidupan di Masytari
Setelah para Ainur selesai membangun Mulsyar, maka atas petunjuk dari Hyang Aruta (Tuhan YME) mereka segera bermunajat selama 3 hari. Sampai pada akhirnya turunlah dari Langit begitu banyak benih pasangan makhluk-makhluk yang akan mendiami planet-planet yang ada di seluruh Alam Semesta Masytari. Benih-benih itu lalu masuk ke dalam daratan dan lautan yang ada, dan darinya muncullah sepasang makhluk yang terdiri dari jenis yang beragam. Mereka pun bisa berdiri dengan kedua atau ke empat atau ke enam kakinya. Semuanya mampu berbicara dan dianugerahi akal yang cerdas. Dengan begitu, mereka pun bisa membangun peradabannya sendiri.

Catatan: Makhluk-makhluk yang disebutkan di atas tidak termasuk golongan Hewan, karena Hewan telah lebih dulu ada. Sebagian dari mereka itu lalu menjadi pemimpin tertinggi dari yang lainnya.

Kemudian, setelah semua makhluk itu berada di planetnya masing-masing dan mulai hidup disana, atas petunjuk dari Hyang Aruta (Tuhan YME) lagi para Ainur segera menetapkan hukum kehidupan di seluruh Alam Semesta Masytari. Siapapun yang tinggal di Alam Semesta itu akan terikat dengan hukum tersebut. Tak ada yang bisa menghindar terkecuali bagi mereka yang teramat khusus.

Lalu, setelah menetapkan hukum bagi kehidupan di Alam Semesta Masytari, para Ainur tidak langsung kembali ke tempat asalnya. Mereka justru mengasingkan diri ke sebuah tempat yang mereka ciptakan khusus untuk diri mereka saja. Tempat itu masih berada di Alam Semesta Masytari, hanya saja seolah-olah terpisah dari semua yang menjadi isi dari Alam Semesta itu. Hanya para Ainur saja yang bisa kesana. Dan disanalah akhirnya mereka bersujud selama ±10.000 tahun (untuk ukuran waktu di Mulsyar) sebagai wujud dari rasa syukur dan mengagungkan Hyang Aruta (Tuhan YME).

Catatan: Ada banyak Alam Semesta yang seperti tempat tinggal kita saat ini, bahkan ukurannya jauh lebih luas dari Alam Semesta kita ini, lengkap dengan kondisi yang juga lebih unik. Semesta dimana Mulsyar berada, yang bernama Masytari itu, adalah salah satu dari sekian banyak Alam Semesta yang telah diciptakan oleh Hyang Aruta (Tuhan YME) dibawah kolong Langit – lalu dibangun isinya oleh para Ainur yang dibantu para Malaikat. Semesta itu memiliki ciri khas dan karakter yang sangat berbeda dengan Alam Semesta kita. Hukum kehidupannya juga begitu. Demikianlah Sang Maha Pencipta telah mengaturnya dengan sempurna.

3. Kelahiran para Naye, Sinu dan Vali
Selama para Ainur bersujud, kehidupan di alam yang mereka “ciptakan” itu tetap berjalan dengan tertib dan harmonis, khususnya mereka yang tinggal di Mulsyar. Semua yang hidup (dari berbagai jenis dan golongannya) selalu taat mengikuti aturan kehidupan di sana. Lalu setelah ±10.000 tahun bersujud, Malaikat Jibril sang pembawa wahyu Ilahi datang menemui para Ainur. Sang utusan lalu menyampaikan sebuah perintah agar mereka segera naik ke atas Langit yang ke tujuh untuk menerima tugas yang baru.

Singkat cerita, para Ainur segera naik ke atas Langit tingkat ke tujuh dan tiba di sebuah tempat yang telah ditentukan. Di temani oleh Malaikat Jibril, mereka lalu menuju ke suatu tempat yang sangat istimewa. Disana, mereka akhirnya tiba di bawah sebatang pohon yang sangat besar dan begitu mengagumkan, yang daun-daunnya berjuta warna. Batangnya berwarna perak berkilauan, sementara cabang dan rantingnya seperti kristal dan berlian. Lalu dari setiap bunganya yang tak terhitung jumlahnya itu, ada setetes embun bercahaya yang akan jatuh sesuai dengan kehendak-NYA saja. Bagi yang mendapatkan tugas, mereka akan menunggu dibawah pohon itu untuk mendapatkan setetes embun cahayanya. Setelah itu mereka akan pergi ke tempat yang sudah ditentukan untuk segera menjalankan tugas di sana.

Pada saat itu, ada tiga bunga yang berbeda bentuk dan warnanya. Dari kelopaknya lalu meneteslah embun bercahaya dalam warna yang berbeda pula. Ternyata itulah tiga benih awal dari para Naye, Sinu dan Vali; calon penghuni Mulsyar. Tugas dari para Ainur adalah membawa ketiganya itu ke Mulsyar dan harus menanamnya di sana. Dari ketiga benih itulah nanti akan muncul bangsa yang melengkapi kehidupan di Mulsyar. Mereka akan membangun sebuah peradaban di sana. Sementara tugas dari para Ainur selanjutnya adalah mengajarkan mereka itu tentang berbagai hal dalam kehidupan ini. Membekali diri mereka dengan kebenaran dan menerangkan apa saja kebatilan itu agar tetap sadar diri dan waspada.

Selanjutnya, setelah mendapatkan penjelasan detil tentang tugasnya, para Ainur kembali ke Mulsyar dengan membawa tiga benih dari atas Langit ke tujuh. Di suatu tempat, di atas sebuah bukit yang puncaknya datar nan luas, ketiga benih itu lalu di tanam. Setelah itu para Ainur mengheningkan cipta dan melantunkan pujian (zikir) kepada Hyang Aruta (Tuhan YME). Seiring waktu muncullah tiga buah tunas muda yang bercahaya. Dari semua pohon yang telah ada di Mulsyar, ketiga pohon itulah yang tampak lebih indah. Dalam waktu singkat ketiganya berbunga dan akhirnya berbuah sangat ranum dan bercahaya.

Sesuai petunjuk-NYA, buah itu lalu dipetik dan ternyata di dalamnya ada tiga pasang makhluk yang rupawan. Ketiga bayi itu lalu disebut Naye, Sinu, dan Vali. Merekalah yang kelak menjadi cikal bakal dari tiga bangsa pilihan yang menghuni daratan Mulsyar sampai Hari Kiamat nanti. Dan sebagai seorang makhluk, tentulah mereka juga berkewajiban untuk tetap patuh dan mengikuti semua aturan Tuhan. Tak ada pengecualian disini, meskipun mereka diberikan banyak keistimewaan.

Kembali ke pohon di atas. Maka setelah dipetik buahnya, ketiganya terus memancarkan sinar selama tujuh hari berturut-turut (dalam hitungan waktu di sana), bahkan semakin terang benderang. Sinar tersebut lalu diserap oleh ketiga pasangan bayi yang baru “di lahirkan” itu (Naye dan Niya, Sinu dan Sina, Vali dan Vila). Hal ini menyebabkan tubuh mereka segera membesar hingga mencapai ukuran dewasa. Lalu menambah kekuatan dalam diri mereka, disamping nanti akan mendapatkan pelajaran khusus dari para Ainur. Setelah tujuh hari bersinar tanpa henti, cahaya dari ketiga pohon itu lalu meredup. Bahkan tidak hanya sampai disitu, karena akhirnya ketiga pohon itu pun menghilang. Raib begitu saja tanpa jejak.

