Membangun Peradaban Baru

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Melihat kondisi dunia belakangan ini, terlebih di negeri tercinta ini, timbul sebuah keinginan untuk kian menjauh dari keramaian namun tidak lantas hidup primitif. Ingin rasanya bisa terlepas dari sistem dan pola-pola umum kehidupan di Bumi ini. Dan ada harapan besar agar suatu saat nanti bisa berkumpul dengan sebuah komunitas yang sepemikiran tentang hakekat hidup ini. Atau jika memang perlu justru membentuk satu golongan yang hidup secara eksklusif ala para leluhur. Tentunya dibarengi dengan kearifan lokal dan kebijaksanaan universal.

Lalu apa yang terlintas dibenakmu jika mendengar nama Majapahit? Ku rasa semua dari kalian akan membayangkan betapa besar, hebat dan megahnya kerajaan yang dibangun oleh Dyah Rama Wijaya pada akhir abad ke-13 itu. Dan mungkin ada yang bahkan ingin mewujudkan kembali keagungannya, apapun caranya.

Ya itu tidak salah, hanya saja diriku justru sedikit berbeda. Yang ku rindukan adalah hidup sebagaimana penduduk Majapahit ketika masih berupa wilayah perdikan. Hidup dalam kesederhanaan namun dipenuhi rasa cinta dan kebersamaan. Dan lebih jauh lagi ku ingin hidup dengan terlepas dari hiruk pikuk dunia yang semakin edan ini. Jauh di pedalaman agar bisa menyatu dengan alam, dan hidup dengan memanfaatkan sumber daya sekitar. Tapi disini bukan berarti harus tradisional, karena tetap menggunakan teknologi maju yang tepat guna.

Lantas bagaimana itu bisa terwujud? Bagaimana caranya? Jawabannya bahwa semuanya itu sudah dipersiapkan sejak lama, dan perlahan-lahan semua teori dan informasinya telah dikumpulkan. Tinggal menerapkannya saja, persis ketika para leluhur kita dulu membangun peradabannya.

Sungguh, jika memang sudah waktunya ingin rasanya segera mengajak orang-orang yang jenuh dengan keadaan dunia ini untuk berhijrah. Jelas ada syaratnya, yaitu hanya bagi mereka yang telah merdeka dan siap untuk hidup prihatin – pada awalnya. Tak bisa jika masih terikat dengan cara-cara hidup yang umum diterapkan di Bumi ini (materialis, kapitalis, dll). Sebab dalam sebuah perjalanan hidup yang paripurna itu siapapun butuh 5 hal yang harus dibawa, yaitu peta, energi, senjata-peralatan, dan kunci. Sementara yang terakhir adalah misteri. Itulah tujuan dan yang menjadi alasan bagi seseorang untuk siap berkorban demi meraih kebebasan yang sempurna. Hanya diri sendirilah yang bisa menemukannya. Bukan oleh katanya atau anggapan dari orang lain. Sehingga tak ada yang harus di lakukan selain tetap bertahan dan terus maju dalam kebenaran.

Catatan: Merdeka yang dimaksudkan disini misalnya sudah meninggalkan segala bentuk keduniawian yang umum terjadi kini, dan mengerti tentang seluk beluk urusan spiritual/keyakinan/agama minimal di tingkat yang ketiga, atau yang disebut Haqqin (kita sekarang menyebutnya sebagai Hakekat). Harus siap meninggalkan segala bentuk kenyamanan yang didapatkan sekarang, karena hidup di sana nanti – awal-awalnya – tidaklah mudah. Butuh tirakat kesabaran, ketekunan dan perjuangan yang sungguh-sungguh. Hanya yang kuat dan mampu sajalah yang bisa ikut.

Dan tak perlu lagi memikirkan tentang hingar bingar kehidupan di akhir zaman ini. Sebab keagungan itu tidak ditentukan oleh besar kecilnya wilayah, atau terciptanya segala bentuk pemenuhan hasrat keinginan daging, tetapi bagaimana bisa mensejahterakan kehidupan warganya, terutama batin. Artinya keadilan, keamanan, kedamaian dan kemakmuran itu harus terwujud meskipun di tempat yang terpencil. Inilah yang disebut dengan “Gemah ripah loh jinawi, toto tentrem karto raharjo” yang semestinya. Sehingga tidak usah lagi meniru, tetapi bangunlah tempatmu dengan caramu sendiri. Cara yang telah diwariskan oleh para leluhurmu yang bijak. Karena apa yang baik di tempat lain belum tentu baik ditempatmu. Kau harus cermat dalam urusan ini, terutama saat membuat keputusan dan menerapkannya.

