Kemegahan Armada Laut Nusantara

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Untuk melengkapi apa yang sudah disampaikan dalam tulisan sebelumnya, kali ini kita akan mengupas kembali tentang keagungan para leluhur kita dulu. Dan dari sekian banyak kerajaan besar yang pernah ada di Nusantara, maka ada beberapa yang menurut penulis sangat istimewa, khususnya tentang armada maritimnya – tanpa mengurangi kehebatan dari kerajaan lainnya. Sebut saja kerajaan Sriwijaya (671-1183 M), Medang (723-1007/1016 M), Kadiri (1042-1222 M), Singhasari (1222-1292 M), dan Majapahit (1293-1527 M). Semuanya terkenal dengan kekuatan militer lautnya (marinir) yang sangat disegani.

Namun kali ini kita hanya akan fokus pada dua kerajaan saja, yaitu Medang dan Majapahit. Dua kekuatan yang sangat besar dan tidak berlebihan jika dipandang sebagai negara super power pada zamannya. Lebih jelasnya mari ikuti penelusuran berikut ini:

1. Parade mengerikan dari kerajaan Medang
Keagungan dari kerajaan yang didirikan oleh Prabu Sanjaya ini bukanlah sekadar isapan jempol belaka. Karena di dalam Riwayat Kelantan, yang disampaikan oleh Lontara Project.Com, disebutkan bahwa sekitar tahun 760 dan 762 Masehi, seorang duta dari kerajaan Annam yang bernama Ngo Sri Voung Ngan, sampai dua kali datang ke pusat kerajaan Medang yang berada di Jawa Tengah. Ia berangkat dari Giao Chi (ibukota kerajaan Annam, sekarang menjadi kota Hanoi, Vietnam) untuk bisa menghadap kepada penguasa kerajaan Medang kala itu (kemungkinan adalah Prabu Sanjaya atau Rakai Panangkaran). Tujuannya adalah meminta bantuan karena selama berabad-abad Annam telah menjadi bagian dari provinsi sebelah selatan kekaisaran Dinasti Tang dan mengalami Chinaisasi dalam segi kebudayaannya.

Dihadapan raja Medang sang duta besar Annam itu meminta bantuan agar negaranya dibebaskan dari pendudukan Tiongkok. Raja Medang pun mengabulkan hal tersebut dan mengirimkan pasukan marinirnya secara besar-besaran pada sekitar tahun 767 Masehi. Pasukan ini adalah gabungan dari armada Jawa, Melayu, dan Laos, dengan melibatkan 5.700 kapal perang. Dipimpin oleh Sang Satiaki Satirta dan Suwira Gading. Dan berita penyerangan ini pun dimuat di dalam beberapa kronik penjelajah, seperti yang dicatat oleh Abu Zaid Hasan pada tahun 774 dan 787 Masehi.

Catatan: Bandingkan dengan perang Troya yang sangat terkenal itu, yang dianggap sebagai perang terbesar, ternyata jumlah armadanya tak sebanding dengan yang pernah dikirim oleh kerajaan Medang. Dan menurut kisahnya Raja Agamemnon mengirimkan armada gabungan seluruh Yunani (32 kerajaan) untuk menyerang kerajaan Troya sebanyak 1227 kapal saja. Ini tidak ada apa-apanya dengan dahsyatnya jumlah armada tempur milik para leluhur Nusantara dulu.

Gambar 1. Ilustrasi kedatangan armada Yunani dalam film Troy pada tahun 2004.

Dan ini jelas merupakan parade besar yang mengerikan, karena itu dicatatkan bahwa formasinya bagaikan deretan pulau yang bergerak. Kapal-kapal itu mengangkut tidak hanya pasukan marinir, tetapi juga kuda, gajah dan berbagai keperluan logistik. Jadi bisa kita bayangkan ukuran kapal Medang yang digunakan pada masa itu. Tentunya besar-besar dan berteknologi mutakhir pada masanya. Dan setelah menyeberangi Teluk Siam mereka lalu mendarat dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Pasukan ini kemudian muncul dari arah pegunungan dan langsung menyerang kota Giao Chi.

