Dharma Kesatria dan Hakekat Perang Besar

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Ketika orang-orang telah mengetahui apa yang menjadi harapan dan kebutuhannya, maka revolusi akan tiba. Siapapun pasti menghadapi pilihan untuk menjadi budak atau bangkit sebagai pribadi yang merdeka. Beruntunglah bagi yang berhasil merdeka, dan rugilah untuk yang tetap sebagai budak – sadar atau tidak disadarinya, sebab ia telah mati walaupun dalam keadaan hidup.

Dan kita memiliki kesempatan bergabung untuk hidup sebagai para kesatria. Sebaliknya, silahkan saja pilih untuk tidak ikut bergabung, alias tetap menjadi budak. Hanya saja itu berarti melawan kaum revolusioner dan menginginkan perang terbuka. Dan memang tak sedikit orang yang hidup saat ini hanya demi mereka (para elit) yang sebenarnya sangat membencinya. Disisi lain mereka itu (para elit) juga takut dan tak ingin banyak orang yang hidup baik dan mengenali diri sejatinya. Mereka (para elit) adalah para penjahat yang hidup di atas tipu daya dan memanfaatkan orang lain. Merekalah para pengabdi kegelapan – meskipun tidak semuanya.

Adapun berikut ini adalah kisah yang bisa dijadikan sebagai pelajaran hidup untuk sekarang dan masa yang akan datang. Silahkan direnungkan :

Naktah 52
Kurthah Arungga
(Kesedihan Arungga)

Dimulailah kisah yang ke 52, yaitu tentang sebuah perang besar yang kembali dituturkan oleh sang Begawan agung. Dalam sebuah Gita-nya, sang guru pun bercerita:

1. Di dataran nan sangat luas itu, tanah yang menjadi saksi lahirnya peradaban, tanah para kesatria Hastranilah, berkumpullah laskar-laskar yang saling berselisih. Mereka bersiap-siap untuk suatu yudha (pertempuran) yang menentukan. Apa saja yang mereka lakukan itu, semuanya berada di atas kebenaran atau pun kebatilan.

2. Di lembah Yasaturah itu, laskar Wadiniyah telah siap untuk berperang. Mereka semua dipimpin oleh murid dari para Begawan yang bijaksana, yaitu putera Prabu Jasikata yang bernama Arungga. Sedangkan di kubu laskar Hamburas, mereka dipimpin oleh panglima yang hebat perkasa bernama Harjuyan, putera dari Prabu Mukatsura.

3. Tak terhitung jumlah laskar yang dipimpin oleh Arungga, sedangkan di pihak Harjuyan jumlahnya lebih banyak lagi. Mereka berasal dari segala penjuru dunia.

4. Dan telah diatur sedemikian rupa agar setiap pasukan dan pimpinan divisi berada pada posisinya masing-masing, untuk menjaga agar barisan pasukan tetap kompak, tidak terpecah belah.

5. Disana pula, dari segala penjuru, genderang dan sangkakala lalu dibunyikan oleh semua pihak. Dan hiruk-pikuklah kondisi pada waktu itu karena telah dipenuhi oleh suara-suara riuh ini. Suasana pun semakin menegangkan.

6. Sungguh, bila kau menyaksikan peristiwa itu, kau akan melihat para pembesar sedang berdiri di kereta perang nan agung, dengan pasangan-pasangan tabara[46] yang menariknya. Dan kau juga akan melihat Arungga dan juga Harjuyan sedang meniupkan sangkakala mereka.

[46] Tabara adalah hewan yang bentuknya adalah campuran antara kuda, rusa dan domba. Jadi pada bagian kaki, ekor, badan, dan lehernya mirip kuda, lalu pada bagian kepalanya seperti rusa, sedangkan tanduknya mirip tanduk domba. Warna kulitnya dominan coklat muda, meskipun ada juga yang putih, kebiruan dan abu-abu. Hewan ini berkaki enam, bisa bergerak cepat dan sangat lincah.

7. Di situlah para kesatria agung berkumpul. Mulai dari Pairada, Amutra, Marukati, dan yang tak kalah kehebatannya yaitu Kasurah, Lamuwatha dan Kantiro.

8. Juga Nubagha, Sunggala, dan raja besar dari Sarukal, Dusiyalah, dan Alwatuna. Semuanya pendekar-pendekar nan sakti mandraguna. Pun yang gagah berani seperti Rosara, Ziramul, dan Kasunasi.

9. Dan ketahuilah juga bahwa ada banyak lagi kesatria lainnya yang bersedia mengorbankan jiwa raganya (demi sesuatu yang ia yakini). Mereka itu bersenjatakan berbagai pusaka yang sakti, dan kesemuanya ahli dalam bertarung yang luar biasa.

10. Tak lama kemudian ketika perang akan dimulai, Arungga memegang busur panahnya dan berkata pada kusirnya: “Telah ku lihat mereka-mereka yang berkumpul disini, yang berhasrat untuk mendapatkan sesuatu yang berharga baginya. Lalu dengan siapa aku harus bertarung? Dengan mereka atau justru dengan diriku sendiri?

11. Setelah Arungga selesai dengan kata-katanya, sang kusir yang bernama Suras itu tak berkomentar membalas. Ia hanya mengarahkan kereta perangnya, kereta yang terbaik di antara semua kereta perang yang ada, maju ke tengah-tengah di antara kedua laskar yang berbaris rapi.

12. Di tengah padang Yasaturah, di antara kedua laskar itu, kedua pimpinan pasukan harus bertemu dulu. Mereka akan membicarakan tentang berbagai aturan selama pertempuran. Kesepakatan itu bersifat mengikat.

13. Dalam perundingan itu, suatu ketika Arungga sempat mengingatkan dengan berkata: “Mengapa kita tidak memiliki kebijaksanaan untuk menghindari konflik karena perbedaan? Bukankah kita telah melihat kesalahan ini akan mengakibatkan kehancuran bagi kehidupan Manusia? Janganlah bersikap abai, karena nanti kita sendirilah yang pasti menanggung kepedihannya

14. Dibalas oleh Harjuyan dengan berkata dalam keangkuhan: “Aku bukanlah anak kemarin sore yang tak tahu apa-apa. Yang bisa kau permainan dengan kata-kata rayuan. Sudahlah, maju saja kalian semua atau lebih baik menyerah. Tunduklah hanya kepadaku sebagai rajamu yang perkasa

15. Mendengar itu Arungga pun membalas dengan berkata: “Sungguh, dengan hati yang dikuasai oleh keserakahan, maka tidak terlihatlah kesalahan yang akan mengakibatkan hancurnya kehidupan. Kalian dan pengkhianatanmu atas kedamaian itu akan meraup kesedihan yang dalam.