Setelah peristiwa itu, para Ainur segera mendidik ketiga pasangan tersebut (Naye dan Niya, Sinu dan Sina, Vali dan Vila) dengan berbagai ilmu pengetahuan dan kesaktian. Tidak butuh waktu lama, karena semua yang diajarkan bisa dikuasai dengan cepat oleh setiap pasangannya. Dengan bekal itu, mereka bisa melakukan banyak hal, bahkan apa saja yang mereka inginkan – tentunya dalam batas-batas tertentu. Lalu di kemudian hari, ketika anak-anak mereka lahir, semua ilmu pengetahuan dan kesaktian itu juga diajarkan secara turun temurun. Dan karena pernah di gembleng langsung oleh para Ainur, ketiga bangsa ini akhirnya menjadi yang sangat istimewa dan paling dihormati di seluruh Alam Semesta Masytari. Mereka menjadi pemimpin dari semua makhluk yang ada disana.

Catatan: Kisah ini akan lebih mudah dipahami jika Anda sudah membaca terlebih dulu beberapa artikel lainnya, seperti Multiverse : Bukti keagungan Tuhan, Jenis Elemen Makhluk dan Dimensi Kehidupan, Hiltram as Kazalim : Tombak Azab dan Pedang Takdir, Pusaka Warisan dan Perang Antar Dimensi, Kerajaan Nawali: Sang Pemimpin dari Timur, dan Kisah 9 Bangsawan. Itu akan membantu logika dan imajinasimu.

3. Kehidupan para Naye, Sinu dan Vali
Tidak seperti Manusia yang hidup dalam kurun waktu yang singkat dan tidak terikat dengan Bumi – sebab pasti meninggalkannya langsung saat kematian, maka para Naye, Sinu, dan Vali ini justru hidup dalam keabadian di Mulsyar. Bentuk tubuhnya langsing agak berisi dan kulitnya bercahaya. Sangat rupawan, sehingga sulit untuk diungkapkan lewat kata-kata. Dan meskipun usia mereka terus bertambah, namun ketuaan dan kelemahan tidak pernah mendatanginya. Mereka tidak akan mati sampai pijakannya (Mulsyar) mati/hancur, atau mereka bisa mati karena terbunuh oleh sebuah kekuatan yang berada di atas level mereka. Dan mereka juga bisa saja meninggalkan Mulsyar kapanpun mereka mau dengan cara berpindah tempat kehidupan. Tentunya disini mereka sudah mempersiapkan diri untuk menjalani hidup di level yang lebih tinggi. Ini mirip dengan konsep moksa pada kalangan Manusia pilihan, hanya saja berbeda levelnya.

Sejak awal tercipta, pada dasarnya ketiga bangsa itu (Naye, Sinu, dan Vali) berbeda. Khususnya warna kulit, mata dan rambutnya tidak sama. Mereka punya ciri khasnya (ras) sendiri, dan diberi banyak keistimewaan. Di antaranya tidak wajib makan, minum dan tidur kecuali mereka telah menginginkannya. Dan apapun yang mereka makan atau minum itu tak perlu lagi dikeluarkan, tidak pernah ada kotoran dari dalam tubuhnya, sehingga mereka selalu dalam keadaan suci. Mereka pun bisa terbang dengan atau tanpa mengeluarkan sayapnya, dan dengan kesaktiannya mampu berpindah tempat (teleportasi) dengan sangat cepat; jauh melebihi kecepatan cahaya.

Selain itu, mereka juga mampu berkomunikasi dengan siapapun, dalam bahasa apapun, bahkan tanpa bahasa sama sekali alias telepati. Indera mereka sangat tajam, karena bisa melihat, mendengar dan merasakan langsung dengan jelas tentang apa saja dari jarak yang sangat jauh, bahkan lintas Planet dan Galaksi. Dan semakin mereka rajin dalam olah batin, maka semakin sakti pula dirinya. Kemampuan ini jelas berada di atas rata-rata umat Manusia dan Jin yang tinggal di Bumi, bahkan yang hidup pada zaman awalnya dulu.

Ya. Ketiga bangsa ini (Naye, Sinu, dan Vali) adalah makhluk yang anggun, yang semua gerak-geriknya santun dan berwibawa. Mereka tidak pernah memikirkan kemuliaannya sendiri, pun tidak cemburu atas harta dan kedudukan, melainkan tetap hidup dalam kedamaian dan keimanan yang tulus. Mereka pun diberikan kemampuan yang luar biasa, terlebih jika mereka rajin berolah batin dan “tapa brata” selama kurun waktu tertentu (biasanya minimal 10 juta tahun). Sehingga mereka ini lebih mirip Malaikat ketimbang Manusia. Dan ketika berada di Mulsyar, mereka tidak harus menggunakan bahasa verbal (lisan dan tulisan). Cara mereka berkomunikasi adalah dengan telepati, dan semua yang mereka dengar atau lihat akan diingat selamanya, tak ada yang terlupakan. Hanya untuk keperluan tertentu saja mereka akan berbicara melalui lisan, terlebih ketika harus berinteraksi dengan makhluk lainnya. Disini tentu mereka bisa berbicara dalam semua bahasa yang ada di semua Alam Semesta.

Lalu dari ketiga pasangan itu (Naye dan Niya, Sinu dan Sina, Vali dan Vila) maka berkembanglah kaum yang sangat rupawan, bijaksana dan terampil. Ketiga ras itu lalu menamakan kaumnya sesuai dengan nama leluhur pertama mereka: yaitu Naye, Sinu dan Vali. Di zaman pertamanya di Mulsyar, maka setelah 50.000 tahun berlalu, lahirlah keturunan pertama mereka yang berjumlah 6 pasang. Saat itu alam menyambutnya, terutama bunga-bunga Aspili yang bermekaran sangat indah. Tapi sangat jauh berbeda dengan kodrat dari bangsa Manusia atau Jin, maka mereka ini tak bisa berkembang biak dengan cepat. Hanya dalam kurun waktu 3.000-5.000 tahun sekali saja mereka baru bisa memperoleh keturunan. Dan setiap pasangan bisa memilih untuk terus menambah keturunannya atau tidak. Semua kembali pada diri mereka sendiri, karena hal itu adalah pilihan yang bebas.

Dan sejak kelahiran pertama anak-anak dari pasangan Naye, Sinu dan Vali, maka kehidupan di Mulsyar kian semarak dan terus berlanjut selama lebih dari 2 triliun tahun (sesuai ukuran waktu di sana). Karena itu, bisa dipastikan jumlah dari ketiga bangsa yang tinggal di sana itu pun menjadi cukup banyak. Terlebih mereka sendiri tidak ada yang wafat di Mulsyar. Terus saja hidup disana, kecuali bagi mereka yang memilih untuk berpindah tempat kehidupan – ke Dimensi lain yang lebih tinggi levelnya.

Pun, di tengah-tengah daratan Mulsyar itu, maka setelah 50 juta tahun berikutnya bangsa Naye, Sinu dan Vali lalu membangun kota besar pertama mereka yang sangat megah dan bercahaya. Semuanya terbuat dari bahan-bahan yang serba mengkilap atau bening, berwarna-warni dan dibentuk dengan sangat rumit tapi begitu indahnya. Dan ada pula bangunan-bangunan megah yang sengaja didirikan mengambang di udara, juga ada yang dibangun tepat di atas daratan yang mengambang di udara pula, dimana semuanya itu telah dikerjakan dengan sangat rapi dan indah. Selain itu, mereka juga membangun rumah-rumah, villa-villa dan flat-flat (tempat tinggal yang dibagi atas ruang duduk, kamar tidur, kamar mandi dan dapur) di atas pohon-pohon raksasa yang arsitekturnya mengagumkan. Tak lupa pula dibuat taman-taman yang ditata dengan sangat rapi dan indah pada setiap sudut kota, yang tentunya bisa menyejukkan hati siapapun.