Sungguh, diri ini kian membayangkan jika nanti bisa bersama orang-orang yang merdeka itu dalam membangun peradaban yang indah permai. Di sebuah lembah, di pinggiran sungai yang jauh dari hiruk pikuk dunia kini, lalu menerapkan konsep hidup ala para leluhur. Apapun yang dibangun disana, semuanya menerapkan prinsip yang selaras dengan alam. Keseimbangan sangat diutamakan, agar menjadi harmonislah kehidupan setiap makhluknya. Dan apa-apa yang menyangkut dengan urusan pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan semuanya mengikuti yang sudah berhasil diterapkan oleh para leluhur kita dulu. Hal ini akan menunjang kehidupan di tempat itu. Karena bagaimanapun, selama masih hidup di alam dunia ini kita tetap membutuhkan hal-hal pokok tersebut. Bahkan tidak boleh mengabaikannya.

Lalu, mengenai teknik/metode/sistem pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanannya, maka ada banyak contoh yang bisa diambil dari masa lalu. Salah satunya dengan mengikuti tata cara yang pernah dikembangkan oleh Ratu Prabawati Sekar Wardhani untuk negerinya. Karena memang di masa penguasa kerajaan yang pernah ada di seputaran Banten-Jakarta-Jabar-Jateng itu kehidupan rakyatnya sangat aman dan makmur. Tentang bagaimana caranya, maka ada 5 jilid kitab yang khusus menjelaskannya. Itu adalah warisan yang sangat berharga dari sang ratu, karena bahkan sampai menjelaskan tentang bagaimana caranya membangun sebuah kota yang indah. Semua detilnya ada di sana, tinggal mengikutinya saja, niscaya akan terwujudlah kesejahteraan.

Catatan: Maaf kami tidak bisa menyebutkan nama dan waktu dari kerajaan sang ratu, ada protap yang harus dipatuhi. Namun begitu sosok ini tidak kalah bijaknya bila harus dibandingkan dengan Ratu Shima dari kerajaan Kalingga. Beliau adalah sosok yang sangat cerdas dan kharismatik, tapi sudah tidak ada lagi dalam catatan sejarah formal, bahkan dalam tutur cerita (dongeng, legenda, mitos) di Nusantara kini. Padahal peradaban yang dibangun di negerinya begitu mengagumkan, bahkan melebihi keagungan dari kerajaan Tarumanagara dan Galuh.

Pun, di sana akan ada model kehidupan yang bersahaja. Setiap orangnya berbudi pekerti luhur, murah senyum, dan tulus dalam bertindak. Sementara itu, selain harus tetap bekerja dan gotong royong demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, siapapun juga rutin berolah raga dan batin (kanuragan, kadigdayan, dan kasepuhan). Akan ada informasi dan ilmu pengetahuan khusus yang diajarkan, yang semuanya itu bertujuan untuk bisa membangkitkan kemampuan tersembunyi dalam diri seseorang. Hal ini jelas akan meningkatkan level hidup siapapun. Tujuannya adalah demi meraih cinta dan keridhoan-NYA. Sehingga terciptalah kembali apa yang disebut dengan “Agama Budhi” yang sesungguhnya.

Ya. Aku ingin tempat sepertiย Syinastra bisa dibangun kembali, atau mungkin seperti Valhadir dapat kembali muncul di Bumi ini lagi, atau Astana, atau Niwata, atau jika memang diizinkan-NYA maka yang seperti Hur ‘Anura pun dapat hadir pula di muka Bumi ini lagi. Karena semuanya itu adalah pencapaian tertinggi dari umat Manusia, terlebih bagi mereka yang telah merdeka dan bebas menata kehidupannya. Karena zuhud itu tidak berarti meninggalkan kehidupan dunia ini sepenuhnya, tetap memanfaatkannya, hanya saja sebatas keperluan saja dan tidak terikat lagi dengannya. Harus tetap mengedepankan kebenaran yang sesuai dengan petunjuk Ilahi. Sebagaimana yang telah di lakukan oleh penduduk Valhadir, Syinastra, Astana, Niwata, dan Hur ‘Anura dulu.

Hmm.. Apakah ada yang mau ikut serta? Dan seandainya Hyang Aruta (Tuhan YME) mengizinkan, maka semuanya akan bahagia. Semoga terwujud dalam waktu dekat. Aamiin.