Dan kekacauan ini akan menjerumuskan kita semua. Tak peduli latar belakangmu. Semuanya bisa terbelenggu dalam angkara murka dan kebencian. Siapapun yang tidak berhasil keluar dari keburukan itu, akan mengalami kerugian yang teramat besar. 

Dan baiklah. Siapapun yang mencintai Yang Maha Esa dengan segala hukum-NYA itu, akan menjadi kawanku. Merekalah saudara yang sejati, tulus dan sejalan dalam keimanan. Namun siapa saja yang tidak mau, akan menjadi musuhku. Aku pasti memeranginya sampai batas waktuku nanti

16. Setelah mengatakan hal-hal tersebut, Arungga memerintahkan kusirnya untuk kembali ke dalam barisan pasukannya. Disana ia sempat terdiam seribu bahasa, dan melihat ke sekeliling orang-orang yang hadir di medan perang, di padang Yasaturah itu.

17. Berulang kali ia (Arungga) menghela napas panjang. Seluruh persendiannya terasa lemas, jiwanya pun tercekam dalam rasa sedih dan gundah-gulana. Pikirannya melayang-layang, membayangkan pertumpahan darah yang akan segera terjadi.

18. Sungguh, cinta yang sejati itu tak terbatas dalam sekat-sekat pribadi seseorang. Meskipun bala pasukan Harjuyan adalah musuh, tetap saja Arungga merasa kasihan. Banyak dari mereka yang akan mati sia-sia karena mengikuti ambisi dari raja yang tak berbudi.

19. Begitu pula dengan pasukannya sendiri. Hatinya semakin pilu mengingat akan banyak kerabat, kenalan dan kawan-kawannya yang bisa terbunuh.

20. Karena bagaimanapun kemenangan itu bisa diraih, maka untuk mendapatkannya takkan terlepas dari kesedihan.

21. Perjuangan itu sangatlah penting. Namun pengorbanan yang memilukan harus selalu terjadi.

22. Tak ada yang bisa menghindari ini, jika memang ingin benar-benar meraih tujuan.

23. Perjuangan dan pengorbanan adalah dua sisi yang beriringan dalam kehidupan Manusia. Tak bisa dipisahkan atau pun dijauhi.

Naktah 53
Kuradhiya Maratuk Abdi
(Pelajaran Diri Yang Bimbang)

Setelah usai menyampaikan ke 23 sirat (ayat) dalam naktah (bab) ke 52: Kurthah Arungga (Kesedihan Arungga), sang Begawan berhenti sejenak. Ia lalu memejamkan matanya seraya mengingat peristiwa di masa itu. Setelah merasa cukup, ia pun kembali berkata:

1. Arungga pun merasa kian sedih. Dalam keadaan gundah seperti itu, kedua matanya lalu penuh dengan airmata. Ia bahkan merasakan dirinya tanpa semangat dan harapan lagi.

2. Dengan perasaan yang lirih sang kesatria sampai berkata: “Lebih baik hidup sebagai pengemis dari pada harus membunuh orang yang bahkan tak ku kenali. Hanya sebagiannya saja yang ku tahu dan pernah berhubungan dengannya.

3. Apakah harus dengan membunuh untuk bisa mendapatkan gelar pahlawan? Mengapa dengan membunuh baru akan diakui sebagai kesatria yang gagah berani? Ah.. Siapalah yang menentukan tradisi semacam ini? Apakah dia sendiri tak pernah melihat pertumpahan darah yang mengerikan.

4. Oh Suras… Berikan nasihatmu, karena aku tengah ragu. Bimbang dengan tindakanku sendiri. Benarkah, salahkah, atau justru tak ada artinya?

5. Sungguh, kini seluruh pikiranku telah dirundung rasa iba, ragaku lemas, sementara hatiku merasa bimbang untuk melaksanakan kewajibanku ini.

6. Wahai Suras sahabatku. Aku tak tahu lagi manakah yang lebih baik saat ini? Apakah kita yang akan mengalahkan mereka atau justru mereka yang bisa mengalahkan kita?” 

7. Kata Suras dalam komentarnya: “Tak semuanya dari tindakan kita itu harus berarti sama. Kebaikan akan bisa terlihat kejahatan, begitu pula kejahatan bisa saja berujung kemuliaan. Semua tergantung pada niat dan tujuannya.

8. “Lantas apakah yang harus ku lakukan? Ajarilah aku, sesuatu yang pasti, yang manakah yang lebih baik kini? Anggaplah aku ini sebagai muridmu.” Kata Arungga yang meminta kepada kusirnya.

9. “Janganlah menjadi seorang pengecut lantaran merasa kasihan. Di medan laga, sikap itu tiada laba yang akan di petik dan tak ada pula rugi yang dapat dihindari. Singkirkanlah jauh-jauh kelemahan hatimu. Bangkitlah wahai kesatria” Jawab Suras dengan nada yang tegas.

10. “Tapi, rasa gundah ini menumpulkan panca inderaku. Walau pun seandainya aku memiliki kekuatan Malaikat, aku takkan mampu lagi melihat yang sejati. Hatiku ngeri menatap masa depan.” Kata Arungga menyanggah.

11. Suras tidak langsung menjawab. Ia masih diam saja tapi kembali membalikkan badannya, saling berhadapan dengan Arungga. Sikapnya tampak serius. Tak lama kemudian, sesuatu yang luar biasa pun terjadi. Tiba-tiba Arungga merasa sudah berada di pinggir sebuah sungai yang begitu jernih. Kondisi alam di sana pun begitu indah dan tampak unik. Belum pernah ia ke tempat seperti itu (karena memang bukan di alam dunia ini)[47].

[47] Pada saat itu Sukmanya Arungga di ajak ke suatu tempat (ke Dimensi lain) oleh Suras. Hanya dalam waktu singkat jika di alam nyata ini, cuma beberapa detik saja. Namun menjadi beberapa jam bila itu di Dimensi lain. Disanalah Suras memberikan wejangan-nya kepada Arungga yang sedang bimbang.

12. Lalu tepat dibawah sebatang pohon yang rindang mereka duduk di atas batuan ceper. Sambil tersenyum, Suras pun berkata: “Wahai kesatria. Diam atau bertindak sebenarnya adalah sama. Engkau diam, perang akan tetap berlangsung. Tapi jika engkau bertindak maka pertempuran juga terus berlangsung. Apa yang bisa kau dapatkan dari semua itu?