Lalu tepat di hadapan gerbang “timurnya” terdapat danau “kaca” yang sangat luas. Disanalah, tepat di tengahnya mereka mendirikan sebuah bangunan putih raksasa berbentuk limas (piramida) yang berundak-undak. Piramida ini dipenuhi oleh beragam bentuk ukiran yang sangat rumit sekaligus begitu indah. Pada bagian puncak bangunannya terdapat sebuah bangunan persegi sepuluh yang atapnya berbentuk kubah warna blue safir (mirip dengan warna biru pada batu permata blue safir), yang terlihat begitu indah dan mewah.

Kemudian tepat di bagian atas/puncak kubah biru itu terdapat semacam bola kristal atau berlian yang berukuran sangat besar dan bisa bersinar secara otomatis pada malam hari. Sedangkan di ke empat sisi bangunan piramida itu terdapat pula menara-menara yang tingginya melebihi gunung Himalaya. Menara-menara ini dirancang dengan beragam warna cerah, bermacam kerumitan desain interior-eksterior, dan dari bahan baku yang terbaik. Tepat di atas menara-menara raksasa itu terdapat lampu kristal yang sangat menawan. Lampu-lampu itu diisi dengan cahaya khusus pemberian dari para Malaikat, sehingga akan terus bersinar tanpa meredup sedikit pun. Cahaya itu juga memancarkan kehangatan dan sinar yang benderang tanpa henti. Sungguh mengagumkan.

4. Peran dan tugas
Diciptakannya bangsa Naye, Sinu dan Vali itu tentu ada maksud dan tujuannya. Selain untuk tetap mengagungkan Tuhan Yang Maha Esa, mereka juga bertugas untuk menjaga keseimbangan di Alam Semesta Masytari. Ada begitu banyak kehidupan makhluk di semesta itu, ada banyak pula lika-likunya. Nah tugas utama dari ketiga bangsa pilihan itu adalah ikut menjaga semuanya tetap hidup dalam ketertiban dan keimanan.

Makanya, ketika di salah satu planet terjadi perselisihan atau kekacauan, maka salah satu dari ketiga bangsa itu akan menjadi penengahnya (juru damai). Mereka datang ke tempat yang bersangkutan (daerah konflik) untuk mendamaikan suasana. Berbagai cara yang bijak akan mereka tempuh agar kehidupan di sana bisa kembali normal dan damai. Selama 2 triliun tahun lebih tugas itu dapat dijalankan dengan baik. Semuanya tentu berkat anugerah dan perizinan dari Hyang Aruta (Tuhan YME).

Catatan: Waktu itu sifatnya relatif. Lain di sana akan lain pula di Alam Semesta kita. Bahkan apa yang terjadi di sana tidak bisa kita bandingkan dengan kondisi yang ada di Alam Semesta kita. Banyak sekali perbedaannya, dan hukum alamnya pun juga berbeda.

Selain itu, pada suatu ketika, para Ainur yang diwakili oleh Mahsyira sempat berpesan kepada leluhur dari ketiga bangsa tersebut (pasangan Naye, Sinu dan Vali) – yang kala itu sedang mereka didik. Pesan itu mengenai keberadaan makhluk yang disebut Manusia. Beliau pun berkata:

“Tuhan akan menciptakan Manusia, yaitu makhluk yang ditempatkan di Bumi dengan segala bentuk ujiannya. Mereka adalah makhluk yang istimewa dan memiliki kedudukan khusus di hadapan-NYA. Di antara mereka bahkan ada yang sangat di sanjung-puja di Langit. Dan setelah menjalani kehidupannya di Bumi, mereka akan meraih kebahagiaan yang sejati. 

Tapi, nanti mereka akan sering menyimpang dari kebenaran dan tidak akan menggunakan berkah hidupnya itu dalam harmoni keseimbangan. Sebagian dari mereka ada yang hidup mulia, yang bisa terus menerima dan memberikan keindahan cinta. Tapi tak sedikit pula yang justru sangat hina sebab terlena dengan kehidupan semu di Bumi. Mereka ini telah lupa bahwa mereka itu hanyalah tamu. Sosok yang sekedar singgah (di Bumi) untuk bisa mempersiapkan bekal kehidupan selanjutnya (akherat).

Karena itu, untuk bisa memenuhi pikiran dan hatinya dalam keimanan, Manusia harus mencari melampaui Bumi (dan alam nyata). Mereka harus tetap berusaha, karena tidak akan mendapatkan ketenangan selama belum mendapatkan kebijaksanaan dalam dirinya. Kebijaksanaan itulah yang kelak membentuk pribadinya, yang sesuai dengan hukum Tuhan Yang Maha Benar. Pada saat itulah, mereka baru akan menyadari bahwa semua yang mereka lakukan itu pada akhirnya hanya dari dan akan kembali kepada-NYA. Tidak untuk menunjang karya-NYA, tetapi justru hanya demi mengagungkan DIRI-NYA saja. 

Sehingga akan datanglah satu persatu utusan Tuhan untuk membimbing Manusia. Mereka itu berkedudukan sangat dekat disisi-NYA, sangat dicintai-NYA pula. Hidupnya di Bumi hanya untuk menunjukkan mana itu kebenaran dan mana pula itu kesalahan. Mereka adalah hamba yang mulia dan patut menjadi teladan hidup. Dan jika sudah waktunya nanti, di antara kalian juga harus ada yang berkunjung ke Bumi. Kalian harus turut membantu para Manusia itu agar mereka bisa kembali menemukan jalan yang lurus menuju-NYA. Lakukanlah hanya atas dasar cinta dan kasih sayang. Dan tetaplah kalian berserah diri hanya kepada-NYA saja, dengan senantiasa melakukan kebajikan”

Ya. Apa yang telah disampaikan oleh Ainur Mahsyira itu menjadi pedoman bagi para Naye, Sinu dan Vali beserta keturunannya. Dan di kemudian hari, ada dari mereka yang sempat dua kali datang ke Bumi untuk membimbing Manusia. Di kesempatan yang ketiga dan keempat, mereka bahkan sampai harus membantu Manusia dalam menghadapi perang antar Dimensi. Atas izin dari Tuhan, kehidupan di Bumi kembali normal setelah sebelumnya kacau balau.

Lalu apakah hal itu akan terjadi lagi? Mungkin saja jika melihat kondisi yang sudah dan sedang terjadi di Bumi sekarang ini.

5. Perang maha dahsyat
Sejak kelahiran keturunan pertama dari ketiga pasangan Naye, Sinu dan Vali, maka selama lebih dari 2 triliun tahun kehidupan di Mulsyar pun terus berlanjut dalam kedamaian. Semua makhluk yang hidup di sana tetap saling menghargai dan berbagi. Terutama bangsa Naye, Sinu dan Vali, mereka terus menjalankan tugas untuk tetap menjaga keseimbangan di seluruh Alam Semesta Masytari. Tugas itu di laksanakan dengan baik, hingga suatu ketika terjadi malapetaka yang besar. Kedamaian di Masytari terusik oleh serangan dari makhluk kegelapan yang berasal dari Alam Semesta yang lain. Mereka bukanlah lawan yang mudah, lantaran kesaktian yang dimilikinya sangat luar biasa.

Ya. Banyak di antara para Naye, Sinu atau Vali yang sampai kewalahan dalam menghadapi serangan tersebut. Bagaimana tidak, semua musuhnya itu punya kemampuan yang hebat, bahkan bisa menghancurkan dan menciptakan apapun yang mereka inginkan. Tidak tanggung-tanggung, karena yang bisa mereka hancurkan atau ciptakan itu bahkan minimal sebuah satelit/bulannya Planet. Sedangkan tujuan mereka saat itu adalah untuk merebut Alam Semesta Masytari dari kepemimpinan para Naye, Sinu dan Vali.

