Halmor : Kesatria Pilihan Dunia

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Ada begitu banyak kisah masa lalu yang bisa mengajarkan kita tentang arti kehidupan. Setiap darinya adalah bekal yang perlu diambil sebagai cara untuk menghadapi berbagai persoalan dunia. Dan ternyata orang-orang yang hidup di masa lalu tak kalah hebatnya dengan kita, bahkan mereka itu justru lebih unggul dari kita dalam banyak hal. Namun sayang kini semuanya telah dilupakan dan hilang dari catatan sejarah formal. Tak sedikit yang hanya berkutat di situ-situ saja mengenai sejarah masa lalu Manusia. Dan mereka percaya dengan mutlak tentang apa yang ia ketahui selama ini tanpa memberikan ruang untuk koreksi dan evaluasi. Hasilnya fakta masa lalu menjadi terkungkung dalam kesempitan cara berpikir.

Nah, di antara kisah agung pada masa lalu adalah tentang sebuah medali yang hanya bisa dimiliki oleh seorang yang terpilih. Sosok tersebut akan menjadi pemimpin dunia dan bisa menatanya kembali agar harmonis. Bagaimana ceritanya, mari ikuti penelusuran berikut ini:

1. Awal kisah
Pada hitungan tahun ke ±375.000 di periode zaman ke enam (Nusanta-Ra), tepatnya jauh sebelum masa kehidupan Nabi Musa AS, hiduplah Wangsa Armendiya di wilayah yang kini disebut dengan Asia Timur – kawasan seputar Jepang dan Korea. Di sana Wangsa ini telah ada sejak nenek moyang mereka bermigrasi dari Malawisa (penamaan Nusantara kala itu) pada sekitar ±3.000 tahun sebelumnya. Bukan lantaran bencana alam atau peperangan, mereka berhijrah atas dasar petunjuk Ilahi yang didapatkan oleh pemimpin mereka yang bernama Syajani. Dan meskipun bukan sebagai penduduk asli, di Rimasan (penamaan kawasan Asia Timur kala itu) mereka ini sangat dihormati. Ada kemampuan khusus yang membuat penduduk pribumi di sana sangat mengagumi mereka.

Ya. Atas kelebihan yang dimiliki, Wangsa Armendiya sampai menjadi pemimpin dari bangsa-bangsa yang ada di Rimasan tanpa harus menaklukkan. Selama 15 generasi hal itu terus berlangsung dan mereka telah membangun peradaban tinggi di sebuah negeri yang bernama Saroyas. Sampai akhirnya mereka tidak tertarik lagi dengan kekuasaan dan undur diri dari semua urusan ketatanegaraan. Wangsa Armendiya lalu memilih untuk hidup secara ekslusif di sebuah pulau yang jauh dari keramaian kota, yang disebut dengan Astana. Tapi lantaran selalu ada saja masalah pelik di dunia ini, maka tak jarang pula mereka tetap diminta untuk membantu. Dalam hal ini biasanya akan disesuaikan dengan kasus yang ada. Sebab di dalam kehidupan Wangsa Armendiya itu terdapat 4 kekuatan yang berbeda. Ke empatnya itu adalah klan-klan yang memiliki keunggulannya masing-masing.

Namun seiring berjalannya waktu, keberadaan dari Wangsa Armendiya ini kian terasing. Sebagian dari mereka ada yang menetap di Astana dengan cara tersembunyi, sebagian lainnya justru menyebar ke berbagai negeri dengan menyembunyikan jati dirinya. Akibatnya tak banyak lagi yang tahu mengenai keistimewaan dari wangsa tersebut. Mereka semakin misterius, dan hanya dalam kondisi tertentu saja akan menampakkan diri. Dan tidak menutup kemungkinan jika di akhir zaman ke tujuh ini (Rupanta-Ra) mereka akan muncul lagi. Mengingat kini telah terjadi kerusakan dan kemerosotan akhlak dimana-mana.

2. Bekal diri
Waktu pun berlalu selama lebih dari dua ribu tahun, dan Wangsa Armendiya tetap dalam keterasingannya. Sebagian orang masih mendengar kisahnya tapi tak ada yang pernah bertemu langsung dengan kalangan itu kecuali memang diinginkan oleh Wangsa tersebut. Dan begitulah adanya, bahwa harus ada sosok yang terpilih dulu yang dapat menyatukan kembali Wangsa Armendiya. Dialah yang bisa menguasai ke empat kekuatan khusus yang dimiliki oleh ke empat klan yang ada. Atas kemampuan yang istimewa itu, sang terpilih akan memimpin dan kembali membangkitkan kejayaan leluhurnya.

Kisah pun berlanjut. Di suatu negeri yang bernama Nandiyu, hiduplah seorang anak lelaki yang bernama Yanma. Ia tinggal bertiga dengan ibu dan adiknya lantaran sang ayah tak pernah diketahui lagi dimana keberadaannya. Sejak berpamitan tiga tahun silam, ayahnya itu tak pernah kembali. Tak ada kabar berita apapun darinya hingga Yanma berumur 10 tahun. Dan kesedihan pun tak sampai disitu, karena di usianya yang ke 13 tahun Yanma pun harus kehilangan rumah kediamannya untuk bisa membayar hutang keluarga. Tak ada sanak famili yang dapat membantu, dan tak ada pula tempat tinggal yang layak untuk mereka bertiga. Hanya para tetangga yang kadang membantu dan mau memperhatikannya.

Singkat cerita, berselang 7 bulan berikutnya sang kepala desa yang bernama Narawis menaruh iba kepada Yanma dan adiknya; Sinan. Ia lalu mengajak keduanya untuk pergi ke suatu tempat demi mendapatkan pendidikan yang diperlukan. Sementara sang ibu diminta untuk tinggal di rumah sang kepala desa untuk bisa membantu istrinya yang seorang pedagang. Kepada seorang guru yang bijak, Yanma dan adiknya itu lalu dititipkan di sebuah padepokan yang bernama Nubalam. Di asrama yang berada di lereng gunung Kuin itulah keduanya tinggal bersama dengan para siswa lainnya. Dan selama bertahun-tahun Yanma tinggal di sana. Ia merasa betah karena ada banyak kawan dan senior yang mau bersahabat dan membantunya. Mereka pun hidup layaknya saudara.

Waktupun berlalu. Selama tinggal di asrama Nubalam, setiap harinya Yanma punya banyak kegiatan. Kalau tidak belajar secara sistematik tentang berbagai keilmuan ilmiah (Aljabar, Astronomi, Hayat, dll), ia akan berlatih ilmu kanuragan dan kadigdayan secara bertahap. Selebihnya ia pun harus memenuhi tanggungjawabnya seperti mengisi tempat air untuk keperluan dapur dan MCK. Di lain waktu Yanma juga harus rajin bercocok tanam dan merawatnya hingga panen, serta beternak hewan untuk diambil telur, susu, dan dagingnya. Semuanya dikerjakan secara bersama-sama dengan para siswa lainnya. Sesekali mereka akan masuk ke dalam hutan untuk mencari buah-buahan segar, jamur, pakis, atau berburu binatang liar.

Waktu pun berlalu dan Yanma sudah berumur 20 tahun. Sejak di usia itu, maka sebagaimana tradisi di padepokan Nubalam maka seorang siswa harus mulai mengasingkan diri selama 1-3 tahun. Setelah itu, ia harus mengembara ke beberapa tempat atau negeri untuk menambah wawasan dan keilmuannya selama waktu yang tidak ditentukan. Jika diperlukan ia boleh menggunakan kemampuan yang telah didapatkan selama belajar di padepokan. Hanya untuk tujuan yang positif saja boleh dikeluarkan. Begitulah pesan dari Begawan Kasari kepada setiap muridnya di padepokan Nubalam, tanpa terkecuali.