Jalannya pertempuran yang berlangsung selama 6 bulan untuk membuat Tiongkok akhirnya menyerah, menunjukkan bahwa militer yang ditempatkan oleh Dinasti Tang di Vietnam kala itu sangatlah besar sehingga tidak mudah untuk ditaklukkan. Disisi lain bahwa pengiriman armada laut dalam jumlah yang sangat banyak itu menunjukkan bahwa teknologi marinir era Medang sudah sangat maju. Karena selain mengangkut pasukan tempur, maka sudah barang tentu juga telah mengangkut berbagai kebutuhan logistiknya. Ini jelas membutuhkan persiapan yang matang dan koordinasi yang solit. Sungguh hebatnya para leluhur kita dulu.

2. Kejayaan maritim Majapahit
Sementara itu, kekuatan maritim di masa kerajaan Majapahit, khususnya pada era Prabu Hayam Wuruk (1350-1389 M), juga sangat mengagumkan. Dalam berbagai konfrontasi, armada laut Majapahit saat itu benar-benar sudah menjadi “hantu laut” yang mengerikan. Armada laut Mongol yang terkenal dengan kehebatannya, dan kerajaan lainnya benar-benar harus berpikir ulang untuk berani memajukan kapalnya demi memasuki Selat Malaka yang saat itu dibawah perlindungan Majapahit. Dalam buku Menuju Puncak Kemegahan Majapahit, Prof. Slamet Mulyana telah mengidentifikasikan bahwa wilayah Jambi kala itu sebagai pangkalan armada barat kerajaan Majapahit. Armada ini diduga berada dibawah kendali Adityawarman.

Selanjutnya, dalam penyerbuan ke Tumasik atau Singapura sekarang, yang dicatat dalam manuskrip Sulalatu’l Salatin (karya tulis Melayu yang menggunakan abjad Jawi : yaitu abjad Arab yang diubah untuk menuliskan bahasa Melayu), menjelaskan bahwa Majapahit pernah mengirimkan 1.800 kapal perang, 300 di antaranya adalah kapal Jung. Kapal jenis ini bisa kita tafsirkan setara dengan kapal induk di masa sekarang.

Gambar 2. Foto: Salah satu potongan teks Sulalatu’l-Salatin.

Kemudian Afonso de Albuquerque, seorang pelaut terkenal yang berperan dalam pembentukan Pemerintahan Kolonial Portugis di Asia, harus mengakui kehebatan dari armada Jawa saat itu. Ia keheranan dengan kapal Jung milik Kesultanan Demak. Semuanya karena teknologi yang dimiliki atau yang mereka adopsi itu berasal dari Majapahit. Kapal Jung ini memiliki empat tiang kapal yang terbuat dari kayu yang berlapis empat sehingga mampu menahan tembakan meriam. Padahal meriam Portugis dalam Hikayat Hang Tuah dicatatkan mampu meluluhlantakkan jembatan besar di Malaka.

Tom Pires, seorang penulis, bendahara, dan pelaut Portugis dalam catatannya yang berjudul Suma Oriental, menggambarkan ukuran kapal Portugis yang paling besar sekalipun ternyata tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan kapal Jung. Kapal besar ini diperkirakan memiliki bobot 600-1.000 ton, yang jika ditabrakkan ke kapal Eropa akan langsung berantakan dan tenggelam. Di masa Majapahit, pergerakan kapal Jung akan diiringi oleh kapal-kapal kecil untuk menyerang sekaligus pelindung. Kapal-kapal kecil ini berisikan pasukan marinir yang mampu bergerak lincah dan cukup ganas sebagai penyerang di lautan.

