Pahlawan dan Kesatria

Posted on

Wahai saudaraku. Kesatria dan Pahlawan adalah dua pilar dunia yang sangat kokoh. Perbedaan dari keduanya adalah yang satu menggunakan energi tempur untuk melawan atau melakukan perubahan, dan yang satunya lagi menggunakan energi spiritual untuk bisa menyatukan seluruh dunia. Dua kekuatan yang sering disalahartikan, karena sebagian besar orang percaya bahwa kekuatan itu dihasilkan hanya dari kerasnya latihan.

Padahal kekuatan itu adalah sesuatu yang didapatkan dengan cara alami dari objek apapun. Memang tetap ada usaha, namun hal itu perlu dicermati dan dipahami terlebih dulu karena ada banyak cara dan levelnya. Dan ketenangan diri adalah hal yang utama. Lalu dengan bisa menyerap, kondensasi (perubahan wujud), dan pelepasan, maka seseorang akan dapat menggunakan kekuatan tersembunyi itu dengan caranya sendiri. Dan ketika ia telah berhasil dalam setiap latihannya, ia pun dapat terhubung dengan semesta. Satu kekuatan dan energi yang tiada batasnya. Sehingga dapat terus diolah dan ditingkatkan.

Dan inilah yang dikatakan dengan berlatih menjadi satu dengan alam. Belajar mengalir dengan situasi dan menghadapinya dengan harmonis. Sebaliknya, jika tetap bersikukuh mengendalikannya untuk menerapkan apa yang diinginkan saja dan mengganggu keharmonisan alami, kegagalan dan kekacauan pun akan didapatkan. Bahkan tidak hanya itu, karena akan berdampak buruk pula bagi diri sendiri dan siapapun di sekitarnya, nyata dan goib.

Makanya, latihan itu (lahiriah dan batiniah) harus di lakukan dengan tekun, sementara kemajuannya dicapai sedikit demi sedikit. Siapapun tak seharusnya bergantung hanya kepada bakatnya saja. Dia tetap membutuhkan kesabaran, dedikasi, konsentrasi, kehati-hatian, dan kemauan yang kuat untuk berhasil. Sedangkan ketika berhasil tidak lantas berbangga diri atau merasa paling mulia. Karena memang sebaiknya harus selalu andhap asor (rendah hati) dan tunduk kepada DIA Yang Maha Kuasa. Ia pun sangat perlu untuk sering mengintrospeksi diri (muhasabah), untuk bisa mengetahui kekurangan dan kesalahan yang ada pada dirinya sendiri agar bisa diperbaiki. Tanpa hal itu, maka apa yang didapatkan nantinya tidak akan maksimal. Bahkan bisa saja justru menyesatkan dan menimbulkan bencana bagi kehidupan.

Sehingga memang tak sedikit yang terlalu kesepian di dunia ini. Mereka sangat membutuhkan cahaya untuk menerangi jalannya. Hanya saja tidak banyak yang sadar akan hal itu dan mau terus mencari yang hakiki. Mereka semakin tersesat arah, dan perlahan-lahan kehilangan jati diri. Akibatnya dari sejak dilahirkan hanya bisa mengikuti arus dunia ini meskipun itu salah. Tak ada kebebasan untuk memilih yang terbaik dalam hidupnya, karena hati dan pikirannya sudah terikat. Dan ketika hidup di tengah keadaan dunia yang semakin buruk, mereka tak tahu lagi apa yang harus di lakukan agar tidak ikut tenggelam dalam kekacauan dan jatuh dalam kebencian yang tiada akhir? Pribadinya jauh dari sikap hati yang baik, anggun, dan tenang. Ini sangat merugikan.

Untuk itu, seorang Kesatria pada hakekatnya adalah sosok Pahlawan – yang bisa menjadi penerang ditengah kegelapan. Begitu pun sebaliknya, karena tak ada satu dari keduanya maka sama saja dengan bohong. Kedua sifat itu selalu menyatu, baik dengan sengaja atau tidak di sengaja. Baik dalam hal lahiriah ataupun yang batiniah. Keduanya pun telah menjadi benih di dalam diri seseorang, dan bisa tumbuh dengan baik tapi dengan catatan bahwa ia telah mengenal diri sejatinya sendiri. Tanpa hal itu, maka semuanya takkan tercapai, sia-sia belaka lantaran sudah tertipu oleh semunya keduniawian.

