Jalan Kesempurnaan

Posted on Updated on

Wahai saudaraku. Kehidupan dunia ini adalah jalan yang panjang menuju kesempurnaan diri. Setiap titipan-NYA, baik yang kau lihat, yang kau dengar, dan yang kau rasakan itu adalah ujian. Apabila kau berpaling dari kepatuhan dan kecintaan yang tulus kepada-NYA, niscaya DIA takkan mempedulikanmu. DIA hanya akan membiarkanmu – jungkir balik – sampai kau sadar. Tapi jika tidak, DIA akan tetap tak peduli atau justru mencabut anugerah-NYA darimu, menjadikanmu papa dan melarat (terutama batin), sebagai pelajaran atas keberpalinganmu dari-NYA dan keterpesonaanmu atas karunia-NYA. Kau akan terus digembleng sampai lulus menjadi hamba sahaya-NYA.

Maka, sadarilah bahwa anugerah dan karunia itu adalah abdimu, dan kau sendiri adalah abdi dari Sang Maha Pemberi. Semua bentuk kehidupan di dunia ini berada di dalam kasih sayang-NYA, dan hidup di akherat nanti adalah atas rahmat-NYA saja. Kehinaan atau ke-terhormatan dirimu adalah atas niat dan usahamu sendiri tanpa henti. Bahkan lebih dari itu, dimana kau seharusnya bisa melepaskan ego dengan berhasil menghilangkan ke-diri-anmu sendiri. Kau harus meniadakan ke-aku-an dirimu. Tanpa hal itu, takkan ada kesempatan untuk bisa meraih kemuliaan dan kehormatan yang sejati.

Begitu pun kau tak perlu lagi bertanya tentang kenapa? Tetapi apa dan bagaimana yang seharusnya kau lakukan? Tunduklah pada apa yang telah di gariskan-NYA, kepada apa yang menjadi ketentuan-NYA. Menyatulah dalam setiap kehendak-NYA saja. Dan tak perlu berpikir tentang hasilnya, karena itu akan selalu membelenggu dirimu.

O.. Apa itu kesempurnaan? Itulah ketidaksempurnaan pula. Maka, jangan kau menilai segala sesuatu itu hanya dari yang baik-baik saja, yang bagus-bagus saja. Yang jahat atau yang buruk, yang cacat atau yang kacau balau itu adalah bagian dari kesempurnaan. Ia akan tetap ada sampai kapanpun juga dan kau takkan bisa menolaknya. Penerimaanmu adalah yang utama disini. Sehingga tak usah dipermasalahkan lagi, sebab yang penting itu adalah bagaimana engkau bisa mengendalikan diri untuk tidak melanggar fitrah (asal kejadian, keadaan yang suci dan kembali ke asal) dirimu sendiri. Tetap mengikuti setiap perintah dan larangan-NYA dengan tulus dan murni. Pun selalu menempatkan sesuatu itu tepat pada tempatnya pula. Hanya dengan begitulah kau akan menemukan jalan kesempurnaan diri.

Untuk itu, jangan kau melihat orang lain karena mereka tak memberikan manfaat bagimu. Lihatlah dirimu sendiri dan berkacalah. Keadaanmu sampai detik ini adalah atas kehendak-NYA saja. Meskipun kau sudah berusaha, bukankah hanya DIA-lah yang menentukan jalan hidupmu? Bukankah DIA pula yang menetapkan kedudukan dan derajatmu? Karena barangsiapa yang dimuliakan-NYA, maka takkan ada yang mampu menjadikannya hina. Dan barangsiapa yang dihinakan-NYA, takkan ada pula yang mampu menjadikannya mulia – bahkan meskipun orang-orang telah menganggapnya mulia, karena tetap saja ia tampak hina di tingkatan hakekat. Sehingga jika DIA berkehendak atasmu, tentang apapun itu, tak ada seorang pun yang mampu mencegahnya kecuali DIA sendiri. Tugasmu adalah bukan untuk mengeluh atau pun bernegosiasi, melainkan tetap berserah diri (tawakal), memperbanyak rasa syukur (syakur), dan selalu rendah hati (tawadhuk) dalam hidup. Dengan begitu kau akan meraih kesempurnaan diri.

