Pandailah Bersyukur!

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Begitu banyak nikmat yang telah kita terima dalam hidup ini dan itu semua adalah anugerah dari Tuhan kepada makhluk-NYA. Baik secara lahir maupun batin, kita pun masih saja mendapatkan pemberian yang berlimpah, disadari atau tidak. Dan jika kita berusaha untuk menghitung jumlahnya, maka kita pun takkan sanggup karena saking banyaknya. Sehingga tiada alasan bagi kita untuk tidak pandai bersyukur dalam hidup ini. Sebab tindakan dalam rasa syukur itu merupakan sumber dari segala kebajikan.

Ya. Dari segi bahasa, maka kata Syukur itu berasal dari bahasa Arab yaitu “Syakur, Syukran, Syakara, Yasykuru” yang maknanya adalah “Tsana“; yaitu memuji atau menghargai. Sedangkan dalam bahasa Latin maka bersyukur itu disebut dengan Gratus, dan dalam bahasa Sanskerta bisa dipadankan dengan kata Astungkara. Dimana kesemuanya itu memiliki makna sebagai perasaan senang dan penghargaan yang dirasakan oleh seseorang terhadap segala bentuk pemberian atau hadiah yang ia terima.

Catatan: Kata Astungkara berasal dari akar kata ”astu” yang berarti mengakui, mengiyakan dengan segan, atau memuji dengan sungguh-sungguh. Konsep pengucapan Astungkara ini adalah untuk menghadirkan kekuasaan Tuhan yang tidak terhingga dalam setiap keanekaragaman sangat besar yang kita lihat, dengar dan rasakan.

Dan bersyukur ini merupakan suatu perbuatan yang bertujuan untuk berterima kasih atas segala bentuk pemberian yang telah Tuhan tentukan – baik dan buruknya, banyak atau sedikit. Sementara lawan dari syukur itu sendiri adalah kufur nikmat, yaitu sifat enggan untuk menyadari atau lupa untuk berterima kasih, bahkan mengingkari bahwa yang telah didapatkan adalah berasal dari Hyang Aruta (Tuhan YME). Hal ini akan menimbulkan sikap yang angkuh dan juga pembangkangan, yang keduanya itu hanya akan menimbulkan bencana dan kerugian.

Oleh sebab itu, selalu bersyukur adalah tindakan yang mulia dan sangat menguntungkan. Karena jika tidak mendapatkan kebaikan secara materi, maka setidaknya bisa membuat hati dan pikiran menjadi lapang. Jiwa pun merasa tenang dan tidak terbebani oleh hal-hal yang membelenggu atau terkadang malah tidak penting. Sebab orang yang pandai bersyukur itu – dalam hal apapun – niscaya akan mendapatkan kenikmatan dan kepuasan dari Tuhannya. Dan apapun yang datangnya dari Tuhan adalah yang terbaik bagi siapapun. Suatu hal yang mungkin tidak semuanya indah, tapi niscaya bisa membuat seseorang untuk terus bersemangat dalam hidupnya – dalam hal kebenaran – sehingga mendatangkan banyak kebaikan.

Karena itu, ingatlah kamu kepada-KU niscaya AKU ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-KU, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-KU” (QS. Al-Baqarah [2] ayat 152)

Pusatkan pikiranmu kepada-KU, berbakti kepada-KU, dan setelah kau mendisiplinkan jiwamu, maka AKU akan menjadi tujuanmu yang tertinggi dan kau akan tiba kepada-KU” (Bhagawad Gita IX.34)

Untuk itu, cobalah untuk selalu merasa cukup atas apapun yang kita terima dan rasakan di dunia ini. Orang Jawa menyebutnya dengan sikap yang Nrimo, atau dalam bahasa Arab-nya disebut dengan Qona`ah. Karena sikap ini akan membuat kita bisa selalu terjaga dalam kebaikan dan rasa syukur yang mendalam. Sebaliknya saat kita merasa tidak puas atau selalu kekurangan, maka takkan ada ketenangan dalam hidup ini. Kejahatan dan keserakahan akan terus di lakukan, bahkan keterpurukan dan kehancuran pun datang menemani. Karena itulah Nabi Muhammad SAW bersabda:

Jadilah orang yang wara’ (menjaga diri), maka engkau akan menjadi hamba yang paling berbakti. Jadilah orang yang qona’ah (menerima apa adanya), maka engkau akan menjadi hamba yang paling bersyukur” (HR. Ibnu Majah no.3417)

Wahai saudaraku. Sungguh beruntungnya orang yang pandai bersyukur, sebab ia akan menjalani hidup dengan rasa tenang dan dari wajahnya akan terpancar sinar (aura) keteduhan. Hal ini akan membahagiakan, karena telah mewarnai dunia ini dengan keindahan yang semestinya. Sehingga marilah kita isi kehidupan yang singkat ini dengan melakukan hal-hal sebagai berikut:

1. Bersyukur dengan lisan dan tindakan
Caranya dengan mengucapkan/menuliskan kata-kata yang hanya mengandung kebaikan dan penghargaan. Atau melakukan hal-hal yang positif baik untuk diri sendiri maupun orang lain tanpa membedakan suku, ras, bangsa dan agamanya. Bahkan tak peduli dengan jenis dan golongan makhluknya.