13. Mengapa engkau bersedih hanya untuk mereka yang seharusnya tak kau sedihkan. Adalah kebijaksanaan untuk tidak berduka bagi mereka yang gugur di medan laga. Bersedihlah untuk dirimu sendiri, karena tak berbuat apapun kini. Sedangkan mereka yang gugur itu akan terbebas dari beban dunia.

14. Bersedihlah engkau kepada mereka yang masih hidup. Sebab karena sikapmu ini, mereka akan menderita bertahun-tahun.

15. Sungguh, tak ada satupun yang terus terbelenggu. Setiap Manusia itu selalu ada meskipun tak terlihat. Kita akan terus hadir, karena inti Jiwa kita terus berkelana dari waktu ke waktu.

16. Dari sejak di Alam Ruh dulu Jiwa kita telah berkelana. Lalu di dalam kandungan, hingga ke alam dunia ini. Selanjutnya, setelah tubuh kita mati, maka Jiwa kita tidak ikutan mati. Jiwa kita akan terus berkelana di kehidupan selanjutnya (akherat).

17. Sehingga orang yang bijak takkan terpengaruh dengan berbagai ilusi duniawi ini. Ia akan menghidupkan kehidupan dalam perjuangan yang tekun. Suka duka adalah ujian. Dengan ujian itu siapapun baru akan terbukti.

18. Lalu mengapa kini engkau masih bimbang dengan sikapmu? Tidak sepantasnya seorang kesatria mengalah pada diri sendiri. Jika sudah waktunya, yaitu sekarang, seorang kesatria itu harus meletakkan urusan pribadinya.

19. Ia pun menyadari bahwa segalanya sudah ada yang mengaturnya. Sang Maha Pengatur pun tetap mengayomi dan melindunginya. Dan dengan rahmat-NYA pula, DIA akan sedia menuntun setiap hamba yang berserah diri.

20. Untuk itu wahai kesatria. Hadapilah semua ini dengan jantan. Karena berbagai objek duniawi ini selalu menimbulkan kesenangan dan kesedihan. Semuanya itu datang dan pergi kapan saja, tak ada yang abadi.

21. Dan tenangkanlah dirimu. Sebab orang yang tenang dalam kedua hal itu, yaitu kesenangan dan penderitaan, tidak akan terusik oleh keduanya. Ia telah sadar bahwa hidupnya, atau pun hidup orang lain, adalah tak pernah mati. Terus berlangsung bahkan setelah kematian (raga) dunia.

22. Sebaliknya, ia yang tak mengindahkan hal ini akan sama dengan orang yang tak beriman. Betapa tidak, bahwa dirinya telah mengabaikan DIRI Yang Sejati yang mengendalikan setiap peristiwa.

23. Sungguh, baik atau pun buruk menurut makhluk itu belum tentu sama dihadapan-NYA. Kebijaksanaan-NYA di luar batas pemahaman makhluk. DIA tak pernah ada habisnya dalam kecerdasan, bahkan tak memerlukan kecerdasan. DIA-lah Yang Maha Kuasa dan Mengetahui.

24. Dan DIA-lah pula Yang Sejati, yang tak mungkin tidak memiliki bentuk kasih sayang-NYA yang sejati. Dengan hal itu DIA lalu memberikan anugerah bagi siapapun yang teguh dalam kebajikan dan dharma kesatrianya. Yang takkan mundur atau berhenti dari tugasnya disaat perang sudah berkumandang.

25. Dan hal ini hanya akan disadari oleh pribadi yang terus mencari kebenaran suci. Dialah kesatria yang utama dan sesungguhnya.

26. Mendapatkan penjelasan itu, Arungga sampai berkeluh kesah dengan berkata: “O.. Tuhan. Diriku ini bukanlah seperti yang ku duga. Hidupku tak berarti, tak ada yang bisa dibanggakan. Diri ini tanpa daya, tak berguna dan terus menerus mengecewakan-MU. Sungguh mengapa hamba ini masih hidup di dunia ini? Untuk apa?

27. Mendengar itu Suras pun berkata: “DIA mengetahui apa yang tidak engkau ketahui. DIA mempersiapkan apa saja yang tak kau sadari. Tetaplah sabar dan berserah dirilah sepenuhnya. Kau akan beruntung.”

28. Mendapatkan jawaban itu, Arungga terdiam untuk beberapa saat. Tak lama kemudian ia mengajukan pertanyaan lagi kepada Suras: “Jelaskan kepada diri yang bodoh ini tentang penciptaan?

29. Mendengar pertanyaan itu sang kusir pun tersenyum. Tak lama kemudian ia segera berkata: “Baiklah jika memang itu pertanyaanmu. Dengarkan ini baik-baik, bahwa pada awalnya DIA yang tak terjangkau oleh pikiran dan imajinasi itu menciptakan “Hu”. Dari “napas Hu” itu kemudian muncullah Waktu yang merupakan wadah yang maha besar. Sebelum Waktu memiliki isinya, maka tak ada apa-apa kecuali ala (kekosongan).

30. Hyang Aruta (Tuhan YME) memanglah DIRI yang sejatinya menciptakan Waktu, tapi pada kala itu – pada awalnya – belum ada apa-apa di dalam Waktu tersebut kecuali ala (kekosongan). Atas kehendak-NYA, barulah sifat-sifat hidup dari Hyang Aruta (Tuhan YME) sendiri yaitu Hillah (tak berwujud), Nahillah (berwujud-tak berwujud), dan Manuhillah (berwujud) lalu mewujud dalam “getaran” yang terjadi terus menerus. Akibat dari “getaran” itu, maka muncullah lima “elemen” yaitu:

1. Elemen biru -> muncul dari sifat Hillah (tak berwujud)
2. Elemen hitam -> muncul dari sifat Hillah (tak berwujud)
3. Elemen merah -> muncul dari sifat Nahillah (berwujud-tak berwujud)
4. Elemen kuning -> muncul dari sifat Nahillah (berwujud-tak berwujud)
5. Elemen hijau -> muncul dari sifat Manuhillah (berwujud)

31. Ke lima “elemen” tersebut juga ikut “bergetar” selama waktu yang ditentukan-NYA, sampai pada akhirnya melahirkan elemen ke enam yang berwarna putih. Elemen ini lalu diberi nama Nur (cahaya). Nur ini mengandung energi yang maha dahsyat. Inilah inti atau cikal bakal atau bahan dasar dari semua penciptaan, juga segala isi yang berada di dalam Waktu. Dari percikannya, maka hadirlah Energi materi dan non materi, Syurga, Neraka, Langit, Alam Semesta, Dimensi, Galaksi, Planet-planet, Bintang-bintang lama dan baru, dan makhluk hidup lainnya. Semuanya dengan kondisi yang beragam, punya ciri khas dan keunikannya sendiri. Dan tentu, semuanya itu tetap dalam pengaturan-NYA yang sempurna.

