Kesucian Diri (1)

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Mereka yang sadar bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara, tentunya tidak akan rakus dengan harta, jabatan, popularitas, dan kesenangan, apalagi perbuatan yang sia-sia, yang jahat dan menyimpang dari kebenaran. Ia memang tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, tapi semua itu hanyalah sebatas kendaraan saja, bukan tujuan utamanya. Dan saat mengamalkan kebaikan dalam hidupnya, seorang yang telah sadar diri itu selalu berpikir bahwa kematian akan datang esok hari, hingga kemalasannya pun menghilang.

Oleh karena itu, bagi yang telah sadar diri maka baginya masa muda adalah waktu yang terbaik untuk mempelajari tentang arti dari kehidupan ini. Jika terus konsisten (istiqomah), maka hakekat dari kesucian diri bisa dipahami dengan sempurna. Dan sebab kematian tak bisa diprediksi waktunya, pun tidak ada yang akan memberi tahu kapan datangnya, maka selagi masih hidup ia akan segera melakukan kebajikan dan atau kebenaran itu. Karena nanti semua keluarga, sahabat, kenalan, dan tetangganya hanya bisa mengantarkan sampai di tanah kuburannya saja. Tak ada yang bersedia untuk terus ikut menemani sampai ke Alam Baka. Hanya amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang shalih sajalah yang bisa menemani.

Ya, carilah ketentraman hati yang merupakan daya tahan dari berbagai godaan sesat. Camkanlah dengan baik hakekat dari kebenaran dengan mengedepankan ilmu pengetahuan yang benar pula. Sebab pengetahuan yang benar selalu membawa pada kedamaian, sedangkan kedamaian akan mengantarkan diri pada kesadaran. Dan hendaknya kesadaran diri itu dijadikan sebagai prinsip hidup. Karena dengan begitu akan membuka jalan yang lurus untuk bisa mengenali DIRI YANG SEJATI. Lalu dengan bisa mengenali-NYA, maka itulah kebahagiaan dan keindahan yang sebenarnya.

Sungguh, siapapun yang telah mengenali dirinya sendiri berarti ia telah menang melawan nafsunya. Merekalah yang bijaksana dalam kehidupannya, dan patut untuk ditiru serta dijadikan teladan. Karena apapun yang ditimbulkan oleh pikiran, perkataan, dan perbuatan yang tidak menyenangkan bagi dirinya, apapun yang menimbulkan duka dan sakit hati bagi dirinya, tak pernah ia lakukan pada dirinya sendiri dan orang lain. Begitu pula dengan perbuatan apapun yang tidak ia sukai menimpa dirinya, juga tak pernah ia timpakan kepada orang lain. Hatinya telah dipenuhi dengan rasa cinta dan kasih sayang. Sehingga ia pun bisa merasakan ketenangan dan bahagia.

Dan ia pun telah menyadari bahwa kebenaran itu memenuhi semesta ini, tidak terikat oleh apapun dan siapapun. Tidaklah milik dari perseorangan, kelompok, atau ras tertentu saja. Sebab akan muncul dan mewujud dalam diri manusia yang telah berbuat kebajikan tanpa pamrih. Sebaliknya takkan pernah ada dalam diri manusia-manusia yang berhati kotor dan munafik. Sehingga bagi mereka yang dengan tekun mengusahakan kebajikan dan kebenaran meskipun ia hidup dalam kemiskinan, sesungguhnya ia adalah orang yang benar-benar kaya. Kekayaannya itu sungguh luar biasa, karena tidak mungkin dapat dirampas atau pun dicuri oleh siapapun juga. Selamanya tetap menjadi miliknya, sehingga ia pun menjadi terhormat.

***

Pekerjaan dan Profesi

55. Manusia sesuai profesinya dibagi menjadi empat golongan. Agamawan adalah golongan pertama, kedua Negarawan, ketiga Usahawan, dan keempat adalah Pelayan. Ketiga golongan profesi tersebut di atas haruslah dalam hidupnya melakukan penyucian diri, apabila diinginkan mereka boleh hidup selibat. Sedangkan golongan Pelayan juga boleh melakukan penyucian walaupun tidak menjadi keharusan baginya.

56. Profesi Agamawan haruslah mempelajari ilmu pengetahuan, mengajarkan kebajikan dan kebenaran, mengajarkan kitab suci, melaksanakan upacara dan pemujaan, melakukan amal sosial, bersembahyang ke tempat-tempat suci, serta menjadi pemimpin upacara.