Singkat cerita, tibalah waktunya bagi Yanma untuk pergi mengasingkan diri. Ia memilih untuk pergi ke sebuah lembah yang terdapat hutan lebat di dalamnya. Di lembah Surai itu Yanma benar-benar sendirian, dan ia semakin larut dalam keterasingan yang mengasyikan. Tak jarang pula ia ber-semedhi hanya untuk lebih menenangkan hati dan menemukan pencerahan. Sampai di suatu ketika ia bertemu dengan seorang Begawan yang kharismatik bernama Malakeya. Dari sang Begawan ia lalu mendapatkan banyak informasi dan ilmu pengetahuan. Yanma juga mengikuti sang Begawan ketika ia pergi mengembara ke berbagi tempat. Sungguh keberuntungan yang nyata, karena Yanma bisa terus menambah wawasan dan semakin mengenali diri sejatinya.

Dan hal ini sangatlah penting, sebab mengenal diri sejati itu juga berarti menuju kedamaian dan kebahagiaan. Sebab orang yang sudah mengenal diri sejati tandanya hati dan pikirannya selalu tenang, tak ada emosi yang berlebihan, karena ia sudah mampu mengendalikan atau menguasai dirinya sendiri. Bukannya justru dikendalikan oleh nafsu, ego, ataupun sifat buruk lainnya. Inilah yang disebut dengan menjalani kehidupan lahir batin dalam kebenaran universal. Dan itulah yang bisa didapatkan oleh Yanma selama ia berguru kepada Resi Malakeya.

3. Petaka dunia
Pada masa itu, sudah lebih dari tujuh ratus tahun dunia telah dikuasai oleh mereka yang menyebut dirinya sebagai “dewa-dewi”. Mereka ini sangat dominan dalam berbagai lini kehidupan Manusia. Ada banyak negeri yang hidup dengan mengikuti aturan dari “para dewa-dewi” ini, bahkan sampai menyembahnya layaknya Tuhan. Padahal semua itu hanyalah tipu daya kegelapan melalui perantara orang-orang yang sakti mandraguna yang telah berhasil disesatkannya. Mereka yang tersesat inilah yang akhirnya membangun sebuah kediaman khusus yang terpisah dengan Manusia. Dengan egonya, mereka lalu mengkultuskan dirinya sendiri dan memaksa umat Manusia untuk tunduk kepadanya. Siapapun yang tidak menurut akan ditindas, bahkan dihancurkan.

Catatan: Hal yang semacam ini (ada golongan yang mengaku sebagai para dewa-dewi padahal bukan) pernah terjadi berulang kali di zaman yang berbeda. Setiap kali terjadi, maka banyak orang yang tersesat dan kondisi dunia telah dikuasai oleh kegelapan meskipun banyak yang tidak menyadarinya. Di periode zaman ke tujuh ini pun (Rupanta-Ra) sama. Banyak yang salah mengira antara para Dewa-Dewi yang asli dengan yang palsu. Siapapun yang mengikuti yang palsu tentunya akan tersesat dan menyesatkan, sadar atau tidak ia sadari.

Ya. Di masa itu sulit untuk tidak percaya dengan “para dewa-dewi” itu, karena selain mereka teramat sakti dan punya banyak kelebihan, golongan ini pun hidup abadi dan tidak lagi tinggal di muka Bumi ini. Mereka dulu sebenarnya Manusia, tapi lantaran kesaktian yang dimiliki lalu hidup layaknya para Dewa-Dewi. Mereka ini pun memiliki tempat tinggalnya sendiri di awang-awang (antara Bumi dan Langit), yang di sana terdapat negeri yang luar biasa indahnya. Mereka menyebutnya sebagai Amostana, dan tempat inilah yang akhirnya diyakini oleh sebagian besar penduduk Bumi kala itu sebagai Kahyangan. Padahal sebenarnya tidak begitu, karena tempatnya para Dewa-Dewi yang asli bukanlah itu. Beda tempat dan lokasinya, bahkan Dimensinya.

Dan apa yang terjadi dalam kisah ini adalah “para dewa-dewi” itu kian merajalela sampai menyebabkan banyak pertikaian di dunia. Ego dan kesombongan diri ada di antara mereka, sangat besar, sehingga mereka pun bersaing untuk mencari hamba sahaya yang bersedia mengabdi kepadanya. Siapapun yang memiliki pengikut yang paling banyak akan diakui sebagai yang terhebat. Begitu pula bagi siapa saja yang hamba sahayanya paling sakti atau hebat dalam medan pertempuran, juga akan diakui sebagai yang terbaik. Hal ini pun berlangsung selama ratusan tahun dan menimbulkan banyak masalah, karena akhirnya banyak dari kerajaan yang terpaksa harus bertempur demi menunjukkan sesembahan siapakah yang paling hebat – selain karena ego dan keserakahan mereka sendiri. Sementara di antara “para dewa-dewi” itu akan semakin bangga jika hamba sahayanya yang berhasil menang. Dia pun akan dianggap sebagai yang paling terhormat.

Catatan: Di antara “para dewa-dewi” itu tidak ada yang mau saling bertarung, juga tak ada yang boleh bertarung. Karena itulah, disebabkan mereka tetap memiliki ego dan kesombongan diri, makanya saling berlomba-lomba untuk mencari pengikut dalam jumlah yang banyak. Tujuannya untuk menunjukkan kehebatan dan pengaruhnya. Hanya dengan cara itulah mereka bisa membuktikan siapakah yang paling hebat di antara mereka.

Sungguh, kekacauan terus berlangsung di hampir seluruh penjuru Bumi. Para raja, ratu, penguasa, bangsawan, dan kesatria, bahkan kalangan rohaniawan pun sibuk dengan perdebatan dan rebutan kekayaan, sampai akhirnya berperang. Mereka terus membawa panji-panji yang menjadi ciri khas dari “para dewa-dewi” yang mereka sembah. Tak ada yang mau mengalah, karena mereka telah dibutakan oleh kesesatan. Sulit bagi mereka untuk lepas dari pengaruh kegelapan itu. Dan kalau pun mereka ingin, maka risikonya sangat besar. Tidak sedikit yang sampai harus menerima kutukan atau justru meregang nyawa di tangan utusan dari para dewa-dewi palsu tersebut.

4. Kesatria utama
Di tengah kondisi dunia yang semakin kacau balau, timbullah keinginan dari sebagian orang untuk mencari solusi. Mereka ingin mendamaikan dunia dari bermacam gejolak dan perselisihan. Dan harus ada sosok kesatria utama yang bisa membawa perubahan besar dalam kehidupan dunia saat itu. Mereka pun berkumpul di sebuah lembah untuk berdiskusi dan menghaturkan doa kehadirat Ilahi. Dan di antara mereka itu ada seorang pinisepuh bernama Suwan yang masih teringat dengan legenda Wangsa Armendiya. Dimana akan muncul seorang pemimpin besar dari golongan itu tapi dengan catatan sudah bisa menyatukan kembali medali Galtarus. Jelas bukan sembarangan orang, karena haruslah sosok yang terbaik dan ia memang terpilih.

Namun semua itu masih terbilang misteri. Dan yang tertinggal hanyalah syair yang penuh teka-teki, yaitu: “Dunia tak membutuhkan seorang raja, karena dia berjuang hanya untuk bangsanya sendiri. Dunia lebih membutuhkan seorang pemimpin yang bukan raja namun bisa menyatukan Galtarus. Ayahnya adalah yang terhormat tapi tak begitu dikenal. Yang bijak dan teramat dikasihi oleh para mulia, dialah pemuda yang berjiwa kesatria. Dengan kekuatannya yang istimewa, ia akan menghancurkan malapetaka dunia. Dengan keilmuannya yang tinggi, ia akan menata kembali seisi Bumi. Carilah, carilah dia yang datang dari arah terbitnya fajar di bulan Kasidha

Tapi siapakah kesatria itu? Bagaimana pula mencarinya? Karena sudah sekian lama tak ada kabar tentang seorang yang telah berhasil menyatukan kembali bagian-bagian dari medali Galtarus. Jangankan itu, keberadaan dari ke empat klan Wangsa Armendiya saja tak banyak yang tahu. Mereka selalu menyembunyikan jati dirinya, dan akan muncul hanya bila keadaan sudah begitu mendesak.