Catatan: Peperangan yang terjadi di sana kala itu sangat berbeda dengan di semesta kita, apalagi jika dibandingkan dengan di Bumi ini. Levelnya sudah jauh berbeda, karena tujuan dari perangnya saja bukan hanya untuk menguasai sebuah negara atau bahkan Planet, melainkan Galaksi dan keseluruhan Alam Semesta-nya.

Dan perang yang maha dahsyat pun terjadi tanpa bisa ditunda lagi. Melalui beberapa portal Dimensi, maka sekitar ±250 miliar pasukan kegelapan muncul dan langsung membuat gaduh seisi Alam Semesta Masytari. Di antara mereka tampil dalam wujud raksasa yang sangat besar, yang melebihi ukuran gunung. Sebagian yang lainnya bahkan lebih besar lagi karena melebihi ukuran Planet yang ada dan bisa mengubah-ubah wujudnya. Bahkan ada juga yang ukurannya bisa melebihi Galaksi, sebab mereka ini adalah para petinggi pasukan kegelapan ini. Tanpa aba-aba, maka dalam waktu singkat mereka langsung berbuat gaduh dan menimbulkan kekacauan dimana-mana. Tujuannya adalah untuk memberikan peringatan kepada para Naye, Sinu dan Vali untuk segera tunduk kepada mereka.

Di hari pertama pertempuran, sekitar ±200 miliar pasukan koalisi dari semua makhluk di semesta Masytari – dibawah pimpinan para Naye, Sinu dan Vali – harus menghadapi ±250 miliar pasukan kegelapan. Musuhnya itu terdiri dari tiga golongan pasukan yang dipimpin oleh seseorang bernama Hazniraka. Pada golongan yang pertama, pasukan musuh itu terdiri dari sosok-sosok yang berwujud menyeramkan, berpakaian serba hitam, dan lengkap dengan berbagai peralatan tempurnya, seperti pedang, panah, tombak, kapak, gada, kereta perang, dll. Semua senjata dan peralatan itu adalah benda-benda pusaka yang sakti mandraguna yang dampaknya akan sangat menghancurkan, begitu pula diri mereka yang juga sakti.

Sementara itu, di golongan yang kedua dalam pasukan kegelapan itu terdapat para kesatria yang penampilannya sangat rupawan; tak terlihat sama sekali bahwa mereka ini adalah pasukan yang keji. Mereka ini tidak menenteng senjata apapun, dan hanya berpakaian zirah yang indah. Kemampuan mereka jelas di atas setiap pasukan golongan pertama, karena mereka justru bisa memunculkan berbagai jenis pusaka yang sakti sesuka hatinya. Belum lagi diri mereka sendiri yang teramat sakti, bahkan melebihi para Dewa-Dewi jika di Alam Semesta kita ini. Sedangkan yang di golongan ketiga adalah barisan dari para senopati dan kesatria yang paling sakti dari semua pasukan yang ada. Pasukan terbaik ini langsung dibawah komando dari seorang panglima yang sangat luar biasa kesaktiannya. Sementara pemimpin tertinggi mereka (Hazniraka), saat itu belum menampakkan dirinya sama sekali. Hanya suaranya saja yang sesekali terdengar memberikan perintah.

Singkat cerita, sejak awal pertempuran semuanya sudah berlangsung dengan sengit. Kedua belah pihak telah mengeluarkan setiap kemampuan yang ada di darat dan udara, di dalam tanah dan air, bahkan di luar angkasa. Maka terjadilah peperangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di setiap sudut Alam Semesta Masytari pun tak luput dari pertempuran dahsyat itu. Karena itulah tak lama kemudian kerusakan dan kehancuran mulai terlihat dimana-mana. Banyak korban jiwa yang berjatuhan, semuanya terdiri dari berbagai jenis makhluk yang ada. Sungguh menyedihkan.

Catatan: Pertempuran ini sangatlah luar biasa. Jika seandainya terjadi di Alam Semesta kita, maka planet Bumi sudah hancur berkeping-keping bahkan sejak masih di awal-awal pertarungan. Untung saja itu tidak sampai terjadi, dan Bumi itu punya takdirnya sendiri, sehingga takkan hancur sebelum Hari Kiamat tiba. Ada kekuatan tersembunyi yang sangat besar dan terus melindunginya.

Sungguh, hari-hari berlalu tanpa beristirahat dari perang. Siang malam kedua belah pihak yang berlawanan itu terus bertempur tanpa jeda. Setiap pasukan terus melancarkan berbagai strategi dan taktik serangan yang paling jitu. Usaha yang maksimal terus saja di lakukan. Contohnya dari para petinggi di ketiga bangsa Mulsyar (para Naye, Sinu, Vali) yang berperang di luar angkasa, maka beberapa dari mereka itu mulai mengambil benda-benda angkasa seperti meteor dan komet untuk dilemparkan ke arah musuh, tapi musuh pun melakukan hal yang sama. Ada pula yang mulai mengambil Planet (yang kosong) dan melemparkannya ke arah musuh, tapi musuh pun melakukan hal yang sama. Begitu pula ada beberapa orang yang mulai mengeluarkan kesaktian dengan menciptakan atau menghancurkan puluhan Planet, namun musuhnya pun melakukan hal yang sama. Demikianlah gambaran tentang kedahsyatan pertempuran kosmik pada saat itu disana. Dan itu terus berlangsung tanpa henti. Hingga di hari yang ke 40 barulah mulai terlihat hasilnya dengan jelas. Keadaan dari kedua kubu pasukan sama-sama kesusahan alias banyak yang telah jatuh sebagai korban (gugur) dan terluka parah. Dan disini jumlah korban jiwa atau yang terluka parah lebih banyak dialami oleh kubu pasukan kegelapan.

Setelah berperang selama 40 hari (sesuai ukuran waktu di Mulsyar) tanpa jeda, bahkan istirahat, maka perang pun tetap di lanjutkan. Kali ini pasukan kegelapan yang terluka atau kehabisan energi bisa segera pulih, bahkan yang tewas pun langsung hidup kembali untuk memperkuat pasukannya lagi. Melihat hal itu, sebagian dari pasukan Syanur (nama pasukan koalisi dari semua makhluk yang hidup di semesta Masytari) banyak yang mulai gentar. Tapi mau bagaimana lagi, karena pertempuran harus terus di lanjutkan. Tidak bisa menghindar, karena musuhnya pun terus menyerang dengan serangan yang bahkan lebih mematikan.

Pemimpin tertinggi pasukan kegelapan juga mulai menurunkan sosok-sosok yang luar biasa saktinya. Karena itulah, mereka yang berada di level tertinggi dari bangsa Naye, Sinu dan Vali harus turun tangan langsung menghadapinya. Di antara yang turun tangan pada saat itu adalah Sayeta, Diruni dan Misila. Tapi musuh mereka itu memang luar biasa saktinya dan pertempuran harus terjadi di tempat yang sangat jauh di luar angkasa, karena pertarungannya sudah menggunakan kemampuan dalam menciptakan atau menghancurkan Planet dan Galaksi.

Catatan: Dalam pertempuran ini banyak sekali sosok yang memiliki kekuatan di atas para Begawan dan Dewa-Dewi yang dikenal oleh Manusia di Bumi. Karena itulah yang terjadi saat itu bahkan di luar imajinasi orang pada umumnya.