57. Inilah kewajiban seorang Agamawan, melakukan kebajikan dan kebenaran; setia pada ucapan dan janji; teguh pada pelaksanaan kebajikan dan kebenaran, menaklukkan hawa nafsu; tidak mementingkan diri sendiri; rendah hati; sabar dan tahan godaan; tidak diliputi oleh kemarahan dan kejahatan; melakukan persembahan kepada Tuhan; beramal sedekah; menyucikan fisik dan rohani; serta welas asih dan pemaaf.

58. Inilah kewajiban Negarawan, mempelajari ilmu pengetahuan dan kitab suci; melaksanakan upacara kurban kehadapan Tuhan; memfasilitasi upacara kebaktian; menjaga keamanan negara; mengenal bawahannya sampai pada sanak keluarga dan kerabatnya; berderma dan bersedekah.

59. Seorang Usahawan, hendaknya belajar kepada Agamawan dan Negarawan. Mereka hendaknya berderma dan bersedekah pada waktu yang baik; hendaknya mereka bersedekah kepada orang-orang yang memerlukan dan meminta bantuan kepadanya. Mereka hendaknya taat beribadat.

60. Inilah kewajiban Pelayan, setia mengabdi kepada Agamawan, Negarawan, dan Usahawan, mereka hendaknya melakukan tugas dengan sebaik-baiknya.

61. Apabila Negarawan pengecut, angkara murka, tidak mengusahakan kebahagiaan negara dan tidak mengasihi rakyatnya; Agamawan rakus, berwatak jahat, menyeleweng dari norma dan susila; curang; diliputi birahi; mementingkan diri sendiri, mencemarkan tempat suci; negara dimana mereka itu hidup pasti hancur berkeping-keping.

62. Usahawan menganggur; Pelayan tidak setia; mereka-mereka yang seperti ini pasti akan memperoleh malapetaka.

63. Inilah yang harus di lakukan oleh keempat profesi: jujur; tidak egois dan mementingkan diri sendiri, dapat menasehati diri sendiri; mengendalikan indra-indra.

64. Inilah yang harus dilaksanakan: tidak menyakiti dan membunuh dalam arti luas, setia pada ucapan, berkata benar, tidak berpikiran jahat pada semua mahluk, tahan cobaan, teliti, orang seperti ini sesungguhnya telah memperoleh kebahagiaan.

[Cuplikan dari kitab Sarasamuscaya, karya: Begawan Wararuci]

***

O.. Mari kita membangkitkan kesadaran diri sendiri. Sebab orang yang sadar diri akan senantiasa berhati tenang. Ia pun sanggup menasehati dirinya sendiri, sehingga tetap berada di dalam kebenaran yang suci. Dan ketenangan hati itu sesungguhnya lebih utama dari pada sedekah, sebab sering kali mereka yang dermawan tidak merasakan ketenangan hati, hingga dapat dipengaruhi oleh ego, kesombongan, dan pamrih. Sebaliknya, orang yang memiliki ketenangan hati, niscaya mudah baginya untuk bersedekah dalam keikhlasan.

Dan selain itu, manusia diciptakan tidak hanya untuk melakukan kebajikan dan kebenaran saja, tetapi juga kesusilaan (budi pekerti yang luhur). Bahkan kesusilaan itu adalah penjaga untuk tetap adanya kebajikan dan kebenaran. Karena takkan ada kebajikan dan kebenaran yang sejati jika tanpa adanya kesusilaan. Sehingga bagi mereka yang mampu menunaikan ketiga hal itu dengan tekun dan secara bersamaan, ia bisa memahami tujuan dari diciptakannya kehidupan ini oleh Tuhan. Sebab manusia itu menjadi utama tidak hanya oleh kebajikan dan kebenarannya saja, tetapi juga karena kesusilaannya. Dan sesungguhnya kelahiran manusia itu memang bertujuan untuk melaksanakan kesusilaan. Makanya kekuasaan dan kebijaksanaan, kemampuan dan ilmu pengetahuan itu menjadi tanpa artinya jika tidak dijabarkan dengan tindakan-tindakan yang susila (budi pekerti yang luhur) secara nyata.

Sehingga walau pun tidak mudah untuk mengamalkan kebajikan, kebenaran, dan kesusilaan dalam setiap pikiran, perkataan dan perbuatan, namun janganlah semua itu membuat kita berhenti untuk melaksanakannya. Siapapun harus bertekad, karena yang membuat seseorang itu dikenal adalah hasil perbuatannya, perkataannya, dan pikirannya. Maka dari itu biasakanlah untuk tetap berpikiran baik, berkata benar, dan berbuat yang bagus dalam kehidupan ini. Karena hanya dengan begitulah kita memiliki kesempatan untuk bisa meraih kemuliaan.