Di tempat lain, Resi Malakeya sedang menjelaskan sesuatu kepada Yanma dengan berkata: “Kau tahu apa yang sebenarnya terjadi pada ayahmu? Dia adalah seorang pahlawan besar meskipun tak begitu dikenal di dunia ini. Kepergiannya bukanlah tanpa alasan, tetapi demi menuntut keadilan. Kau tahu, sudah begitu lama umat Manusia ditindas oleh mereka yang tinggal di Amostana. Mereka yang katanya “para dewa-dewi” itu, yang dengan segala kekuatan dan kesaktiannya itu, telah membelenggu Manusia untuk tunduk kepadanya tanpa adanya pilihan. Semakin hari kian mengkhawatirkan.

Oleh sebab itulah, ayahmu pergi ke Amostana untuk menuntut keadilan. Tapi karena tindakannya itu sangat tidak disukai oleh “para dewa-dewi” di sana, ayahmu terpaksa harus bertarung untuk mempertahankan diri. Jika seandainya ia tidak dikeroyok oleh lima orang sekaligus, tentunya ayahmu masih hidup sampai hari ini. Karena ayahmu bukanlah orang sembarangan. Meskipun di keroyok oleh “para dewa-dewi” yang teramat sakti mandraguna itu, ia bisa bertahan lama. Bahkan sempat membunuh tiga di antara musuhnya itu sebelum akhirnya gugur sebagai kesatria

Mendengar cerita dari sang Begawan saat itu membuat hati Yanma jadi campur aduk. Ada rasa sedih dan bangga sekaligus. Karena setelah begitu lama mencari tahu, baru kali ini ia bisa mendapatkan kabar yang benar tentang ayahnya itu. Dan sebagai anak yang begitu mencintai sosok ayahnya, Yanma ingin menuntut keadilan. Terlebih apa yang sudah di lakukan oleh “para dewa-dewi” yang tinggal di Amostana itu sudah melampaui batas. Kekacauan dunia pun terjadi akibat ulah mereka.

Ya. Sejak hari itu juga Yanma semakin giat melatih dirinya, baik dalam ilmu kanuragan maupun kadigdayan. Puasa, tirakat, dan tapa brata juga ia lakukan berulang kali demi meningkatkan kemampuan yang dimiliki. Dan apa yang telah ia usahakan itu membuahkan hasil yang sepadan. Namun ketika direnungkan lebih mendalam maka semuanya itu terasa kurang. Terlebih yang akan ia hadapi nanti adalah para penghuni Amostana, yaitu mereka yang selama ini diyakini sebagai “para dewa-dewi” oleh sebagian besar penduduk Bumi. Sampai pada suatu ketika sang pemuda hampir putus asa. Ia merasa bukan siapa-siapa dan tak memiliki kemampuan yang istimewa. Bagaimana ia bisa menuntut keadilan, dan bagaimana pula ia bisa memperbaiki kondisi dunia, sementara kekuatannya tak seberapa. Tak bisa menandingi kesaktian dari para dewa-dewi palsu di Amostana.

Sungguh, selama 13 hari Yanma sampai terpuruk dan jenuh. Ia pun merasa tak berguna dan tak ada lagi gairah untuk berlatih, bahkan sampai malas untuk hidup. Terlebih selama ini ia hanya merasakan banyak kesedihan dan penderitaan. Dan ketika ingin memperbaiki nasib dengan melatih dirinya, hasil yang didapatkan pun tak seberapa. Ada banyak derita dan kegagalan yang harus ia alami, sering kali, dan itu jelas memengaruhi pikiran dan hatinya. Sampai pada akhirnya itu semua berakhir ketika ia melihat isyarat dari Tuhan melalui kawanan semut yang terus bekerja dengan giat. Mereka tidak pernah berhenti sampai bisa menyelesaikan pekerjaannya.

Ya. Melalui para semut itulah Hyang Aruta (Tuhan YME) memberikan petunjuk kepada Yanma untuk tidak berhenti dalam usaha. Ia harus tetap sabar dan ikhlas. Kini memang belum terlihat jelas hasilnya, tapi suatu saat nanti akan datang anugerah besar. Karena itulah selama 5 tahun lebih Yanma terus menempa dirinya siang dan malam. Resi Malakeya tidak setiap saat lagi menemani sang pemuda, lantaran ia juga harus menjalankan tugas di tempat lain. Sampai di suatu sore, sang Begawan datang menemui Yanma yang saat itu tengah berlatih di tepian sebuah telaga. Dihadapan sang pemuda Resi Malakeya menyampaikan petunjuk Ilahi yang ia dapatkan. Dimana Yanma harus menjalankan tapa brata di puncak gunung Kuin selama 3 tahun, lalu di tepi laut Anoh selama 2 tahun. Kedua tapa brata itu harus di lakukan dengan cara berdiri di atas satu kaki. Hasilnya akan didapatkan setelah keduanya selesai di lakukan. Sang Begawan tidak bercerita apapun lagi selain itu.

Singkat cerita, Yanma melakukan tapa brata sesuai dengan petunjuk dari Resi Malakeya. Setelah keduanya selesai, tiba-tiba muncul seorang utusan Tuhan yang bernama Nabi Nahruwi AS. Beliau datang untuk menyampaikan beberapa hal dengan berkata:

Wahai ananda. Alam semesta memiliki kekuatan untuk menyeimbangkan dirinya sendiri. Jika kekacauannya terjadi lebih besar, dia akan memperbaikinya dengan melakukan pemurnian. Caranya bisa beragam, dengan perantara bencana alam atau bahkan perang. Tak ada yang bisa mencegahnya, bahkan oleh yang paling bijak sekalipun. Dan selalu ada harga yang harus dibayar untuk keharmonisan dunia ini. Entah baik atau buruk, entah indah atau menakutkan. Semuanya akan terjadi bahkan dengan cara yang tak biasa.

Untuk itu bersiaplah! Persiapkan dirimu sebaik mungkin dan jangan pernah terlena dengan hiruk pikuk dunia ini. Sebab di antara proses keseimbangan dunia ini adalah dengan menegakkan keadilan dan kebenaran. Tak usah gentar walaupun harus memasuki pertempuran besar, karena sesulit apapun itu akan ada kemenangan dari-NYA

Setelah menyampaikan itu, sang Nabi lalu mengajak Yanma untuk pergi ke suatu tempat yang terahasia. Ternyata lokasinya berada di sebuah Dimensi khusus yang memang diperuntukkan bagi para kesatria utama untuk bisa menempa dirinya. Di sana, siapapun bisa dengan cepat menguasai berbagai keilmuan tingkat tinggi. Dan selain diajari oleh guru yang istimewa, maka energi alam yang ada di tempat itu sangat membantu seorang kesatria untuk bisa meningkatkan kekuatan dan kemampuannya dengan cepat. Belum lagi waktu yang ada di sana tidak sama dengan di Bumi. Artinya, jika di sana sudah berlalu selama 10 tahun misalnya, maka di Bumi ini cuma selama 1 hari saja. Sangat menguntungkan bagi siapapun kesatria dari golongan Manusia, karena terasa singkat tapi hasilnya maksimal.

Dan tidak cuma itu, di sana Yanma juga mendapatkan kesempatan yang sangat istimewa karena dilatih langsung oleh beberapa sosok penghuni Kahyangan yang asli. Di antaranya adalah Bhatara Bayu, Bhatara Surya, Bhatara Indra, Bhatara Yama, dan bahkan Bhatara Guru sendiri. Semuanya tampil dalam wujud ala para Begawan dan langsung memberikan bekal khusus untuk Yanma. Itu di lakukan karena sang pemuda akan menjalankan tugas yang sangat berat. Sungguh anugerah yang luar biasa.