Lalu, dalam buku Majapahit Peradaban Maritim karya Irawan Djoko Nugroho, telah dijelaskan tentang kehebatan maritim kerajaan Majapahit. Dalam buku tersebut menurut sang penulis, Tom Pires dan Gaspar Goreira mengatakan bahwa saking besarnya kapal Jung itu, maka tidak bisa merapat ke dermaga. Sehingga dibutuhkan sejumlah kapal kecil untuk keperluan bongkar muat atau mengisi kebutuhan logistik. Sungguh luar biasa.

3. Tentang konstruksi 
Masih menurut Irawan Nugroho, kapal Jung itu adalah kapal kayu operasional yang terbesar di dunia hingga abad ke-20, bahkan sampai kini. Sebagai perbandingan, kapal kayu terbesar milik Amerika pada abad ke-19 yang bernama Great Republic, dibuat sepanjang 100,5 meter saja. Sedangkan kapal Jung itu justru memiliki panjang 313-391,5 meter. Sangat jauh berbeda. Lalu bandingkan pula dengan kapal Titanic yang sangat terkenal itu, yang hanya memiliki panjang 269 meter, juga masih kalah panjang dengan kapal Jung Majapahit. Dan ukuran kapal Jung ini membuat kapal milik Laksamana Cheng Ho yang dianggap hebat itu menjadi tidak ada apa-apanya karena hanya sepanjang 138 meter saja. Belum lagi kapal Jung yang dimiliki oleh Majapahit saat itu, menurut Irawan Nugroho berjumlah 400 unit. Dan itu belum lagi yang bertipe Malambang dan Kelulus. Sungguh menakjubkan.

Hebatnya lagi, kapal Jung ini berteknologi knockdown, sehingga ketika kayu kapal menua atau rusak maka tinggal diganti yang baru tanpa perlu mempensiunkan keseluruhannya. Dan jumlah pelabuhan Majapahit, yang diidentifikasi lewat prasasti Trowulan, dikatakan ada sekitar 78 buah. Dan menurut Tom Pires (sekalipun ia hanya mencatat pelabuhan di sepanjang pantai utara Jawa saja), maka pelabuhan di Jawa saat itu berjumlah 25 buah. Sehingga dengan banyaknya pelabuhan ini menunjukkan bahwa infrastruktur Majapahit adalah yang terbaik di dunia. Hal ini disebabkan rata-rata jumlah pelabuhan negara-negara di dunia kala itu, yang bersifat internasional hanya berjumlah 1-3 saja. Sedangkan pelabuhan internasional di Jawa tercatat sebagai yang terlengkap dan terbaik di dunia, karena bisa menghadirkan barang perniagaan utama dunia pada masanya. Penjelasan mengenai hal ini ada dalam catatan para penjelajah dunia seperti Ibnu Battutah dan Ma Huan.

Gambar 3. Foto: Salah satu relief kapal laut di Candi Borobudur.

Tentang konstruksinya, maka pembuatan semua kapal perang Majapahit dipimpin langsung oleh pejabat tinggi kerajaan, misalnya Rakryan Tumenggung Mpu Nala yang merupakan panglima laut kerajaan. Di masa itu setiap kapal dibangun dari bahan baku kayu jati terbaik yang hidup selama ribuan tahun di hutan-hutan tanah Jawa. Ada pula kayu yang khusus diambil dari sebuah tempat/pulau terahasia di kawasan timur Nusantara, yang ukurannya sangat besar. Semua dikumpulkan hanya demi menciptakan sebuah maha karya maritim yang masyhur.

Ya. Kapal-kapal perang Majapahit itu, khususnya yang berjenis kapal Jung, berkonstruksi sangat kokoh sehingga mampu menahan tembakan bola-bola besi meriam tercanggih kala itu. Teknisi dan insinyurnya juga kepikiran untuk menyatukan bagian-bagian badan kapal bukan dengan paku tetapi dengan pasak-pasak besar yang saling dikaitkan dengan kuat dalam konstruksi yang rumit dan menjamin kekokohannya. Hal ini bisa memperkuat pertahanan kapal, disamping juga dengan adanya bantuan dari kapal-kapal serbu yang berukuran lebih kecil.