Perlu dijelaskan disini bahwa di pertempuran kedua ini modelnya adalah setiap pasukan Syanur akan melawan satu atau dua orang musuh yang bisa mengubah dirinya menjadi sama persis dengan diri mereka (pasukan Syanur), hanya saja berbeda warna pakaiannya. Tentang kemampuannya, maka kedua belah pihak akan setara, bahkan sang musuh bisa lebih sakti dari pasukan Syanur. Contohnya, pada saat Sayeta, Diruni dan Misila harus melawan musuh yang menyerupai dirinya sendiri, mereka jadi sangat kewalahan. Sayeta bertarung di suatu tempat yang menyerupai luar angkasa, Diruni bertarung di sebuah tempat seperti padang rumput yang maha luas, sedangkan Misila bertanding di suatu tempat seperti samudera yang juga maha luas. Ketiga sosok tersebut beraksi dengan cara berdiri atau duduk bersila dan berhadapan langsung dengan musuhnya lalu membagi dirinya jadi 5-10 sosok. Sosok-sosok itulah yang saling bertarung satu lawan satu dengan musuhnya untuk menentukan siapakah yang paling kuat dan siapa pula yang bisa menang di antara mereka. Dan tentunya semua kemampuan harus dikerahkan oleh kedua belah pihak, termasuk sampai harus menghancurkan dan menciptakan Galaksi, dan itu terus di lakukan sampai berhari-hari tanpa henti.

Sampai di hari ke 45, Sayeta, Diruni dan Misila mulai terlihat kehabisan tenaga dan perlahan-lahan mulai kalah. Bahkan Diruni sampai mengeluarkan “darah” dari mulutnya dan Misila sampai harus terjungkal, terpental dan hampir pingsan. Begitu pula dengan Sayeta yang harus mengalami kekalahan yang telak dan terpaksa mundur, kembali ke dalam pasukan Syanur untuk bisa memulihkan kekuatannya. Atas kejadian itu, pasukan musuh bisa meraih kemenangan yang gemilang. Tapi perang belumlah berakhir, karena masih banyak dari pasukan Syanur yang tetap melawan dan berperang dengan gagah berani.

Catatan: Pada saat pertempuran dahsyat ini terjadi, mulai dari generasi pertama sampai yang ke sepuluh dari bangsa Naye, Sinu dan Vali sudah tidak ada. Begitu pun tidak sedikit dari generasi berikutnya yang sudah tidak tinggal di Mulsyar lagi. Mereka telah berpindah tempat kehidupannya, ke suatu Dimensi kehidupan lain yang lebih tinggi levelnya. Jika saja mereka itu masih tinggal di semesta Masytari, tentulah hanya dalam waktu singkat pertempuran besar itu bisa dihentikan – lantaran kesaktian yang mereka kuasai. Tapi memang ada takdir yang harus dijalani oleh penduduk semesta Masytari saat itu sebagai ujian hidup, tak ada yang bisa menghindarinya.

Perang terus berlanjut. Kali ini musuh menurunkan lima sosok yang berwujud sangat rupawan (gagah dan cantik). Ukuran mereka sangat besar (raksasa), dan pemimpinnya adalah seorang wanita yang bercahaya. Kelima sosok ini lalu mengeluarkan kesaktian, di antaranya dengan cara menghembuskan “udara” ke arah pasukan Syanur. Dengan hembusan itu, satu persatu pasukan yang ada mulai terbakar, dan terpental lalu pingsan atau gugur. Bahkan ke lima senopati ini tidak peduli dengan pasukannya sendiri, karena banyak sekali yang ikut tewas secara mengenaskan akibat serangan dari mereka. Intinya mereka berlima itu hanya mau menghancurkan saja, dan tidak peduli apakah itu kawan atau pun lawan. Mereka terus menyerang dan menyerang saja tanpa pandang bulu. Bahkan mulai menantang siapapun dari pasukan Syanur untuk bertarung langsung (berduel) dengan mereka sampai mati.

Atas serangan itu, akhirnya pasukan Syanur benar-benar terpojok dan harus berusaha melindungi diri mereka dengan membuat benteng perisai tembus pandang yang berlapis-lapis. Melihat keadaannya sudah seperti itu, maka seorang yang bernama Husiwa berusaha menenangkan pasukannya, karena banyak dari mereka yang mulai putus asa. Husiwa pun berkata; “Tetaplah kalian semua tenang dan berserah dirilah kepada-NYA. Jangan pernah menyerah. Niscaya akan ada pertolongan-NYA nanti”. Selanjutnya ia maju untuk menghadapi ke lima senopati tersebut.

Husiwa lalu membagi dirinya menjadi lima sosok untuk menghadapi setiap orang dari kelima musuh tersebut. Mereka berperang di suatu tempat tersendiri yang maha luas. Sangat sengit dan berlangsung selama berhari-hari (sesuai ukuran waktu di Mulsyar). Semua kemampuan lalu dikerahkan untuk mengalahkan lawan, namun musuhnya itu bukanlah orang biasa. Mereka teramat sakti mandraguna dan selalu bisa mengimbangi setiap kesaktian yang dikeluarkan oleh Husiwa. Bahkan lambat laun Husiwa sendiri mulai kewalahan dan terlihat akan kalah. Itu terjadi karena ia harus menghadapi lima sosok sekaligus. Hingga pada akhirnya ia memang kalah, bahkan harus mundur dan kembali ke dalam barisan pasukan Syanur – yang kala itu sudah berkumpul di angkasa raya dalam satu kelompok barisan.

Selanjutnya, pemimpin tertinggi dari pasukan kegelapan, yaitu Hazniraka, mengutus seorang panglima yang bentuk tubuhnya seperti bangsa Peri yang gagah rupawan tapi sangat bercahaya, berukuran normal dan sangat sakti mandraguna. Meskipun kekuatan dari Sayeta, Diruni, Misila, Higari, Tarusu dan Husiwa sudah digabungkan, tetap saja sosok tersebut tak bisa dikalahkan. Melihat keadaan sudah seperti itu, pasukan kegelapan semakin berada di atas angin. Mereka merasa sudah menang. Karena itulah pemimpin tertingginya, Hazniraka, ingin segera menyudahi pertempuran dahsyat itu dengan menurunkan sesosok raksasa yang sangat besar dan membawa palu godam di tangannya.

Sosok raksasa itu lalu memukulkan palunya tepat di atas perisai energi pelindung yang dimiliki oleh pasukan Syanur. Sangat kuat hantamannya, hingga membuat beberapa lapisannya hancur. Melihat itu, dengan kesaktian yang tersisa pasukan Syanur berusaha untuk segera mengembalikan perisai itu dan melapisinya lagi berlapis-lapis. Ini terjadi berulang kali hingga pada akhirnya muncullah pemimpin tertinggi pasukan kegelapan itu; yang bernama Hazniraka. Sosoknya tidaklah sangar atau menyeramkan, karena bahkan sebenarnya lebih mirip anak remaja yang tubuhnya bersinar dan sangat mempesona. Dia lalu berdiri di atas perisai yang dibuat oleh pasukan Syanur itu. Dan karena kesaktian yang dimilikinya sungguh luar biasa, ia bisa langsung masuk ke dalam perisai buatan pasukan Syanur itu dengan sangat mudahnya. Ia bahkan berdiri tepat di tengah-tengah pasukan Syanur yang pada saat itu sudah sangat terpojok karena banyak yang gugur dan terluka parah.

Setelah berada di tengah-tengah pasukan Syanur, Hazniraka tidak langsung menyerang atau menghancurkan pasukan itu. Ia hanya berkata: “Apa yang kalian mau? Apakah kesaktian? Aku bisa memberikan apa saja yang kalian mau. Lihatlah! (sambil menunjukkan kemampuannya) bahwa aku bisa menghidupkan mereka yang sudah mati atau mematikan yang masih hidup atau menciptakan dan menghancurkan apapun yang ku inginkan. Apakah kalian juga mau? Jika mau, bergabunglah denganku, karena kalian pun takkan bisa mengalahkanku”

Mendengar itu, Higari lalu maju sambil berkata: “Kami ini pasukan Syanur, yang berjuang demi tegaknya kebenaran. Kami tidak akan pernah mau bergabung denganmu. Sesulit apapun itu, kami akan terus berjuang sampai mati”

Mendengar jawaban itu, Hazniraka lalu marah dan matanya memerah. Dia tidak langsung menyerang tapi justru berkata; “Aku tidak akan membunuh kalian, tapi aku akan menyiksa kalian”. Setelah itu, dengan kesaktiannya ia langsung menghancurkan semua perisai yang dibuat oleh pasukan Syanur itu. Serdadunya pun segera menyerang tanpa ampun.