Catatan: Sebenarnya bisa saja para Dewa itu menurunkan ilmu kepada Yanma hanya dalam waktu singkat, beberapa detik malah, namun itu tidak pernah di lakukan. Alasannya demi kebaikan diri Yanma sendiri, karena memang lebih baik pencapaian itu diusahakan sendiri. Para Dewa-Dewi hanya memberikan bimbingan dengan menunjukkan cara-cara yang tepat dan efektif. Siapapun yang sabar dan tekun mengikutinya tentu bisa mendapatkan hasil yang maksimal. Tidak ada yang instan. Dan bohong jika ada yang mengatakan atau merasa dapat kesaktian tiba-tiba dari Dewa-Dewi tanpa adanya proses penempaan diri yang sulit. Itu bukanlah dari Dewa-Dewi, atau dalam artian sebenarnya itu justru berasal dari kegelapan walau seolah-olah baik. Para Dewa-Dewi tidak akan seperti itu, karena mereka senantiasa mengajarkan untuk tetap berusaha lebih keras dalam mencapai tujuan.

Ya. Di tempat itu Yanma terus melatih dirinya untuk menambah kemampuan dan pengalaman. Caranya dengan membuka “segel kunci” dari kekuatan yang tersembunyi dalam dirinya untuk membuatnya mengalir ke sekujur jiwa raga. Dan untuk memperbesar kekuatannya, maka daya tahan tubuh, kecepatan, ketangkasan, konsentrasi, dan kebangkitan indera personal yang ke tujuh harus bisa menyatu dengan alam semesta. Darinya akan menciptakan gabungan dari berbagai kekuatan besar. Hal yang amat sulit untuk di lakukan, tetapi bukan berarti tidak mungkin.

Selain itu, Yanma juga harus berdamai dengan dirinya sendiri, dan harus bisa membebaskan diri dari segala bentuk ikatan. Kesadaran diri adalah kuncinya. Dan maju atau tidaknya kemampuan yang dimiliki bergantung pada tingkat kultivasinya. Ia pun harus terus menyerap energi alam dan langit, membuat pertemuan antara yang kasar dan halus, yang cepat dan lambat menjadi kian seimbang. Dan keseimbangan diri itu memanglah utama, makanya latihan yang di lakukan saat itu tetap dengan tiga tahapan, yaitu rendah (kanuragan), sedang (kadigdayan), dan tinggi (kasepuhan). Adapun tujuannya adalah demi meraih kesempurnaan diri (kasampurnan). Semuanya harus dilalui dengan teratur dan penuh kehati-hatian. Sehingga dengannya pula baru akan memberikan hasil yang sepadan.

Catatan: Sebenarnya ada satu tingkatan lagi di atas level kesempurnaan (kasampurnan), tapi itu hanya bisa dicapai oleh sang pemuda yang akan muncul nanti. Dialah kesatria agung dan pemimpin besar di atas semua pemimpin besar dunia.

5. Pemilik medali utama
Pada sekitar 1.500-an tahun sebelumnya, Wangsa Armendiya yang pada saat itu dibawah pimpinan seorang yang bernama Hanisal memutuskan untuk berpencar ke berbagai arah. Atas petunjuk yang didapatkan, medali Galtarus yang menjadi pusaka utama mereka lalu dipisahkan dan dibagi untuk setiap klan. Ada empat bagian, sementara yang satunya lagi dipegang oleh Hanisal sebagai pemimpin tertinggi Wangsa Armendiya.

Waktu pun berlalu, ke empat klan yang ada sudah berpencar dan para pemimpinnya memegang satu bagian dari medali Galtarus. Hal ini diteruskan dari generasi ke generasi berikutnya selama ribuan tahun. Hanya saja berbeda dengan bagian medali yang dipegang oleh Hanisal. Ketika ia hendak moksa, beberapa hari sebelumnya bagian tengah medali Galtarus itu tiba-tiba menghilang tak tahu rimbanya. Sesuai dengan petunjuk yang didapatkan, maka bagian yang hilang itu nanti akan ditemukan oleh seorang yang terpilih. Dialah yang bisa menyatukan kembali Wangsa Armendiya dan menjadi pemimpin yang terhormat di dunia. Sedangkan pada saat itu terjadi maka dunia sedang berada dalam kekacauan.

Adapun kelima pecahan medali itu terbuat dari bermacam logam mulia yaitu Molsen (emas), Halten (titanium), Joren (berwarna seperti perunggu tapi bukan perunggu), Damoren (berwarna kehijauan), dan Salten (berwarna kebiruan). Kelimanya memiliki warna yang berbeda dan memang sengaja dirancang untuk bisa terpisah. Ke empat bagiannya itu mengandung kekuatan supranatural yang luar biasa dan akan diberikan kepada empat klan yang ada di dalam Wangsa Armendiya. Hanya pemimpinnya saja yang memegangnya dan akan diturunkan kepada penerusnya. Sedangkan yang terakhir, yang bagian tengahnya, menghilang tak tahu dimana. Hanya sosok yang terpilih saja yang bisa menemukannya kembali, dan ia akan bisa menyatukan kembali seluruh bagian dari medali yang istimewa itu. Dan jika kelimanya disatukan, akan membentuk sebuah pola yang indah dan bisa mengeluarkan kekuatan yang istimewa. Siapapun yang bisa melakukannya akan sah menjadi pemimpin tertinggi dari Wangsa Armendiya. Dan dalam kisah ini sosok tersebut adalah Yanma sendiri. Ia sudah mendapatkan bagian yang hilang dari medali Galtarus ketika ia masih berlatih dengan para Dewa-Dewi. Tinggal mencari dan menyatukan ke empat bagian yang lainnya.

Singkat cerita, setelah berlatih bersama Nabi Nahruwi AS dan para Dewa-Dewi di Dimensi khusus, tibalah waktunya bagi Yanma untuk kembali ke Bumi. Ia harus mulai menjalankan tugas utamanya, yaitu menegakkan keadilan dan kebenaran. Dan sesuai dengan petunjuk dari sang guru, ia lalu beranjak ke negeri-negeri dimana ke empat klan dalam Wangsa Armendiya tinggal. Di setiap negeri tersebut Yanma mendapatkan tantangan yang tidak ringan. Meskipun setiap klan bisa mengetahui sejatinya diri Yanma hanya dengan mencium baunya saja, mereka tetap akan menguji sang pemuda dengan berbagai cara. Semua itu di lakukan untuk memastikan bahwa Yanma adalah bagian dari Wangsa Armendiya dan ia memang sosok yang mereka tunggu selama ini.

Dan pada akhirnya, semua tantangan itu berakhir ketika Yanma baru saja memasuki hutan Daye yang menjadi perbatasan dari negeri klan Hadhal (klan terkuat di dalam Wangsa Armendiya). Di sana ia bertemu dengan beberapa orang kesatria pilih tanding dan akhirnya bertarung untuk menguji batas kemampuan dirinya. Yanma berhasil menang dari semua kesatria yang ternyata para petinggi klan dalam Wangsa Armendiya. Dan karena itulah mereka semua lalu memberi hormat dengan cara berlutut. Tak lama kemudian salah satu dari mereka ada yang berkata:

Kami para Halmor, menyambut tuan Yanma dengan penuh hormat. Di dalam perkumpulan kami terdapat 4 kekuatan yang berbeda. Dan karena sudah waktunya, tuanku telah menjadi kekuatan yang ke 5, kekuatan yang paling utama dan sangat dinantikan. Dengan begitu, atas kehadiran tuanku saat ini, kekuatan kami semua akan melayanimu. Adapun di dalam barisan kami terdapat 313 kesatria terbaik, yang siap berjuang demi tuan. Dalam kesadaran kami pun menyatakan untuk hidup dan mengikuti tuan sampai titik darah penghabisan

Setelah mengatakan itu, suasana menjadi berbeda dan tiba-tiba alam bergejolak dengan datangnya angin kencang dan petir yang ikut menyambar berkali-kali. Alam pun menyambut bahagia dengan kembalinya pemimpin dunia dari Wangsa Armendiya. Terlebih ketika Yanma menyatukan kelima bagian dari medali Galtarus. Suasana bertambah mistis dan terpancar sinar yang terang dari medali pusaka tersebut. Dan semua yang hadir di tempat itu sangat terpukau dan kian bersemangat untuk segera berjuang menata kehidupan dunia.