32. Demikianlah kehidupan makhluk itu bermula hingga sekarang. Dari waktu ke waktu, semuanya berjalan sesuai dengan kehendak dari Sang Maha Pencipta. Sadar atau tidak, menerima atau tidak, semuanya akan tetap seperti itu. Sebab DIA adalah Penguasa yang tak bisa dihindari atau dipengaruhi. Serendah atau setinggi apapun pemahaman seorang makhluk, maka tak ada yang bisa menyaingi ilmu dan kebijaksanaan-NYA. DIA-lah Penguasa meskipun tak lagi diakui secara sadar oleh seseorang.

33. Selanjutnya, giliran waktu terciptanya makhluk yang diberi nama Sin (Manusia). Sebagaimana makhluk yang lainnya, Manusia itu pastilah diciptakan oleh Hyang Aruta (Tuhan YME) melalui perantara Nur dan mempunyai tiga unsur, yaitu:

1. Wujud jasmani (badan kasar/jasad)
2. Wujud jiwa (badan halus/ruh, jiwa, hati, pikiran, nyawa)
3. Wujud cahaya (sukma atau nur)

34. Ketiga hal tersebut adalah satu kesatuan di dalam diri Manusia dan berasal dari kehendak Hyang Aruta (Tuhan YME) melalui perantara Nur (elemen ke enam di atas) yang merupakan cikal bakal atau asal usulnya. Tidak mungkin muncul dengan sendirinya tanpa ada yang mengatur atau menciptakannya. Semua bisa terjadi hanya karena ada satu kekuatan Adikodrati Tunggal yang telah menghendaki dan mengaturnya dengan sempurna

35. “Lantas siapakah Yang Maha Tunggal itu?” Tanya Arungga lagi dengan penasaran.

36. “DIA-lah yang tak tersentuh, yang tak terjangkau oleh akal pikiran, tapi sekaligus bisa disentuh dan bisa pula dijangkau dengan mudah. Ia berada dimana-mana, di materi dan non materi, dalam nyata ataupun goib, juga fakta dan khayalan. DIA-lah keseimbangan yang mengendalikan cahaya dan kegelapan, sekaligus yang tak memihak pada kebaikan ataupun kejahatan. Sang Maha Daya yang mengalirkan energi dalam setiap materi dan non materi, dalam setiap kesadaran atau pun tidur, juga yang terus menghidupkan dan mematikan siapapun. DIA-lah awal dan akhir. DIA-lah kesempurnaan yang tak terpengaruh oleh apapun juga, karena DIA-lah yang mengontrol semuanya. DIA-lah yang menciptakan, bahkan tak perlu menciptakan. DIA-lah Penguasa tanpa perlu menguasai. Semuanya adalah bagian dari DIRI-NYA. Bahkan tak ada semuanya itu, termasuklah kita, kecuali hanyalah DIA saja.

37. “Bagaimana caranya untuk bisa menemukan-NYA?” Tanya Arungga lagi.

38. “Kenalilah dirimu sendiri lebih dekat, maka engkau akan mengenali-NYA lebih jelas. Temukanlah DIA di dalam dirimu sendiri, niscaya kau akan menemukan-NYA dimana pun. Teruslah mencari dan jangan pernah berhenti. Dengan begitu kau akan tetap bersama-NYA.

39. “Lalu bagaimana pula cara mengenali diri sendiri yang sebenarnya?” Kejar Arungga.

40. “Kenalilah terlebih dulu tentang Nur yang sejati. Sebab Nur itu adalah medan energi yang melingkupi, mengelilingi, dan merasuki semua makhluk dan menjadi penghubung di antara mereka. Dialah yang mengendalikan semesta ini dan mengalir di dalam setiap materi dan non materi. Dia hanya akan selalu memihak pada keseimbangan.

41. Karena itu bagi siapapun yang terlatih dalam keseimbangan dirinya sendiri, maka ia bisa menggunakan Nur itu untuk membantu atau memperkuat dirinya. Juga untuk menuntunnya pada hakekat yang sejati. Kekuatan itu akan bermanfaat luas dalam kehidupan dunia.

42. Sehingga, dengan memahami Nur ini secara benar, maka itu ibarat jembatan untuk bisa memahami DIRI Yang Maha Esa (The ONE) secara murni. Dan perlu diketahui pula bahwa Nur itu memungkinkan para penggunanya untuk bisa melakukan hal-hal yang unik dan ajaib (supranatural).

43. Namun kemampuan ini akan berbeda bagi setiap orangnya. Semua tergantung pada niat dan latihan yang di lakukan. Dan jika seseorang masih memiliki sifat yang batil, maka sisi gelap yang jahat akan menimbulkan kebencian, amarah, ego dan kesombongan bangkit dalam dirinya. Ini akan menyebabkan masalah besar bagi kehidupan. Karena itu perlu hati-hati dan teruslah menahan diri.

44. Dan engkau pun harus tetap menyadari bahwa Manusia itu tidak hanya terdiri dari tubuh tanah liatnya saja, tetapi juga unsur goib (non materi) yang bersemayam di dalamnya. Zahir hanyalah wadah bagi diri pribadi untuk menjalankan perannya di alam nyata dunia ini. Karena itu, zahir Manusia tersusun dari beberapa unsur materi, yaitu tanah, air, api, udara dan yas (ether). Kelima elemen inilah yang menjadi bahan utama terbentuknya jasad Manusia dan menjadi wujud keberadaannya. Sebab, tanpa jasad maka Manusia itu bukanlah Manusia, tetapi Malaikat atau sesuatu yang lainnya.

45. Dan ini tidak boleh terjadi, karena sudah menjadi kodrat Manusia untuk tetap harus menjadi Manusia. Sebab Manusia itu sendiri adalah bukti nyata dari kesempurnaan penciptaan. Bukan lantaran keindahan fisiknya atau kekuatannya atau kesaktiannya, tetapi karena ujian hidup yang harus dan mampu ia jalani itu lebih berat dari semua makhluk. Dan bagi mereka yang berhasil menghadapi setiap ujian hidup itu, maka layaklah ia dikatakan sebagai Khulafiyah (pemimpin makhluk/Khalifah) karena kesempurnaannya sendiri. Tanpa ujian, maka siapapun takkan bisa terbukti keunggulannya.