2. Bersyukur dengan hati
Caranya dengan menyadari bahwa segala macam nikmat dan rezeki yang didapatkan atau apapun yang berasal dari Tuhan – susah dan senangnya, baik dan buruknya – semata-mata merupakan karunia dan kemurahan dari-NYA saja. DIA sangat tahu apa yang sesuai dengan diri kita, sementara tugas kita hanyalah tetap menerimanya dengan lapang dada dan terus bersyukur di dalam qolbu secara tulus. Karena bersyukur kepada Tuhan dengan hati ini bisa membawa seseorang kepada sikap untuk menerima segala macam karunia dan ketetapan-NYA dalam bentuk yang terbaik. Suatu hal yang akan mengantarkan diri pada kemuliaan yang hakiki.

3. Menjaga kenikmatan
Caranya dengan merawat setiap kenikmatan yang telah didapatkan dalam hidup ini – banyak atau sedikit – melalui jalan kebajikan. Misalnya nikmat memiliki panca indera, kesempatan, kesehatan, dan umur yang ada itu terus dipergunakan untuk hal-hal yang positif atau memberikan manfaat kepada diri sendiri dan orang banyak. Tindakan ini merupakan bentuk nyata dari rasa syukur, karena telah sadar akan amanah Tuhan dan pandai berterima kasih untuknya. Dan jagalah sikap ini agar tidak berubah menjadi sosok yang bukan Manusia, alias membangkitkan sifat kebinatangan (kejam, zalim, tak manusiawi, jahil, perusak, dll) dan kejahatan lain dalam diri sendiri.

“Siapa pun yang mampu mengendalikan indria-indrianya dan memusatkan pikirannya kepada-KU, dialah orang yang memiliki kesadaran sejati” (Bhagawad Gita II.61)

Sungguh, tiada artinya hidup ini jika tanpa adanya rasa syukur. Sebanyak apapun ilmu yang dimiliki, atau tingginya jabatan dan berlimpahnya harta yang didapatkan, maka tanpa rasa syukur didalamnya hanya akan mengantarkan diri seseorang pada kejahatan. Ia takkan bisa meraih kedudukan sebagai orang yang tawadhuk (rendah hati) dan tawakal (berserah diri) kepada Tuhannya. Ia pun tak mungkin bisa menjadi mulia dan terhormat, karena yang ada hanyalah sifat malas, iri-dengki, pamrih, ambisius, ego, kesombongan, dan keterjerumusan dalam kesesatan yang nyata.

Sebaliknya, meskipun tak berilmu tinggi, atau tak memiliki harta, jabatan, dan popularitas, maka jika tetap pandai bersyukur siapapun akan menjadi sosok yang mulia. Dan seandainya tak ada seorang pun dari Manusia di Bumi ini yang menghormatinya, maka seorang yang pandai bersyukur itu akan dicintai oleh para Malaikat dan penduduk Langit yang lainnya. Bahkan dalam hal ini tentunya oleh Sang Maha Pencipta segala makhluk, dengan mengangkatnya pada maqom (kedudukan) yang lebih dekat disisi-NYA. Bukankah ini suatu hal yang membahagiakan?

Dan lihatlah kesudahan dari kaum-kaum terdahulu yang pada akhirnya dimusnahkan. Apa yang telah menimpa peradabannya, azab besar itu, semuanya terjadi oleh sebab tidak mau bersyukur dalam hidupnya. Atas kekufurannya terhadap hukum dan kenikmatan yang Tuhan berikan, mereka itu harus merasakan kepedihan yang teramat menyakitkan. Tidak hanya ketika di dunia ini saja, karena terus berlanjut sampai ke alam kubur dan di akherat nanti. Karena kematian bukanlah akhir dari segalanya. Hanya tubuh (jasad) sajalah yang mati-hancur, sementara jiwa-ruh tetap hidup selamanya. Susah atau senangnya, bahagia atau menderitanya, kenikmatan atau siksaannya nanti, maka akan dirasakan sesuai dengan perbuatan saat hidup di atas Bumi ini. Begitulah keadilan yang hakiki.