6. Pertempuran besar
Waktu pun berlalu, dan setelah dirasa cukup akhirnya Yanma mulai bergerak sesuai dengan petunjuk Ilahi. Bersama ke 313 kesatria terbaik dari Wangsa Armendiya, ia menegakkan keadilan dan kebenaran dunia. Dimanapun terjadi kekacauan mereka tata kembali, begitu pula dengan negeri-negeri yang telah begitu lama dikendalikan oleh “para dewa-dewi” akhirnya bisa dibebaskan satu persatu.

Dan yang namanya pertempuran sengit kerap terjadi, hanya saja Yanma dan bala pasukannya tak pernah bisa dikalahkan. Terlebih Yanma sendiri memiliki kemampuan khusus yaitu bisa menghentikan waktu seluas area yang ia inginkan. Akibatnya siapapun yang masuk dalam jangkauan akan berhenti, alias tak bisa bergerak. Mereka takkan berdaya, sehingga dengan begitu bisa dengan mudah dikalahkan.

Catatan: Sebagai yang terpilih, Yanma telah menerima sebuah cincin pusaka yang bisa menyimpan dan atau mengeluarkan apa saja yang diperlukan. Cincin tersebut juga merupakan simbol kekuasaan dan kepemimpinan tertinggi di Bumi pada masanya. Selain itu, atas izin dari Hyang Aruta (Tuhan YME) maka jika diperlukan Yanma pun bisa memerintahkan para hewan dan tumbuhan untuk datang membantunya. Ia pun bisa berbicara dengan kedua golongan itu layaknya sesama Manusia. Inilah bentuk legitimasi yang nyata bahwa Yanma memanglah sosok yang terpilih dan terhormat.

Namun keadaan dunia yang mulai bercahaya itu justru membuat ada pihak yang tidak suka. Siapa lagi kalau bukan mereka yang tinggal di Amostana. Para dewa-dewi palsu itu tidak terima jika ada yang berusaha mengembalikan kehidupan di Bumi sesuai lagi dengan hukum Tuhan. Makanya mereka lalu memerintahkan para pengikutnya untuk menumpas Yanma dan pasukannya. Dan dalam hal ini terdiri dari beberapa orang raja yang memiliki kekuatan militer yang besar. Para abdi setia itu akhirnya mengobarkan perang besar kepada Yanma dan pasukannya dengan tujuan mengikuti perintah junjungannya itu.

Singkat cerita, Yanma dan para kesatrianya harus berulang kali menghadapi bala pasukan tangguh pimpinan dari para raja yang ingin menghentikan perjuangannya. Di beberapa wilayah mereka harus bertempur dengan tantangan yang beragam. Beda tempat maka beda pula karakter dan kemampuannya. Sehingga Yanma dan pasukannya harus menggunakan taktik dan strategi tempur yang berbeda-beda. Dan karena mereka dipihak yang benar, maka setiap pertempuran yang dihadapi berakhir dengan kemenangan.

Atas kemenangan itu, para dewa-dewi palsu di Amostana semakin tidak suka. Karena itulah mereka sampai mengutus beberapa orang dari golongan Jin dan makhluk lainnya (yang menjadi abdi dari para dewa-dewi palsu) untuk turun ke Bumi demi mengancam umat Manusia dalam berbagai bentuk. Hanya saja itu tak berhasil, bahkan para utusan itu harus kembali ke Amostana sambil menanggung malu karena telah dikalahkan oleh Yanma dan para kesatrianya. Begitu pun ketika diutus lagi sosok yang lebih sakti, maka hasilnya tetap sama, yaitu kalah dan harus kembali dengan rasa kecewa. Sampai akhirnya Yanma sendiri yang memutuskan untuk pergi ke Amostana untuk membuat perhitungan.

Catatan: Pertarungan yang terjadi antara Yanma dan pasukannya dengan para utusan dari Amostana saat itu sungguh luar biasa. Mereka mengeluarkan kemampuan yang jauh di atas para kesatria pada umumnya. Hal-hal yang aneh dan tak masuk akal pun sering dipertunjukkan.

Ya. Bersama ke empat pemimpin klan yang ada; Dumar, Soral, Hamuwe, dan Natra, juga ke 10 orang kesatria terbaik lainnya, sang pemuda beranjak pergi dengan cara terbang ke angkasa. Tak ada yang bisa menghalangi niat mereka, tapi ketika sudah tiba di depan batas negeri Amostana, mereka langsung dihadang oleh para penjaga di sana. Dalam waktu singkat terjadilah pertarungan yang tidak biasa. Para penjaga itu bukanlah kalangan biasa, dan kemampuan mereka sudah di atas rata-rata orang paling sakti di Bumi. Namun karena yang dihadapi adalah Yanma dan sahabat-sahabatnya, akhirnya mereka harus mengaku kalah.

Namun sesuai dengan perkiraan Yanma, ternyata negeri Amostana itu begitu terlindungi dengan berbagai mantra sakti dan kekuatan supranatural yang luar biasa. Sesuai dengan namanya, disana merupakan tempat tinggal dari sosok-sosok yang teramat sakti mandraguna. Dan negeri Amostana itu tidak kasat mata karena ada perisai khusus – tembus pandang – yang menutupinya. Hanya orang tertentu saja yang bisa melihatnya, dan itu harus dengan kesaktian yang khusus pula. Termasuklah disini adalah Yanma dan pasukannya itu. Mereka bisa melihatnya dengan meningkatkan level mata ketiganya.

Singkat cerita, dengan menggunakan busur panah saktinya Yanma lalu menghancurkan perisai yang melindungi negeri Amostana. Setelah perisai tersebut hancur, seketika itu juga apapun yang ada di dalamnya terlihat jelas. Sangat indah dan menakjubkan apa saja yang ada di sana. Tapi karena itu adalah tempat dari berbagai kejahatan dan kesesatan, tak ada alasan untuk tetap dipertahankan. Dengan semangat yang membara, Yanma dan pasukannya segera mempersiapkan dirinya. Awalnya mereka ingin berdiplomasi dengan cara baik-baik, tapi karena tak ditanggapi akhirnya justru memilih jalan pertempuran. Dibawah komando Yanma, mereka dengan segera membuat kegaduhan.

Dan Yanma telah membekali setiap pasukannya dengan kekuatan yang tiga kali lipat dari biasanya. Hanya dengan memejamkan mata lalu meminta pasukannya untuk fokus, disaat itu juga keluarlah bola-bola cahaya dari telapak tangan Yanma dan langsung masuk ke dalam tubuh pasukannya. Akibatnya ke 14 kesatria itu segera mendapatkan tambahan kemampuan yang luar biasa. Dengan kemampuan itu mereka lantas setara dengan para dewa-dewi palsu yang tinggal di Amostana. Mereka pun segera bertarung dengan berbagai bentuk kesaktian yang menakjubkan. Dan hanya dalam waktu singkat sudah terjadi kehancuran yang mengerikan dimana-mana. Sungguh menakjubkannya pertempuran itu, karena setiap orang dengan mudahnya bisa mengendalikan berbagai elemen alam untuk menyerang lawan atau mempertahankan dirinya. Tak ada yang mau mengalah sebelum terluka parah ataupun tewas.

Sementara itu, jika tidak mengendalikan elemen alam, mereka akan menggunakan ajian kesaktian atau benda pusaka yang sangat menakjubkan. Kekuatan yang dikeluarkan sudah berada di luar batas kewajaran Manusia, bahkan tak masuk akal. Tapi begitulah yang terjadi pada saat itu, dimana hal-hal yang non ilmiah dan diluar batas nalar bisa terjadi. Dan pertarungan mereka saat itu terjadi sangat cepat, sebab mereka bisa bergerak seperti kilat. Baik dengan cara terbang atau tidak, semuanya bertarung dengan kecepatan yang sangat tinggi. Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu melihatnya dengan jelas dari Bumi.