Kemudian, dalam jurnal perjalanan Jonhan de Marignolli atau juga Ibnu Battutah yang berlayar ke Nusantara di awal abad ke-14 Masehi, keduanya memuji kehebatan kapal raksasa Jung Jawa sebagai penguasa laut Asia Tenggara. Teknologi pembuatan kapal Jung ini tak jauh berbeda dari kapal bercadik yang digambarkan pada relief Candi Borobudur; karena seluruh badan kapalnya dibangun tanpa menggunakan paku. Disebutkan pula bahwa kapal Jung Jawa ini memiliki empat tiang layar dan terbuat dari papan berlapis empat. Ini merupakan teknologi kuno bangsa Nusantara yang canggih. Para nenek moyang kita sudah menciptakan banyak penemuan yang terbilang luar biasa pada masanya. Tukang kayu dari Jawa selama ratusan atau bahkan ribuan tahun sudah dikenal sangat terampil dalam membuat galangan kapal di beberapa kota pelabuhan di kawasan Asia Tenggara.

4. Formasi gugus tempur armada kapal perang Majapahit
Di zaman keemasan Majapahit, tepatnya pada masa Prabu Hayam Wuruk (1350-1389 M), terdapat dua tokoh militer jenius yakni Mahapatih Gajah Mada dan Laksamana Mpu Nala. Laksamana Mpu Nala sebagai Panglima Angkatan Laut Majapahit lalu menempatkan gugus kapal perang berjumlah puluhan atau ratusan untuk menjaga lima titik penting perairan Nusantara.

Armada gugus pertama bertugas di sebelah barat pulau Sumatera sebagai kapal perang penjaga Samudera Hindia di bawah pimpinan seorang Laksamana yang berasal dari Jawa Tengah. Mereka ini bertugas untuk menjaga dan menghadapi serangan atau gangguan dari ketiga benua sekaligus, yaitu Asia, Eropa dan Afrika. Armada gugus kedua adalah kapal perang penjaga Laut Kidul atau di sebelah selatan Pulau Jawa di bawah pimpinan seorang Laksamana dari Bali. Armada gugus ketiga bertugas menjaga perairan Selat Makasar, wilayah Ternate, Tidore, dan Halmahera di bawah pimpinan seorang Laksamana dari Makasar. Armada gugus keempat menjaga Selat Malaka dan Kepulauan Natuna di bawah pimpinan seorang Laksamana dari Jawa Barat atau Sumatera. Terakhir adalah Armada gugus kelima yang menjaga Laut Jawa hingga ke arah timur sampai ke kepulauan rempah-rempah di Maluku. Armada Jawa ini mengibarkan bendera Majapahit di tambah lagi bendera emas simbol istana Majapahit yang biasanya dipimpin oleh seorang Laksamana berasal dari Jawa Timur.

Di setiap armada gugus kapal perang ini terdapat kapal bendera tempat kedudukan pimpinan komando tertinggi bagi semua kapal penyerang, kapal perbekalan, dan pelindung kapal bendera itu sendiri. Dari kelima armada Majapahit itu, beban terberat ialah menjaga perairan Selat Malaka dan Laut China Selatan yang penuh perompak yang berpangkalan di sekitar wilayah Champa, Annam (Vietnam), dan Tiongkok. Armada keempat yang menjaga Selat Malaka itu biasanya dibantu oleh armada pertama penjaga Samudera Hindia jika perompak itu bisa melarikan diri ke barat laut menyusuri Selat Malaka. Begitu pula Armada Laut Selatan biasanya membantu Armada Jawa dalam menjaga keamanan kapal-kapal dagang pembawa rempah-rempah yang melalui Selat Sunda yang lebih aman menuju India, Timur Tengah, Afrika, dan Eropa. Tugas lain armada Laut Kidul ini adalah menjaga Selat Bali dan perairan selatan Nusa Tenggara dari berbagai macam gangguan, bahkan di sebelah selatan pulau Bali terdapat galangan kapal-kapal Majapahit yang cukup besar.

