Qwindalas : Lembah Keabadian

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Setelah sekian lama aku teringat akan sebuah keindahan yang bahagia. Tak ada lagi kesedihan, karena yang tertinggal hanyalah kedamaian. Dan aku sungguh ingin kembali berada di sana, di sebuah tempat yang menyadarkan diri ini untuk segera “menyatu lalu menghilang”. Tempat yang teramat menakjubkan, yang disebut dengan nama Qwindalas.

Qwindalas adalah sebuah lembah keabadian yang terahasia. Di tempat itu beberapa orang yang bisa mencapai keabadian pernah tinggal disana. Salah satu penyebabnya adalah bahwa di kawasan itu terdapat tempat khusus yang jika seseorang berlatih dan menempa dirinya di sana sambil menyerap energi alam dan spiritualnya, maka ia akan mendekat pada sifat DIRI Yang Abadi. Dan seseorang tentunya sudah lebih dulu harus memahami secara rinci tentang hukum Alam Semesta, dan menyingkirkan setiap ego, ambisi, keserakahan, kebencian, amarah, iri-dengki, pamrih, dan kesombongan yang dimiliki. Selalu menjaga ketenangan hati dan pikirannya, karena dia adalah pribadi yang bermoral tinggi dan memiliki kebijaksanaan yang luas.

Ya. Di tempat spesial itu energi spiritualnya terasa sangat kuat. Bahkan setiap pori-pori tubuh ini sampai bisa langsung merasakannya dan nyaman ketika berada di sana, terlebih jika mau berkonsentrasi walaupun sejenak. Dan jika berhasil menyatukan frekuensi diri dengan energi alamnya, maka pancaran kekuatannya bisa langsung diserap. Tapi ini bukan berarti bisa segera menjadikan seseorang abadi. Sebab yang bisa mencapainya adalah mereka yang telah meninggalkan semua rasa dan asa lalu memisahkan diri dari keduniawian. Hanya dengan begitulah seseorang bisa masuk ke dalam keheningan dan berlatih Azimantala sampai tuntas. Meskipun sulit, ia akan menempuh jalan yang sesungguhnya.

Hanya saja tak mudah untuk bisa sampai kesana. Ada “dunia lain” dibalik tebing batu putih yang bercelah sempit membentuk labirin. Setelah berjalan sejauh 1 dirus (±3 kilometer) melewati hutan dan padang rumput, ada pula sebuah jembatan misterius yang harus diseberangi. Tapi jangankan bisa menyeberanginya, karena untuk berhasil menemukannya saja amatlah sulit. Dan dari ribuan orang yang pernah berusaha, maka hanya 1% saja yang berhasil. Ke 99% lainnya justru tersesat di hutan atau padang rumput yang ada. Mereka sekedar berputar-putar selama berminggu-minggu dan akhirnya putus asa lalu memilih untuk kembali. Sebab disana ada kabut tujuh warna yang misterius yang penuh dengan ilusi. Hal ini akan membuat bingung siapapun yang berada di sana, sampai akhirnya ia jadi sangat ketakutan. Hanya yang telah siap dan punya keahlian khusus saja yang mampu melewatinya. Dan nasib buruklah bagi yang bahkan tak pernah bisa kembali lagi, alias hilang atau tewas mengenaskan.

Dan untuk sampai kesana tidak bisa di lakukan kapan saja. Harus di waktu yang tepat, yaitu pada perhitungan tahun ke 10 dalam kalender Vunahal, dan dari bulan Miros sampai di bulan Aterin saja. Hanya pada waktu itulah alam akan menunjukkan dimana lokasi dari titik awalnya perjalanan, tidak bisa yang lain. Dan lokasinya itu dimulai dari sebuah tempat yang tersembunyi, yaitu berada di sudut 45° dari sebelah barat Haltaf, 90° dari selatan Yonsen, dan 45° dari sisi utaranya Urilas. Siapapun yang menemukan tempat itu, ia punya kesempatan untuk bisa tiba di Qwindalas meskipun terdapat banyak halangan dan ujian yang harus dihadapi. Hanya yang berjiwa kesatria utama sajalah yang bisa.

O.. Begitu bahagianya bisa tinggal di sana, dan betapa mengesankannya bagi yang berhasil mencapai keabadian. Karena seorang yang abadi itu telah merasakan penderitaan dan kebahagiaan dunia ini lalu mengambil hikmahnya. Setelah itu barulah ia akan merasa bersyukur (syakur), tetap rendah hati (tawadhuk), dan selalu berserah diri (tawakal) hanya kepada-NYA dengan benar. Dengan begitulah ia pun akan naik tingkat sebagai hamba yang sejati.

Tapi sebelumnya ia pun telah hidup di dunia ini dengan harus merasakan seluk beluknya namun tidak terikat di dalamnya. Berpisah dengan yang dicintai, dan bertemu dengan yang tak diinginkan adalah hal yang sulit tapi ia bisa memahaminya secara mendalam. Karena di dunia ini pun memiliki setidaknya 7 penderitaan; yaitu usia, perubahan, penyakit, kesedihan, cemas, ragu-ragu, dan bingung, serta 7 kebahagiaannya; yaitu cinta, kasih sayang, kebersamaan, toleransi, gotong royong, derma (berbagi), dan kebajikan. Dimana kesemuanya itu pasti dirasakan oleh setiap orang yang berakal. Sehingga bila tidak bisa “menghilangkannya”, maka siapapun itu akan hidup dengan memiliki tujuan yang tanpa tujuan. Ia takkan bisa meraih keabadian yang sejati, karena telah mati sebelum waktunya.