Sampai pada akhirnya Yanma melakukan hal yang sangat luar biasa. Para kesatria yang bersamanya kala itu diminta untuk mundur. Ini bukan karena mereka telah kalah atau ingin menyerah, tetapi justru karena Yanma sendiri yang akan menyudahi pertempuran saat itu. Dan benar adanya, tiba-tiba Yanma mengubah penampilannya dengan memakai baju zirah yang teramat indah dan penuh warna-warni. Dari dalam tubuhnya pun terpancar sinar yang benderang, dan tak lama kemudian ia langsung membagi dirinya menjadi sangat banyak. Dengan jumlah yang sebanyak itu, maka setiap para dewa-dewi palsu yang ada ia hadapi satu persatu. Dan kemampuan dari kembaran Yanma itu selalu di atas para dewa-dewi palsu. Makanya hanya dalam waktu singkat mereka dapat dikalahkan tapi tidak sampai dibunuh. Semuanya dibiarkan hidup namun apapun kesaktiannya telah dihilangkan.

Dan apa yang terjadi saat itu belumlah selesai. Yanma pun tahu bahwa pemimpin tertinggi di Amostana belum turun tangan. Dan sebagai buntut dari terbunuhnya sang ayah, sebagai anak yang berbakti dan sangat mencintai sosok ayahnya itu Yanma lalu menuntut keadilan. Dengan suara yang lantang ia memanggil penguasa Amostana yang bernama Halburah untuk muncul dan bertarung dengannya satu lawan satu. Itulah cara kesatria yang seharusnya.

Catatan: Halburah itu adalah nama aslinya, sementara di Bumi sosok tersebut dikenal dengan banyak nama dan gelar. Bahkan tak jarang ia sampai mengaku sebagai pemimpin dari para Dewa-Dewi yang asli di Kahyangan padahal itu cuma dusta. Dialah yang selama berabad-abad telah dianggap keliru sebagai rajanya para Dewa-Dewi oleh banyak penduduk Bumi.

Singkat cerita, karena ditantang seperti itu maka muncullah Halburah dengan raut wajah yang emosi. Belum pernah ada yang berani seperti itu kepadanya, sang raja dari para dewa-dewi palsu. Dan tak butuh waktu lama, maka pertarungan terdahsyat pun terjadi. Kali ini levelnya sudah berada di atas semua pertarungan sebelumnya. Mereka tidak lagi mengendalikan elemen alam atau menggunakan senjata pusaka, tetapi menciptakan dan menghancurkan berbagai energi dan wujud-wujud memukau lainnya. Sangat menakjubkan sekaligus mengerikan. Bahkan mereka sampai bertarung di beberapa Dimensi lain. Sungguh luar biasa.

Ya. Begitu dahsyatnya pertarungan kala itu, sampai-sampai suara ledakan dan getarannya bisa dirasakan kuat di Bumi. Belum pernah ada yang hidup saat itu menyaksikan hal yang semacam itu. Terlebih ketika mengetahui bahwa lawan tanding dari si raja “para dewa-dewi” itu adalah seorang kesatria yang terbilang masih sangat muda; 35-an tahun. Sungguh aneh tapi nyata, ada seorang pemuda yang bisa menandingi kesaktian dari sosok yang selama ini bahkan disembah layaknya Tuhan.

Tapi hal ini sebenarnya tidaklah aneh, sebab Yanma sendiri adalah murid dari para Dewa utama di Kahyangan. Ia juga seorang yang terpilih dan mendapatkan bimbingan dari para Begawan dan Nabi yang mulia. Dan tugas yang diembannya saat itu adalah untuk menertibkan dunia dengan cara menghancurkan kejahatan dan keangkuhan dari para penghuni Amostana. Sudah waktunya mereka itu harus menerima balasan atas kejahatan yang di lakukan sekian lama terhadap kemanusiaan. Tujuannya agar kehidupan di Bumi kembali normal dan harmonis.

Dan akhirnya, dengan kesaktian yang istimewa Yanma bisa mengalahkan Halburah dalam sebuah adu kekuatan. Dengan segala ilmu yang dimiliki, Halburah tetap tak mampu menandingi kesaktian dari Yanma. Sebagian tubuhnya bahkan sampai hangus terbakar. Dan atas semua kejahatan yang telah ia lakukan, maka atas petunjuk Ilahi yang diterima, Yanma lalu mengambil semua kesaktian dari Halburah. Setelah itu, sosok yang sebelumnya menjadi raja di Amostana itu harus hidup layaknya orang awam. Tak ada apa-apa lagi yang bisa dibanggakan, dan ia pun harus turun ke Bumi untuk tinggal di sebuah gurun selama sisa hidupnya. Di sana ia hanya seorang diri tanpa ada yang bisa mengenalinya. Ia pun tak bisa berinteraksi dengan siapapun, karena tak ada pula yang bisa menyadari keberadaannya. Hal ini jelas sangat menyiksa.

Sementara itu, para dewa-dewi palsu yang lainnya juga harus ikut turun ke Bumi dan tinggal terasing dari siapapun. Tak ada yang bisa mereka lakukan selain menekur diri dan hidup seperti Manusia biasa sampai batas usianya – sebab mereka tak lagi hidup abadi karena kemampuan itu telah diambil oleh Yanma. Ini hukuman yang harus mereka terima, dan tak ada yang bisa menolaknya. Sedangkan negeri Amostana yang menjadi tempat tinggal para dewa-dewi palsu itu akhirnya dihancurkan oleh Yanma dengan menggunakan busur panah sakti yang terbuat dari bahan semacam kristal bening. Peristiwa itu bahkan disaksikan oleh penduduk Bumi dengan sangat jelas karena terjadi di siang hari.

Dan berakhirlah kegelapan yang ditimbulkan oleh para dewa-dewi palsu itu. Atas jasa-jasanya, di Bumi orang-orang lalu meminta Wangsa Armendiya untuk bersatu kembali dan memimpin peradaban dunia. Yanma pun diangkat sebagai pemimpin tertingginya dengan gelar Azillah atau yang berarti kesatria agung pilihan Tuhan. Hanya dia seorang yang memakai gelar tersebut, tidak untuk yang lainnya. Dan dalam kebijaksanaannya ia bisa menciptakan kedamaian dan kemakmuran. Sungguh kehidupan yang indah dan sejahtera lagi di Bumi.

7. Menata kehidupan
Pada masa itu, bahkan sebelum dikalahkannya “para dewa-dewi”, peradaban Manusia sudah mengenal berbagai teknologi maju meskipun tidak dalam bentuk digital seperti di zaman kita sekarang. Mereka masih menerapkan sistem mekanik dan analog saja. Tapi ini bukan berarti tidak hebat. Sebab banyak negara yang sudah berhasil menciptakan berbagai alat transportasi canggih untuk keperluan di darat, air dan udara. Meskipun serba manual, tapi kenyataannya tidak kalah dengan buatan Manusia pada masa kini.

Ambil saja contoh Nuser, ini adalah kapal selam yang berbentuk ikan paus pemburu dan mampu menyelam sampai ke dasar lautan terdalam untuk keperluan penelitian dan militer. Selain itu ada juga berbagai jenis alat transportasi seperti Gowas (motor-mobil), Semor (truk), dan Dayar (semacam kereta api) yang semuanya tanpa menggunakan roda, alias bisa mengambang di udara. Ada pula Swarung atau pesawat terbang yang bentuknya mirip perahu sebagai alat transportasi yang menyenangkan – sebab kendaraan ini terbang dengan santai/pelan dan biasanya hanya untuk keperluan wisata. Begitu pula mereka telah berhasil membangun pesawat luar angkasa yang disebut Vusatran yang bisa menjelajah sampai ke beberapa planet yang ada dalam sistem tata surya kita. Adapun tujuan dari pembuatan Vusatran ini adalah sebagai kendaraan wisata dan penelitian. Tapi hanya orang-orang terpilih saja yang bisa menaikinya. Ada syarat khusus yang harus dipenuhi, terutama mengenai kemampuan ilmiahnya.