Mugia Rahayu Sagung Dumadi.. ๐Ÿ™

Jambi, 25 September 2019
Harunata-Ra

Catatan akhir: Silahkan mempersiapkan diri agar bisa ikutan, karena siapa tahu apa yang diangan-angankan di atas bisa terwujud. Dan sungguh ingin rasanya diri ini bersama-sama dengan kalian dalam menikmati kemerdekaan dan kebebasan yang sesungguhnya.

34 respons untuk โ€˜Membangun Peradaban Baruโ€™

    Asyifa wahida said:
    September 25, 2019 pukul 8:53 am

    Subhanallah …..mmbayangkan mawon sudah sangat bahagia, apalagi bisa turut menikmati kehidupan di alam bebas nan asri ya sulit untuk di jelaskan dngn kata2

      Harunata-Ra responded:
      September 26, 2019 pukul 5:22 am

      Nuwun ya mbak Asyifa atas kunjungannya lagi.. Betul, hal itu yg jadi cita2 sejak dulu.. Seandainya terjadi, sungguh nikmat.. ๐Ÿ˜Š

        Asyifa wahida said:
        September 26, 2019 pukul 9:15 am

        Enggih mas mugi2 gk lama lagi enggih mas

        Harunata-Ra responded:
        September 26, 2019 pukul 11:29 am

        Aamiin.. Semoga begitu mbak.. ๐Ÿ˜Š๐Ÿ™

    Bunga said:
    September 25, 2019 pukul 9:27 am

    Subhannallah ๐Ÿ™

      Harunata-Ra responded:
      September 26, 2019 pukul 6:06 am

      Nuwun ya mbak Bunga.. ๐Ÿ˜Š๐Ÿ™

    Asyifa wahida said:
    September 25, 2019 pukul 10:16 am

    Dan kalo bisa peradaban yg akan dibangun oleh para insan yg merdeka diakhir zaman ini dapat mnggungguli para penghulunya/leluhur2 dr negeri SYINASTRA,VALHADIR,ASTANA,NIWATA,HU’ANURA …AAMIIN YA RABBAL ALAMIIN

      Harunata-Ra responded:
      September 26, 2019 pukul 5:33 am

      Hmm.. Mungkin disini espektasi kita sedikit berbeda neh mbak.. Dalam bayangan saya justru tidak perlu ada kompetisi ato hrs menjadi lebih unggul dari peradaban masa lalu.. Disana justru tempat yg sgt natural, sederhana dan jauh dari kemegahan duniawi.. Gak ada lagi hasrat utk adanya peradaban hebat, besar ato yg sejenisnya.. Karena itulah yg tinggal disana pun hanya orang2 yg telah merdeka dan mrk itu hanya sebatas mempersiapkan diri utk bisa melanjutkan kehidupan selanjutnya.. Tentang adanya teknologi, itu hanya utk bisa membantu kehidupan, khususnya utk lebih mudahnya memenuhi kebutuhan pokok hidup sehari-hari saja.. Gak lebih dari itu..

      Jadi gak ada keinginan apalagi kewajiban utk membangun peradaban besar atau megah disana.. Terlebih hal seperti itu bukanlah tugas dan kewajiban kami, itu adalah hak dan tugas dari Sang Pemuda di tempat lain.. kami cuma ingin hidup sederhana dan penuh kedamaian saja.. Gak ada urusan dg ketatanegaraan ato menata dunia ini.. Itu tugasnya org lain yg sudah terpilih, kami bukan siapa2 dan tak ingin apa2 lagi kecuali kebahagiaan.. ๐Ÿ˜Š

        Asyifa wahida said:
        September 26, 2019 pukul 9:18 am

        Subhanallah…. Jdi teringat masa kecil kulo yg masak mnggunakn kayu dngn perabotan dr tanah semua nyuci mandi disungai ambil air disumur timba….. Mau bnget kulo hidup sperti ini lagi mas

        Harunata-Ra responded:
        September 26, 2019 pukul 11:44 am

        Waaah masa kecil yg luar biasa dan menyenangkan ya mbak.. Sungguh beruntunglah jenengan.. ๐Ÿ˜Š

        Oh ya, saya luruskan sedikit ya mbak, sekalian info juga nih.. Bahwa di sana nanti rencananya khusus utk memasak tidak harus pake kayu bakar.. Ada teknologi canggih yg tepat guna dan ramah lingkungan dengan membuat kompor yg didalamnya terdapat konduktor, isolator, dan generatornya sekaligus.. Nah yg menjadi sumber energinya adalah batu kristal dg penanganan khusus.. Hasilnya akan sama dg kompor gas atau kompor listrik skr ini, bisa cepat memasaknya, alias gak selama dan seribet kalo pake kayu bakar.. Semua itu karena mengikuti apa yg pernah diterapkan oleh para leluhur kita dulu.. Jika diizinkan-Nya, tentu bisa terwujud dg mudah nanti..