Dan untuk mewujudkan segala hal di atas, maka dibutuhkanlah sebuah keheningan. Sebab keheningan itu adalah kemerdekaan yang sesungguhnya. Merdeka dari hiruk pikuknya duniawi dan segala kepentingannya, merdeka dari ego dan kesombongan hidup. Dalam keheningan, maka hilanglah sudah ke-aku-an diri lantaran sudah terbebas dari belenggu itu. Lenyap karena telah digantikan dengan kesatuan yang hakiki. Sehingga keheningan itu sendiri juga berarti kejernihan atau kemurnian yang suci, karena memang sudah tidak ada apa-apa lagi kecuali DIRI-NYA. Dan keheningan juga mampu membuat sadar dan membuka pandangan yang begitu luas. Dan oleh sebab telah berdamai dengan diri sendiri, maka dalam keheningan itu akan musnahlah segala bentuk kehendak dan harapan. Tak ada apa-apa lagi selain DIA Yang Esa. Begitulah wujud ke-manunggal-an yang hakiki.

Keabadian itu adalah keheningan dengan jalan mengenali diri sejati sehingga tak lagi mengenalinya. Tak lagi melihat, mendengar, dan juga merasakannya. Tak ada keadaan yang ada dan tiada. Tak ada pula apa-apa kecuali DIA saja

Untuk itu, sadarilah bahwa ternyata ada yang hanya bisa dipahami dengan berjalannya waktu dan proses yang bertahap, tidak dengan cara yang instan. Kesabaran dan ketekunan adalah yang utama, yang dengannya pula akan membentuk pribadi yang paripurna. Sedangkan hasilnya adalah bisa mendapatkan kebahagiaan dalam rupa keheningan yang indah. Inilah kehidupan yang sesungguhnya.

Mugia Rahayu Sagung Dumadi… 🙏

Jambi, 23 September 2019
Harunata-Ra

13 respons untuk ‘Qwindalas : Lembah Keabadian

    Asyifa Wahida said:
    September 24, 2019 pukul 6:08 am

    Subhanallah ……matur suwun kagem pelajarannya/nasehatnya yg bgtu indah dn sngat mndalam …dn untuk bisa memahaminya di butuhkan hati yg seluas samudra ….
    jujur mmng inilah yg kulo nanti2 slm ini ..
    sekali lagi matur suwun mas oedi yg budiman ….

      Harunata-Ra responded:
      September 24, 2019 pukul 8:43 am

      Nggih mbak Asyifa, syukurlah kalo gitu.. Betul emg perlu melakukan yg lebih utk bisa memahaminya.. Dan gak bisa sesaat, butuh wkt yg cukup.. 😊

      Oh ya? moga ttp bermanfaat nggih.. 🙏😊

        Asyifa Wahida said:
        September 24, 2019 pukul 1:25 pm

        Enggih mas…

    Asyifa Wahida said:
    September 24, 2019 pukul 6:10 am

    kesupen mas …
    izin bagiin enggih ..
    matur suwun mas …..

      Asyifa Wahida said:
      September 24, 2019 pukul 1:24 pm

      Mas oedi mf boleh tahu gak apa yg dimaksud kalender vunahal ?

      kapan terjadinya kalender vunahal ini ?

      dn bolehakah sy mngetahui apasajaa
      nma2 bulan dn tahun dalam kalender VUNAHAL ?
      matur suwun sak ageng2e enggih mas

        Harunata-Ra responded:
        September 24, 2019 pukul 2:01 pm

        Hmmm maaf ya mbak, ttg hal itu saya gak bisa jelaskan, itu bersifat rahasia dan emg ada protapnya.. Yg saya sampaikan di tulisan ini saja udah terlalu banyak loh.. 🙏😊

    Asyifa Wahida said:
    September 24, 2019 pukul 6:12 am

    O ya kesupen ….
    izin bagiin enggih mas
    matur suwun

      Harunata-Ra responded:
      September 24, 2019 pukul 8:44 am

      Oh silahkan aja mbak.. Gak perlu minta izin kok.. 😊

        Asyifa Wahida said:
        September 24, 2019 pukul 1:26 pm

        matur suwun mas ….

      Asyifa Wahida said:
      September 24, 2019 pukul 3:13 pm

      O enggih mboten menopo2 mas …
      nyuwun sewu atas ketidak sopanan kulo enggih

        Harunata-Ra responded:
        September 25, 2019 pukul 2:09 am

        Waah nyante ajalah mbak.. jg sungkan gitu.. Nuwun utk pengertiannya, sekali lagi maaf ya.. 🙂

    Asyifa wahida said:
    September 25, 2019 pukul 8:29 am

    Enggih matur suwun mas …

      Harunata-Ra responded:
      September 26, 2019 pukul 5:20 am

      Seeplah mbak… 👍

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s