Namun kau sering mengeluh terhadap-NYA, padahal setiap detiknya kau terus menikmati karunia-NYA. Kau sering mengabaikan-NYA, namun selalu berharap kebaikan dari-NYA. Kau sungguh tamak dan selalu menutup mata atas yang kau dapatkan dari-NYA selama ini. Kau lupa diri, lupa pula dengan posisimu sendiri. Karena itulah DIA pun selalu berpaling darimu, mencabut nikmat-NYA untukmu dan melipatgandakan kecemasanmu. Sehingga keberpalingan-NYA darimu itu telah menjadikan engkau semakin merugi dan terhinakan selalu.

Sebaliknya, ketika engkau sampai pada sesuatu dan bila dirimu merasa puas dengan itu, maka kau dipindahkan-NYA ke kepuasan lain yang lebih tinggi. Dijadikan-NYA dirimu lebih terhormat, dan di anugerahkan-NYA pula kepadamu rasa puas terhadap kebahagiaanmu. Lalu dibuka-NYA pula bagimu pintu-pintu hikmah dan disingkapkan-NYA bagimu misteri Ilahiah serta kebenaran yang hakiki. Kemudian dalam maqom (kedudukan) barumu itu, kau merasakan peningkatan kemampuan jasmani dan ruhanimu. Bahkan kepadamu di anugerahkan-NYA pula derajat keruhanian yang luar biasa, yang di dalamnya dipercayakan kepadamu rahasia-rahasia-NYA pula. Sehingga kau pun mengalami perluasan hati, ketercerahan jiwa, dan kenikmatan hidup yang sejati. Kau telah bahagia.

Namun apakah ini sudah selesai? Apakah benar yang seperti itu?

Wahai saudaraku. Hati-hatilah ketika dirimu sudah sampai pada derajat yang tinggi. Maqom yang seperti itu bukan pertanda akhir dari segalanya, itu bukanlah garis finish. Dan waspadalah saat engkau telah menjadi kesayangan dari semua makhluk, baik Manusia ataupun Jin dan makhluk-makhluk lainnya, di Bumi atau pun di Langit. Karena pada saat itulah ujian berat sedang mengiringimu. Kegagalan tragis pun bisa saja terjadi hanya karena sedetik ke-aku-an dirimu. Dan ketika engkau merasa sudah aman atau tak lagi menjumpai ke-diri-anmu, maka sejak saat itulah kau terjerumus dalam ego dan kesombongan. Kau pun jatuh dalam kehinaan.

Maka, dibuat-NYA lah kau penuh dengan hasrat terhadap sesuatu, termasuk ingin menjadi yang terbaik atau yang paling shalih dari semua makhluk (sadar atau tidak sadar). Dan kehendakmu itu terus dibangkitkan, sehingga kau pun berpaling dari setiap kehendak-NYA. Kau lupa untuk tetap berserah diri (tawakal), pandai bersyukur (syakur), dan selalu rendah hati (tawadhuk) dalam hidup ini. Bahkan kau pun lupa untuk terus ber-muhasabah (introspeksi diri) dan mengikuti-NYA saja, karena telah mengikuti keinginanmu sendiri. Kau sudah menuhankan dirimu sendiri, dan ini sungguh keterlaluan.

Sehingga teruslah menjaga diri dengan tidak pernah lagi berhasrat kepada sesuatupun, tak berharap kepada siapapun, dan tak condong kepada apapun jua selain DIRI-NYA. Tetaplah sadar tentang DIA yang telah mewujudkan, menciptakan, mengatur, dan melimpahkan segala yang tampak ataupun tidak tampak, yang terasa ataupun yang tidak terasa. Berteguhlah pada penyatuan hati dan pikiran dengan kehendak-NYA. Dan jangan berpaling sedetik pun dari-NYA, niscaya ada kesempurnaan bagimu.

Pun, selamatkanlah dirimu dari rasa puas atau tidak puas, bahkan dari merasa dan tidak merasakan. Tetaplah hidup sebagai hamba sahaya-NYA saja. Jangan kau menuhankan kecuali DIA. Dan walaupun dirimu telah dicabik-cabik oleh waktu sampai kau menjadi serpihan kecil, tetaplah bersabar. Niscaya ada kebaikan-NYA untukmu.

Jambi, 23 Juli 2019
Harunata-Ra

[Cuplikan dari buku “Diri Sejati”, karya: Harunata-Ra tahun 2017]

Iklan

11 respons untuk ‘Jalan Kesempurnaan

    Asyifa Wahida said:
    Juli 23, 2019 pukul 11:37 am

    Subhanallah ….sungguh nasehat2 yg super luar biasa mas….

