Pikiran Anti Mainstream Tentang Akhir Zaman

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Ketika ada yang umum, maka ada pula yang khusus. Begitulah dengan anti mainstream yang muncul sebagai bentuk perlawanan dari hal-hal yang mainstream. Karena itu anti mainstream juga menjadi gaya hidup yang unik dan menarik. Dan orang yang kreatif itu biasanya senang dengan aktivitas yang anti mainstream sebagai pilihan hidupnya. Ia pun bisa merasakan manfaat yang lebih bagi dirinya sendiri.

Sebab, kata mainstream itu diambil dari bahasa Inggris yaitu main = utama, dan stream = arus. Jadi mainstream itu artinya arus utama. Atau terjemahan mudahnya adalah sesuatu yang biasa atau umum. Sedangkan pengertian dari kata anti adalah berlawanan dengan yang dimaksudkan. Atau bisa juga diartikan sebagai sikap yang tidak setuju. Jadi kalau didefinisikan secara bebas, maka anti mainstream itu berarti tidak menyetujui sesuatu yang biasa atau umum. Dengan kata lain, apabila tidak menyetujui sesuatu yang biasa atau umum, maka dengan sendirinya berarti menyetujui sesuatu yang tidak umum alias diluar kebiasaan.

Dan hal yang seperti ini tidak masalah selama tetap dalam koridor yang benar. Sebab sejarah telah membuktikan bahwa orang-orang yang anti mainstream-lah yang bisa membangun peradaban dunia. Para ilmuwan, agamawan, dan raja/ratu terdahulu yang masyhur, bahkan Nabi dan Rosul pun termasuk orang-orang yang hidup di jalur yang anti mainstream pada masanya – misalnya tidak mau ikut-ikutan dengan kebiasaan buruk atau kebodohan atau kekufuran dari kaumnya. Merekalah para bijak yang berilmu tinggi yang melawan arus dengan menentang segala hal yang tidak benar atau tidak pada tempatnya. Sehingga mereka pun dapat mengukir prestasi yang sangat mengagumkan, dan bisa pula kembali menata kehidupan yang mulia di dunia ini.

Nah, berangkat dari judul tulisan di atas, kami pun ingin sekedar memberikan wacana yang lain dari pada umumnya. Dalam hal ini bertujuan untuk menawarkan ruang berpikir yang lebih luas tentang makna-makna yang tersirat di dunia ini. Dengan harapan bisa mendapatkan pemahaman yang lebih baik. Sebab terkadang pikiran yang “nyeleneh” itu justru memberikan harapan yang lebih besar terhadap kebenaran yang sejati. Di sini tentunya bisa memberikan keuntungan yang kian memuaskan.

Dan berikut ini kami sampaikan berbagai pertanyaan yang harus direnungkan secara mendalam bagi para pencari. Perlu dengan ketenangan hati dan bukalah cakrawala berpikir seluas mungkin sebelum menjawabnya – tanpa perlu diungkapkan, cukup untuk diri sendiri saja. Yaitu:

1. Bagaimana jika semua tanda-tanda alam yang ada kini bukanlah isyarat akan kemunculan tokoh yang dikira banyak orang selama ini (Imam Mahdi, Satrio Piningit, Kalki Avatara, dll), atau tentang akan datangnya Hari Kiamat (Kiamat Kubro), melainkan sekedar pertanda akan datangnya masa pergantian zaman dari yang ke tujuh (Rupanta-Ra) menuju yang ke delapan (Hasmurata-Ra)?

2. Bagaimana jika nanti Sang Pemuda yang terpilih itu bukanlah sosok Imam Mahdi atau Satrio Piningit atau Kalki Avatara atau siapapun nama tokoh yang diyakini selama ini. Melainkan sosok yang berbeda namun begitu istimewa, yang punya nama dan gelar tersendiri, dan tetap terahasia sampai waktu kemunculannya?

3. Bagaimana jika nanti dajjal, Nabi Isa AS, dan kaum ya’juj wa ma’juj pun tidak akan muncul, sebab belum waktunya pula mereka hadir di akhir zaman ke tujuh ini (Rupanta-Ra). Mungkin saja di akhir zaman yang berikutnya nanti (Hasmurata-Ra, ………., ………). Sementara tanda-tanda yang disebutkan dalam nubuwat dan ramalan para leluhur itu tetaplah sebagai kebenaran yang mutlak tapi kini hanya sebagai ujian keimanan bagi penduduk Bumi, karena ada rahasia dibalik rahasia, ada kebenaran di atas kebenaran?

