Menuju Keikhlasan (1)

Posted on

Sesungguhnya tidaklah sampai seseorang itu bila ia tidak pernah mengetahui tentang cara dalam menjalani keikhlasan. Terlebih tentang jalan keikhlasannya, maka siapapun harus tahu terlebih dulu apa dan bagaimana keadaan jalannya. Barulah setelah itu ia akan bisa melintasi jalan-jalan keikhlasan hingga bisa menuju pada keikhlasan dalam arti yang sebenarnya.

Banyak yang ingin menuju keikhlasan dalam hidupnya, tetapi sayang ia lupa bahwa dirinya harus mengetahui dulu tentang bagaimana caranya untuk bisa menjalani keikhlasan itu. Ibarat ingin membangun sebuah rumah yang megah, maka perlu dirancang sesuai dengan kaidah yang benar dalam bidang arsitektur dan pertukangannya. Karena tujuan tidak akan pernah tercapai bila cara dan jalannya tidak diketahui. Begitulah kodrat yang telah ditetapkan oleh Sang Penguasa Jagat di dalam setiap bentuk kehidupan dunia ini.

Disinilah letak pentingnya dalam menuntut ilmu pengetahuan, baik dengan cara belajar kepada seorang guru atau dengan cara belajar sendiri. Karena tanpa adanya kemauan yang kuat untuk giat belajar atau menimba ilmu, seseorang hanya akan merugikan dirinya sendiri, bahkan bisa juga menyusahkan orang lain. Hidupnya tidak akan layak dan sesuai dengan tujuan dari kehidupan ini. Sehingga tiada pilihan lain kecuali mau banyak belajar agar semakin banyak tahu dan memahami. Atau setidaknya bisa menyadari mana yang boleh dan mana yang tidak boleh di dalam hidup ini. Dengan begitu, maka ia akan hidup selamat dan bahagia.

Wahai saudaraku. Tiada ruginya bila engkau mau menuntut ilmu dan pengetahuan – apapun itu yang penting bersifat positif – dalam hidupmu yang singkat itu. Karena memang itu pula yang menjadi jalan satu-satunya untuk bisa menuju pada keikhlasan dengan benar. Tanpa hal itu engkau ibarat burung yang ingin terbang namun tanpa sayap. Atau seorang petualang yang ingin mendaki gunung namun tanpa adanya peralatan dan logistik yang cukup. Dengan begitu, maka apa saja yang kau lakukan hanya akan berujung pada kegagalan, bahkan bisa mendatangkan banyak musibah dan penderitaan saja.

Untuk itu, agar seseorang bisa sampai pada keikhlasan dengan benar, maka ia harus mengetahui dulu tentang bagaimana caranya dalam menuju pada keikhlasan yang sejati. Dan semua itu hanya bisa terwujud dengan banyak belajar, baik kepada seorang guru atau secara mandiri – tentunya dengan banyak membaca dan berpetualang. Tanpa hal itu, bisa dipastikan seseorang tidak akan pernah berhasil. Keikhlasan tidak mungkin ia dapatkan, bahkan mengerti pun tidak. Karena salah satu bentuk dalam memahami apa itu keikhlasan adalah dengan mencari berbagai maknanya melalui belajar terlebih dulu.

Selanjutnya, ketika seseorang sudah mengetahui apa itu definisi dari keikhlasan, maka ia harus senang dan tekun dalam menunaikan apa yang telah ia ketahui itu. Itu pun harus di lakukan dengan cara terus menerus (istiqomah), karena setinggi apapun pemahaman yang sudah dimiliki, jika tanpa adanya pengamalan yang nyata, maka tidak akan ada artinya. Semuanya akan jadi sia-sia dan berakhir pada penyesalan dan penderitaan. Sebab pemahaman tanpa pengamalan itu artinya tidak tahu yang sebenarnya.

Ya. Jadilah orang yang senang melakukan apa saja yang sudah diketahui kebenarannya. Jangan pernah mengabaikan sikap ini, karena tidak ada seorang pun dari kita yang mengetahui kapan akan mati. Kita tentu tidak akan hidup selamanya di dunia yang fana ini. Siapapun dari kita akan menjumpai kematian, cepat atau lambat. Sehingga menjadi hal yang wajib untuk selalu mempersiapkan diri sebaik mungkin. Salah satunya dengan semangat dalam menerapkan kebenaran pada setiap perbuatan. Dengan begitu, maka akan terbukalah lebar keikhlasan di dalam hati. Sedangkan keikhlasan hati akan membuka jalan yang lurus kepada Tuhan Yang Maha Suci.

Sungguh, keikhlasan itu bukanlah hal yang sepele dan biasa-biasa saja. Keikhlasan itu adalah jalur utama agar bisa menemukan jalan yang lurus untuk kembali kepada-NYA. DIA Yang Maha Esa adalah Yang Maha Agung dan tak akan ada perbandingannya. Karena itu, jika di dalam hati seseorang tetap memiliki rasa pamrih (riya’), maka ia masih belum bisa menyadari tentang ke-Agungan dan ke-Esaan-NYA. Ia tetap saja bodoh dan melakukan sesuatu yang bukan untuk Tuhannya, tetapi justru untuk yang selain-NYA saja. Ia mengabdi bukan kepada Tuhan Yang Mulia, tetapi kepada makhluk yang hina.

***

Dari Mahmud bin Labid, Rosulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya yang paling ku khawatirkan akan menimpa kalian adalah syirik ashgor.” Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik ashgor, wahai Rosulullah?” Beliau bersabda: “(Syirik ashgor adalah) riya’. Allah Ta’ala berkata pada mereka yang berbuat riya’ pada Hari Kiamat ketika manusia mendapat balasan atas amalan mereka: “Pergilah kalian pada orang yang kalian tujukan perbuatan riya’ di dunia. Lalu lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka?” (HR. Ahmad no.27742)

***

Lantas bagaimana ia akan bisa kembali kepada-NYA jika ia sendiri masih berlaku syirik atau menjadi kafir? Padahal untuk bisa kembali kepada-NYA adalah harus tidak ada kemusyrikan di dalam hati dan perbuatan yang ingkar (kafir). Yang semua itu bisa terwujud pada saat seseorang sudah benar-benar ikhlas dalam setiap perbuatan dan keadaan hatinya.

Jambi, 27 Oktober 2019
Harunata-Ra

[Cuplikan dari buku “Ikhlas”, karya: Harunata-Ra, th 2014]

Bonus instrumental :

5 respons untuk ‘Menuju Keikhlasan (1)

    awandoku said:
    Oktober 27, 2019 pukul 9:01 am

    brunuhville memang juara mas Oedi
    yang celtic mantep, karya-karyanya joss

      Harunata-Ra responded:
      Oktober 27, 2019 pukul 10:22 am

      Waah ternyata suka juga toh.. Iya mas Awandoku emg keren2 aransemennya.. 😊👍

    Guntur Satria Putra said:
    Oktober 28, 2019 pukul 3:30 am

    mantap terima kasih

      Harunata-Ra responded:
      Oktober 28, 2019 pukul 7:43 am

      Iya sama2lah mas.. Moga ttp bermanfaat.. 😊🙏

    Abhiseka Ceraka Nusantara said:
    November 7, 2019 pukul 2:25 pm

    Reblogged this on ABHISEKA CARAKA NUSANTARA.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s