Armada ketiga bertugas menjaga kapal-kapal penyusup dari wilayah Mindanao-Filipina, sekaligus menjaga kepulauan rempah-rempah yang ada di Maluku jika kekuatan Armada Jawa sedang dipusatkan di perairan Jawa untuk mengawal sang Prabu Hayam Wuruk berkunjung ke wilayah pesisir timur pulau Jawa. Armada Jawa merupakan kekuatan terbesar Armada gugus kapal perang Majapahit, karena tugasnya paling berat dalam menjaga pusat kerajaan dan istana Majapahit, sekaligus menguasai jalur laut menuju ke kepulauan rempah-rempah Maluku yang berkedudukan langsung di bawah pemerintah pusat Majapahit.

Setiap kapal perang Majapahit bersenjatakan meriam Jawa yang disebut dengan Cetbang. Pandai besi yang membuat meriam tersebut berada di sekitar Blambangan (Banyuwangi). Cetbang Majapahit ini adalah karya penemuan dari Mahapatih Gajah Mada yang konon pernah belajar kepada tentara Mongol atau Tartar. Pengetahuan dalam pembuatan meriam Cetbang ini lalu ia wariskan kepada anak didik sekaligus sahabatnya sendiri, yaitu Mpu Nala, yang dikemudian hari menjadi seorang Laksamana tertinggi di kerajaan.

Gambar 4. Foto: Meriam Cetbang Majapahit yang tersimpan di The Metropolitan Museum of Art di New York, Amerika Serikat. Perhatikan lambang Surya Majapahit-nya.

Gambar 5. Foto: Sebuah galai dari Banten, 4 Cetbang atau Rentaka dapat terlihat.

Semua jenis kapal perang Majapahit mulai dari kapal perbekalan hingga kapal bendera adalah kreasi jenius dari Mpu Nala yang sekaligus seorang Laksamana Laut yang handal. Mpu Nala menciptakan kapal-kapal dari kayu jati dan sejenis kayu raksasa yang hanya tumbuh di sebuah pulau yang dirahasiakan. Pohon raksasa yang cocok untuk dibuat kapal itulah yang membuat kapal-kapal perang Majapahit sangat besar ukurannya untuk di masa itu. Sebagai perbandingan, saat itu kapal perang miliki Tiongkok rata-rata berukuran panjang ±25-30 meter, sementara kapal perang milik Majapahit justru berukuran ±75 meter. Ini belum lagi bila terkait dengan kapal raksasa yang biasanya disebut Jung, maka ukurannya lebih besar lagi.

Setelah Gajah Mada pensiun dan Mpu Nala pun wafat, maka kekuatan armada Majapahit berangsur-angsur melemah, apalagi tatkala terjadi perang Paregreg, kapal-kapal Majapahit ini saling serang satu sama lain dan kehancuran tak terelakkan lagi bagi seluruh armada kapal. Setelah Majapahit lemah, hanya tersisa Armada Jawa yang menguasai perairan Laut Jawa dan jalur laut menuju kepulauan rempah-rempah. Di kemudian hari kapal-kapal inilah yang sampai pada pemerintahan Kesultanan Demak. Lalu datanglah bangsa kulit putih (orang Eropa: Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda) yang tujuan utamanya ialah menguasai daerah penghasil rempah-rempah itu dengan modal kapal-kapal gesit dan lincah serta tidak terlalu besar ukurannya dibanding kapal Majapahit. Kapal-kapal asing itu pun bersenjata lebih unggul dalam meriam, yang bisa memuntahkan bola-bola besi dengan jarak tembak yang lebih jauh daripada kemampuan jarak tembak Cetbang Majapahit. Sehingga dengan demikian, lama kelamaan kejayaan armada perang Majapahit pun kian memudar, lalu hilang di telan waktu.