46. Sementara itu, di dalam zahir Manusia itu ada bagian-bagian diri Manusia yang seolah-olah terpisah padahal satu kesatuan yang utuh. Ada Ruh, Jiwa, Sukma, Nyawa, dan Hati, yang semuanya adalah bagian terpenting dari sejatinya Manusia. Kesemuanya harus diketahui lalu dipahami dan diusahakan untuk tetap dipersatukan oleh setiap pribadi – minimal dalam pikiran. Dan ini harus dengan ilmu yang cukup dan pengertian yang mumpuni. Setiap pribadi selayaknya mencari tahu dulu apa sebenarnya kelima bagian dirinya itu. Selanjutnya berkenalan, berbincang-bincang (diskusi), dan akhirnya bersatu kembali dengan kelimanya itu di dalam satu wadah yang bernama Diri Sejati.

47. Wahai kesatria, dapatkah engkau memahami pengetahuan ini? Apakah dunia ini sebenarnya? Manusia, Jin, Malaikat, Peri, Cinturia, Karudasya, Dewa-Dewi, Niswara, Hiir, Nura, Nurrataya, Arnu, Birmanu, Ainur, Wiltra, Walluha, Riltan, Maltasi, Himasya, Rihasa, Mighal, Syilha, Kalsun, Zenara, Hismal, Rastu, Hewan, Tumbuhan, Bumi, Matahari, Galaksi, benda-benda, elemen dan lainnya. Bagaimanakah semuanya diciptakan? Dari apa asal mereka? dan mengapa mereka itu tercipta dan untuk apa? Dan apakah yang akan terjadi setelah semuanya mati atau sirna? Pikirkan dan renungkanlah pengetahuan ini.

48. Dan apakah kau akan menjawab bahwa tubuh Manusia itu terbentuk dari tanah dan air yang mengalir didalamnya sebagai darah dan kebaikan. Api memberikan kekuatan dan kehangatan pada tubuh. Termasuklah rongga yang ada di dalam tubuh yang diisi oleh udara dan yas (ether). Karenanya, dalam tubuh Manusia itu ada unsur tanah, air, api, udara dan juga yas (ether).

49. Ya. Kau tidak salah tentang hal itu, tapi perlu kau renungkan lagi apakah sudah benar pendapatmu. Sebab jika sebatas itu saja pemahamanmu, maka setiap Manusia itu, sehebat apapun dia, maka tak lebih dari sekedar kelima unsur itu saja. Bahkan orang shalih dan penjahat pun sama karena memang terdiri dari kelima elemen itu, tidak lebih. Jika begitu, lantas apa yang menjadi keutamaan dari Manusia? Apa keunggulannya? Dan apa pula yang kau pikirkan, apakah tanah (zahir) saja?

50. Tidak saudaraku. Memang tubuh Manusia terbuat dari tanah yang melambangkan ciri khas dari Manusia itu sendiri. Semua ikatan dan unsur lainnya pun mengakar dari tubuh yang berasal dari tanah itu. Tapi, jika ini memang benar sepenuhnya (100%), pertanyaannya adalah kenapa saat Manusia mati tubuhnya akan hancur? Apakah benar setelah tubuh mati Manusia itu juga mati?

51. Jawabannya tidak, karena kenyataannya setelah tubuh mati Manusia akan tetap hidup. Semua bagian dirinya kecuali tubuh zahir akan terus hidup dan menjalani kehidupan lainnya. Dan tak ada satupun bagian dari tubuhnya, atau pun yang mengakar di dalam tubuhnya yang menjadi ciri khasnya. Sebab, yang menjadi ciri khas bagi setiap diri Manusia itu hanyalah sifat, tingkah laku dan amal ibadahnya.

52. Lalu berpikirlah tentang bagaimanakah sifat, tingkah laku dan amal itu diciptakan? Pahamilah ini hai pemuda. Karena ketahuilah bahwa kehidupan Manusia itu adalah wujud keserasian antara sesuatu yang tampak (nyata) dan yang tidak tampak (goib). Tanpa keserasian dari keduanya, maka sebenarnya seseorang itu belumlah hidup dalam arti yang sesungguhnya. Makanya sifat, tingkah laku dan amal ibadahlah yang membedakan antara satu Manusia dengan yang lainnya. Bukan unsur/elemen dalam dirinya. Bukan pula sukses atau gagalnya perbuatan.

53. “Jadi apakah sebenarnya Manusia itu? Terangkan kepadaku lagi” Desak Arungga.

54. “Manusia itu adalah percikan dari Hyang Aruta (Tuhan YME) melalui perantara Nur (elemen ke enam: Cahaya). Artinya ketika percikan dari Tuhan itu berada di dalam tubuh seseorang, itulah yang disebut sebagai Diri Sejati. Diri Sejati inilah yang membuat Manusia hidup – dalam arti yang sebenarnya. Dan ia akan benar-benar hidup jika ia pun bisa memahami akan hal ini dan menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari dengan kesadaran. Alias tidak hanya sekedar mengekor pada orang lain.

55. “Lalu, apa yang dimaksud dengan Diri Sejati dan apa pula yang dimaksudkan dengan memahaminya? Terangkan lebih jelas kepadaku” Kejar Arungga.

56. “Itu seperti ketika seseorang menggunakan kendaraan untuk bisa beraktivitas, maka seperti itulah Diri Sejati kepada tubuh. Melalui kendaraan tubuh, Manusia akan mengalami suka dan dukanya kehidupan dunia ini. Ia pun bisa melakukan apapun yang ia mau sebatas perizinan-NYA. Tetapi Diri Sejati sendiri bukanlah tubuh. Karena tubuh masih bisa dihancurkan, sementara Diri Sejati tidak. Diri Sejati itu abadi dan tak bisa dihancurkan oleh senjata apapun, ataupun dibakar oleh api, dikeringkan dengan udara, dan dilemahkan oleh air.

57. Walau pun Diri Sejati itu berada di dalam tubuh, tetapi ia kekal. Tubuh itu bisa saja dibunuh atau dihancurkan, tetapi Diri Sejati tidak akan bisa dimusnahkan. Diri Sejati itu bahkan berada dimana-mana, tidak berwujud (non materi), dan kekal abadi. Dan ketahuilah, bahwa Diri Sejati itu sebenarnya tak terpisahkan dengan DIRI YANG SATU. Bahkan semuanya berada di dalam DIRI YANG SEJATI ini. Lantas siapakah DIRI YANG SEJATI itu sebenarnya? DIA-lah HYANG ARUTA (Tuhan YME).

