Kesadaran Universal

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Jika kita mengamati kondisi dunia saat ini, maka sebagian besar Manusianya telah menunjukkan bukti-bukti bahwa tindakannya jauh dari apa yang disebut dengan Manusia sejati. Mereka semakin membuat jarak di antara sesamanya, begitu pula dengan Yang Menciptakannya; Tuhan. Kebenaran agama tidak lagi dijadikan sebagai jalan untuk menemukan kesadaran diri, malah sebaliknya dijadikan sebagai alat pembuat sekat dan legitimasi akan segala bentuk keserakahan, kebencian, dan kesombongannya.

Dan sebenarnya mereka yang hidup di zaman ini bukanlah orang-orang bodoh. Mereka adalah generasi yang pintar, hanya saja tanpa kesadaran dirinya justru hidup dalam rasa khawatir, bingung, dan kejahiliyahan. Mereka diperdaya oleh kepintaran dan pencapaian duniawinya saja. Sehingga lupa bahwa ketinggian ilmu dan peradaban itu jika tanpa disertai dengan kesadaran diri akan membuatnya terjerumus dalam kegelapan. Mereka akan hidup seperti mayat (zombie), tanpa arah tujuan karena tak ada lagi esensinya. Dan hal ini akan berujung pada kehancuran.

Jadi, dalam hidup ini sangat diperlukan apa yang disebut dengan kesadaran universal. Sebab bentuk kesadaran ini sifatnya menyeluruh, alias total. Sedangkan inti dari kesadaran universal itu adalah memahami dan menyadari tentang hakekat diri sejati dalam kesatuannya dengan energi Alam Semesta dan yang menciptakan Alam Semesta itu sendiri; yaitu Tuhan. Sehingga dalam kapasitasnya sebagai pribadi (personalitas), seseorang bisa menjalankan peranan yang sesuai dengan bakat, potensi, kemampuan dan keahliannya masing-masing. Ia pun akan bertindak dalam kebenaran yang murni.

Ya. Kesadaran universal adalah bentuk nyata dari kemanunggalan yang sejati, sebab hakekat dari setiap makhluk yang ada di seluruh Jagat Raya ini adalah dari energi/ruh Hyang Aruta (Tuhan YME). Dimana ketunggalannya itu berarti semua makhluk yang ada merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Yang Tunggal meskipun bukanlah Diri-NYA yang sejati. Sehingga setiap makhluk yang hidup atau mati, yang bergerak atau tidak, yang terlihat atau tidak, dan yang ada di seluruh Jagat Raya, semuanya memiliki peranan yang penting, minimal penting bagi dirinya sendiri dan golongannya. Semuanya pun sangat berharga dan membentuk siklus yang saling terikat satu dengan lainnya. Artinya jika salah satunya “sakit” atau keluar dari jalur yang semestinya, maka yang lainnya pun akan ikutan, atau setidaknya terpengaruh.

***

Catatan: Itulah kenapa di beberapa tulisan sebelumnya telah dijelaskan bahwa akan ada pemurnian total di seluruh Bumi ini. Salah satu bentuknya adalah dengan kedatangan “Pasukan Langit” yang bertugas untuk menertibkan kembali seisi Bumi dengan cara menyelamatkan yang terpilih dan memerangi yang kufur. Pasukan ini sudah ada di sekitar planet Bumi, hanya saja mereka belum menunjukkan dirinya. Mereka terus mengawasi dan menunggu komando untuk bertindak. Teknologi Manusia di Bumi ini tidak bisa mendeteksi keberadaan mereka.

Lalu mengapa mereka yang dari tempat lain itu datang kesini? Hal itu disebabkan kehidupan di Bumi ini sudah menyimpang dari jalan kebenaran Tuhan, sehingga energi negatif menjadi yang dominan dan hampir menguasai sepenuhnya. Nah, sebagaimana penjelasan di atas bahwa segala kehidupan di Alam Semesta ini saling terkait dan memengaruhi, makanya ketika di Bumi telah terjadi banyak kerusakan sehingga banyak memancarkan energi yang negatif, di tempat lain akan merasakan dampaknya. Sehingga dikarenakan harus ada keharmonisan di seluruh Jagat Raya, maka diperlukanlah sebuah pemurnian total. Bumi ini harus dibersihkan dari hal-hal yang negatif agar tercipta keseimbangan. Agar semua kehidupan di dunia ini pun bisa kembali indah dan harmonis.

Hal inilah yang menjadi alasan kenapa di masa lalu ada banyak kaum yang harus menerima azab ketika mereka berbuat kufur dan kerusakan di Bumi. Tujuannya agar keseimbangan energi (positif dan negatif) bisa terwujud lagi. Agar kehidupan di seluruh Alam Semesta kembali harmonis.