4. Bagaimana jika nanti semua peradaban yang ada kini bukannya semakin maju tetapi justru menjadi musnah, tak bersisa oleh sebab perang yang maha dahsyat (al-Malhamah al-Kubro, Armagedon, dll) dan azab Tuhan yang teramat mengerikan. Begitu pula dengan semua bangsa dan negara yang ada di periode zaman ke tujuh ini (Rupanta-Ra) ikutan sirna? Dan hanya sebagian kecil dari Manusia yang selamat – meskipun peradabannya hancur luluh – karena telah diselamatkan oleh “Pasukan Langit” di waktu transisi zaman nanti. Mereka inilah yang akan menjadi cikal bakal generasi selanjutnya, di periode zaman yang baru nanti: Hasmurata-Ra?

5. Bagaimana jika Hari Kiamat (Kiamat Kubro) itu masih sangat jauh menjelang dan nanti hanya akan datang hari yang bertujuan untuk memurnikan kehidupan di Bumi ini lagi (transisi zaman)? Disini jelas tetap akan terasa sangat mengerikan dan mematikan – sehingga orang-orang akan mengira bahwa saat itulah Hari Kiamat (Kiamat Kubro) – karena pada waktu itu setiap penduduk Bumi ini akan dihakimi, keadilan benar-benar ditegakkan, dan waktunya Kiamat Sugro yang terbesar itu datang menyeleksi. Tak lebih dari 10% saja dari penduduk Bumi ini yang selamat dan atau diselamatkan?

6. Bagaimanakah, apakah, benarkah, mungkinkah…. entahlah…??

***

Tapi sayangnya kini semakin banyak orang yang tidak lagi berpikir secara anti mainstream alias hanya bisa mengikuti apa saja yang umum atau bahkan cuma ikut-ikutan tanpa pernah berpikir lebih kritis. Akibatnya ia mudah terombang-ambingkan oleh keadaan dunia, dan bahkan mudah dijerumuskan pada hal-hal yang sebenarnya sangat merugikan. Sehingga kesadaran dirinya ikut menghilang dan kebenaran dalam hidupnya pun kian sirna. Sedangkan yang tersisa hanyalah kebodohan meskipun terlihat pintar, kejahatan walaupun tampak mulia.

Semoga yang membaca tulisan ini dengan kesungguhan dapat mengerti akan makna tersirat yang terkandung di dalamnya. Mari tetap bersikap eling lan waspodo dalam hidup ini. Rahayu.. 🙏

Jambi, 04 Agustus 2019
Harunata-Ra

Iklan

16 respons untuk ‘Pikiran Anti Mainstream Tentang Akhir Zaman

    Asyifa Wahida said:
    Agustus 5, 2019 pukul 4:03 am

    Subhanallah …..
    Sungguh nasehat yg luar biasa dn sangat mmbutuhkan berpikir tinggi serta kejernihan batin untuk bisa memahaminya…
    Sekali lagi matur suwun

      Harunata-Ra responded:
      Agustus 5, 2019 pukul 6:09 am

      Nggih mbak Sami2lah.. Nuwun juga karena masih mau berkunjung.. 🙏

      Betul, memang perlu berpikir lebih dalam dan hati yg lebih tenang… Jg grusa-grusu, karena ini tidak main-main.. 😊

      Semoga bisa membuka wawasan yg lebih luas.. Semoga ttp bermanfaat.. 😊🙏

        Asyifa Wahida said:
        Agustus 6, 2019 pukul 8:52 am

        Enggih mas dn mugi2 kulo dn saudara2 yg lain mampu untuk mencerna dn memahami semua pesan yg tersirat didalmnya …..aamiin

        Harunata-Ra responded:
        Agustus 6, 2019 pukul 10:13 am

        Aamiin.. Semoga benar2 cetho ya.. Dan Kita sama2 berdoa semoga termasuk golongan yg beruntung dan diselamatkan nanti.. 😊🙏

    Siska said:
    Agustus 5, 2019 pukul 4:24 am

    Terima kasih atas nasehat nya kang….🙏🙏

      Harunata-Ra responded:
      Agustus 5, 2019 pukul 6:11 am

      Iya sama2lah mbak Siska.. Terima kasih juga karena sudah mau berkunjung.. Semoga kebaikan menyertaimu.. 🙏😊

    rakeyan said:
    Agustus 5, 2019 pukul 4:48 pm

    Salam Mas Oedi…..