58. Untuk itu, sudah semestinya setiap pribadi itu tetap berusaha untuk bisa kembali kepada-NYA melalui jalan yang lurus dan diridhoi-NYA pula. Caranya dengan mengenali terlebih dulu siapakah Diri Sejatinya sendiri, karena hanya dengan begitulah ia akan paham dan bisa menemukan arah yang benar dalam menuju kepada DIRI-NYA

59. Mendengar semua penjelasan itu, Arungga tak bisa berkata-kata lagi. Pertanyaan yang selama ini menghantui pikirannya mulai terjawab. Tanpa terasa airmatanya pun menetes.

60. Dan sesuai dugaannya sejak awal, Suras itu bukanlah orang biasa. Pemahaman dirinya akan kehidupan ini setara dengan Begawan, bahkan melebihinya. Belum pernah ia menerima apa yang ia dapatkan dari Suras kala itu.

61. Lalu, setelah cukup dengan wejangan-nya, Suras membawa kembali sukma Arungga ke dalam tubuhnya yang ada di medan perang. Apa yang telah didapatkan oleh sukmanya, maka diri Arungga yang berada di medan laga, yang sedang berdiri di atas kereta perang itu bisa menerimanya juga. Arungga sangat paham dengan semua penjelasan dari Suras.

62. Namun saat kembali ke medan pertempuran, ketika berdiri menatap laskar yang berbaris di padang Yasaturah, hati Arungga kembali diliputi kebimbangan. Ia pun berkata: “Tapi bagaimana ini, hatiku masih diliputi rasa iba kepada mereka yang terluka dan gugur nantinya?

63. Dijawab oleh sang kusir Begawan dengan berkata: “Majulah hai kesatria. Abdikan dirimu pada kewajibanmu dan jangan lagi kau ingkari itu. Karena tidak ada prestasi yang lebih baik untukmu kini selain berperang demi tegaknya kebenaran.

64. Dan sadarlah bahwa tiada seorangpun yang sebenarnya dapat membunuh atau terbunuh. Karena setiap Diri (Ruh, Jiwa, Sukma, Nyawa, Hati, dan Pikiran) yang menumpangi raga tanah liat (jasad) tak bisa dihancurkan. Akan tetap hidup seterusnya tanpa batasan waktu.

65. Sehingga tak ada seorangpun yang hilang atau terbunuh. Ia tak pernah mati walau raganya habis membusuk.

66. Makanya, orang yang menyadari bahwa Diri itu tak bisa dihancurkan dengan kekuatan apapun, bagaimana mungkin ia disebut membunuh, atau menjadi penyebab orang lain jadi pembunuh?

67. Tidak, bukan seperti itu makna sesungguhnya. Karena ia yang berjuang demi kebenaran, meskipun terlihat membunuh, ia tidak sedang membunuh. Apa yang ia lakukan hanyalah bagian dari suratan takdir-NYA, bahkan sebagai perantara untuk menuju kebebasan. Kebebasan bagi diri mereka yang terbelenggu kejahatan raganya.

68. Jadi janganlah dikau bersedih atau merasa iba untuk sesuatu yang sudah pasti dan semestinya itu. Karena semua yang lahir harus binasa dan yang binasa akan terlahir kembali. Alam dan tempatnya saja yang berbeda.

69. O.. Dunia ini hanyalah sementara dan akan berlaku sekali bagi setiap orangnya.

70. Jangan ikut terbelenggu dengan begitu mencintai apa yang ada di dalamnya. Tempatkanlah dirimu sebagaimana seharusnya. Yaitu tamu yang hanya sekedar mampir.

71. Dan jangan lagi memikirkan sesuatu yang bukan DIRI-NYA. Karena DIA selalu bersemayam dan hidup di dalam setiap makhluk.

72. Dan meskipun DIA tak tersentuh, namun sentuhan-NYA justru sungguh nyata dalam kehidupan para makhluk. Kau bisa merasakannya hanya ketika telah dekat dengan-NYA. Tak berjarak sebagaimana warna dan cahaya.” 

Naktah 54
Akhiratul Yudha
(Akhir Dari Sebuah Pertempuran)

Setelah menceritakan wejangan yang disampaikan oleh kusir kereta yang bernama Suras, sang Begawan menceritakan kisah selanjutnya, pertempuran besar antara pasukan Arungga melawan pasukan Harjuyan.

Seolah-olah sedang menyaksikan langsung pertempuran di lembah Yasaturah itu, sang Begawan pun berkata:

1. Wahai ananda. Dari zaman ke zaman pertempuran di antara anak-anak Manusia itu sering terjadi. Entah karena alasan yang penting atau justru sepele. Namun demikian perang tetaplah peristiwa yang akan selalu menyebabkan penderitaan dan kesedihan. Banyak korban jiwa yang berjatuhan, entah mereka pahlawan atau justru pecundang.

2. Begitulah yang terjadi di lembah Yasaturah itu. Seharusnya pertempuran besar itu tak perlu terjadi jika kedua belah pihak mau mendengar dan didengarkan.

3. Tapi kesombongan dan keserakahan diri telah menguasai, terutama di kubu pasukan Harjuyan. Mereka hanya ingin segera berperang untuk memuaskan hasrat keinginan pada harta, kekuasaan dan sanjungan. Pikiran dan hati mereka telah dikuasai oleh angkara murka.

4. Karena itulah mereka akhirnya bertemu dengan lawan yang sebanding. Kekuatan dari kebaikan dan kebenaran telah bangkit untuk menuntut keadilan. Tinggal menunggu waktu saja, hasil dari pertempuran besar itu bisa terlihat dengan jelas.

5. Dst…….

***

Demikianlah kisah ini disampaikan dengan harapan bisa menjadi pelajaran yang berharga bagimu wahai saudaraku. Memang ada sedikit kesamaan materi dengan tulisan sebelumnya, karena hal itu perlu kami ulang-ulang agar lebih mudah diingat dan dipahami. Dan seperti yang kita ketahui bersama bahwa Manusia itu sering lupa, bahkan sengaja melupakan apa yang seharusnya ia ketahui.

Sehingga tetaplah tekun dalam mempersiapkan dirimu (lahir batin), dan jangan pernah terlena dengan cara selalu bersikap eling lan waspodo. Cukuplah hidup dengan memenuhi kebutuhan pokokmu saja, tak usah berlebihan. Karena kita sudah berada di penghujung zaman ke tujuh ini (Rupanta-Ra), maka tinggal menunggu datangnya masa penghakiman dan ujian terbesar. Sehingga abaikanlah hal yang sia-sia dan menjerumuskan diri pada kebodohan. Dengan begitu keselamatan hidup bisa diraih dalam keridhoan-NYA.