Lalu terjadilah pertempuran yang sangat mengerikan, sementara Hazniraka hanya berdiri diam menyaksikannya dari atas. Banyak dari pasukan Syanur yang gugur. Tapi itu tidak membuat yang lainnya mundur atau patah semangat, karena sebaliknya justru semua pasukan Syanur itu semakin bertekad untuk terus berjuang hingga titik darah penghabisan. Dan perang pun terus berlanjut, semua pasukan musuh sekaligus menyerang tanpa henti, yang menyebabkan kian banyak dari pasukan Syanur yang berguguran.

Perang sengit terus berlanjut. Pasukan Syanur kian terpojok dan terlihat hampir kalah. Namun begitu, mereka tetap saja berusaha dan bertahan sekuatnya. Bahkan ada satu moment yang sangat mengharukan saat itu, dimana setiap orang berusaha untuk mempertahankan bendara putih yang bertuliskan kalimat tauhid dan menjadi simbol keagungan Tuhan agar bisa terus berkibar. Jika ada yang gugur, maka yang lainnya akan berusaha memegang bendera itu agar tidak sampai jatuh. Itu terus berlangsung cukup lama, bahkan hingga di hari ke 51 pertempuran.

Lalu, dikarenakan keadaan sudah sedemikian parahnya dan sangat mengharukan, maka tibalah waktunya bagi penyelesaian. Saat itu, di tengah-tengah serunya pertempuran final itu, secara tiba-tiba perang justru dihentikan. Awalnya terdengarlah suara yang menggelegar yang berkata: “Semuanya berhenti!!“, dan tiba-tiba entah mengapa semuanya pun segera berhenti (di pihak yang baik atau pun jahat), bahkan waktu pun ikut terhenti. Lalu terdengar lagi seorang berkata: “Kalian, apa yang kalian lakukan? Perang yang kalian lakukan ini tidak ada artinya, sia-sia belaka. Karena itu, semua dari kalian akan hilang kemampuannya. Daya kehidupan kalian pun aku ambil”

Setelah kata-kata itu selesai diucapkan, seketika itu juga semua kesaktian dan daya kehidupan dari semua yang terlibat dalam pertempuran besar itu – yang baik atau pun jahat – hilang dalam sekejap. Pasukan Syanur langsung duduk bersila dalam keadaan lemah, sementara pasukan musuh terkapar dan tak bisa bergerak sama sekali, seperti orang yang lumpuh. Tubuh mereka pun menyusut dan jadi sangat kurus. Termasuklah Hazniraka, sosok yang paling sakti tersebut.

Singkat cerita, setelah semua yang terlibat dalam pertempuran itu menjadi sangat lemah dan tak berdaya, tiba-tiba muncul sesosok pemuda yang sangat rupawan. Senyumannya begitu manis dan menyejukkan hati. Ia lalu berdiri mengambang di tengah-tengah medan pertempuran dan berkata: “Sekarang, siapakah yang paling sakti? Mana kebanggaan diri kalian atas setiap kekuatan yang kalian miliki selama ini? Kalian itu hanyalah makhluk yang sangat lemah dan tak berdaya. Lantas mengapa berbuat kerusakan yang tak perlu seperti ini? Sungguh memalukan!”

Begitulah Sang Pemuda “menampar” semua yang ada saat itu. Lalu tanpa menunggu jawaban, ia pun segera memanggil guru dari si Hazniraka itu dan “menceramahinya”. Karena dipanggil oleh sosok yang begitu tinggi derajatnya, maka segeralah ia datang. Sang guru bernama Zalburaka, dan ternyata dia adalah seorang yang bijak dan bukan dari golongan kegelapan. Oleh sebab itulah ia langsung marah saat mengetahui bahwa muridnya itu sudah melakukan kejahatan berat. Ia pun segera meminta maaf kepada Sang Pemuda atas kesalahannya karena sampai tidak mengetahui jika muridnya itu sudah berbuat sangat keji. Dengan sikap diri yang mencakupkan kedua tangannya di depan dada dan menundukkan kepalanya, sang guru memohon ampunan. Terlihat bahwa ia sangat menghormati Sang Pemuda misterius itu. Seperti seorang prajurit kepada rajanya.

Ampunan pun diberikan karena Sang Pemuda adalah sosok yang bijaksana dan pemaaf. Tapi karena sudah berlaku sombong dan merugikan banyak pihak, Hazniraka harus mendapatkan hukuman yang setimpal. Sebab tak bisa mati, ia lalu di kurung di sebuah Dimensi khusus yang sengaja diciptakan oleh Sang Pemuda untuknya. Disana, Hazniraka diperintahkan untuk merenungi tentang semua kesalahannya dan hakekat dari kehidupan ini. Siapakah dirinya dan siapakah pula Tuhannya yang sejati itu? Lalu untuk tujuan apa sebenarnya ia hidup di dunia ini? Jika ia bisa menyadari kekeliruannya serta membersihkan hatinya lagi, kurungan itu akan terbuka sendiri dan ia bisa kembali hidup bebas. Tak ada kekuatan yang bisa menolongnya, kecuali kesadaran dirinya sendiri.

Selanjutnya, terjadilah pengadilan bagi mereka yang telah menyerang Alam Semesta Masytari. Semuanya diperintahkan untuk memilih di antara dua pilihan, yaitu kembali ke jalan yang benar dengan jaminan keselamatan atau tetap bersikukuh di jalan kesesatan dengan balasan siksa yang perih.

Mendengar pilihan itu, sebagian ada yang ingin kembali ke jalan yang benar, bahkan meminta segera dibebaskan dari pengaruh jahat kegelapan saat itu. Tapi sebagiannya lagi tetap bersikukuh dengan ego dan kesombongannya sendiri, bahkan tidak sedikit yang berusaha merayu mereka yang telah sadar itu untuk kembali lagi ke jalan yang sesat. Karena itulah, mereka lalu di hukum dengan cara tubuhnya perlahan-lahan hancur luluh tapi tidak menyebabkan mereka mati. Itu sangat menyiksa dan menyakitkan lahir batin mereka, karena terus saja terjadi dengan tanpa ada batasan waktu. Siapapun yang berusaha menolong akan mengalami nasib yang serupa. Dan mereka di kurung dalam sebuah Dimensi khusus di suatu tempat, sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Sedangkan bagi mereka yang bertobat, maka semuanya diperintahkan untuk masuk ke dalam sebuah Dimensi khusus yang lain yang diciptakan oleh Sang Pemuda. Disana mereka harus mengintrospeksi diri dan berusaha untuk terus memperbaiki dirinya. Jika kesadaran dirinya sudah bangkit dan mereka bisa menjernihkan hatinya, mereka akan bebas dengan sendirinya.