    Postingan (Artikel Pikiran Anti Mainstream Tentang Akhir Zaman) yg excellent, bahkan……. “extra ordinary” khusus-nya, jika ditinjau dari METODOLOGI HASIL MENDAPATKAN-NYA, sehingga menjadikan sebuah Artikel., karena tidak setiap orang mampu, seribu satu (istilah-nya), salah satu “data” yg di dapat, diantara-nya adalah hasil dari menangkap (dan mengolah-nya) “bahasa energi” dan “vibrasi-vibrasi yg ada di alam semesta serta alam niskala” (via Instrument Kecerdasan Anugrah ILAHI – Sinergitas IQ, EI & SI), dan menunjukan LEVEL Jenengan yang sudah di atas rata-rata baik Spiritual, Religi pun Supranatural.

    Acungan Jempol pula untuk kreativitas, proaktif dan responsitas-nya, serta kemanfaatan-nya (bermanfaat).
    Jika dalam bahasa Saya adalah “Kemampuan (Kecerdasan) menembus garis/batas taqdir,” atau….. mungkin(kah) yg dimaksudkan Jenengan : ……. kehendak yang kuat untuk bisa menantang batasan, melampaui batasan, dan sikap yang pantang menyerah di Artikel Pahlawan dan Ksatrya (14 Juli 2019).

    Bisa jadi….. ini adalah : hasil dari OLAHAN Satra Jendra Hayuningrat; sastra tanpa wujud, papan tanpa tulis, tulis tanpa papan.

    Nuwun sewu.., sementara ini, Saya tidak ikutan membahas materi(nya), krn untuk menghindari speak out, dan terbentur SOP, pun task safety.

    Matur nuwun,
    Monggo di wedar, apa yg bisa di wedar Mas….,
    Saya ndeprok… menyimak wedaran Jenengan

    Suro diro joyodiningrat lebur dening pangastuti
    Good luck ‘n God bless u there…….
    Mugia Rahayu Sagung Dumadi

      Harunata-Ra responded:
      Agustus 6, 2019 pukul 2:51 am

      Iya gak apa2 mas Rakeyan kalo gak bahas materinya, karena komentar masnya ini udah lebih dari cukup loh, luar biasa.. Dan nuwun ya karena udah menyempatkan waktunya utk berkunjung.. 😊🙏

      Tapi jg berlebihan gitulah mas.. Lah wong siapa jugalah diri ini kecuali hanya org awam yg bodoh kok..

      Okelah mas.. Jika diizinkan-NYA, saya akan ttp mewedarkan ttg bbrp hal.. Silahkan di tunggu.. Rahayu 😊

    Guntur Satria Putra said:
    Agustus 6, 2019 pukul 6:33 am

    terima kasih nasihatnya mas
    Mungkin yang dimakud mas oedi kiamat yang dimaksud bukan kiamat kubro tetapi era akhir jaman kaliyuga seperti ajaran agama dharma hindu bali ?

      Harunata-Ra responded:
      Agustus 6, 2019 pukul 7:38 am

      Iya mas Guntur, sama2lah.. Terima kasih juga karena udah berkunjung.. Semoga ttp bermanfaat.. 😊🙏

      Hmm ttg hal itu, silahkan berpendapat sendiri ya mas.. Udah di jelaskan juga kok di tulisan ini.. 😊

      Martha La Bunga said:
      Agustus 21, 2019 pukul 2:00 pm

      terimakasih Mas Oedi nasihatnya, sehat selalu, terus berkarya, dan Salam Rahaayu dari saya Bunga 🙂

        Harunata-Ra responded:
        Agustus 23, 2019 pukul 12:21 pm

        Sama2lah mbak Bunga, nuwun juga utk kunjungan, dukungan dan doanya, begitu juga untuk mbaknya.. Rahayu bagio.. 🙂

    Mailan Bintha said:
    Agustus 6, 2019 pukul 9:53 am

    Terima kasih mas oedi atas wejangannya… tulisan yg benar2 membangunkan diri

      Harunata-Ra responded:
      Agustus 6, 2019 pukul 10:16 am

      Iya sama2lah mbak Mailan, terima kasih juga sudah berkunjung.. 🙏😊

      Syukurlah kalo gitu.. Semoga ttp dalam kesadaran, dan kelak termasuk dlm golongan yg selamat.. 😊🙏

    Asyifa Wahida said:
    Agustus 7, 2019 pukul 1:00 am

    Enggih mas…
    Aamiin ya rabbal alamiin..
    Matur suwun kagem doane mas

      Harunata-Ra responded:
      Agustus 7, 2019 pukul 10:57 am

      Seeplah.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s