Mugia Rahayu Sagung Dumadi.. 🙏

Jambi, 10 Oktober 2019
Harunata-Ra

Catatan:
1. Bukalah cakrawala hati dan pikiranmu seluas mungkin. Hilangkanlah belenggu (dogma, doktrin) yang ada selama ini, yang mengikat erat nalurimu.
2. Bacalah tulisan ini dengan tenang dan seksama. Jangan terburu-buru menyimpulkan, agar engkau bisa memahami apa yang tersirat didalamnya. Sebab ada banyak makna yang tersembunyi, yang hanya akan didapatkan dengan cara fokus di setiap kalimatnya.

27 respons untuk ‘Dharma Kesatria dan Hakekat Perang Besar

    asyifa wahida said:
    Oktober 16, 2019 pukul 2:21 pm

    Subhanallah….. Sampai mboten saget bicara …
    Andaikan manusai2 skrng khususnya yg tinggal dinegeri ini MAU MNDNGAR DN DIDENGARKAN tentu akan berbeda cerita enggih mas …sungguh sngat disyngkan mayoritas sdh menuhankan keserakahan kesombongan dn ego nya …

    Mugi2 diakhir waktu ini masih ada manusia2 negeri ini yg mau mnyadarkan dirinya enggih mas ….

      Harunata-Ra responded:
      Oktober 17, 2019 pukul 5:19 am

      Wow emang knapa mbak?

      Iya mbak, seandainya itu bisa di lakukan di negeri ini, maka yg disebut “gemah ripah loh jinawi, toto tentrem karto raharjo” bisa terwujud..

      Aamiin.. Semoga begitu, karena tak byk wkt lagi yg tersisa sblm transisi zaman..

    Guntur Satria Putra said:
    Oktober 17, 2019 pukul 4:23 am

    Bagimana cara kita bisa sadar atau tahu..apakah kita sudah sepenuhnya merdeka atau masih menjadi budak mas

      Harunata-Ra responded:
      Oktober 17, 2019 pukul 5:25 am

      Hmm.. Setidaknya ada tiga cara, yaitu rutin ber-muhasabah (introspeksi diri), memperbanyak tadabbur (berpetualang mencari ilmu), dan makin sering ber-tafakur (merenungkan segala yg ada, ato setiap peristiwa dan fenomena yg ada).. Jika ketiganya itu di lakukan secara benar dan konsisten (istiqomah), niscaya akan tau sendiri apakah sudah sadar ato blm, sudah tahu ato blm, sudah merdeka ato blm.. 😊

        Maulana said:
        Oktober 17, 2019 pukul 6:19 am

        Mas oedi kpn mw dikupas ratu balqis dan ken dedes…sy menunggu dg setia nih kisahnya😊
        Oiya benar mas oedi akhir jaman materi ga bermanfaat bekal amal dan ketakwaan yg dibutuhkan..karena materi hy memuaskan jasmani dan angan yg muluk tp amal dan takwa untuk vitamin ruhani ….supaya tau di dunia ini cobaan dan ujian jd trus eling dan waspada diri sejati ini akan kembali ke pemilikNya kita hy mahluk yg ditugaskan mengetahui sifat sang Pencipta…tp kita py diberi kehendak mw memahami dg hati atau dg nafsu ttg penciptaan diri kita…mudah2an ga salah ya mas koment sy😊

        Harunata-Ra responded:
        Oktober 17, 2019 pukul 7:21 am

        Hmm kenapa masnya pengen saya bahas ttg kedua tokoh itu? Bukannya udah byk yg bahas? Malah ada juga novel dan filmnya..

        Ya kita liat nanti aja deh mas.. Saya blm dpt petunjuk utk upload kisah keduanya.. Terlebih di blog ini lebih fokusnya utk membahas tokoh2 yg gak umum diketahui, ato yg sudah hilang dari ingatan dan catatan formal sejarah.. 😊

        Waah itu gak salah kok mas.. Boleh saja masnya berpendapat begitu.. Tapi kalo menurutku, kapanpun wktnya materi itu ttplah bermanfaat dan penting, hanya saja harus ada ukuran dan batasannya.. Gak boleh berlebihan dan semaunya.. Tanpa materi bagaimana kita bisa hidup normal dan menjalankan tugas serta kewajiban dg sempurna di dunia ini? Artinya, jg bilang materi itu gak lagi bermanfaat, tapi katakan bahwa materi itu ttp bermanfaat dan penting namun harus sesuai dg takaran yg benar, alias jg berlebihan dan sesuai pada tempatnya.. Di sinilah fungsi utama dari akal-pikiran dan hati utk bisa memilih mana yg baik dan tidak baik, mana yg benar dan salah utk di lakukan.. Jg sampai tertipu nafsu dan ilusi duniawi.. 😊

        Kesimpulannya adalah bahwa harus ada keseimbangan antara yg lahiriah dan batiniah (jasmani dan ruhani) dalam hidup ini. Sehingga jika ada materi maka harus ttp ada juga yg non materi, gak bisa salah satunya saja, dan harus sesuai dg takaran dan tempatnya masing2.. Tanpa keduanya itu kita gakkan mencapai kebahagiaan yg paripurna.. 😊

        Maulana said:
        Oktober 17, 2019 pukul 10:01 am

        Beda maksud sy mas oedi..krn di akhir jaman materi yg sy maksudkan tdk akan berarti bahkan manusia mgk akan jd kanibal sesamanya untuk bertahan hidup bs jd krn bencana dahsyat baik itu krn alam maupun tangan manusia yg menyebabkan hal tersebut…misalkan dukhan yg dtg otomatis bertahan hidup selama 40hari seperti apa sedang manusia berada dlm kegelapan…maaf klo salah

        Harunata-Ra responded:
        Oktober 17, 2019 pukul 10:11 am

        Iya deh terserah mas aja..