Lalu, setelah mengadili para penyerang Alam Semesta Masytari dan keadaan sudah kembali normal, Sang Pemuda mengubah dirinya menjadi cahaya yang sangat terang benderang. Semakin lama semakin menyilaukan mata siapapun. Sampai pada akhirnya tiba-tiba cahaya itu menghilang. Namun sebelum menghilang ia pun berkata: “Tetaplah kalian tunduk dan bersyukur hanya kepada-NYA. Jangan lari dari sikap yang berserah diri. Berusahalah untuk selalu rendah hati. Dan waspadalah, bahwa hidupmu itu adalah ujian besar. Niscaya kalian semua akan beruntung

Demikianlah perang maha dahsyat itu berlangsung selama 51 hari (sesuai ukuran waktu di Mulsyar), dengan dua kali masa pertempurannya (40 hari dan 11 hari). Dan akhirnya kemenangan pun berada dipihak pasukan koalisi yang dipimpin oleh ketiga bangsa (Naye, Sinu dan Vali). Peristiwa ini terjadi sebelum Manusia di turunkan ke Bumi. Saat itu Ayahanda Adam AS dan Ibunda Hawa AS sudah ada tetapi masih hidup di Syurga.

6. Akhir kisah
Setelah pertempuran dahsyat itu berakhir, siapapun yang tergabung dalam pasukan Syanur, segera dikembalikan kesaktian dan daya hidupnya. Atas izin Tuhan, khususnya bagi mereka yang gugur lalu dihidupkan kembali oleh Sang Pemuda. Begitu pula yang rusak atau hancur di Alam Semesta Masytari itu segera di kembalikan seperti semula. Dan semuanya pun kembali normal seperti sedia kala. Sungguh itu semua hanya atas kehendak-NYA saja, yang bertujuan untuk menguji keimanan mereka.

Lalu, atas peristiwa yang memilukan itu semua orang harus mengintrospeksi diri lebih banyak dan meningkatkan level kehidupannya. Salah satu caranya dengan kembali belajar tentang hakekat terdalam dari kesaktian diri dengan banyak merenung, menambah ilmu pengetahuan dan menempa diri tanpa batasan waktu. Siapapun mereka harus tetap banyak bertanya, berdiskusi dan berlatih tentang berbagai keahlian. Tak lupa pula untuk semakin banyak bersyukur, rendah hati dan berserah diri kepada-NYA. Tujuan utama dari latihan ini adalah untuk lebih mengenal diri sendiri dan siapakah Tuhan yang sejati itu. Pun demi menghadapi pertempuran selanjutnya yang akan terjadi lagi. Semua orang harus meningkatan kemampuan dirinya sendiri (lahir dan batin), karena pertempuran berikutnya akan lebih dahsyat dan mengerikan dari sebelumnya.

Selain itu, di antara sosok yang terbaik dari bangsa Naye, Sinu dan Vali ada yang terpilih untuk berguru langsung kepada Sang Pemuda misterius. Mereka itu seperti Sayeta, Diruni, Misila, Higari, Tarusu dan Husiwa. Semuanya dibimbing dalam kurun waktu tertentu untuk bisa menguasai bermacam keahlian khusus. Tujuan utamanya adalah untuk bisa menghadapi pertempuran berikutnya, yang lebih dahsyat lagi. Sungguh beruntungnya mereka.

Catatan: Perang itu adalah kodrat yang telah ditetapkan dalam kehidupan makhluk. Akan tetap ada, dimanapun juga, sampai Hari Kiamat nanti. Salah satu tujuannya adalah untuk bisa membedakan/memisahkan mana yang haq dan mana yang bathil. Juga untuk membuktikan sifat kesatria dalam diri seseorang.

Kemudian, sejak pertempuran maha dahsyat itu berakhir, kehidupan di Alam Semesta Masytari, khususnya yang ada di Mulsyar terus berlanjut dalam keharmonisan. Banyak pelajaran yang bisa dipetik oleh semua makhluk yang ada disana. Karena itu pula mereka menjadi hamba Tuhan yang lebih baik dari sebelumnya. Sikap tunduk dan patuh kepada hukum dan aturan dari Hyang Aruta (Tuhan YME) semakin meningkat. Begitu pula dengan sifat rendah hati, rasa syukur dan berserah diri kepada-NYA kian sempurna. Hati mereka terus bercahaya tanpa noda. Dan ini sampai disebarluaskan juga ke Bumi, ketika Manusia sudah mendiaminya. Bahkan mungkin akan terjadi lagi, dimana ada dari mereka itu yang turut hadir ke Alam Semesta kita ini untuk ikut membantu dalam menghadapi ujian besar. Mengingat pertempuran yang pernah disampaikan oleh Rosulullah Muhammad ﷺ ; yaitu al-Malhamah al-Kubro (perang maha dahsyat) akan terjadi di akhir zaman ini (Rupanta-Ra), di Alam Semesta kita. Semoga saja begitu.

***

Dari Mu’adz bin Jabal RA berkata, Rosulullah ﷺ bersabda; “Makmurnya Baitul Maqdis adalah tanda kehancuran kota Yastrib (Madinah), dan hancurnya kota Yastrib (Madinah) merupakan tanda terjadinya Al-Malhamah al-Kubro (perang maha dahsyat), terjadinya Al-Malhamah al-Kubro merupakan tanda dari penaklukkan Konstantinopel, dan penaklukan Konstantinopel merupakan tanda kemunculan dajjal.” Rosulullah ﷺ kemudian menepukkan tangannya ke paha atau pundak orang yang beliau ceritakan, lalu beliau bersabda; “Sesungguhnya ini adalah benar, seperti benarnya engkau sedang berada disini atau seperti benarnya engkau duduk disini,” maksudnya kepada Mu’adz bin Jabal. (HR. Abu Dawud (4294), Ahmad (5/232, 245), Abu Ya’la Al-Mushili, Musnad (6417) disahihkan oleh Al-Albani (4096)).

***

Sehingga persiapkanlah diri kita dan keluarga kita secara lahir batin, sebelum peristiwa yang mengerikan itu terjadi. Jangan mengabaikan hal ini! Janganlah sekali-kali, demi kebaikanmu sendiri. Dan tetaplah bersikap eling lan waspodo, karena pertempuran yang akan datang itu mampu mengguncangkan seluruh Alam Semesta kita. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh sebuah ayat yang terdapat di dalam kitab suci Injil (yang asli) berikut ini:

“Akan terjadi perang yang luar biasa dahsyatnya, yang menyebabkan Alam Semesta berguncang hebat” (Surat Kayunaz (Kehidupan Sosial) ayat 54)

7. Penutup
Wahai saudaraku. Jangan pernah mengerdilkan hakekat dari Tuhanmu. Apa yang kau ketahui selama ini, mungkin hanya sebutiran debu dari 0,001% bentuk kekuasaan-NYA. Sementara jika seandainya engkau merasa sudah 100% mengetahui bentuk dari semua kekuasaan-NYA, maka itu pun masih 0,00000001% dari kekuasaan-NYA yang sebenarnya (bahkan hal ini tak bisa dihitung-hitung oleh makhluk seperti kita). Ada banyak Alam Semesta di luar sana, ada banyak Dimensi dan jenis kehidupan yang lain di luar sana, yang semuanya beraneka ragam dan bertingkat-tingkat levelnya.

Pun, ada banyak pula kekuatan supranatural adidaya yang sangat eksis di luar sana yang tidak pernah kau kenali. Yang semuanya itu bahkan berada di luar batas kemampuan akalmu untuk menerimanya. Dan karena sesungguhnya ilmu itu sifatnya tak terbatas, maka janganlah kita berbangga diri dengan apa yang sudah kita pahami selama ini. Masih begitu banyak hal yang belum kita ketahui, bahkan tak terlintas dalam benak dan khayalan kita. Kita ini masih terlalu bodoh dan hina, tapi sering merasa sudah paling hebat dan mulia. Sungguh memalukan.