    Matur suwun sak ageng2e lewat goresan pena panjenengaan niki hyang aruta sampun mnyadarkan kulo untuk dr rasa lupa untuk tidak bersabar akan sesuatu hal …

    Mugi2 hyang aruta tansah maringi kesehatan lahir mauoun batin dn tetap semangat dalam melakukan segala hal enggih mas ….

    Sekali lagi terima kasih enggih mas dn mugi2 bnyak dr ssaudara2 kita ikut mmbacaa mmpelajari dn trsadarkan akan sesuatu yg tlah mereka lupa ..aamiin ya rabbal alamiin

      Harunata-Ra responded:
      Juli 23, 2019 pukul 2:39 pm

      Syukurlah kalo suka dg tulisan ini mbak Asyifa.. nuwun juga karena masih mau berkunjung, semoga ttp bermanfaat.. 🙂

      Oke mbak.. itulah kenapa kita perlu saling mengingatkan, itu yg terbik di zaman yg edan skr ini.. tolong saya ditegur kalo ada yg keliru.. maklumlah orang awam seperti saya ini byk bgt khilafnya..

      Aamiin ya Robb.. semoga poro sedulur ada yg mau baca juga.. terlebih bisa mengambil manfaat dari tulisan ini.. 🙂

        Kuntidewi said:
        Juli 25, 2019 pukul 7:48 am

        Kau dan aku……….
        Dari awalnya hingga akhirnya……
        Krn akhir adalah awal , , tak berawal dan tak berakhir……..
        Selamanya satu……..

        Harunata-Ra responded:
        Juli 25, 2019 pukul 2:04 pm

        Setuju mbak Kuntidewi.. 🙂

        Esa Tunggal, Ekadaya Purwa.
        Dwijawara Tunggal, Duksina Karana.

        Kuntidewi said:
        Juli 26, 2019 pukul 11:18 am

        Hehehe…….😊😊
        Indahnyaaa………

        Harunata-Ra responded:
        Juli 28, 2019 pukul 4:23 am

        Syukurlah kalo gitu.. 🙂

    Abhiseka Ceraka Nusantara said:
    Juli 23, 2019 pukul 7:48 pm

    Reblogged this on ABHISEKA CARAKA NUSANTARA.

    Asyifa said:
    Juli 25, 2019 pukul 11:44 am

    Alhamdulillah bukan hny suka mas tapi sngat jatuh cinta dngn semua nasehat2 yg trtuang dalm setiap kata2nya …
    Insyaallah mas asalkn masih ada dumay kulo bade selalu mngunjunginya dn mugi2 panjenengan mboten bosen kalih kunjungan kulo dn komen2 kulo …..dn alhamdulillah sangat bermanfaat banget mas ….

    Haaduuuh kalo seorang mas oedi bilng masih awam lalu pripun dngn kulo yg awam bangeet yaaa……???

    Aamiin ya rabbal alamiin …mugi2 apapun yg mnjadi hajat2 panjenengan dijadikan nyata oleh HYANG ARUTA …

      Harunata-Ra responded:
      Juli 25, 2019 pukul 2:10 pm

      Syukurlah kalo gitu mbak.. 🙂

      Wah silahkan aja mbak, saya gakkan bosan kok, malah seneng bgt kalo mau berkunjung dan komentar.. 🙂

      Ya saya emang masih awam banget kok mbak.. dan itu emang atas kesadaran diri sendiri loh..

      Aamiin.. nuwun utk doanya mbak, semoga begitu juga utk jenengan.. 🙂

    Asyifa wahida said:
    Juli 26, 2019 pukul 4:49 am

    Alhamdulillah nek ngoten mas…

    Matur suwun enggih mas

    Kn skrng zaman kebalik.. Nah kebalikan dr awam adalah bnyak pengetahuannya…dn justru orang2 ngaku bnyak tahu malah sejatinya yg awam alias tidak tahu ……..
    Subhanallah.. Luar biasa sungguh sngat jarang menjadi salah satu hamba yg trsadarkan dr hamba2nya ….

    Enggih mas….
    Aamiin ya rabbal alamiin.. Matur suwun kagem doane enggih….

      Harunata-Ra responded:
      Juli 28, 2019 pukul 4:22 am

      Nggih sami2lah mbak.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s