Selain itu, ada satu hal yang sangat istimewa pada saat itu, tepatnya di pusat negeri Wangsa Armendiya, dimana mereka telah mampu mengubah sifat dasar elemen yang ada menjadi ke bentuk yang lain. Misalnya air yang semula cair dan dingin lalu diubah menjadi panas dan membakar seperti api. Begitu pula sebaliknya, dan elemen-elemen yang lain pun sama. Mereka telah berhasil mengubah bentuk dasar setiap elemen (air, udara, api, tanah) ke dalam bentuk lain sesuai dengan yang diinginkan. Keberhasilan ini lalu mereka pergunakan sebagai energi alternatif yang bisa menggerakkan/menghidupkan berbagai teknologi yang dimiliki.

Dan mereka juga telah berhasil melakukan Kamoye atau rekayasa genetika terhadap hewan dan tumbuhan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitasnya. Semuanya atas berkat penelitian yang serius. Tapi khususnya dalam bidang kesehatan, mereka justru tidak terlalu fokus kesana. Alasannya pada masa itu masalah kesehatan sudah dikuasai oleh para Yasih alias tabib yang mumpuni. Mereka ini tidak sembarangan, karena ada standar tertentunya. Makanya dengan kemampuan yang dimiliki, para Yasih ini bisa mendeteksi berbagai jenis penyakit dengan akurat dan langsung memberikan obatnya. Hanya dengan melihat raut wajah, warna lidah, atau mengecek urat nadi pasiennya, para Yasih ini bisa tahu apa saja penyakit yang diderita oleh seseorang. Dan berdasarkan ilmu serta pengalamannya, pasien akan diberikan obat atau bagaimana cara pengobatannya hingga sembuh.

Lalu mengapa mereka tidak sampai pada teknologi digital seperti kita sekarang padahal mereka itu sangat cerdas? Itu karena mereka tidak begitu fokus dengan yang ilmiah. Mereka lebih mendalami hal-hal yang bersifat batiniah (kesaktian: kanuragan, kadigdayan, kasepuhan dan agama). Dan mayoritas orang pada masa itu memang tidak begitu gandrung dengan teknologi, kalau pun ada itu tidak seberapa dan hanya seperlunya saja. Mereka tidak begitu tergantung dengan teknologi, hanya kalangan tertentunya saja. Karena itulah kehidupan mereka pada masa itu seperti gambaran di masa kisah pewayangan (Ramayana, Mahabharata). Artinya, selain mereka telah membangun peradaban yang tinggi dan gedung-gedung yang megah, mereka juga tetap mempertahankan kehidupan ala kesatria sejati. Ada teknologi maju yang mereka ciptakan, namun tetap ada juga penguasaan terhadap kesaktian, bahkan lebih banyak. Sangat berbeda dengan sekarang, dimana sangat bergantung dengan teknologinya saja.

Dan kehidupan pada masa itu, setelah para dewa-dewi palsunya dikalahkan, dibawah kepemimpinan Yanma dan Wangsa Armendiya menjadi lebih aman dan makmur. Kebenaran Ilahi telah dijunjung tinggi dimana-mana, di setiap negeri, sehingga yang ada hanyalah kebaikan dan keteraturan. Tak ada lagi pertempuran yang menelan banyak korban jiwa, karena oleh Yanma telah dibentuk suatu tatanan dunia yang baru. Semuanya hanya berdasarkan petunjuk Ilahi yang telah diterima.

Catatan: Maaf jika kami tidak bisa menyampaikan tentang bentuk ketatanegaraan yang diterapkan oleh Yanma. Ada protap yang harus dipatuhi. Namun yang jelas tatanan itu sangat bagus dan tidak menutup kemungkinan akan dipakai lagi, khususnya di zaman yang baru nanti (Hasmurata-Ra). Begitu pula dengan lokasi yang menjadi pusat pemerintahannya, karena yang bisa kami sampaikan di sini adalah terbatas. Yaitu di negeri asal usul dari Wangsa Armendiya sebelum mereka tinggal di Rimasan.

Lalu atas kecerdasan dan empatinya, Yanma mengumpulkan orang-orang yang memiliki potensi dan bakat khusus untuk dilatih secara mendalam. Mereka ini berasal dari berbagai kalangan yang ada tanpa memandang ras dan klannya. Setelah proses pembekalan, mereka ini lalu bertugas melakukan penelitian dan terus mengembangkan peradaban yang ada dengan catatan hanya untuk kemaslahatan bersama. Tidak harus yang berbau teknologi, tetapi bisa apa saja yang lainnya. Mereka ini kemudian dipimpin oleh 9 orang bijak, yang disebut Astikan. Dan hal ini terus berlangsung sampai di masa para pemimpin yang menggantikan Yanma.

Tentang penataan kotanya, maka pada masa itu rata-rata setiap kerajaannya membangun pusat kota dan pemerintahannya tepat di dalam tiga lapisan benteng yang kokoh. Setiap lapisan memiliki fungsi yang berbeda dan di sana menjadi tempat yang khas dalam hal bentuk dan isinya. Adapun bahan baku yang digunakan beragam, sesuai dengan kemampuan, ketersediaan di alam dan selera dari setiap bangsanya. Tapi yang jelas mereka telah membangun gedung-gedung, taman dan yang sejenisnya dengan sangat rapi, teratur, indah dan megah. Tidak kalah dengan kita sekarang. Bahkan ada banyak teknologi yang sudah mereka terapkan pada bangunan yang ada yang belum dimiliki oleh kita sekarang. Misalnya Hannes (anti gempa dan petir), Qwida (anti gravitasi), dan Youl (listrik tanpa pembangkit listrik). Semuanya terbukti sangat efektif dalam menunjang peradaban mereka.

8. Menemukan belahan hati
Sebagaimana yang telah dijelaskan, maka pada akhirnya Yanma diangkat menjadi pemimpin tertinggi di dunia dengan gelar Azillah. Hal itu adalah pencapaian yang luar biasa dan istimewa. Namun demikian, sebagai seorang lelaki tentu ada satu lagi yang perlu diraih, yaitu pasangan hidup. Dan atas izin dari Hyang Aruta (Tuhan YME) berselang tiga tahun kemudian Yanma pergi meminang seorang puteri dari negeri Samidala. Sang putri bernama Alindha, dan ia adalah anak ketiga dari Raja Damurata.

Adapun pertemuan mereka terjadi sebelum perang melawan dewa-dewi palsu. Saat itu, keduanya bertemu di sebuah desa yang menjadi target ancaman dari utusan negeri Amostana yang berasal dari bangsa Jin. Baik Yanma dan Alindha, keduanya saling menutupi jati dirinya. Mereka pun ada di desa Lonar itu dengan tujuan untuk membantu warga di sana. Berbagai cara mereka lakukan agar bisa meringankan beban hidup penduduk. Sampai akhirnya mereka harus bertarung dengan para utusan dari Amostana yang ingin menghancurkan desa tersebut.

Dalam pertarungan itu, keduanya saling bekerjasama dengan baik. Meskipun tak pernah berlatih bersama, mereka bisa menyatukan setiap gerakan jurus dan strateginya. Dari situlah muncul perasaan yang mendalam, dan mereka seperti telah menemukan belahan hatinya masing-masing. Hanya saja karena mereka adalah pecinta sejati, maka belum ada ungkapan cinta yang terusterang. Keduanya masih malu-malu.