“Ketidaktahuan adalah tingkat (derajat) keilmuan yang paling tinggi bagi yang berilmu.
Kegilaan merupakan sikap yang paling baik (mulia) untuk di lakukan oleh mereka yang telah mampu”

Untuk itu, tetaplah rendah hati (tawadhuk) dan senantiasa berserah diri (tawakal) hanya kepada-NYA saja. Teruslah bersyukur (syakur), sebab kita ini bukanlah siapa-siapa kecuali makhluk yang sangat lemah dan hina. Tak ada kekuatan selain yang berasal dari-NYA, tak ada kehidupan melainkan hanya atas kehendak-NYA saja. DIA-lah Sang Maha Pencipta dan Berkuasa atas segalanya. Bahkan tak ada yang perlu DIA ciptakan atau kuasai. Karena DIA itu adalah Sang Hyang Aruta (Tuhan Yang Maha Esa).

Jambi, 05 Februari 2018
Harunata-Ra

Catatan akhir:
1. Silahkan untuk percaya atau tidak percaya dengan kisah ini. Itu adalah hak Anda sekalian. Tugas kami disini hanya sebatas menyampaikan dan mengingatkan saja. Tak ada tendensi apapun disini, kecuali demi kebaikan kita bersama.
2. Ada banyak hal yang tak bisa kami sampaikan disini, ada kesulitannya pula jika harus menggunakan bahasa verbal (lisan dan tulisan), terlebih ada protap yang membatasi. MAAF.

Bonus Instrumental :

18 respons untuk ‘Mulsyar : Dunia Para Naye, Sinu dan Vali

    Guntur Satria Putra said:
    Oktober 30, 2019 pukul 6:52 am

    seperti Asgard difilm Thor Marvel ya mas ,,entah Alm Stainley dapat ilham menulis itu dari mana

      Harunata-Ra responded:
      Oktober 30, 2019 pukul 7:40 am

      Mirip tapi berbeda jauh..

      Oh kalo itu dia dapatkan dari legenda dan mitologi Nordik sih mas.. Stainley cuma ngembangin ceritanya aja..

        Guntur Satria Putra said:
        Oktober 30, 2019 pukul 9:01 am

        terima kasih mas

        Harunata-Ra responded:
        Oktober 30, 2019 pukul 10:16 am

        Iya sama2lah mas.. 😊

        Zahra said:
        Oktober 31, 2019 pukul 10:46 am

        Salam kang.. saya selalu mampir baca tulisan2 njenengan. Belum pernah komen.. dari sekian banyak kisah, baru ini yg bikin saya mbrabak kang.. apalagi waktu baca wejangan yg soal manusia lalu perang2nya hingga usai.. ntah ini mbrabak kenapa, pdhl sepertinya banyak juga kisah2 peperangan kala itu…
        terimakasih sudah menyampaikan kisah ini kang..

        Saya ingin menyampaikan wejangan itu untuk teman2 di IG saya.. boleh kah kang?

        Harunata-Ra responded:
        Oktober 31, 2019 pukul 11:27 am

        Terima kasih juga ya mbak Zahra karena udah sering berkunjung.. Gak apa kalo gak komentar.. Tapi sebaiknya iya (sedikit maksa) hehe.. 😁

        Waah mbabrak knapa tuh mbak? Kok ampe segitunya? Jujur kisah ini udah lama ditulis, th 2018 silam, tapi lantaran protap makanya br skr bisa di upload nya.. Emg semuanya itu hrs sesuai waktunya, lebih mengena.. 😊

        Oh kalo mau share di IG silahkan aja mbak.. Moga bermanfaat.. 🙏😊

        ARYa said:
        Oktober 31, 2019 pukul 10:53 pm

        Sang Pemuda itu yang bakal memimpin peradaban manusia sesuai dengan PetunjukNya kelak.

    nolsenx said:
    Oktober 30, 2019 pukul 8:44 am

    anda menyebut tentang kiamat, apakah itu sebuah keharusan pasti terjadi? tidakkah alam semesta sudah dirancang abadi? semua hirungan berdasar abad, 100 tahun. dan abadi.

    mohon tanggapan.

      Harunata-Ra responded:
      Oktober 30, 2019 pukul 10:15 am

      Menurut apa yg saya ketahui, pahami, dan yakini maka Kiamat itu pastilah terjadi, cepat atau lambat.. Itu sudah ditetapkan jauh sebelum penciptaan Waktu dan apa yg ada didalamnya.. Dan Kiamat itu bukanlah akhir dari segalanya, karena ada kehidupan lain yg harus dijalani setelah itu.. Nah disini lah keabadian yg sesungguhnya terjadi..

        nolsenx said:
        Oktober 30, 2019 pukul 9:41 pm

        ok, terimakasih atas penjelasannya. jika sudah menjadi keyakinan saya tidak bisa berbuat apa-apa, karena saya juga punya keyakinan yang berbeda tentang kiamat. semoga bisa menjadi pertimbangan :
        https://web.facebook.com/surgadibumi

        Harunata-Ra responded:
        Oktober 31, 2019 pukul 2:55 am

        Iya, setiap orang berhak utk punya persepsi dan keyakinannya sendiri.. Semuanya tentu berdasarkan dg pengetahuan dan pemahaman yg ia miliki.. Siapapun wajib menghargainya, jg memaksa..

    Guntur Satria Putra said:
    Oktober 30, 2019 pukul 9:24 am

    kalo berkenan minta penjelasan tentang 4 alam menurut mas oedi..
    Alam Nasut,Alam Malakut,Alam Jabatur,dan Alam Lahut… terima kasih

      Harunata-Ra responded:
      Oktober 30, 2019 pukul 10:19 am

      Hmm ttg itu saya kurang paham mas Guntur, jadi maaf gak bisa jelasin.. 🙏 😊

      nolsenx said:
      Oktober 30, 2019 pukul 9:33 pm

      berdasar ilmu ghaib yang saya pelajari, tetapi tidak tahu namanya, sebut saja: alam jin, setan dan malaikat, adalah 1 alam, setan dan malaikat adalah energi positip dan energi negatip, berada diantara alam jin, yang berupa makhluk, alam ke 2 alam orang mati sempurna, menunggu kebangkitan kembali entah dengan jalan inkarnasi atau reinkarnasi, alam ke 3, alam orang mati tidak sempurna, yaitu akibat kecelakaan, bunuh diri, atau korban pembunuhan, alam ke 4 alam ghaib paling dalam adalah alam sinyuluri atau alam tuhan, alam ghaib dan alam nyata adalah hanya beda dimensi waktu dan ruang, tetapi satu tempat. dianalogikan sebagai sebuah kubus alam ghaib berlapis-lapis ke kedalaman. dan titik tengah kubus adalah alam sinyuluri. alam sinyuluri sering bisa disebut juga sebagai “langit” berlapis-lapis hingga 7 lapis langit. jadi langit bukan naik ke atas ke luar angkasa tetapi ke kedalaman dimensi ruang dan waktu. semuanya ada di muka bumi di sekitar kita hidup sehari-hari. https://web.facebook.com/hakikikebenaran

        Guntur Satria Putra said:
        November 1, 2019 pukul 2:55 am

        itu masuk alam jabarut kalo tidak salah

    Yoga Setya said:
    November 5, 2019 pukul 2:20 am

    Sungguh luar biasa sekaligus mengerikan peperangan yang terjadi di alam masytari itu ya mas. Jd gbs bayangin gmna nasib sy yang awam dan g tau apa2 ini jika perang akhir zaman ini terjadi. Jika perang adalah sebuah kodrat maka laku kehidupan mengejar dunia yg dijalankan banyak orang dijaman ini sudah salah ya mas, lupa untuk menggembleng diri baik lahir maupun batin

    Delphi said:
    November 19, 2019 pukul 4:02 am

    Apabila bangsa ini ditetapkan suci sehingga media hidup nya suci pula, mengapa di kediaman atau pun kerajaan mereka, membutuhkan tempat untuk membersihkan diri, kamar mandi misalkan seperti yang mas oedi katakan, apakah kamar mandi disana berbeda dalam fungsi seperti yang kita pahami saat ini..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s