***

Untuk itu, seorang yang telah memiliki kesadaran universal pada mulanya ia sudah menyadari keterbatasan dirinya sebagai makhluk yang lemah dan tak berdaya. Tak ada lagi ego dan keangkuhan diri. Ia pun sudah terbangun dari sikap yang selama ini dijerumuskan oleh pengetahuan yang didapatkannya, bahwa dirinya itu hanyalah terbatas pada mata, telinga, serta anggota tubuh yang kelihatan. Padahal tidak demikian, karena ia tidak hanya sekedar materi saja, melainkan juga non materi. Bahkan tidak hanya sebatas akal dan pikirannya saja, tetapi juga hati dan jiwanya.

Tapi mayoritas Manusia kini tidak begitu. Inilah akibat dari kesadaran diri yang rendah, dimana hanya memahami bahwa diri Manusia atau pun yang lainnya itu adalah terbatas pada garis nyatanya saja (materi). Sehingga pada kenyataannya membuat seseorang tertipu oleh pengetahuan yang dia miliki. Karena sebenarnya justru lebih dari apa yang bisa dibayangkan, bahwa setiap makhluk itu (manusia, hewan, tumbuhan, gunung, logam, dll) sebetulnya terdiri dari berbagai kejadian-kejadian atau proses. Dan seluruh alam ini tersusun dari senyawa-senyawa kimia yang disebut dzarrah (atom), yang mana semuanya itu juga tergabung dalam satu kesatuan yang absolut dan dikendalikan oleh kekuatan adidaya yang tunggal.

Dan atom-atom itu menurut analisa terakhir adalah satu unit tenaga listrik, yang energi positifnya disebut proton dengan jumlah sebanyak energi negatifnya atau elektron. Keduanya bernilai sama alias seimbang. Dan di dalam atom ini, di setiap detiknya terjadi loncatan dan pancaran terus-menerus yang dinamakan charge and spark arus listrik. Itulah semburan-semburan yang tidak ada hentinya dari daya listrik. Dan kecepatannya sungguh luar biasa, sehingga tak mampu dilihat oleh mata biasa kecuali dengan kesadaran ilmu yang lebih tinggi serta luar biasa pula.

Catatan: Suatu atom biasanya terdiri dari sejumlah proton dan neutron yang berada di bagian inti (tengah) atom, dan sejumlah elektron yang mengelilingi inti tersebut. Dalam atom yang bermuatan netral, banyaknya proton akan sama dengan jumlah elektron-nya. Banyaknya proton di bagian inti biasanya akan menentukan sifat kimia dari suatu atom. Inti atom sering dikenal juga dengan istilah nukleus atau nukleon (nucleon), dan reaksi yang terjadi atau berkaitan dengan inti atom ini disebut reaksi nuklir.

Dan hal yang seperti pergerakan di dalam atom itu – yang sangat cepat dan tak bisa dilihat oleh mata biasa – sebenarnya telah diungkapkan oleh Al-Qur’an mengenai perjalanan gunung yang dianggap oleh orang awam seolah-olah hanya diam tak bergerak, padahal tidak. Yaitu:

.وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ ۚ صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ ۚ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ

Artinya: “Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan seperti jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan sempurna tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. An-Naml [27] ayat 88)

Sungguh, Al-Qur’an telah banyak mengisyaratkan tentang apa dan siapa sebenarnya diri Manusia itu. Namun kiasan ini tidak akan menjadi suatu kesadaran apabila pikiran dan perasaan jiwa seseorang tidak pernah dibawa ke alam yang tinggi (alam yang penuh dengan misteri dan rahasia). Artinya bukan berarti ilmu tasawuf yang sulit dimengerti, atau ayat-ayat Ilahi yang susah dipahami, namun kesadaran diri yang masih rendah sebagai penyebabnya. Dan ini harus diperbaiki dengan cara mau rutin menginstropeksi diri (muhasabah), terus berpikir (tadabbur), dan sering merenungi segala sesuatu (tafakur) secara lebih mendalam. Butuh waktu yang cukup, tidak bisa dengan cara yang instan. Harus ada usaha dan kemauan diri yang lebih untuk bisa tahu secara luas.

Lalu pada tahap selanjutnya, kesadaran diri menjadi pemahaman dimana diri sejati itu bukanlah apa yang bisa dilihat dengan mata kepala saja. Tubuh (raga, jasadiah, zohir) adalah susunan dari inti materi yang setiap saat bisa berubah atau berganti, sementara jiwa tidak dan akan tetap seperti sedia kala selamanya. Artinya diri sejati itu bukan lagi sekedar tangan, kaki, badan, dan kepala atau yang tampak saja. Akan tetapi berubah menjadi pemahaman yang lebih luas dari itu dan tanpa batasan.