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-KU), maka sesungguhnya azab-KU sangat pedih” (QS. Ibrahim [14] ayat 7)

Untuk itu, teruslah bersyukur karena sikap inilah yang akan membedakan antara seseorang dengan yang lainnya dalam hal keimanan. Dan tentunya sikap ini pula yang bisa menyelamatkan diri kita di saat transisi zaman ke tujuh ini (Rupanta-Ra) terjadi. Sebab hanya orang yang pandai bersyukurlah yang bisa mengerti akan nikmat dan anugerah dari Tuhannya secara benar, sehingga ia pun bersikap elin lan waspodo (ingat-sadar diri dan waspada-mawas diri). Lalu dengan pengertian itulah ia pun bisa mengabdi dan tetap patuh kepada-NYA dalam penuh kesadaran – alias tidak cuma pura-pura atau hanya sekedar ikut-ikutan. Siang dan malam harinya selalu diisi dengan hal-hal yang bermanfaat serta jauh dari perbuatan yang sia-sia dan merugikan. Ia pun bisa merasakan kedamaian sejati. Sehingga terbukalah pintu kebahagiaan yang tiada taranya.

Maka siapakah sosok yang terbaik jika bukan dia yang pandai bersyukur? Tanyakanlah pada diri kita sendiri, tentang sudahkah kita pandai bersyukur dalam hidup ini. Yaitu dengan rasa syukur yang sesungguhnya.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Rahayu... 🙏

Jambi, 07 Agustus 2019
Harunata-Ra

Iklan

12 respons untuk ‘Pandailah Bersyukur!

    Asyifa Wahida said:
    Agustus 7, 2019 pukul 3:59 pm

    Subhanallah …
    entah musti bicara apaa kulo niki …artikel/ilmu yg baru ini benar2 kulo Alami saat ini ..

    Alhamdulillahi rabbil alamin betapa besar cinta dn kasih sayng hyang aruta kpd kulo…..

    Matur suwun mas

      Harunata-Ra responded:
      Agustus 7, 2019 pukul 5:31 pm

      Nggih mbak, sami2lah.. nuwun juga atas kunjungannya lagi.. 🙂
      Waaah saya pun gak bisa berkata apa2 juga mbak.. Semoga mbak dan keluarga tetap dilindungi dan mendapatkan ketenangan.. 🙂

        Asyifa wahida said:
        Agustus 7, 2019 pukul 6:24 pm

        Kulo yg musti berterima kasih mas,karena sdh dapat ilmu baru Dn panjenengan mboten bosan Kalih kunjungan kulo….
        Sepindah melih Kulo haturaken matur suwun sak ageng2e enggih mas..

    Asyifa wahida said:
    Agustus 7, 2019 pukul 6:27 pm

    Aamiin ya rabbal alamiin…..
    Matur suwun kagem doane enggih mas…
    Mugi2 panjenengan skluarga pun demikian juga Dn sehat selalu ..aamiin

    Asyifa said:
    Agustus 7, 2019 pukul 8:13 pm

    Izin kulo bagiin enggih mas….
    Matur suwun

    Asyifa Wahida said:
    Agustus 8, 2019 pukul 3:10 am

    o enggih kesupen mas..
    Kulo izin bagiin enggih

      Harunata-Ra responded:
      Agustus 10, 2019 pukul 1:47 am

      Okelah mbak.. nyante aja… kita saling berbagi dan mendoakan deh.. Silahkan kalo mau di share, monggo.. 🙂

    Em Amir Nihat said:
    Agustus 8, 2019 pukul 6:42 am

    Bersyukur jd rileks dan tenang..

      Harunata-Ra responded:
      Agustus 10, 2019 pukul 1:47 am

      Iya betul mas Em Amir Nihat… terima kasih utk kunjungannya, semoga bermanfaat.. 🙂

    Kurnia said:
    Agustus 10, 2019 pukul 11:41 am

    Bismillah…
    Alhamdulillah,, untuk pelajaran yg sangat indah, episode syukur, ☺
    Terimakasih utk tulisannya mas,
    Semoga selalu sehat dan tidak bosan menulis utk mengingatkan, terutama sy,, 😇😇
    Sekali lg terimakasih… 🙏🙏

      Harunata-Ra responded:
      Agustus 10, 2019 pukul 1:53 pm

      Syukurlah kalo gitu mbak Kurnia, terima kasih utk doa dan dukungannya, juga karna udah mau berkunjung.. 😊🙏

    Abhiseka Ceraka Nusantara said:
    Agustus 22, 2019 pukul 10:43 pm

    Reblogged this on ABHISEKA CARAKA NUSANTARA.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s