        Begitu pula dg urusan MCK ya gak harus di sungai.. Ttp di dalam bangunan yg di desain khusus di dalam rumah sementara airnya disalurkan dari sumber air melalui pipa2 yg terhubung dg pompa hidram.. Tapi gak di larang kok kalo ttp maunya di sungai.. Artinya, ttp aja pake teknologi, namun sgt ramah lingkungan dan gak mengubah ekosistem yg ada..

        Begitu rencananya.. Terwujud ato gak ya liat nanti.. ๐Ÿ˜Š

    Abdurohman010 said:
    September 26, 2019 pukul 10:16 am

    Bolehkah saya ikut ? apa yang panjenengan sampaikan…selaras dengan keinginan saya…yang ingin berkumpul dengan orang-orang yang mengutamakan Allah dan kehidupan bathinnya….kehidupan yang bersahaja…menyatu dengan alam….menitiberatkan kepada amal ibadah dan penghambaan kepada Tuhan….

      Harunata-Ra responded:
      September 26, 2019 pukul 11:50 am

      Oh silahkan aja mas Abdurrohman.. Siapapun boleh ikutan tanpa melihat latar belakangnya (suku, bangsa, ras dan keyakinan).. Yg penting harus sudah terbebas dan merdeka dulu hati dan pikirannya, kalo gak nanti gakkan sanggup.. Karena ini bukanlah hijrah yg biasa.. Tapi hijrah secara total dg tujuan yg eksklusif.. ๐Ÿ˜Š

        Abdurohman010 said:
        September 27, 2019 pukul 4:09 am

        Ayo mas…kita wujudkan…dengan membentuk semacam wadah…atau grup dulu mungkin ?

        Harunata-Ra responded:
        September 27, 2019 pukul 7:54 am

        Hmm.. dalam hal ini gak bisa dg cara-cara konvensional sih mas.. Dan untuk berkomunikasi, saat ini hanya lewat frekuensi Meta, Alfa dan Omega saja.. ๐Ÿ™‚

        Abdurohman010 said:
        September 27, 2019 pukul 9:47 am

        frekuensi Meta, Alfa dan Omega…gimana itu mas ?

        Harunata-Ra responded:
        September 27, 2019 pukul 12:37 pm

        Ya begitulah mas.. Gak bisa saya wedarkan disini.. Maaf ๐Ÿ™๐Ÿ˜Š

    Guntur Satria Putra said:
    September 27, 2019 pukul 2:37 am

    aamiin..aamiin..aamiin..mari bersinergi mas

      Harunata-Ra responded:
      September 27, 2019 pukul 7:44 am

      Oke, terima kasih mas Guntur karena masih mau berkunjung.. ๐Ÿ™‚

        Asyifa wahida said:
        September 30, 2019 pukul 7:14 am

        Alhamdulillah enggih mas…dn kulo sangat merindukan kehidupan masa kecil kulo

        Subhanallah…..
        Mugi2 apapun yg panjenengan dn kita khususnya kulo segera di jadikan nyata olehnya/HYANG ARUTA dalam waktu dekat ini… Aamiin ya rabbil alamiin

        Nyuwun swu mas nembe blas
        Teng kampung susah sinyal

        Harunata-Ra responded:
        Oktober 1, 2019 pukul 2:46 am

        Waah nyante ajalah mbak.. kapan sempatnya aja.. ๐Ÿ™‚

        Ya semoga mbaknya dapat mengulangi masa kecil walau udah dewasa..

        Aamiin… semoga begitu ya mbak.. kita sama2 berdoa dan terus mempersiapkan diri masing2.. ๐Ÿ™‚

    Yoga Setya said:
    September 27, 2019 pukul 1:04 pm

    Ahh sungguh kehidupan yg bersahaja, berkumpul dengan orang2 yang berbudi luhur bergotong royong membangun peradaban. Jauh dari caci maki dan segala penyakit hati karena penduduknya sudah merdeka. Smoga sy msh diberikan kesempatan untuk terus memperbaiki diri agar bisa berkumpul dengan orang2 luhur ini ๐Ÿ™

      Harunata-Ra responded:
      September 27, 2019 pukul 3:47 pm

      Iya mas Yoga, kebersahajaan itu adalah jalan kemuliaan.. Semoga kita bisa sama2 berkumpul nanti.. ๐Ÿ˜Š