5. Kesimpulan
Sungguh, kapal-kapal perang kerajaan Medang dan Majapahit itu sangat hebat dan tangguh, tak perlu lagi diragukan. Mereka telah menjadi yang terdepan di dunia pada masanya. Tapi apa yang disaksikan oleh para pelaut asing semisal Afonso de Albuquerque, Tome Pires, Gaspar Goreira, Jonhan de Marignolli, Ma Huan, dan Ibnu Battutah itu adalah benda mati yang hanya menunjukkan kecerdasan akal pikiran, karya cipta, dan keunggulan militer dari para leluhur kita saat itu. Dan sebenarnya sumber daya orang-orangnya tentu lebih handal dari pada benda ciptaannya. Ini yang jauh lebih berharga dan mengagumkan.

Begitu pula dengan kita sekarang yang merupakan keturunan mereka. Kita pasti bisa menciptakan maha karya yang disesuaikan dengan zaman yang ada sekarang. Tinggal bagaimana kita bersepakat untuk hal itu dan konsisten untuk mewujudkannya. Karena kita sudah punya modal yang cukup. Buktinya PT. PAL (Penataran Angkatan Laut) Indonesia yang bergerak di bidang industri galangan kapal sudah terkenal dengan kapal-kapal perang dan dagang ciptaannya. Tinggal bagaimana akhirnya menjadi yang terdepan di dunia. Bahkan ada pula yang bergerak dibidang udara seperti PT. DI (Dirgantara Indonesia) yang merupakan industri pesawat terbang pertama dan satu-satunya di Indonesia dan di wilayah Asia Tenggara. Perusahan udara ini tidak hanya memproduksi berbagai pesawat tetapi juga helikopter, senjata, menyediakan pelatihan dan jasa pemeliharaan (maintenance service) untuk mesin-mesin pesawat. Keduanya itu adalah BUMN (Badan Usaha Milik Negara) yang menjadi industri strategis nasional bangsa kita. Hanya saja masih kurang pamornya bila dibandingkan dengan perusahan-perusahan kelas dunia milik negara lain. Masih butuh usaha dan keseriusan yang lebih baik lagi, khususnya dari pemerintah. Karena kita masih belum bisa menyamai keagungan dari para leluhur kita dulu – jika harus dibandingkan dengan zamannya.

Untuk itu, jika bangsa ini mau kuat dan maju, maka kita harus bersatu dan menyingkirkan segala ego antar golongan. Tetaplah sebagai bangsa Nusantara yang utuh dengan segala keragamannya. Banggalah dengan perbedaan itu, dan jadikan semuanya sebagai energi dalam kemajuan bersama. Dan belajarlah dari sejarah masa lalu, sebab runtuhnya kedua kerajaan besar itu (Medang dan Majapahit) bukan karena agresi militer atau invasi dari bangsa lain, melainkan oleh sebab konflik di internal kerajaan dan atau di kawasannya. Dan khususnya Majapahit, maka sebelumnya telah terjadi kerapuhan yang parah yang disebabkan oleh keserakahan dan pertentangan politik antar golongan. Itulah yang menjadi penyebab utama runtuhnya kerajaan sebesar itu. Lalu dengan runtuhnya Majapahit, maka terbukalah pintu penjajahan di Nusantara selama tiga abad lebih.

Lantas apakah kita sekarang menginginkan hal itu terulang lagi? Tanyakanlah pada hati nuranimu. Rahayu.. 🙏

Jambi, 26 September 2019
Harunata-Ra

Referensi :
* https://youtu.be/vuz0YgEJZ_c
* https://lontaraproject.com/2012/04/20/mencari-cina-untuk-we-cudai-part-i/?fbclid=IwAR2-1dQnz_1m62Kpynln0VLpVwwf11y1ZX3mqFU_V1QDOeA-sIDLw8piATM
* Dan lain-lain.