Lalu kekuatan yang sesungguhnya terkadang hanya bisa dirasakan, tak bisa dibicarakan. Sungguh aneh jika ada yang mengatakan bahwa ia tahu semua jenis energi dan memahami setiap kekuatan di alam ini. Hal semacam itu tidak lantas membuatnya hebat, tetapi justru semakin menunjukkan tingkat kebodohannya. Oleh sebab itulah kepekaan dan keluwesan (flesibilitas) sangat diperlukan. Begitu pula dengan kesadaran dan kewaspadaan harus terus dimiliki demi menjaga hati dan pikiran agar tidak terjerumus dalam kesesatan yang konyol, yang jelas merugikan.

Dan perlu disadari bahwa yang lebih utama itu bukanlah kekuatannya, melainkan kehendak yang kuat untuk bisa menantang batasan, melampaui batasan, dan sikap yang pantang menyerah. Namun hal itu bisa diraih tidak hanya dengan latihan yang sulit, melainkan juga dengan kondisi hati yang selalu tenang dan pikiran yang tetap bersih. Rasa syukur (syakur), rendah hati (tawadhuk), dan berserah diri (tawakal) yang tiada henti juga sangat diperlukan. Dengan begitu peningkatan kemampuan diri bisa terjadi bahkan tanpa disadari. Berbagai energi dan kekuatan alam pun akan masuk ke dalam jiwa dengan cepat dan sangat banyak. Suatu hal yang menguntungkan karena akan membuka jalan pencerahan.

Ya. Menenangkan diri adalah dasar dari semua latihan kekuatan, sementara melepaskan segala ikatan merupakan puncaknya. Apa yang disebut dengan semangat dalam usaha adalah cara untuk bisa lebih fokus dengan apa yang diharapkan. Hilangkanlah berbagai belenggu diri, dan pilihlah jalan yang sesuai dengan kecenderungan hatimu. Dengan begitu niscaya kekuatan yang tersembunyi, yang tanpa batas itu akan membantu. Kau akan menjadi yang lebih baik dan bisa terselamatkan. Rahayu.. 🙏

Jambi, 29 Juni 2019
Harunata-Ra

11 respons untuk ‘Pahlawan dan Kesatria

    Abhiseka Ceraka Nusantara said:
    Juli 14, 2019 pukul 5:01 am

    Reblogged this on ABHISEKA CARAKA NUSANTARA.

    awandoku said:
    Juli 14, 2019 pukul 9:03 am

    Matur nuwun kang atas nasehat dan informasinya
    Selalu mengingatkan untuk tetap sadar bahwa diri ini hanya mengetahui sedikit.

    Ya memang terlihat sangat halus, terkadang diri ini pun tidak sadar bahwa sedang dibelokkan, karena kasihNya Dia senantiasa mengingatkan untuk berjalan lagi menurut koridornya walaupun diri ini tidak tahu apa yang dipahami dan dijalani saat ini itu sudah benar atau belum. Ya diri ini hanya bisa bergantung dan pasrah kepadanya karena kebodohan dalam diri ini yang seringkali dibelokkan dan jatuh dalam kebodohan

    Semoga senantiasa diberi kesabaran dan dapat terus berserah diri kepadanya, karena Dia yang Maha tahu bagaimana mengajarkan mahkluknya walaupun terkadang diri ini masih ngeyel dan membangkang.

    Semoga kang Oedi senantiasa diberi kesehatan dan selalu terjaga dalam lindunganNya,

    Rahayu

    Oh iya kang Oedi saya kirim email ke panjenengan, ada pertanyaan terkait waktu, mohon dicheck kang ya dan kalau bisa dijawab

    Terima kasih

      Harunata-Ra responded:
      Juli 15, 2019 pukul 6:03 am

      Nggih sami2lah mas Awandoku.. nuwun juga karena masih mau berkunjung.. 🙂

      Nah karena itulah mas, skr kita harus makin sering ber-muhasabah (introspeksi diri) agar cepat sadar kalo2 telah dibelokkan.. Itulah kunci utk ttp hidup dalam kebaikan dan kebenaran..