Begitu pula ketika melihat semua yang ada di Jagat Raya ini tidak hanya sebatas yang kelihatannya saja, atau bahkan yang bisa dipikirkan saja. Dan semuanya itu jelas terhubung dalam satu kesatuan yang absolut. Itulah yang disebut dengan kesadaran universal. Dimana kesadaran ini akan memudahkan seseorang untuk mengidentifikasikan siapakah dirinya yang sebenarnya. Dan setelah tahu akan esensi ini, yaitu kesadaran hakiki yang menggerakkan dan mengatur Alam Semesta, yang juga menyatukan segalanya, maka tidak sulit baginya untuk menjalankan perannya sebagai hamba yang sejati. Sebagaimana makhluk lainnya yang juga menghamba kepada-NYA dengan penuh kesadaran diri.

Diterangkan dalam Al-Qur’an surat An-Nahl [16] ayat ke 12 bahwa:

.وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلَّيْلَ وَٱلنَّهَارَ وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ ۖ وَٱلنُّجُومُ مُسَخَّرَٰتٌۢ بِأَمْرِهِۦٓ ۗ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

Artinya: “Dan DIA menundukkan malam dan siang, Matahari dan Bulan untukmu. Dan Bintang-Bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-NYA. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan-NYA) bagi kaum yang memahami(nya)

.ثُمَّ ٱسْتَوَىٰٓ إِلَى ٱلسَّمَآءِ وَهِىَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ ٱئْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَآ أَتَيْنَا طَآئِعِينَ

Artinya: “Kemudian DIA menuju kepada penciptaan Langit dan Langit itu masih merupakan asap, lalu DIA berkata kepadanya dan kepada Bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-KU dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati” (QS. Fushshilat [41] ayat 11)

Nah, keterangan dari ayat-ayat di atas membuktikan bahwa Alam Semesta dan segala isinya itu senantiasa taat dan mengikuti segala perintah dan aturan dari Sang Adidaya Tunggal, dialah Sang Maha Pencipta; Hyang Aruta (Tuhan YME). Semuanya pun bisa terjadi karena adanya kesadaran universal dari para makhluk itu. Dan peraturan yang telah ditetapkan oleh-NYA itu tidak pernah berubah selamanya, seperti yang telah ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Fath [48] ayat ke 23 berikut ini:

.سُنَّةَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلُ ۖ وَلَن تَجِدَ لِسُنَّةِ ٱللَّهِ تَبْدِيلًا

Artinya: “Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu

Sehingga, apabila tubuh Manusia, zat-zat yang ada, atau semua benda yang ada di Alam Semesta ini sudah dipahami sebagai rangkaian kejadian-kejadian serta menurut kehendak dari-NYA (sunnatullah), maka sebenarnya semua partikel, molekul, dzarrah (atom), Gunung, Bumi, Matahari, Bulan, dan Bintang itu pun bergerak bukan atas kemauannya sendiri, melainkan ada sesuatu yang bukan dirinya. Semuanya itu jelas bergerak karena mengikuti kekuatan energi dari Yang Maha Kuasa. Dan makhluk-makhluk itu hanya patuh terhadap yang tidak bisa dibandingkan dengan sesuatu, tak bisa dijangkau oleh siapapun namun begitu absolut. Semuanya bergerak dan dihidupkan oleh suatu kuasa Yang Maha Agung. Itulah energi yang hidup, yang esa dan perkasa, yang tanpa batas, yang meliputi segala sesuatu. DIA-lah Hyang Aruta (Tuhan YME).

Untuk itu, ketika seseorang telah memiliki kesadaran universal, ia akan menjalani hidup dalam kebaikan yang paripurna. Ia pun akan menjadi lebih waskita, karena apapun tindakan yang hendak ia lakukan selalu dipertimbangkan terlebih dulu antara baik dan buruknya. Sebab ia pun sadar bahwa semua tindakannya itu akan berdampak kepada mereka yang lain, cepat atau lambat, terlihat atau tidak terlihat, disadari ataupun tidak disadari. Sehingga ia pun akan menjadi sosok yang pandai bersyukur (syakur), selalu rendah hati (tawadhuk), dan tetap berserah diri (tawakal) hanya kepada-NYA. Inilah keimanan yang sesungguhnya.

Dan sebagaimana penjelasan di atas yang menyebutkan tentang kesatuan dan keterikatan antar semua makhluk, maka seorang yang memiliki kesadaran universal tidak akan berbuat yang negatif. Sebab energinya akan berdampak buruk kepada makhluk yang lain. Semakin sering ia berbuat negatif, maka akibatnya akan semakin buruk pula terhadap yang lainnya. Sehingga dengan begitu ia pun tidak akan pernah mau berbuat jahat atau yang melanggar prinsip kebenaran, sebab dirinya telah dipenuhi oleh kesadaran diri yang tinggi. Dan itu bisa terwujud lantaran hati dan jiwanya telah dikuasai oleh rasa cinta dan kasih sayang yang sejati.