8 respons untuk ‘Kemegahan Armada Laut Nusantara

    Asyifa wahida said:
    Oktober 1, 2019 pukul 5:51 am

    Subhanallah…. Super keren dn super kreatif mmng para leluhur kita dahulu enggih mas …
    Smg dipenghujung zaman ini kita khususnya negeri ini yg keturunan bangsa hebat dapt /mampu mngambil hikmah pelajaran dn apapun yg telah dilakukan oleh leluhur kita dahulu sehingga mnjadi bangsa yg mampu mngembalikan kegemilangan negeri ini sperti dahulu lagi ..aamiin ya rabbal alamiin

      Harunata-Ra responded:
      Oktober 1, 2019 pukul 6:51 am

      Nuwun ya mbak Asyifa atas kunjungannya lagi.. semoga ttp bermanfaat.. 🙂
      Iya mbak.. leluhur kita itu emang luar biasa hebat dan sgt unggul.. buktinya aja yg masih byk blm terungkap..
      Setuju, di akhir zaman ini kita hrs mengambil hikmah dan pelajaran.. karena kita punya tugas untuk mengembalikan kejayaan negeri ini sekali lagi.. 🙂

        Asyifa Wahida said:
        Oktober 5, 2019 pukul 6:38 am

        Enggih mas sami2 …
        kulo yg matur suwun sampun bisa ikut menimba ilmu kebenaran sejarah dr para leluhur kita yg sbnar2nyaa lewat goresan pena panjenengan

        Enggih mas ..contoh nyata borobudur sampe hari ini masih mnjadi rahasia siapa sbnrnyaa yg mmbangun dn kapan waktunya Dan bangunan apa sbanrnya borobudur itu ?..

        enggih mas mugi2 di waktu yg sngat sempit ini saudara2 kita negeri ini masih ada yg sadar dn tersadarkan akan siapa dirinya

        Harunata-Ra responded:
        Oktober 5, 2019 pukul 7:13 am

        Iya deh mbak sama2lah..

        Hmm ttg Borobudur, sebenarnya pernah saya singgung di tulisan sebelumnya.. Cuma emg sih gak secara detil menjelaskan ttg siapa pendirinya dan kapan tgl perbuatannya.. Tapi yg jelas candi itu gak dibangun oleh kerajaan Medang Wangsa Syailendra, dan tentunya gak dibangun pula oleh Nabi Sulaiman AS.. Ada penguasa lain yg ttp berasal dari Nusantara yg mendirikannya.. Jika sudah waktunya fakta sejarahnya akan diungkap..

        Iya mbak, semoga saja walau kemungkinannya minim..

    Asyifa wahida said:
    Oktober 6, 2019 pukul 4:35 am

    Enggih mas….
    Aamiin ya rabbal alamiin ..mugi2 lewat goresan pena panjenengan juga
    Hyang Aruta membongkar kebenaran2 yg masih tersembunyi itu enggih..

    Enggih mas

      Harunata-Ra responded:
      Oktober 7, 2019 pukul 5:01 am

      Aamiin.. semoga saja begitu mbak.. terlalu byk yg tidak tepat atau justru sengaja dihilangkan..

    Asyifa wahida said:
    Oktober 8, 2019 pukul 11:32 am

    Enggih mas….
    Dn mmbuat kita generasi akhir Zaman ini semakin kehilangan jati diri sbagai keturunan leluhur yg super2 hebat

      Harunata-Ra responded:
      Oktober 8, 2019 pukul 12:23 pm

      Iya mbak.. kian hari semakin byk yg lupa dg jati dirinya sebagai bangsa besar.. bahkan tak sedikit yg tidak tahu bahwa dulu bangsa ini adalah bangsa yg mengagumkan dan disegani seantero dunia.. mrk termakan propaganda sejak masa kolonial dulu, dan skr pun semakin menggila saja.. byk upaya utk menjauhkan bangsa ini dari fakta sejarah masa lalunya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s