Ketenangan Diri

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Dalam setiap harinya, di setiap peristiwa dalam hidup ini, hampir semuanya adalah tentang mengambil sebuah keputusan. Dan setiap keputusan itu akan berdampak baik atau buruk, sementara atau pun selamanya. Bahkan tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi keluarga, anak cucu, dan generasi selanjutnya.

Lalu, saat hendak mengambil keputusan, maka hati pun menjadi sebuah medan pertempuran. Ada perasaan ragu-ragu, cemas, dan bingung menyertai. Akibatnya apapun keputusan yang diambil bisa jadi malah bukan untuk sebuah solusi, tapi semakin menambah masalah yang ada. Atau hanya untuk bisa menyenangkan seseorang saja, bukan untuk melakukan hal yang benar. Dan yang semacam ini sebenarnya merugikan, tapi sering tidak disadari atau bahkan diabaikan.

Padahal, apakah ada yang bisa minum sambil berlari? Apakah ada yang bisa menjahit ketika sedang menari? Itu sama saja konyol, karena bagaimana bisa mengambil keputusan dengan tepat jika kondisi hati dan pikiran sedang kacau? Artinya, orang yang tenang dalam hati dan pikirannya maka ia akan memiliki masa depan yang cemerlang. Mungkin tidak secara materi, tapi dalam hal ilmu pengetahuan dan kehormatan.

Dan perhatikanlah bahwa hidup di atas dunia ini sebenarnya cuma permainan. Tak ada yang benar-benar nyata kecuali sebatas ilusi yang memabukkan. Makanya sangat diperlukan kesadaran diri, dan bukan hanya sekedar katanya atau cuma ikut-ikutan orang lain. Perlu juga berusaha sendiri untuk bisa menemukan yang sejati dengan cara menenangkan diri (lahir batin) lebih dalam. Dan harus dengan bersungguh-sungguh, karena hasilnya baru akan sepadan. Yaitu menemukan hakekat yang tersembunyi yang sesuai dengan kesiapan dan kebutuhan diri sendiri. Inilah yang disebut dengan kebahagiaan hakiki.

Sedangkan ciri khas dari orang yang sudah tenang dirinya adalah ia sangat menghargai waktu sehingga takkan menyia-nyiakan hidupnya dengan apapun yang tidak bermanfaat atau yang mendatangkan dosa. Kesabaran jelas ada pada dirinya, karena ia pun telah berserah diri (tawakal) dan pandai bersyukur (syakur) dalam arti yang sebenarnya. Tak ada pula sikap yang ambisius atau bangga diri lantaran ia telah benar-benar memiliki kerendahan hati (tawadhuk). Dan sifat yang pamrih, iri-dengki, amarah, atau segala yang merendahkan kehormatannya sendiri telah jauh dari hatinya. Hasilnya ia bisa hidup dalam kelapangan yang mendatangkan kedamaian sejati.

Untuk itu, ketenangan diri amatlah penting dimiliki. Karena sumber dari berbagai masalah itu adalah ketika tidak memilikinya. Dan orang yang sudah tenang dirinya, maka meskipun sedang mengalami kepahitan dalam hidupnya akan tetap bahagia. Tak ada yang bisa menakutinya selain anggapan dari Sang Kekasih terhadapnya. Apakah DIA tersenyum melihat perbuatannya atau justru murka. Dan tak ada yang lebih membahagiakan dirinya kecuali keridhoan dan ampunan-NYA saja.

Pun, orang yang sudah tenang dirinya, maka ia takkan peduli dengan anggapan orang lain terhadapnya. Apakah dihormati atau tidak, apakah dikenali atau tidak, maka baginya tak ada bedanya. Ia tak pernah disibukkan dengan memikirkan hal-hal yang semacam itu. Juga tak ingin pusing dengan persoalan identitas. Karena selain tak penting, maka itu hanya akan menguras energi.

Sebaliknya, yang lebih utama itu adalah tentang masalah personalitas, sebab hal ini akan menentukan hina atau mulia kehidupannya, pantas atau tidaknya ia sebagai Manusia. Dan yang terbaik baginya adalah bisa hidup dengan tetap berjalan di arah yang benar sesuai dengan petunjuk-NYA. Tidak sedikitpun terbesit untuk menyimpang dari arah kebajikan. Karena yang ada hanyalah upaya untuk bisa sampai pada kebijaksanaan yang paripurna.

Semoga kita termasuk dalam golongan yang sadar diri dengan cara terus menenangkan diri sendiri. Rahayu.. 🙏

Jambi, 15 Agustus 2019
Harunata-Ra

Iklan

7 respons untuk ‘Ketenangan Diri

    Asyifa Wahida said:
    Agustus 16, 2019 pukul 8:44 am

    Subhanallah…. Sungguh luar biasa
    Kok bisa pas banget enggih..
    Matur suwun mas sampe gak bisa bicara apa2 lagi…
    Izin kulo bagiian enggih mas..
    Matur suwun sak derenge

      Harunata-Ra responded:
      Agustus 16, 2019 pukul 8:55 am

      Weee pas dg yg mana tuh mbak?
      Nggih mbak, sami2lah.. semoga ttp bermanfaat.. 🙂
      Oh silahkan aja mbak.. gak perlu minta izin kok..

    Asyifa wahida said:
    Agustus 16, 2019 pukul 12:56 pm

    Alhamdulillah pas banget dngn perjalnan kehidupan pribadi kulo mas…

    Alhamdulillah selalu bermanfaat mas
    Matur suwun kagem izinnya mas

      Harunata-Ra responded:
      Agustus 19, 2019 pukul 1:27 am

      Ow gitu.. wah kebetulan bgt yah.. 🙂
      Nggih mbak silahkan aja.. Semoga byk yg mau membacanya, terlebih memahami dan menjalankannya.. 🙂

    Asyifa Wahida said:
    Agustus 19, 2019 pukul 6:16 am

    Enggih mas ..
    aamiin… mugi 2 apapun yg mnjadi hajat panjenengan segera dikabulkan oleh gusti allah dlam waktu dekat ini enggih

      Harunata-Ra responded:
      Agustus 19, 2019 pukul 1:13 pm

      Aamiin ya Robb.. Nuwun ya mbak utk doanya.. begitu juga utk panjenengan.. 🙂

    Abhiseka Ceraka Nusantara said:
    September 20, 2019 pukul 12:33 pm

    Reblogged this on ABHISEKA CARAKA NUSANTARA.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s