      Dan sekali lagi nuwun karena masih mau berkunjung.. Ttp semangat.. ๐Ÿ˜Š๐Ÿ™

        Delphi said:
        Oktober 1, 2019 pukul 2:25 pm

        Semoga hyang aruta memberikan jalan bagi kita semua untuk dapat berkumpul dalam sebuah tatanan kehidupan sederhana yang menyeimbangkan batin dan zahirnya, hidup dalam kedamaian, keheningan dan menyatu dengan alam seperti yg mas oedi sampaikan, semoga terwujud dalam waktu dekat sesuai kehendakNya saja,

        Harunata-Ra responded:
        Oktober 2, 2019 pukul 2:30 am

        Aamiin.. semoga begitu mas Delphi, karena itu adalah anugerah yg sangat berharga di kehidupan dunia yg sementara ini.. ๐Ÿ™‚
        Sekali lagi nuwun ya mas, karena masih mau berkunjung.. ttp semangat dan teruslah mempersiapkan diri.. ๐Ÿ™‚

        Delphi said:
        Oktober 2, 2019 pukul 6:22 am

        Aamiin, semoga kita mendapat petunjuk dari hyang aruta dan tidak kendur dalam mempersiapkan diri ya mas oedi, minta doanya juga

        Harunata-Ra responded:
        Oktober 2, 2019 pukul 7:21 am

        Iya mas, kita saling mendoakan aja deh.. Mungkin doa salah satu dari kita yg dikabulkan.. ๐Ÿ˜Š

    awandoku said:
    September 28, 2019 pukul 11:39 pm

    Wah… Lama tidak komentar, cuma jadi silent reader.

    Nampaknya memang frekuensi nya sekarang dialihkan untuk mempersiapkan transformasi ya kang

    Saya juga ga tahu, ntah kenapa pemikiran jadi tambah liar. Jadi aneh mulai mempelajari hal hal yang tidak tahu yang ada didunia, iya kang sebetulnya kalau menurut pemahaman yang diri ini pahami yang ada didunia itu tidak salah atau apapun lah, cuma salah penempatannya saja, sehingga yang harusnya A dikasih B atau C

    Ya mungkin itu cara Sang Pencipta untuk mengajarkan makhluknya, step by step. Dengan ditunjukan dan kita menganalisa sesuai kemampuan otak dan hati dan terus meningkatkan kemampuan manusianya juga dengan tidak terikat akan duniawi. Namun apalah daya diri ini masih melekat akan dunia, dan masih berupaya, dan pasrah pada Sang Pencipta.

    Rahayu Kang

      Harunata-Ra responded:
      Oktober 1, 2019 pukul 2:43 am

      Rahayu juga mas… Waah iya ya mas Awandoku, lagi sibuk ya? Nuwun karena masih mau berkunjung.. ๐Ÿ™‚

      Hmm.. betul mas, karena dalam waktu berkala frekuensinya emg kadang dipindahkan.. Tapi yg kali ini, khususnya yg terkait dg pembahasan dalam artikel ini tidak bertujuan utk transformasi kok.. bahkan gak ada kaitannya sama sekali karena emang berbeda..

      Iya mas, semuanya udah di ciptakan dg sempurna, hanya saja kadang makhluk sendirilah yg salah menempatkannya, hasilnya jelas mengacaukan keseimbangan.. makanya jika itu terjadi, perlu ada perbaikan agar terciptalah keharmonisan lagi.. Itulah yg sering saya bilang dengan pemurnian total kehidupan.. kehancuran atau kebangkitannya adalah bagian dari pengajaran hidup dari Sang Pencipta bagi setiap makhluk-Nya.

    Asyifa wahida said:
    September 30, 2019 pukul 7:28 am

    Matur suwun kagem infonya enggih mas….

      Harunata-Ra responded:
      Oktober 1, 2019 pukul 2:47 am

      Nggih sami2lah mbak.. ๐Ÿ™‚

    Asyifa wahida said:
    Oktober 1, 2019 pukul 5:41 am

    Enggih mas….
    Matur suwun kagem doane enggih mas..
    Pasti mas kulo sllu berdoa yg trbaik untuk kita semua khusus nya panjenengan lan skluargi

      Harunata-Ra responded:
      Oktober 1, 2019 pukul 6:48 am

      Nggih mbak.. nuwun utk doanya, gitu juga utk jenengan dan keluarga.. ๐Ÿ™‚

    wangsa said:
    Oktober 24, 2019 pukul 8:27 pm

    majapahit..bukannya penjajah nusantara?

      Harunata-Ra responded:
      Oktober 25, 2019 pukul 2:18 am

      Pertanyaannya diluar konteks pembahasan.. Maaf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s