Sampai akhirnya waktulah yang menyatukan mereka. Dan sebagai seorang lelaki, Yanma menjadi yang pertama kali menyatakan perasaannya. Di saat mereka bertemu lagi di negeri Samidala, saat itulah Yanma melamar Alindha. Keduanya pun sepakat untuk menikah. Dan atas restu dari kedua orang tuanya, pernikahan dilangsungkan meriah di istana. Banyak tamu undangan yang hadir saat itu, termasuklah dari kalangan Begawan, Dewa-Dewi, dan Nabi Nahruwi AS. Semuanya merasakan suka cita. Dan dari pernikahan itu kemudian lahirlah satu orang anak lelaki dan dua orang lainnya perempuan. Ketiganya mewarisi bakat dan kemampuan dari orang tuanya.

9. Akhir kisah
Yanma dan Alindha memiliki tiga orang anak. Yang tertua seorang putera bernama Ashotar. Meskipun terdapat aturan bahwa tampuk kekuasaan tertinggi tidak didapatkan dengan cara warisan, namun Ashotar telah memenuhi syarat untuk meneruskan kepemimpinan ayahnya. Ia pun memimpin dengan bijak dan dicintai oleh rakyatnya. Sedangkan dua orang puteri mereka yang bernama Saniya dan Dawiya, lalu menikah dengan para pangeran dari negeri tetangga. Dari pernikahan tersebut, kemudian menurunkan para raja yang bijak dan waskita.

Kembali ke sosok Yanma sendiri. Sang pemimpin agung ini adalah pribadi yang istimewa tidak hanya di medan pertempuran, melainkan dalam urusan pemerintahan dan ketatanegaraan. Dibawah kepemimpinannya banyak terjadi perubahan yang mendasar, yang semuanya itu menuju pada kemakmuran. Siapapun yang mengikutinya akan merasakan kedamaian dan kesejahteraan. Dan sejak dimasanya pula, maka dimulailah tradisi untuk mengoleksi berbagai ilmu pengetahuan dan benda-benda yang berharga. Semuanya lalu disimpan di sebuah gedung khusus yang disebut Masturah. Dimana gedung ini fungsinya sebagai perpustakaan dan museum sekaligus. Ukurannya tentu sangat besar dan bentuknya pun jelas begitu megah. Bahkan sebagiannya berada di dalam bukit batu yang digali dan dipahat dengan rapi.

Demikianlah semuanya menjadi tertata dan maju dibawah kepemimpinan Yanma. Sang terpilih itu pun menjabat selama ±125 tahun. Dan ketika ia hendak lengser keprabon, dihadapan penduduk yang berkumpul di halaman istana, Yanma pun berpesan:

Ya ulsan. Asytayahami anbiratawa uranamuh huwantalam taltanui lapusan rudeng dafarusi. Na’asati hurandaya gharutin nawu Sri Maharaja Albani Widharatusya ladunhamar niyatalba zirakhuyamus. Malenda wadiyanamu kaluwintasa nosh aroyatalam bigharutadha nile An, Bha, Ca, La, an Ra hegastur yamudayalah. Sirabasa neyandamul syi-ilahiyah murakoyala 101-2793-4568-01 bashariyanu. Nahikam shaludhi waduniyahi lasavaruh, zahikanam buyaratwa salfinayah

Demikianlah pesan terakhir dari sang terpilih sebelum kepergiannya. Bersama dengan istrinya, Alindha, ia pun raib dari pandangan. Mereka berpindah-pindah tempat, ke beberapa negeri yang ada selama beberapa tahun. Sampai akhirnya sesuai dengan petunjuk Ilahi mereka pun berpindah Dimensi kehidupan alias moksa. Hanya sesekali saja Yanma kembali ke Bumi untuk sekedar memberikan petunjuk bagi keturunannya. Sungguh beruntunglah jika bisa bertemu dengan sosok yang istimewa tersebut. Ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas tentunya akan didapatkan.

Dan mengenai kerajaan yang didirikan oleh Yanma, yang bernama Antalusa itu tetap ada sampai ±5.000 tahun. Setelah itu, pusat kerajaannya dipindahkan ke Dimensi lain atas petunjuk Ilahi. Dan sebelum berpindah, lima keturunan pemimpinnya saat itu diperintahkan untuk tinggal di Bumi sampai cucu mereka lahir. Mereka bertugas untuk meneruskan keturunan dan membangun sebuah peradaban yang lain, yang darinya kelak akan melahirkan sosok pemimpin yang menjaga dunia.

Demikianlah kisah ini berakhir. Semoga bermanfaat. Rahayu.. 🙏

Jambi, 15 Juli 2019
Harunata-Ra

Catatan akhir:
1. Silahkan Anda percaya atau tidak percaya dengan kisah ini. Kami tidak akan memaksa atau merasa kecewa. Tugas kami disini hanya sebatas menyampaikan dan mengingatkan saja.
2. Bacalah dengan tenang dan terurut kisah ini. Bukalah cakrawala hati dan pikiran seluas mungkin untuk bisa memahaminya. Dan jangan menyamakan standar kehidupan di masa lalu dengan sekarang, karena sangat banyak perbedaannya.
3. Masih banyak hal yang tak bisa disampaikan disini karena memang harus dirahasiakan dulu, belum waktunya untuk disampaikan sekarang.
4. Mari tetap persiapkan diri sebaiknya, teruslah bersikap eling lan waspodo, karena apa yang pernah terjadi di masa lalu tidak menutup kemungkinan akan terulang lagi dan kita sendiri yang akan merasakannya.

11 respons untuk ‘Halmor : Kesatria Pilihan Dunia

    Yoga Setya said:
    September 18, 2019 pukul 7:47 am

    1 lagi tabir kehidupan masa lalu manusia yang terungkap lewat tulisan mas Oedi.
    Makasih update nya mas Oedi 🙏

      Harunata-Ra responded:
      September 19, 2019 pukul 2:31 am

      Iya mas Yoga, masih diizinkan utk berbagi ttg masa lalu.. Makasih juga utk kunjungannya, semoga ttp bermanfaat.. 🙂

    Asyifa Wahida said:
    September 18, 2019 pukul 11:36 am

    Subhanallah ..luar biasa
    matur suwun kagem cerita sejarah yg benar …
    mugi2 dizaman yg sdh kacaau balau ini hyang aruta segera mengutus utusan pilihannya untuk segera mnertibkan seluruh alam semesta ini dngn hukum2nya ..aamiin

      Harunata-Ra responded:
      September 19, 2019 pukul 2:49 am

      Nggih mbak Asyifa, nuwun juga karena masih mau berkunjung.. semoga ttp bermanfaat.. 🙂
      Aamiin.. semoga saja mbak, karena kian hari kian mengkhawatirkan saja kondisi dunia ini.. kegelapan semakin melebarkan sayapnya dimana-mana namun tak banyak yg menyadarinya, karena justru ikut2an terjerat..

    Membangun Peradaban Baru « Perjalanan Cinta said:
    September 25, 2019 pukul 7:24 am

    […] bisa dibangun kembali, atau mungkin seperti Valhadir dapat kembali muncul di Bumi ini lagi, atau Astana, atau Niwata, atau jika memang diizinkan-NYA maka yang seperti Hur ‘Anura pun dapat hadir […]

    Anwar said:
    Oktober 20, 2019 pukul 1:38 pm

    Sugeng rahayu. _/|\_ jika berkenan menjawab., Letak kerajaan antalusa berada di nusantara sebelah mana? Apakah di sekitar pulau jawa.?
    Terimakasih

      Harunata-Ra responded:
      Oktober 20, 2019 pukul 2:45 pm

      Rahayu juga mas Anwar, terima kasih utk kunjungannya.. 🙂
      Hmm ttg lokasinya maaf tidak bisa saya jelaskan, ada protap.. karena itulah tidak disampaikan dalam tulisan ini.. 🙂

    Anwar said:
    Oktober 22, 2019 pukul 5:13 pm

    Siap mas.. Usul => menceritakan tentang nabi nabi mas.. Nabi syits mungkin.. Matornuwon _/|\_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s