      Oh ya, nuwun juga utk doanya, begitu juga utk sampeyan.. 🙂

      Oke, nanti saya cek emailnya.. udah lama juga saya gak buka email..

    Asyifa Wahida said:
    Juli 15, 2019 pukul 2:10 am

    Subhanallah….
    alhamdulillahi rabbil alamiin …

    Matur suwun sak ageng2e enggih mas,melalui ilmu panjenengan yg ini hyang aruta sampun mejelaskan lan mnyadarkan kulo sesuatu yg benar2 kulo mboten sadari dn mboten sumerep ….
    sepindah melih matur suwun …

    Mugi2 hyang aruta tansah maringi kesehatan lahir maupun batin lan rezeki yg melimpah halal dn barokah lan terus semangat dalam mnyebar kebaikan nasehat ajakan lewat goresan tangan panjenengan ..aamiin ya rabbal alamiin

      Harunata-Ra responded:
      Juli 15, 2019 pukul 6:21 am

      Nuwun juga mbak Asyifa karena masih mau berkunjung.. 🙂

      Semua ini bukan karena saya mbak, tetapi hanya berasal Dari-NYA saja.. saya tak punya ilmu apa-apa, sebab hanya DIA saja yang berilmu.. Sehingga bersyukurlah hanya kepada-NYA saja.. DIA-lah yang memberikan pengetahuan dan pemahaman bagi setiap makhluk-NYA, dalam berbagai cara..

      Aamiin.. tolong doakan saya yg hina dan bodoh ini mbak.. mohonkan kepada-NYA agar diri ini ttp istiqomah menjadi hamba-NYA saja.. 🙂

        Asyifa Wahida said:
        Juli 15, 2019 pukul 8:41 am

        Enggih sami2 mas …
        insyaallah selagi masih ada dumay akan selalu mngunjungi blog panjenengan mas…dn mugi2 panjenengan mboten bosan dngn kunjungan dn komen2 kulo enggih mas …

        Oooh …tentu yg paling pertama/utama mmng kpd DIA sang pencipta lan pemilik sgl ilmu diseluruh alam ini mas..
        namun kn gak bisa dipungkiri juga berkat dari goresan pena panjenengan juga to mas oedi yg budiman …

        Weeeehh panjenengan ini yaa..kalo mnurut kulo supaya adil yaitu kita sma2 saling MENDOAKAN,karena hny dngn doa yg tulus ikhlaslah dapaat merubah segala yg buruk mnjaadi baik ……nyuwun sewu jaadi sok tahu

        Harunata-Ra responded:
        Juli 18, 2019 pukul 5:55 am

        Waaah gak bosan kok mbak.. malah senang.. Nuwun karena udah mau sering berkunjung.. 🙂

        Ya terserah mbaknya deh.. yg penting Happy hehe.. 😀

        Okey kita saling mendoakan yg terbaik aja.. 🙂

    Asyifa Wahida said:
    Juli 20, 2019 pukul 5:39 am

    Syukur alhamdulillah nek ngoten mas ….

    Enggih mas

    Pasti niku mas….

    Tetap semangat dlam menyebar kebaikaan enggih mas ..

    Mugi2 hyang aruta senantiasa mmberikan panjenengan kesehatan lahir maupun batin dn kemudahan dalam mngerjakan apapun juga ..aamiin ya rabbal alamiin

      Harunata-Ra responded:
      Juli 21, 2019 pukul 3:31 am

      Nuwun ya mbak utk doanya.. begitu juga utk jenengan.. 🙂

    Martha La Bunga said:
    Juli 20, 2019 pukul 11:21 am

    Sugeng Rahayu Mas Oedi… alhamulillah sekali… wejangannya sangat mengingatkan. semoga diri ini selalu dalam lindungan dan jalanNya yang lurus nggih mas, Amiin. ditunggu tulisan selanjutnya mas

      Harunata-Ra responded:
      Juli 21, 2019 pukul 3:36 am

      Rahayu juga utk mbaknya.. nggih mbak, aamiin.. semoga mbak Martha La Bunga ttp dalam lindungan dan kasih sayang-NYA.. 🙂

      Syukurlah kalo suka dengan tulisan ini.. Nuwun loh karena masih mau berkunjung, silahkan di tunggu artikel berikutnya.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s