        Guntur Satria Putra said:
        Oktober 18, 2019 pukul 1:10 am

        terima kasih mas

        Harunata-Ra responded:
        Oktober 18, 2019 pukul 3:16 am

        Okelah mas.. 🙂

    Maulana said:
    Oktober 17, 2019 pukul 10:11 am

    Iya sy tertarik dg balqis dan ken dedes…riwayat buat sy masih absurd…ya gpp klo mas oedi blm dapat ilham soal itu…mereka buat sy ga umum juga dan fenomenal…krn sy pernah dilihatkan istana terbang yg lantainya seperti air dan luasnya sejauh mata memandang dg byk kamar..jd sy keingat dg kisah balqis pasir diluar istana berupa batu mulia..ada seorang laki yg tubuhnya tertutup cahaya sy dipeluknya trus sy lihat wajahnya juga ditutupi cahaya hy ketika sy coba lihat wajahnya sy lgs lemas kaki sy krn wajahnya luar biasa indahnya…

      Harunata-Ra responded:
      Oktober 17, 2019 pukul 10:16 am

      Ya udah masnya aja yg cerita.. Tulis semua yg mas ketahui itu.. Siapa tau bisa jadi referensi baru di ranah ilmu pengetahuan..

        Maulana said:
        Oktober 17, 2019 pukul 10:22 am

        Td mas oedi nanya kenapa mw bahas balqis dan ken dedes….ya sudah lah sy minta maaf klo ga berkenan sama mas oedi🙂..

        Harunata-Ra responded:
        Oktober 17, 2019 pukul 10:25 am

        Bukannya saya gak berkenan, lebih tepatnya karena blm waktunya skr.. Ada yg lebih prioritas dan tentunya hrs sesuai dg protap.. Maaf kalo saya gak bisa memenuhi permintaan masnya.. 🙏

    Maulana said:
    Oktober 17, 2019 pukul 10:13 am

    Oiya mas oedi di bulan september lalu sy dilihatkan ada roda tua yg diselimuti api dengan ekor yg panjang sebesar 2 gunung melintasi pegunungan dr arah barat ke timur…setelah itu sy sakit krn sy hentikan penglihatan itu ga sampai selesai mudah2an ini bukan hal buruk

      Harunata-Ra responded:
      Oktober 17, 2019 pukul 10:22 am

      Ya semoga aja gak knapa2.. Tapi gak ada salahnya utk bersiap dan ttp waspada..

        Maulana said:
        Oktober 17, 2019 pukul 10:24 am

        Baiklah guru sy akan tetap eling dan waspada…😊

        Harunata-Ra responded:
        Oktober 17, 2019 pukul 10:28 am

        Jangan panggil saya guru lah mas.. karena emg bukan guru dan gak pantes utk itu.. Saya cuma org awam kok..

        Maulana said:
        Oktober 17, 2019 pukul 10:30 am

        Iya iya nyerah deh sy piss😊

    Maulana said:
    Oktober 17, 2019 pukul 10:33 am

    Iya iya nyerah deh sy piss😊

      Harunata-Ra responded:
      Oktober 18, 2019 pukul 3:15 am

      Emang perang mas? hehe… 😀

    Asyifa wahida said:
    Oktober 18, 2019 pukul 8:19 am

    Heem pas dn tepat sasaran untuk diri kulo niki mas…. Dn entahlah sdh bbrpa ilmu2 panjenengan sperti mnggambarkan kehidupan kulo… Waallahu’alam ntah ada apa dibalik ini semua..

    Enggih mas mugi2 mawon apapun yg dimaksud dalam slogan ini segera terjadi dalam waktu dekat ini.. Aamiin ya rabbal alamiin

    Enggih mas smg kita khususnya panjenengan skluarga mnjadi hamba2nya yg sllu dalam lindungan penjagaan dn diselamatkan olehNYA ..aamiin ya rabbal alamiin

      Harunata-Ra responded:
      Oktober 18, 2019 pukul 9:02 am

      Oh ya? Semoga yg baik2 saja 🙏

      Aamiin.. Kita berdoa aja mbak.. Biar ada perubahan.. 🙏

      Nuwun ya mbak utk doanya.. Gitu juga utk jenengan sekeluarga.. Semoga kita jadi orang yg beruntung.. 😊🙏

    Asyifa wahida said:
    Oktober 18, 2019 pukul 5:13 pm

    Saestu mas..
    Kulo niki sperti arungga yg diliputi penuh keragu2an saat mau maju berperang..
    Jujur kulo akui trkadang terlintas dlm hati pikiran dn jiwa Kulo kalo nnt beneran besar gmn hewan2 manusia yg baru lahir2 tumbuhan dn makhluk lainnya lagi…
    dn panjenengan adalah sang kusir dlam dimensi lain…. Tempat kulo bertanya ini dn itu..mngajari Kulo segudang ilmu ini itu dn matur suwun sama sperti suras panjenengan pun mnjelaskan dngn penuh kesabaran bijaksana dngn sikap kulo yg sellu kepoooo /ingin tahuu ..

    Enggih mas kulo sllu berdoa memohon yg terbaik untuk seluruh alam dn seluruh isi nya….

    Enggih sami2 Mas dn Aamiin ya rabbal alamiin matur suwun kagem doane mas

      Harunata-Ra responded:
      Oktober 19, 2019 pukul 4:02 am

      Oh gitu ya mbak.. Syukurlah kalo apa yg disampaikan berguna utk mbaknya.. dan khususnya di artikel ini memang bertujuan utk membantu siapapun yg masih ragu2 dan merasa iba ttg apa yg akan terjadi nanti.. Kita harus menjalankan apa yg harus di lakukan walaupun itu terasa pahit dan menyedihkan.. menegakkan keadilan dan kebenaran itu jauh lebih penting, bahkan dari diri kita sendiri..

      Waaah jg begitulah mbak.. sudah tugas saya utk menyampaikan apa yg saya ketahui.. berbagi antar sesama itu indah kok.. 🙂

      Nggih mbak.. mari kita berdoa utk kebaikan diri kita, keluarga, dan siapapun yg hidup di dunia ini, khususnya mrk yg ttp berpegang teguh pada kebenaran Ilahi.. 🙂

        Asyifa wahida said:
        Oktober 19, 2019 pukul 9:58 am

        Enggih matur suwun kagem suport2nya lan nasehatnya….

        Enggih Betul mas indah dan mmbahagiakan hati untuk kedua belah pihak yg mmbgi dn yg dibagi…

        Enggih mas kulo senantiasa berdoa untuk mereka semua…. Khususnya saudara2kita yg ada dinegeri indo ini

        Harunata-Ra responded:
        Oktober 19, 2019 pukul 4:36 pm

        Nggih mbak.. kan harus sali suport dan mengingatkan toh… 🙂

        Setuju, emg itu kok yg dirasakan.. kecuali melakukannya dg tanpa keikhlasan..

        Baguslah itu mbak.. kita cuma bisa berdoa, masalah gimananya cuma Hyang Aruta yg memutuskannya nanti.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s