Dan untuk itulah dibutuhkan kesadaran diri yang tinggi. Karena sebenarnya surga itu adalah kesuksesan dalam pengendalian nafsu, sedangkan neraka adalah kegagalan dalam mengendalikannya (nafsu). Dan bukan lantaran mandi seseorang bisa disebut suci, tapi hanya karena sudah memiliki kesadaran diri sajalah bisa disebut begitu (suci).

Jambi, 12 Oktober 2019
Harunata-Ra

16 respons untuk ‘Kesucian Diri (1)

    mochjuna said:
    Oktober 12, 2019 pukul 12:45 pm

    Adakah artikel yang membahas tentang mengenal diri sendiri itu mas?

    Asyifa wahida said:
    Oktober 12, 2019 pukul 3:55 pm

    Subhanallah…… Luar biasa
    Sungguh berbahagia dn sangat beruntunglah bg diri seseorang yg telah dapat mengenali DIRI SEJATINYA …

    Smg dlam waktu dekat ini dinegeri yg kita cintai segera dikirim seorang agamawan pemimpin dn usahawan yg sperti dlam cuplikan kitap sarasamuscaya…. Aamiin

    Dn smg seluruh penghuni2 negeri ini mau berusaha dn belajar untuk dapat mngenali diri sejati nya supaya dapat merasakan kebahagian dn kedamaian dalam hidup yg sebenar2nya ….Aamiin ya rabbal alamiin

      Asyifa wahida said:
      Oktober 12, 2019 pukul 3:56 pm

      Mas kulo Nyuwun izin bagiin enggih…
      Matur suwun

        Harunata-Ra responded:
        Oktober 12, 2019 pukul 4:04 pm

        Oh silahkan aja mbak.. Moga ttp bermanfaat.. 😊

      Harunata-Ra responded:
      Oktober 12, 2019 pukul 4:02 pm

      Nuwun ya mbak utk kunjungannya.. 🙂

      Betul, sangat beruntunglah bagi yg bisa, karena itu adalah hal yg menakjubkan..

      Aamiin.. Semoga begitu ya mbak.. Karena skr ini justru kebalikannya, makanya kondisi yg ada jadi kacau balau dan jauh dari kemakmuran.. 🙏

      Iya, mari kita berdoa agar byk yg bisa mengenal diri sejatinya sendiri.. Karena itulah modal utama utk kebangkitan Nusantara.. 😊

    Asyifa wahida said:
    Oktober 13, 2019 pukul 6:49 am

    Enggih sami2 mas…
    Tpi kulo yg matur suwun dapt ilmu baru terus…

    Enggih mas..

    Enggih mas sangking kacaunya sampe2 sdh gk bisa lagi melihat mana hitam dn mana yg putih…sungguh mmbingungkan..

    Enggih mas… Mugi2 dngn sedikit waktu yg HYANG ARUTA beri ini mampu menyadarkan dn mnggerakkan saudara2 kita untuk mmpelajarinya… Aamiin ya rabbal alamiin

      Harunata-Ra responded:
      Oktober 14, 2019 pukul 12:56 am

      Iya mbak sama2lah.. saling berbagi ilmu itu indah kok.. 🙂

      Ya namanya juga akhir zaman mbak.. seperti yg sudah2 akan penuh dg kekacauan dan kebingungan.. kegelapan menjadi dominan sebab perilaku manusianya sendiri.. Mayoritasnya udah menyerah utk hidup dlm kebenaran, bahkan lebih parahnya lagi sampai gak tau apa itu kebenaran..

      Aamiin.. iya mbak, kita ttp harus berharap dan mendoakan.. masalah hasil biarlah wkt yg menjawabnya.. karena pada dasarnya setiap pribadi itu akan menanggung akibat dari perbuatannya sendiri, cepat atau lambat..

        Asyifa wahida said:
        Oktober 14, 2019 pukul 4:19 pm

        Enggih mas… Matur suwun kagem semua2nya …

        O enggih mas td sekitar jam 4 sore merapi erupsi melih..

        Harunata-Ra responded:
        Oktober 15, 2019 pukul 1:39 am

        Okelah mbak.. 🙂
        Oh ya? saya gak tau, gak liat berita.. tapi kata temen yg tinggal di Jogja skr Merapi emang sering erupsi walau gak sebesar di tahun 2010 silam..

    Asyifa wahida said:
    Oktober 19, 2019 pukul 2:19 am

    Enggih mas ….
    Barangkali mau meletus mas …waallahu’alam mas

      Harunata-Ra responded:
      Oktober 19, 2019 pukul 4:03 am

      Hmm bisa jadi mbak.. kita tunggu aja waktunya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s