Jadi, apabila kita memfokuskan jiwa dan raga kita terhadap hukum dan aturan-NYA serta menundukkan dan memasrahkan segala yang terjadi pada diri dan hati kita seperti taatnya Alam Semesta tanpa rekayasa, kita akan hidup seperti hidupnya Alam Semesta yang penuh dengan ketundukan kepada Sang Maha Pencipta. Dan akan patuh seperti patuhnya para Malaikat tanpa embel-embel apapun juga. Hasilnya adalah bisa mendapatkan yang sangat berharga, yaitu keimanan atas dasar memiliki kesadaran universal. Puncaknya adalah kedamaian, keindahan, dan kebahagiaan yang hakiki.

Demikianlah seharusnya keberadaan diri (mikrokosmos) dan Alam Semesta (makrokosmos) itu adalah sebuah kesatuan yang utuh. Darinya bisa membawa hati untuk bisa melihat yang tak terlihat, dan mengalami “penglihatan-pencerahan” tentang adanya DIA Yang Maha Esa dan Kuasa tanpa hambatan. Dan semua itu akan terwujud hanya jika seseorang telah mengenali diri sejatinya dengan cara membangkitkan kesadaran universal dalam jiwanya.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Mugia Rahayu Sagung Dumadi.. 🙏

Jambi, 20 September 2019
Harunata-Ra

12 respons untuk ‘Kesadaran Universal

    Guntur Satria Putra said:
    September 20, 2019 pukul 9:53 am

    terima kasih mas udi untuk nasehatnya

      Harunata-Ra responded:
      September 20, 2019 pukul 10:01 am

      Iya mas Guntur sama2lah, nuwun juga karena masih mau berkunjung, semoga ttp bermanfaat.. 🙂

    Asyifa Wahida said:
    September 20, 2019 pukul 10:08 am

    Subhanallah ….alhamdulillah akhirnya yg ditunggu2 dikeluarkan juga …..
    matur suwun mas ….izin bagiin enggih mas

      Harunata-Ra responded:
      September 20, 2019 pukul 10:13 am

      Oh ya mbak? Masa sih?

      Hmm syukurlah kalo berkenan.. Silahkan aja di share, semoga ttp bermanfaat.. 😊

        Asyifa Wahida said:
        September 20, 2019 pukul 2:48 pm

        Alhamdulillah enggih mas ….
        alhamdulillah sangat berkenan mas..
        matur suwun kagem izinnya enggih mas …….aamiin ya rabbal alamiin

        Harunata-Ra responded:
        September 23, 2019 pukul 9:28 am

        Syukurlah kalo gitu.. sami2lah mbak.. ttp semangat 🙂

    Abhiseka Ceraka Nusantara said:
    September 20, 2019 pukul 12:31 pm

    Reblogged this on ABHISEKA CARAKA NUSANTARA.

    Yoga Setya said:
    September 24, 2019 pukul 8:06 am

    Hal Inilah yg slama ini sy renungkan dan ingin sy capai tp Kurangny bermuhasabah, tadabur, tafakur dan rendahnya tingkat bersyukur, tawaduk dan tawakal seolah menjadi dinding tebal yang harus sy lewati karena kesibukan duniawi 😢

      Harunata-Ra responded:
      September 24, 2019 pukul 8:47 am

      Ya diusahakan pelan2 aja mas Yoga, yg penting istiqomah nya.. Dikit demi sedikit tapi maksimal…

      Oke, nuwun utk kunjungannya, saya doakan masnya bisa cepat mencapai apa yg diinginkan.. 😊🙏

        Yoga Setya said:
        September 27, 2019 pukul 12:51 pm

        Amiinn.. Makasih doanya mas
        Smoga sy diberi kesempatan untuk selalu mengikuti petuah2 panjenegan dan menanamkanya dalam kehidupan sy agar bisa mengikuti jejak panjenegan menjadi hamba yg seharusnya 🙏

        Harunata-Ra responded:
        September 27, 2019 pukul 3:44 pm

        Okelah mas Yoga, kita sama2 belajar aja deh.. Saya tidak lebih baik dari sampeyan kok.. Dan janganlah ikutin saya, karena saya ini masih awam banget loh.. Ntar byk salahnya..

        Oh ya, nuwun utk kunjungannya lagi, ttp semangat.. 😊🙏

    Asyifa Wahida said:
    September 24, 2019 pukul 1:48 pm

    Enggih mas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s